Anda di halaman 1dari 9

MENENTUKAN INDEKS BIAS AKRILIK

DENGAN ANALISIS INTERFEROMETER MICHELSON


I.

LATAR BELAKANG
Indeks bias (n) merupakan perbandingan antara kecepatan rambat cahaya
dalam vakum (media pertama) dengan kecepatan cahaya dalam medium kedua.
Dalam hukum snellius dinyatakan bahwa sinar datang, sinar bias, dan garis normal
berpotongan pada satu titik dan terletak pada satu bidang datar. Dalam hal ini,
sinar datang dari medium kurang rapat ke medium lebih rapat dibiaskan
mendekati garis normal, sedangkan sinar datang dari medium lebih rapat ke
medium kurang rapat dibiaskan menjauhi garis normal(Bahruddin, 2006).
Indeks bias dapat ditentukan dengan analisa interferometer yaitu dengan
menghubungkan antara nilai panjang gelombang monokromatik yang masuk,
ketebalan, dan perubahan sudut yang terjadi dengan pola frinji yang terbentuk
(yang secara mudah dapat diketahui dari kuantitasnya).
Penentuan indeks bias, sangat diperlukan dalam industri-industri seperti
industri kaca, akrilik, dan sebagainya. Oleh karena itu, sangat penting melakukan
eksperimen penentuan indeks bias. Disini, indeks bias yang diukur adalah indeks
bias akrilik.

II.

TUJUAN
1. Dapat mengetahui hubungan antara perubahan sudut dengan banyaknya frinji
pada Interferometer Michelson.
2. Menentukan nilai indeks bias akrilik dengan analisa Interferometer.
3. Membandingkan nilai indeks bias yang diperoleh dengan literatur yang ada.

III.

TINJAUAN PUSTAKA
Indeks bias suatu zat merupakan ukuran kelajuan cahaya di dalam zat cair
dibanding ketika di udara. Indeks bias merupakan salah satu dari beberapa sifat
optis yang penting dari medium. Dalam bidang kimia, pengukuran terhadap
indeks bias secara luas telah digunakan antara lain untuk mengetahui konsentrasi
larutan dan mengetahui komposisi bahan-bahan penyusun larutantersebut
(subadi,2006). Indeks bias juga dapat digunakan untuk mengetahui kualitas suatu
larutan, diantaranya: untuk menentukan kemurnian dan kadaluarsa dari oli dan
untuk menentukan kemurnian minyak goreng.
Pengukuran indeks bias dapat dilakukan dengan metode interferensi.
Interferensi merupakan superposisi dua gelombang atau lebih yang bertemu pada

satu titik ruang. Apabila perbedaan fase 0 atau bilangan bulat kelipatan 360,
gelombang akan sefase dan berinterferensi saling menguatkan atau disebut dengan
interferensi konstruktif. Sedangkan jika perbedaan fasenya 180, maka gelombang
yang dihasilkan akan berbeda fase dan berinterferensi saling melemahkan disebut
dengan interferensi destruktif. (Tipler, 1991). Interferensi menghasilkan pola
pola interferensi yang digunakan dalam penentuan indeks bias (Setyaningsih,
2007).
Pola interferensi tersebut dapat terbentuk dengan menggunakan
interferometer. Interferometer memiliki berbagai macam susunan seperti
interferometer Michelson, Fabry Perot dan Mach Zehnder (Falah, 2006).
Interferometer Michelson memiliki susunan paling sederhana dan memiliki
akurasi yang sangat tinggidiantarainterferometer yang lain (Nugraheni, 2012).
Interferometer Michelson merupakan seperangkat peralatan yang
memanfaatkan gejala interferensi. Prinsip interferensi adalah kenyataan bahwa
beda lintasan optik (d) akan membentuk suatu frinji (Resnick, 1993).

Gambar 3.1 Skema Interferometer Michelson


Pada Gambar 3.1 merupakan diagram skematik interferometer Michelson.
Oleh permukaan beam splitter (pembagi berkas) cahaya laser, sebagian
dipantulkan ke kanan dan sisanya ditransmisikan ke atas. Bagian yang dipantulkan
ke kanan oleh suatu cermin datar (cermin 1) akan dipantulkan kembali ke beam
splitter yang kemudian menuju ke screen (layar). Adapun bagian yang
ditransmisikan ke atas oleh cermin datar (cermin 2) juga akan dipantulkan kembali
ke beam splitter, kemudian bersatu dengan cahaya dari cermin 1 menuju layar,
sehingga kedua sinar akan berinterferensi yang ditunjukkan dengan adanya polapola cincin gelap-terang (frinji) (Soedojo, 1992).

Hubungan interferensi gelombang dnegan indeks bias dapat dilihat dalam


penjelasan berikut: Hukum pemantulan berlaku untuk semua jenis gelombang dan
hukum pemantulan dapat diturunkan dari prinsip Huygens, dimana setiap titik
pada bidang gelombang yang diberikan dapat dianggap sebagai titik dari anak
gelombang sekunder. Hukum pemantulan (cahaya) menyatakan bahwa sinar
datang, sinar pantul dan garis normal permukaan bidang selalu berada dalam
bidang yang sama serta sudut datang sama dengan sudut pantul sehingga dari
hukum pemantulan dapat diapresiasi bahwa berkas cahaya yang mengenai sebuah
permukaan rata (halus) maka akan terjadi pemantulan sejajar. Pola interferensi
diatas muncul meskipun lintasan sinar dihalangi oleh medium yang masih dapat
ditembus oleh sinar laser ini karenakan interferensi merupakan superposisi
gelombang harmonic yang bergantung pada beda fasa antara gelombanggelombang, beda fasa ini diakibatkan dua hal yaitu : beda jarak tempuh dan
pemantulan saat gelombang datang dari medium renggang ke rapat dan juga yang
perlu diperhataikan adalah sumber harus bisa mempertahankan suatu beda fasa
yang tetap (mereka disebut sumber koheren), Sumber harus monochromatic dan
menghasilkan cahaya dengan panjang gelombang sama. (Artoto dan Lutfi, 2007:
2.8).
Hubungan antara visualisasi frinji dan indeks bias secara matematis dapat
dijelaskan sebagao berikut, bahwa frekuensi gelombang elektromagnetik (f=/2)
dengan panjang gelombangnya (=2/k), akan menghasilkan kecepatan
gelombang (v=/k =f). Kedua vektor EM tersebut dihubungkan oleh impedansi
karakteristik medium Z yang didefinisikan dengan persamaan:
E0
Z=
= / ................................................. (2.1)
H0
Sehingga hubungan antara persamaan diatas akan didapatkan
c

n =
=
................................................. (2.2)
v
0 0
sedangkan hubungan antara indeks bias, panjang gelombang, perubahan

sudut dan jumlah frinji secara matematis dapat dituliskan:


2 nu du ( ) +2 n g dg()
= N........................................ (2.3)
0
( 2 tN ) (1cos)
n=
........................................... (2.4)
2 t ( 1cos )N
Dimana n indeks bias medium, panjang gelombang cahaya dan N jumlah
frinji yang bergeser (Modul Eksperimen Fisika 2, 2006).

Akrilik atau polymethyl methacrylate (PMMA) adalah termoplastik yang


sifatnya keras dan kaku / tegar (rigid). Warnanya transparan kecuali bila ada
campuran pigmen seperti yang digunakan pada kedokteran gigi (Smith, 1990,
pp.362).
Akrilik adalah turunan etilen yang dalam rumus strukturnya mengandung
gugus vinil. Dua kelompok akrilik yang digunakan dalam kedokteran gigi yaitu
kelompok turunan asam akrilik, CH2 = CHCOOH, dan kelompok asam metakrilik
CH2 = C(CH3)COOH. Sekitar 1% pigmen tercampur dalam partikel polimer
diantaranya ialah titanium oksida, seng oksida, opaficer, dibutil ptalat,
plasticizers, nilon, dan serat sintetik(Mark, E.J., 1999, pp. 657).
IV.

METODOLOGI PERCOBAAN
A. Alat dan Bahan
1. Meja Interferometer berfungsi untuk meletakkan perlengkapan
Interferometer Michelson
2. Sumber laser He-Ne berfungsi sebagai sumber cahaya yang akan
digunakan dalam eksperimen indeks bias akrilik
3. Perlengkapan Interferometer Michelson
a. Beam splitter berfungsi sebagai pemisah berkas cahaya menjadi dua
bagian. Sebagian menuju cermin 1 (M1), dan sebagian menuju cermin
2 (M2).
b. Cermin 1 (M1) berfungsi sebagai transmisi berkas menuju pemisah
berkas dan dari pemisah berkas, sebagian dari berkas cahaya tersebut
akan direfleksikan oleh berkas menuju layar pengamatan.
c. Cermi 2 (M2) berfungsi sebagai perefleksi berkas menuju pemisah
berkas dan dari pemisah berkas, sebagian dari berkas cahaya tersebut
akan ditransmisikan oleh pemisah berkas menuju layar pengamatan
d. Lensa konveks berfungsi sebagai pemfokus serta penyebar berkas
cahaya yang berasal dari sumber cahaya (leser He-Ne)
e. Akrilik bening digunakan sebagai medium kedua yang akan ditentukan
indeks biasnya
B. Langkah Kerja
mulai

Alat dan bahan disiapkan

Diameter akrilik
diukur
LaserIndeks
He-Nebias
dasmbungkan
ditentukanke
Dibandingkan
Selesai
sumber
daya
Pola
gelap
terang
terbentuk
dengan
persamaan
(2.4)
Lensa
konveks
diletakkan
diantara
leser
dengan
Banyaknya
frinji
diamati
dan
Posisi
akrilik
diubah
dengan
sudut
Posisi
beam
splitter
diatur
sehingga
kedua beam
Akrilik
diletakkan
didepan
cermin
dengan
literatur

C. Gambar Rangkaian Alat

3
1

2
4

Keterangan Gambar:

1. Laser He-Ne
2. Lensa konveks
3. Beam splitter
4. Cermin 1 (M1)
5. Cermin 2 (M2)
6. Akrilik
7.
D. Persamaan yang Digunakan

8.
9. Gambar 3.2 Analisis Benda yang Diputar
10.

Pada Gambar 3.2 menggambarkan sebuah benda yang diputar dengan sudut

tertentu. Apabila diketahui bahwa OP merupakan garis normal dari kaca dengan
ketebalan t maka akan diperoleh bedalintasan antara posisi awal dengan posisi yang
telah dirubah sudutnya adalah
11. 1 2=2 ( adn+ dentbc )=N ...................................(2.5)
12.Dimana diketahui bahwa jarak dari a sampai ke d adalah
13. ad=

1
......................................................................(2.6)
cos r

14.Sedangkan beda lintasan d ke e


15. de=dc sin i=( fcfd ) sin i=t tan isin it tan r sin i .................(2.7)
16.Dan dari b ke c adalah
17. bc=

t
t ...................................................................(2.8)
cos i

18.Sehingga dari per


19. 1 2=2

( cosnt r t tan isin i+t tanr sin int cost i + t )

20.
21. nakrilik =

( 2 tN o ) (1cos)
2t ( 1cos )No

22. radian=derajat

180

23.
V.

VI.

DATA PENGAMATAN
24.
26.
T 27.
T 28.
T 29.
T 30.
T
No 25.
N eta1
eta2
eta3
eta4
eta5
31. 32.
1
1
0
33.
5 34.
5 35.
6 36.
5 37.
5
38. 39.
2
2
0
40.
7 41.
7 42.
9 43.
9 44.
8
45. 46.
3 47.
1 48.
1 49.
1 50.
1 51.
1
3
0
2
0
1
1
0
52. 53.
4 54.
1 55.
1 56.
1 57.
1 58.
1
4
0
3
2
3
3
2
59. 60.
5 61.
1 62.
1 63.
1 64.
1 65.
1
5
0
5
4
4
5
3
66. 67.
6 68.
1 69.
1 70.
1 71.
1 72.
1
6
0
6
5
5
6
5
73. 74.
7 75.
1 76.
1 77.
1 78.
1 79.
1
7
0
7
6
6
7
6
80. 81.
8 82.
1 83.
1 84.
1 85.
1 86.
1
8
0
8
8
7
8
7
87. 88.
9 89.
2 90.
2 91.
1 92.
1 93.
1
9
0
0
0
8
9
8
94. 95.
1 96.
2 97.
2 98.
2 99.
2 100. 2
10
00
1
1
0
1
0
101.
ANALISA DATA
102.
Prinsip yang diguanakan untuk menetukan indeks bias dengan
Interferometer Michelson adalah sinar datang mengenai beam splitter yang kemudian
oleh beam splitter, sinar tersebut dipecah menjadi dua. Sebagian sinar direfleksikan
dan sebagian lainnya ditransmisikan. Sinar yang di transmisikan, mengenai cermin 1
(M1) yang kemudian dikembalikan ke beam splitter dan oleh beam splitter cahaya
tersebut diteruskan ke layar pengamatan. Sedangkan cahaya yang direfleksikan oleh
beam splitter, mengenai cermin 2 (M2) yang kemudian juga dikembalikan ke beam
splitter dan oleh beam splitter cahaya tersebut diteruskan ke layar pengamatan.
Apabila kedua sinar berada pada posisi yang sama, maka sinar tersebut akan
membentuk pola interferensi yang dapat dilihat apabila antara leser He-Ne dan beam
splitter diletakkan lensa. Lensa tersebut berfungsi untuk memfokuskan cahaya
sehingga pola interferensi dapat diamati. Dari pola interfernsi yang terbentuk, dapat
dilihat banyaknya frinji yang dihasilkan. Dan apabila didepan cermin 1 (M1)
diletakkan suatu bahan tertentu, (disini kita menggunakan bahan akrilik) dengan sudut

tertentu, maka pola interferensi tersebut akan berubah. Perubahan tersebut dapat
dilihat dengan perubahan banyaknya frinji.
103.
Hasil data yang diperoleh berupa perubahan sudut dan banyaknya finji.
Berdasarkan data yang diperoleh, diketahui bahwa hubungan antara perubahan sudut
dengan banyaknya frinji adalah berbanding lurus. Yaitu ketika sudut diperbesar, maka
semakin banyak pula frinji yang terbentuk. Dari hasil data yang diperoleh, kemudian
data tersebut diolah dengan menggunakan persamaan:
( 2 tN ) (1cos)
104.
n=
2 t ( 1cos )N
105. sehingga dari perhitungan yang dilakukan diperoleh masing masing indeks
bias akrilik yaitu:
106.
hubungan antara jumlah frinji dengan nilai indeks bias yang terbentuk
(baik pada gelas maupun akrilik) dan jumlah frinji dengan perubahan lintasan yang
teramati. Dengan demikian, semakin jelaslah bahwa grafik hubungan antara jumlah
frinji dan pergeseran medium kedua yang dilakukan menunjukkan nilai yang
pertambahannya cenderung linear dan bahkan mendekati smooth (linear sempurna).
Dan, terbukti bahwa penambahan dan banyaknya jumlah frinji (N) berbanding
terbalik dengan nilai indeks bias (n) yang dilakukan.
107.
Pada penentuan indeks bias ini, bahan yang digunakan berupa kaca
bening yaitu akrilik bening. Dipilihnya bahan akrilik bening karena pada
Interferometer Michelson, interferensi dapat terbentuk apabila lintasan yang dihalangi
oleh suatu medium masih dapat ditembus oleh sinar laser ini karenakan interferensi
merupakan superposisi gelombang harmonic yang bergantung pada beda fasa antara
gelombang-gelombang, beda fasa ini diakibatkan dua hal yaitu : beda jarak tempuh
dan pemantulan saat gelombang datang dari medium renggang ke rapat dan juga yang
perlu diperhataikan adalah sumber harus bisa mempertahankan suatu beda fasa yang
tetap (mereka disebut sumber koheren).
108.
Antara percobaan dengan indek bias pada literatur terdapat perbedaan.
Nilai indeks bias pada literatur adalah 1,49 sedangkan pada percobaan seperti pada
tabel diatas. Adanya perbedaan tersebut, dimungkinkan karena beberapa faktor
diantaranya: konsentrasi dari bahan akrilik yang digunakan, kurang cermatnya
pengamat dalam mengamati sudut, tidak akuratnya praktikan dalam melakukan

VII.

pergeseran sudut.
109.
KESIMPULAN

1. Hubungan antara perubahan sudut dengan banyaknya frinji adalah berbanding


lurus yaitu apabila sudut semakin besar maka banyak frinji yang terbentuk akan
semakin banyak, dan juga sebaliknya.
2. Dengan menggunakan hukum snellius dan pembiasan cahaya, maka berdasarkan
persamaan (2.4) nilai indeks bias akrilik yang diperoleh adalah sebesar:
3. Pada eksperimen ini, indek bias yang diperoleh berbeda dengan literatur yang ada

VIII.

yaitu:
110.
DAFTAR PUSTAKA
111. A, Artoto & R, Lutfi. 2007. OPTIKA. Jakarta: Universitas Terbuka
112.

Bahrudin, Drs. MM. 2006. Kamus Fisika Plus. Epsilon Group:

Bandung
113. Jurusan Fisika Fakultas FMIPA Universitas Jember. 2006. Buku
Panduan Eksperimen Fisika II (MAF 325). Lab Optoelektronik
Fisika FMIPA UNEJ: Jember
114. Falah, Masrofatul. (2006). Analisis Pola Interferensi Pada
Interferometer Michelson Untuk Menentukan Panjang Gelombang
Sumber Cahaya.Undip
115. Nugraheni, F. A. (2012). Perancangan Sistem Pengukuran Konsentrasi
Larutan Gula Dengan Menggunakan Interferometer
Michelson .Skripsi.Surabaya: ITS.
116. Setyaningsih, Agustina. (2007). Penentuan Nilai Panjang Koherensi
Laser Menggunakan Interferometer Michelson. Skripsi.
Semarang:Undip
117.