Anda di halaman 1dari 23

LONG CASE

OTITIS MEDIA AKUT


Disusun Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik
di Bagian Ilmu Penyakit THT RSUD Panembahan Senopati Bantul

Disusun oleh:
Neni Setiyowati
20110310011
Diajukan kepada:
dr. I Wayan Marthana, M.Kes., Sp.THT

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA
SMF ILMU KESEHATAN THT
RUMAH SAKIT PANEMBAHAN SENOPATI BANTUL
2016
HALAMAN PENGESAHAN
LONG CASE
OTITIS MEDIA AKUT

Disusun oleh:
Neni Setiyowati
20110310011

Disetujui dan disahkan pada tanggal: 22 Oktober 2016

Mengetahui,
Dokter Pembimbing

dr. I Wayan Marthana, M.Kes., Sp.THT

BAB I
STATUS PASIEN

A.

B.

IDENTITAS PASIEN
Nama

: Bp. K

Umur

: 49 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Sono Parangtritis Kretek Bantul

Pendidikan

: Tamat Universitas

Agama

: Islam

Suku

: Jawa

Bangsa

: Indonesia

Status pernikahan

: Menikah

No RM

: 588344

Masuk RS tanggal

: 10 Oktober 2016

ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan tanggal 10 Oktober 2016 secara autoanamnesis,
1. Keluhan Utama
Keluar cairan dari telinga kiri sejak satu bulan SMRS
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poliklinik THT RS Panembahan Senopati Bantul dengan
keluhan keluar cairan pada telinga kiri sejak 1 bulan sebelum masuk RS.
Cairan tersebut berwarna putih dan tidak berbau. Os juga mengeluh
pendengaran berkurang pada telinga kiri. Riwayat demam disertai nyeri
pada telinga kiri dirasakan sejak 1 minggu sebelum keluar cairan. Nyeri
pada telinga dan demam dirasakan berkurang setelah keluar cairan dari
telinga kiri. Awalnya, telinga kiri gatal kemudian dikorek-korek dengan
cotton bud. Tidak ada keluhan pada telinga kanan.

3. Riwayat Penyakit Dahulu

OS belum pernah menderita keluhan serupa

Os mempunyai penyakit diabetes mellitus dan jari keempat pada


kaki kiri sudah diamputasi. Pasien rutin minum obat metformin
dan suntik insulin

Riwayat hipertensi, asma, dan alergi disangkal.

4. Riwayat Penyakit Keluarga


Ayah, ibu dan saudara tidak pernah mengalami keluhan serupa.
5. Riwayat Personal Sosial
Hubungan dengan keluarga, tetangga dan lingkungan baik. Lingkungan
tidak bising. Pekerjaan sebagai karyawan swasta. Pasien sering
membersihkan telinga dengan cotton bud.
6. Anamnesis Sistem

C.

Sistem serebrospinal

: demam (-), mual (-), pusing (-)

Sistem respiratorius

: sesak nafas (-), batuk (-), pilek (-)

Sistem kardiovaskuler

: berdebar-debar (-)

Sistem gastrointestinal

: tidak ada keluhan

Sistem genitalia

: tidak ada keluhan

Sistem muskuloskeletal

: jari keempat kaki kiri diamputasi

Sistem integumentum

: akral teraba hangat

PEMERIKSAAN FISIK
1. Keadaan umum

: baik

2. Kesadaran

: compos mentis

3. Tanda vital

Suhu

: afebris

Nadi

: 88 x/menit

Pernafasan

: 20 x/menit
4

Tekanan darah

: 110/80 mmHg

4. Kepala: normochepale, pupil mata isokor, konjungtiva pucat (-/-), sklera


ikterik (-/-)
5. STATUS LOKALIS
A. TELINGA

Kanan
Bentuk Daun Telinga Normal

Kiri
Normal

Radang, Tumor
Discharge
Nyeri Tekan Tragus
Liang Telinga

Deformitas (-)
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
CAE
tidak

Deformitas (-)
Tidak ada
Putih
Tidak ada
ada Terdapat discharge

Membran Timpani

serumen
berwarna putih
MT intak, hiperemis MT perforasi central,
(-), edema (-), refleks luas 40%, hiperemis
cahaya (+) arah jam (+),
5

edema

(-),

refleks cahaya (-)

TES PENALA
TEST
KANAN
KIRI
Rinne
+
Weber
Lateralisasi ke kiri
Schwabach
Pasien = Pemeriksa
Memanjang
Penala yang dipakai
512 Hz
512 Hz
Kesan : Kesan adanya tuli konduktif pada telinga kiri
Saran: Konfirmasi dengan hasil tes audiometri
B. HIDUNG DAN SINUS PARANASAL

Tes udara
Uji aliran udara: kedua lubang menghasilkan aliran
yang sama

Inspeksi luar

Bentuk : dalam batas normal


Massa : (-/-)
Kulit : sikatriks (-/-)
Rhinoskopi anterior

Concha
nasi
media

Meatus
nasi
medius

Mukosa

: lembab

Sekret

: (-/-)

Concha

: edem (-/-)

Polip/tumor : (-/-)
Concha
nasi
Meatus
nasi
inferior

Septum
nasi

Septum

: deviasi (-/-)

Rhinoskopi posterior
Mukosa

: lembab

Sekret

: (-/-)

Concha

: edem (-/-)

Polip/ tumor : (-/-)

Ala Nasi

Palpasi

Massa/Nyeri tekan/Nyeri

Massa/Nyeri tekan/Nyeri

Sinus Paranasal
Sinus Frontalis
Sinus Maxillaris
Sinus Ethmoidalis
Transluminasi

lepas
-/-/-/-/-/-/Kanan

lepas
-/-/-/-/-/-/Kiri

Sinus Paranasal
Sinus Frontalis
Sinus Maxillaris

Terang
Terang

Terang
Terang

C. TENGGOROK
PHARYNX
-

Cavum Oris

: gigi lengkap, caries (-) radang ginggiva (-),


6

mukosa mulut dalam batas normal.


-

Uvula

: letak di tengah, hiperemis (-)

Dinding pharynx

: merah muda, hiperemis (-), granular (-)

Arkus pharynx

: simetris, hiperemis (-), edema (-)

Tonsil

T0-T0

hiperemis -/-

permukaan mukosa tidak rata/ granular -/-

Kripta melebar -/-

Detritus -/-

LARING (Laringoskopi indirek)


Epiglotis Trakea Plika vestibularis

cuneiformis

Plika vokalis

esogafus

Gerakan pita suara (vibrasi +, simetris +)

Nodul (-), tumor (-), hiperemis (-), mukosa pucat (-), glottis (+)

6. Leher
-

Kelenjar limfe submandibula

: tidak teraba membesar

Kelenjar limfe servikal

: tidak teraba membesar

7. Thorax
a. Jantung
- Inspeksi: iktus cordis tidak terlihat
- Palpasi: iktus cordis teraba pada sela iga ke-4 linea midclavicula kiri
- Perkusi: (tidak dilakukan)
- Auskultasi: bunyi jantung S1-S2 regular, murmur (-), gallop (-)
b. Paru-paru:
-

Inspeksi: simetris saat inspirasi dan ekspirasi, retraksi substernal


intracostal dan substernal (-)

Palpasi: tidak dilakukan

Perkusi: sonor (+/+)

Auskultasi: vesikuler (+/+), ronkhi (-/-), wheezing (-/-)

8. Abdomen :
-

Inspeksi: supel

Auskultasi: peristaltik (+)

Perkusi: tympani (+)

Palpasi: nyeri tekan (-), turgor kulit baik, hepar teraba normal, lien
tidak teraba,

9. Ekstremitas: akral hangat, nadi kuat, capillary refill < 2 detik, edema (-)

D.

RENCANA PEMERIKSAAN PENUNJANG


- Audiometri
E. DIAGNOSA KLINIS
Otitis Media Akut Stadium Perforasi Auris Sinistra
F.

RENCANA TERAPI
1. Medikamentosa:
- Pemberian obat cuci telinga H2O2 3% selama 5 hari
- Co Amoksiklav 3x250 mg
2. Aural Toilet
8

3. Edukasi:

G.

Dilarang mengorek telinga

Menjaga untuk tidak kemasukan air

PROGNOSIS
Que ad vitam

: dubia ad bonam

Que ad fungsionam

: dubia ad malam

Que ad sanam

: dubia ad bonam

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A Anatomi Telinga Tengah


Telinga tengah berbentuk kubus dengan batas-batasnya adalah sebagai
berikut :
-

Batas luar

: membran timpani

Batas depan

: tuba eustachius

Batas bawah : vena jugularis (bulbus jugularis)

Batas belakang: aditus ad antrum, kanalis facialis pars vertikalis

Batas atas

: tegmen timpani (meningen/otak)

Batas dalam

: berturut-turut dari atas ke bawah kanalis

semisirkularis horizontal, kanalis facialis, tingkap lonjong (oval


window), tingkap bundar (round window) dan promontorium.
Telinga tengah terdiri atas suatu ruang yang terletak antara
membran timpani dan kapsul telinga dalam, tulang-tulang dan otot yang
terdapat di dalamnya beserta penunjangnya, tuba eustachius dan sistem
sel-sel udara mastoid. Bagian ini dipisahkan dari dunia luar oleh suatu
membran timpani dengan diameter kurang lebih setengah inci.
Membran timpani berbentuk bundar dan cekung bila dilihat dari
arah liang telinga dan terlihat oblik terhadap sumbu liang telinnga. Bagian
atas disebut pars flaksida (membrane shrapnel), sedangkan bagian bawah
pars tensa (membrane propria). Pars flaksida hanya berlapis dua, yaitu
bagian luar adalah lanjutan epitel kulit liang telinga dan bagian dalam
dilapisi oleh sel kubus bersilia, seperti sel epitel saluran napas. Pars tensa
mempunyai satu lapis lagi di tengah yaitu lapisan yang terdiri dari serat
kolagen dan sedikit serat elastin yang berjalan secara radier dibagian luar
dan sirkuler pada bagian dalam.
Bayangan penonjolan bagian bawah maleus pada membran timpani
disebut sebagai umbo. Dari umbo bermula suatu reflek cahaya (cone of
light) kearah bawah yaitu pukul 7 untuk membrane timpani kiri dan pukul
10

5 untuk membrane timpani kanan. Membran timpani dibagi dalam 4


kuadran, dengan menarik garis searah dengan prosesus longus maleus dan
garis yang tegak lurus pada garis itu di umbo, sehingga didapatkan bagian
atas-depan, atas-belakang, bawah-depan serta bawah-belakang, untuk
menyatakan letak perforasi membran timpani.
Di dalam telinga tengah terdapat tulang-tulang pendengaran yang
tersusun dari luar ke dalam yaitu, maleus, inkus dan stapes. Tulang
pendengaran di dalam telinga tengah saling berhubungan. Prosesus longus
melekat pada membran timpani, maleus melekat pada inkus, dan inkus
melekat pada stapes. Stapes terletak pada tingkap lonjong yang
berhubungan dengan koklea. Hubungan antara tulang-tulang pendengaran
merupakan persendian.
Tuba

eustachius

termasuk

dalam

telinga

tengah

yang

menghubungkan daerah nasofaring dengan telinga tengah. Panjangnya


sekitar 31-38 mm. 1/3 bagian atas saluran ini adalah bagian tulang yang
terletak anterolateral terhadap kanalis karotikus dan 2/3 bagian bawahnya
merupakan kartilago. Muara tuba di faring terbuka dengan ukuran 1-1,25
cm,

terletak

setinggi

ujung

posterior

konka

inferior.

Pinggir

anteroposterior muara tuba membentuk plika yang disebut torus tubarius,


dan di belakang torus tubarius terdapat resesus faring yang disebut fossa
rosenmuller. Pada perbatasan bagian tulang dan kartilago, lumen tuba
menyempit dan disebut isthmus dengan diameter 1-2 mm. Isthmus ini
mudah tertutup oleh pembengkakan mukosa atau oleh infeksi yang
berlangsung lama, sehingga terbentuk jaringan sikatriks. Pada anak-anak,
tuba ini lebih pendek, lebih lebar dan lebih horizontal dibandingkan orang
dewasa, sehinggga infeksi dari nasofaring mudah masuk ke kavum
timpani.

11

Gambar Anatomi Telinga


B Fisiologi Pendengaran
Proses mendengar diawali dengan ditangkapnya energi bunyi oleh
daun telinga dalam bentuk gelombang yang dialirkan melalui udara atau
tulang ke koklea. Getaran tersebut menggetarkan membran timpani
diteruskan ketelinga tengah melalui rangkaian tulang pendengaran yang
akan mengimplikasi getaran melalui daya ungkit tulang pendengaran dan
perkalian perbandingan luas membran timpani dan tingkap lonjong. Energi
getar yang telah diamplifikasi ini akan diteruskan ke stapes yang
menggerakkan tingkap lonjong sehingga perilimfa pada skala vestibule
bergerak. Getaran diteruskan melalui membran Reissner yang mendorong
endolimfa, sehingga akan menimbulkan gerak relatif antara membran
basilaris dan membran tektoria. Proses ini merupakan rangsang mekanik
yang menyebabkan terjadinya defleksi stereosilia sel-sel rambut, sehingga
kanal ion terbuka dan terjadi penglepasan ion bermuatan listrik dari badan
sel. Keadaan ini menimbulkan proses depolarisasi sel rambut, sehingga
melepaskan neurotransmiter ke dalam sinapsis yang akan menimbulkan
potensial aksi pada saraf auditorius, lalu dilanjutkan ke nukleus auditorius
sampai ke korteks pendengaran di lobus temporalis.

12

Gangguan telinga luar dan telinga tengah dapat menyebabkan tuli


konduktif, sedangkan ganggan telinga dalam menyebabkan tuli sensorineural,
yang terbagi atas tuli koklea dan tuli retrokoklea. Sumbatan Tuba eustachius
menyebabkan gangguan telinga tengah dan akan terdapat tuli konduktif.
Gangguan pada vena jugularis berupa aneurisma akan menyebabkan telinga
berbunyi sesuai dengan denyut jantung1.
C

Definisi
Otitis media adalah peradangan sebagian atau seluruh mukosa telinga
tengah, tuba Eustachius, antrum mastoid dan sel-sel mastoid. Otitis media terbagi
atas otitis media supuratif dan otitis media non supuratif (= otitis media serosa,
otitis media sekretoria, otitis media musinosa, otitis media efusi/OME). Masingmasing golongan mempunyai bentuk akut dan kronis, yaitu otitis media supuratif
akut (otitis media akut = OMA) dan otitis media supuratif kronik (OMSK/ OMP).
Begitu pula otitis media serosa terbagi menjadi otitis media serosa akut
(barotrauma = aerotitis) dan otitis media serosa kronis.
Otitis Media Akut
Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba ke dalam di
nasofaring dan faring. Secara fisiologik terdapat mekanisme pencegahan
masuknya mikroba ke dalam telinga tengah oleh silia mukosa tuba Eustachius,
enzim dan antibody. Otitis media akut terjadi karena faktor pertahanan tubuh ini
terganggu. Sumbatan tuba Eustachius merupakan faktor penyebab utama dari
otitis media. Karena fungsi tuba Eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman
ke dalam telinga tengah terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga
tengah dan terjadi peradangan.
Dikatakan juga, bahwa pencetus terjadinya OMA ialah infeksi saluran
nafas atas. Pada anak, makin sering anak terserang infeksi saluran nafas, makin
besar kemungkinan terjadinya OMA.

13

Sembuh /
Normal

Gangguan
tuba

Tekanan
negative
telinga
tengah

Etiologi :

Efusi

Fungsi tuba
tetap
terganggu

OME

Infeksi (-)

- Perubahan
tekanan
udara tiba-tiba
- Alergi

OMA

Tuba tetap
terganggu dan
Infeksi (+)

- Infeksi
Sembuh

OME

OMSK/OMP

D Etiologi
Sumbatan pada tuba eustachius merupakan penyebab utama dari otitis
media. Pertahanan tubuh pada silia mukosa tuba eustachius terganggu, sehingga
pencegahan invasi kuman ke dalam telinga tengah terganggu juga. Selain itu,
ISPA juga merupakan salah satu faktor penyebab yang paling sering. Kuman
penyebab OMA adalah bakteri piogenik, seperti Streptococcus hemoliticus,
Staphylococcus aureus, Pneumococcus, Haemophilus influenza, Escherichia coli,
Streptococcus anhemolyticus, Proteus vulgaris, Pseudomonas aeruginosa.
Haemophilus influenza adalah patogen tersering yang ditemukan pada anak di
bawah usia lima tahun. Meskipun juga patogen pada orang dewasa.
Pada anak-anak, makin sering terserang ISPA, makin besar kemungkinan
terjadinya otitis media akut (OMA). Pada bayi, OMA dipermudah karena tuba
eustachiusnya pendek, lebar, dan letaknya agak horisontal.
Anak lebih mudah terserang otitis media dibanding orang dewasa karena
beberapa hal, yaitu:

14

(1) Sistem kekebalan tubuh anak masih dalam perkembangan, (2)Saluran


eustachius pada anak lebih lurus secara horizontal dan lebih pendek sehingga
ISPA lebih mudah menyebar ke telinga tengah. (3)Adenoid (salah satu organ di
tenggorokan bagian atas yang berperan dalam kekebalan tubuh) pada anak relative
lebih besar dibanding orang dewasa. Posisi adenoid berdekatan dengan muara
saluran Eustachius sehingga adenoid yang besar dapat mengganggu terbukanya
saluran Eustachius. Selain itu, adenoid sendiri dapat terinfeksi dimana infeksi
tersebut kemudian menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.
E Patogenesis
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti
radang tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran
Eustachius. Saat bakteri melalui saluran Eustachius, mereka dapat menyebabkan
infeksi di saluran tersebut sehingga terjadi pembengkakan di sekitar saluran,
tersumbatnya saluran, dan datangnya sel-sel darah putih untuk melawan bakteri.
Sel-sel darah putih akan membunuh bakteri dengan mengorbankan diri mereka
sendiri. Sebagai hasilnya terbentuklah nanah dalam telinga tengah. Selain itu
pembengkakan jaringan sekitar saluran Eustachius menyebabkan lendir yang
dihasilkan sel-sel di telinga tengah terkumpul di belakang gendang telinga.
Jika lendir dan nanah bertambah banyak, pendengaran dapat terganggu
karena gendang telinga dan tulang-tulang kecil penghubung gendang telinga
dengan organ pendengaran di telinga dalam tidak dapat bergerak bebas.
Kehilangan pendengaran yang dialami umumnya sekitar 24 desibel (bisikan
halus). Namun cairan yang lebih banyak dapat menyebabkan gangguan
pendengaran hingga 45 desibel (kisaran pembicaraan normal). Selain itu telinga
juga akan terasa nyeri. Dan yang paling berat, cairan yang terlalu banyak tersebut
akhirnya dapat merobek gendang telinga karena tekanannya.

15

F Stadium OMA
Perubahan mukosa telinga tengah sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas
5 stadium. Keadaan ini berdasarkan pada gambaran membran timpani yang
diamati melalui liang telinga luar.
16

1. Stadium oklusi tuba Eustachius


Tanda oklusi tuba Eustachius ialah gambaran retraksi membran timpani akibat
terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah akibat absorpsi udara. Kadangkadang membran timpani tampak normal atau berwarna keruh pucat. Efusi
mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat dideteksi. Stadium ini sukar dibedakan
dengan otitis media serosa yang disebabkan oleh virus atau alergi.
2. Stadium hiperemis (stadium pre-supurasi)
Pada stadium hiperemis, tampak pembuluh darah yang melebar di membran
timpani atau seluruh membran timpani tampak hiperemis serta edema. Sekret
yang telah terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar
terlihat.

3. Stadium supurasi
Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel epitel
superfisial, serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani,
menyebabkan membran timpani menonjol (bulging) ke arah liang telinga luar.

Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi, dan suhu meningkat, serta
rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Apabila tekanan pus di kavum timpani tidak
berkurang, maka terjadi iskemia,akibat tekanan pada kapiler, serta timbul
tromboflebitis pada vena-vena kecil dan nekrosis mukosa dan submukosa.
Nekrosis ini pada membran timpani terlihat sebagai daerah yang lebih lembek dan
berwarna kekuningan, di tempat ini akan terjadi ruptur.
Bila tidak dilakukan insisi membran timpani (miringotomi) pada stadium
ini, maka kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan nanah keluar ke
liang telinga luar. Dengan melakukan miringotomi, luka insisi akan menutup
kembali, sedangkan apabila terjadi ruptur (perforasi) tidak mudah menutup
kembali.
17

4. Stadium perforasi
Karena beberapa sebab seperti terlambatnya pemberian antibiotika atau
virulensi kuman yang tinggi, maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan pus
keluar mengalir dari telinga tengah ke liang telinga luar. Anak yang tadinya
gelisah sekarang menjadi tenang, suhu badan turun dan anak dapat tertidur
nyenyak. Keadaan ini disebut otitis media akut stadium perforasi.

5. Stadium resolusi
Bila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani perlahanlahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi, maka sekret akan
berkurang dan akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik atau virulensi kuman
rendah, maka resolusi dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan. OMA berubah
menjadi OMSK bila perforasi menetap dengan sekret yang keluar terus-menerus
atau hilang timbul. OMA dapat menimbulkan gejala sisa (sequele) berupa otitis
media serosa bila sekret menetap di kavum timpani tanpa terjadinya perforasi.

18

ISPA
Tampon
Hipertrofi Adenoid
Barotrauma
Tumor
Alergi

Sumbatan tuba

Disfungsi Tuba

Kuman masuk

Gangguann transport mukosilier

Inflamasi

Mukus terjebak

Reaksi sel-sel radan

Tekanan negatif telinga tengah

Kumpulan sekret mukopurulen di telinga tengah


Radang pada telinga te
Demam

Retraksi membran timpani

Vasodilatasi pembuluh darah M


Sekret bertambah banyak
Stadium Oklusi

Membran timpani kemerahan


Membran timpani bulging ke telinga luar

Stadium Hiperemi

Stadium Supurasi
Tekanan pada kapiler membran

Tromboflebitis
Iskemiknekrosis

Stadium Perforasi

19

G Gejala klinik
Gejala klinik otitis media akut tergantung pada stadium penyakit serta
umur pasien. Pada anak yang sudah dapat berbicara keluhan utama adalah nyeri
telinga, suhu tubuh tinggi dan biasanya ada riwayat batuk pilek sebelumnya.
Pada anak yang lebih besar atau orang dewasa disamping rasa nyeri
terdapat pula gangguan pendengaran berupa rasa penuh di telinga atau rasa kurang
dengar. Pada bayi dan anak kecil gejala khas OMA adalah suhu tubuh tinggi
sampai 39,5 C (stadium supurasi), anak gelisah dan sulit tidur, tiba-tiba anak
menjerit waktu tidur, diare, kejang-kejang. Bila terjadi ruptur membran timpani
maka sekret mengalir ke liang telinga luar, suhu tubuh turun dan anak tertidur
tenang.
H Diagnosis
Diagnosis OMA harus memenuhi tiga hal berikut.
1. Penyakitnya muncul mendadak (akut)
2. Ditemukannya tanda efusi (efusi: pengumpulan cairan di suatu rongga
tubuh) di telinga tengah. Efusi dibuktikan dengan adanya salah satu di
antara

tanda

berikut:

(1)menggembungnya

gendang

telinga,

(2)terbatas/tidak adanya gerakan gendang telinga, (3)adanya bayangan


cairan di belakang gendang telinga, (4)cairan yang keluar dari telinga.
3. Adanya tanda/gejala peradangan telinga tengah, yang dibuktikan dengan
adanya salah satu di antara tanda berikut: (1)kemerahan pada gendang
telinga, (2)nyeri telinga yang mengganggu tidur dan aktivitas normal.
I

Penatalaksanaan
Pengobatan OMA tergantung pada stadium penyakitnya. Tujuan dari
pengobatan yaitu menghilangkan tanda dan gejala penyakit, eradikasi infeksi, dan
pencegahan komplikasi.
Pada stadium oklusi, tujuan terapi dikhususkan untuk membuka kembali
tuba eustachius. Diberikan obat tetes hidung HCl efedrin 0,5% dalam larutan
fisiologik untuk anak <12 thn dan HCl efedrin 1% dalam larutan fisiologik untuk
20

anak yang berumur >12 tahun atau dewasa. Selain itu, sumber infeksi juga harus
diobati. Antibiotika diberikan apabila penyebab penyakit adalah bakteri, bukan
oleh virus atau alergi.
Pada stadium presupurasi, diberikan antibiotik, obat tetes hidung, dan
analgetika. Bila membran timpani sudah hiperemi difus, sebaiknya dilakukan
miringotomi. Antibiotik yang dianjurkan ialah golongan penisilin atau ampisilin.
Jika terdapat resistensi, dapat diberikan kombinasi dengan asam klavunalat atau
sefalosporin. Untuk terapi awal diberikan penisilin IM agar konsentrasinya
adekuat di dalam darah. Antibiotik diberikan minimal selama 7 hari. Bila pasien
alergi terhadap penisilin, makan diberikan eritromisin.
Pada anak, ampisilin diberikan 50-100 mg/kgBB dibagi dalam 4 dosis,
atau amoksisilin 40 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis, atau eritromisin 40
mg/kgBB/hari.
Pengobatan stadium supurasi selain antibiotik, pasien

idealnya

dilakukan miringotomi bila membran timpani masih utuh. Dengan miringotomi


gejala- gejala klinis lebih cepat hilang dan ruptur dapat dihindari. Selain itu,
analgesik juga perlu diberikan agar nyeri dapat berkurang.
Miringotomi adalah tindakan insisi pada pars tensa membran timpani agar
terjadi drainese sekret telinga tengah. Miringotomi dilakukan bila ada cairan yang
menetap di telinga setelah 3 bulan penanganan medis dan terdapat gangguan
pendengaran. Miringotomi harus dilakukan secara a-vue (dilihat langsung), anak
harus tenang dan dapat dikuasai agar membran timpani dapat terlihat dengan baik.
Biasanya pada anak kecil dignakan anastesi umum. Lokasi miringotomi adalah di
kuadran posteroinferior.
Pada stadium perforasi, diberikan obat cuci telinga H2O2 3% selama 3-5
hari serta antibiotik yang adekuat. Biasanya sekret akan hilang dan perforasi
dapat menutup kembali dalam waktu 7-10 hari.
Pada stadium resolusi, maka membran timpani berangsur normal
kembali, sekret tidak ada lagi dan perforasi membran timpani menutup. Bila tidak
21

terjadi resolusi biasanya akan tampak sekret mengalir di liang telinga luar melalui
perforasi di membrane timpani. Pada keadaan ini antibiotik dapat dilanjutkan
sampai 3 minggu.
J

Komplikasi
Sebelum ada antibiotika komplikasi dapat terjadi dari yang ringan hingga
berat (meningitis dan abses otak) tetapi setelah ada antibiotika komplikasi
biasanya didapatkan sebagai komplikasi dari otitis media supuratif kronis.
OMA dengan perforasi membran timpani dapat berkembang menjadi otitis
media supuratif kronis apabila gejala berlangsung lebih dari 2 bulan, hal ini
berkaitan dengan beberapa faktor antara lain higiene, terapi yang terlambat,
pengobatan yang tidak adekuat, dan daya tahan tubuh yang kurang baik.
Komplikasi yang dapat terjadi adalah mastoidis, paralisis nervus fascialis,
komplikasi ke intrakranial seperti abses ekstradural, abses subdural, meningitis,
abses otak, trombosis sinus lateralis, otittis hidrocephalus, labirintis dan petrosis.

22

DAFTAR PUSTAKA

Boies A, dkk. 2012. Buku Ajar Penyakit THT edisi 6. Jakarta. Penerbit EGC
Efiaty Arsyad Soepardi, dkk. 2015. Buku Ajar Ilmu Penyakit Telinga, Hidung dan
Tenggorok. Balai Penerbit FKUI. Edisi ke-7. Jakarta
Donaldson,

Jhon.

2014.

Acute

otitid

media

diakses

dari

http://emedicine.medscape.com/article/859316-overview#aw2aab6b2b4aa
pada 15 Oktober 2016
Heather L, Burrows. 2013. Otitis Media. Guidelines for Clinical Care. University
of

Michigan

Health

System

diunduh

www.med.umich.edu/1info/fhp/practiceguides/om/OM.pdf

pada

dari
15

Oktober 2016
Kerschner, J.E., 2007. Otitis Media. In: Kliegman, R.M., ed. Nelson Textbook of
Pediatrics. 18th ed. USA: Saunders Elsevier
Munilson,Jacky. Yan Edward, Yolazenia. Penatalaksanaan Otitis Media Akut.
Diunduh dari repository.unand.ac.id pada Oktober 2016.
Soetirto Indro, Bashiruddin Jenny, Bramantyo Brastho. 2012. Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala & Leher. Penerbit FK-UI.
Edisi IV. Jakarta

23