Anda di halaman 1dari 15

|1

Analisis Pengaruh Penghapusan Dana PNPM Mandiri Perdesaan dan Pembentukan


Dana Desa Terhadap Kemiskinan di Pedesaan

Ringkasan Berita
Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi Marwan Jafar
meminta mahasiswa turut membantu mengawasi penyaluran dana desa. Sebagian besar kantong
kemiskinan terletak di wilayah pedesaan. Tahun 2016 pemerintah kembali mengucurkan dana
desa lebih besar, yakni Rp 47 triliun untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa dan
penanggulangan kemiskinan. Pelaksanaan Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
menjadi prioritas penting bagi pemerintahan. (Republika online, 13 Februari 2016)
Abstract
This study aimed to analyze the effects of closing PNPM funding Perdesaaan into the Village
Fund to rural poverty rate. In 2015, the PNPM Rural fund was renamed into the Village Fund
since the enactment of the Undang-undang Desa. In the last two years the government allocated
Village Fund nearly doubled from the previous year. This study uses historical and literary
research to obtain data on the allocation of funds rural and poverty trends each year. Although
the allocation of village funds has increased but has not been able to reduce the rate of rural
poverty caused by rising fuel prices
Keywords: Rural, PNPM Rural, Village Fund, Poverty
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penghapusan dana PNPM Mandiri
Perdesaaan menjadi Dana Desa terhadap tingkat kemiskinan di pedesaan. Pada tahun 2015, dana
PNPM Mandiri Perdesaan berganti nama menjadi Dana Desa semenjak berlakunya Undangundang Desa. Dua tahun terakhir pemerintah menggelontorkan dana desa yang mencapai dua
kali lipat dari tahun sebelumnya. Penelitian ini menggunakan metode historis dan studi
kepustakaan untuk memperoleh data perkembangan alokasi dana desa dan tingkat kemiskinan
tiap tahunnya. Meskipun alokasi dana desa mengalami kenaikan namun belum dapat menekan
laju kemiskinan di pedesaan yang disebabkan oleh kenaikan harga BBM
Kata kunci : Desa, PNPM Mandiri Perdesaan, Dana Desa, Kemiskinan

|2

1.
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang Masalah
Sebelum krisis ekonomi 1997-1998, meskipun pertumbuhan merata di seluruh tingkat
ekonomi, ketimpangan wilayah mulai terjadi dengan pertumbuhan di Jawa yang lebih tinggi
dibandingkan daerah lain (Iryanti, 2014). Setelah krisis ekonomi, ketimpangan cenderung
meningkat terutama antar kelompok ekonomi dan antar kota-desa 1, sebagaimana yang
dipaparkan oleh Akita dan Miyata (2008, 54) yang menyatakan bahwa: The financial crisis in
1997-8 seems to have had a favorable impact on the rural distribution of per capita household
expenditure.
Ketimpangan dan kesenjangan perekonomian antara perkotaan dan pedesaan yang cukup
melebar ditunjukkan dengan Koefisien Gini2 Indonesia yang mengalami kenaikan tiap tahun,
seperti yang diungkapkan oleh Suryamin, Kepala BPS, bahwa Dalam tiga tahun terakhir
koefisien gini Indonesia stagnan pada angka 0,4. Ini adalah ketimpangan yang paling tinggi
dalam sejarah Indonesia (Harian Ekonomi Neraca, 21 April 2014). Oleh karena itu, Pemerintah
telah merespon kesenjangan tersebut dengan mengubah pola dan struktur anggaran yang
sebelumnya sentralistik didorong menuju desentralisasi fiskal meskipun belum sepenuhnya.
Desentralisasi fiskal yang dijalankan oleh pemerintah dalam rangka mengurangi
kesenjangan dan kemiskinan di pedesaan adalah dengan menyalurkan dana kepada pedesaan
berupa Dana PNPM (Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat) Mandiri Perdesaan.
Kemudian semenjak tahun 2015, pemerintah meleburkan Dana PNPM Mandiri Perdesaan
kedalam postur dan format yang baru dalam APBN, yaitu Dana Desa. Dana Desa menurut Pasal
1

Terdapat banyak kajian yang membahas dampak krisis finansial 1997-8 terhadap kesenjangan ekonomi, antara lain: Akita
(2002), Skoufias (2001), Sumarto (2013), Suryadarma et al (2005-2006), dan Yusuf & Rum (2013)
2
Koefisien gini adalah koefisien yang digunakan untuk mengukur derajat ketidakmerataan distribusi penduduk berdasarkan
ukuran yang dikembangkan oleh statistikus Italia, Corrado Gini, dan dipublikasikan pada tahun 1912 dalam
karyanya, Variabilit e mutabilit. https://id.wikipedia.org/wiki/Koefisien_Gini. Diakses pada 15 Februari 2016

|3

1 ayat (2) Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang bersumber dari
APBN adalah:
Dana yang bersumber dari APBN yang diperuntukkan bagi Desa yang ditransfer
melalui APBD kabupaten/kota dan digunakan untuk membiayai penyelenggaraan
pemerintahan, pelaksanaan pembangunan, pembinaan kemasyarakatan, dan
pemberdayaan masyarakat.
Setahun berjalan dana desa telah dialokasikan bagi seluruh pedesaan di Indonesia,
namun apakah Dana Desa yang baru seumur jagung dengan payung hukum yang sangat kuat,
yaitu diatur secara resmi oleh Undaang-Undang telah berhasil mengentaskan kemiskinan di
pedesaan?. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang relatif baik seharusnya merupakan indikator
akan membaiknya pertumbuhan perekonomian di pedesaan. Berangkat dari pertanyaan dan
kondisi yang telah dipaparkan mendorong penulis untuk menganalisis Pengaruh Penghapusan
Dana PNPM Mandiri Pedesaan menjadi Dana Desa terhadap kemiskinan di Pedesaan.
1.2. Tujuan dan Manfaat
Tujuan dan Manfaat penulisan makalah ini adalah:
1. Untuk mengkaji latar belakang munculnya postur anggaran baru pada tahun 2015, yaitu
Dana Desa.
2. Untuk mengetahui pengaruh anggaran perdesaan sebelum dan setelah dialokasikan Dana
Desa terhadap kondisi kemiskinan di pedesaan.
1.3. Penelitian Sebelumnya
Menurut Prasetyanto (2012) (dikutip dalam Sukanto, 2014), desentralisasi mempunyai
hubungan yang erat dalam pengentasan kemiskinan. Oleh karena itu sistem desentralisasi sangat
diperlukan dalam mempercepat pengentasan kemiskinan. Bahkan dengan sistem desentralisasi
seharusnya dapat memberi ruang kepada penduduk miskin dengan meningkatan partisipasi yang

|4

lebih besar dalam proses politik dan pembangunan. Namun, menurut Nanga (2006) menyatakan
bahwa era desentralisasi fiskal mempunyai indikasi yang sangat kuat untuk memperburuk
tingkat kemiskinan di perdesaan.
1.4. Tinjaun Teori
Desa
Terdapat beberapa macam istilah tentang desa yang masing-masing memiliki makna
yang berbeda menurut Kamus Inggris-Indonesia3, yaitu antara lain: rural (pedesaan),
suburban /country side (pinggiran kota), village (desa), dan town (kota kecil). Definisi desa
menurut Egon E. Bergel (Dikutip dalam Edi Indrizal, 2014) adalah setiap pemukiman para
petani (peasants). Desa menurut persepsi masyarakat Indonesia juga dikaitkan dengan
pertanian dan pekerjaan kasar dengan upah yang rendah. Oleh karena itu. desa seringkali
diidentikkan dengan kemiskinan.
Kemiskinan di Pedesaan
Asian Development Bank (ADB) melansir laporan yang menyatakan bahwa:
Majority of the poor in Indonesia live in rural areas. In 2014, some 13,8% of the rural
population was classified as poor, compared to 8,2% of the urban population. They
mainly participate in low productivity jobs in agriculture and low-end service sectors.
While most of the poor live on the islands of Java, poverty rate is far higher in Eastern
Indonesia (Priasto Aji, 2015).
Pembangunan yang pesat di kota besar dan ibukota mendorong terjadinya urbanisasi
yang besar-besaran yang terus berlangsung tiada henti. Program Transmigrasi terus bergulir dan
dijalankan untuk meningkatkan pembangunan di daerah terutama di kawasan timur, namun
ketimpangan & kesenjangan pertumbuhan perekonomian tetap dirasakan cukup besar di
pedesaan. Alhasil kemiskinan masih menjadi momok bagi masyarakat pedesaan.
3

Yohanes Aristianto. 2009. Kamus Inggris Indonesia. http://kamusbahasainggris.com/. Diakses pada 9 Februari 2016

|5

Penduduk miskin menurut Badan Pusat Statistik (2010) adalah penduduk yang memiliki
rata-rata pengeluaran perkapita di bawah garis kemiskinan. Penetapan perhitungan garis
kemiskinan dalam masyarakat adalah masyarakat yang berpenghasilan dibawah Rp 7.057 per
orang per hari. Penetapan angka Rp 7.057 per orang per hari tersebut berasal dari perhitungan
garis kemiskinan yang mencakup kebutuhan makanan dan non makanan.
Desentralisasi Fiskal
Desentralisasi Fiskal adalah pelimpahan kewenangan yang diikuti dengan penyerahan
sumber-sumber pendanaan melalui mekanisme Transfer ke Daerah yang didasarkan kepada
pertimbangan mengurangi ketimpangan yang mungkin terjadi baik antar daerah maupun antara
pemerintah pusat dan daerah (Joko Tri Haryanto, 2015). Salah satu bentuk desentralisasi fiskal
sebagai dasar perwujudan pelaksanaan amanat Undang-Undang tentang Desa adalah
pengalokasian Dana Desa.
Dana PNPM Mandiri Pedesaan
PNPM4 adalah program nasional dalam wujud kerangka sebagai dasar dan acuan
pelaksanaan program-program penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat,
salah satunya dalam bentuk PNPM Mandiri Pedesaan (Program Nasional Pemberdayaan
Masyarakat Mandiri Perdesaan/Rural PNPM) yang bertujuan untuk meningkatkan partisipasi
masyarakat dalam membangun pedesaan. Program PNPM Mandiri Perdesaan merupakan
pengembangan dari Program Pengembangan Kecamatan (PPK) yang telah dilaksanakan sejak

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). 2014. Paket Informasi PNPM Mandiri 20122013.Jakarta:Sekretariat Pokja Pengendali PNPM Mandiri. http://www.tnp2k.go.id. Diakses 15 Februari 2016

|6

1998. Dengan lahirnya UU Nomor 6 Tahun 2014, prinsip PNPM Mandiri menjadi prinsip dalam
pelaksanaan UU Desa5. Kategori program PNPM Mandiri dapat dilihat pada gambar 1.
Gambar 1. Kategori Program dalam PNPM Mandiri

Sumber: Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). 2014. Paket


Informasi PNPM Mandiri 2012-2013. Hal. 4
Dana Desa
Selain PNPM Mandiri Perdesaan, pemerintah juga menganggarkan Alokasi Dana Desa
(ADD) berdasarkan PP Nomor 72 Tahun 2005 yang bersumber dari bagian dana perimbangan
keuangan pusat dan daerah yang diterima oleh Kabupaten/Kota paling sedikit 10% (sepuluh
persen) untuk pemberdayaan masyarakat dan pembangunan desa. Sejak tahun 2015 baik Dana
PNPM Mandiri Perdesaan maupun Alokasi Dana Desa diintegrasikan menjadi Dana Desa.
Sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang
Bersumber dari APBN dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93/PMK.07/2015 tentang Tata

Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan. 2015. Mengintegrasikan Prinsip Pembangunan Berbasis Masyarakat ke
Dalam Kebijakan. Jakarta: Sekretariat Wakil Presiden Indonesia. www.tnp2k.go.id. Diakses 10 Februari 2016

|7

Cara Penyaluran, Penggunaan, Pemantauan, dan Evaluasi Dana Desa, Pemerintah akan
mengalokasikan Dana Desa, melalui mekanisme transfer APBD kepada Kabupaten/Kota.
Berdasarkan alokasi Dana tersebut, maka tiap Kabupaten/Kota mengalokasikannya secara
merata kepada setiap desa dengan memperhatikan jumlah penduduk (25%), angka kemiskinan
(35%), luas wilayah (10%), dan tingkat kesulitan geografis (30%).
2.

Metode

2.1. Objek dan Metode Pengumpulan Data


Objek penelitian ini adalah Desentralisasi Fiskal dalam bentuk Dana PNPM Mandiri
Perdesaan dan Dana Desa. Data yang digunakan adalah data sekunder time series dengan jangka
waktu tahun 2009 sampai dengan tahun 2014 untuk data alokasi dana PNPM Mandiri Perdesaan,
sedangkan tahun 2015 sampai dengan tahun 2016 untuk data alokasi dana desa berdasarkan
Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2014. Data diperoleh dari Kementerian Keuangan, Badan
Pusat Statistik (BPS), dan Kementerian Perencanaan dan Pembangunan Nasional (Bappenas)
2.2. Metode dan Prosedur Analisis Data
Pada makalah ini, penulis memakai Pendekatan Kualitatif dengan Metode Historis dan
Studi Kepustakaan. Metode historis dipakai untuk menganalisis hasil tren data, yang meliputi
data: alokasi dana PNPM Mandiri Perdesaan, alokasi dana desa dan tingkat kemiskinan di
pedesaan di seluruh Indonesia. Sedangkan studi kepustakaan dipakai untuk mengkaji peraturan,
jurnal dan literatur lainnya yang relevan.
3.

Hasil dan Pembahasan

3.1. Perkembangan Alokasi Dana PNPM Mandiri Perdesaan menjadi Dana Desa
Perkembangan pendanaan PNPM Mandiri Perdesaan pada tahun 2009 sampai dengan

|8

tahun 2014 dan pengalokasian Dana Desa pada dua tahun terakhir, yaitu tahun 2015 2016
dapat dilihat pada tabel 1 dan grafik 1.
Tabel 1. Perkembangan Dana PNPM Mandiri Pedesaan dan Dana Desa
Skema Dana bagi Pedesaan
PNPM Mandiri Perdesaan
(dalam trilunan rupiah)
Proporsi
PNPM
Mandiri
Pedesaan terhadap Total Dana
PNPM Mandiri
Dana Desa

2009

2010

2011

2012

2013

2014

2015

2016

7,89

9,68

8,23

8,02

7,80

9,40

71,62%

83,25%

80,03%

80,68%

80,45%

85,72

20,76

46,98

Sumber: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)


Grafik 1. Perkembangan Dana PNPM Mandiri Pedesaan dan Dana Desa

Sumber: Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS)


Berdasarkan data pada tabel 1 dan grafik 1, Dana PNPM Mandiri Perdesaan dari tahun
2009 sampai dengan tahun 2013 relatif stagnan dan meningkat pada tahun 2014. Dana PNPM
Mandiri Perdesaan kemudian dihapus dan berganti nama dan format sebagai Dana Desa.
Pergantian ini membawa dampak yang besar, yaitu: Dana Desa pada Tahun 2015 meningkat 2
kali lipat dari dana PNPM Mandiri Perdesaan tahun 2014 (3,12% terhadap dana Transfer ke

|9

Daerah), bahkan Dana Desa pada Tahun 2016 juga meningkat 2 kali lipat (6,49% terhadap dana
Transfer ke Daerah). Dana Desa terlihat besar, karena dana PNPM Mandiri Perdesaan yang
tersebar di beberapa Kementerian Negara/Lembaga kemudian dialihkan semuanya kedalam pos
anggaran dana desa.
Proporsi dana PNPM Mandiri Perdesaan mencapai lebih dari tiga per empat dari total
alokasi dana PNPM Mandiri, dikarenakan sebagian besar dana dialokasikan untuk dana Bantuan
Langsung Masyarakat (BLM), sebagaimana Laporan yang dilansir oleh Sekretariat PokjaDana
PNPM Mandiri Perdesaan (2014). Memang dana BLM, dana yang langsung menyentuh ke
lapisan masyarakat yang paling bawah, yaitu masyarakat yang berada di bawah garis
kemiskinan. Pengalokasian dana PNPM Mandiri dalam bentuk BLM dapat dilihat pada tabel 2.
Tabel 2. Dana BLM yang Dialokasikan untuk PNPM Mandiri

Sumber: Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). 2014. Paket


Informasi PNPM Mandiri 2012-2013. Hal. 15
Perbedaan PNPM Mandiri Perdesaan, Alokasi Dana Desa dengan Dana Desa dapat
dilihat pada tabel 3.
Tabel 3. Perbedaan PNPM Mandiri Perdesaan, Alokasi Dana Desa & Dana Desa
No

Jenis Perbedaan

Payung Hukum

PNPM Mandiri
Alokasi Dana Desa
Perdesaan
(ADD)
PMK No. 168/PMK.07/ PP No. 72 Tahun 2005

Dana Desa
UU No. 6 Tahun 2014

| 10

2009
APBN & APBD
Dihentikan dan
dihapuskan
Berdasarkan formulasi
indeks fiskal dan
kemiskinan daerah
Pendanaan Urusan
Bersama lintas
Kementerian
Negara/Lembaga untuk
penanggulangan
kemiskinan

Permendagri No. 37
Tahun 2007
APBD Kabupaten/Kota
Dikembangkan menjadi
Dana Desa
10% x (Dana
Perimbangan Dana
Alokasi Khusus)
Sebagai salah satu
sumber pendapatan desa
Dengan tujuan utama
menanggulangi
kemiskinan dan
mengurangi kesenjangan

2
3

Sumber Dana
Status

Perhitungan
Besaran Dana

Fungsi

Mekanisme
Pengalokasian
Dana

Bantuan berupa:
Tunai dalam bentuk
Bantuan
Langsung
Masyarakat (BLM)
Program, yang meliputi:
Pengembangan
Masyarakat,
dan
Bantuan Pengelolaan &
Pengembangan Program

Belum diatur formula


yang jelas, sebagian
besar bersifat bagi rata
kepada setiap desa

Penggunaan
Dana

PertanggungJawaban

Ditujukan
seluruhnya
kepada masyarakat (baik
bantuan tunai maupun
bantuan program)
Pertanggungjawaban
masing-masing
Kementerian
Negara/Lembaga

Belanja aparatur &


Operasional Desa
Belanja Pemberdayaan
Masyarakat
Pertanggungjawaban
APBDesa

PP No. 60 Tahun 2014


PMK No. 93 Tahun 2015
APBN
Berjalan mulai tahun
2015
Dana yang diterima
Kabupaten/Kota x
Bobot Setiap Desa
Pembiayaan
penyelenggaraan
pemerintahan,
pembangunan
pemberdayaan
masyarakat, dan
kemasyarakatan
3 kali tahap (40%; 40%;
20%)
dialokasikan
90%
secara merata kepada
setiap desa
dialokasikan
10%
berdasarkan
jumlah
penduduk desa, angka
kemiskinan desa, luas
wilayah desa & tingkat
kesulitan geografis desa.
Belanja aparatur &
Operasional Desa
Belanja Pemberdayaan
Masyarakat
Pertanggungjawaban
Kepada Menteri Desa,
Pembangunan
Daerah
Tertinggal
dan
Transmigrasi
serta
Gubernur

Sumber: Diolah dari Peraturan pada Kementerian Keuangan dan Kementerian Dalam Negeri
3.2. Tingkat Kemiskinan Seluruh Pedesaan di Indonesia
Perkembangan tingkat kemiskinan pada seluruh pedesaan di Indonesia dapat dilihat
sebagai berikut:

| 11

Tabel 4. Perkembangan Tingkat Kemiskinan Seluruh Pedesaan di Indonesia


Indikator
Jumlah Penduduk
Pedesaan (juta jiwa)
Koefisien Gini

2009
Miskin

2010

2011

2012

2013

2014

2015

20,62

19,93

18,97

18,94

17,92

17,37

17,89

0,37

0,38

0,41

0,41

0,41

0,41

0,42

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)


Grafik 2. Perkembangan Jumlah Penduduk Miskin di Pedesaan

Sumber: Badan Pusat Statistik (BPS)


Berdasarkan tabel 4 dan grafik 2, jumlah penduduk miskin dari tahun 2009 terus
mengalami penurunan sampai dengan tahun 2014, namun pada tahun 2015 meningkat kembali.
Koefisien gini juga mengalami peningkatan namun dalam rentang yang kecil dan relatif stagnan
pada empat tahun terakhir meskipun tahun 2015 mengalami sedikit peningkatan. Meskipun
rentang peningkatannya sedikit tetapi menunjukkan bahwa kesenjangan perekonomian tetap
tinggi dan belum mengalami penurunan. Peningkatan jumlah penduduk miskin dan koefisien
gini disebabkan terutama karena kenaikan biaya bbm yang membebani masyarakat baik di
perkotaan maupun di pedesaan. Hal ini dikemukakan oleh Suryamin, Kepala BPS, dengan

| 12

pernyataan sebagai berikut:


Penyebab penting peningkatan angka kemiskinan ini karena terjadi kenaikan harga
BBM pada akhir tahun 2014 dan berdampak pada awal tahun 2015. Kalau BBM naik,
maka inflasi akan naik karena harga kebutuhan pokok meningkat, garis kemiskinan
meningkat (Republika, 15 September 2015).
3.3. Pengaruh Dana Desa terhadap Tingkat Kemiskinan Pedesaan di Indonesia
Berdasarkan perkembangan pengalokasian dana bagi pedesaan, Dana Desa hadir di saat
yang tidak tepat, pada saat pemerintah mengeluarkan kebijakan yang tidak populer, yaitu
kebijakan menaikkan harga BBM. Kenaikan harga BBM pada awalnya menyasar masyarakat
menengah ke atas, namun imbasnya pada kenaikan biaya transportasi mau tidak mau berdampak
pasa masyarakat miskin di pedesaan. Mereka sebagian besar adalah petani dan membutuhkan
alat transportasi untuk mendistribusikan dan menjual hasil panennya. Apabila biaya angkutan
umum naik otomatis menambah biaya hidup masyarakat di pedesaan.
Kenaikan dana desa yang dua kali lipat belum sanggup menekan laju kenaikan jumlah
penduduk miskin di pedesaan, meskipun sejak tahun 2009 jumlah penduduk miskin terus
mengalami penurunan. Pemerintah merespon dampak kenaikan harga BBM terhadap
peningkatan pertumbuhan julah penduduk miskin di pedesaan dengan menambah alokasi dana
desa pada tahun 2016 sebesar dua kali lipat. Respon pemerintah merupakan bentuk
desentralisasi fiskal dalam rangka menanggulangi laju kemiskinan dan mengurangi tingkat
kesenjangan perekonomian di pedesaan.
4.

Simpulan

4.1. Kesimpulan
Hasil analisis pengaruh penghapusan dana bagi perdesaan, yaitu meleburnya dana PNPM
Mandiri Perdesaan dan Alokasi Dana Desa menjadi Dana Desa pada Tahun 2015 terhadap

| 13

kemiskinan di Pedesaan dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:


1. Pembentukan nama dan format baru pada APBN, yaitu munculnya Dana Desa didasarkan
pada amanat Undang-Undang dan Peraturan Pemerintah yang mengatur tentang desa.
2. Dana desa yang mengalami kenaikan 2 kali lipat pada dua tahun terakhir ini, yaitu tahun
2015 dan tahun 2016 belum dapat membendung pertumbuhan jumlah penduduk miskin di
perdesaan.
3. Kenaikan jumlah penduduk miskin bukan disebabkan karena alokasi dana desa, melainkan
karena faktor eksternal pada level nasional, yaitu kenaikan harga BBM.
4.2. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan kepada pemerintah, adalah agar pemerintah mengkaji
kembali program kegiatan yang dibiayai dari dana desa. Sebaiknya jangan hanya
mengalokasikan dana desa dalam bentuk tunai, seperti Bantuan Langsung Masyarakat (BLM),
tetapi lebih berfokus pada program yang lebih mendukung kepada pengentasan kemiskinan yang
berorientasi jangka panjang, misalnya program padat karya.

| 14

Referensi
Akita, Taharo., Pirmansah, Alit. 2011. Urban Inequality in Indonesia. Japan: Shiga University
Aji, Prasetyo. 2015. Summary of Indonesias Poverty Analysis. ADB Papers on Indonesia.
Philippines: Asian Development Bank
Indrizal, Edi. 2014. Memahami Konsep Perdesaan dan Tipologi Desa di Indonesia. Padang:
FISIP Universitas Andalas
Iryanti, Rahma. 2014. Kemiskinan dan Ketimpangan di Indonesia: Permasalahan dan
Tantangan. Jakarta: Bappenas
Haryanto, Joko Tri. 2015. Desentralisasi Fiskal Seutuhnya. http://www.kemenkeu.go.id/Artikel/
desentralisasi-fiskal-seutuhnya Diakses pada 9 Februari 2016
Sukanto, Azwardi. 2014. Efektivitas Alokasi Dana Desa (ADD) dan Kemiskinan di Provinsi
Sumatera Selatan. Jurnal Ekonomi Pembangunan Hal. 29-41. Edisi Juni 2014. Sumatera
Selatan: Fakultas Ekonomi Universitas Sriwijaya
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas. 2013. Evaluasi PNPM Mandiri.
Jakarta: Bappenas
Rachman, Taufik. 2016. Menteri Desa Minta Mahasiswa Bantu Awasi Dana Desa. Republika
Online, Edisi 13 Februari 2016. http://www.republika.co.id/berita/nasional/daerah /
16/02/13/o2hjr0219-menteri-desa-minta-mahasiswa-bantu-awasi-dana-desa.
Diakses pada 15 Februari 2016
Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). 2014. Paket Informasi PNPM
Mandiri 2012-2013. Jakarta: Sekretariat Pokja Pengendali PNPM Mandiri
Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K). 2015. Mengintegrasikan
Prinsip Pembangunan Berbasis Masyarakat ke Dalam Kebijakan: Dari PNPM Mandiri
menjadi UU Desa. Jakarta: Sekretariat Wakil Presiden Republik Indonesia
Yohanes Aristianto. 2009. Kamus Inggris Indonesia. http://kamusbahasainggris.com/. Diakses
pada 9 Februari 2016
http://www.tnp2k.go.id/id/program/program/dprogram-program-nasional-pemberdayaanmasyarakat-mandiri-pnpm-mandiri/. Diakses pada 15 Februari 2016
https://id.wikipedia.org/wiki/Koefisien_Gini. Diakses pada 9 Februari 2016
http://www.neraca.co.id/article/40694/bps-akui-ketimpangan-kian-lebar-pertumbuhan-ekonomitidak-berkualitas. Diakses pada 15 Februari 2016
Badan Pusat Statistik. http://www.bps.go.id. Diakses pada 15 Februari 2016
Kementerian Keuangan. http://www.djpk.kemenkeu.go.id/. Diakses pada 15 Februari 2016

| 15

Kementerian

Perencanaan

Pembangunan

Nasional/Bappenas.

http://www.bappenas.go.id

Diakses pada 15 Februari 2016


Undang-undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa
Peraturan Pemerintah Nomor 72 Tahun 2005 tentang Desa
Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2014 tentang Dana Desa yang Bersumber dari APBN
Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 37 Tahun 2007 tentang Pedoman Pengelolaan
Keuangan Desa
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 168 Tahun 2009 tentang Pedoman Pendanaan Urusan
Bersama Pusat dan Daerah untuk Penanggulangan Kemiskinan
Peraturan Menteri Keuangan Nomor 93 Tahun 2015 tentang Tata Cara Pengalokasian,
Penyaluran, Penggunaan, Pemantaua, dan Evaluasi Dana Desa