Anda di halaman 1dari 8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Ekstraksi Cair-Cair
Ekstraksi cair-cair (liquid extraction, solvent extraction): yaitu pemisahan solute dari
cairan pembawa (diluen) menggunakan solven cair. Campuran diluen dan solven
tersebut bersifat heterogen (immiscible, tidak saling campur), dan jika dipisahkan
terdapat 2 fase, yaitu:
1. Fase rafinat = fase residu, berisi diluen dan sisa solut.
2. Fase ekstrak = fase yang berisi solut dan solven.
Pemilihan solven menjadi sangat penting. Dipilih solven yang memiliki sifat antara lain:
a. Solut mempunyai kelarutan yang besar dalam solven, tetapi solven sedikit atau tidak
melarutkan diluen,
b. Tidak mudah menguap pada saat ekstraksi,
c. Mudah dipisahkan dari solut, sehingga dapat dipergunakan kembali,
d. Tersedia dan tidak mahal.
(Underwood, 1986).
Pada ekstraksi cair-cair, satu komponen bahan atau lebih dari suatu campuran
dipisahkan dengan bantuan pelarut. Proses ini digunakan secara teknis dalam skala
besar misalnya untuk memperoleh vitamin, antibiotika, bahan-bahan penyedap, produkproduk minyak bumi dan garam-garam logam. Proses inipun digunakan untuk
membersihkan air limbah dan larutan ekstrak hasil ekstraksi padat cair.
(Underwood, 1986).
Ekstraksi cair-cair terutama digunakan, bila pemisahan campuran dengan cara distilasi
tidak mungkin dilakukan (misalnya karena pembentukan aseotrop atau karena
kepekaannya terhadap panas) atau tidak ekonomis. Seperti ekstraksi padat-cair,
ekstraksi cair-cair selalu terdiri atas sedikitnya dua tahap, yaltu pencampuran secara
intensif bahan ekstraksi dengan pelarut, dan pemisahan kedua fasa cair itu sesempurna
mungkin. Pada saat pencampuran terjadi perpindahan massa, yaitu ekstrak
meninggalkan pelarut yang pertama (media pembawa) dan masuk ke dalam pelarut
kedua (media ekstraksi). Sebagai syarat ekstraksi ini, bahan ekstraksi dan pelarut tidak

saling melarut (atau hanya dalam daerah yang sempit). Agar terjadi perpindahan masa
yang baik yang berarti performansi ekstraksi yang besar haruslah diusahakan agar
terjadi bidang kontak yang seluas mungkin di antara kedua cairan tersebut. Untuk itu
salah satu cairan distribusikan menjadi tetes-tetes kecil (misalnya dengan bantuan
perkakas pengaduk).
(Underwood, 1986).

Prinsip Ekstraksi
Ekstraksi cair-cair dilakukan dengan cara pemisahan komponen kimia diantara 2 fase
pelarut yang tidak saling bercampur. Dimana sebagian komponen larut pada fase
pertama, dan sebagian larut pada fase kedua. Lalu kedua fase yang mengandung zat
terdispersi dikocok, dan didiamkan sampai terjadi pemisahan sempurna dan terbentuk
dua lapisan. Yakni fase cair dan komponen kimi yang terpisah.
(Tobo, 2001).
Ekstraksi adalah proses penyarian zat-zat berkhasiat atau zat-zat aktif dan bagian
tumbuhan obat, hewan dan beberapa jenis ikan termasuk biota laut. Zat-zat aktif
tersebut terdapat di dalam sel, namun sel tumbuhan dan hewan memiliki perbedaan
begitu pula ketebalannya sehingga diperlukan metode ekstraksi dan pelarut tertentu
untuk mengekstraksinya.
(Tobo, 2001).
Umumnya zat aktif yang terkandung dalam tumbuhan maupun hewan lebih mudah larut
dalam pelarut organik. Proses terekstraksinya zat aktif dimulai ketika pelarut organik
menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif, zat
aktif akan terlarut sehingga terjadi perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di
dalam sel dan pelarut organik di luar sel, maka larutan terpekat akan berdifusi ke luar
sel, dan proses ini akan berulang terus sampai terjadi keseimbangan antara konsentrasi
zat aktif di dalam dan di luar sel.
(Tobo, 2001).

Tujuan Ekstraksi Cair Cair


Ekstraksi cair-cair bertujuan untuk memisahkan analit yang dituju dari pengganggu
dengan cara melakukan partisi sampel antar 2 pelarut yang tidak saling campur. Salah
satu fasenya seringkali berupa air dan fase yang lain adalah pelarut organik. Senyawasenyawa yang bersifat polar akan ditemukan di dalam fase air, sementara senyawa-

senyawa yang bersifat hidrofobik akan masuk pada pelarut organik, begitupula dengan
ekstraksi padat cair akan tetapi sampel yang digunakan tidak larut air.
(Tobo, 2001).
Koefesien distribusi
Hukum distribusi adalah suatu metode yang digunakan untuk menentukan aktivitas zat
terlarut dalam satu pelarut jika aktivitas zat terlarut dalam pelarut lain diketahui, asalkan
kedua pelarut tidak tercampur sempurna satu sama lain. Adapun faktor-faktor yang
dapat

mempengaruhi

terjadinya

koefisien

distribusi

diantaranya

adalah:

1. Temperatur yang digunakan


Semakin tinggi suhu maka reaksi semakin cepat sehingga volume titrasi menjadi kecil,
akibatnya berpengaruh terhadap nilai k.
2. Jenis pelarut
Apabila pelarut yang digunakan adalah zat yang mudah menguap maka akan sangat
mempengaruhi volume titrasi, akibatnya berpengaruh pada perhitungan nilai k.
3. Jenis terlarut
Apabila zat yang akan dilarutkan adalah zat yang mudah menguap atau higroskopis,
maka

akan

mempengaruhi

normalitas

(konsentrasi

zat

tersebut),

akibatnya

mempengaruhi harga k.
4. Konsentrasi
Makin besar konsentrasi zat terlarut makin besar pula harga k. Harga K berubah dengan
naiknya konsentrasi dan temperatur. Harga k tergantung jenis pelarutnya dan zat
terlarut. Menurut Walter Nersnt, hukum diatas hanya berlaku bila zat terlarut tidak
mengalami disosiasi atau asosiasi, hukum di atas hanya berlaku untuk komponen yang
sama.
(Sudjadi, 1988).
Hukum distribusi banyak dipakai dalam proses ekstraksi, analisis dan penentuan tetapan
kesetimbangan. Hukum Distribusi Nernst ini menyatakan bahwa solut akan
mendistribusikan diri di antara dua pelarut yang tidak saling bercampur, sehingga
setelah kesetimbangan distribusi tercapai, perbandingan konsentrasi solut di dalam
kedua fasa pelarut pada suhu konstan akan merupakan suatu tetapan, yang disebut
koefisien distribusi (Kd), jika di dalam kedua fasa pelarut tidak terjadi reaksi-reaksi
apapun. Akan tetapi, jika solut di dalam kedua fasa pelarut mengalami reaksi-reaksi
tertentu seperti assosiasi, dissosiasi, maka akan lebih berguna untuk merumuskan

besaran yang menyangkut konsentrasi total komponen senyawa yang ada dalam tiap
tiap fasa, yang dinamakan angka banding distribusi (D).
(Sudjadi, 1988).
Tetapan distribusi atau koefisien distribusi dinyatakan dengan rumus:
(1)
Dengan,
Kd = Koefisien distribusi,
Co = konsentrasi larutan pada pelarut organik,
Ca = konsentrasi larutan pada pelarut air.
(Sudjadi, 1988).
MSDS ( Material Safety Data Sheet)
MSDS ( Material Safety Data Sheet) atau yang dalam Indonesia dikenal dengan nama
LDKB (Lembar Data Keselamatan Bahan) merupakan sebuah dokumen yang wajib
disertakan pada setiap bahan kimia, apapun jenis nya.
(Watson, 2005).
Natrium Hidroksida
Natrium

hidroksida

(NaOH)

merupakan

reagen

untuk

analisis.

Bahan

ini

diklasifikasikan menjadi bahan yang berbahaya karena bahan ini menyebabkan korosi
kulit dan membuat logam berkarat. Bahan ini dapat merusak logam-logam dan
menyebabkan luka bakar pada kulit dan kerusakan mata yang serius. Natrium
hidroksida memiliki sifat-sifat fisika dan kimia diantaranya memiliki bentuk cair, tidak
berwarna dan tidak berbau. Bahan ini memiliki pH Ca. 13,7 pada 20 oC serta memiliki
berat jenis sebesar 1,04 g/cm3 pada 20 oC.
(Watson, 2005).
Asam Oksalat
Asam oksalat adalah senyawa kimia yang memiliki rumus H 2C2O4 dengan nama
sistematis asametanadioat. Asam dikarboksilat paling sederhana ini biasa digambarkan
dengan rumus HOOC-COOH.Merupakan asam organik yang relatif kuat, 10.000 kali
lebih kuat daripada asam asetat. Sifat fisik dan kimia (dihidrat)fisik Putih kristal,
Melting Point : 101 102 C Titik Didih : 149-160 C (menyublim) Berat jenis: 1,6-1,7 Kelarutan

dalam air: 1 g/7ml Densitas Uap: 4.4 NFPAPERINGKAT: Kesehatan: 3; mudah terbakar:
1; Reaktivitas: 0 FLASH POINT : 163 CSTABILITAS : Stabil di bawah kondisi biasa,
penyimpanan dalam wadah tertutup rapat. Melindungi dari kerusakan fisik.
Simpandalam tempat yang sejuk kering, berventilasi jauh dari sumber panas,kelembaban dan tidak
kompatibel. Wadah bahan ini mungkin berbahaya ketika kosong karena mereka mempertahankan
residu produk (debu, padat); mengamati semua peringatan dan tindakan pencegahan untuk produk
yang tercantum.
(Watson, 2005).
Asam asetat
Asam asetat, asam etanoat atau asam cuka adalah senyawa kimia asam organik yang dikenal
sebagai pemberi rasa asam dan aroma dalam makanan. Asam cuka memiliki rumus
empiris C2H4O2. Rumus ini seringkali ditulis dalam bentuk CH 3COOH, atau CH3CO2H.
Asam asetat murni (disebut juga dengan asam asetatglasial) adalah cairan higroskopis tak
berwarna, dan memiliki titik beku 16.7C, Rumus molekul: CH3COOH; Massa molar:
60.05 g.mol-1; Densitas: 1.049 gcm3 cairan dan 1.266 g cm3 padatan ; titik didih : 118.1 C
(391.2 0.6 K)(244.5 F)
(Watson, 2005).
Asam asetat cair adalah pelarut protik hidrofilik (polar), mirip seperti air dan etanol.
Asam asetat memiliki konstanta dielektrik yang sedang yaitu 6,2 sehingga ia bisa
melarutkan baik senyawa polar seperi garam anorganik dan gula maupun senyawa nonpolar seperti minyak dan unsur-unsur seperti sulfur dan iodin. Asam asetat bercampur
dengan mudah dengan pelarut polar atau nonpolar lainnya seperti air, kloroform dan
heksana. Sifat kelarutan dan kemudahan bercampur dari asam asetat ini membuatnya
digunakan secara luas dalam industri kimia. Asam asetat bersifat korosif terhadap
banyak logam seperti besi, magnesium, dan seng, membentuk gas hidrogen dan garamgaram asetat (disebut logam asetat).
(Watson, 2005).

Operasi bertahap banyak (multi stage) dengan aliran silang (cross-current)


Pada operasi ekstraksi terjadi kontak antara zat dan pelarut (solvent) yang dilakukan
dalam beberapa tahap dimana rafinat yang diperoleh dari tahap yang satu dikontakkan

dengan pelarut baru pada tahap berikutnya. Operasi ini dapat menggunakan pelarut baru
(solvent) dalam jumlah yang bervariasi. Semakin banyak tahap yang digunakan pada
operasi ini berarti semakin banyak solvent yang digunakan untuk menghasilkan rafinat
akhir sehingga total solvent yang digunakan bisa lebih besar daripada feed dan menjadi
tidak ekonomis. Pemberian pelarut baru pada setiap tahap akan menghasilkan driving
force lebih besar yaitu kadar solut dalam larutan menjadi lebih banyak.
(Treybal, 1981).

Gambar 2.1 Skema operasi multi tahap dengan aliran cross-current


Perhitungan operasi multi tahap dengan aliran cross-current berdasarkan pada prinsip
neraca massa sebagai berikut :
a) Neraca massa total : Rn-1 + Sn = En + Rn
b) Neraca massa zat terlarut : Rn-1 Xn-1 + Sn Ys = En Yn + Rn Xn
(Treybal, 1981).
Operasi bertahap banyak (multi stage) dengan aliran counter-current
Operasi multi stage dengan aliran lawan arah (counter-current) merupakan proses
ekstraksi dimana kontak antara zat dan pelarut (solvent) dilakukan lebih dari satu kali.
Prinsip ekstraksi multi stage counter-current adalah zat baru dikontakkan dengan
pelarut yang telah banyak mengandung solut yaitu ekstrak sebagai hasil kontak pada
tahap-tahap berikutnya, sedangkan zat yang solutnya telah menipis dikontakkan dengan
pelarut segar pada tahap berikutnya. Operasi ekstraksi counter-current banyak
diterapkan dalam industri karena menghasilkan perolehan (yield) yang cukup tinggi. Hal
ini disebabkan oleh kontak antara ekstrak dengan zat baru dan antara rafinat dengan
pelarut baru memberikan driving force berupa perbedaan konsentrasi dan kelarutan
dalam setiap tahapnya sehingga akan selalu terjadi perpindahan solut dari zat ke pelarut.
Operasi ekstraksi kontinu countercurrent dapat disimulasikan dengan operasi batch

antara umpan dan pelarut, tetapi harus mengikuti skema operasi ekstraksi multi tahap

counter-current secara kontinu sampai mencapai steady state.


(Treybal, 1981).
Gambar 2.2 Skema operasi multi tahap dengan aliran counter-current
Perhitungan operasi multi tahap dengan aliran counter-current berdasarkan pada prinsip
neraca massa sebagai berikut :
a) Neraca massa total : F + S = E1 + Rn atau Ro + En+1 = E1 + Rn
b) Neraca massa zat terlarut :
F . XF + S . Ys = E1 . Y1 + Rn . Xn
atau
Ro . Xo + En+1 . Yn+1 = E1 . Y1 + Rn . Xn
(Treybal, 1981).

DAFTAR PUSTAKA

1. Sudjadi, 1988, Metode Pemisahan, Yokyakarta, Kanisius.


2. Tobo, F., 2001, Buku Pegangan Laboratorium Fitokimia I, Makassar, UNHAS.
3. Treyball, Robert E., 1981, Mass Transfer Operations, Singapore, Mc. Graw Hill.
4. Underwood, A.L., 1986, Analisis kima kuantitatif, Jakarta, Erlangga.
5. Watson, David G., 2005, Analasis Farmasi Edisi 2, Jakarta, EGC.