Anda di halaman 1dari 4

3.

1 Hipotesis
Berdasarkan uraian pada bab sebelumnya maka perumusan hipotesis didahului
dengan hubungan masing-masing variabel independen yaitu investment opportunity set,
likuiditas, profitabilitas dan leverage terhadap variabel dependen yaitu seperti diuraikan berikut
ini:

3.2.1

Hubungan investment opportunity set (IOS) dengan kebijakan dividen


Munculnya istilah investment opportunity set (IOS) dikemukakan oleh Myers (1977)

dalam Imam Subekti dan I.W. Kusuma (2001) yang menguraikan pengertian perusahaan, yaitu
sebagai satu kombinasi antara aktiva riil (assets inplace) dan opsi investasi masa depan. Apabila
kondisi perusahaan baik maka pihak manajemen lebih memilih untuk investasi baru daripada
membayar dividen yang tinggi. Dana yang berlebihan dapat digunakan untuk melakukan
investasi baru yang lebih menguntungkan peluang investasi perusahaan dapat mempengaruhi
dividen yang diterima pemegang saham. Pernyataan ini sesuai dengan studi yang dilakukan oleh
Sunarto (2004) dan Syafitri (2008) yang menyimpulkan bahwa terdapat hubungan antar IOS
(investment opportunity set) dengan kebijakan dividen.
Mahadwatha dan Jogiyanto Hartono (2002) beragumentasi bahwa berpengaruh
positif dan signifikannya kesempatan investasi (investment opportunity set) terhadap kebijakan
dividen menunjukkan bahwa free cash flow hypothesis lebih berlaku dan tidak mendukung
signaling hypothesis. Free cash flow hypothesis berargumentasi bahwa growth yang semakin
tinggi akan akan menyebabkan perusahaan membayar dividen yang rendah karena sebagian
besar retained earning digunakan untuk investasi. Pengukuran dividen yang hanya menggunakan

proporsi dividen dari pihak pemegang saham outsider mampu mendukung hipotesis bahwa
dalam situasi terdapat managerial ownership maka free cash flow hypothesis mampu
menjelaskan fenomena kebijakan dividen (Sunarto, 2004). Sehingga diperoleh dugaan penelitian
ini adalah:
H1 : Investment Opportunity Set dengan dproksi oleh Market to Book Value of Equity
berpengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen
3.2.2

Hubungan likuiditas (Current Ratio/CR) dengan kebijakan dividen (Dividend

Payout Ratio/DPR)
Menurut Keown et. al (2001:621) likuiditas perusahaan menunjukkan kemampuan perusahaan
mendanai operasional perusahaan dan melunasi kewajiban jangka pendeknya. Posisi likuiditas
perusahaan pada kemampuan pembayaran dividen sangat berpengaruh karena dividen
dibayarkan dengan kas dan tidak dengan laba ditahan, perushaan harus memiliki kas tersedia
untuk pembayaran dividen. Oleh Karena itu perusahaan yang memiliki likuiditas baik maka
kemungkinan pembayaran dividen lebih baik pula. Likuiditas perusahaan dapat diukur melalui
rasio keuangan seperti: current ratio, quick ratio dan cash ratio. Likuiditas perusahaan
diasumsikan dalam penelitian ini mampu menjadi alat prediksitingkat pengembalian investasi
berupa dividen bagi investor. Current ratio seringkali dijadikan sebagai ukuran likuiditas,
termasuk dalam persyaratan kontrak kredit. Hasil penelitian Karami (2013) dan Parica, dkk
(2013) menunjukkan bahwa likuiditas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan
dividen karena ketersediaan aset menunjukkan tingkat pembayaran dividen sehingga posisi
current ratio merupakan variabel penting yang dipertimbangkan oleh manajemen ketika
memutuskan suatu kebijakan dividen. Semakin tinggi current ratio, maka semakin mudah bagi
pemegang saham untuk mendapatkan dividen dalam bentuk tunai.

H2 : Likuiditas yang diproksi oleh current ratio berpengaruh signifikan terhadap kebijakan
dividen
3.2.3

Hubungan profitabilitas (Return On Investment/ROI) dengan kebijakan dividen

(Dividend Payout Ratio/DPR)


Menurut Rodoni dan Ali (2010:123) profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh
laba dalam hubungannya dengan penjualan, total aset maupun modal sendiri. Dengan demikian
bagi investor jangka panjang akan sangat berkepentingan dengan analisis profitabilitas ini
misalnya bagi pemegang saham akan melihat keuntungan yang benar-benar akan diterima dalam
bentuk dividen. Factor profitabilitas juga berpengaruh terhadap kebijakan dividen karena dividen
adalah laba bersih yang diperoleh perusahaan, oleh karena itu dividen akan dibagikan apabila
perusahaan memperoleh keuntungan. Keuntungan yang layak dibagikan kepada pemegang
saham adalah keuntungan setelah perusahaan memenuhi kewajiban-kewajiban tetapnya yaitu
bunga dan pajak. Penelitian Arilaha (2009)dan Parica, dkk (2013) menunjukkan bahwa
profitabilitas memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kebijakan dividen karena profitabilitas
merupakan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba dan dividen akan dibagi apabila
perusahaan tersebut memperoleh laba. Dari laba setelah pajak tersebut sebagian dibagikan
sebagai dividen kepada para pemegang saham dan sebagian lain ditahan di perusahaan (laba
ditahan). Jika laba yang diperoleh kecil, maka dividen yang akan dibagikan juga kecil.
H3 : Profitabilitas yang diproksi oleh return on investment berpengaruh signifikan terhadap
kebijakan dividen

3.2.4

Hubungan leverage (Debt to Equity Ratio/DER) dengan kebijakan dividen

(Dividend Payout Ratio/DPR)


Menurut Suharli dalam Arilaha (2009) perusahaan yang leverage operasi atau keuangannya
tinggi akan memberikan dividen yang rendah. Struktur permodalan yang lebih tinggi dimiliki
oleh hutang menyebabkan pihak menejemen akan memprioritaskan pelunasan kewajiban terlebih
dahulu sebelum membagikan dividen. Perusahaan yang memiliki rasio hutang lebih besar akan
membagikan dividen lebih kecil karena laba yang diperoleh digunakan untuk melunasi
kewajiban. Hutang jangka panjang diikat oleh sebuah perjanjian hutang untuk melindungi
kepentingan kreditor. Kreditor biasanya membatasi pembayaran dividen, pembelian saham
beredar, dan penambahan hutang untuk menjamin pembayaran pokok hutang dang bunga. Untuk
itu semakin tinggi rasio hutang maka semakin ketatnya perusahaan terhadap perjanjian hutang.
Hasil penelitian Karami (2013) dan Asif et. al (2011) menyatakan bahwa rasio hutang dengan
modal (debt to equity ratio) memiliki hubungan terhadap dividend payout ratio.
H4 : leverage yang diproksi oleh debt to equity ratio berpengaruh signifikan terhadap
kebijakan dividen