Anda di halaman 1dari 21

LAPORAN PROYEK ANATOMI DAN FISIOLOGI HEWAN (BI-2103)

PENGAMATAN SISTEM PENCERNAAN DAN


PARAMETER PENCERNAAN MENCIT (Mus musculus)
Tanggal Praktikum : 21 September 2016
Tanggal Pengumpulan : 10 Oktober 2016
Disusun oleh:
Nadia Fairuz Aprilia
10615038
Kelompok 10
Asisten:
Anjani Maladewi
10614056

PROGRAM STUDI BIOLOGI


SEKOLAH ILMU DAN TEKNOLOGI HAYATI
INSTITUT TEKNOLOGI BANDUNG
BANDUNG
2016
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Saat ini berat badan sering menjadi permasalahan, terutama pada bidang
kesehatan. Berat badan merupakan hasil peningkatan atau penurunan semua
jaringan yang ada pada tubuh. Berat badan dapat digunakkan sebagai indikator
untuk mengetahui keadaan gizi dan tumbuh kembang biak suatu organisme.
Permasalahan berat badan ini adalah kekurangan atau kelebihan pada berat badan

(Soetjiningsih, 1995). Faktor faktor yang dikaitkan dengan kekurangan bobot


tubuh antara lain asupan gizi yang tidak seimbang, stress atau mengidap suatu
penyakit yang serius. Sedangkan risiko kelebihan berat badan adalah penyakit
yang berhubungan dengan kardiovaskuler bahkan hingga dapat menyebabkan
kematian (Notoatmodjo, 2002).
Banyak cara yang digunakan untuk mengatasi permasalahan berat badan, baik
secara alami maupun modern. Secara alami, digunakan ekstrak Curcuma
xanthorrhiza dan Guazuma ulmifolia untuk mengatasi masalah ini. Guazuma
ulmifolia digunakan sebagai pelangsing tubuh dan Curcuma xanthorrhiza
digunakan untuk mengobati penyakit hati dan ginjal (Heyne, 1987 dalam
Fitrianingsih, 2011).
Parameter pencernaan seperti laju konsumsi, laju pertumbuhan, laju
pertumbuhan relatif, efisiensi pakan, efisiensi pencernaan, dan efisiensi absorpsi.
Parameter parameter tersebut penting ditentukan nilainya untuk mengetahui
apakah sistem pencernaan bekerja dengan efisien atau tidak sehingga jika terdapat
gangguan pada sistem pencernaan dapat diketahui lebih dini.

1.2 Tujuan
Tujuan pada praktikum pendedahan zat dan sistem pencernaan
mencit (Mus musculus) ini sebagai berikut.
1. Menentukan nilai tiap parameter efisiensi pencernaan (efisiensi pakan,
efisiensi pencernaan, efisiensi pertumbuhan relatif, laju konsumsi, laju
pertumbuhan, dan laju pertumbuhan relatif)

untuk perlakuan

pendedahan kurkumin.
2. Menentukan nilai tiap parameter efisiensi pencernaan (efisiensi pakan,
efisiensi pencernaan, efisiensi pertumbuhan relatif, laju konsumsi, laju
pertumbuhan, dan laju pertumbuhan relatif) untuk perlakuan
pendedahan slimming tea.

3. Menentukan nilai tiap parameter efisiensi pencernaan (efisiensi pakan,


efisiensi pencernaan, efisiensi pertumbuhan relatif, laju konsumsi, laju
pertumbuhan, dan laju pertumbuhan relatif) untuk perlakuan
pendedahan akuades.
4. Menentukan pengaruh kurkumin terhadap mencit (Mus musculus)
5. Menentukan pengaruh slimming tea terhadap mencit (Mus musculus)
6. Menentukan pengaruh akuades terhadap mencit (Mus musculus)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Pencernaan Mamalia
Sistem pencernaan pada mamalia terdiri dari saluran pencernaan dan kelenjar
pencernaan. Makanan masuk ke dalam mulut untuk dicerna secara mekanis lalu
diteruskan menuju faring. Faring berfungsi sebagai pertigaan antara saluran
pernafasan dan pencernaan, dimana faring mencegah agar makanan tidak masuk
ke saluran pernafasan. Lalu makanan masuk kedalam kerongkongan dan sampai
pada lambung. Di lambung, makanan dicerna secara kimiawi yaitu mengubah
struktur makanan menjadi lebih sederhana. Setelah melewati lambung, makanan
menuju usus halus. Lemak dan protein yang terkandung dalam makanan diserap
oleh usus halus, dan setelah itu menuju usus besar dimana air akan diabsorbsi dan
feses mulai dibentuk. Kemudian, sisa-sisa pencernaan dibuang melalui anus.
Fungsi sistem pencernaan adalah untuk menyediakan zat nutrisi yang sudah
dicerna untuk selanjutnya di distribusikan ke seluruh tubuh melalui sirkulasi
(Syafuddin, 2009).
2.2 Curcuma xanthorrhiza
Temulawak (Curcuma xanthorrhiza) adalah tanaman yang termasuk dalam
famili Zingiberaceae dan dapat dimanfaatkan sebagai obat tradisional, rempah
rempah, makanan dan minuman, serta zat pewarna makanan. Senyawa kimia yang
terdapat dalam temulawak berkhasiat untuk mencegah penyakit degeneratif
seperti kardiovaskular, sebagai zat anti oksidan, dan mampu memerangi sel
kanker serta infeksi virus atau bakteri (Barmawie et al., 2006).
Pada temulawak terdapat senyawa kurkumin sebesar 12%. Senyawa
kurkumin ini merupakan sumber penyebab warna kuning pada temulawak.
Kurkumin berguna untuk merangsang sel hati agar sekresi empedu menjadi lancar
sehingga pemecahan lemak dapat berlangsung dengan baik, serta memperlancar
pengeluaran lemak ke usus. Produksi kurkumin pada temulawak dipengaruhi oleh
beberapa faktor lingkungan, seperti iklim yang meliputi cahaya matahari,

lingkungan atmosfer, suhu udara, serta ketersediaan air di dalam tanah (Nitisapto
dan Siradz, 2005).
2.3 Guazumae folium
Guazumae folium atau jati belanda memiliki batang keras, berkayu, bercabang,
dan banyak alur. Daunnya tunggal dan berbentuk bulat telur serta tepinya
bergerigi. Bunganya berwarna kuning dan berbintik merah, sedangkan buahnya
keras, berbiji banyak dan berwarna kuning kecoklatan, serta rasanya agak manis.
Tanaman G. folium ini pertumbuhannya cepat sehingga sering digunakan untuk
tanaman pekarangan atau peneduh di pinggir jalan (Heyne, 1987).
Bagian dalam kulit tumbuhan jati belanda dipakai untuk menyembuhkan
penyakit cacing dan kaki gajah, dan air masakannya untuk mengecilkan urat darah.
Daun tumbuhan jati belanda juga banyak digunakan untuk obat batuk rejan serta
ekstrak daun jati belanda dapat digunakan sebagai obat pelangsing, disebabkan
karena adanya tannin dan getah lender dalam ekstrak tersebut (Dzulkarnain dan
Widowati, 1996).
2.4 Jenis-Jenis Injeksi (Oral Gavage, IP, IM, IV, dan Subkutan)
Jalur pendedahan untuk memasukkan
zat ke dalam organ makhluk hidup terbagi menjadi 5 jenis, yaitu oral gavage,
injeksi intraperitoneal, injeksi intramuskular, injeksi intravena dan injeksi
subkutan. Oral gavage adalah cara memasukkan zat langsung ke dalam tubuh
mencit dengan menggunakan jarum gavage. Badan mencit dipegang dengan satu
tangan dan diluruskan, lalu tangan yang lainnya memegang jarum gavage yang
sudah berisi zat. Jarum gavage dimasukkan ke dalam kerongkongan mencit dan
apabila diperkirakan telah sampai ke dalam lambung maka zat diinjeksikan
(Zhang, 2011).
Injeksi subkutan pada mencit dilakukan pada bagian kulit, yaitu pada bagian
punggung atas karena bagian tersebut tergolong tebal. Umumnya, injeksi subkutan
ini dilakukan dalam hal program pemberian insulin untuk mengontrol kadar gula
darah. Teknik ini dilakukan apabila obat yang disuntikkan akan diabsorbsi oleh
tubuh dengan pelan dan berdurasi panjang. Injeksi intramuskular merupakan
metode yang jarang digunakan pada mencit karena otot mencit berukuran kecil.

Injeksi biasanya dilakukan pada bagian paha posterior. Kecepatan penyerapan


obat tergantung pada besar kecilnya partikel yang diinjeksi.
Injeksi intraperitoneal adalah injeksi suatu zat yang dilakukan ke dalam
rongga tubuh, pada mencit zat diinjeksikan ke abdominal cavity. Injeksi
intraperitoneal ini umum dilakukan ketika jumlah besar cairan pengganti darah
diperlukan, atau ketika terdapat masalah untuk mencegah penggunaan pembuluh
darah yang cocok untuk penyuntikan.
Injeksi intravena merupakan metode yang paling cepat dilihat efeknya karena
langsung dimasukkan ke dalam vena. Sedangkan salah satu kerugiannya adalah
kemungkinan terjadi gangguan pada kardiovaskuler dan pulmonary akibat
peningkatam volume cairan dalam sistem sirkulasi. Pada mencit, injeksi intravena
dilakukan pada bagian ekor.
2.5 Dosis Dosis Pendedahan
Dosis pendedahan yang perlu diperhatikan ketika menginjeksi zat menurut
Parret Gentil (2007) adalah:
Tabel 2.1 Dosis dosis pendedahan

Jalur

Massa Tubuh (gr)

Intravena

Intraperitoneal

Subkutan
Gavage

<10
10 15
15 20
>20
<10
10 15
15 20
>20
<10
10 15
>20
10

Volume Maksimum
(mL)
0,1
0,15
0,20
0,25
0,25
0,5
1
1,5
0,05
0,1
0,2
0,1

2.6 Parameter Sistem Pencernaan


Parameter sistem pencernaan yang diperhitungkan menurut Hardiningsih
(2006) adalah sebagai berikut:

Dimisalkan :
Beratpakan yang diberikan (gram)

=a

Beratpakan yang tersisa (gram)

=b

Beratpakan yang dikonsumsi (gram) = a b = C


Berat feses kering (gram) = F
Berat urin (gram)

=U

Berat awal tikus (gram)

= Wo

Berat akhir tikus (gram) = Wt


Waktu (hari)

=t

Perhitungan:
Laju konsumsi (CR) =

c
t

(gramhari)
Wt Wo
t

Laju pertumbuhan (GR) =

Laju pertumbuhan relatif (RGR) =

Efisiensi pakan (FE) =

Wt Wo
c

Efisiensi pencernaan (ED) =

Efisiensi absorbsi (AE) =

(gramhari)

Wt Wo
t

x 100%

x 100%

(cf u)
c

(WtWo)
(cf u)

x 100%

x 100%

2.7 Kandang Metabolisme


Kandang metabolisme adalah tempat untuk memelihara mencit dengan
pengaturan sedemikian rupa sehingga ada tempat untuk memberi makan dan
minum sekaligus kotoran dan urinnya dapat ditampung dalam wadah sendiri.
Prinsip kerja pada kandang metabolisme ini adalah mengambil data serta jumlah

dan frekuensi ekskresi yang dikeluarkan oleh hewan di dalam kandang. Urin dan
feses yang akan diukur dialirkan sedemikian rupa pada corong bagian bawah
kandang yang dibawahnya terdapat tabung untuk mewadahi hasil ekskresi
(Hendriks, 1999).

Gambar 2.1 Kandang metabolisme untuk isolasi mencit


(Tarland, 2007)

BAB III
METODOLOGI
3.1 Alat dan Bahan
Pada pengamatan sistem pencernaan Mus musculus ini, alat dan bahan yang
digunakan adalah sebagai berikut.
Tabel 3.1 Alat dan bahan

Alat
1. Kandang metabolisme

Bahan
1. Mencit (Mus musculus)

2. Sarung tangan (glove)

2. Pakan mencit

3. Timbangan digital

3. Akuades

4. Syringe

4. Detergen

5. Jarum gavage

5. Alumunium foil

6. Oven

6. Curcuma xanthorriza

7. Wadah penampung feses

7. Guazuma ulmifolia

8. Gelas penampung urin


9. Gelas kimia
3.2 Cara Kerja
3.2.1 Inisiasi
Mus musculus ditimbang dan dicatat berat badannya, kemudian dimasukkan
ke dalam kandang metabolisme yang telah disiapkan. Dimasukkan pakan
sebanyak 10% dari berat badan Mus musculus ke dalam tempat pakan dan
diberikan minum secara ad libitum. Wadah penampung feses dan gelas
penampung urin ditimbang dan ditempatkan di bawah saluran feses dan saluran
urin.
3.2.1 Pemeliharaan dan Pemberian Perlakuan
Selama pemeliharaan dan pemberian perlakuan, dilakukan penimbangan berat
badan Mus musculus setiap hari. Mus musculus dikeluarkan dari kandang,
ditimbang, dan dicatat berat badannya. Setiap hari Mus musculus juga didedah,
jarum gavage dipasang pada syringe, lalu dimasukkan zat ke dalam alat gavage.
Mus musculus kemudian ditangkap dan diposisikan secara vertikal. Dimasukkan
alat gavage ke dalam kerongkongan mencit lalu zat diinjeksi. Alat gavage

dikeluarkan lalu dicuci dengan air keran, air sabun, dan akuades secara berturutturut dan Mus musculus dikembalikan ke kandang.
Dilakukan juga penimbangan dan pemberian pakan setiap hari. Tempat pakan
dilepas dari kandang metabolisme. Ditimbang pakan yang tersisa, dicatat
beratnya, kemudian dibuang. Diberikan kembali pakan baru yang sesuai dengan
berat Mus musculus. Tempat makan diletakkan kembali pada kandang
metabolisme.
Pemberian minum dilakukan setiap hari. Tempat minum dilepas dari kandang
metabolisme dan diisi air secara ad libitum, kemudian diletakkan kembali pada
kandang metabolisme. Selain itu, feses juga ditimbang setiap hari. Wadah
penampung feses yang telah diketahui beratnya diambil dari kandang, lalu
ditimbang dan dicatat berat fesesnya. Feses yang telah ditimbang dibungkus ke
dalam aluminium foil dan disimpan. Wadah penampung feses diletakkan kembali
pada kandang metabolisme. Feses lalu dioven selama 24 jam setiap dua hari.
Setelah kering, feses ditimbang dan dicatat beratnya.
Setiap dua hari dilakukan penimbangan urin. Gelas penampung urin diambil
dari kandang, ditimbang, dan dicatat berat urinnya. Gelas penampung kemudian
diletakkan kembali pada kandang metabolisme.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Pengolahan Data
4.1.1 Histologi Saluran Pencernaan
Pada pencernaan mamalia terdapat berbagai saluran pencernaan, beberapa
histologinya terdapat pada tabel 4.1 berikut :
Tabel 4.1 Histologi Saluran Pencernaan Perbesaran 100x

Gambar 4.1 Histologi Duodenum, perbesaran

Gambar 4.2 Histologi Kolon, perbesaran

100x
(Dokumentasi Pribadi, 2016)

100x
(Dokumentasi Pribadi, 2016)

Gambar 4.3 Histologi Rektum, perbesaran

Gambar 4.4 Histologi Lambung, perbesaran

100x
(Dokumentasi Pribadi, 2016)

100x
(Dokumentasi Pribadi, 2016)

Gambar 4.5 Histologi Esofagus, perbesaran 100x


(Dokumentasi Pribadi, 2016)

4.1.2 Data Hasil Pengamatan Berat Badan Mus musculus


Hasil pengamatan berat badan rata rata 3 mencit (per kandang) selama 8
hari ditampilkan dalam tabel 4.2 berikut :

Tabel 4.2 Data Pengamatan Berat Badan Mus musculus yang Diberi Perlakuan

Perlakuan 2 =

Perlakuan 1 =

Curcuma

Aquades
Tanggal
22 / 09 /
2016
23 / 09 /
2016
24 / 09 /
2016
25 / 09 /
2016
26 / 09 /
2016
27 / 09 /
2016
28 / 09 /
2016
29 / 09 /
2016

xanthorrhiza
Kandang
3
4

28,6 g

28,96 g

35,66 g

28,13 g

27,03 g

27,54 g

Perlakuan 3 =
Gulzuma ulmifolia
5

38,1 g

36,66 g

25,1 g

31 g

32,76 g

31,33 g

24,3 g

23,66 g

29,72 g

32,17 g

30 g

22,47 g

27,57 g

25 g

28,7 g

33,26 g

34,53 g

22,33 g

25,93 g

24,72 g

28,35 g

31,31 g

30,47 g

23 g

26,63 g

25,01 g

27,8 g

32,14 g

33,13 g

21,35 g

26,95 g

24,63 g

27,03 g

30,7 g

34,1 g

19,7 g

26,23 g

24,6 g

27,1 g

29,91 g

30,59 g

18,82 g

4.1.3 Pengolahan Data Parameter


Contoh perhitungan pada perlakuan 1 (akuades), berdasarkan data mencit 1 di
kandang 1 pada 24 September 2016 .
a) Laju konsumsi rata-rata (CR)
C 1,85
CR= =
=1,85 gram/hari
t
1
b) Laju pertumbuhan (GR)
CR=

(W tW 0) 26,3527,2
=
=0,35 gram/ hari
t
1

c) Laju pertumbuhan relatif (RGR)

RGR=

( W tW 0 )
W0

x 100 =

26,3527,2
x 100 =1,33
27,2

d) Efisiensi pakan (FE)


FE=

(W tW 0)
26,3527,2
x 100 =
x 100 =18,87
C
1,85

e) Efisiensi pencernaan (ED)


ED=

CFU
1,851,72,5
x 100 =
x 100 =170,289
C
1,38

f) Efisiensi absorbsi (AE)


AE=

(W t W 0)
26,3527,2
x 100 =
x 100 =36,17
CF U
1,851,72.5

4.1.4 Grafik Perbandingan 3 Perlakuan


Gambar 4.6 Perbandingan Laju Konsumsi
2.70

2.64

2.60
2.50
2.40
Laju Konsumsi Mencit
2.30
(gram/hari)

2.36
2.24

2.20
2.10
2.00
akuades slimming tea curcumin
Jenis Perlakuan

Gambar 4.7 Perbandingan Laju Pertumbuhan


0.00
-0.20
-0.40
-0.60 -0.48
Laju Pertumbuhan Mencit (gram/hari)
-0.80
-1.00

-0.92

-1.20

-1.20

-1.40
Jenis Perlakuan

Gambar 4.8 Perbandingan Laju Pertumbuhan Relatif


0.00
-0.50
-1.00
-1.50
Laju Pertumbuhan Relatif Mencit (%) -2.00 -1.73
-2.50
-3.00
-3.50

-3.00
-3.45

-4.00
Jenis Perlakuan

Gambar 4.9 Perbandingan Efisiensi Pakan

0.00
-5.00

akuades

slimming tea curcumin

-10.00
-15.00
Efisiensi Pakan (%)

-20.00
-25.00

-20.24

-30.00
-35.00
-36.16

-40.00

-40.13

-45.00
Jenis Perlakuan

Gambar 4.10 Perbandingan Efisiensi Pencernaan


60.00
50.00
40.00

52.27

47.35
39.23

30.00
Efisiensi Pencernaan (%)

20.00
10.00
0.00

Jenis Perlakuan

Gambar 4.11 Perbandingan Efisiensi Absorbsi

30.00

26.81

25.00
20.00
Efisiensi Absorpsi (%)

15.00
10.00

12.65
8.05

5.00
0.00
akuades slimming tea curcumin
Jenis Perlakuan

4.2 Pembahasan
Pendedahan zat pada percobaan kali ini menggunakan metode oral gavage.
Metode oral gavage digunakan agar zat yang didedahkan dapat langsung masuk
pada organ pencernaan (lambung) tanpa harus mengalami proses pencernaan di
mulut. Agar zat yang didedahkan langsung diserap oleh lambung, sebaiknya
ketika zat didedahkan, lambung mencit dalam keadaan kosong. Hal tersebut
sebaiknya harus diperhatikan karena akan berpengaruh pada nilai parameter yang
nantinya akan diukur. Selain itu zat yang didedahkan melalui oral gavage harus
diketahui apakah bercampur baik dengan air atau tidak. Bila bercampur baik
dengan air ada keumngkinan kuantitas zat yang didedahkan akan bertambah
namun zat menjadi lebih cair sehingga memengaruhi nilai parameter.
Kumungkinan lain bila zat tidak bercampur baik dengan air ia akan diserap oleh
mukosa pada esofagus sebelum sampai lambung sehingga nilai parameter
terpengaruhi juga (Woodard, 1965). Perlu diperhatikan bahwa melakukan oral
gavage memerlukan keterampilan handling mencit yang baik agar tidak terjadi
kecelakaan atau pelukaan pada mencit hingga mnyebabkan mencit luka bahkan
mati. Hal ini terjadi pada mencit di kandang 6, dimana salah satu mencit mati
akibat handling yang kurang baik saat melakukan oral gavage. Metode oral
gavage dilakukan dengan handling mencit, kemudian jarum gavage pada syringe
dimasukkan pada mulut mencit, ke esofagus sampai lambung (Parrot, 1971).

Pada pengamatan kali ini, perlakuan 1 dijadikan sebagai kontrol. Didapat


data bahwa perlakuan 1 (pemberian akuades pada Mus musculus) laju konsumsi
rata ratanya adalah 2,24 gram/hari, lalu pada perlakuan 2 (pemberian Curcuma
xanthorrhiza) 2,64 gram/hari, dan pada perlakuan 3 (pemberian slimming tea)
adalah 2,36 gram/hari. Hal ini menunjukkan bahwa laju konsumsi Mus musculus
paling besar adalah dengan pemberian Curcuma xanthorrhiza..
Data perlakuan 1 (pemberian akuades pada Mus musculus) laju
pertumbuhan rata ratanya adalah -0,48 gram/hari, pada perlakuan 2 (pemberian
Curcuma xanthorrhiza) -1,2 gram/hari, dan pada perlakuan 3 (pemberian
slimming tea) adalah -0,92 gram/hari. Hasil ini menunjukkan bahwa pemberian
Curcuma xanthorrhiza memberikan laju pertumbuhan rata-rata yang paling besar.
Perlakuan 1 (pemberian akuades pada Mus musculus) laju pertumbuhan
relatifnya adalah -1,73%, pada perlakuan 2 (pemberian Curcuma xanthorrhiza)
-3,45%, dan pada perlakuan 3 (pemberian slimming tea) adalah -3%. Laju
pertumbuhan

relatif

paling

besar

adalah

dengan

pemberian

Curcuma

xanthorrhiza.
Efisiensi pakan rata-rata pada perlakuan 1 (pemberian akuades pada Mus
musculus) adalah -20,24%, pada perlakuan 2 (pemberian Curcuma xanthorrhiza)
-40,13%, dan pada perlakuan 3 (pemberian slimming tea) adalah -36,16%.
Efisiensi pakan paling besar adalah pada pemberian akuades.
Dari beberapa parameter di atas, jika dibandingkan dengan literatur,
menurut Hembing (2008), kandungan kurkumin dari Curcuma xanthorrhiza
berfungsi untuk merangsang sel hati untuk memperlancar sekresi empedu
sehingga pemecahan lemak dapat berjalan dengan lancar. Selain itu, kurkumin
juga memperlancar pengeluaran lemak ke usus. Dengan hal itu, pemberian zat ini

dapat meningkatkan laju pertumbuhan, laju pertumbuhan relatif, dan efisiensi


pakan.
Efisiensi pencernaan pada perlakuan 1 (pemberian akuades pada Mus
musculus) adalah 52,27%, pada perlakuan 2 (pemberian Curcuma xanthorrhiza)
47,35%, dan pada perlakuan 3 (pemberian slimming tea) adalah 39,23%. Hal ini
menunjukkan bahwa efisiensi pencernaan paling besar adalah pada Mus musculus
dengan perlakuan 1 (pemberian akuades).
Efisiensi absorbsi pada perlakuan 1 (pemberian akuades pada Mus
musculus) adalah 8,05%, pada perlakuan 2 (pemberian Curcuma xanthorrhiza)
26,81%, dan pada perlakuan 3 (pemberian slimming tea) adalah 12,65%. Efisiensi
absorbsi terbesar adalah pada perlakuan 2.
Data diatas menunjukkan bahwa Curcuma xanthorrhiza dapat berfungsi
untuk meningkatkan nafsu makan sehingga laju pertumbuhan, laju pertumbuhan
relatif, dan efisiensi pakan bertambah. Parameter lain yang tidak sesuai seperti
laju konsumsi, efisiensi pencernaan, dan efisiensi absorbsi dapat disebabkan
karena Mus musculus mengalami depresi pada waktu pengamatan.

BAB V
KESIMPULAN

Hasil dari praktikum pendedahan zat dan sistem pencernaan mencit


(Mus musculus), dapat disimpulkan beberapa hal sebagai berikut.
1. Nilai tiap parameter efisiensi pencernaan (efisiensi pakan, efisiensi
pencernaan, efisiensi pertumbuhan relatif, laju konsumsi, laju
pertumbuhan, dan laju pertumbuhan relatif)

untuk

perlakuan

pendedahan akuades, slimming tea, dan kurkumin, disajikan dalam


tabel 5.1
Tabel 5.1 Nilai hasil pengolahan data parameter sistem pencernaan pada tiga perlakuan
yaitu akuades, slimming tea, dan kurkumin.

Parameter Pencernaan
Laju konsumsi (g/hari)
Laju pertumbuhan (g/hari)
Laju pertumbuhan relatif (%)
Efisiensi pakan (%)
Efisiensi pencernaan (%)
Efisiensi absorpsi (%)

Perlakuan Pendedahan
slimming
akuades
kurkumin
tea
2.24
2.36
2.64
-0,48
-0,92
-1,20
-1,73
-3,00
-3,45
-20,24
-36,16
-40,13
52,27
39,23
47,35
8,05
12,65
26,81

2. Pengaruh kurkumin tehadap mencit adalah untuk menambah nafsu makan


sehingga berat badan dapat meningkat.
3. Pengaruh slimming tea tehadap mencit adalah untuk mengurangi nafsu
makan sehingga berat badan dapat menurun.
4. Pengaruh akuades tehadap mencit sebagai keadaan kontrol dari dua
perlakuan lain yang dikenakan pada mencit.
DAFTAR PUSTAKA

Agoes, A., 2010. Tanaman Obat Indonesia. Salemba Medika, Jakarta.


Barmawie,N.,M.,Rahardjo, D., Wahyuno dan Mamun. 2006. Status teknologi

budidaya dan pasca panen tanaman kunyit dan temu lawak sebagai penghasil
kurkumin. Buletin Perkembangan Teknologi Tanaman Rempah dan Obat. 18
(2) : 84 99).
Dzulkarnain B., L. Widowati. 1996. Scientific back up of tradisional remedy for
obesity. Pusat Penelitian dan Pengembangan.
Fox, J.G. et al.. 2007. Drug Administration. Biomethodology and Surgical
Techniques in The Mouse in Biomedical Research Vol.3. 2: 444-454
Hardiningsih, Rianu dan Novik Nurhidayat. 2006. Pengaruh Pemberian Pakan
Hiperkolesterolemia terhadap Bobot Badan Tikus Putih Wistar yang diberi
Bakteri Asam Laktat. Pusat Penelitian Biologi, LIPI. Hal: 127-130
Hendriks, W. H., Wamberg, S., dan M.F. Tarttelin. 1999. A metabolism cage for
quantitative urine collection and accurate measurement of water balance in
adult cats (Felis catus). Journal of Animal Physiology and Animal Nutrition.
82: 94-105
Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Jakarta : Badan Litbang
Kehutanan
3:1348-1349.
Kahn,
April.
2012.
Unintentional
Weight
Loss.
http://www.healthline.com/health/weight-loss-unintentional (Diakses pada
tanggal 9 Oktober 2016)
Nitisapto, M., dan S., A., Siradz. 2005. Evaluasi kesesuaian lahan untuk
pengembangan jahe pada beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa
Timur. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan. 5 (2) : 15-19).
Notoadmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta : PT. Rineka
Cipta
Parret Gentil, Marcel I. 2007. Mouse Biomethodology. Texas : University Of
Texas
Soetjiningsih. 1995. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta : EGC.
Stevens, G., Edward, Hume, Ian D. 2004. Comparative Physiology of the
Vertebrate Digestive System. Cambridge: Cambridge University Press
Syafuddin. 2009. Anatomi Tubuh Manusia Edisi 2. Jakarta : Salemba Medika
Press.
Tarland, E. (2007). Effect of Metaolic Cage Housing in Rodent Welfare. 1.
Woodard, G. (1965). In Methods of Animal Experimenation (Vol. 1). New York:
Academic Press.
Zhang, Lei, Voluntary oral administration of drugs in mice, Protocol Exchange,
2011. doi:10.1038/protex.2011.236. Published online 11 May 2011

LAMPIRAN