Anda di halaman 1dari 28

LAPORAN KASUS

BARTHOLINITIS

Oleh :
AininMeisynthiaSyadidah
201420401011071

Pembimbing:
dr. Andri Catur, Sp.Kk

SMF LAB PENYAKIT KULIT DAN KELAMIN RSUD JOMBANG


UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
FAKULTAS KEDOKTERAN
2016
KATA PENGANTAR

Puji syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas berkat
dan rahmat-Nya, case report Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin tentang
Bartholinitis dapat saya selesaikan. Case report ini disusun sebagai bagian dari
proses belajar selama kepaniteraan klinik di bagian ilmu kulit dan kelamin dan
saya menyadari bahwa referat ini tidaklah sempurna. Untuk itu saya mohon maaf
atas segala kesalahan dalam pembuatan referat ini.
Saya berterima kasih kepada dokter pembimbing saya, dr. Andri Catur
Jatmiko, Sp.Kk atas bimbingan dan bantuannya dalam penyusunan referat ini.
Saya sangat menghargai segala kritik dan masukan sehingga referat ini bisa
menjadi lebih baik dan dapat lebih berguna bagi pihak-pihak yang membacanya di
kemudian hari.
Jombang, 24 Agustus 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR...........................................................

ii

DAFTAR ISI.........................................................................

iii

BAB I PENDAHULUAN.....................................................

BAB II LAPORAN KASUS................................................

15

BAB III PEMBAHASAN....................................................

20

BAB IV KESIMPULAN .....................................................

24

DAFTAR PUSTAKA...........................................................

25

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Pengertian
Bartholinitis adalah infeksi pada kelenjar bartholin, juga dapat
menimbulkan pembengkakan pada

alat kelamin

luar wanita, biasanya

pembengkakan disertai rasa nyeri hebat bahkan penderitanya sampai tidak bisa
berjalan dan disertai demam dan berwarna kemerahan (Ben-zion, 1994).
Peradangan mendadak glandula bartholini biasanya disebabkan oleh gonokokus
dapat pula oleh bakteri lain (Sarwono, 2010).
1.2 Anatomi dan Fisiologi
Kelenjar bartholin terletak di seputar bibir kemaluan (vulva), tepatnya di
bagian kiri dan kanan bawah, dekat fossa navikulare, berada di sebelah dorsal dari
bulbus vestibuli. Kelenjar Bartholini memiliki diameter lebih kurang 1 cm,
terletak dibawah otot konstriktor kunni dan mempunyai saluran kecil panjang 1,5
2 cm yang bermuara di vulva (Sarwono, 2010). Glandula ini homolog dengan
glandula bulbourethralis pada pria. Kelenjar ini mengeluarkan sekresinya untuk
membasahi atau melicinkan permukaan vagina di bagian caudal. Kelenjar
bartolini sebagian tersusun dari jaringan erektil dari bulbus, jaringan erektil dari
bulbus menjadi sensitif selama rangsangan seksual dan kelenjar ini akan
mensekresi sekret yang mukoid yang bertindak sebagai lubrikan. Kelenjar
bartolini diperdarahi oleh arteri bulbi vestibuli, dan dipersarafi oleh nervus
pudendus dan nervus hemoroidal inferior. Drainase pada kelenjar ini oleh saluran
dengan panjang kira-kira 2 cm yang terbuka ke arah orificium vagina sebelah

lateral hymen, normalnya kelenjar bartolini tidak teraba pada pemeriksaan


palapasi (Patil S, 2010; Guyton, 2006; Faller A, 2004).
Histologi

Kelenjar bartolini dibentuk oleh kelenjar racemose dibatasi oleh epitel


kolumnair atau kuboid. Duktus dari kelenjar bartolini merupakan epitel
transsisional yang secara embriologi merupakan daerah transisi abtara traktus
urinarius dengan traktus genital (Guyton, 2006).
1.3 Epidemiologi
Sekitar 1 dalam 50 wanita akan mengalami kista Bartolini atau abses di
dalam hidup mereka. Dua persen wanita mengalami abses Bartolini atau kista
kelenjar (Schorge, et al, 2008; Patil S, 2010). Abses umumnya hampir terjadi tiga
kali lebih banyak daripada kista. Salah satu penelitian kasus kontrol menemukan
bahwa wanita berkulit putih dan hitam yang lebih cenderung untuk mengalami
abses bartolini atau kista bartolini daripada wanita hispanik, dan bahwa
perempuan dengan paritas yang tinggi memiliki risiko terendah. Involusi bertahap
dari kelenjar Bartolini dapat terjadi pada saat seorang wanita mencapai usia 30
tahun. Hal ini mungkin menjelaskan lebih seringnya terjadi abses Bartolini dan
kista selama usia reproduksi. Kebanyakan kasus terjadi pada wanita usia antara 20

sampai 30 tahun. Namun, tidak menutup kemungkinan dapat terjadi pada wanita
yang lebih tua atau lebih muda (Patil S, 2010). Kista bartolini bisa tumbuh dari
ukuran seperti kacang polong menjadi besar dengan ukuran seperti telur. Kista
bartolini tidak menular secara seksual, meskipun penyakit menular seksual seperti
Gonore adalah penyebab paling umum terjadinya infeksi pada kelenjar bartolini
yang berujung pada terbentuknya kista dan abses, sifilis ataupun infeksi bakteri
lainnya juga dianggap menjadi penyebab terjadinya infeksi pada kelenjar ini.
Dalam suatu penelitian dilaporkan terdapat 13 % kasus yang mengalami rekurensi
(Omole,2003).
1.4 Etiopatogenesis
Infeksi pada Bartolini biasa terjadi sendiri karena infeksi pada kelenjar
Bartolini ataupun dari infeksi sekunder yang berlaku pada kista Bartolini
(Cunningham, 2005; Winkjosastro et al, 2002)

Infeksi langsung pada kelenjar Bartolini (Winkjosastro et al, 2002).


Berlaku disebabkan organisme piokokkus seperti gonokokkus dan
Chlamydia Trachomatis. Bisa juga disebabkan oleh Staphylococcus,
Escheria Coli, atau Streptococcus faecalis (Patil S, 2010).
Jenis-jenis bakteri yang dapat ditemukan dari kultur abses bartholini,

dapat dilihat pada tabel berikut :


Aerobic organisms
Neisseria gonorrhoeae

Anaerobic organism
Bacteroides fragilis

Staphylococcus aureus

Clostridium perfringens

Streptococcus faecalis

Peptostreptococcus species

Escherichia coli

Fusobacterium species

Pseudomonas aeruginos
6

Chlamydia trachomatis
Tabel 1 : Bakteri penyebab abses bartholin.
Sumber : Omole F, Simmsons BJ, Hacker Y

Infeksi sekunder pada kista Bartolini


Obstruksi distal saluran Bartolini bisa mengakibatkan retensi cairan,

dengan dihasilkannya dilatasi dari duktus dan pembentukan abses atau kista (Patil
S, 2010). Kista dapat terinfeksi, dan abses dapat berkembang dalam kelenjar.
Kista Bartolini tidak selalu harus terjadi sebelum abses kelenjar. Abses kelenjar
Bartolini adalah abses polimikrobial. Selain itu operasi vulvovaginal adalah
penyebab umum kista dan abses tersebut (Schorge, 2008).
Kista adalah kantung yang berisi cairan atau bahan semisolid yang
terbentuk di bawah kulit atau di suatu tempat di dalam tubuh. Kista
kelenjar Bartolin terjadi ketika kelenjar ini menjadi tersumbat. Kelenjar Bartolini
biasanya tersumbat karena berbagai alasan, seperti infeksi, peradangan atau iritasi
jangka panjang. Apabila saluran kelenjar ini mengalami infeksi maka saluran
kelenjar ini akan melekat satu sama lain dan menyebabkan timbulnya sumbatan.
Cairan yang dihasilkan oleh kelenjar ini kemudian terakumulasi, menyebabkan
kelenjar membengkak dan membentuk suatu kista (Schorge, 2008). Suatu abses
terjadi bila kista menjadi terinfeksi (Schorge, 2008).
Karena kelenjar terus menerus menghasilkan cairan, maka lama kelamaan
sejalan dengan membesarnya abses, tekanan di dalam abses semakin besar.
Dinding kelenjar

mengalami peregangan dan meradang (Patil S, 2010).

Demikian juga akibat peregangan pada dinding abses/kista, pembuluh darah pada
dinding abses/kista terjepit mengakibatkan bagian yang lebih dalam tidak
mendapatkan pasokan darah sehingga jaringan menjadi mati (nekrotik). Dibumbui
dengan kuman, maka terjadilah proses pembusukan, bernanah dan menimbulkan

rasa sakit. Karena letaknya di vagina bagian luar, abses akan terjepit terutama saat
duduk dan berdiri menimbulkan rasa nyeri yang terkadang disertai dengan demam
(Vorvick LJ, et al, 2010). Pasien berjalan mengegang ibarat menjepit bisul
diselangkangan (Patil S, 2010).
Penyebab sumbatan lain:
Non infeksi

Stenosis / atresia congenital

Trauma mekanik

Inspissated mucous
(Patil S, 2010)

Faktor Resiko
(Vorvick LJ, et al, 2010).

Biasanya terjadi pada wanita dengan nulipara atau paritas rendah.


Tingkat higiene buruk
Untuk beberapa wanita faktor risikonya adalah infeksi menular seksual
yang disebabkan oleh, misalnya, gonore
o Faktor resiko infeksi menular sexual duh vagina (gonore dan
chlamidia (2011)
Umur kurang dari 21 tahun (atau 25 tahun di beberapa

tempat)
Berstatus belum menikah
Mempunyai lebih dari satu pasangan seksual dalam 3 bulan

terakhir
Memiliki pasangan seksual baru dalam 3 bulan terakhir
Pasangan seksualnya mengalami IMS, dan
Belum berpengalaman menggunakan kondom.

1.5 Manifestasi Klinis

Manifestasi

klinis

pada

bartholinitis

ditandai

dengan

adanya

pembengkakan labium mayor yang terkena, merah dan nyeri tekan. Bila saluran
kelenjar tersumbat dapat timbul abses dan dapat pecah melalui mukosa atau kulit.
Kalau tidak diobati dapat menjadi rekuren atau menjadi kista (Djuanda, 2005).
Bengkak pada mula infeksi abses Bartolini cepat membesar dalam jangka waktu
beberapa jam hingga beberapa hari. Pembengkakan area vulva selama 2-4 hari.
Isinya cepat menjadi nanah yang dapat keluar melalui duktusnya, atau jika
duktusnya tersumbat, mengumpul di dalamnya dan menjadi abses yang kadangkadang dapat menjadi sebesar telur bebek (Patil S, 2010). Radang pada kelenjar
bartholin dapat terjadi berulang-ulang dan akhirnya dapat menjadi menahun
dalam bentuk kista bartholin (Guyton, 2006).
Indurasi biasa terjadi pada sekitar kelenjar, dan aktivitas seperti berjalan,
duduk atau melakukan hubungan seksual bisa menyebabkan rasa nyeri pada vulva
(Schorge, 2008).
1.6 Diagnosis
Pada anamnesa biasanya ditemukan gejala klinis nyeri yang akut disertai
pembengkakan labial unilateral, dyspareunia, nyeri pada waktu berjalan dan
duduk dan nyeri yang mendadak mereda, diikuti dengan timbulnya discharge
(sangat mungkin menandakan adanya ruptur spontan dari abses) (Margesson,
2010; Tri Endang, et al, 2010).
Data Objektif
a) Pada pemeriksaan vulva terdapat massa berfluktuasi berbatas tegas, steris,
lunak sangat nyeri tekan yang terletak lateral dan dapat posterior prenulum

labiorum pudendi, yang dikelilingi oleh jaringan merah dan nyeri tekanan
jelas. Labia majora sering edematosa (Ben-zion, 1994).
b) Pada sepertiga posterior labia, selalu ada kemerahan unilateral
pembengkakan nyeri terutama saat defekasi. Kadang-kadang pus keluar
dari duktus ekskretorius (permukaan dalam labium minus) atau perforasi
spontan (Ben-zion, 1994).
c) Benjolan dispareunia, terasa berat dan mengganggu koitus
d) Ciri lainnya, nyeri saat berhubungan lantaran terjadi pergesekan yang
mengakibatkan luka semakin hebat. Penderita radang pada alat reproduksi
juga akan merasa tidak nyaman, pegal-pegal dan nyeri di sekitar alat
reproduksi, misalnya selangkangan, paha dan panggul. Jika dilakukan
pemeriksaan fisik, terlihat vagina berwarna kemerahan.
Pemeriksaan Penunjang yang dapat dilakukan:
-

Pemeriksaan gram, untuk mengetahui bakteri penyebab


Hapusan darah tepi, untuk melihat adanya leukosit.
Kultur jaringan, untuk identifikasi jenis bakteri penyebab.
Biopsi dapat dilakukan pada kasus yang dicurigai keganasan
(Omele, 2003).
1.7 Diagnosis Banding
Kista duktus Bartholini dan abses glandular harus dibedakan dari massa
vulva lainnya. Pertumbuhan vulva pada wanita postmenopause harus dievaluasi
untuk kemungkinan terjadinya keganasan, khususnya jika massa irregular, nodular
dan indurasi persisten.
1. Kista bartolini
Kista bartolini biasanya asimtomatik sehingga pasien biasanya
datang dengan keluhan ada benjolan di daerah vagina. Akan tetapi jika
kista tumbuh lebih besar dari diameter 1 inci, dapat menyebabkan

10

ketidaknyamanan ketika duduk, atau selama hubungan seksual (Burns T,


2010).
Pemeriksaan fisik pada pasien dengan kista bartholini akan ditemukan :

Pasien tidak merasa kesakitan

Terdapat massa di labium minus unilateral, tanpa adanya tanda


peradangan.

Jika ukuranya besar dapat menyebabkan rasa sakit.

Discharge yang keluar dari kista yang ruptur bersifat nonpurulent


(Schecter, 2009).

Kista bartolini
2. Abses Bartholinitis
Abses Bartolini didefinisikan sebagai penghasilan pus yang membentuk
bengkak pada satu dari kelenjar Bartolini yang terletak di samping labia pada alat
kelamin wanita. Abses bartholin dapat timbul secara sepontan atau setelah adanya
kista bartholin yang tidak nyeri, dengan symptoms sebagai berikut :

Akut

Pembengkakan yang sangat nyeri pada labium mayor unilateral.

Nyeri pada waktu berjalan dan duduk.

Nyeri berkurang secara tiba-tiba, diikuti dengan keluarnya discharge


(terjadi ruptur sepontan) (Schecter, 2009).

Pemeriksaan fisik pada pasien dengan abses bartholini akan ditemukan :

Pasien tampak sangat kesakitan

Terdapat massa di labium minus unilateral yang erithema dan odem.

11

Pada beberapa kasus terdapat selulitis di sekitar abses.

Demam mungkin terjadi, tetapi tidak khas

Jika abses ruptur maka akan keluar discharge yang bersifat purulent
(Schecter, 2009).
3. Hidradenitis supurativa
Merupakan penyakit kronis yang ditandai dengan terbentuknya
abses, utamanya di daerah yang terdapat kelenjar apokrin. Daerah
predileksi hidradenitis supurativa adalah axilla, inguninal, dan perineum.
Untuk daerah vulva, hidradenitis suprativa paling banyak ditemukan di
labia majora dan lipatan intrakruris dengan gambaran berupa papul eritem
acneiform, nodul, berfluktuasi, dan nyeri. Pada beberapa kasus, nodul
subkutaneus yang nyeri dapat mengalami ulserasi dan menimbulkan duh
purulen (Amiruddin, et al, 2004).

Hidradenitis Supurativa
4. Kista sebaceous pada vulva sangat sering ditemukan. Kista sebaceous
ini merupakan suatu kista epidermal inklusi dan seringkali
asimptomatik (Amiruddin, et al, 2004). Jinak, mobile, kendur; terjadi
karena trauma atau obstruksi pada duktus pilosebaceous
5. Dysontogenic cysts merupakan kista jinak yang berisi mucus dan
berlokasi pada introitus atau labia minora. Terdiri dari jaringan yang
menyerupai mukosentrum, dan seringkali asimptomatik (Amiruddin, et
al, 2004).
1.8 Penatalaksanaan

12

Jika kistanya tidak besar dan tidak menimbulkan gangguan, tidak perlu
dilakukan tindakan apa-apa.
1. Bartholinitis

: Antibiotik spektrum luas

Pengobatan empirik penyakit menular seksual dengan antibiotik dianjurkan,


biasanya digunakan untuk mengobati infeksi gonococcal dan chlamydial.
Idealnya, antibiotik harus mulai diberikan secepatnya sebelum dilakukan insisi
dan drainase (Schecter, 2009). Analgesik juga dapat digunakan untuk meredakan
ketidaknyamanan, tetapi pada abses maupun kista yang bergejala dapat diatasi
dengan drainase (Amiruddin, et al, 2004).
Penggunaan antibiotik:
Antibiotik sesuai dengan bakteri penyebab yang diketahui secara pasti dari
hasil pewarnaan gram maupun kultur pus dari abses kelenjar bartholin. Hasil tes
ini baru dilihat setelah 48 jam kemudian, tetapi hal ini tidak dapat menunda
pengobatan.

Infeksi Neisseria gonorrhoe:


Ciprofloxacin 500 mg dosis tunggal atau Ofloxacin 400 mg dosis tunggal
atau Cefixime 400 mg oral ( aman untuk anak dan bumil) atau Cefritriaxon

200 mg i.m ( aman untuk anak dan bumil)


Infeksi Chlamidia trachomatis:
Tetrasiklin 4 X500 mg/ hari selama 7 hari, po atau Doxycyclin 2 X100 mg/

hari selama 7 hari, po


Infeksi Escherichia coli:
Ciprofoxacin 500 mg oral dosis tunggal, atau Ofloxacin 400 mg oral dosis

tunggal atau Cefixime 400 mg dosis tunggal.


Infeksi Staphylococcus dan Streptococcus :
Penisilin G Prokain injeksi 1,6-1,2 juta IU im, 1-2 x hari, Ampisilin 250500 mg/ dosis 4x/hari, atau Amoksisillin 250-500 mg/dosis 3x/hari po.
(Wiknjosastro, 1999)

13

2. Kista Bartholin

Kecil, asimptomatik dibiarkan

Simptomatis/rekuren pembedahan berupa insisi +word catheter


marsupialisasi
laser varporization dinding kista

3. Abses bartholin

Insisi (bedah drainase) + word catheter, ekstirpasi


Penanganan abses bartholin sama dengan penanganan kista bartholin
simtomatis, namun ada sedikit perbedaan. Prinsipnya berikan terapi antibiotik
spektrum luas, dan lakukan pemeriksaan kultur pus oleh karena ada kemungkinan
disebabkan gonorrhea atau Chlamydia.
Symptomatic kista duktus bartholin dan abses bartholin memerlukan
drainage kecuali kalau terjadi rupture spontan, abses jarang sembuh dengan
sendirinya (Wiknjosastro, 1999).
Insisi dan drainage abses

Tindakan ini dilakukan bila terjadi symptomatic Bartholin's gland


abscesses .

Sering terjadi rekurensi

14

Insisi abses
Definitive drainage menggunakan Word catheter
Word catheter biasanya digunakan ada penyembuhan kista duktus
bartholin dan abses bartholin. Panjang tangkai catheter 1 inchi dan mempunyai
diameter seperti foley catheter no 10. Balon Catheter hanya bias menampung 3 ml
normal saline (Wiknjosastro, 1999)

Marsupialisasi
Banyak literatur menyebutkan tindakan marsupialisasi hanya digunakan
pada kista bartholin. Namun sekarang digunakan juga untuk abses kelenjar
bartholin karena memberi hasil yang sama efektifnya. Marsupialisasi adalah suatu
tehnik membuat muara saluran kelenjar bartholin yang baru sebagai alternatif lain
dari pemasangan word kateter. Komplikasi berupa dispareuni, hematoma, infeksi

(Wiknjosastro, 1999)

15

1.9 Prognosis
Abses bartolini memberikan respon yang cukup baik pada pengobatan
dalam beberapa hari. Perbaikan yang sangat memuaskan ditunjukkan hanya 10%
pada kejadian abses yang rekuren pada masa yang akan datang. Sangat penting
menangani penyebab timbulnya abses seperti gonorhea, chlamydia, dan infeksi
bakteri lainnya. Kebanyakan prosedur operasi, selain insisi dan drainase, efektif
untuk mencegah infeksi yang rekuren (S Parvathi, 2009).
Pada beberapa kasus, terutama pada kasus diabetes atau wanita dengan
gangguan imunitas, necrotizing fasciitis yang mengancam jiwa dapat terjadi
(Omole, 2003).

16

BAB 2
TINJAUAN KASUS

2.1

Identitas Penderita
Nama

: Siumulyati

Jenis Kelamin

: Perempuan

Usia

: 23 tahun

Status

: Belum Menikah

Agama

: Islam

Suku Bangsa

: Jawa

Alamat

: Cepoko-KepuhKajang-Jombang

Pekerjaan

: Karyawan Pabrik

Agama

: Islam

Tanggal pemeriksaan : 4 Agustus 2016


RM
2.2

: 32-30-29

Anamnesa
2.2.1

Keluhan Utama

Bisul pada kemaluan


2.2.2

Riwayat Penyakit Sekarang :

17

Pasien datang ke poli kulit dan kelamin RSUD Jombang dengan


keluhan muncul bisul pada kemaluan sejak 2 hari yang lalu, bisul
berukuran sebesar kelereng dan disertai rasa panas dan nyeri, nyeri
terutama saat berjalan. Ukuran bisul agak mengecil dan nyeri berkurang
setelah bisul pecah dan keluar nanah disertai darah sejak kemaren. Pasien
mengaku sering keputihan warna putih, banyak dan bau. Pasien belum
menikah dan pernah melakukan hubungan sexual dengan pasangannya,
terakhir 2 hari yang lalu. Riwayat menstruasi teratur, riwayat pemakaian
pantyliners disangkal, riwayat pemakaian sabun kewanitaan disangkal.
2.2.3

Riwayat Penyakit Dahulu

: 3 bulan yang lalu pernah timbul

bisul di kemaluan- setelah 1 minggu sembuh dan beli salep sendiri.


2.2.4

Riwayat Penyakit Keluarga

: Tidak ada keluarga yang sakit

seperti ini.
2.2.5 Riwayat Alergi
- Alergi makanan disangkal
- Alergi obat-obatan disangkal
2.2.6 Riwayat Pengobatan
Obat Minum : Amoxicilin tablet Beli sendiri di apotek
Salep berwarna hitam ???
2.3

Pemeriksaan Fisik
2.3.1

Status Generalisata

Keadaan Umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Kepala

: Dalam batas normal

18

2.3.2

Leher

: Dalam batas normal

Thorax

: Dalam batas normal

Abdomen

: Dalam batas normal

Ekstremitas atas

: Dalam batas normal

Ekstremitas bawah

: Dalam batas normal

Genitalia Externa

: Lihat Status Dermatologi

Status Dermatologi
Et Regio 1/3 posterior labium mayor sinistra terdapat nodul (+) disertai
ulkus (+), pus(+), darah (+), nyeri (+), disertai dengan eritema dan
odematus.

19

2.4 Resume
Wanita 23 tahun datang ke poli kulit RSUD Jombang dengan keluhan bisul
pada daerah kemaluan, dialami sejak 2 hari yang lalu disertai nyeri terutama saat
berjalan, nyeri berkurang setelah bisul pecah dan mengeluarkan nanah. riwayat
demam (-), riwayat keputihan (+) berwarna putih, kental dan bau. Riwayat
menderita keluhan yang sama 3 bulan yang lalu dan setelah 1 minggu sembuh,
riwayat pengobatan sebelumnya yaitu obat minum amoxicillin tablet dan salep
berwarna hitam beli sendiri di apotek. Pada pemeriksaan fisik tampak keadaan
umum baik, composmentis, pemeriksaan tanda vital dalam batas normal.
Pemeriksaan genitalia eksterna tampak Pada 1/3 posterior labium mayor sinistra
terdapat nodul (+) , pus(+), darah (+), nyeri (+), disertai dengan eritema dan
odematus.
2.5

Diagnosis
Bartholinitis Sinistra

2.6

Diagnosa Banding

2.7

Abses Bartholin
Kista Bartholin

Planning
2.7.1

Planning Diagnosa
Tidak dilakukan
20

2.7.2

Planning Terapi

Oral :
Cefixime tablet 1 x 400 mg
Siclidon tablet 2 x 1
Mefinal 2 x 1
2.7.3

2.7.4

Planning Monitoring
Keluhan pasien
Efloresensi
Planning Edukasi
Memberitahukan kepada pasien tentang penyakit yang diderita
Mengajak pasangannya untuk memeriksakan diri apakah terinfeksi
PMS juga apabila terinfeksi sama-sama diobati sehingga tidak

terus menerus berulang dikemudian hari.


Tidak boleh berganti- ganti pasangan dalam berhubungan seksual.
Menjaga kebersihan alat kelamin dan PH Vagina tetap normal.
Kontrol kembali 7 hari kemudian untuk mengetahui perkembangan
penyakitnya dan tingkat kesembuhannya.

2.8

Prognosis
Dubia ad bonam

21

BAB 3
PEMBAHASAN

Dari identitas pasien didapatkan bahwa pasien berjenis kelamin wanita dan
belum menikah. Pada teori disebutkan bahwa Bartholinitis adalah infeksi pada
kelenjar bartholin dan kelenjar bartolini merupakan salah satu organ genitalia
eksterna pada wanita. Glandula ini homolog dengan glandula bulbourethralis
pada pria (Cunningham, 2005). Pasien berusia 23 tahun, hal ini sesuai dengan
teori bahwa Kebanyakan kasus terjadi pada wanita usia antara 20 sampai 30 tahun
dan Dua persen wanita mengalami abses Bartolini atau kista kelenjar (Schorge, et
al, 2008; Patil S, 2010).
Keluhan utama yaitu timbul bisul di kemaluan sejak 2 hari yang lalu,
bisul berukuran sebesar kelereng dan disertai rasa panas dan nyeri, nyeri terutama
saat berjalan. Keluhan pasien sesuai dengan teori yaitu Manifestasi klinis pada
bartholinitis ditandai dengan adanya pembengkakan labium mayor yang terkena,
merah dan nyeri tekan (Djuanda, 2005). Bengkak pada mula infeksi abses
Bartolini cepat membesar dalam jangka waktu beberapa jam hingga beberapa hari.
Pembengkakan area vulva selama 2-4 hari. Isinya cepat menjadi nanah yang dapat
keluar melalui duktusnya, atau jika duktusnya tersumbat, mengumpul di dalamnya
dan menjadi abses yang kadang-kadang dapat menjadi sebesar telur bebek (Patil
S, 2010).
Ukuran bisul agak mengecil dan nyeri berkurang setelah bisul pecah dan
keluar nanah disertai darah sejak kemaren. Sesuai dengan teori yaitu nyeri pada
waktu berjalan dan duduk dan nyeri yang mendadak mereda, diikuti dengan

22

timbulnya discharge (sangat mungkin menandakan adanya ruptur spontan dari


abses). Bila saluran kelenjar tersumbat dapat timbul abses dan dapat pecah
melalui mukosa atau kulit (Djuanda, 2005).
Pasien juga mengaku sering keputihan warna putih, banyak dan bau.
Pasien pernah melakukan hubungan sexual dengan pasangannya, terakhir 2 hari
yang lalu, coitus suspectus ( CS +). Pada teori disebutkan bahwa salah satu faktor
resiko bartholinitis adalah Infeksi menular seksual yang disebabkan oleh
misalnya, gonore (Vorvick LJ, et al, 2010). Sumber lain menyatakan penyakit
menular seksual seperti Gonore adalah penyebab paling umum terjadinya infeksi
pada kelenjar bartolini yang berujung pada terbentuknya kista dan abses, sifilis
ataupun infeksi bakteri lainnya juga dianggap menjadi penyebab terjadinya infeksi
pada kelenjar ini (Omole,2003). Selain bakteri diatas biasanya infeksi bartholin
disebabkan

oleh

polimikrobial.

Abses

kelenjar

Bartolini

adalah

abses

polimikrobial (Schorge, 2008), Jadi sebaiknya dilakukan pemeriksaan lebih lanjut.


Riwayat menstruasi teratur, riwayat pemakaian pantyliners disangkal, riwayat
pemakaian sabun kewanitaan disangkal.
Pada riwayat penyakit dahulu, 3 bulan yang lalu pasien pernah mengalami
hal serupa yaitu timbul bisul di kemaluan dan diberi salep beli sendiri di apotek
kemudian setelah 1 minggu bisul tersebut sembuh. Pada teori Dalam suatu
penelitian dilaporkan terdapat 13 % kasus yang mengalami rekurensi. Radang
pada kelenjar bartholin dapat terjadi berulang-ulang dan akhirnya dapat menjadi
menahun dalam bentuk kista bartholin. Kalau tidak diobati dapat menjadi rekuren
atau menjadi kista (Djuanda, 2005).

23

Pada status dermatologi didapatkan et Regio 1/3 posterior labium mayor


sinistra terdapat nodul (+) disertai ulkus (+), pus(+), darah (+), nyeri (+), disertai
dengan eritema dan odematus. Sesuai dengan teori Pada pemeriksaan vulva
terdapat massa berfluktuasi berbatas tegas, steris, lunak sangat nyeri tekan yang
terletak lateral dan dapat posterior prenulum labiorum pudendi, yang dikelilingi
oleh jaringan merah. Labia majora sering edematosa. Pada sepertiga posterior
labia, selalu ada kemerahan unilateral pembengkakan. Kadang-kadang pus keluar
dari duktus ekskretorius (permukaan dalam labium minus) atau perforasi spontan
(Ben-zion, 1994). Diagnosis pasien ini adalah Bartholinitis Sinistra dengan
diagnosis banding abses bartholin dan kista bartholin.
Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan penunjang. Menurut teori
omele (2003) menyatakan bahwa pemeriksaan yang dapat dilakukan yaitu
pemeriksaan gram untuk mengetahui bakteri penyebab, hapusan darah tepi untuk
melihat adanya leukosit. Kultur jaringan, untuk identifikasi jenis bakteri
penyebab. Biopsi dapat dilakukan pada kasus yang dicurigai keganasan
Teori lain menyebutkan antibiotik diberikan sesuai dengan bakteri
penyebab yang diketahui secara pasti dari hasil pewarnaan gram maupun kultur
pus dari abses kelenjar bartholin. Hasil tes ini baru dilihat setelah 48 jam
kemudian, tetapi hal ini tidak dapat menunda pengobatan (Wiknjosastro, 1999).
Sesuai dengan teori diatas pemeriksaan pengecatan gram dan kultur tidak
dapat menunda pengobatan maka pada pasien ini diberikan antibiotik spectrum
luas yaitu Cefixime tablet 1 x 400 mg, Siclidon tablet 2 x 1. Wiknjosastro (1999)
menyatakan bahwa Pengobatan empirik penyakit menular seksual dengan
antibiotik dianjurkan, biasanya digunakan untuk mengobati infeksi gonococcal

24

dan chlamydial. Infeksi Neisseria gonorrhoe: Ciprofloxacin 500 mg dosis tunggal


atau Ofloxacin 400 mg dosis tunggal atau Cefixime 400 mg oral ( aman untuk
anak dan bumil) atau Cefritriaxon 200 mg i.m ( aman untuk anak dan bumil) dan
Infeksi Chlamidia trachomatis: Tetrasiklin 4 X500 mg/ hari selama 7 hari, po atau
Doxycyclin 2 X100 mg/ hari selama 7 hari, po. Selain pemberian antibiotik
diberikan analgetik yaitu mefinal 500 mg tablet 2 x 1. Analgesik juga dapat
digunakan untuk meredakan ketidaknyamanan, tetapi pada abses maupun kista
yang bergejala dapat diatasi dengan drainase.
Prognosis penyakit pasien yaitu dubia ad bonam , seperti pada teori yaitu
Abses bartolini memberikan respon yang cukup baik pada pengobatan dalam
beberapa hari. Perbaikan yang sangat memuaskan ditunjukkan hanya 10% pada
kejadian abses yang rekuren (S Parvathi, 2009).
Dari tinjauan pustaka, penulis menyimpulkan pencegahan yang dapat
dilakukan untuk mencegah terjadinya bartholinitis yaitu menghindari hubungan
sexual yang beresiko seperti pada panduan IMS 2011 yaitu mempunyai lebih dari
satu pasangan seksual dalam 3 bulan terakhir, memiliki pasangan seksual baru
dalam 3 bulan terakhir,pasangan seksualnya mengalami IMS, dan belum
berpengalaman

menggunakan

kondom.

Tidak

berganti

pasangan

dan

menggunakan kondom dapat mengurangi kejadia IMS yang menjadi salah satu
faktor resiko terjadinya bartholinitis contohnya oleh gonore dan klamidia. Selain
kedua bekteri tersebut penyebab bartholinitis yaitu polimikrobial, sehingga perlu
menjaga kebersihan alat kelamin dan PH Vagina tetap normal. Vorvick LJ, et al
(2010) salah satu faktor resiko yaitu tingkat hygiene buruk.

25

BAB 4
KESIMPULAN
Telah dilaporkan kasus bartholinitis pada seorang wanita berusia 23 tahun.
Diagnosis ditegakkan anamnesis dan pemeriksaan fisik. keluhan bisul pada daerah
kemaluan, dialami sejak 2 hari yang lalu disertai nyeri terutama saat berjalan,
nyeri berkurang setelah bisul pecah dan mengeluarkan nanah. riwayat demam (-),
riwayat keputihan (+) berwarna putih, kental dan bau. Riwayat menderita keluhan
yang sama 3 bulan yang lalu dan setelah 1 minggu sembuh, riwayat pengobatan
sebelumnya yaitu obat minum amoxicillin tablet dan salep berwarna hitam beli
sendiri di apotek. Pada pemeriksaan fisik tampak keadaan umum baik,
composmentis, pemeriksaan tanda vital dalam batas normal. Pemeriksaan
genitalia eksterna tampak Pada 1/3 posterior labium mayor sinistra terdapat nodul
(+) , pus(+), darah (+), nyeri (+), disertai dengan eritema dan odematus.
Terapi yang diberikan adalah antibiotik spectrum luas yaitu Cefixime
tablet 1 x 400 mg, Siclidon tablet 2 x 1 dan analgesic yaitu mefinal 500 mg tablet
2 x 1. Prognosis pasien ini baik, abses bartolini memberikan respon yang cukup
baik pada pengobatan dalam beberapa hari.

26

DAFTAR PUSTAKA

1.

Ben-zion Taber, MD. Kapita selekta. Kedaruratan Obstetri & Ginecologi;


Alih bahasa; Teddy Supriyadi; Johanes Gunawan; Editor Melfiawati S, Ed 2,

Jakarta, EGC.1994
2. Prawirohardjo Sarwono, . Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka, Jakarta
2010. hal. 237.
3. Vorvick LJ, Storck S, Zieve D: Bartholins abscess, Medline plus: [Online].
2010

[cited

May

2010].

Available

from:

URL:www.nlm.nih.gov/medlineplus/ency/article/001489.htm
4. Schorge JO, Schaffer JI, Malvorson LM, et al. Cystic Vulvar Tumors In:
Williams Gynecology. China: Mc-Graw Hills Companies. 2008. p. 17231727.
5. Patil S, Sultah AH, Thakar R, et al: Bartholins Cyst and Abscess,
Patient.co.uk: [Online]. 2010 [cited 18 January 2010]. Available from:
URL:http://www.patient.co.uk/health/Bartholin%27s-Cyst-and-Abscess.htm
6. Guyton AC, Hall JE. Female Physiology Before Pregnancy and Female
Hormones In: Guytons Textbook. Philadelphia, Pennsylvania: Elsivier Inc.
2006. 11th ed. p. 1023.
7. S Parvathi, et all. Bartholinitis caused by Streptococcus pneumoniae : Case
report and review of literature. Indian journal of pathology and microbiology.
2009. 52(2): 265-266
8. Cunningham, F.G., MacDonald, P.C. (2005). Obstetri Williams. Jakarta: EGC.
9. Winkjosastro, H., Saifuddin, A.B., Rachimdani, T. (2002). Ilmu Kandungan.
Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
10. Djuanda A, Hamzah M. 2005, Bartholinitis, dalam : Ilmu Penyakit Kulit dan
Kelamin Edisi Lima. Penerbit FK UI; hal : 372.
11. Omole F, Simmsons BJ, Hacker Y. 2003. Management of Bartholin's Duct
Cyst and Gland Abscess, Viewed 17 Maret 2010
(www.obgynkorea.net/community/bbs/download.php?path...)

27

12. Schecter JC, 2009. Bartholin Gland Diseases, Viewed 17 Maret 2010
(http://emedicine.medscape.com/article/777112-overview)
13. Margesson LJ, et al., Disase and Disorder of The Female Genitalia, in
Fitzpatrick's dermatology in general medicine.Eight Edition. Goldsmith LA,
et al., Editors. 2012, The McGraw-Hill: USA. p. 1235, 1251.
14. Tri Endang, Dali Amiruddin Muhammad Mappiasse Alwi,Bartholins Abscess
Caused by Eschercia coli Case Report. Vol. 1 No. 1 2012 p: 68-72

28