Anda di halaman 1dari 73

Pengantar

Bulan ini, Juli 2012 bertepatan dengan ramadan 1433 H, sekolah/madrasah memasuki awal tahun
ajaran. Artinya sekolah/madrasah juga mulai menerima siswa untuk kelas akselerasi. Namun
sayangnya masih banyak kepala sekolah/madrasah yang tidak mau mengerti bahwa akselerasi itu
adalah layanan untuk anak yang memiliki kualifikasi CI+BI, bukan asal memasukan anak demi
gengsi sekolah/madrasah.
Di kabupaten malang, ada sebuah MTs yang kelas akselnya tetap dibuka, padahal tidak ada satupun
anak yang memenuhi kualifiksi CI+BI. di Mojokerto ada madrasah yang yang semua siswanya
dimasukkan ke dalam program aksel. Hal yang sama juga terjadi pada sebuah sekolah islam di
cikarang. Ini baru sebagian kecil penyimpangan yang terjadi. Lebih parahnya lagi penyimpangan
ini justru terjadi pada lembaga pendidikan yang menyebut dirinya berbasis agama.

Foto bareng anak CI+BI SMPN 1 Kota Sukabumi saat acara dialog dengan orang tua dan siswa
kelas aksel SMPN 1 Kota Sukabumi
Asosiasi CI+BI Nasional juga berterima kasih pada sekolah/madrasah yang konsisten hanya
menerima anak CI+BI di kelas aksel, meskipun jumlah terbatas, seperti di SMP Islamic Village
Tangerang dan MTs As Salam di SUkoharjo Jawa Tengah.

Penampilan Anak CI+BI SMPN 1 Cisaat ketika Pembukaan Acara Workshop Kurikulum
Diferensiasi untuk guru SMPN 1 Cisaat Sukabumi, Jawa Barat
Layanan Akselerasi untuk anak CI+BI
Adanya peserta didik yang tidak sesuai kriteria CI+BI, yang kemudian menjadikan layanan
akselerasi tidak optimal. Dampaknya, di masyarakat muncul sorotan negatif tentang program
akselerasi karena membuat peserta didik menjadi teralienasi dari lingkungannya. Hal ini menjadi
alasan sebagian kelompok masyarakat menyarankan program ini dibubarkan.
Keinginan untuk membubarkan program akselerasi ini tentu saja tidak tepat, karena penelitian yang
dilakukan oleh Swiatek dan Benbow (1991) menyimpulkan bahwa penggunaan model akselerasi
yang benar akan mampu mengembangkan secara positif kemampuan anak CI+BI dalam
pengetahuan yang semakin baik dan berkurangnya efek negatif dari aspek sosial dan emosional.
Penelitian yang yang dilakukan Robinson dan Janos (1989) menyimpulkan bahwa layanan
akselerasi tidak akan merusak siswa CI+BI apabila dilakukan secara benar.
Pemaksaan agar siswa CI+BI dimasukkan dalam kelas bersama anak non CI+BI juga tidak terlalu
tepat. Lena Hollingsworth (1995) bahkan menyatakan bahwa lingkungan sekolah reguler tidak
sesuai dengan kebutuhan siswa CI+BI. Sehingga bila lingkungan itu dipaksakan pada siswa CI+BI,
justru mereka akan mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan dengan sebaya dan juga
terbentuknya sikap apatis.
Layanan pembelajaran yang kurang sesuai akan menyebabkan siswa CI+BI berprestasi di bawah
kinerjanya. siswa CI+BI membutuhkan kurikulum yang berbeda dengan anak reguler, karena
layanan reguler dapat mengakibatkan mereka berprestasi rendah. Hal ini disebabkan siswa CI+BI
mempunyai perbedaan secara intelektual, ketertarikan serta kebutuhan di atas rerata siswa
seumurnya.

Di sisi lain, layanan pendidikan yang tidak memadai dapat memunculkan stres yang kemudian
menjadikan munculnya penyimpangan. Penyimpangan yang terjadi antara lain: pelarian menjadi
pecandu narkoba atau melakukan tindakan kontraprestatif seperti pembrontakan terhdap lingkungan
atau prestasi yang jauh dari potensi yang dimiliki.
Kesimpulan
Anak CI+BI adalah anak yang dikaruniakan potensi luar biasatetapi potensi itu akan sulit
teraktualisasi sebagai prestasi luar biasa jika tidak diberikan DUKUNGAN yang memadai
Sebaliknyaanak2 yang tidak memiliki potensi bawaan yang biasa, meskipun dengan pendidikan
yang luar biasa, akan SULIT mencapai prestasi luar biasa..
JADI.layani anak CI+BI dalam program akselerasi dengan benarDAN.jangan paksakan
anak yang tidak berkualifikasi Ci+BI untuk masuk dalam program akselerasi..

ANAK CERDAS ISTIMEWA BAKAT ISTIMEWA (CI+BI) DAN LAYANAN


PENDIDIKANNYA

PENDAHULUAN
Undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat 4 menyatakan
bahwa Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh
pendidikan khusus. Perlunya perhatian khusus kepada anak CI+BI merupakan salah satu upaya
untuk mengembangkan potensi peserta didik secara utuh dan optimal.
Strategi pendidikan yang ditempuh selama ini bersifat masal memberikan perlakuan standar/ratarata kepada semua siswa sehingga kurang memperhatikan perbedaan antar siswa dalam kecakapan,
minat, dan bakatnya. Dengan strategi semacam ini, keunggulan akan muncul secara acak dan sangat
tergantung kepada motivasi belajar siswa serta lingkungan belajar dan mengajarnya. Oleh karena
itu perlu dikembangkan keunggulan yang dimiliki oleh siswa agar potensi yang dimiliki menjadi
prestasi yang unggul.
Perhatian khusus tersebut tidak dimaksudkan untuk melakukan diskriminasi, tetapi semata-mata
untuk memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Melalui
penyelenggaraan pendidikan khusus untuk siswa CI+BI, diharapkan potensi-potensi yang selama
ini belum berkembang secara optimal, akan tumbuh dan mampu menunjukkan kinerja terbaik.

KARAKTERISTIK ANAK CI+BI


Anak-anak gifted bukanlah anak dengan populasi seragam, ia mempunyai banyak variasi, baik
variasi pola tumbuh kembangnya, variasi personalitasnya, maupun variasi keberbakatannya.
Semakin tinggi perkembangan inteligensianya, maka akan terjadi deskrepansi (perbedaan) di
berbagai domain perkembangan. Deskrepansi ini bukan saja akan menyangkut perkembangan
dalam individu, tetapi juga akan menyangkut perkembangan antar individu. Kondisi inilah yang
sering membawa berbagai kesulitan pada anak-anak gifted dan sering salah terinterpretasi
(Silverman, 2004).
Sebagian besar anak gifted akan mengalami perkembangan motorik kasar yang melebihi kapasitas
normal, namun mengalami ketertinggalan perkembangan motorik halus. Saat ia masuk ke sekolah
dasar, umumnya ia mengalami kesulitan menulis dengan baik. Banyak dari anak-anak ini diberi
hukuman menulis berlembar-lembar yang justru tidak menyelesaikan masalahnya bahkan akan
memperberat masalah yang dideritanya. Anak-anak gifted adalah anak-anak yang sangat
perfeksionis, sehingga perkembangan kognitif yang luar biasa tidak bisa ia salurkan melalui bentuk
tulisan. Hal ini selain dapat menyebabkan kefrustrasian dan juga dapat menyebabkan kemerosotan
rasa percaya diri, konsep diri yang kurang sehat serta anjlognya motivasi untuk berprestasi.
Deskrepansi antara perkembangan kognitif dan ketertinggalan motorik halus, ditambah
karakteristik perfeksionisnya bisa menimbulkan masalah yang cukup serius baginya, terutama
kefrustrasian dan munculnya konsep diri negatip, ia merasa sebagai anak yang bodoh tidak
bisa menulis. Namun seringkali pendeteksian tidak diarahkan pada apa akar permasalahan yang
sebenarnya, dan penanggulangan hanya ditujukan pada masalah perilakunya yang dianggap sebagai
perilaku membangkang
Anak cerdas (brigth/higt achiever) berbeda dengan dengan anak CI+BI (gifted) dan anak-anak
cerdas tidak bisa dimaksukkan ke dalam kelompok gifted karena mereka memiliki karakteristik
yang berbeda. Sekalipun mereka juga memiliki tingkat intelegensi yang tinggi, namun kemampuan
mereka dalam analisis, abstraksi dan kreativitas tidak seluar biasa anak-anak CI+BI. Berbagai
perbedaan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

(Sumber: CGIS-Net Assessment systems, 2008)


IDENTIFIKASI ANAK CI+BI
Dalam mengidentifikasi peserta didik cerdas istimewa
menggunakan pendekatan
multidimensional. Artinya kriteria yang digunakan lebih dari satu (bukan sekedar intelligensi).
Batasan yang digunakan adalah peserta didik yang memiliki dimensi kemampuan umum pada taraf
cerdas ditetapkan skor IQ 130 ke atas dengan pengukuran menggunakan skala Wechsler (Pada alat
tes yang lain = rerata skor IQ ditambah dua standar deviasi), dimensi kreativitas tinggi (ditetapkan
skor CQ dalam nilai baku tinggi atau plus satu standar deviasi di atas rerata) dan pengikatan diri
(Task commitment) terhadap tugas baik (ditetapkan skor TC dalam kategori nilai baku baik, atau
plus satu standar deviasi di atas rerata). Tiga komponen ini dikenal sebagai Konsepsi Tiga Cincin
dari Renzulli (1978, 2005) yang banyak digunakan dalam menyusun pendidikan untuk anak cerdas
istimewa, dan merupakan teori yang mendasari pengembangan pendidikan anak cerdas istimewa
dan berbakat istimewa (Gifted and Talented children).
5

(Standar inilah yang digunakan oleh SMA Negeri 3 Surakarta dalam proses rekrutmen peserta
didik baru program akselerasi)
Selanjutnya dari keterkaitan tiga komponen yang menentukan giftedness tersebut, dapat dirinci
kemampuan-kemampuan anak-anak cerdas secara umum maupun secara khusus. Kemampuankemampuan tersebut dapat dilihat pada grafik di bawah ini.

Model lain adalah The Triadich dari Renzulli-Mnks yang merupakan pengembangan dari
Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli. Model Renzulli-Mnks ini disebut sebagai
model multifaktor yang melengkapi Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli. Dalam
model multifaktornya Mnks mengatakan bahwa potensi kecerdasan istimewa (giftedness) yang
dikemukakan oleh Renzulli itu tidak akan terwujud jika tidak mendapatkan dukungan yang
baik dari sekolah, keluarga, dan lingkungan di mana si anak tinggal (Mnks dan Ypenburg,
1995).
Dengan model multifaktor maka pendidikan anak cerdas istimewa tidak dapat dilepaskan dari
peran orang tua dan lingkungan dalam menanggapi gejala-gejala berkecerdasan istimewa
(giftedness), toleran terhadap berbagai karakteristik yang ditampilkannya baik yang positif maupun
berbagai gangguan tumbuh kembangnya yang menjadi penyulit baginya, serta dalam
mengupayakan layanan pendidikannya. Lebih lanjut model pendekatan ini menuntut keterlibatan
pihak orang tua dalam pengasuhan di rumah agar berpartisipasi secara penuh dan simultan dengan
layanan pendidikan terhadap anak di sekolah. Secara grafis pengaruh tersebut dapat dilihat pada
gambar berikut.

Gambar 1. The Multi Factors Model


Model Triadich Renzulli-Mnks menuntut sistem pendidikan, keluarga, dan lingkungan untuk dapat
memberikan dukungan yang baik dan mengupayakan agar anak didik dapat mencapai prestasi
istimewanya, sehingga diharapkan tidak akan terjadi adanya kondisi berprestasi rendah
(underachiever) pada seorang anak berkecerdasan istimewa. Dengan model pendekatan teori ini
juga, maka anak-anak yang mempunyai ciri-ciri berkecerdasan istimewa (dengan ciri-ciri tumbuh
kembang, ciri-ciri personalitas, dan ciri-ciri intelektual) sekalipun underachiever masih dapat
terdeteksi sebagai anak berkecerdasan istimewa yang memerlukan dukungan dari sekolah,
keluarga dan lingkungan agar ia dapat mencapai prestasi yang istimewa sesuai potensinya.
Heller (2004) mengembangkan model multifaktor yang pada dasarnya merupakan pengembangan
dari Triadic Interdependence model Mnks serta Multiple Intelligences dari Howard Gardner.
Menurut Heller konsep keberbakatan dapat ditinjau berdasarkan empat dimensi multifaktor yang
saling terkait satu sama lain: (1) faktor talenta (talent) yang relatif mandiri (relatif mandiri); (2)
faktor kinerja (performance); (3) faktor kepribadian; dan (4) faktor lingkungan; Dua faktor terakhir
menjadi perantara untuk terjadinya transisi dari talenta menjadi kinerja. Secara grafis, model
tersebut dapat dilihat pada gambar berikut.

Proses Identifikasi merupakan salah satu tahap awal yang merupakan kunci utama yang penting
dalam keberhasilan suatu program layanan pendidikan khusus bagi siswa CI+BI. Dalam proses
rekrutmen dan seleksi dipengaruhi oleh model layanan pendidikan yang diberikan bagi peserta
didik cerdas istimewa ada beberapa prinsip identifikasi yang perlu diperhatikan adalah (Klein,
2006; Porter, 2005) yaitu: Cerdas Istimewa merupakan suatu fenomena yang kompleks sehingga
identifikasi hendaknya dilakukan secara multidimensional dengan:
1. Menggunakan sejumlah cara pengukuran untuk melihat variasi dari kemampuan yang dimiliki
oleh siswa cerdas istimewa pada usia yang berbeda.
2. Mengukur bakat-bakat khusus yang dimiliki untuk dijadikan acuan penyusunan program belajar
bagi siswa cerdas istimewa
3. Tidak hanya memperhatikan hal-ahl yang sudah teraktualisasi, namun juga mengidentifikasi
potensi.
4. Identifikasi tidak hanya untuk mengukur aspek kognitif, namun juga motivasi, minat,
perkembangan sosial emosional serta aspek non kognitif lainnya.
PERMASALAHAN ANAK CI+BI
Gejala-gejala lompatan perkembangan anak CI+BI merupakan faktor kuat yang memberi dampak
psikologis dalam perilakunya, baik positif maupun negatif. Dengan memahami karakteristik
anak, orang tua, guru, masyarakat dapat mengantisipasi hal-hal di luar dugaan (misalnya
marah, agresif) dan bisa menduga penyebabnya. Perilaku negatif tersebut, mungkin menjadi
sumber masalah emosional anak CI+BI. Gambaran perilaku negatif dan positif anak CI+BI, dapat
dilihat pada tabel berikut:
Karakteristik
Sangat waspada

Perilaku Positif
Perilaku negatif
Cepat
mengetahui
adaSenang mengoreksi orang
masalah
dewasa
Selera humor tinggi
Mampu menertawakan diriMembuat lelucon dengan
sendiri
mengorbankan orang lain
Mampu
memahami Mampu
memecahkanIkut campur urusan orang lain
keterkaitan satu dengan masalah sosial sendirian
yang lain
Dorongan
berprestasi Mengerjakan tugas sekolahArogan, egois, tidak sabaran
yang kuat
dengan baik
dengan kelambanan orang lain
Kemampuan verbal yang Diplomasi persuasif denganMemanipulasi orang lain
tinggi
tata bahasa yang tepat
Individualistik,
Percaya diri tinggi
Hanya sedikit punya teman
menantang stabilitas
dekat, kuat dengan keyakinan
diri sendiri
Motivasi diri yang kuat, Hanya perlu sedikit arahanAgresif
berlebihan,
merasa
tidak
perlu dan bantuan orang lain
menantang otoritas
bantuan orang lain
8

Karakteristik
Kemampuan
membaca
sangat tinggi
Sangat senang membaca
Kaya
perbendaharaan
kata
Simpanan informasi yang
sangat banyak
Rentang perhatian yang
panjang
Minat beragam, rasa
penasaran yang tinggi
Belajar/bekerja sendiri

Perilaku Positif
Perilaku negatif
Mengingat dan menguasaiGampang bosan, tidak suka
materi belajar dengan mudah hafalan
Membaca berbagai jenisMengabaikan orang lain
buku,
memonopoli
perpustakaan
Mengkomunikasikan gagasanSuka pamer pengetahuan
dengan lancar
Cepat
dalam
menjawabMemonopoli diskusi
pertanyaan
Mengerjakan tugas sampaiTidak suka kerja terbatas
selesai
waktu,
mengatur
sendiri
waktu penyelesaian
Banyak bertanya, senangKurang
dapat
membuat
dengan gagasan baru
pembicaraan
yang
lintas
disiplin
Menciptakan gaya sendiriMenolak bekerjasama dengan
dengan melakukan sesuatu orang lain yang dianggap
tidak sejalan

LAYANAN PENDIDIKAN UNTUK ANAK CI+BI


A. Kurikulum
Kurikulum yang diberikan pada siswa CI+BI tidak boleh sama dengan siswa reguler, karena
bobot dan kedalamannya tidak sesuai karakter siswa CI+BI. Kurikulum untuk siswa CI
diarahkan pada pemenuhan kebutuhan siswa dan sekaligus menyeimbangkan domain
kognitif dan non kognitif.
Berdasarkan pada diferensiasi diatas selanjutnya ditentukan materi kurikulum yang sesuai dengan
siswa. Secara prinsip, penetapan materi yang secara efektif dapat dijadikan sebagai materi
kurikulum bagi siswa akselerasi terikat dengan ketentuan sebagai sebagai berikut
1. Materi memang dikumpulkan dan memenuhi rasa keingintahuan siswa akselerasi dalam
pengembangan keilmuan, memberikan peluang kepadanya dengan belajar hal-hal baru serta
ketrampilan yang mereka butuhkan.
2. Isi kurikulum memiliki tingkat kesulitan paling tidak dua tingkat di atas rerata materi
sebayanya.
3. Materi yang dipilih terfokus pada penerapan pengetahuan nyata.
4. Materi harus lebih unggul dari materi regular, mendalam dan menuntut ketrampilan berfikir
tingkat tinggi.(Joan F. Smutny,2003:54).
Dalam konteks yang lebih modern, pengertian akleserasi tidak hanya isi pelajaran disajikan dalam
bentuk yang ringkas dan dipercepat (compating content) tetapi juga bagaimana teknik intruksional
direkayasa. Oleh karena itu, upaya mengembangkan kurikulum bagi program CI+BI menjadi
penting untuk dilakukan.
9

B. Pembelajaran
Harus difahami bahwa dalam komunitas peserta didik yang berkarakter gifted bukanlah merupakan
komunitas yang homogen, mereka adalah sangat heterogen walaupun sama-sama berciri khas
gifted. Sebagai konsekwensi dari heteroginitas tersebut maka wajib pula disediakan menu model
layanan pendidikan yang juga heterogin. Tidak boleh dianggap mereka sama dan diberikan layanan
sama dalam satu kelas.
Pembelajaran harus berorientasi pada siswa, bukan pada guru. Oleh karena itu penerapan materi
esensial dilakukan dengan cara melakukan asessment kemampuan siswa terhadap materi pelajaran.
Apabila siswa telah menguasai materi suatu materi, maka materi tersebut tidak perlu diajarkan lagi.
Dengan demikian dimungkinkan adanya perbedaan materi yang harus diajarkan kepada seorang
siswa dengan siswa lainnya.
Salah satu bagian penting untuk melaksanakan pembelajaran untuk siswa CI+BI adalah memilih
bahan atau materi ajar. Pengembangan bahan ajar dapat dilakukan melalui pengorganisasian materi.
Isi bidang studi memiliki implikasi langsung dalam upaya pembuatan urutan dan sintesis isi bidang
studi sehingga langkah pengembangan bahan ajar selalu didahului dengan langkah analisis isi
bidang studi dan analisis tujuan.
Yang dimaksud dengan analisis tujuan adalah langkah memperoleh informasi mengenai kategori
tujuan dari pembelajaran, apakah berdimensi cognitive apa efektif atau psikomotorik, demikian
juga diketahui pula level tujuannya, apakah mengarah pada tujuan yang berlevel lainnya. Analisis
atas jenis dan level tujuan sangat menolong bagi pengembang bajan ajar dalam seleksi, menetapkan
materi yang akan dipilih sebagai bahan pengisi pengalaman siswa.
Analisis bidang studi dimaksud sebagai langkah untuk mengetahui jenis kategori apa isi dari bidang
studi, apakah isi bidang studi bermuatan sebatas konsep atau berkategori prosedur atau kategori
prinsip. Dengan mengatahui apa kategorinya bagi pengembang bahan ajar dapat dengan mudah
menentukan strategi
Dalam melakukan pembelajaran kepada siswa CI+BI, khususnya mata pelajaran rumpun MIPA,
penggunaan laboratorium untuk kegiatan praktikum perlu dioptimalkan. Laboratorium merupakan
bagian terintegrasi pada kegiatan pembelajaran MIPA. Pembelajaran MIPA berupa percobaan dan
bukan percobaan dapat dilakukan di laboratorium. Pada saat menjelaskan suatu topik, guru dapat
langsung mempraktekkannya di depan peserta didik. Dengan demikian siswa dapat memahami
materi yang disampaikan oleh guru secara efektif
Bagi para guru penanggungjawab praktikum tugas penting yang harus dan perlu dilakukan adalah
mendisain dan mengelola sebuah kegiatan praktikum. Hal ini dilakukan agar tujuan
pembelajarannya jelas, isi dan urutan kegiatannya terarah dengan baik, relevan dengan tuntutan
kompetensi lulusan nantinya. Di samping itu, praktikum harus dirancang sedemikian rupa sehingga
merupakan pengalaman belajar yang menarik serta menyenangkan bagi peserta didik, bukan justru
sebaliknya, menyiksa dan membosankan.
Sebagaimana kegiatan pembelajaran lainnya, kegiatan praktikum harus dilakukan evaluasi
atau penilaian. Evaluasi cakupan materi praktikum dapat dilakukan dengan mengevaluasi topiktopik dan keterampilan yang diharapkan dikuasai oleh peserta didik. Evaluasi kedalaman relatif
lebih sulit dan memerlukan penilaian yang jujur serta kriteria yang jelas terhadap tugas-tugas yang
diberikan dalam praktikum. Seringkali terjadi aktivitas intelektal peserta didik sebatas hanya
mengikuti petunjuk/resep yang ada di buku petunjuk praktikum, padahal kompetensi yang
10

dikehendaki adalah kemampuan penemuan/penelitian ilmiah. Dua hal yang perlu diperhatikan
dalam menilai praktikum adalah ketepatan metode penilaian dan proses umpan balik.
Sangat penting untuk menjamin bahwa metode penilaian yang digunakan cocok (sesuai dengan
tujuan). Jika tujuan praktikum adalah peserta didik dapat menggunakan alat dengan benar, maka
evaluasi dilakukan dengan mengamati dan menilai apakah yang dilakukan peserta didik telah sesuai
dengan kriteria yang telah disepakati. Jika tujuan praktikum adalah peserta didik mampu berpikir
ilmiah, metode evaluasi harus dapat menilai kemampuan yang ditunjukkan peserta didik. Penilaian
praktikum yang hanya didasarkan pada laporan saja, tidak akan berhasil mengukur
kemampuan berpikir pada tingkat tinggi yang ada pada pekerjaan praktikum itu sendiri.
Umpan balik juga merupakan salah satu sarana penilaian. Proses belajar peserta didik akan dapat
difasilitasi dengan baik apabila ada umpan balik terhadap yang mereka lakukan dan hasilkan.
Umpan balik dapat diperoleh dari guru pembimbing, dosen pendamping atau kelompok praktikan.
A. Tenaga Pendidik
KTSP membuka ruang partisipasi kreatif guru dan pengelola sekolah dalam penjabaran rencana,
metode, dan alat-alat pengajaran. Standar isi, standar kompetensi, dan kompetensi dasar kurikulum
masih ditentukan pemerintah pusat, namun kontekstualisasi detailnya diarahkan kepada pengelola
sekolah dan guru. Guru ditantang untuk mampu menciptakan suasana belajar yang kontekstual dan
menyenangkan bagi siswa, barangkat dari pemahaman bahwa guru (dan pihak sekolahlah) yang
paling paham mengenai karakteristik siswa dan lingkungan sekolahnya.
Dengan demikian seorang tenaga pendidik di program CI+BI harus memiliki kemampuan
optimal dalam mengembangkan potensi siswa dan menciptakan suasana pembelajaran yang
dapat mendorong terjadinya pengembangan siswa. Upaya peningkatan kemampuan tenaga
pendidik perlu dilakukan secara sistemik dan sistematis, bukan sekedar mencukupi
prasyarat sertifikasi.
Pengajar siswa kelas akselerasi harus mampu menyesuaikan diri dengan karakteristik yang ada
pada siswa akselerasi. Secara umum kompetensi yang harus dimiliki guru terdiri dari kompetensi
pedagogik, profesional, personal/kepribadian dan sosial (Kepmendiknas No. 19 Tahun 2005).
Secara lebih spesifik, beberapa kompetensi yang harus dikuasai oleh guru pengajar kelas akselerasi
antara lin:

1. Lulusan S-1 yang sesuai dengan bidang ilmu yang diajarkan, serta berasal dari perguruan tinggi
negeri/swasta yang terakreditasi A.
2. Memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, sehat jasmani dan rohani serta
memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional.
3. Memiliki karakteristik umum yang dipersyaratkan dengan mengacu pada aspek kepribadian dan
kompetensi guru.
4. Memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang karakteristik dan kebutuhan peserta didik
berkecerdasan istimewa.
5. Menguasai substansi mata pelajaran yang diampu.
11

6. Mampu mengelola proses pembelajaran peserta didik, yang meliputi:


a.

Perancangan, pelaksanaan dan evaluasi hasil belajar.

b. Pengembangan peserta didik untuk mengaktualisasikan potensi kecardasan.


7. Mampu mengembangkan materi, metode, produk dan lingkungan belajar peserta didik cerdas
istimewa.
8. Memahami psikologi perkembangan dan psikologi pendidikan.
9. Mampu mengembangkan kreativitas peserta didik.
10. Mampu berbahasa Inggris aktif dan menggunakannya dalam kegiatan pembelajaran.
11. Dapat menggunakan perangkat komputer dan teknologi informasi lainnya dalam proses
pembelajaran.
12. Memiliki pengalaman mengajar di kelas reguler sekurang-kurangnya 3 (tiga) tahun dengan
prestasi baik.
13. Mampu berkomunikasi dengan para pemangku kepentingan terkait penyelenggaraan
pendidikan.
B. Kelembagaan
Pemerintah pada dasarnya telah membuka pintu yang cukup terbuka terkait dengan pelaksanaan
pendidikan akselerasi. Dalam layanan pendidikan khusus yang ditetapkan oleh direktorat
pendidikan luar biasa mengenai bentuk program akselerasi dan keberbakatan, dicantumkan bahwa
program percepatan belajar bisa dilakukan dalam tiga bentuk, yaitu: 1) kelas reguler, 2) kelas
khusus, dan 3) sekolah khusus. Berikut adalah penjelasan dari masing-masing bentuk ini :
1. Kelas Reguler, dimana siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa belajar
bersama-sama dengan siswa lainnya di kelas reguler (model terpadu/inklusif). Bentuk
penyelenggaraan pada kelas reguler dapat dilakukan dengan model sebagai berikut:
a.
Kelas reguler dengan kelompok (cluster). Siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa belajar bersama siswa lain (normal) di kelas reguler dalam kelompok khusus.
b. Kelas reguler dengan pull out. Siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa
belajar bersama siswa lain (normal) di kelas regular, namun dalam waktu tertentu ditarik dari kelas
reguler ke ruang sumber (ruang khusus) untuk belajar mandiri, belajar kelompok, dan/atau belajar
dengan guru pembimbing khusus.
2. Kelas Khusus, dimana siswa yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa belajar
dalam kelas khusus (Bentuk inilah yang dilaksanakan di SMA Negeri 3 Surakarta);
3. Sekolah Khusus, dimana semua siswa yang belajar di sekolah ini adalah siswa yang memiliki
potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
C. Manajemen.

12

Pengelolaan pendidikan khusus bagi siswa CI/BI di sekolah reguler harus memiliki
manajer/pengelola program sendiri dan tidak boleh dirangkap oleh kepala sekolah. Artinya kepala
sekolah, berdasarkan mekanisme pengambilan keputusan yang ada, harus menetapkan
manajer/kepala program tersendiri dengan tugas utama mengelola pendidikan khusus bagi siswa
CI/BI. Dalam pelaksanaan tugas, manajer pendidikan khusus bagi siswa CI/BI dibantu oleh staf
yang dapat berupa staf mandiri maupun dirangkap oleh staf sekolah secara umum. Namun
demikian, secara administratif pendidikan khusus bagi siswa CI/BI harus memiliki dokumen
administrasi yang terpisah dari administrasi sekolah secara umum dalam berbagai aspek, termasuk
aspek pembiayaan. (direktorat PSLB, Dirjend Mandikdasmen Dapartemen Pendidikan Nasional,
2009).
Sumber:
Amril Muhammad (Sekjend. Asosiasi CI+BI Nasional, Sekretaris Dewan Pembina Cugenang
Gifted School, Dosen Jurusan Manajemen Pendidikan FIP UNJ). 2010. Memahami Anak
Cerdas/berbakat Istimewa (CI+BI) dan Pengembangan Layanan Pendidikannya: Makalah.
Muh. Hanif Dhakiri (Komisi X DPR RI). 2010. Penyediaan Layanan Pendidikan Khusus untuk
Anak CI + BI di Indonesia: Makalah.
Alfikalia (Dosen Program Studi Psikologi Universitas Paramadina). 2010. Inklusivitas dalam
Pendidikan bagi Siswa Cerdas Istimewa/Bakat Istimewa: Makalah.
Direktorat PSLB, Dirjend Mandikdasmen Dapartemen Pendidikan Nasional. 2009. Pedoman
Penyelenggaraan Pendidikan untuk Peserta Didik Cerdas Istimewa.
http://www.ditplb.or.id

Pedoman Penyelenggaraan Program CI+BI (Program Akselerasi)


Juni 22, 2010 oleh Sulipan
(diringkas lagi dari Tulisan Bp. Amril Muhammad- Sekjen Asosiasi CI+BI Nasional)
A. Pendahuluan
Menurut data Asosiasi CI+BI Nasional, terdapat 2% dari populasi anak usia sekolah, adalah anak
yang memiliki potensi cerdas/berbakat istimewa. Jika mengacu pada data BPS 2005, terdapat
65.291.624 anak usia sekolah (usia 4-19 thn). Artinya terdapat 1.305.832 anak Indonesia memiliki
potensi cerdas/berbakat istimewa (CI+BI). Meskipun jumlah tersebut relatif kecil, tetapi layanan
kepada mereka tidak cukup memadai. Satu-satunya bentuk layanan pendidikan bagi anak CI+BI
hanyalah dalam bentuk percepatan (akselerasi). Berdasarkan data Asossiasi CI+BI tahun 2008/9,
Jumlah siswa CI+BI yang sudah terlayani di sekolah akselerasi masih sangat kecil, yaitu 9.551
orang yang berarti baru 0,73% siswa CI+BI yang terlayani.
Ditinjau dari segi kelembagaan, dari 260.471 sekolah, baru 311 sekolah yang memiliki program
layanan bagi anak CI+BI. Sedangkan di madrasah, dari 42.756 madrasah, baru ada 7 madrasah
yang menyelenggarakan program aksel. Ini berarti masih sangat rendah sekali jumlah
sekolah/madrasah yang memberikan layanan pendidikan kepada siswa CI+BI, serta keterbatasan
dari ragam pelayanan. Sebagaian besar dari anak-anak tersebut dipaksa mengikuti pendidikan
yang sama dengan anak-anak normal, sehingga mereka mengalami kondisi underachiever
13

Undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat 4 menyatakan
bahwa Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh
pendidikan khusus. Perlunya perhatian khusus kepada anak CI+BI merupakan salah satu upaya
untuk mengembangkan potensi peserta didik secara utuh dan optimal.
Pengembangan potensi tersebut memerlukan strategi yang sistematis dan terarah. Tanpa layanan
pembinaan yang sistematis terhadap siswa CI+BI, bangsa Indonesia akan kehilangan sumber daya
manusia terbaik. Strategi pendidikan yang ditempuh selama ini bersifat masal memberikan
perlakuan standar/rata-rata kepada semua siswa sehingga kurang memperhatikan perbedaan antar
siswa dalam kecakapan, minat, dan bakatnya. Dengan strategi semacam ini, keunggulan akan
muncul secara acak dan sangat tergantung kepada motivasi belajar siswa serta lingkungan belajar
dan mengajarnya. Oleh karena itu perlu dikembangkan keunggulan yang dimiliki oleh siswa agar
potensi yang dimiliki menjadi prestasi yang unggul.
Perhatian khusus tersebut tidak dimaksudkan untuk melakukan diskriminasi, tetapi semata-mata
untuk memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan dan kondisi siswa. Melalui
penyelenggaraan pendidikan khusus untuk siswa CI+BI, diharapkan potensi-potensi yang selama
ini belum berkembang secara optimal, akan tumbuh dan mampu menunjukkan kinerja terbaik.
Melalui pendidikan yang sesuai, maka akan diperoleh generasi unggulan yang dibutuhkan bangsa
dan negara Indonesia, yakni generasi yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi sekaligus
memiliki budi pekerti yang luhur serta berkarakter positif, spiritualis, dan bermental melayani
masyarakat.
B. Tujuan Penyelenggaraan
1.
Memberi kesempatan pada siswa CI+BI untuk mengikuti pendidikan sesuai
potensi kecerdasan yang dimilikinya.
2.
Memenuhi hak asasi siswa CI+BI untuk memperoleh pendidikan yang sesuai
dengan kebutuhannya
3.
Membentuk manusia Indonesia yang memiliki kecerdasan
emosional, dan spiritual serta memiliki ketahanan dan kebugaran fisik.

intelektual,

4.
Meningkatkan efiensi dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan untuk sisa
CI+BI.

D. Karakteristik Peserta Didik CI+BI


Karakteristik Umum
Hasil penelitian dari Balitbang Depdikbud (1986) dan CounCI+BIl of Curriculum Examinations
and Assessment (2006) menyebutkan bahwa seorang anak cerdas istimewa dapat mempunyai
beberapa dari CI+BIri-CI+BIri berikut ini:
1.
2.

Sangat peka dan waspada


Belajar dengan mudah dan cepat

3.

Mampu berkonsentrasi

4.

Sangat logis

5.

Cepat berespon secara verbal dengan tepat


14

6.

Lancar berbahasa

7.

Mempunyai daya ingat yang baik

8.

Mempunyai pengetahuan umum yang luas

9.

Mempunyai minat yang luas dan mendalam

10.

Memiliki rasa ingin tahu yang besar terhadap ilmu pengetahuan

11.

Cermat atau teliti dalam mengamati

12.

Kemampuan membaca yang baik

13.

Lebih menyukai kegiatan verbal daripada kegiatan tertulis

14.

Mempunyai kemampuan untuk mengatasi masalah dengan sangat cepat

15.

Memiliki kemampuan memikirkan beberapa macam pemecahan masalah

16.

Menunjukkan cara pemecahan masalah yang tidak lazim

17.

Mempunyai pendapat dan pandangan yang sangat kuat terhadap suatu hal

18.

Mempunyai rasa humor

19.

Mempunyai daya imajinasi yang hidup dan orisinil

20.

Ulet menghadapi kesulitan (tidak lekas putus asa)

21.

Mempunyai tujuan yang jelas dalam tiap kegiatan atau perbuatannya

22.

Tidak memerlukan dorongan (motivasi) dari luar

23.
Tertarik pada topik-topik yang berkaitan dengan anak-anak yang berusia lebih
tua darinya
24.
Dapat berkomunikasi dengan baik dengan orang dewasa, bahkan lebih baik
daripada jika berkomunikasi dengan anak sebayanya
25.

Bisa belajar sendiri dalam bidang-bidang yang diminati

26.

Berfokus pada minatnya sendiri, bukan pada apa yang diajarkan

27.

Mempunyai keterampilan sosial

28.

Mudah bosan pada hal-hal yang dianggapnya rutin

29.

Menunjukkan kepemimpinan yang tinggi

30.

Kadang-kadang tingkah lakunya tidak disukai orang lain.

Karakteristik khusus Siswa CI+BI bidang Matematika


1.
Mampu menemukan struktur dari masalah yang dihadapi
2.
Mampu memahami logika konsep-konsep
numerik dan spatial, yang
menggunakan simbol-simbol seperti angka dan huruf, dan juga berpikir dengan simbol
matematik

15

3.
Mampu menggeneralisasikan dengan cepat berbagai relasi dan soal-soal
matematika
4.
Mampu belajar secara efisien dengan menemukan cara-cara singkat untuk
menyelesaikan persoalan matematis
5.

Mampu berpikir fleksibel dalam pemecahan masalah

6.

Mampu merekonstruksi masalah

7.
Mempunyai daya ingat yang kuat tentang konsep-konsep dasar dan informasi
lain mengenai matematika
8.
Mampu menghargai kesederhanaan dan kekayaan, dalam pemecahan soal-soal
matematika (karakteristik pembeda utama antara orang-orang yang menjadi pakar
matematika)

Karakteristik khusus Siswa CI+BI Bidang Sains


1.
2.

Mempunyai minat terhadap sains sejak usia dini


Mempunyai minat yang tinggi terhadap proses kerja sesuatu

3.

Mampu memahami ide-ide abstrak pada usia dini

4.

Mempunyai imaginasi yang kuat mengenai sains

5.

Mau melakukan kegiatan sains yang sulit dalam periode panjang

6.

Kemampuan yang luar biasa untuk menyampaikan ide-ide sains secara verbal

7.

Dorongan yang kuat untuk menghafal istilah objek-objek sains

8.
Kreatif dalam melakukan kegiatan sains, termasuk menulis hasil kegiatan
tersebut
9.

Mampu menangkap keterkaitan beberapa hal dalam suatu situasi

E. Model Layanan
Terdapat 3 model layanan kepada siswa CI+BI
1. Kelas Biasa (Inklusi)
Kelas yang memberikan layanan kepada siswa CI+BI yang proses pembelajaran bergabung dengan
siswa reguler. Dalam kelas inklusi ini siswa CI+BI mengikuti seluruh mata pelajaran bersama
dengan siswa lainnya di suatu sekolah.
2. Kelas Khusus
Kelas yang dibuat untuk menampung siswa CI+BI. Perbedaan dengan kelas inklusi adalah pada
siswa artinya. Artinya pada kelas khusus ini, seluruh siswanya adalah siswa yang memenuhi kriteria
CI+BI.
3. Satuan Pendidikan/Sekolah Khusus
16

Sekolah khusus adalah satuan pendidikan yang khusus dibuat untuk menampung anak-anak CI+BI.
Artinya sekolah ini hanya menerima siswa yang berkualifikasi CI+BI saja.
F. Rekrutmen dan Pengembangan siswa
Proses Rekrutmen Siswa
1.
Dilakukan evaluasi secara komperehensif yang meliputi aspek: kecerdasan,
akademis, penyesuaian sosial dan emosional.
2.
Evaluasi dilakukan dengan melibatkan psikolog, guru, orang tua, dan calon
siswa.
3.
Calon siswa yang akan direkrut memiliki dimensi kemampuan umum pada taraf
cerdas ditetapkan skor IQ yang masuk dalam kelompok very Superior, dimensi
kreativitas tinggi (ditetapkan skor CQ dalam nilai baku tinggi atau plus satu standar
deviasi di atas rerata) dan pengikatan diri (Task commitment) terhadap tugas baik
(ditetapkan skor TC dalam kategori nilai baku baik, atau plus satu standar deviasi di
atas rerata).
4.
Dilakukan tes diagnostik untuk memastikan penguasaan kemampuan dasar
yang diperlukan untuk mempelajari materi pada tingkatan kelas yang diambil.

Dalam proses identifikasi terdapat dua tahap, yaitu penjaringan (screening) dan penyaringan
(seleksi).
1. Screening untuk mencari nominasi (penjaringan)
Skrining adalah suatu pendekatan identifikasi tahap awal. Tahap ini melibatkan beberapa pihak,
seperti orangtua, guru, peserta didik yang bersangkutan itu sendiri. Dalam tahap ini dilakukan
seleksi berdasarkan: (a) prestasi akademik pada kelas/tingkat pendidikan sebelumnya dan (b) tes
psikologi.
2. Tahap seleksi atau identifikasi final (penyaringan)
Setelah peserta didik diidenfikasi sebagai nominasi melalui proses skrining, maka mereka
kemudian mendapatkan tes lanjutan atau dilakukan penilaian dari guru, orangtua, atau konselor
yang lebih memahami dengan pasti tingkat keberbakatannya. Pada tahap ini yang lolos pada tahap
penjaringan diberikan tes lanjutan yang dilakukan secara kelompok maupun secara individual, yaitu
tes inteligensi, tes kreativitas, dan skala Task Commitment. Untuk program akselerasi pada tahap ini
diberikan juga tes proyektif sebagai tes penunjang untuk mengetahui aspek emosi dan sosial calon
peserta didik anak berbakat.
Peralatan tes yang digunakan untuk menjaring calon peserta didik program akselerasi untuk
masing-masing jenis tes psikologis dapat dilihat pada tabel berikut.

a. Kemampuan Intelektual

17

SATUAN
PENDIDIKAN

ALAT TES TAHAPALAT TES TAHAP PENYARINGAN


PENJARINGAN

SD/MI

Colour
Matrix

SMP/MTs

Spearmen ProgressiveWechsler
Intelligence
Scale
for
Matrix
Children atau Culture Fair Intelligence
Test Scale 2A/2B

SMA/MA

Culture
FairWechsler Adult Intelligence Scale atau
Intelligence Test Scale Intelligence Structure Test
3A/3B

ProgressiveWechsler
Intelligence
Scale
for
Children, Stanford Binet atau Culture
Fair Intelligence Test Skala 2A/2B

NO JENIS TES
1

IQ MINIMAL

Culture Fair Intelligence Test SKALA 2A/2B Very Superior = 130Very


(SD/MI)Culture Fair Intelligence Test SKALA Superior = 130
2A/2B (SMP/MTs)

Very Superior = 130


Culture Fair Intelligence Test SKALA 3A/3B
(SMA/MA)
2

Colour Progressive Matrix

Grade I Percentil 95

Stanford Binet Test

Very Superior = 140

Wechsler Intelligence Scale for Children Very Superior = 130Very


(SD/MI)Wechsler Intelligence Scale for Children Superior = 130
(SMP/MTs)

Very Superior = 130


Wechsler Adult Intelligence Scale (SMA/MA)
5

Intelligence Structure Test (SMA/MA)

Very Superior = 139

b. Kreativitas
No

SATUAN
PENDIDIKAN

TES KREATIVITAS

SD/MI

Tes Kreativitas Figural (yang disusun oleh Utami


Munandar)

SMP/MTs

Tes Kreativitas Figural dan Tes Kreativitas Figural


(yang disusun oleh Utami Munandar)

SMA/MA

Tes Kreativitas Figural dan Tes Kreativitas Figural


18

(yang disusun oleh Utami Munandar)

c. Skala task commitment, yang mengacu pada indikator:


1)

Tangguh dan ulet (tidak mudah menyerah)

2)

Mandiri dan bertanggungjawab;

3)

Menetapkan tujuan aspirasi yang realistis dengan risiko sedang;

4)

Suka belajar, dan mempunyai orientasi pada tugas yang tinggi

5)

Konsentrasi baik

6)

Mempunyai hasrat untuk meningkatkan diri (working improvement)

7)

Mempunyai hastrat bekerja sebaik-baiknya (working the best he/she can)

8)

Mempunyai hasrat untuk berhasil dalam bidang akademis.

d. Tes Penunjang (Tes Proyektif)


No

SATUAN PENDIDIKAN TES GRAFIS

SD/MI

Draw A Person, House Tree Person

SMP/MTs

Draw A Person, House Tree Person, BAUM

SMA/MA

Draw A Person, Wartegg, Baum

Selain memperhatikan pedoman umum rekrutmen peserta program percepatan belajar juga perlu
memperhatikan kriteria yang ditetapkan berdasarkan aspek persyaratan sebagai berikut :
1. Informasi Data Objektif
a. Akademis, yang diperoleh dari skor :
1)
Nilai Ujian Nasional dari sekolah sebelumnya, dengan rata-rata minimal 8,0 untuk SMP dan
SMA.
2)

Tes kemampuan Akademis, dengan nilai sekekurang-kurangnya 8,0

3)

Rapor kelas sebelumnya , nilai rata-rata seluruh mata pelajaran tidak kurang dari 80.

b. Psikologis,

19

Data ini diperoleh dari hasil pemeriksaan psikologis yang


kreativitas, inventori keterikatan pada tugas, tes kepribadian.

meliputi tes inteligensi umum, tes

Peserta didik yang lulus hasil pemeriksaan psikologis adalah mereka yang memiliki kemampuan
intelektul umum minimal kategori sangat cerdas/very superior dengan skor minimal 130 (skala
Wechsler atau sebesar nilai rerata + 2 deviasi standar untuk alat tes kecerdasan lain) yang ditunjang
oleh kreativitas dan keterikatan terhadap tugas dalam kategori di atas rata- rata dan tidak
mengalami gangguan sosial dan emosional.
1.
Informasi Data Subyektif, yaitu nominasi yang diperoleh dari diri sendiri (self
nomination), teman sebaya (peer nomination) orang tua (parent nomination), guru
(teacher nomination) dan pengamatan dari sejumlah ciri-ciri keberbakatan.
2.
Kesehatan fisik, yang ditunjukkan dengan surat keterangan sehat dari dokter.
3.
Kesediaan Calon Peserta didik dan Persetujuan Orangtua/wali, yaitu pernyataan
tertulis dari peserta didik dan atau orang tua/wali untuk mengikuti program
pendidikan khusus.

Secara umum, siswa CI+BI yang mendaftar untuk mengikuti program CI+BI di suatu sekolah
dapat dikelompokkan menjadi 2, yaitu: siswa yang menjadi peserta program CI+BI di sekolah
sebelumnya, dan siswa baru masuk pada program CI+BI. Untuk kedua kelompok siswa tersebut,
tentu saja ada perbedaan seleksi masuknya.
Calon Siswa dari Sekolah CI+BI
1.
Siswa diterima secara otomatis dengan memenuhi beberapa persyaratan
administratif
2.
Dilakukan tes diagnostik untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mata
pelajaran tertentu dan kemampuannya mengikuti pembelajaran program CI+BI
3.
Dilakukan wawancara kepada orang tua dan calon siswa untuk memastikan
komitmen mereka dalam mengikuti program CI+BI.
4.
Apabila perlu, calon siswa yang bersangkutan dapat diminta mengikuti psiko
tes, agar sekolah mendapatkan informasi terbaru tentang karakteristik kepribadian
siswa maupun tingkat IQ-nya.
5.

Calon Siswa dari sekolah non CI+BI

Calon siswa akan masuk program CI+BI, harus memenuhi beberapa persyaratan, yaitu:
1.
2.

Hasil prestasi akademik dengan nilai rata-rata 8,0.


Skor hasil psikotes masuk dalam kelompok Very Superior

3.

Skor hasil Task comitmen dan kreativitas masuk dalam kelompok baik

4.
Sehat fisik dan mental, yang dibuktikan dengan surat keterangan dari Dokter
pemerintah
5.
Kesediaan peserta didik dan dan orang tua/wali secara tertulis untuk mengikuti
ketentuan-ketentuan penyelenggaraan program

G. Kurikulum
20

Kurikulum yang diberikan pada siswa CI+BI tidak boleh sama dengan siswa reguler, karena bobot
dan kedalamannya tidak sesuai karakter siswa CI+BI. Kurikulum untuk siswa CI+BI diarahkan
pada pemenuhan kebutuhan siswa dan sekaligus menyeimbangkan domain kognitif dan non
kognitif.
Pengembangan kurikulum berdiferensiasi dilakukan dalam upaya memenuhi tuntutan dari karakter
dan kebutuhan siswa CI+BI. Dengan demikian diferensiasi terkait dengan kecocokan tingkat
keunggulan dan kerumitan kurikulum yang sesuai dengan kesiapan dan motivasi belajar yang
dimiliki siswa. diferensiasi bukan saja sebatas pada kurikulum tetapi juga dalam pengayaan dan
perluasaan kegiatan siswa akselerasi. Pengayaan tidak sebatas memberikan PR dan dilakukan
dalam satu tipe. Pengayaan menunjuk pada perluasan dari kurikulum untuk mengembangkan
pengetahuan, penerapan, ketrampilan berfikir dan sikap menuju ke tingkat yang lebih kompleks.
Tujuan utama diferensiasi kurikulum adalah untuk merencanakan secara aktif dan secara konsisten
membantu semua siswa agar belajar maksimal.
Berdasarkan pada diferensiasi diatas selanjutnya ditentukan materi kurikulum yang sesuai dengan
siswa. Secara prinsip, penetapan materi yang secara efektif dapat dijadikan sebagai materi
kurikulum bagi siswa akselerasi terikat dengan ketentuan sebagai sebagai berikut:
1.
Materi memang dikumpulkan dan memenuhi rasa keingintahuan siswa
akselerasi dalam pengembangan keilmuan, memberikan peluang kepadanya dengan
belajar hal-hal baru serta ketrampilan yang mereka butuhkan.
2.
Isi kurikulum memiliki tingkat kesulitan paling tidak dua tahun diatas rerata
materi sebayanya.
3.

Materi yang dipilih terfokus pada penerapan pengetahuan nyata.

4.
Materi harus lebih unggul dari materi regular, mendalam dan menuntut
ketrampilan berfikir tingkat tinggi.(Joan F. Smutny,2003:54).

H. Pembelajaran
Pembelajaran yang diberikan kepada siswa CI+BI tidak boleh terlalu menekankan pada aspek
kognitif. Upaya menyeimbangkan pembelajaran tersebut dilakukan dengan menyajikan aspek
sintetik dan praktikal. Hal ini dilakukan, agar siswa CI+BI memiliki kematangan pengetahuan dan
kemampuan untuk menjawab kebutuhan sosial bermasyarakat.
Pembelajaran harus berorientasi pada siswa, bukan pada guru. Oleh karena itu penerapan materi
esensial dilakukan dengan cara melakukan asessment kemampuan siswa terhadap materi pelajaran.
Apabila siswa telah menguasai materi suatu materi, maka materi tersebut tidak perlu diajarkan lagi.
Dengan demikian dimungkinkan adanya perbedaan materi yang harus diajarkan kepada seorang
siswa dengan siswa lainnya.
Pembelajaran bagi siswa CI+BI harus lebih berorientasi pada pengembangan tuntutan berpikir
tingkat tinggi (advance) sehingga kurikulum disiapkan untuk mendukung bagi upaya terjadinya
kegiatan pembelajaran yang bercorak eksplorasi, inquiri dan pemecahan masalah. Oleh karena itu
materi yang tercakup dalam kurikulum harus berisikan materi unggul dan problem solving.
Implikasinya, guru harus mampu mengubah struktur materi kurikulum yang mengarah pada
struktur materi kasus.

21

Dalam melakukan pembelajaran kepada siswa CI+BI, khususnya mata pelajaran rumpun MIPA,
penggunaan laboratorium untuk kegiatan praktikum perlu dioptimalkan. Laboratorium merupakan
bagian terintegrasi pada kegiatan pembelajaran MIPA. Pembelajaran MIPA berupa percobaan dan
bukan percobaan dapat dilakukan di laboratorium. Pada saat menjelaskan suatu topik, guru dapat
langsung mempraktekkannya di depan peserta didik. Dengan demikian siswa dapat memahami
materi yang disampaikan oleh guru secara efektif
Bagi para guru penanggungjawab praktikum tugas penting yang harus dan perlu dilakukan adalah
mendisain dan mengelola sebuah kegiatan praktikum. Hal ini dilakukan agar tujuan
pembelajarannya jelas, isi dan urutan kegiatannya terarah dengan baik, relevan dengan tuntutan
kompetensi lulusan nantinya. Di samping itu, praktikum harus dirancang sedemikian rupa sehingga
merupakan pengalaman belajar yang menarik serta menyenangkan bagi peserta didik, bukan justru
sebaliknya, menyiksa dan membosankan.
Respon dan pencapaian peserta didik dalam suatu kegiatan praktikum sangat bervariasi antara satu
peserta didik dengan lainnya. Ada berbagai faktor penyebabnya. Salah satu adalah pengelolaan
praktikum yang diserahkan kepada guru/laboran yang belum berpengalaman sehingga tidak
mengetahui kesalahan-kesalahan dasar yang terjadi serta tidak berhasil membangkitkan motivasi
dan minat peserta didik praktikan.
Sebagaimana kegiatan pembelajaran lainnya, kegiatan praktikum harus dilakukan evaluasi atau
penilaian. Evaluasi cakupan materi praktikum dapat dilakukan dengan mengevaluasi topik-topik
dan keterampilan yang diharapkan dikuasai oleh peserta didik. Evaluasi kedalaman relatif lebih
sulit dan memerlukan penilaian yang jujur serta kriteria yang jelas terhadap tugas-tugas yang
diberikan dalam praktikum. Seringkali terjadi aktivitas intelektal peserta didik sebatas hanya
mengikuti petunjuk/resep yang ada di buku petunjuk praktikum, padahal kompetensi yang
dikehendaki adalah kemampuan penemuan/penelitian ilmiah. Dua hal yang perlu diperhatikan
dalam menilai praktikum adalah ketepatan metode penilaian dan proses umpan balik.
Sangat penting untuk menjamin bahwa metode penilaian yang digunakan cocok (sesuai dengan
tujuan). Jika tujuan praktikum adalah peserta didik dapat menggunakan alat dengan benar, maka
evaluasi dilakukan dengan mengamati dan menilai apakah yang dilakukan peserta didik telah sesuai
dengan kriteria yang telah disepakati. Jika tujuan praktikum adalah peserta didik mampu berpikir
ilmiah, metode evaluasi harus dapat menilai kemampuan yang ditunjukkan peserta didik. Penilaian
praktikum yang hanya didasarkan pada laporan saja, tidak akan berhasil mengukur kemampuan
berpikir pada tingkat tinggi yang ada pada pekerjaan praktikum itu sendiri.
Umpan balik juga merupakan salah satu sarana penilaian. Proses belajar peserta didik akan dapat
difasilitasi dengan baik apabila ada umpan balik terhadap yang mereka lakukan dan hasilkan.
Umpan balik dapat diperoleh dari guru pembimbing, dosen pendamping atau kelompok praktikan
I. Pemanfaatan IT dalam Pembelajaran
Penggunaan Teknologi Informasi (TI) dalam pembelajaran seiring perkembangan
pertukaran informasi semakin cepat dan instant.

jaman

Pembelajaran berbasis IT setidaknya memberikan dua keuntungan. Pertama, sebagai


pendorong komunitas pendidikan (termasuk guru) untuk lebih apresiatif dan proaktif dalam
maksimalisasi potensi pendidikan. Kedua, memberikan kesempatan luas kepada peserta didik
memanfaatkan setiap potensi yang ada dapat diperoleh dari sumber-sumber yang tidak terbatas.
22

Salah satu produk integrasi teknologi informasi ke dalam dunia pendidikan adalah e-learning
Model pembelajaran e-learning dengan segala keunggulan di atas akan sangat membantu
penyelenggaraan pendidikan untuk siswa CI+BI di Indonesia.
Alternatif model pembelajaran manapun yang akan dipilih oleh para siswa CI+BI tidak menjadi
masalah dalam penilaian. Artinya, setiap siswa CI+BI yang mengikuti salah satu model penyajian
materi pembelajaran akan mendapatkan pengakuan atau penilaian yang sama. Jika siswa CI+BI
dapat menyelesaikan program pembelajarannya dan lulus melalui cara konvensional atau
sepenuhnya melalui internet, atau bahkan melalui perpaduan kedua model ini, maka institusi
penyelenggara pendidikan akan memberikan pengakuan yang sama. Keadaan yang sangat fleksibel
ini dinilai sangat membantu para siswa CI+BI untuk mempercepat penyelesaian pembelajarannya.
Apabila guru menyajikan materi pembelajaran/pembelajaran yang dapat diakses para siswa CI+BI
melalui internet, maka siswa CI+BI dapat mempelajari materi pembelajaran yang terlewatkan
tersebut melalui internet. Dapat terjadi demikian karena para siswa CI+BI diberi kebebasan
mengikuti kegiatan pembelajaran yang sebagian disajikan secara tatap muka dan sebagian lagi
melalui internet (model pembelajaran kedua).
Proses pembelajaran berbasis IT dapat dilakukan sekolah/guru dengan mengembangkan suatu elearning secara mandiri (khusus) atau dimasukkan dalam bagian website sekolah. Untuk bisa
memenuhi kondisi ini, maka sekolah yang bersangkutan harus memiliki SDM khusus yang
menangani dan mengembangkan e-learning secara berkesinambungan. Namun demikian guru juga
dapat mendisain sendiri e-learning dengan memanfaatkan fasilitas dari situs-situs yang
menyediakan blog, antara lain: blogspot, multiply, dan wordpress, serta memanfaatkan jaringan
komunikasi seperti: e-mail, facebook, friendster, yahoo massanger dan sebagainya.
Pengelolaan ruang belajar-Mengajar
1.
Guru diperkenankan untuk mengatur ruang belajar sesuai karakteristik mata
pelajarannya. Dalam proses pengaturan, guru dapat melibatkan siswa
2.
Ruang belajar setidak-tidaknya memiliki sarana dan media pembelajaran yang
sesuai, Jadwal Mengajar Guru, Tata Tertib Peserta didik dan Daftar Inventaris yang
ditempel di dinding.
3.
Ruang belajar dapat dilengkapi dengan perpustakaan referensi dan sarana
lainnya yang mendukung proses Pembelajaran
4.
Tiap rumpun Mata pelajaran telah disediakan prasarana multimedia.
Penggunaan prasarana diatur oleh Penanggung Jawab Rumpun Mata Pelajaran
5.
Guru bertanggungjawab terhadap ruang belajar yang ditempatinya. Dengan
demikian setiap guru memiliki kunCI+BI untuk ruang masing-masing.

Pengelolaan Pembelajaran
1.
Pembelajaran dilaksanakan secara TIM (Team Teaching) yang minmal terdiri dari
2 orang guru, dimana 1 orang guru sebagai guru utama dan yang lain sebagai
kolaboran/asisten

23

2.
Dalam TIM Teaching, ada 1 guru yang bertanggung jawab untuk tingkat kelas
yang berbeda. Misal : Guru penanggungjawab kelas X, Guru Penanggungjawab kelas
XI dan Guru Penanggungjawab kelas XII.
3.
Apabila ada seorang guru tidak dapat mengajar karena suatu hal atau sedang
melaksanakan tugas dan kegiatan kedinasan lain yang berkaitan dengan Peningkatan
mutu, dapat digantikan dengan kolaboran dan kepada yang bersangkutan mengganti
hari-hari tidak mengajar kepada kolaboran sebagai guru utama . Misalnya Seorang
guru utama kelas X mempunyai kolaboran guru utama kelas XI, apabila guru utama
kelas X tidak mengajar 6 jam maka yang bersangkutan berkewajiban mengganti
sebagai guru utama kelas XI sebanyak 6 jam pelajaran.

Pengelolaan Administrasi Guru dan Peserta didik


1.
Guru berkewajiban mengisi daftar hadir peserta didik dan guru
2.
Guru membuat catatan-catan tentang kejadian-kejadian di kelas brerdasarkan
format yang telah disediakan
3.
Guru mengisi laporan kemajuan belajar peserta didik, absensi peserta didik,
keterlambatan peserta didik dan membuat rekapan sesuai format yang disediakan
4.
Guru membuat laporan terhadap hal-hal khusus yang memerlukan penanganan
kepada Penanggung Jawab Akademik
5.
Guru membuat Jadwal topik/materi yang diajarkan kepada peserta didik yang
ditempel di ruang belajar

Pengelolaan Pengayaan
1.
Pengayaan dilaksanakan diluar jam kegiatan Tatap Muka dan Praktik.
2.
Pengayaan dilaksanakan secara TIM Teaching, dimana kolaboran dapat menjadi
guru utama pada materi tertentu
3.
Pengayaan dapat menggunakan waktu dalam kegiatan Pembelajaran Tugas
Terstruktur (25 menit) maupun Tak terstruktur ( 25 menit ) .
4.
Pengayaan dilaksanakan dalam waktu berbeda maupun secara bersamaan jika
memungkinkan, misal : Guru utama memberi pengayaan kepada siswa CI+BI,
sedangkan kolaboran memberi materi kepada siswa reguler.
5.
Pengayaan dilaksanakan secara berkelanjutan berdasarkan hasil analisis
postest , ulangan harian dan ulangan mid semester.

Pengelolaan Penilaian
1.
Penilaian dilakukan untuk mengukur proses dan produk hasil pembelajaran
2.
Penilaian Proses dilakukan setiap saat untuk menilai kemajuan belajar peserta
didik, sedangkan penilaian produk/hasil belajar dilakukan melalui ulangan harian, mid
semester maupun ulangan semester.
3.
Penilaian meliputi Kognitif, Praktik dan Sikap yang disesuaikan dengan
peraturan yang telah ditetapkan serta mengacu pada karakteristik mata pelajaran
4.
Hasil penilaian dimasukkan sesuai dengan format yang telah disediakan dalam
bentuk file exel yang kemudian diserahkan kepada Penanggung Jawab Akademik
24

5.
Untuk memudahkan Pengelolaan hasil penilaian maka hasil-hasil penilaian
harian yang telah dilaksanakan segera diserahkan kepada Penaggung Jawab
Akademik agar dapat dimasukkan kedalam Pengelolaan SIM Sekolah oleh TIM TIK
6.
Tidak diadakan Remedial untuk ujian/ulangan semester. Remedial dilakukan
sesuai dengan ketentuan pengelolaan Remedial dan Pengayaan.
7.
Guru mata pelajaran bertanggungjawab dan memiliki kewenangan penuh
terhadap hasil penilaian terhadap mata pelajaran yang diampunya. Segala perubahan
terhadap hasil penilaian hanya dapat dilakukan oleh guru yang bersangkutan.

J. Tenaga Pendidik
Persyaratan tenaga pendidik yang mengajar siswa CI+BI, antara lain:
1.
S-1 LPTK/LPT sesuai dengan bidang studi dan memiliki akta mengajar
2.
Memiliki karakteristik umum yang dipersyaratkan dengan mengacu pada aspek
kepribadian
3.
Memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang karakteristik dan kebutuhan
peserta didik cerdas/berbakat istimewa
4.

Menguasai substansi mata pelajaran yang diampu

5.

Mampu mengembangkan kreativitas peserta didik

6.
Mampu
pembelajaran
7.

berbahasa

Inggris

aktif

dan

menggunakan

dalam

kegiatan

Mampu menggunakan IT dalam melaksanakan pembelajaran

Kepribadian yang ada pada seorang guru yang mengajar siswa CI+BI harus mampu menyesuaikan
diri dengan karakteristik yang ada pada diri peserta didik cerdas istimewa. Feldhusen (1997),
mengidentifikasi kepribadian yang perlu dimiliki guru, antara lain.
1.
2.

Percaya diri
Sabar

3.

Objektif dan adil

4.

Terbuka terhadap perubahan

5.

Fleksibel dalam berpikir

6.

Kreatif

7.

Memiliki rasa humor

8.

Cerdas dan berpengetahuan luas

9.

Pekerja keras dan berorientasi pada prestasi (achievement motivation)

10.

Memiliki sikap positif terhadap peserta didik cerdas istimewa

11.

Mampu mengapresiasi peserta didik

12.

Memahami dan menerima perbedaan individual dengan sikap yang positif


25

13.

Mampu berempati

14.
Mampu melihat permasalahan dari sudut pandang orang lain, termasuk peserta
didik
15.

Terbuka terhadap pandangan peserta didik

16.
Memiliki minat yang besar untuk mengembangkan kemampuan belajar peserta
didik
17.

Antusias dan dapat memotivasi peserta didik

18.

Mampu bekerjasama dengan semua pihak yang terkait

K. Sarana dan Prasarana Pendidikan


Sekolah yang melaksanakan program CI+BI, harus menyediakan sarana sebagai berikut:
1. Kelas/ruang teori
Ruang kelas serta ruang-ruang lainnya harus didisain dengan memperhatikan aspek kenyamanan,
kebersihan, kesehatan, dan keamanan.
2. Laboratorium MIPA
Setiap sekolah penyelenggara program untuk siswa CI+BI harus memiliki laboratorium MIPA.
Untuk tingkat SD/MI minimal 1 laboratorium, untuk SMP/MTs terdiri dari laboratorium Fisika,
Biologi dan Matematika. Sedangkan untuk SMA/MA terdiri dari laboratorium Fisika, Biologi,
Kimia dan Matematika.
Laboratorium tersebut harus dilengkapi dengan peralatan dan bahan praktikum yang memadai
untuk menunjang kegiatan pembelajaran. Fasilitas laboratorium juga dilengkapi dengan perangkat
komputer dan LCD Prjector
3. Laboratorium Komputer
Laboratorium komputer digunakan untuk meningkatkan kemampuan siswa dan tenaga pedidikan
dalam melakukan pembelajaran sebagai media dan alat pembelajaran. Di samping itu, laboratorium
komputer digunakan untuk kegiatan pembelajaran yang bersifat interaktif yang mampu
memfasilitas pembelajaran berbasis IT. Oleh karena itu perangkat komputer harus terpadu dalam
suatu jaringan.
Laboratorium komputer berisi perangkat komputer berikut perangkat audio visual yang interaktif,
dilengkapi dengan program aplikasi tambahan yang sesuai untuk memberikan layanan optimal
dalam pembelajaran yang bersifat teoretik maupun praktek.
Fungsi laboratorium komputer juga untuk melayani kegiatan: interaksi guru dengan siswa,
penayangan video pembelajaran, latihan untuk mata pelajaran uyang interaktif (online), simulasi
kasus berbasis multimedia, operasionalisasi e-audiobook, operasionalisasi e-book, penelusuran data
dan informasi serta menyediakan ensiklopedi digital.
1. Laboratorium Bahasa
26

Laboratorium bahasa diperlukan dalam upaya mengoptimalkan kemampuan berbahasa asing,


terutama inggris, bagi siswa, guru maupun tenaga pendidikan. Keberadaan laboratorium bahasa
akan dapat menunjang pembelajaran yang menggunakan dua bahasa (bilingual).
2. Perpustakaan yang dilengkapi dengan buku referensi bidang MIPA
Perpustakaan harus dilengkapi dengan buku-buku yang beragama secaa materi maupun bahasa
(bahasa Indonesia dan bahasa asing), buku referensi MIPA, jurnal nasional dan internasional,
buletin, majalah serta bahan cetak lainnya yang memberikan informasi tentang berbagai hal yang
terkait dengan materi pelajaran dan pengayaan, terutama bidang MIPA. Di samping itu,
perpustakaan perlu menyediakan perangkat audio visual sehingga dapat dimanfaatkan untuk
mempelajari bahan yang terekam dalam bentuk cakram (CD) dan sebagaiya.

L. Sistem Evaluasi
Penilaian terhadap peserta didik harus dilakukan secara komprehensif dan berkelanjutan. Penilaian
perkembangan aktualisasi dari kecerdasan istimewa yang dimiliki peserta didik dilakukan oleh guru
dan psikolog. Penilaian yang dilakukan psikolog mencakup perkembangan dalam kepribadian,
motivasi, minat, dan perilaku yang ditampilkan selama mengikuti proses pendidikan. Hasil
penilaian yang disampaikan oleh psikolog dengan mempertimbangkan hasil penilaian dari para
guru dapat berupa rekomendasi bagi peserta didik untuk tetap pada jalur pendidikan yang sekarang
diikutinya atau beralih ke jalur yang lebih sesuai dengan perkembangan peserta didik.
Di samping penilaian yang terkait dengan aspek-aspek psikologis, penilaian juga dilakukan
terhadap kemajuan belajar. Tujuan penilaian pada umumnya selain sebagai usaha untuk
memberikan gambaran tentang perkembangan hasil belajar peserta didik dan untuk memperbaiki
proses pembelajaran yang harus dilakukan, juga digunakan sebagai pengakuan terhadap kualitas
pendidikan yang telah dicapai di suatu sekolah penyelenggara program akselerasi, yang ditunjukkan
melalui sertifikasi.
Teknik penilaian yang dapat digunakan adalah penilaian berbasis kelas. Penilaian kelas adalah
proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh guru untuk pemberian nilai terhadap hasil
belajar peserta didik berdasarkan tahapan kemajuan belajarnya sehingga didapatkan potret/profil
kemampuan peserta didik sesuai dengan daftar kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum.
Penilaian kelas dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan belajar-mengajar. Penilaian dapat
dilakukan baik dalam suasana formal maupun informal, di dalam kelas, di luar kelas, terintegrasi
dalam kegiatan belajar-mengajar atau dilakukan pada waktu yang khusus.
Penilaian kelas dilaksanakan melalui berbagai cara, seperti tes tertulis (paper and penCI+BIl test),
penilaian hasil kerja peserta didik melalui kumpulan hasil kerja (karya) peserta didik (portofolio),
penilaian produk 3 dimensi, dan penilaian, unjuk kerja (performance) peserta didik. Penilaian kelas
merupakan suatu proses yang dilakukan melalui langkah-langkah perencanaan, pengumpulan
informasi melalui sejumlah bukti yang menunjukkan pencapaian hasil belajar peserta didik,
pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar peserta didik.
Cara penilaian yang dilakukan untuk mengetahui kemampuan peserta didik harus dirancang dengan
memperhatikan hal-hal berikut:

27

1.
Mengacu kepada kurikulum. Artinya penilaian yang dilakukan harus mengarah
ke menilai kompetensi-kompetensi dasar yang ditentukan dalam kurikulum.
2.
Bersifat adil bagi seluruh peserta didik, tanpa membedakan latar belakang
budaya, jenis kelamin, dan hal-hal lain yang tidak berkaitan dengan penilaian.
3.
Dapat memberi informasi yang lengkap sebagai umpan balik bagi guru guna
perbaikan program pembelajaran dan pemberian bantuan kepada peserta didik secara
perseorangan.
4.

Bermanfaat bagi peserta didik untuk mengetahui kekuatan dan kelemahannya.

5.
Dilaksanakan
menyenangkan.
6.

tanpa

menekan

peserta

didik

atau

dalam

suasana

yang

Dapat diadministrasikan secara tepat dan efisien.

M. Pembiayaan
Pembiayaan untuk penyelenggaraan program CI+BI dapat berasal dari:
1.
2.

Pemerintah Pusat
Pemerintah Daerah

3.

Orang tua siswa

4.

Masyarakat

N. Pendirian Sekolah Baru


Setiap sekolah diberi peluang untuk menyelenggarakan program layanan untuk peserta didik
CI+BI, dengan melakukan tahapan sebagai berikut:
1.
2.

Melakukan sosialisasi dan persiapan


Melakukan analisis SWOT

3.

Menyusun studi kelayakan, yang mencakup komponen-komponen:

Latar belakang dan tujuan pendirian program

Sumber input peserta didik

Kurikulum dan pengembangannya

Model Pembelajaran dan sistem penilaian

Ketersediaan dan serta kesiapan Tenaga pendidik dan kependidikan

Ketersediaan

Dukungan masyarakat dan perguruan tinggi

Fasilitas

dan

lingkungan

penunjang

penyelenggaraan

program

Sumber
pengembangan
o

pembiayaan

yang

mencakup

biaya

operasional

dan

28

Mengajukan proposal kepada Dinas Pendidikan Propinsi


rekomendasi dari Dinas Kabupaten/Kota dan Asosiasi CI+BI+BI setempat
o

dengan

O. Tugas dan Fungsi Lembaga Terkait


1. Direktorat PSLB
1.
siswa
2.
siswa

Membuat kebijakan dan strategi penyelenggaraan pendidikan khusus untuk


CI+BI melalui penyusunan dan penerbitan buku pedoman.
Mensosialisasikan kebijakan dan strategi pengelolaan pendidikan khusus bagi
CI+BI kepada semua pihak.

3.
Mengkoordinasikan seluruh jajaran Dinas Pendidikan propinsi/ kabupaten/kota
untuk menjalankan kebijakan tersebut.
4.
Melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pendidikan khusus bagi
siswa CI+BI
5.
Menerbitkan informasi secara berkala mengenai hasil pelaksanaan pendidikan
untuk siswa CI+BI segara agregatif (nasional) maupun secara disagregatif (per
wilayah/daerah)

2. Dinas Pendidikan Propinsi


1.
Mensosialisasikan kebijakan dan strategi pengelolaan pendidikan khusus bagi
siswa CI+BI kepada semua pihak yang berada di wilayahnya
2.
Memberikan pelatihan kepada para penyelenggara dan pelaksana pendidikan
khusus untuk siswa CI+BI.
3.
Menilai usulan dari sekolah/lembaga yang ingin menjadi penyelenggara
pendidikan khusus untuk siswa CI+BI yang mendapatkan rekomendasi dari Dinas
Pendidikan Kabupaten/kota dan Asosiasi CI+BI+BI wilayah.
4.

Menerbitkan surat ijin penyelenggaraan pendidikan khusus untuk siswa CI+BI

5.
Melakukan monitoring dan evaluasi pelaksanaan penyelenggaraan pendidikan
khusus untuk siswa CI+BI serta pengembangannya di propinsi masing-masing.

3. Dinas Pendidikan Kabupaten/Kota


1.
Memberikan layanan kepada seluruh satuan pendidikan terkait dengan
pengelolaan pendidikan khusus untuk siswa CI+BI.
2.
Memberikan rekomendasi untuk penerbitan ijin penyelenggaraan pendidikan
khusus untuk siswa CI+BI kepada Dinas Pendidikan Propinsi.
3.
Melakukan pembinaan kepada sekolah penyelenggara pendidikan khusus untuk
siswa CI+BI.
4.
Melakukan monitoring dan evaluasi penyelenggara pendidikan khusus untuk
siswa CI+BI
5.
Memberi akses/kemudahan bagi siswa CI+BI untuk masuk satuan pendidikan
penyelenggara CI+BI melalui sistem PSB online maupun PSB lainnya.

29

6.
Menyusun
wilayahnya.

laporan

pelaksanaan

pendidikan

khusus

untuk

siswa

CI+BI

4. Perguruan Tinggi
1.
Memberikan pendampingan dalam penyelenggaraan pendidikan khusus untuk
siswa CI+BI, khususnya bidang MIPA dan psikologi.
2.
Memberi akses kepada siswa dan guru penyelenggara pendidikan khusus untuk
siswa CI+BI untuk pengembangan ilmu dan kompetensi melalui pembelajaran,
praktek laboratorium dan penelitian.
3.
Memberi akses kepada siswa CI+BI yang lulus SMA/MA untuk masuk ke
pergutuan tinggi yang bersangkutan tanpa tes.

5. Asosiasi CI+BI
1.
Memberikan
masukan
kepada
Direktorat
PSLB/Dinas
Pendidikan
Propinsi/Kabupaten/Kota dalam menyusun program peningkatan mutu pengelolaan
dan penyelenggaraan Pendidikan Khusus bagi siswa CI+BI.
2.
Membantu Direktorat PSLB/Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota dalam
melakukan penyusunan naskah-naskah yang berkaitan dengan Pendidikan Khusus
bagi siswa CI+BI.
3.
Membantu Direktorat PSLB/Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota dalam
penyelenggaraan workshop, seminar, pelatihan dan kegiatan lainnya yang terkait
dengan Pendidikan Khusus bagi siswa CI+BI.
4.
Membantu Direktorat PSLB/Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota dalam
penyusunan berbagai instrumen terkait dengan kegiatan monitoring, evaluasi, dan
supervisi Pendidikan Khusus bagi siswa CI+BI.
5.
Membantu Direktorat PSLB/Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota dalam
pelaksanaan monitoring, evaluasi, dan supervisi Pendidikan Khusus bagi siswa CI+BI.
6.
Membantu Direktorat PSLB/Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota dalam
melakukan verifikasi atas pengajuan ijin pembukaan program Pendidikan Khusus bagi
siswa CI+BI.
7.
Membantu Direktorat PSLB/Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota dalam
melakukan pembinaan kepada sekolah penyelenggara program Pendidikan Khusus
bagi siswa CI+BI.

6. Sekolah
1.
Menyusun rencana dan program pelaksanan pendidikan khusus untuk siswa
CI+BI dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders)
2.
Mengkoordinasi dan menyerasikan segenap sumber daya yang ada di sekolah
dan di luar sekolah untuk mengefektifkan pelaksanan pendidikan khusus untuk siswa
CI+BI
3.

Melaksanakan pengawasan dan pembimbingan kepada siswa CI+BI

4.
Melakukan evaluasi tahunan untuk menilai tingkat ketercapaian sasaran
program pelaksanan pendidikan khusus untuk siswa CI+BI yang telah ditetapkan.

30

Hasil evaluasi ini digunakan untuk menentukan program pengembangan di tahun


berikutnya.
5.
Menyusun laporan pelaksanan pendidikan khusus untuk siswa CI+BI secara
lengkap untuk disampaikan kepada pihak-pihak terkait: Direktorat PSLB, Dinas
Pendikan Propinsi/Kabupaten/Kota, Asosiasi CI+BI+BI, Komite Sekolah dan lainnya.

P. Monitoring, Evaluasi dan Supervisi


Monitoring dan evaluasi merupakan bagian integra dari penyelenggaraan pendidikan khusus bagi
siswa CI+BI. Hal ini dilandasi pemikiran bahwa melalui kegiatan monitoring dan evaluasi dapat
diukur tingkat kemajuan dari program CI+BI. Tanpa pengukuran, tidak ada alasan untuk
mengatakan apakah sekolah mengalami kemajuan atau tidak. Monitoring dan evaluasi akan
menghasilkan informasi yang dapat digunakan guna mengambil keputusan. Hasil monitoring juga
dapat memberikan rekomendasi perbaikan konsep dan pelaksanan pendidikan khusus untuk siswa
CI+BI.
Pengumpulan data monitoring dan evaluasi dapat dilakukan dengan menggunakan 4 cara, yaitu:
pengisian angket, studi dokumen, obrservasi dan wawancara.
1. Pelaksana monitoring dan evaluasi
Monitoring dan evaluasi dapat dilakukan
Propinsi/kabupaten/kota, dan Asosiasi CI+BI.

oleh:

Direktorat

PSLB,

Dinas

Pendidikan

2. Aspek yang dimonitoring dan evaluasi


Aspek yang monitoring dan evaluasi mencakup aspek input, prosses dan output.
3. Waktu pelaksanaan
Waktu pelaksanaan monitoring dan evaluasi diatur oleh pihak-pihak terkait dengan memperhatikan
proses pembelajaran di sekolah dan koordinasi.
4. Instrumen monitoring dan evaluasi
Instrumen monitoring dan evaluasi disiapkan oleh pihak-pihak yang melakukan monitoring dan
evualasi sesuai dengan kepentingan supervisi dan pengembangan.
5. Pelaporan
Pelaporan kegiatan monitoring dan evaluasi penyelenggaraan pendidikan khusus untuk siswa
CI+BI disampaikan kepada: Direktorat PSLB, Dinas Pendidikan Propinsi/Kabupaten/Kota, Asosiasi
CI+BI dan pihak lain yang terkait.
About these ads

Undang-Undang No.20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat 4 menyatakan
bahwa Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan berbakat istimewa berhak
31

memperoleh pendidikan khusus. Dalam undang-undang ini sudah dinyatakan dengan jelas bahwa
seorang anak yang dinyatakan cerdas memiliki cara penanganan belajar yang berbeda dengan anak
normal lainnya. Dalam hal ini peran orang tua sangatlah penting, orang tua haruslah tau anak
mereka termasuk anak yang cerdas atau tidak. Jika orang tua tidaklah peka dalam hal ini maka
sangat disayangkan apabila seorang anak CI+BI ini tidak mendapatkan pendidikan yang sesuai
dengan perkembangan dan bakat dia dan akan kemungkinan anak tersebut tentu tidak nyaman karna
dia tidak dapat menyalurkan kecerdasannya tersebut. Dengan menyalurkan anak CI+BI ini dengan
pendidikan khusus untuk siswa CI+BI diharapkan potensi potensi yang di miliki anak cerdas ini
dapat tumbuh dan menunjukkan kinerja terbaik mereka.
Anak CI+BI (gifted) berbeda dengan anak cerdas (bright/hight achiever), walaupun mereka
memiliki intelegensi yang tinggi namun kemampuan mereka dalam analisis, abstraksi dan
kreativitas tidak seluar biasa anak cerdas. Seorang pendidik juga harus mengetahui apakah peserta
didiknya termasuk anak CI+BI atau bukan karena jika anak CI+BI mendapatkan penanganan yang
sama dengan anak normal itu akan menyebabkan anak CI+BI frustasi dan juga dapat meyebabkan
kemerosotan rasa percaya diri, konsep diri yang kurang sehat serta anjlognya motivasi untuk
berprestasi.
Sebagai orang tua maupun pendidik dan lembaga pendidik sebaiknya melakukan
identifikasi dan dapat mengenal karakteristik anak/peserta didiknya dengan baik. Dengan adanya
proses identifikasi merupakan salah satu tahap awal yang merupakan kunci utama yang penting
dalam keberhasilan suatu program layanan pendidikan khusus bagi siswa CI+BI.
Pelayanan pendidikan untuk siswa CI+BI memilki kurikulum yang di berikan pada siswa
CI+BI tidak boleh sama dengan siswa regular, karena bobot dan kedalamannya tidak sesuai dengan
karakter siswa CI+BI. Kurikulum untuk siswa CI+BI diarahkan pada pemenuhan kebutuhan siswa
dan sekaligus menyeimbangkan domain kognitif dan non kognitif.
Komunitas peserta didik yang memiliki karakter CI+BI (gifted) bukanlah merupakan
komunitas yang homogen mereka adalah sangat heterogen walaupun sama-sama berciri khas gifted.
Sebagai konsekuensi tersebut maka wajib pula disediakan menu model layanan pendidikan yang
juga heterogen. Tidak boleh dianggap mereka sama dan diberikan layanan sama dalam satu kelas.
Seorang tenaga pendidik di program CI+BI harus memiliki kemampuan optimal dalam
mengembangkan potensi siswa dan menciptakan suasana pembelajaran yang dapat mendorong
terjadinya pengembangan siswa. Upaya peningkatan tenaga pendidik perlu dilakukan secara
sistemik dan sistematis bukan sekedar mencukupi prasyarat sertifikasi.
Pemerintah pada dasarnya telah membuka pintu yang cukup terbuka terkait dengan
pelaksanaan pendidikan akselarasi. Dalam layanan pendidikan khusus ditetapkan oleh direktorat
pendidikan luar biasa mengenai bentuk program akselarasi dan keberbakatan, dicantumkan bahwa
program percepatan belajar bisa dilakukan dalam 3 bentuk, yaitu 1) kelas regular, 2) kelas khusus
dan 3) sekolah khusus. Pengelolaan pendidikan khusus bagi siswa CI+BI di sekolah regular harus
memiliki manajer/ pengelola program sendiri dan tidak boleh di rangkap oleh kepala sekolah.
Rasionalisasi (Untuk prestasi Madrasah dan CI+BI 2010-2011 klik disini )
Program percepatan belajar di MTs Negeri Sumber Bungur Pamekasan, merupakan model layanan
pendidikan bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa, merupakan
proses pengembangan dari program unggulan yang telah lama diselenggarakan.

32

Produktivitas dan prospektivitas dari kelas unggulan ini ternyata membawa pengaruh bagi
eksistensi MTs Negeri Sumber Bungur Pamekasan, sebagai madrasah Model yang mampu
memberikan layanan pendidikan bagi anak cerdas dan berbakat.
Walaupun masih merupakan proses pengembangan (proses uji coba/piloting), rintisan awal ini
dilakukan dengan pengembangan dan pengelolaan kurikulum berbasis kompetensi, dengan
pembelajaran efektif, merupakan salah satu indikator semakin terwujudnya proses Otonomi
madrasah (MBS/M), semakin membuka jendela Mencerdaskan Kehidupan Bangsa, dan
membangun paradigma untuk memajukan Pendidikan Agama Islam serta lembaga madrasah yang
mampu bersaing dalam prestasi dan kompetensi baik secara lokal, regional, nasional dan
internasional
kelak.

2. Penerimaan siswa program kelas akselerasi


Siswa yang diterima sebagai peserta percepatan belajar (Program Akselerasi) adalah :
a. Siswa lulus SD/MI yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berdasarkan kriteria
persyaratan
sebagai
berikut:

Nilai
ujian
nasional
dari
sekolah/madrasah
rata-rata
8,0
ke
atas

Nilai
test
akademik
sekurang-kurangnya
8,0

Nilai
rata-rata
raport
seluruh
mata
pelajaran
tidak
kurang
dari
8,0
Memiliki kemampuan intelektual umum dengan IQ 120 s/d 140, dengan pemeriksaan psikotest secara
berkala.

Memiliki
kemampuan
prestasi
yang
dibuktikan
dengan
sertifikat

Kesehatan
fisik
yang
ditunjukkan
dengan
Surat
Keterangan
Dokter
Pernyataan tertulis dari Madrasah untuk siswa dan orang tua tentang hak dan kewajiban serta hal-hal
yang dianggap perlu dipatuhi untuk menjadi siswa program kelas akselerasi.

33

b. Mengikuti pembinaan intensif, orientasi pembelajaran akselerasi oleh guru tamu, dan lembaga
bimbingan belajar yang ditunjuk madrasah.
3. Kurikulum
a. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum 2006 (KTSP) yang dimodivikasi dengan penekanan pada
materi essensial, dan dikembangkan melalui sistem pembelajaran yang dapat memacu dan mewadahi
integrasi antara pengembangan spiritual, logika, etika dan estetika, serta dapat mengembangkan
kemampuan berfikir holistik, kreatif, sistematik, linear, dan konvergen untuk memenuhi tuntutan masa
kini dan masa mendatang.
b. Kurikulum program kelas akselerasi dikembangkan secara diferensiasi mencakup 4 dimensi yang
secara sistematik tidak dapat dipisahkan:

Dimensi
umum
Bagian kurikulum sebagai kurikulum inti/kurikulum dasar yang memberikan keterampilan dasar
pengetahuan, pemahaman, nilai dan sikap yang memungkinkan siswa berfungsi sesuai dengan tuntutan
masyarakat atau tuntutan jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Dimensi
defferensiasi
Bagian kurikulum yang berhubungan dengan ciri khas perkembangan siswa yang memiliki potensi
kecerdasan dan bakat istimewa yang merupakan program khusus dan pilihan terhadap mata pelajaran
tertentu. Siswa memilih mata pelajaran yang diminatinya untuk dipelajari dan diketahui secara lebih
meluas dan mendalam.

Dimensi
non
akademik
Bagian kurikulum yang memberi kesempatan pada siswa untuk belajar diluar kegiatan madrasah melalui
multimedia dan multisumber

Dimensi
suasana
belajar
Suasana belajar yang dibangun atau dibentuk sebagai lingkungan belajar melalui pemberian pengalaman
belajar dari lingkungan keluarga dan madrasah, iklim akademik, sistem pemberian reward dan
punishment, hubungan antar siswa antara guru dan guru dan orang tua, antara orang tua dan siswa dan
sebagainya.
c. Kurikulum berdiferensiasi yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pendidikan siswa cerdas
dan berprstasi dengan cara memberikan pengalaman belajar yang berbeda (kedalaman, keluasan,
percepatan kompetensi). Perubahan kurikulum dalam hal ini mencakup perubahan yang bersifat vertikal,
horizontal, pengalaman belajar baru, dan pengalaman belajar berdasarkan keterlibatan masyarakat.
d.
Dalam
pelaksanaan

Tatap

Tatap
Tatap muka dengan guru tamu

program
muka

pembelajaran
dengan
muka

dapat

dilakukan

guru
dengan

secara:
Pembina
pakar

<

Anak Cerdas/Berbakat Istimewa (CI+BI)

PENDAHULUAN
Undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat 4
menyatakan bahwa Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus. Perlunya perhatian khusus kepada
anak CI+BI merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan potensi peserta didik
secara utuh dan optimal.

34

Pengembangan potensi tersebut memerlukan strategi yang sistematis dan terarah.


Tanpa layanan pembinaan yang sistematis terhadap siswa yang berpotensi cerdas
istimewa, bangsa Indonesia akan kehilangan sumber daya manusia terbaik.
Strategi pendidikan yang ditempuh selama ini bersifat masal memberikan perlakuan
standar/rata-rata kepada semua siswa sehingga kurang memperhatikan perbedaan
antar siswa dalam kecakapan, minat, dan bakatnya. Dengan strategi semacam ini,
keunggulan akan muncul secara acak dan sangat tergantung kepada motivasi belajar
siswa serta lingkungan belajar dan mengajarnya. Oleh karena itu perlu dikembangkan
keunggulan yang dimiliki oleh siswa agar potensi yang dimiliki menjadi prestasi yang
unggul.
Perhatian khusus tersebut tidak dimaksudkan untuk melakukan diskriminasi, tetapi
semata-mata untuk memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan
dan kondisi siswa. Melalui penyelenggaraan pendidikan khusus untuk siswa CI+BI,
diharapkan potensi-potensi yang selama ini belum berkembang secara optimal, akan
tumbuh dan mampu menunjukkan kinerja terbaik.
Diperkirakan terdapat sekitar 2,2% anak usia sekolah memiliki kualifikasi CI+BI.
Menurut data BPS tahun 2006 terdapat 52.989.800 anak usia sekolah. Artinya
terdapat sekitar 1.059.796 anak CI+BI di Indonesia. Berdasarkan data Asossiasi CI+BI
tahun 2008/9, Jumlah siswa CI+BI yang sudah terlayani di sekolah akselerasi masih
sangat kecil, yaitu 9551 orang yang berarti baru 0,9% siswa CI+BI yang terlayani.
Ditinjau dari segi kelembagaan, dari 260.471 sekolah, baru 311 sekolah yang memiliki
program layanan bagi anak CI+BI. Itupun baru terbatas program yang berbentuk
akselerasi. Sedangkan di madrasah, dari 42.756 madrasah, baru ada 7 madrasah
yang menyelenggarakan program aksel. Ini berarti masih sangat rendah sekali jumlah
sekolah/madrasah yang memberikan layanan pendidikan kepada siswa CI+BI, serta
keterbatasan dari ragam pelayanan.

KARAKTERISTIK ANAK CI+BI

Anak-anak gifted bukanlah anak dengan populasi seragam, ia mempunyai banyak


variasi, baik variasi pola tumbuh kembangnya, variasi personalitasnya, maupun
variasi keberbakatannya. Semakin tinggi perkembangan inteligensianya, maka akan
terjadi deskrepansi (perbedaan) di berbagai domain perkembangan. Deskrepansi ini
bukan saja akan menyangkut perkembangan dalam individu, tetapi juga akan
menyangkut perkembangan antar individu. Kondisi inilah yang sering membawa
berbagai kesulitan pada anak-anak gifted dan sering salah terinterpretasi (Silverman,
2004).
Sebagian besar anak gifted akan mengalami perkembangan motorik kasar yang
melebihi kapasitas normal, namun mengalami ketertinggalan perkembangan motorik
halus. Saat ia masuk ke sekolah dasar, umumnya ia mengalami kesulitan menulis
dengan baik. Banyak dari anak-anak ini diberi hukuman menulis berlembar-lembar
yang justru tidak menyelesaikan masalahnya bahkan akan memperberat masalah
35

yang dideritanya9. Anak-anak gifted adalah anak-anak yang sangat perfeksionis,


sehingga perkembangan kognitif yang luar biasa tidak bisa ia salurkan melalui bentuk
tulisan. Hal ini selain dapat menyebabkan kefrustrasian dan juga dapat menyebabkan
kemerosotan rasa percaya diri, konsep diri yang kurang sehat serta anjlognya motivasi
untuk berprestasi.
Deskrepansi antara perkembangan kognitif dan ketertinggalan motorik halus,
ditambah karakteristik perfeksionisnya bisa menimbulkan masalah yang cukup serius
baginya, terutama kefrustrasian dan munculnya konsep diri negatip, ia merasa
sebagai anak yang bodoh tidak bisa menulis. Namun seringkali pendeteksian tidak
diarahkan pada apa akar permasalahan yang sebenarnya, dan penanggulangan hanya
ditujukan pada masalah perilakunya yang dianggap sebagai perilaku membangkang
Anak cerdas (brigth/higt achiever) berbeda dengan dengan anak CI+BI (gifted) dan
anak-anak cerdas tidak bisa dimaksukkan ke dalam kelompok gifted karena mereka
memiliki karakteristik yang berbeda. Sekalipun mereka juga memiliki tingkat
intelegensi yang tinggi, namun kemampuan mereka dalam analisis, abstraksi dan
kreativitas tidak seluar biasa anak-anak CI+BI. Berbagai perbedaan tersebut dapat
dilihat pada tabel berikut:
CERDAS

CERDAS/BERBAKAT ISTIMEWA

(Bright/High Achiever)

(Gifted Talented)

Menjawab

pertanyaan

benar

Berminat dengan sesuatu

Menunjukkan perhatian

Punya
populer

gagasan

dengan

Menjawab
yang ditanyakan

soal

Penasaran dengan sesuatu

Terlibat secara emosional, mental,


dan fisik

yang

bagus,
Punya gagasan yang aneh, konyol,
dan di luar keumuman

Bekerja keras untuk sukses ujian

Mempersoalkan pertanyaan

sesuai

dengan

Jarang belajar, hasil ujian bagus


Memperluas konteks jawaban

Di
Di puncak daftar siswa berprestasi normal

Suka linearitas

Gemar kompleksitas

Pemerhati yang baik

Pengamat yang kritis, bawel

Mendengarkan

penuh

minar

dengan

6-8
kali
pengulangan
menguasai materi

Memahami
dengan baik

gagasan

orang

luar

kelompok,

berprestasi

Menyimak untuk siap berdebat

1-2
kali
pengulangan
untukmenguasai materi

lain

untuk

Membentuk gagasan sendiri

Lebih suka bergaul dengan orang

36

CERDAS

CERDAS/BERBAKAT ISTIMEWA

(Bright/High Achiever)

(Gifted Talented)

Senang berteman dengan teman dewasa atau lebih tua


sebaya

Mempertanyakan keputusan

Menarik kesimpulan

Memulai proyek sendiri

Menyelesaikan
tugas
yang

Bagus
dalam
menciptakan
diberikan
sesuatu yang baru

Pintar menyalin, meniru

Suka sekolah
(Sumber: CGIS-Net Assessment systems, 2008)

Suka belajar

IDENTIFIKASI ANAK CI+BI


Dalam mengidentifikasi peserta didik cerdas istimewa menggunakan pendekatan
multidimensional. Artinya kriteria yang digunakan lebih dari satu (bukan sekedar
intelligensi). Batasan yang digunakan adalah peserta didik yang memiliki dimensi
kemampuan umum pada taraf cerdas ditetapkan skor IQ 130 ke atas dengan
pengukuran menggunakan skala Wechsler (Pada alat tes yang lain = rerata skor IQ
ditambah dua standar deviasi), dimensi kreativitas tinggi (ditetapkan skor CQ dalam
nilai baku tinggi atau plus satu standar deviasi di atas rerata) dan pengikatan diri
(Task commitment) terhadap tugas baik (ditetapkan skor TC dalam kategori nilai baku
baik, atau plus satu standar deviasi di atas rerata). Tiga komponen ini dikenal sebagai
Konsepsi Tiga Cincin dari Renzulli (1978, 2005) yang banyak digunakan dalam
menyusun pendidikan untuk anak cerdas istimewa, dan merupakan teori yang
mendasari pengembangan pendidikan anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa
(Gifted and Talented children).
Model lain adalah The Triadich dari Renzulli-Mnks yang merupakan pengembangan
dari Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli. Model Renzulli-Mnks ini disebut
sebagai model multifaktor yang melengkapi Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari
Renzulli. Dalam model multifaktornya Mnks mengatakan bahwa potensi kecerdasan
istimewa (giftedness) yang dikemukakan oleh Renzulli itu tidak akan terwujud jika
tidak mendapatkan dukungan yang baik dari sekolah, keluarga, dan lingkungan di
mana si anak tinggal (Mnks dan Ypenburg, 1995).
Dengan model multifaktor maka pendidikan anak cerdas istimewa tidak dapat
dilepaskan dari peran orang tua dan lingkungan dalam menanggapi gejala-gejala
berkecerdasan istimewa (giftedness), toleran terhadap berbagai karakteristik yang
ditampilkannya baik yang positif maupun berbagai gangguan tumbuh kembangnya
yang menjadi penyulit baginya, serta dalam mengupayakan layanan pendidikannya.
Lebih lanjut model pendekatan ini menuntut keterlibatan pihak orang tua dalam
pengasuhan di rumah agar berpartisipasi secara penuh dan simultan dengan layanan
pendidikan terhadap anak di sekolah.
37

Model Triadich Renzulli-Mnks menuntut sistem pendidikan, keluarga, dan lingkungan


untuk dapat memberikan dukungan yang baik dan mengupayakan agar anak didik
dapat mencapai prestasi istimewanya, sehingga diharapkan tidak akan terjadi adanya
kondisi berprestasi rendah (underachiever) pada seorang anak berkecerdasan
istimewa. Dengan model pendekatan teori ini juga, maka anak-anak yang mempunyai
ciri-ciri berkecerdasan istimewa (dengan ciri-ciri tumbuh kembang, ciri-ciri
personalitas, dan ciri-ciri intelektual) sekalipun underachiever masih dapat terdeteksi
sebagai anak berkecerdasan istimewa yang memerlukan dukungan dari sekolah,
keluarga dan lingkungan agar ia dapat mencapai prestasi yang istimewa sesuai
potensinya.
Model pendekatan multifaktor lebih fleksibel dalam melakukan deteksi dan diagnosis
anak cerdas istimewa, terutama dalam menghadapi anak-anak dengan kondisi
tumbuh kembang yang mengalami disinkronitas yang besar dan penting, berkesulitan
dan bergangguan belajar (learning difficulties dan learning disabilities), serta yang
mengalami komorbiditas dengan gangguan lainnya (gangguan emosi dan perilaku
yang patologis). Fleksibilitas dalam melakukan deteksi yang dimaksud adalah
dimungkinkannya penggunaan daftar dan alat-alat ukur asesmen yang lebih beragam
(Mnks dan Pflger, 2005).
Heller (2004) mengembangkan model multifaktor yang pada dasarnya merupakan
pengembangan dari Triadic Interdependence model Mnks serta
Multiple
Intelligences dari Howard Gardner. Menurut Heller konsep keberbakatan dapat
ditinjau berdasarkan empat dimensi multifaktor yang saling terkait satu sama lain:
(1) faktor talenta (talent) yang relatif mandiri (relatif mandiri); (2) faktor kinerja
(performance); (3) faktor kepribadian; dan (4) faktor lingkungan; Dua faktor terakhir
menjadi perantara untuk terjadinya transisi dari talenta menjadi kinerja. Secara
grafis, model tersebut dapat dilihat pada gambar di halaman berikut.
Faktor bakat (talent) sebagai potensi yang ada dalam individu dapat meramalkan
aktualisasi kinerja (performance) dalam area yang spesifik. Bakat ini mencakup tujuh
area yang masing-masing berdiri sendiri, yaitu: kemampuan intelektual, kemampuan
kreatif, kompetensi sosial, kecerdasan praktis, kemampuan artistik, musikalitas, dan
keterampilan psikomotor. Sementara itu Faktor kinerja (performance) meliputi delapan
area kinerja, yaitu: matematika, ilmu pengetahuan alam, teknologi, komputer, seni
(musik, lukis), bahasa, olah raga, serta relasi sosial.
Bakat (talent) dapat berkembang menjadi kinerja dengan dipengaruhi oleh dua
faktor yaitu: (1) karakteristik kepribadian yang mencakup: cara mengatasi stres,
motivasi berprestasi, strategi belajar dan strategi kerja, harapan-harapan akan
pengendalian, harapan akan keberhasilan atau kegagalan, dan kehausan akan
pengetahuan; serta (2) kondisi-kondisi lingkungan yang mencakup: iklim keluarga,
jumlah saudara dan kedudukan dalam keluarga, tingkat pendidikan orang tua,
stimulasi lingkungan rumah, tuntutan dan kinerja yang ada di rumah, lingkungan
belajar, kualitas pembelajaran, iklim kelas, dan peristiwa-peristiwa kritis.
Di dalam proses terwujudnya bakat menjadi kinerja, bakat juga dapat mempengaruhi
faktor kepribadian dan kondisi lingkungan. Misalnya bakat yang ada pada anak dapat
mempengaruhi bagaimana orangtua atau guru memperlakukannya. Di dalam proses
38

terwujudnya kinerja, bakat juga dapat mempengaruhi faktor kepribadian dan kondisi
lingkungan. Misalnya bakat yang ada pada anak dapat mempengaruhi bagaimana
anak tersebut menjadi semakin ulet dan tekun atau bakat yang dimiliki juga akan
berpengaruh terhadap sikap orangtua atau guru terhadap anak sehingga berpengaruh
terhadap cara memperlakukan si anak.
Proses Identifikasi merupakan salah satu tahap awal yang merupakan kunci utama
yang penting dalam keberhasilan suatu program layanan pendidikan khusus bagi
siswa CI+BI. Dalam proses rekrutmen dan seleksi dipengaruhi oleh model layanan
pendidikan yang diberikan bagi peserta didik cerdas istimewa ada beberapa prinsip
identifikasi yang perlu diperhatikan adalah (Klein, 2006; Porter, 2005) yaitu: Cerdas
Istimewa merupakan suatu fenomena yang kompleks sehingga identifikasi hendaknya
dilakukan secara multidimensional dengan:
1.
Menggunakan sejumlah cara pengukuran untuk melihat variasi dari
kemampuan yang dimiliki oleh siswa cerdas istimewa pada usia yang berbeda.
2.
Mengukur bakat-bakat khusus yang dimiliki untuk dijadikan acuan penyusunan
program belajar bagi siswa cerdas istimewa.
3.
Tidak hanya memperhatikan hal-ahl yang sudah teraktualisasi, namun juga
mengidentifikasi potensi.
4.
Identifikasi tidak hanya untuk mengukur aspek kognitif, namun juga motivasi,
minat, perkembangan sosial emosional serta aspek non kognitif lainnya.

PERMASALAHAN ANAK CI+BI


Gejala-gejala lompatan perkembangan anak CI+BI merupakan faktor kuat yang
memberi dampak psikologis dalam perilakunya, baik positif maupun negatif. Dengan
memahami karakteristik anak, orang tua, guru, masyarakat dapat mengantisipasi halhal di luar dugaan (misalnya marah, agresif) dan bisa menduga penyebabnya. Perilaku
negatif tersebut, mungkin menjadi sumber masalah emosional anak CI+BI. Gambaran
perilaku negatif dan positif anak CI+BI, dapat dilihat pada tabel berikut:
Karakteristik

Perilaku Positif

Sangat waspada

Cepat
mengetahui
masalah

Selera humor tinggi

Mampu menertawakan diriMembuat lelucon dengan


sendiri
mengorbankan orang lain

Mampu
keterkaitan
yang lain

Perilaku negatif
adaSenang mengoreksi orang
dewasa

memahamiMampu
memecahkanIkut campur urusan orang
satu denganmasalah sosial sendirian
lain

Dorongan berprestasi yangMengerjakan tugas sekolahArogan,


egois,
tidak
kuat
dengan baik
sabaran
dengan
kelambanan orang lain

39

Karakteristik
Kemampuan
tinggi

Perilaku Positif

verbal

Individualistik,
stabilitas

Perilaku negatif

yangDiplomasi persuasif denganMemanipulasi orang lain


tata bahasa yang tepat

menantangPercaya diri tinggi

Hanya sedikit punya teman


dekat,
kuat
dengan
keyakinan diri sendiri

Motivasi diri yang kuat,Hanya perlu sedikit arahanAgresif


berlebihan,
merasa tidak perlu bantuandan bantuan orang lain
menantang otoritas
orang lain
Kemampuan
sangat tinggi

membacaMengingat dan menguasaiGampang bosan, tidak suka


materi
belajar
denganhafalan
mudah

Sangat senang membaca

Membaca berbagai jenisMengabaikan orang lain


buku,
memonopoli
perpustakaan

Kaya perbendaharaan kata Mengkomunikasikan


gagasan dengan lancar
Simpanan informasi yangCepat dalam
sangat banyak
pertanyaan
Rentang
panjang

perhatian

Suka pamer pengetahuan

menjawabMemonopoli diskusi

yangMengerjakan tugas sampaiTidak suka kerja terbatas


selesai
waktu, mengatur sendiri
waktu penyelesaian

Minat
beragam,
rasaBanyak bertanya, senangKurang dapat membuat
penasaran yang tinggi
dengan gagasan baru
pembicaraan yang lintas
disiplin
Belajar/bekerja sendiri

Menciptakan gaya sendiriMenolak


bekerjasama
dengan melakukan sesuatu dengan orang lain yang
dianggap tidak sejalan

Kepustakaan
Gary A. Davis, Sylvia B. Rimm Education of the Gifted and Talented, New
York:
Allyn
&
Bacon,
1998
Don Ambrose,Tracy Cross Morality, Ethics, and Gifted Minds, Springer,
2009
Berbagai sumber-sumber lain

40

SUKSMA ATAS KUNJUNGANNYA SILAHKAN BERI KOMENTAR....

Diposkan oleh Putu Sutrisna di 20.02


0 komentar:
Poskan Komentar
Posting Lebih Baru Posting Lama Beranda
Langganan: Poskan Komentar (Atom)

Memahami Anak cerdas dan berbakat istimewa (CI+BI)


Senin, 27 Februari 2012 di 20.02 |

Anak Cerdas/Berbakat Istimewa (CI+BI)

PENDAHULUAN

41

Undang-undang no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat 4
menyatakan bahwa Warga negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa berhak memperoleh pendidikan khusus. Perlunya perhatian khusus kepada
anak CI+BI merupakan salah satu upaya untuk mengembangkan potensi peserta didik
secara utuh dan optimal.
Pengembangan potensi tersebut memerlukan strategi yang sistematis dan terarah.
Tanpa layanan pembinaan yang sistematis terhadap siswa yang berpotensi cerdas
istimewa, bangsa Indonesia akan kehilangan sumber daya manusia terbaik.
Strategi pendidikan yang ditempuh selama ini bersifat masal memberikan perlakuan
standar/rata-rata kepada semua siswa sehingga kurang memperhatikan perbedaan
antar siswa dalam kecakapan, minat, dan bakatnya. Dengan strategi semacam ini,
keunggulan akan muncul secara acak dan sangat tergantung kepada motivasi belajar
siswa serta lingkungan belajar dan mengajarnya. Oleh karena itu perlu dikembangkan
keunggulan yang dimiliki oleh siswa agar potensi yang dimiliki menjadi prestasi yang
unggul.
Perhatian khusus tersebut tidak dimaksudkan untuk melakukan diskriminasi, tetapi
semata-mata untuk memberikan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan
dan kondisi siswa. Melalui penyelenggaraan pendidikan khusus untuk siswa CI+BI,
diharapkan potensi-potensi yang selama ini belum berkembang secara optimal, akan
tumbuh dan mampu menunjukkan kinerja terbaik.
Diperkirakan terdapat sekitar 2,2% anak usia sekolah memiliki kualifikasi CI+BI.
Menurut data BPS tahun 2006 terdapat 52.989.800 anak usia sekolah. Artinya
terdapat sekitar 1.059.796 anak CI+BI di Indonesia. Berdasarkan data Asossiasi CI+BI
tahun 2008/9, Jumlah siswa CI+BI yang sudah terlayani di sekolah akselerasi masih
sangat kecil, yaitu 9551 orang yang berarti baru 0,9% siswa CI+BI yang terlayani.
Ditinjau dari segi kelembagaan, dari 260.471 sekolah, baru 311 sekolah yang memiliki
program layanan bagi anak CI+BI. Itupun baru terbatas program yang berbentuk
akselerasi. Sedangkan di madrasah, dari 42.756 madrasah, baru ada 7 madrasah
yang menyelenggarakan program aksel. Ini berarti masih sangat rendah sekali jumlah
sekolah/madrasah yang memberikan layanan pendidikan kepada siswa CI+BI, serta
keterbatasan dari ragam pelayanan.

KARAKTERISTIK ANAK CI+BI

Anak-anak gifted bukanlah anak dengan populasi seragam, ia mempunyai banyak


variasi, baik variasi pola tumbuh kembangnya, variasi personalitasnya, maupun
variasi keberbakatannya. Semakin tinggi perkembangan inteligensianya, maka akan
terjadi deskrepansi (perbedaan) di berbagai domain perkembangan. Deskrepansi ini
bukan saja akan menyangkut perkembangan dalam individu, tetapi juga akan
menyangkut perkembangan antar individu. Kondisi inilah yang sering membawa
berbagai kesulitan pada anak-anak gifted dan sering salah terinterpretasi (Silverman,
2004).
42

Sebagian besar anak gifted akan mengalami perkembangan motorik kasar yang
melebihi kapasitas normal, namun mengalami ketertinggalan perkembangan motorik
halus. Saat ia masuk ke sekolah dasar, umumnya ia mengalami kesulitan menulis
dengan baik. Banyak dari anak-anak ini diberi hukuman menulis berlembar-lembar
yang justru tidak menyelesaikan masalahnya bahkan akan memperberat masalah
yang dideritanya9. Anak-anak gifted adalah anak-anak yang sangat perfeksionis,
sehingga perkembangan kognitif yang luar biasa tidak bisa ia salurkan melalui bentuk
tulisan. Hal ini selain dapat menyebabkan kefrustrasian dan juga dapat menyebabkan
kemerosotan rasa percaya diri, konsep diri yang kurang sehat serta anjlognya motivasi
untuk berprestasi.
Deskrepansi antara perkembangan kognitif dan ketertinggalan motorik halus,
ditambah karakteristik perfeksionisnya bisa menimbulkan masalah yang cukup serius
baginya, terutama kefrustrasian dan munculnya konsep diri negatip, ia merasa
sebagai anak yang bodoh tidak bisa menulis. Namun seringkali pendeteksian tidak
diarahkan pada apa akar permasalahan yang sebenarnya, dan penanggulangan hanya
ditujukan pada masalah perilakunya yang dianggap sebagai perilaku membangkang
Anak cerdas (brigth/higt achiever) berbeda dengan dengan anak CI+BI (gifted) dan
anak-anak cerdas tidak bisa dimaksukkan ke dalam kelompok gifted karena mereka
memiliki karakteristik yang berbeda. Sekalipun mereka juga memiliki tingkat
intelegensi yang tinggi, namun kemampuan mereka dalam analisis, abstraksi dan
kreativitas tidak seluar biasa anak-anak CI+BI. Berbagai perbedaan tersebut dapat
dilihat pada tabel berikut:
CERDAS

CERDAS/BERBAKAT ISTIMEWA

(Bright/High Achiever)

(Gifted Talented)

Menjawab

pertanyaan

benar

Berminat dengan sesuatu

Menunjukkan perhatian

Punya
populer

gagasan

soal

sesuai

Mempersoalkan pertanyaan
Penasaran dengan sesuatu

Terlibat secara emosional, mental,


dan fisik

bagus,
Punya gagasan yang aneh, konyol,
dan di luar keumuman

Bekerja keras untuk sukses ujian

Menjawab
yang ditanyakan

yang

dengan

dengan

Jarang belajar, hasil ujian bagus


Memperluas konteks jawaban

Di
Di puncak daftar siswa berprestasi normal

Suka linearitas

Gemar kompleksitas

Pemerhati yang baik

Pengamat yang kritis, bawel

Mendengarkan

minar

penuh

dengan

luar

kelompok,

berprestasi

Menyimak untuk siap berdebat

43

CERDAS

CERDAS/BERBAKAT ISTIMEWA

(Bright/High Achiever)

(Gifted Talented)

6-8
kali
pengulangan
menguasai materi

Memahami
dengan baik

gagasan

orang

untuk
1-2
kali
pengulangan
menguasai materi
lain

untuk

Membentuk gagasan sendiri

Lebih suka bergaul dengan orang


Senang berteman dengan teman dewasa atau lebih tua
sebaya

Mempertanyakan keputusan

Menarik kesimpulan

Memulai proyek sendiri

Menyelesaikan
tugas
yang
diberikan

Bagus
dalam
menciptakan
sesuatu yang baru

Pintar menyalin, meniru

Suka sekolah
(Sumber: CGIS-Net Assessment systems, 2008)

Suka belajar

IDENTIFIKASI ANAK CI+BI


Dalam mengidentifikasi peserta didik cerdas istimewa menggunakan pendekatan
multidimensional. Artinya kriteria yang digunakan lebih dari satu (bukan sekedar
intelligensi). Batasan yang digunakan adalah peserta didik yang memiliki dimensi
kemampuan umum pada taraf cerdas ditetapkan skor IQ 130 ke atas dengan
pengukuran menggunakan skala Wechsler (Pada alat tes yang lain = rerata skor IQ
ditambah dua standar deviasi), dimensi kreativitas tinggi (ditetapkan skor CQ dalam
nilai baku tinggi atau plus satu standar deviasi di atas rerata) dan pengikatan diri
(Task commitment) terhadap tugas baik (ditetapkan skor TC dalam kategori nilai baku
baik, atau plus satu standar deviasi di atas rerata). Tiga komponen ini dikenal sebagai
Konsepsi Tiga Cincin dari Renzulli (1978, 2005) yang banyak digunakan dalam
menyusun pendidikan untuk anak cerdas istimewa, dan merupakan teori yang
mendasari pengembangan pendidikan anak cerdas istimewa dan berbakat istimewa
(Gifted and Talented children).
Model lain adalah The Triadich dari Renzulli-Mnks yang merupakan pengembangan
dari Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari Renzulli. Model Renzulli-Mnks ini disebut
sebagai model multifaktor yang melengkapi Konsepsi Tiga Cincin Keberbakatan dari
Renzulli. Dalam model multifaktornya Mnks mengatakan bahwa potensi kecerdasan
istimewa (giftedness) yang dikemukakan oleh Renzulli itu tidak akan terwujud jika
tidak mendapatkan dukungan yang baik dari sekolah, keluarga, dan lingkungan di
mana si anak tinggal (Mnks dan Ypenburg, 1995).
Dengan model multifaktor maka pendidikan anak cerdas istimewa tidak dapat
dilepaskan dari peran orang tua dan lingkungan dalam menanggapi gejala-gejala
berkecerdasan istimewa (giftedness), toleran terhadap berbagai karakteristik yang
44

ditampilkannya baik yang positif maupun berbagai gangguan tumbuh kembangnya


yang menjadi penyulit baginya, serta dalam mengupayakan layanan pendidikannya.
Lebih lanjut model pendekatan ini menuntut keterlibatan pihak orang tua dalam
pengasuhan di rumah agar berpartisipasi secara penuh dan simultan dengan layanan
pendidikan terhadap anak di sekolah.
Model Triadich Renzulli-Mnks menuntut sistem pendidikan, keluarga, dan lingkungan
untuk dapat memberikan dukungan yang baik dan mengupayakan agar anak didik
dapat mencapai prestasi istimewanya, sehingga diharapkan tidak akan terjadi adanya
kondisi berprestasi rendah (underachiever) pada seorang anak berkecerdasan
istimewa. Dengan model pendekatan teori ini juga, maka anak-anak yang mempunyai
ciri-ciri berkecerdasan istimewa (dengan ciri-ciri tumbuh kembang, ciri-ciri
personalitas, dan ciri-ciri intelektual) sekalipun underachiever masih dapat terdeteksi
sebagai anak berkecerdasan istimewa yang memerlukan dukungan dari sekolah,
keluarga dan lingkungan agar ia dapat mencapai prestasi yang istimewa sesuai
potensinya.
Model pendekatan multifaktor lebih fleksibel dalam melakukan deteksi dan diagnosis
anak cerdas istimewa, terutama dalam menghadapi anak-anak dengan kondisi
tumbuh kembang yang mengalami disinkronitas yang besar dan penting, berkesulitan
dan bergangguan belajar (learning difficulties dan learning disabilities), serta yang
mengalami komorbiditas dengan gangguan lainnya (gangguan emosi dan perilaku
yang patologis). Fleksibilitas dalam melakukan deteksi yang dimaksud adalah
dimungkinkannya penggunaan daftar dan alat-alat ukur asesmen yang lebih beragam
(Mnks dan Pflger, 2005).
Heller (2004) mengembangkan model multifaktor yang pada dasarnya merupakan
pengembangan dari Triadic Interdependence model Mnks serta
Multiple
Intelligences dari Howard Gardner. Menurut Heller konsep keberbakatan dapat
ditinjau berdasarkan empat dimensi multifaktor yang saling terkait satu sama lain:
(1) faktor talenta (talent) yang relatif mandiri (relatif mandiri); (2) faktor kinerja
(performance); (3) faktor kepribadian; dan (4) faktor lingkungan; Dua faktor terakhir
menjadi perantara untuk terjadinya transisi dari talenta menjadi kinerja. Secara
grafis, model tersebut dapat dilihat pada gambar di halaman berikut.
Faktor bakat (talent) sebagai potensi yang ada dalam individu dapat meramalkan
aktualisasi kinerja (performance) dalam area yang spesifik. Bakat ini mencakup tujuh
area yang masing-masing berdiri sendiri, yaitu: kemampuan intelektual, kemampuan
kreatif, kompetensi sosial, kecerdasan praktis, kemampuan artistik, musikalitas, dan
keterampilan psikomotor. Sementara itu Faktor kinerja (performance) meliputi delapan
area kinerja, yaitu: matematika, ilmu pengetahuan alam, teknologi, komputer, seni
(musik, lukis), bahasa, olah raga, serta relasi sosial.
Bakat (talent) dapat berkembang menjadi kinerja dengan dipengaruhi oleh dua
faktor yaitu: (1) karakteristik kepribadian yang mencakup: cara mengatasi stres,
motivasi berprestasi, strategi belajar dan strategi kerja, harapan-harapan akan
pengendalian, harapan akan keberhasilan atau kegagalan, dan kehausan akan
pengetahuan; serta (2) kondisi-kondisi lingkungan yang mencakup: iklim keluarga,
jumlah saudara dan kedudukan dalam keluarga, tingkat pendidikan orang tua,
45

stimulasi lingkungan rumah, tuntutan dan kinerja yang ada di rumah, lingkungan
belajar, kualitas pembelajaran, iklim kelas, dan peristiwa-peristiwa kritis.
Di dalam proses terwujudnya bakat menjadi kinerja, bakat juga dapat mempengaruhi
faktor kepribadian dan kondisi lingkungan. Misalnya bakat yang ada pada anak dapat
mempengaruhi bagaimana orangtua atau guru memperlakukannya. Di dalam proses
terwujudnya kinerja, bakat juga dapat mempengaruhi faktor kepribadian dan kondisi
lingkungan. Misalnya bakat yang ada pada anak dapat mempengaruhi bagaimana
anak tersebut menjadi semakin ulet dan tekun atau bakat yang dimiliki juga akan
berpengaruh terhadap sikap orangtua atau guru terhadap anak sehingga berpengaruh
terhadap cara memperlakukan si anak.
Proses Identifikasi merupakan salah satu tahap awal yang merupakan kunci utama
yang penting dalam keberhasilan suatu program layanan pendidikan khusus bagi
siswa CI+BI. Dalam proses rekrutmen dan seleksi dipengaruhi oleh model layanan
pendidikan yang diberikan bagi peserta didik cerdas istimewa ada beberapa prinsip
identifikasi yang perlu diperhatikan adalah (Klein, 2006; Porter, 2005) yaitu: Cerdas
Istimewa merupakan suatu fenomena yang kompleks sehingga identifikasi hendaknya
dilakukan secara multidimensional dengan:
1.
Menggunakan sejumlah cara pengukuran untuk melihat variasi dari
kemampuan yang dimiliki oleh siswa cerdas istimewa pada usia yang berbeda.
2.
Mengukur bakat-bakat khusus yang dimiliki untuk dijadikan acuan penyusunan
program belajar bagi siswa cerdas istimewa.
3.
Tidak hanya memperhatikan hal-ahl yang sudah teraktualisasi, namun juga
mengidentifikasi potensi.
4.
Identifikasi tidak hanya untuk mengukur aspek kognitif, namun juga motivasi,
minat, perkembangan sosial emosional serta aspek non kognitif lainnya.

PERMASALAHAN ANAK CI+BI


Gejala-gejala lompatan perkembangan anak CI+BI merupakan faktor kuat yang
memberi dampak psikologis dalam perilakunya, baik positif maupun negatif. Dengan
memahami karakteristik anak, orang tua, guru, masyarakat dapat mengantisipasi halhal di luar dugaan (misalnya marah, agresif) dan bisa menduga penyebabnya. Perilaku
negatif tersebut, mungkin menjadi sumber masalah emosional anak CI+BI. Gambaran
perilaku negatif dan positif anak CI+BI, dapat dilihat pada tabel berikut:
Karakteristik

Perilaku Positif

Sangat waspada

Cepat
mengetahui
masalah

Selera humor tinggi

Mampu menertawakan diriMembuat lelucon dengan


sendiri
mengorbankan orang lain

Mampu
keterkaitan

memahamiMampu
satu dengan

Perilaku negatif
adaSenang mengoreksi orang
dewasa

memecahkanIkut campur urusan orang

46

Karakteristik

Perilaku Positif

Perilaku negatif

yang lain

masalah sosial sendirian

lain

Dorongan berprestasi yangMengerjakan tugas sekolahArogan,


egois,
tidak
kuat
dengan baik
sabaran
dengan
kelambanan orang lain
Kemampuan
tinggi

verbal

Individualistik,
stabilitas

yangDiplomasi persuasif denganMemanipulasi orang lain


tata bahasa yang tepat

menantangPercaya diri tinggi

Hanya sedikit punya teman


dekat,
kuat
dengan
keyakinan diri sendiri

Motivasi diri yang kuat,Hanya perlu sedikit arahanAgresif


berlebihan,
merasa tidak perlu bantuandan bantuan orang lain
menantang otoritas
orang lain
Kemampuan
sangat tinggi

membacaMengingat dan menguasaiGampang bosan, tidak suka


materi
belajar
denganhafalan
mudah

Sangat senang membaca

Membaca berbagai jenisMengabaikan orang lain


buku,
memonopoli
perpustakaan

Kaya perbendaharaan kata Mengkomunikasikan


gagasan dengan lancar
Simpanan informasi yangCepat dalam
sangat banyak
pertanyaan
Rentang
panjang

perhatian

Suka pamer pengetahuan

menjawabMemonopoli diskusi

yangMengerjakan tugas sampaiTidak suka kerja terbatas


selesai
waktu, mengatur sendiri
waktu penyelesaian

Minat
beragam,
rasaBanyak bertanya, senangKurang dapat membuat
penasaran yang tinggi
dengan gagasan baru
pembicaraan yang lintas
disiplin
Belajar/bekerja sendiri

Menciptakan gaya sendiriMenolak


bekerjasama
dengan melakukan sesuatu dengan orang lain yang
dianggap tidak sejalan

Kepustakaan

47

Oleh: Amril Muhammad (Sekjend Asosiasi CI+BI Nasional)


Pembelajaran kooperatif mengutamakan kerjasama diantara siswa untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Kerjasama dalam pemecahan masalah atau belajar perlu dibudayakan pada siswa
CI+BI, karena sangat baik untuk membangun keterampilan sosialnya. Melalui kerjasama, siswa
dilatih untuk saling membantu sekaligus menyadari bahwa setiap manusi memiliki keterbatasan.
Keterbatasan ini bisa diminimalisasi jika kerjasama dibangun. Di sisi lain siswa memahami ada
perbedaan di antara teman-temannya, sehingga ia dapat memahami adanya keragaman. Keragaman
adalah kekayaan. Melalui kerjasama, dibangun sinergitas untuk memperoleh hasil terbaik atas nama
dan untuk kelompok.
Pelaksanaan pembelajaran kooperatif dilakukan dalam beberapa fase atau tahapan, yaitu:
Fase 1, Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan
memotivasi siswa.
Kejelasan tujuan pembelajaran dapat memberi panduan terkait apa yang harus disiapkan secara
fisik dan mental untuk mencapai tujuan tersebut. Motivasi belajar siswa harus dibangun karena
dapat memunculkan dorongan belajar agar timbul gairah untuk belajar. pembentukan motivasi ini
berpengaruh pada siswa untuk dapat mencapai hasil yang baik dalam prestasi belajar.
Fase 2, Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan
bacaan.
Demonstrasi merupakan cara yang sangat efektif, sebab membantu siswa untuk mencari jawaban
dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar. Demonstrasi adalah cara penyajian
pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi
atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan. Sebagai metode penyajian,
demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses
demonstrasi peran siswa hanya sekadar memerhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan
bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk
mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.
Menyediakan bahan bacaan dalam penerapan pembelajaran kooperatif bagi siswa CI+BI sangat
penting. Banyak yang mengatakan buku adalah jendela dunia. Dengan membuka buku berarti siswa
kita dorong untuk membuka jendela dunia. Melihat keluar, melihat sesuatu yang baru atau
pemandangan yang berbeda dengan apa yang ada di memori siswa. Sehingga bisa memperkaya
pengetahuan yang tersimpan dalam memori.
Fase 3. Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok agar melakukan transisi efisien
Pengelompokan yang heterogenitas merupakan cirri khas yang menonjol daripembelajaran
kooperatif, kelompok ini terbentuk berdasarkan keanekaragaman yang ada didalam kelas baik
keanekaragaman gender, ras, intelektual maupun keanekaragaman status sosial ekonomi.
Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman
memimpin bagi para anggota kelompok Pemimpin kelompok sering ditentukan oleh guru atau
48

kelompok dibiarkan untuk memilih pemimpinnya dengan cara masing-masing. ini berarti siswa
CI+BI belajar untuk berdemokrasi, menerima kekalahan dan siap bila memperoleh kemenangan.
kerja kelompok dalam pembelajaran kooperatif akan efekif jika diantra anggota kelompok terdapat:
(1) saling ketergantungan positif, (2) tanggungjawab perorangan, (3) kegiatan tatap muka, (4)
komunikasi antar anggota, dan (5) evaluasi proses kelompok
Fase 4. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas.
Bimbingan ini diperlukan agar proses belajar kelompok berlangsung efektif. Harus dihindari
adanya dominasi individu tertentu dalam proses kerja kelompok. Karena itu guru perlu
membimbing siswa dalam melakukan pembagian kerja kelompok. Semua pekerjaan harus terbagi
relatif merata dan diminimalkan adanya tumpang tindih. Dengan demikian semua anggota
kelompok dituntut untuk berkontribusi. Pembimbingan juga dilakukan dalam proses diskusi. Jangan
sampai ada anggota kelompok yang menghindari diskusi karena tanggapan kurang positif dari
temannya saat ini mengungkapkan gagasannya.
Fase 5. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing
kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Memberikan presentasi saat ini sudah merupakan bagian yang penting dalam proses belajar dan
kerja. Apabalia siswa memiliki Keterampilan yang tinggi dalam hal ini akan menjadi aset utama
bagi nya untuk mengembangkan karir. Presentasi merupakan alat komunikasi tangguh dalam usaha
untuk menyampaikan laporan atau keterangan mengenai apa saja yang merupakan tanggung jawab
kelompok atau individu dalam belajar. Presentasi juga dapat digunakan untuk menunjukkan
kemampuan, karena dari cara siswa memberikan presentasi dapat dinilai seberapa jauh ia
menguasai bidang yang dipelajarinya.
Melalui proses presentasi, siswa CI+BI dilatih untuk menyajikan informasi secara profesional yang
menarik dapat dilakukan dengan menggunakan program presentasi. Salah satu rogram presentasi
yang sangat populer adalah Microsoft PowerPoin. Program ini dapat disarankan oleh guru, karena
program ini banyak digunakan karena kemudahan cara pennggunaannya serta fasilitas tampilannya
yang menarik. Presentasi ini kemudian dibantu dengan penyediaan monitor, proyektor multimedia
(infocus) maupun melalui halaman web serta media cetak lainnya.
Selanjutnya guru perlu melakukan evaluasi dari proses dan hasil belajar siswa. Evaluasi belajar
penting dilakukan karena mempunyai fungsi : Kurikuler (alat pengukur ketercapaian tujuan mata
pelajaran), instruksional (alat ukur ketercapaian tujuan proses belajar mengajar), diagnostik
(mengetahui kelemahan siswa, penyembuhan atau penyelesaian berbagai kesulitan belajar siswa).,
placement (penempatan siswa sesuai dengan bakat dan minatnya, serta kemampuannya) dan
administratif BK (pendataan berbagai permasalahan yang dihadapi siswa dan alternatif bimbingan
dan konseling).
Fase 6. Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar siswa baik individu maupun
kelompok
Keberhasilan belajar siswa tidak lepas dari motivasi siswa yang bersangkutan, oleh karena itu pada
dasarnya motivasi berprestasi merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan siswa. Siswa
juga akan lebih termotivasi jika dari hasil belajarnya tersebut mendapatkan penghargaan (reward)

49

yang memuaskan dari guru atau pihak pengajar sebagai tanda penghargaan atas hasil belajarnya
tersebut.
Agar pelaksanaan pembelajaran kooperatif di kelas akselerasi berlangsung efektif, guru perlu
melakukan persiapan. Beberapa hal diantaranya:
1.
2.

pilih pendekatan apa yang akan digunakan, misal STAD, Jigsaw, Investigasi Kelompok, dll.
Pilih materi yang sesuai untuk model ini

3.

mempersiapkan kelompok yang heterogen

4.

menyiapkan LKS atau panduan belajar siswa

5.

rencanakan waktu, tempat duduk yang akan digunakan

apabila model pembelajaran koperatif dilakukan, diharapkan tumbuh nilai-nilai positif :


1.
Siswa memiliki berbagai ketrampilan-ketrampilan baru agar dapat ikut berpartisipasi dalam
dunia yang selalu berubah dan terus berkembang.
2.
Siswa dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama dengan orang
lain dalam berbagai situasi social. Tujuan ini berkaitan dengan kebutuhan akan sumber daya
manusia yang memiliki kesadaran akan kerjasama dalam segala bidang
3.

Siswa untuk memiliki kesadaran untuk membangun pengetahuan secara aktif

4.
Siswa memiliki keemantapan interaksi pribadi diantara siswa dan diantara guru dengan
siswa. Hal ini bertujuan untuk membangun suatu proses social yang akan membangun pengertian
dan pengetahuan bersama.
5.
Siswa mampu untuk menemukan, membentuk dan mengembangkan pengetahuan. Artinya
siswa diharapkan mampu membentuk makna dari materi-materi peljaran melalui suatu proses
belajar dan menyimpannya agar dapat diproses dan dikembangkan lagi.
6.
Peningkatan hasil belajar, meningkatkan hubungan antar kelompok, menerima teman yang
mengalami kendala akademik dan meningkatkan harga diri (self esteem).

Sumber:
PENDAHULUAN
Tidak dapat disangkal bahwa pendidikan di sekolah mengemban tugas yang sangat berat. Beratnya
tugas pendidikan di sekolah tidak saja diukur dari seberapa jauh lembaga pendidikan dapat
menyiapkan sarana dan prasarana untuk menciptakan kinerja persekolahan yang maksimal, tetapi
juga bagaimana ia mampu memodifikasi dan mendesain kurikulum seperti yang diharapkan. Ini
merupakan konskuensi untuk menghadapi masa depan peserta didik yang menuntut keunggulan dan
kemampuan berkompetensi dipasar global.

50

Untuk mengantisipasi perubahan yang begitu cepat, menuntut adanya sistem pembelajaran
akselerasi (percepatan). Cara ini dilakukan untuk menyerap dan memahami informasi-informasi
baru secara cepat. Ini berarti seorang peserta didik harus bersikap terbuka serta mau menerima
informasi dimanapun dan kapann pun, tidak terbatas oleh usia dan tempat.[1]
Selain itu strategi pelayanan pendidikan yang selama ini masih memberikan standart rata-rata
kepada semua siswa, sehingga siswa yang memiliki kemampuan kecerdasan di bawah rata-rata
selalu tertinggal dibanding siswa lainnya, sebalikanya siswa yang memiliki kemampuan diatas ratarata mereka akan bosan sehingga prestasinya sering dibawah potensi yang sesungguhnya mereka
miliki.[2] Dengan adanya kondisi seperti inilah perlu juga adanya pelayanan pendidikan yang
diferensial (kelas akselerasi).
Sistem pembelajaran akselerasi adalah pelayanan pendidikan bagi anak berkemampuan dan
berkecerdasan luar biasa dalam bentuk Program khusus (kelas khusus) dalam waktu yang lebih
cepat dibandingkan sekolah regular.
Sekolah dipandang perlu memberikan layanan kepada siswa yang memiliki tingkat kemampuan,
kecerdasan, bakat yang luar biasa dalam bentuk perlakuan pendidikan pengajaran diatas standart
(rata-rata).
Sementara itu, strategi Pendidikan yang ditempuh selama ini, termasuk kurikulum yan ada,
memberikan perlakuan yang standart ( rata- rata) kepada semua pesert didik yang sebenarnya
memiliki perbedaan kemampuan dan kecerdasannya.

Disatu sisi, strategi ini memang relevan

dalam konteks pemerataan kesempatan, akan tetapi disis lain, kurang mampu menunjang usaha
mengoptimalkan pengembangan potensi peserta didik, mengingat bahwa setiap individu memiliki
perbedaan kemampuan dan kecerdasan. Pengembangan potensi tersebut memerlukan strategic yang
sistematik dan terarah kepada anak didik dengan memperhatikan perbedaan antar anak didik dalam
bakat dan minatnya.
Dari data yang dapat diperoleh bahwa lulusan Akselerasi SMA Negeri 8 Jakarta semuanya diterima
diperguruan ternama baik didalam negeri maupun Luar negeri.Diantaranya adalah di NTU
Singapura, ITB Bandung, UI Jakaerta, ITS Surabaya ada ada yang mendapat besiswa dari Mitsui
Jepang dan Mombuso Jepang.[3]
Dari data tersebut penting kiranya untuk diangkat lebih jauh tentang program pembelajaran
akselerasi (Akselerasi pendidikan).
B.

PEMBAHASAN

1.

Pengertian Program Akselerasi

Program percepatan belajar (Akselerasi) adalah salah satu program layanan pendidikan khusus
bagi peserta didik yang oleh guru telah diidentifikasi memiliki prestasi yang sangat memuaskan
51

dan oleh psikolog telah diidentifikasi memiliki kemampuan intelektual umum pada taraf cerdas,
memiliki kreativitas dan keterikatan terhadap tugas di atas rata-rata, untuk dapat mennyelesaikan
program pendidikan sesuai dengan kecepatan belajar mereka.
Program akselerasi adalah program pelayanan pendidikan peserta didik yang memiliki potensi
cerdas istimewa dan/atau berbakat istimewa (CI/BI). Dalam program akselerasi, penyelesaian
pendidikan dapat ditempuh dengan jangka waktu yang lebih singkat dibandingkan dengan program
seperti biasanya. Artinya peserta didik kelompok ini dapat menyelesaikan pendidikan di SD/MI
dalam jangka waktu 5 tahun dan di SMP/MTs atau SMA/MA dalam waktu 2 tahun.
2. Tujuan pelaksanaan Kelas Akselerasi
Ada dua tujuan yang mendasari dikembangkannya program percepatan belajar bagi peserta didik
yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
Tujuan umum
1.

Memenuhi kebutuhan pesserta didik yang memiliki karakteristik spesifik dari segi

perkembangan kognitif dan afektifnya


2. Memenuhi hak asasi peserta didik sesuai dengan kebutuhan pendidikan bagi dirinya sendiri
3. Memenuhi minat intelektual dan peerspektif masa depan peserta didik
4. Memenuhi kebutuhan aktualisasi diri peserta didik
5.

Menimbang peran peserta didik sebagai asset masyarakatdan kebutuhan masyarakat untuk

pengisian peran
6. Menyiapkan peserta didik sebagai pemimpin masa depan
Tujuan khusus
a. Memberi penghargaan untuk dapat menyelesaikan program pendidikan secara lebih cepat sesuai
dengan potensinya
b. Meningkatkan efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran peserta didik
c. Mencegah rasa bosan terhadap iklim kelas yang kurang mendukung berkembangnya potensi
keunggulan peserta didik secara optimal
d. Memacu mutu siswa untuk peningkatan kecerdasan spiritual, inteletual dan emosionalnya secara
berimbang.
3.

Dasar Hukum Program Akselerasi

Landasan hukum program percepatan (Akselerasi) adalah undang-undang nomor 2 tahun 1989
tentang sistem pendidikan nasional, kemudian diganti dengan undang-undang nomor 20 tahun
2003 antara lain :
Pasal 5 ayat 4 : Warga Negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak
memperoleh pendidikan khusus. [4]
52

Pasal 12 ayat 1 : Setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak : (b) sesuai dengan
bakat, minat dan kemampuannya, (f) menyelesaikan program pendidikan sesuai dengan kecepatan
belajar masing-masing dan tidak menyimpang dari ketentuan batas waktu yang ditetapkan.[5]
Tentunya ini merupakan berita yang menggembirakan bagi warga negara yang memiliki bakat
khusus dan tingkat kecerdasan yang istimewa untuk mendapatkan layanan pendidikan sebaikbaiknya.
Sebelum lahir UUSPN, di Indonesia telah terdapat istilah gifted, talented, genius dan berbakat,
yang diinterpretasikan kurang seragam, masing-masing orang memiliki konotasi yang beragam.
Namun ada kecenderungan yang sama bahwa istilah-istilah tersebut diperuntukkan bagi seseorang
yang memiliki kemampuan dan kecerdasan yang melebihi orang-orang pada umumnya yang sebaya
dengannya. Berkenaan dengan hal tesebut, pemerintah memberi istilah warga Negara yang
memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa (UUSPN pasal 8 ayat (2) untuk menangkap artiarti dari istilah-istilah tersebut yaitu gifted, talented, genius, maupun berbakat. Kecerdasan
berhubungan dengan kemampuan intelektual, sedangkan kemampuan luar biasa tidak hanya
terbatas pada kemampuan intelektual.[6] Jenis-jenis kemampuan dan kecerdasan luar biasa yang
dimaksud adalah batasan ini meliputi bidang : (1) intelektual umum dan akademik khusus, (2)
berpikir kreatif produktif, (3) psikososial / kepemimpinan, (4) seni / kinestetik, dan (5) psikomotor.
Sebuah fakta konkret membuktikan bahwasanya, para tokoh-tokoh yang hasil penelitiannya
mendapat pengakuan dan penghargaan karena prestasi dan sumbangan-sumbangan pemikiran
mereka yang kreatif, ternyata selalu memiliki tiga kelompok ciri yang saling berpautan, yaitu [7]
memiliki : (1) kemampuan / intelegensi, (2) kreativitas, dan (3) tanggung jawab atau pengikatan
diri terhadap tugas (task commitment)di atas rata-rata. Intelegensi yang tinggi saja belum cukup
untuk menentukan kemapuan dan kecerdasan luar biasa, demikian pula kreativitas tanpa pengikatan
diri terhadap tugas belum menjamin prestasi unggul. Oleh karena itu, interaksi antara ketiga ciri
tersebut merupakan unsur yang essensial dan ketiga-tiganya sama pentingnya dalam menentukan
kemampuan dan kecerdasan luar biasa seseorang.
Dengan mengacu pada berbagai hasil penelitian, diperkirakan terdapat 2,2% anak usia sekolah yang
memiliki kualifikasi CI+BI. Menurut data BPS tahun 2006 terdapat 52.989.800 anak usia sekolah.
Artinya terdapat sekitar 1.059.796 anak usia sekolah yang memiliki kualifikasi CI+BI. Berdasarkan
data Asosiasi CI+BI Nasional, baru sekitar 9551 anak CI+BI yang dapat mengikuti program
akselerasi. Ditinjau dari segi kelembagaan, dari 260.471 sekolah, baru 311 sekolah yang memiliki
program layanan bagi anak CI+BI. Sedangkan di madrasah, dari 42.756 madrasah, baru 7 madrasah
yang menyelenggarakan program akselerasi. Ini berarti masih sedikit sekolah/madrasah yang
memberikan layanan pendidikan kepada siswa CI+BI.
53

Anak-anak CI+BI (gifted) bukanlah anak dengan populasi seragam. Ia mempunyai banyak variasi,
baik variasi pola tumbuh kembangnya, variasi personalitasnya, maupun variasi keberbakatannya.
Semakin tinggi perkembangan intelegensinya maka akan terjadi deskrepansi (perbedaan) di
berbagai domain perkembangan. Deskrepansi ini bukan saja akan menyangkut perkembangan
dalam individu, tetapi juga akan menyangkut perkembangan antar individu. Kondisi inilah yang
sering membawa berbagai kesulitan pada anak-anak gifted dan sering salah interpretasi.
Anak-anak CI+BI (gifted) berbeda dengan anak cerdas (bright/high achiever). Oleh karena itu, anak
cerdas tidak dapat dimasukkan dalam kelompok gifted karena mereka memiliki karakteristikk yang
berbeda. Meskipun mereka memiliki tingkat intelegensi yang tinggi, namun kemampuan mereka
dalam analisis, abstraksi dan kreatifitas tidak se-luar biasa anak-anak CI+BI. Berikut adalah
perbedaan karakteristik antara anak CI+BI dengan anak cerdas:[8]
Cerdas/Berbakat istimewa

Cerdas

Dengan memperhatikan
(Bright/ High Achiever)
Menjawab pertanyaan dengan karakteristik anak CI+BI
benar
di atas, ketiadaan layanan
Penasaran dengan sesuatu
Berminat dengan sesuatu
pembinaan
yang
Terlibat secara emosional, mental Menunjukkan perhatian
sistematis
terhadap
dan fisik
(Gifted-talented)
Mempersoalkan pertanyaan

Punya gagasan yang aneh, konyol Punya

gagasan

yang

bagus, peserta

didik

CI+BI,

dan di luar keumuman


Jarang belajar, hasil ujian bagus
Memperluas konteks jawaban
Di

luar

kelompok,

populer
bangsa Indonesia akan
Bekerja keras untuk sukses ujian
kehilangan
kekayaan
Menjawab soal sesuai dengan
SDM yang tidak terukur
yang ditanyakan
Strategi
berprestasi Di puncak daftar peserta didik nilainya.

normal
Gemar kompleksitas
Pengamat yang kritis, bawel
Menyimak untuk siapp berdebat
1-2

kali

pengulangan

berprestasi
Suka linearitas
Pemerhati yang baik
Mendengarkan dengan

minat
untuk 6-8 kali

pengulangan

pendidikan
ditempuh

selama

penuh bersifat
memberikan
untuk standar

yang
ini
masal
perlakuan

kepada

semua

menguasai materi
Membentuk gagasan sendiri

menguasai materi
peserta didik sehingga
Memahami gagasan orang lain
kurang memperhatikan
dengan baik
perbedaan antar peserta
Lebih suka bergaul dengan orang Senang berteman dengan teman
didik dalam kecakapan,
dewasa atau lebih tua
sebaya
minat dan bakatnya.
Mempertanyakan keputusan
Menarik kesimpulan
Memulai proyek sendiri
Menyelesaikan
tugas
yang Melalui penyelenggaraan
diberikan
Bagus dalam menciptakan sesuatu Pintar menyalin, meniru
yang baru
Suka belajar

Suka sekolah

54

pendidikan khusus bagi siswa CI+BI diharapkan potensi-potensi yang selama ini belum
dikembangkan secara optimal, akan tumbuh dan menunjukkan kinerja yang baik.
Pemaksaan agar siswa CI+BI dimasukkan dalam kelas bersama anak non CI+BI juga tidak terlalu
tepat. Hollingsworth (1995) bahkan menyatakan bahwa lingkungan sekolah/belajar regular, tidak
sesuai dengan kebutuhan siswa CI+BI. Akibatnya jika lingkungan itu dipaksakan pada siswa
CI+BI, justru mereka akan mengalami kesullitann dalam menjalin hubungan dengan sebaya dan
juga dapat membentuk sikap apatis.
Dalam proses pembelajarannya, kurikulum yang diberikan pada siswa CI+BI tidak boleh sama
dengan kelas reguler, karena bobot dan kedalamannya tidak sesuai dengan karakter siswa CI+BI.
Materi yang disajikan kepada anak CI+BI harus berada pada tingkat tinggi. Dalam konteks yang
lebih modern, pengertian akselerasi tidak hanya isi pelajaran disajikan dalam bentuk yang ringkas
dan dipercepat. Tetapi juga terkait dengan bagaimana teknik instruksional direkayasa. Oleh karena
itu, upaya mengembangkan standar isi mandiri bagi program CI+BI menjadi penting untuk
dilakukan.
Sementara dalam proses pembelajaran yang konvensional, proses pembelajarannya hanya
berlangsung satu arah dan sifatnya hanya berupa transfer pengetahuan dari pendidik kepada peserta
didik, sehingga hasil dan efektivitasnya perlu dipertanyakan.
Dalam proses pembelajaran seperti ini, guru dianggap sebagai orang yang paling mengetahui dan
paling pintar didalam ruang pembelajaran, sedangkan siswa dianggap sebagai orang yang tidak tahu
sama sekali: guru sebagai subyek, dan siswa selalu menjadi obyek.
Perbedaan antara desain sistem pembelajaran tradisional dan pembelajaran akselerasi : [9]
No. Desain

Sistem

PembelajaranDesain

Sistem

Pembelajaran

1.

Tradisional
Rasional

Akselerasi
Rasional-emosi

2.

Berorientasi pada akal

Berorientasi pada seluruh tubuh

3.

Mekanistis

Alami

4.

Rapi dan teratur

Fleksibel

5.

Serius

Santai

6.

Herarkis

Demokratis

7.

Individualistis

Kolaborasi

8.

Kognitif

Multisensori

9.

Disajikan secara detail

Disajikan secara umum

10. Mengutamakan prestasi

Mengutamakan aktivitas

11. Berpusat pada media

Berpusat pada siswa


55

12. Preskriptif

Kreatif

13. Behavioristis

Humanistis

14. Otak kiri

Otak secara keseluruhan

15. Menekan pada bentuk

Menekan pada fungsi

C. Pengembangan Pendidikan Islam


Dengan adanya pemikiran untuk memperpendek masa sekolah yang harus dilalui oleh seorang
siswa, maka proses pembelajaran pun tentunya harus dibenahi. Sudah saatnya, proses pendidikan
berubah dari paradigm teaching (mengajar) menjadi paradigma learning (belajar). Artinya, proses
pendidikan merupakan suatu proses bagaimana belajar bersama antara guru dan peserta didik.
Sehingga lingkungan sekolah dapat menjadi learning-society, sebagaimana yang dikemukakan oleh
Ivan Illich.
Akhirnya, sistem akselerasi pendidikan ini dapat digambarkan sebagai berikut :
Kebijakan Pemerintah dan Sekolah

Amril Muhammad
Perlunya pendidikan untuk anak yang memiliki potensi cerdas istimewa (CI) secara eksplisit
diungkapkan dalam UU no. 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Secara spesifik
disebutkan bahwa anak CI berhak mendapatkan pendidikan khusus, yang diarahkan untuk
pengembangan potensi yang ada agar dapat diwujudkan dalam bentuk karya atau prestasi.
Selama ini layanan pendidikan untuk anak CI diwujudkan dalam bentuk program akselerasi yang
dilakukan di sekolah-sekolah mulai tingkat SD, SMP sampai SMA. Program akselerasi yang
dilakukan lebih diarahkan pada percepatan penyelesaian studi, SD dapat diselesaikan dalam waktu
5 tahun dan SMP/SMA diselesaikan dalam waktu 2 tahun. Di satu sisi, program ini menjadi salah
satu andalan sekolah untuk memberikan nilai tambah, sehingga reputasi sekolah yang bersangkutan
menjadi lebih baik di mata masyarakat. Sehingga banyak sekolah yang berminat membuka program
tersebut, meskipun kesiapan sumber daya dan pemahaman tentang konsep anak CI masih sangat
terbatas.
Berdasarkan data yang ada pada penulis, di seluruh Indonesia terdapat 191 sekolah penyelenggara
akselerasi yang tersebar di 22 propinsi. Data ini agak berbeda dengan data resmi Dit PSLB tahun
2007 yang menyatakan bahwa terdapat 130 sekolah tersebar di 27 propinsi dengan jumlah siswa
4510 orang. Meskipun kedua data ini berbeda, namun tampak bahwa jumlah anak CI yang terlayani
jumlah masih relatif sedikit.
Beberapa ahli psikologi menyatakan bahwa sekitar 2,2% dari populasi anak usia sekolah, ada yang
memiliki kecerdasan istimewa. Apabila menggunakan data BKKBN tahun 2004 terdapat
56

39.246.700 orang anak usia 7-15 tahun. Artinya terdapat 863.427 anak CI. Jika dibandingkan
dengan data Direktorat PSLB tahun 2007, yang menyebutkan baru 4.510 anak CI yang terlayani di
program akselerasi, berarti baru 0,52% yang terlayani.
Di sisi lain, sorotan akan keberadaan program akselerasi juga tidak kurang semaraknya. Salah satu
hal penting yang disoroti adalah rendahnya kecakapan sosial siswa, sehingga cenderung mereka
menjadi asing dengan lingkungan dan tidak peduli dengan lingkungan sekitar. Sorotan negatif ini
kemudian menjadi alasan bagi sekelompok pihak untuk meminta pembubaran program akselerasi.
Kritik tersebut dapat dipahami, karena jika dicermati lebih jauh, tidak semua siswa di kelas
akselerasi memenuhi kriteria psikologis yang mencakup IQ, kreativitas dan task commitment.
Akibatnya mereka tidak mampu mengikuti program dengan baik dan berdampak prestasi yang
diraih menjadi tidak optimal. Faktor guru, juga merupakan aspek yang mempengaruhi efektivitas
penyelenggaraan akselerasi. Temuan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian besar guru tidak
disiapkan untuk mengajar di program akselerasi, serta karateristik psikologis guru tersebut kurang
cocok untuk melayani anak CI. Di samping itu, ditemukan juga di beberapa sekolah, penugasan
guru untuk mengajar program akselerasi dilakukan secara bergantian (seperti model arisan) dengan
alasan pemerataan kesempatan.
Kondisi di atas menunjukkan bahwa layanan pendidikan untuk anak CI belum dilakukan secara
cukup memadai. Lebih jauh diperlukan keterlibatan semua pihak untuk menjadikan pendidikan.
Menyadari keadaan semacam itu, pada bulan Desember 2007 dilakukan pertemuan di Semarang
yang diikuti oleh unsur sekolah, perguruan tinggi, Direktorat PSLB, Dinas Pendidikan dan
kelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap anak CI. Pertemuan tersebut
menyepakati pembentuk suatu perhimpunan yang diberi nama Asosiasi Penyelenggara,
Pengembang dan Pendukung Pendidikan Khusus untuk Anak Cerdas/Berbakat Istimewa disingkat
ASOSIASI CI/BI. Secara umum ada tiga kelompok yang berhimpun dalam Asosiasi, yaitu sekolah
(penyelenggara), perguruan tinggi (pengembang), serta pemerintah dan masyarakat (pendukung).
Asosiasi CI/BI merupakan badan mandiri yang mewadahi peran serta masyarakat dalam rangka
peningkatan mutu secara berkelanjutan dan efektivitas penyelenggaraan pendidikan khusus bagi
peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa. Pendidikan Asosiasi CI/BI
memiliki 4 tujuan, yaitu: (1) meningkatkan kapasitas kelembagaan penyelenggara pendidikan
khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa, (2)
Meningkatkan peluang bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat
istimewa untuk memperoleh akses terhadap layanan pendidikan yang bermutu dan berkelanjutan,
(3) Meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat akan pendidikan khusus bagi peserta
didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa, (4) Mengembangkan jaringan
informasi dan kerjasama.
Sementara itu, Asosiasi CI/BI berfungsi sebagai : (1) Penggerak, mendorong lembaga pendidikan
penyelenggara pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau
bakat istimewa untuk melakukan layanan pendidikan yang bermutu, efektif, dan berkelanjutan., (2)
Pemberdaya, melakukan pembinaan dan pengembangan manajemen dan mutu layanan pendidikan
khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa, (3)
Pengkoordinasi, membangun kerjasama dengan pemerintah dan instansi terkait dalam
pemberdayaan lembaga penyelenggara pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi
kecerdasan dan/atau bakat istimewa
Saat ini Asosiasi CI/BI sedang melakukan penataan organisasi dan penguatan kelembagaan melalui
pembentukan pengurus-pengurus wilayah di setiap propinsi yang telah memiliki sekolah akselerasi.
57

Di samping itu, Asosiasi CI/BI juga melakukan identifikasi pengumpulan data tentang anak-anak
cerdas istimewa yang mengikuti program akselerasi. Asosiasi juga berupaya untuk memfasilitasi
pengembangan potensi siswa cerdas/berbakat istimewa yang selama tidak terakomodasi di lembaga
pendidikan formal dalam bentuk program akselerasi atau lainnya.
Dalam bidang kurikulum, pokja Asosiasi sedang melakukan kajian tentang kompetensi terutama
bidang MIPA yang harus dimiliki oleh anak CI. Hal ini dilakukan karena selama ini, tidak tampak
perbedaan kompetensi antara siswa program reguler dan program akselerasi. Yang membedakan
hanya kecepatan menyelesaikan materi yang ditentukan dalam standar isi. Dalam bidang
pembelajaran, Asosiasi CI/BI sedang,mengkaji model pembelajaran inklusif untuk anak CI melalui
sistem moving class dan pembelajaran akselerasi di dalam kelas inklusif.
Perhimpunan yang dibangun relatif masih baru, oleh karena itu aktivitas yang diselenggarakan oleh
Asosiasi CI/BI masih sangat terbatas. pada tahun 2008, pengurus Asosiasi telah melakukan dua
pertemuan untuk koordinasi program dan pertengahan Juni 2008 telah diadakan pelatihan
Identifikasi Anak CI yang diikuti oleh para psikolog dari lingkungan perguruan tinggi maupun
praktisi di biro psikologi yang menjadi mitra sekolah-sekolah akselerasi. Direncanakan pada akhir
Juli 2008 Asosiasi akan meluncurkan blog dan pada akhir Agustus 2008, akan mengadakan seminar
nasional tentang pengembangan pendidikan khusus bagi anak cerdas istimewa dari prespektif
pemerintah, psikolog, pendidik, serta pendidikan karakter bagi anak CI. Cita-cita yang ingin
dibangun Asosiasi CI/BI adalah menjadi bagian dari bangsa ini untuk membangun pendidikan yang
lebih baik bagi semua. Meskipun terkesan ekslusif, namun program-program yang terkait dengan
pengembangan pendidikan khusus bagi anak CI memberikan multiplier effect pada pendidikan
secara keseluruhan.
@ Penulis adalah Sekjend Asosiasi CI/BI dan Tenaga Ahli Dit. PSLB untuk Pendidikan CI/BI.
Oleh: Amril Muhammad (Sekjend Asosiasi CI+BI Nasional)
Pembelajaran kooperatif mengutamakan kerjasama diantara siswa untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Kerjasama dalam pemecahan masalah atau belajar perlu dibudayakan pada siswa
CI+BI, karena sangat baik untuk membangun keterampilan sosialnya. Melalui kerjasama, siswa
dilatih untuk saling membantu sekaligus menyadari bahwa setiap manusi memiliki keterbatasan.
Keterbatasan ini bisa diminimalisasi jika kerjasama dibangun. Di sisi lain siswa memahami ada
perbedaan di antara teman-temannya, sehingga ia dapat memahami adanya keragaman. Keragaman
adalah kekayaan. Melalui kerjasama, dibangun sinergitas untuk memperoleh hasil terbaik atas nama
dan untuk kelompok.
Pelaksanaan pembelajaran kooperatif dilakukan dalam beberapa fase atau tahapan, yaitu:
Fase 1, Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan
memotivasi siswa.
Kejelasan tujuan pembelajaran dapat memberi panduan terkait apa yang harus disiapkan secara
fisik dan mental untuk mencapai tujuan tersebut. Motivasi belajar siswa harus dibangun karena
dapat memunculkan dorongan belajar agar timbul gairah untuk belajar. pembentukan motivasi ini
berpengaruh pada siswa untuk dapat mencapai hasil yang baik dalam prestasi belajar.
Fase 2, Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan jalan demonstrasi atau lewat bahan
bacaan.
58

Demonstrasi merupakan cara yang sangat efektif, sebab membantu siswa untuk mencari jawaban
dengan usaha sendiri berdasarkan fakta atau data yang benar. Demonstrasi adalah cara penyajian
pelajaran dengan memperagakan dan mempertunjukkan kepada siswa tentang suatu proses, situasi
atau benda tertentu, baik sebenarnya atau hanya sekadar tiruan. Sebagai metode penyajian,
demonstrasi tidak terlepas dari penjelasan secara lisan oleh guru. Walaupun dalam proses
demonstrasi peran siswa hanya sekadar memerhatikan, akan tetapi demonstrasi dapat menyajikan
bahan pelajaran lebih konkret. Dalam strategi pembelajaran, demonstrasi dapat digunakan untuk
mendukung keberhasilan strategi pembelajaran ekspositori dan inkuiri.
Menyediakan bahan bacaan dalam penerapan pembelajaran kooperatif bagi siswa CI+BI sangat
penting. Banyak yang mengatakan buku adalah jendela dunia. Dengan membuka buku berarti siswa
kita dorong untuk membuka jendela dunia. Melihat keluar, melihat sesuatu yang baru atau
pemandangan yang berbeda dengan apa yang ada di memori siswa. Sehingga bisa memperkaya
pengetahuan yang tersimpan dalam memori.
Fase 3. Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan
membantu setiap kelompok agar melakukan transisi efisien
Pengelompokan yang heterogenitas merupakan cirri khas yang menonjol daripembelajaran
kooperatif, kelompok ini terbentuk berdasarkan keanekaragaman yang ada didalam kelas baik
keanekaragaman gender, ras, intelektual maupun keanekaragaman status sosial ekonomi.
Pimpinan kelompok dipilih secara demokratis atau bergilir untuk memberikan pengalaman
memimpin bagi para anggota kelompok Pemimpin kelompok sering ditentukan oleh guru atau
kelompok dibiarkan untuk memilih pemimpinnya dengan cara masing-masing. ini berarti siswa
CI+BI belajar untuk berdemokrasi, menerima kekalahan dan siap bila memperoleh kemenangan.
kerja kelompok dalam pembelajaran kooperatif akan efekif jika diantra anggota kelompok terdapat:
(1) saling ketergantungan positif, (2) tanggungjawab perorangan, (3) kegiatan tatap muka, (4)
komunikasi antar anggota, dan (5) evaluasi proses kelompok
Fase 4. Guru membimbing kelompok-kelompok belajar pada saat mengerjakan tugas.
Bimbingan ini diperlukan agar proses belajar kelompok berlangsung efektif. Harus dihindari
adanya dominasi individu tertentu dalam proses kerja kelompok. Karena itu guru perlu
membimbing siswa dalam melakukan pembagian kerja kelompok. Semua pekerjaan harus terbagi
relatif merata dan diminimalkan adanya tumpang tindih. Dengan demikian semua anggota
kelompok dituntut untuk berkontribusi. Pembimbingan juga dilakukan dalam proses diskusi. Jangan
sampai ada anggota kelompok yang menghindari diskusi karena tanggapan kurang positif dari
temannya saat ini mengungkapkan gagasannya.
Fase 5. Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau masing-masing
kelompok mempresentasikan hasil kerjanya.
Memberikan presentasi saat ini sudah merupakan bagian yang penting dalam proses belajar dan
kerja. Apabalia siswa memiliki Keterampilan yang tinggi dalam hal ini akan menjadi aset utama
bagi nya untuk mengembangkan karir. Presentasi merupakan alat komunikasi tangguh dalam usaha
untuk menyampaikan laporan atau keterangan mengenai apa saja yang merupakan tanggung jawab
kelompok atau individu dalam belajar. Presentasi juga dapat digunakan untuk menunjukkan

59

kemampuan, karena dari cara siswa memberikan presentasi dapat dinilai seberapa jauh ia
menguasai bidang yang dipelajarinya.
Melalui proses presentasi, siswa CI+BI dilatih untuk menyajikan informasi secara profesional yang
menarik dapat dilakukan dengan menggunakan program presentasi. Salah satu rogram presentasi
yang sangat populer adalah Microsoft PowerPoin. Program ini dapat disarankan oleh guru, karena
program ini banyak digunakan karena kemudahan cara pennggunaannya serta fasilitas tampilannya
yang menarik. Presentasi ini kemudian dibantu dengan penyediaan monitor, proyektor multimedia
(infocus) maupun melalui halaman web serta media cetak lainnya.
Selanjutnya guru perlu melakukan evaluasi dari proses dan hasil belajar siswa. Evaluasi belajar
penting dilakukan karena mempunyai fungsi : Kurikuler (alat pengukur ketercapaian tujuan mata
pelajaran), instruksional (alat ukur ketercapaian tujuan proses belajar mengajar), diagnostik
(mengetahui kelemahan siswa, penyembuhan atau penyelesaian berbagai kesulitan belajar siswa).,
placement (penempatan siswa sesuai dengan bakat dan minatnya, serta kemampuannya) dan
administratif BK (pendataan berbagai permasalahan yang dihadapi siswa dan alternatif bimbingan
dan konseling).
Fase 6. Guru mencari cara untuk menghargai upaya atau hasil belajar siswa baik individu maupun
kelompok
Keberhasilan belajar siswa tidak lepas dari motivasi siswa yang bersangkutan, oleh karena itu pada
dasarnya motivasi berprestasi merupakan faktor yang sangat menentukan keberhasilan siswa. Siswa
juga akan lebih termotivasi jika dari hasil belajarnya tersebut mendapatkan penghargaan (reward)
yang memuaskan dari guru atau pihak pengajar sebagai tanda penghargaan atas hasil belajarnya
tersebut.
Agar pelaksanaan pembelajaran kooperatif di kelas akselerasi berlangsung efektif, guru perlu
melakukan persiapan. Beberapa hal diantaranya:
1.
2.

pilih pendekatan apa yang akan digunakan, misal STAD, Jigsaw, Investigasi Kelompok, dll.
Pilih materi yang sesuai untuk model ini

3.

mempersiapkan kelompok yang heterogen

4.

menyiapkan LKS atau panduan belajar siswa

5.

rencanakan waktu, tempat duduk yang akan digunakan

apabila model pembelajaran koperatif dilakukan, diharapkan tumbuh nilai-nilai positif :


1.
Siswa memiliki berbagai ketrampilan-ketrampilan baru agar dapat ikut berpartisipasi dalam
dunia yang selalu berubah dan terus berkembang.
2.
Siswa dapat mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan bekerjasama dengan orang
lain dalam berbagai situasi social. Tujuan ini berkaitan dengan kebutuhan akan sumber daya
manusia yang memiliki kesadaran akan kerjasama dalam segala bidang
3.

Siswa untuk memiliki kesadaran untuk membangun pengetahuan secara aktif

60

4.
Siswa memiliki keemantapan interaksi pribadi diantara siswa dan diantara guru dengan
siswa. Hal ini bertujuan untuk membangun suatu proses social yang akan membangun pengertian
dan pengetahuan bersama.
5.
Siswa mampu untuk menemukan, membentuk dan mengembangkan pengetahuan. Artinya
siswa diharapkan mampu membentuk makna dari materi-materi peljaran melalui suatu proses
belajar dan menyimpannya agar dapat diproses dan dikembangkan lagi.
6.
Peningkatan hasil belajar, meningkatkan hubungan antar kelompok, menerima teman yang
mengalami kendala akademik dan meningkatkan harga diri (self esteem).

Upaya pemerintah untuk memberikan pelayanan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki
potensi kecerdasan dan bakat istimewa telah dilakukan sejak tahun 1974 dalam bentuk kebijakan
atau program. Secara historis kebijakan pemerintah tersebut dapat dilihat pada urain berikut
1974
Pemberian beasiswa bagi peserta didik Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP),
Sekolah Menengah Atas (SMA), dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang berbakat dan
berprestasi tinggi tetapi lemah kemampuan ekonomi keluarganya
1982
Balitbang Dikbud membentuk Kelompok Kerja Pengembangan Pendidikan Anak Berbakat
(KKPPAB). Kelompok Kerja ini mewakili unsur-unsur struktural serta unsur-unsur keahlian seperti
Balitbang Dikbud, Ditjen Dikdasmen, Ditjen Dikti, Perguruan Tinggi, serta unsur keahlian di
bidang sains, matematika, teknologi (elektronika, otomotif, dan pertanian), bahasa, dan humaniora,
serta psikologi
1984
Balitbang Dikbud menyelenggarakan perintisan pelayanan pendidikan anak berbakat dari tingkat
SD, SMP, SMA di satu daerah perkotaan (Jakarta) dan satu daerah pedesaan (Kabupaten Cianjur).
Program pelayanan yang diberikan berupa pengayaan (enrichment) dalam bidang sains (Fisika,
kimia, Biologi, dan Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa), matematika, teknologi (elektronika,
otomotif, dan pertanian), bahasa (Inggris dan Indonesia), humaniora, serta keterampilan membaca,
menulis, dan meneliti.
Pelayanan pendidikan dilakukan di kelas khusus di luar program kelas reguler pada waktu-waktu
tertentu.
Perintisan pelayanan pendidikan bagi anak berbakat ini pada tahun 1986 dihentikan seiring dengan
pergantian pimpinan dan kebijakan di jajaran Depdikbud.
1989

61

Di dalam UU no. 2 tahun 1989 tentang Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional pasal 8 ayat 2
dikemukakan bahwa warga negara yang memiliki kemampuan dan kecerdasan luar biasa berhak
memperoleh perhatian khusus.
Pasal 24, setiap peserta didik pada satuan pendidikan mempunyai hak-hak sebagai berikut: (1)
mendapat perlakuan yang sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya, (5) menyelesaikan
program pendidikan lebih awal dari waktu yang telah ditentukan.
1993
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menerbitkan kebijakan tentang Sistem
PenyelenggaraanSekolah Unggul (Schools of Excellence) dan membukanya di seluruh provinsi
sebagai langkah awal kembali untuk menyediakan program pelayanan khusus bagi peserta didik
dengan cara mengembangkan aneka bakat dan kreativitas siswa
1994
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan mengeluarkan dokumen tentang Pengembangan Sekolah
Plus yang menjadi naskah induk tentang Sistem Penyelenggaraan Sekolah Menengah Umum
Unggul.
1998/1999
Dua sekolah swasta di DKI Jakarta dan satu sekolah swasta di Jawa Barat melakukan ujicoba
pelayanan pendidikan bagi anak berpotensi kecerdasan dan bakat istimewa dalam bentuk program
percepatan belajar (akselerasi), yang mendapat arahan dari Ditjen Pendidikan Dasar dan Menengah
2000
Program percepaan belajar dicanangkan oleh Menteri Pendidikan Nasional pada Rakernas
Depdiknas menjadi Program Pendidikan Nasional.
Pada kesempatan tersebut Mendiknas melalui Dirjen Dikdasmen menyampaikan Surat Keputusan
(SK) Penetepan Sekolah Penyelenggara Program Percepatan Belajar kepada 11 sekolah terdiri dari
1 SD, 5 SMP dan 5 SMA di DKI Jakarta dan Jawa Barat.
2001/2002
Diputuskan penetapan kebijakan diseminasi program percepatan belajar pada beberapa sekolah di
beberapa provinsi di Indonesia

62

2003
UU no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, pasal 5 ayat (4) menyebutkan warga
negara yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa berhak memperoleh pendidikan
khusus.
Pasal 32 ayat (1) Pendidikan khusus merupakan pendidikan bagi peserta didik yang memiliki
tingkat kesulitan dalam mengikuti proses pembelajaran karena kelainan fisik,emosional, mental,
sosial,dan/atau memiliki potensi kecerdasan dan bakat istimewa.
2006
Diterbitkan Permendiknas no. 34/2006 tentang Pembinaan Prestasi Peserta Didik yang memiliki
Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa.
2009
diterbItkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No. 70/2009 Tentang
Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik Yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan
dan/atau Bakat Istimewa
Pasal 1 : Dalam Peraturan ini, yang dimaksud dengan pendidikan inklusif adalah sistem
penyelenggaraan pendidikan yang memberikan kesempatan kepada semua peserta didik yang
memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa untuk mengikuti
pendidikan atau pembelajaran dalam satu lingkungan pendidikan secara bersama-sama dengan
peserta didik pada umumnya.
Pasal 5 ayat (1) : Penerimaan peserta didik berkelainan dan/atau peserta didik yang memiliki
potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa pada satuan pendidikan mempertimbangkan sumber
daya yang dimiliki sekolah. Sekolah SSN atau RSBI adalah sekolah yang memiliki sumber daya
yang memadai untuk menyelenggarakan pendidikan bagai peserta didik didik yang memiliki
potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dalam bentuk program akselerasi.
2010
diterbitkan Peraturan Pemerintah no. 17/2010 tentang Pengelolaan dan Penyelenggaraan
Pendidikan.
63

Pasal 134
(1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat
istimewa berfungsi mengembangkan potensi keunggulan peserta didik menjadi prestasi nyata sesuai
dengan karakteristik keistimewaannya.
(2) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat
istimewa bertujuan mengaktualisasikan seluruh potensi keistimewaannya tanpa mengabaikan
keseimbangan perkembangan kecerdasan spiritual, intelektual, emosional, sosial, estetik, kinestetik,
dan kecerdasan lain.
Pasal 135
(1) Pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat
istimewa dapat diselenggarakan pada satuan pendidikan formal TK/RA, SD/MI, SMP/MTs,
SMA/MA, SMK/MAK, atau bentuk lain yang sederajat.
(2) Program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau
bakat istimewa dapat berupa:
a. program percepatan; dan/atau
b. program pengayaan.
(3) Program percepatan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilakukan dengan persyaratan:
1.
peserta didik memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa yang diukur dengan tes
psikologi;
2.
peserta didik memiliki prestasi akademik tinggi dan/atau bakat istimewa di bidang seni
dan/atau olahraga; dan
3.
satuan pendidikan penyelenggara telah atau hampir memenuhi Standar Nasional
Pendidikan.
(4) Program percepatan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dapat dilakukan dengan menerapkan
sistem kredit semester sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
(5) Penyelenggaraan program pendidikan khusus bagi peserta didik yang memiliki potensi
kecerdasan dan/atau bakat istimewa sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat dilakukan dalam
bentuk:
a. kelas biasa;
b. kelas khusus; atau
c. satuan pendidikan khusus.
Pasal 136

64

Pemerintah provinsi menyelenggarakan paling sedikit 1 (satu) satuan pendidikan khusus bagi
peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa.
About these ads

Kelas akselerasi terancam dibubarkan


Neneng Zubaidah
Sabtu, 11 Mei 2013 00:52 WIB

Ilustrasi.Okezone

Sindonews.com - Pemerintah akan mengevaluasi keberadaan kelas akselerasi. Ada kemungkinan


kelas
ini
akan
ditutup
karena
diduga
hanya
menjadi
proyek.
Dirjen Pendidikan Menengah (Dikmen) Kemendikbud Hamid Muhammad mengatakan, kelas
akselerasi yang dibuka sejak tahun 2000an ini memang belum pernah dievaluasi.
"Pada awalnya adanya kelas akselerasi ini untuk menjaring anak yang berbakat khusus untuk
dioptimalkan potensinya. Namun seiring berjalan makin banyak sekolah yang membuka kelas
khusus ini," ujar Hamid ketika dihubungi Koran Sindo, Jumat (10/5/2013).
Kemendikbud juga mengkhawatirkan makin menjamurnya sekolah yang membuka kelas akselerasi
ini tidak diikuti dengan kualitas. Namun hanya sebatas proyek karena anak-anak yang masuk kelas
ini
ada
yang
dikenakan
biaya
lebih
tinggi
dari
yang
lain.
Kami harus melakukan evaluasi. Agar kelas akselerasi ini tidak dijadikan proyek semata, katanya.
Hamid melanjutkan, evaluasi ini juga perlu dilakukan terkait standar IQ (intelligence quotient) atau
tingkat
kecerdasan
yang
digunakan
sekolah
berbeda-beda.
Ada sekolah yang meluluskan anak dengan IQ 130 namun ada juga yang memakai standar 125.
Kemendikbud juga mengkhawatirkan adanya manipulasi IQ agar siswa yang masuk kelas akselerasi
semakin
banyak.
Untuk menentukan IQ itu kan harus dari lembaga psikologi yang kredibel. Kalau sekolah yang di
pelosok
kan
saya
tidak
tahu,
ujarnya.
65

Hamid mengungkapkan, meskipun tanggung jawab dan anggaran untuk kelas akselerasi ini ada di
pemerintah provinsi. Namun evaluasinya akan dilakukan Kemendikbud bersama Badan Standar
Nasional Pendidikan (BSNP). Apakah kelas akselerasi ini akan ditutup, Hamid menuturkan,
hasilnya
akan
diketahui
setelah
evaluasi
selesai.
Diketahui, kelas akselerasi merupakan amanah dari UU Sistem Pendidikan Nasional No 20/2003
Pasal
5
Ayat
4
tentang
Anak
Cerdas
Berbakat
Istimewa.
Dalam program akselerasi, masa tempuh sekolah dapat lebih cepat. SMP atau SMA yang biasanya
tiga tahun dapat ditempuh dengan dua tahun saja. Begitu juga dengan sekolah dasar yang enam
tahun dapat ditempuh dalam lima tahun saja.

Kelebihan
Akselerasi
Southern dan Jones (1991 dalam Hawadi, 2004) menyebutkan beberapa keuntungan dari
dijalankannya
program
akselerasi
bagi
anak
berbakat:
a.
Meningkatkan
efisiensi
Siswa yang telah siap dengan bahan-bahan pengajaran dan menguasai kurikulum pada tingkat
sebelumnya
akan
belajar
lebih
baik
dan
lebih
efisien.
b.
Meningkatkan
efektivitas
Siswa yang terikat belajar pada tingkat kelas yang dipersiapkan dan menguasai keterampilanketerampilan
sebelumnya
merupakan
siswa
yang
paling
efektif.
c.
Penghargaan
Siswa yang telah mampu mencapai tingkat tertentu sepantasnya memperoleh penghargaan atas
prestasi
yang
dicapainya.
d.
Meningkatkan
waktu
untuk
karier
Adanya pengurangan waktu belajar akan meningkatkan produktivitas siswa, penghasilan, dan
kehidupan
pribadinya.
e.
Membuka
siswa
pada
kelompok
barunya
Dengan program akselerasi, siswa dimungkinkan untuk bergabung dengan siswa lain yang meiliki
66

kemampuan
intelektual
dan
akademis
yang
sama.
f.
Ekonomis
Keuntungan bagi sekolah ialah tidak perlu mengeluarakan banyak biaya untuk mendidik guru
khusus anak berbakat.
Program akselerasi sangat esensial dalam menyediakan kesempatan pendidikan yang tepat bagi
siswa yang cerdas. Proses yang terjadi akan memungkinkan siswa untuk memelihara semangat dan
gairah belajarnya. Program akselerasi membawa siswa pada tantangan yang berkesinambungan
yang akan menyiapkan mereka menghadapi kekakuan pendidikan selanjutnya dan produktivitas
selaku orang dewasa. Melalui program akselerasi ini, siswa diharapkan akan memasuki dunia
profesional pada usia yang lebih muda dan memperoleh kesempata-kesempatan untuk bekerja
produktif (Hawadi, 2004).
Kelemahan
Akselerasi
Southern dan Jones (1991) menyebutkan empat hal yang berpotensi negatif dalam proses akselerasi
bagi
anak
berbakat,
yaitu:
a.
Segi
Akademis
1) Bahan ajar yang diberikan terlalu tinggi bagi siswa akseleran. Hal ini akan membuat mereka
menjadi siswa yang tertinggal di belakang kelompok teman barunya, dan akan menjadi siswa yang
berprestasi
sedang-sedang
saja,
bahkan
siswa
akseleran
yang
gagal.
2) Bisa jadi kemampuan siswa akseleran yang terlihat melebihi teman sebayanya hanya bersifat
sementara. Dengan bertambah usianya, kecepatan prestasi siswa menjadi biasa-biasa saja dan sama
dengan teman sebayanya. Hal ini menyebabkan kebutuhan akselerasi menjadi tidak perlu lagi dan
siswa
akseleran
lebih
baik
dilayani
dalam
kelompok
kelas
reguler.
3) Meskipun memenuhi persyaratan dalam bidang akademis, siswa akseleran kemungkinan imatur
secara
sosial,
fisik,
dan
emosional
dalam
tingkatan
kelas
tertentu.
4) Proses akselerasi menyebabkan siswa akseleran terikat pada keputusan karier lebih dini. Agar
siswa dapat berprestasi baik, dibutuhkan pelatihan yang mahal dan tidak efisien untuk dirinya
sebagai pemula. Bisa jadi kemungkinan buruk yang terjadi adalah karier tersebut tidak sesuai bagi
dirinya.
5) Siswa akseleran mungkin mengembangkan kedewasaan yang luara biasa tanpa adanya
pengalaman
yang
dimiliki
sebelumnya.
6) Pengalaman-pengalaman yang sesuai untuk anak seusianya tidak dialami oleh siswa akseleran
karena
tidak
merupakan
bagian
dari
kurikulum.
7) Tuntutan sebagai siswa sebagian besar pada produk akademik konvergen sehingga siswa
akseleran akan kehilangan kesempatan mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan divergen.
b.
Segi
Penyesuaian
Sosial
1) Siswa akan didorong untuk berprestasi dalam bidang akademiknya sehingga mereka kekurangan
waktu
beraktivitas
dengan
teman
sebaya.
2) Siswa akan kehilangan aktivitas sosial yang penting dalam usia sebenarnya. Hal ini
menyebabkan mereka menyesal kehilangan kesempatan tersebut dan akan mengarahkannya dalam
social maladjustment selaku orang dewasa kelak. Mereka akan mengalami hambatan dalam bergaul
dengan
teman
sebayanya.
3) Siswa sekelasnya yang lebih tua kemungkinan akan menolaknya, sementara itu siswa akseleran
akan kehilangan waktu bermain dengan teman sebayanya. Akibatnya, siswa akan mengalami
kekurangan
jumalah
dan
frekuensi
pertemuan
dengan
teman-temannya.
4) Siswa sekelasnya yang lebih tua tidak mungkin setuju memberikan perhatian dan respek pada
teman sekelasnya yang lebih muda usia. Hal ini menyebabkan akseleran akan kehilangan
kesempatan dalam keterampilan kepemimpinan yang dibutuhkannya dalam pengembangan karier
dan
sosialnya
di
masa
depan.
67

c.
Aktivitas
Ekstrakurikuler
Kebanyakan aktivitas ekstrakurikuler berkaitan erat dengan usia. Hal ini menyebabkan siswa
akseleran akan berhadapan dengan teman sekelasnya yang tua dan tidak memberikannya
kesempatan. Hal ini menyebabkan siswa akan kehilangan kesempayan yang penting dan berharga
di luar kurikulum sekolah yang normal. Akibatnya, mereka akan kehilangan pengalaman yang
penting
yang
berkaitan
bagi
kariernya
di
masa
depan.
d.
Penyesuaian
Emosional
1) Siswa akseleran pada akhirnya akan mengalami burn out di bawah tekanan yang ada dan
kemungkinan
menjadi
underachiever.
2) Siswa akseleran akan mudah frustasi dengan adanya tekanan dan tuntutan berprestasi. Siswa
yang mengalami sedikit kesempatan untuk membentuk persahabatan pada masanya akan menjadi
terasing
atau
agresif
terhadap
orang
lain.
3) Adanya tekanan untuk berprestasi membuat siswa akseleran kehilangan kesempatan untuk
mengembangkan
hobi.
Sisk (1986) dikutip dari Delisle (1992) menyebutkan beberapa ciri yang diatribusikan pada siswa
akseleran, yaitu bosan, fobia sekolah, dan kekurangan hubungan teman sebaya (dalam Hawadi,
2004).
Yang perlu untuk dicatat adalah penyelenggaraan program percepatan belajar di SD, SMP, dan
SMA, harus memberi kesempatan kepada peserta didik yang memiliki potensi kecerdasan dan bakat
istimewa tanpa membedakan tingkat strata sosial ekonomi seseorang, dan harus dihindarkan
terjadinya kesenjangan antara siswa/akseleran dengan siswa regular.
by episentrum

akselerasi cerdas guru pendidikan

Twitter

Digg

Facebook

Delicious

StumbleUpon

Warning: vsprintf(): Too few arguments in /home/psiko/public_html/wp-

68

Kalo ditanya tentang mana lebih baik antara kelas akselerasi dan kelas biasa jawabannya adalah
tergantung dengan kebutuhan anaknya. Kelas akselerasi diselenggarakan untuk memenuhi
kebutuhan anak yang dianggap cerdas istimewa. anak yang memenuhi kriteria cerdas istimewa
memiliki IQ diatas 130 skala wechsler, kreativitas yang baik serta memiliki task commitment yang
baik pula. Untuk anak yang dengan kriteria demikian memiliki kemampuan yang lebih
dibandingkan dengan anak2 seusianya sehingga bila mereka berada di kelas reguler atau kelas biasa
tidak bisa mengoptimalkan kemampuan mereka cenderung merasa bosan dan tidak tertantang bila
berada di kelas reguler yang bisa mengakibatkan mereka menjadi underachiever. Program
akselerasi ini merupakan program percepatan belajar, dimana materi yang ditempuh biasanya
selama 3 tahun dipadatkan menjadi 2 tahun, materi 1 semester yang biasanya 6 bulan menjadi cuma
4 bulan. untuk itu dibutuhkan bukan hanya IQ yang tinggi dan kreativitas yang baik namun task
commitment menjadi faktor penting yang menunjang keberhasilan anak mengikuti kelas akselerasi
yang penuh dengan tekanan, tugas yang banyak serta beban materi yang cukup berat. Jadi
kesimpulannya kalau ditanya kelas mana yang lebih baik tergantung kebutuhan dan kemampuan
yang
dimiliki
oleh
peserta
didiknya.
Salam,
Program ini harus dilihat secara komprehensif. Tidak bisa langsung men judge bahwa ini baik atau
buruk.
Pertama,
kita
lihat
tujuannya:
Untuk memberi kesempatan pada anak-anak yang bisa menyelesaikan sekolah lebih cepat karena
kemampuan yang dimiliki di atas rata-rata. Jika tidak bisa berlari dengan lebih cepat, tidak adil juga
menahan mereka untuk berlari lebih lambat, dengan alasan untuk menunggu teman-temannya.
Memang ia bisa dituntut untuk solider dengan teman-temannya. Tetapi ia juga bisa bosan, lalu
kurang
termotivasi.
Kedua,
kita
lihat
praktiknya.
Banyak sekolah yang menerapkan program akselerasi secara salah kaprah. Anak diminta belajar
lebih lama dari anak lain supaya bisa menyelesaikan sekolah dalam 2 tahun. Misal anak reguler
belajar 5 jam sehari, anak akselerasi diminta belajar 8 jam sehari. Ini bukan akselerasi, hanya
pemanpatan
atau
pemadatan.
Akselesari
yang
benar:
1. Karena kemampuannya di atas rata-rata, ia tidak perlu menambah jam belajar tetapi bisa
menyelesaikan lebih banyak materi. Otomatis waktunya akan lebih singkat karena materi sudah
terselesaikan
dalam
waktu
2
tahun.
2. Sehingga akselerasi tidak akan menghilangkan kesempatan anak untuk mempunyai banyak
waktu bermain, mengembangkan hobi, dll.
Jika
agak
sulit,
saya
berikan
ilustrasi
demikian:
Ada 2 orang diberi tugas mencangkul tanah. luas lahan 50m2 dan kondisi tanah sama. Ketentuan: 1
hari
hanya
boleh
mencangkul
selama
3
jam.
Anak
A:
3
jam
mampu
menyelesaikan
10m2
Anak
B:
karena
lebih
kekar,
mampu
menyelesaikan
17m2.
Di luar jam itu mereka bisa main berdua.
Kita langsung tahu, pasti anak B selesai duluan.
Ketiga,
melihat
prinsipnya:
Prinsip dalam pendidikan adalah hilistic education. Jadi bukan hanya akademik atau nilai angka
yang dikejar, tetapi juga keseluruhan kebutuhan anak seperti emosional, sosial, spiritual, dll perlu
diperhatikan oleh sekolah.

69

Dengan demikian anak tidka dikorbankan demi mengejar nilai angka, atau demi apa pun
Quote

#8 written by Resya Lestari 2 years ago

Saya sebagai anak akselerasi, STRESS SAYA ,PAK ,JUJUR


Quote

#9 written by Yustinus Satrianca Nababan 2 years ago

Adik perempuan saya pernah ikut kelas akselerasi saat duduk di kelas VII-IX (SLTP)
Setiap Senin-Jumat, dia harus masuk sekolah pkl 06.30. Berangkat dari rumah pkl 05.00. Sekolah
usai jam 4 sore. Sampai di rumah sekitar pkl 17.30. Tugas-tugas yang sudah menunggu,,,,astaga!
Tidur
jam
8-9
malam
(paling
cepat),lalu
bangun
pkl
03.00
(??!!)
untuk belajar karena katanya hanya sedikit yang diajarkan gurunya di sekolah (hah?!)dan dua
tahun
pun
berlalu
Yang menyedihkan, adik saya itu tidak memiliki prestasi non-akademik, karena kesibukannya yang
super-padat. Belum lagi bagaimana ia menjadi seseorang yang begitu cepat marah dan selalu
bersungut-sungut.
Saat masuk SMU, sekalipun dari hasil tes penempatan, ia disarankan masuk kelas akselerasi (lagi!),
ia memilih untuk masuk kelas reguler saja..kapok,bang! katanya. hehehe
Quote

#10 written by chii 1 year ago

minta artikel kelebihan dan kelemahan kelas akselerasi ini dikirim ke email q donkk.. pliZZzzzz
yaaa..thx
Quote

70

Type your comment

You may use these HTML tags: <a> <abbr>


<acronym> <b> <blockquote> <cite> <code> <del> <em> <i> <q> <strike> <strong>
Post Comment

Comment Feed for this Post

1.

Pola Asuh Orang Tua

2.

Pilih Kreatif atau Cerdas?

3.

Meraih Mimpi Melalui Bakat dan Minat 1

4.

PERAN DALAM PENGUKURAN DAN EVALUASI

5.

Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Anak

6.

Meraih Mimpi Lewat Bakat dan Minat 2

7.

Gaya Belajar

8.

Kontribusi Psikologi terhadap Pendidikan

9.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Prestasi

10.

Keberbakatan

IKLAN

TEBAK

SIFAT,

KARAKTER

SESEORANG

MELALUI

NAMANYA.

SIFATMU.COM
71

FB Connect

User:
Login

Pass:
Forgot?
Register

SUKA DENGAN SITUS INI ?

LAYANAN PSIKOLOGI
1. KONSULTASI via Telepon - Konsultasi Psikologi melalui komunikasi telepon
dengan
Psikolog
kami.
2.
Layanan
Tingkat
TK
Pemeriksaan
Parenting
Story
Life
Pendidikan
Seks
Layanan
Asesmen
dan

untuk
dan

Sekolah
SD
:
Psikologi

Terapi

untuk
Kunjungan
Pelatihan

Class
Telling
Skills
Anak

Usia
Psikolog
untuk
Guru

Dini

Tingkat
Sekolah
Menengah
:
Pemeriksaan
Psikologi
Asesmen
Guru
Konsultasi
Konseling
Training
untuk
Siswa
dan
Guru
Outbond
Layanan
Psikolog
Sekolah
3.
-

Layanan
Asesmen

untuk
Karyawan

Perusahaan

Training

Hubungi
Episentrum
Telp.
021-40115920
Hunting. 021-92250013 (Bu Yuni) Hari dan Jam Kerja : Senin - Jumat, 09.00 - 16.00 WIB
email : episentrum@episentrum.com
72

Powered by WordPress and Mystique theme by digitalnature | RSS Feeds

73