Anda di halaman 1dari 25

1

MAKALAH SEMINAR AKUNTANSI

ENTITAS TANPA
AKUNTANBILITAS
PUBLIK (ETAP)

Disusun oleh :
KELOMPOK 3 :
BOBBY FRATHAMA SEMBIRING
SATRIA FADLI
PROGRAM ALIH JENJANG SARJANA AKUNTANSI
KELAS KERJASAMA BEASISWA STAR-BPKP
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat dan karunianya kepada
penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Makalah ini merupakan
tugas mata kuliah Seminar Akuntansi pada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Hasanuddin Program STAR-BPKP.
Penulis menyadari bahwa selama mengerjakan makalah ini, penulis mendapat sumbangan
pikiran serta bimbingan, baik moril maupun material dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis
ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Bapak Syarifuddin selaku dosen
mata kuliah Seminar Akuntansi yang telah memberikan bimbingan dan arahan dalam penulisan
makalah ini. Penulis juga mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berjasa dalam penulisan makalah ini.
Akhir kata, penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan karena
keterbatasan pengetahuan, waktu, dan pengalaman. Oleh karena itu, dengan rendah hati penulis
sangat mengharapkan tanggapan, saran, serta kritik dari pembaca yang sifatnya membangun
dalam rangka perbaikan makalah ini ke depan. Semoga makalah ini memberikan manfaat bagi
pembaca.
Makassar, November 2016

Penulis,

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ..............................................................................................................


DAFTAR ISI ...........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN .....................................................................................................

Halaman
2
3
4

A. LATAR BELAKANG ...........................................................................................


B. TUJUAN .............................................................................................................
BAB II ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK (ETAP) ...........................................
A. PENGERTIAN SAK ETAP ................................................................................
B. RUANG LINGKUP SAK ETAP ...........................................................................
C. KARAKTERISTIK SAK ETAP ...........................................................................
D. MANFAAT DAN TUJUAN SAK ETAP ................................................................
E. IMPLEMENTASI SAK ETAP .............................................................................
F. KERANGKA DASAR PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN SAK ETAP ......
G. PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN SAK ETAP .............................................
H. LAPORAN KEUANGAN LENGKAP SAK ETAP ................................................
I. KEBIJAKAN AKUNTANSI SAK ETAP ...............................................................
J. PERBEDAAN SAK UMUM DAN SAK ETAP .....................................................
BAB III PENUTUP ................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ...............................................................................................................

4
5
6
6
7
8
8
9
11
17
19
21
22
25
26

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Akuntabilitas merupakan pertanggungjawaban suatu entitas kepada pihak-pihak yang
berkepentingan, mengenai manajemen dan pemanfaatan sumber daya perusahaan, dan capaian
yang diperoleh pada periode tertentu. Hal ini berarti bahwa, suatu entitas atau organisasi bisnis
memiliki kewajiban menyampaikan informasi yang bermanfaat bagi para stakeholders, utamanya
untuk kepentingan evaluasi manajerial dan penilaian kinerja organisasi. Dalam hal ini, informasi
yang disampaikan kepada para stakeholder harus disajikan secara transparan, akurat dan reliabel.
Penyajian informasi secara transparan, akurat dan reliabel ini perlu dilakukan mengingat
akuntabilitas tidak dapat ditegakkan tanpa adanya transparansi, akurasi dan reliabilitas informasi.
Permasalahan yang kemudian muncul dan menarik untuk dibahas yaitu, tidak semua entitas
bisnis melaksanakan akuntabilitas publik. Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) merupakan
salah satu entitas yang menghadapi dilema yang berhubungan dengan akuntabilitas publik,
khusunya mengenai penyusunan laporan keuangan entitas. Di satu sisi, managemen UMKM
berharap mampu menyusun laporan keuangan organisasi yang sesuai dengan standar akuntansi
yang berlaku umum (SAK), yang akan digunakan untuk kepentingan pengajuan kredit
(pembiayaan) dan pembayaran pajak kepentingan internal. Namun, di sisi yang lain, manajemen
UMKM menghadapi masalah kompleksitas Standar Akuntansi Keuangan (SAK) umum. Apabila
managemen menerapkan hal ini, maka biaya yang akan dikeluarkan oleh entitas tersebut sangat
besar.
Fenomena ini dipahami dan disikapi oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) melalui
penerbitan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas publik (SAK ETAP) pada Juli
2009. SAK ETAP ini rencananya akan diberlakukan secara efektif untuk penyusunan laporan
keuangan untuk periode yang berakhir pada tanggal 1 Januari 2011. Sasaran dari SAK ETAP ini
yaitu entitas bisnis yang tidak memiliki akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik
adalah entitas yang tidak memiliki akuntabilitas publik (perusahaan tertutup) dan entitas yang
menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi
pihak eksternal. Entitas memiliki akuntabilitas publik apabila suatu entitas telah mengajukan
pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan pernyataan pendaftaran, pada otoritas
pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di pasar modal atau entitas
menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat, seperti
bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana dan bank
investasi. Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP, diharuskan
4

membuat pernyataan penuh dan secara eksplisit mengenai kepatuhan, yang disajikan dalam
catatan atas laporan keuangan. Apabila perusahaan menggunakan SAK ETAP, maka auditor yang
akan melakukan audit di perusahaan tersebut tentunya juga akan mengacu kepada SAK ETAP.
Secara praktek, SAK ETAP memberikan banyak kemudahan untuk perusahaan dibandingkan
dengan SAK umum. Hal ini dikarenakan ketentuan pelaporan dalam SAK umum lebih kompleks
daripada ketentuan pelaporan yang tercantum dalam SAK ETAP. Penerbitan SAK ETAP ini
diharapkan dapat membantu perusahaan kecil dan menengah terkait dengan penyajian laporan
keuangan yang relevan dan andal. Entitas yang mempunyai tanggung jawab publik juga dapat
menggunakan SAK ETAP apabila entitas tersebut telah memperoleh ijin dari pihak regulator.
Misalnya, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) yang telah memperoleh ijin dari Bank Indonesia
menggunakan SAK ETAP sejak tanggal 1 Januari 2010 berdasarkan SE No. 11/37/DKBU tanggal
31 Desember 2009.
Dalam hal ini, terdapat perbedaan antara SAK Umum dan SAK ETAP. Perbedaan di antara
keduanya antara lain; pertama, persyaratan disclosure dari SAK ETAP berkurang dari SAK umum.
Kedua, untuk pelaporan arus kas dari kegiatan operasi, SAK ETAP hanya mengenal metode tak
langsung, sedangkan SAK Umum menggunakan metode langsung dan tak langsung, Ketiga,
terkait dengan pelaporan investasi, SAK ETAP menerapkan standar General Accepted Accounting
Principles (GAAP), sedangkan SAK Umum menggunakan aset finansial dan kewajiban finansial.
Keempat, untuk pengukuran aset tetap, SAK ETAP hanya menggunakan metode biaya dengan
revaluasi (hanya dapat dilakukan apabila terdapat peraturan pemerintah). SAK Umum selain
menggunakan metode biaya juga memungkinkan mengadopsi model revaluasi. Kelima, perlakuan
akuntansi untuk biaya pinjaman menurut SAK ETAP dibebankan, sedangkan pada SAK Umum kos
pinjaman dikapitalisasi.

B. TUJUAN
Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas mata kuliah Seminar Akuntansi
dan juga menambah wawasan dalam bidang seminar akuntansi khususnya mengenai Entitas
Tanpa Akuntanbilitas Publik (ETAP).

BAB II
ENTITAS TANPA AKUNTABILITAS PUBLIK (ETAP)
A. PENGERTIAN SAK ETAP
Standar Akuntansi Keuangan (SAK) telah mengadopsi standar internasional International
Financial Reporting Standards (IFRS) baik untuk etentitas yang berakuntabilitas publik (SAK IFRS)
maupun standar untuk entitas tanpa akuntabilitas publik (SAK ETAP). Penerapannya relatif rumit
(karena masalah kebiasaan) sehingga banyak perusahaan yang terdaftar di bursa efek (listing)
melakukan delisiting karena sulit menerapkan SAK IFRS dan memilih untuk menerapkan SAK
ETAP. Jadi, SAK ETAP sangat penting.
Standar berkembang seiring dengan praktik yang berkembang. Standar Akuntansi di Indonesia
terdiri dari 4 (empat) pilar:
1. Standar Akuntansi Keuangan (SAK berbasis IFRS)
Wajib diterapkan untuk entitas dengan akuntabilitas publik seperti: Emiten, perusahaan publik,
perbankan, asuransi, dan BUMN. Dapat diterapkan oleh ETAP atau entitas lainya. Berbasis
transaksi, bukan basis industri. Bertujuan untuk memberikan informasi yang relevan bagi user
laporan keuangan
Indonesia melakukan adopsi penuh 1 Januari 2012. Pasca Konvergensi PSAK 2012 = IFRS
(kecuali IFRS terbaru). Perbedaan IFRS dengan PSAK dijelaskan dalam Standar bagian
depan: (1) Substansi /konseptual; (2) Redaksional; dan (3)Tanggal efektif. Secara gradual,
IFRS sudah diterapkan mengikuti pemberlakuan PSAK yang bersangkutan. Setelah
konvergensi IFRS, PSAK akan berkembang dinamis mengikuti IFRS
2. SAK Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (ETAP)
Diterbitkan pada 17 Juli 2009 dan berlaku efektif pada 01 Januari 2011. PSAK IFRS dan
SAK ETAP disusun dan diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan Ikatan Akuntan
Indonesia (DSAK IAI). Terdiri dari 17 orang mewakili: Akuntan Publik, Akademisi, Akuntan
Sektor Publik, dan Akuntan Manajemen. Hasilnya adalah PSAK dan ISAK
3. Standar Akuntansi Syariah
PSAK Syariah disusun oleh Dewan Standar Akuntansi Syariah.

Berbasis transaksi yang

digunakan oleh entitas yang melakukan transaksi syariah baik entitas lembaga syariah
maupun lembaga non syariah. Pengembangan dengan model PSAK umum namun berbasis
syariah dengan acuan fatwa MUI. Pada PSAK (IFRS) 100 PSAK 106. Terdiri dari: Kerangka
konseptual, Penyajian Laporan Keuangan Syariah, Akuntansi Murabahah, Musyarakah,
Mudharabah , Salam, Istishna.

4. Standar Akuntansi Pemerintah


Diterbitkan berdasar pada Peraturan Pemerintah No. 24/2005 dan Peraturan Pemerintah No.
71/2010) yang berbasis akrual. SAP disusun oleh Komite Standar Akuntansi Pemerintahan.
Komite Standar Akuntansi Pemerintahan ditetapkan dengan Peraturan Pemerintah (PP).
Diterapkan untuk entitas pemerintah dalam menyusun LKPP dan LKPD: (1) instansi
pemerintah pusat; (2) Instansi pemerintah daerah; dan (3) BLU (digabung), BUMN (sbg
investasi).

Entitas sektor publik selain pemerintah menggunakan PSAK 45 (pelaporan

keuangan entitas nirlaba).


Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP) ini nampak
seide dengan International Financial Reporting Standard for Small and Medium-sized Entities
(IFRS for SMEs). Meskipun memiliki judul yang berbeda, namun baik SAK ETAP maupun IFRS for
SMEs sama-sama diperuntukkan bagi entitas tanpa akuntabilitas publik, hanya saja istilah yang
digunakan sebagai judul pada IFRS adalah small and medium-sized entities (SMEs). Jadi, apabila
kita membandingkan judul pada IFRS for SMEs dan SAK ETAP, maka istilah entitas tanpa
akuntabilitas publik sama pengertiannya dengan small and medium-sized entities.
SAK ETAP menggunakan acuan IFRS for Small Medium Enterprises (SME) yang lebih
sederhana antara lain:
1. Aset tetap, tidak berwujud menggunakan harga perolehan.
2. Entitas anak tidak dikonsolidasi tetapi sebagai investasi dengan metode ekuitas.
3. Mengacu pada praktik akuntansi yang saat ini digunakan.
4. Laporan keuangan sesuai SAK ETAP menyajikan informasi mengenai posisi keuangan,
kinerja, dan arus kas entitas yang berguna bagi pengguna luas.
Diharapkan dengan adanya SAK ETAP, perusahaan kecil dan menengah dapat menyusun
laporan keuangannya sendiri dan dapat diausit untuk mendapatkan opini audit.

Informasi

keuangan yang sederhana tetapi memberikan informasi yang andal. SAK ETAP disusun dengan
mengadopsi IFRS for SME dengan modifikasi sesuai dengan kondisi Indonesia.

B. RUANG LINGKUP SAK ETAP


Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)
dimaksudkan untuk digunakan entitas tanpa akuntabilitas publik. Entitas tanpa akuntabilitas publik
adalah entitas yang :
1. Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan
2. Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement) bagi
pengguna eksternal. Contoh pengguna eksternal adalah pemilik yang tidak terlibat langsung
dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat kredit.

Entitas dikatakan memiliki akuntabilitas publik signifikan jika:


1. Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan pernyataan
pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan penerbitan efek di
pasar modal; atau
2. Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar masyarakat,
seperti bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana pensiun, reksa dana dan
bank investasi.
Entitas yang memiliki akuntabilitas publik signifikan dapat menggunakan SAK ETAP jika
otoritas berwenang membuat regulasi mengizinkan penggunaan SAK ETAP. Contohnya Bank
Perkreditan Rakyat yang telah diijinkan oleh Bank Indonesia menggunakan SAK ETAP mulai 1
Januari 2010 sesuai dengan SE No. 11/37/DKBU tanggal 31 Desember 2009.
Entitas berakuntabillitas publik adalah:
1.
2.
3.
4.

Perusahaan kecil yang memiliki saham di pasar modal.


Perusahaan manufaktur besar (bukan emiten).
Bank umum besar (bukan emiten).
Entitas yang bisnis satu-satunya adalah pendapatan bunga atas uang yang dipinjamkan

kepada nasabah. Entitas ini memperoleh semua dana dari seorang pemilik yang milyuner.
5. Laporan keuangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar
pengguna laporan keuangan, misalnya: pemegang saham, kreditor, pekerja, dan masyarakat
dalam arti luas.

C. KARAKTERISTIK SAK ETAP


Adapun karakteristik SAK ETAP adalah sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.

Tidak mengacu ke SAK Umum


Mayoritas menggunakan historical cost concepts
Hanya mengatur transaksi yang umum dilakukan Usaha Kecil dan Menengah
Pengaturan lebih sederhana dibandingkan SAK Umum
a) Alternatif yang dipilih adalah alternatif yang paling sederhana
b) Penyerdehanaan pengakuan dan pengukuran
c) Pengurangan pengungkapan
5. Standar yang berdiri sendiri secara keseluruhan (stand alone)

D. MANFAAT DAN TUJUAN SAK ETAP


SAK ETAP dimaksudkan agar semua unit usaha menyusun laporan keuangan sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan. Setiap perusahaan memiliki prinsip going concern yakni
menginginkan usahanya terus berkembang. Untuk mengembangkan usaha perlu banyak upaya
yang harus dilakukan. Salah satu upaya itu adalah perlunya meyakinkan publik bahwa usaha yang
dilakukan dapat dipertanggungjawabkan. Dalam akuntansi wujud pertanggungjawaban tersebut
dilakukan dengan menyusun dan menyajikan laporan keuangan sesuai dengan standar yang telah
ditentukan. Penyajian laporan keuangan yang sesuai dengan standar, akan membantu
8

manajemen perusahaan untuk memperoleh berbagai kemudahan, misalnya: untuk menentukan


kebijakan perusahaan di masa yang datang; dapat memperoleh pinjaman dana dari pihak ketiga,
dan sebagainya.
Standar ETAP ini disusun cukup sederhana sehingga tidak akan menyulitkan bagi
penggunanya yang merupakan entitas tanpa akuntabilitas public (ETAP) yang mayoritas adalah
perusahaan yang tergolong usaha kecil dan menengah. ETAP sebagaimana kepanjangan yang
telah diuraikan di atas merupakan unit kegiatan yang melakukan aktifitas tetapi sahamnya tidak
dimiliki oleh masyarakat atau dengan kata lain unit usaha yang dimiliki oleh orang perorang atau
sekelompok orang, dimana kegiatan dan modalnya masih terbatas.
Dengan adanya SAK ETAP diharapkan perusahaan kecil dan menangah dapat untuk
menyusun laporan keuangannya sendiri juga dapat diaudit dan mendapatkan opini audit, sehingga
perusahaan dapat menggunakan laporan keuangannya untuk mendapatkan dana untuk
pengembangan usahanya.
Manfaat lain dari SAK ETAP antara lain :
1. Lebih mudah implementasinya dibandingkan PSAK-IFRS karena lebih sederhana
2. Walaupun sederhana namun tetap dapat memberikan informasi yang handal dalam penyajian
laporan keuangan
3. Disusun dengan mengadopsi IFRS for SME dengan modifikasi sesuai dengan kondisi

di

Indonesia serta dibuat lebih ringkas


4. SAK ETAP masih memerlukan profesional judgement namun tidak sebanyak untuk PSAKIFRS
5. Tidak ada perubahan signifikan dibandingkan dengan PSAK lama, namun ada beberapa hal
yang diadopsi/modifikasi dari IFRS/IAS

E. IMPLEMENTASI SAK ETAP


PSAK ETAP mulai diberlakukan pada akhir tahun 2011. Penggunaan PSAK ini harus konsisten
untuk tahun-tahun berikutnya. Apabila sudah memutuskan untuk menggunakan PSAK umum
dalam penyajian laporan keuangan, maka untuk selanjutnya tidak boleh merevisi kebijakannya ke
PSAK ETAP.
Entitas dapat menerapkan SAK ETAP secara retrospektif, namun jika tidak praktis, maka
entitas diperkenankan untuk menerapkan SAK ETAP secara prospektif. Penerapan secara
retrospektif artinya bahwa kebijakan akuntansi yang baru diterapkan seolah-olah kebijakan
akuntansi tersebut telah digunakan sebelumnya. Oleh karena itu, kebijakan akuntansi yang baru,
diterapkan pada kejadian atau transaksi sejak tanggal terjadinya kejadian atau transaksi tersebut.
Sedangkan penerapan secara prospektif artinya kebijakan akuntansi yang baru, diterapkan pada

kejadian atau transaksi yang terjadi setelah tanggal perubahan. Tidak ada penyesuaian yang
dilakukan terhadap periode sebelumnya.
Entitas yang menerapkan secara prospektif dan sebelumnya telah menyusun laporan
keuangan maka:
1. Mengakui semua aset dan kewajiban sesuai SAK ETAP.
2. Tidak mengakui aset dan kewajiban jika tidak diijinkan oleh SAK ETAP.
3. Mereklasifikasi pos-pos yang sebelumnya menggunakan PSAK lama menjadi pos-pos sesuai
SAK ETAP.
4. Menerapkan pengukuran aset dan kewajiban yang diakui sesuai SAK ETAP.
5. ETAP dapat memilih tetap menggunakan PSAK IFRS atau menggunakan SAK ETAP.
6. Seluruh entitas sampai dengan 31 Desember 2009 menggunakan satu PSAK yaitu PSAK yang
7.

berlaku per 31 Desember 2009.


ETAP yang tetap memilih menggunakan PSAK IFRS tidak boleh dikemudian hari berubah

menggunakan SAK ETAP.


8. Entitas dengan akuntabilitas publik yang kemudian telah memenuhi persyaratan sebagai ETAP
dapat menggunakan SAK ETAP.
9. ETAP yang kemudian berubah menjadi bukan ETAP maka harus menggunakan PSAK IFRS
dan tidak boleh lagi menggunakan SAK ETAP.
Kebijakan akuntansi yang digunakan oleh entitas pada saldo awal neracanya berdasarkan
SAK ETAP mungkin berbeda dari yang digunakan untuk tanggal yang sama dengan menggunakan
kerangka pelaporan keuangan sebelumnya. Hasil penyesuaian yang muncul dari transaksi,
kejadian atau kondisi lainnyasebelum tanggal efektif SAK ETAP diakui secara langsung pada
saldo laba pada tanggal penerapan SAK ETAP.
Pada tahun awal penerapan SAK ETAP, entitas yang memenuhi persyaratan untuk
menerapkan SAK ETAP dapat menyusun laporan keuangan tidak berdasarkan SAK ETAP, tetapi
berdasarkan PSAK non-ETAP sepanjang diterapkan secara konsisten. Entitas tersebut tidak
diperkenankan untuk kemudian menerapkan SAK ETAP ini untuk penyusunan laporan keuangan
berikutnya. Entitas yang menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP kemudian tidak
memenuhi persyaratan entitas yang boleh menggunakan SAK ETAP, maka entitas tersebut tidak
diperkenankan untuk menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK ETAP. Entitas tersebut wajib
menyusun laporan keuangan berdasarkan PSAK non-ETAP dan tidak diperkenankan untuk
menerapkan SAK ETAP ini kembali sesuai dengan paragraf 29.4 di SAK ETAP.
Entitas yang sebelumnya menggunakan PSAK non-ETAP dalam menyusun laporan
keuangannya dan kemudian memenuhi persyaratan entitas yang dapat menggunakan SAK ETAP,
maka entitas tersebut dapat menggunakan SAK ETAP ini dalam menyusun laporan keuangan.
Entitas tersebut menerapkan persyaratan dalam paragraf 29.1 29.3 dalam SAK ETAP.
ISI SAK ETAP adalah sebagai berikut :

10

F. KERANGKA DASAR PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN SAK


ETAP
Adapun kerangka dasar penyusunan laporan keuangan SAK ETAP adalah sebagai berikut :
1. Tujuan laporan keuangan
Menyediakan informasi posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas entitas yang
bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan keputusan ekonomi oleh
siapapun yang tidak dalam posisi dapat meminta laporan keuangan khusus untuk memenuhi
kebutuhan informasi tertentu.
2. Karakteristik kualitatif informasi dalam laporan keuangan
a. Dapat Dipahami
Kualitas penting informasi yang disajikan dalam laporan keuangan adalah kemudahannya
untuk segera dapat dipahami oleh pengguna.
b. Relevan
Agar bermanfaat, informasi harus relevan dengan kebutuhan pengguna untuk proses
pengambilan keputusan.
c. Materialitas
Informasi dipandang material jika kelalaian untuk mencantumkan atau kesalahan dalam
mencatat informasi tersebut dapat memengaruhi keputusan ekonomi pengguna yang
diambil atas dasar laporan keuangan.
d. Keandalan

11

Agar bermanfaat, informasi yang disajikan dalam laporan keuangan harus andal. Informasi
memeiliki kualitas andal jika bebas dari kesalahan material dan bias, dan penyajian yang
secara jujur apa yang seharusnya disajikan atau yang secara wajar diharapkan dapat
disajikan.
e. Substansi Mengungguli Bentuk
Transaksi, peristiwa, dan kondisi lain dicata dan disajikan sesuai dengan substansi dan
realitas ekonomi dan bukan hanya bentuk hukumnya.

Hal ini untuk meningkatkan

keandalan laporan keuangan.


f.

Pertimbangan sehat
Ketidak pastian yang tidak dapat diabaikan meliputi berbagai peristiwa dan keadaan yang
dipahami berdasarkan pengungkapan sifat dan penjelasan peristiwa dan keadaan tersebut
dan melalui penggunaan pertimbangan sehat dalam menyusun laporan keuangan.
Pertimbangan sehat mengandung unsur kehati-hatian pada saat melakukan pertimbangan
yang diperlukan dalam kondisi ketidakpastian, sehingga asset atau penghasilan tidak
disajikan lebih tinggi dan kewajiban atau beban tidak disajikan lebih rendah. Namun
demikian, penggunaan pertimbangan sehat tidak memperkenankan pembentukan asset
atau penghasilan yang lebih rendah atau pencatatan kewajiban atau beban yang lebih
tinggi.

g. Kelengkapan
Agar dapat diandalkan, informasi dalam laporan keuangan harus lengkap dalam batasan
materialitas dan biaya. Kesengajaan atau tidak mengungkapkan mengakibatkan informasi
menjadi tidak benar atau menyesatkan dank arena itu tidak dapat diandalkan dan kurang
mencukupi ditinjau dari segi relevansinya.
h. Dapat Dibandingkan
Pengguna harus dapat membandingkan laporan keuangan entitas antar periode untuk
mengidentifikasi kecenderungan posisi dan kinerja keuangan. Pengguna juga harus dapat
membandingkan laporan keuangan antar entitas untuk mengevaluasi posisi keuangan,
kinerja, serta perubahan keuangan secara relatif.

i.

Tepat Waktu
Agar relevan, informasi dalam laporan keuangan harus dapat memengaruhi keputusan
ekonomi para penggunanya. Tepat waktu meliputi penyediaan informasi laporan keuangan
dalam jangka waktu pengambilan keputusan. Jika terdapat penundaan yang tidak
semestinya

dalam

pelaporan

maka

informasi

yang

dihasilkan

akan

kehilangan

relevansinya.
j.

Keseimbangan antara Biaya dan Manfaat

12

Manfaat informasi seharusnya melebihi biaya penyediaannya. Namum demikian, evaluasi


biaya dan manfaat merupakan proses pertimbangan yang substansial. Biaya tersebut juga
tidak perlu ditanggung oleh pengguna yang menikmati manfaat informasi laporan
keuangan. Dalam evaluasi manfaat dan biaya, entitas harus memahami bahwa manfaat
informasi mungkin juga manfaat yang dinikmati oleh pengguna eksternal.
3. Definisi asset, kewajiban, ekuitas, penghasilan, dan beban
a. Aset
Aset adalah sumberdaya yang dikuasai entitas sebagai akibat dari persitiwa masa lalu dan
dari mana manfaat ekonomi di masa depan dihatapkan akan diperoleh oleh entitas. Dalam
menentukan esistensi asset, hak milik tidak esensial. Misalnya, property yang diperoleh
melalui sewa adalah aset jika entitas mengendallikan manfaat yang diharapkan mengalir
dari property tersebut.
Aset diakui dalam neraca jika kemungkinan manfaat ekonomi di masa depan akan
mengalir ke entitas dan asset tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat diukur
dengan andal. Aset tidak diakui dalam neraca jika pengeluaran telah terjadi dan manfaat
ekonominya dipandang tidak mungkin mengalir ke dalam entitas setelah periode pelaporan
berjalan. Sebagai alternatif, transaksi tersebut menimbulkan beban dalam laporan laba
rugi.
b. Kewajiban
Kewajiban merupakan kewajiban masa kini entitas yang timbul dari peristiwa masa lalu
yang penyelesaiannya diharapkan mengakibatkan arus kas keluar dari sumberdaya entitas
yang mengandung manfaat ekonomi.
Karakteristik esensial dari kewajiban (liability) adalah bahwa mempunyai kewajiban
(obligation) masa kini untuk bertindak atau untuk melaksanakan sesuatu dengan cara
tertentu. Kewajiban dapat berupa kewajiban hukum dan kewajiban konstruktif. Kewajiban
dapat dipaksakan menurut hukum sebagai kosekuensi dari kontrak mengikat atau
peraturan perundangan.
Kewajiban konstruktif adalah kewajiban yang timbul dari tindakan entitas ketika: (1) oleh
praktik baku masa lalu, kebijakan yang telah dipublikasikan atau pernyataan kini yang
cukup spesifik, entitas telah memberikan indikasi kepada pihak lain bahwa entitas dakan
menerima tanggung jawab terentu, dan (2) akibat entitas telah menimbulkan ekspekstasi
kuat dan sah kepada pihak lain bahwa entitas akan melaksanakan tanggung jawab
tersebut.
Penyelesaian kewajiban masa kini biasanya melibatkan pembayaran kas, penyerahan
asset lain, pemberian jasa, penggantian kewajiban tersebut dengan kewajiban lain, atau
konversi kewajiban menjadi ekuitas. Kewajiban juga dapat dihapuskan dengan cara lain,
seperti kreditur membebaskan atau membatalkan haknya.

13

Kewajiban diakui dalam neraca jika kemungkinan pengeluaran sumberdaya mengandung


manfaat ekonomi akan dilakukan untuk menyelesaikan kewajiban masa kini dan jumlah
yang harus diselesaikan dapat diukur dengan andal.
c. Ekuitas
Ekuitas adalah hak residual atas asset entitas setelah dikurangi kewajiban. Ekutitas
disubklasifikasikan dalam neraca. Misalnya, entitas yang berbentuk perseroan terbatas
subklasifikasi dapat meliputi dana yang dikontribusikan oleh pemegang saham, saldo laba,
dan keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas.
d. Penghasilan
Penghasilan (income) adalah kenaikan manfaat ekonomi selama periode pelaporan dalam
bentuk

arus

masuk

atau

peningkatan

asset,

atau

penurunan

kewajiban

yang

mengakibatkan ekuitas yang tidak berasal dari kontribusi penanam modal.


Penghasilan

(income)

meliputi

pendapatan

(revenues)

dan

keuntungan

(gains).

Pendapatan adalah penghasilan yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang
biasa dan dikenal dengan sebutan yang berbeda seperti penjualan, imbalan bunga,
dividen, royalty, dan sewa.
Keuntungan mencerminkan pos lainnya yang memenuhi definisi penghasilan namun bukan
pendapatan. Ketika keuntungan diakui dalam laporan laba rugi, biasanya disajikan secara
terpisah karena pengetahuan mengenai pos tersebut berguna untuk tujuan pengambilan
keputusan ekonomi.
Pengakuan penghasilan merupakan akibat langsung dari pengakuan asset dan kewajiban.
Penghasilan diakui dalam laporan laba rugi jika kenaikan manfaat ekonomi di masa depan
yang berkaitan dengan peningkatan asset atau penurunan kewajiban telah terjadi dan
dapat diukur secara andal.
e. Beban
Beban (expenses) adalah penurunan manfaat ekonomi selama suatu periode pelaporan
dalam bentuk arus keluar atau penurunan asset, atau terjadinya kewajiban yang
mengakibatkan ekuitas yang tidak terkait dengan distrbusi kepada penanaman modal.
Mencakup kerugian dan beban yang timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang
biasa. Beban timkbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa meliputi beban pokok
penjualan, upah, dan penyusutan. Beban tersebut biasanya berbentuk arus keluar datau
berkurangnya asset seperti kas dan setara kas, persediaan dan asset tetap.
Kerugian mencerminkan pos lain yang memenuhi definisi beban yang mungkin atau
mungkin tidak timbul dalam pelaksanaan aktivitas entitas yang biasa.

Ketika kerugian

diakui dalam laporan laba rugi biasanya disajikan secara terpisah karena pengetahuan
mengenai pos tersebut berguna untuk tujuan pengambilan keputusan ekonomi.
Pengakuan beban merupakan akibat langsung dari pengakuan asset dan kewajiban.
Beban diakui dalam laporan laba rugi jika penurunan manfaat ekonomi masa depan yang

14

berkaitan dengan penurunan asset atau peningkatan kewajiban telah terjadi dan dapat
diukur secara andal.
f.

Laba atau rugi


Laba atau rugi merupakan selisih aritmatika antara penghasilan dan beban. Hal tersebut
bukan merupakan suatu unsur terpisah dari laporan keuangan dan prinsip pengakuan yang
terpisah tidak diperlukan. SAK ETAP tidak mengijinkan pengakuan pos-pos dalam neraca
yang tidak memenuhi definisi asset atau kewajiban dengan mengabaikan apakah pos-pos
tersebut merupakan hasil dari penerapan matching concept.

4. Persyaratan pengakuan dan pengukuran unsur-unsur laporan keuangan

a. Persyaratan pengukuran unsur-unsur laporan keuangan


Pengakuan unsur laporan keuangan merupakan proses pembentukan suatu pos dalam
neraca atau laba rugi yang memenuhi definisi suatu unsur dan memenuhi kriteria: (a) ada
kemungkinan bahwa manfaat ekonomi yang terkait dengan pos tersebut akan mengalir
dari atau ke dalam entitas, dan (2) pos tersebut mempunyai nilai atau biaya yang dapat
diukur dengan andal. Kegagalan untuk mengakui pos yang mememuhi kriteria tersebut
tidak dapat digantikan dengan pengungkapan kebijakan akuntansi yang digunakan atau
catatan materi penjelasan.

b. Dasar pengukuran unsur laporan keuangan,


1) Probabilitas Manfaat Ekonomi Masa Depan
Konsep probabilitas digunakan dalam kriteria pengakuan mengacu kepada pengertian
derajat ketidakpastian bahwa manfaat ekonomi masa depan yang terkait dengan pos
tersebut akan mengalit kea tau dari dalam entitas. Pengajian derajat ketidakpastian
yang melekat pada arus manfaat ekonomi masa depan dilakukan atas dasar bukti
yang terkait dengan kondisi yang tersedia pada akhir periode pelaporan saat
penyusunan laporan keuangan. Penilaian ini dibuat secara individu untuk pos-pos yang
signifikan secara individual dan kelompok suatu populasi besar dari pos-pos yang tidak
signifikan secara individual.

2) Keandalan Pengukuran
Kriteria kedua untuk pengakuan suatu pos adalah adanya biaya atau nilai yang dapat
diukur dengan andal. Dalam banyak kasus, biaya atau nilai suatu pos diketahui. Dalam
kasus lainnya biaya atau nilai tersebut diestimasi. Penggunaan estimasi yang layak
merupakan bagian esensial dalam penyusunan laporan keuangan tanpa mengurangi
tingkat keandalan. Namun demikian, jika estimasi yang layak tidak mungkin dilakukan,
maka pos tersebut diakui dalam neraca atau laba rugi.
Suatu pos pada saat tertentu tidak dapat memenuhi kriteria pengakuan dapat
memenuhi syarat untuk diakui di masa depan sebagai akibat peristiwa atau keadaan
yang terjadi kemudian. Suatu pos yang gagal memenuhi keriteria pengakuan tetap

15

perlu diungkapkan dalam catatan, materi penjelasan, atau skedul tambahan.


Pengungkapan ini dapat dibenarkan jika pengetahuan mengenai pos tersebut
dipandang relevan untuk mengevaluasi posisi keuangan, kinerja, dan perubahan posisi
keuangan suatu entitas oleh pengguna laporan keuangan.

3) Pengukuran unsur laporan keuangan (biaya historis dan nilai wajar)


Pengukuran adalah proses penetapan jumlah uang yang digunakan entitas untuk
mengukur asset, kewajiban, penghasilan, dan beban dalam laporan keuangan. Proses
ini termasuk pemilihan dasar perngukuran tertentu.
Dalam pengukuran yang dipergunakan adalah biaya historis dan nilai wajar.
a) Biaya historis
Biaya historis adalah jumlah kas atau setara kas yang dibayarkan atau nilai wajar
dari pembayaran yang diberikan untuk memperoleh asset pada saat peroleh.
Kewajiban dicatat sebesar kas atau setara kas yang diterima atau sebesar nilai
wajar dari asset non-kas yang duterima sebagai penukar dari kewajiban pada saat
terjadinya kewajiban.
b) Nilai Wajar
Nilai wajar adalah jumlah yang dipakai untuk mempertukarkan suatu saet, atau
untuk menyelesaikan suatu kewajiban, antara pihak-pihak yang berkeinginan dan
memiliki pengetahuan memadai dalam suatu transaksi dengan wajar.
5. Dasar Akrual
Entitas harus menyusun laporan keuangan, kecuali laporan arus kas, dengan menggunakan
dasar akrual. Dasar akrual pos-pos diakui sebagai asset, kewajiban, ekuitas, penghasilan, dan
beban (unsur-unsur laporan keuangan) ketika memenuhi definisi dan kriteria pengakuan untuk
pos-pos tersebut.
6. Saling hapus
Saling hapus tidak diperkenankan atas asset dan kewajiban atau penghasilan dengan beban,
kecuali disyaratkan oleh SAK ETAP. Pengukuran nilai asset secara neto dari penilaian
penyisihan bukan merupakan saling hapus, misalnya penyisihan atau keusangan persediaan
dan penyisihan atas piutang tak tertagih.

Jika aktivitas entitas yang biasa tidak termasuk

membeli dan menjual asset tidak lancar (termasuk investasi dan asset operasional) maka
entitas melaporkan keuntungan dan kerugian atas pelepasan asset dengan mengurangi hasil
penjualan dengan jumlah tercatat asset dan beban penjualan yang terkait.

G. PENYAJIAN LAPORAN KEUANGAN SAK ETAP


Entitas harus membuat suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved
statement) atas kepatuhan terhadap SAK ETAP dalam catatan laporan keuangan. Terdiri dari:
16

1. Penyajian Wajar
Laporan keuangan menyajikan dengan wajar posisi keuangan, kinerja keuangan, dan arus kas
suatu entitas. Penyajian wajar mensyarakatkan penyajian jujur atas pengaruh transaksi,
peristiwa, dan kondisi lain yang sesuai dengan definisi dan kriteria pengakuan asset,
kewajiban, penghasilan, dan beban.
Penyajian wajar posisi keuangan, kinerja keuangan dan arus kas. Entitas yang menggunakan
SAK ETAP harus secara eksplisit menyatakan secara penuh atas kepatuhan terhadap SAK
ETAP dalam catatan laporan keuangan. Entitas harus menilai kelangsungan usaha pada saat
menyusun laporan keuangan. Entitas menyajikan laporan keuangan minimal satu kali dalam
setahun. Informasi komparatif dengan periode sebelumnya dengan keunggulan yang sama.
Pos-pos yang material disajikan terpisah.
2. Kepatuhan terhadap SAK ETAP
Entitas yang laporan keuangannya mematuhi SAK ETAP harus membuat suatu pernyataan
eksplisit dan secara penuh (explicit and unreserved statement) atas kepatuhan tersebut dalam
catatan atas laporan keuangan. Laporan keuangan tidak boleh menyatakan mematuhi SAK
ETAP kecuali jika mematuhi semua persyaratan dalam SAK ETAP.
3. Kelangsungan Usaha
Pada saat menyusun laporan keuangan, manajemen entitas yang menggunakan SAK ETAP
membuat penilaian atas kemampuan entitas melanjutkan kelangsungan usahanya.
4. Frekuensi Pelaporan
Entitas menyajikan secara lengkap laporan keuangan (termasuk informasi komparatif)
minimum satu tahun sekali.
5. Konsistensi Penyajian
Penyajian dan klasifikasi pos-pos dalam laporan keuangan antar periode harus konsiseten
kecuali (a) terjadi perubahan yang signifikan atas sifat operasi entitas atau perubahan
penyajian atau pengklasifikasian bertujuan menghasilkan penyajian lebih baik sesuai kriteria
pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi, aatau (2) SAK ETAP mensyaratkan suatu
perubahan penyajian.
Penyajian dan klasifikasi pos-pos harus konsisten, kecuali:
a. Terjadi perubahan signifikan operasi entitas atau perubahan tersebut menghasilkan
penyajian yang lebih andal dan relevan.
b. SAK ETAP mensyaratkan perubahan penyajian.
c. Reklasifikasi harus dilakukan retrospektif, kecuali tidak praktis dapat secara prospektif.
d. Jika prospektif: diungkapkan sifat reklasifikasi dan jumlah pos yang direklasifikasi serta
alasannya.

17

6. Informasi Komparatif
Informasi harus diungkapkan secara komparatif dengan periode sebelumnya kecuali
dinyatakan lain oleh SAK ETAP (termasuk informasi dalam laporan keuangn dan catatan atas
laporan keuangan).
7. Materialitas dan Agregasi
Pos-pos yang material disajikan terpisah dalam laporan keuangan sedangkan yang tidak
material digabungkan dengan jumlah yang memiliki sifat atau fungsi yang sejenis. Kelalalian
dalam mencantumkan atau kesalahan dalam mencatat suatu pos dianggap material jia, baik
secara individuan maupun bersama-sama, dapat memengaruhi pengguna laporan keuangan
dalam penggambilan keputusan ekonomi. Besaran dan sifat unsur tersebut dapat menjadi
factor penentu.
8. Identifikasi Laporan Keuangan Lengkap
Terdiri dari neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan ekuitas, laporan arus kas, catatan
atas laporan keuangan. Perubahan periode laporan keuangan sehingga periode laporan
berbeda, maka ETAP mengungkapkan:
a. Fakta tersebut.
b. Alasan penggunaan periode yang lebih pendek atau lebih panjang.
c. Fakta bahwa jumlah informasi komparatif dalam laporan keuangan yang terkait tidak dapat
diperbandingkan.
d. Identifikasi secara jelas setiap komponen laporan keuangan.
e. Informasi berikut, jika perlu, pada setiap halaman:
f.

Nama entitas pelapor dan perubahan dalam nama tersebut sejak laporan periode terakhir;

g. Tanggal atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan, mana yang lebih tepat bagi
setiap komponen laporan keuangan;
h. Mata uang pelaporan, seperti didefinisikan dalam Bab 25 Mata Uang Pelaporan;
i.

Pembulatan angka yang digunakan dalam penyajian laporan keuangan.

Catatan laporan keuangan:


a. Domisili , bentuk hukum dan alamat kantor yang terdaftar;
b. Penjelasan sifat operasi dan aktivitas Utama.

H. LAPORAN KEUANGAN LENGKAP SAK ETAP


Identifikasi laporan keuangan: nama entitas, tanggal atau cakupan periode, mata uang
pelaporan, pembulatan, domisili atau bentuk hukum, sifat operasi, dan aktivitas Utama.
1. Neraca (Posisi Keuangan)
Informasi yang disajikan dalam Neraca dengan disertai catatan dalam CALK :
a. kelompok aset tetap;

18

b. jumlah piutang usaha, piutang dari pihak-pihak yang memiliki hubungan istimewa,
pelunasan dipercepat dan jumlah lainnya;
c. rincian persediaan;
d. kewajiban imbalan kerja dan kewajiban diestimasi lainnya;
e. rincian kelompok ekuitas seperti modal dasar, modal disetor, tambahan modal disetor, agio
saldo laba dan pendapatan beban yang diakui langsung ke ekuitas;
f.

PT: rincian setiap kelompok modal saham dan penjelasan cadangan ekuitas;

g. Bukan PT: diungkapkan rincian informasi modal yang setara dengan PT


Menyajikan aset, kewajiban dan ekuitas pada tanggal tertentu. Minimal mencakup pos-pos:
a. kas dan setara kas,
b. piutang usaha dan piutang lain-lain,
c. persediaan,
d. properti investasi,
e. aset tetap,
f.

aset tidak berwujud,

g. utang usaha dan utang lainnya,


h. aset dan kewajiban pajak,
i.

kewajiban diestimasi

j.

ekuitas.

Urutan dan format pos tidak ditentukan oleh SAK ETAP. Sama dengan SAK IFRS kecuali
menghilangkan pos: (1) asset keuangan, (2) property investasi yang diukur dengan nilai wajar,
(3) asset biolojik yang diukur pada nilai perolehan dan nilai wajar, (4) kewajiban berbunga
jangka panjang, (5) asset dan kewajiban pajak tangguhan, (6) kepentingan non pengendali.
2. Laporan Laba Rugi
Menyajikan laporan laba rugi suatu periode tertentu yang menunjukan kinerja keuangan
selama periode tersebut. Pos minimal:
a. pendapatan,
b. beban keuangan,
c. bagian laba atau rugi investasi dengan metode ekuitas, dan
d. laba rugi neto.
Analisis beban dapat disajikan berdasarkan fungsi atau berdasarkan sifat beban. Pos luar
biasa tidak diperkenankan
3. Laporan Perubahan Ekuitas
Menyajikan (1) laba rugi tahun berjalan, (2) pendapatan dan beban yang diakui secara
langsung dalam ekuitas, (3) pengaruh perubahan kebijakan akuntansi dan koreksi kesalahan,
(4) rekonsiliasi jumlah tercatat awal dan akhir periode dari komponen ekuitas (laba rugi,
pendapatan dan beban yang diakui langsung dalam ekuitas, dan jumlah investasi, dividen, dan
19

distribusi lainnya ke pemilik ekuitas, serta perubahan kepemilikan entitas anak yang tidak
mengakibatkan pengendalian).
Sama dengan SAK IFRS, kecuali untuk beberapa hal yang terkait pendapatan komprehensif
lain. Laporan laba rugi dan saldo laba menyajikan laba atau rigi entitas dan peruabahan saldo
laba untuk satu periode laporan. Laporan laba rugi dan saldo laba (gabungan) dapat disajikan
sebagai pengganti laporan perubahan ekuitas jika memenuhi syarat SAK.
4. Laporan Arus Kas
Menyajikan informasi arus kas dari aktivitas operasi, investasi, dan pendanaan.
operasi hanya disajikan secara tidak langsung.

Aktivitas

Bunga dan dividen, baik dibayarkan atau

diterima, harus diungkap secara terpisah dan konsisten sebagai aktivitas operasi, investasi,
atau pendanaan. Pajak penghasilan diungkapan terpisah sebagai aktivitas operasi kecuali
dapat secara spesifik diidentifikasi sebagai aktivitas operasi dan pendanaan. Transaksi non
kas tidak dapat disajikan dalam laporan arus kas. Sama dengan SAK IFRS, kecuali untuk: (1)
arus kas aktivitas operasi dengan metoda tidak langsung, dan (2) arus kas mata uang asing
tidak diatur.
5. Catatan Atas Laporan Keuangan
Mengungkapkan dasar penyajian laporan keuangan dan kebijaklan akuntansi yang digunakan
termasuk dasar pengukurannya. Mengungkapkan informasi yang disyaratkan. Memberikan
informasi yang relevan walau tidak disyarakatkan. Mengungkapkan informasi tentang sumber
Utama ketidakpastian estimasi.
Sama dengan SAK IFRS, kecuali untuk pengungkapan modal.

Mengungkapkan dasar

penyajian laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang digunakan termasuk dasar
pengukurannya.

Mengungkapkan informasi yang disyaratkan oleh SAK ETAP.

Informasi

tentang sumber utama ketidakpastian estimasi. Mengungkapkan informasi tambahan yang


disajikan dalam laporan keuangan, yang berisi informasi narasi atau rincian jumlah atau
informasi yang tidak memenuhi kriteria pengakuan. Mengungkapkan dasar penyajian laporan
keuangan dan kebijakan akuntansi yang digunakan termasuk dasar pengukuran. Memberikan
informasi tambahan yang relevan, namun tidak disyaratkan SAK ETAP. Informasi tentang
sumber utama ketidakpastian estimasi. Urutan penyajian catatan atas laporan keuangan
adalah sebagai berikut:
a. pernyataan bahwa laporan keuangan telah disusun sesuai dengan SAK ETAP (lihat
paragraf 3.3)
b. ringkasan kebijakan akuntansi signifikan yang diterapkan (lihat paragraf 8.5)
c. informasi yang mendukung pos-pos laporan keuangan, sesuai dengan urutan penyajian
setiap komponen laporan keuangan dan urutan penyajian pos-pos tersebut.
d. pengungkapan lain.
e. dasar pengukuran yang digunakan dalam penyusunan laporan keuangan.
20

f.

kebijakan akuntansi lain yang digunakan yang relevan untuk memahami laporan keuangan.

I. KEBIJAKAN AKUNTANSI SAK ETAP


Pemilihan dan penerapan kebijakan akuntansi, yang terdiri dari perubahan estimasi dan
Koreksi kesalahan periode lalu. Kebijakan akuntansi adalah prinsip, dasar, konvensi, aturan dan
praktik tertentu yang diterapkan oleh suatu entitas dalam menyusun dan menyajikan laporan
keuangannya. Jika SAK ETAP secara spesifik mengatur transaksi, kejadian atau keadaan lainnya,
maka entitas harus menerapkan SAK ETAP. Namun, jika dampak tidak material maka entitas tidak
perlu mengikuti persyaratan dalam SAK ETAP.
Jika transaksi, peristiwa tidak diatur spesifik dalam SAK ETAP, maka manajemen dengan
menggunakan judgementnya mengembangkan dan menerapkan suatu kebijakan akuntansi yang
menghasilkan informasi:
1. relevan bagi pemakai untuk kebutuhan pengambilan keputusan ekonomi; dan
2. andal yaitu dalam laporan keuangan yang menyajikan dengan jujur posisi keuangan, kinerja
keuangan, dan arus kas dari suatu entitas
3. mencerminkan substansi ekonomi dari transaksi, peristiwa dan kondisi lainnya, serta tidak
hanya mencerminkan bentuk hukumnya
4. netral yaitu bebas dari bias
5. mencerminkan kehati-hatian
6. bersifat lengkap dalam semua hal yang material
Acuan dalam membuat pertimbangan:
1. persyaratan dan panduan dalam SAK ETAP yang berhubungan dengan isu yang serupa dan
terkait
2. definisi, kriteria pengakuan dan konsep pengukuran untuk aset, kewajiban, pendapatan dan
beban dan prinsip-prinsip pervasif.
3. PSAK non ETAP dan panduan tambahan dapat dijadikan rujukan, namun tidak boleh
bertentangan dengan SAK ETAP
Aturan akuntansi entitas harus sesuai dengan SAK-ETAP. Ketika ada yang belum diatur oleh
SAK ETAP dapat menggunakan:
1. Persyaratan lain yang serupa dan terkait.
2. Definisi, kriteria pengakuan dan konsep pengukuran asset, kewajiban, pendapatan, dan beban
harus sesuai dengan Konsep dan Prinsip Pervasif.
3. Standar lain (Non ETAP) yang tidak bertentangan dengan SAK ETAP.

J. PERBEDAAN SAK UMUM DAN SAK ETAP

21

Perbedaan Pokok SAK ETAP dengan SAK IFRS


1. PSAK ETAP tidak menggatur pajak tangguhan
2. PSAK ETAP hanya menggunakan metoda tidak langsung untuk laporan arus kas
3. PSAK ETAP menggunakan model biaya untuk investasi asosiasi dan menggunakan metoda
ekuitas untuk anak perusahaan,
4. PSAK ETAP tidak secara penuh menggunakan PSAK 50/55,
5. PSAK ETAP hanya menggunakan model biaya untuk asset tetap, asset tidak berwujud, dan
property investasi dan tidak boleh menggunakan model revaluasi.
URAIAN
Penyajian Laporan

SAK UMUM
PSAK 1 penyajian laporan keuangan

SAK ETAP
Minimum pos yang harus ada di

Keuangan

mengikuti IFRS dengan perubahan

neraca lebih sedikit.

antara lain :

1. Silent terhadap pos luar biasa


2. Laporan laba rugi (tanpa harus

1. Tidak ada lagi pos luar biasa

Aset Tetap dan


Properti Investasi

menyajikan laba rugi

pada neraca
2. Laba Rugi komprehensive
3. Cash flow metode langsung

komprehensive)
3. Cash flow dengan metode tidak

(dianjurkan), dan tidak langsung.


1. Memberikan pilihan metode

langsung
Aset tetap dan properti investasi

biaya atau revaluasi untuk aset


tetap.
2. Metode Fair value untuk properti
investasi.

menggunakan metode biaya


kecuali ada ketentuan pemerintah
yang mengharuskan model

Aset Tidak

1. Saat ini aset tidak berwujud

revaluasi diterapkan.
1. Aset tidak berwujud

Berwujud

diamortisasi selama 20 tahun.


2. Aset tidak berwujud dengan

diamortisasi selama 10 tahun.


2. Pengukuran menggunakan

masa manfaat tak terbatas, tidak


Instrumen
Keuangan

diamortisasi.
1. Ruang lingkup: aset dan

1. Ruang lingkup; investasi pada

kewajiban keuangan,
2. Diklasifikasikan pada nilai wajar

efek tertentu
2. Klasifikasi trading, held to

melalui laporan laba rugi, dimiliki

maturity, dan available for sale.

hingga jatuh tempo, tersedia

Hal tsb mengacu pada PSAK

untuk dijual, pinjaman dan


pinjaman yang diberikan.
3. Impairment menggunakan

Persediaan

Penurunan nilai
Aset

metode biaya.

No 50 (1998).
3. Jauh lebih sederhana
dibanding ketentuan PSAK 50

incurred loss concept.


4. Derecognition
5. Hedging dan derivatif.
LIFO tidak lagi diijinkan

LIFO tidak diijinkan

(PSAK 14 revisi 2008)

Ketentuan lainnya sama dengan

1. Ruang lingkup kecuali;

PSAK
1. Ruang lingkup yang meliputi

persediaan, aset yang timbul dari

dan PSAK 55 (revisi 2006)

semua jenis aset kecuali aset


22

kontrak konstruksi, aset pajak


tangguhan, aset yang timbul dari
manfaat pensiun.
2. Penurunan nilai non persediaan.
3. Penurunan nilai unit penghasil
kas dan goodwill.

yang timbul dari manfaat


pensiun.
2. Tidak mengatur penurunan
nilai goodwill.
3. Ada tambahan penurunan nilai
untuk pinjaman yang diberikan
dan piutang yang

Laporan Keuangan

Diatur dalam PSAK 4

menggunakan PSAK 31.


Tidak Diatur

Konsolidasian

Menggunakan metode ekuitas

Bila memiliki investasi atas asosiasi

(entitas asosiasi) dan metode

maupun subsidiary menggunakan

konsolidasi penuh untuk entitas

metode ekuitas (on line

anak.
1. Mengatur perjanjian yang

cosolidation).
1. Tidak mengatur perjanjian yang

mengandung sewa.
2. Klasifikasi bersifat principle

mengandung sewa ( psak 8)


2. Klasifikasi sewa; kombinasi

Sewa

based.
3. Laporan keuangan lessee dan
lessor

IFRS for SMEs dan SFAS 13


(rule based)
3. Laporan keungan lessee dan
lessor menggunakan PSAK 30

Biaya Pinjaman

Imbalan Kerja

Pajak Penghasilan

Komponen biaya pinjaman

(1990): Akuntansi Sewa


Biaya pinjaman langsung

Pengakuan dan kapitalisasi biaya

dibebankan.

pinjaman
Menjelaskan:

1. Tidak termasuk imbalan

1. Imbalan kerja jangka pendek


2. Imbalan pasca kerja, untuk

berbasis ekuitas
2. Untuk manfaat pasti

3.
4.
5.
1.

manfaat pasti menggunakan

mengunakan PUC dan jika

PUC (Project Unit Credit)


Imbalan jangka panjang lainnya
Pesangon pemutusan kerja
Imbalan berbasis ekuitas
Menggunakan deffered tax

tidak bisa, menggunakan

concept
2. Pengakuan dan pengukuran
pajak kini
3. Pengakuan dan pengukuran

metode yang disederhanakan.


1. Menggunakan tax payable
concept.
2. Tidak ada pengakuan dan
pengukuran pajak tangguhan.

pajak tangguhan

23

BAB III
PENUTUP

PSAK-ETAP merupakan standar akuntansi untuk entitas tanpa akuntabilitas publik. PSAK ini
menggunakan acuan IFRS untuk Small Medium Enterprises. Standar ini membantu perusahaan
kecil menengah dalam menyediakan pelaporan keuangan yang tetap relevan dan andal dengan
tanpa terjebak dalam kerumitan standar akuntansi berbasis IFRS yang akan kita adopsi di dalam
PSAK. SAK ETAP ini akan khusus digunakan untuk perusahaan tanpa akuntabilitas publik yang
signifikan.
Terdapat perbedaan mendasar antara SAK-ETAP dan SAK-Umum. Salah satunya dapat dilihat
dari Komponen laporan keuangan. SAK ETAP masih menggunakan istilah Neraca, Laporan Laba
rugi, Perubahan Ekuitas, Laporan Arus Kas, dan Catatan atas laporan Keuangan. Sedangkan
SAK-Umum, Neraca berganti nama dengan Laporan Posisi Keuangan, disajikan pula Laporan
Laba Rugi Komperehensif, selain juga menyusun LAK, Laporan Perubahan Ekuitas, dan Calk.
Penyajian Laporan Laba Rugi Komperehensif dianggap perlu pada SAK-Umum, sedangkan tidak
pada SAK-ETAP, mengingat SAK-ETAP adalah penyederhanaan dari SAK-Umum.
Perbedaan inilah yang menjadikan SAK-ETAP menjadi lebih sederhana dan aplikatif bagi
perusahaan kecil. Bukan hanya perusahaan kecil, perusahaan besar yang tidak diharuskan
memiliki akuntabulitas publik juga diizinkan menggunakannya, tapi perlu diingat, kesederhanaan
penyajian ini banyak mengabaikan hal yang tidak relevan. Banyak pula, informasi yang tidak di
ungkapkan secara wajar Oleh karena itu, untuk penggunaan SAK-ETAP benar tergantung pada
kriteria perusahaan. Oleh karena itu, pakailah standar yang tepat untuk kapasitas yang tepat untuk
perusahaan yang lebih baik.

24

DAFTAR PUSTAKA

Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik. 2009. Jakarta : IAI.
Affanfy, D. P. 2012. Pelatihan dan Pendampingan Guru-Guru Akuntansi Dalam Pembelajaran SAK
ETAP. Malang : PAFEB UMC, JAFEB UB, IAI Cabang Malang.
Martani, D. 2011. Implementasi Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas
Publik (SAK ETAP). Riau.
Suprihadi. 2012. Lokakarya Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik
(SAK ETAP) dan Tantangan Akuntan di Masa Depan. Malang : IAI Cabang Malang
dan ICATAS JAFEB UB. Universitas Brawijaya.
Stephanus, Daniels. 2013. Modul Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas
Publik (SAK-ETAP). Diakses pada tanggal 5 November 2016. (http://danielsstephanus.blogspot.co.id/2013/07/standat-akuntansi-keuangan-entitas.html)
Reksa, Fandhy Gladi. 2013. SAK ETAP. Diakses pada tanggal 5 November 2016.
(https://www-.scribd.com/doc/304288430/SAK-ETAP)
Sam Lupi. 2013. SAK ETAP. Diakses pada tanggal 5 November 2016. (http://iepoel.staff.umm.ac.id/-skripsi/keuangan/sak-etap/)

25