Anda di halaman 1dari 47

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Modul Mata Kuliah
stratigrafi ini. Kemudian sholawat dan salam atas Nabi Muhammad SAW yang
diutusan Allah untuk menuntun semua hamba (manusia), dan keluarga serta sahabat yang
mengikuti petunjuk-Nya.
Dalam penulisan modul ini tidak sedikit hambatan dan kesulitan yang penulis
hadapi. Penulis menyadari bahwa modul ini tidak akan terselesaikan dengan baik tanpa
dukungan, motivasi, nasehat dan bantuan dari berbagai pihak.
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekeliruan, baik dari segi
sistematika maupun konsepsi keilmiahannya. Sehingganya penulis sangat berharap
kepada para pembaca yang budiman agar kiranya dapat memberikan kritikan maupun
saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan penyusunan makalah pada masamasa mendatang. Semoga bermanfaat bagi semua pihak. Terima kasih.

Gorontalo, 3 Maret 2014

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................................i
DAFTAR ISI........................................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................................1
1.1. Prinsip-Prinsip Dasar Stratigrafi................................................................................2
1.2. Unsur-Unsur Stratigrafi.............................................................................................7
BAB II STRATIGRAFI PRAKAMBRIUM....................................................................12
BAB III SATUAN STRATIGRAFI..................................................................................16
3.1. Pemetaan Geologi....................................................................................................16
3.2. Batas Satuan Batuan................................................................................................16
3.3. Pedoman Batas Satuan Batuan................................................................................16
BAB VI UKURAN KETEBALAN..................................................................................17
4.1. Metoda Pengukuran Stratigrafi................................................................................17
4.2. Perencanaan lintasan pengukuran............................................................................19
4.3. Menghitung Ketebalan............................................................................................20
BAB V KOLOM STRATIGRAFI....................................................................................24
5.1. Arti Dan Makna Kolom Stratigrafi..........................................................................24
5.2. Langkah-langkah dalam analisa stratigrafi..............................................................25
5.3. Penggambaran urutan- urutan stratigrafi kolom lithologi......................................26
5.4. Hubungan Kolom Stratigrafi - Kolom Lithologi....................................................26
5.5. Penyusunan Kolom Lithologi..................................................................................29
BAB VI FASIES ANALISIS.............................................................................................31
6.1. Pengertian Fasies.....................................................................................................31
6.2. Model Fasies (Facies Model)..................................................................................32
6.3. Facies Sequence.......................................................................................................33
6.4. Asosiasi Fasies.........................................................................................................34
DAFTAR PUSTAKA........................................................................................................45

BAB I
PENDAHULUAN
Stratigrafi merupakan salah satu cabang dari ilmu geologi, yang berasal
dari bahasa Latin, Strata (perlapisan, hamparan) dan Grafia (memerikan,
menggambarkan). Jadi pengertian stratigrafi yaitu suatu ilmu yang mempelajari
tentang lapisan-lapisan batuan serta hubungan lapisan batuan itu dengan lapisan
batuan yang lainnya yang bertujuan untuk mendapatkan pengetahuan tentang
sejarah bumi.
Stratigrafi dalam arti luas adalah ilmu yang membahas aturan, hubungan
dan kejadian (genesa) macam-macam batuan di alam dengan ruang dan waktu,
sedangkan dalam arti sempit ialah ilmu pemerian batuan (Sandi Stratigrafi
Indonesia, 1996). Pengolongan stratigrafi ialah pengelompokan bersistem batuan
menurut berbagai cara, untuk mempermudah pemerian aturan dan hubungan
batuan yang satu terhadap lainnya. Kelompok bersistem tersebut di atas dikenal
sebagai Satuan Stratigrafi (Sandi Startigrafi Indonesia, 1996).
Batas satuan stratigrafi ditentukan sesuai dengan batas penyebaran ciri
satuan tersebut sebagaimana didefinisikan Batas satuan Stratigrafi jenis tertentu
tidak harus berhimpit dengan batas satuan satuan stratigrafi jenis lain, bahkan
dapat memotong satu sama lain (Sandi Startigrafi Indonesia, 1996).
Unit Stratigrafi terdiri dari 2 kategori (North American Stratigraphic
Codes, 1983) yaitu:
Kategori yang berdasar atas kandungan Material (Content of starta) atau
Batas-batas fisika suatu perlapisan.
1. Unit Litostratigrafi
2. Unit Litodemik

3. Unit Magnetopolariti
4. Unit Biostratigrafi
5. Unit Pedostratigrafi
6. Unit Allostratigrafi
Kategori yang berhubungan dengan umur geologi
Kategori Matrial
1. Unit Kronastratigrafi
2. Unit Polariti-Kronostratigrafi
Kategori Non-Material
1. Unit Geokronologi
2. Unit Polariti-Geokronologi
3. Unit Diakronik
4. Unit Geokronometrik

1.1. Prinsip-Prinsip Dasar Stratigrafi


Prinsip-prinsip yang digunakan dalam penentuan urut-urutan kejadian
geologi adalah sebagai berikut:

1. Prinsip Superposisi
Prinsip ini sangat sederhana, yaitu pada kerak bumi tempat diendapkannya
sedimen, lapisan yang paling tua akan diendapkan paling bawah, kecuali pada
lapisan-lapisan yang telah mengalami pembalikan.

Umur Relatif Batuan Sedimen


2. Hukum Datar Asal (Original Horizontality)
Prinsip ini menyatakan bahwa material sedimen yang dipengaruhi oleh
gravitasi akan membentuk lapisan yang mendatar (horizontal). Implikasi dari
pernyataan ini adalah lapisan-lapisan yang miring atau terlipatkan, terjadi setelah
proses pengendapan.
Pengecualian : Pada keadaan tertentu (lingkungan delta, pantai,
batugamping, terumbu, dll) dapat terjadi pengendapan miring yang disebut
Kemiringan Asli (Original Dip) dan disebut Clinoform.
3. Azas Pemotongan (Cross Cutting)
Prinsip ini menyatakan bahwa sesar atau tubuh intrusi haruslah berusia
lebih muda dari batuan yang diterobosnya.
4. Prinsip Kesinambungan Lateral (Continuity)
Lapisan sedimen diendapkan secara menerus dan berkesinambungan
sampai batas cekungan sedimentasinya. Penerusan bidang perlapisan adalah
penerusan bidang kesamaan waktu atau merupakan dasar dari prinsip korelasi
stratigrafi. Dalam keadaan normal suatu lapisan sedimen tidak mungkin terpotong

secara lateral dengan tiba-tiba, kecuali oleh beberapa sebab yang menyebabkan
terhentinya kesinambungan lateral, yaitu :

- Pembajian
Menipisnya suatu lapisan batuan pada tepi cekungan sedimentasinya

Penipisan Lapisan Sedimen pada Tepian Cekungan


- Perubahan Fasies
Perbedaan sifat litologi dalam suatu garis waktu pengendapan yang sama,
atau perbedaan lapisan batuan pada umur yang sama (menjemari).

Penghilangan Lapisan Secara Lateral


- Pemancungan atau Pemotongan karena Ketidakselarasan
Dijumpai pada jenis ketidakselarasan Angular Unconformity di mana
urutan batuan di bawah bidang ketidakselarasan membentuk sudut dengan batuan

diatasnya. Pemancungan atau pemotongan terjadi pada lapisan batuan di bawah


bidang ketidakselarasan.

Gambar Pemancungan
- Dislokasi karena sesar
Pergeseran lapisan batuan karena gaya tektonik yang menyebabkan
terjadinya sesar atau patahan.

Gambar Dislokasi
5. Azas Suksesi Fauna (Faunal Succesions)
Penggunaan fosil dalam penentuan umur geologi berdasarkan dua asumsi
dalam evolusi organik. Asumsi pertama adalah organisme senantiasa berubah
sepanjang waktu dan perubahan yang telah terjadi pada organise tersebut tidak
akan terulang lagi. Sehingga dapat dikatakan bahwa suatu kejadian pada sejarah
geologi adalah jumlah dari seluruh kejadian yang telah terjadi sebelumnya.
Asumsi kedua adalah kenampakan-kenampakan anatomis dapat ditelusuri melalui
catatan fosil pada lapisan tertua yang mewakili kondisi primitif organisme
tersebut.

6. Teori Katastrofisme (Catastrophism)


Teori ini dicetuskan oleh Cuvier, seorang kebangsaan Perancis pada tahun
1830. Ia berpendapat bahwa flora dan fauna dari setiap zaman itu berjalan tidak
berubah, dan sewaktu terjadinya revolusi maka hewan-hewan ini musnah.
Sesudah malapetaka itu terjadi, maka akan muncul hewan dan tumbuhan baru,
sehingga teori ini lebih umum disebut dengan teori Malapetaka.
7. Teori Uniformitarianisme (Uniformitarianism)
Teori ini dicetuskan oleh James Hutton, teori ini berbunyi "The Present is
The Key to The Past ", yang berarti kejadian yang berlangsung sekarang adalah
cerminan atau hasil dari kejadian pada zaman dahulu, sehingga segala kejadian
alam yang ada sekarang ini, terjadi dengan jalan yang lambat dan proses yang
berkesinambungan seragam dengan proses-proses yang kini sedang berlaku. Hal
ini menjelaskan bahwa rangkaian pegunungan-pegunungan besar, lembah serta
tebing curam tidak terjadi oleh suatu malapetaka yang tiba-tiba, akan tetapi
melalui

proses

alam

yang

berjalan

dengan

sangat

lambat.

Catatan buat adik-adik :


Kesimpulan dari teori Uniformitarianisme adalah :

Proses-proses alam berlangsung secara berkesinambungan.

Proses-proses alam yang terjadi sekarang ini, terjadi pula pada masa
lampau namun dengan intensitas yang berbeda.

8. Siklus Geologi
Siklus ini terdiri dari proses Orogenesa (Pembentukan Deretan
Pegunungan), proses Gliptogenesa (Proses-proses Eksogen/ Denudasi) dan proses
Litogenesa (Pembentukan Lapisan Sedimen). Bumi tercatat telah mengalami
sembilan kali siklus geologi, dan yang termuda adalah pembentukan deretan
pegunungan Alpen.

Gambar Siklus Geologi

1.2. Unsur-Unsur Stratigrafi


Stratigrafi terdiri dari beberapa elemen penyusun, yaitu :
1. Elemen Batuan
Pada stratigrafi batuan yang lebih diperdalam untuk dipelajari adalah
batuan sedimen, karena batuan ini memiliki perlapisan, terkadang batuan beku
dan metamorf juga dipelajari dalam kapasitas yang sedikit.
2. Unsur Perlapisan (Waktu)
Merupakan salah satu sifat batuan sedimen yang disebabkan oleh proses
pengendapan sehingga menghasilkan bidang batas antara lapisan satu dengan
yang lainnya yang merepresentasikan perbedaan waktu/periode pengendapan.

Gambar Perlapisan
Bidang perlapisan merupakan hasil dari suatu proses sedimentasi yang
berupa:

Berhentinya suatu pengendapan sedimen dan kemudian dilanjutkan oleh


pengendapan sedimen yang lain.

Perubahan warna material batuan yang diendapkan.

Perubahan tekstur batuan (misalnya perubahan ukuran dan bentuk butir).

Perubahan struktur sedimen dari satu lapisan ke lapisan lainnya.

Perubahan kandungan material dalam tiap lapisan (komposisi mineral,


kandungan fosil, dll).
Pada suatu bidang perlapisan, terdapat bidang batas antara satu lapisan

dengan lapisan yang lain. Bidang batas itu disebut sebagai kontak antar lapisan.
Terdapat dua macam kontak antar lapisan, yaitu :

Kontak Tajam, yaitu kontak antara lapisan satu dengan lainnya yang
menunjukkan perbedaan sifat fisik yang sangat mencolok sehingga dapat
dengan mudah diamati perbedaannya antara satu lapisan dengan lapisan
lain. Perbedaan mencolok tersebut salah satu contohnya berupa perubahan
litologi.

Kontak Berangsur, merupakan kontak lapisan yang perubahannya


bergradasi sehingga batas kedua lapisan tidak jelas dan untuk
menentukannya mempergunakan cara-cara tertentu. Terdapat dua jenis
kontak berangsur, yaitu :
1. Kontak Progradasi
2. Kontak Interkalasi

Kontak erosional, merupakan kontak antar lapisan dengan kenampakan


bidang perlapisan yang tergerus/tererosi baik oleh arus maupun oleh
material yang terbawa oleh arus.
Untuk skala yang lebih luas, kontak antar formasi ataupun antar satuan

batuan yang memiliki karakteristik yang sama, dikenal dengan istilah hubungan
stratigrafi. Kontak / hubungan stratigrafi ini terdiri dari dua jenis, yaitu kontak
selaras dan kontak tidak selaras.

Kontak Selaras atau disebut Conformity yaitu kontak yang terjadi antara
dua lapisan yang sejajar dengan volume interupsi pengendapan yang kecil
atau tidak ada sama sekali. Jenis kontak ini terbagi dua, yaitu kontak tajam
dan kontak berangsur.

Kontak Lapisan Tidak Selaras atau disebut Unconformity yaitu merupakan


suatu bidang ketidakselarasan antar lapisan. Terdapat empat macam
bidang ketidakselarasan, yaitu:

1. Angular Unconformity, disebut juga ketidakselarasan sudut, merupakan


ketidakselarasan yang kenampakannya menunjukan suatu lapisan yang
telah terlipatkan dan tererosi, kemudian di atas lapisan tersebut diendapkan
lapisan lain.
2. Disconformity, kenampakannya berupa suatu lapisan yang telah tererosi
dan di atas bidang erosi tersebut diendapkan lapisan lain.
3. Paraconformity, disebut juga keselarasan semu, yang menunjukkan suatu
lapisan di atas dan di bawahnya yang sejajar, dibidang ketidakselarasannya

tidak terdapat tanda-tanda fisik untuk membedakan bidang sentuh dua


lapisan berbeda. Untuk menentukan perbedaannya harus dilakukan analisis
Paleontologi (dengan memakai kisaran umur fosil).
4. Nonconformity, merupakan ketidakselarasan yang yang terjadi dimana
terdapat kontak jelas antara batuan beku, batuan sedimen dan batuan
metamorf.

Gambar Angular Unconformity

Gambar Disconformity

Gambar Paraconformity

Gambar Nonconformity
Untuk hubungan stratigrafi ini, sangat sulit untuk diobservasi dalam skala
singkapan. Hubungan stratigrafi ini dapat diketahui dari rekonstruksi peta pola
Jurus.
Elemen Struktur Sedimen, struktur sedimen ini merupakan suatu
kenampakan yang terdapat pada batuan sedimen di mana kenampakannya itu
disebabkan oleh proses sedimentasi pada batuan tersebut, seperti aliran air,
deformasi, aktivitas biogenik (oleh hewan dan tumbuhan), serta aliran gravitasi
sedimen. Struktur sedimen ini harus dianalisa langsung di lapangan, dengan
tuJuan untuk menentukan lingkungan pengendapan batuan serta untuk
menentukan posisi atas dan bawah dari suatu lapisan.

BAB II
STRATIGRAFI PRAKAMBRIUM
Di Indonesia, kita terutama hanya banyak bermain di hampir 1,5 % saja episode
Bumi bernama zaman Paleogen dan Neogen. Atau, manusia hanya "banyak" tahu di
hampir 12 % saja episode Bumi bernama kurun Fanerozoikum, sementara 88 % episode
Bumi yaitu sejak penciptannya sampai Kambrium, pengetahuan kita sedikit sekali. Ini
adalah cerita tentang yang sedikit sekali itu, pra-Kambrium, yang serbalangka dan
serbarumit.
Bumi berdasarkan pengetahuan terbaru dibentuk pada 4560 Ma (million years
ago). Kambrium dimulai pada 542 Ma. Maka, pra-Kambrium berlangsung dari 4560-542
Ma, atau meliputi sekitar 7/8 sejarah Bumi. Dengan demikian, betapa

sedikitnya

pengetahuan kita dibandingkan usia bumi yang sangat tua. Kurun Fanerozoikum
(Phanerozoic) 542 Ma sampai sekarang adalah kurun biostratigrafi, dimulai dengan
melimpahnya fosil akibat Cambrian Explosion terus sampai ke zaman Kenozoikum.
Pembagiannya ke dalam masa, zaman, kala, dan tingkat (stage, pembagian internasional)
adalah didasarkan kepada biostratigrafi. Sementara

itu,

pembagian

waktu

pra-

Kambrium didasarkan kepada geokronometri isotop-isotop radioaktif pada mineral,


batuan, dan kerak yang ditemui. Bisa dipahami sebab kehidupan pada pra-Kambrium
sangat minimal dan baru berkembang.
Skala waktu geologi menurut Thomson Seperti telah kita ketahui, secara garis
besar waktu geologi dibagi menjadi tiga kurun (eon) : Arkeum (Archean),
Proterozoikum, dan Fanerozoikum. Pra-Kambrium bukan istilah stratigrafi normal di
dalam Skala Waktu Geologi, ia hanya menunjuk kepada semua batuan dan peristiwa
sebelum Kambrium. Pra-Kambrium meliputi Kurun Arkeum dan Kurun Proterozoikum.
Kurangnya fosil yang terawetkan dan tak bervariasi, kurangnya volume
singkapan, dan meningkatnya intensitas metamorfisme dan kompleksitas tektonik, dan
tidak pastinya konfigurasi serta tataan benua-benua pada saat itu, semuanya

telah mengakibatkan penetapan skala waktu kronostratigrafi pra-Kambrium bermasalah.


Penetapan skala waktu ini diakui para ahlinya sebagai pekerjaan yang luar biasa sulit
dan membuat frustasi.
Apa yang terjadi dengan Kurun Fanerozoikum tak terjadi dengan kedua kurun
sebelumnya. Kurun Fanerozoikum bersamaan dengan daur superkontinen yang paling
baru - urutan-urutan peristiwa geologi yang dapat dipahami dengan baik tentang
bagaimana Pangaea tersusun dan terpisah-pisah kembali. Kurun ini juga

bersamaan

dengan periode ketika kehidupan multisel mengalami diversifikasi dan proliferasi


yang luar biasa besarnya. Maka, tak mengherankan bila skala waktu geologi Kurun
Fanerozoikum dapat ditetapkan dengan detail, secara global saling berkorelasi, yang
metode kronostratigrafinya dikawal dengan ketat oleh data biostratigrafi, isotop, dan
magnetostratigrafi.
Meskipun demikian, para ahli pra-Kambrium dengan segala daya upayanya,
meskipun penuh kesulitan dan frustasi, berhasil juga menyusun dan merekonstruksi
geologi Kurun Arkeum dan Proterozoikum.
Kurun Arkeum dibagi menjadi empat masa (era) : Eoarkeum (-3600 Ma),
Paleoarkeum (3600-3200 Ma), Mesoarkeum (3200-2800 Ma), dan Neoarkeum (28002500 Ma). Tidak ada lagi pembagian lebih lanjut (zaman- period, kala-epoch, tingkatstage). Batas bawah Arkeum tidak diketahui, batas atasnya 2500 Ma. Arkeum tak punya
batas bawah sebab sampai masa ini masih terus dicari lapisan tersebut, batuan dan
mineral tertua di Bumi masih terus dicari dan umur-umur yang telah ditemukan terus
bertambah semakin tua. Salah satu mineral tertua di Bumi yang pernah diteliti adalah
sebuah mineral zirkon hasil rombakan yang berasal dari sampel bernama W74, sebuah
metakonglomerat yang tersingkap di wilayah Jack Hill, Australia Barat. Butir zirkon ini
menghasilkan umur 4408 +/- 8 Ma berdasarkan geokronologi isotop U-Pb. Di dalam
sampel itu juga tercampur mineral-mineral dengan umur 4100-4300 Ma.
Meskipun batuan metakonglomerat pengandung zirkon ini jauh lebih muda
umurnya, keberadaan zirkon di dalamnya telah menandakan adanya kerak

kontinen (yaitu granitik) yang umurnya 150 juta tahun setelah pembentukan Bumi
sendiri pada sekitar 4560 Ma. Zirkon adalah mineral paling stabil dan terdapat di dalam
granit.
Batuan paling tua yang pernah diketahui sampai saat ini adalah ortogenes Acasta dari
Slave Craton di Kanada, yang menghasilkan umur isotop U-Pb 4031 +/- 3 Ma.
Sedangkan, segmen kerak Arkeum yang paling tua dan telah terpetakan dengan baik
adalah kompleks genes Itsaq (dulu disebut Amitsoq) dan jalur greenstone Isua di
Greenland. Ortogenes tertua dari Itsaq berumur 3872 +/- 10 Ma.
Apakah dapat diharapkan ditemukan segmen kerak yang lebih tua dari Itsaq ?
Mungkin kecil sebab bombardier meteor terjadi sangat intensif menyerang Bumi

dan

Bulan pada sekitar periode ini yang memuncak pada 3900 Ma. Bombardir
ini bisa menghancurkan kebanyakan kerak Bumi yang sudah ada sebelum 3900 Ma.
Batuan dengan umur lebih tua dari 3900 Ma jelas ada, tetapi ada pun terawetkan
sangat langka atau telah terdisagregasi sampai sekarang tinggal sebagau xenocrysts
atau detritus.
Kurun Proterozoikum bermula pada 2500 Ma dan berakhir pada 542 Ma (batas
bawah Kambrium). Kurun ini dibagi ke dalam tiga masa, dari tua ke muda meliputi
Paleoproterozoikum (2500 -1600 Ma, dibagi lagi menjadi zaman : Siderium, Riasium,
Orosirium, Staterium); Mesoproterozoikum (1600-1000 Ma, dibagi lagi menjadi zaman :
Kalimium, Ektasium, Stenium); dan Neoproterozoikum (1000-542 Ma, dibagi lagi
menjadi zaman : Tonium, Kriogenium, Ediakarium).
Proterozoikum punya potensi biostratigrafi yang lebih baik daripada Arkeum
karena hadirnya stromatolit - mikrooraganisme simbiose ganggang dan bakteri yang
aktivitas

metabolisme

dan

pertumbuhannya

di

laut

telah menyebabkan

penjebakan sedimen, pengikatan, dan pengendapan membentuk struktur2 seperti lapisan,


sembulan, atau kubah. Selain stromatolit yang sepanjang Proterozoikum berubah pola
dan

susunannya

bergantung

kepada

lingkungannya,

Proterozoikum datang dari fosil-fosil eukariotik seperti

potensi

biostratigrafi

acritarch (spora alga) yang digunakan untuk mengkorelasikan zaman-zaman di


Neoproterozoikum. Fosil paling terkenal pada kurun ini adalah kelompok fosil Ediakara
yang muncul pada ujung Proterozoikum memasuki Kambrium sehingga namanya
menjadi nama zaman paling terakhir (Ediacaran) di Kurun Proterozoikum. Meskipun
demikian, biostratigrafi di sini lebih menunjukkan lingkungannya daripada umurnya.
Kurun Proterozoikum pun dikenal dengan pernah hadirnya dua superkontinen
sebelum Pangaea, yaitu Rodinia pada Mesoproterozoikum dan Pannotia

pada

Neoproterozoikum. Keberadaan kedua superkontinen ini didasarkan kepada data


geokronologi, paleomagnetisme dan penafsiran petro- tektonik.
Bagaimana di Indonesia ? Adakah batuan atau mineral berumur Kurun
Arkeum atau Kurun Proterozoikum ? Ada, tetapi sangat langka.
Hanya di dua tempat di Indonesia kita mempunyai sampel berumur praKambrium : mineral zirkon di selatan Jawa berumur 2500-3000 Ma dan
granodiorit di Irian Barat berumur 1250 Ma. Memang, geologi pra-Kambrium berarti
kelangkaan dan kesulitan petunjuk.

BAB III
SATUAN STRATIGRAFI
3.1. Pemetaan Geologi

Kolom Litologi Kolom Stratigrafi Peta Geologi

Pemetaan geologi menghasilkan pembagian satuan batuan batas


satuan batuan korelasi antar profil/kolom litologi

3.2. Batas Satuan Batuan

Bila ada dua geologist atau lebih melakukan pemetaan geologi didaerah
yang samasecara ideal akan dihasilkan peta geologi yang sama
dengan mempergunakan konsep pemetaan geologi yang sama

Hasil pemetaan geologigeologist yang berbedapada peta geologi yang


telah diterbitkan tampak ada perbedaan : salah satu diantaranya adalah
penarikan jalur garis yang menunjukkan batas satuan batuan.

Namun demikian apabila dicermati lebih lanjut, jalur garis tersebut akan
mempunyai pola yang sama.

3.3. Pedoman Batas Satuan Batuan


Beberapa pedoman yang dapat dipergunakan sebagai petunjuk atau ciri
yang tampak dilapangan sebagai dasar penarikan jalur garis sebagai batas antar
satuan batuan:
a. Kenampakan pada singkapan batuan yang segar
b. Kenampakan warna pelapukan batuan
c. Kenampakan fragmen rombakan atau pelapukan batuan
d. Liniasi mata air
e. Keadaan tanaman
f. Daerah tertimbun

BAB VI
UKURAN KETEBALAN
Pengukuran stratigrafi merupakan salah satu pekerjaan yang biasa
dilakukan dalam pemetaan geologi lapangan. Adapun pekerjaan pengukuran
stratigrafi dimaksudkan untuk memperoleh gambaran yang terperinci dari
hubungan stratigrafi antar setiap perlapisan batuan I satuan batuan, ketebalan
setiap satuan stratigrafi, sejarah sedimentasi secara vertikal dan lingkungan
pengendapan dari setiap satuan batuan.
Di

lapangan,

pengukuran

stratigrafi

biasanya

dilakukan

dengan

menggunakan tali meteran dan kompas pada singkapan-singkapan yang menerus


dalam suatu lintasan. Pengukuran diusahakan tegak lurus dengan jurus perlapisan
batuannya, sehingga koreksi sudut antara jalur pengukuran dan arah jurus
perlapisan tidak begitu besar.

4.1. Metoda Pengukuran Stratigrafi


Pengukuran stratigrafi dimaksudkan untuk memperoleh

gambaran

terperinci urut-urutan perlapisan satuan stratigrafi, ketebalan setiap satuan


stratigrafi, hubungan stratigrafi, sejarah sedimentasi dalam arah vertikal, dan
lingkungan pengendapan. Mengukur suatu penampang stratigrafi dari singkapan
mempunyai arti penting dalam penelitian geologi.
Secara umum tujuan pengukuran stratigrafi adalah:
1. Mendapatkan data litologi terperinci dari urut-urutan perlapisan suatu
satuan stratigrafi (formasi), kelompok, anggota dan sebagainya.
2. Mendapatkan ketebalan yang teliti dari tiap-tiap satuan stratigrafi.
3. Untuk mendapatkan dan mempelajari hubungan stratigrafi antar satuan
batuan dan urut-urutan sedimentasi dalam arah vertikal secara detil, untuk
menafsirkan lingkungan pengendapan.

Pengukuran stratigrafi biasanya dilakukan terhadap singkapan singkapan


yang menerus, terutama yang meliputi satu atau lebih satuan satuan stratigrafi
yang resmi. Metoda pengukuran penampang stratigrafi banyak sekali ragamnya.
Namun demikian metoda yang paling umum dan sering dilakukan di lapangan
adalah dengan menggunakan pita ukur dan kompas. Metoda ini diterapkan
terhadap singkapan yang menerus atau sejumlah singkapan-singkapan yang dapat
disusun menjadi suatu penampang stratigrafi.
Singkapan batuan pada satuan stratigrafi (kiri) dan singkapan singkapan
yang menerus dari satuan stratigrafi (kanan)
Metoda pengukuran stratigrafi dilakukan dalam tahapan sebagai berikut:
1. Menyiapkan peralatan untuk pengukuran stratigrafi, antara lain: pita ukur
( 25 meter), kompas, tripot (optional), kaca pembesar (loupe), buku
catatan lapangan, tongkat kayu sebagai alat bantu.
2. Menentukan jalur lintasan yang akan dilalui dalam pengukuran stratigrafi,
jalur lintasan ditandai dengan huruf B (Bottom) adalah mewakili bagian
Bawah sedangkan huruf T (Top) mewakili bagian atas.
3. Tentukan satuan-satuan litologi yang akan diukur. Berilah patok-patok
atau tanda lainnya pada batas-batas satuan litologinya.
4. Pengukuran stratigrafi di lapangan dapat dimulai dari bagian bawah atau
atas. Unsur-unsur yang diukur dalam pengukuran stratigrafi adalah: arah
lintasan (mulai dari sta.1 ke sta.2; sta.2 ke sta.3. dst.nya), sudut lereng
(apabila pengukuran di lintasan yang berbukit), jarak antar station
pengukuran, kedudukan lapisan batuan, dan pengukuran unsur-unsur
geologi lainnya.
5. Jika jurus dan kemiringan dari tiap satuan berubah rubah sepanjang
penampang, sebaiknya pengukuran jurus dan kemiringan dilakukan pada
alas dan atap dari satuan ini dan dalam perhitungan dipergunakan rataratanya.
6. Membuat catatan hasil pengamatan disepanjang lintasan pengkuran
stratigrafi yang meliputi semua jenis batuan yang dijumpai pada lintasan

tersebut, yaitu: jenis batuan, keadaan perlapisan, ketebalan setiap lapisan


batuan, struktur sedimen (bila ada), dan unsur-unsur geologi lainnya yang
dianggap perlu. Jika ada sisipan, tentukan jaraknya dari atas satuan.
7. Data hasil pengukuran stratigrafi kemudian disajikan diatas kertas setelah
melalui

proses

perhitungan

dan

koreksi-koreksi

yang

kemudian

digambarkan dengan skala tertentu dan data singkapan yang ada


disepanjang lintasan di-plot-kan dengan memakai simbol-simbol geologi
standar.
8. Untuk penggambaran dalam bentuk kolom stratigrafi, perlu dilakukan
terlebih dahulu koreksi-koreksi antara lain koreksi sudut antara arah
lintasan dengan jurus kemiringan lapisan, koreksi kemiringan lereng
(apabila pengukuran di lintasan yang berbukit), perhitungan ketebalan
setiap lapisan batuan dsb.

4.2. Perencanaan lintasan pengukuran


Perencanaan lintasan pengukuran ditetapkan berdasarkan urut-urutan
singkapan yang secara keseluruhan telah diperiksa untuk hal hal sebagai berikut:
a. Kedudukan lapisan (Jurus dan Kemiringan), apakah curam, landai, vertikal
atau horizontal. Arah lintasan yang akan diukur sedapat mungkin tegak
lurus terhadap jurus.
b. Harus diperiksa apakah jurus dan kemiringan lapisan secara kontinu tetap
atau berubah rubah. Kemungkinan adanya struktur sepanjang penampang,
seperti sinklin, antiklin, sesar, perlipatan dan hal ini penting untuk
menentukan urut-urutan stratigrafi yang benar.
c. Meneliti akan kemungkinan adanya lapisan penunjuk (key beds) yang
dapat diikuti di seluruh daerah serta penentuan superposisi dari lapisan
yang sering terlupakan pada saat pengukuran.

4.3. Menghitung Ketebalan


Tebal lapisan adalah jarak terpendek antara bidang alas (bottom) dan
bidang atas (top). Dengan demikian perhitungan tebal lapisan yang tepat harus
dilakukan dalam bidang yang tegak lurus jurus lapisan. Bila pengukuran di
lapangan tidak dilakukan dalam bidang yang tegak lurus tersebut maka jarak
terukur yang diperoleh harus dikoreksi terlebih dahulu dengan rumus:
d = dt x cosinus B ( B = sudut antara arah kemiringan dan arah pengukuran).
Didalam menghitung tebal lapisan, sudut lereng yang dipergunakan adalah
sudut yang terukur pada arah pengukuran yang tegak lurus jurus perlapisan.
Apabila arah sudut lereng yang terukur tidak tegak lurus dengan jurus perlapisan,
maka perlu dilakukan koreksi untuk mengembalikan kebesaran sudut lereng yang
tegak lurus jurus lapisan. Biasanya koreksi dapat dilakuan dengan menggunakan
tabel "koreksi dip" untuk pembuatan penampang.
1. Pengukuran pada daerah datar (lereng Oo)
Pengukuran pada daerah datar, apabila jarak terukur adalah jarak tegak
lurus jurus, ketebalan langsung di dapat dengan menggunakan rumus : T = d sin 8
(dimana d adalah jarak terukur di lapangan dan 8 adalah sudut kemiringan
lapisan). Apabila pengukuran tidak tegak lurus jurus, maka jarak terukur harus
dikoreksi seperti pada cara diatas.
2. Pengukuran pada Lereng
Terdapat beberapa kemungkinan posisi lapisan terhadap lereng seperti
diperlihatkan pada gambar 8.5 dan gambar 8.6. { Catatan: sudut lereng (s) dan
kemiringan lapisan (8) adalah pada keadaan yang tegak lurus dengan jurus atau
disebut "true dip" dan "true slope" }.
a. Kemiringan lapisan searah dengan lereng.

Bila kemiringan lapisan (8 ) lebih besar daripada sudut lereng (s) dan arah
lintasan

tegak

lurus

jurus,

maka

perhitungan

ketebalan

adalah

T = d sin (8 - s ).
Bila kemiringan lapisan lebih kecil daripada sudutlereng dan arah lintasan
tegak lurus jurus, maka perhitungan ketebalan adalah:

T = d sin (s - 8 ).

b. Kemiringan lapisan berlawanan arah dengan lereng


Bila kemiringan lapisan membentuk sudut lancip terhadap lereng dan arah
lintasan tegak lurus jurus maka: T = d sin ( 8 + s )
Apabila jumlah sudut lereng dan sudut kemiringan lapisan adalah 900
(lereng berpotongan tegak lurus dengan lapisan) dan arah lintasan tegak lurus
jurus maka : T = d
Bila kemiringan lapisan membentuk sudut tumpul terhadap lereng dan
arah lintasan tegak lurus jurus, maka : T = d sin (1800 - 8 - s). Bila lapisannya
mendatar, maka : T = d sin (s)

Gambar 8.6 Posisi pengukuran pada lereng yang berlawanan dengan kemiringan
lapisan

Penyajian hasil pengukuran stratigrafi seperti yang terlihat pada gambar


8.7 dibawah ini. Adapun penggambaran urutan perlapisan batuan/satuan
batuan/satuan stratigrafi disesuaikan dengan umur batuan mulai dari yang tertua
(paling bawah) hingga yang termuda (paling atas)

Seringkali hasil pengukuran stratigrafi disajikan dengan disertai foto-foto


singkapan seperti yang diperlihatkan pada gambar 8.8. Adapun maksud dari
penyertaan foto-foto singkapan adalah untuk lebih memperjelas bagian bagian
dari perlapisan batuan ataupun kontak antar perlapisan yang mempunyai makna
dalam proses sedimentasinya.

Penggambaran penampang stratigrafi terukur yang dilengkapi dengan


foto-foto untuk menjelaskan hubungan antar lapisan batuan ataupun kontak antar
lapisan batuan

BAB V
KOLOM STRATIGRAFI

5.1. Arti Dan Makna Kolom Stratigrafi


Kolom stratigrafi pada hakekatnya adalah kolom yang menggambarkan
susunan berbagai jenis batuan serta hubungan antar batuan atau satuan batuan
mulai dari yang tertua hingga termuda menurut umur geologi, ketebalan setiap
satuan batuan, serta genesa pembentukan batuannya. Pada umumnya banyak cara
untuk menyajikan suatu kolom stratigrafi, namun demikian ada suatu standar
umum yang menjadi acuan bagi kalangan ahli geologi didalam menyajikan kolom
stratigrafi. Penampang kolom stratigrafi biasanya tersusun dari kolom-kolom
dengan atribut-atribut sebagai berikut: Umur, Formasi, Satuan Batuan, Ketebalan,
Besar-Butir, Simbol Litologi, Deskripsi/Pemerian, Fosil Dianostik, dan Linkungan
Pengendapan.
Kolom stratigrafi yang diperoleh dari jalur yang diukur siap dijadikan
dasar untuk :
1. Penentuan batas secara tepat dari satuan-satuan stratigrafi formal maupun
informal, yang dalam peta dasar yang dipakai terpetakan atau tidak, sehingga akan
meningkatkan ketepatan dari pemetaan geologi yang dilakukan di tempat dimana
dilakukan pengukuran tadi.
2. Penafsiran lingkungan pengendapan satuan-satuan yang ada di kolom tersebut
serta sejarah geologi sepanjang waktu pembentukan kolom tersebut.
3. Sarana korelasi dengan kolom-kolom yang diukur di jalur yang lain.
4. Pembuatan penampang atau profil stratigrafi (stratigraphic section) untuk
wilayah tersebut.
5. Evaluasi lateral (spatial = ruang) dan vertical (temporal = waktu) dari seluruh
satuan yang ada ataupun sebagian dari satuan yang terpilih.

Ada dua metoda yang biasa dilakukan dalam usaha pengukuran jalur
stratigrafi. Metoda

tersebut adalah :

Metoda rentang tali.


Metoda tongkat Jacob (Jacob's staff method).
Metoda rentang tali atau yang dikenal juga sebagai metoda Brunton and
tape (Compton, 1985; Fritz & Moore, 1988) "dilakukan dengan dasar perentangan
tali atau meteran panjang. Semua jarak dan ketebalan diperoleh berdasar
rentangan terbut. Pengukuran dengan metoda ini akan langsung menghasilkan
ketebalan sesungguhnya hanya apabila dipenuhi syarat sebagai berikut":
Arah rentangan tali tegak lurus pada jalur perlapisan.
Arah kelerengan dari tebing atau rentangan tali tegak lurus pada arah
kemiringan.
Diantara 2 ujung rentangan tali tidak ada perubahan jurus maupun
kemiringan
5.2. Langkah-langkah dalam analisa stratigrafi
a. Mengumpulkan data sebanyak-banyaknya.
b. Membuat kolom litologi selengkap mungkin dari data yang didapat dan
diadakan pencatatan.
c. Jika ingin menyusun peta, kelompokkan urutan menjadi satuan-satuan.
d. Interpretasikan

proses-proses

yang

berlangsung

selama

pembentukkannya.
e. Dari struktur dan tekstur yang dijumpai dan digabungkan dengan data
yang ada dapat untuk menentukan lingkungan pengendapan.
f. Dengan mengetahui lingkungan pengendapan purba maka dapat dibatasi
pengertian tentang prospek dan tidaknya bahan galian ekonomis atau
minyak bumi misalnya, dengan demikian tidak membuang biaya dan
tenaga paling tidak dapat mengurangi biaya eksplorasi.

5.3. Penggambaran urutan- urutan stratigrafi kolom lithologi

Penggambaran urutan - urutan stratigrafi,

meliputi tebal masing -

masing lapisan, komposisi mineralogy , struktur sedimen kandungan fosil


, dan sifat - sifat fisik mencirikan lain,

disuguhkan dalam bentuk

kolom lithologi.
Kolom lithologi \ gabungan sistematis dari klom lithologi singkapan.
Kolom lithologi\ bagian dari kolom stratigrafi daerah penelitian.

5.4. Hubungan Kolom Stratigrafi - Kolom Lithologi


Kolom stratigrafi suatu daerah yang

dipetakan merupakan susunan

stratigrafis ( dua atau lebih ) dari kolom lithologi ( satuan batuan ) suatu
daerah yang dipetakan.
Kolom lithologi ( satuan batuan ) merupakan susunan stratigrafi ( dua atau
lebih ) kolom lithologi singkapan batuan yang dijumpai di setiap lokasi
pengamatan.
Kolom lithologi singkapan batuan merupakan hasil pengamatan secara
langsung variasi lithologi ( secara stratigrafis ) di setiap
Lokasi pengamatan ( dilengkapi dengan hasil analisa laboratoriu )
Kolom stratigrafi suatu daerah yang dipetakan susunan stratigrafis (dua
atau lebih) dari kolom lithologi (satuan batuan) suatu daerah yang
dipetakan
Kolom lithologi (satuan batuan) Susunan stratigrafi (dua atau lebih)
kolom lithologi singkapan batuan yang dijumpai di setiap lokasi
pengamatan.
kolom lithology singkapan batuan hasil pengamatan secara langsung variasi
lithologi (secara stratigrafis) di setiap lokasi pengamatan
(dilengkapi dengan hasil analisa laboratorium).

Kolom Stratigrafi

Kolom lithology
Penggambaran urut-urutan stratigrafi, meliputi:

Tebal masing-masing lapisan, komposisi mineralogi, struktur sedimen, kandungan


fosil dan sifat-sifat fisik mencirikan lain

5.5. Penyusunan Kolom Lithologi


Tatacara menyusun urutan variasi lithologi dalam suatu kolom lithologi
satuan batuan dapat dan boleh dilakukan dengan membuat Stratigrafi terukur
( measured

stratigraphic section )

\ dalam membuat stratigrafi terukur

disyaratkan singkapan batuan pada Satu jalur yang

secara menerus dan

berkesinambungan dapat dilihat di lapangan.

Apabila singkapan batuan yang dimaksud ( dalam satu jalur )

tidak

dijumpai di lapangan secara menerus \ penyusunan kolom Lithologi satuan


batuan dapat dilakukan dengan membagi jalur menjadi dua atau lebih sub jalur.

Kolom lithologi sub - jalur dapat diperoleh dan merupakan gabungan


urutan stratigrafis kolom lithologi singkapan di masing - masing lokasi
pengamatan

Lithologi bawah permukaan

30

BAB VI
FASIES ANALISIS
Pengertian dan pemahaman perkembangan konsep dasar stratigrafi dan
fasies sedimenter. Nomenklatur dan klasifikasi satuan stratigrafi. Pengenalan
sandi stratigrafi, pemahaman hubungan stratigrafi, korelasi dan waktu geologi,
konsep dasar biostratigrafi, paleoekologi, paleogeografi dan proses stratigrafi
dalam hubungannya dengan lingkungan pengendapan. Pengantar penggunaan
konsep dan model fasies untuk analisis stratigrafi.

6.1. Pengertian Fasies


Fasies merupakan suatu tubuh batuan yang memiliki kombinasi
karakteristik yang khas dilihat dari litologi, struktur sedimen dan struktur biologi
memperlihatkan aspek fasies yang berbeda dari tubuh batuan yang yang ada di
bawah, atas dan di sekelilingnya.
Fasies umumnya dikelompokkan ke dalam facies association dimana
fasies-fasies tersebut berhubungan secara genetis sehingga asosiasi fasies ini
memiliki arti lingkungan. Dalam skala lebih luas asosiasi fasies bisa disebut atau
dipandang sebagai basic architectural element dari suatu lingkungan pengendapan

yang khas sehingga akan memberikan makna bentuk tiga dimensi tubuhnya
(Walker dan James, 1992).
Menurut Slley (1985), fasies sedimen adalah suatu satuan batuan yang
dapat dikenali dan dibedakan dengan satuan batuan yang lain atas dasar geometri,
litologi, struktur sedimen, fosil, dan pola arus purbanya. Fasies sedimen
merupakan produk dari proses pengendapan batuan sedimen di dalam suatu jenis
lingkungan pengendapannya. Diagnosa lingkungan pengendapan tersebut dapat
dilakukan berdasarkan analisa faises sedimen, yang merangkum hasil interpretasi
dari berbagai data, diantaranya :
a) regional dan lokal dari seismik (misal : progradasi, regresi, reef dan chanel)
b) intra-reservoir dari wireline log (ketebalan dan distribusi reservoir)
1. Litologi : dari cutting, dan core (glaukonit, carboneous detritus) dikombinasi
dengan log sumur (GR dan SP)
2. Paleontologi : dari fosil yang diamati dari cutting, core, atau side wall core
3. Struktur sedimen : dari core

6.2. Model Fasies (Facies Model)


Model fasies adalah miniatur umum dari sedimen yang spesifik. Model
fasies adalah suatu model umum dari suatu sistem pengendapan yang khusus (
Walker , 1992).
Model fasies dapat diiterpretasikan sebagai urutan ideal dari fasies dengan
diagram blok atau grafik dan kesamaan. Ringkasan model ini menunjukkan
sebagaio ukuran yang bertujuan untuk membandingkan framework dan sebagai
penunjuk observasi masa depan. model fasies memberikan prediksi dari situasi
geologi yang baru dan bentuk dasar dari interpretasi lingkungan. pada kondisi
akhir hidrodinamik. Model fasies merupakan suatu cara untuk menyederhanakan,
menyajikan, mengelompokkan, dan menginterpretasikan data yang diperoleh
secara acak.

Ada bermacam-macam tipe fasies model, diantaranya adalah :


a) Model Geometrik berupa peta topografi, cross section, diagram blok tiga
dimensi, dan bentuk lain ilustrasi grafik dasar pengendapan framework
b) Model Geometrik empat dimensi adalah perubahan portray dalam erosi dan
deposisi oleh waktu .
c) Model statistik digunakan oleh pekerja teknik, seperti regresi linear multiple,
analisis trend permukaaan dan analisis faktor. Statistika model berfungsi untuk
mengetahui beberapa parameter lingkungan pengendapan atau memprediksi
respon dari suatu elemen dengan elemen lain dalam sebuah proses-respon model.
6.3. Facies Sequence
Suatu unit yang secara relatif conform dan sekuen tersusun oleh fasies
yang secara geneik berhubungan. Fasies ini disebut parasequence. Suatu sekuen
ditentikan oleh sifat fisik lapisan itu sendiri bukan oleh waktu dan bukan oleh
eustacy serta bukan ketebalan atau lamanya pengendapan dan tidak dari
interpretasi global atau asalnya regional (sea level change). Sekuen analog dengan
lithostratigrafy, hanya ada perbedaan sudut pandang. Sekuen berdasarkan
genetically unit.
Ciri-ciri sequence boundary

1. membatasi lapisan dari atas dan bawahnya.


2. terbentuk secara relatif sangat cepat (<10.000 tahun).
3. mempunyai suatu nilai dalam chronostratigrafi.
4. selaras yang berurutan dalam chronostratigrafi.
5. batas sekuen dapat ditentukan dengan ciri coarsening up ward.

6.4. Asosiasi Fasies


Mutti dan Ricci Luchi (1972), mengatakan bahwa fasies adalah suatu
lapisan atau kumpulan lapisan yang memperlihatkan karakteristik litologi,
geometri dan sedimentologi tertentu yang berbeda dengan batuan di sekitarnya.
Suatu mekanisme yang bekerja serentak pada saat yang sama. Asosiasi fasies
didefinisikan sebagai suatu kombinasi dua atau lebih fasies yang membentuk
suatu tubuh batuan dalam berbagai skala dan kombinasi. Asosiasi fasies ini
mencerminkan lingkungan pengendapan atau proses dimana fasies-fasies itu
terbentuk.
Sekelompok

asosiasi

fasies

endapan

fasies

digunakan

untuk

mendefinisikan lingkungan sedimen tertentu. Sebagai contoh, semua fasies


ditemukan di sebuah fluviatile lingkungan dapat dikelompokkan bersama-sama
untuk menentukan fasies fluvial asosiasi. Pembentukan dibagi menjadi empat
fasies asosiasi (FAS), yaitu dari bawah ke atas. Litologi sedimen ini
menggambarkan lingkungan yang didominasi oleh braided stream berenergi
tinggi.

a. Asosiasi fasies 1
Asosiasi fasies terendah di unit didominasi oleh palung lintas-stratifikasi,
tinggi energi braided stream yang membentuk dataran outwash sebuah sistem
aluvial. Trace fosil yang hampir tidak ada, karena energi yang tinggi berarti
depositional menggali organisme tidak dapat bertahan.

b. Asosiasi fasies 2
Fasies ini mencerminkan lingkungan yang lebih tenang, unit ini kadangkadang terganggu oleh lensa dari FA1 sedimen. Bed berada di seluruh tipis, planar
dan disortir dengan baik. Bed sekitar 5 cm (2 in) bentuk tebal 2 meter (7 ft) unit

"bedded sandsheets"- lapisan batu pasit yang membentuk lithology dominan fasies
ini.
Sudut rendah (<20 ), lintas-bentuk batu pasir berlapis unit hingga 50 cm
(19,7 inci) tebal, kadang-kadang mencapai ketebalan sebanyak 2 meter (7 kaki).
Arah arus di sini adalah ke arah selatan timur - hingga lereng - dan memperkuat
interpretasi mereka sebagai Aeolian bukit pasir. Sebuah suite lebih lanjut lapisan
padat berisi fosil jejak perkumpulan; lapisan lain beruang riak saat ini tanda, yang
mungkin terbentuk di sungai yang dangkal, dengan membanjiri cekungan hosting
mungkin pencipta jejak fosil. Cyclicity tidak hadir, menunjukkan bahwa, alih-alih
acara musiman, kadang-kadang innundation didasarkan pada peristiwa-peristiwa
tak terduga seperti badai, air yang berbeda-beda tabel, dan mengubah aliran
kursus.
c. Asosiasi fasies 3
Fasies ini sangat mirip FA1, dengan peningkatan pasokan bahan clastic
terwakili dalam rekor sedimen tdk halus, diurutkan buruk, atas-fining (yaitu padipadian terbesar di bagian bawah unit, menjadi semakin halus ke arah atas),
berkerikil palung lintas-unit tempat tidur hingga empat meter tebal. Jejak fosil
langka. Sheet-seperti sungai dikepang disimpulkan sebagai kontrol dominan pada
sedimentasi di fasies ini.
d. Asosiasi fasies 4
Asosiasi fasies paling atas muncul untuk mencerminkan sebuah
lingkungan di pinggiran laut. Fining-up yang diamati pada 0,5 meter (2 kaki)
hingga 2 meter (7 kaki) skala, dengan salib melalui seperai pada unit dasar arus
overlain oleh riak. Baik shales batu pasir dan hijau juga ada. Unit atas sangat
bioturbated, dengan kelimpahan Skolithos - sebuah fosil biasanya ditemukan di
lingkungan laut.

Hubungan

Antara

Fasies,

Proses

Sedimentasi

dan

Lingkungan

Pengendapan Lingkungan pada semua tempat di darat atau di bawah laut


dipengaruhi oleh proses fisika dan kimia yang berlaku dan organisme yang hidup
di bawah kondisi itu pada waktu itu. Oleh karena itu suatu lingkungan
pengendapan dapat mencirikan proses-proses ini. Sebagai contoh, lingkungan
fluvial (sungai) termasuk saluran (channel) yang membawa dan mengendapkan
material

pasiran

atau

kerikilan

di

atas

bar

di

dalam

channel.

Ketika sungai banjir, air menyebarkan sedimen yang relatif halus melewati
daerah limpah banjir (floodplain) dimana sedimen ini diendapkan dalam bentuk
lapis- lapis tipis. Terbentuklah tanah dan vegetasi tumbuh di daerah floodplain.
Dalam satu rangkaian batuan sedimen channel dapat diwakili oleh lensa batupasir
atau konglomerat yang menunjukkan struktur internal yang terbentuk oleh
pengendapan pada bar channel. Setting floodplain akan diwakili oleh lapisan tipis
batulumpur dan batupasir dengan akar-akar dan bukti-bukti lain berupa
pembentukan tanah.
Dalam deskripsi batuan sedimen ke dalam lingkungan pengendapan,
istilah fasies sering digunakan. Satu fasies batuan adalah tubuh batuan yang
berciri khusus yang mencerminkan kondisi terbentuknya (Reading & Levell
1996). Mendeskripsi fasies suatu sedimen melibatkan dokumentasi semua
karakteristik litologi, tekstur, struktur sedimen dan kandungan fosil yang dapat
membantu dalam menentukan proses pembentukan. Jika cukup tersedia informasi
fasies, suatu interpretasi lingkungan pengendapan dapat dibuat. Lensa batupasir
mungkin menunjukkan channel sungai jika endapan floodplain ditemukan
berasosiasi dengannya. Namun bagaimanapun, channel yang terisi dengan pasir
terdapat juga di dalam setting lain, termasuk delta, lingkungan tidal dan lantai laut
dalam. Pengenalan channel yang terbentuk bukanlah dasar yang cukup untuk
menentukan lingkungan pengendapan.
Fasies pengendapan batuan sedimen dapat digunakan untuk menentukan
kondisi lingkungan ketika sedimen terakumulasi.
Lingkungan sedimen telah digambarkan dalam beberapa variasi yaitu :

1. Tempat pengendapan dan kondisi fisika, kimia, dan biologi yang


menunjukkan sifat khas dari setting pengendapan [Gould, 1972].
2. Kompleks dari kondisi fisika, kimia, dan biologi yang tertimbun
[Krumbein dan Sloss, 1963].
3. Bagian dari permukaan bumi dimana menerangkan kondisi fisika,
kimia, dan biologi dari daerah yang berdekatan [Selley, 1978].
4. Unit spasial pada kondisi fisika, kimia, dan biologi scara eksternal dan
mempengaruhi

pertumbuhan

sedimen

secara

konstan

untuk

membentuk

pengendapan yang khas [Shepard dan Moore, 1955].


Tiap lingkungan sedimen memiliki karakteristik akibat parameter fisika,
kimia, dan biologi dalam fungsinya untuk menghasilkan suatu badan karakteristik
sedimen oleh tekstur khusus, struktur, dan sifat komposisi. Hal tersebut biasa
disebut sebagai fasies. Istilah fasies sendiri akan mengarah kepada perbedaan unit
stratigrafi akibat pengaruh litologi, struktur, dan karakteristik organik yang
terdeteksi di lapangan. Fasies sedimen merupakan suatu unit batuan yang
memperlihatkan suatu pengendapan pada lingkungan
Dasar Penggunaan Log dalam Analisa Fasies

Apabila kita meneliti stratigrafi atau urutan vertikal dari umur-sumur


pemboran, baik itu lithostratigrafi ataupun biostratigrafi yang dapat dikorelasikan;
maka log dari sumur-sumur tersebut dapat digunakan untuk menentukan fasies
dan interpretasi lingkungan pengendapan dari suatu batuan reservoir, meliputi
Perkirakan bentuk geometri dan orientasi nya. Dari beberapa studi lingkungan
pengendapan modern yang ada memperlihatkan adanya ciri-khas tertentu dari
ukuran butir profil vertikal; sebagai contoh jika endapan channel seringkali
menghalus keatas (fining upward), mulai dari bawah dengan endapan "basal"
konglomerat menerus keatas menjadi pasir, lanau dan lempung. Sebaliknya, delta
progradasi dan endapan "barrier island" sering-kali menunjukkan profil vertikal
yang semakin kasar keatas (coarsening upward). Sehingga dari profil vertikal
ukuran butir (grain size profile) dapat digunakan sebagai analisa fasies, yang
mana ini dapat dilihat indikasi nya pada log SP dan/atau log Gamma Ray.
Log SP banyak dikontrol oleh sifat permeabelitas suatu batuan, dimana
semakin permeabel akan mempunyai defleksi kekiri atau lebih kecil, dengan kata
lain semakin permeabel maka ukuran butir semakin besar. Sama halnya juga
dengan log Gamma Ray, dimana kandungan mineral lempung (yang kaya unsur
radioaktif) dari suatu endapan menunjukkan adanya halusnya ukuran butir.
Pengecualian dari hal ini adalah adanya endapan lempung dengan fragmen
konglomerat atau hadirnya mineral radioaktif seperti Glauconite, Mica dan Zircon
(Rider, 1990).
Bentuk motif log SP dan Gamma Ray, pada dasarnya dapat dibagi menjadi 3
bentuk dasar yaitu:
1. Bell Motif (Motif Lonceng / Bel), yaitu endapan pasir yang menghalus
keatas dengan bagian dasar yg tajam.
2. Funnel Motif (Motif Corong), yaitu endapan pasir yang mengasar keatas
dengan bentuk tajam diatas.
3. Blocky Motif (Motif blok), yaitu endapan pasir bersih dengan bagian
tajam pada batas atas dan bawahnya.

Variasi dari ketiga pola tersebut bisa saja terlihat halus atau kasar dan
tidak ada motif log yang baku untuk satu pengendapan tertentu, tapi dengan
menggabungkan dari beberapa analisa profil log-log tersebut maka dapat
dilakukan

interpretasi

lingkungan

pengendapannya,

tentunya

dengan

memperhatikan kandungan mineral Glauconite, shell debris, carbonaceous


material dan mineral mica.
Mineral Glauconite terbentuk selama proses diagenesis awal dari suatu
dengapan I sedimen laut dangkal (shallow marine), begitu mereka terbentuk maka
akan bersifat stabil pada lingkungan tersebut, tapi dapat juga terbawa ke arah
pantai atau kearah kipas-kipas laut dalam (deepsea fans). Bagaimanapun, adanya
mineral Glauconite menandakan endapan dari lingkungan laut. Sedangkan shellshell keras pada suatu endapan menandakan dari lingkungan dari air tawar atau air
laut, tapi shell-shell yang berpasir atau berasosiasi pasir cenderung dari
lingkungan air laut. Sebetulnya kita dapat lebih jauh meneliti fossil-fossil dari
lingkungan laut dengan lebih jelas. Kandungan "carbonaceous" seperti Coal,
fragmen tumbuhan dan kerogen, biasanya berasal dari lingkungan darat ataupun
laut, namun begitu kandungan organik yang terawetkan biasanya menandakan
pengendapan yang cepat, dengan adanya mineral-mineral "reworked" dan tandatanda oksidasi. Sama halnya, kehadiran mineral Mica menandakan pengendapan
yang cepat baik lingkungan darat maupun lingkungan laut.
Keempat kandungan tersebut (Glauconite, Shell fragmen, Carbonaceous
material, dan Mica) biasanya dicatat dalam deskripsi serbuk bor dalam suatu
pemboran oleh seorang wellsite geologist. Dengan mempelajari beberapa motifmotif log dengan mempertimbangkan keempat kandungan yang sudah dibicarakan
diatas, akan banyak sekali membantu dalam menganalisa dan meperkirakan
bentuk geometri dan trend reservoir (Lihat gambar dibawah).

Sebetulnya teknik analisa ini diperkenalkan oleh Selley (1976). Idealnya


analisa fasies didasarkan pada sedimentologi dan analisa core (inti batuan).
Gambar dibawah ini menunjukkan integrasi dari beberapa log dan data batuan,
sebetulnya contoh-contoh didalam endapan modern delta Mahakam sudah banyak
sekali dipelajari oleh beberapa ahli geologi Indonesia ataupun perusahaan perusahaan minyak dan gas bumi (Pertamina, Total, Chevron - dulu Unocal, dll).

Analisa fasies akan semakin mudah dilakukan jika profil ukuran butir
digabungkan dengan gambaran struktur sedimen dari alat logging "image". Yang
kemudian orientasi struktur sedimen, misalnya cross bedding dapat digunakan
untuk menentukan arah arus purba dan tentu saja arah pelamparan lapisan
reservoir.

Log merupakan suatu gambaran terhadap kedalaman dari suatu perangkat


kurva yang mewakili parameter - parameter yang diukur secara menerus didalam
suatu sumur. Adapun parameter - parameter yang bisa diukur adalah sifat
kelistrikan (spontaneous potensial), tahanan jenis batuan, daya hantar listrik , sifat
keradioaktifan, dan sifat meneruskan gelombang suara. Metode perekamannya
dengan menggunakan cara menurunkan suatu sonde atau peralatan ke dasar
lubang pemboran.
Jenis - jenis log yang sering digunakan :
A. Log spontaneous potensial (SP)
Kurva SP merupakan suatu catatan terhadap kedalaman dari perbedaan
potensial antara elektroda permukaan dengan elektroda yang dapat bergerak
didalam lubang bor. Pada zona lempung kurva SP menunjukan garis lurus yang
disebut "shale base line". Pada formasi yang permeable kurva SP menjauh dari
garis lempung. Pada zona permeabel yang tebal , kurva SP mencapai suatu garis
konstan.
Dalam evaluasi formasi log SP digunakan untuk :
-

Menentukan jenis litologi


Menentukan kandungan lempung
Menentukan harga tahanan jenis air formasi

B. Log Gamma Ray (GR)


Log Gr merupakan suatu catatan terhadap kedalaman dari radioaktivitas alamiah
suatu formasi. Log Gamma Ray digunakan untuk :
-

Menentukan volume lempung


Identifikasi litologi
C. Log Resistivitas
Merupakan log elektrik yang digunakan untuk :

Mendeterminasi kandungan fluida dalam batuan reservoir .

Mengidentifikasi zona permeable


Menentukan porositas

Ada dua tipe log yang digunakan untuk mengukur resistiviti formasi yaitu log
induksi dan log elektroda.
D. Log Densitas
Log Densitas merupakan suatu tipe log porositas yang mengukur densitas
elektron suatu formasi. Dalam evaluasi sumur log densitas berguna untuk :
-

Menentukan porositas
Identifikasi litologi
Identifikasi adanya kandungan gas
Menderteminasi densitas hidrokarbon

E. Log Netron
Merupakan tipe log porositas yang mengukur konsentrasi ion hydrogen
dalam suatu formasi. Netron energi tinggi yang dihasilkan oleh suatu sumber
kimia ditembakkan kedalam formasi. Didalam formasi netron bertabrakan dengan
atom-atom penyusun formasi sebagai akibatnya netron kehilangan energinya.
Dalam penentuan pekerjaan evaluasi formasi log netron berguna untuk :
-

Menentukan porositas
Log netron dapat mendeteksi porositas primer dan sekunder dalam formasi

lempung. Dalam formasi lempungan log netron juga mendeteksi kandungan air
dalam partikel- partikel sebagai porositas.
-

Identifikasi litologi
Litologi dapat diterminasi dengan menggunakan gabungan log densitas,

log netron dan log sonic dalam cross plot M-N atau M/D.
-

Indentifikasi adanya gas


Adanya kandungan gas dalam suatu formasi dapat dilihat dengan

gabungan antara log netron dengan log densitas. Adanya gas ditunjukkan harga
porositas densitas yang jauh lebih besar daripada porositas netron.

F. Log Sonik
Merupakan suatu log porositas yang mengukur interval waktu lewat dari
suatu gelombang suatu suara kompresional untuk melalui satu feet formasi.
Dalam evaluasi formasi log sonic berguna untuk :
-

Menentukan porositas
Log sonic dapat mengukur harga kesarangan primer namun tidak dapat

mengukur porositas sekunder.


-

Identifikasi litologi
Litologi dapat dicerminkan dengan menggabungkan log sonic, netron, dan

densitas cross plot M-N atau M/D.


Pada pekerjaan seismic cukup sederhana. Dimana energi yang dihasilkan
dari sumber yang dipancarkan kedalam bumi sebagai gelombang seismic pada
saat bertemu dengan bidang pelapisan berfungsi sebagai reflector dan akan
kembali memantul ke permukaan dan kemudian dideteksi oleh geophone yang
terdapat dipermukaan bumi. Ada jenis seismic ada 2 macam, yaitu :
1. Seismik bias ( refraction ), digunakan untuk penelitian yang dangkal (< 30 km).
2. Seismik pantul ( reflection ), digunakan untuk penelitian yang dalam (> 30 km).

DAFTAR PUSTAKA
http://geografi-geografi.blogspot.com/2012/03/stratigrafi.html (Selasa, 25
November 2014)
http://ptbudie.wordpress.com/2010/12/25/pengertian-stratigrafi/ (Rabu, 26
November 2014)
http://mugosukses.blogspot.com/2012/04/stratigrafi-dan-paleontologi.html (Rabu,
26 November 2014)
http://sedimentologidanstratigrafi09.blogspot.com/2012/07/sedimentologi-danstratigrafi.html (Rabu, 26 November 2014)
http://www.scribd.com/doc/179234640/Bab-8-STRATIGRAFI-pdf (Rabu, 26
November 2014)
http://sedimentologidanstratigrafi09.blogspot.com/2012/07/sedimentologi-danstratigrafi.html (Rabu, 26 November 2014)
http://www.scribd.com/doc/118845996/Definisi-Stratigrafi (Rabu, 26 November
2014)
http://stratigrafi.blogspot.com/2010/12/serba-serbi-stratigrafi.html (Jumat, 28
November 2014)