Anda di halaman 1dari 4

9.

1 Metode Pengumpulan Data Sekunder


Metode pengumpulan data sekunder sering disebut metode pengumpulan bahan dokumen
karena peneliti tidak secara langsung mengambil data sendiri tetapi meneliti dan
memanfaatkan data atau dokumen yang dihasilkan oleh pihak-pihak lain (peneliti sebagai
tangan kedua). Data sekunder dapat diperoleh dari berbagai sumber seperti Biro Pusat
Statistik(BPS), buku, laporan keuangan, jurnal, media massa, catatan atau laporan historis
yang telah tersusun dalam arsip (data dokumenter) yang dipublikasikan dan yang tidak
dipublikasikan.
Data sekunder dapat diperoleh dengan cara :
a. Pecarian Secara Manual
Pencarian data manual meliputi penelusuran data sekunder secara fisik melalui
penggunaan indeks, bibliografi, dan referensi pustakawan. Metode ini merupakan
metode yang paling sering dipergunakan karena sebagian besar organisasi bisnis
belum mempunyai database yang komprehensif. Untuk menemukan data dengan
metode ini, diperlukan pengetahuan tentang metode penyimpanan data yang
dipergunakan dan lokasi dari data yang diperlukan. Data sudut pandang peneliti,
lokasi data sekunder dapat dipisahkan menjadi internal dan eksternal. Data internal
merupakan data yang sudah tersedia di lapangan sedangkan data sekunder merupakan
data yang dapat diperoleh dari berbagai sumber lain.
Lokasi Internal :
Lokasi internal dapat dibagi menjadi dua sumber informasi yaitu dari database
khusus dan umum. Database khusus biasanya berisi informasi penting
perusahaan yang biasanya dirahasiakan dan tidak disediakan untuk umum,
misalnya data akuntansi, keuangan, personalia, dan proses produksi. Database
umum berisi informasi yang berasal dari luar perusahaa, namun dikumpulkan
dan disimpan dalam perusahaan untuk kepentingan pengambilan keputusan.
Hambatan utama bagi peneliti dalam penggunaan data internal adalah belum
terdapatnya standarisasi penyajian data. Namun dalam perusahaan yang sudah
terdafar di BEI (Bursa Efek Indonesia) data perusahaan yang sudah
dipublikasi telah disusun berdasarkan aturan-aturan yang berlaku bagi semua
perusahaan. Sehingga informasi yang disajikan dapat dibandingkan antara
satu perusahaan dengan perusahaan lain.
Lokasi Eksternal
Lokasi eksternal adalah penyimpanan data di luar perusahaan. Data ini jumlah
dan jenisnya sangat banyak, dibuat dan disimpan oleh berbagai pihak. Data ini
dapat diperoleh dengan mudah di perpusatakaan umum, perpustakaan kantorkantor pemerintah atau swasta, universitas, dan Biro Pusat Statistik (BPS).
Biasanya dapat yang didapat sudah dapat digunakan langsung.

b. Pencarian Secara Kontak Langsung

Metode pencarian data sekunder melalui kontak langsung ini sangat berkembang
dinegara maju, di mana fasilitas pendukung untuk kepentingan tersebut telah tersedia.
Metode ini bisa dipergunakan oleh peneliti apabila tersedia terminal komputer yang
dipergunakan oleh peneliti yang dapat berhubungan langsung dengan sumber atau
distributor dari data sekunder yang diperlukan. Dimaksudkan dengan pencarian data
sekunder melalui kontak langsung adalah peneliti menggunakan terminal computer
tersebut dan dapat mencari data yang diperlukan secara langsung.. Beberapa alasan
penggunaan metode ini adalah sebagai berikut :
Efektivitas biaya. Penurunan waktu pencarian data dan kenaikan relevansi
data sekunder yang diketemukan membuahkan efektifitas biaya Yang tinggi.
Sifat dan nilai dari data sekunder harus dievaluasi terlebih dahulu sebelum
data tersebut dipergunakan untuk pengambilan keputusan. Baik data tersebut
adalah data internal maupun eksternal, sebelum dipergunakan untuk
pengambilan keputusan perlu dievaluasi, karena tujuan pengumpulan data
oleh lembaga yang mengumpulkan belum tentu sarna dengan tujuan peneliti.
Data sekunder, bagaimanapun merupakan informasi yang kedua bagi peneliti
apabila data tersebut relevan dan dapat diterapkan dalam pengambilan
keputusan.
Ketepatan waktu. Faktor waktu sangat menentukan apakah data sekunder
dapat dipergunakan sebagai dasar pengambilan keputusan atau tidak.
Tersedianya data pada saat diperlukan merupakan pertimbangan penting. Di
samping itu perlu diketahui apakah data tersebut merupakan data terbaru dan
masih mencerminkan keadaan sekarang. Bila telah ketinggalan jaman, data
tersebut tidak dapat dipergunakan sebagai dasar pengambilan keputusan.
Relevansi. Relevansi data sangat perlu untuk dipertimbangkan. Sangat
mungkin peneliti mempunyai data yang masih baru, namun belum tentu
relevan dengan permasalahan yang dihadapai. Data yang tidak atau kurang
relevan tidak perlu dipergunakan sebagai dasar pengambilan keputusan
walaupun merupakan data terbaru.
Akurasi. Ketelitian dalam proses pengumpulan data sekunder perlu dievaluasi
sebelum dipergunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Pada umumnya
peneliti akan menemui kesulitan untuk melihat ketelitian data, terutama dari
proses pengumpulan data oleh penyedia data sekunder. Oleh karena itu data
sekunder perlu dievaluasi dengan cermat dari sisi kelengkapan data, sumber
data, dan metode pengumpulan data yang dilakukan oleh penyedia data
sekunder
Sumber : http://www.academia.edu/16931231/07_PENGUMPULAN_DATA_SEKUNDER

9.2 Metode Pengumpulan Data Primer

Metode pengumpulan data primer menggunakan sumber data penelitian yang diperoleh
secara langsung dari sumber aslinya, tidak melalui perantara. Data primer dapat diperoleh
dengan cara wawancara, observasi dan kuesioner
9.3 Metode Wawancara / Wawancara Mendalam
Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan melalui tatap muka dan
tanya jawab langsung antara pengumpul data maupun peneliti terhadap nara sumber atau
sumber data. Wawancara pada penelitian sampel besar biasanya hanya dilakukan sebagai
studi pendahuluan karena tidak mungkin menggunakan wawancara pada 1000 responden,
sedangkan pada sampel kecil teknik wawancara dapat diterapkan sebagai teknik
pengumpul data (umumnya penelitian kualitatif).
Terdapat 2 jenis wawancara yaitu :
a. Wawancara terstruktur
Wawancara terstruktur artinya peneliti telah mengetahui dengan pasti apa informasi
yang ingin digali dari responden sehingga daftar pertanyaannya sudah dibuat secara
sistematis. Peneliti juga dapat menggunakan alat bantu tape recorder, kamera photo,
dan material lain yang dapat membantu kelancaran wawancara.
b. Wawancara tidak terstruktur
Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara bebas, yaitu peneliti tidak
menggunakan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan yang akan diajukan secara
spesifik, dan hanya memuat poin-poin penting masalah yang ingin digali dari
responden.
Ada tujuh langkah dalam penggunaan wawancara untuk mengumpulkan data dalam
penelitian yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Menetapkan kepada siapa wawancara itu dilakukan


Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan
Mengawali atau membuka alur wawancara
Melangsungkan alur wawancara
Mengkonfirmasi ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya
Menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan
Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh

Kelebihan menggunakan metode wawancara :


a. Peneliti dapat secara luwes mengajukan pertanyaan sesuai dengan situasi yang
dihadapi saat itu dan juga mengajukan pertanyaan tambahan jika ingin memperoleh
informasi tambahan.
b. Pewawancara dapat mengatur lingkungan dimana wawancara akan dilakukan
c. Kesalahpahaman antara peneliti dan responden dapat diminimalisir
Kelemahan menggunakan metode wawancara :
1. Memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang lebih besar
2. Sangat tergantung pada individu yang akan diwawancarai

3. Situasi wawancara mudah dipengaruhi lingkungan sekitar


4. Menuntut penguasaan keterampilan bahasa yang baik dari interviewer
5. Adanya pengaruh subyektif pewawancara yang dapat mempengaruhi hasil wawancara