Anda di halaman 1dari 4

Perbedaan antara KDPPLK dan KDPPLKS

Kerangka dasar merupakan rumusan konsep yang mendasari penyusunan dan


penyajian laporan keuangan bagi para pemakai eksternal. Adanya perbedaan karakteristik
antara Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan (KDPPLK) bisnis
konvensional dan Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Syariah
(KDPPLKS) untuk bisnis yang berlandaskan pada syariah. Menyebabkan Ikatan Akuntan
Indonesia (IAI) mengeluarkan KDPPLKS. Adapun perbedaan antara KDPPLK dan
KDPPLKS adalah :
1. Ruang lingkup
Ruang lingkup KDPPLK ada 4 yaitu:
- Tujuan laporan keuangan
- Karakteristik kualitatif yang menentukan manfaat informasi dalam laporan keuangan
- Definisi, pengakuan, dan pengukuran unsur-unsur yang memebentuk laporan
keuangan
- Konsep modal serta pemeliharaan modal
Sedangkan ruang lingkup KDPPLKS ada 3 yaitu:
-

Tujuan laporan keuangan


Karakteristik kualitatif yang menentukan manfaat informasi dalam laporan keuangan
Definisi, pengakuan, dan pengukuran unsur-unsur yang memebentuk laporan
keuangan

2. Pengguna dan kebutuhan informasi


Pengguna dan kebutuhan informasi dalam KDPPLK ada 7 yaitu:
1) Investor
2) Karyawan
3) Pemberi pinjaman
4) Pelanggan
5) Pemerintah
6) Masyarakat
7) Pemasok dan kreditor usaha lainnya
Sedangkan pengguna dan kebutuhan informasi dalam KDPPLKS ada 11 yaitu :
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)
9)

Investor
Pemberi dana qard
Pemilik dana titipan
Pengawas syariah
Pemilik dana syirkah temporer
Pemasok dan mitra usaha lainnya
Pelanggan
Karyawan
Masyarakat

10) Pembayar dan penerima zakat, infak, sedekah dan wakaf


11) Pemerintah
3. Paradigma transaksi
Dalam KDPPLK tidak dijelaskan tentang paradigma transaksi
Sedangkan dalam KDPPLKS dijelaskan mengenai paradigma transaksi syariah
yang berlandaskan pada paradigm bahwa alam semesta diciptakan oleh Tuhan
sebagai amanah (kepercayaan Ilahi) dan saran kebahagiaan hidup bagi seluruh
umat manusia untuk mencapai kesehjateraan hakiki secara material dan spiritual
(falah). Paradigm dasar ini menekankan bahwa setiap aktivitas umat manusia
memiliki akuntabilitas dan nilai ilahiah yang menempatkan perangkat syariah dan
akhlak sebagai parameter baik dan buruk, benar dan salahnya aktivitas usaha.
4. Asas transaksi
Dalam KDPPLK tidak dijelaskan tentang asas transaksi
Sedangkan dalam KDPPLKS dijelaskan mengenai asas transaksi syariah yaitu:
a) Persaudaraan (ukhuwah), yang berarti bahwa transaksi syariah menjunjung
tinggi nilai kebersamaan dalam memperoleh manfaat, sehingga seseorang
tidak boleh mendapat keuntungan di atas kerugian orang lain.
b) Keadilan (adalah), yang berarti selalu menempatkan sesuatu hanya pada
yang berhak dan sesuai pada posisinya.
c) Kemaslahatan (maslahah), yaitu segala bentuk kebaikan dan manfaat yang
berdimensi duniawi dan ukhrawi, material dan spiritual, serta individual dan
kolektif.
d) Keseimbangan ( tawazun), yaitu keseimbangan antara aspek material dan
spiritual, antara aspek privat dan public, antara sector keuangan dan rill, antara
bisnis dan social, serta antara aspek pemanfaatan serta pelestarian.
5. Karakteristik transaksi
Dalam KDPPLK tidak dijelaskan tentang karakteristik transaksi yang
diperbolehkan
Sedangkan dalam KDPPLKS dijelaskan bahwa karakteristik transaksi syariah :
a. Transaksi hanya dilakukan berdasarkan prinsip saling paham dan saling ridha
b. Prinsip kebebasan bertrasaksi diakui sepanjang objeknya halal dan baik (thayib)
c. Uang hanya berfungsi sebagai alat tukar dan satuan pengukur nilai, bukan sebagai
komoditas
d. Tidak mengandung unsure riba, kezaliman, maysir, gharar, dan haram
e. Tidak menganut prinsip nilai waktu dari uang (time value of money) karena
keuntungan yang didapat dalam kegiatan usaha terkait dengan risiko yang melekat
pada kegiatan usaha tersebut sesuai dengan prinsip al-ghunmu (no gain without
accompanying risk)
f. Transaksi dilakukan berdasarkan suatu perjanjian yang jelas dan benar serta untuk
keuntungan semua pihak tanpa merugikan pihak lain sehingga tidak

diperkenankan mengunakan standart ganda harga untuk satu akad serta tidak
menggunakan dua transaksi bersamaan yang berkkaitan (taalluq) dalam satu akad
g. Tidak ada distorsi harga melalui rekayasa permintaan (najasy), maupun melalui
rekayasa penawaran (ihtikar).
h. Tidak mengandung unsure kolusi dengan suap menyuap (risywah).
6. Tujuan laporan keuangan
Dalam KDPPLK tujuan laporan keuangan adalah menyediakan imformasi yang
menyangkut posisi keuangan, kinerja, serta perubahan posisi keuangan suatu
perusahaan yang bermanfaat bagi sejumlah besar pengguna dalam pengambilan
keputusan ekonomi.
Sedangakan KDPPLKS tujuan laporan keuangan sama seperti KDPPLK, namun
pada KDPPLKS ada tujuan lainnya yaitu:
a. Meningkatkan kepatuhan terhadap prinsip syariah dalam semua transaksi dan
kegiatan usaha
b. Informasi kepatuhan entitas syariah terhadap prinsip syariah, serta informasi
asset, kewajiban, pendapatan, dan beban yang tidak sesuai dengan prinsip syariah,
bila ada, dan bagaimana perolehan dan penggunaannya
c. Informasi untuk membantu mengevaluasi pemenuhan tanggung jawab entitas
syariah terhadap amanah dalam mengamankan dana, menginvestasikannya pada
tingkat keuntungan yang layak.
d. Informasi mengenai tingkat keuntungan investasi uyang diperoleh penanam
modal dan pemilik syirkah temporer. Dan informasi mengenai pemenuhan
kewajiban (obligation) fungsi social entitas syariah, termasuk pengelolaan dan
penyaluran zakat, infak, sedekah, dan wakaf.

7. Unsur-unsur laporan keuangan


Unsur-unsur laporan keuangan dalam KDPPLK yaitu:
- Posisi keuangan (neraca)
- Kinerja (laporan L/R)
- Laporan perubahan modal
- Laporan arus kas
- Catatan atas laporan keuangan
Sedangkan unsur-unsur laporan keuangan menurut KDPPLKS yaitu :
-

Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan komersial yang


meliputi: laporan posisi keuangan (neraca), laporan L/R, laporan perubahan
modal, laporan arus kas, CALK
Komponen laporan keuangan yang mencerminkan kegiatan social yang meliputi:
o Laporan sumber dan penggunaan dana zakat
o Laporan sumber dan penggunaan dana kebajikan

Komponen laporan keuangan lainnya yang mencerminkan kegiatan dan tanggung


jawab khusus entitas syariah tersebut.