Anda di halaman 1dari 17

KASUS

Nama : Ny. S
Usia

: 35 tahun

Status : Menikah
Pekerjaan: Ibu Rumah Tangga
Agama : Islam
Alamat: Serambi Gunung
No. RM : 024597
MRS : Sabtu, 30-4-2016
AUTOANAMNESIS
Keluhan Utama:
Digigit ular 1 jam SMRS
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien datang dengan keluhan digigit ular sejak 1 jam SMRS pada tangan sebelah
kanan. Pasien mengeluh tangan bekas gigitan ular bengkak setelah 30 menit pasca
digigit ular. Tangan terasa kebas dan nyeri. Pasien tidak merasa demam atau
sesak. Pasien tidak ingat bentuk ular yang menggigit, ular sempat mati dibunuh
oleh pasien. Sebelumnya pasien dibawa ke puskesmas masmambang dan diberi
dexamethasone 1 tablet.
Riwayat Penyakit Dahulu (RPD):
Pasien belum pernah digigit ular sebelumnya
Hipertensi disangkal
DM disangkal
Riwayat Penyakit Keluarga (RPK):
Hipertensi pada ayah
Riwayat Pengobatan:

Pasien sebelumnya sudah dibawa ke puskesmas terdekat, diberi dexamethasone 1


tablet lalu dirujuk ke RSUD Tais.
RIWAYAT ALERGI
Alergi obat disangkal

PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum: Tampak sakit sedang
Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda Vital
Suhu

: 36,5 C

Nadi

: 80x/menit

Tek. Darah

: 120/80 mmHg

RR

: 18x/menit

Status Generalis
Kepala
Bentuk : Normocephal
Rambut: Hitam dan tidak rontok
Mata : Konjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-)
Hidung: Konka hiperemis (-/-), keluar sekret (-/-)
Telinga: Keluar sekret (-/-)
Mulut : Pharynk hiperemis (-), bibir sianosis (-/-)
Leher
Kelenjar tiroid

: Pembesaran (-)

Defiasi trachea

: Tidak ada penarikan trachea

Kelenjar getah bening : Tidak ada pembessaran kelenjar getah bening


Jantung
I

: Ictus cordis tidak terlihat

: Ictus cordis teraba di linea midsternal sinistra intercostal 5

: Batas jantung tidak dilakukan

: Bunyi jantung 1&2 murni, tunggal, reguler, murmur (-), gallop (-)

Paru-paru
I

: Dinding dada simetris, rektraksi sela iga (-)

: Vocal fremitus (+/+) sama

: Sonor dikedua lapang paru, batas paru-hepar ICS 5

: Bunyi napas vesikuler di kedua lapang paru, ronchi (-/-), wheezing (-/-)

Abdomen
I

: Dinding perut simetris, massa (-), bekas operasi (-), distensi (-)

: Bising usus (+), 9 x/menit

: Nyeri tekan epigastrium (+) dan umbilikus

: Timpani pada keempat kuadran abdomen

Extremitas Superior dan Inferior


Akral hangat, edem (+) metacarpal dextra, sianosis (-), RCT < 2 detik
Status Lokalis
a/r metacarpal dextra

Inspeksi : Terlihat fang mark ukuran @ d=2mm, kemerahan, berdarah (-)

dan daerah sekitarnya menjadi udem.


Palpasi : Nyeri tekan (+)

Pemeriksaan Penunjang
Cek Darah Rutin

Leukosit

: 24 rb/mm3

Hemoglobin

: 18,7 gr/dL

Trombosit

: 10 rb/mm3

Hematokrit

: 57,9%

Resume
Pasien datang dengan keluhan digigit ular sejak 1 jam SMRS pada tangan sebelah
kanan. Pasien mengeluh tangan bekas gigitan ular bengkak setelah 30 menit pasca
digigit ular. Tangan terasa kebas dan nyeri. Sebelumnya pasien dibawa ke
puskesmas masmambang dan diberi dexamethasone 1 tablet.
Dari hasil pemeriksaan fisik, nadi dan tekanan darah 120/80 mmHg. Status lokalis
a/r metacarpal dextra

Inspeksi : Terlihat fang mark ukuran @ d=2mm,

kemerahan, darah (-) dan daerah sekitarnya menjadi udem. Palpasi : Nyeri tekan
(+)
Pemeriksaan Penunjang : leukosit 24 rb/mm3 , trombosit 10 rb/mm3
Diagnosis
vulnus morsum serpentis grade I ac snake bite
Penatalaksanaan
UGD

IVFD NaCl 0,9% + drip ABU 2 vial 40 gtt/menit


Dipenhidramin inj 1 amp
Dexamethasone inj 1 amp

Bangsal Perawatan

IVFD NaCl 0,9% 20 gtt/menit


As. Mefenamat tab 3 x 500 mg
Dexamethasone tab 2x1
Kontrol TTV /2 jam

PENANGANAN

Membuang bisa dengan menoreh lubang bekas masuknya taring ular

sepanjang & sedalam cm


penghisapan mekanis
eksisi jaringan
Menghambat absorbsi
Menetralisir bisa ular
Infus NaCl, plasma, atau darah
Vasopresor
Fibrinogen
Kortikosteroid

Beberapa literatur lain ada yang menyebutkan bahwa :

Pemberian Antievenin (SABU) sebelumnya skin test dulu dan harus sedia
epinefrin 1/1000, indikasi sesuai grading dan dicampur dalam 500 ml
NaCl atau D5% :
o Grade 0-1 : tidak butuh SABU
o Grade II
o Grade III

: 3-4 ampul SABU


: 5-15 ampul SABU

Pemberian vitamin K
Pemberian TT
Pemberian antibiotik
Pemberian transfusi dibutuhkan jika ada tanda klinik berupa perdarahan
yang signifikan yang tidak berhenti dengan pemberian anti bisa ular

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Epidemiologi
Dari 3000 spesies ular di dunia sebanyak 15% berbahaya untuk manusia. Pada
tahun 1998-2001 AAPCC melaporkan insiden gigitan ular berbisa pada manusia
sekitar 7000-8000 dan menewaskan 5-6 orang setiap tahunnya. Korban terbanyak
adalah laki-laki umur 17-27 tahun.
Kira-kira 50,000 - 100,000 individu diseluruh dunia meninggal setiap tahun
karena keracunan ular berbisa. Diantaranya mereka yang mempunyai resiko besar
terkena gigitan ular berbisa adalah para petani dan pemburu yang tinggal di
negara-negara tropis. Di Amerika Serikat, sekitar 8000 gigitan karena ular berbisa
terjadi tiap tahun dengan 6 kematian. Tipe korban yang paling sering terkena
gigitan ular berbisa ini adalah para lelaki muda, yang sering mabuk, dan digigit di
extremitasnya. Gigitan pada extremitas bawah sering terjadi karena korban
berjalan di dekat ular tersebut, karena sebnernya ular berbisa lebih senang
menggigit dan mengeluarkan racunnya di extremitas atas. Ular adalah jenis
poikilothermic yang lebih sering menggigit pada musim panas.1
Di Amerika Serikat, ular dari subfamily Crotaline (pit vipers) yang termasuk
rattlesanakes, copperheads dan cottonmouths adalah jenis ular yang bertanggung
jawab atas 99% gigitan ular yang menyebabkan kematian. Hanya 1 % gigitan ular
yang disebabkan oleh jenis ular dari family lain yang merupakan pribumi ular di
Amerika Serikat yaitu Elapidae (ular batu karang). 1
2.2 Jenis Ular

Beberapa
karakteristik

yang

membedakan pit vipers


dan

ular

yang

tidak

berbisa adalah, pit vipers mempunyai kepala berbentuk segitiga, pupil yang ellips,
lubang heat-sensing yang berlokasi antara mata dan nostril di masing-masing sisi
kepala, taring depan yang besar dan dapat ditarik masuk serta mempunyai satu
garis tersendiri pada sisik bagian subcaudal. Sedangkan ular yang tidak berbisa
lebih sering mempunya bentuk kepala yang bulat, pupil yang bulat, tidak ada
taring dan ada dua garis pada sisik bagian subcaudal. Ular batu karang
mempunyai susunan warna merah, hitam dan kuning. Di Amerika Serikat, jajaran
garis merah diikuti kuning dapat membedakan ular batu karang dengan ular yang
tidak berbisa yang mempunyai warna mirip seperti itu. Ular batu karang juga
mempunyai hidung berwarna hitam. 1,2
Ular berbisa kuat yang terdapat di Indonesia biasanya masuk dalam famili
Elapidae, Hydropiidae, atau Viperidae. Elapidae memiliki taring pendek dan
tegak permanen. Beberapa contoh anggota famili ini adalah ular cabai (Maticora
intestinalis), ular weling (Bungarus candidus), ular sendok (Naja sumatrana), dan
ular king kobra (Ophiophagus hannah). Viperidae memiliki taring panjang yang
secara normal dapat dilipat ke bagian rahang atas, tetapi dapat ditegakkan bila
sedang menyerang mangsanya. Ada dua subfamili pada Viperidae, yaitu
Viperinae dan Crotalinae. Crotalinae memiliki organ untuk mendeteksi mangsa
berdarah panas (pit organ), yang terletak di antara lubang hidung dan mata.
Beberapa contoh Viperidae adalah ular bandotan (Vipera russelli), ular tanah
(Calloselasma rhodostoma), dan ular bangkai laut (Trimeresurus albolabris).3

2.3 Efek Racun Dalam Tubuh


Bisa adalah suatu zat atau substansi yang berfungsi untuk melumpuhkan
mangsa dan sekaligus juga berperan pada sistem pertahanan diri. Bisa tersebut
merupakan ludah yang termodifikasi, yang dihasilkan oleh kelenjar khusus.
Kelenjar yang mengeluarkan bisa merupakan suatu modifikasi kelenjar ludah
parotid yang terletak di setiap bagian bawah sisi kepala di belakang mata. Bisa
ular tidak hanya terdiri atas satu substansi tunggal, tetapi merupakan campuran
kompleks, terutama protein, yang memiliki aktivitas enzimatik. Efek toksik bisa
ular pada saat menggigit mangsanya tergantung pada spesies, ukuran ular, jenis
kelamin, usia, dan efisiensi mekanik gigitan (apakah hanya satu atau kedua taring
menusuk kulit), serta banyaknya serangan yang terjadi.3
Racun dari ular berbisa sangat complex dan memiliki banyak peptida dan
enzim. Peptida dapat merusak endotel dari pembuluh darah, karena peptida
tersebut meningkatkan permeabilitas dari pembuluh darah dan mengawali
terjadinya edema dan syok hipovolemik. Enzim yang terdapat pada bisa ular
adalah protase dan l-asam amino oxidase yang dapat membuat jaringan menjadi
nekrosis, hyaluronidase dapat memfasilitasi dan mempercepat racun masuk ke
8

jaringan lewat pembuluh lymfe superficial dan phopholipase A2 akan merusak


eritrosit dan sel-sel pada otot. Enzim lainnya yaitu endonuclease, alkaline
phosphatase, acid phosphatase dan cholinesterase. Selain menyebabkan kerusakan
lokal, komponen tersebut juga dapat mengganggu efek kerja jantung, paru-paru,
ginjal dan sistem persarafan. Komponen lain dari racun secara lebih dalam dapat
berefek

neurotoxic,

hemorrhagic,

thrombogenic,

hemolytic,

cytotoxic,

antifibrinolytic dan anticoagulants. Efek dari bisa ular bisa terbagi menjadi dua
yaitu, neurotoxic (cramp otot, fasikulasi, kelemahan dan paralysis otot pernafasan)
atau hemolytic (perdarahan, edema, ekimosis dan bulla). 1,2
2.4 Manifestasi Klinik

Nyeri dari gigitan pit vipers lebih mengerikan dan gejala dapat dengan
mudah dibedakan dari gigitan ular yang tidak berbisa. Pit vipers akan
menghasilkan 1 atau 2 fang marks. Hypotensi, kelemahan, berkeringat dan rasa
panas, pusing, mual, muntah dan gejala sistemik lain akan mengikuti nyeri.2
Bisa ular akan mengganggu sel-sel dalam darah, kerusakan dalam proses
koagulasi, mencederai lapisan intima pembuluh darah, merusak otot jantung,
perubahan dalam proses pernafasan dan jika terjadi kerusakan luas dapat merubah
konduksi dari neuromuscular. Edema paru sering terjadi pada keracunan dan
terjadi perdarahan pada paru, ginjal, jantung dan peritoneum. Hematemesis,
melena, perubahan dalam salivasi, dan fasiculasi otot dapat terjadi. Urynalisis
dapat menunjukan hematuria, glicosuria dan proteinuria. Sel darah merah dan
trombosit dapat menurun dan terjadi perdarahan dan penggumpalan darah akan
berlangsung lama. Total afibrinogenemia adalah tanda bisa yang berat.2
Jika hemolysis dan cedera terjadi pada ginjal dan hati, sangat penting
untuk mengetahui perubahan mekanisme penggumpalan darah dari fungsi hati dan
ginjal sebaik mengetahui status elektrolit.2
Gigitan dari ular batu karang adakalanya dapat menyebabkan pandangan
buram, ptosis, perasaan mengantuk, pengkatan salivasi dan berkeringat. Pasien
akan mengeluhkan parestesi sekitar mulut dan kerongkongan, kadang omongan

mengacau, mual dan muntah. Nyeri tidak begitu dirasakan dan edema bukan
sesuatu yang akan ditemukan. Gigitan ular batu karang akan menyebabkan
perubahan di sistem persarafan dan kematian dapat terjadi karena ventilasi yang
tidak adekuat.2
Lokal
Kadang-kadang 20% dari gigitan pit vipers tidak memasukan bisanya (dry
bites) jika dalam 30 menit tidak ada nyeri atau edema setelah gigitan. Gejala yang
ditemukan pada beberapa kasus hanya luka gigitan atau laserasi dan sedikit nyeri.
Sebenarnya bisa ular akan menimbulkan nyeri panas dan kekakuan setelah
beberapa menit diikuti edema dan eritem. Edema akan terus berlanjut sampai 24
jam kemudian muncul petekie, ekimosis dan bulla hemoragik dalam 8-36 jam
diikuti thrombosis pembuluh darah superfisial dan akhirnya meninggalkan
jaringan. Keterlibatan dari sistem limfatik sering terjadi dan ditandai dengan
munculnya lymphangitis dan lymphadenopathy. Penanganan yang terlambat dan
tidak adekuat. Akan menyebabkan nekrosis yang berat dari jaringan.1

Sistemik

Pasien akan mengeluhkan kelemahan, muntah, parastesi di daerah perioral,


rasa seperti memakan logam dan kejang otot. Kebocoran dari kapiler yang luas
dapat menyebabkan edema paru, hypotensi dan syok. Korban dari gigitan ular
yang berat dapat menyebabkan coagulopathy dalam hitungan jam. Beberapa
pasien akan mengalami perdarahan spontan hampir diseluruh tempat, walaupun
secara klinik perdarahan signifikan tidak terjadi, hanya terlihat di test koagulasi

10

yang abnormal. Banyak faktor dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal hasil
dari

nefrotoksin,

coagulopathy.

kolapsnya
Abnormalitas

sirkulasi,
dari

myoglobinuria
hasil

dan

kemungkinan

laboratorium

termasuk

hypofibrinogenemia, thrombocytopenia, prolonged protombin time dan partial


tromboplastin time akan meningkatkan produksi degenerasi fibrin, peningkatan
creatinin dan creatinin phopokinase, proteinuria, hematuria dan anemia atau
hemokonsentrasi. Fasikulasi otot sering terjadi di daerah muka, sekitar leher dan
punggung biasanya dalam waktu 10 menit dan akhirnya mencapai extremitas.1
Korban dari gigitan pit vipers jenis lain, akan mempengaruhi sistem
banyak organ, contohnya ular batu karang akan menyebabkan neurotoxic. Luka
lokal terlihat minimal atau bahkan tidak terlihat. Tanda sistemik dari gigitan ular
berbisa akan tampak sangat jelas termasuk disfungsi nervus cranialis dan
kehilangan refleks tendon, yang akan berkembang menjadi depresi sistem
pernafasan dan paralisis dalam waktu beberapa jam. Perbedaan dalam penanganan
sangat penting dibedakan antara ular batu karanag dan pit viper.2

Grading of Crotalid Envenomation


Grade

Tanda dan Gejala

0: tidak
ada bisa

Satu atau lebih fang marks, nyeri minimal, luas < 1 inci (2,54
cm), edema dan eritema disekitarya dalam 12 jam pertama,
gangguan sistemik

I: bisa
minimal

Fang marks, nyeri sedang hingga berat, luas 1 - 5 inci (2,54


12,7 cm),terdapat edema dan eritem disekitarnya dalam 12 jam
pertama, gangguan sistemik biasanya belum terlihat

II: bisa
sedang

Fang marks, nyeri berat, luas 6 - 12 inci (15,24 30,48


cm),terdapat edema dan eritema disekitarnya dalam 12 jam
pertama, mungkin terdapat gangguan sistemik diantaranya
mual, muntah, pusing/rasa berputar, syok, atau gejala
neurotoksik.

III: bisa
berat

Fang marks, nyeri berat, luas > 12 inci (> 30,48cm), terdapat
edema dan eritema disekitarnya dan biasanya muncul petekia
dan ekimosis generalisata.

11

Grading of Crotalid Envenomation


Grade

Tanda dan Gejala

IV: bisa
sangat
berat

Selalu ada gangguan sistemik, dan terdapat gejala gagal ginjal,


secret campur darah, koma dan kematian; edema lokal bisa
meluas ke ektremitas yang terserang dan permukaan ipsilateral
tubuh.

2.5 Pemeriksaan Penunjang


Pemeriksaan
laboratorium
Sampel darah harus segera diambil
untuk penggolongan dan uji silang
serta dilakukan pemeriksaan, seperti
pemeriksaan darah lengkap, hitung
trombosit, waktu protrombin, waktu
tromboplastin parsial, urinalisis, gula
darah,

BUN,

Disamping

itu

dan
juga

elektrolit.
tes

jumlah

fibrinogen, fragilitas sel darah merah,


waktu pembekuan, dan waktu retraksi
pembekuan.2
2.6 Penanganan
Pertolongan Pertama
Tujuan pertolongan pertama adalah untuk menghambat penyerapan bisa,
mempertahankan

hidup

korban

dan

menghindari

komplikasi

sebelum

mendapatkan perawatan medis di rumah sakit serta mengawasi gejala dini yang
membahayakan. Kemudian segera bawa korban ke tempat perawatan medis.3
Korban harus dijauhkan dari daerah sekitar ular dan di istrahatkan,
usahakan tidak ada gerakan dari otot tempat digigit karena akan mempercepat
masuknya bisa ke dalam tubuh. Luka dibersihkan dan jika memungkinkan

12

diimobilisasi kira-kira setinggi jantung. Cryotherapy, suction, pasang torniquet


dan electric syok merupakan tindakan bahaya dan harus dihindari karena tidak
terbukti manfaatnya. Teknik immobilisasi dan penekanan bisa sesuai cara
Australia yaitu dengan membungkus tempat masuknya bisa ular, di awal dari
gigitan dan dibebat, teknik ini sering di demonstrasikan

untuk memperkecil

penyebaran dari bisa ular. Teknik ini diutamakan untuk ular yang tidak membuat
nekrosis jaringan seperti ular batu karang tetapi teknik ini dapat menyebabkan
nekrosis lokal menjadi semakin memburuk setelah gigitan. Pertolongan pertama
tidak boleh ditunggu sampai transportasi ke Rumah Sakit terdekat datang, karena
tujuan pertolongan pertama adalah untuk membatasi penyebaran bisa.1,3
Referensi lain menyebutkan ekstremitas yang terkena harus difiksasi, dan
torniket vena-limfe darah harus dipasang proksimal dari gigitan. Krioterapi,
merupakan terapi popular pada masa lalu, dan juga dipersalahkan sebagai
penyebab meningkatnya angka amputasi. Jika terjadinya gigitan kurang dari
1 jam, insisi dan pengisapan tempat gigitan dapat sangat membantu. Kira-kira
50% bisa yang mengenai subkutan dapat dihilangkan bila penghisapan dimulai
dalam waktu 3 menit. Juga, penghisapan yang dilakukan dalam jangka waktu
30 menit dapat mengekstraksi 90% bisa. Insisi pada jejas taring harus
sepanjang 2/3 cm dan dalamnya 1/3 2/3

cm, longitudinal, serta tidak

menyilang. Pengisapan dilakukan dengan memakai alat pengisap; namun


demikian, jika tidak tersedia alat pengisap, pengisapan dengan mulut dapat
dilakukan selama orang yang melakukan pengisapan tidak memiliki
kerusakan mukosa atau luka di mukosa mulutnya.2
Pilihan lain yaitu dengan melakukan eksisi seluruh daerah gigitan
termasuk kulit beserta jaringan subkutan, jika gigitan terjadi dalam waktu 1
jam. Hal ini jarang dilakukan, karena terapi medikal lebih efektif pada
sebagian besar pasien jika diberikan sedini mungkin setelah tergigit. Torniket
boleh dilepaskan segera setelah infus intravena dimulai, saat antievenin siap
diberikan, serta jika pasien tidak dalam keadaan syok.2

Penanganan di Rumah Sakit

13

Waktu kejadian, riwayat detail kejadian, jenis ular, penangananan pertama


dan riwayat pemberian anti bisa ular sebelumnya merupakan hal yang penting
diketahui. Pemeriksaan fisik harus menekankan kepada tanda vital, status
cardiopulmonary, pemeriksaan neurologis, dan penampakan serta ukuran luka.
Luka gigitan pada extremitas harus ditandai dua atau tiga lokasi sehingga
lingkaran tanda luka dapat berubah setiap 15 menit untuk melihat progresifitas
penyebaran luka secara lokal. Ukuran akan terus bertambah sampai edema benarbenar stabil.1
Pemeriksaan

laboratorium

termasuk

perhitungan

darah

lengkap,

pemeriksaan coagulasi ( prothrombin time, partial thromboplastin time, produk


degenerasi fibrin, dan level fibrinogen), elektrolit, blood urea nitrogen, creatinin,
creatinin phospokinase dan urynalisis. Tidak ada pemeriksaan laboratorium
khusus untuk gigitan ular batu karang. Foto rontgen dada dan EKG berlaku untuk
pasien usia tua dan siapapun yang terkena racun yang berat.1
Jika pasien tidak menunjukan gejala dalam 6 jam setelah gigitan ular pit
viper atau 24 jam setelah gigitan ular batu karang dan hasil laboratorium normal,
berarti keadaan ini menujukan bisa ular tidak beracun. Semua kasus seperti harus
diobservasi selama 24 jam di rumah sakit.1
Penanganan dengan Anti Bisa Ular
Memutuskan kapan memberikan anti bisa ular untuk korban gigitan ular
berbisa membutuhkan penilaian klinik yang signifikan dan harus dikonsultasikan
dengan seorang toxicologist dengan sangat bijaksana. Penanganan oleh dokter
harus cepat dan mempertimbangkan keuntungan potensial dari pemberian
antiserum tersebut kepada korban dan harus diperhatikan reaksi anafilaktik dari
serum tersebut. Selain itu karena keracunan bisa ular adalah proses dinamik,
dimana keputusan pemberian anti bisa ular harus dievaluasi terus dalam beberapa
waktu. Sekarang anti bisa ular diadministrasikan untuk pasien dengan tanda-tanda
dari penyebaran bisa ular dan progresifitas dari beratnya penyakit tersebut di
rumah sakit atau di tempat kejadian dengan gejala yang berat (bengkak yang
menyeluruh, hipotensi, dan distress pernafasan).1
14

Di Amerika Serikat tersedia 2 serum anti bisa ular. Antivenom (Crotalidae)


polyvalent (ACP) (Wyeth -Ayerst Laboratories, Philadelphia) sudah tersedia sejak
50 tahun lalu. Tahun 2000, di Amerika Serikat Food and Drug Administration
(FDA) mengakui anti bisa ular ke dua adalah CroFab (Protherics, Inc. London).
CroFab diberikan intravena 4-6 vial dalam 250 ml saline solution dalam 1 jam.
Jika dalam pemberian dosis initial, progresifitas racun bisa ular masih terus
berlangsung maka pemberian harus diulang. Sebelumnya harus dilakukan skin test
untuk mencegah alergi atau syok anfilaktik. Selama pemberian anti bisa ular
informed concent diperlukan dan harus disiapkan epinephrine selama pemberian.
Jika anafilaktik syok terjadi dapat diatasi dengan pemberian steroids atau
antihistamin.1
Penanganan Luka
Gigitan ular dibersihkan dan extremitas dielevasikan. Penanganan luka
yang baik selalu diindikasikan dengan debridement dari jaringan nekrotik setelah
proses koagulasi berhasil ditangani. Pemberian tetanus toxoid diharuskan
berhubugan dengan imunitas pasien. Antibiotik profilaksis diperlukan jika
dilakukan insisi pada tempat gigitan ular dan untuk mencegah timbulnya infeksi
sekunder.1
Pemberian transfusi dibutuhkan jika ada tanda klinik berupa perdarahan
yang signifikan yang tidak berhenti dengan pemberian anti bisa ular. Pasien
dengan perdarahan yang serius (perdarahan gastrointestinal, perdarahan
intracranial dan batuk darah) dibutuhkan packed red cells, platelets, fresh frozen
plasma atau cryoprecipitate tergantung dari hasil laboratorium dan perhitungan
koagulasi. Anti bisa ular harus dimulai sebelum infus kedua, bagaimanapun juga
pasien dengan coagulopathy harus tinggal di Rumah skait sampai 2 minggu
setelah gigitan. Harus diamati tanda-tanda perdarahan dan harus menghindari
operasi elektif atau aktifitas yang dapat meningkatkan luka selama dalam waktu
dekat. 1
Fasciotomy

15

Banyak ular berbisa yang menghasilkan bisanya di subcutaneous. Bisa dari


ular dapat masuk ke muscle compartement, sehingga dapat meningkatkan tekanan
intracompartemental. Secara klinik compartement syndrome dapat dibedakan
dengan bengkak yang typical, nyeri pada extremitas setelah bisa mengenai
subkutan susah diatasi dan membutuhkan tindakan penekanan compartement.
Fasciotomy disarankan jika tekanan mencapai 30-40 mmHg walaupun sudah
diberikan antibisa ular dan elevasi dari extremitas. Pada pasien dengan
hemodinamik yang stabil, penggunaan manitol IV sebagai tambahan anti bisa ular
dan elevasi extremitas dapat menyingkirkan fasciotomy jika dapat menurukan
tekanan compartement dalam 1 jam. Dalam area yang kecil ( jari) peningkatan
tekananan terjadi jika area tersebut menghasilkan daerah dengan aliran vena yang
gelap. Korban keracunan bisa ular tidak semuanya harus dilakukan fasciotomy.
Fasciotomy hanya dilakukan jika terjadi myonecrosis yang mengakibatkan
terjadinya

compartement

syndrome

karena

penekanan

tersebut

dapat

mengakibatkan terjadinya iskemik dari nervus dan harus segera diperbaiki.1

16

DAFTAR PUSTAKA
1. Norris, Robert L, dkk.Bites and Stings at Sabiston textbook of Surgery.
Elsivier. United State of America. 2004
2. Burch, John. M, dkk. Trauma at Schwartzs Principles of Surgery Eight Edition.
Mc Graw Hill: United State of America. 2005
3. Sentra Informasi Keracunan Nasional, Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia, 2002.

17