Anda di halaman 1dari 9

2

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Eritroderma
a.Definisi
Eritroderma ialah kelainan kulit yang ditandai dengan adanya eritema
universalis(90%-100%), biasanya disertai skuama. Bila eritema diantara 50%90% disebut pre-eritroderma.5 Sedangkan menurut kartowigno(2011), eritroderma
adalah penyakit kulit yang ditandai adanya kemeran seluruh tubuh atau hampir
seluruh tubuh tubuh (>90% luas tubuh), dapat disertai skuama atau tidak.1
Eritroderma merupakan representasi dari berbagai penyakit lain. Lebih
dari 50% disebabkan penyakit kulit lain yang mengalami generalisasi menjadi
eritroderma. Istilah eritroderma pertama kali diperkenalkan oleh Hebra(1868)
untuk menjelaskan adanya dermatitis eksfoliativa yang mengenai lebih dari 90%
luas kulit.1
Berdasarkan definisi, yang mutlak harus ada ialah eritema, sedangkan
skuama tidak selalu terdapat, misalnya pada eritroderma karena alegi obat secara
sistemik, pada mulanya tidak disertai skuama, baru kemudian stadium
penyembuhan timbul skuama. Pada eritroderma yang kronik, eritema tidak begitu
jelas, karena bercampur dengan hiperpigmentasi.2
Pada eritroderma perlu diperhatikan adanya komplikasi sistemik seperti
hipotermia, edema perifer , kehilangan cairan, elektrolit, albumin, takikardi dan
gagal jantung yang mengancam jiwa. 1
b.Epidemiologi
Tidak ada data yang tepat tentang eritroderma baik mengenai prevalensi
maupun insidensinya.Dilaporkan pasien pria lebih banyak dari wanita dengan
perbandingan 2:1 sampai 4:1. Onset penyakit rata-rata pada usia 52 tahun.
Penyakit yang mendasari tercatat pada suatu penelitian adalah sebagai berikut :
dermatitis(24%), psoriasis(20%), reaksi obat(19%),CTCL(8%). Jika kelompok
dermatitis sebagai penyebab kita uraikan lebih lanjut ternyata penyebab terbanyak
adalah DA(9%), diikuti dermatitis kontak(6%),DS(4%), dan chronic actinic
dermatosi.1

c.Etiologi
Etiologi eritroderma dapat diklasifikasikan atas beberapa kelompok
yaitu: 1,2
1. Akibat perluasan penyakit kulit yang sudah ada sebelumnya.
2. penyakit sistemik/keganasan.
3. Alergi obat.
4. Idiopatik.
d.Patofisiologi
Patofisiologi eritroderma belum jelas, yang dapat diketahui ialah akibat
suatu agent dalam tubuh, maka tubuh bereaksi berupa pelebaran pembuluh darah
kapiler(eritema) yang universal. Kemudian bebagai sitokin berperan.
Eritema berarti terjadi pelebaran pembuluh darah yang menyebabkan
aliran darah ke kulit meningkat sehingga kehilangan panas bertambah. Akibatnya
pasien menjadi dingin dan menggigil, Juga dapat terjadi hipotermia akibat
peningkatan perfusi pada kulit. Pada eritroderma kronik dapat terjadi gagal
jantung..2
Kehilangan skuama dapat mencapai 9 gram/m2 permukaan kulit atau lebih
sehari

sehingga

menyebabkan

kehilangan

protein.

Hipoprotein

dengan

berkurangnya albumin dan peningkatan relatif globulin terutama globulin


merupakan kelainan yang khas. Edema sering terjadi, kemungkinan disebabkan
oleh penggeseran cairan ke ruang ekstravaskular.2
Eritroderma akut dan kronik dapat mengganggu mitosis rambut dan kuku
berupa kerontokan rambut difus dan kehilangan kuku. Pada eritroderma yang
berlangsung berbulan-bulan dapat terjadi perburukan keadaan yang progesif.2

e.Manifestasi klinis
Klinis ditemukan adanya eritem dan skuama universal (>90% luas tubuh).
Kadang-kadang pada awalnya belum ditemukan skuama, namun baru timbul satu

pekan kemudian. Pada eritroderma primer, eritem biasanya mengenai seluruh


permukaan badan yang meluas dalam beberapa hari /pekan sehingga mengenai
seluruh permukaan kulit, diikuti timbulnya skuama. Eritroderma sekunder
merupakan generalisasi penyakit kulit yang sudah ada sebelumnya, misalnya
psioriasis.atau Dermatitis atopik.1
Skuama sangat bervariasi ukurannya tergantung dari stadium eritroderma
dan penyakit yang mendasarinya. Pada stadium akut, skuama biasanya besarbesar, sedangkan pada stadium kronik, skuama bertendesi kecil-kecil dan kering.
Kadang-kadang penyebabnya eritroderma dapat diperkirakan dari bentuk skuama
tersebut, yaitu jika skuama halus, penyebabnya mengarah ke DA atau
dermatofitosis.Skuama bran-like mengarah ke Dermatitis seboroik. Kalau skuama
berkusta mengarah ke pemfigus foliaseus dan jika eksofoliatif mengarah ke reaksi
alergi obat.1
Keluhan gatal ditemukan pada 90% pasien, gejala tergantung pada
penyakit yang mendasari eritroderma. Yang paling berat disebabkan oleh
dermatitis atau sindroma sezary. Akibat adanya siklus gatal-garuk-gatal maka kulit
menjadi menebal/likentifikasi, yang terdapat pada 1/3 kasus. Pada kasus yang
kronik, ditemukan dispigmentasi baik hipo(20%) maupun hiperpigmentasi(45%).
Palmoplantar keratoderma ditemukan sebanyak 30%, dan ini sering merupakan
gejala awal dari ptiriasis rubra piliaris. Pada eritroderma akibat skabies norwegia,
banyak ditemukan krusta, sedangkan fisura yang nyeri pada sindroma sezary yang
disertai gatal yang hebat.1
Manifestasi Sistemik
Perhatian terhadap kemungkinan terjadinya komplikasi sistemik pada
eritroderma perlu selalu diingat. Edema kaki dan pretibial ditemukan pada 50%
kasus, ini mungkin keluarnya cairan kerongga ekstraseluler. Karena sangat
meningkatnya aliran darah kulit, dan hilangnya cairan melalui transpirasi, dapat
terjadi takikardi pada 40% dan risiko terjadi gagal jantung high output terutama
pada pasien tua. Lebih jauh akibat meningkatnya perfusi kulit, dapat terjadi
gangguan termoregulasi. Walaupun hipertermia(37%) lebih sering terjadi dari
hipotermia(4%) kebanyakan pasien menggigil. Kehilangan panas yang kronik dan
berlebihan dapat mengakibatkan terjadinya hipermetabolisme kompesator dengan

akibat cachexia. Anemia juga ditemukan pada eritroderma kronik terutama pada
defisiensi Fe.1
f.Diagnosis
I. Eritroderma akibat alergi obat biasanya secara sistemik
Untuk

menentukannya

diperlukan

anamnesis

yang

teliti:

yang

dimaksudkan alergi obat secara sistemik ialah masuknya obat ke dalam badan
dengan cara apa saja, misalnya melalui mulut, melalui hidung melalui rektum dan
vagina. Selain itu alergi dapat pula terjadi karena obat mata,obat kumur, tapal gigi,
dan melalui kulit sebagai obat luar.2
Waktu mulai masuknya obat ke dalam tubuh hingga timbul penyakit
bervariasi dapat segera sampai 2 minggu. Bila ada obat dapat lebih daripada satu
yang masuk kedalam tubuh yang diduga sebagai penyebabnya ialah obat yang
paling sering menyebabkan alergi.2
Gambaran klinisnya seperti telah disebutkan ialah eritema universal. Bila
masih akut tidak terdapat skuama, pada stadium penyembuhan baru timbul
skuama.2

II. Eritroderma akibat perluasan penyakit kulit


Pada penyakit tersebut yang sering terjadi ialah akibat psioriasis dapat pula
karena dermatitis seboroik pada bayi(penyakit leiner), oleh karena itu hanya kedua
penyakit tersebut akan dijelaskan.2
1. eritroderma karena psioriasis (psoriasis eritrodermik)
Psoriasis dapat menjadi eritroderma karena 2 hal : disebabkan oleh
penyakit kulitnya sendiri atau karena pengobatan yang terlaly kuat, misal
pengobatan topikal dengan ter dengan konsentrasi yang terlalu tinggi. Pada
anamnesis hendaknya dinyatakan, apakah pernah menderita psoriasis. Penyakit
tersebut bersifat menahun dan residitif, kelainan kulit berupa skuama berlapislapis dan kasar diatas permukaan kulit yang eritematosa dan sirkumskrip.2

Umumnya didapati eritema yang tidak merata. Pada tempat predileksi


psoriasis dapat ditemukan kelainan yang lebih eritematosa dan agak meninggi
daripada di sekitarnya dan skuama di tempat itu lebih tebal. Kuku juga perlu
dilihat dicari apakah ada pitting nall berupa lekukan milia, tanda ini hanya
menyokong dan tidak patognomosis untuk psoriasis. Jika ragu-ragu, pada tempat
yang meninggi tersebut dilakukan biopsi untuk pemeriksaan histopatologik.
Kadang-kadang biopsi sekali tidak cukup dan harus melakukan beberapa kali.2
Sebagian para pasien tidak menunjukan kelainan semacam itu, jadi yang
terlihat hanya eritema universal dan skuama. Pada pasien demikian kami baru
mengetahui

bahwa

penyembuhan

kortikosteroid.

Pada

saat

eritroderma

mengurang, maka mulailah tampak tanda-tanda psoriasis.2


2. penyakit leiner
Sinonim penyakit ini iala eritroderma deskuamativum. Etiologinya belum
diketahui pasti, tetapi menurut pendapat penulis umumnya penyakit ini
disebabkan oleh dermatitis seboroik yang meluas, sehingga pada para pasien
penyakit ini hampir selalu terdapat kelainan yang khas untuk dermatitis seboroik.
Usia penderita antara 4 minggu sampai 20 minggu. Keadaan umumnya baik,
biasanya tanpa keluhan. Kelainan kulit berupa eritema universal disertai skuama
kasar.2
III.Eritroderma akibat penyakit sistem termasuk keganasan
Berbagai penyakit atau kelainan alat dalam dapat menyebabkan kelainan
kulit berupa eritroderma. Jadi seriap kasus eritroderma. Jadi setiap kasus
eritroderma yang tidak termasuk golongan I dan II harus dicari penyebabnya,
yang

berarti

harus

diperiksa

secara

menyeluruh(termasuk

pemeriksaan

laboratorium dan sinar X toraks), apakah harus ada penyakit pada alat dalam dan
harus dicari pula, apakah ada infeksi pada alat dalam dan infeksi fokal. Ada
kalanya terdapat leukositosis namun tidak ditemukan penyebabnya, jadi terdapat
infeksi bakterial yang tersembunyi yang perlu diobati. Termasuk didalam ini ialah
sindrom sezary yang akan dibicarakan berikut ini.2

Sindrom sezary
penyakit ini termasuk limfoma, ada yang berpendapat merupakan stadium
dini mikosis fungoides penyebabnya belum diketahui. Diduga berhubungan
dengan infeksi virus HTLV-V dan dimasukan ke dalam CTCL(Cutaneous T-Cell
Lympoma).2
Yang diserang ialah orang dewasa, mulainya penyakit pada pria rata-rata
berumur 64 tahun, sedangkan pada wanita 53 tahun. Sindrom ini ditandai dengan
eritema berwarna merah membara yang universal disertai skuama dan rasa sangat
gatal. Selain itu terdapat pula infiltrat pada kulit dan edema. Pada sepertiga hingga
setengah para pasien didapati splenomegali, limfadenopati superfisial, alopesia,
hiperpigmentasi, hiperkeratosis palmaris dan plantaris serta kuku yang dismorfik.2
Pada pemeriksaan laboratorium sebagian besar asus menunjukan
leukositosis, 19% dengan eosinofilia dan limfositosis. Selain itu terdapat pula
limfosit atipik yang yang disebut sel sezary. Sel ini besarnya ukuran 10-20,
mempunyai sifat yang khas diantaranya intinya homogen, lobular, dan tak teratur.
Selain terdapat dalam darah, sel tersebut juga terdapat dalam kelenjar getah
beniing dan kulit. Untuk menentukannya memelurkan keahlian khususnya. biopsi
pada kulit yang memberi kelainan yang agak khas, yakni terdapat infiltrat pada
dermis bagian atas dan terdapat sel sezary.2
Disebut sindrom sezary, jika jumlah sel sezary beredar 1000/mm 3 atau
lebih atau melebihi 10% sel-sel yang beredar. Bila jumlah sel tersebut dibawah
1000/mm3 dinamai sindrom Pre-sezary.2
g.penatalaksanaan
pada eritroderma golongan I obat yang tersangka sebagian kausanya
segera dihentikan.

Umumnya pengobatan eritroderma dengan kortikosteroid.

Pada golongan I, yang disebabkan oleh alergi obat secara sistemik, dosis
prednison 4x10mg. Penyembuhan terjadi cepat, umumnya dalam beberapa hari
dan beberapa minggu.2
Pada golongan II akibat perluasan penyakit kulit juga diberikan
kortikosteroid . Dosis muila prednison 4x10mg 4x 15mg. Jika setelah beberapa
hari tidak tampak perubahan dosis dapat dinaikan. Setelah tampak perbaikan,

dosis diturunkan perlahan-lahan. Jika eritroderma terjadi akibat pengobatan


dengan ter pada psoriasis, maka obat tersebut harus dihentikan. Eritroderma
karena psoriasis dapat pula diobati dengan asetretin(lihat pengobatan sistemik
psoriasis). Lama penyembuhan golongan II ini bervariasi beberapa minggu hingga
beberapa bulan, jadi tidak secepat seperti golongan I.2
Pada pengobatan dengan kortikosteroid jangka panjang(long term), yakni
jika melebihi 1 bulan lebih baik digunakan metilprednisolon daripada prednison
dengan dosis ekuivalen karena efeknya sedikit.2
Pengobatan penyakit leiner dengan kortikosteroid memberikan hasil yang
baik. Dosis predinison 3x1-2mg/hari. Pada sindrom sezary pengobatan terdiri atas
kortikosteroid(prednison 30mg/hari) atau metilprednisolon ekuivalen dengan
sitostatik, biasanya digunakan klorambusil dengan dosis 2-6mg/hari.
Pada eritroderma kronik diberikan pula diet tinggi protein, karena
terlepasnya skuama mengakibatkan kehilangan protein. Kelainan kulit perlu pula
diolesi dengan emolien untuk mengurangi radiasi akibat vasodilatasi oleh eritema
misalnya deangan salap ianol10% atau krim urea 10%.2
h.Prognosis
Eritroderma yang termasuk golongan I, yakni karena alergi obat secara
sistemik, prognosisnya baik. Penyembuhan golongan ini ialah yang tercepat
dibandingkan dengan golongan lain.5
Pada eritroderma yang belum diketahui sebabnya, pengobatan dengan
kortikosteroid

hanya

mengurangi

gejala

dan

pasien

akan

mengalami

ketergantungan kortikosteroid(corticosteroid dependence).2

2.2 Hiperpigmentasi pasca inflamasi


a.Definisi
Hiperpigmentasi dapat disebabkan oleh sel melanosit bertambah maupun
hanya karena pigmen melanin saja yang bertambah. Hiperpigmentasi pasca
inflamasi sering ditemukan, nama lainnya hipermelanosis pasca inflamasi.

Hiperpigmentasi pasca inflamasi merupakan kelebihan melanin yang didapat


setelah terjadinya inflamasi kulit tau trauma misalnya terbakar dan gesekan.
Kelainan ini dapat terjadi di lokasi mana saja baik dipermukaan kulit, mukosa
atau dalam unit kuku. Hiperpigmentasi terjadi pada tempat peradangan dan
timbulnya setelah eritema mereda.2
b.Epidemiologi
Hiperpigmentasi pasca inflamasi dapat terjadi pada semua usia dan jumlah rasio
penderita pria dan wanita sama banyak. Orang berkulit gelap lebih banyak
mengalami keadaan ini, dan bertahan lebih lama.3
c.Etiopatofisiologi
Ada 2 tipe hiperpigmentasi pasca inflamasi, yaitu tipe epidermal dan tipe
dermal. Meningkatnya melanin di epidermal(akne,dermatitis atopik) disebut
hipermelanosis epidermal dan meningkatnya melanin dermal (lichen planus)
disebut hiperdemelanosis dermal).4
Pada hiperpigmentasi pasca inflamasi bentuk epidermal, terdapat
peningkatan produksi melanin dan atau transfer ke keratinosit. Mediator inflamasi
sperti prostaglandin E2 dan D2, dapat meningkatkan produksi pigmen pada tikus
dapat memegang peranan pada manusia.4
Pada hiperpigmentasi pasca inflamasi bentuk dermal(lupus eritroatosus,
lichen planus,lichen drug eruption dan lain-lain), terjadi kerusakan pada dermalepidermal juction, melanin masuk kedalam dermis melalui membran basalis yang
rusak, difagosis dan dideposit didalam menofag didermis menyebabkan
diskolorisasi yang lebih lama hilang menetap. Hiperpigmentasi pasca inflamasi
dapat juga terjadi setelah trauma pada epidermal, makrofag mengadakan migrasi
ke epidermis dan memfagosit melanosum. Makrofag ini kemudian kembali ke
dermis dimana pigmen melanin menetap jangka waktu yang tidak terbatas.4
d.Manifestasi Klinis

10

Fitzpatrick membagi hipermelanosis berdasarkan distribusi melanin dalam


kulit:4
a.Hipermelanosis coklat bila pigmen melanin terletak pada epidermis
b.Hipermelanosis abu-abu bila pigmen melanin terletak pada dermis.
Manifestasi hiperpigmentasi pasca inflamasi berupa macula dan patch
hiperpigmentasi, dengan warna bervariasi mulai dari coklat sampai coklat gelap
atau biru abu-abu sampai coklat abu-abu(melanin dermal). Lesi primer kelainan
yang mendasari dapat terlihat jelas, namun walaupun tanpa lesi primer, ukuran,
bentuk dan pola distribusi, sudah merupakan petunjuk mengenai etiologi yang
mendasari terjadinya hiperpigmentasi pasca inflamasi. Hiperpigmentasi pasca
inflamasi yang berlanjut atau jika terpajan matahari.4
Kelainan yang sering menyebabkan pigmentasi epidermal yaitu akne,
pioderma, dermatitis atopik, psoriasis,dan ptiriasis rosea. Pada dermatosis yang
disertai degenerasi vakuolar pada lapisan basal dan peradangan eritomatosus dan
fixed drug eruption berasosiasi dengan melanofag. menghasilkan pigmentasi
dermal. Secara umum hiperpigmentasi pasca inflamasi epidermal akan membaik
jika penyakit yang diobati dengan baik, namun pada orang yang berkulit gelap
memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun, melanosis dermal
kadang bersifat permanen.4
e.Penatalaksanaan
Jika

dermatosis

yang

mendasari

berhasil

diobati,

biasanya

hiperpigmentasai pasca inflamasi akan membaik pada sebagian besar pasien,


terutama pada bentuk epidermal. Proteksi matahari termasuk pemakaian
sunscreens broad-spectrum dapat membantu. Hidrokuinon 2-4% topical, dapat
memberikan kecerahan kulit(dipakai 3-6 bulan), jika pigmen terbatas pada
epidermis. Kombinasi hidroquinon,retinoid, dan kortikosteroid lebih efektif
dibandingkan monoterapi. Penggunaan laser harus hati-hati karena dapat
memberikan efek samping hipopigmentasi, terutama pada orang yang berkulit
gelap atau coklat.4