Anda di halaman 1dari 24

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Istilah pendidikan kesehatan telah dirumuskan oleh para ahli pendidikan
kesehatan dalam berbagai pengertian, tergantung pada sudut pandang massingmasing. Menurut Wood (1926), dalam definisi yang dikemukakannya (Hanlon, hlm.
578) yang dikutip Tafal, (1984) mengemukakan bahwa pendidikan kesehatan sebagai
sekumpulan pengalaman yang mendukung kebiasaan, sikap, dan pengetahuan yang
berhubungan dengan kesehatan individu, masyarakat, dan ras.
Pendidikan kesehatan adalah suatu proses perubahan pada diri seseorang
yang dihubungkan dengan pencapaian tujuan kesehatan individu, dan masyarakat.
Pendidikan kesehatan tidak dapat diberikan kepada seseorang oleh orang lain, bukan
seperangkat prosedur yang harus dilaksanakan atau suatu prosedur yang harus
dicapai, tetapi sesungguhnya merupakan suatu proses perkembangan yag berubah
secara dinamis, yang didalamnya seseorang menerima atau menolak informasi, sikap,
maupun praktek baru, yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat.
Pendidikan Kesehatan dalam keperawatan saat ini sangatlah penting untuk
dipelajari bagi setiap perawat, mengingat bahwa saat ini dorongan zaman terus
menuntut agar perawat dapat memberikan pelayanan yang terbaik bagi setiap klien.
Banyak masyarakat yang masih mengharapkan peningkatan pelayanan kesehatan dari
cara kerja perawat dalam melaksanakan pelayanan, dan tidak sedikit pula masyarakat
yang masih mengeluhkan akan kinerja perawat dalam melaksanakan pelayanan
keperawatan kepada klien. Pendidikan kesehatan juga bertujuan agar perawat dapat
secara mandiri melaksanakan asuhan keperawatan kepada klien tanpa selalu
bergantung pada orang lain. Berdasarkan permasalahan di atas, penting kiranya
penulis yang berkutat di dalam pemberi asuhan keperawatan bagi klien, mengkaji dan
mencarikan solusi terbaik untuk semua pihak. Maka dari itu, penulis mencari
informasi dan menyusun makalah mengenai pendidikan kesehatan dalam
keperawatan yang mudah-mudahan bisa menjadi solusi. Hal ini pun merupakan
salah satu upaya pemenuhan tugas mata kuliah Ilmu Keperawatan Dasar II .

B. Rumusan Masalah
1

Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang menjadi pokok


bahasan makalah ini adalah :
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Agar pembaca dapat mengetahui dan memahami tentang pendidikan
kesehatan atau penyuluhan pada pasien dan keluarga dalam keperawatan kritis
yang akan kami bahas dan uraikan dalam makalah ini.
2. Tujuan Khusus
D. Manfaat Penulisan

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pendidikan Kesehatan
1. Pengertian Pendidikan Kesehatan
Menurut Notoatmodjo tahun 2003, pendidikan kesehatan adalah proses untuk
meningkatkan kemampuan masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan
kesehatan. Sedangkan dalam keperawatan, pendidikan kesehatan merupakan satu
bentuk intervensi keperawatan yang mandiri untuk membantu klien baik individu,
kelompok, maupun masyarakat dalam mengatasi masalah kesehatannya melalui
kegiatan pembelajaran, yang di dalamnya perawat berperan sebagai perawat
pendidik.
2. Tujuan Pendidikan Kesehatan
Secara umum, tujuan dari pendidikan kesehatan ialah meningkatkan kemampuan
masyarakat untuk memelihara dan meningkatkan derajat kesehatan, baik fisik,
mental dan sosialnya sehingga produktif secara ekonomi maupun sosial.
(Notoatmodjo, 2003)
3. Ruang Lingkup Pendidikan Kesehatan
Menurut Notoatmodjo tahun 2003, ruang lingkup pendidikan kesehatan dapat
dilihat dari berbagai dimensi, antara lain; dimensi aspek kesehatan, dimensi
tatanan atau tempat pelaksanaan pendidikan kesehata, dan dimensi tingkat
pelayanan kesehatan.
a. Aspek Kesehatan
Telah menjadi kesepakatan umum bahwa kesehatan masyarakat itu mencakup
empat aspek pokok yaitu:
2) Promosi (Promotif)
3) Pencegahan(Preventif)
4) Penyembuhan(Kuratif)
5) Pemulihan(Rehabilitatif)
b. Tempat Pelaksanaan Pendidikan Kesehatan
Menurut
dimensi
pelaksanaannya,
pendidikan

kesehatan

dapat

dikelompokkan menjadi lima, yaitu:


1) Pendidikan kesehatan pada tatanan keluarga (rumah tangga)
2) Pendidikan kesehatan pada tatanan sekolah, dilakukan di sekolah dengan
sasaran murid
3) Pendidikan kesehatan di tempat-tempat kerja dengan sasaran nuruh atau
karyawan yang bersangkutan
4) Pendidikan kesehatan di tempat-tempat umum, yang mencakup terminal
bus, stasiun, bandar udara, tempat-tempat olahraga, dan sebagainya

5) Pendidikan kesehatan pada fasilitas pelayanan kesehatan, seperti: Rumah


Sakit, Puskesmas, Poliklinik Rumah Bersalin, dan sebagainya
c. Tingkat Pelayanan Kesehatan
Dimensi tingkat pelayanan kesehatan pendidikan kesehatan dapat dilakukan
berdasarkan 5 tingkat pencegahan dari leavel and clark, sebagai berikut:
1) Promosi kesehatan seperti peningkatan gizi, kebiasaan hidup, dan
perbaikan sanitasi lingkungan
2) Perlindungan khusus seperti adanya program imunisasi
3) Diagnosis dini dan pengobatan segera
4) Pembatasan cacat yaitu seperti kurangnya pengertian dan kesadaran
masyarakat tentang kesehatan dan penyakit seringkali mengakibatkan
masyakat tidak melanjutkan pengobatannya sampai tuntas, sedang
pengobatan yang tidak sempurna dapat mengakibatkan orang yang
bersangkutan menjadi cacat
5) Rehabilitasi (pemulihan)
B. Pengkajian Kebutuhan Belajar
Pengkajian yang komprehensif tentang kebutuhan belajar dapat digali dari
riwayat keperawatan dan hasil pengkajian fisik serta melalui informasi dari orang
yang dekat dengan klien. Pengkajian juga mencakup karakterisitik klien yang
mungkin akan mempengaruhi proses belajark, misalnya kesiapan belajar, motivasi
untuk belajar, dan tingkat kemampuan membaca. Selain penggalian data melalui
wawancara, perawat juga harus melakukan observasi terhadap kemampuan dan
kebutuhan-kebutuhan klien. Kebutuhan belajar dapat juga di identifikasi dari
pernyatan klien terhadap perawat tentang suatu hal yang tidak mereka ketahui atau
tidak terampil dalam melakukannya.
1. Pengkajian Faktor Predisposisi
a. Pengkajian Riwayat Keperawatan
Informasi tentang usia akan

memberi

petunjuk

mengenai

status

perkembangan seseorang, sehingga dapat memberi arah mengenai isi


pendidikan kesehatan dan pendekatan yang harus digunakan. Pernyataan yang
di ajukan hendaknya sederhana. Pada klien lanjut usia(lansia), pernyataan di
ajukan dengan perlahan dan diulang. Status perkembangan, terutama pada
klien

anak, dapat dikaji melalui observasi ketika anak melakukan aktivitas

atau bermain, sehingga perawat mendapat data tentang kemampuan motorik


dan perkembangan intelektualnya.

Persepsi klien tentang keadaan masalah kesehatannya saat ini dan bagaimana
mereka menaruh perhatian terhadap masalahnya dapat memberikan informasi
kepada perawat tentang seberapa jauh pengetahuan mereka mengenai
masalahnya dan pengaruhnya terhadap kebiasaan aktivitas sehari-hari.
Informasi ini dapat memberi petunjuk kepada perawat untuk memberi arahan
yang tepat serta sumber-sumber lain yang dapat digunakan oleh klien.
Kepercayaan klien tentang kesehatan, kepercayaan tentang agama yang
dianut, dan peran gender merupakan faktor penting dalam mengembangkan
rencan pendidikan kesehatan. Kepercayaan yang penting digali pada klien,
contohnya adalah kepercayaan tidak boleh menerima tranfusi darah, tidak
boleh menjadi donor organ tubuh, tidak boleh menggunakan alat kontrasepsi.
Berbagai daerah mempunyai kepercayaan dan praktek-praktek tersendiri.
Kepercayaan dalam budaya tersebut dapat berhubungan dengan kebiasaan
makan, kebiasaan mempertahankan kebiasaan menangani keadaan sakit, serta
gaya hidup. Perawat sangat penting mengetahui hal tersebut, namun demikian
tidak boleh menaruk asumsi bahwa setiap individu dalam suatu etnik dan
kultur tertentu mempunyai kebiasaan yang sama karena hal ini tidak selalu
terjadi. Oleh karena itu, perawat tetap harus mengkaji dan menilai klien
secara individual.
Keadaan ekonomi klien dapat berpengaruh terhadap proses belajar klien.
Bagaimana pun perawat harus mengkaji hal ini dengan baik, karena
perencaan pendidikan kesehatan dirancang sesuai dengan sumber-sumber
yang ada pada klien dengan tujuan tercapai. Jika tidak, rancangan tidak akan
sesuai dan sulit untuk dilaksanakan.
Bagaimana cara klien belajar adalah hal yang sangt penting untuk diketahui.
Cara belajar yang terbaik bagi setiap individu bervariasi. Cara terbaik
seseorang dalam belajar mungkin dengan melihat atau menonton untuk
memahami sesuatu dengan baik. Dilain pihak, yang lain mungkin belajar
tidak dengan cara melihat, tetapi dengan cara melakuan secara aktual dan
menemukan bagaimana cara-cara mengerjakan sesuatu hal. Yang lain
mungkin dapat belajar dengan baik dengan membaca sesuatu yang di
presentasikan oleh orang lain. Perawat perlu menuangkan waktu dan
memupuk keterampilan untuk mengkaji klien dan mengidentifikasi gaya
belajar, untuk kemudian mengadaptasi pendidikan kesehatan yang sesuai
dengan cara-cara belajar klien. Menggunakan variasi teknik mengajar dan
5

variasi aktivitas selama mengajar adalah jalan yang baik untuk memenuhi
kebutuhan gaya belajar klien. Sebuah teknik akan masalah efektif untuk
beberapa klien, sebaliknya teknik lain akan cocok untuk kilen dengan gaya
belajar yang berbeda.
Perawat perlu mengkaji sistem pendukung klien untuk menentukan siapa saja
sasaran pendidikan kesehatan yang mungkin dapat mempertingi dan
mendorong proses belajar klien. Anggota keluarga atau teman dekat mungkin
dapat membantu klien dalam mengembangkan keterampilan di rumah dan
mempertahankan perubahan gaya hidup yang diperlukan klien.
b. Pengkajian Fisik
Pengkajian fisik secara umum dapat memberikan petunjuk terhadap untuk belajar
klien. Contohnya : status mental, kekuatan fisik, status nutrisi. Hal lain yang
mencakup pengkajian fisik adalah pernyataan klien terhadap kapasitas fisik untuk
belajar dan aktivitas perawatan diri sendiri. Kemampuan melihat dan mendengar
memberi pengaruh besar terhadap pemilihan subtansi dan pendekatan dalam
mengajar. Fungsi sistem muskuloskelet mempengaruhi kemampuan keterampilan
psikomotor dan perawatan diri. Toleransi aktivitas dapat juga mempengaruhi
kapasitas klien untuk melakukan aktivitas.
c. Pengkajian Kesiapan Klien Untuk Belajar
Klien yang siap untuk belajar sering dapat dibedakan dengan klien yang tidak
siap. Seorang klien yang siap belajar mungkin mencari informasi, misalnya
melalui bertanya, membaca buku atau artikel, tukar pendapat dengan sesama klien
yang pada umumnya menunjukan ketertarikan. Di lain pihak, klien tidak siap
belajar biasanya lebih suka untuk menghindari masalah atau situasi. Kesiapaan
fisik penting dikaji oleh perawat, apakah klien dapat memfokuskan perhatian atau
lebih berfokus terhadap status fisiknya misalnya nyeri, pusing, lelah, mengantuk,
atau hal lain. 3 hal yang perlu dikaji oelh perawat dalam kesiapan klien untuk
belajar adalah sebagai berikut :
1) Kesiapan emosi. Apakah secara emosi klien siap untuk belajar? Klien dalam
keadaan cemas, defresi, atau dalam keadaan berduka karena keadaan
kesehatannya atau keadaan keluarganya biasanya tidak siap untuk belajar.
Perawat tidak dapat memaksakan, tapi harus menunggu sampai keadaan klien
memungkinkan menerima proses pembelajaran.
2) Kesiapan kognitif. Dapatkah kilen berpikir secara jernih? Apakah klien dalam
keadaan sadar penuuh, apakah klien tidak dalam pengaruh zat yang
mengganggu tingkat kesadaran? Pertanyaan itu sangat penting untuk dikaji.
6

3) Kesiapan berkomunikasi. Sudahkah klien dapat berhubungan dengan rasa


saling percaya dengan perawat? Atau kah klien belum mau menjalin
komunikasi karena masih belum menaruh rasa percaya. Hubungan saling
percaya antara perawat dengan klien menentukan komunikasi dua arah yang
diperlukan dalam proses belajar mengajar.
d. Pengkajian Motivasi
Secara umum dapat diterima bahwa seseorang harus mempunyai keingina belajar
demi keefektifan pembelajaran. Motivasi dan memberi ransangan atau jalan untuk
belajar merupakan faktor penentu yang sangat kuat untuk kesuksesan dalam
mendidik klien dan berhubungan erat dengan pemenuhan kebutuhan klien.
Motivasi seseorang dapat dipengaruhi masalah keuangan, penolakan terhadap
status kesehatan, kurangnya dorongan dari lingkungan sosial, pengingkaran
terhadap penyakit, kecemasan, ketakutan, rasa malu, atau adanya konsep diri yang
negatif. Motivasi juga dipengaruhi oleh sikap dan kepercayaan. Contohnya
motivasi belajar seorang pria setengah baya dinyatakan hipertensi dan mulai
mendapat anti hipertnsi untuk mengendalikan tekanan darahnya mungkin akan
rendah, jika teman dekatnya menceritakan bahwa ia impoten setelah mendapat
pengobatan yang sama.
Pengkajian tentang motivasi belajar sering merupakan bagian dari pengkajian
kesehatan secara umum atau diangkat sebagai masalah yang spesifik. Seorang
perawat ketika mengkaji motivasi dan kemapuan klien harus betul-betul mengerti
sepenuhnya subyek belajar. Motivasi memang sulit untuk dikaji, mungkin dapat
ditunjukan secara verbal atau juga secara non verbal.
e. Pengkajian Kemapuan Membaca
Ketidakmampuan membaca dan menulis dapat ditemukan pada setiap langkah
kehidupan, pada semua suku dan pada setiap tingkat sosial ekonomi. Penampilan
seseorang dan pengguanaan bahasa tidak mengidinkasikan bahwa ia mampu
membaca dan menulis. Banyak orang dengan kemapuan membaca dan menulis
rendah memiliki intelegensi rata-rata dan berbicara dengan baik. Bagaimana
seorang perawat dapat menentukan tingkat kemapuan membaca klien? Melakukan
pengujian secara langsung adalah cara yang terbaik, tetapi sering sulit dipraktikan.
Berikut ini dijelaskan cara mengkaji tingkat kemampuan membaca klien.
1) Mengkaji tingkat kesenangan membaca klien; berikan sesuatu untuk dibaca dan
minta klien menjelakan apa yang dibacanya dengan mengguinakan bahasanya
sendiri. Jika memungkinkan, tawarkan pada klien beberapa pilihan cara
belajar(membaca, menonton/melihat, atau mendengarkan). Jika ragu-ragu,
7

gunakan materi bacaan yang mudah dan jika seseorang dalam keadaan stres
sebaiknya dimulai dengan materi sederhana, baru kemudian ditambahkan yang
lebih kompleks.
2) Menggunakan indeks SMOG untuk mengkaji tingkat kemampuan membaca
klien terhadap materi pendidikan kesehatan sehingga kemudian dapat
ditentukan kesesuaian materi untuk populasi yang akan membacanya. Berikut
ini disajikan cara menentukan tingkat kesiapaan daripada materi tertulis dengan
menggunakan indeks SMOG. Untuk menentukan tingkatan materi bacaan,
untuk belajar klien, pilihlah 30 kalimat dalam bacaan. Ambilah 10 kalimat dari
bagian awal, 10 kalimat dari bagian tengah, dan 10 kalimat dari bagian akhir
bacaan. Hitunglah semua kata yang mengandung 3 atau lebih suku
kata(Syllabes), kemudian jumlahkan. Kemudian temukan jumlah tersebut di
dalam daftar di bawah ini dan baca menyilang untuk menemukan tingkat/grade
bacaan/materi

bacaan.

Untuk

menurunkan

tingkat

bacaan

dan

menyederhanakan materi pendidikan kesehatan untuk klien, maka lakukanlah:


a) Gunakan kata-kata yang lebih pendek
b) Hindari kata-kata dengan beberapa suku kata
c) Tulis kalimat-kalimat pendek
d) Jelaskan peristilahan-peristilahan yang digunakan
e) Gunakan kata-kata yang mudah dan sering digunakan
2. Pengkajian Faktor Pemungkin
Faktor pemungkin mencakup keterampilan serta sumber daya yang penting
untuk menampilkan perilaku sehat. Sumber daya dimaksud meliputi fasilitas yang
ada, personalia yang tersedia, ruangan yang ada, atau sumber-sumber lain yang
serupa. Faktor ini juga menyangkut keterjangkauan sumber tersebut oleh klien:
apakah biaya, jarak, waktu dapat dijangkau? Bagaimana keterampilan klien untuk
melakukan perubahan perilaku perlu diketahui, karena dengan mengetahui sejauh
mana klien memiliki keterampilan pemungkin, wawasan yang bernilai bagi
perencana pendidikan kesehatan dapat diperoleh.
3. Pengkajian Faktor Penguat
Faktor penguat adalah faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan
memperoleh dukungan atau tidak. Sumber penguat tersebut bergantung kepda
tujuan dan jenis program. Di dalam pendidikan kesehatan klien di rumah sakit,
misalnya, penguat diberikan oleh perawat, dokter, ahli gizi, atau klien lain dan
keluarga. Di dalam pendidikan kesehatan di sekolah penguat mungkin berasal dari
guru, teman sebaya, pimpinan sekolah dan keluarga. Apakah faktor penguat itu
8

positif atau negatif tergantung pada sikap dan perilaku orang lain yang
berpengaruh. Pengaruh itu tidak sama, mungkin sebagian mempunyai pengaruh
yang sangat kuat dibandingkan dengan yang lainnya dalam mempengaruhi
perubahan perilaku. Perawat perlu mengkaji secara cermat faktor penguat ini,
untuk menjamin bahwa sasaran pendidikan kesehatan mempunyai kesempatan
yang maksimum untuk mendapatkan umpan balik yang mendukung selama
berlangsungnya proses perubahan perilaku.
C. Penegakan Diagnosis Keperawatan
Diagnosis keperawatan yang

berkaitan

dengan

kebutuhan

belajar

dikelompokkan dibawah kategori kurang pengetahuan. Definisi kurang pengetahuan


adalah : pernyataan pada saat individu, keluarga, atau komunitas tidak dapat
memahami, tidak dapat belajar, dan tidak dapat menunjukan pengetahuannya tentang
tindakan-tindakan keperawatan kesehatan yang penting untuk mempertahankan
kesehatan (NANDA). Karakteristik definisi tersebut adalah : adanya pengungkapan
secara verbal tentang masalah; keakuratan penampilan dalam suatu uji; ketidak
seseuaian perilaku atau adanya perilaku berlebihan, misalnya histeria, permusuhan,
agitasi, apatis. Faktor-faktor yang berhubungan atau menjadi penyebab dari
kurangnya pengetahuan mencakup kurangnya keterpaparan informasi; kurang
mengulang

pelajaran,

adanya

kesalahpenafsiran;

keterbatasan

pengetahuan;

kurangnya ketertarikan dalam belajar; tidak familiernya klien dengan sumber


informasi.
Sebagai contoh diagnosis keperawatan yang dikemukakan oleh North
Americans NursingDiagnosis Association adalah sebagai berikut.
1. Kurang pengetahuan: diet rendah kalori berhubungan dengan tidak punya
pengalaman.
2. Kurang pengetahuan: diet Diabetes Melitus berhubungan dengan tidak familiernya
diri dengan program yang harus diikuti.
3. Kurang pengetahuan: perawatan pra operasi berhubungan dengan belum adanya
pengalaman menghadapi prosedur pembedahan.
4. Kurang pengetahuan : efek pengobatan berhubungan dengan belum adanya
perbedaan bahasa dan kesalahan penafsiran informasi.
5. Kurang pengetahuan : bahaya keamanan dirumah berhubungan dengan adanya
penolakan terhadap penurunan kesehatan dan kurangnya ketertarikan untuk
belajar.

6. Kurang pengetahuan : penyalahgunaan zat berhubungan dengan kurangnya


ketertarikan dalam mempelajari informasi
D. Perencanaan Pendidikan Keperawatan
Pengembangkan perencanaan pengajaran adalah menyelesaikan sejumlah
langkah.

Melibatkan klien saat perencanaan dapat meningkatkan terciptanya

perencanaan yang berguna dan merangsang motivasi klien. Klien yang membantu
merumuskan perencanaan pengajaran akan lebih mudah untuk mencapai tujuan yang
ditetapkan.
1. Menentukan Prioritas Pengajaran
Kebutuhan belajar klien harus diurutkan berdasarkan prioritas. Perawat dan
klien hendaknya melakukan bersama-sama. Salah satu yang menjadikan kriteria yang
diprioritaskan adalah motivasi klien untuk berkonsentrasi pada kebutuhan belajar
yang telah diidentifikasi. Sebagai contoh seseorang yang ingin mengetahui segala
sesuatu tentang penyakit jantung koroner mungkin tidak siap untuk mempelajari
bagaimana mengubah hidupnya sampai pada saat dia menemukan kebutuhan untuk
belajar tentang penyakit tersebut. Perawat juga dapat mengunakan kerangka pikiran
lain, seperti hierarki kebutuhan menurut teori Maslow untuk menetapkan prioritas
belajar. Jika klien adalah sebuah keluarga, kelompok, atau komunitas yang lebih
besar, penentuan prioritas belajar hendaknya secara lebih luas mempertimbangkan
faktor lain yang telah dikaji yakni, faktor predisposisi, pemungkin, dan penguat.
Khusus untuk memprioritaskan pengajaran dikeluarga, skala prioritas yang
dikembangkan oleh Bailon dan Maglaya (1988) dapat dipergunakan. Kriteria untuk
memprioritaskan pengajaran didalam komunitas antara lain adalah: kesadaran
komunitas terhadap masalah; motivasi komunitas untuk memecahkan masalah ;
kemampuan perawat untuk mempengaruhi pemecahan masalah ; berat serta
konsekuensi jika masalah tidak terpecahkan (Goeppinger and Shuster,1988).
2. Menetapkan Tujuan Belajar
Tujuan belajar yang ditetapkan dapat disamakan dengan tujuan pada proses
asuhan keperawatan. Ketika menetapkan hal ini, baik sekali diingat mengenai tiga
ranah belajar yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Tujuan belajar yang dirancang
dengan baik akan menuntun perencanaan tentang isi atau substansi, metode,strategi,
aktivitas, dan perencanaan metode evaluasi belajar.
Beberapa ketentuan umum dalam merumuskan tujuan belajar adalah sebagai
berikut:

10

a. Tujuan belajar dinyatakan dalam perilaku atau penampilan yang dikehendaki,


contohnya : klien dapat menunjukkan atau mendemonstrasikan teknik pemberian
ASI dengan benar (psikomotor), klien dapat menjelaskan alasan ia harus makan
dalam porsi sedikit, tetapi frekuensinya lebih sering (kognitif), klien dapat
menguraikan perasaan meningkatnya rasa nyaman setelah pemerian obat(afektif).
Tujuan tidak dinyatakan dalam perilaku perawat, misalnya : perawat tidak
mengajari klien tentang diet.
b. Tujuan belajar dapat diobservasi, sementara aktivitasnya dapat diukur. Misalnya,
hal yang dapat dilihat, klien dapat berjalan disekitar tempat tidur.
c. Dalam tujuan harus terkandung kondisi yang diinginkan untuk mengklarifikasi
dimana, kapan, atau bagaimana perilaku yang ditampilkan. Contohnya klien dapat
berjalan diujung tempat tidur keujung lainnya tanpa menggunakan tongkat
pembantu.
d. Dalam tujuan harus tercakup kriteria waktu yang spesifik. Contohnya: klien akan
menyebutkan tiga hal yang mempengaruhi kadar gula darah. Pada akhir diskusi
kedua, klien dapat mendemonstrasikan injeksi insulin sendiri dalam dosis dan cara
yang benar sebelum pasien dipulangkan.
3. Memilih Substansi atau isi materi harus dipilih
Isi pembelajaran sangat ditentukan oleh tujuan belajar yang hendak dicapai,
atau dengan kata lain, informasi yang dibutuhkan mencapai tujuan dengan baik harus
diseleksi dari berbagai sumber informasi. Pengetahuan yang dibutuhkan perawat dapat
diperoleh melalui pendidikan, buku, jurnal keperawatan, dan perawat lain atau dokter
atau anggota tim pelayanan kesehatan

lainnya. Sumber yang dipilih hendaknya:

akurat, terbaru, didasarkan atas tujuan belajar, disesuaikan dengan usia klien, budaya,
dan kemampuan, konsisten, serta dipilih dengan mempertimbangkan waktu dan
sumber daya yang mungkin untuk mengajar
4. Memilih Strategi Belajar
Memilih metode belajar hendaknya cocok untuk individu, cocok dengan
materi yang dipelajari, dan cocok dengan pengajar dan berbagi faktor lain perlu
diperhitungkan. Beberapa tujuan belajar mungkin dapat dicapai dengan mudah
melalui tahap muka satu persatu antara perawat dengan klien., tetapi yang lain dapat
dengan mudah dicapai dengan dikosi kelompok. Sebagai contok, jika tujuan
belajarnya adalah: Klien dapat mengganti balutun kakinya dengan teknik steril ,
diskusi kelompok tidak mungkin diadakan. Metode yang cocok untuk itu adalah
metode privat yang disarankan oleh perawat. Di lain pihak jika tujuan belajarnya
adalah Klien dapat mendiskusikan perasaannya tentang bagaimana kembali ke rumah
11

setelah mengalami serangan jantung , tujuan akan lebih mudah dicapai dengan
diskusi kelompok dengan klien lain yang mempuyai perasaan yang sama.
5. Memilih Alat Bantu Mengajar
Alat bantu mengajar telah dibahas pada bab selanjutnya. Alat bantu mengajar
membantu belajar, tetapi bukan suatu pengganti untuk berhubungan dengan manusia.
Alat ini baik sekali digunakan untuk menambah atau menguatkan mengajar dengan
srategi tatap muka. Alat bantu mengajar sanagat ditentukan oleh tujuan belajar yang
hendak dicapai. Oleh karena itu, pilihan alat bantu secara hati-hati, liat kembali
kegunaan dan kecocokan penggunaan alat bantu.
6. Membuat Rencana Evaluasi
Rencana evaluasi harus disebutkan dalam perancanaan pelaksanaan kegiatan
pelaksaan kegiatan kesehatan, misalnya waktu dan sasaran yang akan dievaluasi, dan
a.

indikator apa yang akan dicapai dalam evaluasi itu. Evaluasi dapat dibedakan:
Evaluasi pendidikan kesehatan, yakni menilai langkah-langkah yang telah
dijadwalkan dalam perancanaan, apakah sesuai atau terjadi perubahan dalam
pelaksaannya. Misalnya tentang jadwal waktu, tempat, dan alat bantu peraga.
Evaluasi hasil kegiatan, yakni sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dengan

b.

pendididkan kesehatan yang dimaksud. Misalnya terjadi perubahaan pengetahuan,


sikap, dan tindakannya.
E. Implementasi Pendidikan Keperawatan
Perawat perlu fleksibel dalam mengimplementasikan berbagai rencana
pengajaran,

karena

perencanaan

mungkin

membutuhkan

perbaikkan.

Memplementasi rencana mengajar memerlukan ketrapilan personal, seperti teknik


komunikasi. Perawat dapat memfasilitsi proses belajar klien melalaui pendekatan
yang ramah dan hangat.
Penampilan sikap perawat memiliki efek yang besar dibandingkan dengan
faktor-faktor lain. Dibawah ini adalah petunjuk yang dapat membantu perawat ketika
1.

mengimplementasikan rencana pengajaran.


Waktu yang oktimal untuk masing-masing sesi bergantung pada klien yang
belajar. Sebagian klien memilih waktu terbaik untuk belajar pada pagi hari,
sebagian harinya pada sore hari. Jika memungkinkan, tannyakan pada klien

2.

untuk membantu, memilih waktu yang terbaik.


Kecepatan dari setiap sesi juga mempengaruhi belajar. Perawat hendaknya
sensitif terhadap berbagai tanda bahwa langkah-langkah mengajar terlalu lambat
dan cepat. Jika kalian nampak bingung atau tidak memahami materi ketika
ditanya, mengkin hal itu karena perawat mengajar terlalu cepat. Jika kalien
tampak bosan dan kehilangan perhatian, kecepatan atau langkah-langkah
12

mungkin terlalu lambat, atau periode waktu belajar terlalu lama sehingga klien
3.

merasa lelah.
Keadaan lingkungan dapat menurunkan atau membantu belajar. Lingkungan
yang bising akan mengurangi kosentrasi, sedangkan lingkungan yang yaman

4.

dapat meningkatkan belajar.


Alat bantu mengajar dapat membantu perkembanagan belajar dan mampu
memfokuskan perhatian klien. Untuk membantu klien belajar rawat hendaknya
menggunakan alat bantu yang dapat digunakan klien. Sebelum mengajar,
perawat perlu memasanag semua peralatan dan alat bantu melihat, serta

5.

menyakinkan bahwa semua peralatan berfungsi secara efektif.


Jika menemukan sendiri isi atau substansi, klien akan belajar lebih efektif. Cara
untuk

meningkatkan

belajar

mencakup

perangsangan

motivasi

dan

perangsangan pencarian sendiri, misalnya dengan memberikan tujuan belajar


yang hendak dicapai secara spesifik, realistik, memberi umpan balik, dan
membantu klien mamperoleh kepuasaan dari belajar. Perawat
mendorong belajar secara independen
6.

juga harus

dengan mendorong klien menggali

sumber-sumber informasi yang dibutuhkan.


Melakukan pengulangan, sebagai contoh, merangkum isi substansi, mengatakan
dengan kata-kata lain, dan mendekatkan materi dari titik-titik lain kedalam satu

7.

pemahaman dapat menguatkan belajar.


Materi dari yang tidak diketahui ke yang diketahui dan hubungan diliat secara

8.

logis.
Menggunakan bahasa orang awam dapat meningkatkan komunikasi. Dengan
demikian batasi kata-kata yang artinya hanya diketahui oleh profesional bidang

kesehatan.
F. Evaluasi Pendidikan Keperawatan
1. Evaluasi Belajar Klien
Evaluasi dilakukam selama proses pembelajaran dan pada akhir pembelajaran.
Klien, perawat dan orang-orang yang mendukung klien menentukan apa yang telah
dipelajari. Proses evaluasi ini sama seperti evaluasi terhadap pencapaian tujuan untuk
diagnosis keperawatan lain.
Metode terbaik untuk evaluasi tergantung pada jenis belajar. Dalam belajar,
aspek kognitif , klien akan menunjukan kemahiran pengetahuan. Beberapa contoh alat
evaluasi untuk kognitif adalah : observasi langsung perilaku, misalnya dengan
mengobservasi klien dengan memilih cara-cara pemecahan yang menggunakan
pengetahuan yang baru, pengukuran dengan cara menulis, misalnya dengan
memberikan tas kepada klien, pernyataan secara oral, misalnya bertanya kepada klien
13

untuk menyatakan kembali informasi atau memperbaiki respon verbal atas suatu
pelayanan. Pengawasan dan pencatatan sendiri. Alat evaluasi tersebut digunakan
selama program lanjutan melalui telepon dan kunjungan rumah.
Evaluasi kemahiran aspek psikomotor yang terbaik

adalahdengan

mengobservasi bagaimana klien melakukan prosedur, seperti mengganti balutan atau


memandikan bayi premature dirumah. Perawat sebaiknya memberikan umpan balik
tentang apa yang dilakukan klien.
Evaluasi sikap lebih sulit dilakukan. Apakah sikap atau nilai telah berubah
menjadi lebih baik mungkin dapat dinilai dengan cara mendengarkan respon klien
terhadap pertanyaan, mencatat bagaimana klien berbicara tentang subjek-subjek yang
relevan, dan dengan mengobservasi perilaku klien yang mengekspresikan perasaan
dan nilai-nilai.
Setelah dilakukan observasi, perawat mungkin menemukan hal-hal penting
untuk memodifikasi atay mengulang perencanaan pembelajaran jika tujuan tidak
tercapai atau hanya sebagian tujuan yang dapat dicapai.
Perubahan perilaku tidak selalu segera terjadi setelah belajar. Seringkali
individu menerima perubahan intelektual terlebih dahulu dan kemudian baru terjadi
perubahan perilaku secara periodik sehingga evaluasi harus dilanjutkan ketika klien
sudah berada dirumah dengan cara melakukan kunjumgan rumah atau melalui
telepon.
2. Evaluasi Mengajar
Evalusi mengajar adalah hal penting bagi perawat untuk menilai
kemampuannya. Hal itu sama saja dengan evaluasi keefektifan intervensi keperawatan
untuk diagnoga keperawatan lain. Evaluasi harus mencakup pertimbangan semua
factor : waktu, strategi mengajar, jumlah informasi, dan apakah mengajar cukup
berguna. Perawat mungkin menemukan hal- hal sebagai contoh bahwa klien telah
kebanyakan informasi, telah bosan, atau telah termotivasi untuk belajar lebih banyak.
Keduanya, baik klien maupun perawat, harus mengevaluasi pengalaman belajar. Klien
dapat memberikan evaluasi kepada perawat apa yang telah membantunya, apa yang
menarik baginya dan lain-lain. Perawat hendaknya tidak merasa bahwa pekerjaannya
tidak efektif bila klien lupa sesuatu.
G. Dokumentasi Pendidikan Kesehatan
Pendokumentasian proses belajar mengajar adalah hal yang sangat penting
sebab hal ini memberikan suatu legalitas pencatan bahwa mengajar telahdilakukan
dan dokumen ini merupakan alat komunikasi dengan profesi lain dalam pelayanan
14

kesehatan. Jika mengajar tidak di dokumentasikan, maka tidak ada legalitas. Hal lain
yang penting didokumentasikan adalah respons klien dan orang-orang yang
mendukungnya. Apa yang dilakukan klien atau keluarganya mengindikasikan bahwa
proses

belajar telah

terjadi.

Dokumentasi

hendaknya

mencakup

diagnosis

keperawatan, tujuan belajar, topik, hasil yang dicapai, kebutuhan mengajar tambahan
dan sumber-sumber yang diberikan. Mendokumentasikan rencana pengajaran juga
mencakup elemen : informasi aktual dan keterampilan berpikir, strategi mengajar
yang digunakan dan kerangka kerja, waktu, dan isi/substansi untuk tiap-tiap sesi.
H. Peran Keluarga
1. Pengertian Keluarga
Banyak ahli yang

mendefenisiskan

tentang

keluarga

berdasarkan

perkembangan sosial di masyarakat. Hal ini bergantung pada orientasi yang


digunakan dan orang yang mendefenisiskan. Menurut Friedman (1998),
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang hidup bersama dengan
keterkaitan aturan dan emosional dan individu mempunyai peran masingmasing yang
merupakan bagian dari keluarga.
Pakar konseling keluarga dari Yogyakarta, Sayekti (1994) menulis bahwa
keluarga adalah suatu ikatan/persekutuan hidup atas dasar perkawinan antara orang
dewasa yang berlainan jenis yang hidup bersama atau seorang laki-laki atau seorang
perempuan yang sudah sendirian dengan atau tanpa anak, baik anaknya sendiri atau
anak adopsi, dan tingggal dalam sebuah rumah tangga.
Menurut UU No. 10 tahun 1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan
Pembangunan Keluarga Sejahtera, keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang
terdiri dari suami- istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya.
Ketiga pengertian tersebut mempunyai persamaan bahwa dalam keluarga terdapat
ikatan perkawinan dan hubungan darah yang tinggal bersama dalam satu atap
(serumah) dengan peran masing-masing serta keterikatan emosional (Suprajitno,
2004).
Istilah keluarga akan menghadirkan gambaran adanya individu dewasa dan
anak yang hidup bersama secara harmonis dan memuaskan. Bagi lainnya, istilah ini
memiliki arti yang berlawanan.
Keluarga bukan sekedar gabungan dari beberapa individu (Astedt Kurki, et
al.,2001). Keluarga memiliki keragaman seperti anggota individunya dan seorang
pasien memiliki nilai-nilai tersendiri mengenai keluarganya (Potter & Perry, 2009).
Kamus Inggris Oxford mendefinisikan keluarga sebagai sekelompok orang
yang terdiri atas orang tua dan anak-anaknya baik yang tinggal bersama atau tidak,
15

dalam arti yang lebih luas, kesatuan yang terbentuk oleh mereka yang mempunyai
hubungan dekat melalui darah dan keturunan. Morton, dkk (2011) mendefenisikan
keluarga sebagai setiap orang yang dekat dan melakukan rutinitas harian bersama
dengan pasien perawatan kritis. Siapapun yang merupakan bagian penting dari gaya
hidup normal pasien dianggap sebagai anggota keluarga. Istilah keluarga
menggambarkan orang-orang yang homeostasis social dan kesejahteraannya
dipengaruhi oleh masuknya pasien ke arena sakit kritis atau cedera (Morton, dkk,
2011).
2. Peran Keluarga
Peran Keluarga Peran adalah sesuatu yang di harapkan secara normatif dari
seorang dalam situasi sosial tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan. Peran
keluarga adalah tingkah laku spesifik yang diharapkan oleh seseorang dalam konteks
keluarga. Jadi peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal,
sifat, kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu.
Peranan individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari
keluarga, kelompok, dan masyarakat. Dalam UU Kesehatan nomor 23 tahun 1992
pasal 5 menyebutkan "Setiap orang berkewajiban untuk ikut serta dalam memelihara
dan meningkatkan derajat kesehatan perorangan, keluarga, dan lingkungan". Dari
pasal di atas jelas bahwa keluarga berkewajiban meningkatkan dan memelihara
kesehatan dalam upaya meningkatkan tingkat derajat kesehatan yang optimal. Setiap
anggota keluarga mempunyai peran masing-masing, antara lain ayah, dimana ayah
sebagai pemimpin keluarga mempunyai peran sebagai pencari nafkah, pendidik,
pelindung / penganyom, pemberi rasa aman bagi setiap anggota keluarga dan juga
sebagai anggota masyarakat kelompok sosial tertentu. Kemudian ada ibu yang
berperan sebagai pengurus rumah tangga, pengasuh dan pendidik anak-anak,
pelindung keluarga dan juga sebagai pencari nafkah tambahan keluarga dan juga
sebagai anggota masyarakat kelompok sosial tertentu. Lalu ada anak yang berperan
sebagai pelaku psikososial sesuai dengan perkembangan fisik, mental, sosial dan
spiritual (Setiadi, 2008).
3. Fungsi Keluarga
Fungsi Keluarga Fungsi keluarga merupakan hasil atau konsekuensi dari
struktur keluarga atau sesuatu tentang apa yang dilakukan oleh keluarga. Terdapat
beberapa fungsi menurut Friedman (1998) dalam Setiawati & Dermawan (2005),
yaitu:
a. Fungsi afektif
16

Fungsi afektif merupakan fungsi keluarga dalam memenuhi kebutuhan


pemeliharaan kepribadian dari anggota keluarga. Merupakan respon keluarga
terhadap kondisi dan situasi yang dialami tiap anggota keluarga baik senang
maupun sedih, dengan melihat bagaimana cara keluarga mengekspresikan kasih
sayang.
b. Fungsi sosialisasi
Fungsi sosialisasi tercermin dalam melakukan pembinaan sosialisasi pada anak,
membentuk nilai dan norma yang diyakini anak, memberikan batasan perilaku
yang boleh dan tidak boleh pada anak, meneruskan nilai-nilai budaya keluarga.
Bagaimana keluarga produktif terhadap social dan bagaimana keluarga
memperkenalkan anak dengan dunia luar dengan belajar disiplin, mengenal
budaya dan norma melalui hubungan interaksi dalam keluarga sehingga mampu
berperan dalam masyarakat.
c. Fungsi Perawatan Kesehatan
Fungsi perawatan kesehatan keluarga merupakan fungsi keluarga dalam
melindungi keamanan dan kesehatan seluruh anggota keluarga serta menjamin
pemenuhan kebutuhan perkembangan fisik, mental dan spiritual, dengan cara
memelihara dan merawat anggota keluarga serta mengenali kondisi sakit tiap
anggota keluarga
d. Fungsi ekonomi
Fungsi ekonomi, untuk memenuhi kebutuhan keluarga seperti sandang, pangan
dan kebutuhan lainnya melalui keefektifan sumber dana keluarga. Mencari sumber
penghasilan guna memenuhi kebutuhan keluarga, pengaturan penghasilan
keluarga, menabung untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
e. Fungsi biologi
Fungsi biologi bukan hanya ditujukan untuk meneruskan keturunan tetapi untuk
memelihara dan membesarkan anak untuk kelanjutan generasi berikutnya.
f. Fungsi psikologis
Fungsi psikologis terlihat bagaimana keluarga memberikan kasih saying dan rasa
aman, memberikan perhatian diantara anggota keluarga, membina pendewasaan
kepribadian anggota keluarga dan memberikan identitas keluarga.
g. Fungsi pendidikan
Fungsi pendidikan diberikan keluarga dalam rangka memberikan pengetahuan,
ketrampilan, membentuk prilaku anak, mempersiapkan anak untuk kehidupan
dewasa, mendidik anak sesuai dengan tingkatan perkembangannya (Achjar, 2010).
4. Dukungan Keluarga
Dukungan keluarga merupakan suatu proses hubungan antara keluarga dengan
lingkungan sosialnya (Friedman, 1998). Dukungan sosial adalah suatu keadaan yang
17

bermanfaat bagi individu yang diperoleh dari orang lain yang dapat dipercaya,
sehingga seseorang akan tahu bahwa ada orang lain yang memperhatikan, menghargai
dan mencintainya (Cohen & Syme, 1996 dalam Setiadi, 2008). Anggota keluarga
sangat membutuhkan dukungan dari keluarganya karena hal ini akan membuat
individu tersebut merasa dihargai dan anggota keluarga siap memberikan dukungan
untuk menyediakan bantuan dan tujuan hidup yang ingin dicapai individu (Friedman,
1988). Menurut Cohen dan Mc Kay, (1984) dalam Niven, (2000) bahwa komponenkomponen dukungan keluarga adalah sebagai berikut :
a. Dukungan Emosional
Dukungan emosional memberikan pasien perasaan nyaman, merasa dicintai
meskipun saat mengalami suatu masalah, bantuan dalam bentuk semangat,
empati, rasa percaya, perhatian sehingga individu yang menerimanya merasa
berharga. Pada dukungan emosional ini keluarga menyediakan tempat istirahat
dan memberikan semangat kepada pasien yang dirawat di rumah atau rumah
sakit jiwa. Jenis dukungan bersifat emosional atau menjaga keadaan emosi
atau ekspresi. Yang termasuk dukungan emosional ini adalah ekspresi dari
empati, kepedulian, dan perhatian kepada individu. Memberikan individu
perasaan yang nyaman, jaminan rasa memiliki, dan merasa dicintai saat
mengalami masalah, bantuan dalam bentuk semangat, kehangatan personal,
cinta, dan emosi. Jika stres mengurangi perasaan seseorang akan hal yang
dimiliki dan dicintai maka dukungan dapat menggantikannya sehingga akan
dapat menguatkan kembali perasaan dicintai tersebut. Apabila dibiarkan terus
menerus dan tidak terkontrol maka akan berakibat hilangnya harga diri.
b. Dukungan Informasi.
Dukungan ini meliputi jaringan komunikasi dan tanggung jawab bersama,
termasuk didalamnya memberikan solusi dari masalah yang dihadapi pasien di
rumah atau rumah sakit jiwa, memberikan nasehat, pengarahan, saran, atau
umpan balik tentang apa yang dilakukan oleh seseorang. Keluarga dapat
menyediakan informasi dengan menyarankan tempat, dokter, dan terapi yang
baik bagi dirinya dan tindakan spesifik bagi individu untuk melawan stressor.
Pada dukungan informasi keluarga sebagai penghimpun informasi dan pemberi
informasi.
c. Dukungan Nyata
Dukungan ini meliputi penyediaan dukungan jasmaniah seperti pelayanan,
bantuan finansial dengan menyediakan dana untuk biaya pengobatan, dan
material berupa bantuan nyata (Instrumental Support/ Material Support), suatu
18

kondisi dimana benda atau jasa akan membantu memecahkan masalah kritis,
termasuk didalamnya bantuan langsung seperti saat seseorang membantu
pekerjaan sehari-hari, menyediakan informasi dan fasilitas, menjaga dan
merawat saat sakit serta dapat membantu menyelesaikan masalah. Pada
dukungan nyata, keluarga sebagai sumber untuk mencapai tujuan praktis.
Meskipun sebenarnya, setiap orang dengan sumber-sumber yang tercukupi
dapat memberi dukungan dalam bentuk uang atau perhatian yang bertujuan
untuk proses pengobatan. Akan tetapi, dukungan nyata akan lebih efektif bila
dihargai oleh penerima dengan tepat. Pemberian dukungan nyata yang
berakibat pada perasaan ketidakadekuatan dan perasaan berhutang, malah akan
menambah stress individu.
d. Dukungan Pengharapan
Dukungan pengharapan merupakan dukungan berupa dorongan dan motivasi
yang diberikan keluarga kepada pasien. Dukungan ini merupakan dukungan
yang terjadi bila ada ekspresi penilaian yang positif terhadap individu. Pasien
mempunyai seseorang yang dapat diajak bicara tentang masalah mereka,
terjadi melalui ekspresi penghargaan positif keluarga kepada pasien,
penyemangat, persetujuan terhadap ide-ide atau perasaan pasien. Dukungan
keluarga ini dapat membantu meningkatkan strategi koping pasien dengan
strategi-strategi alternatif berdasarkan pengalaman yang berfokus pada aspekaspek positif. Dalam dukungan pengharapan, kelompok dukungan dapat
mempengaruhi persepsi pasien akan ancaman. Dukungan keluarga dapat
membantu pasien mengatasi masalah dan mendefinisikan kembali situasi
tersebut sebagai ancaman kecil dan keluarga bertindak sebagai pembimbing
dengan memberikan umpan balik dan mampu membangun harga diri pasien.
5. Dukungan Keluarga Pada Pasien yang Dirawat Di Unit Perawatan Intensive
(Intensive Care Unit)
Keluarga pasien yang sakit kritis adalah pengaruh utama di Lingkungan
Unit Perawatan Intensive. Kebutuhan pasien dan keluarga tetap stabil selama
beberapa dekade sejak ditemukannya Unit Perawatan Intensive (Intensive Care
Unit), dengan kedekatan keluarga terhadap pasien sangatlah dihargai. Kebijakan
kunjungan yang konsisten yang memperbolehkan perawatan kunjungan
berdasarkan kebutuhan pasien dan keluarga memberikan kesempatan yang lebih
baik bagi kepuasan pasien, keluarga dan perawat. Kehadiran keluarga mengurangi
kerapuhan pasien dan meningkatkan rasa aman dan kenyamanan. Menurut
19

Kirchhoff, memperluas fleksibilitas kunjungan keluarga ini sampai akhir hayat


adalah penting karena hal ini mungkin merupakan kunjungan terakhir (Morton
dkk, 2011). Keberhasilan pelayanan keperawatan bagi pasien tidak dapat
dilepaskan dari peran keluarga. Pengaruh keluarga dalam keikutsertaannya
menentukan kebijakan dan keputusan dalam penggunaan layanan keperawatan
membuat

hubungan

dengan

keluarga

menjadi

penting.

Namun

dalam

pelaksanaannya hubungan ini sering mengalami hambatan, antara lain kesempatan


kontak relatif terbatas (Mundakir, 2006). Memberikan kehangatan, rasa cinta,
perhatian dan komunikasi adalah hal yang bermakna dan penting dalam
memenuhi kebutuhan psikososial pasien. Bahkan pada pasien tuli, tidak mampu
berbicara, atau tidak mampu memahami bahasa, atau tidak mungkin
berkomunikasi verbal karena intubasi atau sakit fisik lainnya juga memerlukan
dukungan keluarga untuk memberikan kehangatan, rasa cinta, perhatian dan
komunikasi yang mungkin dilakukan dengan menggunakan sentuhan (Hudak &
Gallo, 1997).
6. Konsep Unit Perawatan Intensive (Intensive Care Unit)
1. Defenisi Unit Perawatan Intensive Unit
Perawatan Intensive adalah ruang rawat di rumah sakit yang dilengkapi
dengan staf dan peralatan khusus untuk merawat dan mengobati pasien dengan
perubahan fisiologi yang cepat memburuk yang mempunyai intensitas defek
fisiologi satu organ ataupun mempengaruhi organ lainnya sehingga merupakan
keadaan kritis yang dapat menyebabkan kematian. Tiap pasien kritis erat
kaitannya dengan perawatan intensif oleh karena memerlukan pencatatan
medis yang berkesinambungan dan monitoring serta dengan cepat dapat
dipantau perubahan fisiologis yang terjadi atau akibat dari penurunan fungsi
organ-organ tubuh lainnya (Rab,2007). Menurut Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 1778/MENKES/SK/XII/2010 tentang Pedoman
Penyelenggaraan Pelayanan ICU di Rumah sakit, ICU adalah suatu bagian dari
rumah sakit yang mandiri (instalasi di bawah direktur pelayanan), dengan staf
yang khusus dan perlengkapan yang khusus yang di tujukan untuk observasi,
perawatan dan terapi pasien-pasien yang menderita penyakit,cedera atau
penyulit-penyulit yang mengancam nyawa atau potensial mengancam nyawa
dengan prognosis dunia.
2. Pembagian Unit Perawatan Intensif berdasarkan kelengkapan Berdasarkan
kelengkapan, maka Unit Perawatan Intensif dibagi atas 3 tingkatan, yaitu:
20

a. Unit Perawatan Intensif tingkat I yakni Unit Perawatan Intensif yang


terdapat di rumah sakit kecil yang dilengkapi dengan perawat, ruangan
observasi, monitor, resusitasi dan ventilator jangka pendek yang tidak
Universitas Sumatera Utara 17 lebih dari 24 jam. Unit Perawatan Intensif
ini sangat bergantung kepada Unit Perawatan Intensif yang lebih besar
b. Unit Perawatan Intensif tingkat II yang terdapat pada rumah sakit umum
yang lebih besar dimana dapat dilakukan ventilator yang lebih lama yang
dilengkapi dengan dokter tetap, alat diagnose yang lebih lengkap,
laboratorium patologi dan fisioterapi.
c. Unit Perawatan Intensif tingkat III yang merupakan Unit Perawatan
Intensif yang terdapat di rumah sakit rujukan dimana terdapat alat yang
lebih lengkap antara lain hemofiltrasi, monitor invansif termasuk
kateterisasi dan monitor intracranial. Unit Perawatan Intensif ini
dilengkapi oleh dokter spesialis dan perawat yang lebih terlatih dan
konsultan dengan berbagai latar belakang keahlian.
7. Ruang Lingkup Pelayanan Unit Perawatan Intensif Berdasarkan keputusan
Menurut

Keputusan

Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

1778/MENKES/SK/XII/2010 tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan ICU


di Rumah sakit, ruang lingkup yang diberikan dalam Unit Perawatan Intensif
adalah:
a. Diagnosis dan penatalaksanaan spesifik penyakit-penyakit akut yang
mengancam nyawa dan dapat menimbulkan kematian dalam beberapa menit
sampai beberapa hari.
b. Memberikan bantuan dan mengambil alih fungsi vital tubuh sekaligus
melakukan pelaksanaan spesifik problema dasar
c. Pemantauan fungsi vital tubuh dan pelaksanaan terhadap komplikasi yang
ditimbulkan oleh penyakit atau iatrogenic
d. Memberikan bantuan psikologis pada pasien yang kehidupannya sangat
tergantung pada alat/mesin dan orang lain.
8. Perawat Unit Perawatan Intensif Seorang perawat yang bertugas di Unit
Perawatan Intensif melaksanakan 3 tugas utama yakni life support, memonitor
keadaan pasien dan perubahan keadaan akibat pengobatan dan mencegah
komplikasi yang mungkin terjadi. Oleh karena itu diperlukan perawat yang
professional, terlatih dalam tim kerja. diperlukan satu perawat untuk setiap pasien
dengan pipa endotrakeal baik dengan menggunakan ventilator maupun yang tidak.
Perbandingan antara pasien dan perawat ini dinyatakan dalam ekuivalen jumlah
21

perawat yang bertugas penuh (Number of full time equivalent). Di Australia


diklasifikasikan 4 kriteria:
a. Perawat Unit Perawatan Intensif yang telah mendapatkan latihan lebih dari 12
bulan
b. Perawat yang telahmendapatkan latihan sampai 12 bulan
c. Perawat dengan mendapat sertifikat pengobatan kritis (critical care certificate)
d. Perawat sebagai pelatih (trainer)

22

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Pendidikan kesehatan adalah suatu proses perubahan pada diri seseorang yang
dihubungkan dengan pencapaian tujuan kesehatan individu, dan masyarakat.
Pendidikan kesehatan tidak dapat diberikan kepada seseorang oleh orang lain, bukan
seperangkat prosedur yang harus dilaksanakan atau suatu prosedur yang harus dicapai,
tetapi sesungguhnya merupakan suatu proses perkembangan yag berubah secara
dinamis, yang didalamnya seseorang menerima atau menolak informasi, sikap,
maupun praktek baru, yang berhubungan dengan tujuan hidup sehat.
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku interpersonal, sifat,
kegiatan yang berhubungan dengan individu dalam posisi dan situasi tertentu. Peranan
individu dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku dari keluarga,
kelompok, dan masyarakat.
B. Saran
Diharapkan memberikan masukan baru dan pengetahuan baru kepada keluarga
pasien tentang gambaran tentang ICU dan tugas perawatan serta tenaga medis yang
ada di sebuah Rumah Sakit.

23

DAFTAR PUSTAKA
Uha, suliha. 2001. Pedidikan Kesehatan Dalam Keperwatan. Jakarta: EGC
Notoatmodjo, Soekidjo. 1989. Dasar-Dasar Pendidikan dan Latihan. Jakarta: BPKMFKMUI.
Notoatmodjo, Soekidjo. 2003. Pendidikan dan Perilaku Kesehatan. Rineka Cipta. Jakarta.
Dahlan, M. 1984. Beberapa Alternatif Interaksi Belajar Mengajar cetakan ke dua diponegoro
Bandung.
Syah

M.(1997). Psikologi
Rosdakarya.Bandung.

Pendidikan

dengan

Pendekatan

Baru.

PT.

Remaja

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/39863/4/Chapter%20II.pdf

24