Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN PERCOBAAN 3

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN: PENURUNAN TITIK BEKU

Disusun Oleh:
KELOMPOK III

Evi Nurul Ihsan

(26020110110015)

Herdis Syariefudin

(26020110110018)

Galih Eko Nugroho

(26020110120019)

Ikhwan Musaddad Cholid

(26020110120020)

Ika Wulan Santi

(26020110110021)

JURUSAN ILMU KELAUTAN


FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2010

PERCOBAAN 3
SIFAT KOLIGATIF LARUTAN: PENURUNAN TITIK BEKU
I. Tujuan Percobaan
I.1

Mampu menjelaskan pengaruh zat terlarut pada sifat fisik pelarut


murni.

I.2

Mampu menentukan konstanta penurunan titik beku suatu pelarut.

I.3

Mampu menentukan berat molekul suatu senyawa.

II.Tinjauan Pustaka
II.1 Sistem Larutan
Larutan adalah campuran homogen dari molekul atom maupun ion
dari dua zat atau lebih. Larutan disebut campuran karena susunannya
berubah-ubah. Larutan disebut homogen karena susunannya begitu
seragam sehingga tidak dapat diamati adanya bagian-bagian yang
berlainan bahkan dengan mikroskop optis sekalipun. Dalam campuran
heterogen, permukaan-permukaan tertentu dapat dideteksi antara
bagian-bagian atau fase-fase yang terpisah. Meskipun semua
campuran fase gas bersifat homogen dan karena itu disebut larutan,
molekul-molekulnya begitu terpisah sehingga tak dapat saling
menarik dengan efektif. Larutan fase padat sangat dikenal dan sangat
berguna.
Contoh : - Perunggu ( tembaga dan zink sebagai penyusun utama )
Emas perhiasan ( biasanya campuran emas dan tembaga )
Biasanya, larutan berfase cair. Salah satu komponen larutan yaitu
pelarut harus berfase cair sedangkan zat terlarut dapat berbentuk gas,
padatan, atau larutan ( cairan ).
( Keenan, 1990 )

I.1

Sifat Koligatif Larutan

Sifat koligatif karutan adalah sifat-sifat larutan yang hanya


ditentukan oleh jumlah partikel dalam larutan dan tidak tergantung
kepada jenis partikelnya.
( Sukardjo, 1985 )
Terdapat empat sifat yang berhubungan dengan larutan encer, atau
kira-kira pada larutan yang ada. Jadi, sifat-sifat tersebut tidak
tergantung pada jenis terlarut. Keempat sifat tersebut ialah penurunan
tekanan uap, peningkatan titik didih, penurunan titik beku, dan
tekanan osmotik yang semuanya dinamakan sifat-sifat koligatif.
Kegunaan sifat-sifat koligatif banyak dan beragam. Juga, penelitian
sifat-sifat memainkan peranan penting dalam metoda penetapan bobot
molekul dan pengembangan teori larutan.
( Petrucci, 1987 )

Gambaran Sifat Koligatif


( Chemistry.org, 2009 )
I.1.1

Sifat Koligatif Larutan Elektrolit


Pada konsentrasi yang sama, sifat koligatif larutan
elektrolit memliki nilai yang lebih besar daripada sifat koligatif
larutan non elektrolit. Banyaknya partikel zat terlarut hasil
reaksi ionisasi larutan elektrolit dirumuskan dalam faktor Van't

Hoff. Perhitungan sifat koligatif larutan elektrolit selalu


dikalikan dengan faktor Van't Hoff :
i=1+(n-1)

* Keterangan :
i = faktor Van't Hoff

n = jumlah koefisien kation


= derajat ionisasi

Empat macam sifat koligatif larutan elektrolit adalah:


a. Penurunan tekanan uap, DP = i.P0.XA
b. Kenaikan titik didih, Dtb = i.kb.m
c. Penurunan titik beku, Dtf = i.kf.m
d. Tekanan osmose, = i.M.R.T
(http://kimiamifkho.wordpress.com/2009/07/22/sifatkoligatif-larutan-elektrolit/)
I.1.2

Sifat Koligatif Larutan Nonelektrolit


Sifat larutan berbeda dengan sifat pelarut murninya. Terdapat
empat sifat fisika yang penting yang besarnya bergantung pada
banyaknya partikel zat terlarut tetapi tidak bergantung pada jenis zat
terlarutnya. Keempat sifat ini dikenal dengan sifat koligatif larutan.
Sifat ini besarnya berbanding lurus dengan jumlah partikel zat terlarut.
Sifat koligatif tersebut adalah
tekanan uap
titik didih

titik beku
tekanan osmosis.

Menurut hukum sifat koligatif, selisih tekanan uap, titik beku,


dan titik didih suatu larutan dengan tekanan uap, titik beku, dan titik
didih pelarut murninya, berbanding langsung dengan konsentrasi molal
zat terlarut. Larutan yang bisa memenuhi hukum sifat koligatif ini

disebut larutan ideal. Kebanyakan larutan mendekati ideal hanya jika


sangat encer.
(http://www.scribd.com/doc/39685524/Larutan-Dan-Kelarutan)
I.1

Jenis-jenis Sifat Koligatif Larutan


I.1.1

Penurunan Tekanan Uap


Tekanan uap adalah ukuran kecenderungan molekulmolekul suatu cairan untuk lolos menguap. Makin mudah
molekul-molekul cairan uap, makin besar tekanan uapnya.
Besarnya tekanan uap bergantung pada jenis zat dan suhu.
Suatu zat yang memiliki gaya tarik antara partikelnya relative
besar, berarti sukar menguap dan akan mempunyai tekanan
uap kecil. Contoh,gula. Sebaliknya zat yang memiliki gaya
tarik menarik antara partikelnya lemah, berarti mudah
menguap atau atsiri ( volatile ) dan akan mempunyai tekanan
uap relatif besar. Contoh, eter. Harga tekanan uap suatu zat
juga makin besar bila suhu dinaikkan.
Bila ke dalam suatu pelarut dilarutkan zat yang sukar
menguap, maka tekanan uap larutannya menjadi lebih rendah
daripada tekanan uap pelarut murninya. Hal ini disebabkan
pada permukaan larutan terdapat interaksi antar zat terlarut dan
pelarut, sehingga laju penguapan pelarut berkurang. Akibatnya
tekanan larutan menjadi turun. Selisih antara tekanan uap
pelarut murni dengan tekanan uap larutan disebut penurunan
tekanan uap ( p ).
P = P-P
Menurut Roult, jika zat terlarut sukar menguap, maka
penurunan tekanan uap larutan sebanding dengan fraksi mol
terlarut, sedangkan tekanan uap larutan sebanding dengan
fraksi mol pelarut.
P

= Xpel . P

= P - (Xpel . P)

= P (1-Xter)P

= P-P+(Xter . P)
P

= Xter . P
( Yazid, 2005 )

I.1.2

Kenaikan Titik Didih


Titik didih suatu cairan adalah suhu pada saat tekanan
uap jenuh cairan itu sama dengan tekanan udara luar. Biasanya
yang dimaksud dengan titik didih adalah titik didih normal,
yaitu titik didih pada tekanan udara luar 1 atm. Titik didih
normal air adalah 100C. Pada suhu yang sama, adanya solut
yang sukar menguap menyebabkan tekanan uap larutan lebih
rendah, akibatnya titik didih larutan menjadi lebih tinggi
dibandingkan titik didih pelarut murninya. Jika air murni
dipanaskan pada 100C, air tersebut akan mendidih dan
tekanan uap permukaannya sebesar 1 atm. Agar larutan
mendidih tekanan uap permukaannya harus mencapai 1 atm.
Hal ini dapat dilakukan dengan menaikkan suhu larutan.

( Chemistry.org, 2009 )
Keterangan :
A

= titik didih air pada suhu 100C dan tekanan

uap 1 atm
B = titik pada 100C dan tekanan uap kurang dari 1
atm, dimana larutan belum mendidih

C = titik pada tekanan uap 1 atm dan suhu lebih besar


dari 100C, dimana larutan mendidih.
Suhu pada saat akan tercapai tekanan uap larutan 1 atm,
maka larutan akan mendidih. Harga titik didih ini lebih besar
dari 100C, atau lebih tinggi dari titik didih pelarutnya disebut
kenaikan titik didih (Tb).
Tb = Tb - Tb
Tb = Kb . m
Tb = Kb . WM . 1000P
Keterangan :
Tb= titik didih pelarut
Tb

= titik didih larutan

Kb

= tetapan kenaikan titik didih molekul

= berat molekul zat terlarut

= massa zat terlarut

= massa zat pelarut


( Yazid, 2005 )

I.1.3

Penurunan Titik Beku


Titik beku adalah suhu pada saat larutan mulai
membeku pada tekanan luar 1 atm. Titik beku normal air
adalah 0C. Jika air murni didinginkan pada suhu 0C, maka
air tersebut akan membeku dan tekanan uap permukaannya
sebesar 1 atm. Tetapi, bila kedalamnya dilarutkan zat terlarut
yang sukar menguap, maka pada suhu 0C ternyata belum
membeku dan tekanan uap permukaannya lebih kecil dari 1
atm. Supaya larutan membeku tekanan uap permukaannya
harus mencapai 1 atm. Hal ini dapat dicapai bila suhu larutan
diturunkan.
Setelah tekanan uap larutan uap mencapai 1 atm,
larutan akan membeku.besarnya titik beku larutan ini lebih
rendah dari 0C atau lebih rendah dari titik beku pelarutnya.
Turunnya titik beku larutan dari titik beku pelarutnya disebut
penurunan titik beku ( Tf ).

Menurut Roult untuk larutan yang sangat encer berlaku:


Tf = Kf.m
Kf = Tetapan penurunan titik beku molal ( C/mol )

A : titik beku air pada 0C dan tekanan uap pada 1 atm


B : titik pada 0C dan tekanan uap kurang dari 1 atm,
dimana larutan belum membeku
C : titik pada tekanan uap 1 atm dan suhu lebih kecil
dari 0C, dimana larutan membeku.
( Yazid, 2005 )
I.1.4

Tekanan Osmotik Larutan


Osmosis adalah suatu perpindahan / merambatnya
molekul pelarut dari larutan yang konsentrasinya rendah
(encer) menuju larutan yang konsentrasinya tinggi melalui
selaput semipermeabel, sedangkan tekanan osmotik adalah
besarnya tekanan larutan yang digunakan untuk
mempertahankan perpindahan pelarut pada peristiwa osmotik,
dirumuskan :
=MRT
=grMr1000PRT

Larutan-larutan yang mempunyai tekanan osmotik


sama disebut isotonik. Larutan yang mempunyai tekanan

osmotik lebih besar disebut hipertonik, sedangkan larutan yang


tekanan osmotiknya lebih rendah disebut hipotonik.
(Sukardjo, 1985)
I.2

Pelarut dan Zat Terlarut


Pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda
padat, cair atau gas, yang menghasilkan sebuah larutan.
Pelarut paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari
adalah air. Pelarut lain yang juga umum digunakan adalah bahan
kimia organik (mengandung karbon) yang juga disebut pelarut
organik. Pelarut biasanya memiliki titik didih rendah dan lebih
mudah menguap, meninggalkan substansi terlarut yang didapatkan.
Untuk membedakan antara pelarut dengan zat yang dilarutkan,
pelarut biasanya terdapat dalam jumlah yang lebih besar.
Zat terlarut adalh komponen yang jumlahnya sedikit dalam
larutan.
(http://wikipedia.org)

I.3

Pengaruh Zat Terlarut dalam Larutan


pada dasarnya larutan merupakan campuran yang homogen
sehingagga setiap bagiannya mempunyai perbandingan yang tetap
antara zat terlarut dan zat pelarutnya. Zat pelarut mempunyai jumlah
lebih banyak dan dapat menguraikan zat terlarut menjadi ukuran lebih
kecil atau lebih sederhana.
Banyak dijumpai sifat larutan dalam kehidupan sehari-hari, seperti
yang ditimbulkan oleh jenis dan kepekatan zat atau jumlah partikel
zat terlarutnya. Sifat larutan dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
a) Sifat larutan yang ditentukan oleh jenis zat terlarut seperti rasa,
warna, viskositas, dan pH.
Contoh: larutan gula terasa manis, larutan garam terasa asin.
b) Sifat larutan yang ditentukanoleh jumlah partikel zat terlarut
dalam larutan.
Hal itu bararti larutan yang mempunyai konsentrasi sama akan
mempunyai sifat yang sama juga, walaupun jenis zat terlarutnya

berbeda. Sifat larutan tersebut adalah seperti penurunan tekanan


uap, kenaikan titik didih, penurunan titik beku, dan tekanan
osmotik.
(Suyatno, 2007)
I.1

Titik leleh
Titik leleh merupakan salah satu sifat fisik yang penting untuk
karakterisasi suatu senyawa. Titik leleh ( melting point ) dari suatu
senyawa adalah temperatur yang menunjuk tepat pada saat proses
transformasi senyawa tersebut antara fasa padat dan cair.
( Wade, 1999 )

I.2

Molalitas
Molalitas adalah banyaknya mol zat terlarut yang dilarutkan
dalam 1 kg (1000g) pelarut, artinya :
Molalitas =mol zat terlarutmassa pelarut (Kg)
(Chang,2009)

I.3

Fraksi Mol
Lambang x, ukuran banyaknya komponen dalam campuran.
Fraksi mol komponen A adalah xA = nAN, dengan nA adalah
banyaknya zat A dan N adalah jumlah seluruh zat campuran.
( Daintith, 1994)

I.4

Analisa Bahan
I.4.1

Asam Steatrat (CH3(CH2)6COOH)


Sifat Kimia : Merupakan asam monoklinik
Larut dalam alkohol dan eter
Sifat Fisik

Berwujud padat/ berupa lemak dan lunak


Tidak berwarna
Rapat massa 0,847
Titik didih 690C
Tidak larut dalam air dan mudah terbakar

Kegunaan

Untuk obat-obatan
Alat-alat kecantikan

I.4.2

Asam Benzoat (C6H5COOH)


Sifat Kimia : Merupak asam monoklinik
Mempunyai gaya karboksil lemak yang
sedikit larut dalam air.
Sifat Fisik

Berwujud kristal putih


Berat jenis 1,27
Titik leleh 127,40C
Titik didih 2490C

Kegunaan

Sebagai antiseptik dan pengawet


(Daintith, 1994)

I.4.3

H2O (Air)
Sifat Kimia :

Dalam fase gas,cair terdiri dari 1 molekul


H2O dan sudut H-O-H 1050
Memiliki ikatan Hidrogen

Sifat Fisik

: Tidak berwarna
Titik didih 1000C
Titik beku 00C
Kf =1,86
(Daintith, 1994)

II. Metoda Percobaan


II.1 Alat dan bahan

II.1.1 Alat
a. kertas saring

h. pengaduk

b. termometer

i. hot plate

c. gelas beaker

j. isolasi

d. penjepit
e. penggerus
f. tabung reaksi
g. neraca/ timbangan
II.1.2 Bahan
a. Asam Stearat
b. Asam benzoat

k. pipa kapiler
l.kakitiga
m. tabung spiritus
n. termostat

c. Air
3.2 Gambar Alat
1. Kertas Saring

2.Termometer

3. Gelas Beaker

1. Penggerus

5. Spiritus

6. Tabung Reaksi

7. Solasi

8. Neraca

9. Pipa Kapiler

10. Pengaduk

11. Penjepit

12. Hot Plate

13. Kaki Tiga

14. Termostat

3.3 Skema Alat


penjepit
Termometer
Tabung reaksi
Pipa kapiler

Gelas beker
Air

Hot plat

3.4 Skema Kerja


3.4.1 Preparasi
Asam stearat
Gelas beker

--Penambahan asam benzoatb 0,2 gram


--Pemanasan sampai meleleh
--Pengadukan
--Pendinginan
--Penghalusan
--Pengamatan
Hasil

Asam stearat
Gelas beker

--Penambahan asam benzoatb 0,4 gram


--Pemanasan sampai meleleh
--Pengadukan
--Pendinginan
--Penghalusan
--Pengamatan
Hasil

Asam stearat
Gelas beker

--Penambahan asam benzoatb 0,6 gram


--Pemanasan sampai meleleh
--Pengadukan
--Pendinginan
--Penghalusan
--Pengamatan
Hasil

3.4.2Pengukuran titik leleh


Asam stearat
Pipa kapiler

--Pengikatan pipa kapiler


--Pengukuran titik leleh sampel
Asam stearat
Tabung reaksi

--Pemanasan
--Pelelehan

--Pengamatan
Hasil

I. Data Pengamatan
I.1

Hasil Pengamatan
No.

Perlakuan

Hasil

Preparasi Sampel

Asam stearat

-3gr asam stearat + pemanasan50 +


0,2gr asam benzoat + pengadukan +
pendinginan + penghalusan

dipanaskan. Saat
ditambah asam
benzoat dan diaduk

-3gr asam stearat + pemanasan50 +

sambil didinginkan ,

0,4gr asam benzoat + pengadukan +

mengkristal seperti

pendinginan + penghalusan

lilin berwarna putih

-3gr asam stearat + pemanasan50 +


0,6gr asam benzoat + pengadukan +
pendinginan + penghalusan
2

meleleh ketika

namun lebih keras.


Lalu dihaluskan
seperti bubuk.

Pengamatan Titik Leleh


-pengamatan titik leleh 3gr asam stearat

Kristal halus yang

+ 0,2 gr asam benzoat

ada di pipa kapiler

-pengamatan titik leleh 3gr asam stearat


+ 0,4 gr asam benzoat
-pengamatan titik leleh 3gr asam stearat

naik ke permukaan
saat gelembung
pertama muncul.

+ 0,6 gr asam benzoat

I.2

Perhitungan
No

Titik leleh (0C)

Wasam steatrat

Wasam benzoat

(gr)

(gr)

1.

0,2

36

2.

0,4

34

3.

0,6

40

Diket :

Tf asam stearat = 69,4


Tf 1 = 36
T f 2 = 34
T f 3 = 40
m1 = 0,2
M2 = 0,4
M3 = 0,6gr
BM asam benzoat = 122

P = 3 gr

Dit : kf
Jawab:
a) Kf1
Tf=m.kf
Tf asam stearat- Tf1= m1BMx1000Pxkf1
69,4-36=0,2122x10003xkf1
33,4=0,55 x kf1
kf1=60,72
b) Kf2
Tf=m.kf
Tf asam stearat- Tf2= m1BMx1000Pxkf2
69,4-34=0,4122x10003xkf2
35,4=1,09 x kf2
kf2=32,47
c) Kf3
Tf=m.kf
Tf asam stearat- Tf3= m3BMx1000Pxkf3
69,4-40=0,6122x10003xkf3
29,4=1,64 x kf1
kf1=17,9

I. Pembahasan
Kami telah melakukan percobaan Sifat Koligatif Larutan: Penurunan
Titik Beku dengan tujuan mampu menjelaskan pengaruh zat terlarut
pada sifat fisik pelarut murni, mampu mentukan konstata penurunan titik
beku suatu pelarut, dan mampu menentukan titik berat molekul suatu
senyawa.
5.1 Preparasi Sampel
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh zat
terlarut pada sifat fisik pelarut murninya. Percobaan ini dilakukan
dengan cara menimbang 3 gr asam stearat (CH3(CH2)6COOH) tiga kali
berturut-turut, kemudian penimbangan 0,2 gr; 0,4 gr; dan 0,6 gr asam
benzoat (C6H5COOH).
Setelah melakukan penimbangan terhadap masing-masing sampel,
langkah selanjutnya adalah memanaskan 3 gr asam stearat pada 3

macam beaker glass yang berbeda, sampai meleleh, lalu tambahkan


0,2 gr; 0,4 gr; dan 0,6 gr asam benzoat pada masing-masing beaker
glass yang berbeda. Kristalkan larutan tersebut dengan cara
melakukan pengadukan, yang bertujuan agar reaksi berjalan dengan
cepat (sebagai katalisator). Selain dilakukan pengadukan, katalisator
dapat dilakukan dengan cara mencelupkan beaker glass yang berisi
larutan asam stearat dengan asam benzoat ke dalam penangas air yang
berisi air dingin sampai larutan tersebut mengkristal.
5.2 Pengukuran titik leleh
Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui konstanta
penurunan titik beku suatu sampel. Setelah dilakukan preparasi
sampel hingga didapatkan kristal ( masing-masing dari 3 gr asam
stearat + 0,2 gr ,0,4 gr , 0,6 gr asam benzoat), masing-masing kristal
tersebut ditumbuk hingga halus agar bisa dimasukkan ke dalam pipa
kapiler. Setelah itu mengikat pipa kapiler yang telah berisi kristal
dengan tali pada termometer. Hal ini dilakukan melalui dua cara, yaitu
dengan menggunakan termostat primer dan termostat sekunder.
Pada termostat primer, digunakan gelas beaker untuk pemanasan.
Pada gelas beaker dimasukkan aquades dan dipanaskan sampai
mendidih. Setelah mendidih, dimasukkan termostat sekunder.
Termostat sekunder merupakan tabung reaksi yang kemudian diberi
aquades untuk pemanasan. Pada termostat sekunder, dimasukkan
termometer yang telah ditempelkan dengan pipa kapiler . Termostat
sekunder dimasukkan ke dalam termostat primer dan lakukan
pengamatan. Pengamatan dilakukan dengan mengukur suhu dengan
melihat gelembung pertama yang muncul pada termostat sekunder.
Adapun Kf yang didapatkan melalui pemanasan pada termostat
primer adalah sebagai berikut :
1.

3 gr asam stearat + 0,2 gr asam benzoat dengan

Tf=33,4C memiliki Kf= 60,72 /mol


2.

3 gr asam stearat + 0,4 gr asam benzoat dengan Tf =

35,4C memiliki Kf= 32,47/mol

3 gr asam stearat + 0,6 gr asam benzoat dengan Tf =

3.

29,4C memiliki Kf= 17,9/mol

I. Kesimpulan dan Saran


6.1 Kesimpulan
a. Pada jenis sifat koligatif, pengaruh zat terlarut pada sifat fisik
pelarut murni yaitu dengan penambahan zat terlarut terjadi
penurunan titik beku pelarut murni.
b. Semakin besar massa zat terlarut (asam benzoat) yang dilarutkan
dalam zat pelarut (asam stearat) semakin besar pula penurunan
titik lelehnya.
c. Berat molekul asam benzoat adalah 122gr/mol.
6.2 Saran
Sebaiknya, sebelum dan sesudah melakukan percobaan
praktikum, alat-alat laboratorium terlebih dahulu dibersihkan agar
alat bersih untuk menghindari kesalah pada saat melakukan
percobaan.

DAFTAR PUSTAKA
Chang, Raymond. 2009. Chemistry. USA: Random House.
Daintith, Jhon. 1994. Kamus Kimia Lengkap, Oxford edisi baru. Jakarta:
Erlangga.
Keenan, Charles. 1990. Ilmu Kimia untuk Universitas, edisi kelima.
Jakarta: Erlangga.
Petrucci, Ralph. 1987. General Chemistry. Jakarta: Erlangga.
Petrucci, Ralph. 1994. Kimia Dasar. Jakarta: Erlangga.
Sukardjo. 1985. Kimia Organik. Yogyakarta: Bina Aksara.
Suyatno,dkk. 2007. Kimia. Jakarta: Grasindo.
Wade.L. G. Jr. 1999. Organic Chemistry. USA: Prentice Hall.

Yazid,Estien. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis.Yogyakarta: CV. Andi


Offset.

LAMPIRAN

1. Struktur Asam Stearat

CH3 CH2 (CH2)13 CH2 CH2 C


OH
Rumus : C17H35COOH
2. Struktur Asam Benzoat

Rumus : C6H5COOH
3. Titik leleh asam stearat menurut literatur adalah 700C.

4. Berat Molekul Asam Stearat dan Asam Benzoat


a.Berat Molekul Asam Stearat (CH3(CH2)6COOH)
BM =8.Ar C+16.Ar H+2.Ar O
=8(12)+16(1)+2(16)
=96+16+32

=144 gr/mol
b.Berat Molekul Asam Benzoat (C6H5COOH)
BM =7.Ar C+ 6.Ar H+ 2.Ar O
=7(12)+ 6(1)+ 2(16)
=84 +6 +32
=122 gr/mol

LEMBAR PENGESAHAN
Semarang, 6 Desember 2009
Praktikan,

Evi Nurul Ihsan

Herdis Syariefudin

26020110110015

26020110110018

Galih Eko Nugroho

Ikhwan Musaddad C.

26020110120019

26020110120020

Ika Wulan Santi


26020110110021
Mengetahui,
Asisten

Fitri Mulyani
J2C007020