Anda di halaman 1dari 35

BAB I

KONSEP KEPERAWATAN KELUARGA

A. Konsep Keluarga
a. Pengertian Keluarga
Keluarga adalah suatu sistem sosial yang dapat menggambarkan
adanya jaringan kerja dari orang-orang yang secara regular berinteraksi
satu sama lain yang ditunjukkan oleh adanya hubungan yang saling
tergantung dan mempengaruhi dalam rangka mencapai tujuan (Leininger,
1976).
Jadi dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah sekumpulan dua
orang atau lebih yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi,
hubungan darah, hidup dalam satu rumah tangga, memiliki kedekatan
emosional, dan berinteraksi satu sama lain yang saling ketergantungan
untuk

menciptakan

atau

mempertahankan

budaya,

meningkatkan

perkembangan fisik, mental, emosional, dan sosial setiap anggota dalam


rangka mencapai tujuan bersama.\
b. Tipe-tipe Keluarga
1. Keluarga inti (nuclear family)
Keluarga yang hanya terdiri ayah, ibu, dan anak yang diperoleh dari
keturunannya, adopsi atau keduanya.
2. Keluarga besar (extended family)
Keluarga inti ditambah anggota keluarga lain yang masih mempunyai
hubungan darah (kakek-nenek, paman bibi).
3. Keluarga bentukan kembali (dyadic family)
Keluarga baru yang bentuk terbentuk dari pasangan yng bercerai atau
kehilangan pasangannya.
4. Orang tua tunggal (single parent family)
Keluarga yang terdiri dari salah satu orang tua dengan anak-anak
akibat perceraian atau ditinggal pasangannya.
5. Ibu dengan anak tanpa perkawinan (the unmarried teenage mother)

Orang dewasa (laki-laki atau perempuan) yang tinggal sendiri tanpa


pernah menikah (the single adult living alone)
Keluarga dengan anak tanpa pernikahan sebelumnya (the non marital
heterosexsual cobabiting family)
6. Keluarga yang di bentuk oleh pasangan yang berjenis kelamin sama
(gay and lesbian family).
7. Keluarga Indonesia menganut keluarga besar (extended family), karena
masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku hidup dalam satu
kominiti dengan adat istiadat yang sangat kuat.
c. Tugas Perkembangan Keluarga
Perkembangan keluarga merupakan proses perubahan yang terjadi pada
sistem keluarga meliputi; perubahan pola interaksi dan hubungan antar
anggota keluarga disepanjang waktu. Perubahan ini terjadi melalui beberapa
tahapan atau kurun waktu tertentu. Pada setiap tahapan mempunyai tugas
perkembangan yang harus dipenuhi agar tahapan tersebut dapat dilalui
dengan sukses.
Perawat perlu memahami setiap tahapan perkembangan keluarga serta
tugas tugas perkemabangannya. Hal ini penting mengingat tugas perawat
dalam mendeteksi adanya masalah keperawatan yang dilakukan terkait erat
dengan sifat masalah yaitu potensial atau aktual.
Tahap perkembangan dibagi menurut kurun waktu tertentu yang
dianggap stabil. Menurut Rodgers cit Friedman (1998), meskipun setiap
keluarga melalui tahapan perkembangan secara unik, namun secara umum
seluruh keluarga mengikuti pola yang sama.
Tahap perkembangan keluarga menurut Duvall dan Milller (Friedman,
1998):
I. Pasangan Baru
Keluarga baru dimulai saat masing-masing individu laki-laki (suami) dan
perempuan (istri) membentuk keluarga melalui perkawinan yang sah dan
meninggalkan keluarga masing-masing. Meninggalkan keluarga bisa berarti

psikologis karena kenyataannya banyak keluarga baru yang masih tinggal


dengan orang tuanya.
Dua orang yang membentuk keluarga baru membutuhkan penyesuaian
peran dan fungsi. Masing-masing belajar hidup bersama serta beradaptasi
dengan kebiasaan sendiri dan pasangannya, misalnya makan, tidur, bangun
pagi dan sebagainya. Tugas perkembangan:
1. Membina hubungan intim danmemuaskan.
2. membina hubungan dengan keluarga lain, teman dan kelompok sosial.
3. mendiskusikan rencana memiliki anak.
4. Keluarga baru ini merupakan anggota dari tiga keluarga ; keluarga suami,
keluarga istri dan keluarga sendiri.
II. Keluarga child bearing kelahiran anak pertama
Dimulai sejak hamil sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai
anak berumur 30 bulan atau 2,5 tahun.
Tugas perkembangan kelurga yang penting pada tahap ini adalah:
1. Persiapan menjadi orang tua.
2. Adaptasi dengan perubahan anggota keluarga, peran, interaksi, hubungan
sexual dan kegiatan.
3. Mempertahankan

hubungan

yang

memuaskan

dengan

pasangan.

Peran utama perawat adalah mengkaji peran orang tua; bagaiaman orang
tuan berinteraksi dan merawat bayi. Perawat perlu menfasilitasi hubungan
orang tua dan bayi yang positif dan hangat sehingga jalinan kasih sayang
antara bayi dan orang tua dapat tercapai.
III. Keluarga dengan anak pra sekolah
Tahap ini dimulai saat anak pertama berumur 2,5 tahun dan berakhir saat
anak berusia 5 tahun. Tugas perkembangn
1. Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti kebutuhan tempat tinggal,
privasi dan rasa aman.
2. Membantu anak untuk bersosialisasi

3. Beradaptasi dengan anaky baru lahir, sementara kebutuhan anak lain juga
harus terpenuhi.
4. Mempertahankan hubungan yang sehat baik didalam keluarga maupun
dengan masyarakat.
5. Pembagian waktu untuk individu, pasangan dan anak.
6. Pembagian tanggung jawab anggota keluarga.
7. Kegiatan dan waktu untuk stimulasi tumbuh kembang.
IV. Keluarga dengan anak sekolah
Tahap ini dimulai saat anak berumur 6 tahun (mulai sekolah ) dan berakhir
pada saat anak berumur 12 tahun. Pada tahap ini biasanya keluarga mencapai
jumlah maksimal sehingga keluarga sangat sibuk. Selain aktivitas di sekolah,
masing-masing anak memiliki minat sendiri. Dmikian pula orang tua
mempunyai aktivitas yang berbeda dengan anak.
Tugas perkembangan keluarga:
1. Membantu sosialisasi anak dengan tetangga, sekolah dan lingkungan.
2. Mempertahankan keintiman pasangan.
3. Memenuhi kebutuhan dan biaya kehidupan yang semakin meningkat,
termasuk kebutuhan untuk meningkatkan kesehatan anggota keluarga.
Pada tahap ini anak perlu berpisah dengan orang tua, memberi kesempatan
pada anak untuk nbersosialisasi dalam aktivitas baik di sekolah maupun di
luar sekolah.
V. Keluarga dengan anak remaja
Dimulai saat anak berumur 13 tahun dan berakhir 6 sampai 7 tahun
kemudian. Tujuannya untuk memberikan tanggung jawab serta kebebasan
yang lebih besar untuk mempersiapkan diri menjadi orang dewasa.
Tugas perkembangan
1. Memberikan kebebasan yang seimbnag dengan tanggung jawab.
2. Mempertahankan hubungan yang intim dengan keluarga.

3.

Mempertahankan komunikasi yang terbuka antara anak dan orang tua.


Hindari perdebatan, kecurigaan dan permusuhan.
Perubahan sistem peran dan peraturan untuk tumbuh kembang keluarga.

Merupakan tahap paling sulit karena orang tua melepas otoritasnya dan
membimbing anak untuk bertanggung jawab. Seringkali muncul konflik
orang tua dan remaja.
VI. Keluarga dengan anak dewasa
Dimulai pada saat anak pertama meninggalkan rumah dan berakhir pada
saat anak terakhir meninggalkan rumah. Lamanya tahapan ini tergantung
jumlah anak dan ada atau tidaknya anak yang belum berkeluarga dan tetap
tinggal bersama orang tua. Tugas perkembangan:
1. Memperluas keluarga inti menjadi keluarga besar.
2. Mempertahankan keintiman pasangan.
3. Membantu orang tua memasuki masa tua.
4. Membantu anak untuk mandiri di masyarakat.
5. Penataan kembali peran dan kegiatan rumah tangga.
VII. Keluarga usia pertengahan
Tahap ini dimulai pada saat anak yang terakhir meninggalkan rumah dan
berakhir saat pensiun atau salah satu pasangan meninggal. Pada beberapa
pasangan fase ini dianggap sulit karena masa usia lanjut, perpisahan dengan
anak dan perasaan gagal sebagai orang tua. Tugas perkembangan:
1.

Mempertahankan kesehatan.

2.

Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan teman sebaya dan


anak-anak.

3.

Meningkatkan keakraban pasangan.

4.

Fokus mempertahankan kesehatan pada pola hidup sehat, diet seimbang,


olah raga rutin, menikmati hidup, pekerjaan dan lain sebagainya.

VIII. Keluarga usia lanjut


Dimulai saat pensiun sampai dengan salah satu pasangan meninggal dan
keduanya meninggal. Tugas perkembangan:
1. Mempertahankan suasana rumah yang menyenangkan.
2. Adaptasi dengan perubahan kehilangan pasangan, teman, kekuatan fisik
dan pendapatan.
3. Mempertahankan keakraban suami/istri dan saling merawat.
4. Mempertahankan hubungan dengan anak dan sosial masyarakat.
5. Melakukan life review.
6. Mempertahankan penataan yang memuaskan merupakan tugas utama
keluarga pada tahap ini.
d. Fungsi Keluarga
a. Fungsi Afektif
Keluarga yang saling menyayangi dan peduli terhadap anggota keluarga
yang sakit TBC akan mempercepat proses penyembuhan. Karena
adanya partisipasi dari anggota keluarga dalam merawat anggota
keluarga yang sakit.
b. Fungsi Sosialisasi dan Tempat Bersosialisasi
Fungsi keluarga mengembangkan dan melatih untuk berkehidupan
sosial sebelum meninggalkan rumah untuk berhubungan dengan orang
lain. Tidak ada batasan dalam bersosialisasi bagi penderita dengan
lingkungan akan mempengaruhi kesembuhan penderita asalkan
penderita

tetap

memperhatikan

kondisinya

.Sosialisasi

sangat

diperlukan karena dapat mengurangi stress bagi penderita.


c. Fungsi Reproduksi
Keluarga berfungsi untuk mempertahankan generasi dan menjaga
kelangsungan keluarga.Dan juga tempat mengembangkan fungsi
reproduksi secara universal, diantaranya : seks yang sehat dan
berkualitas, pendidikan seks pada anak sangat penting.
d. Fungsi Ekonomi

Keluarga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan keluarga, seperti


kebutuhan makan, pakaian dan tempat untuk berlindung (rumah). Dan
tempat untuk mengembangkan kemampuan individu meningkatkan
penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
e. Fungsi Perawatan / Pemeliharaan Kesehatan
Berfungsi untuk mempertahankan keadaan kesehatan anggota keluarga
agar tetap memiliki produktivitas tinggi. Fungsi ini dikembangkan
menjadi tugas keluarga di bidang kesehatan.

e. Tugas Keluarga Dalam Kesehatan


Dikaitkan dengan kemampuan keluarga dalam melaksanakan 5 tugas
keluarga di bidang kesehatan yaitu :
a. Mengenal masalah kesehatan keluarga
Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan
karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti dan karena
kesehatanlah kadang seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga
habis. Ketidaksanggupan keluarga dalam mengenal masalah kesehatan
pada keluarga salah satunya disebabkan oleh kurangnya pengetahuan .
Kurangnya pengetahuan keluarga tentang pengertian, tanda dan gejala,
perawatan dan pencegahan Diabetes Melllitus.
b. Memutuskan tindakan kesehatan yang tepat bagi keluarga
Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari
pertolongan

yang

tepat

sesuai

dengan

keadaan

keluarga,dengan

pertimbangkan siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan


memutuskan menentukan tindakan keluarga. Tindakan kesehatan yang
dilakukan oleh keluarga diharapkan tepat agar masalah kesehatan dapat
dikurangi bahkan teratasi. Ketidaksanggupan keluarga mengambil
keputusan dalam melakukan tindakan yang tepat,disebabkan karena

keluarga tidak memahami mengenai sifat, berat dan luasnya masalah serta
tidak merasakan menonjolnya masalah.
c. Merawat keluarga yang mengalami gangguan kesehatan.
Keluarga dapat mengambil tindakan yang tepat dan benar, tetapi
keluarga memiliki keterbatasan. Ketidakmampuan keluarga merawat
anggota keluarga yang sakit dikarenakan tidak mengetahui cara perawatan
pada penyakitnya. Jika demikian ,anggota keluarga yang mengalami
gangguan kesehatanperlu memperoleh tindakan lanjutan atau perawatan
dapat dilakukan di institusi pelayanan kesehatan.
d. Memodifikasi lingkungan keluarga untuk menjamin kesehatan
keluarga
Pemeliharaan lingkungan yang baik akan meningkatkan kesehatan
keluarga dan membantu penyembuhan. Ketidakmampuan keluarga dalam
memodifikasi lingkungan bisa di sebabkan karena terbatasnya sumbersumber keluarga diantaranya keuangan, kondisi fisik rumah yang tidak
memenuhi syarat.
e. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan di sekitarnya bagi
keluarga
Kemampuan keluarga dalam memanfaatkan fasilitas pelayanan
kesehatan akan membantu anggota keluarga yang sakit memperoleh
pertolongan dan mendapat perawatan segera agar masalah teratasi.
B. Proses Asuhan Keperawatan Keluarga
1. Pengkajian
Pengkajian adalah sekumpulan tindakan yang digunakan oleh perawat
untuk mengukur keadaan klien (keluarga) dengan menangani norma-norma
kesehatan keluarga maupun sosial, yang merupakan system terintegrasi dan
kesanggupan keluarga untuk mengatasinya. (Effendy, 1998)
Pengumpulan data dalam pengkajian dilakukan dengan wawancara,
observasi, dan pemeriksaan fisik dan studi dokumentasi. Pengkajian asuhan

keperawatan keluarga menurut teori/model Family Centre Nursing Friedman


(1988), meliputi 7 komponen pengkajian yaitu :
a. Data Umum
1) Identitas kepala keluarga
2) Komposisi anggota keluarga
3) Genogram
4) Tipe keluarga
5) Suku bangsa
6) Agama
7) Status sosial ekonomi keluarga
b. Aktifitas rekreasi keluarga
1) Riwayat dan tahap perkembangan keluarga
2) Tahap perkembangan keluarga saat ini
3) Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi
4) Riwayat keluarga inti
5) Riwayat keluarga sebelumnya
c. Lingkungan
1) Karakteristik rumah
2) Karakteristik tetangga dan komunitas tempat tinggal
3) Mobilitas geografis keluarga
4) Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat
5) System pendukung keluarga
d. Struktur keluarga
1) Pola komunikasi keluarga
2) Struktur kekuatan keluarga
3) Struktur peran (formal dan informal)
4) Nilai dan norma keluarga
e. Fungsi keluarga
1) Fungsi afektif
2) Fungsi sosialisasi
3) Fungsi perawatan kesehatan
f. Stress dan koping keluarga
1) Stressor jangka panjang dan stressor jangka pendek serta kekuatan
keluarga
2) Respon keluarga terhadap stress
3) Strategi koping yang digunakan
4) Strategi adaptasi yang disfungsional
g. Pemeriksaan fisik
1) Tanggal pemeriksaan fisik dilakukan
2) Pemeriksaan kesehatan dilakukan pada seluruh anggota keluarga
3) Aspek pemeriksaan fisik mulai dari vital sign, rambut, kepala, mata,
mulut, THT, leher, thoraks, abdomen, ekstremitas atas dan bawah, system
genetalia
4) Kesimpulan dari hasil pemeriksaan fisik
h. Harapan keluarga
1) Terhadap masalah kesehatan keluarga

2) Terhadap petugas kesehatan yang ada


Ada beberapa tahap yang perlu dilakukan saat pengkajian menurut Supraji
a.

(2004) yaitu:
Membina hubungan baik
Dalam membina hubungan yang baik, hal yang perlu dilakukan antara

lain, perawat memperkenalkan diri dengan sopan dan ramah tamah, menjelaskan
tujuan kunjungan, meyakinkan keluarga bahwa kehadiran perawat adalah
menyelesaikan masalah kesehatan yang ada di keluarga, menjelaskan luas
kesanggupan bantuan perawat yang dapat dilakukan, menjelaskan kepada
keluarga siapa tim kesehatan lain yang ada di keluarga.
b. Pengkajian awal
Pengkajian ini terfokus sesuai data yang diperoleh dari unit pelayanan
kesehatan yang dilakukan.
c.

Pengkajian lanjutan (tahap kedua)


Pengkajian lanjutan adalah tahap pengkajian untuk memperoleh data

y6ang lebih lengkap sesuai masalah kesehatan keluarga yang berorientasi pada
pengkajian awal. Disini perawat perlu mengungkapkan keadaan keluarga hingga
penyebab dari masalah kesehatan yang penting dan paling dasar.
2

Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menggunakan dan

menggambarkan respons manuasia. Dimana keadaan sehat atau perubahan pola


interaksi potensial/actual dari individu atau kelompok dimana perawat dapat
menyusun intervensi-intervensi defini
tive untuk mempertahankan status kesehatan atau untuk mencegah
perubahan (Carpenito, 2000).
Untuk menegakkan diagnosa dilakukan 2 hal, yaitu:
a. Anallisa data
Mengelompokkan data subjektif dan objektif, kemudian dibandingkan
dengan standar normal sehingga didapatkan masalah keperawatan.
b. Perumusan diagnosa keperawatan
Komponen rumusan diagnosa keperawatan meliputi:

1) Masalah (problem) adalah suatu pernyataan tidak terpenuhinya kebutuhan


dasar manusia yang dialami oleh keluarga atau anggota keluarga.
2) Penyebab (etiologi) adalah kumpulan data subjektif dan objektif.
3) Tanda (sign) adalah sekumpulan data subjektif dan objektif yang
diperoleh perawat dari keluarga secara langsung atau tidak langsung atau
tidak yang mendukung masalah dan penyebab.
Dalam penyusunan masalah kesehatan dalam perawatan keluarga mengacu
pada tipologi diagnosis keperawatan keluarga yang dibedakan menjadi 3
kelompok, yaitu:
1) Diagnosa sehat/Wellness/potensial
Yaitu keadaan sejahtera dari keluarga ketika telah mampu memenuhi
kebutuhan kesehatannya dan mempunyai sumber penunjang kesehatan yang
memungkinkan dapat digunakan. Perumusan diagnosa potensial ini hanya terdiri
dari komponen Problem (P) saja dan sign /symptom (S) tanpa etiologi (E).
2) Diagnosa ancaman/risiko
Yaitu masalah keperawatan yang belum terjadi. Diagnosa ini dapat
menjadi masalah actual bila tidak segera ditanggulangi. Perumusan diagnosa
risiko ini terdiri dari komponen problem (P), etiologi (E), sign/symptom (S).
3) Diagnosa nyata/actual/gangguan
Yaitu masalah keperawatan yang sedang dijalani oleh keluarga dan
memerlukn bantuan dengan cepat. Perumusan diagnosa actual terdiri dari problem
(P), etiologi (E), dan sign/symptom (S).
Perumusan

problem

(P)

merupakan

respons

terhadap

gangguan

pemenuhan kebutuhan dasar. Sedangkan etiologi mengacu pada 5 tugas keluarga.


Dalam Friedman (!998) diagnosa-diagnosa keperawatan pilihan NANDA
yang cocok untuk praktek keperawatan keluarga seperti tabel dibawah ini:
Kategori Diagnosa NANDA
Diagnosa Keperawatan
Persepsi
kesehatan-pola Manajemen kesehatan yang dapat di ubah
manajemen kesehatan
Kognitif-pola latihan
Peran-pola persepsi

Perilaku mencari sehat


Kerusakan penatalaksanaan lingkungan rumah
Kurang pengetahuan

Peran-pola hubungan

Konflik keputusan
Berduka antisipasi

Berduka disfungsional
Konflik peran orang tua isolasi social
Perubahan dalam proses keluarga
Perubahan penampilan peran
Risiko perubahan dalam menjadi orang tua
Perubahan menjadi orang tua
Risiko terhadap kekerasan
Koping pola pola toleransi Koping
keluarga
potensial
terhadap stress

terhadap

pertumbuhan
Koping keluarga tidak efektif : menurun
Koping keluarga tidak efektif : kecacatan

3. Perencanaan
Perencanaan adalah sekumpulan tindakan yang ditentukan perawat untuk
dilaporkan dalam memecahkan masalah kesehatan dan keperawatan yang telah
diidentifikasi (Efendy,1998).
Penyusunan rencana perawatan dilakukan dalam 2 tahap yaitu pemenuhan
skala prioritas dan rencana perawatan (Suprajitmo, 2004).
a.

Skala prioritas
Prioritas didasarkan pada diagnosis keperawatan yang mempunyai skor

tinggi dan disusun berurutan sampai yang mempunyai skor terendah. Dalam
menyusun prioritas masalah kesehatan dan keperawatan keluarga harus
didasarkan beberapa criteria sebagai berikut :
1. Sifat masalah (actual, risiko, potensial)
2. Kemungkinan masalah dapat diubah
3. Potensi masalah untuk dicegah
4. Menonjolnya masalah
Skoring dilakukan bila perawat merumuskan diagnosa keperawatan telah
dari satu proses skoring menggunakan skala yang telah dirumuskan oleh Bailon
dan Maglay (1978) dalam Effendy (1998).
Kriteria
Sifat masalah
Kemungkinan masalah

Bobot
1
2

untuk dipecahkan
Potensi masalah untuk

Skor
Aktual
=3
Risiko
=2
Potensial
=1
Mudah
=2
Sebagian
=1
Tidak dapat = 0
Tinggi
=3

dicegah
Menonjolnya masalah

Cukup
=2
Rendah
=1
Segera diatasi = 2
Tidak segera diatasi = 1
Tidak dirasakan adanya masalah
=0

Proses scoring dilakukan untuk setiap diagnosa keperawatan :


Tentukan skornya sesuai dengan kriteria yang dibuat perawat
Skor dibagi dengan angka tertinggi dan dikaitkan dengan bobot
Jumlahkan skor untuk semua criteria
Skor tertinggi berarti prioritas (skor tertinggi 5)
b. Rencana
Langkah pertama yang dilakukan adalah merumuskan tujuan keperawatan.
Tujuan dirumuskan untuk mengetahui atau mengatasi serta meminimalkan
stressor dan intervensi dirancang berdasarkan tiga tingkat pencegahan.
Pencegahan primer untuk memperkuat garis pertahanan fleksibel, pencegahan
sekunder untuk memperkuat garis pertahanan sekunder, dan pencegahan tersier
untuk memperkuat garis pertahanan tersier (Anderson & Fallune, 2000).
Tujuan terdiri dari tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek.
Tujuan jangka panjang mengacu pada bagaimana mengatasi problem/masalah (P)
di keluarga. Sedangkan penetapan tujuan jangka pendek mengacu pada bagaimana
mengatasi etiologi yang berorientasi pada lima tugas keluarga.
Adapun bentuk tindakan yang akan dilakukan dalam intervensi nantinya
adalah sebagai berikut :
1. Menggali tingkat pengetahuan atau pemahaman keluarga mengenai masalah
2. Mendiskusikan dengan keluarga mengenai hal-hal yang belum diketahui dan
3.

meluruskan mengenai intervensi/interpretasi yang salah.


Memberikan penyuluhan atau menjelaskan dengan keluarga tentang faktorfaktor penyebab, tanda dan gejala, cara menangani, cara perawatan, cara

4.
5.

mendapatkan pelayanan kesehatan dan pentingnya pengobatan secara teratur.


Memotivasi keluarga untuk melakukan hal-hal positif untuk kesehatan.
Memberikan pujian dan penguatan kepada keluarga atas apa yang telah
diketahui dan apa yang telah dilaksanakan.

4. Pelaksanaan

Pelaksanaan dilaksanakan berdasarkan pada rencana yang telah disusun.


Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan
terhadap keluarga yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.

Sumber daya keluarga


Tingkat pendidikan keluarga
Adat istiadat yang berlaku
Respon dan penerimaan keluarga
Sarana dan prasarana yang ada pada keluarga.

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan kegiatan membandingkan antara hasil implementasi
dengan criteria dan standar yang telah ditetapkan untuk melihat keberhasilannya.
Kerangka kerja valuasi sudah terkandung dalam rencana perawatan jika secara
jelas telah digambarkan tujuan perilaku yang spesifik maka hal ini dapat berfungsi
sebagai criteria evaluasi bagi tingkat aktivitas yang telah dicapai (Friedman,1998)
Evaluasi disusun mnggunakan SOAP dimana :
S : ungkapan perasaan atau keluhan yang dikeluhkan secara subyektif oleh
keluarga setelah diberikan implementasi keperawatan.
O : keadaan obyektif yang dapat diidentifikasi oleh perawat menggunakan
pengamatan yang obyektif.
A : merupakan analisis perawat setelah mengetahui respon subyektif dan
obyektif.
P

perencanaan

selanjutnya

setelah

perawat

melakukan

(Suprajitno,2004)

BAB II
FOKUS MASALAH KESEHATAN KELUARGA
DIABETES MELLITUS

analisis

1.

PENGERTIAN

Diabetes Mellitus dalah suatu penyakit kronik yang komplek disertai berbagai
kelainan metabolik akibat gangguan hormonal, yang menimbulkan berbagai
komplikasi kronik pada mata, ginjal, saraf dan pembuluh darah disertai lesi pada
membran basalis dalam pemeriksaan dengan membran electron (Nasrul Effendy,
1994 : 111).
2. KLASIFIKASI
Menurut Soeparman klasifikasi Diabetes Mellitus :
a.

Insulin Dependent Diabetes Mellitus (IDDM) / Tipe I


Dikenal dengan Diabetes Mellitus ketergantungan insulin, penggolongan

Diabetes Melitus ini didasarkan atas faktor keturunan (genetik) sebagai pemegang
peranan penting dalam menentukan kecenderungan mengidap penyakit ini,
Penyakit ini sering terjadi pada individu di bawah usia 30 tahun dan mengalami
kekurangan insulin akibat kerusakan sel-sel beta pancreas
b. Non Insulin Dependent Diabetes Mellitus / Tipe II
Terjadi kekurangan insulin relatif karena resisten terhadap insulin atau
penurunan sensitivitas jaringan, penderita dengan tipe II ini dapat mengalami
kadar insulin normal, sedikit tertekan atau meningkat dan biasanya tidak
membutuhkan insulin untuk mengontrol hiperglikemia.
c.

GTG ( Gangguan Toleransi Glukosa)


Gangguan Toleransi Glukosa biasanya tanpa gejala, kadar gula puasa lebih

dari 120 mg % 2 jam PP, lebih dari 140-200 mg %, normalnya kadar gula 70-110
mg %

d. Diabetes Melitus Gestasi (Gestational Diabetes Mellitus)


Yaitu Diabetes Melitus yang terjadi pada saat kehamilan, menentukan
Diabetes Mellitus Gestasi dengan TGO (Test Glukosa Oral), 100 gr setelah 1 jam
PP 105, 2 jam PP 165 mg %, 3 jam PP 145 mg %

3. ETIOLOGI
a.

Kelainan dari fungsi jumlah sel beta yang bersifat genetik / menurun

b. Fungsi yang merubah integritas sel beta :


1) Infeksi
2) Obesitas
3) Kehamilan
c.

Gangguan sistem imun


1)

Auto imunitas disertai pembentukan sel-sel antibodi anti pankreas

yang menyebabkan kerusakan sel pankreas.


2) Peningkatan kepekaan terhadap sel-sel beta oleh virus.
4. PATOFISIOLOGI
Dalam proses pencernaan yang normal, karbohidrat dari makanan diubah
menjadi glukosa, yang berguna sebagai bahan bakar atau energi bagi tubuh
manusia. Hormon insulin mengubah glukosa dalam darah menjadi energi yang
digunakan sel. Jika kebutuhan energi telah mencukupi, kebutuhan glukosa
disimpan dalam bentuk glukogen dalam hati dan otot yang nantinya bisa
digunakan lagi sebagai energi setelah direkonvensi menjadi glukosa lagi. Proses
penyimpanan dan rekonvensi ini membutuhkan insulin. Insulin adalah hormon
yang dihasilkan oleh kelenjar pankreas yang mengurangi dan mengontrol kadar
gula darah sampai pada batas tertentu.
Diabetes Mellitus terjadi akibat produksi insulin tubuh kurang jumlahnya
atau kurang daya kerjanya, walaupun jumlah insulin sendiri normal bahkan
mungkin berlebihan akibat kurangnya jumlah atau daya kerja insulin. Glukosa
yang tidak dapat dimanfaatkan oleh sel hanya terakumulasi di dalam darah dan
beredar ke seluruh tubuh. Gula yang tidak dikonvensi berhamburan di dalam
darah, kadar glukosa yang tinggi di dalam darah akan dikeluarkan lewat urine,
tingginya glukosa dalam urine membuat penderita banyak kencing (polyuri),
akibatnya muncul gejala kehausan dan keinginan minum yang terus menerus
(polydipsi) dan gejala banyak makan (polypasia), walaupun kadar glukosa dalam

darah cukup tinggi, tetapi tidak bisa dimasukkan dan dimanfaatkan oleh sel sel
tubuh.
Penjelasan di atas dapat di perlihatkan melalui skema di bawah ini
Destruksi sel Beta pulau Langerhans

Resistensi insulin

Defisiensi relatif insulin

Kegagalan pengambilan glukosa oleh jaringan perifer


(Akibat peningkatan glikogenolisis dan glukoneogenesis)

Peningkatan kecepatan lipolisis dan ketogenesis.

Ekskresi ke ginjal dan timbul manifestasi klinis


(polydipsi, polypagi, poliuri sebagai kompensasi)
5. TANDA DAN GEJALA
Gejala sering baru timbul beberapa bulan atau beberapa tahun sesudah
mengidap penyakit ini. Gejala yang sering muncul adalah:
a.

Sering buang air kecil terutama pada malam hari.

b. Gatal gatal terutama pada alat kelamin bagian luar.


c.

Kesemutan dan kram.

d. Cepat merasa lapar dan kehausan.


e.

Cepat merasa lelah dan mengantuk.

f.

BB menurun, nafsu makan bertambah.

g. Penglihatan kabur.
h. Gatal.
i.

Mudah timbul abses dan kesembuhan yang lama.

j.

Ibu melahirkan bayi lebih dari 4 kg.

k. Ibu sering mengalami keguguran atau melahirkan bayi mati.


l.

Impotensi pada pria, pluritis vulva pada wanita

6. PENATALAKSANAAN
Dalam jangka pendek penatalaksanaan Diabetes Mellitus bertujuan untuk
menghilangkan keluhan atau gejala Diabetes Mellitus. Sedangkan tujuan
jangka panjangnya adalah untuk mencegah komplikasi.
Tujuan tersebut dilaksanakan dengan cara menormalkan kadar glukosa,
lipid dan insulin. Untuk mempermudah tercapainya tujuan tersebut kegiatan
dilaksanakan dalam bentuk pengelolaan pasien secara holistik dan mengajarkan
kegiatan mandiri.
Kerangka utama penatalaksanaan Diabetes Mellitus yaitu perencanaan:
a.

Makanan (diet) => Perencanaan makan (Meal Planning).

Hendaknya mengikuti pedoman 3J (jumlah, jadwal, jenis), yaitu :


1). J1 : Jumlah kalori yang diberikan harus habis.
2). J2 : Jadwal diet harus diikuti sesuai dengan waktu.
3). J3 : Jenis makanan yang manis harus dihindari termasuk pantang buah
golongan A (mangga, nangka, rambutan, sawo, sirsak, nanas, anggur, duku,
durian, jeruk manis). Batasi mengkonsumsi sumber karbohidrat seperti
lontong, roti, ubi talas, singkong, sagu, bihun, mie. Sama sekali hindari gula
murni serta makanlah makanan

yang mengandung banyak serat seperti :

sayuran bayam, daun singkong, daun pepaya.


b. Latihan fisik / olah raga
Latihan fisik dapat dilakukan tiga sampai empat kali seminggu selama 30
menit. Olah raga yang menjadi pilihan adalah jalan kaki, renang, bersepeda.
Bagi penderita yang dirawat di rumah sakit dianjurkan latihan ringan teratur
setiap hari pada saat 1 jam sesudah makan dengan gerakan ringan di tempat
tidur.
c.

Jaga kulit dari cedera

Menjaga kulit dari cedera terutama bagian kaki seperti (memakai alas kaki,
berhati-hati saat memotong kuku, hindarkan luka / trauma, menggunakan
sepatu yang agak longgar).
d. Memantau kadar gula darah
e.

Pengobatan

f.

Perawatan luka

7. KOMPLIKASI
Menurut serangannya dapat dibagi:
a.

Akut.
1) Koma hipoglikemi.
2) Ketoasidosis.
3) Koma hiperosmolar non ketotik.

b. Kronik.
1) Makrongiopati dan mikrongiopati.
2) Neuropati diabetik.
3) Rentan infeksi: TBC, ginggivitis, ISK.
4) Kaki diabetik.
Gangren basah, merupakan akibat penutupan arteri yang mendadak terutama
pada anggota bawah di mana aliran darah sebelumnya mencukupi, misalnya
terjadi emboli yang akut. Daerah yang terkena berbercak-bercak dan bengkak.
Kulit kerap kali menjadi melepuh dan menjadi port d entre, infeksi kerap kali
terjadi supra infeksi, bisa terjadi melalui daerah yang baru saja mengalami
epidermophyyosis. Sifat khas pada gangren basah sebagian disebabkan oleh
infeksi sehingga terdapat beberapa tingkatan infeksi kemerahan, pembengkakan
dan edema yang progresif di atas daerah yang terkena pada jaringan yang nekrotik
oleh karena pembentukan gas oleh mikroorganisme meskipun bukan merupakan
faktor utama. Ganggren circulatoir pada penderita diabetes, baik berbentuk basah
maupun kering dapat mengalami infeksi oleh karena jaringan tersebut rentan.
Pada umumnya, proses septik menjadi dominan, sehingga gangren dan nekrose
menjadi lebih luas daripada kegagalan aliran darah itu sendiri. Diabetik ganggren
menjadi istilah untuk menandai bahwa infeksi memegang peranan penting dan
menonjol.

Menurut organ yang diserangnya:


a.

Kardiovaskular

: hipertensi, Infark miokard.

b. Mata

: retinopati, katarak.

c.

: neuropati.

Syaraf

d. Paru paru

: TBC.

e.

Kulit

: gangren, ulkus.

f.

Hati

: sirosis hepatic.

Diagnosa yang kemungkinan muncul dengan keluarga penderita Diabetes


Melitus yaitu:
a.

Ketidakmampuan keluarga mengenal masalah Diabetes Melitus

yang

terjadi pada keluarga berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga


tentang penyakit Diabetes Melitus.
Sasaran

: Setelah tindakan keperawatan keluarga dapat mengenal dan mengerti


tentang penyakit Diabetes Melitus.

Tujuan

: Keluarga mengenal masalah penyakit Diabetes Melitus setelah dua


kali kunjungan rumah.

Kriteria

: Keluarga dapat menjelaskan secara lisan tentang penyakit Diabetes


Melitus

Standar

: Keluarga dapat menjelaskan pengertian, penyebab, tanda dan gejala


penyakit DM, serta pencegahan dan pengobatan penyakit Diabetes
Melitus secara lisan.

Intervensi :
(1) Jelaskan arti penyakit Diabetse Melitus.
(2) Diskusikan tanda-tanda dan penyebab penyakit Diabetes Melitus.
(3) Tanyakan kembali apa yang telah didiskusikan.

b.

Ketidakmampuan keluarga mengambil keputusan yang tepat untuk

mengatasi penyakit Diabetes Melitus berhubungan dengan keluarga tidak


memahami mengenai sifat, berat dan luasnya masalah Diabetes Melitus.

Sasaran

: Setelah tindakan keperawatan keluarga dapat mengetahui akibat


lebih lanjut dari Penyakit Diabetes Melitus.

Tujuan

: Keluarga dapat mengambil keputusan untuk merawat anggota


keluarga dengan Diabetes Melitus setelah tiga kali kunjungan rumah.

Kriteria

: Keluarga dapat menjelaskan secara lisan dan dapat mengambil


tindakan yang tepat dalam merawat anggota keluarga yang sakit.

Standar

: Keluarga dapat menjelaskan dengan benar bagaimana akibat DM dan


dapat mengambil keputusan yang tepat.

Intervensi:
(1)

Diskusikan tentang akibat penyakit Diabetes Melitus.

(2)

Tanyakan bagaimana keputusan keluarga untuk merawat anggota keluarga


yang menderita Diabetes Melitus .
c. Ketidakmampuan keluarga merawat anggota keluarga dengan Diabetes
Melitus berhubungan dengan kurangnya pengetahuan keluarga tentang cara
pencegahan dan perawatan Diabetes Melitus.

Sasaran

: Setelah tindakan keperawatan keluarga mampu merawat anggota


keluarga yang menderita penyakit Diabetes Melitus.

Tujuan

: Keluarga dapat melakukan perawatan yang tepat terhadap anggota


keluarga yang menderita Diabetes Melitus setelah tiga kali kunjungan
rumah.

Kriteria

: Keluarga dapat menjelaskan secara lisan cara pencegahan dan


perawatan penyakit Diabetes Melitus.

Standar

: Keluarga dapat melakukan perawatan anggota keluarga yang


menderita penyakit Diabetes Melitus secara tepat.

Intervensi:
(1)

Jelaskan pada keluarga cara-cara pencegahan penyakit Diabetes Melitus.

(2)

Jelaskan pada keluarga tentang manfaat istirahat, diet yang tepat dan olah
raga khususnya untuk anggota keluarga yang menderita Diabetes Melitus.
d.

Ketidakmampuan

keluarga

dalam

memelihara

atau

memodifikasi

lingkungan yang dapat mempengaruhi penyakit Diabetes Melitus berhubungan

dengan kurangnya pemahaman keluarga tentang pengaruh lingkungan terhadap


faktor pencetus Diabetes Melitus .
Sasaran

: Setelah tindakan keperawatan keluarga mengerti tentang pengaruh


lingkungan terhadap penyakit DM.

Tujuan

: Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang dapat menunjang


penyembuhan dan pencegahan setelah tiga kali kunjungan rumah.

Kriteria

: Keluarga dapat menjelaskan secara lisan tentang pengaruh


lingkungan terhadap proses penyakit Diabetes Melitus.

Standar

: Keluarga dapat memodifikasi lingkungan yang dapat mempengaruhi


penyakit Diabetes Melitus .

Intervensi :
(1). Ajarkan cara memodifikasi lingkungan untuk mencegah dan mengatasi
penyakit Diabetes Melitus misalnya :
(a) Jaga lingkungan rumah agar bebas dari resiko kecelakaan misalnya benda
yang tajam.
(b) Gunakan alat pelindung bila bekerja Misalnya sarung tangan.
(c) Gunakan bahan yang lembut untuk pakaian untuk mengurangi terjadinya
iritasi.
(2). Motivasi keluarga untuk melakukan apa yang telah dijelaskan.

e.

Ketidakmampuan keluarga menggunakan fasilitas pelayanan

kesehatan guna perawatan dan pengobatan DM berhubungan dengan sikap

keluarga yang kurang tepat terhadap pelayanan atau petugas kesehatan atau
kurangnya pengetahuan keluarga tentang pentingnya segera datang ke
tempat pelayanan kesehatan untuk pengobatan penyakit Diabetes Melitus.
Sasaran

: Setelah tindakan keperawatan keluarga dapat menggunakan fasilitas


pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan.

Tujuan

: Keluarga dapat menggunakan tempat pelayanan kesehatan yang tepat


untuk mengatasi penyakit Diabetes Melitus setelah dua kali kunjungan
rumah.

Kriteria

: Keluarga dapat menjelaskan secara lisan ke mana mereka harus


meminta pertolongan untuk perawatan dan pengobatan penyakit
Diabetes Melitus.

Standar

: Keluarga dapat menggunakan fasilitas pelayanan secara tepat.

Intervensi :
(1). Jelaskan pada keluarga ke mana mereka dapat meminta pertolongan untuk
perawatan dan pengobatan Diabetes Melitus.

BAB III
KASUS NYATA

I. Pengkajian
A. Data Umum
1. Nama KK : Tn. A
2. Umur KK : 50 tahun
3. Alamat

: Rejosari RT 08 RW 13 Gilingan Surakarta

4. Pekerjaan : Wiraswasta
5. Pendidikan : SMA
6. Susunan Anggota Keluarga :
Nama

Umur

No

Sex

Tgl lahir

Pendidikan

Pekerjaan

Hub.

(l/p)

Ny. S

44

23-06-1970

SD

IRT

Istri

Sdr. D

21

19-03-1993

SMK

Wiraswasta

anak

Sdr. D

18

11-05-1996

SMA

Pelajar

anak

Sdr. D

10

22-06-2004

SD

Pelajar

anak

Sdr. D

03-06-2007

SD

Pelajar

anak

Genogram

Keterangan

: Laki-Laki

: Perempuan

: laki-Laki Meninggal

: Perempuan Meninggal

: Pasien

: Tinggal Dalam Satu Rumah

6. Tipe Keluarga
Merupakan keluarga inti (nuclear family) yang terdiri dari ayah, ibu dan
anak dan Tidak ada masalah kesehatan yang berhubungan dengan tipe
keluarganya.
7. Suku bangsa
Ny. S mengatakan bahwa semua anggota keluarganya berasal dari suku
jawa dan tidak ada budaya yang mempengaruhi perilaku kesehatan
keluarga.
8. Agama
Ny. S mengatakan dirinya beserta seluruh anggota keluarga beragama
islam. Ny. S mengatakan setiap anggota keluarganya menjalankan
ibadah sesuai agama islam dengan baik.
9. Status Sosial-Ekonomi Keluarga

Ny. S mengatakan beliau memenuhi kebutuhan sehari-hari dari hasil


pekerjaannya sebagai penjual gado-gado keliling . Ny. S mengatakan
bahwa penghasilannya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehariharinya karena ditambah penghasilan dari suaminya yang bekerja di
sebuah hotel.
10. Aktivitas Rekreasi Keluarga
Ny. S mengatakan ia kadang-kadang berkunjung ke rumah saudaranya
atau orang tuanya untuk sekedar silaturahim dan mencurahkan hati
kepada sanak saudara dan orang tuanya.
.
II. Riwayat Tahap perkembangan Keluarga
11. Tahap Perkembangan Keluarga Saat Ini
Pada saat ini keluarga Ny. S termasuk dalam taraf perkembangan kelu
arga dengan anak dewasa ( pelepasan) dan berada dalam keluarga
dengan anak sekolah karena kedua anak Ny. S masih sekolah dasar.
12. Tahap Perkembangan Keluarga yang Belum Terpenuhi
Pada keluarga Ny. P belum memenuhi semua tahapan keluarga, Karena
ke empat anaknya masih tinggal satu rumah dan masih dalam usia
remaja dan usia sekolah
13. Riwayat Keluarga Inti
a. Riwayat kesehatan keluarga saat ini
Ny. S : menderita Diabetes mellitus. Penyakitnya diketahui
semenjak suaminya bekerja diluar kota.
b. Riwayat penyakit sebelumnya

Ny. S : belum pernah dirawat di Rumah sakit. Ny. S mengatakan


dahulu pola makan sering tidak teratur dan menu makan yang
berlebih.
c. Pelayanan Kesehatan yang dimanfaatkan
Ny. S semenjak mengetahui penyakitnya, beliau rutin kontrol ke
puskesmas sebulan sekali.
d. Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya
Ny. S mengatakan bahwa dalam keluarga tidak ada yang
mempunyai penyakit yang sama dengan beliau.

III. Lingkungan
15. Karakteristik Rumah
Luas bangunan rumah yang ditempati Ny. S sekeluarga sekitar 60 m2
(panjang 10 meter dan lebar 6 meter) , terdiri dari 2 kamar tidur, 1
dapur, 1 kamar mandi, dan 1 ruang keluarga/ ruang tamu. Ny. S tinggal
dirumah permanen terbuat dari semen tetapi ventilasinya kurang..
Untuk pembuangan sampah telah disediakan tempat sampah didepan
rumah.

Denah rumah :
R.Tamu

Kamar

Kamar

KM

Dapur

16. karakteristik Tetangga dan Komunitas


Keluarga Ny. S di desa yang rasa persaudaraannya antar warga masih
sangat baik, penduduk sekitar rata-rata adalah asli orang jawa.
17. Mobilitas Geografi keluarga
Keluarga Ny. S sudah menempati rumah tersebut sejak dulu dan tidak
berpindah.
18. Perkumpulan Keluarga dan Interaksi dengan Masyarakat
Ny.

mengatakan

rutin

mengikuti

kegiatan

dilingkungan

masyarakatnya diantaranya yaitu kegiatan PKK karena kegiatan


tersebut diwajibkan bagi semua warga .
19. Sistem pendukung keluarga
Ny. S selalu dibantu suami beserta anak-anaknya dalam mengurus
pekerjaan rumah.

IV. Struktur keluarga


20. Pola Komunikasi Keluarga

Ny. S menghatakan bahasa sehari-hari menggunakan bahasa jawa.


Komunikasi antar anggota keluarga baik.
21. Struktur kekuatan Keluarga
Ny. S mengatakan sistem musyawarah dan saling terbuka adalah cara
yang digunakan dalam menyelesaikan masalah dan dalam pengambilan
keputusan terbaik. Setiap anggota keluarga selalu mendukung apapun
yang telah disepakati. Jika ada anggota keluarga yang sakit, maka
anggota keluarga yang lain selalu berupaya memberikan pertolongan
agar keluarga yang sakit cepat sembuh
23. Nilai dan norma keluarga
Nilai yang dianut keluarga adalah berdasarkan kepercayaan keluarga
yaitu agama islam. Sedangkan untuk norma keluarga Ny. S mengikuti
norma-norma yang ada di masyarakat.

V. Fungsi Keluarga
24. Fungsi afektif
Keluarga harmonis, rukun dan saling menghargai antar anggota
keluarga karena setiap ada permasalahan selalu di selesaikan dengan
cara musyawarah.
25. Fungsi social
Keluarga berperan aktif dalam masyarakat, Ny. S setiap bulan selalu
mengikuti kegiatan ibu PKK.
26. Fungsi perawatan keluarga
Penting, karena untuk pertolongan pertama sebelum dibawa ke RS dan
sebagian keluarga lebih percaya dan nyaman jika dirawat oleh keluarga
sendiri

a. Kemampuan keluarga mengenal masalah


Kemampuan keluarga mengenai masalah kesehatan yang
diderita oleh Ny. S cukup baik.
b. Kemampuan

keluarga

mengambil

keputusan

mengenai

tindakan yang tepat


-

Keluarga cukup mengerti mengenai sifat dan luasnya


masalah kesehatan yang dialami Ny. S.

Masalah kesehatan yang dirasakan keluarga Diabetes


Mellitus yang dialami oleh Ny. S.

Keluarga tidak menyerah terhadap masalah yang dialami


Ny. S, terbukti dengan tiap bulan Ny. S rutin ke Puskesmas
untuk kontrol gula darah.

c. Kemampuan keluarga merawat anggota keluarga yang sakit


-

Sikap keluarga terhadap yang Ny. S yaitu mengingatkan


tentang pola makan yang harus ditaati oleh Ny. S dan
mengingatkan untuk istirahat dengan cukup.

d. Kemampuan keluarga memelihara lingkungan rumah yang


sehat
-

Ny. S dibantu anak-anaknya membersihkan rumah tiap 2X


dalam sehari

e. Kemampuan

keluarga menggunakan

fasilitas/

pelayanan

kesehatan yang ada di masyarakat


-

Keluarga tidak mempunyai pengalaman yang kurang baik


terhadap petugas kesehatan

Fasilitas kesehatan yang ada terjangkau oleh keluarga

27. Fungsi reproduksi


Ny. S mempunyai 4 anak dank e empat anaknya tersebut belum ada
yang menikah dan masih kumpul dalam satu rumah.
28. Fungsi ekonomi
-

Kebutuhan sandang, pangan & papan tercukupi. Kebutuhan


sehari-hari dicukupi dari penghasilan Ny. S yang bekerja

sebagai penjual gado-gado keliling dan ditambah penghasilan


dari suaminya yang bekerja di sebuah hotel.
VI. Stres dan Koping Keluarga
29. Stresor jangka pendek dan panjang
a. Stresor jangka pendek : tidak ada masalah yang harus segera
diatasi
b. Stresor jangka panjang : tidak ada masalah yang harus
diselesaikan dalam waktu yang lama
30. Kemampuan keluarga berespon terhadap situasi/ stressor : sejauh
ini keluarga dapat mengatasi permasalahan yang ada secara
musyawarah
31. Strategi koping yang digunakan : Ny. S menceritakan masalahnya
kepada suaminya dan juga kepada anak-anaknya.
32. Strategi adaptasi disfungsional : Ny. S kadang merasa khawatir jika
suatu saat penyakitnya bertambah buruk dan tidak dapat memenuhi
kebutuhan keluarga.
VII. Pemeriksaan Fisik
1.

Head to Toe

Komponen

Ny. S

Kepala

Rambut hitam, rambut ikal pendek, kulit kepala bersih, tidak ada
benjolan, tidak ada ketombe.

Mata

Mata simetris kanan dan kiri, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak
ikterik, reaksi cahaya pada pupil (+/+)

Hidung

Hidung bersih

Telinga

Simestris, bersih, tidak ada penumpukan serumen, tidak ada luka

Mulut

Bersih, mukosa tampak kering, gigi kekuning-kuningan, tidak ada


stomatitis.

Leher

dan Tidak ada kesulitan dalam menelan, tidak ada pembesaran kelenjaran

tenggorokan tyroid
Dada

Simetris, tidak ada bekas luka, ictus cordis tidak tampak, suara nafas
vesikuler

Abdomen

Perut terlihat datar, ada bising usus 12x / menit, tidak ada nyeri tekan dan
nyeri lepas, suara tympani.

Ekstremitas

Tidak ada benjolan, tidak ada bengkak, mampu fleksi dan ekstensi,
kekuatan otot adalah :

Kulit

Warna kulit sawo matang, turgor kulit baik < 2 detik, kulit agak kasar dan
keriput.

Kuku

Kuku tangan kanan-kiri kurang bersih, tak ada kuku yang panjang, tidak
ada sianosis.

Suhu tubuh

36, 7 C

Nadi

88x/ menit

TB

153cm

Berat badan

52 kg

2. Pemeriksaan Penunjang
- GDS: 130 mg/ dl
- TD: 120/ 70 mmHg
- Saat pertama berkunjung, Ny. S dan keluarga mengatakan belum
begitu paham tentang penyakit Diabetes Mellitus.
- Ny. S mengatakan belum terlalu paham tentang penanganan
penyakit yang dialaminya.

- Keluarga mengatakan belum mengerti bagaimana cara merawat


anggota keluarga dengan penyakit Diabetes Mellitus.
3. Terapi
Sampai saat ini Ny. S selalu rutin dan teratur minum obat resep dari
Puskesmas :
a. Metformin 3 X 1 tab/ hari
VIII

Harapan Keluarga
Ny. S berharap perawat dapat membantu mengatasi masalah kesehatan

yang sedang dialaminya.


IX

Analisa Data dan Diagnosa Keperawatan Keluarga

No.

Data

Diagnosa

DS:

Ketidakefektifan

- Saat pertama berkunjung, Ny. S dan


keluarga mengatakan belum begitu
paham tentang penyakit Diabetes
Mellitus dan hanya mengatakan
kalau itu penyakit gula.
- Ny. S mengatakan badan sering

kesehatan

pada

pemeliharaan
keluarga

Ny.A

Terutama A pada Ny. S berhubungan


dengan

ketidakmampuan

keluarga

mengenal masalah kesehatan anggota


keluarga yang sakit.

terasa lemas.
DO:
- Ny. P dan keluarga tampak bingung
saat

dikaji

tentang

penyakit

Diabetes Mellitus.
- GDS: 130 mg/ dl
- TD: 120/ 70 mmHg
DS :
- Keluarga

Resiko terjadinya komplikasi menahun

mengatakan

belum

mengerti bagaimana cara merawat


anggota keluarga dengan penyakit
Diabetes Mellitus.
- Ny. S mengatakan belum terlalu
paham

tentang

penanganan

DM pada keluarga Ny. A terutama


pada Ny. S berhubungan dengan
ketidakmampuan keluarga merawat
anggota keluarga yang sakit.

penyakit yang dialaminya.


DO :
- Ny. S hanya tinggal berdua dengan
mertuanya yang sudah lanjut usia.

DAFTAR PUSTAKA
Achjar, K.A.2010. Aplikasi Praktis Asuhan Keperawatan Keluarga. Jakarta : Sagung Seto
Allender, JA & Spradley, B. W. 2001. Community as Partner, Theory and Practice
Nursing. Philadelpia : Lippincott
Anderson.E.T & Mc.Farlane.J.M.2000.Community Health and Nursing, Concept and
Practice. Lippincott : California
Carpenitto, L. J. 2000. Buku Saku Diagnosis Keperawatan.Jakarta :EGC
Effendy,N.1998.Dasar-dasar keperawatan Kesehatan Masyarakat.Jakarta :EGC

Friedman,M.M.1998.Family

Nursing

Research

Theory

and

Practice,4 th

Edition.Connecticut : Aplenton
Iqbal,Wahit dkk.2005.Ilmu Keperawatan Komunitas 2 Teori dan Aplikasi dalam Praktek
Pendekatan Asuhan Keperawatan Komunitas, Gerontik, Keluarga.Jakarta : EGC
Suprajitno.2004.Asuhan Keprawatan Keluarga Aplikasi dalam Praktek.Jakarta :EGC
Wright dan Leakey.1984.Penderita Obesitas.Jakarta : PT Pustaka Raya