Anda di halaman 1dari 3

HIDAYAH DATANG SENDIRI ATAU DICARI?

Oleh: MASRIZAL

Narasumber pada Diskusi Materi Pokjaluh Kota Pekanbaru


Senin 07 Nopember 2016
Cara datangnya hidayah:
Hidayah dapat datang melalui kebahagiaan, juga dapat datang ketika mendapat musibah.
Hidayah juga bisa datang melalui orang lain, bisa datang atas kesadaran sendiri, atau bisa datang
karena pengalaman hidup. Di tulisan singkat ini tidak saya berikan contoh rinci bagaimana cara
datangnya hidayah tersebut, mungkin sidang pembaca pernah menyaksikan sendiri atau bahkan
mungkin mengalami sendiri. Pembaca sering menyaksikan seorang menjadi lebih taat kepada Allah
lantaran mendapatkan kebahagiaan, tidak jarang pula seseorang justru melupakan Allah setelah
mendapatkan kebahagiaan. Begitu pula tidak jarang terjadi seseorang menjadi taat kepada Allah
setelah menerima musibah, banyak pula orang menjauhkan diri dari Allah lantaran mendapat musibah.
Selanjutnya ada orang yang menjadi insyaf atas dorongan keinginan sendiri, atau lantaran nasehat
orang lain.
Cara seseorang menyikapi kedatangan hidayah:
Adapun cara seseorang menyikapi hidayah dapat dikelompokkan dalam 5 (lima kelompok)
yaitu: Pertama; menyambut kedatangan hidayah itu. Kedua; menolak hidayah. Ketiga; mencari
hidayah. Keempat; menunggu pihak lain untuk mengantar menerima hidayah. Kelima; menunda
pelaksanaan hidayah, sekedarnya mencari tahu lebih dahulu tentang hidayah.
1. Menyambut kedatangan hidayah.
Adakalanya hidayah itu datang tiba-tiba, tanpa direncanakan tanpa diminta. Dapat saja
kedatangan ada lantarannya. Contoh: seorang kakek yang sudah berusia, selama ini tidak rutin
bersujud kepada Allah. Sebagai bukti bahwa dianya beragama, hanya terlihat di hari raya. Ikutlah dia
meramaikan shalat ied bersama sanak keluarga dan tetangga.
Generasi berikutnya datang, cucunya lahir dan lingkungan membentuk cucunya menjadi ahli sholat,
hampir setiap waktu ikut berjamaah di mushola sekolah dibimbing guru mereka.
Suatu ketika si cucu dengan kakek berpergian keluar kota. Sampai waktu sholat zuhur si cucu minta
diberhentikan kalau pas ada masjid sebelah kiri jalan. Si cucu minta temani kakeknya mampir dan
sholat di masjid. Tidak hanya itu, karena perjalanan masih jauh dan dikhawatirkan sampai ke tujuan
sudah lewat waktu ashar si cucu mencontohkan kepada kakeknya shalat jama taqdim untuk shalat
ashar.
Terenyuh hati sang kakek, tidak terasa berderai air matanya menyaksikan cucunya yang
masih bersih dari dosa, sudah begitu taat menjalankan agama. Terasa ditiup dingin ubun-ubun si
kakek, bagaikan ada bisikan ikuti cucumu itu.
Selanjutnya mulai masuk hidayah kapada si kakek karena ada sambutan dalam diri si kakek.
Semula lantaran terpanggil (terhidayah) perangai cucu, maka setiap Jumat si kakek mulai ikutan ke
masjid, ngawankan cucu yang dipulangkan agak awal oleh sekolah. Diantara khutbah Jumat ada pula
yang dapat menguatkan tertancapnya hidayah kerelung hati si kakek, akhirnya si kakek mendapatkan
hidayah dan menyambut hidayah tersebut. Bahkan kini kakek menjadi pengurus masjid dan paling
depan dalam menyumbang pembangunan dan kemakmuran masjid. Contoh lain banyak sekali
tentang bagaimana orang yang menyambut kedatangan hidayah.
2. Menolak hidayah.
Kalau mau pakai contoh di atas, ditemukan juga kakek yang ia tetap tidak turun dari mobil,
walau si cucu mampir di masjid untuk sholat. 99 alasan dapat dikeluarkan si kakek kepada cucunya

agar dapat dipahami supaya dianya tidak ikut sholat. Dapat saja lagi capek, pakaian kotor agak sakit
dan sebagainya. Ini namanya menolak hidayah. Dulu di suatu daerah dekat pemakaman umum, di pos
ronda setempat dekat komplek kuburan itu, sibuk kegiatan group bermain kartu dengan taruhan uang,
iseng-iseng katanya bukan judi. Tapi apapun namanya masuklah dia dalam lingkaran menentang
Allah, yaitu mengerjakan yang dilarangnya. Orang yang dapat hidayah tentu tidak mau melaksanakan
perbuatan itu. Jika katanya hidayah belum datang, maka hal itu sangat dapat dibantah sebab: sehari
kadang lima enam jenazah yang masuk ke dalam kubur dipekuburan itu. Selain itu dekat pula dengan
masjid. Setiap waktu berkumandang adzan. Setiap selesai shalat magrib ada saja ustadz yang
memberikan ceramah agama. Jenazah yang melewati mereka sehari beberapa kali itu apakah bukan
hidayah. Adzan setiap waktu itu apakah bukan hidayah. Ustadz yang memberikan pesan moral hampir
setiap hari itu apakah bukan hidayah. Tapi ternyata mereka ini kelompok yang menolak hidayah.
Mereka tidak bergeming, walau adzan terdengar nyaring, namun kartu tetap dibanting.
3. Mencari hidayah.
Adalah manusiawi hampir setiap manusia, bila sudah masuk dalam usia senja, ketika linu
dibadan hampir setiap hari sudah terasa. Ketika antara sehat dan sakit hampir tidak lagi ada beda.
Ketika uban dikepala tumbuh sudah merata. Disaat seperti itu orang sudah berusaha untuk mencari
pegangan hidup, untuk bekal mati. Sebenarnya sudah terlambat, tetapi lebih baik terlambat dari pada
tidak sama sekali. Dalam kondisi ini, kadang orang akan mendekati siapa saja yang mudah didapat
untuk memberikan panduan mencari bekal akhirat. Mulai sangat rajin datang ke masjid, berusaha
tidak absen mendengar ceramah para ustazd. Orang seperti ini namanya mencari hidayah setelah
diujung perjalanan hidup. Tidak kurang pula banyaknya anak-anak muda dalam usia yang produktif
sudah mulai menekuni ibadah dan terus menerus mencari hidayah.
Adalah baik perlakuan masyarakat tradisional di daerah-daerah kebanyakan di belahan
nusantara ini, yaitu membekali anak-anak sejak usia bawah lima tahun dengan pelajaran agama. Anak
lelaki tidak lebih dahulu dikhitan bila belum khatam membaca Al-Quran, ketika akan di khitan
diadakan acara khataman Al-Quran. Remaja putri ketika akad nikah melakukan khataman Al-Quran,
jadi mau tidak mau harus pandai baca Al-Quran.
Walau kemudian dalam perjalanan hidup, kadang dikarenakan berbagai faktor, sempat anakanak tadi setelah diewasa berada di daerah lain, sempat terjauh dari hidayah. Pada masa tuanya
insya Allah mereka nanti kembali mencari hidayah yang pernah hilang itu, satu dan lain karena
memang yang bersangkutan sudah punya modal awal, modal dasar yaitu dapat membaca Al-Quran.
Jadi orang tua di daerah-daerah membekali anak-anak BALITA dengan pengetahuan agama,
bagaikan telah menyiapkan lahan dihati anak-anak mereka untuk hidayah dapat bersemi. Hidayah
tersebut akan tumbuh subur tergantung pemeliharaan dan perawatan oleh tempaan situasi dan
kondisi lingkungannya. Setidaknya dimasa tuanya nanti kalau panjang umur dia akan kembali
menerima hidayah itu.
4. Menunggu pihak lain mengantar untuk menerima hidayah.
Ada juga orang yang hatinya sudah tersentuh hidayah, melalui bacaan, melalui tontonan, melalui
pendengaran. Tetapi yang bersangkutan belum meraih hidayah tersebut disebabkan kadang adanya
rasa malu untuk masuk ke majelis hidayah, takut dikatakan alih-alih, dikatakan orang alim baru. Orang
seperti ini dapat diibaratkan seseorang yang bertanya kemudian tau akan alamat masjid seperti di
awal tulisan saya di atas, tetapi untuk menuju masjid itu dianya belum dapat pergi sendiri, minta untuk
diajak. Kadang ada orang yang takut dan ragu-ragu masuk masjid; nanti setelah sampai di masjid
bagaimana caranya masuk, bagaimana caranya duduk bagiamana caranya wudhu dan lain-lain.
Orang ini butuh media orang lain untuk mengantarkannya meraih hidayah. Insya Allah bila sudah
sekali, yang bersangkutan akan berani untuk menggapai hidayah itu sendiri.
5. Menunda pelaksanaan hidayah, Sekadar tau lebih dahulu tentang hidayah.
Kelompok ini adalah mereka sudah mengetahui tentang ketentuan-ketentuan agama termasuk
di dalamnya seperti yang saya contohkan di butir 3 di atas yaitu telah berbekal pengetahuan agama
sejak masih muda. Mereka menunda melaksanaan ketaatan kepada Allah, nanti setelah masa tua.
Ibarat pemuda yang bertanya di awal tulisan ini, dia sudah tahu bahwa di daerah kampus UI Salemba

ada sebuah masjid. Nanti kapan-kapan kalau dia sudah punya kesempatan dilain waktu bila melewati
UI Salemba dapat mampir di masjid tersebut. Tapi bagi orang yang memberi tahukan alamat tadi akan
bertanya-tanya di dalam dirinya, maunya apa pemuda yang tanya tadi, sudah diberi tahu malah ndak
menuju ke masjid. Alasan orang yang menunda hidayah ini biasanya, masih muda atau belum siap,
pikiran masih kalut, ekonomi belum mapan dan banyak lagi. Dia lupa bahwa yang namanya mati tidak
menunggu tua, tidak menunggu pikiran jernih, tidak menunggu ekonomi sudah mapan dan lain
sebagainya. Banyak orang bernasib seperti daun kangkung justru dipetik ketika masih muda. Banyak
orang meninggal semasa baru saja menikah diusia muda. Ada pula orang yang meninggal ketika
sedang bersalaman dengan wali nikah. Banyak lagi contoh meninggal ini, benar-benar dapat terjadi
sembarang waktu, sembarang usia, sembarang tempat, sembarang keadaaan.
Jadi hidayah apakah datang sendiri, atau harus dicari, kalau dia sudah datang apakah
langsung diterima, atau ditolak atau diterima sekedar untuk diketahui dulu. Perlukan dipersiapkan
lahan dihati anak-anak usia dini untuk hidayah dapat bersemi, adalah suatu tradisi yang patut dipuji,
patut dilanjutkan karena manfaatnya sudah teruji.