Anda di halaman 1dari 14

Pengenalan dasar Basin

GALERI

Ditulis pada Maret 20, 2012

Apakah Basin ( Cekungan ) itu ?

Gbr dari : www. id.wikipedia.org

Basin ( Cekungan ) berasal dari terjemahan dari cekungan secara bebas


adalah topografi yang cekung (legok) yang terbentuk secara alamiah dimana
tempat sedimen berakumulasi atau berkumpul.

ANALISA CEKUNGAN SEDIMEN

Para ahli sedimentologi mempelajari batuan sedimen untuk mengetahui sejarah geologi
dan potensi ekonomi dari batuan tersebut. Untuk itu, diperlukan studi yang bersifat
terpadu dari berbagai cabang ilmu geologi, termasuk di dalamnya sedimentologi,
stratigrafi, dan tektonik. Dengan demikian dapat diketahui secara menyeluruh batuan
sedimen yang mengisi suatu cekungan sehingga dapat dipergunakan sebagai bahan
untuk menginterpretasi sejarah geologi dan membuat evalusasi potensi ekonominya

(Boggs, 1995; 2001). Studi terpadu seperti ini dikenal dengan sebutan analisa
cekungan sedimen (basin analysis).
Pada perkembangan teori geosinklin, sebagian para ahli geologi berpikir bahwa batuan
sedimen yang umumnya diendapkan di laut dangkal pada suatu geosinklin, dan terus
mengalami subsiden. Sejalan dengan berkembangnya teori tektonik lempeng pada awal
1960an, pendapat itu mulai tersisih. Saat ini para ahli geologi menemukan berbagai jenis
cekungan dengan berbagai mekanisme pembentukannya. Secara umum, titik berat
perhatian pada analisa cekungan sedimen adalah pada tektonik global pembentukan
cekungan dan berbagai proses yang mengontrolnya (termasuk perubahan muka laut,
pasokan sedimen, dan penurunan cekungan).

Cekungan sedimen adalah suatu daerah rendahan, yang terbentuk oleh proses tektonik,
dimana sedimen terendapkan. Dengan demikian cekungan sedimen merupakan depresi
sehingga sedimen terjebak di dalamnya. Depresi ini terbentuk oleh suatu proses
nendatan (subsidence) dari permukaan bagian atas suatu kerak. Berbagai penyebab
yang menghasilkan nendatan, di antaranya adalah: penipisan kerak, penebalan mantel
litosper, pembebanan batuan sedimen dan gunungapi, pembebanan tektonik,
pembebanan subkerak, aliran atenosper dan penambahan berat kerak. Dickinson (1993)
dan Ingersol dan Busby (1995) yang disarikan oleh Boggs (2001) memberikan
kemungkinan mekanisme nendatan kerak sebagai tertera dalam Tabel.
KLASIFIKASI CEKUNGAN SEDIMEN
Pembentukan cekungan sedimen erat hubungannya dengan gerakan kerak dan proses
tektonik yang dialami lempeng. Ingersol dan Busby (1995) menunjukkan bahwa
cekungan
sedimen
dapat
terbentuk
dalam
4
(empat)
tataan
tektonik:
divergen, intraplate, konvergen dan transform). Menurut Dickinson, 1974 dan Miall, 1999;
klasifikasi cekungan sedimen dapat berdasarkan pada:
1.

tipe dari kerak dimana cekungan berada,

2.

posisi cekungan terhadap tepi lempeng,

3.

untuk cekungan yang berada dekat dengan tepi lempeng, tipe interaksi
lempeng yang terjadi selama sedimentasi,

4.

Waktu pembentukan dan basin fill terhadap tektonik yang berlangsung,

5.

Bentuk cekungan.

Selley (1988) memberikan klasifikasi cekungan sedimen secara sederhana seperti dalam
Tabel. , sedang Boggs (2001) membagi cekungan sedimen lebih rinci dan lebih komplit.
Mekanisme penendatan disariakan dari Dickinson (1993 dan Ingersol dan Busby (1995)
Penipisan
kerak (crustal thinning):

Perenggangan, erosi selama pengangkatan, dan penarikan

akibat magmatisme

Penebalan mantel
litosper (mantlelithospheric thickening):

Pendinginan
litosper
yang
diikuti
penghentian
perenggangan atau pemanasan akibat peleburan adiabatik
atau naiknya lelehan astenosper

Pembebanan batuan
sedimen dan
gunungapi(sedimentary
and volcanic loading):

Kompensasi isostatik lokal dari kerak dan perenggangan


litosper regional, tergantung kegetasan litosper, selama
sedimentasi dan kegiatan gunungapi

Pembenan
tektonik (tectonic
loading):

Kompensasi isostatik lokal dari kerak dan perenggangan


litosper regional, tergantung kegetasan dibawah litosper,
selama pensesaran naik (overthrusting) dan/atau tarikan
(underpulling)

Pembenan subkerak
(subcrustal loading):

kelenturan
padat

Aliran
astenosper(asthenosph
eric flow):

pengaruh dinamik aliran astenosper, umumnya karena


penunjaman litosper

Penambahan berat
kerak(crustal
densification):

Peningkatan berat jenis kerak akibat perubahan tekanan/


temperatur dan/atau pengalihan tempat kerak berberatjenis tinggi ke kerak berberat-jenis rendah

litosper

selama underthrusting dari

litosper

Klasifikasi cekungan sedimen (Selley, 1988)


PROSES PENYEBAB

TIPE CEKUNGAN

TATAAN TEKTONIK
LEMPENG

TERBENTUKNYA
Crustal sag

Cekungan intrakraton

Intra-plate collapse

Puntir (tension)

Epicratonic downward
Rift

Tekanan (compression)

Tepian lempeng pasif (passive


plate margin)
Sea-floor spreading

Palung (trench)

Subduksi (tepian lempeng


aktif)

Busur depan (fore-arc)


Busur belakang (back-arc)

Wrenching

Strike-slip

Gerakan mendatar lempeng

Klasifikasi cekungan menurut Boggs (2001)

TATAAN
TECTONIK

Divergen

Antarlempeng

TIPE CEKUNGAN

Rift: terrestrial rift valleys; proto-oceanic rift valleys

Cekungan
beralaskan
kerak
benua/peralihan: cekungan
intrakraton,
paparan benua, sembulan benua (continental rises)
dan undak, pematang benua.
Cekungan beralaskan kerak samodra: cekungan samodra aktif,
kepulauan samodra, dataran tinggi dan bukit aseismik (aseismic rigde
and plateau)

Konvergen

Cekungan akibat subduksi: palung, cekungan lereng palung,


cekungan busur depan, cekungan intra-busur, cekungan busur

belakang.
Cekungan akibat tabrakan: cekungan retroac forels, peripheral
foreland basin, cekungan punggung babi (piggyback basin), broken
forland

Tranform

Cekungan akibat sesar mendatar: cekungan transextensional,


transpressional, transrotaional

Hybrid

Cekungan
akibat
berbagai
sebab: cekungancekungan intracontinental wrench, aulacogen, impactogen, successor

Buku ini tidak membahas secara rinci semua jenis cekungan sedimen, akan tetapi
beberapa cekungan yang dianggap penting di Indonesia akan dibahas secara singkat di
bawah ini (sebagian besar disarikan dari Boggs, 2001).
Cekungan Intrakraton (Intracratonic Basin)
Cekungan intrakraton umumnya cukup besar terletak di tengah suatu benua yang jauh
dari tepian lempeng. Subsiden pada cekungan jenis ini umumnya disebabkan oleh
penebalan mantel-litosfir dan bembebanan oleh batuan sedimen atau gunungapi (Boggs,
2001). Beberapa cekungan intrakraton ini diisi oleh endapan klastika laut, karbonat, atau
sedimen evaporit yang diendapkan mulai dari laut epikontinental sampai darat.
Cekungan tua jenis ini di antaranya adalah Cekungan Amadeus dan Carpentaria di
Australia, Cekungan Parana di Amerika Latin, dan Cekungan Paris di Perancis. Sedangkan
contoh cekungan modern jenis ini adalah Cekungan Chad di Afrika.
Renggang (Rift)
Cekungan akibat perenggangan ini umumnya sempit tetapi memanjang, dibatasi oleh
lembah patahan. Ukuran berkisar dari beberapa km sampai sangat lebar seperti pada
Sistem Renggangan Afrika Timur, dimana mempunyai lebar 30-40 km dan panjang
hampir 300 km. Cekungan ini dapat terbentuk oleh berbagai tataan tektonik, namun
yang paling umum oleh divergen. Perenggangan lempeng benua seperti antara Amerika
Utara dan Eropa terjadi pada Trias menghasilkan Punggungan Tengah Atlantik (MidAtlantic Ridge). Sistem renggangan pada Afrika Timur merupakan contoh sistem
renggangan modern.

Aulakogen (Aulacogen)

Aulakogen adalah jenis khusus dari renggangan yang menyudut besar terhadap tepian
benua, dimana umumnya dianggap sebagai renggangan tetapi gagal dan kemudian
diaktifkan kembali selama tektonik konvergen. Palung yang sempit tapi panjang dapat
menggapai sampai kraton benua dengan sudut besar dari lajur sesar. Sedimen yang
mengisi cekungan jenis ini dapat berupa sedimen darat (misalnya kipas aluvium),
endapan paparan, dan endapan yang lebih dalam seperti endapan turbit. Contoh
aulakogen di antaranya Renggangan Reelfoot yang berumur Paleozoik dimana Sungai
Misisipi mengalir dan Palung Benue yang berumur Kapur dimana Sungai Niger
membelahnya.
Cekungan tepian benua
Cekungan tepian benua dicirikan oleh kehadiran baji yang sangat besar dari sedimen
yang ke arah laut dibatasi oleh lereng landai dari benua dan sembulan. Ketidakterusan
struktur dijumpai di bawah sistem ini, antara kerak benua normal dan kerak peralihan.
Sedimen terendapkan pada sistem ini: pada paparan berupa pasir neritik dangkal,
lumpur, kabonat dan endapan evaporasi; pada lerengan terdiri atas lumpur hemipelagik;
dan pada sembulan benua berupa endapan turbit. Cekungan renggangan (rift basin)
dapat berhubungan dengan cekungan tepian benua. Contoh yang baik dari cekungan
jenis ini adalah pantai Amerika dan bagian selatan-timur Kanada (Cekungan Blake
Plateau, Palung Lembah Baltimor, Cekungan George Bank dan Cekungan Nova Scotian)
yang terbentuk pada akhir Trias- awal Jura oleh renggangan dan terpisahnya Pangea.
Beberapa cekungan itu terpisahkan dari laut membentuk lapisan tebal dari endapan
klastik arkosik dan endapan lakustrin; berselingan dengan batuan gunungapi basa.
Cekungan yang lain berhubungan dengan laut, membentuk sedimen yang berkisar dari
endapan evaporit sampai delta, turbit, dan serpih hitam.
Cekungan berhubungan dengan subduksi

Subduksi ditunjukkan dengan aktifnya tepian benus yang mana umumnya dicirikan oleh
adanya palung laut dalam, busur gunungapi aktif, rumpang parit-busur (arc-trench gap)
yang memisahkan ke duanya. Tataan subduksi terjadi lebih banyak pada tepian benua
dibandingkan pada besur samodra.
Sedimen terendapkan pada sistem subduksi ini lebih dikuasai oleh endapan silisiklastik
yang umumnya berupa batuan gunungapi berasal dari busur gunungapi. Endapan ini
dapat berupa pasir dan lumpur yang terendapkan pada paparan, lumpur dan endapan
turbit terendapkan dalam air yang lebih dapam pada lereng, cekungan, dan parit.
Sedimen pada parit dapat berupa endapan terigen yang terangkut oleh arus turbit dari
daratan, bersamaan dengan sedimen dari lempeng samodra yang tersubduksikan. Ini
umumnya membentuk kompleks akrasi. Batuan campuraduk (melange) dapat terbentuk
pada daerah akrasi ini, yang dicirikan oleh percampuran dari batuan berbagai jenis yang
tertanam pada masa dasar yang mengkilap (sheared matrix).
Contoh yang baik dari sistem subduksi ini adalah subduksi Sumatra, Jepang, Peru, Chili
dan Amerika Tengah. Contoh cekungan busur muka purba di antaranya adalah cekungan
busur muka Great Valley, Kalifornia; Midland Valley, Inggris dan Coastal range, Taiwan.
Contoh cekungan busur belakang di antaranya terjadi pada Jura Akhir Awal Kapur
terbentuk di belakang Busur Andean di Chili selatan.
Cekungan berhubungan patahan mendatar/transform

Patahan yang dapat membentuk cekungan ini adalah patahan mendatar yang menoreh
dalam kerak sampai membatasai dua lempeng yang berbeda (transform fault) dan
patahan yang terbatas dalam suatu lempeng dan hanya menoreh bagian atas kerak
(Sylvester, 1988). Cekungan yang berhubungan dengan patahan mendatar regional
terbentuk sepanjang punggung pemekaran, sepanjang batas patahan antar lempeng,
pada tepian benua dan daratan dalam lempeng benua. Gerakan sepanjang patahan
mendatar regional dapat membentuk berbagai cekungan nendatar (pull-apart basin).
Cekungan yang dibentuk karena patahan mendatar umumnya kecil, garis tengahnya
hanya beberapa puluh kilometer, walaupun ada beberapa yang sampai 50 km. Karena
patahan mendatar terbentuk pada berbagai tataan geologi, cekungan ini dapat diisi
sedimen laut maupun darat. Ketebalan sedimen cenderung sangat tebal, karena
kecepatan sedimentasi yang tinggi yang dihasilkan oleh erosi dari daerah sekitarnya
yang berelevasi tinggi, dan boleh jadi ditandai dengan banyaknya perubahan fasies
secara lokal. Di Indonesia Cekungan jenis ini banyak terdapat sepanjang Patahan
Sumatra.

TEKNIK ANALISA CEKUNGAN


Sedimen yang mengisi suatu cekungan merupakan faktor yang sangat penting untuk
dipelajari dalam analisa cekungan sedimen yang bersangkutan. Sedimen tersebut
dipelajari bagaimana proses terbentuknya, sifat batuan dan aspek ekonominya. Proses
pembentukan sedimen meliputi pelapukan, erosi, transportasi dan pengendapan, sifatsifat fisik, kimia dan biologi batuan; lingkungan pengendapan, dan posisi stratigrafi.
Beberapa faktor yang mempengaruhi proses pengendapan dan sifat sedimen adalah:
1.

litologi batuan induk, akan sangat mempengaruhi komposisi sedimen yang


berasal dari batuan tersebut;

2.

topografi dan iklim dimana batuan induk berada, mempengaruhi kecepatan


denudasi yang menghasilkan sedimen yang kemudian diendapkan dalam
cekungan;

3.

kecepatan
penurunan
cekungan
kenaikan/penurunan muka laut; dan

4.

ukuran dan bentuk dari cekungan.

bersamaan

dengan

kecepatan

Analisa cekungan merupakan hasil interpretasi yang berdasarkan pada proses


sedimentasi, stratigrafi, fasies dan sistem pengendapan, peleoseanografi, paleogeografi,

iklim purba, analisa muka laut, dan petrografi/mineralogi (Klein, 1995; Boggs, 2001).
Penelitian sedimentologi dan analisa cekungan sekarang ini ditikberatkan pada analisa
fasies sedimen, siklus subsiden, perubahan muka laut, pola sirkulasi air laut, iklim purba,
dan sejarah kehidupan.
Model pengendapan semakin meningkat digunakan untuk mengetahui lebih baik tentang
pengisian cekungan dan pengaruh berbagai parameter pengisian cekungan seperti
pasokan sedimen, besar butir, kecepatan penurunan cekungan, dan perubahan muka
laut.
Sebagai bahan untuk analisa cekungan, dibutuhkan berbagai data, mulai data dari
singkapan sampai data bawah permukaan. Data tersebut termasuk data hasil pemboran
dalam, studi polarisasi magnetik dan eksplorasi geofisika. Pembahasan berikut ini secara
singkat akan diketengahkan teknik analisa cekungan yang umum dilakukan.
Penampang Stratigraf
Data lengkap dan akurat tentang sedimen dari singkapan maupun inti bor, baik
ketebalan maupun litologi setiap himpunan sedimen, merupakan hal yang sangat
penting untuk interpretasi sejarah bumi. Untuk menghimpun data tersebut diperlukan
pengukuran dan pemerian secara teliti dan akurat pada singkapan dan/atau inti bor.
Kegiatan menghimpun data ini jamak disebut pembuatan penampang stratigrafi terukur,
yang meliputi pemerian litologi, sufat-sifat perlapisan, dan kenampakan lainnya dari
batuan. Pemakaian teknik tertentu dalam melakukan pengukuran penampang stratigrafi
sangat tergantung pada kegunaan hasil pengukuran dan keadaan singkapan diukur di
alam. Kottlowski (1965) menunjukkan beberapa cara dan peralatan untuk melakukan
pembuatan penampang stratigrafi.
Sejumlah penampang stratigrafi dapat dipakai dalam pembuatan penampang melintang
stratigrafi yang sangat bermanfaat dalam korelasi stratigrafi, interpretasi struktur dan
perubahan fasies yang boleh jadi diikuti oleh perubahan dari lingkungan dan arti
ekonomis. Penampang melintang digambarkan segai ilustrasi yang menggambarkan
keadaan lokal dari suatu cekungan, sering pula disiapkan dalam rangka pembuatan peta
fasies, atau bahkan menggambarkan runtunan stratigrafi seluruh cekungan. Pada
umumnya penampang stratigrafi menggambarkan dua demensi dari litologi dan/atau ciri
struktur dari suatu unit stratigrafi atau unit yang memotong suatu wilayah geografi.
Diagram Pagar
Informasi stratigrafi dapat pula disajikan dalam diagram pagar yang menggambarkan
pandangan tiga dimensi stratigrafi dari suatu daerah atau wilayah tertentu. Dengan cara
ini hubungan antar satuan stratigrafi dapat dilihat dengan jelas. Sayangnya, bagian
pagar depan akan menutup sebagian belakangnya; sehingga menyulitkan pembuat
untuk menyuguhkan gambar yang baik dan jelas.
Peta Struktur
Untuk menggambarkan bentuk dan orientasi cekungan serta geometri pengisian
cekungan diperlukan peta struktur. Pada dasarnya, kontur pada peta ini adalah kumpulan

titik-titik yang mempunyai elevasi sama dari bagian atas atau bawah suatu datum
tertentu. Struktur lokal seperti antiklin dan sinklin dapat dengan mudah dikenali pada
peta jenis ini. Peta struktur ini sangat berguna dalam eksplorasi baik hidrokarbon
maupun mineral dan batubara. Dasar cekungan dapat digambarkan dengan peta ini,
apabila menggunakan datum bagian bawah lapisan tertua pengisi cekungan yang
bersangkutan. Dengan begitu topografi purba dapat diinterpretasi dengan mudah.
Peta Isopak
Peta isopak adalah suatu peta yang konturnya menghubungkan titik-titik yang
mempunyai ketebalan sama dari suatu lapisan atau satuan batuan. Ketebalan suatu
satuan batuan tergantung dari kecepatan pasokan sedimen dan ruang yang tersedia
pada cekungan. Ruang pada cekungan merupakan fungsi dari geometri cekungan dan
kecepatan subsiden cekungan. Bagian yang menebal secara abnormal merupakan pusat
pengendapan, sebaliknya yang menipis abnormal adalah daerah yang sebelum
pengendapan merupakan tinggian atau sudah lebih banyak tererosi setelah
pengendapan. Dengan peta jenis ini dapat digambarkan keadaan cekungan sebelum dan
selama pengendapan, sehingga apabila dilakukan analisa peta isopak untuk setiap
satuan pada cekungan dimana mereka diendapkan, akan mendapatkan informasi
perubahan struktur cekungan dari waktu ke waktu.
Peta Paleogeologi
Peta paleogeologi adalah peta yang menggambarkan kondisi geologi tertentu di bawah
atau di atas suatu unit tertentu. Sebagai contoh, kita dapat mengupas semua satuan
batuan mulai dari unit stratigrafi tertentu untuk melihat satuan batuan di bawah unit
stratigrafi tertentu tersebut. Kemudian kita gambarkan peta geologi di atas alas satauan
batuan tersebut. Peta semacam ini disebut peta superkrop (supercrop map). Dengan
yang cara sama, satuan batuan di atas suatu formasi atau tubuh batuan tertentu dapat
pula digambarkan. Peta superkrop umumnya dibuat pada batas ketidakselarasan, tetapi
dapat pula dibuat pada suatu satuan batuan yang mempunyai ciri tertentu. Manfaat peta
jenis ini adalah untuk interpretasi pola aliran purba, pola pengisian cekungan, pergeseran
garis pantai, penimbunan secara gradual dari paleotopografi.
Peta Litofasies
Peta fasies menggambarkan vareasi sifat litologi atau biolofi dari satuan stratigrafi
tertentu (Boggs, 2001). Peta fasies yang umum dipakai adalah peta litofasies dimana
menyajikan beberapa aspek komposisi dan tekstur batuan. Peta litofasies yang umum
dipakai adalah:
a. peta perbandingan klastik (clastic-ratio map) dan
b. peta litofasies tiga komponen.
Peta perbadingan klastik menunjukkan kontur dari perbandingan klastik yang sebanding.
Sedangkan perbandingan klastik adalah perbandingan dari jumlah kumulatif ketebalan
endapan klastik dan jumlah kumulatif endapan non-klastik, sebagai contoh:
(konglomerat + batupasir + serpih)
-----------------------------------------(batugamping + dolomit + evaporit + batubara)

Peta jenis ini sangat bermafaat untuk melihat hubungan litologi dengan tepi cekungan
dimana sedimen tersebut diendapkan. Tentu saja bagian yang nilai perbandingan
klastiknya relatif tinggi menunjukan bagian tersebut dekat dengan asal batuan atau
sangat mungkin tepi cekungan. Sedangkan bagian yang nilai perbandingan klastiknya
rendah menunjukkan bagian tersebut relatif jauh dari tepi cekungan. Dengan peta ini
juga dapat diketahui arah tranportasi sedimen secara regional dalam cekungan itu.
Peta litofasies tiga komponen menyajikan rata-rata atau pola kelimpahan relatif dalam
suatu satuan stratigrafi dari tiga komponen litofasies (Boggs, 2001).
Analisa Arus Purba
Analisa arus purba adalah suatu teknik yang digunakan untuk mengetahui arah aliran
dari arus purba pembawa sedimen ke dalam suatu cekungan pengendapan (Boggs,
2001). Tentu saja, dengan teknik ini akan diketahui juga arah kemiringan lereng purba
baik lokal maupun secara regional dan sekaligus asal dari sedimen yang terendapkan.
Analisa arus purba dapat dilakukan dengan mempelajari secara mendalam dari berbagai
struktur sedimen, seperti silang siur, alur sungai, dan ripple mark. Geometri dan
kecenderungan dari suatu unit batuan sering dapat membantu untuk interpretasi
lingkungan pengendapan dan arah arus purba. Orientasi dari kepingan batuan berbutir
besar (seperti kerakal dan brangkal), ketebalan lapisan, vareasi litologi dalam suatu
lapisan dapat dipakai untuk interpretasi arah arus purba dan lokasi asal atau sumber
batuan.
Studi Provenan (Asalmuasal) Batuan
Komposisi dari suatu batuan sedimen klastika yang mengisi suatu cekungan sangat
dipengaruhi oleh komosisi batuan sumbernya. Komposisi itu tentu saja juga dipengaruhi
oleh pelapukan dan iklim daerah yang bersangkutan. Studi provenan meliputi: (a)
Komposisi litologi dari asal batuan, (b) tataan tektonik dari daerah asal batuan, dan (c)
iklim, topografi, dan kemiringan daerah asal batuan (Boggs, 2001).
Vareasi litologi dari batuan asal dipelajari dari berbagai jenis mineral dan kepingan
batuan yang dijumpai pada suatu batuan sedimen klastika.

Saat ini geologis menyadari bahwa asal-usul dari suatu cekungan sedimenter berhubungan sedemikian
rupa dengan pergerakan krustal dan proses lempeng tektonik. Beberapa klasifikasi tektonik untuk
pembagian tipe-tipe cekungan telah banyak diajukan(Dickinson, 1974; Bally dan Snelson, 1980;
Kingston, Dishroon, dan William, 1983; Mitchell dan Reading, 1986; Klein, 1987; Ingersoll, 1988;
Ingersoll dan Busby, 1995). Ingersoll dan Busby(1995) menekankan bahwa cekungan sedimen dapat
terbentuk oleh empat susunan tektonik yang telah dibahas sebelumnya(divergen, Intraplate, konvergen,
dan transform) dan juga dalam setinghybrid(Tabel 16.2). Jenis cekungan sedimen yang berbeda dapat
diidentifikasi dalam variasi setingan yang didasarkan pada (1) jenis kerak dimana cekungan itu berada,
(2) posisi dari cekungan itu terhadap plate margin, dan (3) untuk cekungan yang terletak dekat

dengan plate margin, jenis interaksi lempeng yang terjadi selama proses
berlangsung(Dickinson, 1974; Miall, 2000, p. 468).
Tabel 16.2 Tipe-tipe utama cekungan sedimen dan seting tektoniknya

sedimentasi

Seting Divergen
Terestrial rift valley: Rift di dalam kerak benua yang berasosiasi dengan vulkanisme bimodal. Contoh
modern: Rio Grand Rift(New Mexico)
Proto-ocean rift troughs: Bentuk evolusi awal dari cekungan samudra yang dialasi oleh lempeng
samudra baru dan di diapit di kedua sisinya oleh rifted continental margin yang masih muda. Contoh
modern: Laut Merah.
Seting Intraplate
Continental rises dan terraces: Rifted continental margin yang sudah matur dalam suatu seting
intraplate pada pertemuan kontinen-samudra. Contoh modern: Pesisir timur USA.
Continental embankment: Progadasi wedge sedimen yang terbentuk di tepian suaturifted continental
margin. Contoh modern: Pesisir Teluk Missisipi.
Cekungan Intrakratonik: Cekungan kratonik luas yang dialasi rift fossil pada zona axialnya. Contoh
modern: Cekungan Chad(Africa).
Platform Kontinental: Kraton stabil yang dilapisi oleh strata sedimen tipis dan secara lateral melampar
luas. Contoh modern: Laut Barents(Aisa).
Cekungan samudra aktif: Cekungan yang dialasi oleh lempeng samudra yang terbentuk pada batas
lempeng divergen, tidak berhubungan dengan sistem arch-trench(spreading masih aktif). Contoh
modern: Laut Pasifik.
Kepulauan Oseanik, aseismic ridge and plateu: Apron sedimen dan dataran yang dibentuk pada seting
intraoseanik selain tipe busur magmatic. Contoh modern: gunung bawah laut Emperor-Hawaii.
Cekungan samudra dorman: cekungan yang dialasi oleh lempeng samudra, yang tidak
mengalami spreading atau subduksi(tidak terdapat plate boundaries aktif di dalam atau di bagian
cekungan lain yang berdampingan). Contoh modern: Teluk Meksiko.
Seting Konvergen
Trenches: Palung yang sangat dalam, dibentuk oleh proses subduksi dari litosfer samudra. Contoh
modern: Palung Chile.
Cekungan Trench-Slope: Struktur depresi local yang berkembang pada kompleks subduksi. Contoh
modern: Trench Amerika Tengah.
Cekungan For-arc: Cekungan yang berada pada gap antara arc dan trench. Contoh modern: Sumatra.
Cekungan
Intra-arc:
Cekungan
di
sepanjang platform
arc yang
termasuk
gunung
apisuperposed dan overlapping. Contoh modern: Lago de Nikaragua.
Cekungan Back-arc: Lempeng samudra di belakang busur magmatic intraoseanik(termasuk cekungan
intra-arc di antara busur aktif dan remnant), dan cekungan kontinen di belakang busur
magmatic continental-margin tanpa forelanf fold-thrust belts. Contoh modern: Marianas.
Cekungan Samudra Remnan: cekungan samudra yang mengecil akibat terperangkap antara continental
margin dan atau sistem arc-trench yang saling bertabrakan, dan pada akhirnya mengalami subduksi dan
terdeformasi di dalam suatu suture belts. Contoh modern: Pesisir Bengal.
Cekungan Peripheral Foreland: Cekungan foreland yang terletak di atas rifted continental margin yang
telah ditarik ke dalam zona subduksi selama proses tabrakan krustal(tipe utama dari tumbukan yang
berhubungan dengan foreland). Contoh modern: Teluk Persia.
Cekungan Piggyback: Cekungan yang terbentuk dan terbawa di atas suatu thrust sheet yang bergerak.
Contoh modern: Cekungan Peshawar(Pakistan).
Cekungan Foreland Intermontane: Cekungan yang terbentuk di antara pengangkatanbasement-cored di
suatu seting foreland. Contoh modern: Cekungan Sierra Pampeanas(Argentina).
Seting Transform
Cekungan Transtensional: Cekungan yang terbentuk oleh proses ektensi di sepanjang sistem
patahan Strike-slip. Contoh modern: Laut Salton California.
Cekungan Transpressional: Cekungan yang dibentuk oleh kompresi di sepanjang sistem patahan strikeslip. Contoh modern: Cekungan Santa Barbara California(foreland).
Cekungan Transrotasional: Cekungan yang terbentuk oleh proses rotasi dari suatu blok krustal pada axis
yang mendekati vertikal pada suatu sistem patahan strike-slip. Contoh modern: fore-arc Western
Aleutian.
Seting Hybrid
Cekungan Intrakontinental wrench: Bermacam cekungan yang terbentuk di dalam kerak benua yang
dipengaruhi oleh proses collision. Contoh modern: Cekungan Quaidam(China).

Aulacogen: Bekas Rifting yang gagal terbentuk pada sudut tinggi terhadap margin kontinen, yang telah
mengalami reaktivasi selama proses tektonik konvergensi, sehingga berada pada bagian sudut tinggi
terhadap sabuk orogenik. Contoh modern: Teluk Missisipi.
Impactogen: Rift yang terbentuk pada sudut tinggi terhadap sabuk orogeni, tanpa adanya sejarah
preorogeni sebelumnya(kontras dengan aulacogen). Contoh modern: Rift Baikal bagian distal(Siberia).
Cekungan Succesor: Cekungan yang terbentuk pada seting intermontane diikuti oleh proses jeda
istirahat kegiatan orogeni local atau aktivitas taphrogenik. Contoh modern: Barisan punggungan dan
cekungan Arizona.
Klasifikasi cekungan dimodifikasi dari Dickinson, 1974, 1976, dan Ingersoll, 1988. Sumber: Ingersoll, R.
V., dan C. J. Busby, 1995 Tectonic of sedimentary basin, dalam Busby, C. J., dan R. V. Ingersoll(eds.),
Tectonic of sedimentary basin: Blackwell Science, Tabel 1.1, hal. 3, Tabel 1.2, hal. 5.

Gambar 1.3. Representasi skematik dari beberapa cekungan yang terbentuk secara tektonik.(Dickinson
dan Yarborough, 1976; Kingston, Dishroon, dan William, 1983; Mitchel dan Reading, 1986; Einsele,
1992; Ingersoll dan Busby, 1995.)
Cekungan pada Seting Divergen
Seting tektonik divergen adalah suatu region di Bumi dimana lempeng tektonik mengalami proses
pemekaran atau pemisahan. Area ini memiliki karakteristik berupa fitur-fitur ekstensional(stretching).
Contoh dari ekstensi yang terjadi antara lain pemekaran lantai samudra di sepanjang mid-oceanic ridge ,
proses peregangan, dandownfaulting dari kerak benua untuk membentuk suatu struktur graben.

Cekungan yang terbentuk pada suatu seting divergen sangat dipengaruhi oleh mekanisme penipisan
kerak, pembebanan sedimenter dan vulkanik, dan proses densifikasi krustal(Gambar 1.2).
Tahap awal dari suatu rifting dicirikan oleh proses pemecahan kerak dan pergerakan blok ke bawah
untuk membentuk sesar graben yang disebut terrestrial rift valley. Rift (gambar 1.3) adalah suatu
bentuk sempit, berbentuk lembah yang dibatasi patahan dengan ukuran bervariasi mulai dari graben
dengan ukuran beberapa kilometer hingga rift gigantik seperti yang ada di sistem rift Afrika TImur, yang
memiliki ukuran panjang 3000 km dan lebar 30-40 km. Rift terbentuk akibat semacam fenomena
thermal yang menyebabkan ekstensi atau pemekaran di dalam suatu kerak benua. Sistem Rift Afrika
Timur (Gambar 1.4a) adalah contoh dari zona rift yang masih muda. Fase berbeda dalam perkembangan
dari suatu rift diilustrasikan pada gambar 1.4B. Rift Afrika Timur secara umum diisi oleh batuan
vulkanik, kendati demikian, bermacam-macam lingkungan pengendapan sedimen dapat dijumpai di
dalam rift ini, mulai dari darat(fluvial, lakustrin, dan gurun), transisi(Delta, estuary,tidal flat) dan
laut(shelf, submarine fan). Oleh karena itu, endapan dari suatu cekungan rift dapat bervariasi mencakup
konglomerat, batupasir, serpih, turbidit, batubara, evaporit, dan karbonat. Banyak sistem rift purba
dapat dijumpai di Asia, Eropa, Afrika, Arab, Australia, Amerika Utara, dan Amerika Selatan(Sengor,
1995; Leeder, 1995; Ravnas dan Steel, 1998). Mereka dapat dijumpai pada beberapa seting
tektonik(Sengor, 1995) namun terutama sangat berhubungan dengan seting divergen.
Referensi:
Boggs, Jr. S.(2006): Principal of Sedimentology and Stratigraphy 4 th edition, Hal 553-558, Pearson
Education, inc., Upper Saddle River New Jersey.