Anda di halaman 1dari 85

LANDASAN FILOSOFIS DAN LANDASAN SOSIOLOGIS DALAM

PENDIDIKAN

LANDASAN FILOSOFIS DAN LANDASAN SOSIOLOGIS


DALAM PENDIDIKAN

Oleh
Evi Trisni Budi Utami

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan kesehatan dan
kemampuan kepada penulis untuk menyelesaikan karya tulis ini. Karya tulis ini penulis buat
dengan memperhatikan kaidah-kaidah penulisan karya tulis ilmiah
Karya tulis ini menyajikan serta membahas hal-hal yang berkaitan dengan landasan
pendidikan, khususnya Landasan Filosofis dalam Pendidikan dan Landasan Sosiologsi dalam
pendidikan.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis sangat menyadari atas keterbatasan pengetahuan dan
kemampuan yang penulis miliki, sehingga masih banyak terdapat kekurangan dan kelemahan
dalam pembuatannya. Karenanya, penulis memohon maaf dan mengharapkan kritik dan saran
dari pembaca.
Atas kritik dan saran yang telah diberikan, penulis mengucapkan terima kasih. Semoga
tulisan sederhana ini dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak, karena merupakan
kebahagiaan tersendiri bagi penulis apabila pengetahuan yang sedikit penulis miliki ini dapat
berguna tidak hanya bagi diri penulis pribadi tapi juga bagi orang lain.
arinda, Februari 2013
Penulis

DAFTAR ISI
HALAMAN COVER .........................................................................................................

KATA PENGANTAR.......................................................................................................... II
DAFTAR ISI........................................................................................................................

III

BAB I .................................................................................................................................

a.
b.
c.
d.

PENDAHULUAN...............................................................................................................

RUMUSAN MASALAH....................................................................................................

TUJUAN PENYUSUNAN MAKALAH............................................................................

MANFAAT PENYUSUNAN MAKALAH.........................................................................

BAB II.................................................................................................................................

LANDASAN FILOSOFIS DALAM PENDIDIKAN .......................................................

Landasan Filosofis Pendidikan ...........................................................................................

BAB II.................................................................................................................................

.7

LANDASAN SOSIOLOGIS DALAM PENDIDIKAN .....................................................

Pengertian Landasan Sosiologis Pendidikan ......................................................................

Konsep Dasar ....................................................................................................................


9
Isu Implementasi ................................................................................................................ 10
Analisis Solusi .................................................................................................................... 11
Implementasi Landasan Sosiologi ..................................................................................... 15
LAMPIRAN........................................................................................................................

16

DAFTAR PUSTAKA .........................................................................................................

IV

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu kegiatan yang bersifat umum bagi setiap manusia dimuka

bumi ini. Pendidikan tidak terlepas dari segala kegiatan manusia. Dalam kondisi apapun manusia
tidak dapat menolak efek dari penerapan pendidikan.
Sejak dahulu dari generasi ke generasi, walaupun berawal dari sesuatu yang sederhana,
sesungguhnya pendidikan sudah ada. Pengetahuan, pemahaman dan pengalaman tentang
pendidikan senantiasa perlu dipersegar dan diperkaya, mengingat ilmu, konsep tentang
pendidikan adalah hasil pemikiran manusia yang bersifat dinamis, berubah ubah karena
pengaruh situasi dan kondisi kehidupan umat manusia pada umumnya. konsep pendidikan selalu
mengalami perubahan seiring dengan tuntutan zaman dan peradaban umat manusia di dunia
dalam berbagai aspek kehidupan.
Pemahaman yang baik tentang hakikat pendidikan akan memperkaya wawasan dan
memantapkan kepercayaan diri si pendidik karena si pendidik memiliki pegangan yang kuat
dalam melakukan berbagai upaya pendidikan.
Menyadari peran penting pendidikan, maka langkah pertama yang harus dilakukan adalah
memahami terlebih dahulu konsep dan hakikat pendidikan. Pemahaman tentang konsep dan
hakikat pendidikan akan menyebabkan kita memahami peran, mendudukkannya, dan menilai
pendidikan secara proporsional.
B.

Rumusan Masalah
Dari permasalahan di atas, maka permasalahan yang diangkat dalam makalah ini

adalah Bagaimanakah landasan filosofis dan landasan sosiologis pendidikan ?


C.

Tujuan Penulisan Makalah


Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberi pemahaman kepada

pembaca mengenai landasan filosofis dan landasan sosiologis dalam pendidikan serta hal hal
yang terkandung didalamnya.
D.

Manfaat Penulisan Makalah

1. Untuk memudahkan pembaca dalam memahami landasan filosofis dalam pendidikan


2. Untuk memudahkan pembaca dalam memahami landasan sosiologis dalam pendidikan
3. Dapat mendorong keinginan pembaca untuk mengetahui lebih banyak dan mendalam
tentang landasan filosofis dan landasan sosiologis dalam pendidikan.

BAB II
A. LANDASAN FILOSOFIS DALAM PENDIDIKAN

Landasan Filosofis Pendidikan Ada tiga istilah yang terlebih dahulu perlu kita kaji dalam
rangka memahami pengertian landasan pendidikan, yaitu istilah landasan istilah filosofis dan
istilah pendidikan.
Di dalam Landasan Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995:260) istilah landasan diartikan
Adapun istilah landasan sebagai alas, dasar, atau tumpuan. dasar dikenal pula sebagai fundasi.
Mengacu kepada pengertian tersebut, kita dapat memahami bahwa landasan adalah suatu alas
atau dasar pijakan dari sesuatu hal; suatu titik tumpu atau titik tolak dari sesuatu hal;
Berdasarkan sifatatau suatu fundasi tempat berdirinya sesuatu hal. wujudnya terdapat dua
jenis landasan, yaitu landasan yang bersifat material, dan landasan yang bersifat konseptual.
Contoh landasan yang bersifat material antara lain berupa landasan pacu pesawat terbang dan
fundasi bangunan gedung. Adapun contoh landasan yang bersifat konseptual antara lain berupa
dasar Negara Indonesia yaitu Pancasila dan UUD RI Tahun 1945; landasan pendidikan, dan
sebagainya.
Landasan Dari contoh di atas telah Anda ketahui bahwa landasan pendidikan tergolong ke
dalam jenis landasan yang bersifat konseptual. Selanjutnya, mari kita kaji lebih lanjut pengertian
landasan yang Landasan yang bersifat konseptual pada bersifat konseptual tersebut. dasarnya
identik dengan asumsi, yaitu suatu gagasan, kepercayaan, prinsip, pendapat atau pernyataan yang
sudah dianggap benar, yang dijadikan titik tolak dalam rangka berpikir (melakukan suatu studi)
dan/atau dalam rangka bertindak (melakukan suatu praktek). Menurut Troy Wilson Organ,
asumsi dapat dibedakan dalam tiga macam, yaitu: Premis tersembunyi Postulat Aksioma
LandasanAksioma adalah asumsi yang diterimakebenarannya tanpa perlu pembuktian,
atausuatu

pernyataan

yang

kebenarannya

diterimasecara

universal.

Contoh:

dalam

hidupnyamanusia tumbuh dan berkembang. Terhadappernyataan ini tidak akan ada orang
yangmenyangkal kebenarannya, sebab kebenarannyadapat diterima secara universal tanpa
perludibuktikan lagi.
LandasanPostulat yaitu asumsi yang diterima kelompokorang tertentu atas dasar
persetujuan. Contoh:Perkembangan individu ditentukan oleh faktorhereditas maupun oleh
faktor pengaruhlingkungannya (pengalaman). Asumsi inidisetujui/diterima benar oleh
kelompok orangtertentu, tetapi tentu saja ditolak oleh kelompokorang lainnya yang menyetujui

asumsi bahwaperkembangan individu sepenuhnya ditentukanoleh faktor hereditas saja, atau oleh
faktorpengaruh lingkungan saja.
LandasanPremis Tersembunyi yaitu asumsi yang tidakdinyatakan secara tersurat yang
diharapkan dipahamiatau diterima secara umum. Premis tersembunyibiasanya merupakan premis
mayor dan premis minordalam silogisme yang tidak dinyatakan secaratersurat, dalam hal ini
pembaca atau pendengardiharapkan melengkapinya. Contoh: Armin perludididik (dinyatakan).
Dalam pernyataan ini terdapatpremis tersembunyi yang tidak dinyatakan, yaitusemua manusia
perlu dididik (premis mayor), danArmin adalah manusia (premis minor). makakesimpulanya
seperti pernyataan di atas adalahArmin perlu dididik.
Filosofis , berasal dari bahasa Yunani yang terdiri atas suku kata philein/philos yang
artinya cinta dan sophos/Sophia yang artinya kebijaksanaan, hikmah, ilmu, kebenaran. Secara
maknawi filsafat dimaknai sebagai suatu pengetahuan yang mencoba untuk memahami hakikat
segala sesuatu untuk mencapai kebenaran atau kebijaksanaan. Untuk mencapai dan menemukan
kebenaran tersebut, masing-masing filosof memiliki karakteristik yang berbeda antara yang satu
dengan lainnya. Demikian pula kajian yang dijadikan obyek telaahan akan berbeda selaras
dengan cara pandang terhadap hakikat segala sesuatu.
Manfaat

filsafat dalam kehidupan

adalah :

Sebagai dasar dalam mengambil dan

Sebagai dasar dalam bertindak. Untuk bersiap Untuk mengurangi salah paham dan konflik.
keputusan. Filosofisiaga menghadapi situasi dunia yang selalu berubah. pendidikan
Ajaran filsafat Keilmuan Beberapa ajaran filsafat yang telah mengisi dan tersimpan
dalam khasanah ilmu adalah: Materialisme, yang berpendapat bahwa kenyatan yang sebenarnya
adalah alam semesta badaniah. Aliran ini tidak mengakui adanya kenyataan spiritual. Aliran
materialisme memiliki dua variasi yaitu materialisme Idealisme yang berpendapat dialektik dan
materialisme humanistis. bahwa hakikat kenyataan dunia adalah ide yang sifatnya rohani atau
intelegesi. Variasi aliran ini adalah idealisme subjektif dan idealisme
berpendapat bahwa dunia batin/rohani objektif.

Realisme. Aliran ini

Pragmatisme dan dunia materi murupakan

hakitat yang asli dan abadi. merupakan aliran paham dalam filsafat yang tidak bersikap mutlak
(absolut) tidak doktriner tetapi relatif tergantung kepada kemampuan minusia.
Pendidikan adalah usaha sadar dan Pendidikan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya

untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan,


akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.
Landasan Filosofis Pendidikan Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa
landasan filosofis pendidikan adalah asumsi-asumsi yang bersumber dari filsafat yang menjadi
titik tolak dalam pendidikan. Ada berbagai aliran filsafat, antara lain: Idealisme, Realisme,
Pragmatisme, Pancasila, dsb.
Landasan Filosofis Pendidikan Berbicara tentang landasan filosofis pendidikan berarti
berkenaan dengan tujuan filosofis suatu praktik pendidikan sebagai sebuah ilmu. Oleh karena itu,
kajian yang dapat dilakukan untuk memahami landasan filosofis pendidikan adalah dengan
menggunakan pendekatan filsafat ilmu yang meliputi tiga bidang kajian yaitu ontologi,
epistimologi dan aksiologi. Menurut Tirtarahardja dan La Sulo (2005), landasan filosofis
bersumber dari pandangan- pandangan dalam filsafat pendidikan, menyangkut keyakinan
terhadap hakekat manusia, keyakinan tentang sumber nilai, hakekat pengetahuan, dan tentang
kehidupan yang lebih baik dijalankan.
Peranan Landasan FilosofisPendidikan Memberikan rambu-rambu apa dan bagaimana
seharusnya pendidikan dilaksanakan. Rambu- rambu tersebut bertolak pada kaidah metafisika,
epistemology dan aksiologi pendidikan sebagaimana Landasan filosofis pendidikanstudi dalam
filsafat pendidikan. tidaklah satu melainkan ragam sebagaimana ragamnya aliran filsafat. Sebab
itu, dikenal adanya landasan filosofis pendidikan Idealisme, Realisme, Pragmatisme, Pancasila,
dsb.
Contoh: Penganut Realisme antara lainberpendapat bahwa pengetahuan yang benar
diperoleh

manusia

melalui

pengalaman

dria.Implikasinya,

penganut

Realisme

mengutamakanmetode mengajar yang memberikan kesempatankepada para siswa untuk


memperoleh pengetahuan melalui pengalaman langsung(misal: melalui observasi, praktikum,
dsb.) ataupengalaman tidak langsung (misal: melalui membaca laporan-laporan hasil penelitian,
dsb).
Selain tersajikan berdasarkan aliran-alirannya,landasan filosofis pendidikan dapat pula
disajikanberdasarkan tema-tema tertentu. Misalnya dalamtema: Manusia sebagai Animal
Educandum (M.J.Langeveld, 1980), Man and Education (Frost, Jr.,1957), dll. Demikian pula,
aliran-aliran pendidikanyang dipengaruhi oleh filsafat, telah menjadi filsafatpendidikan dan atau

menjadi teori pendidikantertentu. Ada beberapa teori pendidikan yang sampaidewasa ini
mempunyai

pengaruh

yang

kuat

terhadap

praktek

pendidikan,

misalnya

aliran

empirisme,naturalisme, nativisme.

B.LANDASAN SOSIOLOGIS DALAM PENDIDIKAN

Pengertian Landasan Sosiologis Pendidikan


Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu, bahkan dua
generasi muda memperkembangkan diri. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga
sekolah yang dengan sengaja dibentuk oleh masyarakat. Perhatian sosiologi pada kegiatan
pendidikan semakin intensif. Dengan meningkatkan perhatian sosiologi pada kegiatan
pendidikan tersebut, maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan.Untuk terciptanya kehidupan
bermasyarakat yang rukun dan damai, terciptalah nilai-nilai sosial yang dalam perkembangannya
menjadi norma-norma sosial yang mengikat kehidupan bermasyarakat dan harus dipatuhi oleh
masing-masing anggota masyarakat.
Dalam kehidupan bermasyarakat dibedakan tiga macam norma yang dianut oleh
pengikutnya:
(1) paham individualisme,
(2) paham kolektivisme,
(3) paham integralistik.
Paham individualisme dilandasi teori bahwa manusia itu lahir merdeka dan hidup
merdeka. Masing-masing boleh berbuat apa saja menurut keinginannya masing-masing, asalkan
tidak mengganggu keamanan orang lain. Dampak individualisme menimbulkan cara pandang
lebih mengutamakan kepentingan individu di atas kepentingan masyarakat. Dalam masyarakat
seperti ini, usaha untuk mencapai pengembangan diri, antara anggota masyarakat satu dengan
yang lain saling berkompetisi sehingga menimbulkan dampak yang kuat selalu menang dalam
bersaing dengan yang kuat sajalah yang dapat eksis. Berhadapan dengan paham di atas adalah
paham kolektivisme yang memberikan kedudukan yang berlebihan kepada masyarakat dan
kedudukan anggota masyarakat secara perseorangan hanyalah sebagai alat bagi masyarakatnya.

dalam masyarakat yang menganut paham integralistik; masing-masing anggota masyarakat


saling

berhubungan

erat

satu sama

lain

secara

organis

merupakan

masyarakat.

Landasan sosiologis pendidikan di Indonesia menganut paham integralistik yang bersumber dari
norma kehidupan masyarakat:
(1) kekeluargaaan dan gotong royong, kebersamaan, musyawarah untuk mufakat,
(2) kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat,
(3) negara melindungi warga negaranya,
(4) selaras serasi seimbang antara hak dan kewajiban.
Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia tidak hanya meningkatkan kualitas manusia
orang

perorang

melainkan

juga

kualitas

struktur

masyarakatnya.

Dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan
meliputi empat bidang, yaitu:
1. Hubungan system pendidikan dengan aspek masyarakat lain, yang mempelajari:
a. Fungsi pendidikan dalam kebudayaan
b. Hubungansistem pendidikan dan proses control social dan system kekuasaan.
c. Fungsi system pendidikan dala memelihara dan mendorong proses social dan perubahan
kebudayaan
d. Hubungan pendidikan dengan kelas social atau system status
e. Fungsionalisme system pendidika formal dalam hubungannya dengan ras, kebudayaan, atau
kelompok-kelompok dalam masyarakat.
2. Hubungan kemanusian di sekolah yang meliputi:
a. Sifat kebudayaan sekolah khususnya yang berbeda dengan kebudayaan di luar sekolah
b. Pola interaksi social atau sruktur masyarakat sekolah.
3. pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya, yang mempelajari:
a. Peranan social guru
b. Sifat kepribadian guru
c. Pengaruh kepribadian guru terhadap tingkah laku siswa

d. Fungsi sekolah dalam sosialisasi anak-anak


4. sekolah dalam komunitas yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan kelompok
social lain didalam komunitasnya, yang meliputi:
a. Pelukisan tentang komunitas seperti tampak dalam pengaruhnya terhadap organisasi sekolah
b. Analisis tentang proses pendidikan seperti tampak terjadi pada system social komunitas kaum
tidak terpelajar
c. Hubungan antara sekolah dan komunitas dalam fungsi kependidikannya
d. Factor-faktor demografi dan ekologi dalam hubungannya dengan organisasi sekolah.

a.

Konsep Dasar
Yang menjadi dasar dari ilmu sosiologis adalah bahwa manusia selalu hidup dalam

kelompok. sosiologi adalah ilmu yang mempelajari bagaimana manusia itu berhubungan satu
dengan yang lain dalam kelompoknya dan bagaimna susunan unit-unit masyarakat atau sosial di
suatu wilayah serta kaitannya satu dengan yang lain (Made Pidarta, 2009).
Demikian juga dalam pendidikan, selalu melibatkan manusia dalam hubungan kelompok.
Hal ini sejalan dengan pendapat Umar Tirtarahardja dan La Sulo (2005;95) bahwa kegiatan
pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu, bahkan dua generasi yang
memungkinkan generasi muda dapat mengembangkan diri. Adapun bentuk-bentuk hubungan
sosial dalam pendidikan meliputi :
(1). interaksi guru-siswa;
(2). dinamika kelompok di kelas dan di organisasi intra sekolah;
(3). struktur dan fungsi sistem pendidikan dan
(4). sistem masyarakat dan pengaruhnya terhadap pendidikan. (Wuradji dalam Made Pidarta,
2009)
Olehnya itu penyelenggaraan pendidikan haruslah memasukkan unsur-unsur hubungan
sosial manusia sehingga baik dalam proses maupun hasilnya, pendidikan dapat mempertahankan
dan meningkatkan keselarasan hidup dan pergaulan peserta didik sebagai objek dari pendidikan.

b. Isu Implementasi
Seperti yang telah disinggung didalam konsep dasarnya, bahwa penggunaan sosiologis
sebagai landasan pendidikan adalah untuk menerapkan prinsip-prinsip hubungan sosial didalam
penyelanggaraan pendidikan. Hal ini sangatlah penting karena kesosialan merupakan salah satu
dimensi kemanusiaan yang dimiliki semua orang.
Kata kunci dalam dimensi kesosialan manusia adalah komunikasi dan kebersamaan
(Prayitno;2009), namun dalam kenyataannya, model pembelajaran yang diterapkan belumlah
mengakomodir komunikasi dan kebersamaan secara optimal. model-model pembelajaran yang
banyak digunakan dalam pendidikan saat ini hanyalah model pembelajaran didalam ruangan saja
(kelas, laboratorium IPA laboratorium komputer, perpustakaan dan sebagainya) tidak lebih dari
itu. Sehingga kemudian komunikasi dan kebersamaan yang terjadi hanyalah antara guru dengan
murid dan dengan sesama murid. Sedangkan masyarakat sebagai bagian inti dari dimensi
kesosialan seseorang belum mendapat porsi yang lebih untuk dajadikan objek dan partner dalam
pendidikan.
c.

Analisis Solusi
Memasukkan

nilai-nilai sosial dalam penyelenggaraan pendidikan adalah suatu

keharusan, karena dimensi kesosialan adalah salah satu dimensi yang dimiliki manusia. Dalam
pembelajaran dengan model konvensional selama ini memang sudah terdapat nilai-nilai sosial,
hanya belumlah optimal karena masyarakat belumlah atau masih sangat jarang dilibatkan dalam
model pembelajaran.
Untuk mentaktisi hal tersebut, pembelajaran dapat menggunakan model experience
learning yakni model pembelajaran yang menekankan prinsip pengalaman dalam proses belajar.
Metode seperti ini dapat dilaksanakan dengan cara melibatkan peserta didik perlu dalam
kegiataan-kegiatan kemasyarakatan yang terkait dengan materi yang mereka telah dipelajari
disekolah, misalnya untuk materi Musyawarah untuk Mufakat dan Gotong Royong dalam mata
pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, peserta didik perlu dilibatkan dalam
kegiatan musyawarah dan kegiatan kerja bakti yang dilaksanakan oleh masyarakat disekitar
sekolah tersebut.
Dengan cara yang demikian peserta didik dapat merasakan makna dari sebuah hubungan
sosial secara lebih riil karena selain memperoleh pemahaman secara konseptual disekolah, juga

telah melaksanakannya dalam bentuk praktek. Dan untuk melaksanakan model pembelajaran
seperti ini terlebih dahulu harus terjalin hubungan yang baik antara pihak sekolah dan
masyarakat di sekitar sekolah.
Kegiatan pendidikan merupakan suatu proses interaksi antara dua individu, bahkan dua
generasi muda memperkembangkan diri. Kegiatan pendidikan yang sistematis terjadi di lembaga
sekolah yang dengan sengaja dibentuk oleh masyarakat. Perhatian sosiologi pada kegiatan
pendidikan semakin intensif. Dengan meningkatkan perhatian sosiologi pada kegiatan
pendidikan tersebut, maka lahirlah cabang sosiologi pendidikan.Untuk terciptanya kehidupan
bermasyarakat yang rukun dan damai, terciptalah nilai-nilai sosial yang dalam perkembangannya
menjadi norma-norma sosial yang mengikat kehidupan bermasyarakat dan harus dipatuhi oleh
masing-masing anggota masyarakat.
Dalam kehidupan bermasyarakat dibedakan tiga macam norma yang dianut oleh
pengikutnya:
(1) paham individualisme,
(2) paham kolektivisme,
(3) paham integralistik.
Paham individualisme dilandasi teori bahwa manusia itu lahir merdeka dan hidup merdeka.
Masing-masing boleh berbuat apa saja menurut keinginannya masing-masing, asalkan tidak
mengganggu keamanan orang lain. Dampak individualisme menimbulkan cara pandang lebih
mengutamakan kepentingan individu di atas kepentingan masyarakat. Dalam masyarakat seperti
ini, usaha untuk mencapai pengembangan diri, antara anggota masyarakat satu dengan yang lain
saling berkompetisi sehingga menimbulkan dampak yang kuat selalu menang dalam bersaing
dengan yang kuat sajalah yang dapat eksis. Berhadapan dengan paham di atas adalah paham
kolektivisme yang memberikan kedudukan yang berlebihan kepada masyarakat dan kedudukan
anggota masyarakat secara perseorangan hanyalah sebagai alat bagi masyarakatnya. dalam
masyarakat yang menganut paham integralistik; masing-masing anggota masyarakat saling
berhubungan

erat

satu

sama

lain

secara

organis

merupakan

masyarakat.

Landasan sosiologis pendidikan di Indonesia menganut paham integralistik yang bersumber dari
norma kehidupan masyarakat: (1) kekeluargaaan dan gotong royong, kebersamaan, musyawarah

untuk mufakat, (2) kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat, (3) negara
melindungi warga negaranya, dan (4) selaras serasi seimbang antara hak dan kewajiban. Oleh
karena itu, pendidikan di Indonesia tidak hanya meningkatkan kualitas manusia orang perorang
melainkan juga kualitas struktur masyarakatnya.
Dalam sistem pendidikan. Ruang lingkup yang dipelajari oleh sosiologi pendidikan
meliputi empat bidang, yaitu:
1. Hubungan system pendidikan dengan aspek masyarakat lain, yang mempelajari:
a. Fungsi pendidikan dalam kebudayaan
b. Hubungansistem pendidikan dan proses control social dan system kekuasaan.
c. Fungsi system pendidikan dalam memelihara dan mendorong proses sosial dan perubahan
kebudayaan
d. Hubungan pendidikan dengan kelas social atau system status
e. Fungsionalisme system pendidika formal dalam hubungannya dengan ras, kebudayaan, atau
kelompok-kelompok dalam masyarakat.
2. Hubungan kemanusian di sekolah yang meliputi:
a. Sifat kebudayaan sekolah khususnya yang berbeda dengan kebudayaan di luar sekolah
b. Pola interaksi social atau sruktur masyarakat sekolah.
3. pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya, yang mempelajari:
a. Peranan social guru
b. Sifat kepribadian guru
c. Pengaruh kepribadian guru terhadap tingkah laku siswa
d. Fungsi sekolah dalam sosialisasi anak-anak
4. sekolah dalam komunitas yang mempelajari pola interaksi antara sekolah dengan
kelompok sosial lain didalam komunitasnya, yang meliputi:
a. Pelukisan tentang komunitas seperti tampak dalam pengaruhnya terhadap organisasi sekolah
b. Analisis tentang proses pendidikan seperti tampak terjadi pada system social komunitas kaum
tidak terpelajar

c. Hubungan antara sekolah dan komunitas dalam fungsi kependidikannya


d. Factor-faktor demografi dan ekologi dalam hubungannya dengan organisasi sekolah.
Keempat bidang yang dipelajari tersebut sangat esensial sebagai saran untuk
memahami system pendidikan dalam kaitannya dengan keseluruhan hidup masyarakat. Kajian
sosiologi tentang pedidikan pada prinsipnya mencakup semua jalur pendidikan, baik pendidikan
sekolah maupun pendidikan luar sekolah, terutama apabila di tinjau dari sosiologi maka
pendidikan
keluarga adalah sangat penting karena keluarga merupakan lembaga social yang pertamabagi
setiap manusia. Pross sosialisasi akan dimulai dari keluarga. Perlu ditegaskan bahwa pemerintah
mengakui kemandirian keluarga untuk melaksanakan upaya pendidikan dalam lingkungannya
sendiri. Meskipun pendidikan formal telah mengambil sebagian tugas keluarga dalam mendidik
anak, tetapi pengaruh keluarga tetap penting sebab keluarga merupakan lembaga social yang
pertama dikenal oleh anak.dalam keluarga dapat ditanamkan nilai dan sikap yang dapat
mempengaruhi perkembangan anak selanjutnya. Perubahan fungsi keluarga, pola hubungan
orang tua dan anak didala keluarga. Komposisi keanggotaan dalam keluarga, keberadaan orang
tua (bapak/ibu) dalam keluarga, dan perbedaan kelas social keluarga diperkirakan tetap
berpengaruhterhadap

perkembangan

anak

(Mutyahardjo,

dalam

Tirtahardja,2005:96).

b. Masyarakat Indonesia sebagai landasan sosiologis Sistem pendidikan Nasional (Sikdiknas)


Masyarakat mencakup sekelompok orang yang berinteraksi antarsesamanya, saling tergantung
dan terikat oleh nilai dan norma yang dipatuhi bersama, serta pada umumnya bertempat tinggal
diwilayah tertentu, adakalanya mereka mempunyai hubungan darah atau memiliki kepentingan
bersama. Masyarakat dpat merupakan satu kesatuan hidup dalam arti luas maupun dalam arti
sempit, seperti masyarakat bangsa maupun kesatuan kelompok keakraban disuatu desa, dalam
satu marga. Masyarakat dalam arti luas pada umumnya lebig abstrak apabila di bandingkan
dengna masyarakat dalam arti sempit. Masyarakat sebagai kesatuan hidup memiliki ciri-ciri
utama

antara

a.

Ada

interaksi

lain:
antar

warga-warganya

b. Pola tingkah laku warganya diatuf oleh adat istiadat, norma-norma hukum dan aturan-aturan
yang
c.

khas
Ada

rasa

identitas

kuat

yang

mengikat

pada

warganya

c.

Implementasi

Landasan

Sosiologis

Masyarakat Indonesia setelah kemerdekaan, utamanya pada zaman pemerintahan orde baru telah
banyak perubahan. Sebagai masyarakat majemuk, maka komunitas dengan ciri-ciri unik baik
secara horizontal maupun vertical masih dapat ditemukan. Demikian pula halnya dengan sifatsifat dasar dari zaman penjajahan belum terhapus seluruhnya. Namun dengan niat politik yang
kuat menjadi suatu masyarakat bangsa Indonesia serta dengan kemajuan dalam berbagai bidang
pembangunan. Berbagai upaya yang dilakukan, baik melalui jalur sekolah ( seperti mata
pelajaran PKn, pendidikan sejarah, dll) maupun jalur pendidikan luar sekolah (penataran, P4,
Pemasyarakaatn P4 non penaratan dll) telah mulai menumbuhkan benih-benih persatuan dan
kesatuan yang okoh, berbagai upaya tersebut dilaksanakan dengan tidak mengabaikan kenyataan
tentang kemajemukan masyarakat Indonesia. Hal terakhir tersebut kini makin mendapat
perhatian yag semestinya dengan antara lain memasukkannya muatan local di dalam kurikulum
sekolah. Muatan local yang didasarkan pada kebhinekaan masyaraka Indonesia. Dengan
demikian akan dapat diwujudkan manusia Indonesia dengan wawasan nusantara dan berjiwa
nasional akan tetapi memahami dan menyatu dengan lingkungan.
Memasukkan nilai-nilai sosial dalam penyelenggaraan pendidikan adalah suatu keharusan,
karena dimensi kesosialan adalah salah satu dimensi yang dimiliki manusia. Dalam pembelajaran
dengan model konvensional selama ini memang sudah terdapat nilai-nilai sosial, hanya belumlah
optimal karena masyarakat belumlah atau masih sangat jarang dilibatkan dalam model
pembelajaran.
Untuk mentaktisi hal tersebut, pembelajaran dapat menggunakan model experience learning
yakni model pembelajaran yang menekankan prinsip pengalaman dalam proses belajar. Metode
seperti ini dapat dilaksanakan dengan cara melibatkan peserta didik perlu dalam kegiataankegiatan kemasyarakatan yang terkait dengan materi yang mereka telah dipelajari disekolah,
misalnya untuk materi Musyawarah untuk Mufakat dan Gotong Royong dalam mata pelajaran
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, peserta didik perlu dilibatkan dalam kegiatan
musyawarah dan kegiatan kerja bakti yang dilaksanakan oleh masyarakat disekitar sekolah
tersebut.

C. Landasan Kultural Pendidikan

Pendidikan selalu terkait dengan manusia, sedang setiap manusia


selalu menjadi anggota masyarakat dan pendukung kebudayaan tertentu.
Oleh karena itu, dalam UU-RI No. 2 Tahun 1989 Pasal 1 Ayat 2 ditegaskan
bahwa yang dimaksudkan dengan Sistem Pendidikan Nasional adalah
pendidikan yang berakar pada kebudayaanbangsa Indonesia dan yang
berdasarkan
mempunyai

Pancasila

dan

hubungan

dilestarikan/dikembangkan

UUD

1945.

timbal

balik,

dengan

jalan

Kebudayaan
sebab

dan

pendidikan

kebudayaan

mewariskan

kebudayaan

dapat
dari

generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baik secara informal


maupun

secara

formal.

Sebaliknya

bentuk,

ciri-ciri

dan

pelaksanaan

pendidikan itu ikut ditentukan oleh kebudayaan masyarakat di mana proses


pendidikan itu berlangsung. Dimaksudkan dengan kebudayaan adalah hasil
cipta dan karya manusia berupa norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan,
tingkah laku, dan teknologi yang dipelajarin dan dimiliki oleh semua anggota
masyarakat tertentu.

a.
Pengertian tentang Landasan Kultural
Kebudayaan sebagai gagasan dan karya manusia beserta hasil budi
dan karya itu akan selalu terkait dengan pendidikan, utamanya belajar.
Kebudayaan dalam arti luas tersebut dapat berwujud :
1) Ideal seperti ide, gagasan, nilai, dan sebagainya.
2) Kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan
3) Fisik yakni benda hasil karya manusia.
Kebudayaan dapat dibentuk, dilestarikan, atau dikembangkan melalui
pendidikan. Baik kebudayaan yang berwujud ideal, atau kelakuan dan
teknologi, dapat diwujudkan melalui proses pendidikan.
Sebagai contoh dalam penggunaan bahasa, setiap masyarakat dapat
dikatakan mengajarkan kepada anak-anak untuk mengatakan sesuatu,
kapan hal itu dapat dikatakan, bagaimana mengatakannya, dan kepada
siapa

mengatakannya.

Contoh

lain,

setiapa

masyaratkat

mempunyai

persamaan dan perbedaan dalam berpakaian. Dalam kaitan dengan pakaian,


anak harus mempelajari dari anggota masyarakat yang lain tentang cara
menggunakan pakaian tertentu dari dalam peristiwa apa pakaian tertentu
dapat dipakai. Dengan mempelajari tingkah laku yang dapat diterima dan
kemudian menerapkan sebagai tingkah lakunya sendiri menjadikan anak
sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, anak-anak harus diajarkan
polapola tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku di
dalam masyarakat. Dengan kata lain, fungsi pokok setiap sisitem pendidikan
adalah untuk mengajarkan anak-anak pola-pola tingkah laku yang essensial
tersebut.
Cara-cara untuk mewariskan kebudayaan, khususnya mengajarkan
tingkah laku kepada generasi baru, berbeda dari masyarakat ke masyarakat.
Pada dasarnya ada tiga cara umum yang dapat diidentifikasikan, yaitu
informal, nonformal, dan formal. Cara informal terjadi di dalam keluarga, dan
nonformal dalam masyarakat yang berkelanjutan dan berlangsung dalam
kehidupan sehari-hari. Sedangkan cara formal melibatkan lembaga khusus
yang

dibentuk

untuk

tujuan

pendidikan.

Pendidikan

formal

tersebut

dirancang untuk mengarahkan perkembangan tingkah laku anak didik. Kalua


masyarakat hanya mentransmisi kebudayaan yang mereka miliki kepada
generasi penerus maka tidak akan diperoleh kemajuan.
Oleh sebab itu, anggota masyarakat tersebut berusaha melakukan
perubahan-perubahan yang disesuaikan dengan kondisi baru sehingga
terbentuklah pola tinkah laku, nilai-nilai, dan norma-norma baru yang sesuai
dengan tuntutan perkembangan masyarakat. Usaha-usaha menuju pola
tingkah laku, norma-norma dan nilai-nilai baru ini disebut transformasi
kebudayaan. Lembaga social yang lazim digunakan sebagai alat transmisi
dan

transformasi

kebudayaan

adalah lembaga

pendidikan,

utamanya

sekolah dan keluarga.


Pada masyarakat primitive, transmisi kebubayaan dilakukan secar
informal dan nonformal, sedangkan pada masyarakat yanf telah maju
transmisi kebudayaan dilakukan secara informal, nonformal dan formal.

Pemindahan kebudayaan secar formal ini melalui lembaga-lembaga social,


utamanya sekolah. Pada masyarakat yang sudah maju, sekolah sebagai
lembaga social mempunyai peranan penting sebab pendidikan tidak hanya
berfungsi untuk mentransmisi kebudayaan kepada generasi penerus, tetapi
pendidikan juga berfungsi untuk mentransformasikan kebudayaan agar
sesuai dengan perkembangan dan tujuan zaman. Dengan kata lain, sekolah
secara seimbang melaksanakan fungsi ganda pendidikan, yakni sebgai
proses sosialisasi dan sebgai agen pembaruan. Perlu dikemukakan bahwa
dalam

bidang

pendidikan,

kedua

fungsi

tersebut

kadang-kadang

dipertentangkan, antara penganut pendidikan sebagai pelestarian (teaching


a conserving activity) dan penganut pendidikan sebagai pembaruan
(teaching as a subversive activity). Yang pertama mengutamakan sosialisasi,
bahkan kalau perlu domestikasi, sedangkan yang kedua mengutamakan
pengembangan atau agen pembaruan.
Seperti diketahui, pendidikan di Indonesia tidak memihak salah satu
kutub pendapat tersebut, akan tetapai mengutamakan keseimbangan,
keserasian, dan keselarasan antara aspek pelestarian nilai-nilai luhur socialkebudayaan dab aspek pengenbangan agar tetap jaya. Hal itu semakin
penting apabila

diingat

bahwa

kemajuan teknologi komunikasi telah

menyebabkan datangnya pengaruh kebudayaan dari luar semakin deras.

b.

Kebudayaan Nasional sebagai Landasan Sistem Pendidikan Nasional


(Sisdiknas)
Seperti telah dikemukakan, yang dimaksud dengan sisidiknas adalah
pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia. (UU-RI No.
2/1989) Pasal 1 Ayat 2. Karena masyarakat Indonesia sebagai pendukung
kebudayaan itu adalah masyarakat yang majemuk, maka kebudayaan
bangsa

Indonesia

tersebut

lebih

tepat

disebut

sebagai

kebudayaan

Nusantara yang beragam. Puncak-puncak kebudayaan Nusantara itu dan


yang diterima secara nasional disebut kebudayaan nasional. Oleh karena itu,
kebudayaan nasional haruslah dipandang dalam latar perkembangan yanag

dinamis seiring dengan semakin kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa


Indonesia sesuai dengan asa bhineka tunggal ika.
Pada awal perkembangannya, suatu kebudayaan terbentuk berkat
kemampuan manusia mengatasi kehidupan alamiahnya dan kesengajaan
manusia menciptakan lingkungan yang cocok bagi kehidupannya. Setiap
individu yang lahir selalu memasuki lingkungan kebudayaan dan lingkungan
alamiah

itu,

dan

menghadapi

dua

system

sekaligus

yaitu

system

kebudayaan dan system linmgkungan alam. Individu dalam masyarakat


modern

sangat

dipengaruhi

oleh

besar

dan

kompleksnya

kehidupan

masyarakat modern dan kecanggihan kebudayaannya. Ini berarti bahwa


individu hanya dapat hidup dalam masyarakat atau kebudayaan modern,
apabila ia mau dan mampu belajar terus menerus.
Salah satu upaya penyesuaian pendidikan jalur sekolah dengan
keragaman latar belakng social budaya di Indonesia adalah dengan
memberlakukan muatan local di dalam kurikulum sekolah, utamanya di
sekolah dasar (SD). Kebijakan ini bukan hal baru, karena gagasannya telah
berlaku sejak dulu, umpamanya dengan pengajaran bahasa daerah dan atau
penggunaan bahasa daerah di dalam proses belajar mengajar. Keragaman
social budaya tersebut terwujud dalam keragaman adat istiadat, tata cara,
dan tata karma pergaulan, kesenian, bahasa, dan sastra daerah, maupun
kemahiran dan keterampilan yang tumbuh dan terpelihara di suatu daerah
tertentu. Keanekaragaman itu sejak awal kemerdekaan telah mencoraki
kurikulum sekolah, utamanya sekolah dasar, dengan berbagai variasi yakni
mulai sebagai mata pelajaran (umpama bahasa daerah) ataupun sebagai
bagian dari bahan ajaran dan atau cara penyampaiannya. Pelestarian dan
pengembangan kekayaan yang unik dari setiap daerah itu melalui upaya
pendidikan sebagai wujud dari kebhinekaan masyarakat dan bangsa
Indonesia. Hal ini haruslah dilaksanakan dalam kerangka pemantapan
kesatuan dan persatuan bangsa dan negara Indonesia sebagai sisi ketunggal
ika-an.

Beberapa tahun terakhir ini, makin kuat pendapat bahwa pendidikan


seharusnya lebih diupayakan agar lebih menjamin adanya rasa keterikatan
antara peserta didik dengan lingkungannya. Peserta didik diharapkan tidak
hanya mengenal lingkungannya (alam, social, dan budaya) akan tetapi juga
mau dan mampu mengembangkannya. Oleh Karen aitu, sebagai contoh,
muatan local dalam kurikulum tidak hanya sekedar meneruskan minat akan
kemahiran

yang

ada

di

daerah

tertentu,

tetapi

juga

serentak

memperbaiki/meningkatkannya sesuai dengan perkembangan iptek/seni dan


atau

kebutuhan

masyarakat.

Dengan

demikian,

kurikulum

ikut

memutakhirkan kemahiran local (mengukir, melukis, menenun, menganyam,


dan sebagainya) sehingga sesuai dengan kemajuan zaman, dan serentak
dengan itu, membuka peluang tersedianya lapangan kerja bagi peserta didik
yang bersangkutan (umpama bidang kerajinan) dengan memanfaatkan
sumber-sumber yang tersedia di lingkungannya.
Sebagai salah satu faktor yang ikut menentukan kelangsungan hidup
suatu masyarakat adalah kesanggupan dan kemampuan anggotanya untuk
mendukung nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.
Pendidikan sebagai sub-sistem masyarakat mempunyai peranan mewariskan, memelihara dan sekaligus sebagai agen pembaharuan kebudayaan.
Pendidikan dapat dikonsepkan sebagai proses budaya manusia. Kegiatanya
dapat berwujad sebagai upaya yang dipikirkan, dirasakan dan dikehendaki
manusia. Pada dasarnya pendidikan merupakan unsur dan peristiwa budaya.
Pendidikan

melibatkan

sekaligus

kiat

dan

disiplin

pengetahuan

mempengaruhi manusia belajar. Pendidikan merupakan proses budaya, yakni


generasi manusia berturut-turut mengambil peran sehingga menghasilkan
peradaban masa lampau dan mengambil peranan di masa kini dan mampu
menciptakan peradaban di masa depan.
Dengan kata lain pendidikan memiliki tiga peran, sebagai pewarisan,
sebagai pemegang peran dan sebagai pemberi kortribusi. Dengan demikian
dapat dipahami pendidikan sebagai aset untuk pemeliharaan masa lampau,

penguatan individu dan masyarakat yang sekarang serta sebagai penyiapan


manusia berperan di masa datang. Pendidikan sebagai proses upaya
pemeliharaan dan peran dalam membangun peradaban dan pendidikan
tidak terbatas pada benda-benda yang tampak Seperti bangunan fisik,
melainkan meliputi: gagasan, perasaan dan kebiasaan, peran dan alam
kehidupan sekarang juga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masa yang
akan datang, karena pemeliharaan peradaban manusia merupakan tugas
tanpa akhir.
Analisis antropologi budaya dapat membantu mengatasi problemaproblema pendidikan yang dimunculkan oleh kelompok-kelompak minoritas
dan budaya yang lain. Sudut tujuan antropologi sosial, menjelaskan
pendidikan dapat merupakan bentuk bimbingan formal terhadap perilaku
anggota masyarakat yang relatif baru ke dalam tradisi nenek moyang
mereka

melalui

berbagai

model

indoktrinasi

yang

berbeda

antara

masyarakat satu dengan yang lainnya. Melalui proses indoktrinasi yang


berlangsung terus-menerus timbul kelompok-kelompok masyarakat yang
memiliki budaya tertentuyang pada gilirannya pula menampilkan bentuk
pendidikan yang berbeda- beda. Pada hakikatnya manusia sebagai makhluk
budaya dapat menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat. Salah satu
cara untuk memelihara kebudayaan adalah melalui pengajaran. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan dapat berfungsi sebagai
penyampaian,pelestarian dan sekaligus pengembangan kebudayaan.
A. Kebudayaan dan sekolah

Tradisi kebudayan menghambat perkembangan dalam berkompetisi


dengan kelompok lain. Sejalan dengan penelitian Otto Klinerberg (1954)
bahwa kegagalan kelompok minoritas umumnya bukan disebabkan sematamata oleh ras, atau suku namun disebabkan oleh budaya tradisi mereka.
B. Prasangka dan pertenfangan di berbagai kelompok budaya

Pertentangan yang disebabkan adanya berbagai kelompok budaya dari


ras dapat berupa prasangka negatif di antara sesama kelompok dan hal ini
berpengaruh terhadap pendidikan.
C.

Stereotipe
Keefektifan dalam pengajaran timbul dan siswa akan lebih terbimbing,
serta kesegaran dan rasa takut berkurang jika guru menunjukkan stereotipe
yang menyenangkan.

D. Faktor budaya dalam proses pengajaran (culture factors in teaching)

Mengajar merupakan upaya mengkomunikasikan secara jelas tentang


nilai-nilai pengajaran. Dalam hal ini banyak hal yang mempengaruhi, sperti:
niiai-nilai budaya orang tua, penggunaan bahasa, keadaan sosial yang
dibawa anak dari lingkungan (tradisi) dan pengaruh kelompok dominan.
Keadaan ini mensyaratkan perhauaii, pemahaman dan penyesuaian guru
agar peran serta orang tua dalam kegiatan sekolah dapat tercipta.
E. Pelatihan budaya untuk pendidikan

Perlu

dikembangkan

kondisi

sekolah

yang

didalamnya

terdapat

pertentangan antara kelompok mayoritas dan minoritas yang sering


menghadapi konfhk budaya antara guru, siswa dan orang tua. Kenyataan ini
menuntut adanya kepelatihan budaya bagi pendidik agar ia mampu
menghubungkan

nilai-nilai

budaya

dengan

pengajaran

dan

pengajaran.
F.

Masalah kewibawaan merupakan ubahan (variabel) yang tidak dapat


diabaikan

proses

Penguasaan terbadap kewibawaan guru lebih membantu siswa dalam


penguasaan bahan-bahan pengajaran.
G. Sub-kebudayaan (sub-culture)
Perbedaan warna kulit dan kemiskinan menjadi penghambat dalam
pelaksanaan

pendidikan.

Karena

kelompok-kelompok

tersebut

saling

menolak terhadap pelayanan sekolah. Hambatan ini dapat diatasi melalui


pendidikan orang tua, memadukan sub-culture di sekolah, mengadakan
penyesuaian

tingkah

laku

di

sekolah

dan

kurikulum

sekolah

wajib

memperhatikan latar belakang budaya siswa.


H. Dinamika kelompok sosialisasi

Sekolah harus mampu menghilangkan adanya kelompok-kslompok


minoritas dan membawanya ke arah perubahan melalui proses sosialisasi.

Pendidikan selalu terkait dengan manusia, sedang setiap manusia


selalu menjadi anggota masyarakat dan pendukung kebudayaan tertentu.
Oleh karena itu, dalam UU-RI No. 2 Tahun 1989 Pasal 1 Ayat 2 ditegaskan
bahwa yang dimaksudkan dengan Sistem Pendidikan Nasional adalah
pendidikan yang berakar pada kebudayaanbangsa Indonesia dan yang
berdasarkan
mempunyai

Pancasila

dan

hubungan

dilestarikan/dikembangkan

UUD

1945.

timbal

balik,

dengan

jalan

Kebudayaan
sebab

dan

pendidikan

kebudayaan

mewariskan

kebudayaan

dapat
dari

generasi ke generasi penerus dengan jalan pendidikan, baik secara informal


maupun

secara

formal.

Sebaliknya

bentuk,

ciri-ciri

dan

pelaksanaan

pendidikan itu ikut ditentukan oleh kebudayaan masyarakat di mana proses


pendidikan itu berlangsung. Dimaksudkan dengan kebudayaan adalah hasil
cipta dan karya manusia berupa norma-norma, nilai-nilai, kepercayaan,

tingkah laku, dan teknologi yang dipelajarin dan dimiliki oleh semua anggota
masyarakat tertentu.

a. Pengertian tentang Landasan Kultural


Kebudayaan sebagai gagasan dan karya manusia beserta hasil budi
dan karya itu akan selalu terkait dengan pendidikan, utamanya belajar.
Kebudayaan dalam arti luas tersebut dapat berwujud :
1) Ideal seperti ide, gagasan, nilai, dan sebagainya.
2) Kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan
3) Fisik yakni benda hasil karya manusia.
Kebudayaan dapat dibentuk, dilestarikan, atau dikembangkan melalui
pendidikan. Baik kebudayaan yang berwujud ideal, atau kelakuan dan
teknologi, dapat diwujudkan melalui proses pendidikan.
Sebagai contoh dalam penggunaan bahasa, setiap masyarakat dapat
dikatakan mengajarkan kepada anak-anak untuk mengatakan sesuatu,
kapan hal itu dapat dikatakan, bagaimana mengatakannya, dan kepada
siapa

mengatakannya.

Contoh

lain,

setiapa

masyaratkat

mempunyai

persamaan dan perbedaan dalam berpakaian. Dalam kaitan dengan pakaian,


anak harus mempelajari dari anggota masyarakat yang lain tentang cara
menggunakan pakaian tertentu dari dalam peristiwa apa pakaian tertentu
dapat dipakai. Dengan mempelajari tingkah laku yang dapat diterima dan
kemudian menerapkan sebagai tingkah lakunya sendiri menjadikan anak
sebagai anggota masyarakat. Oleh sebab itu, anak-anak harus diajarkan
polapola tingkah laku yang sesuai dengan norma-norma yang berlaku di
dalam masyarakat. Dengan kata lain, fungsi pokok setiap sisitem pendidikan
adalah untuk mengajarkan anak-anak pola-pola tingkah laku yang essensial
tersebut.
Cara-cara untuk mewariskan kebudayaan, khususnya mengajarkan
tingkah laku kepada generasi baru, berbeda dari masyarakat ke masyarakat.
Pada dasarnya ada tiga cara umum yang dapat diidentifikasikan, yaitu
informal, nonformal, dan formal. Cara informal terjadi di dalam keluarga, dan
nonformal dalam masyarakat yang berkelanjutan dan berlangsung dalam
kehidupan sehari-hari. Sedangkan cara formal melibatkan lembaga khusus

yang

dibentuk

untuk

tujuan

pendidikan.

Pendidikan

formal

tersebut

dirancang untuk mengarahkan perkembangan tingkah laku anak didik. Kalua


masyarakat hanya mentransmisi kebudayaan yang mereka miliki kepada
generasi penerus maka tidak akan diperoleh kemajuan.
Oleh sebab itu, anggota masyarakat tersebut berusaha melakukan
perubahan-perubahan yang disesuaikan dengan kondisi baru sehingga
terbentuklah pola tinkah laku, nilai-nilai, dan norma-norma baru yang sesuai
dengan tuntutan perkembangan masyarakat. Usaha-usaha menuju pola
tingkah laku, norma-norma dan nilai-nilai baru ini disebut transformasi
kebudayaan. Lembaga social yang lazim digunakan sebagai alat transmisi
dan

transformasi

kebudayaan

adalah lembaga

pendidikan,

utamanya

sekolah dan keluarga.


Pada masyarakat primitive, transmisi kebubayaan dilakukan secar
informal dan nonformal, sedangkan pada masyarakat yanf telah maju
transmisi kebudayaan dilakukan secara informal, nonformal dan formal.
Pemindahan kebudayaan secar formal ini melalui lembaga-lembaga social,
utamanya sekolah. Pada masyarakat yang sudah maju, sekolah sebagai
lembaga social mempunyai peranan penting sebab pendidikan tidak hanya
berfungsi untuk mentransmisi kebudayaan kepada generasi penerus, tetapi
pendidikan juga berfungsi untuk mentransformasikan kebudayaan agar
sesuai dengan perkembangan dan tujuan zaman. Dengan kata lain, sekolah
secara seimbang melaksanakan fungsi ganda pendidikan, yakni sebgai
proses sosialisasi dan sebgai agen pembaruan. Perlu dikemukakan bahwa
dalam

bidang

pendidikan,

kedua

fungsi

tersebut

kadang-kadang

dipertentangkan, antara penganut pendidikan sebagai pelestarian (teaching


a conserving activity) dan penganut pendidikan sebagai pembaruan
(teaching as a subversive activity). Yang pertama mengutamakan sosialisasi,
bahkan kalau perlu domestikasi, sedangkan yang kedua mengutamakan
pengembangan atau agen pembaruan.
Seperti diketahui, pendidikan di Indonesia tidak memihak salah satu
kutub pendapat tersebut, akan tetapai mengutamakan keseimbangan,

keserasian, dan keselarasan antara aspek pelestarian nilai-nilai luhur socialkebudayaan dab aspek pengenbangan agar tetap jaya. Hal itu semakin
penting apabila

diingat

bahwa

kemajuan teknologi komunikasi telah

menyebabkan datangnya pengaruh kebudayaan dari luar semakin deras.

b.

Kebudayaan Nasional sebagai Landasan Sistem Pendidikan Nasional


(Sisdiknas)
Seperti telah dikemukakan, yang dimaksud dengan sisidiknas adalah
pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia. (UU-RI No.
2/1989) Pasal 1 Ayat 2. Karena masyarakat Indonesia sebagai pendukung
kebudayaan itu adalah masyarakat yang majemuk, maka kebudayaan
bangsa

Indonesia

tersebut

lebih

tepat

disebut

sebagai

kebudayaan

Nusantara yang beragam. Puncak-puncak kebudayaan Nusantara itu dan


yang diterima secara nasional disebut kebudayaan nasional. Oleh karena itu,
kebudayaan nasional haruslah dipandang dalam latar perkembangan yanag
dinamis seiring dengan semakin kukuhnya persatuan dan kesatuan bangsa
Indonesia sesuai dengan asa bhineka tunggal ika.
Pada awal perkembangannya, suatu kebudayaan terbentuk berkat
kemampuan manusia mengatasi kehidupan alamiahnya dan kesengajaan
manusia menciptakan lingkungan yang cocok bagi kehidupannya. Setiap
individu yang lahir selalu memasuki lingkungan kebudayaan dan lingkungan
alamiah

itu,

dan

menghadapi

dua

system

sekaligus

yaitu

system

kebudayaan dan system linmgkungan alam. Individu dalam masyarakat


modern

sangat

dipengaruhi

oleh

besar

dan

kompleksnya

kehidupan

masyarakat modern dan kecanggihan kebudayaannya. Ini berarti bahwa


individu hanya dapat hidup dalam masyarakat atau kebudayaan modern,
apabila ia mau dan mampu belajar terus menerus.
Salah satu upaya penyesuaian pendidikan jalur sekolah dengan
keragaman latar belakng social budaya di Indonesia adalah dengan
memberlakukan muatan local di dalam kurikulum sekolah, utamanya di
sekolah dasar (SD). Kebijakan ini bukan hal baru, karena gagasannya telah

berlaku sejak dulu, umpamanya dengan pengajaran bahasa daerah dan atau
penggunaan bahasa daerah di dalam proses belajar mengajar. Keragaman
social budaya tersebut terwujud dalam keragaman adat istiadat, tata cara,
dan tata karma pergaulan, kesenian, bahasa, dan sastra daerah, maupun
kemahiran dan keterampilan yang tumbuh dan terpelihara di suatu daerah
tertentu. Keanekaragaman itu sejak awal kemerdekaan telah mencoraki
kurikulum sekolah, utamanya sekolah dasar, dengan berbagai variasi yakni
mulai sebagai mata pelajaran (umpama bahasa daerah) ataupun sebagai
bagian dari bahan ajaran dan atau cara penyampaiannya. Pelestarian dan
pengembangan kekayaan yang unik dari setiap daerah itu melalui upaya
pendidikan sebagai wujud dari kebhinekaan masyarakat dan bangsa
Indonesia. Hal ini haruslah dilaksanakan dalam kerangka pemantapan
kesatuan dan persatuan bangsa dan negara Indonesia sebagai sisi ketunggal
ika-an.
Beberapa tahun terakhir ini, makin kuat pendapat bahwa pendidikan
seharusnya lebih diupayakan agar lebih menjamin adanya rasa keterikatan
antara peserta didik dengan lingkungannya. Peserta didik diharapkan tidak
hanya mengenal lingkungannya (alam, social, dan budaya) akan tetapi juga
mau dan mampu mengembangkannya. Oleh Karen aitu, sebagai contoh,
muatan local dalam kurikulum tidak hanya sekedar meneruskan minat akan
kemahiran

yang

ada

di

daerah

tertentu,

tetapi

juga

serentak

memperbaiki/meningkatkannya sesuai dengan perkembangan iptek/seni dan


atau

kebutuhan

masyarakat.

Dengan

demikian,

kurikulum

ikut

memutakhirkan kemahiran local (mengukir, melukis, menenun, menganyam,


dan sebagainya) sehingga sesuai dengan kemajuan zaman, dan serentak
dengan itu, membuka peluang tersedianya lapangan kerja bagi peserta didik
yang bersangkutan (umpama bidang kerajinan) dengan memanfaatkan
sumber-sumber yang tersedia di lingkungannya.
Sebagai salah satu faktor yang ikut menentukan kelangsungan hidup
suatu masyarakat adalah kesanggupan dan kemampuan anggotanya untuk

mendukung nilai-nilai budaya yang dijunjung tinggi oleh masyarakat.


Pendidikan sebagai sub-sistem masyarakat mempunyai peranan mewariskan, memelihara dan sekaligus sebagai agen pembaharuan kebudayaan.
Pendidikan dapat dikonsepkan sebagai proses budaya manusia. Kegiatanya
dapat berwujad sebagai upaya yang dipikirkan, dirasakan dan dikehendaki
manusia. Pada dasarnya pendidikan merupakan unsur dan peristiwa budaya.
Pendidikan

melibatkan

sekaligus

kiat

dan

disiplin

pengetahuan

mempengaruhi manusia belajar. Pendidikan merupakan proses budaya, yakni


generasi manusia berturut-turut mengambil peran sehingga menghasilkan
peradaban masa lampau dan mengambil peranan di masa kini dan mampu
menciptakan peradaban di masa depan.
Dengan kata lain pendidikan memiliki tiga peran, sebagai pewarisan,
sebagai pemegang peran dan sebagai pemberi kortribusi. Dengan demikian
dapat dipahami pendidikan sebagai aset untuk pemeliharaan masa lampau,
penguatan individu dan masyarakat yang sekarang serta sebagai penyiapan
manusia berperan di masa datang. Pendidikan sebagai proses upaya
pemeliharaan dan peran dalam membangun peradaban dan pendidikan
tidak terbatas pada benda-benda yang tampak Seperti bangunan fisik,
melainkan meliputi: gagasan, perasaan dan kebiasaan, peran dan alam
kehidupan sekarang juga tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masa yang
akan datang, karena pemeliharaan peradaban manusia merupakan tugas
tanpa akhir.
Analisis antropologi budaya dapat membantu mengatasi problemaproblema pendidikan yang dimunculkan oleh kelompok-kelompak minoritas
dan budaya yang lain. Sudut tujuan antropologi sosial, menjelaskan
pendidikan dapat merupakan bentuk bimbingan formal terhadap perilaku
anggota masyarakat yang relatif baru ke dalam tradisi nenek moyang
mereka

melalui

berbagai

model

indoktrinasi

yang

berbeda

antara

masyarakat satu dengan yang lainnya. Melalui proses indoktrinasi yang


berlangsung terus-menerus timbul kelompok-kelompok masyarakat yang
memiliki budaya tertentuyang pada gilirannya pula menampilkan bentuk

pendidikan yang berbeda- beda. Pada hakikatnya manusia sebagai makhluk


budaya dapat menyesuaikan diri dengan kebudayaan setempat. Salah satu
cara untuk memelihara kebudayaan adalah melalui pengajaran. Dengan
demikian dapat dikatakan bahwa pendidikan dapat berfungsi sebagai
penyampaian,pelestarian dan sekaligus pengembangan kebudayaan.
A. Kebudayaan dan sekolah

Tradisi kebudayan menghambat perkembangan dalam berkompetisi


dengan kelompok lain. Sejalan dengan penelitian Otto Klinerberg (1954)
bahwa kegagalan kelompok minoritas umumnya bukan disebabkan sematamata oleh ras, atau suku namun disebabkan oleh budaya tradisi mereka.
B. Prasangka dan pertenfangan di berbagai kelompok budaya
Pertentangan yang disebabkan adanya berbagai kelompok budaya dari
ras dapat berupa prasangka negatif di antara sesama kelompok dan hal ini
berpengaruh terhadap pendidikan.
C.

Stereotipe
Keefektifan dalam pengajaran timbul dan siswa akan lebih terbimbing,
serta kesegaran dan rasa takut berkurang jika guru menunjukkan stereotipe
yang menyenangkan.

D. Faktor budaya dalam proses pengajaran (culture factors in teaching)

Mengajar merupakan upaya mengkomunikasikan secara jelas tentang


nilai-nilai pengajaran. Dalam hal ini banyak hal yang mempengaruhi, sperti:
niiai-nilai budaya orang tua, penggunaan bahasa, keadaan sosial yang
dibawa anak dari lingkungan (tradisi) dan pengaruh kelompok dominan.
Keadaan ini mensyaratkan perhauaii, pemahaman dan penyesuaian guru
agar peran serta orang tua dalam kegiatan sekolah dapat tercipta.

E. Pelatihan budaya untuk pendidikan

Perlu

dikembangkan

kondisi

sekolah

yang

didalamnya

terdapat

pertentangan antara kelompok mayoritas dan minoritas yang sering


menghadapi konfhk budaya antara guru, siswa dan orang tua. Kenyataan ini
menuntut adanya kepelatihan budaya bagi pendidik agar ia mampu
menghubungkan

nilai-nilai

budaya

dengan

pengajaran

dan

proses

pengajaran.
F.

Masalah kewibawaan merupakan ubahan (variabel) yang tidak dapat


diabaikan

Penguasaan terbadap kewibawaan guru lebih membantu siswa dalam


penguasaan bahan-bahan pengajaran.
G. Sub-kebudayaan (sub-culture)
Perbedaan warna kulit dan kemiskinan menjadi penghambat dalam
pelaksanaan

pendidikan.

Karena

kelompok-kelompok

tersebut

saling

menolak terhadap pelayanan sekolah. Hambatan ini dapat diatasi melalui


pendidikan orang tua, memadukan sub-culture di sekolah, mengadakan
penyesuaian

tingkah

laku

di

sekolah

dan

kurikulum

sekolah

wajib

memperhatikan latar belakang budaya siswa.


H. Dinamika kelompok sosialisasi

Sekolah harus mampu menghilangkan adanya kelompok-kslompok


minoritas dan membawanya ke arah perubahan melalui proses sosialisasi.

D. LANDASAN SOSIOLOGI

B. Rumusan Masalah
Dari uraian latar belakang masalah diatas, maka dapat dijabarkan rumusan masalah yang akan
dibahas dalam makalah ini, yaitu:
1. Apakah pengertian sosiologi?
2. Bagaimanakah latar belakang historis sosiologi pendidikan?
3. Bagaimana landasan sosiologi pendidikan?
4. Bagaimana ruang lingkup dan fungsi landasan sosiologi pendidikan?
5. Bagaimana masyarakat Indonesia sebagai landasan sosiologi sistem pendidikan nasional?

C. Tujuan Pembahasan
Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahui pengertian sosiologi pendidikan.
2. Untuk mengetahui latar belakang historis sosiologi pendidikan.
3. Untuk mengetahui landasan sosiologi pendidikan.
4. Untuk mengetahui ruang lingkup landasan sosiologi pendidikan.
5. Untuk mengetahui masyarakat Indonesia sebagai landasan sosiologi sistem
nasional.

pendidikan

A.

Pengertian Sosiologi
Secara etimologi, sosiologi berasal dari bahasa Latin yaitu socious dan logos, socious

berarti teman dan logos berarti pengetahuan. Pengertian tersebut diperluas menjadi ilmu
pengetahuan tentang pergaulan hidup manusia atau masyarakat. Manusia selalu hidup
berkelompok, sesuatu yang juga terdapat pada makhluk hidup lainnya yakni hkian,
pengelompokan manusia jauh lebih rumit dari pengelompokan hewan. Pada hewan, hidup
berkelompok memiliki ciri-ciri (Wayan Ardhana, 1986) sebagai berikut :
1) ada pembagian kerja,
2) ada ketergantungan antar anggota,
3) ada kerjasama antar anggota,
4) ada komunikasi antar anggota,
5) ada diskriminasi antar individu yang hidup dalam kelompok lain.Kehidupan sosial manusia
tersebut dipelajari oleh filsafat.1
Filsafat sosial sering membedakan manusia sebagai individu dan manusia sebagai
anggota masyarakat. Pandangan aliran-aliran filsafat tentang realitas sosial itu berbeda-beda,
sehingga dapat ditemukan bermacam-macam aliran filsafat sosial. Sosiologi sebagai suatu
cabang dari ilmu pengetahuan memiliki lapangan penyelidikan,sudut pandang,metode,dan
susunan pengetahuan.

Prof.Dr.Soerjono Soekanto,Sosiologi suatu Pengantar,(Jakarta:PT Raja Grafindo

Persada,2012),hal 18.

B.

Objek penelitian sosiologi dan sudut pandang sosiologi


Objek penelitian sosilogi meliputi tingkah laku manusia dalam kelompok. Sedangkan

sudut pandangnya melalui hakikat masyarakat,kebudayaan,dan individu secara ilmiah. Sosiologi


adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok-kelompok dan struktur
sosialnya. Artinya, bahwa mempelajari bagaimana manusia berhubungan satu dengan yang
lainnya dalam kelompoknya dan bagaimana susunan unit-unit masyarakat atau sosial di suatu
wilayah serta berkaitan dengan yang lainnya. 2

Sosiologi dapat dibedakan menjadi 2 macam

yaitu: sosiologi umum, yang tugasnya

menyelidiki gejala sosio cultural secara umum dan yang kedua yaitu sosiologi khusus, yaitu
pengkhususan dari sosiologi umum yang tugasnya menyelidiki suatu aspek kehidupan sosio
cultural secara mendalam. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan positif yang mempelajari
masyarakat. Sosiologi mempelajari berbagai tindakan sosial yang menjelma dalam realitas sosial.
Mengingat banyaknya realitas sosial, maka lahirlah berbagai cabang sosiologi seperti sosiologi
kebudayaan, sosiologi ekonomi, sosiologi agama, sosiologi pengetahuan, sosiologi pendidikan,
dan lain-lain. Ada beberapa unsur yang terkandung dalam istilah masyarakat, antara lain:
1. Sejumlah manusia yang hidup bersama dalam waktu yang relative lama, di dalamnya manusia
dapat saling mengerti dan merasa dan mempunyai harapan-harapan sebagai akibat dari hidup
bersama itu.
2. Manusia yang hidup bersama itu merupakan suatu kesatuan.
3. Manusia yang hidup bersama itu merupakan suatu system hidup bersama,yaitu hidup bersama
yang menimbulkan kebudayaan, oleh karenanya setiap anggota masyarakat merasa dirinya
masing-masing terikat dengan kelompoknya. 3
2

Prof.Dr.Soerjono Soekanto,Sosiologi suatu Pengantar,(Jakarta:PT Raja Grafindo


Persada,2012),hal 22.
3
Abdulsyani,Sosiologi Skematika Teori dan Terapan, (Bandung:Bumi Aksara,2008),hal 5.

C. Ciri-ciri Sosiologi dan Paham-Paham dalam Norma Sosial


Sosiologi mempunyai ciri-ciri sebagaimana uraian berikut:
1.

Empiris, adalah ciri utama sosiologi sebagai ilmu,sebab ia bersumber dan diciptakan dari
kenyataan yan g terjadi di lapangan.

2.

Teoritis,adalah peningkatan fase penciptaan tadi yang menjadi salah satu bentuk budaya yang
dapat disimpan lama.

3. Komulatif, sebagai akibat proses penciptaan terus menerus


4. Noteris, karena teori itu menceritakan apa adanya tentang masyarakat tanpa menilai apakah hal
itu baik atau buruk. 4
Adapun paham-paham yang trekandung dalam norma sosial antara lain:
1.Paham individualisme
Dilandasi teori bahwa manusia itu lahir merdeka dan hidup merdeka. Masing-masing
boleh berbuat apa saja menurut keinginannya, asalkan tidak mengganggu keamanan orang lain.
Dampak individualisme menimbulkan cara pandang yang lebih mengutamakan kepentingan

individu di atas kepentingan masyarakat. Dalam masyarakat seperti ini, usaha untuk mencapai
pengembangan diri, antara anggota masyarakat satu dengan yang lain saling berkompetisi
sehingga menimbulkan dampak yang kuat.
2. Paham kolektivisme
Paham kolektivisme memberikan kedudukan yang berlebihan kepada masyarakat dan
kedudukan anggota masyarakat secara perseorangan hanyalah sebagai alat bagi masyarakatnya.
3.Paham integralistik
4

Prof.Dr.Soerjono

Soekanto,Sosiologi

suatu

Pengantar,(Jakarta:PT

Raja

Grafindo

Persada,2012),hal 13.
Paham integralistik dilandasi pemahaman bahwa masing-masing anggota masyarakat saling
berhubungan erat satu sama lain secara organis merupakan masyarakat. Landasan sosiologis
pendidikan di Indonesia menganut paham integralistik yang bersumber dari norma kehidupan
masyarakat:
1) kekeluargaan dan gotong royong, kebersamaan, musyawarah untuk mufakat,
2) kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat,
3) negara melindungi warga negaranya,
4) selaras serasi seimbang antara hak dan kewajiban.

D. Latar belakang Sejarah Sosiologi Pendidikan


Sejak manusia dilahirkan di dunia ini, secara sadar maupun tidak, sesungguhnya ia telah belajar
dan berkenalan dengan hubungan-hubungan social yaitu hubungan antara manusia dalam
masyarakat. Hubungan sosial out dimulai dari hubungan antara anak dengan orang tua kemudian
meluas hingga ketetangga.
Dalam hubungan sosial tersebut terjadilah proses pengenalan dan proses pengenalan tersebut
mencakup berbagai budaya, nilai, norma dan tanggung jawab manusia, sehingga dapat tercipta
corak kehidupan masyarakat yang berbeda-beda dengan masalah yang berbeda pula.
Sosiologi ini dicetuskan oleh Aguste Comte maka dari itu dia dikenal sebagai bapak sosiologi, ia
lahir di Montpellier tahun 1798. Ia merupakan seorang penulis kebanyakan konsep, prinsip dan
metode yang sekarang dipakai dalam sosiologi berasal dari Comte. 5 Comte membagikan
sosiologi atas statika social dan dinamika social dan sosiologi mempunyai ciri-ciri sebagai
berikut:

Abdulsyani,Sosiologi Skematika Teori dan Terapan,(Bandung:Bumi Aksara,2008),hal 11.

1. Bersifat empiris yaitu didsarkan pada observasi dan akal sehat yang hasilnya tidak bersifat
spekulatif.
2. Bersifat teoritis yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dan hasil observasi.
3. Bersifat kumulatif yaitu teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori yang ada kemudian
diperbaiki, diperluas dan diperhalus
4.

Bersifat nenotis yaitu tidak mempersoalkan baik buruk suatu fakta tertentu tetapi untuk

menjelaskan fakta tersebut.


Menurut pendapat Drs. Ary H. Gunawan, bahwa sejarah sosiologi pendidikan terdiri dari 4 fase,
yaitu:
a. fase pertama, dimana sosiologi sebagai bagian dari pandangan tentang kehidupan bersama
filsafat umum. Pada fase ini sosiologi merupakan cabang filsafat, maka namanya adalah filsafat
sosial.
b.

Dalam fase kedua ini, timbul keinginan-keinginan untuk membangun susunan ilmu

berdasarkan pengalaman-pengalaman dan peristiwa-peristiwa nyata (empiris). Jadi pada fase ini
mulai adanya keinginan memisahkan diri antara filsafat dengan sosial.
c. sosiologi pada fase ketiga ini, merupakan fase awal dari sosiologi sebagai ilmu pengetahuan
yang berdiri sendiri. Orang mengatakan bahwa Comte adalah bapak sosiologi, karena ialah
yang pertama kali mempergunakan istilah sosiologi dalam pembahasan tentang masyarakat.
d. pada fase yang terakhir ini, ciri utamanya adalah keinginan untuk bersama-sama memberikan
batas yang tegas tentang obyek sosiologi, sekaligus memberikan pengertian-pengertian dan
metode-metode sosiologi yang khusus.6

http://hetinymuthia.blogspot.com/2011/12/makalah-pengertian-dan-landasan.html dalam

bukunya Hasan Shadly,Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia,(Jakarta:Bina Aksara.1983),hal 8.

E. Tujuan dan Kegunaan Sosiologi Pendidikan

Francis Broun mengemukakan bahwa sosiologi pendidikan memperhatikan pengaruh


keseluruhan lingkungan budaya sebagai tempat dan cara individu memproleh dan
mengorganisasi pengalamannya7. Sedang S. Nasution mengatakan bahwa sosiologi pendidikan
adalah Ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk
memproleh perkembangan kepribadian individu yang lebih baik. Dari kedua pengertian dan
beberapa pengertian yang telah dikemukakan dapat disebutkan beberapa konsep tentang tujuan
sosiologi pendidikan, yaitu sebagai berikut:
1. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis proses sosialisasi anak, baik dalam
keluarga, sekolah, maupun masyarakat. Dalam hal ini harus diperhatiakan pengaruh
lingkungan dan kebudayaan masyarakat terhadap perkembangan pribadi anak. Misalnya,
anak yang terdidik dengan baik dalam keluarga yang religius, setelah dewasa/tua akan
cendrung menjadi manusia yang religius pula.
2. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis perkembangan dan kemajuan social.
Banyak orang/pakar yang beranggapan bahwa pendidikan memberikan kemungkinan
yang besar bagi kemajuan masyarakat, karena dengan memiliki ijazah yang semakin
tinggi akan lebih mampu menduduki jabatan yang lebih tinggi pula (serta penghasilan
yang lebih banyak pula, guna menambah kesejahteraan social).
3. Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis status pendidikan dalam masyarakat.
Berdirinya suatu lembaga pendidikan dalam masyarakat sering disesuaikan dengan
tingkatan daerah di mana lembaga pendidikan itu berada.
7

http://hetinymuthia.blogspot.com/2011/12/makalah-pengertian-dan-landasan.html dalam

bukunya Made Pidarta,Landasan Kependidikan,(Jakarta:Rineka Cipta,2007),hal 151-152.


4.

Sosiologi pendidikan bertujuan menganalisis partisipasi orang-orang terdidik/berpendidikan


dalam kegiatan social. Peranan/aktivitas warga yang berpendidikan / intelektual sering menjadi
ukuan tentang maju dan berkembang kehidupan masyarakat. Sebaiknya warga yang
berpendidikan tidak segan- segan berpartisipasi aktif dalam kegiatan social, terutama dalam
memajukan kepentingan / kebutuhan masyarakat. Ia harus menjadi motor penggerak dari
peningkatan taraf hidup social.

5.

Sosiologi pendidikan bertujuan membantu menentukan tujuan pendidikan. Sejumlah pakar


berpendapat bahwa tujuan pendidikan nasional harus bertolak dan dapat dipulangkan kepada
filsafat hidup bangsa tersebut. Seperti di Indonesia, Pancasila sebagai filsafat hidup dan
kepribadian bangsa Indonesia harus menjadi dasar untuk menentukan tujuan pendidikan
Nasional serta tujuan pendidikan lainnya. Dinamika tujuan pendidikan nasional terletak pada
keterkaitanya dengan GBHN, yang tiap 5 (lima) tahun sekali ditetapkan dalam Sidang Umum
MPR, dan disesuaikan dengan era pembangunan yang ditempuh, serta kebutuhan masyarakat dan
kebutuhan manusia.
Menurut E. G Payne, sosiologi pendidikan bertujuan utama memberi kepada guru- guru
(termasuk para peneliti dan siapa pun yang terkait dalam bidang pendidikan) latihan latihan
yang efektif dalam bidang sosiologi sehingga dapat memberikan sumbangannya secara cepat dan
tepat kepada masalah pendidikan. Menurut pendapatnya, sosiologi pendidikan tidak hanya
berkenaan dengan proses belajar dan sosialisasi yang terkait dengan sosiologi saja, tetapi juga
segala sesuatu dalam bidang pendidikan yang dapat dianalis sosiologi. 8

http://hetinymuthia.blogspot.com/2011/12/makalah-pengertian-dan-landasan.html dalam

bukunya Made Pidarta,Landasan Kependidikan,(Jakarta:Rineka Cipta,2007),hal 153-154.


Seperti sosiologi yang digunakan untuk meningkatkan teknik mengajar yaitu metode
sosiodrama, bermain peranan (role playing) dan sebagainya.dengan demikian sosiologi
pendidikan bermanfaat besar bagi para pendidik, selain berharga untuk mengalisis pendidikan,
juga bermanfaat untuk memahami hubungan antara manusia di sekolah serta struktur
masyarakat. Sosiologi pendidikan tidak hanya mempelajari masalah masalah sosial dalam
pendidikan saja, melainkan juga hal hal pokok lain, seperti tujuan pendidikan, bahan
kurikulum, strategi belajar, sarana belajar, dan sebagainya. Sosiologi pendidikan ialah analisis
ilmiah atas proses sosial dan pola- pola sosial yang terdapat dalam sistem pendidikan

F.Ruang lingkup Landasan Pendidikan Sosiologi


Proses pendidikan pada dasarnya adalah interaksi sosial antara pendidik dengan peserta
didik, peserta didik dengan peserta didik dan antara pendidikan, peserta dan lingkungan. Oleh
sebab itu institusi pendidikan pada dasarnya adalah institusi sosial, sehingga proses pendidikan
tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat dan kekuatan-kekuatan sosial budaya dimana

kegiatan pendidikan itu berlangsung.Kebudayaan pada dasarnya adalah hasil cipta, karsa dan
rasa. Dalam perspektif sosiologis, pendidikan dipandang mengembangkan misi sebagai berikut:
a.

1.
2.
3.
4.

Lembaga pendidikan (termasuk sekolah) sebagai pusat transmisi dan transformasi budaya.
Dalam rangka memainkan peranannya sebagai pusat transmisi dan transformasi budaya inji,
maka lembaga pendidikan harus melakukan berbagi kegiatan sebagai berikut:
Pewarisan budaya
Pemeliharaan dan pelestarian budaya
Pengembangan dan pembaharuan budaya
Keluarga sebagai institusi dan sistem sosial yang berpengaruh terhadap pendidikan
Keberhasilan pendidikan dalam mencapai tujuannya seperti kedewasaan peserta didik atau dalam
bentuk/wujud konkritnya adalah hasil belajar sangat dipengaruhi oleh faktor keluarga seperti:

1.
2.
3.
4.
b.

Perubahan fungsi keluarga


Intensitas hubungan dalam keluarga
Komposisi dan ukuran keluarga
Strata sosial dan pendidikan keluarga
Pendidikan adalah proses sosialisasi
Aktivitas mendidik pada hakekatnya adalah proses interaksi sosial yaitu interaksi antara guru
dengan murid, murid dengan guru, guru dengan guru dan murid dengan murid, serta guru-murid
dan lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan harus dapat membantu perkembangan
dan pertumbuhan peserta didik sesuai denngan fungsinya sebagai makhluk sosial dan makhluk
individu, yaitu membantu proses sosialisasi dan individualisasi pesertan didik.

c.

Masyarakat memiliki defferensiasi status dan peranan


Masyarakat akan dapat berfungsi dengan sebaik-baiknya jika setiap individu belajar baik
pola tingkah laku umum maupun peranan-peranan yang berbeda-beda. Untuk itu proses
sosialisasi harus berfungsi untuk mengajarkan tingkah laku umum kepada semua anggota
masyarakat dan pendidikan berfungsi untuk mengajarkan tingkah laku umum kepada semua
anggota masyarakat dan pendidikan berfungsi untuk menseleksi individu-individu untuk
peranan-peranan tertentu. Sehubung dengan fungsi ke dua ini pendidikan mempunyai tugas
untuk mengajarkan berbagai pengetahuan dan keterampilan serta keahlian kepada anggota
masyarakat.9
9

http://scanzovarious09.blogspot.com/2013/04/makalah-pendidikan_20.html dalam bukunya

Pidarta Made, Landasan Kependidikan,(Jakarta:PT Rineka Cipta,2007), hal 38.

Deferensiasi status dan peran dalam masyarakat pada dasarnya adalah manifestasi dari
hakekat manusia yang disebut individual defference. Hakekat bahwa tidak ada manusia yang
sama persis dalam segala hal meskipun dia kembar siam menuntut penyediaan layanan
pendidikan yang memberikan kompetisi yang berbeda.
Proses dan isi pendidikan akan memberi bentuk kepribadian yang tumbuh dan pribadipribadi budaya inilah yang akan mennjadi pendukung, pewaris dan penerus kebudayaan dan
kepribadian lewat peranan pendidikan dalam kebudayaan. Secara singkat dapat dikatakan kaitan
kebudayaan dan kependidikan sebagai berikut:
1. Kebudayaan menjadi kondisi belajar
2. Kebudayaan memiliki daya dorong, daya rangsang terhadap tumbuhnya respon-respon tertentu
3. Kebudayaan memiliki sistem ganjaran dan hukuman terhadap perilaku tertentu sejalan dengan
sistem nilai yang berlaku
4. Adanya pengulangan pola perilaku tertentu dalam kebudayan

G.Sosiologi dan Pendidikan


Sejalan dengan lahirnya pemikiran tentang pendidikan kemasyarakatan maka abad ke-20
sosiologi memegang peranan penting dalam dunia pendidikan dalam bab landasan sejarah telah
di jelaskan bahwa akibat aliran liberalism dan positifisme manusia di dunia tidak pernah merasa
hidup damai, yang merangsang munculnya aliran kemasyarakatan dalam pendidikan. Pendidikan
yang di inginkan oleh aliran kemasyarakatan ini ialah proses pendidikan mempertahankan dan
meningkatkan keselarasan hidup dalam pergaulan manusia. Konsep atau teori sosiologi memberi
petunjuk kepada guru-guru tentang bagaimana seharusnya mereka membina pada siswa agar
mereka bisa memiliki kebiasaan hidup yang harmonis.
Lingkungan sosial ini besar sekali pengaruhnya terhadap pembentukan pribadi individu.
Sebagaimana ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimah(2004:525-526) mengatakan bahwa:
manusia adalah makhluk sosial, pernyataan ini mengandung bahwa seorang manusia tidak bisa
hidup sendirian dan eksistensinya tidaklah terlaksana kecuali dengan kehidupan bersama. Dia
tidak akan mampu menyempurnakan eksistensi dan mengatur kehidupannya dengan sempurna
secara sendirian. Benar-benar sudah menjadi wataknya, apabila manusia butuh bantuan dalam
memenuhi kebutuhannya.10
Oleh karena itu, manusia memerlukan pendidikan, karena ia dalam keadaan tidak
berdaya, dan ketidakberdayaan itu memerlukan bantuan orang lain. Sebab, secara esensial bahwa

pendidikan adalah media untuk menolong dan membantu

manusia untuk memenuhi

kebutuhannya.

H. Kontrol sosial dan Pendidikan


Kontrol sosial dalam arti luas, setiap usaha atau tidakan dari seseorang atau suatu pihak
untuk mengatur perilaku orang lain. Oleh sebab itu, kelakuan manusia senantiasa berlangsung
dengan interaksi orang lain.
Jadi, secara umum Sosiologi Pendidikan bertujuan untuk mengembangkan fungsifungsinya selaku ilmu pengetahuan (pemahaman eksplanasi, prediksi, dan utilisasi) melalui
pengkajian tentang keterkaitan fenomena-fenomena siosial dan pendidikan, dalam rangka
mencari model-model pendidikan yang lebih fungsional dalam kehidupan masyarakat. Secara
khusus, Sosiologi Pendidikan berusaha untuk menghimpun data dan informasi tentang interaksi
sosial di antara orang-orang yang terlibat dalam institusi pendidikan dan dampaknya bagi peserta
didik, tentang hubungan antara lembaga pendidikan dan komunitas sekitarnya, dan tentang
hubungan

10

antara

pendidikan

dengan

pranata

kehidupan

lain.

Drs.UusRuswandi,M.Pd,Landasan Kependidikan,(Jakarta:Rineka Cipta,2002),hal 152.

I. Masyarakat Indonesia sebagai Landasan Sosiologi system Pendidikan

Nasional

Landasan sosiologis pendidikan di Indonesia menganut paham integralistik yang


bersumber dari norma kehidupan masyarakat: 1) kekeluargaan dan gotong royong, kebersamaan,
musyawarah untuk mufakat, 2) kesejahteraan bersama menjadi tujuan hidup bermasyarakat, 3)
negara melindungi warga negaranya, dan 4) selaras serasi seimbang antara hak dan kewajiban.
Oleh karena itu, pendidikan di Indonesia tidak hanya meningkatkan kualitas manusia secara
orang

per

orang

melainkan

juga

kualitas

struktur

masyarakatnya.

Landasan Pendidikan diperlukan dalam dunia pendidikan khususnya di negara kita


Indonesia,agar pendidikan yang sedang berlangsung dinegara kita ini mempunyai pondasi atau
pijakan yang sangat kuat karena pendidikan di setiap negara tidak sama.Untuk negara kita
diperlukan landasan pendidikan berupa landasan hukum psikologi, ekonomi, dan sosial.
Pendidikan sebagai usaha sadar yang sistematis selalu bertolak dari sejumlah landasan. Landasan
tersebut sangat penting, karena pendidikan merupakan pilar utama terhadap perkembangan
manusia dan masyarakat bangsa tertentu. Beberapa landasan pendidikan tersebut adalah landasan

filosofis, sosiologis, dan kultural, yang sangat memegang peranan penting dalam menentukan
tujuan pendidikan. 11
Bagi bangsa Indonesia pendidikan diharapkan bisa mengusahakan pembangunan manusia
pancasila sebagai manusia yang tinggi kualitasnya dan mampu untuk mandiri. Landasan
keilmuan itu juga sebagai pemberi dukungan bagi perkembangan masyarakat. Sehingga
Pendidikan dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
11

http://hetinymuthia.blogspot.com/2011/12/makalah-pengertian-dan-landasan.html dalam

bukunya Hasan Shadly,Sosiologi untuk Masyarakat Indonesia,(Jakarta:Bina Aksara,1983),hal 15.


Masyarakat dapat merupakan suatu kesatuan hidup dalam arti luas ataupun dalam arti
sempit. Masyarakat dalam arti luas pada umumnya lebih abstrak misalnya masyarakat bangsa,
sedang dalam arti sempit lebih konkrit misalnya marga atau suku. Masyarakat sebagai kesatuan
hidup memiliki ciri utama, antara lain:
1) ada interaksi antara warga-warganya,
2) pola tingkah laku warganya diatur oleh adapt istiadat, norma-norma, hukum, dan
aturan-aturan khas,
3) ada rasa identitas kuat yang mengikat para warganya. Kesatuan wilayah, kesatuan
adat- istiadat, rasa identitas, dan rasa loyalitas terhadap kelompoknya merupakan pangkal dari
perasaan bangga sebagai patriotisme, nasionalisme, jiwa korps, dan kesetiakawanan sosial (Umar
Tirtarahardja dan La Sulo, 1994: 100). 12

12

http://yeyensuryani.blogspot.com/2010/04/sosiologi-pendidikan-materi-landasan.html dalam

bukunya Suparlan Suhartono, Wawasan pendidikan sebuah pengantar pendidikan, (Yogyakarta:


Arruzz Media,2008)hal 87.

BAB III
PENUTUP
A.

Simpulan
Landasan sosiologis mengandung norma dasar pendidikan yang bersumber dari norma

kehidupan masyarakat yang dianut oleh suatu bangsa. Untuk memahami kehidupan
bermasyarakat suatu bangsa, kita harus memusatkan perhatian pada pola hubungan antar pribadi
tersebut.
Sosiologi pendidikan dituntut untuk melakukan tiga fungsi, yaitu: 1) fungsi eksplanasi, 2)
fungsi prediksi, 3) fungsi utilisasi. Secara umum, sosiologi pendidikan bertujuan untuk
mengembangkan fungsi-fungsinya tersebut melalui pengkajian fenomena-fenomena sosial dan
pendidikan, dalam rangka mencari model-model pendidikan yang lebih fungsional dalam
kehidupan masyarakat. Perkembangan masyarakat Indonesia dari masa ke masa telah
mempengaruhi sistem pendidikan nasional. Hal tersebut sangatlah wajar, mengingat kebutuhan
akan pendidikan semakin meningkat dan kompleks.
Berbagai upaya pemerintah telah dilakukan untuk menyesuaikan pendidikan dengan
perkembangan masyarakat terutama dalam hal menumbuhkembangkan ke-Bhineka Tunggal Ikaan, baik melalui kegiatan jalur sekolah maupun jalur pendidikan luar sekolah. Landasan sosial
budaya adalah pondasi standar atau dasar dari adanya interaksi antar individu yang didalamnya
terdapat suatu keseluruhan yang kompleks dari pengetahuan yang diperoleh individu(manusia)
sebagai anggota dalam masyarakat. Dengan adanya interaksi antar individu dalam masyarakat
maka pendidikan terus berkembang dan untuk pelayanan akan meningkat. Sosial budaya
terhadap pendidikan mempunyai beberapa fungsi, antara lain mewujudkan masyarakat
cerdas,transmisi budaya, pengendalian sosial, meningkatkan iman dan takwa kepda Allah SWT.
Dan sebagai analisis kedudukan dalam masyarakat, sebagai alat kemajuan dan perkembangan
sosial dan sebagai dasar untuk menentukan tujuan pendidikan. Landasan sosial budaya setelah
dikaitkan dengan pendidikan maka menghasilkan sejumlah konsep pendidikan dan salah satu
dampaknya adalah adanya pergeseran paradigma pendidikan dari sekolah, masyarakat luas
dengan berbagai pengalaman yang luas akibat dari adanya budaya masa kini.
B. KRITIK DAN SARAN

Di dalam penyusunan makalah ini materi yang kami susun tentang pondasi sosiologi
pendidikan kami mengharapkan agar pemahaman tentang landasan sosiologi pendidikan ini lebih
dikembangkan secara lanjut,secara mendalam untuk bisa meningkatkan kualitas pendidikan yang
bermutu. Adapun saran yang ingin kami sampaikan agar landasan sosiologi pendidikan ini lebih
diutamakan/di prioritaskan menjadi hal yang pertama dalam sebuah pendidikan demi tercapainya
suatu pendidikan yang dapat dipahami oleh semua kalangan. Mudah-mudahan makalah ini dapat
bermanfaat khususnya bagi kami dan umumnya bagi pembaca.

DAFTAR PUSTAKA
Ruswandi Uus.M.Pd.Drs.2008. Landasan Pendidikan.Bandung:Insan Mandiri Abdulsyani.2008.
Sosiologi Skematika Teori dan Terapan. Bandung: Bumi Aksara
Soekanto Soerjono.Dr.Prof.2012.Sosiologi suatu Pengantar. Jakarta: PT.Raja Grafindo
Pidarta Made.Dr.Prof.2002. Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta
http://hetinymuthia.blogspot.com/2011/12/makalah-pengertian-dan-landasan.html
http://kurniawati93.blogspot.com/2013/01/pentingnya-landasan-pendidikan-yang.html
http://www.docstoc.com/docs/153311409/dasar-dan-pondasi-pendidikan
http://yeyensuryani.blogspot.com/2010/04/sosiologi-pendidikan-materi-landasan.html
http://vivienanjadi.blogspot.com/2012/02/landasan-sosiologis-pendidikan.html
http://scanzovarious09.blogspot.com/2013/04/makalah-pendidikan_20.html
http://ketrin-manullang.blogspot.com/2011/10/landasan-sosiologi-pendidikan.html

BAB V

PENUTUP
A. Simpulan
Berdasarkan uraian dalam pembahasan ini, dapat disimpulkan bahwa
kegiatan ekstrakurikuler sangat penting dalam mengembangkan watak dan
kepribadian siswa. Untuk itu perlu adanya kerjasama antara sekolah dan
masyarakat dalam merancang kegiatan yang berkaitan dengan
pengembangan karakter anak, sehingga setelah dewasa nanti anak dapat
merasakan sendiri manfaat dari kegiatan ini. Pendidikan karakter yang baik
harus melibatkan bukan saja aspek pengetahuan yang baik tetapi juga
perilaku yang baik, artinya pendidikan karakter adalah perangkat
pengajaran yang membawahi berbagai aspek yang menyangkut
pengendalian emosi, pengembangan kognisi, pendidikan moral dan etika,
serta pendidikan keterampilan hidup.
Khususnya yaitu dalam ekstrakulikuler PKS ini yang ada pada MAN
babakan ciwaringin Cirebon yang sebagaimana menjadikan siswa-siswi lebih
disiplin dan manaati aturan-aturan yang ada pada madrasah ini, untuk itu
apapun ekstrakulikuler yang diikuti itu akan bermanfaat bagi sekolah
ataupun lingkungan masyarakat.
B. Saran
Dengan adanya hasil laporan mini riset ini diharapkan kepada
pembaca dapat lebih mengetahui fungsi, tujuan tentang ekstrakulikkuler,
betapa pentinggnya untuk mengikuti sebuah ekstrakulikulikuler dalam
lembaga pendidikan . Semoga setelah membaca hasil laporan ini setidaknya
dapat menambah ilmu pengetahuan dan dapat menerapkan apa yang telah
didapat dari membaca hasil laporan ini.

DAFTAR PUSTAKA
Badrudin,Manajemen Peserta Didik, (Jakarta:Indeks 2014)
Eka Prihatin, Manajemen Peserta Didik, (Bandung:ALFABETA 2011)
http://www.academia.edu/6763733/Fungsi_Kegiatan_Ekstrakurikuler (waktu :
Kamis 02 April 2015 pukul 20.27 WIB)
https://techonly13.worrdpress.com/2009/07/14/pengertian-kegiatan-ekstrakurikuler/ (Waktu:Kamis,02 April 2015 pukul 21.00 WIB)
Ida Rosyidah,Pengelolaan Kelas yang Bernuansa Aktif dan Inovatif,
(Bandung:Ice Consultan 2014)
Koran pendidikan. 11-17 Mei 2011.Sejajarkan Ekstrakurikuler dan
Akademik.
Pasyabrilian. Teori Nativisme.(online http:// butuhartikel. Com / teorinativisme. html diakses 24-Mei-2011)
Sekolah
Dasar.
Mengadakan
Kegiatan
Ekstrakurikuler.
(online),
(http)://Sekolah
Dasar.Blogspot.com/2010/mengadakan
kegiatan
ekstrakurikuler. Html/diakses 24-Mei-2011)

E. LANDASAN PANCASILA
.
A. Landasan Pendidikan Pancasila

1. Landasan Historis
Bangsa Indonesia terbentuk melalui proses yang panjang mulai jaman kerajaan Kutai,
Sriwijaya, Majapahit sampai datangnya penjajah. Bangsa Indonesia berjuang untuk menemukan
jati dirinya sebagai bangsa yang merdeka dan memiliki suatu prinsip yang tersimpul dalam
pandangan hidup serta filsafat hidup, di dalamnya tersimpul ciri khas, sifat karakter bangsa yang
berbeda dengan bangsa lain. Oleh para pendiri bangsa kita (the founding father) dirumuskan
secara sederhana namun mendalam yang meliputi lima prinsip (sila) dan diberi nama Pancasila.
Dalam era reformasi bangsa Indonesia harus memiliki visi dan pandangan hidup yang
kuat (nasionalisme) agar tidak terombang-ambing di tengah masyarakat internasional. Hal ini
dapat terlaksana dengan kesadaran berbangsa yang berakar pada sejarah bangsa.
Secara historis nilai-nilai yang terkandung dalam setiap sila Pancasila sebelum
dirumuskan dan disahkan menjadi dasar negara Indonesia secara obyektif historis telah dimiliki
oleh bangsa Indonesia sendiri. Sehingga asal nilainilai Pancasila tersebut tidak lain adalah dari
bangsa Indonesia sendiri, atau bangsa Indonesia sebagai kausa materialis Pancasila.
2. Landasan Kultural
Bangsa Indonesia mendasarkan pandangan hidupnya dalam bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara pada suatu asas kultural yang dimiliki dan melekat pada bangsa itu sendiri. Nilai-nilai
kenegaraan dan kemasyarakatan yang terkandung dalam sila-sila Pancasila bukanlah merupakan
hasil konseptual seseorang saja melainkan merupakan suatu hasil karya bangsa Indonesia sendiri
yang diangkat dari nilai-nilai kultural yang dimiliki melalui proses refleksi filosofis para pendiri
negara. Oleh karena itu generasi penerus terutama kalangan intelektual kampus sudah seharusnya
untuk mendalami serta mengkaji karya besar tersebut dalam upaya untuk melestarikan secara
dinamis dalam arti mengembangkan sesuai dengan tuntutan jaman.
3. Landasan Yuridis
Landasan yuridis (hukum) perkuliahan Pendidikan Pancasila di Perguruan Tinggi diatur
dalam UU No.2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 39 menyatakan : Isi

kurikulum setiap jenis, jalur dan jenjang pendidikan wajib memuat Pendidikan Pancasila,
Pendidikan Agama, Pendidikan Kewarganegaraan.
Demikian juga berdasarkan SK Mendiknas RI, No.232/U/2000, tentang Pedoman
Penyusunan Kurikulum Pendidikan Tinggi dan Penilaian Hasil Belajar Mahasiswa, pasal 10 ayat
1 dijelaskan bahwa kelompok Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan, wajib diberikan dalam
kurikulum setiap program studi, yang terdiri atas Pendidikan Pancasila, Pendidikan Agama, dan
Pendidikan Kewarganegaraan.
Sebagai pelaksanaan dari SK tersebut, Dirjen Pendidikan Tinggi mengeluarkan Surat
Keputusan

No.38/DIKTI/Kep/2002,

tentang

Rambu-rambu

Pelaksanaan

Mata

Kuliah

Pengembangan Kepribadian (MPK). Dalam pasal 3 dijelaskan bahwa kompetensi kelompok


mata kuliah MPK bertujuan menguasai kemampuan berfikir, bersikap rasional dan dinamis,
berpandangan luas sebagai manusia intelektual. Adapun rambu-rambu mata kuliah MPK
Pancasila adalah terdiri atas segi historis, filosofis, ketatanegaraan, kehidupan berbangsa dan
bernegara serta etika politik. Pengembangan tersebut dengan harapan agar mahasiswa mampu
mengambil sikap sesuai dengan hati nuraninya, mengenali masalah hidup terutama kehidupan
rakyat, mengenali perubahan serta mampu memaknai peristiwa sejarah, nilai-nilai budaya demi
persatuan bangsa.
4. Landasan Filosofis
Pancasila sebagai dasar filsafat negara dan pandangan filosofis bangsa Indonesia, oleh karena
itu sudah merupakan suatu keharusan moral untuk secara konsisten merealisasikan dalam setiap
aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Secara filosofis bangsa Indonesia sebelum mendirikan negara adalah sebagai bangsa yang
berketuhanan dan berkemanusiaan, hal ini berdasarkan kenyataan obyektif bahwa manusia
adalah mahluk Tuhan YME. Setiap aspek penyelenggaraan negara harus bersumber pada nilainilai Pancasila termasuk sistem peraturan perundang-undangan di Indonesia. Oleh karena itu
dalam realisasi kenegaraan termasuk dalam proses reformasi dewasa ini merupakan suatu
keharusan bahwa Pancasila merupakan sumber nilai dalam pelaksanaan kenegaraan, baik dalam
pembangunan nasional, ekonomi, politik, hukum, social budaya, maupun pertahanan keamanan.

B. Tujuan Pendidikan Pancasila


Dengan mempelajari pendidikan Pancasila diharapkan untuk menghasilkan peserta didik
dengan sikap dan perilaku :
1. Beriman dan takwa kepada Tuhan YME
2. Berkemanusiaan yang adil dan beradab
3. Mendukung persatuan bangsa
4. Mendukung kerakyatan yang mengutamakan kepentingan bersama diatas kepentingan
individu/golongan
5. Mendukung upaya untuk mewujudkan suatu keadilan social dalam masyarakat.
Melalui Pendidikan Pancasila warga negara Indonesia diharapkan mampu memahami,
menganalisa dan menjawab masalah-masalah yang dihadapi oleh masyarakat bangsanya secara
berkesinambungan dan konsisten dengan cita-cita dan tujuan nasional dalam Pembukaan UUD
1945.
C. Pembahasan Pancasila Secara Ilmiah
Pancasila termasuk Filsafat Pancasila sebagai suatu kajian ilmiah harus memenuhi syaratsyarat ilmiah, menurut Ir. Poedjowijatno dalam bukunya Tahu dan Pengetahuan mencatumkan
syarat-syarat ilmiah sebagai berikut :
-

berobyek
bermetode
bersistem
bersifat universal

1. Berobyek
Dalam filsafat, ilmu pengetahuan dibedakan antara obyek forma dan obyek materia.
Obyek materia Pancasila adalah suatu sudut pandang tertentu dalam pembahasan Pancasila.
Pancasila dapat dilihat dari berbagai sudut pandang misalnya : Moral (moral Pancasila),
Ekonomi (ekonomi Pancasila), Pers (Pers Pancasila), Filsafat (filsafat Pancasila), dsb. Obyek
Materia Pancasila adalah suatu obyek yang merupakan sasaran pembahasan dan pengkajian
Pancasila baik yang bersifat empiris maupun non empiris. Bangsa Indonesia sebagai kausa

materia (asal mula nilai-nilai Pancasila), maka obyek material pembahasan Pancasila adalah
bangsa Indonesia dengan segala aspek budaya dalam bermayarakat, berbangsa dan bernegara.
Obyek materia empiris berupa lembaran sejarah, bukti-bukti sejarah, benda-benda sejarah dan
budaya, Lembaran Negara, naskah-naskah kenegaraan, dsb. Obyek materia non empiris non
empiris meliputi nilai-nilai budaya, nilai-nilai moral, nilai-nilai religius yang tercermin dalam
kepribadian, sifat, karakter dan pola-pola budaya.
2. Bermetode
Metode adalah seperangkat cara/sistem pendekatan dalam rangka pembahasan Pancasila
untuk mendapatkan suatu kebenaran yang bersifat obyektif. Metode dalam pembahasan
Pancasila sangat tergantung pada karakteristik obyek forma dan materia Pancasila. Salah satu
metode adalah analitico syntetic yaitu suatu perpaduan metode analisis dan sintesa. Oleh
karena obyek Pancasila banyak berkaitan dengan hasil-hasil budaya dan obyek sejarah maka
sering digunakan metode hermeneutika yaitu suatu metode untuk menemukan makna dibalik
obyek, demikian juga metode koherensi historis serta metode pemahaman penafsiran dan
interpretasi. Metode-metode tersebut senantiasa didasarkan atas hukum-hukum logika dalam
suatu penarikan kesimpulan.
3. Bersistem
Suatu pengetahuan ilmiah harus merupakan sesuatu yang bulat dan utuh. Bagian-bagian
dari pengetahuan ilmiah harus merupakan suatu kesatuan antara bagian-bagian saling
berhubungan baik hubungan interelasi (saling hubungan maupun interdependensi (saling
ketergantungan). Pembahasan Pancasila secara ilmiah harus merupakan suatu kesatuan dan
keutuhan (majemuk tunggal) yaitu ke lima sila baik rumusan, inti dan isi dari sila-sila Pancasila
merupakan kesatuan dan kebulatan.
4. Universal
Kebenaran suatu pengetahuan ilmiah harus bersifat universal artinya kebenarannya tidak
terbatas oleh waktu, keadaan, situasi, kondisi maupun jumlah. Nilai-nilai Pancasila bersifat

universal atau dengan kata lain intisari, esensi atau makna yang terdalam dari sila-sila Pancasila
pada hakekatnya bersifat universal.
Tingkatan Pengetahuan Ilmiah
Tingkat pengetahuan ilmiah dalam masalah ini bukan berarti tingkatan dalam hal
kebenarannya namun lebih menekankan pada karakteristik pengetahuan masing-masing.
Tingkatan pengetahuan ilmiah sangat ditentukan oleh macam pertanyaan ilmiah sbb :
Deskriptif

: suatu pertanyaan bagaimana

Kausal

: suatu pertanyaan mengapa

Normatif

: suatu pertanyaan kemana

Essensial

: suatu pertanyaan apa

1. Pengetahuan Deskriptif
Pengetahuan deskriptif yaitu suatu jenis pengetahuan yang memberikan suatu keterangan,
penjelasan obyektif. Kajian Pancasila secara deskriptif berkaitan dengan kajian sejarah
perumusan Pancasila, nilai-nilai Pancasila serta kajian tentang kedudukan dan fungsinya.
2. Pengetahuan Kausal
Pengetahuan kausal adalah suatu pengetahuan yang memberikan jawaban tentang sebab
akibat. Kajian Pancasila secara kausal berkaitan dengan kajian proses kausalitas terjadinya
Pancasila yang meliputi 4 kausa yaitu kausa materialis, kausa formalis, kausa efisien dan kausa
finalis. Selain itu juga berkaitan dengan Pancasila sebagai sumber nilai, yaitu Pancasila sebagai
sumber segala norma.
3. Pengetahuan Normatif
Pengetahuan normatif adalah pengetahuan yang berkaitan dengan suatu ukuran,
parameter serta norma-norma. Dengan kajian normatif dapat dibedakan secara normatif

pengamalan Pancasila yang seharusnya dilakukan (das sollen) dan kenyataan faktual (das sein)
dari Pancasila yang bersifat dinamis.
4. Pengetahuan Esensial
Pengetahuan esensial adalah tingkatan pengetahuan untuk menjawab suatu pertanyaan
yang terdalam yaitu pertanyaan tentang hakekat sesuatu. Kajian Pancasila secara esensial pada
hakekatnya untuk mendapatkan suatu pengetahuan tentang intisari/makna yang terdalam dari
sila-sila Pancasila (hakekat Pancasila).
Lingkup Pembahasan Pancasila Yuridis Kenegaraan
Pancasila yuridis kenegaraan meliputi pembahasan Pancasila dalam kedudukannya
sebagai dasar negara Republik Indonesia, sehingga meliputi pembahasan bidang yuridis dan
ketatanegaraan. Realisasi Pancasila dalam aspek penyelenggaraan negara secara resmi baik yang
menyangkut norma hukum maupun norma moral dalam kaitannya dengan segala aspek
penyelenggaraan negara. Tingkatan pengetahuan ilmiah dalam pembahasan Pancasila yuridis
kenegaraan adalah meliputi tingkatan pengetahuan deskriptif, kausal dan normatif. Sedangkan
tingkat pengetahuan essensial dibahas dalam bidang filsafat Pancasila, yaitu membahas sila-sila
Pancasila sampai inti sarinya, makna yang terdalam atau membahas sila-sila Pancasila sampai
tingkat hakikatnya.
D. Beberapa Pengertian Pancasila
Kedudukan dan fungsi Pancasila jika dikaji secara ilmiah memiliki pengertian yang luas,
baik dalam kedudukannya sebagai dasar negara, pandangan hidup bangsa, ideologi negara dan
sebagai kepribadian bangsa bahkan dalam proses terjadinya, terdapat berbagai macam
terminologi yang harus kita deskripsikan secara obyektif. Oleh karena itu untuk memahami
Pancasila secara kronologis baik menyangkut rumusannya maupun peristilahannya maka
pengertian Pancasila meliputi :
1. Pengertian Pancasila secara Etimologis

Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta dari India, menurut Muhammad Yamin dalam
bahasa Sansekerta kata Pancasila memiliki dua macam arti secara leksikal, yaitu :
Panca artinya lima
Syila artinya batu sendi, alas, dasar
Syiila artinya peraturan tingkah laku yang baik/senonoh
Secara etimologis kata Pancasila berasal dari istilah Pancasyila yang memiliki arti secara
harfiah dasar yang memiliki lima unsur. Kata Pancasila mula-mula terdapat dalam kepustakaan
Budha di India. Dalam ajaran Budha terdapat ajaran moral untuk mencapai nirwana dengan
melalui samadhi dan setiap golongan mempunyai kewajiban moral yang berbeda. Ajaran moral
tersebut adalah Dasasyiila, Saptasyiila, Pancasyiila. Pancasyiila menurut Budha merupakan lima
aturan (five moral principle) yang harus ditaati, meliputi larangan membunuh, mencuri, berzina,
berdusta dan larangan minum-minuman keras.
Melalui penyebaran agama Hindu dan Budha, kebudayaan India masuk ke Indonesia
sehingga ajaran Pancasyiila masuk kepustakaan Jawa terutama jaman Majapahit yaitu dalam
buku syair pujian Negara Kertagama karangan Empu Prapanca disebutkan raja menjalankan
dengan setia ke lima pantangan (Pancasila).
Setelah Majapahit runtuh dan agama Islam tersebar, sisa-sisa pengaruh ajaran moral
Budha (Pancasila) masih dikenal masyarakat Jawa yaitu lima larangan (mo limo/M5) : mateni
(membunuh), maling (mencuri), madon (berzina), mabok (minuman keras/candu), main
(berjudi).
2. Pengertian Pancasila Secara Historis
Sidang BPUPKI pertama membahas tentang dasar negara yang akan diterapkan. Dalam
sidang tersebut muncul tiga pembicara yaitu M. Yamin, Soepomo dan Ir.Soekarno yang
mengusulkan nama dasar negara Indonesia disebut Pancasila. Tanggal 18 Agustus 1945 disahkan
UUD 1945 termasuk Pembukaannya yang didalamnya termuat isi rumusan lima prinsip sebagai
dasar negara. Walaupun dalam Pembukaan UUD 1945 tidak termuat istilah/kata Pancasila,
namun yang dimaksudkan dasar negara Indonesia adalah disebut dengan Pancasila. Hal ini

didasarkan atas interpretasi historis terutama dalam rangka pembentukan rumusan dasar negara
yang secara spontan diterima oleh peserta sidang BPUPKI secara bulat. Secara historis proses
perumusan Pancasila adalah :
a.

Mr. Muhammad Yamin


Pada sidang BPUPKI tanggal 29 Mei 1945, M. Yamin berpidato mengusulkan lima asas dasar
negara sebagai berikut :

1.
2.
3.
4.
5.

Peri Kebangsaan
Peri Kemanusiaan
Peri Ketuhanan
Peri Kerakyatan
Kesejahteraan Rakyat
Setelah berpidato beliau juga menyampaikan usul secara tertulis mengenai rancangan UUD RI
yang di dalamnya tercantum rumusan lima asas dasar negara sebagai berikut :

1.
2.
3.
4.
5.

Ketuhanan Yang Maha Esa


Kebangsaan persatuan Indonesia
Rasa kemanusiaan yang adil dan beradab
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia

b. Mr. Soepomo
Pada sidang BPUPKI tanggal 31 Mei 1945 Soepomo mengusulkan lima dasar negara sebagai
berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Persatuan
Kekeluargaan
Keseimbangan lahir dan bathin
Musyawarah
Keadilan rakyat

c.

Ir. Soekarno

Pada sidang BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, Ir. Soekarno mengusulkan dasar negara yang disebut
dengan nama Pancasila secara lisan/tanpa teks sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Nasionalisme atau Kebangsaan Indonesia


Internasionalisme atau Perikemanusiaan
Mufakat atau Demokrasi
Kesejahteraan Sosial
Ketuhanan yang berkebudayaan
Selanjutnya beliau mengusulkan kelima sila dapat diperas menjadi Tri Sila yaitu Sosio Nasional
(Nasionalisme dan Internasionalisme), Sosio Demokrasi (Demokrasi dengan Kesejahteraan
Rakyat), Ketuhanan yang Maha Esa. Adapun Tri Sila masih diperas lagi menjadi Eka Sila yang
intinya adalah gotong royong.

d. Piagam Jakarta
Pada tanggal 22 Juni 1945 diadakan sidang oleh 9 anggota BPUPKI (Panitia Sembilan) yang
menghasilkan Piagam Jakarta dan didalamnya termuat Pancasila dengan rumusan sebagai
berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.


Kemanusiaan yang adil dan beradab
Persatuan Indonesia
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

3. Pengertian Pancasila Secara Terminologis


Dalam Pembukaan UUD 1945 yang ditetapkan tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI tercantum
rumusan Pancasila sebagai berikut :
1.
2.
3.
4.
5.

Ketuhanan Yang Maha Esa


Kemanusiaan yang adil dan beradab
Persatuan Indonesia
Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Rumusan Pancasila sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 inilah yang
secara konstitusional sah dan benar sebagai dasar negara Republik Indonesia. Namun dalam
sejarah ketatanegaraan Indonesia dalam upaya bangsa Indonesia mempertahankan proklamasi
dan eksistensinya, terdapat pula rumusan-rumusan Pancasila sebagai berikut :
a.

Dalam Konstitusi Republik Indonesia Serikat (29 Desember 17 Agustus 1950)

1.
2.
3.
4.
5.

Ketuhanan Yang Maha Esa


Peri Kemanusiaan
Kebangsaan
Kerakyatan
Keadilan Sosial

b. Dalam UUD Sementara 1950 (17 Agustus 1950 5 Juli 1959)


1.
2.
3.
4.
5.

Ketuhanan Yang Maha Esa


Peri Kemanusiaan
Kebangsaan
Kerakyatan
Keadilan Sosial

c.

Dalam kalangan masyarakat luas

1.
2.
3.
4.
5.

Ketuhanan Yang Maha Esa


Peri Kemanusiaan
Kebangsaan
Kedaulatan Rakyat
Keadilan Sosial
Dari berbagai macam rumusan Pancasila, yang sah dan benar adalah rumusan Pancasila
yang terdapat dalam Pembukaan UUD 1945 sesuai dengan Ketetapan MPRS No.
XX/MPRS/1966 dan Ketetapan MPR No. III/MPR/2000.

A. Pengertian Model Pembelajaran

Gunteret al (1990:67) mendefinisikan an instructional model


is a step-by-step procedure that leads to specific learning
outcomes.

Joyce

&

Weil

(1980)

mendefinisikan

model

pembelajaran sebagai kerangka konseptual yang digunakan


sebagai pedoman dalam melakukan pembelajaran.
Dengan demikian, model pembelajaran merupakan kerangka
konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam
mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
belajar dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang
pembelajaran serta para pengajar dalam merencanakan dan
melaksanakan

aktivitas

pembelajaran.

Sehingga,

aktivitas

pembelajaran benar-benar merupakan kegiatan bertujuan yang


tertata secara sistematis. Jadi model pembelajaran cenderung
preskriptif,

yang

relatif

sulit

dibedakan

dengan

strategi

pembelajaran. An instructional strategy is a method for delivering


instruction that is intended to help students achieve a learning
objective (Burden & Byrd, 1999:85).
Selain memperhatikan rasional teoretik, tujuan, dan hasil
yang ingin dicapai, model pembelajaran memiliki lima unsur
dasar (Joyce & Weil (1980), yaitu (1) syntax, yaitu langkahlangkah operasional pembelajaran, (2) social system, adalah
suasana

dan

norma

yang

berlaku

dalam

pembelajaran,

(3)principles of reaction, menggambarkan bagaimana seharusnya


guru memandang, memperlakukan, dan merespon siswa, (4)
support system, segala sarana, bahan, alat, atau lingkungan
belajar yang mendukung pembelajaran, dan (5) instructional dan

nurturant

effectshasil

belajar

yang

diperoleh

langsung

berdasarkan tujuan yang disasar (instructional effects) dan hasil


belajar di luar yang disasar (nurturant effects).
Model pembelajaran sangat diperlukan untuk memandu
proses belajar secara efektif. Model pembelajaran yang efektif
adalah model pembelajaran yang memiliki landasan teoretik yang
humanistik, lentur, adaptif, berorientasi kekinian, memiliki sintak
pembelajaran yang sedehana, mudah dilakukan, dapat mencapai
tujuan dan hasil belajar yang disasar.
B. Jenis-Jenis Model Pembelajaran
1. Model Pembelajaran Kontekstual
Pembelajaran Kontekstual adalah
yang

mendorong

konsep

pembelajaran

guru untuk menghubungkan antara materi

yang diajarkan dan situasi dunia nyata siswa. Dan


mendorong

siswa

membuat

hubungan

antara

juga

pengetahuan

yang dimilikinya dan penerapannya dalam kehidupan mereka


sehari-hari. Pembelajaran kontekstual dapat dilaksanakan dari TK
SD

SMTP

SMTA dan PT. Landasan Filosofis model Pembelajaran

Kontekstual (CTL) adalah konstruktivisme artinya filosofi belajar


yang menekankan

bahwa

menghafal.

harus mengkonstruksi

benak

Siswa

mereka

sendiri.

belajar

tidak

Pengetahuan

hanya

sekedar

pengetahuan

tidak

pisahkan harus utuh.


Komponen pembelajaran kontekstual, yaitu:
a. Konstruktivisme,
b. Inkuiri,
c. Bertanya,

di

bisa dipisah-

d.
e.
f.
g.

Masyarakat belajar,
Pemodelan,
Refleksi,
Penilaian

2. Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)


Model
Pembelajaran
Langsung
(Direct
Instruction)
merupakan salah satu model pengajaran yang dirancang khusus
untuk

mengembangkan

belajar

siswa

tentang

pengetahuan

prosedural dan pengetahuan deklaratif yang terstruktur dengan


baik dan dapat dipelajari selangkah demi selangkah (Sofan Amri
& Iif Khoiru Ahmadi, 2010:39).
Di samping itu, model pembelajaran langsung ini pada
dasarnya bisa dan sangat cocok diterapkan apabila mendapati
situasi yang memungkinkan di antaranya seperti berikut ini :
a. Saat guru ingin mencoba mengenalkan bidang pembelajaran
baru.
b. Saat guru ingin mencoba mengajari keterampilan kepada siswa
ataupun mengajari prosedur yang mempunyai struktur jelas.
c. Saat para siswa mendapati kesulitan yang bisa diatasi
dengan sebuah penjelasan terstruktur.
d. Saat guru ingin menyampaikan teknik tertentu sebelum para
peserta didik melakukan kegiatan praktek.
e. Saat guru menginginkan para siswa tertarik akan suatu topik.
3. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Model cooperative learning beranjak dari dasar pemikiran
getting

better

kesempatan

together yang

belajar

menekankan

yang lebih

luas

dan

pada

pemberian

suasana

yang

kondusif

kepada

siswa

mengembangkan

untuk

pengetahuan,

keterampilan-keterampilan

memperoleh,
sikap,

sosial

yang

dan

nilai,

serta

bermanfaat

bagi

kehidupannya di masyarakat.
Melalui model cooperative learning, siswa bukan hanya
belajar dan menerima apa yang disajikan oleh guru dalam proses
belajar mengajar, melainkan bisa juga belajar dari siswa lainnya,
dan sekaligus mempunyai kesempatan untuk membelajarkan
siswa

yang lain.

Proses

pembelajaran

dengan

model

cooperative learning ini mampu merangsang dan menggugah


potensi

siswa secara

optimal dalam suasana belajar dalam

kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 2 sampai 6 orang


siswa.
Sebagai dampak isntruksional dalam model cooperative
learning adalah pemahaman, keterampilan berpikir kritis dan
kreatif,

kemampuan

pemecahan

komunikasi,

keterampilan

bermakna,

proses pembelajaran

dampak

mengunakan

demokratis,

siswa,

otonomi

dan
dan

efektif

yang

efektif.

intrapersonal.
Beberapa

Tipe/Jenis

aspek
Model

Sedangkan
kelas

keragaman

siswa, kebebasan

sosial,

secara

lingkungan

dalam mengatasi

kebebasan

penumbuhan

kemampuan

pengetahuan

pengiringnya adalah menciptakan

yang
siswa,

masalah,

sebagai

interpersonal,

Pembelajaran

kooperatif

dan
ini

diantaranya yaitu :
1) Tipe Numbered Heads Together (NHT)
Tipe pembelajaran kooperatif melalui metode NHT dirancang
khusus agar siswa dapat memahami materi pelajaran meski

menggunakan metode berkelompok. Tipe ini dikembangkan oleh


Kagen dengan melibatkan siswa yang terbagi dalam kelompok
untuk menguasai materi pada mata pelajaran yang akan dibahas.
Tipe

NHT

menekankan

pada

pembentukan

struktur-struktur

khusus untuk menciptakan pola interaksi siswa. NHT menekankan


kepada siswa agar saling bergantung pada keompok-kelompok
yang telah dibuat secara kooperatif. Hal ini dapat meminimalkan
kegaduhan dalam kelas pada penggunaan metode tradisional
dimana

siswa

mengacungkan

tangan

terlebih

dahulu

baru

ditunjuk guru untuk menjawab pertanyaan yang telah diberikan.


2) Jigsaw
Model Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah sebuah
model belajar kooperatif yang menitik beratkan kepada kerja
kelompok siswa dalam bentuk kelompok kecil, seperti yang
diungkapkan Lie ( 1993: 73), bahwa pembelajaran kooperatif
model jigsaw ini merupakan model belajar kooperatif dengan cara
siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri atas empat
sampai dengan enam orang secara heterogen dan siswa bekerja
sama salaing ketergantungan positif dan bertanggung jawab
secara mandiri.
Dalam model pembelajaran jigsaw ini siswa memiliki banyak
kesempatan untuk mengemukanakan pendapat, dan mengelolah
imformasi yang didapat dan dapat meningkatkan keterampilan
berkomunikasii, anggota kelompok bertanggung jawab atas
keberhasilan kelompoknya dan ketuntasan bagian materi yang
dipelajari,

dan

dapat

(Rusman, 2008.203).

menyampaikan

kepada

kelompoknya

3) Tipe Student Teams Achievement Divisions(STAD)


STAD merupakan metode pembelajaran kooperatif yang
paling sederhana. STAD menekankan pada tanggung jawab
kelompok untuk meyakinkan bahwa anggotanya telah memahami
100% pembelajaran yang telah disampaikan oleh guru secara
klasikal pada waktu awal. Oleh karena itu model pembelajaran
STAD dapat membuat siswa untuk saling membantu dalam
menyelesaikan suatu permasalahan.
Pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD ini siswa
dikelompokkan ke dalam kelompok kecil yang disebut tim.
Kemudian seluruh kelas diberikan presentasi materi pelajaran.
Siswa kemudian diberikan tes. Nilai-nilai individu digabungkan
menjadi nilai tim. Pada model pembelajaran kooperatif tipe ini
walaupun siswa dites secara individual, siswa tetap dipacu untuk
bekerja sama untuk meningkatkan kinerja dan prestasi timnya.
4) Team Game Tournament (TGT)
Model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) adalah
salah satu tipe atau model pembelajaran kooperatif yang mudah
diterapkan, melibatkan aktivitas seluruh siswa tanpa harus ada
perbedaan status, melibatkan peran siswa sebagai tutor sebaya
dan mengandung unsur permainan dan reinforcement. Aktivitas
belajar dengan permainan yang dirancang dalam pembelajaran
kooperatif model Teams Games Tournament (TGT) memungkinkan
siswa

dapat

belajar

lebih

rileks

disamping

menumbuhkan

tanggung jawab, kejujuran, kerja sama, persaingan sehat dan


keterlibatan belajar.

Model pembelajaran kooperatif tipe TGT mirip dengan model


pembelajaran kooperatif tipe STAD, tetapi bedanya hanya pada
kuis yang digantikan dengan turnamen mingguan (Slavin, 1994).
Pada model pembelajaran kooperatif ini, siswa-siswa saling
berkompetisi dengan siswa dari kelompok lain agar dapat
memberikan kontribusi poin bagi kelompoknya. Suatu prosedur
tertentu digunakan untuk membuat permainan atau turnamen
berjalan secara adil. Penelitian menunjukkan bahwa model
pembelajaran kooperatif tipe TGT terbukti efektif meningkatkan
hasil belajar siswa.
5) Tipe Team Assisted Individualization (TAI).
Tipe pembelajaran TAI merupakan kolaborasi antara metode
pembelajaran individual dengan metode pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif tipe TAI memiliki 8 (delapan)
komponen, yaitu:
a. Teams
Yaitu pembentukan kelompok heterogen yang terdiri atas 4
sampai 6 siswa.
b. Placement test
Yakni pemberian pre-tes kepada siswa atau melihat rata-rata nilai
harian siswa agar guru mengetahui kelemahan siswa dalam
bidang tertentu.
c. Student Creative
Melaksanakan tugas dalam suatu kelompok dengan menciptakan
situasi dimana keberhasilan individu ditentukan atau dipengaruhi
oleh keberhasilan kelompoknya.
d. Team Study

Yaitu tahapan tindakan belajar yang harus dilaksanakan oleh


kelompok dan guru memberikan bantuan secara individual
kepada siswa yang membutuhkannya.
e. Team Scores and Team Recognition
Yaitu pemberian skor terhadap hasil
memberikan

criteria

penghargaan

kerja

terhadap

kelompok
kelompok

dan
yang

berhasil secara cemerang dan kelompok yang dipandang kurang


berhasil dalam menyelesaikan tgas.
f. Teaching Group
Yakni pemberian materi secara singkat dari guru menjelang
pemberian tugas kelompok.
g. Facts Test
Yaitu pelaksanaan tes-tes kecil berdasarkan fakta yang diperoleh
siswa.
h. Whole Class Units
Yaitu pemberian materi oleh guru kembali di akhir waktu
pembelajaran dengan strategi pemecahan masalah.
6) Problem Based Intruction (PBI)
Problem-based instruction adalah model pembelajaran yang
berlandaskan

paham

konstruktivistik

yang

mengakomodasi

keterlibatan siswa dalam belajar dan pemecahan masalah otentik.


Dalam pemerolehan informasi dan pengembangan pemahaman
tentang topik-topik, siswa belajar bagaimana mengkonstruksi
kerangka

masalah,

mengorganisasikan

dan

menginvestigasi

masalah, mengumpulkan dan menganalisis data, menyusun


fakta,

mengkonstruksi

masalah,

bekerja

secara

pemecahan masalah.
7) Role Playing

argumentasi
individual

mengenai
atau

pemecahan

kolaborasi

dalam

Dalam buku Pembelajaran Kontekstual (Komalasari : 2010)


Model Pembelajaran Role Playing adalah suatu tipe Model
pembelajaran Pelayanan (Sercvice Learning). Model pembelajaran
ini adalah suatu model penguasaan bahan-bahan pelajaran
melalui

pengembangan

imajinasi

dan

penghayatan

murid.

Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan murid


dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benada mati.
8) Group Investigation
Group Investigationn merupakan salah satu bentuk model
pembelajaran kooperatif yang menekankan pada partisipasi dan
aktivitas siswa untuk mencari sendiri materi (informasi) pelajaran
yang akan dipelajari melalui bahan-bahan yang tersedia, misalnya
dari buku pelajaran atau siswa dapat mencari melalui internet.
Siswa dilibatkan sejak perencanaan, baik dalam menentukan
topik maupun cara untuk mempelajarinya melalui investigasi.
Tipe ini menuntut para siswa untuk memiliki kemampuan yang
baik dalam berkomunikasi maupun dalam keterampilan proses
kelompok. Model Group Investigation dapat melatih siswa untuk
menumbuhkan kemampuan berfikir mandiri. Keterlibatan siswa
secara aktif dapat terlihat mulai dari tahap pertama sampai tahap
akhir pembelajaran.
9) Mind Mapping (Peta pikiran)
Mind mapping (peta pikiran) merupakan cara mencatat yang
menyenangkan, cara mudah untuk menyerap dan mengeluarkan
informasi dan ide baru dalam otak (Buzan, 2007: 4). Mind
mapping menggunakan warna, simbol, kata, garis lengkung dan
gambar yang sesuai dengan cara kerja otak. Sugiarto (2004: 75)

menyatakan bahwa, mind mapping (peta pikiran) adalah teknik


meringkas bahan yang perlu dipelajari, dan memproyeksikan
masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau grafik
sehingga lebih mudah memahaminya.
Mind mapping merupakan teknik penyusunan catatan demi
membantu

siswa

menggunakan

seluruh

potensi

otak

agar

optimum. Caranya, mengga- bungkan kerja otak bagian kiri dan


kanan. Dengan mind mapping siswa dapat meningkatkan daya
ingat hingga 78%. Peta pikiran memadukan dan mengembangkan
potensi kerja otak yang terdapat di dalam diri seseorang.
10) Group to arround (keliling kelompok)
Model pembelajaran kooperatif tipe go around sebenarnya
adalah variasi dari model pembelajaran kooperatif tipe group
investigasi.
11) Change of pairs (Tukar pasangan)
Model
pembelajaran
Bertukar

Pasangan

termasuk

pembelajaran dengan tingkat mobilitas cukup tinggi, di mana


siswa akan bertukar pasangan dengan pasangan lainnya dan
nantinya harus kembali ke pasangan semula/pertamanya.
12) Snowball Throwing
Snowball secara etimologi berarti bola salju, sedangkan
throwing

artinya

melempar.

Snowball

Throwing

secara

keseluruhan dapat diartikan melempar bola salju. Menurut


Saminanto, metode pembelajaran Snowball Throwing disebut juga
metode

pembelajaran

gelundungan

bola

salju.

Metode

pembelajaran ini melatih siswa untuk lebih tanggap menerima

pesan dari siswa lain dalam bentuk bola salju yang terbuat dari
kertas, dan menyampaikan pesan tersebut kepada temannya
dalam satu kelompok.
Sedangkan menurut Kisworo metode pembelajaran snowball
throwing adalah suatu metode pembelajaran yang diawali dengan
pembentukan kelompok yang diwakili ketua kelompok untuk
mendapat tugas dari guru kemudian masing-masing siswa
membuat

pertanyaan

yang

dibentuk

seperti

bola

(kertas

pertanyaan) lalu dilempar ke siswa lain yang masing-masing


siswa menjawab pertanyaan dari bola yang diperoleh.
4. Model Pembelajaran Berbasis masalah (PBL)
Model Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM), adalah inovasi
yang paling signifikan dalam pendidikan. Kurikulum pembelajaran
berbasis masalah membantu untuk meningkatkan perkembangan
keterampilan belajar sepanjang hayat dalam pola pikir yang
terbuka, reflektif, kritis, dan belajar aktif.
Model Pembelajaran Berbasis masalah
Sugianto

(2009:151)

dirancang

untuk

(PBL)

membantu

menurut
mencapai

tujuan-tujuan seperti meningkatkan keterampilan intelektual dan


investigative, memahami peran orang dewasa, dan membantu
siswa untuk menjadi pelajar yang mandiri.
5. Model Pembelajaran Terpadu
Model Pembelajaran Terpadu menurut Sugianto (2009:124)
pada hakikatnya merupakan suatu pendekatan pembelajaran
yang

memungkinkan

siswa baik

secara individual maupun

kelompok aktif mencari, menggali, dan menemukan model yang


mencoba

memadukan

beberapa

pokok

bahasan.

Melalui

pembelajaran terpadu siswa dapat memperoleh pengalaman


langsung, sehingga dapat menambah kekuatan untuk menerima,
menyimpan, dan memproduksi kesan-kesan tentang hal-hal yang
dipelajarinya.
Menurut Fogarty dalam bukunya How to Integrate the
Curricula , ada 10 macam model pembelajaran terpadu, seperti :
a. The connected model (model terhubung)
b. The webbed model (model jaring laba-laba)
c. The integrated model ( model integrasi)
d. The nested model (model tersarang)
e. The fragmented model ( model fragmen)
f. The sequenced model ( model terurut)
g. The shared model ( model terbagi)
h. The threaded model (model pasang benang)
i. The immersed model (model terbenam)
j. The networked model (model jaringan)
6. Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
Model Missouri Mathematics Project ( MMP ) merupakan
suatu program yang di desain untuk membantu guru dalam hal
efektivitas penggunaan latihan latihan agar siswa mencapai
peningkatan yang luar biasa. Latihan latihan yang dimaksud
yaitu lembar tugas proyek, dimana pada saat kegiatan belajar
mengajar guru memberikan tugas proyek kepada siswa agar
siswa dapat mengerjakan soal soal tersebut dengan tujuan
untuk membantu siswa agar lebih mudah memahami materi yang
dijelaskan oleh Guru.
7. Model model reciprocal learning
Model pembelajaran reciprocal

adalah

suatu

model

pembelajaran yang menekankan kemampuan membaca. Model


ini

diperkenalkan

oleh

Palincsar

dan Brown

(1984)

(dalam

Chalsum,

2005)

diajarkan

pengajar

(1986)

yang
ke

mengatakan

kemampuan

pembelajar.

reciprocal bermakna

membaca

Menurut Kamus

timbal

balik

dan

Dewan
saling

membantu. Kamarudin Haji Husin dan Siti Hajar Abdul Aziz


(1998)(dalam

Chalsum,

2005)

pula

mengatakan

model

pembelajaran reciprocal adalah pengajaran menyaling. Dari


definisi-definisi

tersebut

menunjukkan

bahwa

model

pembelajaran reciprocal adalah suatu bentuk pembelajaran yang


aktif.
Pembelajaran

ini

melibatkan

komunikasi

antara

pembelajar dan pembelajar berdasarkan segmen teks yang


dibaca; dan ini bisa dilakukan dalam kelompok besar atau kecil,
tanpa batasan. Pembelajaran
komunikasi

antar

ini

memperkenalkan

berbagai kelompok

untuk

teknik

memperbaiki

pengertian, menjawab persoalan, dan memilih permasalahan


penting

ketika

membaca

pembelajaran berlangsung,
kemudian

akan

sesuatu

pembelajar

teks.

Pada

akan membaca

mendiskusikannya. Pengajaran

saat
teks,

reciprocal

melibatkan sesuatu interaksi yang terjalin di antara pengajar


dan pembelajar ketika memahami teks yang dibaca secara
bergantian.
Weinstein
mengemukakan
memperhatikan

&

Meyer
bahwa

empat

hal,

(1998)
dalam
yaitu

(dalam

Suherman)

pembelajaran
bagaimana

harus

siswa belajar,

mengingat, berpikir, dan memotivasi diri. Sedangkan Resnik


(1999) mengemukan bahwa belajar efektif dengan cara membaca
bermakna, merangkum, bertanya, representasi, hipotesis. Untuk

mewujudkan belajar efektif, Donna Meyer (1999) mengemukakan


cara

pembelajaran

resiprokal,

yaitu:

informasi pengarahan,

berkelompok mengerjakan LKSD - modul, membaca-merangkum.


C. Langkah-Langkah Model Pembelajaran
1. Model Pembelajaran Kontekstual
Langkah-langkah :
a. Konstruktivisme
1) Membangun pemahaman mereka sendiri dari pengalaman baru
berdasar pada pengetahuan awal
2) Pembelajaran harus dikemas menjadi proses mengkonstruksi
bukan menerima pengetahuan
b. Inquiri (menemukan)
1) Proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman
2) Siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis
c. Questioning (bertanya)
1) Kegiatan guru untuk mendorong, dan menilai kemampuan
berpikir siswa
2) Bagi siswa yang merupakan bagian penting dalam pembelajaran
yang berbasis inquiry
d. Learning Community (masyarakat belajar)
1) Sekelompok orang yang terikat dalam kegiatan belajar
2) Bekerjasama dengan orang lain lebih baik daripada belajar sendiri
3) Tukar pengalaman
4) Berbagi ide
e. Modeling (pemodelan)
1) Proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja
dan belajar
2) Mengerjakan apa yang guru inginkan agar siswa mengerjakannya

f. Authentic Assesment (penilaian yang sebenarnya)


1) Mengukur pengetahuan dan keterampilan siswa
2) Penilaian produk (kinerja)
3) Tugas-tugas yang relevan dan kontekstual
g. Reflection (refleksi)
1) Cara berpikir tentang apa yang telah kita pelajari
2) Mencatat apa yang telah dipelajari
3) Membuat jurnal, karya seni, diskusi kelompok
2. Model Pembelajaran Langsung (Direct Instruction)
Langkah-Langkah
a. Orientasi
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran
b. Presentasi
Mendemonstrasikan keterampilan, menyajikan materi tahap
demi tahap, murid dituntut menguasai:
1) Menguasai prosedural yaitu bagaimana cara melakukan sesuatu
2) Deklaratif yaitu tahap demi tahap
c. Latihan terstruktur
Murid diberi tugas tertentu, guru membimbing diskusi, siswa aktif
dengan tanya jawab diskusi, perhatian, dll.
d. Latihan terbimbing
Melakukan pengecekan apa tugas yang diberikan telah dilakukan
dengan baik
e. Latihan bebas
Pemantapan apa yang telah dilakukan
f. Penilaian
3. Model Pembelajaran Kooperatif (Cooperative Learning)
Langkah-langkah :
a. Menyampaikan tujuan dan memotivasi siswa

Pengajar

menyampaikan

semua

tujuan pelajaran

yang

ingin dicapai dan memotivasi siswa belajar.


b. Menyajikan informasi
Pengajar menyajikan informasi pada siswa dengan jalan
demonstrasi atau lewat bahan bacaan
c. Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar
Pengajar menjelaskan pada siswa bagaimana caranya
membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok
agar melakukan transisi secara efisien.
d. Membimbing kelompok bekerja dan belajar
Pengajar membimbing kelompok belajar pada saat siswa
mengerjakan tugas.
e. Evaluasi
Pengajar mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang
telah

dipelajari

atau

masing-masing

kelompok

mempresentasikan hasil kerjanya.


f. Memberikan penghargaan
Pengajar mencari cara-cara untuk menghargai baik upaya
maupun hasil belajar individu dan kelompok
Beberapa Tipe/Jenis

Model Pembelajaran kooperatif ini

diantaranya yaitu :
1) Tipe Numbered Heads Together (NHT)
Langkah-Langkah
a) Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok
mendapat nomor
b) Guru

memberikan

tugas

dan

masing-masing

kelompok

mengerjakannya
c) Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan
tiap

anggota

jawabannya

kelompok

dapat

mengerjakannya/mengetahui

d) Guru memanggil salah satu nomor siswa dengan nomor yang


dipanggil melaporkan hasil kerjasama mereka
e) Tanggapan dari teman yang lain, kemudian guru menunjuk nomor
yang lain
f) Kesimpulan
2) Jigsaw
Langkah-langkah:
a) Guru membagi siswa ke dalam beberapa kelompok (disebut
dengan kelompok asal, setiap kelompok terdiri dari 4 6 siswa
dengan kemampuan yang heterogen). Setiap anggota kelompok
nantinya diberi tugas untuk memilih dan mempelajari materi yang
telah disiapkan oleh guru (misal ada 5 materi/topik)
b) Di kelompok asal, setelah masing-masing siswa menentukan
pilihannya,

mereka

langsung

membentuk

kelompok

ahli

berdasarkan materi yang dipilih.


c) Setelah setiap kelompok ahli mempelajari (berdiskusi) tentang
materinya masing-masing, setiap anggota dalam kelompok ahli
kembali lagi ke kelompok asal untuk menjelaskan/menularkan
apa-apa yang telah mereka pelajari/diskusikan di kelompok ahli.
Ilustrasinya adalah sebagai berikut:
d) Dalam tipe ini peran guru lebih banyak sebagai fasilitator, yaitu
memfasilitasi agar pelaksanaan kegiatan diskusi dalam kelompok
ahli maupun penularan dalam kelompok asal berjalan secara
efektif dan optimal.
e) Setelah masing-masing anggota dalam kelompok asal selesai
menyampaikan apa yang dipelajari sewaktu dalam kelompok ahli,

guru memberikan soal/kuis pada seluruh siswa. Soal harus


dikerjakan secara individual.
f) Nilai dari pengerjaan kuis individual digunakan sebagai dasar
pemberian nilai penghargaan untuk masing-masing kelompok.
Teknik penilaian/penghargaan akan dijelaskan tersendiri di akhir
bab pembelajaran kooperatif ini.
3) Tipe Student Teams Achievement Divisions (STAD)
Langkah-langkah:
a) Penyajian bahan.
b) Bentuk tim dan belajar di tim mereka sendiri untuk menjawab
kemungkinan-kemungkinan pertanyaan guru.
c) Kasi kuis / pertanyaan-pertanyaan (anggota tim tidak saling
membantu).
d) Pertanyaan-pertanyaan di no 3 diulang bagi siswa yang tidak
dapat menjawab untuk perbaikan skor.
e) Pengenalan tim. Guru menunjukkan pada seluruh kelas tim mana
yang paling mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan guru dan
dikasi hadiah bila perlu.
4) Team Game Tournament (TGT)
Langkah-langkah:
a) Beri informasi secara klasikal
b) Bentuk kelompok beranggotakan 4-5 siswa (kemampuan siswa
heterogen)
c) Diskusi kelompok untuk penguatan pemahaman materi yang
dikaitkan dengan kuis/latihan yang telah diberikan (mempelajari
kembali)
d) Permainan/turnamen
Salah satu wakil tim yang dianggap mampu ke depan kelas. Para
wakil (boleh 3-4) diberi pertanyaan oleh guru. Pertanyaan guru
boleh dijawab oleh wakil tim yang lain bila tidak menjawab.

Permainan lain persiapan permainan. Selelah kartu diisi nomor


lalu siswa yang ke depan mengambil nomor undian yang berisi
pertanyaan-pertanyaan. Siswa duduk di meja yang dikasi warna
berbeda, misalnya kuning, hijau, merah dan lain-lain. Pertanyaan
bisa dibacakan oleh seorang murid yang lain, selanjutnya siswa
yang menang maju dengan peserta lain dan seterusnya.
e) Beri soal untuk dilombakan
f) Beri penghargaan pada kelompok yang wakilnya dapat maju
terus sampai dengan ketentuan yang telah ditetapkan.
5) Tipe Team Assisted Individualization (TAI).
Langkah-langkah:
a) Bentuk tim (sama dengan di STAD, TGT)
b) Pre test.
c) Pemberian materi.
d) Tim belajar masing-masing mencri tim mereka dan membahas
semua hal yang berhubungan dengan materi.

e) Team scores and team recognation.


f) Teaching Groups. Setiap hari guru ada di tim-tim yang berbeda
untuk membantu kesulitan tim. Di sini dituntut keterampilan guru
dalam membimbing kelompok kecil.
g) Test. Tes diberikan hampir 2 x seminggu, atau boleh disuruh
belajar di rumah dengan LKS barn besoknya dites.
h) Whole Class Unit. Lebih kurang 3 minggu guru bisa menyetop
program ini dan bisa belajar ke hal lain.
6) Problem Based Intruction (PBI)
Langkah-Langkah:

a) Guru menjelaskan kompetensi yang ingin dicapai dan


menyebutkan sarana atau alat pendukung yang dibutuhkan.
Memotivasi siswa untuk terlibat dalam aktivitas pemecahan
masalah yang dipilih.
b) Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan
tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut
(menetapkan topik, tugas, jadwal, dll.)
c) Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang
sesuai, eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan
pemecahan masalah, pengumpulan data, hipotesis, pemecahan
masalah.
d) Guru membantu siswa dalam merencanakan menyiapkan karya
yang sesuai seperti laporan dan membantu mereka berbagi tugas
dengan temannya
e) Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi
terhadap eksperimen mereka dan proses-proses yang mereka
gunakan

7) Role Playing
Langkah-langkah:
a) Guru menyusun/menyiapkan skenario yang akan ditampilkan
b) Menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dalam
waktu beberapa hari sebelum KBM
c) Guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya 5 orang
d) Memberikan penjelasan tentang kompetensi yang ingin dicapai
e) Memanggil para siswa yang sudah ditunjuk untuk melakonkan
skenario yang sudah dipersiapkan

f) Masing-masing siswa berada di kelompoknya sambil mengamati


skenario yang sedang diperagakan
g) Setelah selesai ditampilkan, masing-masing siswa diberikan
lembar kerja untuk membahas penampilan masing-masing
kelompok.
h) Masing-masing kelompok menyampaikan hasil kesimpulannya
i) Guru memberikan kesimpulan secara umum
j) Evaluasi
k) Penutup
8) Group Investigation
Langkah-langkah:
a) Guru membagi kelas dalam beberapa kelompok heterogen
b) Guru menjelaskan maksud pembelajaran dan tugas kelompok
c) Guru memanggil ketua-ketua untuk satu materi tugas sehingga
satu kelompok mendapat tugas satu materi/tugas yang berbeda
dari kelompok lain
d) Masing-masing kelompok membahas materi yang sudah ada
secara kooperatif berisi penemuan
e) Setelah selesai diskusi, lewat juru bicara, ketua menyampaikan
hasil pembahasan kelompok
f) Guru memberikan penjelasan singkat sekaligus memberi
kesimpulan
g) Evaluasi
9) Mind Mapping (Peta pikiran)
Langkah-langkah:
a) Guru menyampaikan kompetensi yang ingin dicapai

b) Guru mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi


oleh siswa dan sebaiknya permasalahan yang mempunyai
alternatif jawaban
c) Membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang
d) Tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban
hasil diskusi
e) Tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil
diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan
sesuai kebutuhan guru
f) Dari data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan atau
guru memberi perbandingan sesuai konsep yang disediakan guru
10) Group to arround (keliling kelompok)
Langkah-langkah:
a)Membagi siswa kedalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 - 5
siswa
b) Memberikan pertanyaan terbuka yang bersifat analitis
c) Mengajak setiap siswa untuk berpartisipasi dalam menjawab
pertanyaan kelompoknya secara bergiliran searah jarum jam
dalam kurun waktu yang disepakati.
11) Change of pairs (Tukar pasangan)
Langkah-langkah:
a) Siswa dibentuk berkelompok secara berpasangan/2 orang (guru
bisa menunjuk pasangannya atau siswa memilih sendiri
pasangannya).

b) Guru memberikan tugas dan siswa mengerjakan tugas dengan


pasangannya.
c) Setelah selesai setiap pasangan bergabung dengan satu
pasangan dari kempok yang lain.
d) Kedua pasangan tersebut bertukar pasangan, kemudian
pasangan yang baru ini saling menanyakan dan mencari
kepastian jawaban mereka.
e) Temuan baru yang didapat dari pertukaran pasangan kemudian
dibagikan kepada pasangan semula.
f) Kesimpulan.
g) Penutup.
12) Snowball Throwing
Langkah-langkah:
a) Guru menyampaikan materi yang akan disajikan
b)Guru membentuk kelompok-kelompok dan memanggil masingmasing ketua kelompok untuk memberikan penjelasan tentang
materi
c) Masing-masing ketua kelompok kembali ke kelompoknya masingmasing, kemudian menjelaskan materi yang disampaikan oleh
guru kepada temannya
d) Kemudian masing-masing siswa diberikan satu lembar kertas
kerja, untuk menuliskan satu pertanyaan apa saja yang
menyangkut materi yang sudah dijelaskan oleh ketua kelompok

e) Kemudian kertas yang berisi pertanyaan tersebut dibuat seperti


bola dan dilempar dari satu siswa ke siswa yang lain selama 15
menit
f) Setelah siswa dapat satu bola/satu pertanyaan diberikan
kesempatan kepada siswa untuk menjawab pertanyaan yang
tertulis dalam kertas berbentuk bola tersebut secara bergantian
g) Evaluasi
h) Penutup
13)CO-OP CO-OP ( Cooperative - Cooperative)
Langkah-langkah:
a) Diskusikan dengan siswa minat, keinginan siswa untuk
mempelajari topik, pengalaman yang mereka miliki.
b) Bentuk tim sesuai yang mereka inginkan.
c) Tim memiliki lopik yang diinginkan.
d) Tim membicarakan mini topik yang mana mau dibahas oleh
masing-masing pribadi siswa dalam tim (pemilihan mini topik).
e) Persiapan mini topik. Di sini siswa bekerja secara individu untuk
memutuskan semua pertanyaan yang akan muncul terhadap mini
topik tersebut.
f) Presentasi mini topik. Masing-masing siswa berprestasi dihadapan
anggota timnya terhadap hal-hal/bagian-bagian yang ditugaskan
pada masing-masing siswa.
g) Persiapan presentasi tim. Tim disiapkan untuk ke depan kelas
untuk dilakukan dalam diskusi kelompok besar / diskusi kelas.
h) Presentasi tim. Satu tim mengambil kontrol terhadap kelas.
i) Evaluasi.

Tampilan tim dievaluasi oleh kelas.

Kontribusi individu untuk usaha tim dievaluasi oleh anggota.

Presentasi mini topik oleh masing-masing siswa dievaluasi oleh


guru.
4. Model Pembelajaran Berbasis masalah (PBL)
Langkah-langkah:
a. Masalah sudah ada, materi diberikan
b. Dikasi masalah sebagai pemecahan/diskusi, kerja kelompok
c. Masalah tidak dicari seperti (di problem based learning dari
kehidupan mereka sehari-hari)
d. Murid ditugaskan mengevaluasi/evaluating dan bukan grapping
seperti yang di problem based learning
e. Siswa memberikan kesimpulan dari jawaban yang diberikan
sebagai hasil akhir
5. Model Pembelajaran Terpadu
Langkah-langkah:
a. Menentukan sebuah tema yang sesuai
b. Libatkan semua siswa di kelas agar mendiskusikan kemungkinan
tema yang akan diangkat dalam pembelajaran
c. Menentukan fokus pembelajaran
d. Memberikan aktivitas-aktivitas pembelajaran yang beraneka
macam yang berkaitan dengan tema yang akan jadi fokus
pembelajaran
e. Mengembangkan strategi-strategi untuk menggunakan sumber
daya yang tersedia.
f. Membentuk suasana belajar yang rileks tapi tetap serius.

g. Membagi informasi-informasi yang dimiliki pada tema yang akan


dipelajari
h. Mengajak

siswa

mencermati

dan menentukan

tujuan-

tujuan pembelajaran personal (afektif)


i. Mendorong demokrasi dalam belajar, kreatif, penemuan, dan
kooperatif.
j. Mendorong siswa untuk berbagi pengalaman dan informasi
k. Melibatkan berbagai narasumber yang mungkin dapat membantu
seperti pustakawan, para profesional, orang tua siswa, hingga
relawan
l. Membantu dan mengajak siswa menyajikan hasil kerja dan hasil
belajar mereka
m. Memberi penekanan pada teknik-teknik reflektif dan tanggung
jawab untuk evaluasi mandiri.
n. Diskusi tindak lanjut.
6. Model Pembelajaran Missouri Mathematics Project (MMP)
Langkah-langkah:
a. Review
1) Dengan cara mengulah ulang mata pelajaran yang lalu,
2) Membahas tugas yang diberikan /pekerjaan rumah.
b. Pengembangan
1) Penyajian ide baru atau perluasan konsep matematika yang
terdahulu
2) Penjelasan tentang diskusi, demonstrasi, dengan contoh kongkret
yang sifatnya piktoral dan simbolik.
c. Latihan Terkontrol
1) Siswa merespon soal

2) Guru mengamati
3) Belajarnya kooperatf
d. Seatwork
Siswa bekerja sendiri untuk latihan atau perluasan konsep
e. Pekerjaan Rumah
Tugas membuat pekerjaan rumah.
7. Model model reciprocal learning
Langkah-langkah:
a. Guru menyiapkan materi yang akan dikenai Reciprocal Teaching
Model. Materi tersebut diinformasikan kepada siswa.
b. Siswa mempelajari materi tersebut secara mandiri di rumah.
c. Guru menunjuk salah satu kelompok untuk menyajikan materi
tersebut di depan kelas, lengkap dengan alat peraga yang
mungkin diperlukan.
d. Dengan metode Tanya jawab, guru mengungkapkan kembali
secara singkat untuk melihat tingkat pemahaman para siswa.
Guru dapat menggiring pertanyaan para siswa agar siswa yang
ditunjuk mengajar dapat menjawab pertanyaan dari temannya.
Guru tetap sebagai nara sumber utama.
e. Guru melatih siswa mengerjakan soal (pendalaman materi).
f. Guru memberikan tugas rumah sebagai bentuk latihan rutin

BAB III
KESIMPULAN DAN SARAN
DAFTAR PUSTAKA

Syaripudin, T., (1994), Implikasi Eksistensi Manusia terhadap Konsep Pendidikan


Umum, (Tesis), PPS IKIP Bandung.
-------------------, (2002), Landasan Antropo-filosofis Pendidikan, dalam Landasan
Kependidikan TK., Jurusan FSP FIP UPI.
http://ditanadia12.blogspot.co.id/2015/06/landasan-filosofi-pendidikan-dan.html di
akses tanggal 1 Oktober 2016