Anda di halaman 1dari 9

Universitas Kristen Krida Wacana

Evaluasi Program Sanitasi Rumah Sehat di Wilayah Kerja Puskesmas


Rengasdengklok, Kabupaten Karawang
Periode September 2015 sampai dengan Agustus 2016

Oleh:
Fransisca Hilda Carolina Pratiwi

Kepaniteraan Klinik Ilmu Kedokteran Komunitas


Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jakarta, Oktober 2016

Evaluasi Program Sanitasi Rumah Sehat


Di Wilayah Kerja Puskesmas Rengasdengklok, Kabupaten Karawang
Periode September 2015 sampai dengan Agustus 2016
Fransisca Hilda Carolina Pratiwi
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Email: sisca_hilda23@yahoo.com
Abstrak
Rumah merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia disamping sandang dan papan,
sehingga rumah harus sehat agar penghuninya dapat bekerja secara produktif. Rumah sehat
adalah bangunan tempat berlindung dan beristirahat serta sebagai sarana pembinaan
keluarga yang menumbuhkan kehidupan sehat secara fisik, mental dan sosial, sehingga
seluruh anggota keluarga dapat bekerja secara produktif. Konstruksi rumah dan
lingkungannya yang tidak memenuhi syarat kesehatan merupakan faktor risiko sebagai
sumber penularan berbagai penyakit, khususnya penyakit yang berbasis lingkungan.
Penyakit berbasis lingkungan masih merupakan penyebab utama kematian di Indonesia.
Penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan tuberkulosis yang erat kaitannya
dengan kondisi higiene bangunan perumahan, dan merupakan penyebab kematian nomor 2
dan 3 di Indonesia. Berdasarkan Riskesdas tahun 2013, period prevalence ISPA Indonesia
sebesar 25%, dan prevalensi tuberkulosis paru Indonesia sebesar 0.4%. Berdasarkan Profil
Kesehatan Indonesia tahun 2014, persentase rumah sehat secara nasional hanya sekitar
61.81%. Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun 2013, persentase rumah
sehat hanya mencapai angka 54.7%, di Kabupaten Karawang tahun 2014, hanya mencapai
angka 61.37% dan di Puskesmas Rengasdengklok tahun 2015 hanya mencapai 58.97%.
Maka dilakukan evaluasi program menggunakan metode dengan membandingkan cakupan
terhadap tolok ukur melalui pendekatan sistem. Hasil evaluasi didapatkan satu masalah, yaitu
cakupan pengawasan rumah sehat dengan besar masalah 40.6%, sedangkan persentase rumah
sehat di wilayah Puskesmas Rengasdengklok sudah memenuhi target yaitu 77.81 Penyebab
masalah tersebut, yaitu kurangnya tenaga untuk melakukan pengawasan rumah, kader terlatih
untuk melakukan pengawasan dan penyuluhan masih kurang, kerjasama lintas program dan
lintas sektoral belum optimal.
Kata kunci: evaluasi, program, rumah sehat.

A. Pendahuluan
Rumah merupakan salah satu
kebutuhan pokok manusia, disamping
kebutuhan sandang dan pangan. Rumah
sehat adalah bangunan tempat berlindung
dan beristirahat serta sebagai sarana
pembinaan keluarga yang menumbuhkan
kehidupan sehat secara fisik, mental dan
sosial, sehingga seluruh anggota keluarga
dapat
bekerja
secara
produktif.
Konstruksi rumah dan lingkungannya
yang tidak memenuhi syarat kesehatan
merupakan faktor risiko sebagai sumber
penularan berbagai penyakit, khususnya
penyakit yang berbasis lingkungan.
Penyakit-penyakit berbasis lingkungan
masih merupakan penyebab utama
kematian di Indonesia. Bahkan pada
kelompok bayi dan balita, penyakitpenyakit
berbasis
lingkungan
menyumbangkan lebih dari 80% penyakit
yang diderita oleh bayi dan balita.1
Penyakit berbasis lingkungan
masih merupakan penyebab utama
kematian di Indonesia. Penyakit infeksi
saluran pernapasan akut (ISPA) dan
tuberkulosis yang erat kaitannya dengan
kondisi higiene bangunan perumahan,
dan merupakan penyebab kematian
nomor 2 dan 3 di Indonesia. Berdasarkan
Riskesdas tahun 2013, period prevalence
ISPA Indonesia sebesar 25%, dan
prevalensi tuberkulosis paru Indonesia
sebesar 0,4%.1,2
Upaya pengendalian faktor resiko
yang mengancam kesehatan keluarga dari
dampak kualitas lingkungan perumahan
dan rumah tinggal yang tidak memenuhi
syarat, telah diatur dalam Keputusan
Menteri
Kesehatan
RI
Nomor829/Menkes/SK/VII/1999 tentang
Persyaratan Rumah Sehat. Dalam
penilaian rumah sehat terdapat beberapa
parameter rumah yang dinilai, meliputi 3
(tiga) kelompok komponen penilaian,
yaitu:
kelompok
higiene
rumah,
kelompok sarana sanitasi, kelompok
perilaku penghuni.1,4

Berdasarkan Profil Kesehatan


Indonesia tahun 2014, persentase
rumah sehat secara nasional hanya
sekitar 61,81%. Berdasarkan Profil
Kesehatan Provinsi Jawa Barat tahun
2013, persentase rumah sehat hanya
mencapai angka 54,7%. Sedangkan
persentase rumah sehat di Kabupaten
Karawang pada tahun 2014, sebesar
61,37%. namun di Puskesmas
Rengasdengklok presentase rumah
sehat tahun 2015 masih rendah,
sebesar 58,97% masih dibawah target
Kabupaten Karawang 75%. 4,5
B. Materi
Materi yang dievaluasi dalam
program Pengawasan Rumah Sehat di
wilayah
kerja
UPTD
Puskesmas
Rengasdengklok, Kabupaten Karawang,
Jawa Barat, periode September 2015
sampai dengan Agustus 2016, diambil dari
laporan bulanan penyehatan lingkungan
yang terdiri dari:
1 Pendataan rumah sehat
2 Inspeksi rumah sehat
3 Penyuluhan rumah sehat
4 Pembinaan rumah sehat
C. Metode
Evaluasi dilakukan dengan cara
melakukan pengumpulan data, pengolahan
data, analisis data, dan interpretasi data
program Rumah Sehat di Puskesmas
Rengasdengklok periode September 2015
sampai dengan Agustus 2016. Data
dibandingkan dengan tolok ukur yang
telah ditentukan dengan menggunakan
pendekatan sistem sehingga ditemukan
masalah pada program rumah sehat.
Usulan dan saran diberikan berdasarkan
penyebab dari masing-masing unsur
keluaran sebagai pemecahan masalah.

Bagan 1. Teori Pendekatan Sistem

D. Sumber Data dan Jenis Data


Sumber data dalam evaluasi ini
diambil dari data sekunder dan data tersier
yang berasal dari:
1.
Data Kependudukan di
Wilayah
Kerja
Puskesmas
Rengasdengklok.
2.
Catatan Bulanan Data
Dasar
Penyehatan
LingkunganPuskesmas Rengasdengklok
periode September 2015 sampai dengan
Agustus 2016.
3.
Catatan
Tahunan
Pemeriksaan Penyehatan Lingkungan
Puskesmas Rengasdengklok periode
September 2015 sampai dengan
Agustus 2016.
4.
Data Geografis Puskesmas
Rengasdenkok periode September 2015
sampai dengan Agustus 2016.
5.
Data
Demografis
Puskesmas Rengasdengklok periode
September 2015 sampai dengan
Agustus 2016.
Data Umum
Geografis
1. Lokasi Puskesmas
UPTD Puskesmas Rengasdengklokberada
di Jl.Tugu Proklamasi RT 022/ RW 012
Rengasdengklok,
Karawang,
yang
merupakan Puskesmasindukdenganluas
wilayah 1.575 Ha, yang terdiri dari
daerah pesawahan dan sebagian untuk
perumahan.
Batas
wilayah
kerja
Puskesmas
Rengasdenklok adalah sebagai berikut:

Sebelah Utara : wilayah kerja


Puskesmas
Medangasem
Kecamatan Jayakerta
Sebelah Selatan : wilayah kerja
Puskesmas
Kalangsari
Kecamatan Rengasdengklok
Sebelah Barat
: Sungai
Citarum Kabupaten Bekasi
Sebelah Timur : wilayah kerja
Puskesmas
Kutawaluya
Kecamatan Kutawaluya

2. Luas Wilayah Kerja


Wilayah
kerja
UPTD
Puskesmas
Rengasdengklok terdiri dari 6 desa, 32
Dusun, 42 RW dan 167 RT.
Desa Dewisari
Desa Kertasari
Desa Rengasdengklok Utara
Desa Rengasdengklok Selatan
Desa Amansar
Desa Dukuh Karya
1.

2.

3.
4.

Demografis
Jumlah penduduk di UPTD Puskesmas
Rengasdengklok memiliki jumlah
penduduk sebanyak 79.822 jiwa yang
terdiri dari laki laki sebanyak
32.096 jiwa dan perempuan sebanyak
47.726 serta jumlah KK adalah
41.838, Jumlah rumah tangga
sebanyak22.769rumahtangga.
Tingkat pendidikan penduduk Kecamatan
Rengasdengklok terbanyak adalah
sekolah menengah pertama, berjumlah
37.348 orang (46.79%).
Mata pencarian terbanyak di Kecamatan
Rengasdengklok adalah pedagang
yakni berjumlah 5.086 orang (72.39%)
Jumlah kepala keluarga miskin di
Kecamatan Batu Jaya berjumlah 6.439
jiwa.
Fasilitas Kesehatan
Jenis sarana kesehatan yang berada di
wilayah kerja Puskesmas Rengasdengklok,
antara lain: 1 Puskesmas, 1 RS Swasta, 5

Klinik Swasta, 10 praktek dokter umum,


dan 57 Posyandu.

Data Khusus

1. Masukan
a. Tenaga (Man)

Petugas Kesling: 1 orang (merangkap


sebagai
koordinator
program
dan
pelaksana program)
b. Dana (Money)

BOK : Tersedia

c. Sarana (Material)

Sanitarian Kit : Ada

Infokus

: Ada

Layar

: Ada

Leaflet

: Tidak Ada

Lembar balik : Tidak Ada

Poster

Buku pedoman Kesling: Ada

Form penilaian rumah sehat: Ada

Alat tulis

Sarana transportasi: Ada

: Tidak Ada

: Ada

d. Metode (Method)

Pendataan
dilakukan
dari
September 2015 sampai dengan
Agustus 2016.

Inspeksi dilakukan secara berkala


dalam 1 bulan 1 kali dengan
mengunjungi
rumah
melalui
kaedah survei di wilayah kerja
Puskesmas
Rengasdengklok.
Pengawasan/inspeksi
rumah
diperiksa dengan formulir yang
telah disiapkan.
Penyuluhan mengenai rumah sehat
dilakukan jika kondisi rumah yang
diinspeksi tidak memenuhi syarat.
Pembinaan rumah sehat dilakukan
3 bulan sekali.

2. Proses
a. Perencanaan
Perencanaan kegiatan program
pengawasan rumah sehat dibuat
satu bulan sebelumnya yaitu
dimulai dengan pendataan rumah
yang akan di inspeksi dan petugas
dari program kesehatan lingkungan
akan berkoordinasi dengan kader
yang di setiap desa.
Pelaksanaan kegiatan inspeksi
rumah 1 bulan 1 kali dalam setahun
oleh petugas kesehatan lingkungan
terlatih pada hari kerja dari pukul
09.00 sampai dengan pukul 12.00
WIB.
Kegiatan penyuluhan dilaksanakan
oleh petugas kesehatan lingkungan
saat melakukan pengawasan rumah
sehat. Penyuluhan turut diberikan
melalui lintas program dan lintas
sektoral.
Bertujuan
untuk
meningkatkan
kesadaran
masyarakat tentang pentingnya
kesehatan
lingkungan
dan
sosialisasi program sanitasi total
berbasis masyarakat (STBM) dan
perilaku hidup bersih dan sehat
(PHBS).
Pembinaan rumah sehat dilakukan
3 bulan sekali.
b. Pengorganisasian
Dibuat struktur organisasi, kepala
puskesmas sebagai penanggung jawab
program, melimpahkan kekuasaan kepada

Koordinator
kesehatan
lingkungan,
kemudian melakukan koordinasi dengan
pelaksana program. Terdapat struktur
tertulis dan pembagian tugas yang teratur
dalam melaksanakan tugasnya.
Pengorganisasian dalam program
dibagi berdasarkan jabatan:
a. Kepala Puskesmas (dr. Hj. Siti
Yulyanti):
Sebagai penanggungjawab
program.
Monitoring
pelaksanaan
kesehatan lingkungan.
b. Koordinator Pengawasan Rumah
Sehat (H. Iwan Syarif Hidayat, AMK):
Koordinator program.
Menerima pelaporan hasil
kegiatan
kesehatan
lingkungan dari wilayah
setempat.
Melakukan pencatatan hasil
keberhasilan program dan
melaporkan
hasil
pencatatan kepada Kepala
Puskesmas Rengasdengklok
setiap bulan.
Menganalisa hasil kegiatan.
c. Pelaksanaan
Sesuai dengan rencana dan metode
yang telah ditetapkan, dilaksanakan secara
berkala:

Pendataan
dilakukan
dari
September 2015 sampai dengan
Agustsu 2016 berupa jumlah rumah
yang ada dan jumlah rumah yang
memenuhi kriteria rumah sehat.
Inspeksi dilakukan setiap 1 bulan 1
kali oleh petugas kesehatan
lingkungan pada hari kerja dari
pukul 09.00 sampai dengan pukul
12.00 WIB. Bersama dengan
kader/perangkat
desa
dengan
mengunjungi
rumah
melalui
kaedah survei di wilayah kerja
puskesmas
Rengasdengklok.
Pengawasan/inspeksi
rumah
diperiksa dengan formulir inspeksi
sanitasi rumah sehat.

Penyuluhan/pemicuan
mengenai
rumah sehat dilakukan jika kondisi
rumah yang diinspeksi tidak
memenuhi syarat. Penyuluhan turut
diberikan melalui lintas program
dan lintas sektor. Bertujuan untuk
meningkatkan
kesadaran
masyarakat tentang pentingnya
kesehatan lingkungan dan sosialisi
program sanitasi total berbasis
masyarakat (STBM) dan perilaku
hidup bersih dan sehat (PHBS).
Pembinaan rumah sehat dilakukan
3 bulan sekali, dikoordinasi dengan
Tim PKK setempat.

d. Pengawasan
Adanya
rapat
bulanan
di
Puskesmas
Rengasdengklok
tentang hasil pencapaian program
pengawasan rumah sehat.
Adanya pencatatan bulanan dan
tahunan serta pelaporan secara
berkala
tentang
kegiatan
pengawasan rumah sehat ke tingkat
Kabupaten minimal 1 bulan sekali.
e. Keluaran

Cakupan
pengawasan/inspeksi
sebesar 44.55%.
Persentase rumah sehat sebesar
77.81%.
Tidak ada data tertulis mengenai
penyuluhan rumah sehat.
Tidak ada data tertulis mengenai
pembinaan rumah sehat.
4. Lingkungan
a Lingkungan Fisik
Lokasi:
Semua lokasi dapat dijangkau
dengan sarana transportasi yang
ada (sepeda motor) karena terdapat
akses jalan yang bisa dilalui sepeda
motor. Walaupun sebagian jalan
masih berlubang-lubang dan masih
banyak jalan yang belum diaspal
tetapi
tidak
mempengaruhi
pelaksanaan
program
secara
signifikan

Infrastruktur jalan:
Hanya jalan utama yang dicor/
diaspal, sedangkan jalan untuk
masuk ke dalam desa masih jalan
tanah, sehingga debu dapat masuk
ke dalam rumah.
Penampungan air:
Banyak terdapat empang yang
tidak difungsikan lagi sebagai
peternakan ikan, sehingga dapat
menjadi tempat hidup nyamuk.
b Lingkungan Non Fisik
Sebagian besar penduduk bermata
pencaharian sebagai pedagang.
Masyarakat
memiliki
tingkat
ekonomi yang rendah.
Tingkat pendidikan masyarakat
sebagian besar yaitu SMP
Kurangnya kesadaran masyarakat
untuk berperilaku hidup bersih dan
sehat.
5. Umpan Balik
Adanya rapat kerja bulanan
bersama Kepala Puskesmas satu bulan satu
kali yang membahas laporan kegiatan
evaluasi program yang telah dilaksanakan,
tetapi tidak adanya pencatatan dan
pelaporan yang lengkap mengenai
penyuluhan dan pembinaan rumah sehat,
sehingga tidak dapat digunakan sebagai
masukan dalam perencanaan program
pengawasan rumah sehat selanjutnya.
6. Dampak
Dampak Langsung
Diharapkan
meningkatnya
pengetahuan
dan
kesadaran
mengenai rumah sehat sehingga
dapat meningkatkan jumlah rumah
sehat di wilayah kerja Puskesmas
Rengasdengklok.
Dampak Tidak Langsung
Diharapkan menurunnya angka
kesakitan akibat penyakit berbasis
lingkungan
E. Masalah yang Ditemukan
Dari hasil laporan program
penyehatan lingkungan di Puskesmas
Rengasdengklok periode September 2015

sampai dengan Agustus 2016 ternyata


terdapat satu masalah, yaitu:
a. Persentase cakupan pengawasan
rumah sehat 44.55% dari tolok
ukur sebesar 75%, dengan besar
masalah 40.6%.
Masalah dari Masukan:
Terdapat hanya 1 orang petugas
yang bertugas sebagai kordinator,
tetapi pelaksana program masih
tidak mencukupi dan kurang
terampil
Tidak tersedia lembar balik sebagai
sarana
penyuluhan/pemicuan
kepada masyarakat.
Masalah dari Proses:
Struktur organisasi sudah jelas,
namun koordinasi belum optimal di
lintas program dan lintas sektoral.
Kader terlatih untuk melakukan
pengawasan dan penyuluhan masih
kurang.
Kurangnya koordinasi dengan PKK
setempat.
Masalah dari Umpan Balik:
Tidak adanya pencatatan dan
pelaporan yang lengkap mengenai
penyuluhan dan pembinaan rumah
sehat.
Masalah dari Lingkungan:

Hanya jalan untama yang dicor/


diaspal, sedangkan jalan untuk
masuk ke dalam desa masih jalan
tanah, sehingga debu dapat masuk
ke dalam rumah.
Banyak terdapat empang yang
tidak difungsikan lagi sebagai
peternakan ikan , sehingga dapat
menjadi tempat hidup nyamuk.
Sebagian besar penduduk memiliki
tingkat ekonomi yang rendah untuk
membina rumah yang sehat dan
mendapatkan akses sarana sanitasi
yang memenuhi syarat.

Tingkat pendidikan masyarakat


masih rendah, hal ini berpengaruh
tentang rumah sehat yang masih
rendah.

F. Kesimpulan
Dari hasil evaluasi program
pengawasan rumah sehat yang dilakukan
dengan cara pendekatan sistem di wilayah
kerja UPTD Puskesmas Rengasdengklok
pada periode September 2015 sampai
dengan Agustus 2016 dikatakan belum
berjalan dengan baik melihat kepada angka
keberhasilan program sebagai berikut:
a. Cakupan pengawasan rumah sehat
dengan pencapaian 44.55% dan besar
masalah 40.6%.
b. Persentase rumah sehat dengan
pencapaian 77.81%
G. Saran
Saran bagi kepala Puskesmas
Rengasdengklok:
Menambah jumlah, memotivasi
dan melatih kader, terkait dengan
pengawasan
rumah
sehat,
diharapkan dalam jangka waktu 6
bulan sudah terbentuk kader
kesehatan lingkungan di setiap
desa.
Melakukan pemetaan pada setiap
desa untuk melakukan pengawasan
rumah sehat, kemudian mengambil
sampel rumah untuk diinspeksi
dalam jangka waktu 3 bulan.
Meningkatkan koordinasi lintas
program dan lintas sektoral,
terutama dengan Dinas Sosial,
Dinas Perumahan, dan Dinas
Pekerjaan Umum.. Selain itu,
dengan
menggunakan
azaz
keterpaduan, bekerjasama dengan
program yang juga melakukan
pendataan ke setiap rumah seperti
program PHBS oleh kader, untuk
sekaligus melakukan pengawasan
rumah sehat.
Mengadakan pertemuan dengan
tim PKK setempat secara berkala,

minimal 3 bulan sekali, untuk


membincangkan
dan
menyelenggarakan kegiatan yang
melibatkan masyarakat untuk tahu
dan sadar tentang pentingnya
rumah sehat, selain itu diharapkan
masyarakat juga dapat turut
berperan
aktif
meningkatkan
kesehatan lingkungan. Misalnya
dengan
gotong-royong
untuk
membina tempat sampah yang
memenuhi syarat di sekitar desa
sehingga
masyarakat
tidak
membuang sampah sembarangan.
Menyiapkan lembar balik untuk
sarana penyuluhan baik perorangan
maupun penyuluhan kelompok.
Penyuluhan diharapkan menambah
pengetahuan masyarakat tentang
rumah sehat sehingga mengubah
sikap dan perilaku.

Daftar Pustaka
1. Direktorat Jenderal Pengendalian
Penyakit
dan
Penyehatan
Lingkungan.
Pedoman
teknis
penilaian rumah sehat. Departemen
Kesehatan RI, 2007.
2. Riskesdas. Riset kesehatan dasar.
Kemenrian Kesehatan Republik
Indonesia.jakarta,2013;h.22.
3. Keman S. Kesehatan perumahan
dan lingkungan pemukiman. Jurnal
Kesehatan Lingkungan, Vol.2,
No.1, Desember 2005:29-42.
4. Data profil kesehatan Provinsi
Jawa Barat tahun 2015. Dinas
Kesehatan Provinsi Jawa Barat,
2016.
5. Direktorat Jenderal Pengendalian
Penyakit
dan
Penyehatan
Lingkungan.
Profil
kesehatan
Indonesia tahun 2014. Kementerian
Kesehatan Republik Indonesia,
2015.
6. Data pencatatan dan pelaporan
tahun 2015. Program Penyehatan
Lingkungan
Puskesmas
Rengasdengklok.