Anda di halaman 1dari 2

BAB 1.

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Sejalan dengan meningkatnya kebutuhan manusia dan tekanan terhadap
lingkungan mengakibatkan menurunnya jumlah beberapa biota perairan, sehingga
timbul kelangkaan biota perairan seperti penyu, paus, dugong, napoleon dan biota
lainnya. Dalam rangka penyelamatan sumberdaya alam laut dari ancaman
kepunahan akibat penangkapan lebih di alam (overfishing) diperlukan upaya
konservasi. Tujuan utama kegiatan konservasi adalah perlindungan terhadap
spesies yang terancam punah dan keberlanjutan pemanfaatan beberapa spesies
yang mempunyai nilai ekonomi, disamping tujuan lain yang tidak kalah
pentingnya seperti memelihara kualitas lingkungan atau ekosistem yang tetap baik
dan lestari.
Ikan napoleon (Cheilinus undulatus) merupakan ikan karang berukuran besar
anggota dari familia Labridae, dengan ukuran bisa mencapai 2 m dan berat 190
kg. Ikan ini mempunyai pola reproduksi hermaprodite protogini dengan sebaran di
wilayah perairan india-pasifik (Sadovy et al., 2003). Ikan napoelon merupakan
salah satu potensi sumber daya ikan yang bernilai ekonomis tinggi di Indonesia,
perdagangan internasional ikan napoleon sudah dilakukan sejak lama dan
merupakan salah satu sumber pendapatan yang begitu menggiurkan bagi
masyarakat nelayan ikan karang di Indonesia. tingginya harga ikan napoleon di
pasar internasional telah menyebabkan tingginya tekanan eksploitasi terhadap
spesies tersebut, bahkan banyak pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab
menggunakan cara-cara yang bersifat merusak, seperti penggunaan racun sianida
untuk menangkap ikan napoleon.
Tingginya tingkat eksploitasi ikan napoleon ini telah menyebabkan jumlah
populasi di beberapa wilayah perairan mengindikasikan adanya penurunan
populasi secara drastis, disamping itu penggunaan racun sianida tersebut juga

berdampak pada kerusakan ekosistem terumbu karang dan menyebabkan


menurunnya produktivitas sebagian perairan karang di Indonesia.
Penurunan kualitas terumbu karang ini tidak hanya mengancam kelestarian ikan
napoleon, tetapi juga menyebabkan penurunan jumlah
ikan karang ekonomis penting lainnya, yang juga merupakan
sumber pendapatan masyarakat nelayan di perairan karang. Menurut Sadovy et.
al(2007) akibat dampak penangkapan berlebih untuk perdagangan ikan karang
hidup, ikan napoleon rentan (vulnerable) mengalami kepunahan. Penangkapan
ikan napoleon umumnya menggunakan racun sianida dan merusak ekosistem
terumbu karang. Penurunan drastis diberbagai tempat menyebabkan ikan
napoleon dimasukkan ke dalam daftar CITES appendix II pada tahun 2004.
Walaupun ikan napoleon sudah lama dieksploitasi, data dan informasi yang
tersedia terkait data potensi populasi ikan tersebut belum diketahui secara pasti,
hal ini disebabkan karena luasnya wilayah perairan laut yang harus disurvei
populasinya dan terbatasnya jumlah tenaga peneliti yang tersedia. Untuk
mengantisipasi hal tersebut diperlukan langkah-langkah kongkrit sehingga data
dan informasi tentang potensi napoleon dapat tersedia sebagai dasar dalam
penyusunan kebijakan dan pemanfaatan berkelanjutan ikan napoleon di Indonesia.
Tujuan
Pedoman identifikasi dan survey populasi ikan napoleon ini disusun dengan
tujuan dapat menjadi acuan bagi berbagai pihak terkait untuk melakukan
identifikasi dan survei populasi ikan napoleon (Cheilinus undulatus), sehingga
tidak terjadi kesalahan dalam mengidentifikasi ikan napoleon di lapangan dan
adanya keseragaman metode pelaksanaan survei.