Anda di halaman 1dari 31

Bab V

Penilaian Ketersediaan Sumber Daya Air

5.1 Pendahuluan
Data hidrologi merupakan kumpulan keterangan atau fakta mengenai fenomena alam
dan informasi yang sangat penting dalam pelaksanaan kegiatan pengelolaan Sumber
Daya Air (SDA)
Potensi SDA khususnya untuk air permukaan (debit aliran sungai) diperoleh
berdasarkan data hasil monitoring/pengamatan muka air di sungai dan persamaan garis
lengkung debit atau pengukuran debit secara langsung.
Keandalan informasi yang dihasilkan dari analisa hidrologi dalam suatu wilayah sungai
(catchment) sangat tergantung pada panjang, kesinambungan dan akurasi data yang
tersedia.
Secara statistik diberi gambaran tentang analisa kemungkinan penyimpangan/
kesalahan data terhadap ketersediaan data seperti terlihat dalam tabel berikut ini
Jangka waktu
pengamatan (tahun)
1
3
5
10
20
30

Kemungkinan kesalahan terhadap harga rata-rata hasil


pengamatan jangka waktu yang panjang (%)
+ 50
+ 27
+ 16
+8
+3
+2

sampai
sampai
sampai
sampai
sampai
sampai

40
24
14
8
3
2

Sumber : Saunders - Concept of Hydrological Analysis

Contoh :
Tersedia data hujan selama 5 tahun dengan curah hujan tahunan rata-rata adalah 200 mm.
Maka sesuai dengan table tersebut diatas, curah hujan tahunan rata-rata adalah berkisar
antara (200 + 16%) dan (200 14%) atau antara 232 172 mm.

Berdasarkan tabel tersebut diatas maka sebaiknya analisa hidrologi menggunakan data
minimal 10 tahun, menerus, dan akurat.
5.2 Penggunaan probabilitas (peluang) dalam Analisis data hidrologi
Tujuan dari analisis ketersediaan SDA adalah memperkirakan besarnya aliran yang
diharapkan terjadi pada suatu tingkat keandalan tertentu. Pendekatan analisis dilakukan
sesuai dengan konsep peluang yaitu berdasarkan pada perubahan variabel data,
mempunyai berbagai kemungkinan (tidak dapat dipastikan 100%) dan tidak tergantung
waktu.
Berdasarkan data yang tercatat pada masa yang lalu dapat dilakukan analisis besarnya
prosentase peluang terjadinya dimasa mendatang sehingga dapat diperkirakan nilainya
untuk periode ulang tertentu.
Besarnya peluang terjadi dimasa mendatang mempunyai hubungan terbalik dengan
periode ulang (T) atau sesuai dengan persamaan berikut ini yaitu:
Petunjuk Pengelolaan Hidrologi
Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-1

1
T =
P
Agar lebih mudah memahami teori peluang (P) dapat diambil contoh berikut ini:

Melakukan undian dengan koin mata uang yang mempunyai dua sisi yaitu sisi A
& sisi B.
Probabilitas atau Psisi A akan muncul sama dengan Psisi B atau nilai P adalah 0.5
Artinya pada saat koin dilemparkan keudara, maka kemungkinan koin jatuh
dengan sisi A menghadap keatas adalah sama dengan peluang kemungkinan sisi B
menghadap keatas.

Debit minimum Kali Rejoso adalah:


Debit (m3/dt)
7.80
7.20
9.40
10.50
8.94
7.12

Tahun
1991
1992
1993
1994
1995
1996

Peluang dari masing-masing nilai tersebut diatas yang akan muncul kembali
adalah sama, artinya debit sebesar 7.80 m3/dt mempunyai peluang untuk muncul
sebesar 1/6 atau 16.7 %.
Namun debit tersebut mempunyai kemungkinan peluang muncul selama beberapa
kali dalam kurun waktu 6 tahun atau dapat juga tidak muncul sama sekali.
Data debit banjir dengan periode ulang 10 tahun akan terjadi rata-rata 1 kali
dalam 10 tahun akan tetapi terjadinya tidak harus tiap 10 tahun melainkan ratarata 1 kali dalam 10 tahun atau 5 kali dalam 50 tahun atau 10 kali dalam 100
tahun. Banjir dengan periode ulang 10 tahun dapat saja terjadi tahun ini atau
tahun depan tanpa perlu menunggu 10 tahun. Peluang banjir 10 tahunan yang
akan terjadi disembarang waktu adalah 1/10 = 0.1 atau 10 %.

Dari contoh sederhana diatas dapat dipahami bahwa tujuan dari analisis peluang adalah
agar dapat menentukan nilai yang diharapkan akan terjadi.
Perhitungan peluang terjadinya dapat menggunakan rumus :
N

P(R) = C

N-R

P Q

keterangan:
P(R)
N
R
P
Q

= peluang terjadinya sebesar R dalam jumlah kejadian N


= jumlah kejadian
= jumlah kejadian yang diharapkan = 0,1,2,,N
= peluang terjadinya kejadian atau disebut parameter distribusi
= peluang kegagalan (tidak terjadi) = 1 P
N

N!

C=
R

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

R ! (N-R) !

Volume 3

V-2

N! = 1 x 2 x 3 xx (N-1) x N
R!=1!=1

Contoh:
Analisis peluang debit untuk periode ulang 5 tahun adalah sebesar 9.70 m3/dt, maka debit
ini dalam kurun waktu 10 tahun kedepan mempunyai peluang sbb:
Peluang debit 9.70 m3/dt untuk muncul adalah :
P

1 1
0,20 20%
T 5

Peluang debit untuk tidak muncul adalah sebesar 80 % (1-P)


Untuk kurun waktu 10 tahun (N) debit tersebut akan mempunyai peluang :
Tidak terjadi (R = 0)
10
0,201 0,80 10 0,107 10,7%
P ( R 0)

Terjadi satu kali (R = 1)


10
0,201 0,80 9
P( R 1)

1
P ( R 1)

10!
0,201 0,80 9 0,268 26,8%
1! (10 1)!

Terjadi dua kali (R = 2)


10
0,20 2 0,80 8
P ( R 2)

2
P ( R 1)

10!
0,20 2 0,80 8 0,301 30,1%
2! (10 2)!

Terjadi tiga kali (R = 3)


P ( R 3)

10!
0,20 3 0,80 7 0,201 20,1%
3! (10 3)!

Terjadi empat kali (R = 4)


P 9%

Terjadi lima kali (R = 5)


P 3%

Dari contoh di atas dapat diambil kesimpulan bahwa debit 9.70 m3/dt, dalam kurun
waktu 10 tahun kedepan, debit tersebut tidak terjadi mempunyai peluang sebesar 11%,
sedangkan peluang terjadi satu kali adalah 27%, peluang terjadi dua kali adalah 30%,
peluang terjadi tiga kali adalah 20% dst.
Dalam tabel 5.1 diberikan gambaran/ilustrasi mengenai peluang yang akan muncul dari
suatu data dalam kurun waktu 10 tahun untuk beberapa periode ulang.
Petunjuk Pengelolaan Hidrologi
Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-3

Tabel 5.1

Peluang terjadinya data hidrologi dalam kurun waktu 10 tahun


Peluang
Kejadian
0
1
2
3
4
5
6
>6

5
11
37
30
20
9
3
1
0

Periode Ulang
10
20
35
62
39
32
19
7
6
1
1
0
0
0
0
0
0
0

50
82
17
2
0
0
0
0
0

Berdasarkan tabel diatas terlihat bahwa data yang diperoleh selama kurun waktu 10
tahun tersebut untuk periode ulang 20 dan 50 tahun kemungkinan tidak terjadi selama
kurun waktu 10 tahun sangat besar (> 50%). Sedang untuk periode ulang 5 tahun
peluang kejadian adalah 0 6 kali, dan untuk periode ulang 10 tahun peluang
terjadinya adalah 0 4 kali.
5.3 Analisa Debit Andalan
Perhitungan debit harian rata-rata tergantung dari alat yang dipasang dan frekuensi
pembacaan tinggi muka air. Khusus untuk pembacaan TMA di lokasi bendung, jika lebih
dari satu kali pembacaan tiap hari, maka sebaiknya data TMA tersebut dikonversi terlebih
dahulu menjadi data debit kemudian dihitung debit harian rata-rata.
Penyusun database data debit harian dan perhitungan data setengah bulanan atau sepuluh
harian dapat menggunakan Ms Excel atau Ms Access seperti yang dibahas dalam volume
1 bab III.
Adapun ketentuan penetapan data setengah bulan pertama adalah dihitung mulai tanggal
1 sampai tanggal 15, dan setengah bulan kedua mulai tanggal 16 sampai hari terakhir
bulan itu, sedangkan untuk data sepuluh harian di hitung mulai tanggal 1 sampai 10; 11
sampai 20 dan dari tanggal 21 sampai akhir bulan untuk sepuluh harian ketiga.
Debit andalan diasumsikan sebagai debit yang dijamin dapat memenuhi kebutuhan air
tertentu di suatu wilayah.
Untuk perencanaan/pelaksanaan operasionil daerah irigasi digunakan debit andalan
atau Q80 yaitu debit yang mempunyai keandalan/diharapkan terjadi/terlampaui dengan
probabilitas 80% dan dihitung berdasarkan data debit rata-rata setengah bulan atau 10
harian.
Untuk perencanaan/operasionil air domestik dan industri dibutuhkan debit dengan
tingkat keandalan yang lebih tinggi lagi yaitu 98% karena kegagalan akan menimbulkan
dampak yang besar, dan perhitungan hendaknya dihitung berdasarkan data debit harian
atau sedikitnya rata-rata 3 atau 5 harian.
5.4 Penentuan debit andalan dengan minimum 10 tahun data

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-4

5.4.1 Distribusi Normal


Terdapat banyak jenis distribusi frekuensi yang dapat dipergunakan akan tetapi
untuk penentuan debit andalan umumnya dipergunakan distribusi normal.
Untuk perhitungan debit andalan dibutuhkan data minimum 10 tahun
Sebelum dilakukan analisa data debit tersebut harus sudah diuji akurasi dan
ketelitiannya termasuk garis lengkung debit, pengukuran aliran, pengoperasian
pos & peralatan.
Suatu contoh metoda Distribusi Normal diberikan dalam tabel 5.2 (hal 1 dan 2),
Debit andalan (Q80) dapat dihitung dengan rumus sbb:
Q80 = Qrata-rata - 0,84 * SD
Keterangan:
Q80
Qrata-rata
SD

= debit setengah-bulanan 80%


= debit rata-rata untuk setengah-bulanan
= deviasi standar

SD = ( ( (Xi - Xm)2 ) / (r-1)0,5


Keterangan:
Xi
Xm
r

= nilai data untuk setengah bulanan i;


= rata-rata untuk semua nilai X;
= jumlah tahun data.

Langkah yang perlu dilakukan adalah sbb:


Langkah 1 :
Susunlah data setengah bulanan seperti terlihat dalam tabel 5.2 halaman 1
(untuk 10 tahun data maka diperlukan 10 lajur atau dari lajur 2 sampai 11).
Jumlahkan data debit setengah bulanan selama periode pencatatan seperti
terlihat pada lajur 12.
Hitung nilai rata-rata data tiap setengah bulanan seperti terlihat pada lajur 13.
Langkah 2 :
Hitung (Xi-Xm)2 , dimana:
- Xi adalah debit tiap setengah bulanan
- Xm adalah debit rata-rata setengah bulanan untuk seluruh periode
pencatatan.

Susunlah dalam tabel seperti terlihat dalam tabel 5.2 halaman 2 (untuk 10
tahun data maka perlu lajur 14 sampai lajur 23)
Langkah 3 :
Jumlahkan masing-masing data setengah bulanan yaitu data yang tertulis
pada lajur-lajur 14 sampai 23 (kesalahan kuadrat rata-rata setengah bulanan)
dan cantumkan pada lajur 24.
Langkah 4 :

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-5

Bagilah jumlah tersebut dengan (jumlah tahun pencatatan dikurangi 1)


sehingga untuk data 10 tahun kurang 1 menjadi 9, dan masukkan hasil
perhitungan tersebut pada lajur 25.
Langkah 5 :
Ambil akar kuadrat dari hasil tersebut dalam langkah 4 (akar kuadrat dari
lajur 25) seperti dalam lajur 26.
Langkah 6 :
Debit Andalan atau Q80dihitung dengan persamaan tesebut diatas:
Xm - 0,84 * SD.
atau
lajur 13 dikurangi (0,84 * lajur 26), seperti dalam lajur 27.
Berdasarkan hasil perhitungan debit andalan seperti tersebut diatas maka dapat
diketahui bahwa debit andalan setengah bulanan yang terendah terjadi pada bulan
Juni kedua yaitu 104 1/s.
5.4.2 Cara Ranking
Perhitungan debit andalan (Q80) selain dengan metode tersebut diatas maka ada
cara lain yaitu dengan cara rangking seperti terlihat pada tabel 5.3
Tahapan kegiatan yang perlu dilakukan adalah sbb:
Ranking data yang ada dari kecil ke besar (ascending), untuk melaksanakan
ranking data dapat dipergunakan program Ms excel dengan urutan sebagai
berikut menu Data --> Sort --> ascending
Data kosong akan tertumpuk pada akhir dari kolom.
Rumus untuk menetapkan debit andalan adalah:
R = (N + 0,25) * P + 0,375
keterangan:
R = ranking
N = Jumlah data
P = peluang/probabilitas

Debit andalan dengan probabilitas 80 % adalah debit yang kemungkinan


akan terjadi sebesar 80 % atau kemungkinan gagal sebesar 20 %.
Sebagai contoh untuk data yang tersedia sepanjang 10 tahun maka Q80
atau debit andalan berada pada data dengan ranking yang ditetapkan
berdasarkan rumus diatas yaitu: R = (10+0.25)* 0.2 +0.375 atau sama
dengan 2.425
Dengan demikian maka Q80 berada diantara rangking data kedua dan ketiga

Tabel 5.3

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Contoh merangking perkiraan keandalan debit (m3/dt)

Volume 3

V-6

Tahun
1977
1978
1979
1980
1981
1982
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997

Data asli
Data Debit
m
6.3
m
8.4
3.5
m
4.2
10.0
9.6
16.0
7.9
7.1
2.1
3.1
12.5
5.0
5.1
21.3
12.6
12.9
5.1

Ranking
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Ranking debit andalan (Q80)


Perkiraan debit andalan (Q80)

Hasil ranking
Tahun
Debit
1989
2.1
1990
3.1
1981
3.5
1983
4.2
1992
5.0
1997
5.1
1993
5.1
1978
6.3
1988
7.1
1987
7.9
1980
8.4
1985
9.6
1984
10.0
1991
12.5
1995
12.6
1996
12.9
1986
16.0
1994
21.3
1977
m
1979
m
1982
m
Jumlah data
18
4
4.2

Catatan.: m = data hilang

Dalam tabel tersebut diatas


N = 18, P adalah 0.2 (20 %) maka akan menghasilkan R = 4,025.
Dengan demikian maka debit andalan (Q80) terletak diantara debit dengan
ranking ke 4 dan 5
Debit andalan dapat ditetapkan berdasarkan :
Diambil sama dengan data debit dengan ranking yang terdekat yaitu sama
dengan debit pada ranking ke 4 atau Q80 = 4.2 m3/dt
Cara interpolasi antara debit pada ranking ke 4 dan ke 5 atau
Q80 = 4.2 + 0.025 x 0.8 = 4.22 m3/dt.
Penetapan ranking selain dengan rumus diatas ada beberapa rumus lainnya
yaitu:
a) Cara yang sederhana yaitu : R = N x P, dengan pembulatkan keatas.
Misalnya untuk data tersebut diatas, nilai R = 18 x 0,2 = 3,6 dibulatkan
menjadi 4, atau Q80 = 4.2 m3/dt
b) Analisa Frekwensi/probabilitas
Untuk debit andalan atau debit dengan probabilitas akan terjadi 80 % atau
kegagalan akan terjadi adalah 100%-80% atau dapat dikatakan dengan nilai
P = 20 % ( dalam 5 tahun ada kemungkinan satu tahun gagal).

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-7

Ada beberapa rumus yang dapat dipergunakan untuk perhitungan analisa


frekwensi antara lain:
Rumus Hasen:
2 m-1
P=

X 100 %
2N

Rumus Weibul:
m
P=

X 100 %
N+1

Keterangan:
m =
N
=

Tabel 5.4

No urut data yang diurut dari bilangan yang kecil ke besar


Jumlah data

Perhitungan debit Andalan (m3/dt) dengan cara analisa Frekwensi


Tahun

Data asli
Data Debit No urut

1977 m
1978
1979 m
1980
1981
1982 m
1983
1984
1985
1986
1987
1988
1989
1990
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
Jml. Data

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

6.3
8.4
3.5
4.2
10
9.6
16
7.9
7.1
2.1
3.1
12.5
5
5.1
21.3
12.6
12.9
5.1
18

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21

Analisa Frekwensi
Debit
Probabilitas (%)
Hazen
Weibul
2.1
3
5
3.1
8
11
3.5
14
16
4.2
19
21
5
25
26
5.1
31
32
5.1
36
37
6.3
42
42
7.1
47
47
7.9
53
53
8.4
58
58
9.6
64
63
10
69
68
12.5
75
74
12.6
81
79
12.9
86
84
16
92
89
21.3
97
95
m
m
m

Volume 3

V-8

Berdasarkan contoh seperti tertulis dalam tabel 5.4 maka untuk debit andalan
(Q80) baik dengan cara Hazen berkisar antar ranking 4 demikian pula dengan
cara Weibul berdekatan dengan debit yang tertulis dalam ranking ke 4 yaitu
debit sebesar 4.2 m3/dt
Sebagai perbandingan bilamana berdasarkan data tersebut dihitung debit
andalan dengan cara distribusi normal (sesuai dengan sub bab 5.4.1) akan
menghasilkan nilai sebesar 4.24 m/dt
Contoh perhitungan untuk Sungai Cikeusik yang disajikan pada Tabel 5.5
Grafik di bawah tabel tersebut memberikan ilustrasi dari pola debit rata-rata
setengah bulanan, debit minimum dan debit andalan/Q80.
5.5 Penentuan Debit andalan dengan data debit kurang dari 10 tahun
Bilamana tersedia data debit yang pendek (<10 tahun) agar dapat memberi gambaran
tentang debit andalan dari suatu lokasi/pos sambil menunggu data yang tersedia maka
ada dua cara yang dapat dipergunakan untuk menganalisa debit andalan
Pemilihan cara yang perlu dilakukan tergantung dari kondisi lokasi dan data yang
tersedia.
Prinsip dasar dari kedua cara tersebut adalah metoda hubungan antara data curah hujan
dengan debit atau lebih dikenal dengan nama Rainfall-Runoff
Perlu diperhatikan tentang mutu data curah hujan seperti halnya dengan mutu data debit.
harus hati-hati dengan data curah hujan jadi sebelumnya melakukan analisa data perlu
dicek terlebih dahulu apakah data itu sahih (valid)atau tidak. Data yang tidak valid
sebaiknya dikeluarkan dari perhitungan.
Dengan metoda Rainfall-runoff ini perkiraan debit andalan tidak dapat dihitung langsung
seperti dalam contoh di atas akan tetapi faktor subyektivitas dan asumsi-asumsi
merupakan bagian dari analisis.
Dengan demikian untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan-kesalahan maka
sebaiknya mencoba tiap metoda yang mungkin, bandingkan hasil yang dperoleh, dan pilih
hasil yang diperkirakan paling mendekati kenyataan dilapangan.
5.5.1 Membandingkan Curah Hujan Andalan dengan Debit
Prinsip dasar dari metode ini adalah mencari koeffisien/hubungan antara data
debit dengan curah hujan pada suatu daerah dan dengan periode yang sama
membandingkan data debit yang ada dengan kemungkinan penyebaran data hujan
untuk daerah yang sama, pada periode yang sama.
Kebutuhan Data - Minimum :
10 tahun data curah hujan yang terjadi di suatu wilayah sungai/catchment
area sebagai hasil perhitungan dari metoda thiesen, isohyet atau aritmatika.
Minimum tersedia 1 tahun data debit harian rata-rata
Paling sedikit tersedia data 1 tahun dimana ada data curah hujan dan debit.

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-9

Perhitungan yang sama dilakukan seperti yang diberikan dalam contoh data debit,
tetapi jumlah data curah hujan setengah bulanan yang dipakai dan bukan data
debit rata-rata setengah bulanan.
Jumlah curah hujan andalan 80% setengah bulanan dihitung, dengan mengikuti
prosedur yang sama seperti yang diuraikan untuk debit.
Curah hujan andalan 80% yang sudah dihitung kemudian dibandingkan dengan
pengamatan curah hujan untuk tahun atau tahun-tahun yang memiliki data debit
juga.
Kalau satu dari tahun pengamatan data hujan untuk setengah bulanan yang kritis
kira-kira sama dengan curah hujan andalan 80% untuk tengah bulanan yang
sama, maka dapat diasumsikan bahwa pengamatan debit rata-rata setengah
bulanan juga kira-kira sama dengan debit andalan 80%. Kalau tidak sama, maka
asumsi ini tidak dapat dilakukan, dan metoda kedua harus dipergunakan.
Sebuah contoh diberikan dalam Tabel 5.5 (terdiri atas 3 halaman)
Perhitungan didahului dengan menentukan jumlah curah hujan andalan setengah
bulanan, kemudian membandingkan dengan tahun dimana pada tahun yang sama
tersedia data debit.
Berikut ini langkah-langkah yang perlu dilakukan sbb:
Langkah 1 :
Susunlah dalam satu tabel jumlah curah hujan setengah bulanan (lajur 2
sampai 11) untuk semua tahun data yang tersedia, seperti dicantumkan
dalam halaman 1 Tabel 5.5
Jumlahkan semua jumlah curah hujan setengah bulanan selama periode data
yang tersedia (lajur 12).
Hitunglah rata-rata (lajur 13) untuk tiap setengah bulanan.
Langkah 2 :
Hitunglah SD (deviasi standar) dari data curah hujan yang tercantum dalam
langkah 1
Mula-mula, ambil X1 (tiap jumlah curah hujan setengah bulanan) dan Xm
(rata-rata jumlah curah hujan setengah bulanan untuk periode catatan).
yang sudah dihitung, susunlah suatu tabel seperti dalam hal. 2 tabel 5.5.

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-10

Langkah 3 :
Hitunglah Xi - Xm dan kuadratkan hasilnya, untuk setengah-bulanan dan
untuk tiap tahun pencatatan (lajur 14 sampai 23).
Langkah 4 :
Jumlah lajur 14 sampai 23 (kesalahan kuadrat rata-rata setengah bulanan),
seperti dalam lajur 24.
Langkah 5 :
Bagilah jumlah itu dengan jumlah tahun pencatatan (r dalam persamaan 3.2)
kurang 1 (10 tahun data dikurangi 1 = 9), seperti dalam lajur 25.
Langkah 6 :
Tarik akar kuadrat dari hasilnya (akar kuadrat lajur 25) seperti dalam lajur
26.
Langkah 7 :
Curah Hujan Andalan 80% dihitung dengan rumus: Xm - 0,84 * SD,
atau lajur 13 dikurangi (0,84 * lajur 26), seperti dalam lajur 27.
Langkah 8 :
Susunlah dalam satu tabel seperti terlihat dalam hal. 3 Tabel 5.5.
Curah hujan andalan 80% dari lajur 27 di hal. 2 dipindahkan ke hal.3,
demikian juga untuk lajur-lajur 10 dan 11 dari hal.1
Data debit yang tersedia untuk dua tahun yang sama kemudian
ditambahkan pada tabel itu.
Kedua tahun ini dipakai karena tersedia data curah hujan dan debit.
Langkah 9 :
Buatlah suatu perbandingkan antara curah hujan andalan 80% (lajur 27)
dengan data setengah bulanan yang sebenarnya (lajur 10 dan 11).
Dalam contoh,
Curah hujan andalan setengah bulanan 80% untuk Juni 1 adalah 52 mm.
Angka itu dapat dilihat dalam lajur 10 (1990) dan 11 (1991) bahwa curah hujan
untuk Juni 1 tersebut, masing-masing 49 mm dan 55 mm.
Terkecuali kalau kita dapat yakin tentang debit andalan, maka kita harus
mengasumsikan hal yang lebih pesimistik.
Oleh karena itu, tahun yang dipakai untuk mewakili curah hujan andalan 80%
haruslah tahun 1990, bukan tahun 1991. Debit untuk Juni 1, 1990 (lajur 28)
adalah 90 1/s. Ini akan dipakai sebagai debit andalan yang diharapkan.
Dengan membandingkan lajur-lajur yang sama untuk Juni 2, menunjukkan curah
hujan andalan yang dihitung sebesar 50 mm,
Curah hujan pada 1990 sebesar 52 mm dan pada tahun 1991 sebesar 58 mm.
Dalam hal ini, baik curah hujan 1990 maupun 1991 berjumlah lebih besar dari
curah hujan andalan, jadi suatu angka debit yang lebih kecil dari angka 1990 dan
1991 harus dipakai.
Dalam contoh ini, curah hujan setengah bulanan untuk Juni 2 sangat dekat
dengan curah hujan Juni 1, jadi debit 90 1/s untuk Juni 1 akan dipergunakan.
Kalau membandingkan pengamatan curah hujan setengah bulanan dengan
perhitungan curah hujan andalan 80%, perbedaan harus tidak lebih dari 10%.
Kalau lebih besar dari 10%, maka metoda ini dianggap tidak dapat diterima, dan
harus memakai metoda kedua, seperti yang diuraikan dibawah ini.

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-11

5.5.2 Perkiraan debit andalan menurut karakteristik wilayah sungai


Adalah jarang terjadi pos duga air diletakkan pada lokasi yang ideal untuk
tujuan perhitungan ketersediaan air karena dapat saja terjadi anak sungai di
daerah hilir yang tidak terukur digunakan untuk pemenuhan kebutuhan air.
Pendekatan yang digunakan untuk menghitung pada lokasi tidak terukur adalah
dengan rasio luas wilayah sungai.
Perhitungan ini cukup baik namun memerlukan pertimbangan seperti luas
wilayah sungai yang lebih besar mempunyai karakteristik hujan dan aliran yang
berbeda terlebih jika data terukur untuk wilayah sungai yang lebih kecil.
Diperlukan lebih banyak pos dengan keseluruhan variabel wilayah sungai untuk
mendapatkan hubungan limpasan yang dapat diandalkan.
Jika diperlukan data diberikan faktor tertentu untuk bulan bulan tertentu aliran
sesuai dengan karakterisitiknya.
Idealnya pendekatan berdasarkan karakteristik wilayah sungai membutuhkan
cukup pada wilayah sungai yang akan digunakan sebagai pembanding untuk
mewakili berbagai variasi, metoda regresi ganda dapat diterapkan untuk
mengembangkan persamaan dengan bentuk sebagai berikut:
MAR = aAb X cEd X eSf X (parameter lainnya yang penting)
Keterangan:
MAR
=
A
=
E
=
S
=
a,b,c,d,e,f dsb.=

rerata limpasan tahunan,


luas wilayah sungai,
rerata ketinggian wilayah sungai,
kemiringan wilayah sungai, dan
koefisien yang diturunkan secara statistk

Walaupun persamaan di atas tidak realistik lagi untuk saat ini, namun di dalam
menggambarkan hubungan luas wilayah sungai dengan data debit cukup
realistik seperti meningkatnya limpasan sejalan dengan peningkatan elevasi dan
lereng, dan sedikit kecenderungan terbalik dengan luas wilayah sungai (lihat
Gambar 5.2 sebagai contoh)
Secara sederhana memperkirakan rerata debit tahunan maupun debit bulanan
dilokasi tertentu pada wilayah sungai yang sama atau wilayah sungai lain dengan
karakterisitik menyerupai dapat mengacu dari data hasil analisa pencatatan data
yang panjang.
Persamaannya adalah sebagai berikut:
Q1 = Q2 (A1/A2)x
keterangan:
Q1
Q2
A1
A2
x

=
=
=
=
=

rerata debit bulanan atau tahunan pada sungai yang diteliti


rerata debit bulanan atau tahunan pada setasiun data panjang
luas Wilayah Sungai sungai yang diteliti
luas Wilayah Sungai pada setasiun yang memiliki data panjang
eksponen

Eksponen ditentukan dengan menerapkan persamaan ini di antara dua pos data
panjang atau sebagaimana diperlukan untuk menyesuaikan dengan rerata
Petunjuk Pengelolaan Hidrologi
Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-12

limpasan tahunan hasil perhitungan, berdasarkan kondisi wilayah sungai


setempat dan curah hujan.
Sebagai contoh, nilai eksponen rerata tahunan sebesar 0.65 dihitung diantara
dua pos yang berada pada sungai yang sama (hulu dan hilir). Pada umumnya
nilai eksponen dapat bervariasi dari 0.5 sampai 1.5.
Pada umumnya data curah hujan jauh lebih panjang daripada data debit.
Data hujan wilayah sungai terhitung dapat digunakan untuk membandingkan
hasil analisa debit untuk periode yang sama untuk melihat kemiripan fluktuasi
data terutama pada perbedaan musim dan nilai-nilai yang terlihat cukup ekstrim
(lihat Gambar 5.3) karena diperlukan jika fluktuasi data tidak menunjukan
kemiripan.
Grafik hubungan hujan bulanan dan aliran bulanan perlu dibuat untuk melihat
hubungan keduanya dan pengecekan data yang dianggap tidak sesuai (dalam
mm).
Selanjunya plot juga hubungan rerata hujan bulanan, rerata aliran bulanan dan
aliran andalan 80%.
Perbandingan rata-rata akan menghasilkan persentase dari aliran dan kehilangan
air akibat evapotranspirasi, perkolasi dan penggunaan air.
Pada umumnya persentase dari aliran akan jatuh dari maksimum pada musim
hujan dan minimum pada musim kemarau. Perbedaan dari kedua persentasi
perlu diperhatikan.
5.5.3 Tern
Apabila ada trend data debit (misalkan kecendrungan perubahan rata-rata
aliran, distribusi musim dan derajat variasi) dan tidak dipertimbangkan maka
perhitungan ketersediaan air saat ini dan akan datang perlu pertimbangan untuk
mendapat hasil yang tepat.
Pada umumnya analisa data hidrologi menggunakan pendekatan deterministik
yang mengasumsikan variabel hidrologi dipandang sebagai variabel yang tidak
berubah menurut waktu
Terkadang tidak cukup data untuk membuktikan adanya trend tersebut
walaupun sebenarnya trend tersebut ada akan tetapi cukup sulit untuk melihat
perubahan tersebut.
Dengan adanya perubahan iklim global yang dapat mempengaruhi aliran dimasa
akan datang menjadikan perlunya trend menjadi perhatian dalam setiap analisa.
Program spreadsheet saat ini sudah dilengkapi dengan kemampuan untuk
menghitung trend secara otomatis.
Namun analisa tetap diperlukan untuk pengecekan kebenaran trend tersebut
karena ada kemungkinan terjadi data yang tidak benar (terutama data debit
tahunan dan hujan tahunan).
Penggunaan moving average cukup baik misalkan dengan pengeplotan 5
tahunan untuk melihat perubahan secara lebih halus data yang ada. Data
pendukung lain untuk melihat hasil trend yang diperoleh adalah dengan
Petunjuk Pengelolaan Hidrologi
Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-13

perubahan penggunaan lahan atau adanya peningkatan pengambilan air di


daerah hulu.
Perhitungan dari data bendung irigasi misalnya dapat berguna untuk melihat
kebenaran trend yang dihasilkan.
Jika diketahui adanya perubahan aliran yang significant maka perhitungan debit
perlu disesuaikan dengan misalnya data pengambilan air dari hulu.
Pada kenyataan perhitungan ini cukup rumit dan sulit dilakukan karena sistim
wilayah sungai dan daerah pengambilan air juga terkadang cukup kompleks.
Sehingga biasanya perhitungan cukup dilakukan dengan mengurangi besarnya
pengambilan saat ini dengan pengambilan sebelumnya.
Perhitungan ketersediaan air di atas berlaku jika tidak ada reservoir di daerah
hulu dari daerah pengambilan air. Efek dari reservoir ini terhadap data yang
terekam pada pos duga air perlu diperhatikan terlebih jika data hidrometri
tersebut ada sebelum reservoir dibangun.

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-14

Tabel 5.2

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-15

Tabel 5.2 lanjutan

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-16

Tabel 5.4

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-17

Tabel 5.5

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-18

Tabel 5.5
(Lanjutan 1)

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-19

Tabel 5.5
(Lanjutan 2)

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-20

Gambar 5.1

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-21

Gambar 5.2

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-22

Gambar 5.3

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-23

Tata Cara Penggunaan Program Basinmodel 1.xls


1. Pendahuluan
Peramalan debit andalan /ketersediaan sumberdaya air umumnya dihitung berdasarkan data
hasil monitoring/pengamatan muka air/debit dengan periode pengamatan secara terus
menerus sedikitnya sepanjang sepuluh ( 10 ) tahun.
Akan tetapi kemungkinan ada suatu lokasi yang memerlukan data peramalan debit andalan
akan tetapi ketersediaan data debit tidak tersedia. Untuk kasus seperti ini maka dengan
berdasarkan model yang dibuat dalam rangka IDTO (Irrigation Development and Turnover
Component), dapat diperkirakan debit andalan tersebut berdasarkan data hujan bulanan atau
hujan tahunan.
2. Data Penunjang yang diperlukan
A)

Data mutlak yang harus tersedia


a. Lokasi catchment area
Berdasarkan data yang dikumpulkan pada saat pembuatan model ini maka khusus
untuk P. Jawa terbagi atas wilayah sbb:
Propinsi

Bagian

Jabar

Utara

Selatan
Jateng

Utara
Selatan

DIY
Jatim

Bengawan
Solo Hilir
Madura
Lainnya

Balai yang berada dalam wilayah


tersebut
Ciujung-Ciliman
Cisadane-Ciliwung
Citarum
Cimanuk-Cisanggarung
Cisadea-Kuningan
Citanduy-Ciwulan
Pemali-Comal
Jratun
Seluna
Sercit
Probolo
Bengawan Solo
POO
Sermo
Bengawan Solo
Buntung Peketingan
Madura
Madiun
Puncu Selodono
Bango Gedangan
Gembong Pekalen
Bondoyudo Mayang
Pekalen Sampean

b. Luas catchment area


c. Data Curah Hujan tahunan rata-rata didaerah catchment area,
d. Data Penggunaan air bulanan, meliputi data:

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Data kebutuhan air untuk Irigasi, terdiri atas data:


Luas daerah Irigasi (ha)

Volume 3

V-24

B)

Tanggal saat pengolahan tanah untuk musim taman pertama


(musim hujan)
Intentitas tanaman (%) dalam satu tahun untuk masing-masing
musim tanam pertama, kedua dan ketiga.
Data kebutuhan air untuk kebutuhan lain

Data yang sebaiknya dikumpulkan/dipergunakan dalam proses perhitungan


a.

Data Curah Hujan Bulanan rata didaerah catchment area


Bilamana tidak tersedia data bulanan rata-rata maka berdasarkan data yang
dikumpulkan pada saat pembuatan model ini maka data curah hujan tahunan rata-rata
tersebut dapat didistribusikan menjadi data curah hujan bulanan rata-rata berdasarkan
letak lokasi dari catchment tersebut.

b.

Koeffisien distribusi bulanan dari aliran lokal (Jumlah


koeffisien ini dalam satu tahun harus sama dengan satu).

c.

Koeffisien distribusi bulanan untuk debit andalan (Jumlah


koeffisien ini dalam satu tahun harus sama dengan satu)
Bilamana tidak ada data maka dalam model telah dipersiapkan koeffisien distribusi
bulanan debit andalan
ANALISA KETERSEDIAAN DEBIT

Sebelum dilakukan analisa ketersediaan debit atau lebih dikenal dengan debit andalan pada suatu
DPS baik dengan cara perhitungan distribusi normal maupun dengan cara ranking, harus kita
perhatikan beberapa masalah yaitu mengenai :
ketersediaan data,
validasi data
Untuk menunjang validasi dan keberadaan data tersebut maka berikut ini diterangkan mengenai :
I.
I.
I.
I.
I.
I.
I.

Analisa keseragaman hujan tahunan (seluruh pos hujan di DPS terpilih)


Analisa grafik hujan dengan limpasan
Koefisien perbandingan antara limpasan dan hujan
Perbaikan data debit berdasarkan koefisien perbandingan
Perpanjangan data debit
Analisa ketersediaan dengan metode perhitungan distribusi normal
Analisa ketersediaan data dengan metode ranking

Sebaiknya dalam menganalisa data hujan dan debit limpasan tahunan data
disusun atas tahun hidrologi (bln basah bulan kering misalnya bulan
Nopember - bulan Oktober).

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-25

Flowchart Analisa Ketersediaan Air

Flow chart
Debit limpasan 15 harian
Q ( m3/ dt)

Dta hujan 3 stasiun 15 harian / P


(mm)

Debit limpasan 15 harian


Q ( mm )

Rerata hujan 3 stasiun /


P rata-rata (mm)

Perbandingan antara Q dan P


C = Q / P rata-rata
C > 1 dihapus

C rata-rata perperiode

Perbaikan Q (mm ) pada perode yang nilai


C nya > 1
Perpanjangan Q (mm)
Perbaikan Q (mm)
( Q = Crata-rata x Prata-rata )

Q (m3/dt )

Q andalan
Metode Distribusi Normal

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Q andalan
Metode Ranking

Volume 3

V-26

I.

Analisa keseragaman hujan tahunan (seluruh pos hujan) di DPS terpilih

Dari data hujan pada DPS terpilih yang sudah kita entry ke dalam format yang ada, dapat
kita lakukan analisa keseragaman data hujan tahunan seperti pada gambar berikut ini
Berdasarkan gambar tersebut dibawah ini dapat ditarik kesimpulan bahwa :

Curah Hujan pada pos stasiun hujan Singosari ditahun 1999 mengalami lonjakan yang cukup tinggi
bilamana dibandingkan dengan data-data sebelumnya dan juga terhadap data hujan dari pos hujan
lainnya.
Untuk itu maka data hujan dari pos Singosari untuk tahun 1999 perlu dicek ulang / validasi.

Tinggi Hujan (mm)

Hujan Tahunan DPS Bango Gedangan malang


5000
4000
3000
2000
1000
0
1990

1991

1992

1993

1994

1995

1996

1997

1998

1999

2000

Tahun
Ciliwung
Lowok waru

Jabung
Singosari

Karang Ploso
Dau

Kedung Kandang
Batu

II. Analisa grafik rerata hujan dengan limpasan

Setelah kita melakukan analisa data hujan dan mengadakan perbaikan data jika
diperlukan, maka langkah berikutnya kita melakukan analisa grafik rerata hujan dengan
limpasan suatu bendung.
Untuk lebih jelasnya posisi stasiun hujan dan bendung dapat dilihat pada gambar 2.
Gambar 2

Contoh analisa grafik rerata hujan dan limpasan dapat dilihat pada gambar berikut.

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-27

3500
3000
2500
2000
1500
1000
500
0
1990

1991

1992

1993

1994

1995

Rerata 3 stasiun

1996

1997

1998

1999

2000

Debit Limpasan

III. Koefisien perbandingan antara limpasan dan rerata hujan


Sebelum dilakukan perbandingan antara data debit limpasan dengan rerata hujan, perlu untuk
diperhatikan adalah jumlah ketersediaan data dan maksud dilakukannya perbandingan ini serta
penggunaan hasil perbandingan ini.
Pada uraian dibawah ini akan dijelaskan antara ketersediaan data yang ada dengan tujuan yang akan di
capai.
Data debit 10 th atau lebih, data hujan 10 tahun atau lebih, maka perbandingan ini dimaksudkan
untuk mengetahui korelasi antara kedua data tersebut.
Data debit kurang dari 10 tahun atau tidak lengkap sedangkan data hujan lengkap, maka maksud
dari perbandingan dari kedua data tersebut adalah untuk mengkoreksi data debit, melengkapi data
debit dan mengetahui korelasinya.
Data debit hanya ada 3 tahun ( min 2 th) sedangkan data hujan 10 th atau lebih, maka maksud dari
perbandingan dari kedua data tersebut adalah untuk memperpanjang data debit yang ada
berdasarkan ketersediaan data hujan.
Data debit di bagian hulu ada sedangkan di bagian hilir tidak ada , sedangkan data hujan dari
sekitarnya ada dan lengkap, maka untuk mengetahui limpasan data debit yang ada di bawahnya/
dibagian hilir tersebut dapat dilakukan dengan melakukan perbandingan data luas cathment area
yaitu :
Q1 = Q2*( A1/A2).
Yang perlu diperhatikan adalah luas 1.5 A1 > A2 > 0.5 A1

Setelah didapatkan nilai rata-rata tinggi curah hujan pada DPS bendung, kemudian kita
bandingkan dengan data limpasan di bendung tersebut.
Jika nilai perbandingan tersebut lebih dari satu ( Q / P > 1 ) maka data debit bendung
tersebut perlu kita perhatikan kevalidannya dan bilamana sebaiknya perlu diperbaiki.

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-28

Contoh untuk data tahunan


Data Hujan (mm)
Sta - 1
Sta - 2
Sta - 3
Tahun Kd kandang Lowok waru Singosari
1990
1501
1864
1721
1991
1444
1939
1706
1992
2864
2471
2345
1993
1484
1635
1695
1994
2035
1921
1283
1995
2347
2311
2844
1996
1795
1739
2317
1997
1127
1378
1623
1998
2060
2174
1705
1999
1024
2227
4296
2000

Limpasan Tahunan
Rerata

Perbandingan
Limp dan Hjn

( K-Bango)

m3/dt
1695
1696
2560
1605
1746
2501
1950
1376
1980
2516

mm

Q/P

0
443
709
477
443
2032
1751
1410
3001
0
0

1.13
1.81
1.22
1.13
5.19
4.47
3.60
7.66

0
0.3
0.3
0.3
0.3
0.8
0.9
1.0
1.5

Rerata

0.6

m3/dt = ( q x 365 x 24 x 3,6 / A ) mm


q : debit yang melimpas
A ; Luas CA km2
Contoh untuk data 10 harian
Perbandingan debit dan hujan

Tahun

Januari
Jan-2
0.4
1.3
0.9
0.2
0.2

Jan-1
0.2
0.2
0.1
0.1
0.1

1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999

0.1
0.2
0.2
0.1
0.1

Max
Rerata
Min
Jml hari

10.00

Pebruari
Maret
April
Mei
Jan-3 Peb-1 Peb-2 Peb-3 Mar-1 Mar-2 Mar-3 Apr-1 Apr-2 Apr-3 Mei-1 Mei-2 Mei-3
0.7
0.6
0.8
0.7
0.50.7
0.91.00.7
1.5
0.9
0.52.0
1.01.1
0.4
0.4
2.0
3.3
0.5
0.60.7
1.00.6
0.7
0.7
0.7
0.6
0.51.1
1.01.00.5
0.2
0.5
0.8
0.8
8.7
0.91.0
0.95.2
0.8
0.9
1.0
3.60.70.1
0.5
0.1
0.1
0.1
0.8
1.1
0.7
0.7
1.01.0
1.6
1.6
1.3
0.8
1.3
0.9
1.0
0.7
0.70.11.3
1.6
1.6
2.0
3.3
8.7
1.1
1.0
2.0
1.0
0.0
0.1
1.0
5.2
0.6
0.6
0.7
0.9
1.1
2.1
0.7
0.9
1.0
0.9
0.5
0.1
0.8
3.1
0.1
0.2
0.1
0.1
0.1
0.5
0.5
0.7
0.7
0.7
0.0
0.1
0.5
1.1

10.00

11.00

10.00

10.00

8.25

10.00

10.00

11.00

10.00

10.00

10.00

10.00

10.00

Catatan untuk data 10 harian :


Pada cell yang mempunyai nilai perbandingan > 1, kita berikan tanda ( warna hijau ) ,kemudian pada
cell debit limpasan pada tahun dan periode yang sama ,dilakukan perbaikan nilai debit limpasan.
Debit limpasan tersebut diperoleh dari perkalian antara rerata coefisien perperiode dengan hujan rerata
pada tahun dan periode yang sama. ( C rata-rata x P rata rata )
C rata-rata diperoleh setelah pada kolom periode tsb nilai yang lebih dari satu kita hapus terlebih dahulu.
Sedangkan untuk yang berwana biru, dilakukan perbaikan berdasarkan nilai C sebelumnya dan nilai C
sesudahnya.
Contoh hasil dari perbaikan nilai C

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-29

11.00

Perbandingan debit dan hujan


Tahun
1991
1992
1993
1994
1995
1996
1997
1998
1999
Max
Rerata
Min
Jml hari

Januari
Pebruari
Maret
April
Mei
Jan-1 Jan-2 Jan-3 Peb-1 Peb-2 Peb-3 Mar-1 Mar-2 Mar-3 Apr-1 Apr-2 Apr-3 Mei-1 Mei-2 Mei-3
0.2 0.4
0.7
0.6
0.8
0.7
0.50.7
0.91.0
0.1
0.2
0.7
0.9
0.51.00.1 0.9 0.4
0.4
0.5
0.60.7
1.00.1 0.2 0.6
0.7
0.7
0.7
0.6
0.51.1
1.01.00.5
0.1 0.2 0.2
0.5
0.8
0.8
0.91.0
0.90.8
0.9
1.0
0.70.1 0.1 0.5
0.1
0.1
0.1
0.8
1.1
0.7
0.7
1.00.2 1.0
0.8
1.3
0.9
1.0
0.7
0.70.10.2 1.0 0.6
0.8
0.9
1.0
1.3
1.1
1.0
1.1
1.0
0.0
0.1
1.0
0.1
0.1 0.5 0.4
0.6
0.6
0.7
0.8
0.7
0.9
0.8
0.9
0.5
0.1
0.8
0.1
0.1 0.1 0.2
0.1
0.1
0.1
0.5
0.5
0.7
0.7
0.7
0.0
0.1
0.5
0.1
10.00 10.00 11.00

10.00

10.00

8.25

10.00

10.00

11.00

10.00

10.00

10.00

10.00

10.00

11.00

IV. Perbaikan data debit berdasarkan koefisien perbandingan


Setelah kita tentukan perbaikan nilai C rata-rata seperti diatas, maka perbaikan debit limpasan dapat
diperoleh dari hasil perkalian antara rata-rata koefisien perbandingan debit dengan rerata hujan.
V. Perpanjangan data debit

Setelah didapatkan nilai C rata-rata, maka data tersebut dapat digunakan untuk
memperpanjang data debit.
Adapun caranya dapat digunakan persamaan berikut :
( CXP )
dimana :
C : Rata-rata koefisien perbandingan debit dengan rerata hujan
P : Tinggi rerata hujan
VI. Analisa ketersediaan dengan metode perhitungan distribusi normal

Dari perbaikan data dan perpanjangan data limpasan debit yang mengalir tersebut, dapat
kita gunakan untuk melakukan analisa ketersediaan air (debit andalan dengan metode
Distribusi Normal ).
Yang perlu diperhatikan adalah perubahan satuan debit dari mm menjadi m3/dt. (Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat buku pedoman OJT Hidrologi ).
VII. Analisa ketersediaan data dengan metode ranking
Selain dengan menggunakan metode diatas kita dapat juga menggunakan analisa ketersediaan air dengan
cara ranking
(Untuk lebih jelasnya dapat dilihat buku pedoman OJT Hidrologi ).

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-30

Petunjuk Pengelolaan Hidrologi


Versi: Nopember 2002

Volume 3

V-31