Anda di halaman 1dari 14

Tugas Kelompok : Kelompok 10

Vega Silvia N.R


135020300111001
Arwilla Faurillie
135020300111008
Anwariza Laily
135020300111033
Latihan
1. Berdasarkan hasil diskusi dengan Langgeng Santoso :
a) Sebutkan faktor resiko apa saja yang mungkin dihadapi KAP saat
menerima perikatan audit !
Faktor resiko yang mungkin di hadapi KAP saat menerima perikatan
audit seperti dijelaskan dalam PSA Nomor 25.02, berbunyi :
Adanya risiko audit diakui dengan pernyataan dalam penjelasan
tentang tanggung jawab dan fungsi auditor independen yang
berbunyi sebagai berikut: "Karena sifat bukti audit dan karakteristik
kecurangan, auditor dapat memperoleh keyakinan memadai, bukan
mutlak, bahwa salah saji material terdeteksi. Risiko audit adalah
risiko yang timbul karena auditor tanpa disadari tidak memodifikasi
pendapatnya sebagaimana mestinya, atas suatu laporan keuangan
yang mengandung salah saji material
Setiap menerima perikatan audit, suatu KAP harus selalu siap untuk
menghadapi suatu risiko kecurangan maupun risiko salah saji meterial.
Hal ini akan selalu ada dalam setiap perikatan audit, terlepas dari
kenyataan perusahaan yang diaudit tersebut sudah terbuka atau belum.
Adapun faktor resiko yang mungkin dihadapai oleh KAP Adi Susilo
dan Rekan saat menerima perikatan audit dengan dengan PT Maju
Makmur (PSA No.70 Pertimbangan atas Kecurangan dalam Audit Laporan
Keuangan)
Inisiatif untuk memberikan sistem bonus atau insentif tunai selama

tahun 2009 dan 2010.


Rencana pemilik perusahaan, Langgeng Santoso untuk mengubah
jenis usaha perusahaan menjadi perusahaan terbuka yang sahamnya
diperdagangkan di lantai bursa guna mendapatkan tambahan dana

publik
Langgeng Santoso merasa opini yang dikeluarkan oleh KAP Umar dan
Rekan sebagai sesuatu yang menghambat rencana pengembangan
perusahaan untuk menjadi perusahaan terbuka di masa yang akan

datang.
Optimisme Langgeng Santoso akan pertumbuhan investasi finansial
yang tidak terbatas di setiap toko perusahaan melalui hubungan
distributor
Samsang.

dengan

produsen

alat

elektronik

berkualitas

tinggi,

Ketidakpuasan Langgeng Santoso atas hasil audit KAP Umar dan

Rekan terhadap laporan keuangan tahun pembukuan 2008 dan 2009.


Tingginya tingkat kompetisi dengan merk internasional lainnya

berdampak pada penurunan tren penjualan.


Menurunnya industri dengan kebangkrutan toko yang berlokasi di
Mojokerto

pada

semester

pertama

tahun

2009

serta

kondisi

penurunan penjualan yang tajam yang dialami oleh toko cabang

Sidoarjo.
Tekanan untuk mendapatkan suntikan sumber daya/pendanaan untuk

memacu pertumbuhan usaha perusahaan.


Karakteristik persediaan berupa barang elektronik dengan ukuran
kecil, bernilai tinggi, mudah dijual, dan tidak adanya identifikasi

kepemilikan.
Lokasi toko penjualan jauh dari kantor pusat di Surabaya, yaitu di

Mojokerto, Gresik, dan Kediri.


b) Bagaimana auditor harus melakukan tindakan lanjutan untuk setiap
masalah potensial pada setiap faktor resiko kecurangan jika perikatan
diterima!
Auditor harus melakukan tindakan lanjutan untuk setiap masalah
potensial pada setiap faktor resiko kecurangan jika perikatan diterima, ini
sesuai dengan PSA No.25.34 Seksi 312, yaitu:
Dalam mengevaluasi apakah laporan keuangan telah disajikan
secara wajar, dalam semua hal yang material, sesuai dengan
prinsip akuntansi yang berlaku umum di Indonesia, auditor harus
menggabungkan semua salah saji yang tidak dikoreksi oleh
entitas tersebut sedemikian rupa, sehingga memungkinkannya
untuk

mempertimbangkan

keseluruhan

telah

apakah

disajikan

salah

laporan

keuangan

secara

secara

material

dalam

hubungannya dengan jumlah individual, subtotal, atau jumlah


keseluruhan dalam laporan keuangan. Pertimbangan yang bersifat
kualitatif juga mempengaruhi kesimpulan yang diambil oleh
auditor dalam menentukan materialitas salah saji.
Tindakan lanjutan auditor atas faktor resiko kecurangan yang terjadi
di PT maju Makmur :
Mempelajari laporan audit KAP Umar dan Rekan terutama terkait

efektivitas Sistem Pengendalian Intern.


Modifikasi prosedur audit untuk memperoleh bukti yang lebih andal
atau untuk memperoleh informasi penguat tambahan dalam hal

prosedur

audit

sebelumnya

dianggap

tidak

memadai

untuk

menanggapi faktor resiko yang terdeteksi.


Surprise audit baik atas stock opname ataupun cash opname

perusahaan.
Konfirmasi lisan sebagai penguat jawaban atas konfirmasi tertulis
Melaksanakan prosedur analitik substantif pada tingkat rinci. Sebagai
contoh, membandingkan pendapatan penjualan dan biaya penjualan
(cost of sale) menurut lokasi dan kelompok bisnis dengan harapan

yang dikembangkan oleh auditor.


Wawancara dengan personel yang terkait dengan bidang yang di
dalamnya terdapat risiko salah saji material sebagai akibat clan
kecurangan, untuk memperoleh wawasan tentang risiko dan apakah
terdapat

dan

bagaimanakah

pengendalian

ditujukan

ke

risiko

tersebut.
Dalam hal salah saji material sebagai akibat kecurangan dan dari
hasil pengujian audit menunjukkan resiko kecurangan yang signifikan
KAP dapat mempertimbangkan pengunduran diri dari perikatan
dengan mengkomunikasikan alasan pengunduran diri kepada komite

audit atau pihak lain yang berwenang.


2. Berdasarkan atas diskusi pada kasus ini, siapkan laporan audit yang dibuat
oleh KAP Umar dan Rekan pada akhir tahun 2009. Mengapa opini yang
disajikan berbeda dari laporan audit standar (wajar tanpa syarat)?
Opini yang disajikan berbeda dari laporan audit standard (wajar tanpa
syarat) karena Bentuk Laporan Audit yang dibuat oleh KAP Umar dan Rekan
pada akhir tahun 2009 dengan pendapat wajar dengan pengecualian:
Kepada Yth.
Direksi dan Dewan Komisaris
PT. Maju Makmur
Surabaya
Kami telah mengaudit neraca PT. MAJU MAKMUR per 31 Desember 2009
serta laporan rugi laba, laporan perubahan laba ditahan, dan laporan arus
kas untuk tahun yang berakhir pada tanggal tersebut. Laporan keuangan
adalah tanggung jawab manajemen perusahaan. Tanggung jawab kami
adalah pada pernyataan pendapat atas laporan keuangan berdasarkan
audit kami.
Kami melaksanakan audit berdasarkan standar auditing yang ditetapkan
Ikatan

Akuntan

Indonesia.

Standar

tersebut

mengharuskan

kami

merencanakan dan melaksanakan audit agar kami memperoleh keyakinan


memadai bahwa laporan keuangan bebas dari salah saji material. Suatu

audit meliputi pemeriksaan, atas dasar pengujian, bukti-bukti yang


mendukung jumlah-jumlah dan pengungkapan dalam laporan keuangan.
Audit juga meliputi penilaian atas standar akkuntansi yang digunakan dan
estimasi signifikan yang dibuat oleh manajemen, serta penilaian terhadap
penyajian laporan keuangan secara keseluruhan. Kami yakin bahwa audit
kami memberikan dasar memadai untuk menyatakan pendapat.
Perusahaan menyajikan pencatatan atas properti berdasarkan pada nilai
historis ( historical cost ) untuk tahun yang berakhir pada 31 Desember
2009. Penyajian laporan yang meringkas kegiatan operasi, investasi, dan
pembelanjaan perusahaan tersebut diharuskan oleh prinsip akuntansi
yang berlaku umum (SAK). Menurut pendapat kami, kecuali masih
diterapkan pencatatan dengan biaya historis yang mengakibatkan tidak
lengkapnya penyajian seperti yang diuraikan dalam paragraph di atas,
laporan keuangan yang kami sebut di atas menyajikan secara wajar,
dalam semua hal yang material, posisi keuangan PT. MAJU MAKMUR per 31
Desember 2009, dan hasil usaha, untuk tahun yang berakhir pada tanggal
tersebut sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Kantor akuntan
Umar & Rekan,
Perbedaan pendapat dikarenakan KAP Umar & Rekan menganggap
adanya perbedaan pencatatan akuntansi yang diterapkan oleh PT Maju
Makmur dengan peraturan SAK yang berlaku, sehingga membuat munculnya
opini laporan keuangan wajar dengan pengecualian.
3. Perusahaan tengah mempertimbangkan penawaran saham pada publik
untuk mendanai rencana pengembangan perusahaan. Langkah-langkah apa
saja yang harus diambil oleh Perusahaan sebelum menerbitkan saham ke
publik? Bagaimana

ketentuan

yang

diatur

pada

Sarbanes-Oxley

act.

berdampak pada keputusan ini? Apa hubungan antara penjualan saham ke


publik dengan persyaratan pelaporan keuangan Perusahaan?
Pertimbangan penawaran saham pada publik oleh perusahaan:
a) Langkah-langkah yang harus diambil oleh perusahaan sebelum
menerbitkan saham ke publik sesuai dengan UU.No.25 tahun 2007
tentang penanaman modal, maka perusahaan harus:
a. Menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik
b. Melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan
c. Membuat laporan tentang kegiatan penanaman

modal

menyampaikannya kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal

dan

d. Menghormati tradisi budaya masyarakat sekitar lokasi kegiatan


usaha penanaman modal
e. Mematuhi semua ketentuan peraturan perundang - undangan.
b) Ketentuan yang diatur pada Sarbanes-Oxley Act. berdampak pada
keputusan tersebut, karena dengan diterbitkannya undang-undang ini
diharapkan

akan

meningkatkan

standar

akuntabilitas

korporasi,

transparansi dalam pelaporan keuangan, memperkecil kemungkinan bagi


perusahaan atau organisasi untuk melakukan dan menyembunyikan
kecurangan serta membuat perhatian pada tingkat sangat tinggi terhadap
corporate governance.

Dalam hal pelaporan, Sarbanes-Oxley Act

mewajibkan semua perusahaan publik untuk membuat suatu sistem


pelaporan

yang

diselenggarakan

oleh

komite

audit

sehingga

memungkinkan bagi pegawai atau pengadu (whistleblowers) untuk


melaporkan terjadinya penyimpangan.
c) Hubungan antara penjualan saham ke publik dengan persyaratan
pelaporan keuanagn perusahaan adalah jika suatu perusahaan menjual
saham ke publik maka mau tidak mau perusahaan tersebut harus
menyajikan laporan keuangan dengan standard yang berlaku umum dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku sehingga laporan keuangan
tersebut dapat diterima secara umum.
4. Jelaskan mengapa penerimaan klien yang merupakan perusahaan publik
akan memberikan dampak pada KAP! Bagaimana dampak keputusan
Langgeng Santoso untuk menawarkan saham ke publik dapat mempengaruhi
keputusan KAP Adi Susilo dan Rekan dalam menerima atau tidak perikatan
audit dengan PT. Maju Makmur?
Jawab :
Penerimaan klien yang merupakan perusahaan publik akan memberikan
dampak pada KAP karena aset yang dimiliki sangat banyak dan kompleks,
sehingga proses audit yang dilakukan harus lebih luas dan signifikan
karena hasil audit yang dikeluarkan akan sangat berpengaruh, bukan
hanya untuk pihak kreditur namun para pemegang saham, dan pengguna
eksternal lainnya. Selain itu pihak KAP juga harus lebih teliti dan hati-hati
dalam

melakukan

proses

audit,

karena

hasilnya

nanti

juga

akan

berpengaruh terhadap nama baik KAP itu sendiri.


Dampak keputusan Langgeng Santosa untuk menawarkan saham ke
publik dapat mempengaruhi keputusan KAP Adi Susilo dan Rekan dalam
menerima atau tidak perikatan audit dengan PT. Maju Makmur , karena
perusahaan yang sudah go public sangat kompleks dalam pelaporan
keuangannya, sehingga tentu KAP akan bekerja ekstra keras dalam

mengaudit. Namun hal tersebut terbayar karena pihak KAP secara otomatis
dapat memperluas pasar sehingga akan semakin terkenal dengan adanya
pengalaman mengaudit perusahaan yang telah go public.
Riset Kelompok
Laporan

keuangan

merupakan

bentuk

pertanggungjawaban

dan

penyampaian informasi keuangan suatu perusahaan atau organisasi kepada


pihak-pihak yang membutuhkan, eksternal

maupun internal (Jensen dan

Meckling, 1976). Disinilah pentingnya sistem pelaporan akuntansi dan auditing


dalam proses pemenuhan kontrak sosial perusahaan dengan pihak stakeholders.
Untuk

meyakinkan

mempunyai kredibilitas
keuangan,

maka

bahwa

laporan

keuangan

perusahaan

tersebut

yang berguna bagi pihak-pihak pemakai laporan

laporan

keuangan

tersebut

harus

diaudit

oleh

auditor

independen. Auditor independen yang dimaksud adalah auditor pada Kantor


Akuntan Publik. Sesuai dengan PSA No. 2 SA Seksi 110 (SPAP, 2001), dinyatakan
bahwa auditor bertanggung jawab dalam merencanakan dan melaksanakan
audit untuk memperoleh keyakinan memadai tentang apakah laporan keuangan
tersebut bebas dari salah saji material, baik yang disebabkan oleh kekeliruan
atau kecurangan. Auditor independen inilah yang memberikan pendapat
mengenai kewajaran atas penyajian laporan keuangan, serta kesesuaiannya
dengan prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum.
Auditor yang mempunyai kredibilitas, selain bisa mendeteksi adanya
penyajian kesalahan yang material, juga dapat memberikan nasihat kepada klien
demi kelangsungan usahanya. Agar dapat menghasilkan informasi yang akurat,
sehingga dapat berguna bagi para pengguna laporan keuangan, auditor harus
mematuhi Kode Etik Ikatan Akuntan Publik yang mencakup Aturan Etika
Kompartemen Akuntan Publik (SPAP, 2001). Hal ini bertujuan untuk menghindari
konflik kepentingan dan demi terwujudnya sikap independensi auditor. Selain
sikap independensi, seorang auditor juga harus bisa bersikap profesional dalam
melaksanakan tugasnya. Dalam PSA No. 4 SA Seksi 230 (SPAP, 2001) ,
dinyatakan bahwa sikap professional adalah sikap yang mencakup pertimbangan
sehat dalam penetapan lingkup, pemilihan metodologi, dan dalam pengujian dan
prosedur untuk mengaudit. Dan diharapkan auditor yang mempunyai sikap
professional yang tinggi akan mampu memberikan kontribusi yang baik bagi
kantor akuntan publik dan memberikan pelayanan yang optimal bagi kliennya.
Manajemen memerlukan auditor yang berkualitas dan mampu memenuhi
tuntutan pertumbuhan perusahaan yang cepat. Apabila hal ini tidak dapat

dipenuhi, kemungkinan besar perusahaan akan mengganti auditor yang ada saat
ini. Dengan mengganti auditornya dengan auditor yang dipandang lebih punya
nama, maka reputasi perusahaan juga akan terangkat di kalangan investor
(Kawijaya, 2002). Dalam teori keagenan, pemegang saham diperlakukan sebagai
principle dan manajemen sebagai agent, dimana manajemen merupakan pihak
yang dikontrak oleh pemegang saham untuk bekerja demi kepentingan
pemegang saham (Jensen dan Meckling, 1976). Untuk itu manajemen diberikan
sebagian kekuasaan untuk membuat keputusan bagi kepentingan terbaik
pemegang saham. Oleh karena itu, manajemen wajib mempertanggungjawabkan
semua upayanya kepada pemegang saham. Dalam hal ini Pergantian auditor
(auditor switching) seringkali dihubungkan dengan adanya adverse selection dan
moral hazard di antara agent dan principle. Lebih lanjut, perusahaan sendiri atau
manajemen cenderung menginginkan auditor memberikan opini wajar tanpa
pengecualian (unqualified opinion) atas laporan keuangannya. Sehingga jenis
opini di luar itu tidak diinginkan oleh manajemen klien dan dipandang tidak
begitu memberi manfaat bagi pengguna laporan keuangan (Willingham dan
Charmichael, 1997:351).
Pergantian auditor ini dikhawatirkan akan mempengaruhi kualitas dari audit
itu sendiri. Untuk menjaga kemungkinan adanya opinion shopping dikalangan
perusahaan maka beberapa negara menerapkan peraturan terkait dengan
pergantian auditor. Untuk Skandal Enron setidaknya telah mendorong para
regulator di Amerika Serikat menerbitkan Sarbanes Oxley Act (SOX). Salah satu
hal yang diatur dalam SOX adalah mengenai jasa audit. Di Indonesia, pemberian
jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas dilakukan Kantor
Akuntan Publik (KAP) untuk waktu 5 (lima) tahun buku berturut-turut dan oleh
seorang akuntan publik untuk waktu 3 (tiga) tahun, hal ini diatur dalam
Keputusan Menteri Keuangan No. 423/KMK.06/2002. Peraturan ini kemudian
disempurnakan dalam Peraturan Menteri Keuangan No. 17/PMK.01/2008, di mana
pemberian jasa audit umum atas laporan keuangan dari suatu entitas dilakukan
oleh KAP untuk waktu 6 (enam) tahun buku berturut-turut dan oleh seorang
Akuntan Publik paling lama untuk 3 (tiga) tahun buku berturut-turut. Peraturan
Pemerintah (PP) No. 20 tahun 2015 tentang Praktik Akuntan Publik (PP 20/2015)
diatur dalam Pasal 11 PP 20/2015 tersebut, dimana pemberian jasa audit yang
dilakukan oleh seorang Akuntan Publik paling lama 5 (lima) tahun buku berturutturut.
Penyebab Terjadinya Pergantian Auditor ?

1. Ukuran Perusahaan
Ukuran perusahaan dipertimbangkan relevan terhadap keputusan
pergantian auditor karena ukuran dapat digunakan sebagai proksi
intensitas perlunya jasa audit. Perusahaan yang lebih besar mungkin
akan mengganti Kantor Akuntan Publik untuk menyesauaikan dengan
kebutuhan jasa yang diperlukan oleh perusahaan (Stocken, 2000).
Kebutuhan ini tidak berkaitan dengan usaha untuk mencapai perlakuan
pelaporan audit yang lebih baik. Dengan demikian ada hubungan yang
positif antara ukuran perusahaan dan pergantian auditor.
Akan tetapi secara alternatif ada kemungkinan hubungan negatif
antaraukuran

perusahaan

dan

pergantian

auditor.

Pertama,

kurva

pembelajaranmempengaruhi secara lebih signifikan pada perusahaan


yang lebih besar.Sekali auditor bergerak turun pada kurva pembelajaran,
maka kemungkinan perusahaan untuk menempatkan kembali auditor
tersebut semakin kecil. Jadi biaya pergantian auditor ini dapat menjadi
lebih besar untuk perusahaan besar karena auditor baru memerlukan
waktu yang lebih banyak untuk memahami perusahaan tersebut, hal ini
akan mendorong perusahaan besar untuk mempertahankan auditor
mereka (Stocken, 2000).
Kedua, harga kompetitif audit. Perusahaan yang memiliki resiko bisnis
tinggi lebih mungkin untuk mengganti auditor (Morgan dan Stocken,
1998). Jadi resiko bisnis perusahaan diukur dari ukurannya. Semakin
besar perusahaan dianggap kurang memiliki resiko, oleh karena itu
perusahaan yang lebih besar kurang mungkin untuk mengganti auditor
(Stocken, 2000).
Ketiga, jika perusahaan mengganti auditor, maka investor di pasar
modal akan merasa bahwa perusahaan sedang mengalami kesulitan
keuangan, jadi menyebabkan harga saham perusahaan jatuh. Semakin
luas perusahaan akan semakin berkonsentrasi pada biaya modalnya
sehingga kemungkinan perusahaan untuk mengganti auditor lebih kecil
(Teoh, 1992).
Stocken (2000) menggunakan ukuran perusahaan untuk menyelidiki
pergantian auditor. Penelitian tersebut menemukan bahwa ukuran
perusahaan memiliki pengaruh positif terhadap keputusan pergantian
auditor karena semakin besar perusahaan maka kebutuhan akan jasa
audit juga semakin meningkat sehingga semakin besar perusahaan akan

memperbesar kemungkinan perusahaan untuk mengganti auditor demi


menyesuaikan dengan kebutuhan jasa audit yang diperlukan. Akan tetapi
Morgan dan Stocken (1998) menemukan bahwa ukuran perusahaan
memiliki gubungan negatif dengan keputusan pergantian auditor karena
semakin besar perusahaan maka resikonya semakin kecil sehingga
kemungkinan untuk mengganti auditor juga semakin kecil. Sementara
Teoh (1992) juga menemukan hubungan yang negatif antara ukuran
perusahaan dan pergantian auditor. Hal ini disebabkan karena jika
perusahaan mengganti auditor, maka pasar modal merasa bahwa
perusahaan sedang mengalami masalah kesulitan keuangan sehingga
akan

menyebabkan

harga

saham

perusahaan

turun

sehingga

kemungkinan perusahaan besar untuk mengganti auditor semakin kecil.

2. Pertumbuhan
Jika perusahaan klien semakin besar maka reputasi klien juga
semakin meningkat. Seiring meningkatnya reputasi perusahaan maka
kemungkinan perusahaan membutuhkan jasa-jasa auditor yang lain juga,
sehingga kebutuhan klien akan jasa auditor menjadi semakin luas
(Stocken, 2000). Dengan meningkatnya kebutuhan perusahaan klien
maka perusahaan membutuhkan Kantor Akuntan Publik yang mampu
menanggapi kebutuhan tersebut. Apabila Kantor Akuntan Publik tidak
dapat memenuhi harapan klien maka bukan tidak mungkin perusahaan
klien akan mencari Kantor Akuntan Publik lain yang sesuai.
Ketika kliean memperluas usahanya maka terdapat peningkatan luas
aktivitas, luas area geografi yang semakin menyebar, dan volume
aktivitas juga semakin bertambah banyak. Kuantitas transaksi dalam
perusahaan akan semakin tinggi. Sementara itu kompleksitas transaksi
akuntansi perusahaanpun semakin meningkat (Johnson dan Lys, 1990).
Petumbuhan klien yang semakin meningkat memerlukan auditor yang
dapat secara lebih baik memenuhi kebutuhan klien yang semakin
meningkat. Sedangkan Stocken (2000) menemukan bahwa perumbuhan
secara tidak signifikan mempengaruhi keputusan pergantian auditor.
3. Kebangkrutan
Kredibilitas perusahaan salah satunya ditentukan oleh kemampuan
perusahaan

tersebut

dalam

membayar

hutang.

Perlakuan

auditor

terhadap perusahaan dalam masalah keuangan dan perusahaan yang


tidak dalam masalah keuangan berbeda. Khususnya, auditor hanya akan
mempertimbngkan

perusahaan-perusahaan

dengan

beberapa

tanda

kesulitan keuangan sebagai kandidat untuk menerima modifikasi going


concern (Kida, 1980). Artinya bahwa auditor menyimpulkan ada keraguraguan

kemampuan

perusahaan

untuk

melanjutkan

usahanya.

Perusahaan dikategorikan sebagai perusahaanyang mengalami kesulitan


keuangan jika terdapat rugi dalam operasinya dalam tiga tahun berturutturut pada periode sebelumnya, atau memiliki retain earning negatif
pada tiga tahun terakhir.
Perusahaan yang mengalami kesulitan untuk membayar hutang juga
digolongkan dalam perusahaan yang mengalami masalah keuangan.
Kesulitan ini bisa menyebabkan kepercayaan masyarakat terhadap
perusahaan tersebut juga semakin berkurang dan apabila hal ini terjadi
berulangkali maka bukan tidak mungkin perusahaan tersebut akan
mengalami kebangkrutan (Kida,1980).
Mutchler (1985) mendefinisi perusahaan yang mengalami masalah
keuangan apabila perusahaan memiliki sidikitnya satu di antara ciri-ciri
sebagai berikut:
1) Perusahaan tidak likuid.
2) Perusahaan mempunyai aset negatif.
3) Perusahaan memiliki arus kas negatif.
4) Pendapatan operasi perusahaan negatif.
5) Modal kerja perusahaan negatif.
6) Perusahaan mengalami kerugian pada tahun berjalan.
7) Perusahaan mengalami defisit saldo laba tahun berjalan.
Sedangkan

beberapa

faktor

yang

menimbulkan

ketidakpastian

mengenai kelangsungan hidup perusahaan menurut Arens (1997):


1. kerugian usaha yang besar secara berulang atau kekurangan modal
kerja.
2. ketidakmampuan perusahaan untuk membayar kewajibannya pada
saat jatuh tempo dalam jangka pendek.
3. kehilangan

pelanggan

diasuransikan

seperti

utama,
gampa

perburuhan yang tidak biasa.

terjadinya
bumi

atau

bencana
banjir

yang

atau

tidak

masalah

4. perkara pengadilan, gugatan hukum atau masalah serupa yang


sudah terjadi yang dapat membahayakan kemampuan perusahaan
untuk beroperasi.
Untuk

menjaga

agar

persepsi

debitur

terhadap

kredibilitas

perusahaan tetap baik maka perusahaan akan mengganti auditor kepada


auditor

yang

lebih

besar,

dengan

demikian

diharapkan

debitur

memandang perusahaan masih memiliki kemampuan secara finansial


(Kida 1980).
4. Resiko Bisnis Klien
Resiko

bisnis

klien

diduga

dapat

mempengaruhi

keputusan

pergantian auditor. Resiko bisnis ini berkaitan dengan seberapa besar


kemungkinan terjadinya kerugian atas operasi yang dilakukan oleh klien.
Semakin tinggi resiko bisnis yang dimiliki oleh klien maka akan semakin
besar pula kecenderungan auditor untuk bertindak secara lebih hati-hati.
Hal ini disebabkan karena resiko perusahaan yang tinggi merupakan
berita buruk yang dapat mengurangi pandangan masyarakat terhadap
perusahaan. Ketika mengaudit perusahaan dengan resiko bisnis tinggi,
auditor akan melakukan prosedur audit tambahan dan menerapkan
perlakuan akuntansi yang lebih konservatif untuk menghindari resiko
litigasi

terhadap

auditor.

Dalam

keadaan

demikian

maka

auditor

cenderung untuk mengambil tindakan yang mengamankan posisi auditor


dengan

mengeluarkan

opini

konservatif

untuk

klien

akan

tetapi

kecenderungan ini justru akan memicu pergantian auditor (Stocken,


2000).
Resiko bisnis bisa mempengaruhi keputusan klien dalam memutuskan
pergantian auditor. Klien yang memiliki resiko bisnis yang tinggi akan
bertindak sekuat tenaga untuk menjaga kredibilitas perusahaan dimata
investor

untuk

meyakinkan

mereka

bahwa

meskipun

perusahaan

memiliki resiko bisnis yang tinggi akan tetapi perusahaan dapat


mengelola resiko tersebut sehingga mereka tetap bisa beroperasi
sebagaimana mestinya. Cara yang ditempuh perusahaan adalah dengan
menggunakan Kantor Akuntan Publik yang besar, dengan cara tersebut
investor akan merasa yakin terhadap operasi perusahaan sebab ivestor
memiliki persepsi bahwa Kantor Akuntan Publik besar akan menjaga
nama besar mereka dengan tidak mengambil resiko menerima klien yang
beresiko (Stocken, 2000).

5. Opini Audit
Klien memiliki insentif untuk menggunakan tekanan terhadap auditor
agar memberikan opsi pelaporan terhadap laporan keuangan klien yang
lebih memuaskan. Tekanan tersebut dimanifestasikan dalam bentuk
ancaman untuk mengganti auditor kepada auditor yang baru jika auditor
yang mengaudit sekarang mengajukan opini yang tidak memuaskan
manajemen (Stocken, 2000).
Dalam menyoroti efek keuangan negatif yang potensial terhadap
kerugian klien, pejabat auditor mungkin tunduk terhadap tekanan
opinion shoping internal yang dilakukan oleh klien, dimana klien terus
menerus mengancam untuk mengganti auditor untuk menerima opsi
pelaporan yang kurang konservatif. Akan tetapi bisa saja manajer tidak
berhasil menekan pejabat auditor dan benar-benar mengganti auditor
kepada auditor yang lain (dalam kasus opinion shoping eksternal).
Apabila

manajer

tidak

berhasil

menekan

pejabat

auditor

maka

perusahaan akan berusaha mengganti auditor dengan Kantor Akuntan


Publik yang lebih besar dan memiliki kredibilitas yang baik dan kemudian
akan menekan auditor yang baru tersebut untuk menawarkan perlakuan
pelaporan yang memuaskan. Sehingga semakin konservatif auditor akan
semakin besar kemungkinan klien mengganti auditor tersebut (Stocken,
2000).
6. Audit Delay
Audit delay dapat didefinisi dengan tiga kriteria: pertama didefinisi
sebagai interval jumlah hari pelaporan dari tanggal laporan keuangan sampai
tanggal laporan akhir oleh bursa. Kedua, interval jumlah hari antara tanggal
laporan keuangan sampai tanggal laporan auditor ditandatangani. Ketiga,
interval jumlah hari antara tanggal laporan keuangan sampai tanggal
penerimaan laporan (Dyer dan McHugh 1975 dalam Stocken, 2000).
Dalam melaksanakan tugasnya auditor membutuhkan waktu yang cukup
sesuai dengan kesepakatan yang telah ditandatangani untuk menyelesaikan
auditnya. Apabila waktu yang dibituhkan auditor untuk menyelesaikan
auditnya

terlalu

lama

sehingga

menyebabkan

perusahaan

terlambat

menyampaiakan laporan keuangan ke pasar modal dapat berpengaruh


terhadap pergantian auditor (Stocken, 2000). Terlambatnya penyampaian
laporan keuangan perusahaan akan menyebabkan pasar modal manilai
bahwa perusahaan sedang dalam masalah sehingga akan berpengaruh

terhadap harga saham perusahaan. Jadi dengan semakin lamanya waktu


yang dibutuhkan auditor untuk menyelesaikan audit akan semakin besar
kemungkinan perusahaan untu mengganti auditor (Stocken, 2000).
Audit delay juga bisa berpengaruh terhadap opini audit karena semakin
lama

waktu

yang

dibutuhkan

auditor

untuk

menyelesaikan

audit

mengindikasikan adanya masalah pada laporan keuangan perusahaan (Chow


dan Rice, 1982).
7. Audit Fee
Sharma dan Sidhu (2001) dalam Stocken (2000)menyatakan bahwa
semakin

besar

Kantor

Akuntan

Publik

cenderung

meningkatkan

independensi auditor serta kecenderungan sebuah Kantor Akuntan Publik


dalam menetapkan besarnya biaya audit yang akan diterimanya.
Tingginya tingkat audit fee diduga memiliki pengaruh terhadap
terjadinya

pergantian

auditor.

Garsombke

dan

Armitage

(1993),

menemukan bahwa klien mengganti auditor untuk mendapatkan fee


yang lebih rendah. Kemungkinan ini dapat terjadi apabila klien merasa
bahwa mereka dapat memperoleh hasil audit yang sama dari Kantor
Akuntan Publik yang lebih murah, sehingga perusahaan akan berusaha
mencari Kantor Akuntan Publik dengan fee yang lebih rendah.
Akan tetapi tidak semua perusahaan mengganti auditornya karena
alasan untuk membayar fee yang lebih rendah. Hal ini dapat terjadi
sebab perusahaan ingin menjaga persepsi investor dan calon investor
pada perusahaan tetap baik. Jika perusahaan mengganti auditornya pada
Kantor
Akuntan Publik yang lebih kecil dengan fee yang lebih rendah,
perusahaan khawatir kalau investor dan calon investor menduga bahwa
perusahaan sedang mengalami masalah keuangan sehingga perusahaan
mengganti pada auditor yang lebih kecil karena perusahaan tidak mampu
lagi membayar Kantor Akuntan Publik yang besar (Johnson dan Lys,
1999).

Pengungkapan apa yang dibutuhkan ketika perusahaan menggantik


auditornya?
Auditor pengganti harus meminta keterangan yang spesifik dan masuk akal
kepada auditor pendahulu mengenai masalah-masalah menurut keyakinan

auditor pengganti akan membantu dalam memutuskan penerimaan atau


penolakan perikatan. Hal-hal yang dimintakan harus mencakup:
a. Informasi yang kemungkinan berkaitan dengan integritas manajemen
b. Ketidaksepakatan dengan manajemen mengenai penerapan prinsip
akuntansi, prosedur audit, atau soal-soal signifikan yang serupa
c. Komunikasi dengan komite audit atau pihak lain dengan kewenangan dan
tanggung jawab setara tentang kecurangan, unsur pelanggaran hukum
oleh klien, dan masalah-masalah yang berkaitan dengan pengendalian
intern
d. Pemahaman auditor pendahulu tentang alasan penggantian auditor
Apakah perusahaan dapat memilih KAP yang dapat bekerja sama untuk
memberikan opini audit sesuai dengan yang dikehendaki? Apakah hal
ini etis bagi anda?
Perusahaan tidak dapat memilih KAP yang dapat bekerja sama dengan
perusahaan untuk memberikan opini audit sesuai dengan yang dikehendakinya.
Hal ini dikarenakan para akuntan publik diwajibkan untuk menjaga integritas dan
objektivitasnya dalam melaksanakan tugasnya. Hal ini sesusi dengan pernyataan
etika profesi yang menyatakan: Integritas, Objektivitas, dan Independensi
(Pernyataan Etika Profesi No.1)