Anda di halaman 1dari 105

I.

PENDAHULUAN

Ternak ruminansia memilki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan ternak nonruminansia, khususnya terletak pada saluran pencernaannya. Hal tersebut tentunya berdampak terhadap nutrisi yang dibutuhkan. Ilmu nutrisi ruminansia mempelajari bagaimana nutrisi yang diberikan kepada ternak ruminansia sesuai dengan kondisi fisiologisnya. Kehidupan mikrobiologi di dalam rumen memiliki peran yang sangat penting bagi produktivitas ternak ruminansia, karena hampir 80% proses pencernaan merupakan peran dari mikroorganisme. Oleh karena itu pengetahuan tentang mikrobiologi rumen diperlukan guna mengoptimalisasi pemanfaatannya sehingga akan meningkatkan produktivitas ternak. Manipulasi rumen dimungkinkan untuk meningkatkan kualitas absorbsi zat-zat makanan dari pakan untuk ternak ruminansia. Metabolisme zat-zat makanan ternak ruminansia dan ternak nonruminansia juga memiliki perbedaan, khsususnya pada metabolisme lipida yaitu terjadinya proses biohidrogenasi yang memberikan dampak terhadap produk ternak ruminansia kaya akan lemak jenuh. Pemberian zat makanan yang tepat sesuai dengan kebutuhan sesuai fase fisiologisnya sangat penting guna mencapai tujuan dari pemeliharaan ternak ruminansia, yaitu produktivitas yang optimal. Jika pakan yang kita formulasikan tidak sesuai dengan kebutuhan ternak dapat berakibat pada gangguan metabolisme ternak karena suplai zat-zat makanan tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh ternak. Kondisi tersebut akan memberikan dampak terhadap ketidaktercapaian target produksi yang kita harapkan. Mengingat pakan ternak ruminansia tidak bersaing dengan pakan manusia, maka ternak ruminansia merupakan ternak masa depan karena kemampuannya untuk mengkonversi pakan berkualitas rendah menjadi produk pangan hewani yang berkualitas tinggi. Pengetahuan tentang bahan pakan penyusun ransum ternak ruminansia dan metode penyusunan formulasi ransum juga dibutuhkan guna mencapai target produksi yang kita harapkan disamping faktor ekonomis yang harus kita perhatian.

II.

KOMPARASI PENCERNAAN RUMINANSIA DAN FUNGSINYA

Kompetensi Dasar

1. Mahasiswa memahami tentang anatomi dan fisiologi saluran pencernaan ternak ruminansia dibandingkan ternak nonruminansia.

2. Mahasiswa memahami tentang organ aksesoris sistem pencernaan beserta fungsinya.

Tujuan

1. Mahasiswa mengetahui tentang anatomi dan fisiologi saluran pencernaan

ternak ruminansia dibandingkan dengan ternak nonruminansia.

2. Mahasiswa mengetahui tentang organ aksesoris sistem pencernaan ternak ruminansia beserta fungsinya.

Pendahuluan Dahulu pakan ternak memiliki kualitas tinggi, seiring dengan perkembangan populasinya ternak akan terseleksi dengan kemampuannya untuk bertahan hidup. Kemampuannya untuk dapat berkompetisi dengan pangan manusia membuat

ternak akan menjadikan ternak tersebut dapat bertahan hidup. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah adaptasi dengan pakan yang tidak berkompetisi dengan manusia. Ternak dikelompokkan berdasarkan jenis makanannya, yaitu :

1. Non fiber type : Browsing type : Merupakan ternak yang selektif sekali, disebut juga concentrate selector. Pakannya memiliki kualitas tinggi. Contohnya ternak kambing.

2. Medium fiber type : Tidak terlalu selektif terhadap pakan. Contohnya ternak sapi.

3. High fiber type : Greezing type : Contohnya ternak domba.

Pada bab ini akan disajikan pembahasan tetang anatomi dan fisiologi saluran pencernaan pada ternak ruminansia.

2.1 Anatomi dan Fisiologi Saluran Pencernaan Ternak Ruminansia Pencernaan pada hewan ruminansia (memamah biak) hampir sama dengan manusia yaitu terdiri dari mulut, faring, oesofagus, ventriculus dan usus. Perbedaannya terletak pada susunan dan fungsi gigi serta lambung. Gigi Susunan gigi (sapi) :

 

M 3

P 3

C 0

I 0

I 0

C 0

P 3

M 3

M 3

P 3

C 0

I 4

I 4

C 0

P 3

M 3

M

: molare (geraham belakang)

P

: prae molare (geraham depan)

C

: caninus (gigi taring)

I

: dens insisivus (gigi seri)

Geraham depan dan geraham belakang berbentuk leber dan datar. Gigi seri berfungsi khusus untuk menjepit makanan berupa tubmbuhan.

Lambung Pada hewan memamah biak lambung terdiri dari 4 bagian :

1. rumen (perut besar) : tempat penccernaan protein dan polisakarida, juga tempat fermentasi selulosa oleh bacteri yang menghasilkan selulose

2. retikulum (perut jala) : tempat pembentukan bolus (gumpalan-gumpalan makanan yang masih kasar)

3. omasum (perut kitab) : tempat bolus bercampur enzim

4. abomasum (perut masam) : tempat pencernaan oleh enzim

Jalannya makanan :

1. Makanan dikunyah di mulut masuk ke oesofagus selanjutnya ke rumen yang berfungsi sebagai tempat sementara bagi makanan yang tertelan.

2. Di rumen terjadi pencernaan protein dan polisakarida serta fermentasi selulosa oleh enzim selulosa yang dihasilkan bacteri.

3. Dari rumen makanan masuk ke retikulum dan makanan dibentuk menjadi bolus.

4. Bolus dikeluarkan kembali ke mulut untuk dikunyah kembali.

5.

Dari mulut makanan ditelan masuk ke omasum dan bercampur dengan enzim.

6. Selanjutnya bolus menuju ke abomasum dan terjadi pencernaan secara kimia oleh enzim.

7. Selanjutnya makanan menuju ke usus untuk diserap sari-sarinya dan sisa-

sisa makanan berupa feses dikeluarkan melalui anus. Selulose yang dihasilkan bacteri dan protozoa akan merombak selulosa menjadi asam lemak. Tapi bacteri tidak dapat hidup pada abomasum kaena pH-nya sangat rendah, maka bacteri dicerna untuk mendapatkan protein. Enzim selulose juga berfungsi menghasilkan gas CH 4 yang dapadt digunakan sebagai sumber energi alternatif. Kuda, kelinci dan marmut susunan/ struktur lambungnya berbeda dengan sapi. Proses fermentasi atau pembusukan terjadi di sekum yang banyak mengandung bacteri. Fermentasi yang dilakukan kuda, kelinci dan marmut tidak seefektif

pada sapi sehingga kotorannya tampak kasar. Pada kelinci dan marmut kotoran yang telah dikeluarkan dari tubuh sering dimakan kembali. Usus sapi sangat panjang, usus halusnya dapat mencapai 40 meter. Hal itu dipengaruhi oleh makanannya yang sebagaian besar terdiri dari serat. Anatomi dan fisiologi sistem pencernaan berpengaruh terhadap karakteristik pakan ternak. Pakan kaya kandungan protein akan mudah untuk dicerna, karnivora memiliki saluran pencernaan yang lebih pendek jika dibandingkan ternak herbivore. Ternak herbivore membutuhkan saluran pencernaan yang lebih panjang dengan organ khusus untuk mencerna selulosa pada pakan, yaitu lambung yang terdiri atas 4 ruang (ruminansia) dan caecum yang besar. Perbandingan anatomi sistem pencernaan ternak ruminansia dan nonruminansia diilustrasikan pada Gambar 1.

Gambar 1 . Perbandingan anatomi sistem pencernaan ternak ruminansia dan nonruminansia. Sedangkan pada saluran pencernaan

Gambar 1. Perbandingan anatomi sistem pencernaan ternak ruminansia dan nonruminansia.

Sedangkan pada saluran pencernaan herbivore nonruminansia seperti kelinci

memiliki karakteristik yaitu caecumnya sangat besar dan berfungsi sebagai

kantong fermentasi, tidak melakukan mekanisme regurgitasi dan rechewing.

Guna meningkatkan mekanisme pencernaan serat kasar dilakukan dengan cara

mencerna fesesnya kembali (coprophagi).

Ruminansia sangat unik karena lambungnya terdiri dari empat ruang, yaitu

rumen, reticulum, omasum, dan abomasum. Anatomi lambung ternak

ruminansia ditunjukkan pada Gambar 2.

a.

ruang, yaitu rumen, reticulum, omasum, dan abomasum. Anatomi lambung ternak ruminansia ditunjukkan pada Gambar 2. a.

b.

b. Gambar 2 . (a) Anatomi lambung ternak ruminansia (b) Bagian-bagian struktur lambung ruminansia (Church, 1988)

Gambar 2. (a) Anatomi lambung ternak ruminansia (b) Bagian-bagian struktur lambung ruminansia (Church, 1988)

Pakan memasuki dua kantong dimana pakan dicerna sebagian, rumen berfungsi

sebagai kantong fermentasi dimana bakteri dan protista menguraikan selulosa.

Proses tersebut termasuk dalam hubungan simbiosis. Pakan akan mengalami

proses regurgitasi dan rechewed. Selanjutnya pakan memasuki dua kantong

berikutnya dimana enzim-enzim pencernaan dilepaskan.

Ternak ruminansia yang termasuk dalam tipe concentrate selector memiliki

ukuran ostia (menggubungkan retukikulum dengan omasum) lebih besar

dibandingkan ternak tipe grazing/tipe medium. Konsekuensinya adalah

pemberian pakan yang memiliki nilai nutrisi baik tidak akan tinggal terlalu lama

pada alat pencernaan karena ternak ruminansia tidak memiliki kemampuan untuk

mencerna saliva yang berfungsi sebagai buffer. Pakan dalam saluran pencernaan

akan cepat menjadi asam dalam bentuk asam asetat, asam butirat, dan asam

propionate.

Pada ternak ruminansia yang belum dewasa, oesophageal groove merupakan

saluran yang mengalirkan air susu langsung dari oesophagus menuju omasum

dan abomasums melampaui jalur reticulum-rumen. Karakteristik Concentrate selector :

a. Memiliki reticulo-rumen yang relative sederhana dengan bagian dorsalnya yang tidak saling berhimpitan sehinga terjadi kontraksi secara total dan jarang sekali seluruh kapasitas reticulo-rumen terisi penuh.

b. Mempunyai ostia, intra-ruminale dan rumino reticulare yang lebar sehingga ingesta yang masuk ke rumen mudah keluar.

c. Mempunyai penyangga rumen (pillar) yang lemah, papilla rumen menutup

seluruh permukaan mucosa secara merata tetapi tidak terlalu padat.

d. Omasum sangat kecil dengan lamina sedikit.

e. Omasum relatif kecil dengan glandula mukosa yang tebal.

f. Glandula saliva besar mencapai 0,2% bobot badan.

g. Caecum dan bagian belakang colon berfungsi sebagai tempat fermentasi.

Karakteristik Intermediate Type :

a. Reticulo rumen lebih terbagi, blindsac berkembang sempurna, dorsal sac berhimpitan ke dinding perut.

b. Ostia sempit sehingga ingesta lebih lama keluar.

c. Papilla rumen tidak tersebar merata, di bagian tengah lebat dan bagian atas

rudimenter.

d. Ukuran reticulum kecil

e. Omasum besar, lamina banyak dengan permukaan lebar.

f. Abomasum relative besar dengan glandula mucosa yang tipis

g. Glandula saliva relative kecil

h. Fermentasi di colon kecil.

2.2

Organ aksesoris Sistem Pencernan

2.2.1

Hati Hati merupakan kelenjar eksokrin yang berukuran besar berada di atas lambung. Hari memproduksi empedu yang mengalir menuju usus halus. Empedu mewarnai sel darah merah yang sudah aus dan diekskresikan melalui feces. Sedangkan garam empedu menguraikan lemak menjadi globular yang lebih kecil (emulsi) sehingga dapat bereaksi dengan lipase.

Hati juga berfungsi untuk memindahkan zat antinutrisi, zat beracun, dan alcohol dari darah. Hati mengubah ammonia (NH 3 ) yang diproduksi oleh bakteri di usus besar menjadi urea CO(NH 2 ) 2 yang diekskresikan dalam bentuk urin. Hati juga mengatur level dari berbagai substansi yang diproduksi dalam tubuh (contohnya adalah hormone steroid).

diproduksi dalam tubuh (contohnya adalah hormone steroid). Gambar 3 . Regulasi hormonal sistem pencernaan 2.2.2 Kandung

Gambar 3. Regulasi hormonal sistem pencernaan

2.2.2 Kandung Empedu Kandung empedu merupakan kelenjar eksokrin yang berfungsi untuk memproduksi dan menyimpan empedu, memiliki saluran menuju pada usus halus.

2.2.3 Pankreas Pancreas merupakan kelenjar eksokrin yang beada di antara lambung dan usus halus, memproduksi beberapa enzim pencernaan, meliputi :

1. tripsin : berfungsi untuk mencerna protein

2. pankreatik amylase : berfungsi untuk mencerna pati

3. lipase : berfungsi mencerna lemak

Pankreas juga berfungsi sebagai kelenjar endokrin yang menhasilkan hormone untuk mengatur level gula di dalam darah, yaitu insulin dan glukagon.

Gambar 4 . Struktur anatomi pancreas 2.3 Rumen Fisiologi dan Mastikasi Ruminansia memiliki karakter yang

Gambar 4. Struktur anatomi pancreas

2.3 Rumen Fisiologi dan Mastikasi Ruminansia memiliki karakter yang unik pada sistem pencernaannya. Keberadaan gigi taringnya untuk mengoyak makanan digantikan dengan gigi gerahamnya. Gigi geraham tersebut diadaptasikan untuk menghancurkan makanan khususnya yang mengandung serat kasar tinggi menjadi partikel yang lebih kecil. Sekresi saliva pada ternak ruminansia dalam jumlah yang berlebih, sehingga ternak tersebut tidak perlu mengkonsumsi air walaupun makanannya dalam kondisi kering. Sekresi saliva ternak sapi berkisar 40-60 l/hari. Saliva tidak mengandung enzim, tetapi sejumlah besar bikarbonat dan phosphat yang menjadi media yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroba dan proses fermentasi. Bikarbonat yang terkandung pada saliva bertindak sebagai buffer utama pada cairan rumen. Phosphat banyak dijumpai dalam bentuk inorganik. Substansi tersebut memiliki peranan yang penting untuk pertumbuhan mikroorganisme dan berperan menjaga kondisi rumen agar tetap netral sehingga menjadi media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme.

Motilitas Retikulo-rumen

Siklus kontraksi terjadi satu sampai tiga kali per menit. Frekuensi yang tertinggi terjadi selama proses pemberian pakan, dan frekuensi terendah terjadi ketka

ternak sedang beristirahat. Dua tipe kontraksi yang terjadi adalah :

1. Kontraksi primer, proses ini melibatkan gelombang kontraksi yang diikuti dengan gelombang relaksasi, atau dapat dikatakan sebagian bagian ruen kontraksi dan kantong yang lainnya mengalami diltasi.

2. Kontraksi sekunder terjadi hanya pada bagian rumen dan biasanya berkaitan denga proses eruktasi.

Ruminasi dan Eruktasi

Ruminansia dikatakan juga sebagai hewan yang memamah biak. Ruminasi adalah mengunyah kembali pakan yang berasal dari reticulum, diikuti dengan remastikasi dan reswallowing (menelan kembali). Proses tersebut bermanfaat untuk mengefektivkan pemecahan mekanik dari hijauan yang mengandung serat kasar tinggi karena meningkatkan luas area permukaan subtract untuk proses fermentasi mikroba.

Regurgitasi diawali dengan diawali dengan kontraksi reticulum stelah kontraksi primer terjadi. Kontraksi ini mengakibatkan relaksasi otot distal esophageal sphincter sehingg memungkinkan bolus pakan memasuko oesophagus. Bolus dibawa menuju mulut melalui pergerakan peristaltic yang arahnya berlawanan. Cairan pada bolus didorong keluar oleh lidah dan ditelan kembali. Bolus tersebut mengalami proses remastikasi lalu ditelan kembali.

kembali. Bolus tersebut mengalami proses remastikasi lalu ditelan kembali. Gambar 5 . Fase materi di dalam

Gambar 5. Fase materi di dalam rumen

Gambar 6. Grafik hubungan waktu yang dialokasikan oleh domba jantan untuk makan dibandingkan waktu untuk

Gambar 6. Grafik hubungan waktu yang dialokasikan oleh domba jantan untuk makan dibandingkan waktu untuk proses ruminasi (diadaptasi dari Lofgreen et al., J Animal Sci 16:773, 1957)

Ruminasi terjadi umumnya ketika ternak sedang istirahat atau tidak sedang

dalam kondisi makan. Proses tersebut dapat digambarkan dalam waktu yang

dialokasikan oleh ternak untuk proses ruminasi dalam kesehariannya.

Fermentasi di rumen ternak ruminansia menghasilkan gas dalam jumlah yang

sangat besar. Sekitar 30-50 liter gas/jam dihasilkan oeh sapi dewasa sedangkan

domba atau kambing menghasilkan 5 liter gas/jam. Eruktasi atau belching

adalah bagaimana ternak ruminansia secara kontinyu melepaskan gas yang

dihasilkan dari proses fermentasi tersebut. Proses eruktasi berhubungan dengan

setiap kontraksi ruminal sekunder. Eruktasi gas bergerak pada esophagus 160-

225 cm/detik (Steven and Sellers, Am J Physiol 199:598,1960). Pada umumnya

proses pergerakan gas tersebut diawali dengan pertama menghirup udara menuju

paru-paru kemudian dihembuskan keluar.

Rangkuman

1.

Sistem pencernaan ternak ruminansia terdiri atas saluran pencernaan dan

organ aksesoris yang mendukung proses pencernaan.

2.

Organ aksesoris pada sistem pencernaan meliputi hati, pancreas, dan kandung empedu.

3. Ternak ruminansia melakukan proses ruminasi, regurgitasi, eruktasi, dan fermentasi dalam mekanisme pencernaannya.

4. Ternak dikelompokkan berdasarkan jenis makanannya, yaitu Non fiber type, medium fiber type, dan high fiber type.

Latihan

1. Berikan penjelasan tentang anatomi dan fisiologi saluran pencernaan ternak

ruminansia !

2. Jelaskan perbedaan sistem pencernaan ternak ruminansia dan nonruminansia!

3. Sebutkan organ aksesoris sistem pencernaan beserta fungsinya !

4. Mengapa ternak nonruminansia lebih toleran terhadap jenis pakan konsentrat daripada ternak nonruminansia ?

5. Mengapa ternak ruminansia dapat menggunakan pakan berserat lebih efisien daripada nonruminansia ?

III.

MIKROBIOLOGI RUMEN

Kompetensi Dasar

1. Mahasiswa memahami tentang mikrobilogi rumen

2. Mahasiswa mampu melakukan manipulasi rumen guna mengoptimalisasikan pemanfaatan zat-zat makanan pakan ternak ruminansia.

Tujuan

1. Mahasiswa memahami tentang mikrobilogi rumen

2. Mahasiswa mampu melakukan manipulasi rumen guna mengoptimalisasikan

pemanfaatan zat-zat makanan pakan ternak ruminansia. Pendahuluan Hubungan antara ternak ruminansia dengan keberadaan mikroflora, serta kaitannya dengan zat makanan telah dipelajari sejak 40 tahun. Studi tentang hubungan tersebut dilakukan oleh Hogan dan tim yang mendemonstrasikan hubungan inang dengan metabolisme NPN oleh mikroflora. Penelitian lebih lanjut masih diperlukan untuk mengeksplorasi manfaat keberadaan mikroflora di dalam rumen guna meningkatkan kualitas zat makanan bagi ternak ruminansia. Hungate (1960) menyatakan bahwa analisa ilmiah tentang habitat mikroflora membutuhkan pemahaman tentang : (i) tipe mikroorganisme (ekologi); (ii) aktivitas mikroorganisme tersebut (enzymology) ; dan faktor yang mempengaruhi aktivitas mikroorganisme (regulasi)

3.1 Mikrobiologi Rumen Mikroorganisme yang terdapat pada saluran pencernaan ternak herbivore memiliki fungsi utama untuk mencerna karbohidrat kompleks yang terkandung pada bahan pakan hijauan. Kondisi biologis dan ekologi mikroorganisme yang dimiliki oleh ternak ruminansia relative serupa. Meskipun terdapat strain bakteri atau protozoa spesifik ditemukan pada ternak ruminansia tertentu namun relative memiliki karakteristik biologis yang sama. Syarat mikroorganisme sesuai untuk berkembangbiak pada saluran pencernaan ternak ruminansia, khususnya pada rumen adalah : (i) sanggup tumbuh pada kondisi anaerob ; (ii) jumlah untuk bakteri 10 6 -10 11 /ml cairan rumen ; dan (iii) harus sanggup menghasilkan hasil akhir fermentasi yaitu VFA dan NH 3 .

Sistem pencernaan ruminansia adalah rangkaian proses perubahan fisik dan kimia yangdialami bahan makanan selama berada di dalam alat pencernaan. Prosespencernaan makanan pada ternak ruminansia relatif lebih kompleksdibandingkan proses pencernaan pada jenis ternak lainnya.

Perut ternak ruminansia dibagi menjadi 4 bagian, yaitu retikulum (perutjala), rumen (perut beludru), omasum (perut bulu), dan abomasum (perut sejati).Dalam studi fisiologi ternak ruminasia, rumen dan retikulum sering dipandangsebagai organ tunggal dengan sebutan retikulorumen. Omasum disebut sebagaiperut buku karena tersusun dari lipatan sebanyak sekitar 100 lembar. Fungsiomasum belum terungkap dengan jelas, tetapi pada organ tersebut terjadipenyerapan air, amonia, asam lemak terbang dan elektrolit. Pada organ inidilaporkan juga menghasilkan amonia dan mungkin asam lemak terbang (Frances dan Siddon, 1993). Termasuk organ pencernaan bagian belakanglambung adalah sekum, kolon dan rektum. Pada pencernaan bagian belakangtersebut juga terjadi aktivitas fermentasi. Namun belum banyak informasi yangterungkap tentang peranan fermentasi pada organ tersebut, yang terletak setelahorgan penyerapan utama. Proses pencernaan pada ternak ruminansia dapat terjadi secara mekanis di mulut, fermentatif oleh mikroba rumen dan secarahidrolis oleh enzim-enzim pencernaan.

Pada sistem pencernaan ternak ruminasia terdapat suatu proses yangdisebut memamah biak (ruminasi). Pakan berserat (hijauan) yang dimakanditahan untuk sementara di dalam rumen. Pada saat hewan beristirahat, pakanyang telah berada dalam rumen dikembalikan ke mulut (proses regurgitasi),untuk dikunyah kembali (proses remastikasi), kemudian pakan ditelan kembali(proses redeglutasi). Selanjutnya pakan tersebut dicerna lagi oleh enzim-enzim mikroba rumen. Kontraksi retikulorumen yang terkoordinasi dalam rangkaianproses tersebut bermanfaat pula untuk pengadukan digesta inokulasi danpenyerapan nutrien. Selain itu kontraksi retikulorumen juga bermanfaat untukpergerakan digesta meninggalkan retikulorumen melalui retikulo-omasal orifice(Tilman et

al. 1982).

Di dalam rumen terdapat populasi mikroba yang cukup banyak jumlahnya.Mikroba rumen dapat dibagi dalam tiga grup utama yaitu bakteri, protozoa danfungi (Czerkawski, 1986). Kehadiran fungi di dalam rumen diakui sangatbermanfaat bagi pencernaan pakan serat, karena dia membentuk koloni padajaringan selulosa pakan. Rizoid fungi tumbuh jauh menembus dinding seltanaman sehingga pakan lebih terbuka untuk dicerna oleh enzim bakteri rumen.

Bakteri rumen dapat diklasifikasikan berdasarkan substrat utama yangdigunakan, karena sulit mengklasifikasikan berdasarkan morfologinya.Kebalikannya protozoa diklasifikasikan berdasarkan morfologinya sebab mudahdilihat berdasarkan penyebaran silianya. Beberapa jenis bakteri yang dilaporkanoleh Hungate (1966) adalah : (a) bakteri pencerna selulosa (Bakteroidessuccinogenes, Ruminococcus flavafaciens, Ruminococcus albus, Butyrifibriofibrisolvens), (b) bakteri pencerna hemiselulosa (Butyrivibrio fibrisolvens,Bakteroides ruminocola, Ruminococcus sp), (c) bakteri pencerna pati(Bakteroides ammylophilus, Streptococcus bovis, Succinnimonas amylolytica, (d) bakteri pencerna gula (Triponema bryantii, Lactobasilus ruminus), (e) bakteri pencerna protein (Clostridium sporogenus, Bacillus licheniformis).

Protozoa rumen diklasifikasikan menurut morfologinya yaitu: Holotrichsyang mempunyai silia hampir diseluruh tubuhnya dan mencerna karbohidrat yangfermentabel, sedangkan Oligotrichs yang mempunyai silia sekitar mulutumumnya merombak karbohidrat yang lebih sulit dicerna (Arora, 1989).

Mikroorganisme cellulolytic banyak dijumpai pada rumen ternak ruminansia karena proses pencernaan serat kasar dominan terjadi. Mikroorganisme yang umum berkembang biak pada rumen mikroorganisme didominasi oleh fungi yang bersifat anaerob. Mikroflora tersebut khususnya yang memiliki kemampuan untuk menguraikan peptide dan bakteri yang mampu melakukan

fementasi terhadap asam amino. Chen dan Russell (1988, 1989) mengisolasi tiga jenis bakteri yang termasuk dalam bakteri Gram-positive yang memiliki aktivitas tinggi dalam memproduksi NH 3 , serta memiliki kemampuan untuk tumbuh pesat dengan jalan memanfaatkan asam amino mapun peptide sebagai sumber energi. Tiga jenis bakteri yang dapat diidentifikasi tersebut memiliki karakteristik taksonomi sebagai Peptostreptococcus anaerobius, Clostridium sticklandii,dan Clostridium aminophilum sp. nov. (Paster et al., 1993). Meskipun strain bakteri tersebut umum ditemui pada rumen ternak ruminansa namun jenis lain juga ditemukan pada ternak ruminansia yang di pelihara di daerah beriklim temperate seperti New Zealand. Analisa phylogenetic (16S rRNA) mengisolasi dua genus yaitu Peptostreptococcus, satu termasuk dalam genus Eubacterium dan dua lainya termasuk dalam famili Bacteroideacea yang termasuk daam tipe bakteri gram negative. Wallace et al., (1999) juga menemukan kehadiran bakteri gram positif yang disebut Eubacterium pyruvovorans sp. nov., dimana bakteri tersebut memiliki kemampuan untuk tumbuh dengan sumber energi baik yang berupa peptide, asam amino,maupun asam organic seperti piruvat atau oxaloacetate. Dengan adanya penambahan asetat, maka bakteri tersebut akan memproduksi asam organic rantai panjang seperti valerat dan caproate selama fase pertumbuhan. Saat ini banyak dipahami bahwa bakteri dengan kemampuan laju produksi ammonia yang tinggi tidak umum terdapat pada ternak ruminansia.

3.2 Pencernaan Mikrobial Terhadap Karbohidrat Enzim yang dihasilkan tractus digestivus tidak sanggup mencerna selulosa dan pentosan, zat-zat membentuk dinding sel tumbuhan dan merupakan sebagian besar bahan pada jerami. Akan tetapi zat-zat tersebut dicerna oleh bakteri dalam tiga bagian pertama dari lambung hewan ruminansia, di dalam caecum dan colon kuda dan sejumlah kecil di dalam usu besar hewan lain. Jumlah bakteri dalam isi rumen adalah banyak sekali. Bakteri tersebut merombak selulosa dan pentosan ke dalam asam-asam organik (terutama asetat) dan kemungkinan dalam jumlah kecil ke dalam gula sederhana. Dalam proses tersebut terbentuk terbentuklah gas (karbondioksida dan metana) dan panas.

Asam-asam organik merupakan makanan bagi hewan, sama halnya seperti gula, akan tetapi gas yang terbentuk tidak ada nilainya. Panas yang di timbulkan tidak digunakan, kecuali bila hewan memerlukan panas tersebut untuk menjaga suhu normal tubuhnya. Hasil penelitian terakhir menunjukkan bahwa penyerapan zat- zat makanan yang larut seperti asam-asam organik dapat berlangsung dari lambung hewan ruminansia, akan tetapi sebagian besar dari penyerapan terjadi dari usus halus.

Kesanggupan hewan ternak untuk menggunakan serat kasar dan pentosan dalam makanan tergantung pada kecernaan bakteri. Hal ini merupakan suatu kejadian yang penting dalam makanan sapi dan domba dan merupakan alasan utama mengapa hewan tersebut dapat hidup terutama dari jerami. Dinding sel yang beserat tidak hanya digunakan untuk makanan, tetapi dengan pencernaan tadi zat makanan yang terdapat di dalam menjadi bebas, dengan demikian akan menjadi lebih mudah dicerna oleh getah pencernaan di dalam lambung dan dalam usus. lignin dalam makanan hanya dicerna dalam jumlah sedikit.

Zat-zat asam dan gas yang terbentuk akibat bekerjanya mikroorgaisme dalam rumen merupakan hasil akhir berbagai reaksi antara. Seslulosa, pentosan dan pati dihidrolisis menjadi monosakarida kemudian difermentasi. Banyaknya asam yang terbentuk bervariasi tergantung macam ransum yang diberikan, adanya organisme dan faktor yang lainnya.asam asetat merupakan 2/3 sampai ¾ atau lebih dari jumlah seluruhnya. Menyusul berturut-turut asam propionate dan asam butirat. Asam volatile yang ada dalam rumen tidak semuanya berasal dari fermentasi karbohidrat, Karena sebagian berasal dari hasil kerja mikroorganisme terhadap protein atau ikatan lainnya yang mengandung nitrogen. Asam-asam tersebut masuk dalam abomasums mengalami pencernaan dan masuk ke dalam usus kemudian diserap masuk peredaran darah. Setelah diserap akan diubah menjadi energi, lemak, karbohidrat dan hasil lainnya yang dibutuhkan tubuh.

Dari bagian-bagian berserat pada bahan makanan ligninlah yang paling tahan terhadap serangan mikroorganisme sehingga hanya sedikit sekali yang dapat

dicerna. Selulosa lebih banyak dapat dirombak dan hemiselulosa yang paling

dapat dicerna. Pati dan gula siap diubah menjadi asam dan gas.

1 0.9 0.8 0.7 0.6 0.5 0.4 Sugar, kd 300%/h 0.3 Starch, barley, kd 20%/h
1
0.9
0.8
0.7
0.6
0.5
0.4
Sugar, kd 300%/h
0.3
Starch, barley, kd 20%/h
0.2
NDF, late harvest grass silage, kd
0.1
4%/h, pot. dig. 70%
0
0
10
20
30
40
50
Degradation

incubation time (h)

Gambar 7. Grafik hubungan waktu inkubasi (jam) dengan degradasi karbohidrat (%) di rumen.

3.3 Manipulasi Fermentasi Rumen

Voluntary Feed Intake (VFI) merupakan faktor pembatas produksi ternak

ruminansia karena konsumsi pakan bebas menurun terutama bila pakan utama

berupa hijauan yang serat kasarnya tinggi seperti limbah pertanian.

Jika VFI terbatas maka ternak akan kekurangan energi sehingga manipulasi

fermentasi perlu dilakukan, karena :Kapasitas retikulum-rumen dan laju

pencernaan bahan pakan terbatas sehingga mengakibatkan VFI terbatas.

Proses fermentasi rumen kurang efisien karena proses terjadi secara anaerob

sehingga ATP yang dihasilkan lebih sedikt dibadingkan oksidasi glukosa.

Tiga hal penting untuk mengoptimalisasi fungsi rumen :

Pencernaan maksimal bahan organik (BO) dengan poduksi VFA yang sejalan

dengan peningkatan pencernaan BO tersebut.

Produksi sel mikrobia semaksimal mungkin melalui fermentasi.

Kualitas dan kuantitas protein semaksimal mungkin untuk pencernaan pasca

rumen.

Kerugian dari proses fermentasi ;

1.

Protein yang mempunyai nilai hayati tinggi diubah menjadi NH 3 (yang dibutuhkan oleh ternak adalah AA)

2. Mudah menderita ketosis

Pakan di daerah tropis 90% didegradasi di rumen oleh karena itu perlu

memanipulasi. Keuntungan dari proses fermentasi ;

1. NH 3 dapat diberikan sebagai sumber protein asalkan pemenuhan energi juga seimbang.

2. Proses pencernaan SK terjadi.

Metode manipulasi fermentasi rumen ;

1. Seleksi komponen pakan dan prosesing pakan (untuk itu perlu tahu sifat pakan)

2. Penggunaan bahan kimia (non nutritive) yang akan mempengaruhi jalur metabolisme tertentu, mempengaruhi keasaman rumen atau dengan bahan kimia yang akan meningkatkan laju aliran keluar dari rumen. Suplementasi minyak ikan dengan penambahan senyawa kalsium hidroksida Ca(OH) 2 pada minyak ikan memberikan penurunan nilai kolesterol darah dan peningkatan PBB pada kambing (Yulianti dkk., 2013).

3. Suplementasi dan pengaturan waktu makan.

4. Peningkatan frekuensi feeding. Makin sering frekuensinya akan semakin

baik. Jika banyak pakan yang tercecer maka akan terbuang. Hal yang harus diperhatikan untuk mempertahankan populasi mikroorganisme dalam rumen adalah : (i) Fluktuasi pH dalam rumen penting diperhatikan untuk produksi mikroorganisme yang optimal ; (ii) Produksi gas dalam rumen diusahakan seimbang ; (iii) Pakan kaya serat + RAC sehinggga menghasilkan VFA yang tinggi; (iv) Imbangan hijauan dan konsentrat harus diperhatikan ; dan (v) Faktor pembatas harus diperhatikan; penurunan pH, [NH 3 ],[VFA], dan mineral juga penting untuk ditambahkan

3.3.1 Seleksi Komponen Pakan dan Prosesing Pakan Pada stall feeding / feed lot dapat dipilih berbagai pakan dengan tujuan untuk produksi tertentu. Contohnya pada daerah tropis pakan yang dapat dipilih antara lain : hay, silase, mollases, pucuk tebu, urea, suplemen protein hewani atau

nabati, pakan kaya serat dan ready available carbohydrate (RAC). Sesangkan prosesing pakan yang dapat diintroduksikan pada hijauan kaya serat adalah :

1. Penggilingan ; proses penggilingan maupun pemotongan akan memberikan dampak terhadap luas permukaan partikel sehingga menjadi lebih besar. Kondisi tersebut akan mengakibatkan mikroflora rumen akan mudah mencerna sehingga laju aliran pakan akan meningkat diikuti dengan voluntary feed intake (VFI) yang meningkat. Laju aliran berhubungan dengan konsumsi pakan.

2. Ekstraksi : perlakuan dengan uap saat proses ekstraksi menggunakan ekstruder khususnya pada bahan yang kaya kandungan lignosellulosa akan mengakibatkan pemisahan lignin dan selulosa. Proses ini dapat meningkatkan daya cerna hingga mencapai 60-90%. Prinsip kerja ekstruder adalah bahan pakan dialiri uap jenuh pada suhu 170-250 ºC selama beberapa menit guna merenggangkan ikatan serat kasar dengan komponen pakan yang tidak dapat tercerna.

3. Pemanasan : proses pemanasan baik diterapkan untuk pakan ternak, karena saat proses pemanasan akan terjadi denaturasi yang mengakibatkan protein menggumpal. Hal tersebut menyebabkan protein akan terproteksi sehingga tidak mengalami pencernaan di rumen melainkan langsung menuju abomasum dimana pH akan menurun sehingga enzim akan bekerja untuk menguraikan protein menjadi asam amino yang dapat diserab di usus halus.

4. Pemotongan

5. Pelleting

6. Perlakuan kimia jerami padi : contohnya adalah amoniasi dimana ikatan lignoselulosa akan terlepas dengan introduksi ikatan hydrogen. Proses tersebut akan meningkatkan kecernaan serat kasar sehingga meningkatkan sumber energi mikroflora dalam rumen.

7. Perlakuan biologis menggunakan mikroba dan jamur

3.3.2 Penggunaan Bahan Kimia Tujuh kelompok utama yang digunakan untuk manipulasi fermentasi rumen adalah ;

1.

Propionate enhancer : meningkatkan produksi asam asetat, contohnya adalah monensin, ionophore, chloroform, trichlor etanol.

2. Methane inhibitor

3. Deaminasi inhibitor : contohnya adalah diaryl iodonium

4. Protease inhibitor : contohnya adalah neomycin

5. Urease inhibitor

6. Dilution rate enhacer : garam-garam mineral, reaksinya tanpa mempengaruhi pH

7. pH regulator : contohnya adalah NaHCO3

Bahan kimia yang sering diterapkan di lapang adalah :

a) Methane inhibitor, prinsip kerjanya adalah CH 4 dihambat sehingga akan terjadi sintesis asam propionate. Jika konsentrasi asam propionate tinggi maka akan terjadi peningkatan efisiensi penggunaan energi. CH 4 akan banyak diproduksi jika hijauan yang dikonsumsi dalam jumlah tinggi. Proses pembentukan glukosa akan banyak melalui mekanisme glukoneogenesis.

b) Monensin (Rumensin), bekerja dengan jalan menurunkan pH rumen sehingga akan mengakibatkan pertumbuhan mikroorganisme sellulotik terhambat, produksi asam asetat akan menurun diiringi dengan penurunan produksi CH 4 dan peningkatan produksi asam propionate. Kondisi tersebut akan mengakibatkan intake pakan menurun dan menimbulkan peningkatan efisiensi penggunaa pakan. Pengaruh penggunaan monensin antara lain : (i) modifikasi produksi asam ; (ii) modifikasi konsumsi pakan ; (iii) mengubah produksi gas ; (iv) modifikasi kecernaan ; (iv) mengubah penggunaan protein dengan jalan menurunkan pH rumen sehingga menghambat produksi CH 4 .

c) Urease inhibitor, urea merupakan sumber nitrogen (N) bagi ternak ruminansia namun kelemahan pemberian urea adalah terjadinya proses

hidrolisis yang berlangsung sangat cepat. Hal tersebut akan berakibat terhadap terjadinya akumulasi NH 3 . Pada konsentrasi yang tinggi akan mengakibatkan keracunan pada ternak. Upaya untuk mengatasi permasalaha tersebut adalah dengan penambahan urease inhibitor. Penambahan bahan tersebut akan membuat NH 3 menjadi lebih tersedia untuk sintesis protein mikroba. Protein mikroba akan diserab pada usus halus oleh ternak

ruminansia dan kondisi tersebut akan meningkatkan retensi nitrogen.

d) Defaunating agent, proses defaunasi adalah upaya untuk mengurangi jumlah protozoa. Protozoa bersifat predator bagi bakteri dan protozoa lain yang ukurannya lebih kecil. Kondisi tersebut akan menurunkan kuantitas protein mikroba. Protozoa cenderung untuk menempel pada dinding rumen sehingga mengakibatkan menurunnya protein mikroba yang masuk alat pencernaan pasca rumen. Upaya untuk mengeliminir hal tersebut adalah dengan penambahan bahan kimia yang mengandung xaponin, contohnya adalah lerak. Bahan tersebut diekstrak dan dicampurkan bahan pakan maka pada dinding rumen akan terjadi xaponisasi sehingga protozoa akan terlepas dari dinding rumen. Proses xaponisasi akan menurunkan tekanan permukaan dinding rumendan mengakibatkan membrane sel protozoa pecah karena tekanan omosis. Xaponin memiliki fungsi seperti detergen. Selain lerak dapat juga digunakan pace, daun kembang sepatu, daun waru, dan jambe. Proses defaunasi berfungsi : (i) meningkatkan sel protein yang akan masuk saluran pencernaan pasca rumen ; (ii) meningkatkan protein yang by pass karena tidak terdegradasi oleh protozoa.

3.3.3 Suplementasi Pakan Urea Molasses Block (UMB) merupakan sumber nitrogen, energi, mineral esensial, dan vitamin. Penambahan UMB akan mengakibatkan proses fermentasi menjadi efektif karena meningkatkan aktvitas mikroorganisme di dalam rumen. UMB merupakan suplai NPN yang relative konstan, memiliki palabilitas yang tinggi karena rasa dan aromanya yang menarik. UMB juga merupakan salah satu metode fermentasi rumen, tujuan pemberiannya adalah untuk : (i) meningkatkan konsumsi pakan ; (ii) meningkatkan kecernaan ; (iii) meningkatkan produksi sel mikroba ; dan (iv) meningkatkan by pass protein.

3.3.4 Perlakuan biologis Penambahan probiotik merupakan salah satu metode untuk memanipulasi fermentasi rumen, yaitu dengan penambahan jumlah mikroba yang akan meningkatkan proses pencernaan bahan pakan.

Rangkuman

1. Mikrofora yang terdapat pada rumen ternak ruminansia didominasi oleh bakteri cellulolytic dan mikroorganisme yang memiliki kemampuan untuk menguraiakan peptide dan mampu melakukan fermentasi terhadap asam amino.

2. Syarat mikroorganisme sesuai untuk berkembangbiak pada saluran pencernaan ternak ruminansia, khususnya pada rumen adalah : (i) sanggup tumbuh pada kondisi anaerob ; (ii) jumlah untuk bakteri 10 6 -10 11 /ml cairan rumen ; dan (iii) harus sanggup menghasilkan hasil akhir fermentasi yaitu VFA dan NH 3 .

3. Metode manipulasi fermentasi rumen meliputi : (i) seleksi komponen dan prosesing bahan pakan ; (ii) penggunaan bahan kimia (non nutritive) yang akan mempengaruhi jalur metabolisme tertentu ; (iii) suplementasi dan

pengatiran waktu makan ; dan (iv) peningkatan frekuensi pemberian pakan.

Latihan

1. Jelaskan tentang mikroflora yang terdapat pada rumen !

2. Sebutkan syarat mikrooganisme dapar berkembangbiak pada saluran pencernaan ternak ruminansia !

3. Sebutkan dan jelaskan metode yang dapat dilakukan untuk memanipulasi proses fermentasi di dalam rumen !

4. Jelaskan prinsip kerja dari xaponin pada dinding rumen ternak ruminansia !

IV.

REGULASI SISTEM PENCERNAAN TERNAK RUMINANSIA

Kompetensi Dasar

1. Mahasiswa memahami tentang regulasi sistem pencernaan ternak ruminansia.

2. Mahasiswa memahami kontrol sistem pencernaan dan system syaraf terhadap

sistem pencernaan ternak ruminansia.

Tujuan

1. Mahasiswa mengetahui dan memahami tentang regulasi sistem pencernaan ternak

ruminansia.

2. Mahasiswa mengetahui dan memahami kontrol sistem pencernaan dan system

syaraf terhadap sistem pencernaan ternak ruminansia.

Pendahuluan Sistem pencernaan ternak ruminansia dikontrol dan dipengaruhi oleh system syaraf

dan sistem hormonal. Sistem pencernaan terdiri atas sistem motlitas yang kompleks

dan pengaturan dari sekresi yang penting agar dapat berfungsi dengan baik. Kondisi

tersebut akan dipenuhi melalui sistem long reflexes dari central nervous system

(CNS), dan short reflexes dari enteric nervous system (ENS) dan reflexes dari GI

peptides yang bekerja secara harmoni satu sama lain. Pembahasan tentang hormon-

hormon yang berperan dalam pengaturan sistem pencernaan ternak ruminansia telah

disajikan pada Bab II.

4.1 Regulasi Sistem Syaraf Sistem pencernaan terdiri atas sistem motlitas yang kompleks dan pengaturan dari

sekresi yang penting agar dapat berfungsi dengan baik. Kondisi tersebut akan

dipenuhi melalui sistem long reflexes dari central nervous system (CNS), dan short

reflexes dari enteric nervous system (ENS) dan reflexes dari GI peptides yang bekerja

secara harmoni satu sama lain.

Gambar 8 . Pembuluh darah dan syaraf pada lambung ruminansia (Church, 1988) 25

Gambar 8 . Pembuluh darah dan syaraf pada lambung ruminansia (Church, 1988)

4.2

Long Reflexes Long reflexes pada sistem pencernaan melibatkan syaraf sensori yang mengirimkan

informasi pada otak yang mengintegrasikan sinyal yang diterima kemidian

mengirimkan pesan pada sistem pencernaan. Sedangkan pada kondisi tertentu,

informasi pada syaraf sensori datang saluran pencernaan sendiri.

Informasi juga dapat diperoleh dari sumber lain selain saluran pencernaan. Jika

kondisi tersebut terjadi, maka refleksnya disebut refleks feedforward. Tipe dari

refleks ini meliputi reaksi terhadap makanan atau efek yang membahayakan terhadap

saluran penceraan.

Respon emosional juga dapat menggertak respon pada salura pecernaan , seperti rasa

sakit perut saat kita grogi (nervous). Refleks feedforward dan emosional dari saluran

pencernaan disebut refleks cephalic.

4.3 Short Reflexex Kontrol terhadap sistem pencernaan juga dipelihara oleh enteric nervous system

(ENS), yang dapat kita pandang sebagai pusat pengaturan pencernaan yang dapat

membantu untuk mengatur motilitas, sekresi, dan pertumbuhan. Beberapa informasi

sensoris dari sistem pencernaan dapat diterima, diintegrasikan dan direspon melalui

ENS saja. Ketika mkanisme tersebut berlangsung, refleks yang disebut short reflex.

Walaupun hal tersebut dapat terjadi pada beberapa situasi, ENS juga dapat

berinteraksi dengan CNS. Myenteric plexus dan submucosal plexus, keduanya

berlokasi di dinding saluran pencernaan dan berfungsi sinyal sensoris dari dinding

saluran pencernaan atau CNS

4.4 GI Peptida

GI peptida adalah molekul sinyal yang dilepaskan ke darah oleh sel pada saluran

pencernaan itu sendiri. Molekul sinyal tersebut bertindak pada berbagai jaringan

termasuk otak, organ aksesoris pencernaan, dan saluran pencernaan. Kisaran efek

yang ditimbulkan adalah memicu atau menghambat motilitas atau sekresi yang

menimbulkan perasaan puas atau lapar ketika diproses di otak. Hormon tersebut

dikateorikan dalam tiga kelompok yaitu gastrin dan sekretin, kelompok ketiga adalah

kelompok hormon yang karakteristiknya tidak serupa dengan gastrin dan sekretin.

Informasi lebih rinci tentang GI peptida disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Informasi umum GI peptida

 

Informasi Umum GI Peptida

 
     

Efek

       
 

Sekresi

Target

terhadap

Efek terhadap sekresi eksokrin

Efek motilitas

Efek lain

Rangsangan Pelepasan

sekresi

             
     

endokrin

       
             

Peptides and amino acids in

Sel G di lambung

ECL cells;

Increases acid secrtetion,

lumen; gastrin releasing

Gastrin

-

-

-

 

parietal cells

 

increases mucus growth

   

peptide and Ach in nervous relexes

       
     
 

Endocrine cells of the small intestine; neurons of the brain and gut

           

Gallbladder,

Stimulates gallbladder contraction; Inhibits stomach emptying

Cholecystokinin

Stimulates pancreatic enzyme

Fatty Acids and some Amino acids

pancreas, gastric

 

Satiety

(CCK)

-

and HCO3- secretion

smooth muscle

   
     
   
 

Endocrine Cells of the Small Intestine

           

Stimulates pancreatic and hepatic

Stimulates gallbladder contraction; Inhibits stomach emptyin

Pancreas,

Secretin

 

HCO3- secretion; Inhibits acid secretion; Pancreatic growth

 

Acid in small intestine

stomach

-

-

       
 
   
 

Endocrine K Cells of the small intestine

 

Stimulates

       

Gastric inhibitory

Beta Cells of the pancreas

pancreatic

Satiety and lipid

Glucose, Fatty Acid, and amino acids in small intestine

Inhibits Acid Secretion

-

Peptide

insulin

   

metabolism

   
   

release

   
 

Endocrine

       

Action in Brain?, Stimulates Migratory Motor Complex

 

Smooth muscle of antrum and duodenum

Fasting: Cyclic release every 1.5-2 hours by neural stimulus.

Cells in

Stimulates Migrating motor complex

     

Motilin

Small

-

None

     

intestine

 
   
     

Stimulates

       

Endocrine

Insulin

Glucagon Like

Cells in

Endocrine

release;

Slows gastric

Mixed meals of Fats and Carbohydrates.

Possibly Inhibits Acid Secretion

Satiety

Peptide 1

Small

Pancreas

inhibits

 

Emptying

 
   
 

Intestine

 

glucagon

   
 

release

Rangkuman

1. Sistem pencernaan ternak ruminansia dikontrol dan dipengaruhi oleh system syaraf dan sistem hormonal.

2. Sistem pencernaan terdiri atas sistem motlitas yang kompleks dan pengaturan dari sekresi yang penting agar dapat berfungsi dengan baik. Kondisi tersebut akan dipenuhi melalui sistem long reflexes dari central nervous system (CNS), dan short reflexes dari enteric nervous system (ENS) dan reflexes dari GI peptides yang bekerja secara harmoni satu sama lain.

Latihan

1. Sebutkan faktor-faktor yang mempengaruhi regulasi system pencernaan pada ternak ruminansia !

2. Beri penjelasan tentang regulasi system pencernaan melaui system long reflexes dari central nervous system (CNS), dan short reflexes dari enteric nervous system

(ENS) !

3. Apakah yang dimaksud Gastro Intestine (GI) peptida ?

V.

METABOLISME ZAT-ZAT MAKANAN PADA TERNAK RUMINANSIA

Kompetensi Dasar

1. Mahasiswa memahami tentang konsep metabolisme.

2. Mahasiswa memahami tentang metabolisme zat makanan pada ternak ruminansia.

Tujuan

Setelah mengikuti mata kuliah ini diharapkan mahasiswa mengetahui dan memahami

tentang konsep metabolisme dan metabolisme zat-zat makanan pada ternak unggas.

Pendahuluan

Bahan makanan terdiri dari unit kimiawi yang kompleks seperti protein dan lemak.

Hasil sisa makanan adalah zat-zat sederhana seperti karbondioksida dan air jumlah

dari perubahan yang dialami bahan makanan dalam konversinya sampai kepada hasil

sisa disebut metabolisme. Istilah tersebut digunakan untuk perubahan yang terjadi

pada bahan makanan yang telah diserap dan berkaitan dengan perombakan jaringa-

jaringan tubuh atau sering disebut metabolisme antara.

Metabolisme didefinisikan sebagai berbagai reaksi kimia yang terlibat dalam

pemanfaatan zat makanan dalam tubuh. Jika reaksi kimia tersebut dipelajari lebih

rinci, maka metabolisme dapat digolongkan menjadi dua kelompok, yaitu anabolisme

dan katabolisme. Anabolisme adalah reksi penyusunan molekul kompleks dari

molekul sederhana dari suatu proses pencernaan. Sedangkan katabolisme adalah

reaksi penguraian molekul kompleks guna menghasilkan energi untuk menunjang

fungsi normal dari tubuh.

Reaksi-reaksi tersebut sangat kompleks dan poin-point terpenting yang akan dibahas

pada bab ini. Diskusi akan berkembang pada pembahasan tentang metabolisme tiga

kelompok zat makanan utama, yaitu karbohidrat, lemak, dan protein. Mineral,

vitamin, da zat makanan yang lain tidak didiskusikan pada bab ini.

5.1 Zat makanan Makanan adalah bahan-bahan yang diperlukan tubuh supaya tetap hidup. Agar tetap sehat makanan harus memenuhi syarat-syarat kesehatan, meliputi :

1. Pakan harus hygiensis, artinya tidak mengandung kuman penyakit dan zat racun.

2. Pakan harus bergizi, yaitu cukup mengandung karbohidrat, protein, lemak, mineral, vitamin dan air

3. Pakan harus mudah dicerna oleh alat pencernaan

Fungsi makanan bagi tubuh ternak adalah :

1. untuk menghasilkan energi

2. untuk mengganti sel-sel tubuh yang rusak

3. untuk pertumbuhan

4. sebagai zat pelindung dalam tubuh, antar lain dengan menjaga keseimbangan

cairan tubuh Zat yang diperlukan oleh tubuh :

1. Air Air dalam tubuh diperlukan dalam jumlah yang besar karena berfungsi untuk melarutkan zat makanan, mengangkut zat makanan dari jaringan ke jaringan yang lain, untuk mengangkut zat sampah dari jaringan ke alat ekskresi serta untuk menjaga stabilitas suhu tubuh. Air diperoleh dengan langsung melalui minum dan secara tidak langsung dari buah- buahan atau makanan lain.

2. Protein Merupakan senyawa organik yang tersusun atas C, H, O, N, dan kadangkala S, P. Komponen dasar protein adalah senyawa organik sederhana disebut asam amino, yang meliputi :

- asam amino esensial (utama) : asam amino yang harus ada dan didapatkan dari

luar tubuh ternak karena tubuh tidak mampu mensintesisnya, meliputi 10 macam, yaitu :

- lisin

- isoleusin

- triptofan

- treonin

- histidin

- metionon

- feneilalanin

- valin

- leusin

- arginin

- asam amino nonesensial : asam amino yang dapat disintesis oleh tubuh sendiri

meliputi :

-

-

-

alanin

glisin

treosin

- sistein

- prolin

-

dll

Fungsi protein bagi tubuh ternak, yaitu :

- membangun sel-sel yang rusak

- membentuk zat pengatur seperti enzim dan hormon

- membentuk zat kebal atau antibodi

- bahan membentuk senyawa asam amino lainnya

- sumber energi, 1 gr mengahsilkan 4,1 kalori

- menjaga keseimbagan asam basa dalam darah

3. Lemak Merupakan senyawa organik yang tersusun atas C, H, O. Komponennya adalah

asam lemak dan gliserol. Asam lemak dibedakan menjadi 2 macam, yaitu :

- asam lemak jenuh : berujud padat dan bersama gliserin dapat disintesis sendiri oleh tubuh. - asam lemak tidak jenuh : berujud cair dan tidak dapat disintesis sendiri oleh tubuh, jadi harus didatangkan dari luar. Fungsi :

- penghasil energi atau kalor, 1 gr menghasilkan 9,3 kalori

- pelarut vitamin A, D, E dan K

- pelindung alat-alat tubuh

- pelindung tubuh dari suhu rendah

- membangun bagian sel tertentu

4. Karbohidrat (zat tepung) Merupakan senyawa organik yang tersusun atas C, H, O. Berdasar gugus gula penyusunnya karbohidrat dibedakan :

- karbohidrat sederhana : karbohidrat yang tersusun atas sedikit gugusan gula, yaitu :

1. monosakarida : karbohidarat yang tersusun satu gugusan gula. Contoh :

glukosa, galaktosa, fruktosa.

2. disakarida : karbohidrat yang tersusun atas dua gugusan gula. Contoh :

maltosa (gula emping), laktosa (gula susu), sukrosa (gula tebu). - polisakarida : karbohidrat yang tersusun atar lebih dari 10 gugusan gula. Contoh : amilum (pati), selulosa dan gliokogen (gula otot) Karbohidrat dan lemak merupakan sumber energi utama bagi tubuh kita. Sumber karbohidrat adalah tumbuh-tumbuhan.

5. Vitamin Merupakan senyawa organik sebagai pelengkap makanan yang diperlukan untuk kehidupan, kesehatan dan pertumbuhan dan tidak berfungsi dalam penciptaan energi. Vitamin tidak dapat disintesis oleh tubuh sehingga harus didatangkan dari luar tubuh. Kekurangan vitamin akan mengalami penyakit defisiensi (avitaminosis), sedang kelebihan vitamin menyebabkan penyakit hipervitaminosis. Vitamin dikelompokkan :

a. Vitamin larut dalam air, meliputi vitamin B dan C - Vit. B 1 (thiamin/ aneurin/ anti beri-beri) Fungsi :

1. untuk metabolisme karbohidrat

2. mempengaruhi penyerapan zat lemak dalam usus

3. mempengaruhi keseimbangan air dalam tubuh

Akibat kekurangan :

Gangguan metabolisme karbohidrat pada susunan syaraf pusat dan jantung, menyebabkan transpor cairan tubuh terhambat.

- Vit. B 2 (riboflavin/ laktoflavin) Fungsi :

1. memindahkan rangsangan sinar ke syaraf mata

2. sebagai enzim dalam proses oksidasi di dalam sel-sel

3. memelihara jaringan terutama kulit di sekitar mulut

Sumber :

Ragi, hati, ginjal, jantung dan otak Akibat kekurangan :

Pengelihatan mata menjadi kabur, keilisis (luka di sudut mulut/ bibir yang kemerahan mengelupas), proses pertumbuhan terganggu.

- Vit. B 7 atau asam nikotinat (niasin/ asam nikotin) Fungsi :

1. untuk proses pertumbuhan dan pembelahan

2. untuk proses perombakan karbohidrat

3. mencegah penyakit palagra

Sumber :

Susu, hati, kol, ragi, kedelai, bayam Akibat kekurangan :

Palagra, yaitu penyakit dengan gejala dermatitis, diare dan dimensia (pelupa dan letih)

- Vit. B 6 (piridoksin/ adermin) Fungsi :

1. untuk proses pertumbuhan

2. untuk pembentukan sel-sel darah

3. merangsang kerja syaraf

Sumber :

Daging, hati, ikan , sayuran Akibat kekurangan :

Menimbulkan gejala palagra, anemia, menimbulkan obstipasi (sukar buang air besar)

- Vit. B 3 atau B 5 (asam pantotenat) Sumber :

Hati, daging, ragi dan beras Akibat kekurangan :

Menyebabkan gejala dermatitis.

- Vit. B 4 atau Vit. H (biotin) Kekurangan biotin menimbulkan gejala seperti palagra dan gangguan kulit (dermatitis).

Sumber :

Ragi, kentang, hati, ginjal sayuran, buah-buahan

- Asam paraaminobenzoat (PABA) Fungsi :

Untuk mencegah timbulnya uban rambut dan rontoknya rambut. Sumber :

Ragi, hati

- Kolin Kekurangan kolin mengakibatkan penimbunan lemak disekitar hati dan gangguan kulit/ ginjal. Sumber :

Hati, beras

- Vit. B 11 (asam folin atau asam folium) Fungsi :

Untuk pertumbuhan sel darah merah dan anti pernisiosa Kekeurangan dapat menimbulkan anemia pernisiosa (gejala anemia akut)

- Vit. B 12 (sianokobalamin) Dikenal sebagai vitamin anti pernisiosa yang sangat efektif Sember :

hati

- Vit. C (asam askorbinat/ askorbat) Fungsi :

1. mengaktifkan perombakan protein dan lemak

2. penting dalam oksidasi dan dehidrasi dalam sel

3. penting dalam pembentukan trombosit

4. penting dalam pembentukan serat kolagen yang merupakan komponen jaringan ikat

5. mempengaruhi kerja anak ginjal

Akibat kekurangan :

Menimbulkan pendarahan dalam, yaitu perdarahan dalam sumsum tulang dan kerusakan tulang. Gejala ini ditandai dengan adanya perdarahan gusi.

Kelebihan :

Vitamin ini akan dikeluarkan dari tubuh melelui urine Sumber :

Buah-buahan segar, sayuran, hati dan ginjal

b. Vitamin larut dalam lemak (minyak), meliputi vitamin A, D, E, K

- Vit. A (aseroftol/ retinol) Fungsi :

1. untuk pertumbuhan sel epitel

2. untuk proses oksidasi dalam tubuh

3. mengatur kepekaan rangsangan sinar pada syaraf mata

Akibat kekurangan :

1. rabun senja (hemeralopi)

2. kerusakan epitil kulit

3. kerusakan kornea mata

4. perdarahan selaput lendir usus, ginjal dan paru-paru

Sumber :

Sayuran hijau dan buah berwarna kuning kemerah-an, susu, telur dan minyak ikan

- Vit. D (antirachitis/ kalsiferol) Fungsi :

1. mengatur kadar kapur dan fospor dalam darah dengan kelenjar gondok (parathormon)

2. mempengaruhi proses pembentukan tulang (osifikasi)

3. memperbesar penyerapan kapur dan fospor dari usus

4. mempengaruhi kerja kelenjar hormon

Akibat kekurangan :

1. penyakit rakitis dan gangguan tulang

2. gangguan pada metabolisme zat kapur dan fospor

Sumber :

Minyak ikan, mentega, susu, kuning telur, ragi. Provitamin D yang ada di bawah kulit diubah menjadi vitamin D dengan bantuan bantuan sinar ultraviolet

- Vit. E (tokoferol)

Fungsi :

1. mencegah perdarahan pada wanita hamil dan mencegah keguguran

2. sebagai kofaktor dari sitokrom

3. menambah kesuburan (fertilitas)

Sumber :

Kecambah (taoge), susu, lemak, keuning telur, daging, hati dan ginjal - Vit. K (menadion/ anti hemoragia/ anti perdarahan) Fungsi :

Membentuk protombin, yang berperan dalam pembekuan darah Sumber :

Vitamin K dibuat dalam usus tebal (colon) oleh bacteri pengurai, yaitu Escerchia coli. Vitamin ini hanya dapat diserap bila bersama-sama dengan empedu.

Vitamin ini merupakan kelompok vitamin yang terdiri dari vitamin K 1 (

filokinon), vitamin K 2 (filokinon) dan vitamin K 3 (menadion)

6. Garam mineral Seperti vitamin garam mineral dipelukan tubuh dalam jumlah sedikit dan juga tidak mengalami proses pencernaan, meliputi :

- Zat kapur (Ca) Fungsi :

1. sebagai pembentuk matriks tulang yang pembentukannya dipengaruhi oleh vitamin D.

2. mempengaruhi penerimaan rangasangan pada otot dan syaraf

3. membantu proses penggumpalan darah, yaitu dalam pembentukan trombin dari protombin.

Akibat kekurangan :

1. kejang

2. pertumbuhan tulang tidak sempurna

3. bila terjadi luka, darah sukar membeku

Sumber : Susu, mentega, telur, buah, kacang-kacangan

- Phospor (P)

Fungsi :

1. sebagai bahan pembentuk matriks tulang

2. sebagai bahan membentuk fosfatid, yaitu yang penting dalam plasma darah

3. mempengaruhi proses perombakan dan pembentukan zat

4. membantu proses kontraksi otot

5. membantu proses pembelahan inti sel

Sumber : Ikan, kacang-kacangan dan jagung

- Zat besi (Fe)

Fungsi :

1. sebagai komponen pembentuk Hb

2. sebagai komponen dalam sitokrom, yaitu zat penting dalam pernafasan

3. mencegah anemia

Sumber :

Hewani : hati, ginjal, susu, kuning telur, daging Nabati : bayam, daun singkong, kacang-kacangan, kangkung

- Flour (F) Fungsi :

Menguatkan gigi

Sumber : Susu, otak, kuning telur

- Natrium (Na) dan Klor Fungsi :

Kedua zat ini diperlukan dalam pembentukan asam klorida dalam lambung. Setiap hari kitra memerlukan natrium dan klor sekitar 15 20 gr.

- Kalium (K) Fungsi :

1. untuk kontraksi otot

2. berperan dalam transmisi impuls syaraf

- Yodium (I) Fungsi :

Pembentukan hormon tiroksin pada kelenjar gondok (tiroid) Kekurangan :

Menimbulkan pembengkakan pada kelenjar gondok

Enzim pencernaan Enzim adalah bikatalisator, artinya senyawa organik yang dapat mempercepat reaksi kimia tetapi zat itu sendiri tidak ikut bereaksi. Proses reaksi kimia di dalam tubuh sangat dipengaruhi oleh zat tersebut. Hal ini terbukti bahwa banyak reaksi kimia yang dapat berlangsung di dalam tubuh, tetapi bila direaksikan di luar tubuh tidak dapat bereaksi. Enzim adalah zat yang tersusun atas protein. Sifat enzim :

- kerjanya dipengaruhi oleh suhu dan pH - sebagai biokatalisator - hanya dapat bekerja pada suatu zat tertentu - bekerja secara khas dan diberi nama menurut senyawa atau zat yang mempengaruhinya - hanya sedikit diperlukan - enzim merupakan suatu koloid

5.2 Kebutuhan Energi untuk Aktivitas Tubuh Energi yang digunakan aktivitas tubuh berasal dari pembakaran (oksidasi) zat-zat makanan. Untuk mengukur jumlah energi yang dikeluarkan oleh tubuh digunakan alat kalorimeter. Selain itu pengukuran dapat dilakukan dengan mengukur perbandingan banyaknya CO 2 yang dihasilkan dan O 2 yang diperlukan pada proses pembuatan energi. Jumlah kalori yang diperlukan oleh otot untuk melakukan berbagai aktivitas sebanding dengan aktivitas otot tersebut. Metabolisme basal adalah energi yang dibutuhkan oleh tubuh dalam keadaan istirahat total dalam suhu lingkungan yang normal. Energi tersebut diperlukan untuk memelihara proses hidup seperti aktivitas jantung, pernafasan, mempertahankan suhu tubuh. Metabolisme basal dipengaruhi oleh luas permukaan tubuh, umur dan jenis kelamin.

Gambar 9. Respirasi seluler Energi diperoleh melalui proses respirasi di tingkat seluler. Glukosa dan oksigen

Gambar 9. Respirasi seluler

Energi diperoleh melalui proses respirasi di tingkat seluler. Glukosa dan oksigen akan diuraikan menjadi CO 2 , H 2 O dan energi yang digunakan untuk membentuk 36 dan 38 molekul ATP. Dua molekul ATP terbentuk selama proses glikolisis, dua molekul ATP terbentuk melalui proses fosforilasi yang terjadi selama siklus Kreb’s. Transfer elektron akan menghasilkan 32 atau 34 molekul ATP dari satu molekul glukosa. Oksigen diperlukan pada berbagai tahapan tersebut. Alur siklus Krebs ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

Gambar 10. Alur siklus Krebs Semua reaksi kimia di dalam tubuh baik katabolisme maupun anabolisme

Gambar 10. Alur siklus Krebs

Semua reaksi kimia di dalam tubuh baik katabolisme maupun anabolisme menghasilkan energi maupun membutuhkan energi dalam bentuk ATP. Semua molekul yang berperan dalam proses metabolisme akan mengalami penguraian, daur ulang ataupun diekskresikan dari tubuh. Reaksi katabolisme akan menguraikan molekul kompleks sehingga reaksinya menghasilkan energi (eksoterm), contohnya adalah glikolisis, siklus Kreb’s, dan transport elektron. Sedangkan proses anabolisme adalah proses sintesis molekul kompleks dari molekul yang lebih sederhana, reaksinya membutuhkan energi (endoderm). Pertukaran energi membutuhkan molekul ATP (adenosine triphosphate).

Gambar 11 . Peran ATP sebagai energi untuk proses metabolisme Energi ditemukan ditemukan diantara ikatan

Gambar 11 . Peran ATP sebagai energi untuk proses metabolisme

Energi ditemukan ditemukan diantara ikatan atom-atom. Proses oksidasi akan menurunkan kandungan energi pada molekul sedangkan proses reduksi akan meningkatkan energi yang terkandung dalam molekul. Reaksi oksidasi-reduksi selalu berjalan seiring dalam tubuh mahkluk hidup. Ketika sebuah substat mengalami oksidasi maka substrat yang lain akan mengalami proses reduksi.

Oksidasi biologis melibatkan kehilangan (electron) atom hydrogen. Reaksi dehidrasi membutuhkan koenzim untuk mentransfer atom hidogen pada molekul lainnya. Koenzim yang umumnya ditemukan dalam sel dan berfungsi untuk membawa ion H + adalah :

1. NAD (nicotinamide adenine dinucleotide)

2. NADP (nicotinamide adenine dinucleotide phosphate)

3. FAD (flavin adenine dinucleotide)

Reduksi biologis adalah penambahan electron (atom hydrogen) pada sebuah molekul. Reaksi ini akan meningkatkan energi potensial dari molekul.

Mekanisme produksi ATP melibatkan proses fosforilasi yang terjadi pada level subtrat (di sitosol). Proses fosforilasi adalah pelekatan gugus fosfat yang mengandung energi tinggi. Fosforilasi oksidatif aktif terjadi di mitokondria sedangkan fotofosforilasi

terjadi di klorofil sel tanaman yang melibatkan peran serta cahaya. Proses fosforilasi yang terjadi pada sel hewan ditunjukkan pada gambar di bawah ini.

terjadi pada sel hewan ditunjukkan pada gambar di bawah ini. Gambar 12. Proses fosforilasi yang terjadi

Gambar 12. Proses fosforilasi yang terjadi pada sel hewan

5.3 Metabolisme Karbohidrat Pencernaan karbohidrat dimulai di mulut, dimana bahan makanan bercampur dengan ptialin, yaitu enzim yang dihasilkan oleh kelenjar saliva (saliva hewan ruminansia sama sekali tidak mengandung ptyalin). Ptialin mencerna pati menjadi maltosa dan dekstrin. Pencernaan tersebut sebagian besar terjadi di mulut dan lambung. Mucin dalam saliva tidak mencerna pati, tetapi melumasi bahan makanan sehingga dengan demikian bahan makanan mudah untuk ditelan.

Mikroorganisme dalam rumen merombak selulosa untuk membentuk asam-asam lemak terbang. Mikroorganisme tersebut mencerna pula pati, gula, lemak, protein dan nitrogen bukan protein untuk membentuk protein mikrobial dan vitamin B. Tidak ada enzim dari sekresi lambung ruminansia tersangkut dalam sintesis mikrobial.

Amylase dari pankreas dikeluarkan ke dalam bagian pertama usus halus (duodenum) yan kemudian terus mencerna pati dan dekstrin menjadi dekstrin sederhana dan maltosa. Enzim-enzim lain dalam usus halus yang berasal dari getah usus mencerna pula karbohidrat. Enzim-enzim tersebut adalah :

1.

sukrase (invertase) yang merombak sukrosa menjadi glukosa dan fruktosa.

2. maltase yang merombak maltosa menjadi glukosa

3. laktase yang merombak laktosa menjadi glukosa dan galaktosa.

Mikroorganisme dalam caecum dan colon mencerna pula selulosa menjadi asam-asam lemak terbang. Enzim yang dikeluarkan oleh tractus digestivus hewan tidak turut campur dalam pencernaan selulosa tersebut di atas yang dilakukan oleh mikroorganisme caecum dan colon.

Pakan ternak ruminansia terdiri atas hijauan dan konsentrat. Konsentrat terdiri atas hijuan yang banyak mengandung pati. Pakan utama hijauan yang sebagian besar komponen utamanya adalah serat kasar. Karbohidratnya banyak mengandung selulosa, hemiselulosa, lignin (bukan KH) tetapi selalu menempel pada karbohidrat. Pada ternak unggas, makanan setelah diintake masuk lambung. Karbohidrat yang terkandung pada makanan dalam bentuk polisakarida akan diubah menjadi monosakarida (glukosa) secara enzimatis. Di usus halus akan diserab (melalui villi) dan diedarkan ke seluruh bagian tubuh melalui peredaran darah dan digunakan sebagai sumber energi (di darah banyak mengandung glukosa) Kelebihan glukosa akan disimpan dalam bentuk glikogen di hati (melalui proses glikogenesis). Jika jumlahnya masih berlebih akan disimpan dalam bentuk asam lemak (lemak hypoglisemia) dan dimanfaatkan jika sewaktu-waktu kekurangan energi (pertama-tama yang digunakan adalah glikogen agar tidak terjadi glukogisemia yaitu kekurangan glukosa darah. Jika glikogen habis maka yang diambil adalah jaringan lemak (asam lemak diubah menjadi glukosa melalui proses glukoneogenesis) dalam rangka menjaga sumber glukosa darah.

Gambar 13 . Diagram proses glukoneogenesis. Jika lemak di hati habis, maka yang dirombak adalah

Gambar 13 . Diagram proses glukoneogenesis.

Jika lemak di hati habis, maka yang dirombak adalah protein jaringan, diubah menjadi asam amino dan dimanfaatkan menjadi energi. Tidak ada materi alternatif lain setelah protein jaringan. Energi dibutuhkan setiap saat, maka injeksi glukosa dapat dikerjakan jika diketahui kadar glukosa darah menurun ( di bawah normal) atau kondisi kelaparan. Kandungan lemak seharusnya lebih sedikit jika dibandingkan karbohidrat. Rumput memiliki kadar lemak 2%, dan karbohidrat mencapai 75%. Pada ternak ruminansia, setelah karbohidrat diintake saat masuk ke rumen akan difermentasi oleh mikroba rumen menjadi VFA dan dijadikan sebagai sumber energi. Dalam kondisi anaerob ATP yang dihasilkan dari VFA digunakan untuk pertumbuhan mikroba. Populasi bakteri 10 11 /ml cairan rumen sedangkan populasi protozoa adalah

10 6 /ml cairan rumen. Populasi tersebut harus tetap dijaga untuk mencerna serat kasar

(dalam proses fermentasi). Sebagian besar untuk ternak itu sendiri. Proporsi VFA (asetat, propionat,butirat) bisa berubah tergantung jenis makanannya.

Pakan yang paling banyak mengandung serat (hijauan) paling banyak menghasilkan asetat , sedangkan pakan yang banyak mengandung pati (konsentrat) paling banyak menghasilkan propionat. Ratio acetat dan propionat merupakan indeks untuk menentukan kualitas pakan. Jika ratio acetat dibandingkan propionat nilaianya besar maka pakan tersebut banyak mengandung SK berhubungan dengan produksi ternak.

Sapi perah menghasilkan air susu (dilihat dari kadar lemaknya). Jika banyak diberikan asetat maka kadar lemaknya akan meningkat 73% karena asetat merupakan prekusor untuk pembentukan lemak susu. Jika ingin kandungan lemak air susu tinggi, maka konsumsi hijauan harus tinggi pula. Propionat merupakan prekusor untuk pembentukan protein jaringan. Untuk konsentrat yang diberikan adalah : pollard (sisa penggilingan gandum) dan bekatul. Untuk sapi juga diberikan bungkil kelapa sawit (limbah pabrik minyak), bungkil biji kapuk, premix sebagai sumber mineral. Selain itu dapat ditambahkan ampas tahu, ampas tempe, ampas bir. Pada sapi potong kereman, jika mengharapkan lemak karkas yang tinggi, maka perlu diberikan hijauan. Proporsi pakan yang baik untuk ternak RMT menghasilkan produksi yang optimal adalah hijauan : konsentrat = 60 : 40 (dalam BK). Karbohidrat utama dalam ternak ruminansia yaitu selulosa , hemiselulosa, pati dan pektin. Karbohidrat tersebut akan diubah menjadi asam lemak terbang (VFA) yaitu asam asetat, asam propionate, dan asam butirat. Proporsi karbohidrat dan protein yang masuk ke tubuh ternak ruminansia harus seimbang untuk kelangsungan hidup mikroba rumen. Karbohidrat yang ditemukan dalam darah adalah glukosa. Konsentrasi glukosa tertentu dibutuhkan dalam aliran darah untuk aktivitas normal. Kelebihan glukosa akan dsimpan. Jika terjadi kekurangan energi, simpanan glukosa akan dimanfaatkan untuk mensuplai kebutuhan tersebut. Pada saat karbohidrat dicerna maka akan diuraikan menjadi glukosa. Glukosa dismpan dalam bentuk glikogen pada hati selain itu dalam kuantitas besar ditemukan pada otot. Kelebihan glukosa juga dapat diubah menjadi lemak simpanan. Ketika energi dibutuhkan, glukosa akan dioksidasi untuk menghasilkan energi, dengan produk sampingan adalah CO 2 dan air. Sejumlah kecil karbohidrat juga ditemukan di protoplasma. Setelah mengkonsumsi makanan, karbohidrat kompleks akan diuraikan menjadi glukosa yang diserab dari saluran pencernaan menuju pembuluh darah kapiler pada vili yang terdapat pada usus halus yaitu usus halus kemudian menuju pada vena portal yang menuju hati. Simpanan glukosa di dalam hati disebut glikogen. Glukosa yang tersisa akan memasuki sistem sirkulasi sistemik (sistem peredaran darah tubuh) dan

akan ditranspotasikan ke jaringan. Keberadaannya dalam darah akan mengakibatkan peningkatan level gula di dalam darah. Glukosa dipindahkan dari darah menuju sel jaringan untuk dioksidasi sehingga menhasilkan energi atau disimpan sebagai glikogen di dalam otot atau sebagai lemak pada jaringan lainnya untuk digunakan saat dibutuhkan. Karena suplai yang kontinyu dari gula dibutuhkan oleh jaringan, maka glukosa secara kontinyu juga akan dipindahkan dari darah. Jika kadar glukosa dalam darah tidak dipertahankan pada level yang sesuai, maka kadar gula di dalam darah akan menuruh hingga mencapai level yang kritis. Untuk mengantisipasi masalah tersebut, tubuh secara kontinyu akan memenuhi kebutuhan glukosa tersebut dengan menggunakan simpanan glukosa dalam bentuk glikogen di dalam hati. Melalui mekanisme tersebut, level glukosa di dalam darah akan dipertahannkan. Simpanan glukosa di hati akan dipergunakan kekurangan glukosa dengan jalan mengubah molekul non karbohidrat khususnya protein dan lemak menjadi glikogen. Selama aktivitas yang berat, glikogen dalam otot dimanfaatkan untuk menghasilkan energi, dan dengan ketidak hadiran jumlah oksigen yang memadai, maka asam laktat akan diproduksi. Jika terlalu banyak asam laktat yang terbentuk melalui proses ini, maka asam laktat tersebut akan memasuki aliran darah kemudian ditransportasian ke hati selanjutnya akan dikonversikan kembali menjadi glikogen.

Gambar 14. Jalur metabolisme karbohidrat 5.4 Metabolisme Lemak Metabolisme lemak tidak terlalu memegang peranan penting

Gambar 14. Jalur metabolisme karbohidrat

5.4 Metabolisme Lemak Metabolisme lemak tidak terlalu memegang peranan penting dalam ternak ruminansia karena pemberian lemak terlalu tinggi akan menurunkan kecernaan serat kasar. Pada dasarnya lipida dibagi menjadi dua yaitu lemak dan minyak. Lemak banyak disebut sebagai trigliserida. Lipida bekerja dengan enzim lipase diuraikan menjadi asam lemak dan gliserol.

Lemak yang essensial adalah asam lemak linoleat, linolenat, arachidonat Setelah

proses pencernaan, asam lemak dan gliserol akan diserab melalui sistem limpatika dari usus. Selanjutkan akan memasuki pembuluh vena cava dekat jantung menuju aliran darah. Lemak dimungkinkan untuk disipan dalam jumlah besar pada jaringan penunjang (connective tissue) di bawah kulit dan bantalan berbagai organ. Secara tidak langsung lemak dapat diubah menjadi glikogen dan bahkan menjadi protein di hati. Lemak juga dapat disimpan di hati.

Sumber lemak hewani memiliki kadar trigliserida dan kolesterol yang lebih banyak (merupakan asam lemak jenuh) Sumber lemak nabati banyak mengandung asam lemak tak jenuh. Kandungan lemak hijauan adalah 3-10% dari BK, meskipun dosis sedikit tetapi jika dikonsumsi dalam jumlah banyak akan memberikan kontribusi yang cukup berarti terhadap sumbangan energi. Lemak dalam rumen oleh mikroorganisme akan difermentasi menjadi asam lemak dan glserol yang dapat dimanfaatkan oleh mikroorganisme yaitu gliserol. Jika lemak dikonsumsi banyak akan menguangi kecernaan hijauan itu sendiri. Daun dari hijauan didominasi oleh asam lemak tak jenuh, yaitu linoleat, linolenat, dan sedikitoleat di kloroplas daun. Konsentrat pada ruminansia bukan merupakan pakan utama tapi merupakan suplemen. Ternak ruminansia yang dipelihara intensif (kereman,perah) membutuhkan tambahan ekstra gizi dengan jalan pemberian konsentrat Campuran konsentrat adalah biji-bijian sumber energi, biji-bijian sumber protein, dan mineral. Biji-bijian banyak mengandung lemak contohnya adalah bungkil kedelai, bungkil kelapa, dan bungkil kapuk. Dengan menambah konsentrat maka konsumsi protein juga meningkat. Tujuan penambahan minyak kelapa pada ransum untuk menambah energi. Jika masih kurang dapat ditambahkan jagung (harus ada) untuk dapat mencapai kandungan energi sebesar 3000 kkal. Asam lemak dari biji-bijian (kacang tanah, kedelai, jagung) kaya dengan asam lemak tak jenuh khususnya linoleat. Kandungan lemak dalam rumen cukup beragam karena kadar lemak di rumen tergantung pada keberadaan mikroba rumen dan ransum yang dintake

Keberadaan lemak :

Proses yang penting dalam rumen yaitu proses lipolisis ; lemak dihidrolisa oleh enzim lipase yang berasal dari mikroba (statement 1) atau dari pakan itu sendiri (statement

2).

Asam lemak jenuh memiliki kandungan atom H yang lengkap. Asam lemak tak jenuh kandungan atom H berkurang 1 atau 2 atom Proses untuk menambah lagi atom H pada rantai asam lemak tak jenuh diubah menjadi jenuh (menjadikan produk ternak daging, susu) mengandung asam lemak jenuh. Hal tersebut kurang baik karena banyak mengandung kolesterol. Hasil dari proses biohidrogenasi ialah asam linoleat dan asam stearat yang diserab di dinding rumen, yang melakukan proses tersebut bisa bakteri, protozoa, dan hahan itu sendiri. Kelebihan VFA diubah dalam bentuk jaringan lemak ( di bawah jaringan kulit) Proses fermentasi pada protein yang terjadi dalam rumen juga sebagian kecil menghasilkan VFA selain NH3 (meskipun proporsinya lebih sedikit) Karbohidrat, lemak, dan protein juga menghasilkan asam lemak. Kandungan lemak mikroorganisme rumen sebesar 15%. Trigliserida kandungannya sedikit pada hijauan, komponen lain seperti glikolipida dan phospholipida merupakan bakalan dalam pembentukan lipoprotein. Proprorsi lemak yang terdapat dalam mikroorganisme adalah 30%, asam lemak bebas 70% tergantung siklus pertumbuhan mikroorganisme, pembebasan lemak tubuh dalam rumen, pakan yang diintake. Mikroorganisme dalam rumen bisa menghidrolisis lemak (gliserol) dengan enzim dari ternak. Asam lemak tersebut sebagai sumber energi. Phospholipida merupakan gabungan protein dengan lemak penting untuk pertumbuhan. Asam lemak tidak bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi oleh mikroba karena keadaan anaerob. Substansi yang dapat dimanfaatkan adalah gliserol. Oleh karena itu jika ternak banyak mengkonsumsi pakan yang mengandung asam lemak, dapat menghambat kecernaan serat kasar. Jika konsumsi hijauan turun maka produk asam asetat akan turun. Hal tersebut mengakibatkan produksi susu juga turun.

Lemak kacang tanah jika dibandingkan lemak kedelai lebih sulit dirombak oleh mikroorganisme. Sehingga banyak yang by-pass (langsung masuk

abomasum)menghasilkan lemak tak jenuh pada produknya (air susu, daging) Lemak unprotected/protected jika by-pass maka strukturnya akan sama dengan produk awalnya. Dari lemak yang tidak mudah dirombak oleh mikroba disukai oleh konsumen di negara maju karena dihasilkan daging kambing (lamb) yang mengandung asam lemak tak jenuh (karena banyak yang by-pass) sehingga prodknya menjadi sehat. Sebagian besar sumber energi dari asam lemak diserab sebelum usus halus, yang paling banyak diserab sebelum usus halus adalah asam butirat, asam propionat, dan asam asetat.

halus adalah asam butirat, asam propionat, dan asam asetat. Gambar 15. Katabolisme lipida: Liposisis dan gliserol

Gambar 15. Katabolisme lipida: Liposisis dan gliserol

5.5 Lemak sebagai sumber energi dan struktur penyusun sel Lemak akan dioksidasi untk menghasilkan energi, dengan produk sampingannya adalah CO 2 dan air. Lemak akan dimanfaatkan dengan tujuan ketka sebagian besar simpanan glikogen telah dimanfaatkan. Dengan kata lain, lemak akan dimanfaatkan untuk menghasilkan energi ketika sumber lannya gagal untuk dimanfaatkan sedangkan glikogen glikogen siap untuk dipergunakan sewaktu-waktu. Molekul lemak menyusun

struktur dari membran yang ditemukan di bagian luar protoplasma dan stoplasma dari

sel.

membran semi permiabel sel. Struktur membran sel ditunjukkan pada Gambar bawah ini.

Sel membram membantu elastisitas membran atau menampilkan kealamian dari

16. di

ini. Sel membram membantu elastisitas membran atau menampilkan kealamian dari 16. di Gambar 16 . Struktur

Gambar 16 . Struktur membran sel

Lipolysis
Lipolysis

Gambar 17. Metabolisme lemak dan asam lemak di rumen

5.6 Metabolisme Protein (Asam Amino) Asam amino tersusun utamanya dari unsur karbon, hidrogen, oksige, dan nitrogen. Sejumlah kecil mengandung elemen lain seperti sulfur. Ketika asam amino diubah menjadi glukosa atau lemak, unsur nitrogen dipindahkan pertama kali di hati dan diubah menjadi urea. Urea ditransportasikan dalam cairan ke ginjal untuk kemudian diekskresikan dalam bentuk urin. Setelah makan, terdapat peningkatan jumlah urea dalam darah mengindikasikan kelebihan asam amino yang telah mengalami proses konversi pada hati. Ginjal dan otot juga dapat memindahkan unsur nitrogen dalam bentuk amonia (NH 3 ) namun tidak dalam bentuk urea CO(NH 2 ) 2 .

Senyawa yang tersusun atas karbon, oksigen, dan hidrogen dapat dioksidasi untuk menghasilkan energi, CO 2 , dan air. Senyawa tersebut dapat dikonversi menjadi glukosa atau lemak untuk nantinya dioksidasi atau disimpan yang nantinya digunakan saat dibutuhkan. Protein menyusun struktur penting pada protoplasma dan asam amino dari darah dapat digabungkan melalui sejumlah reaksi untuk membentuk protein

sel dan protein plasma yang beragam. Protein (asam amino) banyak ditemukan di berbagai daerah pada tubuh dibandingkan pada otot dan menjadi unit dasar berbagai komponen meliputi enzim yang terlibat dalam pencernaan dan antibodi yang digunakan untuk memerangi infeksi.

Dalam tubuh ternak, protein akan diuraikan menjadi asam amino, kemudian ditransportasikan ke hati. Asam amino dimanfaatkan melalui proses oksidasi guna menghasilkan energi atau digunakan untuk sintesis protein yang baru (enzim, hemoglobin, antibody, hormone, fibrinogen, aktin, myosin, kolagen, elastin, dan keratin. Kelebihan protein akan diubah menjadi glukosa atau trigliserida. Absorbsi protein dalam tubuh distimulasi oleh insulinlike growth factors (IGFs) dan insulin.

5.7 Siklus asam amino dalam sel Beberapa protein dari sel jaringan dan plasma protein secara konstan diuraikan menjadi asam amino dan ditransfer menuju aliran darah. Asam amino bersama dengan zat makanan lain yang berasal dari makanan dimanfaatkan untuk mensintesis protein yang baru guna menggantikan struktur protein yang sudah usang, atau zat makanan tersebut dapat dioksidasi untuk membentuk glukosa atau lemak. Dengan kata lain, terdapat siklus pergantian protein yang teratur pada tubuh mahkluk hidup, namun terdapat sejumlah protein yang relatif konstan pada individu yang telah dewasa. Selama fase pertumbuhan terdapat peningkatan protein tubuh sebagai akbat dari meningkatnya jumlah sel pada tubuh yang sedang mengalami pertumbuhan tersebut.

Sel hati akan mengubah asam amino menjadi substansi yang dapat memasuki siklus Krebs, proses tersebut melibatkan reaksi :

1. Deaminasi, yaitu memindahkan gugus amino (NH 2 )

2. Konversi NH 2 menjadi ammonia selanjutnya akan diubah menjadi urea.

Urea akan diekskresikan bersama urin. Substansi yang telah mengalami konversi tersebut akan memasuki siklus Krebs untuk memproduksi ATP. Diagram metabolisme asam amino ditunjukkan pada Gambar 18. di bawah ini.

Gambar 18. Metabolisme asam amino 5.8 Kontrol Metabolisme Karbohidrat dan Level Gula Darah Hormon memgang

Gambar 18. Metabolisme asam amino

5.8 Kontrol Metabolisme Karbohidrat dan Level Gula Darah Hormon memgang peranan penting dalam mengontrol proses metabolisme, beberapa jenis hormon yang terlibat antara lain ;

1. Natural growth hormon : Hormon ini diproduksi oleh kelenjar pituitari anterior, reaksinya adalah merangsang peningkatan konsentrasi gula darah, menurunkan intake glukosa untuk sel jaringan amun meningkatkan jumlah glikogen yang terdeposit di dalam otot.

2. Insulin : Hormon ini diproduksi oleh Islets of Langerhan yang terdapat pada

pankreas berfungsi menurunkan level gula darah dengan cara mempercepat laju penyimpanannya sehingga berakibat terhadat penurunan konsentrasi glukosa dalam darah.

3. Glukagen : Hormon ini diproduksi oleh Islets of Langerhan dan memiliki efek yang berlawanan dengan insulin yaitu meningkatkan kadar gula dalam darah.

4. Cortison dan Hidrocortison : Hormon ini diproduksi oleh corteks adrenal, memberikan efek peningkatan level glukosa dalam darah dan glikogen dalam hati.

5. Adrenalin dan Noradrenaline : Hormon ini diproduksi oleh medulla adrenal selama kondisi darurat, merangsang pemecahan glikogen dalam hati dan mengakibatkan meningkatnya level gula di dalam darah untuk mensuplai energi saat dibutuhkan dengan cepat.

6. Tyroid Hormon : Hormon ini diproduksi oleh kelenjar tiroid, memiliki fungsi yang sangat luas pada berbagai proses metabolisme.

oleh kelenjar tiroid, memiliki fungsi yang sangat luas pada berbagai proses metabolisme. Gambar 19. Hipotalamus 55

Gambar 19. Hipotalamus

Gambar 20 . Struktur anatomi pankreas Level glukosa yang normal dalam sirkulasi darah merupakan hasil

Gambar 20 . Struktur anatomi pankreas

Level glukosa yang normal dalam sirkulasi darah merupakan hasil dari keseimbangan antara konsentrasi hormon-hormon tersebut di atas. Jika keseimbangan tersebut bergeser, maka akan terjadi perbahan level glukosa di dalam darah. Kemungkinan penyebab terbesar dari ketidak seimbangan tersebut adalah kerusakan pada Islets of Langerhan yang memicu penurunan jumlah insulin dan glucogen yang diproduksi. Akibatnya adalah terjadi peningkatan level gula dalam darah, dan simpanan glikogen akan terbuang. Konsentrasi gula akan banyak didapatkan pada urin.

Tabel 2. Availability dan laju kecernaan fraksi karbohidrat yang berbeda

Rumen Small intestine Hind gut Digestion rate Cell solubles Sugars High (High) 1,2 (High) 1
Rumen
Small intestine
Hind gut
Digestion rate
Cell solubles
Sugars
High
(High) 1,2
(High) 1
Very fast
Starch
High (variable)
Variable
Variable
Fast
Soluble fibre
High
0
(High) 1)
Fast?
Pectins, -glucans
Insoluble fibre
NDF
Variable
0
Variable
Slow
1
Only very little will reach post-duodenal digestive tract
2
Some exceptions like sucrose

5.9 Laju Metabolik Metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein berhubungan erat dengan kerja hormon. Hormon sangat mempengaruhi proses penyimpanan, pemecahan zat makanan. Selain itu hormon juga berpengaruh terhadap konversi molekul zat makanan tersebut.

Terdapat sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap laju metabolisme, yaitu laju produksi energi dalam tubuh. Laju produksi energi tersebut tergantung pada jenis kelamin, umur, dan level aktivitas ;

a) Jenis kelamin : Individu betina memiliki laju metabolik yang lebih rendah jika dibandingkan pada individu betina.

b) Umur : Individu yang lebih muda memiliki laju metabolik per unit bobot badan yang lebih tinggi jika dibandingkan pada ternak dewasa.

c) Aktivitas : Level aktivitas yang lebih besar, maka kebutuhan energi akan lebih besar, oleh karena itu laju metabolik akan ikut meningkat guna memenuhi kebutuhan energi tersebut.

Rangkuman

1. Metabolisme didefinisikan sebagai berbagai reaksi kimia yang terlibat dalam pemanfaatan zat makanan dalam tubuh. Hormon memegang peranan penting dalam proses metabolisme.

2. Zat-zat makanan adalah bahan-bahan yang diperlukan oleh tubuh supaya tetap hidup, meliputi air, protei, lemak, karbohidrat, vitamin, dan mineral.

3. Energi yang digunakan aktivitas tubuh berasal dari pembakaran (oksidasi) zat-zat makanan.

4. Mikroorganisme dalam rumen merombak selulosa untuk membentuk asam-asam lemak terbang. Mikroorganisme tersebut mencerna pula pati, gula, lemak, protein dan nitrogen bukan protein untuk membentuk protein mikrobial dan vitamin B.

5. Pada saluran pencernaan, polisakarida akan diuraikan menjadi gula sederhana (glukosa, fruktosa, dan galaktosa) yang siap diserab oleh tubuh. Pada hati, fruktosa dan galaktosa akan ditransformasikan menjadi glukosa, dan akan disimpan dalam bentuk glikogen. Dalam sel tubuh, glukosa dapat dijadikan sebagai sumber energi, dikonversikan menjadi molekul lain, atau dijadikan simpanan energi dalam bentuk

lemak.

6. Pada ternak ruminansia, lemak mengalami proses biohidrogenasi sehingga menjadi asam lemak jenuh. Lemak dioksidasi untuk memproduksi ATP. Kelebihan lemak akan disimpan di jaringan adipose dan hati. Lemak berperan penting untuk struktual atau molekul penting lainnya meliputi : (i) fosfolipida membrane plasma ; (ii) lipoprotein yang mentransportasikan kolesterol ; (iii) tromboplastin untuk pembekuan darah ; (iv) myelin sheaths untuk mempercepat penyampaian informasi syaraf ; dan (v) kolesterol yang digunakan untuk sintesis garam empedu dan hormone steroid.

7. Dalam tubuh ternak, protein akan diuraikan menjadi asam amino, kemudian ditransportasikan ke hati. Asam amino dimanfaatkan melalui proses oksidasi guna menghasilkan energi atau digunakan untuk sintesis protein yang baru (enzim, hemoglobin, antibody, hormone, fibrinogen, aktin, myosin, kolagen, elastin, dan keratin. Kelebihan protein akan diubah menjadi glukosa atau trigliserida. Absorbsi protein dalam tubuh distimulasi oleh insulinlike growth factors (IGFs) dan insulin.

8. Laju metabolik dipengaruhi oleh jenis kelamin, umur, dan level aktivitas lemak.

Latihan Soal

1. Apakah yang dimaksud metabolisme dan beri penjelasan perbedaan anabolisme dan katabolisme !

2. Hormon apa yang berperan dalam pengaturan proses metabolisme? Beri penjelasan!

3. Uraikan tentang proses metabolisme karbohidrat pada ternak ruminansia !

4. Beri penjelasan tentang proses biohidrogenasi asam lemak yang terjadi pada ternak ruminansia !

5. Uraikan tentang proses metabolisme protein pada ternak ruminansia !

6. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi laju metabolik zat makanan ? Beri penjelasan !

VI.

NILAI NUTRISI PAKAN

Kompetensi Dasar

1. Mahasiswa memahami tentang konsep nilai nutrisi pakan.

2. Mahasiswa memahami teknik evaluasi nutrisi pakan.

Tujuan

1. Mahasiswa memahami tentang konsep nilai nutrisi pakan.

2. Mahasiswa memahami tekni evaluasi nutrisi pakan.

Pendahuluan Pakan ternak ruminansia mengandung bahan yang kaya serat kasar. Selain limbah pertanian, ternak ruminansia juga dapat memanfaatkan limbah industri. Beberapa bahan pakan alam memilki potensi untuk dijadikan sebagai pakan ternak. Bahan pakan yang dikategorikan nonkonvensional perlu mendapatkan perhatian khusus sebelum diaplikasikan pemanfaatannya sebagai pakan ternak. Serat kasar yang tinggi dan zat antinutrisi adalah faktor pembatas dalam sistem pencernaan sehingga tidak akan memberikan respon yang baik terhadap produktivitas ternak. Untuk mengestimasi nilai nutrisi bahan pakan diperlukan metode analisa laboratorium maupun menggunakan ternak secara langsung.

Pada bab ini akan disajikan pembahasan tentang konsep nilai nutrisi pakan dan metode yang digunakan untuk menganalisa nilai nutrisi pakan ternak.

6.1

Definisi Definisi nilai nutrisi pakan adalah respon produksi ternak (PBB, produksi susu) terhadap pakan yang dikonsumsinya. Merupakan fungsi dari intake (I) dan kualitas (NV)

Feeding value = f(intake NV) Nutritive value atau kualitas pakan adalah fungsi dari komposisi fisik dan kimia pakan, kecernaan, laju, dan tempat terjadinya pencernaan dan efisiensi pemafaatan zat-zat nutrisi yang diserap.

Intermediate metabolis adalah senyawa kimia yang dihasilkan oleh proses fermentasi di dalam rumen (VFA, NH 3 , CO 2 ).

6.2

Metode Pengukuran Nilai Nutrisi Pakan

6.2.1

In Vivo Secara langsung Yaitu dengan mengukur jumlah yang disajikan dengan jumlah yang tersisa Dapat dilakukan dengan percobaan intensif secara in vivo dalam kandang individu atau pengukuran pre-grazing dan post grazing herbage mass. Contoh perhitungannya :

Pre grazing herbage mass = 4000 kg BK/ha Post grazing herbage mass = 1500 kg BK/ha Ternak dilepas selama 8 hari dengan jumlah 25 ekor

Konsumsi BK

4000 1500

=

25

8

= 12,5 kg BK/hari/ekor Pengukuran hijauan dengan cara pelemparan kotak besi berukuran 1 1 m, dilempar sebanyak 50 kali. Maka akan diperoleh produksi rata-rata, misalnya 75 g hijauan

segar/m2.

Produksinya adalah 750.000 g segar/ha BK = 150 kg BK/ha

Konsumsi BK =3% BB

=3% 200 kg =6 kg/ekor Secara tidak langsung Yaitu dengan menggunakan marker, syaratnya marker merupakan substansi yang tidak dapat dicerna. Contoh menggunakan marker chromium (Cr 2 O 3 )

Daya cerna

Konsumsi =

feses

1DC

=

konsumsikonsumsi feses atau

Feses yang dikeluarkan =

LajuterlepasnyaCr O

2

3(

mg hari

/

)

KonsentrasiCr O dalamfeses

2

3

4

Misalnya = 0,02

= 200 mg OM (Organic Matter)

Dapat diukur secara in vitro 78,5%

200

Konsumsi BO = 1

0,785

=930 gram BO

Jika BO HMT = 80%, maka konsumsi BK = 1.163 g

Jika BK HMT = 90%, maka konsumsi segar = 1.293 g

Ternak untuk maintenance membutuhkan 7-8 % protein

Hampir 75% pakan ternak merupakan sumber karbohidrat.

Hampir 75% pakan ternak merupakan sumber karbohidrat. Gambar 21. Metode pengukuran kecernaan menggunakan metode
Hampir 75% pakan ternak merupakan sumber karbohidrat. Gambar 21. Metode pengukuran kecernaan menggunakan metode

Gambar 21. Metode pengukuran kecernaan menggunakan metode in vivo; sapi perah difistula pada saluran pencernaan duodenal dan ileal

Gambar 22. Metode evakuasi eksperimen in vivo Fractional rate of digestion k d Fractional rate

Gambar 22. Metode evakuasi eksperimen in vivo

Fractional rate of digestion k d Fractional rate of passage k p Rumen Feed intake

Fractional rate of digestion k d

Fractional

rate of

passage k p

Rumen

Feed intake

Fractional rate of digestion k d Fractional rate of passage k p Rumen Feed intake
Fractional rate of digestion k d Fractional rate of passage k p Rumen Feed intake

Gambar 23. Diagram aliran pakan di rumen ; kecernaan serat tergantung pada kompetisi antara proses pencernaan dengan laju keluarnya pakan.

Kecernaan = k d / (k d +k p )

6.2.2 Analisa Proksimat

Analisa proksimat digunakan untuk menganalisa kandugan zat makanan bahan

pakan. Cara ini dikembangkan oleh Wender experiment station di Jerman oleh

Hemberg dan Stocman pada tahun 1965, yaitu suatu metode analisis yang

menggolongkan komponen yang ada pada makanan. Cara ini dipakai hampir di

seluruh dunia, dan disebut “analisis proksimat. Analisis proksimat ini didasarkan atas komponen susunan kimia dan kegunaannya (Tillman et al., 1984). Kamal (1994) menyatakan bahwa disebut analisis proksimat karena hasil yang diperoleh hanya mendekati nilai yang sebenarnya, oleh karena itu untuk menunjukkan nilai dari sistem analisis proksimat selalu dilengkapi dengan istilah minimum atau maksimum sesuai dengan manfaat fraksi tersebut. Dari sistem analisis proksimat dapat diketahui adanya 6 macam fraksi yaitu 1) Air, 2) Abu, 3) Protein kasar, 4) Lemak kasar (ekstrak eter), 5) Serat kasar, 6) Ekstrak tanpa nitrogen. Khusus untuk ekstrak tanpa nitrogen nilainya dicari hanya berdasarkan perhitungan yaitu 100% dikurangi jumlah dari kelima fraksi yang lain (Kamal, 1994). Air Yaitu dimaksud air dalam analisis proksimat adalah semua cairan yang menguap pada pemanasan dalam beberapa waktu pada suhu 105° sampai 110° C dengan tekanan udara bebas sampai sisa yang tidak menguap mempunyai bobot tetap. Penentuan kandungan kadar air dari suatu bahan sebetulnya bertujuan untuk menentukan kadar bahan kering dari bahan tersebut (Kamal, 1994). Sampel makanan ditimbang dan diletakkan dalam cawan khusus dan dipanaskan dalam oven dengan suhu 105° C pemanasan berjalan hingga sampel tidak turun lagi beratnya. Setelah pemanasan tersebut sampel bahan pakan disebut sebagai sampel bahan kering dan penggunaanya dengan sampel disekat purien air atau kadar airnya (Tillman et al., 1984). Abu Sampel bahan kering ditambah dan dibakar pada suatu crucible dengan suhu 600° C selama beberapa jam (Tillman et al., 1984). Yang dimaksud abu adalah sisa pembakaran sempurna dari suatu bahan. Suatu bahan bila dibakar sempurna pada suhu 500°C sampai 600°C selama beberapa waktu maka senyawa organiknya akan menguap, sedang sisanya yang tidak menguap itulah yang disebut abu atau campuran dari berbagai oksida mineral sesuai dengan macam mineral yang terkandung di dalam bahannya (Kamal, 1994). Protein kasar Protein kasar adalah nilai hasil bagi dari total nitrogen ammonia dengan faktor 16%

berasal dari asumsi bahwa protein mengandung nitrogen 16%. Kenyataannya nitrogen yang terdapat di dalam pakan tidak hanya berasal dari protein saja tetapi ada juga nitrogen yang berasal dari senyawa bukan protein atau nitrogen non protein (Non Protein Nitrogen atau NPN). Dengan demikian maka nilai yang diperoleh dari perhitungan di atas merupakan nilai dari apa yang disebut protein kasar (Kamal,

1994).

Sampel dianalisis dengan alat Kjedhal. Analisis ini menggunakan asam sulfat dengan suatu katalisator dan pemanasan. Zat organik dari sampel lalu dioksidasi oleh asam sulfat lalu nitrogen diubah dalam bentuk amonium sulfat sedangkan kelebihan asam sulfat akan dinetralisir oleh NaOH dan sampel larutan menjadi basa. Dari amonium sulfat tadi lalu didestilisi dalam medium asam untuk mendapatkan nitrogen secara kuantitatif. Karena protein mengandung nitrogen rata-rata 16 % maka faktor 6,25 harus dipakai untuk mendapatkan nilai protein kasar (Tillman et al., 1984). Serat kasar Sampel yang bebas lemak dan telah disaring dipakai untuk mendapatkan serat kasar. Sampel bila ditambah 1,25% asam sulfat dan dipanaskan selama 30 menit, kemudian residu disaring, endapan yang didapat ditambah 1,25% NaOH dan dipanaskan 30 menit kemudian disaring dan endapan yang didapat dioven, dikeringkan, dan ditimbang lalu dibakar dan abunya ditimbang. Perbedaan antara berat endapan sebelum dibakar dan abu adalah serat kasar (Tillman et al., 1984). Kamal (1994) menyatakan bahwa yang dimaksud serat kasar adalah semua bahan organik dalam bahan pakan yang kecernaanya rendah, sedangkan dalam analisis proksimat yang dimaksud serat kasar adalah semua senyawa organik yang tidak larut dalam perebusan dengan larutan NaOH 1,25% atau 0,313 N yang berurutan masing-masing selama 30 menit. Lemak kasar Menurut Kamal (1994) lemak kasar adalah campuran beberapa senyawa yang larut dalam pelarut lemak (ether, petroleumether, petroleum benzen, dsb.) oleh karena itu lemak kasar lebih tepat disebut ekstrak eter. Tillman et al., (1984) menyatakan bahwa sampel bahan kering diekstraksi dengan etil eter selama beberapa jam, maka bahan yang didapat adalah lemak sedangkan yang menguap adalah eter.

Ekstrak Tanpa Nitrogen (ETN) Komponen ini didapat dengan mengurangi sampel behan kering dengan semua komponen-komponen seperti air, serat kasar, lemak kasar, protein kasar, dan abu (Tillman et al., 1984). Komponen dari ekstrak tanpa nitrogen adalah selulosa, hemiselulosa, lignin, gula, fruktan, pati, pektin, asam organik, resin, tanin, pigmen, dan vitamin larut air (Kamal, 1994). Kamal (1994) juga menjelaskan yang dimaksud ekstrak tanpa nitrogen dalam arti umum adalah sekelompok karbohidrat yang kecernaanya tinggi sedangkan dalam analisis proksimat yang dimaksud ekstrak tanpa nitrogen adalah sekelompok karbohidrat yang mudah larut dalam perebusan dengan H2SO4 1,25 % atau 0,225 N dan pada perebusan dengan larutan NaOH 1,25% atau 0,313 N yang berurutan masing-masing selama 30 menit. Walaupun demikian, untuk penentuan kadar ekstrak tanpa nitrogen hanya berdasarkan perhitungan 100% - (% air + % abu + % PK + % SK + % LK ) (Kamal, 1994).

6.2.3 Analisa Serat Kasar Komponen terbesar pakan ternak ruminansia adalah serat kasar. Oleh karena itu analisa serat kasar memegang peranan penting dalam evaluasi nutrisi bahan pakan ternak ruminansia. Analisa Serat meliputi :

1. CRUDE FIBRE (SERAT KASAR) dan

2. DETERGENT FIBRE - Neutral detergent Fibre - Acid detergent fibre

DIETARY FIBRE (SERAT PANGAN) mencakup :

- Total Dietary fibre

- Soluble Dietary fibre

- Insoluble Dietary fibre

Hal-hal penting diperhatikan dalam analisa serat adalah :

a) CF : Residu ekstraksi dlm asam dan alkali panas

b) Indek bahan tak tercerna utk pakan (forage)

c) Tidak cocok sebagai indek untuk pangan

d)

Hasil analisis < Serat Pangan

e) Selama analisis ada kehilangan: selulosa : 20-25%, hemiselulose: 80%, lignin

50-90% dan pektin mencapai 100%. Detergent fiber merupakan perkembangan dari crude fiber, lebih cocok untuk analisa pakan, analisa detergent fiber dibagi menjadi dua, yaitu :

- NEUTRAL DETERGENT FIBRE (NDF) - ACID DETERGENT FIBRE (ADF) ANALISIS SERAT PANGAN dapat menggunakan Metoda AOAC (Enzymatc-

Gravimetric Method), prinsipnya adalah :

a) Ekstraksi lemak

b) Gelatinisasi

c) Hidrolisis dan pemisahan pati (amilase & amyloglukosidase)

d) Hidrolisis dan pemisahan protein (protease)

e) Presipitasi Serat Pakan (dg ethyl alkohol)

f) Endapan = Total Serat Pakan

g) Koreksi : kadar abu

Prosedur Analisis Serat Pakan (DF) (AOAC, 1995) adalah :

1. Timbang sampel (0.3-0.5 mm mesh) 1 gram, masukkan dalam beaker 400 ml

2. Tambahan 50 ml buffer posfat, pH 6.0

3. Tambahkan 0.1 ml Termamyl, tutup denan aluminium foil dan masukkan dalam water bath mendidih selama 15 menit, goyang setiap 5 menit. Pastikan bahwa suhu sampel mencapai 95-100 o C. Tambah waktu pemanasan bila perlu (total waktu di dalam waterbath 30 menit).

4. Dinginkan sampel pada suhu kamar dan atur pH menjadi 7.5 dengan penambahan 10 ml larutan 0.275 N NaOH

5. Tambahkan 5 gr protease (krn protease bersifat lengket, dianjurkan untuk membuat larutan ensim 50 mg protease dlm 1 ml buffer posfat) dan tambahkan 0.1ml larutan ensim. Tutup dengan aluminium foil dan inkubasikan selama 30 menit

6. Dinginkan dan tambah 10 ml 0.325M lar HCl. Atur pH hingga 4.0-4.6. Tambahkan 0.3 mL amyloglukosidase, tutup dengan aluminium foil dan inkubasikan pd 60oC selama 30 menit denga agitasi kontinyu.

7.

Tambahkan 280 ml 95% ETOH, panasi 60oC dan presipitasikan pada suhu

kamar 60 menit.

8. Saring dengan krus yg telah diberi celite 0.1 mg yang diratakan dengan ETOH

78 %.

9. Cuci residu dlm krus dgn 20ml ETOH 78% (3x), 10 ml ETYOH 95% (2x) dan

10 ml aseton (1x)

10. Keringkan residu dlm oven vakum 70oC semalam atau oven 105 o C sampai berat

konstan. Koreksi DF dengan abu.

11. % DF = a- (b)/w x 100. a= berat sampel konstan; b= berat abu w=berat awal

sampel.

100

80

60

40

20

0

ADF

b= berat abu w=berat awal sampel. 100 80 60 40 20 0 ADF NDF Lignin Cellulose
b= berat abu w=berat awal sampel. 100 80 60 40 20 0 ADF NDF Lignin Cellulose
b= berat abu w=berat awal sampel. 100 80 60 40 20 0 ADF NDF Lignin Cellulose

NDF

Lignin

Cellulose

HemicelluloseLignin Cellulose Difference Sugar Starch Crude protein Crude fat Ash

DifferenceLignin Cellulose Hemicellulose Sugar Starch Crude protein Crude fat Ash

Sugar

StarchLignin Cellulose Hemicellulose Difference Sugar Crude protein Crude fat Ash

Crude proteinLignin Cellulose Hemicellulose Difference Sugar Starch Crude fat Ash

Crude fatLignin Cellulose Hemicellulose Difference Sugar Starch Crude protein Ash

AshLignin Cellulose Hemicellulose Difference Sugar Starch Crude protein Crude fat

Gambar 24. Grafik penguraian fraksi komponen bahan pakan ; NDF adalah residu yang tidak larut setelah dididihkan dengan neutral detergent solution.

Rangkuman

1. Definisi nilai nutrisi pakan adalah respon produksi ternak (PBB, produksi susu)

terhadap pakan yang dikonsumsinya. Merupakan fungsi dari intake (I) dan

kualitas (NV).

2. Nutritive value atau kualitas pakan adalah fungsi dari komposisi fisik dan kimia

pakan, kecernaan, laju, dan tempat terjadinya pencernaan dan efisiensi

pemafaatan zat-zat nutrisi yang diserap.

3. Metode yang digunakan untuk menganalisa nilai nutrisi zat makanan ternak ruminansia adalah metode percobaan di lapang menggunakan ternak (in vivo) dan analisa di laboratorium (analisa proksimat dan analisa serat kasar)

Latihan Soal

1. Apakah yang dimaksud nilai nutrisi pakan ?

2. Beri penjelasan tentang metode pengukuran konsumsi secara langsung !

3. Beri penjelasan tentang zat-zat makanan yang dapat dideterminasi menggunakan analisa proksimat ! Uraikan masing-masing prosedur analisanya!

4. Sebutkan prosedur analisa serat kasar !

VII.

TEKNIK PENYUSUNAN RANSUM

Kompetensi Dasar

1. Mahasiswa mengetahui dan memahami jenis serta klasifikasi pakan ternak

ruminansia.

2. Mahasiswa mampu menyusun pakan ternak ruminansia sesuai dengan kebutuhan hidup.

3. Mahasiswa mampu mengaplikasikan teknologi yang diterapkan pada pakan ternak

Tujuan

1. Mahasiswa mengetahui dan memahami jenis serta klasifikasi pakan ternak

ruminansia.

2. Mahasiswa mengetahui teknik menyusun pakan ternak ruminansia sesuai dengan kebutuhan hidup.

3. Mahasiswa mengetahui dan memahami teknologi yang diterapkan pada pakan ternak.

Pendahuluan Ternak-ternak ruminansia dipelihara untuk dimanfaatkan tenaga maupun diambil hasilnya berupa produk hewani dengan cara mengembangbiakkannya sehingga dapat meningkatkan pendapatan para petani. Agar ternak peliharaan tumbuh sehat dan kuat, sangat diperlukan pemberian pakan. Pakan memiliki peranan penting bagi ternak, baik untuk pertumbuhan ternak muda maupun untuk mempertahankan hidup dan menghasilkan produk (susu, anak, daging) serta tenaga bagi ternak dewasa. Fungsi lain dari pakan adalah untuk memelihara daya tahan tubuh dan kesehatan. Agar ternak tumbuh sesuai dengan yang diharapkan, jenis pakan yang diberikan pada ternak harus bermutu baik dan dalam jumlah cukup. Pakan yang sering diberikan pada ternak antara lain berupa: hijauan dan konsentrat (makanan penguat).

7.

Jenis Pakan Ternak Ruminansia

1

Jenis pakan ternak yang convensional digunakan untuk pakan ternak ruminansia adalah :

1. Hijauan Segar Hijauan segar adalah semua bahan pakan yang diberikan kepada ternak dalam bentuk segar, baik yang dipotong terlebih dahulu (oleh manusia) maupun yang tidak (disengut langsung oleh ternak). Hijauan segar umumnya terdiri atas daun-daunan yang berasal dari rumput-rumputan, tanaman biji-bijian/ jenis kacang-kacangan. Rumput-rumputan merupakan hijauan segar yang sangat disukai ternak, mudah diperoleh karena memiliki kemampuan tumbuh tinggi, terutama di daerah tropis meskipun sering dipotong/disengut langsung oleh ternak sehingga menguntungkan para peternak/pengelola ternak. Hijauan banyak mengandung karbohidrat dalam bentuk gula sederhana, pati dan fruktosa yang sangat berperan dalam menghasilkan energi.

a. Rumput-rumputan Rumput Gajah (Pennisetum purpureum), rumput Benggala (Penicum maximum), rumput Setaria (Setaria sphacelata), rumput Brachiaria (Brachiaria decumbens), rumput Mexico (Euchlena mexicana) dan rumput lapangan yang tumbuh secara liar.

i. Kacang-kacangan: lamtoro (Leucaena leucocephala), stylo (Stylosantes guyanensis), centro (Centrocema pubescens), Pueraria phaseoloides, Calopogonium muconoides dan jenis kacang-kacangan lain.

ii. c. Daun-daunan: daun nangka, daun pisang, daun turi, daun

petai cina dll.

b. Jerami dan hijauan kering Termasuk kedalam kelompok ini adalah semua jenis jerami dan hijauan pakan ternak yang sudah dipotong dan dikeringkan. Kandungan serat kasarnya lebih dari 18% (jerami, hay dan kulit biji kacang-kacangan).

c. Silase Silase adalah hijauan pakan ternak yang disimpan dalam bentuk

segar biasanya berasal dari tanaman sebangsa padi-padian dan rumput-rumputan.

d. Konsentrat (pakan penguat) Contoh: dedak padi, jagung giling, bungkil kelapa, garam dan mineral.

7.

Klasifikasi Pakan Ternak Ruminansia

2

Pakan ternak ruminansia diklasifikasikan pada bahan pakan sumber energi, sumber protein, dan sumber vitamin dan mineral ;

1. Sumber energi Termasuk dalam golongan ini adalah semua bahan pakan ternak yang kandungan protein kasarnya kurang dari 20%, dengan

konsentrasi serat kasar di bawah 18%. Berdasarkan jenisnya, bahan pakan sumber energi dibedakan menjadi empat kelompok, yaitu:

a. Kelompok serealia/biji-bijian (jagung, gandum, sorgum)

b. Kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan)

c. Kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon dan hasil sampingannya)

d. Kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam

rumput (rumput gajah, rumput benggala dan rumput setaria).

2. Sumber protein Golongan bahan pakan ini meliputi semua bahan pakan ternak yang mempunyai kandungan protein minimal 20% (berasal dari hewan/tanaman). Golongan ini dibedakan menjadi 3 kelompok:

a. Kelompok hijauan sebagai sisa hasil pertanian yang terdiri atas jenis daun-daunan sebagai hasil sampingan

(daun nangka, daun pisang, daun ketela rambat, ganggang dan bungkil)

b. Kelompok hijauan yang sengaja ditanam, misalnya

lamtoro, turi kaliandra, gamal dan sentero

c. Kelompok bahan yang dihasilkan dari hewan (tepung ikan, tepung tulang dan sebagainya).

3. Sumber vitamin dan mineral Hampir semua bahan pakan ternak, baik yang berasal dari tanaman maupun hewan, mengandung beberapa vitamin dan mineral dengan konsentrasi sangat bervariasi tergantung pada tingkat pemanenan, umur, pengolahan, penyimpanan, jenis dan bagian-bagiannya (biji, daun dan batang). Disamping itu beberapa perlakuan seperti pemanasan, oksidasi dan penyimpanan terhadap bahan pakan akan mempengaruhi konsentrasi kandungan vitamin dan mineralnya.

Saat ini bahan-bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral sudah tersedia di pasaran bebas yang dikemas khusus dalam rupa bahan olahan yang siap digunakan sebagai campuran pakan, misalnya premix, kapur, Ca2PO4 dan beberapa mineral.

7.

Pedoman Teknis Pembuatan dan Pengolahan Pakan Ternak

3

Dalam pembuatan dan pengeloaan pakan ternak haruslah memperhatikan beberapa hal, yaitu ;

1. Kebutuhan Pakan Kebutuhan ternak terhadap pakan dicerminkan oleh kebutuhannya terhadap nutrisi. Jumlah kebutuhan nutrisi setiap harinya sangat bergantung pada jenis ternak, umur, fase (pertumbuhan, dewasa, bunting, menyusui), kondisi tubuh (normal, sakit) dan lingkungan tempat hidupnya (temperatur, kelembaban nisbi udara) serta bobot badannya. Maka, setiap ekor ternak yang berbeda kondisinya membutuhkan pakan yang berbeda pula. Rekomendasi yang diberikan oleh Badan Penelitian Internasional (National Research Council) mengenai standardisasi kebutuhan ternak terhadap pakan

dinyatakan dengan angka-angka kebutuhan nutrisi ternak ruminansia. Rekomendasi tersebut dapat digunakan sebagai patokan untuk menentukan

kebutuhan nutrisi ternak ruminansia, yang akan dipenuhi oleh bahan-bahan pakan yang sesuai/bahan-bahan pakan yang mudah diperoleh di lapangan.

1. Konsumsi Pakan Ternak ruminansia yang normal (tidak dalam keadaan sakit/sedang berproduksi), mengkonsumsi pakan dalam jumlah yang terbatas sesuai dengan kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok. Kemudian sejalan dengan pertumbuhan, perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang dihasilkannya, konsumsi pakannya pun akan meningkat pula. Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangat dipengaruhi oleh faktor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi ternak itu sendiri).

a. Temperatur Lingkungan Ternak ruminansia dalam kehidupannya menghendaki temperatur lingkungan yang sesuai dengan kehidupannya, baik dalam keadaan sedang berproduksi maupun tidak. Kondisi lingkungan tersebut sangat bervariasi dan erat kaitannya dengan kondisi ternak yang bersangkutan yang meliputi jenis ternak, umur, tingkat kegemukan, bobot badan, keadaan penutup tubuh (kulit, bulu), tingkat produksi dan tingkat kehilangan panas tubuhnya akibat pengaruh lingkungan. Apabila terjadi perubahan kondisi lingkungan hidupnya, maka akan terjadi pula perubahan konsumsi pakannya. Konsumsi pakan ternak biasanya menurun sejalan dengan kenaikan temperatur lingkungan. Makin tinggi temperatur lingkungan hidupnya, maka tubuh ternak akan terjadi kelebihan panas, sehingga kebutuhan terhadap pakan akan turun. Sebaliknya, pada temperatur lingkungan yang lebih rendah, ternak akan membutuhkan pakan karena ternak

membutuhkan tambahan panas. Pengaturan panas tubuh dan pembuangannya pada keadaan kelebihan panas dilakukan ternak dengan cara radiasi, konduksi, konveksi dan evaporasi.

b. Palatabilitas Palatabilitas merupakan sifat performansi bahan-bahan pakan sebagai akibat dari keadaan fisik dan kimiawi yang dimiliki oleh bahan-bahan pakan yang dicerminkan oleh organoleptiknya seperti kenampakan, bau, rasa (hambar, asin, manis, pahit), tekstur dan temperaturnya. Hal inilah yang menumbuhkan daya tarik dan merangsang ternak untuk mengkonsumsinya. Ternak ruminansia lebih menyukai pakan rasa manis dan hambar daripada asin/pahit. Mereka juga lebih menyukai rumput segar bertekstur baik dan mengandung unsur nitrogen (N) dan fosfor (P) lebih tinggi.

c. Selera Selera sangat bersifat internal, tetapi erat kaitannya dengan keadaan “lapar”. Pada ternak ruminansia, selera merangsang pusat saraf (hyphotalamus) yang menstimulasi keadaan lapar. Ternak akan berusaha mengatasi kondisi ini dengan cara mengkonsumsi pakan. Dalam hal ini, kadang-kadang terjadi kelebihan konsumsi (overat) yang membahayakan ternak itu sendiri.

d. Status fisiologi Status fisiologi ternak ruminansia seperti umur, jenis kelamin, kondisi tubuh (misalnya bunting atau dalam keadaan sakit) sangat mempengaruhi konsumsi pakannya. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian pakan sapi periode laktasi adalah : (i) tidak perlu memberi sekenyang- kenyangnya ; (ii) kosentrat diberikan terlebih dahulu setelah itu baru hijauan, pakan yang kaya gizi diprioritaskan terlebih

dahulu ; (iii) pada pagi hari, pakan diberikan sesudah pemerahan. Konsentrat diberikanterlebih dahulu setelah itu baru hijauan ; (iv) pada sore hari setelah diberi konsentrat, sapi diperah kemudian diberi hijauan ; dan (v) pemberian konsentrat dicombor kemudian dicampur dengan air. Hal tersebut akan meningkatkan palatabilitasnya.

e. Konsentrasi Nutrisi Konsentrasi nutrisi yang sangat berpengaruh terhadap konsumsi pakan adalah konsentrasi energi yang terkandung di dalam pakan. Konsentrasi energi pakan ini berbanding terbalik dengan tingkat konsumsinya. Makin tinggi konsentrasi energi di dalam pakan, maka jumlah konsumsinya akan menurun. Sebaliknya, konsumsi pakan akan meningkat jika konsentrasi energi yang dikandung pakan rendah.

f. Bentuk Pakan Ternak ruminansia lebih menyukai pakan bentuk butiran (hijauan yang dibuat pellet atau dipotong) daripada hijauan yang diberikan seutuhnya. Hal ini berkaitan erat dengan ukuran partikel yang lebih mudah dikonsumsi dan dicerna. Oleh karena itu, rumput yang diberikan sebaiknya dipotong- potong menjadi partikel yang lebih kecil dengan ukuran 3-5

cm.

g. Bobot Tubuh Bobot tubuh ternak berbanding lurus dengan tingkat konsumsi pakannya. Makin tinggi bobot tubuh, makin tinggi pula tingkat konsumsi terhadap pakan. Meskipun demikian, kita perlu mengetahui satuan keseragaman berat badan ternak yang sangat bervariasi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengestimasi berat badannya, kemudian dikonversikan menjadi “berat badan metabolis” yang merupakan bobot tubuh ternak tersebut. Berat badan ternak dapat diketahui

dengan alat timbang. Dalam praktek di lapangan, berat badan ternak dapat diukur dengan cara mengukur panjang badan dan lingkar dadanya. Kemudian berat badan diukur dengan menggunakan formula:

Berat badan = Panjang badan (inci) x Lingkar Dada 2 (inci) / 661

Berat badan metabolis (bobot tubuh) dapat dihitung dengan cara meningkatkan berat badan dengan nilai

h.

0,75

Berat Badan Metabolis = (Berat Badan)0,75 Produksi

Ternak ruminansia, produksi dapat berupa pertambahan berat badan (ternak potong), air susu (ternak perah), tenaga (ternak kerja) atau kulit dan bulu/wol. Makin tinggi produk yang dihasilkan, makin tinggi pula kebutuhannya terhadap pakan. Apabila jumlah pakan yang dikonsumsi (disediakan) lebih rendah daripada kebutuhannya, ternak akan kehilangan berat badannya (terutama selama masa puncak produksi) di samping performansi produksinya tidak optimal.

2. Kandungan Nutrisi Pakan Ternak Setiap bahan pakan atau pakan ternak, baik yang sengaja kita berikan kepada ternak maupun yang diperolehnya sendiri, mengandung unsur-unsur nutrisi yang konsentrasinya sangat bervariasi, tergantung pada jenis, macam dan keadaan bahan pakan tersebut yang secara kompak akan mempengaruhi tekstur dan strukturnya. Unsur nutrisi yang terkandung di dalam bahan pakan secara umum terdiri atas air, mineral, protein, lemak, karbohidrat dan

vitamin. Setelah dikonsumsi oleh ternak, setiap unsur nutrisi berperan sesuai dengan fungsinya terhadap tubuh ternak untuk mempertahankan hidup dan berproduksi secara normal. Unsur-unsur nutrisi tersebut dapat diketahui melalui proses analisis terhadap bahan pakan yang dilakukan di laboratorium. Analisis itu dikenal dengan istilah “analisis proksimat”.

1. Peralatan Pembuatan Pakan Ternak : macam-macam Silo Silo dapat dibuat dengan berbagai macam bentuk tergantung pada lokasi, kapasitas, bahan yang digunakan dan luas areal yang tersedia. Beberapa silo yang sudah dikenal adalah:

a. Pit Silo: silo yang dirancang berbentuk silindris (seperti sumur) dan di bangun di dalam tanah.

b. Trech Silo: silo yang dibangun berupa parit dengan struktur membentuk huruf V.

c. Fench Silo: silo yang bentuknya menyerupai pagar atau sekat yang terbuat dari bambu atau kayu.

d. Tower Silo: silo yang dirancang membentuk sebuah menara menjulang ke atas yang bagian atasnya tertutup rapat.

e. Box Silo: silo yang rancangannya berbentuk seperti kotak.

7.

Formulasi Pakan

4

Dalam memformulasikan penyusunan ransum atau pakan, perlu menggunakan Tabel Patokan Kebutuhan Nutrisi. Sebagai contoh kebutuhan nutrisi dalam penyusunan ransum bagi sapi perah adalah sebagai berikut :

1. Sapi perah betina muda berat 350 kg, satu setengah bulan menjelang beranak(melahirkan pada umur 36 bulan), membutuhkan pakan dengan kandungan nutrisi sebagai berikut:

a) Kebutuhan hidup pokok dan reproduksi: Bahan Kering=6,4 Kg, ME=13 Mcal, Protein=570 gram, mineral=37 kg.

b) Laktasi I: Bahan Kering=1,0 Kg, ME=2,02 Mcal, Protein=93,6 gram, Mineral=5 kg.

c) Sehingga jumlah Bahan Kering=7,4 kg, ME=15,02 kg, Protein=663,6 gram, Mineral=42 gram.

2. Dari kebutuhan nutrisi tersebut, kebutuhan pakannya dapat diformulasikan

dengan suatu metode. Misalnya bahan-bahan pakan yang tersedia adalah:

a) Rumput gajah: Bahan Kering=16%, ME=0,33 Mcal, Protein=1,8

gram%BK, Mineral=2,5 gram%BK

b) Rumput Kedele: Bahan Kering=93,5%, ME=3,44 Mcal,

Protein=44,9 gram%BK, Mineral=6,3 gram%BK

c) Bungkil kelapa: Bahan Kering=86%, ME=2,86 Mcal, Protein=18,6

gram%BK, Mineral=5,5 gram%BK

3. Rumput gajah akan digunakan untuk memenuhi kebutuhan bahan kering

sebanyak 80%= 80/100X7,4 kg = 5,92 kg BK. Maka kandungan protein

yang sudah dapat dipenuhi rumput adalah: sebanyak = 1,8/100 X 5,92 kg =

106,56 gram protein.

Kekurangan:

Bahan kering = 7,4 - 5,92 kg = 1,48 kg

Protein = (663,6 - 106,56) gram = 557,04 kg atau 557,04/1480 X 100% =

37,64%.

Bungkil kedelai akan memenuhi kekurangan tersebut sejumlah: 19,04/26,3

X 1,48 kg = 1,07 kg BK.

Bungkil kelapa akan memenuhi kekurangan tersebut sejumlah: 7,26/26,3 X

1,48 kg = 0,41 kg BK.

Jadi, jumlah bahan pakan segar yang dibutuhkan untuk memenuhi

kebutuhan ternak dengan kondisi tersebut di atas adalah:

Rumput gajah = 5,92 X 100/16 kg = 37 kg

Bungkil kedelai = 1,07 X 100/93,5 kg = 1,14 kg

Bungkil kelapa = 0,41 X 100/86 kg = 0,48 kg.

Formulasi

Pakan

menggunakan

Metode Pearson

Square (Dua

Bahan

Pakan)

Pearson square atau metode kotak ransum seimbang adalah metode sederhana

yang sudah digunakan selama bertahun-tahun. Metode ini sangat berguna

ketika ransum ternak hanya menggunakan dua bahan pakan. Jika anda

mengamati angka-angka yang tampak pada kotak persegi pearson square yang

sangat menjadi perhatian penting adalah angka yang terletak di tengah. Angka tersebut menunjukkan kebutuhan ternak terhapat zat makanan tertentu. Zat makanan tersebut dapat merupakan protein kasar atau TDN, asam amino, mineral atau vitamin. Prosedur pearson square untuk penyusunan ransum dirancang untuk menyusun ransum yang sederhana. Untuk dapat menggunakan metode tersebut terdapat beberapa langkah yang harus dijalankan. Kandungan zat makanan dari kompnen bahan pakan harus diekspresikan menggunakan unit satuan yang sama (contohnya berdasarkan bahan kering ”dry-matter” atau bahan segar ”as-fed”). Contoh kotak persegi yang digunakan pada metode peason squre ditunjukkan pada Gambar 21. di bawah ini.

peason squre ditunjukkan pada Gambar 21. di bawah ini. Gambar 21. Contoh kotak persegi yang digunakan

Gambar 21. Contoh kotak persegi yang digunakan pada metode peason squre

Untuk menjadikan pearson square sebagai metode yang konsisten, terdapat tiga peraturan yang harus diprhatikan, yaitu ; 1. Nilai angka yang berada di tenah kotak persegi harus berada diantara dua nilai angka yang diletakkan pada sisi sebelah kiri dari persegi. Contohnya , kebutuhan protein kasar sebesar 14% harus diantara kandungan protein kasar bahan pakan yang digunakan, ,misalnya dua bahan pakan tersebut adalah bungkil kedelai yang memiliki kandungan protein kasar 45% dan jagung yang memiliki kandungan protein kasar 10%. Jika bahan pakan yang digunakan adalah barley yang memiliki kandungan protein kasar 12% dan jagung yang memiliki kandungan

protein kasar 10%, maka kalkulasi pearson square tidak akan bekerja karena 14% di luar kisaran nilai yang berada di sisi bagian kiri dari persegi tersebut.

2. Angka negative tidak diperhitunggkan pada metode ini. Perhatian hanya ditujukan pada perbedaan nilai angka antara kebutuhan zat makanan dengan kandungan zat makanan bahan pakan yang digunakan.

3. Cari selisih antara nilai angka kandungan bahan yang digunakan dengan nilai angka kebutuhan zat makanan kemudian nilai angka yang diperoleh tersebut ditempatkan secara berseberangan pada bagian kanan persegi. Dengan menjumlahkan kedua nilai angka di bagian kanan persegi tersebut kemudian membagianya dengan total, maka kita dapat mendeterminasi persentase penggunaan masing-masing bahan pakan tersebut dalam ransum guna memenuhi kebutuhan zat makanan pada level tertentu. Selalu tempatkan secara diagonal (berseberangan) angka- angka dalam persegi tersebut untuk mendeterminasi tiap-tiap bagian. Selalu lakukan perhitungan ulang untuk meyakinkan bahwa perhitungan matematis yang dilakukan tidak mengalami kekeliruan. Gunakan nilai kandungan zat makanan bahan pakan dan kebutuhan menggunakan dasar bahan kering (dry-matter basis) lalu ubahlah berdasarkan bahan segar, setelah formulasi pakan dihitung.

Penggunaan jagung (31/ 35) × 100 bagian ransum → 88,57% Penggunaan bungkil kedelai (4/ 35) × 100 bagian ransum → 11,43% Teliti kembali perhitungan tersebut :

88,57 lb jagung × 10% PK 11,43 lb bungkil kedelai × 10% PK

=

8,86

=

5,14

100 lb campuran

=

14 lb PK, atau 14%

Catatan 1 kg = 2,3 lbs

Formulasi

Bahan Pakan)

Pakan

menggunakan

Metode

Pearson

Square

(Lebih

Dua

Memungkinkan untuk mencampur lebih dari dua bahan pakan menggunakan

Pearson square. Contohnya untuk mempersiapkan 15% PK dalam pakan

campuran yang mengandung suplemen 60 % bungkil kedelai (kandungan

PK=45% Dan 40% corn gluten meal (kandungan PK 45%) dan campuran

butiran berupa 65% jagung (kandungan PK = 9%) dan 35% gandum

(kandungan PK=12%). Ikutilah tahapan berikut :

Biasanya hanya dua komponen pahan pakan yang dapat digunakan dengan

metode Pearson Square, maka komponen bahan pakan tersebut digabungkan

terlebih dahulu seperti berikut :

60% bungkil kedelai × 45% PK 40% corn gluten meal × 45% PK Suplemen protein dalam campuran

=

=

=

27,0%

18,0%

45,0%

65% jagung × 9% PK 35% gandum× 9% PK Protein dalam campuran butiran

=

=

=

5,85%

4,20%

10,05%

5

bagian × 60%

=

3 bagian bungkil kedelai 2 bagian corn gluten meal 19,5 bagian jagung 10,5 bagian gandum

5

bagian × 40%

=

30

bagian × 65%

=

30

bagian × 35%

=

 

35,0

(3÷35) × 100% (2÷35) × 100% (19,5÷35) × 100% (10,5÷35)× 100%

=

8,57% bungkil kedelai 5,71% corn gluten meal 55,72% corn 30% gandum

=

=

=

Teliti kembali 8,57 lb bungkil kedelai (PK=45%) 5,71 lb corn gluten meal (PK=45%) 55,72 lb jagung (PK=9%)

=

=

=

 

3,86 lb 2,57 lb 5,01 lb

30

lb gandum (PK=12%)

=

3,60 lb 15,04 lb atau 15% PK

100 lb bagian

Catatan : 1 kg = 2,3 lb

Gambar 22. Contoh kotak persegi yang digunakan pada metode peason squre menggunakan lebih dari dua

Gambar 22. Contoh kotak persegi yang digunakan pada metode peason squre menggunakan lebih dari dua bahan pakan

Determinasi Komposisi Pakan

Nilai protein pakan atau persentase komponen bahan pakan yang lain seperti

(contohnya kalsium dan fosfor) dapat dideterminasi dengan beberapa cara. Dua

metode yang umum digunakan untuk mengekspresikan baik berdasarkan bahan

kering atau bahan segar. Ikuti tahapan prosedur di bawah ini untuk menghitung

komposisi berdasarkan bahan kering.

Nilai protein berdasarkan bahan segar dibagi dengan kandungan bahan kering

dikalikan 100 setara dengan kandungan protein kasar berdasar bahan kering.

Jika hijauan kering alfalfa digunakan sebagai contoh, nilai protein kasar adalah

17% bedasarkan bahan segar. Berdasarkan bahan kering, nilai protein dari

hijaan tersebut dihitung dengan cara : 17 ÷ 0,91 (kandungan kadar air 9%)

dikalikan 100 setara dengan 18,7% protein kasar.

Untuk mendeterminasi kandungan total digestible nutrient (TDN) terhadap

alfalfa berdasarkan bahan segar mengikuti prosedur yang sama : 50% (nilai

TDN berdasarkan bahan segar) dibagi dengan 0,91 (kandungan bahan kering

pada pakan) dikalikan 100 setara dengan 54,9% TDN berdasarkan bahan kering.

Untuk mendeterminasi kandungan total digestible nutrient (TDN) hijauan alfalfa berdasarkan bahan kering, ikutilah tahapan-tahapan berikut ini ; 50 persen (nilai TDN berdasarkan bahan segar) dibagi dengan 0,91 (Kandungan bakan kering pakan) di kalikan 100 setara dengan 54,9% TDN berdasarkan bahan kering. Sedangkan, kandungan protein kasar atau nilai TDN juga dapat diekspresikan berdasarkan level bahan kering. Contohnya, jika digunakan dasar 90%, ikutilah tahapan perhitungan berikut ; Misalnya nilai TDN adalah 76% dan kandungan bahan kering 86% (kadar air = 14%), berapakah nila TDN pakan berdasarkan 90% BK? (76 ×0,90) ÷ 0,86 =79,5% TDN berdasarkan 90% BK Perhitungan Komposisi Ransum Jika kita mengetahui komposisi bahan kering dari ransum dan ingin mendeterminasi berapa komposisi berdasarkan bahan segar pada campuran tersebut, buatlah perhitungan seperti ditunjukkan pada Tabel 3. dan Tabel 4 di bawah ini :

Tabel 3. Konversi dari bahan kering menjadi bahan segar

Komposis

Komposis

 

Kandunga n BK (%)

 

Perhitungan

Ransum

i Pakan

i

BK

 

(berdasarka

ransum

 

n

bahan

 

segar)

Silase

70

35

70÷0,35=20

(200÷233)×10

84,84

jagung

0

0

Alfalfa

30

90

30÷0,30 =33

(33÷233)×100

14,16

 

233

Tabel 4. Konversi dari bahan segar ke bahan kering

 

Komposi

Komposi

Kandunga n BK (%)

Perhitungan

 

Ransum

si Pakan

si

BK

 

(berdasarka

ransum

 

n

bahan

 

segar)

Silase

65

35

65÷0,35=22,

(22,75÷54,25)×1

41,94

jagung

75

00

Alfalfa

35

90

35÷0,90

(31,50÷54,25)×1

58,06

 

=31,50

00

Teknologi Pakan Teknologi pakan ternak ruminansia meliputi kegiatan pengolahan bahan pakan yang bertujuan meningkatkan kualitas nutrisi, meningkatkan daya cerna dan memperpanjang masa simpan. Sering juga dilakukan dengan tujuan untuk mengubah limbah pertanian yang kurang berguna menjadi produk yang berdaya guna. Pengolahan bahan pakan yang dilakukan secara fisik (pemotongan rumput sebelum diberikan pada ternak) akan memberi kemudahan bagi ternak yang mengkonsumsinya. Pengolahan secara kimiawi (dengan menambah beberapa bahan kimia pada bahan pakan agar dinding sel tanaman yang semula berstruktur sangat keras berubah menjadi lunak sehingga memudahkan mikroba yang hidup di dalam rumen untuk mencernanya. Banyak teknik pengolahan telah dilakukan di negara-negara beriklim sub-tropis dan tropis, akan tetapi sering menyebabkan pakan menjadi tidak ekonomis dan masih memerlukan teknik-teknik untuk memodifikasinya, terutama dalam penerapannya di tingkat peternak. Beberapa teknik pengolahan bahan pakan yang mudah dilakukan di lapangan adalah:

Pembuatan Hay Hay adalah tanaman hijauan pakan ternak, berupa rumput-rumputan/leguminosa yang disimpan dalam bentuk kering berkadar air: 20-30%. Pembuatan Hay bertujuan untuk menyeragamkan waktu panen agar tidak mengganggu pertumbuhan pada periode berikutnya, sebab tanaman yang seragam akan memilik daya cerna yang lebih tinggi. Tujuan khusus pembuatan Hay adalah agar tanaman hijauan (pada waktu panen yang berlebihan) dapat disimpan untuk jangka waktu tertentu sehingga dapat mengatasi kesulitan dalam mendapatkan pakan hijauan pada musim kemarau. Ada 2 metode pembuatan Hay yang dapat diterapkan yaitu:

1)

Metode Hamparan Merupakan metode sederhana, dilakukan dengan cara meghamparkan hijauan yang sudah dipotong di lapangan terbuka di bawah sinar matahari. Setiap hari hamparan di balik-balik hingga kering. Hay yang

dibuat dengan cara ini biasanya memiliki kadar air: 20 - 30% (tanda:

warna kecoklat-coklatan). Metode Pod

2)

Dilakukan dengan menggunakan semacam rak sebagai tempat menyimpan hijauan yang telah dijemur selama 1 - 3 hari (kadar air ± 50%). Hijauan yang akan diolah harus dipanen saat menjelang berbunga (berkadar protein tinggi, serat kasar dan kandungan air optimal), sehingga hay yang diperoleh tidak berjamur (tidak berwarna “gosong”) yang akan menyebabkan turunnya palatabilitas dan kualitas. Pembuatan Silase Silase adalah bahan pakan ternak berupa hijauan (rumput-rumputan atau leguminosa) yang disimpan dalam bentuk segar mengalami proses ensilase. Pembuatan silase bertujuan mengatasi kekurangan pakan di musim kemarau atau ketika penggembalaan ternak tidak mungkin dilakukan. Prinsip utama

pembuatan silase:

1)

Menghentikan pernafasan dan penguapan sel-sel tanaman.

Menahan aktivitas enzim dan bakteri pembusuk.

2)

Mengubah karbohidrat menjadi asam laktat melalui proses

3)

fermentasi kedap udara.

4)

Pembuatan silase pada temperatur 27-35 derajat C., menghasilkan kualitas yang sangat baik. Hal tersebut dapat diketahui secara organoleptik, yakni:

a. mempunyai tekstur segar

b. berwarna kehijau-hijauan

c. tidak berbau

d. disukai ternak

e. tidak berjamur

f. tidak menggumpal

Beberapa metode dalam pembuatan silase:

1. Metode Pemotongan

a) Hijauan dipotong-potong dahulu, ukuran 3-5 cm

b) Dimasukkan kedalam lubang galian (silo) beralas plastic

c) Tumpukan hijauan dipadatkan (diinjak-injak)

d) Tutup dengan plastik dan tanah

2. Metode Pencampuran Hijauan dicampur bahan lain dahulu sebelum dipadatkan (bertujuan untuk mempercepat fermentasi, mencegah tumbuh jamur dan bakteri pembusuk, meningkatkan tekanan osmosis sel-sel hijauan. Bahan campuran dapat berupa: asam-asam organik (asam formiat, asam sulfat, asam klorida, asam propionat), molases/tetes, garam, dedak padi, menir

/onggok dengan dosis per ton hijauan sebagai berikut:

a) asam organik: 4-6kg

b) molases/tetes: 40kg

c) garam : 30kg

d) dedak padi: 40kg

e) menir: 35kg

f) onggok: 30kg Pemberian bahan tambahan tersebut harus dilakukan secara merata ke seluruh hijauan yang akan diproses. Apabila menggunakan molases/tetes lakukan secara bertahap dengan

perbandingan 2 bagian pada tumpukan hijauan di lapisan bawah, 3 bagian pada lapisan tengah dan 5 bagian pada lapisan atas agar terjadi pencampuran yang merata.

3. Metode Pelayuan

a) Hijauan dilayukan dahulu selama 2 hari (kandungan bahan kering 40% - 50%.

b) Lakukan seperti metode pemotongan

Amoniasi Amoniasi merupakan proses perlakuan terhadap bahan pakan limbah pertanian (jerami) dengan penambahan bahan kimia: kaustik soda (NaOH), sodium hidroksida (KOH) atau urea (CO(NH2) 2. Proses amoniasi dapat menggunakan urea sebagai bahan kimia agar biayanya murah serta untuk menghindari polusi. Jumlah urea yang diperlukan dalam proses amoniasi: 4 kg/100 kg jerami. Bahan lain yang ditambahkan yaitu : air sebagai pelarut (1 liter air/1 kg jerami).

Pakan Pemacu Merupakan sejenis pakan yang berperan sebagai pemacu pertumbuhan dan peningkatan populasi mikroba di dalam rumen, sehingga dapat merangsang penambahan jumlah konsumsi serat kasar yang akan meningkatkan produksi. Molases sebagai bahan dasar pakan pemacu merupakan bahan pakan yang dapat difermentasi dan mengandung beberapa mineral penting. Dapat memperbaiki formula menjadi lebih kompak, mengandung energi cukup tinggi sehingga dapat meningkatkan palatabilitas serta citarasa. Urea merupakan bahan pakan

sumber nitrogen yang dapat difermentasi. Setiap kilogram urea mempunyai nilai yang setara dengan 2,88 kg protein kasar (6,25X46%). Dalam proporsi tertentu mempunyai dampak positif terhadap peningkatan konsumsi serat kasar dan daya cerna.

1. Proses Pembuatan Dilakukan dalam suasana hangat dan bertahap :

a) Molases (29% dari total formula) dipanaskan pada suhu ± 50 °C.

b) Buat campuran I (tapioka 16%, dedak padi 18%, bungkil kedelai

13%).

c) Buat campuran II (urea: 5%, kapur 4%, garam 9%).

d) Buat campuran III (tepung tulang 5% dan mineral 1%).

e) Buat campuran IV dari campuran I, II, III yang diaduk merata.

f) Masukkan campuran IV sedikit sedikit ke dalam molases, diaduk hingga merata (±15 menit).

g) Masukkan dalam mangkok/cetakan kayu beralas plastik dan padatkan.

h) Simpan di tempat teduh dan kering.

i) Kualitas Nutrisi Hasil analisis proksimat, pakan pamacu yang dibuat dengan formulasi tersebut mempunyai nilai nutrisi sebagai berikut: Energi 1856 Kcal, protein 24%, kalsium 2,83% dan fosfor 0,5%.

j) Jumlah dan Metode Pemberian Pemberian pakan pamacu dapat meningkatkan konsentrasi amonia dalam rumen dari (60-100) mgr/liter menjadi 150-250 mgr/liter.

Jumlah pemberian pakan pemacu disesuaikan dengan jenis dan berat badan ternak. Untuk ternak ruminansia kecil (domba/kambing) maksimum 4 gram untuk setiap berat badan. Untuk ternak ruminansia besar (sapi) 2 gram untuk setiap berat badan dan 3,8 gram untuk kerbau. Pemberian pakan pemacu sangat cocok bagi ternak ruminansia yang digembalakan dan diberi sisa tanaman pangan seperti jerami atau bahan pakan berkadar protein rendah. Pakan Penguat Pakan penguat atau konsentrat yang berbentuk seperti tepung adalah sejenis pakan komplet yang dibuat khusus untuk meningkatkan produksi dan berperan sebagai penguat. Mudah dicerna, karena terbuat dari campuran beberapa bahan pakan sumber energi (biji-bijian, sumber protein jenis bungkil, kacang- kacangan, vitamin dan mineral). Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan pakan penguat:

1. Ketersediaan Harga Satuan Bahan Pakan Beberapa bahan pakan mudah diperoleh di suatu daerah, dengan harga bervariasi, sedang di beberapa daerah lain sulit didapat. Harga perunit bahan pakan sangat berbeda antara satu daerah dan daerah lain, sehingga

keseragaman harga per unit nutrisi (bukan harga per unit berat) perlu dihitung terlebih dahulu.

2. Standar kualitas Pakan Penguat Kualitas pakan penguat dinyatakan dengan nilai nutrisi yang dikandungnya terutama kandungan energi dan potein. Sebagai pedoman, setiap Kg pakan penguat harus mengandung minimal 2500 Kcal energi dan 17% protein, serat kasar 12%.

3. Metode dan Teknik Pembuatan Metode formulasi untuk pakan penguat adalah metode simultan, metode segiempat bertingkat, metode aljabar, metode konstan kontrol, metode ekuasi atau metode grafik.

4. Prosedur Memformulasi

a) Buat daftar bahan pakan yang akan digunakan, kandungan nutrisinya (energi, potein), harga per unit berat, harga per unit energi dan harga

per unit protein.

b) Tentukan standar kualitas nutrisi pakan penguat yang akan dibuat.

c) Memformulasi, dilakukan pada form formulasi.

d) Tentukan sebanyak 2% (pada kolom %) bahan pakan sebagai sumber vitamin dan mineral.

e) Tentukan sebanyak 30% bahan pakan yang mempunyai kandungan energi lebih tinggi daripada kandungan energi pakan penguat, tetapi harga per unit energinya yang paling murah (dapat digunakan lebih dari 1 macam bahan pakan).

f) Tentukan sebanyak 18% bahan pakan yang mempunyai kandungan protein lebih tinggi daripada kandungan protein pakan penguat, tetapi harga per unit proteinnya paling murah.

g) Jumlahkan (% bahan, Kcal energi, % protein dan harganya), maka 50% formula sudah diperoleh.

h) Lakukan pengecekan kualitas dengan membandingkan kualitas nutrisi %0% formula dengan kualitas nutrisi 50% pakan penguat.

Rangkuman

1. Jenis jenis pakanternak ruminansia adalah hijauan segar, jerami dan hijauan kering, silase, dan konsentrat.

2. Klasifikasi pakan ternak ruminansia meliputi ; sumber energi, sumber protein, sumber vitamin dan mineral.

3. Faktor-faktor yang harus diperhatikan dalam pembuatan dan pengolahan pakan ternak adalah : (i) kebutuhan pakan ternak ; (ii) konsumsi pakan ; (iii) kandungan nutrisi pakan ; dan (iv) peralatan pembuatan pakan ternak.

4. Teknologi pakan ternak ruminansia meliputi kegiatan pengolahan bahan pakan yang bertujuan meningkatkan kualitas nutrisi, meningkatkan daya

cerna dan memperpanjang masa simpan. Sering juga dilakukan dengan tujuan untuk mengubah limbah pertanian yang kurang berguna menjadi produk yang berdaya guna.

5. Teknologi pengelolaan pakan ternak yang mudah diaplikasikan di lapang adalah : (i) pembuatan hay ; (ii) pembuatan silase ; dan (iii) amoniasi.

Latihan Soal

1. Sebutkan jenis-jenis pakan ternak beserta contohnya masing-masing !

2. Sebutkan klasifikasi pakan ternak ruminansia beserta contohnya masing- masing!

3. Faktor-faktor apa yang harus diperhatikan dalam menyusun pakan ternak ruminansia !

4. Coba susunlah pakan sapi periode laktasi menggunakan bahan pakan konvensional yaitu rumput gajah dan konsentrat (kandungan protein 18%)!

5. Apa manfaat dari penerapan teknologi terhadap pakan ternak !

6. Sebutkan prosedur amoniasi untuk jerami padi !

7. Apakah yang dimaksud dengan :

a. Silase

b. Pakan penguat

c. Hay

VIII.

GANGGUAN METABOLISME

Kompetensi Dasar

1. Mahasiswa mengetahui dan memahami gangguan metabolisme yang terjadi pada

ternak ruminansia.

2. Mahasiswa mampu melakukan tindakan penanganan ternak ruminansia yang mengalami gangguan metabolisme

Tujuan

1. Mahasiswa mengetahui dan memahami gangguan metabolisme yang terjadi pada ternak ruminansia.

2. Mahasiswa mengetahui tindakan penanganan ternak ruminansia yang mengalami gangguan metabolisme

Pendahuluan Keberhasilan setiap usaha peternakan tidak hanya bergantung atas factor- factor bibit, pakan, dan manajemen, akan tetapi bergantung pula terhadap faktor penyakit. Usaha yang telah dirintis dengan susah payah akan jadi sia sia, bila peternak tidak memperhatikan kesehatan ternak. Oleh karena itu pengendalian penyakit menjadi lebih utama dibandingkan pengobatan terhadap penyakit yang telah berjangkit di suatu peternakan. Berdasarkan penyebabnya, penyakit dikelompokkan ke dalam enam kelompok, yaitu :

1. Penyakit yang diakibatkan oleh parasit.

2. Penyakit yang diakibatkan oleh virus.

3. Penyakit yang diakibatkan oleh bakteri.

4. Penyakit yang diakibatkan oleh gangguan metabolisme.

5. Penyakit yang diakibatkan oleh faktor keturunan (genetik).

6. Penyakit yang diakibatkan oleh kesalahan nutrisi, penatalaksanaan atau

lingkungan. Selain berdasarkan penyebabnya, penyakit dapat pula dikelompokkan berdasarkan sistem tertentu di dalam tubuh ternak, antara lain ;

1. Penyakit pada sistem pencernaan.

2. Penyakit yang menyerang hati.

3. Penyakit pada sistem cardiovaskuler.

4. Penyakit pada darah dan organ-organ pembentuk darah.

5. Penyakit pada sistem urinary (saluran kencing).

6. Penyakit pada sistem saraf.

7. Penyakit pada perototan dan pertulangan

8. Penyakit pada kulit.

9. Penyakit pada sistem reproduksi.

8.1

Pada bab ini akan dibahas khusus tentang penyakit yang diakibatkan oleh gangguan

yang terjadi pada tubuh ternak ruminansia. Bloat Nama lain: Kembung perut, Timpani ruminal, Tympanitis, Hoven, Meteorism Bloat/ kembung perut merupakan bentuk penyakit/ kelainan alat pencernaan yang

bersifat akut, yang disertai penimbunan gas di dalam lambung ternak ruminansia.

Penyakit

dibandingkan dengan sapi pedaging atau sapi pekerja.

kembung perut pada sapi lebih banyak terjadi pada sapi perah

1. Penyebab Bloat/ kembung perut dapat disebabkan oleh 2 faktor yaitu:

a. Faktor makanan/ pakan:

a) Pemberian hijauan Leguminosa yang berlebihan.

b) Tanaman/ hijauan yang terlalu muda.

c) Biji bijian yang digiling sampai halus.

d) Imbangan antara pakan hijauan dan konsentrat yang tidak seimbang (konsentrat lebih banyak).

e) Hijauan yang terlalu banyak dipupuk dengan Urea.

f) Hijauan yang dipanen sebelum berbunga (terlalu muda) atau sesudah turunnya hujan terutama pada daerah yang sebelumnya kekurangan air.

g) Makanan yang rusak/ busuk/ berjamur.

h) Rumput/ hijauan yang terkena embun atau terkena air hujan.

b. Faktor ternak itu sendiri :

a) Faktor keturunan.

b) Tingkat kepekaan dari masing masing ternak.

c) Ternak bunting yang kondisinya menurun.

d)

Ternak yang sedang sakit atau dalam proses penyembuhan.

e) Ternak yang kurang darah (anemia).

f) Kelemahan tubuh secara umum.

2. Penularan

Penyakit ini tidak menular.

Tanda tanda penyakit

a) Perut sebelah kiri membesar, menonjol keluar dan kembung berisi gas.

b) Ternak tidak tenang, gelisah, sebentar berbaring lalu segera bangun.

c) Ternak mengerang kesakitan.

d) Nafsu makan turun bahkan tidak mau makan.

e) Ternak bernapas dengan mulutnya.

f) Pada saat berbaring, ternak menjulurkan lehernya untuk membebaskan angin/ gas dari perut.

4. Pencegahan

a) Jangan menggembalakan/ melepas ternak terlalu pagi, karena rumput masih mengandung embun.

b) Jangan membiarkan ternak terlalu lapar.

c) Hijauan yang akan diberikan hendaknya dilayukan terlebih dahulu.

d) Jangan memberikan makanan yang sudah rusak/ busuk/ berjamur.

e) Jangan memberikan rumput muda atau rumput yang basah karena embun/ hujan dan rumput yang bercampur kotoran.

f) Menghindari leguminosa yang terlalu banyak dalam ransum.

g) Hindari pemberian rumput/ hijauan yang terlalu banyak, lebih baik memberikan sedikit demi sedikit tetapi sering kali.

5. Pengobatan

a. Secara medis

Anti Bloat (bahan aktif: Dimethicone), dosis sapi/ kerbau: 100 ml obat diencerkan dengan 500 ml air, sedang untuk kambing/ domba: 25 ml obat diencerkan dengan 250 ml air, kemudian diminumkan.

Wonder Athympanicum, dosis: sapi/ kerbau: 20 50 gram, sedang untuk

kemudian

kambing/

diminumkan.

domba:

5

20

gram,

dicampur

air

secukupnya,

b. Secara tradisional.

100 200 ml minyak goreng/ minyak kelapa dicampur minyak kayu putih/ minyak atsiri lainnya, kemudian diminumkan.

Ternak diberi gula merah yang disedu dengan asam Jawa.

Jahe (secukupnya) digiling, tambahkan 1 sendok teh kopi bubuk, campurkan dengan 100 150 ml air . Berikan setiap hari sampai sembuh.

Jahe (secukupnya) digiling, gosokkan pada tubuh ternak 1- 3 kali/hari.

Berikan daun pepaya segar sebagai pakan.

Satu sendok teh kopi bubuk, satu sendok teh garam, campurkan dengan air sebanyak 100 150 ml. Berikan setiap 2 kali sehari sampai sembuh. 6. Hubungan Kesehatan Masyarakat:

Tidak ada, artinya penyakit ini tidak menular kepada manusia dan apabila dipotong dagingnya dapat dikonsumsi.

8.2

Ketosis Ketosis adalah kelainan fisiologis yang biasanya terjadi pada sapi perah beberapa minggu post partum. Tanda-tanda ketosis antara lain anorexia, atony rumen, konstipasi, turunnya produksi susu dan penurunan berat badan. Kelainan ini dapat terjadi dalam bentuk primer ataupun sekunder. Ketosis primer adalah kelainan metabolik yang terjadi apabila tidak disertai kondisi patologis lainnya, sedangkan ketosis sekunder adalah dampak dari kelainan patologis lainnya seperti milk fever, mastitis, metritis atau retensio sekundinarum. Mekanisme yang menyebabkan ketosis belum diketahui dengan pasti. Salah satu penyebab utamanya adalah kebutuhan glukosa yang meningkat untuk sintesa susu pada awal masa laktasi karena sapi akan memanfaatkan cadangan lemak tubuh sebagai sumber energi. Namun oksidasi asam lemak yang tidak sempurna terjadi dan terbentuk badan-badan keton, level gula darah turun, keton dalam darah meningkat dan terjadi infiltrasi lemak dalam jaringan hati. Faktor penyebab kunci terjadinya ketosis yaitu tidak cukupnya pasokan energi dan protein setelah sapi beranak. Pengobatan yang sering dilakukan pada sapi yang menderita ketosis adalah infus glukosa intravena. Dalam beberapa kejadian injeksi glukokortikoid juga sering dilakukan.

Tindakan terbaik yang dapat dilakukan adalah pemberian pakan yang sangat palatable yang akan menstimulasi pasokan bahan kering dan energi. Ketosis dapat dicegah dengan pemberian ransum seimbang pada masa awal laktasi dan memaksimalkan pasokan bahan kering pada ransumnya. Hendaknya sapi diberikan hijauan dengan kualitas yang baik terutama pada awal masa laktasi. Perhatian khusus sangat diperlukan pada masa kering kandang, sapi tidak boleh terlalu gemuk. Pemberian niacin pada ransum 2 minggu sebelum melahirkan sampai dengan 10 hari setelah melahirkan dapat membantu mencegah terjadinya ketosis

8.3 Grass Tetany Grass Tetany adalah gangguan metabolisme yang serius diindikasikan dengan rendahnya level magnesium dalam darah. Grass tetany juga disebut grass staggers dan white pasture poisoning. Penyakit ini biasanya terjadi pada induk betina yang sedang menyusui anaknya kurang dari umur dua tahun, namun penyakit ini juga dapat terjadi pada sapi perah dara maupun pada fase kering serta dapat terjadi pada pedet pada fase pertumbuhan. Hal tersebut sering terjadi pada ternak sapi yang menkonsumsi rumput dengan kadar air yang tinggi atau rumput yang umurnya mash terlalu muda biasanya terjadi pada ternak yang dipelihara di lahan penggembalaan. Pemupukan yang kaya nitrogen akan mengakibatkan penurunan ketersediaan magnesium, khususnya untuk tanah yang tinggi kadar potassium atau aluminium. Grass tetany sering terjadi pada musim dingin (suhu pada kisaran 45-60 ºF), ketika rumput tumbuh dengan subur atau saat musim gugur diikuti dengan tumbuhnya tanaman baru.

Grass tetany ditandai dengan tidak terkoordinasinya pergerakan dan diakhiri dengan, menggigil koma, dan kematian. Ternak-ternak pada lahan penggembalaan diketahui megalami kematian tanpa sakit. Menggigil biasanya tampak pada ternak jika ternak menderita grass tetany hingga mengalami kematian.

Tindakan pencegahan tergantung besarnya kondisi penyebab timbulnya penyakit tersebut yang harus ditangani. Kurangi akses ternak terhadap hijauan yang beresiko tinggi jika mengkonsumsinya. Sapi jantan, sapi dara, sapi perah, dan induk sapi yang

memiliki anak berumur lebih dari 4 bulan rentan terserang penyakit ini. Penggunaan dolomit atau batu kapur yang kaya magnesium pada hijauan termasuk leguminosa dalam padang campuran akan menurunkan resiko terserangnya penyakit grass tetany pada ternak umbaran. Suplementasi akan meningkatkan lavel magnesium dalam darah dan mengeliminir kejadian grass tenany selain itu pemberian magnesium pada pakan dalam jumlah yang sesuai juga dapat mencegah timbulnya penyakit tersebut.

8.4 Milk Fever Kasus milk fever (hypocalcemia) ditemukan selama duapuluh tahun terakhir pada peternakan domba. Domba betina yang sedang menyapih selama dua sampai tiga minggu. Domba betina yang berukuran sedang, galur murni Katahdin dikawinkan dengan domba jantan ¾ Dorper. Memperoleh 2 lbs pakan barley per hari dan 2 lbs campuran rumput/clover hay, yang pemberiannya tidak secara bersamaan. Domba- domba tersebut juga menapatkan campuran mineral secara bebas. Setelah beberapa hari ditemukan domba-domba tesebut mengalami kelumpuhan. Kondisi tersebut dimungkinkan adalah milk fever, permasalahan yang timbul selama periode akhir masa kebuntingan. Domba-domba tersebut menerima pakan yang rendah kandungan kalsiumnya. Berley dan rumput-rumputan relatif rendah kandungan kalsiumnnya, sehingga tidak banyak kontribusinya jika diberikan pada ternak. Khususnya untuk ternak pada periode akhir kebuntingan tidak direkomendasikan memberikan hanya hijauan berupa rumput-rumputan. When I returned from my trip and fed my sheep that evening, they didn't go after the feed like they normally had. One ewe was off feed completely. I checked with my neighbor and she said everything had been fine while I was gone. I went to bed, hoping that everything would be back to normal the next morning. But, the next morning, I found another ewe down, splayed out, with her head cocked back. Her temperature was normal and she was slightly bloated. There wasn't much life left in her. The ewe that had not eaten the night before was sluggish and still not eating. She had a stilted gait. When ewes go off feed or down during late pregnancy, my first thought is pregnancy toxemia (ketosis), and I went ahead and gave the mobile ewe a dose of

propylene glycol. The downed ewe was in no shape to receive oral therapy, plus I

had

serious doubts about it being ketosis because the ewes were receiving a ration

that

was more than adequate in energy. Thus, my next thought was milk fever,

another likely problem during late pregnancy. I knew that the ewes were receiving

very

little calcium through the barley and with the hay not containing a lot of clover

and

being of poor quality (stemmy), not much calcium was being provided there

either. I zeroed in on milk fever. Obviously, these two ewes had not been consuming adequate amounts of the free choice mineral, particularly with respect to

their increasing needs for calcium during late gestation.

I administered calcium gluconate under the skin and while this might have been adequate for the one ewe, it would not get into the bloodstream quick enough for the downed ewe. It was a race against the clock to save her. It had been awhile (since graduate school ) since I had bled ewes via the jugular vein, so I elected to call a vet. I am new to the area and I thought this would also be a good opportunity to

establish a relationship with a local veterinarian. He arrived within two hours and administered calcium and dextrose via jugular IV to both ewes. After receiving calcium intravenously, the down ewe lifted her head and began to show interest in her surroundings. She changed positions for the next several hours

and began to nibble on grain and hay that evening. Over the next four to five days her appetite remained very poor, particularly with respect to the grain, so I continued to administer calcium subcutaneously. I dosed her with propylene glycol twice a day and gave her an injection of vitamin B-complex to stimulate her appetite. She is now fully recovered from her near-death experience. The other ewe received an additional oral dose of calcium and was back to normal within a day. I dosed a few other ewes that were looking dopey with oral calcium.

This mini-outbreak of milk fever gave me cause to re-evaluate my ration and make

adjustments to keep it from happening again. In addition to whole barley, the ration now contains a commercial 38% protein-mineral-vitamin pelleted supplement. I

mix enough supplement into the barley so that the ewes receive their daily NRC

requirements of calcium through the hay and grain ration and do not have to rely on the free choice mineral to meet their calcium needs. A blood sample from the

downed ewe had revealed a calcium level of 2.69 (normal range is 9.1 to 10.8).

Milk fever is different in sheep as compared to dairy cattle in that ewes oftentimes develop symptoms pre-lambing, as was the case here. Milk fever may also occur around lambing, as the ewe's hormones may inhibit her ability to sufficiently mobilize calcium reserves. The symptoms of milk fever and ketosis are similar, though milk fever seems to develop more suddenly. The differential diagnosis is the ewe’s response to calcium therapy. The key to both conditions is early recognition, proper treatment and eliminating the predisposing factors.

8.5 White Muscle Disease (WMD) Pengertian White muscle disease (WMD) adalah penyakit degenerasi fungsi otot yang ditemukan pada sebagian besar ternak. Penyakit tersebut diakibatkan oleh defisiensi selenium dan/atau vitamin E. Sebenarnya masih diragukan antara keduanya. Defisiensi selenium (Se) berhubungan dengan defisiensi selenium pada tanah dan tidak mencukupinya intake selenium hijauan yang tumbuh pada lahan pertanian tersebut. Beberapa area di Amerika Serikat, termasuk Amerika bagian Timur Laut (Northeast) dipandang sebagai wilayah yang rendah level seleniumnya. Defisiensi selenium terjadi ketika kandungan dalam tanah kurang dari 0,5 mg Se/kg tanah dan termasuk tanaman pertanian yang mengandung kurang dari 0,1 mg Se/kg hijauan tanaman pertanian.

Defisiensi vitamin E tergantung pada tipe tanah dan akan direfleksikan terhadap kualitas hijauan. Ternak yang merumput biasanya megkonsumsi vitamin E dalam jumlah yang cukup. Hal tersebut dikarenakan leguminosa yang segar dan tanaman pastura merupakan sumber vitamin E yang sangat baik, sedangkan silase, biji-bijian, butir-butiran serealia, dan hijauan kering cenderung merupakan memiliki kandungan vitamin E yang rendah. Penyimpanan bahan pakan dalam kurun waktu yang lama menakibatkan penurunan akivitas vitamin E sebesar 50% per bulan. Pada kasus WMD, defisiensi selenium dan vitamin E menimbulkan gejala yang mengakibatkan kerugian ekonomis dan gangguan fungsi reproduksi : menurunkan laju konsepsi, fetal reabsorption, dystocia, retained placenta, penurunan produksi susu, dan penurunan kualitas semen. Hal tersebut dapat mengakibatkan laju pertumbuhan

yang rendah atau kelemahan selama periode pertmbuhan. Domba mengkonsumsi pakan yang rendah kandungan selenium akan memproduksi wool dengan kuantitas yang rendah dan meningkatkan kasus kejadian periodontal disease. Selenium dan vitamin E juga memegang peranan yang penting dalam respon kekebalan tubuh yang normal. Symptoms Seluruh breed domba dan kambing berpotensi untuk terserang WMD, dan kondisi tersebut dapat berkembang baik pada sisem pemeliharaan intensif maupun system pemeliharaan ekstensif. WMD biasanya ditemukan pada ternak yang baru saja lahir dan ternak yang sedang pada fase pertumbuhan pesat. All breeds of sheep and goats are suceptible to WMD, and the condition may develop under extensive or intensive management systems. WMD is most commonly found in newborns or fast growing animals. Kids are believed to be more susceptible than lambs, possibly because they have a higher requirement for selenium. The disease can affect both the skeletal and cardiac muscles. When the skeletal muscles are affected, symptoms vary from mild stiffness to obvious pain upon walking, to an inability to stand. Lambs/kids may tremble in pain when held in a standing position. A stiff gait and hunched appearance are common. Affected lambs/kids may remain bright and have normal appetites, but eventually they become too weak to nurse. When the problem occurs in newborns, they are born weak and unable to rise. Sudden exercise may trigger the condition in older lambs and kids. When the disease affects the heart, the animal shows signs similar to pneumonia, including difficult breathing, a frothy nasal discharge (may be blood stained), and fever. The heart and respiratory rates are elevated and often irregular. Skeletal and cardiac muscle disease may occur concurrently. Selenium deficiency can be confirmed by measuring selenium levels in whole blood or tissues. A diseased animal will have less than 0.04 ppm of selenium in its blood. Breeding ewes require more selenium, and their blood levels should be over 0.5 ppm. At necropsy, the muscles of affected animals appear paler than normal and may show distinct longitudinal striations or a pronounced chalky appearance due to abnormal calcium deposition.

Gambar 25. Domba yang teserang penyakit white muscle disease Treatment Treating the heart form of

Gambar 25. Domba yang teserang penyakit white muscle disease Treatment Treating the heart form of WMD is usually ineffective and those that survive often do not thrive because of the residual cardiac damage. The muscle form of the disease can be successfuly treated with supplemental selenium and/or vitamin E. Producers need to follow label directions carefully when using selenium for treatment. The concentrations of selenium (per ml) vary greatly with each product, and excessive or repeated injections can result in selenium toxicity and possibly death. The commercially available selenium/vitamin E product(s) commonly used in the U.S. do not contain therapeutic levels of vitamin E. Additional vitamin E may need to be provided through an injection of vitamin E alone or through oral vitamin E products. Affected animals usually respond favorably to a single treatment of vitamin E and/or selenium in 24 hours, though recovery may not be complete, depending upon the severity of the condition. Animals which do not respond to treatment may be treated a second time. Treatment should not exceed two doses. Tindakan Pencegahan Deficiencies occur when animals are fed poor-quality hay or straw or lack access to pasture. High concentrations of other minerals (e.g. calcium, sulfur, copper) and feed contaminants (e.g. nitrate, unsaturated fats, sulfates) may decrease absorption of selenium in the small intenstine. Diets high in polyunsaturated fatty acids or deficient in Vitamin C and/or beta-carotene increase vitamin E requirements, whereas adequate dietary selenium is almost completely protective against vitamin E deficiency.

WMD can be prevented by supplementing the diet of susceptible animals with selenium and vitamin E. Since it occurs mostly in lambs and kids whose mothers were fed a selenium-deficient diet, supplementation of pregnant animals helps reduce disease in newborns. This is because selenium is transferred from dam to fetus across the placenta and also is present in the colostrum. While not much Vitamin E is transmitted across the placenta, colostral levels of Vitamin E increase with ewe/doe supplementation.

While pasture, hay, grain, and other supplements can be analyzed to determine the amount of selenium to be added to supplemental feeds, it is important to note that selenium supplementation is controlled by law. For sheep, selenium can be supplemented in a complete ration at a level up to 0.3 ppm, in a feed supplement so that the intake of selenium does not exceed 0.7 mg per head per day, and in salt/mineral mixes at 90 ppm as long as total daily consumption does not exceed 0.7 mg/head/day. Selenium supplementation of feed has not been approved specifically for goats. Injectable selenium compounds are available to prevent WMD in at risk-animals; however, injections are a poor alternative compared to routinely providing adequate selenium and vitamin E in the diet. Ideally, the total diet for sheep and/or goats should contain 0.10 to 0.30 ppm of selenium.

Rangkuman

1. Penyakit yang diakibatkan oleh gangguan metabolisme pada ternak ruminansia meliputi : boat, grass titany, white muscle disease, dan milk fever.

2. Bloat adalah bentuk penyakit/ kelainan alat pencernaan yang bersifat akut, yang disertai penimbunan gas di dalam lambung ternak ruminansia.

3. Grass titany adalah gangguan metabolisme yang serius diindikasikan dengan rendahnya level magnesium dalam darah. Grass tetany juga disebut grass staggers dan white pasture poisoning

4. Ketosis adalah kelainan fisiologis yang biasanya terjadi pada sapi perah beberapa minggu post partum. Tanda-tanda ketosis antara lain anorexia, atony rumen,

konstipasi, turunnya produksi susu dan penurunan berat badan.

5. White muscle disease adalah penyakit dgenerasi fungsi otot, ditemukan pada sebagian besar ternak disebabkan karena defisiensi selenium.

6. Milk fever adalah gangguan metabolisme yang diakibatkan oleh defisiensi kalsium pada ternak perah pada periode laktasi. sehingga mengakibatkan kelumpuhan pada ternak akibat mobilisasi kalsium dari tulang

Latihan Soal

1. Sebutkan penyakit yang diakibatkan karena gangguan metabolisme pada ternak

ruminansia.

2. Sebutkan penyebab, tanda-tanda, dan pencegahan terhadap penyakit ;

a. Bloat

b. Grass titany

c. White muscle disease, dan

d. Milk fever

e. Ketosis

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 1992. Penyakit Thympani (Kembung Perut) Pada Ternak Sapi. BIP.Sulut.

Church., 1988. Physology of Ruminant.

Chuzaemi ,S., dan Bruchem J. V. 1990. Fisiologi Nutrisi Ruminansia. LUW- Universitas Brawijaya.

D.G. Pugh., 2002 .Sheep & Goat Medicine edited by D.G. Pugh (2002); Goat Medicine by Mary C. Smith and David M. Sherman (1994); and Sheep Production Handbook by the American Sheep Industry Association (2002)

Gibney , M.J. and I. A. Macdonald. 2003. Nutrition and Metabolism. Blackwell Sciece. USA.

J.Wagner dan T.L. Stanton. 2006. Livestock Series Management : Formulating Ration With the Pearson Square no.1.618. Colorado State University Cooperative Extention.

Rook J. A. F. Nutritinal Physiology of Farm Animal. Edited by J. A. F. Rook and P. C. Thomas. Longman London and New York.

Kartadisastra, H.R. (1997). Penyediaan & Pengelolaan Pakan ternak Ruminansia (Sapi, Kerbau, Domba, Kambing). Yogyakarta, Kanisius

Pratiwi ,T., dkk. 1990. Diktat Fisiologi Ternak. Universitas Brawijaya.

Preston and Leng., 1992. Ruminant Production System with Avalable Process in The Tropic and Subtropic

Soebarinoto, Chuzaemi,S., Mashudi. 1991. Ilmu Gizi Ruminansia. Universitas Brawijaya.

Svendson ,P.,A.M. Carter. 1984. An Introduction for Animal Physilogy

Tillman A, D., Hartadi, H., Reksohadiprodjo S., Prawirokusumo S., dan Lebdosoekojo S

1998. Ilmu Makanan Ternak Dasar

Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

W. A. Edwards and K. A. Hassall. 1996. Cellular Biochemistry and Physiologi,. McGraw- Hill Kogakusha,Ltd.

Yulianti D. L., Krisnaningsih, A.T.N., dan Kustyorini, T.I., 2013. Model Evaluasi Suplementasi Minyak Ikan Terproteksi Untuk Mewujudkan Kualitas dan Produktivitas Kambing Di Kecamatan Doko Kabupaten Blitar. Penelitian Dosen Pemula 2013.