Anda di halaman 1dari 22

BAB I

STATUS PENDERITA
I.

ANAMNESIS
A. Identitas Pasien
Nama
Umur
Jenis kelamin
Agama
Pekerjaan
Alamat
Status
Masuk RS
Tanggal Periksa
Nomor RM

: Ny. M
: 51 tahun
: Wanita
: Islam
: Swasta/pedagang
: Pasar kliwon, Surakarta
: Menikah
: 11 Juni 2013
: 11 Juni 2013
: 01200803

B. Keluhan Utama
Wajah merot ke kiri
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang dengan keluhan wajah merot ke kiri. Keluhan
dirasakan sejak 2 hari sebelum periksa ke rumah sakit. Saat itu pasien
terbangun di pagi hari dan mendapati wajahnya merot ke kiri. Semalam
sebelumnya pasien mengaku tidur menyalakan kipas angin. Keluhan
wajah merot ke kiri terutama sudut mulut kanan turun ke bawah juga
disertai mata kanan tidak menutup sempurna sehingga terasa perih dan
berair, pipi kanan terasa kendor. Sisi wajah sebelah kanan terasa tebal,
makanan mudah terkumpul di sisi pipi kanan serta sensari rasa pada
lidah menurun, bila minum air sering keluar dari sisi mulut sebelah
kanan. Nyeri tidak ditemukan, perubahan pendengaran tidak ditemukan.
Sebelumnya penderita tidak pernah memeriksakan diri ke dokter.
D. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat trauma
: disangkal
Riwayat hipertensi
: disangkal
Riwayat diabetes melitus
: disangkal
Riwayat penyakit jantung
: disangkal
Riwayat kejang
: disangkal
Riwayat sakit dompo
: disangkal
Riwayat asma
: disangkal
Riwayat mondok
: disangkal
1

E. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat hipertensi

: disangkal

Riwayat diabetes melitus

: disangkal

Riwayat penyakit jantung

: disangkal

Riwayat alergi obat/makanan

: disangkal

Riwayat asma

: disangkal

F. Riwayat Kebiasaan
Riwayat merokok
Riwayat minum alkohol
Riwayat olahraga

: disangkal
: disangkal
: disangkal

G. Status Sosioekonomi
Pasien seorang wanita tinggal bersama suami dan 3 orang anak.
Pasien seorang pedagang makanan. Sehari-hari berjualan makanan di
rumah dan pulang pergi berbelanja dengan angkutan umum. Pasien
berobat dengan fasilitas umum.

II.

PEMERIKSAAN FISIK
A. Status Generalis
Keadaan umum
: tampak sakit ringan, E4V5M6, gizi kesan cukup.
BB/TB
: 52/155; BMI = 21,6
B. Tanda Vital
Tekanan Darah
: 130/80 mmHg
Nadi
: 64 x/ menit, isi cukup, irama teratur
Respirasi
: 20 x/ menit, irama teratur
Suhu
: Afebril
C. Kepala
Bentuk mesochepal, rambut hitam, tidak mudah rontok, tidak mudah
dicabut, atrofi otot (-)
D. Mata
Konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya langsung dan
tak langsung (+/+), pupil isokor (3mm/3mm), oedem palpebra (-/-),
sekret (-/-),
2

E. Hidung
Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), darah (-), sekret (-)
F. Telinga
Deformitas (-), darah (-), sekret (-)
G. Mulut
Mulut bau (+), bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-), lidah tremor
(-), stomatitis (-), mukosa pucat (-), gusi berdarah (-) drolling (-)
H. Leher
Simetris, trakea ditengah, JVP tidak meningkat, limfonodi tidak
membesar
I. Thoraks
a. Retraksi (-)
b. Jantung
Inspeksi

: ictus kordis tidak tampak

Palpasi

: iktus kordis tidak kuat angkat

Perkusi

: konfigurasi Jantung kesan tidak melebar

Auskultasi

: bunyi Jantung I dan II intensitas normal, reguler,


bising (-)

c. Paru
Inspeksi

: pengembangan dada kanan = kiri,

Palpasi

: fremitus raba kanan = kiri,

Perkusi

: sonor/Sonor

Auskultasi

: suara dasar vesikuler (+/+)


suara tambahan (-/-), wheezing (-/-)

J. Abdomen
Inspeksi

: dinding perut sejajar dinding dada

Palpasi

: supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

Perkusi

: timpani

Auskultasi

: bising usus (+) normal

K. Ekstremitas
Oedem
-

Akral dingin
-

L. Skala UGO FISCH

Persentase
Posisi

Nilai

Istirahat
Mengerutkan dahi
Menutup mata
Tersenyum
Bersiul

20
10
30
30
10

(%)
0, 30, 70,

Skor

100
30
30
70
30
30

6
3
21
9
3
Total 42

M. Status Psikiatri
Deskripsi Umum
1. Penampilan : wanita, tampak sesuai umur
2. Kesadaran : Kuantitatif

: compos mentis

Kualitatif

: tidak berubah

3. Perilaku dan aktivitas motorik : normoaktif


4. Pembicaraan : koheren
5. Sikap Terhadap Pemeriksa : kooperatif, kontak mata cukup
Afek dan Mood
1. Afek

: appropiate

2. Mood : normal
Gangguan Persepsi
1. Halusinasi (-)
2. Ilusi (-)
Proses Pikir
1. Bentuk : realistik
2. Isi

: waham (-)

3. Arus

: koheren

Sensorium dan Kognitif


1. Daya Konsentrasi : baik
2. Orientasi

: Orang : baik
Waktu : baik
Tempat : baik

3. Daya Ingat

: Jangka pendek : baik

Jangka panjang : baik


Daya Nilai : daya nilai realitas dan sosial baik
Taraf Dapat Dipercaya

: dapat dipercaya

N. Status Neurologis
1. Kesadaran
2. Fungsi luhur
3. Fungsi vegetatif
5.

: GCS E4V5M6
: dalam batas normal
:4. Fungsi sensorik
: tak ada kelainan
Fungsi motorik dan reflek
Kekuatan
Tonus
Refleks Fisiologis Reflek Patologi
5

+2

+2

+2

+2

6. Nervi craniales :
a. N. I
: dbn
b. N. II
: dbn
c. N. II, III : refleks cahaya (+/+), Isokor (3
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
O.

mm/3mm)
N. III, IV, VI
: gerak bola mata dbn
N. V
: dbn, refleks kornea (+/+)
N. VII :
parese N VII perifer dekstra
N. VIII : dbn
N. IX, X : dbn
N. XI
: dbn
N. XII : dbn

Range of Motion
ROM

NECK

Pasif
0 - 70
0 - 40
0 - 60
0 - 60
0 - 90
0 - 90

Fleksi
Ekstensi
Lateral bending kanan
Lateral bending kiri
Rotasi kanan
Rotasi kiri

Ekstremitas superior
Shoulder

Fleksi
Ekstensi
Abduksi
Adduksi
External rotasi

ROM pasif
Dextra Sinistra
0-90
0-50
0-180
0-75
0-90
5

0-90
0-50
0-180
0-75
0-90

Aktif
0 - 70
0 - 40
0 - 60
0 - 60
0 - 90
0 - 90

ROM aktif
Dextra Sinistra
0-90
0-50
0-180
0-75
0-90

0-90
0-50
0-180
0-75
0-90

Elbow

Wrist

Finger

0-90
0-150
0
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-100
0-30

0-90
0-150
0
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-100
0-30

0-90
0-150
0
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-100
0-30

0-90
0-150
0
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-100
0-30

Ekstremitas inferior

ROM pasif
Dextra Sinistra

ROM aktif
Dextra
Sinistra

Hip

0-120
0-30
0-45
0-45
0-30
0-30
0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

0-120
0-30
0-45
0-45
0-30
0-30
0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

Knee
Ankle

P.

Internal rotasi
Fleksi
Ekstensi
Pronasi
Supinasi
Fleksi
Ekstensi
Ulnar deviasi
Radius deviasi
MCP I fleksi
MCPII-IV fleksi
DIP II-V fleksi
PIP II-V fleksi
MCP I ekstensi

Fleksi
Ekstensi
Abduksi
Adduksi
Eksorotasi
Endorotasi
Fleksi
Ekstensi
Dorsofleksi
Plantarfleksi
Eversi
Inversi

0-120
0-30
0-45
0-45
0-30
0-30
0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

0-120
0-30
0-45
0-45
0-30
0-30
0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

Manual Muscle Testing


NECK
Fleksor M. Sternocleidomastoideus
Ekstensor

Fleksor
Ekstensor
Rotator
Pelvic Elevation

5
5

TRUNK
M. Rectus Abdominis
Thoracic group
Lumbal group
M. Obliquus Externus
Abdominis
M. Quadratus Lumbaris

5
5
5
5
5

Shoulder

Elbow

Wrist

Finger

Hip

Knee
Ankle

Q.

Ekstremitas superior
Fleksor
M deltoideus anterior
M biseps
Ekstensor
M deltoideus anterior
M teres mayor
Abduktor
M deltoideus
M biseps
Aduktor
M latissimus dorsi
M pectoralis mayor
Internal
M latissimus dorsi
rotasi
M pectoralis mayor
Eksternal
M teres mayor
rotasi
M infrasupinatus
Fleksor
M biseps
M brachialis
Ekstensor
M triseps
Supinator
M supinator
Pronator
M pronator teres
Fleksor
M flexor carpi radialis
Ekstensor
M ekstensor digitorum
Abductor
M ekstensor carpi
radialis
Adductor
M ekstensor carpi
ulnaris
Fleksor
M fleksor digitorum
Ekstensor
M ekstensor digitorum
Ekstremitas inferior
Fleksor
M Psoas mayor
Ekstensor
M Gluteus maksimus
Abduktor
M Gluteus medius
Adduktor
M Adduktor longus
Fleksor
Harmstring muscle
Ekstensor
Quadriceps femoris
Fleksor
M Tibialis
Ekstensor
M Soleus

Status Ambulasi
Independent

Dextra

Sinistra

5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

5
5

5
5

Dextra
5
5
5
5
5
5
5
5

Sinistra
5
5
5
5
5
5
5
5

III.

ASSESSMENT
Diagnosa klinis : Bells Palsy Dekstra
Diagnosa topis : Sekitar foramen stilomastoideus
Diagnosa etiologi : Idiopatik
Fungsional : Penurunan kemampuan fungsional dalam melakukan aktivitas
sehari-hari (makan/mengunyah, minum/berkumur, tersenyum)

IV. DAFTAR MASALAH


A. Masalah medis :
1.

Bells Palsy
B. Problem Rehabilitasi Medik
1

Fisioterapi

: a) Tidak dapat mengangkat alis sebelah kanan; b)


mata kanan tidak bisa menutup rapat dengan baik;
c) sudut mulut jatuh ke kanan.

Terapi Wicara

: (-)

Terapi Okupasi

: a) Mata kanan tidak bisa menutup rapat;b) Sudut


mulut jatuh ke kanan;c) pada saat minum/berkumur,

V.

Sosiomedik

air keluar menetes dari sudut kanan mulut.


: (-)

Ortesa-protesa

: Wajah tidak simetris

Psikologi

: (-).

PENATALAKSANAAN
A. Terapi medikamentosa
1. Vitamin B kompleks 2 x 1 tab sehari
2. Methyl prednisolon 4mg 3 x 1 tab sehari
B. Rehabilitasi Medik
1

Fisioterapi

: a. Infra red pada wajah sebelah kanan selama


10 menit.
b. Deep Kneading Massage wajah sebelah

kanan lamanya 5-10 menit


c. Latihan gerak volunter wajah sisi kanan di
depan cermin dengan gerakan mengerutkan
dahi,
2
3

Terapi Wicara
Terapi Okupasi

menutup

mata,

tersenyum,

bersiul/meniup, mengangkat sudut mulut.


: Tidak dilakukan.
: a) Latihan penguat otot wajah dengan
memberikan

latihan

menutup

mata,

mengerutkan dahi, meniup lilin, tersenyum,


meringis; b) latihan meningkatkan aktivitas
kerja sehari-hari dengan berkumur, latihan
makan dengan mengunyah di sisi kiri, minum
4

Sosiomedik

dengan sedotan.
: Edukasi keluarga
membantu

5
6

untuk

penderita

merawat

dalam

dan

menjalani

Ortesa-protesa

kehidupannya pasca trauma bakar.


: Menggunakan Y plester selama parese,

Psikologi

diganti setiap 8 jam.


: Memberikan support mental dan psikoterapi
pada pasien dan keluarga juga memberi
dorongan pada pasien agar mau berobat dan

Home program

melakukan terapi secara teratur.


a) Memakai kacamata hitam saat bepergian
siang hari; b) Artifial tears; c) sebelum tidur,
kelopak mata ditutup secara pasif, kompres
dengan air hangat pada sisi wajah sebelah
kanan selama 5- 10 menit; d). massage wajah
sebelah

kanan

ke

arah

atas

dengan

menggunakan tangan dari sebelah kanan.


Latihan meniup lilin dengan jarak semakin
dijauhkan, makan dengan mengunyah di sisi
kiri, minum dengan sedotan dan mengunyah
permen karet
VI. IMPAIRMENT, DISABILITY, DAN HANDICAP

A.

Impairment

: Kelumpuhan otot

wajah; sudut mulut jatuh ke kanan ; kelopak mata


kanan tidak bisa menutup rapat dengan baik.;
gangguan pada otot-otot wajah ;Pada saat
minum/berkumur, air keluar menetes dari sudut
B. Disability
VII.

mulut kanan; sulit untuk tersenyum.


: tidak ada.
C. Handicap
:
tidak ada.

TUJUAN
1. Perbaikan gangguan dan disability
2. Mencegah terjadinya komplikasi, seperti kontraktur otot wajah, sinkinesis,dll
3. Penanganan dini sehingga menghemat biaya dan waktu perawatan

VIII. PROGNOSIS
1.
ad vitam
: bonam
2.
ad sanam
: dubia ad bonam
3.
ad fungsionam: dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Bells Palsy (BP) adalah suatu kelumpuhan akut nervus fasialis perifer
yang tidak diketahui penyebabnya. Sir Charles Bell (1821) adalah orang pertama
yang meneliti beberapa penderita dengan wajah asimetrik, sejak itu semua
kelumpuhan n. fasialis perifer yang tidak diketahui sebabnya disebut Bells palsy.
Pengamatan klinik, pemeriksaan neurologi, laboratorium dan patologi anatomi
menunjukkan BP bukan penyakit tersendiri tetapi berhubungan erat dengan
banyak faktor dan sering merupakan gejala penyakit lain. Penyakit ini lebih sering
ditemukan pada usia dewasa, jarang pada anak di bawah umur 2 tahun. Biasanya
didahului oleh infeksi saluran napas bagian atas yang erat hubungannya
dengancuaca dingin. Diagnosis BP dapat ditegakkan dengan adanya kelumpuhan
n.fasialis perifer diikuti pemeriksaan untuk menyingkirkan penyebab lain
kelumpuhan n. fasialis perifer.1 Biasanya penderita BP mengetahui kelumpuhan n.
fasialis dari teman atau keluarga atau pada saat bercermin atau sikat
gigi/berkumur. Pada saat penderita menyadari bahwa ia mengalami kelumpuhan
pada wajahnya, maka ia mulai merasa takut, malu, rendah diri, mengganggu
kosmetik dan dapat merasa tertekan terutama pada wanita dan pada penderita
yang mempunyai profesi yang mengharuskan ia untuk tampil di muka umum.
Rehabilitasi Medik pada penderita BP diperlukan dengan tujuan membantu
memperlancar

vaskularisasi,

pemulihan

kekuatan

otot-otot

fasialis

dan

mengembalikan fungsi yang terganggu akibat kelemahan otot-otot fasialis


sehingga penderita dapat kembali melakukan aktivitaskerja sehari-hari dan
bersosialisasi dengan masyarakat.2,3,4 2
A. Definisi
Bells Palsy (BP) adalah kelumpuhan fasialis perifer akibat proses nonsupuratif, non-neoplastik, non-degeneratif primer maupun sangat mungkin akibat
edema jinak pada bagian nervus fasialis di foramen stilomastoideus atau sedikit
proksimal dari foramen tersebut, yang mulainya akut dan dapat sembuh sendiri
tanpa pengobatan.5
B. Epidemiologi

Di Amerika Serikat ditemukan 23 penderita BP pada 100.000 penduduk


per tahun. Di Manado penderita BP yang datang berobat ke poli saraf RSUP
Manado pada tahun 1998 sebanyak 58 penderita BP (9,9%) dari 586 penderita
gangguan saraf tepi/kranialis. Di instalasi Rehabilitasi Medik sebanyak 281
kunjungan (3,53%) dari 7970 kunjungan di tahun 1998. Bells Palsy dapat terjadi
pada semua umur dan insiden pada pria dan wanita hampir sama. Tidak terdapat
perbedaan insiden antara musim panas maupun dingin. Sering ditemukan adanya
riwayat terekspos udara dingin atau paparan angin yang terus-menerus.6
C. Anatomi Nervus Fasialis Dan Kinesiologi Otot Fasialis
Nervus fasialis sebenarnya adalah saraf motorik, tetapi dalam
perjalanannya ke tepi, nervus intermedius bergabung. Nervus intermedius itu
tersusun oleh serabut sekretomotorik untuk glandula salivatorius dan serabut
sensorik khusus yang menghantarkan impuls pengecapan dari 2/3 anterior lidah ke
nukleus traktus solitarius. Kelompok dorsal inti n. fasialis mempersarafi muskulus
frontalis, zigomatikus, bagian atas orbikularis okuli dan bagian atas otot wajah.
Inti ini mempunyai inervasi kortikal secara bilateral. Kelompok ventral inti n.
fasialis mempersarafi otot-otot belahan bawah oribularis okuli, otot wajah bagian
bawah dan platisma. Inti ini mempunyai hubungan hanya dengan korteks motorik
sisi kontralateral.5,6,7 3
Akar n. fasialis menuju ke dorsomedial kemudian melingkari inti nervus
abdusen dan setelah itu berbelok ke ventrolateral kembali untuk meninggalkan
permukaan lateral pons. Disana n. fasialis berdampingan dengan nervus
intermedius dan nervus oktavus dan akan memasuki meatus akustikus internus
untuk melanjutkan perjalanannya di liang os. petrosum yang dikenal sebagai
akuaduktus follopi atau kanalis fasialis. Nervus fasialis keluar dari kanalis fasialis
n. fasialis merupakan berkas saraf yang mengandung serabut somatomotorik,
viseromotorik dan sensorik khusus. Kedua serabut tambahan itu diperoleh dari
ganglion genikulatum. Cabang pertama yang dikeluarkan oleh nervus fasialis
setibanya di kavum timpani adalah nervus stapedius. Cabang kedua adalah korda
timpani, sebalum berkas induk membelok ke belakang untuk memasuki os.

mastoideum, korda timpani terpisah menuju ke depan dan fosa pterigoidea,


kemudian bergabung dengan nervus lingualis. Induk berkas yang terdiri dari
serabut somatomotorik dan visero-(sekreto)-motorik akan ke os. mastoideum
kemudian keluar dari cranium melalui foramen stilomastoideum. Sebelum
melintasi glandula parotis nervus fasialis memberikan cabang untuk otot-otot
telinga dan cabang untuk otot stilohioideus dan venter posterior digastrikus. 5,6,7
Nervus fasialis melintasi jaringan glandula parotis bercabang-cabang lagi untuk
mempersarafi seluruh otot wajah. Otot frontalis/ occipitofrontalis yang berfungsi
mengangkat alis, mengerutkan dahi, otot corrugators supercilli berfungsi
menggerakan kedua alis mata ke medial bawah sehingga terbentuk kerutan
vertikal diantara kedua alis, otot proserus berfungsi mengangkat tepi lateral
cuping hidung sehingga terbentuk kerutan diagonal sepanjang pangkal hidung,
otot nasalis berfungsi melebarkan mata, otot orbicularis oris berfungsi untuk
bersiul/mencucu/mengecup, otot levator labii superior yang berfungsi untuk
mengangkat bibir atas dan melebarkan lubang hidung, otot levator anguli oris
berfungsi mengangkat sudut mulut, otot zigomatikus mayor berfungsi
untukgerakan tersenyum, otot risorius berfungsi untuk gerak meringis, otot
buccinator berfungsi untuk gerak meniup dengan kedua bibir dirapatkan, otot
levator mentalis berfungsi mengangkat dan menjulurkan bibir bawah.5,6,7 4
D. Etiologi
Banyak kontroversi mengenai etiologi dari Bells palsy, tetapi ada 4 teori
yang dihubungkan dengan etiologi Bells palsy yaitu:5,6
1. Teori Iskemik vaskuler
Nervus fasialis dapat menjadi lumpuh secara tidak langsung karena
gangguan regulasi sirkulasi darah di kanalis fasialis.
2. Teori Infeksi virus
Virus yang dianggap paling banyak bertanggung jawab adalah
Herpes Simplex Virus (HSV), yang terjadi karena proses reaktivasi dari
HSV (khususnya tipe 1).

3. Teori herediter
Bells palsy terjadi mungkin karena kanalis fasialis yang sempit
pada keturunan atau keluarga tersebut, sehingga menyebabkan predisposisi
untuk terjadinya paresis fasialis.
4. Teori imunologi
Dikatakan bahwa Bells palsy terjadi akibat reaksi imunologi
terhadap infeksi virus yang timbul sebelumnya atau sebelum pemberian
imunisasi.
E. Patofisiologi
Apapun sebagai etiologi Bells palsy, proses akhir yang dianggap
bertanggung jawab atas gejala klinik Bells palsy adalah proses yang selanjutnya
menyebabkan kompresi nervus fasialis. Gangguan atau kerusakan pertama adalah
endotelium dari kapiler menjadi edema dan permeabilitasi kapiler meningkat,
sehingga dapat terjadi kebocoran kapiler kemudian terjadi edema pada jaringan
sekitarnya dan akan terjadi gangguan aliran darah sehingga terjadi hipoksia dan
asidosis yang mengakibatkan kematian sel. Kerusakan sel ini mengakibatkan
hadirnya enzim proteolitik, terbentuknya peptida-peptida toksik dan pengaktifan
klinik dan kallikrein sebagai hancurnya nukleus dan lisosom. Jika dibiarkan dapat
terjadi kerusakan jaringan yang permanen.5,6,8 5
F. Gambaran Klinis
Biasanya timbul secara mendadak, penderita menyadari adanya
kelumpuhan pada salah satu sisi wajahnya pada waktu bangun pagi, bercermin
atau saat sikat gigi/ berkumur atau diberitahukan oleh orang lain/keluarga bahwa
salah satu sudutnya lebih rendah. Bells palsy hampir selalu unilateral. Gambaran
klinis dapat berupa hilangnya semua gerakan volunter pada kelumpuhan total.
Pada sisi wajah yang terkena, ekspresi akan menghilang sehingga lipatan
nasolabialis akan menghilang. Bila penderita disuruh untuk memejamkan matanya
maka kelopak mata pada sisi yang lumpuh akan tetap terbuka (disebut
lagoftalmus) dan bola mata berputar ke atas (phenomena Bell). Karena kedipan

mata berkurang maka akan terjadi iritasi oleh debu dan angin, sehingga
menimbulkan epifora. Dalam mengembungkan pipi terlihat bahwa pada sisi yang
lumpuh tidak mengembung. Disamping itu makanan cenderung terkumpul
diantara pipi dan gusi yang lumpuh. Selain kelumpuhan seluruh otot wajah sesisi,
tidak didapati gangguan lain yang mengiringinya, bila paresisnya benar-benar
bersifat Bells palsy.5,6
G. Diagnosis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis serta beberapa pemeriksaan
fisik, dalam hal ini yaitu pemeriksaan neurologis.5,6
1. Anamnesis :
Rasa nyeri
Gangguan atau kehilangan pengecapan.
Riwayat pekerjaan dan adakah aktivitas yang dilakukan pada

malam hari di ruangan terbuka atau di luar ruangan.


Riwayat penyakit yang pernah dialami oleh penderita seperti

infeksi saluran pernafasan, otitis, herpes, dan lain-lain.


2. Pemeriksaan :
Pemeriksaan neurologis ditemukan parese N.VII tipe perifer.
Gerakan volunteer yang diperiksa, dianjurkan memakai skala
Ugo Fisch untuk mengevaluasi kemajuan motorik penderita
Bells palsy.

Skala Ugo Fisch dinilai kondisi simetris atau asimetris antara sisi
sehat dan sisi sakit pada 5 posisi :5,6
Posisi

Nilai

Persentase
(%)

Skor

0, 30, 70,
100
Istirahat
Mengerutkan dahi
Menutup mata
Tersenyum
Bersiul

20
10
30
30
10
Total

Penilaian presentase:

0% : asimetris komplit, tidak ada gerakan volunter 7


30% : simetri, poor/jelek, kesembuhan yang ada lebih dekat ke

asimetris komplit dari pada simetris normal.


70% : simetris, fair/cukup, kesembuhan parsial yang

cenderung ke arah normal.


100% : simetris, normal komplit.

3. Diagnosis Klinis :
Ditegakkan dengan adanya paresis N.VII perifer.

4. Diagnosis Topis :5,6,8


Letak Lesi
Pons-meatus
Akustikus
Internus
Meatus
akustikus
internusganglion
genikulatum
Ganglion
GenikulatumN

Kelain
an
Motori
k
+

Ganggua
n
Pengecap
an
+

Gangguan
Pendengara
n

Hiposekr
esi
Saliva

Hiposekr
esi
Lakrimali
s

+
Tuli/hiperakus

is
+

+
Hiperakusis
+
Hiperakusis

Stapedius
N. StapediusChordaTympa
ni
Chorda
Tympani
Infra Chorda
Tympani
sekitar
Foramen
Stilomastoide
us

5. Diagnosis etiologi : Sampai saat ini etiologi Bells palsy yang jelas
tidak diketahui.
H. Diagnosa Banding
1. Semua paralisis N VII perifer yang bukan BP
2. Kelumpuhan N VII sentral yang mudh dikenali, bila dahi dikerutkan
3.
4.
5.
6.
7.
8.

tidak terlihat asimetri karena otot-otot dahi inervasi bilateral


Herpes zooster ootikus
Otitis Media supurativa dan mastoiditis
Trauma capitis
GBS
Miastenia Gravis
SOL Intrakranial 8

I. Prognosis
Prognosis sangat bergantung pada derajat kerusakan N VII. Pada anak
90% akan mengalami penyembuhan tanpa gejala sisa. Sembuh spontan pada 7590% dalam beberapa minggu atau dalam 1-2 bulan. Jika dengan medikamentosa
dan Fisioterapi selama 3 minggu belum mengalami penyembuhan, besar
kemungkinan akan terjadi gejala sisa berupa kontraktur otot-otot wajah, dan
sinkinesis.
J. Komplikasi
1. Crocodile tear phenomenon
Yaitu keluarnya air mata pada saat penderita makan makanan. Ini
timbul beberapa bulan setelah terjadi paresis dan terjadinya akibat dari
regenerasi yang salah dari serabut otonom yang seharusnya ke kelenjar

saliva tetapi menuju ke kelenjar lakrimalis. Lokasi lesi di sekitar kelenjar


ganglion genikulatum. 2,5,6
2. Synknesis
Dalam hal ini otot-otot tidak dapat digerakan satu per satu atau
tersendiri, selalu timbul gerakan (involunter) elevasi sudut mulut,
kontraksi platisma, atau berkerutnya dahi. Penyebabnya adalah innervasi
yang salah, serabut saraf yang mengalami regenerasi bersambung dengan
serabut-serabut otot yang salah. 2,5,6
3. Hemifacial spasme
Timbul kedutan pada wajah (otot wajah bergerak secara spontan
dan tidak terkendali) dan juga spasme otot wajah, biasanya ringan. Pada
stadium awal hanya mengenai satu sisi wajah saja, tetapi kemudian dapat
mengenai pada sisi lainnya. Kelelahan dan kelainan psikis dapat
memperberat spasme ini. Komplikasi ini terjadi bila penyembuhan tidak
sempurna, yang timbul dalam beberapa bulan atau 1-2 tahun kemudian. 2,5,6
4. Kontraktur
Hal ini dapat terlihat dari tertariknya otot, sehingga lipatan
nasolabialis lebih jelas terlihat pada sisi lumpuh dibanding pada sisi yang
sehat. Terjadi bila kembalinya fungsi sangat lambat. Kontraktur tidak
tampak pada waktu otot wajah istirahat, tetapi menjadi jelas saat otot
wajah bergerak.5,6,7 9
K. Terapi
1. Terapi medikamentosa: Golongan kortikosteroid sampai sekarang
masih kontroversi juga dalam diberikan neurotropik.
2. Terapi operatif : Tindakan bedah dekompresi masih kontroversi.
3. Rehabilitasi Medik
L. Rehabilitasi Medik Pada Penderita Bells Palsy
Rehabilitasi medikmenurut WHO adalah semua tindakan yang
ditunjukan guna mengurangi dampak cacat handicap serta meningkatkan
kemampuan pasien dengan disabilitas mengenai intergritas sosial. Tujuan
rehabilitasi medik adalah:5,6 1) Meniadakan keadaan cacat bila mungkin; 2)
Mengurangi keadaan cacat sebanyak mungkin; 3) Melatih orang dengan sisa
keadaan cacat badan untuk dapat hidup dan bekerja dengan apa yang tertinggal.

Untuk mencapai keberhasilan dalam tujuan rehabilitasi yang efektif dan efisien
maka

diperlukan

tim

rehabilitasi

medik

yang

terdiri

dari

dokter,

fisioterapi,okupasi terapis, ortotis prostetis, ahli wicara, psikolog, petugas sosial


medik dan perawat rehabilitasi medik. Sesuai dengan konsep rehabilitasi medik
yaitu usaha gabungan terpadu dari segi medik, sosial dan kekaryaan, maka tujuan
rehabilitasi medik10 pada Bells palsy adalah untuk mengurangi/mencegah paresis
menjadi bertambah dan membantu mengatasi problem sosial serta psikologinya
agar penderita tetap dapat melaksanakan aktivitas kegiatan sehari-hari. Programprogram yang diberikan adalah program fisioterapi, okupasi, sosial medik,
psikolog dan ortotik prostetik, sedang program perawatan pesawat rehabilitasi
danterapi wicara tidak banyak berperan.5,6
1. Program Fisioterapi
a. Pemanasan
Pemanasan superficial dengan infra red.
Pemanasan dalam berupa Shortwave Diathermy atau
Microwave Diathermy
b. Stimulasi listrik
Tujuan pemberian stimulasi listrik yaitu menstimulasi otot
untuk mencegah/memperlambat terjadi atrofi sambil menunggu proses
regenerasi dan memperkuat otot yang masih lemah. Misalnya dengan
faradisasi yang tujuannya adalah untuk menstimulasi otot, redukasi
dari aksi otot, melatih fungsi otot baru, meningkatkan sirkulasi serta
mencegah/meregangkan perlengketan. Diberikan 2 minggu setelah
onset.
c. Latihan otot-otot wajah dan massage wajah
Latihan gerak volunter diberikan setelah fase akut, latihan
berupa mengangkat alis tahan 5 detik, mengerutkan dahi, menutup
mata dan mengangkat sudut mulut, tersenyum, bersiul/meniup
(dilakukan didepan kaca dengan konsentrasi penuh). Massage adalah
manipulasi sitemik dan ilmiah dari jaringan tubuh dengan maksud
untuk perbaikan/pemulihan. Pada fase akut, Bells palsy diberi gentle
massage secara perlahan dan berirama. Gentle massage memberikan
efek

mengurangi

edema,

memberikan

relaksasi

otot

dan

mempertahankan tonus otot. Setelah lewat fase akut diberi Deep


Kneading

11

Massage sebelum latihan gerakan volunteer otot wajah.

Deep Kneading Massage memberikan efek mekanik terhadap


pembuluh darah vena dan limfe, melancarkan pembuangan sisa
metabolik, asam laktat, mengurangi edema, meningkatkan nutrisi
serabut-serabut otot dan meningkatkan gerakan intramuskuler
sehingga melepaskan perlengketan. Massage daerah wajah dibagi 4
area yaitu dagu, mulut, hidung dan dahi. Semua gerakan diarahkan
keatas, lamanya 5-10 menit.
2. Program Terapi Okupasi
Pada dasarnya terapi disini memberikan latihan gerakan pada otot
wajah. Latihan diberikan dalam bentuk aktivitas sehari-hari atau dalam
bentuk permainan. Perlu diingat bahwa latihan secara bertahap dan melihat
kondisi penderita, jangan sampai melelahkan penderita. Latihan dapat
berupa latihan berkumur, latihan minum dengan menggunakan sedotan,
latihan meniup lilin, latihan menutup mata dan mengerutkan dahi di depan
cermin.5,6
3. Program Sosial Medik
Penderita Bells palsy sering merasa malu dan menarik diri dari
pergaulan sosial. Problem sosial biasanya berhubungan dengan tempat
kerja dan biaya. Petugas sosial medik dapat membantu mengatasi dengan
menghubungi tempat kerja, mungkin untuk sementara waktu bekerja pada
bagian yang tidak banyak berhubungan dengan umum. Untuk masalah
biaya, dibantu dengan mencarikan fasilitas kesehatan di tempat kerja atau
melalui keluarga. Selain itu memberikan penyuluhan bahwa kerja sama
penderita dengan petugas yang merawat sangat penting untuk kesembuhan
penderita.5,6
4. Program Psikologik
Untuk kasus-kasus tertentu dimana ada gangguan psikis amat
menonjol, rasa cemas sering menyertai penderita terutama pada penderita
muda wanita atau penderita yang mempunyai profesi yang mengharuskan
ia sering tampil di depan umum, maka bantuan seorang psikolog sangat
diperlukan.5,6,

5. Program Ortotik Prostetik


Dapat dilakukan pemasangan Y plester dengan tujuan agar sudut
mulut yang sakit tidak jatuh. Dianjurkan agar plester diganti tiap 8 jam.
Perlu diperhatikan reaksi intoleransi kulit yang sering terjadi. Pemasangan
Y plester dilakukan jika dalam waktu 3 bulan belum ada perubahan
Zygomaticus selama parase dan mencegah terjadinya kontaktur.5,6
6. Home Program
a. Kompres hangat daerah sisi wajah yang sakit selama 20 menit.
b. Massage wajah yang sakit ke arah atas dengan menggunakan
tangan dari sisi wajah yang sehat .
c. Latihan tiup lilin, berkumur, makan dengan mengunyah disisi
yang sakit, minum dengan sedotan, mengunyah permen karet.
d. Perawatan mata: 1) Beri obat tetes mata (golongan artifial tears)
3x sehari; 2) Memakai kacamata gelap sewaktu berpergian siang
hari; 3) Biasakan menutup kelopak mata secara pasif sebelum
tidur.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sukardi,
Nara
P.
Bells
Palsy.
2007.
Available
from:
http://www.kalbe.co.id/files/cdk/files/sPalsy.pdf/sPalsy.htm (diakses Juni
2013)
2. Sabirin J. Bells Palsy. Dalam : Hadinoto dkk. Gangguan Gerak. Cetakan I.
Semarang : Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, 1990 : 171-813
3. Maisel RH, Levine SC. Gangguan Saraf Fasialis. Dalam : Adams dkk.
Boies Buku Ajar Penyakit THT. Edisi 6. Jakarta : Penerbit EGC, 1997 :
139-52 20
4. Thamrinsyam. Beberapa Kontroversi Bells Palsy. Dalam : Thamrinsyam
dkk. Bells Palsy. Surabaya : Unit Rehabilitasi Medik RSUD Dr.
Soetomo/FK UNAIR, 1991 : 1-75.
5. Angliadi LS, Sengkey L, Gessal J, dkk. Rehabilitasi Medik Pada Bells
Palsy. Dalam: Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi. Manado: Bagian
Ilmu Kedokteran Fisik dan Rehabilitas BLU RSUP Prof. dr. R. D.
Kandou/FK UNSRAT, 2006: 42-496.
6. Annsilva.
Bells
Palsy.
2010.
Available
from:
http://annsilva.wordpress.com/2010/04/04/bell%E2%80%99s-palsy-casereport/ (diakses Juni 2013)
7.

Lumbantobing SM. Saraf Otak : Nervus Fasial. Dalam : Neurologi Klinik


Pemeriksaan Fisik dan Mental. Jakarta : FK Universitas Indonesia, 2004 :
55-608.

8. Snell RS. Neuroanatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran edisi 5.


Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2006 21