Anda di halaman 1dari 9

Kesimpulan Hasil Survei Tanah

1. Pola Penyebaran Tanah di Daerah Survei


Survei tanah merupakan suatu kegiatan yang penting untuk dilakukan,
dengan adanya survey tanah maka system penggunaan llahan di suatu wilayah
dapat lebih terkontrol sesuai dengan kelas kemampuan lahannya. Menurut
Brady dan Weil (2002) dalam Luthfi Rayes (2007) survei tanah merupakan
pengamatan yang dilakukan secara sitematis, disertai dengan proses
pendeskripsian, pengklasifikasian dan pemetaan suatu tanah pada suatu daerah
tertentu. Tujuan survei tanah adalah untuk mengklasifikasikan, menganalisis
dan memetakan tanah dengan mengelompokkan tanah-tanah yang sama dan
hampir sama sifatnya ke dalam satuan peta tanah tertentu dengan mengamati
sifat dan karakteristik tanah (Hardjowigeno, 1995). Secara umum kegiatan
survei tanah terdiri atas tiga pokok kegiatan, yaitu:
a. Persiapan survey tanah
b. Pelaksanaan survei tanah
c. Pra survei tanah
Pada tahapan pra survey maka akan didapatkan hasil berupa data-data
informasi lahan yang telah disurvei, yang selanjutnya data-data informasi lahan
yang telah diperoleh tersebut akan diolah untuk medapatkan data informasi
hasil survey tanah dalam bentuk laporan survei. Laporan survei berisi uraian
tentang tujuan survei, keadaan fisik dan lingkungan lokasi survei, keadaan
tanah, klasifikasi dan interpretasi kemampuan lahan serta saran/ rekomendasi
(Sutanto, 2005) dalam Pangaribuan (2013). Dalam melakukan suatu kegiatan
survey tanah disetiap daerah akan ditemukan hasil yang berbeda, hal tersebut
dipengaruhi oleh pola sebaran tanah yang ada didaerah tempat dilaksanakannya
survei. Beberapa hal yang mempengaruhi pola sebaran tanah di suatu wilyah,
yaitu:
a.
b.
c.
d.
e.

Bahan induk tanah


Topografi
Iklim
Umur bahan
Vegetasi atau penggunaan lahan

2. Penamaan Satuan Peta Tanah (SPT)

Penamaan satuan tanah yang dikemukakan dalam hal ini adalah


penamaan menggunakan sistem klasifikasi Taksonomi Tanah USDA (Soil
Survey Staff, 1990; 2003). Karena hasil akhir dari survei tanah berupa peta
yang memuat Satuan Peta Tanah (SPT), maka penting bagi kita untuk
mengetahui satuan peta tersebut. Satuan peta merupakan satuan lahan yang
sistem fisiografi/bentuk lahannya sama, yang dibedakan satu sama lain di
lapangan oleh batas-batas alami, dan dapat digunakan sebagai satuan evaluasi
lahan. Satuan peta tanah atau satuan peta terdiri atas kumpulan semua delineasi
tanah yang ditandai oleh simbol, warna, nama atau lambang yang khas pada
suatu peta. Satuan-satuan yang dihasilkan berupa tubuh lahan yang memiliki
ciri-ciri tertentu yang dibedakan dengan lainnya oleh batas-batas alami, di
tempat terjadinya perubahan ciri-ciri yang cepat ke arah lateral. Pendekatan
satuan peta tanah ini menggunakan pendekatan fisiografis.
Satuan peta tanah disusun untuk menampung informasi penting dari
suatu luasan (poligon) tentang hal-hal yang berkaitan dengan survei tanah.
Satuan peta tanah harus dengan mudah dapat dikebali, diukur, dan dapat
dipetakan pada skala yang tersedia dari peta dasarnya, waktu yang tersedia,
kemampuan dari pemetannya, dan tujuan dari survei tersebut. Satuan Peta
Tanah (STP) terdiri dari 4 macam, yaitu konsosiasi, asosiasi, kompleks dan
kelompok tak dibedakan (undifferentiated groups) yang secara garis besar
dibagi menjadi dua kelompok, yakni satuan peta tanah sederhana (simple
mapping unit) dan kelompok satuan peta tanah majemuk (compound mapping
unit).
Satuan peta tanah sederhana (simple mapping unit) yang biasa disebut
konsosiasi, yang didalamnya hanya mengandung satu satuan tanah saja, atau
terdapat tanah lain yang disebut inklusi. Satuan peta tanah majemuk
(compound mapping unit) yang terdiri atas dua atau lebih satuan tanah yang
berbeda (dissimiliar soil) dan biasanya digunakan pada survei tinjau atau survei
lainnya yang berskala lebih kecil dan pada daerah yang rumit atau heterogen.
Untuk kelompok satuan peta tanah majemuk ini terbagi atas asosiasi, kompleks
dan kelompok tak dibedakan (undifferentiated groups). Berikut penjelasan
lebih lanjut mengenai asosiasi, kompleks, kelompok tak dibedakan
(undifferentiated groups), konsosiasi dan inklusi

2.1. Asosiasi
Asosiasi tanah yaitu sekelompok tanah yang berhubungan secara
geografis, tersebar dalam suatu satuan peta menurut pola tertentu yang
dapat diduga posisinya, tetapi karena kecilnya skala peta, taksa-taksa tanah
itu tidak dapat dipisahkan. Dalam KBBI juga dijelaskan bahwa asosiasi
tanah adalah sekelompok tanah, terutama yang berbeda dalam tingkat
drainase alamiah, dan secara geografis bersatu karena bahan induk yang
relatif seragam sifatnya.
SPT jenis ini mengandung dua atau lebih satuan tanah yang tidak
serupa yang digunakan dalam penamaan SPT dan mempunyai komposisi
yang hampir sama. Satuan-satuan tanah penyusun SPT ini tidak dapat
dipisahkkan satu sama lain kedalam

SPT yang berbeda karena

keterbatasan skala pemetaan. SPT asosiasi dalam skala pemetaan yang


lebih besar dapat dipisahkan kedalam SPT konsosiasi yang berbeda. Cara
penamaannya, kata asosiasi selalu digunakan. Seperti contoh berikut:
Asosiasi Cangar-Batu, terjal (dua seri tanah dengan fase lereng terjal)
Asosiasi Cangar, terjal-Batu (fase lereng terjal hanya pada seri cangar)

2.2. Kompleks
Kompleks tanah merupakan sekelompok tanah dari taksa yang
berbeda, yang berbaur satu dengan lainnya dalam satuan deliniasi (satuan
peta) tanpa memperlihatkan pola tertentu atau menunjukkan pola yang
tidak beraturan. Satuan peta tanah ini mirip dengan satuan peta tanah
asosiasi karena terdapat dua atau lebih satuan-satuan tanah yang tidak
serupa yang digunakan dalam penamaan satuan peta tanah, demikian juga
komposisi masing-masing satuan tanahnya serupa dengan SPT asosiasi.
Persebaran satuan tanah yang ada pada satuan peta tanah ini tidak
mengikuti pola tertentu sehingga dalam skala pemetaan yang lebih besar,
satuan-satuan tanah yang menyusunnya tetap tidak dapat dipisahkan satu
sama lain.
Menurut Wambeke dan Forbes (1986), satuan peta tanah ini
dikatakan kompleks jika komponen utama dalam satuan peta tersebut tidak
dapat menjadi satuan peta tersendiri jika dipetakan pada skala 1:24.000.

Pada skala tersebut luasan 0,4 cm2 pada peta adalah 2,3 ha di lapangan.
Dengan kata lain,jika komponen satuan-satuan tanah dalam satuan tanah
tersebut didelineasi dan luasnya lebih dari 2,3 hektar maka satuan tanah
tersebut adalah asosiasi; sedangkan apabilakurang dari 2,3 hektar maka
termasuk kedalam kompleks.

Gambar 1. Contoh peta tanah yang terdapat satuan peta tanah kompleks
2.3. Kelompok tak dibedakan (undifferentiated groups)
Kelompok ini terdiri atas dua atau lebih tanah yang secara geografis
tidak selalu berupa konsosiasi tetapi termasuk dalam satuan peta yang
sama karena penggunaan dan pengelolaannya sama atau mirip. Tanahtanah tersebut dimasukkan ke dalam satuan peta yang sama karena samasama mempunyai sifat berlereng terjal, berbatu, mengalami pengaruh
banjir

yang

cukup parah

pengelolaannya.

sehingga membatasi

penggunaan

dan

Ketentuan proporsi masing- masing tanah yang

menyusunnya sama dengan asosiasi dan kompleks, hal tersebut


digambarkan dalam diagram dibawah ini

Gambar 1. Komposisi nama yang tercantum dalam legenda peta


2.4. Konsosiasi dan Inklusi
Deliniasi satuan peta tanah hampir selalu mengandung satuan tanah
lain yangtidak disebutkan dalam nama satuan peta tersebut, dan ini disebut
inklusi.

Inklusi tersebut terlalu kecil untuk dideliniasi tersendiri, atau

kadang2 memang tidak teramati denganmetoda survei yangdilakukan.


Deliniasi terkecil dalam peta = 0.4 cm (USDA, 1989). Inklusi
dapat berupa tanah yangserupa atau tanah yangtidak serupa dengantanah
yangdisebut sbg nama satuan peta tsb. Tanah yang tidak serupa dapat pula
berupa tanah penghambat (limiting) atau tanah bukan penghambat (non
limiting).
a. Inklusi tanah serupa
Mempunyai beberapa sifat penciri yangsama dengansifat
tanah utama. Berperilaku dan berpotensi serupa dengantanah
utama, memerlukan usaha konservasi dan pengelolaan yangsama
dengantanah utama. Contoh : Typic Argiaquolls dan Udollic
Ochraqualfs Kedua tanah ini mempunyai persamaan sifat dalam
hal Kelembaban tanah, Kejenuhan basa Kandungan bahan organik,

perbedaan kedua tanah tersebut tidak > 2 atau 3 kriteria. Kesamaan


sifat dapat padasembarang kategori (fase, seri, famili, subgroup).
b. Inklusi tanah tidak serupa
Tidak mempunyai kesamaan sifat2 penciri penting atau
memerlukan

pengelolaan

yangberbeda

dengantanah

utama.

Perbedaan antara tanah yangtidak serupa, dapat dalam arti


banyaknya sifat tanah yang berbeda atau besarnya tingkat
perbedaan, atau ke-dua2 nya. Perbedaan dapat terjadi pada tingkat
fase, seri, famili atau kategori yanglebih tinggi. Tanah tidak serupa
dapat sebagai penghambat atau bukan penghambat. Contoh : Tanah
sempit dengan lereng 15 - 25% yangmerupakan inklusi dalam SPT
denganlereng dominan 4 -8% dpt merupakan penghambat
yangserius untuk penggunaan tanah daerah tersebut. Inklusi ini
disebut inklusi penghambat

3. Kesesuaian antara hasil survei dengan skala peta


Skala peta akhir yang dihasilkan akan mempengaruhi penggunaan kategori
satuan taksonomi tanah pada masing-masing satuan peta tanah atau SPT. SPT
yang dihasilkan bisa berupa satuan sederhana ataupun majemuk, tergantung
akan skala peta akhir yang dihasilkan.
Semakin besar skala peta, maka semakin rendah kategori taksonomi tanah
yang akan digunakan. Skala peta berkaitan erat dengan satuan peta yang akan
digunakan, hal ini dikarenakan terdapat batasan luasan wilayah yang akan
direpresentasikan ke dalam suatu peta melalui skala.
Semakin detail suatu peta, maka penggunaan satuan tanah juga akan
semakin spesifik. Oleh karena itu, hasil survei akan berkaitan erat dengan skala
peta. Tujuan survei harus ditentukan secara jelas dan spesifik, sehingga peta
sebagai alat bantu survei dapat digunakan secara efektif.
Berikut merupakan pembagian macam-macam peta tanah beserta skala
hingga contoh penggunaan yang umum digunakan:

Tabel Macam-Macam Peta Tanah Berdasarkan Skala Peta

Macam
Peta

Skala
Kisaran

Umumnya

Luas tiap
1 cm2
peta

Kerapatan
pengamata
n rata-rata

Dari peta
Bagan

1:2.500.000

625 km2

yang ada
(studi
pustaka)

100 km2

1:1.000.000
Eksplorasi

s.d

1:1.000.000

1:500.000

atau
kurang

Dari peta
yang ada
(studi
pustaka)

Satuan
Peta dan
Satuan
Tanah
Asosiasi

Gambaran

dan

umum

beberapa

tentang

Contoh
Penggunaan

konsosiasi sebaran tanah


: Ordo

tk nasional

dan Subordo
Asosiasi

Perencanaan

dan

tk nasional,

beberapa

penelitian

konsosiasi terarah
: Grup
dan Subgrup
Asosiasi,

Perencanaan

kompleks: pembanguna

1:500.000
Tinjau

s.d
1:200.000

1 tiap 12,5

Sub-grup,

n tk

famili

regional/prov

1:250.000

625 Ha

km2

insi,

1:100.000

100 Ha

1 tiap 2

penggunaan

km2

lahan,
penentuan
wilayah

Semi-detail

1:100.000
s.d
1:25.000

1:50.000

25 Ha

1 tiap 50

Konsosias

prioritas
Penyusunan

Ha

i,

peta lingkup

beberapa

kabupaten/ko

kompleks

ta,

dan

perencanaan

asosiasi:

mikro,

Famili

proyek

atau seri

pertanianperkebunan-

Detail

1:25.000

1:25.000

6,25 Ha

s.d

1:20.000

5 Ha

1:10.000

1:10.000

1 Ha

Sangat

1:5000

detail

0,25 Ha

1 tiap 12,5
Ha
1 tiap 8 Ha
1 tiap 2 Ha

2 tiap 1 Ha

Konsosias

transmigrasi
Penyusunan

i dan

peta dan

beberapa

perencanaan

kompleks: mikro serta


Fase dari

operasional

famili

lingkup

atau seri
Konsosias

kecamatan
Perencanaan

i: Fase

dan

dari seri

pengolahan
lahan tk
petani

Dalam kegiatan survei tanah secara detail, satuan peta yang sering
digunakan ialah:
Seri Tanah
Seri tanah merupakan sekelompok tanah yang memiliki ciri dan
perilaku serupa, berkembang dari bahan induk yang sama, mempunyai sifat
dan susunan horizon terutama bagian bawah horizon, serta memiliki
kesamaan pada rezim kelembaban dan suhu tanah. Misalnya seri
Ketawanggede dan sebagainya.
Fase Tanah
Fase tanah merupakan pembagian lebih lanjut dari seri tanah sesuai
dengan ciri-ciri pentinng bagi pengolahan/penggunaan lahan.
Soil Variant
Soil variant merupakan tanah-tanah yang sangat mirip dengan seri
yang sudah ditemukan, namun berbeda dalam beberapa sifat penting. Soil
variant tentu dapat menjadi suatu seri tersendiri jika telah dilakukan
penelitian lebih lanjut. (Rayes, 2007)