Anda di halaman 1dari 5

KASUS BANK CENTURY :

SEBUAH MORAL HAZARD


Moral Hazard dalam Kasus Bank Century
Bank Century merupakan hasil merger dari Bank Pikko, Bank Danpac, dan Bank CIC. Proses
merger ini berawal dari akuisisi Bank Danpac dan Bank Pikko oleh Chinkara Ltd, sebuah
perusahaan yang berdomisili di Kepulauan Bahama. Persetujuan prinsip akuisisi diputuskan oleh
Rapat Dewan Gubernur BI tanggal 27 November 2001.
Persetujuan ini sangatlah kontroversial karena BI tetap memberikan persetujuan akuisisi
walaupun ada syarat-syarat administratif yang tidak dipenuhi, seperti publikasi atas akuisisi oleh
Chinkara, laporan keuangan Chinkara selama tiga tahun berturut-turut, dan rekomendasi pihak
berwenang di negara asal Chinkara. Selain itu, RDG BI juga mensyaratkan agar ketiga bank
tersebut melakukan merger, memperbaiki kondisi bank, mencegah terulangnya tindakan
melawan hukum, serta mencapai dan mempertahankan CAR 8 persen.
Bank Century memang terlahir dalam keadaan cacat, wajar jika akhir-akhir ini kita dihebohkan
oleh kasus yang disebabkan oleh Bank Century. Oleh karena itu, kami mencoba untuk
menganalisis kasus Bank Century. Analisis dalam tulisan kami ini ditekankan apakah terdapat
moral hazard terkait kasus Bank Century, baik dari proses merger hingga keputusan bail out pada
tahun 2008. selain itu, kami juga mencoba menganalisis apakah terdapat adverse selection dalam
kasus Bank Century. Pada akhirnya, kami mencoba menarik kesimpulan apakah dari
pertimbangan Moral Hazard dan Adverse Selection yang ada Bank Century layak diselamatkan.
PENDAHULUAN
Moral Hazard dan Adverse Selection
Moral hazard adalah masalah yang diciptakan oleh informasi asimetris yang terjadi setelah
transaksi terjadi . Moral hazard terjadi saat satu pihak terisolasi dari resiko, maka ia dapat
bertindak berbeda dengan yang seharusnya jika ia terancam mendapatkan resiko sepenuhnya.
Seseorang yang mendapat jaminan terbebas dari resiko, memiliki informasi lebih tentang niat
dan perbuatan yang akan dilakukannya daripada pihak yang menerima konsekuensi negative dari
resiko tersebut (pihak penjamin). Moral hazard terjadi saat pihak yang memiliki informasi lebih
terinsentif untuk bertindak hal yang tidak seharusnya (bertindak kurang hati-hati dari yang
seharusnya) dilakukan dilihat dari perspektif pihak yang kurang memiliki informasi (pihak
penjamin).
Adverse Selection adalah masalah yang ditimbulkan oleh informasi asimetris sebelum transaksi
terjadi. Adverse selection terjadi saat salah satu pihak memiliki asymmetric information terhadap
pihak lain. Contoh adverse selection pada proses pasar adalah keadaan yang menyebabkan
terjadinya hasil yang tidak baik saat penjual dan pembeli memiliki asymmetric information.
Salah satu pihak (penjual/pembeli) memiliki informasi lebih mengenai pihak lainnya.

Track Record Keluarga Tantular


Track record keluarga Tantular dikenal tidak bagus di kalangan industry perbankan. Putera
pertama, Hovert Tantular, saat krisis ekonomi 1998 mendapat suntikan dana BLBI untuk Bank
Central Dagang yang dipimpinnya dann ambruk saat krisis. Namun dana tersebut dibawa kabur
oleh Hovert ke Singapura. Anak ketiga, Theresia Huniwati Tantular atau Tan Khe Hun kabur
karena diduga melakukan praktek bank dalam bank. Anak keempat, Theresia Dewi Tantular yang
merupakan Kepala Divisi Bank Notes Century kabur ke luar negeri menjadi buronan Interpol.
Anak kelima, Robert Tantular mendekam di tahanan terkait kasus Bank Century. Anak keenam,
Anton Tantular menjadi buronan polisi karena membawa kabur dana nasabah Antaboga.[1]
PEMBAHASAN
Penjaminan Simpanan di Indonesia
Berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2004 tentang Lembaga
Penjamin Simpanan (LPS) pasal 11 tercantum bahwa nilai simpanan yang dijamin pada setiap
nasabah pada satu bank sebesar Rp. 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Pada tahun 2008
dilakukan perubahan atas nilai simpanan yang dijamin oleh LPS. Perubahan tersebut tertera pada
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 66 Tahun 2008 tentang Besaran Nilai
Simpanan yang dijamin Lembaga Penjamin Simpanan. Pada PERPU Nomor 66 Tahun 2008
Pasal 1 dinyatakan nilai yang dijamin oleh LPS adalah Rp. 2.000.000.000,00 (dua milyar
rupiah).
Indonesia menjamin simpanan dalam perbankan untuk menjaga keamanan dalam pasar finansial
di Indonesia. Namun tidak seperti Amerika Serikat dan beberapa negara lainnya, Indonesia tidak
menjamin seluruh jumlah simpanan. Menurut Mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla, penjaminan
simpanan sebesar Rp 2.000.000.000,00 mencakup hamper 99.7 % nasabah. Beliau juga
mengatakan bahwa pemerintah tidak melakukan penjaminan penuh karena terbukti kebijakan
tersebut tidak berhasil mengatasi krisis ekonomi 1997-1998. Saat itu bunga perbankan tetap naik,
inflasi meningkat, dan terjadi capital flight.
Peningkatan jumlah nilai yang dijamin oleh LPS dari sebelumnya sebesar Rp 100.000.000,00
menjadi Rp 2.000.000.000 dikarenakan adanya ancaman krisis global yang mengakibatkan
merosotnya kepercayaan masyarakat terhadap perbankan sehingga perlu diantisipasi agar tidak
terjadi penarikan dana perbankan secara besar-besaran. Dengan demikian, penjaminan dana
sebesar Rp 2.000.000.000,00 tersebut diharapkan dapat mencegah dampak buruk yang lebih
besar dari krisis.
Penjaminan Simpanan di Dunia
Di dunia, sistem penjaminan simpanan yang berlaku sering disebut sebagai blanket guarantee.
Blanket guarantee merupakan jaminan yang dinyatakan oleh pemerintah bahwa semua simpanan
maupun instrumen keuangan lainnya akan dilindungi secara menyeluruh. Lembaga-lembaga
penjamin simpanan ini tergabung ke dalam sebuah asosiasi internasional yang bernama

International Association of Deposit Insurers (IADI), termasuk Indonesia Deposit Insurance


Corporation atau yang lebih dikenal sebagai Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
Berdasarkan data terakhir yang diperoleh dari International Association of Deposit Insurers
(IADI) tertanggal 22 Juni 2009, karakteristik sistem penjaminan dana simpanan di beberapa
negara di dunia adalah sebagai berikut:
Country

Saving Limits

Coverage

Deposit Insurance Agency

United States

USD 100,000

100%

Federal Deposit Insurance Corporation

Bulgaria

BGN 40,000

100%

Bulgarian Deposit Insurance Fund

France

EUR 70,000

100%

Fonds de Garantie de Depots

Sweden

SEK 500,000

100%

National Debt
Insurance

United Kingdom

GBP 50,000

100%

Financial
Scheme

Korea

WON
50,000,000

100%

Korean Deposit Insurance Corporation

Phillipines

PP 100,000

100%

Philipines
Corporation

Deposit

Insurance

Singapore

SGD 20,000

100%

Singapore
Corporation

Deposit

Insurance

Malaysia

RNM 60,000

100%

Malaysia Deposit Insurance Corporation

Office

Services

Deposit

Compensation

Sumber: Facts and Features, International Association of Deposit Insurers (IADI) , June 2009
Pemecahan Rekening Budi Sampoerna
Salah satu karyawan Budi Sampoerna, Hariyadi, mengatakan bahwa pada tanggal 14-16
November 2008 Budi Sampoerna bertemu dengan Robert Tantular di salah satu pusat
perbelanjaan di daerah Senayan, Jakarta. Pertemuan tersebut membahas tentang pencairan dana
1,7 triliun milik Budi Sampoerna di Bank Century.
Dalam kasus Century terjadi pemindahan dana sebesar 96,5 juta dolar AS dari Bank Century
Cabang Surabaya ke Bank Century Jakarta. Pemecahan deposito miliknya sebesar 42,8 juta dolar
AS, menjadi 247 rekening Negotiable Certificate Deposite (NCD), yang masing-masing

senilai Rp2 miliar. Pemecahan itu diduga bertujuan, agar dana Budi Sampoerna bisa diganti oleh
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) jika Bank Century bermasalah.[2]
Kasus pemecahan deposito milik Budi Sampoerna ini memiliki beberapa versi. Pertama, Budi
Sampoerna menolak bahwa pemecahan deposito atas perintah dia. Dia bahkan tidak mengetahui
bahwa uang 96,5 juta dolar AS telah dipindahkan dari Bank Century Cabang Surabaya ke
Jakarta. Selain itu, Budi Sampoerna juga menolak bahwa pemecahan deposito miliknya sebesar
42,8 juta dolar AS, menjadi 247 rekening Negotiable Certificate Deposite (NCD), yang
masing-masing senilai Rp2 miliar itu berdasarkan perintah/izin darinya. Singkatnya menurut
Budi Sampoerna, pemecahan deposito ini atas dasar inisiatif dari Robert Tantular sendiri, tanpa
ada perintah dari Budi Sampoerna. Kedua, di sisi lain Robert Tantular justru mengatakan bahwa
pemecahan deposito atas dasar permintaan Budi Sampoerna melalui utusannya, Rudi Soraya.[3]
Saat ini Robert Tantular memang telah mendekam dipenjara empat tahun lamanya dan denda Rp
50 miliar subsider lima bulan kurungan kepada Robert Tantular. Robert Tantular dinilai majelis
hakim terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar prinsip kehati-hatian bank dalam
kaitannya dengan penyelesaian surat-surat berharga valas bermasalah.[4]
Robert Tantular tidak terbukti melakukan penggelapan uang dan pencucian uang terkait
pemecahan deposito milik Budi Sampoerna. Vonis yang diberikan kepada Robert Tantular
menuai reaksi yang beragam. Salah satunya adalah dari Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla,
yang menilai vonis ini tidak sebanding dengan kerugian yang ditimbulkan. Sampai dengan saat
ini, baik Budi Sampoerna dan Kejaksaan masih naik banding terkait vonis yang diberikan,
khususnya tentang pemecahan deposito milik Budi Sampoerna.[5]
KESIMPULAN DAN SARAN
Dalam kasus Century, terjadi dua fenomena sekaligus, yaitu adverse selection dan moral hazard.
Adverse selection pertama terjadi saat Bank Pikko, Bank Danpac, dan Bank CIC akan melakukan
merger karena Bank Pikko dan Bank CIC tidak memenuhi syarat administrasi. Kedua, saat
KSSK memutuskan untuk membail-out Bank Century.
Moral hazard juga terjadi dua kali, yaitu saat Robert Tantular membawa kabur uang nasabah
Century. Hal inilah yang menyebabkan Bank Century kolaps. Kedua, saat pemecahan deposito
milik Budi Sampoerna.
Secara sepintas, dalam proses merger dan bail-out memang banyak terdapat kejanggalan.
Namun, dalam menentukan keputusan bail-out, Pemerintah sudah tepat untuk memberikan
talangan kepada Bank Century. Analoginya dapat digambarkan seperti walaupun rumah itu
dibakar oleh pemilikinya sendiri, bukan berarti Pemerintah selaku pemadam kebakaran
membiarkan api semakin membesar. Hal yang harus dilakukan oleh Pemerintah adalah
mematikan api sehingga api tersebut tidak merembet ke rumah warga yang lain, begitulah
analogi yang berlaku dalam proses bail-out Bank Century.

Ke depan, peengawasan terhadap bank-bank harus diperketat. Di sinilah peran penting BI untuk
menyempurnakan system pengawasan terhadap bank-bank sehingga kejadian seperti Bank
Century tidak terjadi lagi.