Anda di halaman 1dari 17

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN MB DENGAN

PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK (PPOK)


DI RUANG IGD BRSU TABANAN
PADA TANGGAL 31 OKTOBER 2016

OLEH :
PUTU DIVA PIONITA DEWI
P07120213008
TINGKAT 4 SEMESTER VII

POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR


JURUSAN KEPERAWATAN
D IV REGULER
2016

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN MB DENGAN


PENYAKIT PARU OBSTRUKSI KRONIK (PPOK)
DI RUANG IGD BRSU TABANAN
PADA TANGGAL 31 OKTOBER 2016
Identitas Pasien
Nama

: Tn. MB

Umur

: 72 Tahun, 0 Bulan, 2 Hari

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Pekerjaan

: Tidak bekerja

Agama

: Hindu

Tanggal Masuk RS

: 31 Oktober 2016

Alasan Masuk

: Sesak nafas, lemas, tidak mau makan minum sejak tadi


pagi

Diagnosa Medis

: PPOK

Initial Survey
A (alertness)

:+

V (verbal)

:-

P (pain)

:-

U (unrespons)

:-

Survey Primer dan Resusitasi


A. AIRWAY DAN KONTROL SERVIKAL
1. Keadaan Jalan Nafas
Tingkat Kesadaran
: CM
Pernafasan
: Pernafasan cuping hidup (+), Orthopneu
Upaya Bernafas
:+
Benda asing di jalan Nafas : Secret (+)
Bunyi Nafas
: Wheezing
Hembusan Nafas
:+
2. Masalah Keperawatan
Ketidakefektifan bersihan jalan nafas
B. BREATHING
1. Fungsi Pernafasan
Jenis Pernafasan
Frekwensi Pernafasan

: Snoring (-), Gurgling (-), Stridor (+)


: Respirasi 34 x/menit, SPO2 = 86 %

Retraksi Otot Bantu Nafas : + (sternocleidomastoidius dan intercosta)


Kelainan Dingding Thoraks : Simetris, perlukaan (-), jejas (-), trauma (-)
Bunyi Nafas
: Whezing
Hembusan Nafas
:+
2. Masalah Keperawatan
Ketidakefektifan Pola Nafas
C. CIRCULATION
1. Keadaan sirkulasi
Tingkat Kesadaran
: CM
Perdarahan (internal/eksternal): Tidak ada perdarahan
Nadi Radial/carotis
: Teraba
Akral Perifer
: Hangat
Kapilari Refill
: <2 detik
Pulse
: 114x/menit
Blood Preasure
: 130/80 mmHg
2. Masalah Keperawatan
Tidak ada masalah keperawatan.
3. Intervensi / Implementasi
4. Evaluasi
D. DISABILITY
1. Pemeriksaan Neurologis
GCS
: E4 V5 M6
Reflex Fisiologis
:+
Reflex Patologis
:Kekuatan Otot
: 444 444
444 444
Kesan : Bisa bergerak dengan sedikit kelemahan melawan
tahanan dari pemeriksa
2. Masalah Keperawatan
Tidak ada masalah keperawatan
3. Intervensi / Implementasi
4. Evaluasi
Pengkajian Sekunder / Survey Sekunder
1. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Dahulu

Pasien mengatakan menderita asma kurang lebih sudah 5 tahun yang


lalu. Pasien memiliki riwayat merokok sejak masih muda. Pasien
mengaku gemar minum kopi, dalam sehari mampu minum 2 kali kopi
seduh. Pasien jarang minum minuman beralkohol.
b. Riwayat Kesehatan Sekarang

Pasien mengatakan sekarang sesak nafas yang dideritanya lebih sering


dialami pada pagi hari dan saat cuaca dingin. Pasien datang ke rumah
sakit diantar oleh anaknya pukul 08.53 WITA dengan keluhan sesak
nafas memberat,batuk, lemas, tidak mau makan dan minum sejak tadi
pagi.Di IGD pasien kemudian di pasang kanul O2 4ltr per menit dan
dilakukan pemasangan infuse RL 20tpm dengan Drip Aminophiline 1
amp.
c. Riwayat Kesehatan Keluarga
:
Pasien mengatakan tidak memiliki riwayat penyakit yang sama dari
keluarganya.
2. Riwayat dan Mekanisme Trauma
3. Pemeriksaan Fisik (Head to Toe)
a. Kepala: Bentuk kepala normachepalic dan simetris, tidak terdapat lesi
atau kelainan pada tulang kepala, ubun-ubun menutup, rambut
berwarna putih.
Kulit Kepala: Bersih
Mata: Mata lengkap dan simetris antara kanan dan kiri, tidak terdapat
edema pada palpebra, konjungtiva anemis, sklera tidak ikterik, pupil
isokor dengan diameter 2-3 mm dan miosis saat terkena cahaya.
Kornea jernih dan refleks kornea baik.
Telinga: Bentuk telinga sama besar atau simetris kanan dan kiri, tidak
ada kelainan bentuk, ukuran sedang atau normal, pada lubang telinga
tidak terdapat perdarahan atau pengeluaran cairan. Pada ketajaman
pendengaran kurang baik.
Hidung: Pada hidung tidak ditemukan adanya kelainan, tulang hidung
simetris kanan dan kiri, posisi septum nasi tegak di tengah, mukosa
hidung lembab, tidak ditemukan adanya sumbatan, tidak terdapat
epistaksis serta ada pernafasan cuping hidung.
Mulut dan Gigi: Pada pemeriksaan bibir, mukosa bibir lembab, tidak
ada sariawan, mulut berbau. Keadaan gusi dan gigi kurang bersih,
lidah kotor dan pada orofaring tidak terdapat peradangan dan
pembesaran tonsil.
Wajah: Struktur wajah simetris dan lengkap, warna kulit sawo matang
tidak ikterik dan sianosis.
b. Leher: Pada leher posisi trakhea berada di tengah, simetris dan tidak
ada penyimpangan. Tiroid tidak ada pembesaran. Vena jugularis tidak

mengalami pembesaran dan denyut nadi karotis teraba 114 X/menit.


Pasien menggunakan otot bantu pernafasan.
c. Dada/thoraks
1) Paru-paru
a) Inspeksi: Simetris kanan dan kiri, tidak ada kelainan bentuk,
tidak terdapat jejas, terdapat penggunaan alat bantu pernafasan
yaitu otot sternocleidomastoidius dan intercosta. Irama
pernafasan dengan frekuensi 34 x/menit tachpneu.
b) Palpasi: Getaran suara atau vokal fremitus sama kiri dan kanan
c) Perkusi: Sonor
d) Auskultasi: Terdapat suara nafas wheezing
2) Jantung
a) Inspeksi: Ictus cordis tidak nampak
b) Palpasi: Ictus cordis teraba di ICS 5 linea media clavicularis
sinistra
c) Auskultasi : bunyi jantung S1/S2 tegak, murmur (-).
3) Abdomen
a) Inspeksi: Bentuk abdomen datar, tidak ada benjolan, tidak
tampak adanya trauma, tidak terlihat adanya bendungan
pembuluh darah vena pada abdomen
b) Palpasi: Nyeri tekan tidak ada, benjolan atau massa tidak ada,

4)
5)
6)
7)

tanda ascites tidak ada


c) Perkusi: Suara abdomen tympani
d) Auskultasi: Terdengar bising usus 8 x/menit
Pelvis
a) Inspeksi: Tidak terlihat benjolan
b) Palpasi: Tidak ada nyeri tekan
Perineum dan Rektum: Tidak dikaji
Genetalia: Tidak terpasang kateter
Ekstermitas
a) Status Sirkulasi: Nadi radialis teraba 114 x/menit, CRT <2
detik, akral hangat
b) Keadaan Injury: tidak terdapat edema pada ekstremitas bawah

(kaki kanan dan kiri).


8) Neurologis
a) Fungsi Sensorik: baik
b) Fungsi Motorik: fleksi menarik
4. Hasil Laboratorium
Hasil Pemeriksaan Hematologi Tanggal 31 Oktober 2016
JENIS PEMERIKSAAN
ELEKTROLIT
Natrium
Kalium

KET

HASIL

SATUAN

128
5.1

mmol/l
mmol/l

NILAI RUJUKAN
135 - 155
3.5 5.5

Klorida

HEMATOLOGI
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
Eritrosit
NEU%
LIM%
MONO%
EOS%
BASO%
MCV
MCH
MCHC
RDW
MPV
KIMIA KLINIK
Glukosa
BUN
Creatinin
SGOT
SGPT

H
H
L
L
H

H
H
H
H

90

mmol/l

14.9
46.0
16.8
242.
4.94
86.5
3.49
8.74
0.010
1.22
93.1
30.2
32.4
12.0
7.00

gr/dL
%
10^3/uL
10^3/uL
10^6/uL
%
%
%
%
%
fl
pg
g/dL
%
fl

181
23
1.1
133
143

mg/dL
mg/dL
mg/dL
U/L
U/L

95 - 105

11.5 16.5
35.0 49.0
4.0 10.0
150 500
4.4 6.0
40.0 74.0
19.0 48.0
3.40 9.00
0.6 7.0
0.0 1.5
82 92
27 31
32 36
11.6 14.8
6.8 10.0
74- 106
8-18
0.60-1.10
0-50
0-50

5. Hasil Pemeriksaan Diagnostik


6. Terapi Dokter
a. IVFD RL + Drip Aminopiline 1 amp. 20 tpm
b. IVFD Nacl 0,9% 20 tpm
c. Nebulizer combivent 1 Amp 15 menit
d. Kolaborasi pemberian O2 (nasal kanul) 4 lpm
e. Aminopilin Rute IV amp
f. Methylprednisolone Rute IV 62,5mg
g. Ranitidin Rute IV 1 amp
h. Ambroxol Rute IO 3x1
i. Paracetamol Rute IO 3x1
j. Vip Albumin Rute IO 1 Sach
k. Inpepsa Syrup
l. Letonal Rute IV 100mg
m. Farsix Rute IV 1 Amp
ANALISIS DATA
Data Fokus
Data Subyektif :
Pasien mengatakan sesak

Analisis
Faktor pencetus serangan
asma

Masalah
Ketidakefektifan bersihan
jalan nafas

nafas memberat sejak tadi


pagi disertai batuk
Data Obyektif :

PPOK
Inflamasi

Adanya suara nafas


tambahan (wheezing),

Sputum kental di

Pasien Tampak gelisah,

saluran nafas

batuk tidak efektif


Batuk
Ketidakefektifan bersihan
Data Subyektif :
Pasien mengatakan

jalan napas
Faktor pencetus serangan
asma

sesaknya memberat
PPOK
Data Obyektif :
Adanya suara nafas
tambahan (wheezing),

Perubahan Anatomis
Parenkim Paru

dengan respirasi 34x/menit,


gelisah, adanya pernafasan

Perbesaran Alveoli

cuping hidung, SPO2 =


86%, dan penggunaan otot

Hipertiroid Kelenjar Mukosa

bantu pernafasan
Penyempitan Saluran Udara
Ekspansi Paru Menurun
Suplay O2 tidak Adekuat
Hipoksia
Sesak

Ketidakefektifan pola nafas

Ketidakefektifan Pola Nafas

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN PRIORITAS MASALAH


1. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan faktor
lingkungan perokok, obstruksi jalan nafas mukus berlebih ditandai dengan
batuk yang tidak efektif, perubahan frekuensi nafas, dan suara nafas
tambahan.
2. Ketidakefektifan pola nafas berhubungan dengan hiperventilasi ditandai
dengan dispnea, fase ekspirasi memanjang, ortopnea, penggunaan otot
bantu nafas, pernafasan cuping hidung dan pola nafas abnormal.
PERENCANAAN
N
0
1

Diagnosa Keperawatan

Tujuan dan Kriteria


Intervensi
Hasil
(NIC)
(NOC)
Ketidakefektifan bersihan
Setelah dilakukan
Airway Management
Buka jalan nafas
jalan nafas
tindakan keperawatan ..x..
menggunakan head
Batasan Karakteristik :
jam diharapkan mampu
tilt chin lift atau jaw
Batuk yang tidak mempertahankan
thrust bila perlu
efektif
kebersihan jalan nafas
Posisikan pasien
Dispnea
dengan kriteria :
untuk
Gelisah
NOC :
memaksimalkan
Kesulitan
Respiratory status :
ventilasi
verbalisasi
Airway Patency
Identifikasi pasien
Mata terbuka lebar
Respirasi dalam
perlunya
Ortopnea
batas normal
pemasangan alat
Irama pernafasan
Penurunan
bunyi

nafas
Perubahan
frekuensi nafas
Perubahan
pola
nafas
Sianosis
Sputum
dalam
jumlah
yang
berlebihan
Suara
nafas
tambahan
Tidak ada batuk
Faktor yang
berhubungan :
Lingkungan :
Perokok
Perokok pasif
Terpajan asap
Obstruksi jalan nafas :
Adanya jalan nafas
buatan
Benda asing dalam
jalan nafas
Eksudat
dalam
alveoli
Hiperplasia
pada
dinding bronkus
Mukus berlebih
Penyakit
paru
obstruksi kronis
Sekresi
yang
tertahan
Spasme jalan nafas
Fisiologis :
Asma
Disfungsi
neuromuskular
Infeksi
Jalan nafas alergik

teratur
Kedalaman
pernafasan normal
Tidak ada
akumulasi sputum
Batuk
berkurang/hilang

jalan nafas buatan


(NPA, OPA, ETT,
Ventilator)
Lakukan fisioterpi
dada jika perlu
Bersihkan secret
dengan suction bila
diperlukan
Auskultasi suara
nafas, catat adanya
suara tambahan
Kolaborasi
pemberian oksigen
Kolaborasi
pemberian
obat
bronkodilator
Monitor RR dan
status
oksigenasi
(frekuensi, irama,
kedalaman
dan
usaha
dalam
bernapas)
Anjurkan
pasien
untuk batuk efektif
Berikan nebulizer
jika diperlukan
Asthma Management
Tentukan
batas
dasar
respirasi
sebagai pembanding
Bandingkan status
sebelum dan selama
dirawat di rumah
sakit
untuk
mengetahui
perubahan
status
pernapasan
Monitor tanda dan
gejala asma
Monitor frekuensi,
irama, kedalaman
dan usaha dalam
bernapas

Ketidakefektifan pola nafas Setelah dilakukan


NIC
tindakan keperawatan ..x.. Oxygen Therapy
Batasan Karakteristik :
jam diharapkan pola nafas
Bersihkan
mulut,
Bradipnea
pasien teratur dengan
hidung dan secret
Dispnea
kriteria :
trakea
Fase
ekspirasi NOC :
Pertahankan jalan
memanjang
nafas yang paten
Respiratory status :

Siapkan peralatan
Ortopnea
Ventilation
oksigenasi
Penggunaan
otot
Respirasi dalam
Monitor
aliran
bantu pernafasan
batas
normal
oksigen
Penggunaan posisi
(dewasa:
16
Monitor
respirasi
tiga titik
20x/menit)
dan status O2
Peningkatan
Irama pernafasan
Pertahankan posisi
diameter anteriorteratur
pasien
Kedalaman
posterior
Monitor
volume
pernafasan normal
Penurunan
aliran oksigen dan
Suara perkusi
kapasitas vital
jenis canul yang
dada normal
Penurunan tekanan
digunakan.
(sonor)
ekspirasi
Monitor keefektifan
Retraksi otot dada
Penurunan tekanan
terapi oksigen yang
Tidak terdapat
inspirasi
telah diberikan
orthopnea
Penurunan ventilasi
Observasi adanya
Taktil fremitus
semenit
tanda
tanda
normal antara
Pernafasan bibir
hipoventilasi
dada kiri dan dada
Pernafasan cuping
Monitor
tingkat
kanan
hidung
kecemasan pasien
Ekspansi dada
Pernafasan ekskursi
yang kemungkinan
simetris
dada
diberikan terapi O2
Tidak terdapat
Pola
nafas
akumulasi sputum
abnormal
(mis.,
Tidak terdapat
irama,
frekuensi,
penggunaan otot
kedalaman)
bantu napas
Takipnea
Faktor yang
berhubungan
Ansietas
Cedera
medulaspinalis
Deformitas dinding
dada
Deformitas tulang
Disfungsi

neuromuskular
Gangguan
muskuluskeletal
Gangguan
Neurologis
(misalnya
:
elektroenselopalogr
am(EEG) positif,
trauma
kepala,
gangguan kejang)
Hiperventilasi
Imaturitas
neurologis
Keletihan
Keletihan
otot
pernafasan
Nyeri
Obesitas
Posisi tubuh yang
menghambat
ekspansi paru
Sindrom
hipoventilasi

PELAKSANAAN
No
1

Tgl/ Jam
Senin, 31

Implementasi
1. Memposisikan

Respon
S:

Oktober

pasien

2016

memaksimalkan

merasa lebih nyaman

Pukul 08.53

ventilasi

dengan posisi yang telah

Wita

untuk Pasien mengatakan

(semifowler)
diberikan.
2. Mengobservasi suara
O:
nafas, dan mencatat
Pasien kooperatif,
adanya
suara
adanya suara nafas
tambahan
tambahan (wheezing)
3. Memonitor respirasi
dengan adanya
dan status O2 pasien
4. Mempertahankan
pernafasan cuping
posisi pasien

hidung serta adanya

Paraf

5. Memonitor vital sign retraksi otot dada.


sebelum pemberian Respirasi : 34x/menit
terapi

SPO2 : 86%
TD: 130/80 mmHg
S : 36 OC

Pukul 09.00

1. Mengkolaborasikan

Wita

pemberian nebulizer
2. Mengkolaborasikan
pemberian

terapi

oksigen
3. Memonitor
keefektifan

N : 114 x/menit
S:
Pasien mengatakan
nyaman dengan
pemberian oksigen serta
masih merasa sesak.

aliran

O:
Pemberian O2

oksigen

Menggunakan nasal
kanul sebanyak 4 lpm
Pemberian Nebulizer
3

Pukul 09.15
Wita

Combivent 15 menit.
1. Delegatif pemberian S:
IVFD RL + Drip Aminopiline 1 Amp. O:
20 Tpm

Infus sudah terpasang


obat masuk dan tidak ada

alergi
Pukul 09.30 1. Memonitor vital sign S:
Wita

sesudah

pemberian Pasien mengatakan

terapi
2. Mengevaluasi
afektivitas

masih merasa sesak ,


masih terasa berat jika
terapi,

bernafas.
tanda dan gejala.
O:
3. Memonitor respirasi
TD: 130/80 mmHg
pasien.
S : 36 OC
N : 110x/menit
RR: 30x/menit

Pasien masih nampak


gelisah.

Pukul 09.40
Wita

1. Delegatif pemberian S :
Ranitidin Rute IV 1 Amp.
Aminopiline

O:
Rute

Pasien mau meminum

IV Amp.
obat serta kooperatif
Ambroxol Rute IO 1
Tidak ada alergi
tab
6

Pukul 10.00

1. Melakukan

S:

Wita

fisioterapi dada
2. Menganjurkan

Pasien mengatakan

pasien untuk batuk


efektif

dahak mau keluar


sedikit, masih merasa
sesak serta merasa ada
dahak ditenggorokan.
O:
Pasien kooperatif dan
mau melakukan apa
yang dianjurkan perawat.
Terdapat sedikit secret

Pukul 11.30
Wita

yang keluar.
1. Delegatif pemberian S :
Farsix Rute IV 1 amp.
O:
Bigoxin 1x1
Obat masuk dan tidak
Letonal 100mg
Vip Albumin Rute ada riwayat alergi
IO 1 Sach
TD: 130/80 mmHg
2. Monitor Vital sign
S : 36,5 OC
dan respirasi setelah
N : 100x/menit
pemberian terapi
RR: 28x/menit
Pasien masih nampak

Pukul 11.00

gelisah.
1. Delegatif pemberian S :
IVFD NaCl 0,9 % Pasien mengatakan mau
20 tpm
Inpepsa Syrup 1cth
Gastrofer 1 vial
2. Mengobservasi
suara

nafas,

mencatat

untuk di rawat inap


O:
Obat masuk dan tidak

dan ada riwayat alergi.

adanya Adanya suara nafas

suara tambahan
tambahan (wheezing)
3. Kolaborasi anjuran
dengan adanya
dokter untuk rawat
pernafasan cuping
inap.
hidung serta adanya
retraksi otot dada.

EVALUASI
No

Tgl/Jam

Catatan Perkembangan

Dx.
1

Senin, 31

S:

Oktober 2016

Pasien mengatakan masih batuk namun dahak sudah

Pukul 11.00

mau keluar sedikit.

Wita

O:
Secret yang keluar hanya sedikit, dan pasien masih
terlihat batuk, menggunakan otot bantu nafas.
A:
Tujuan tercapai sebagian
P:
Lanjutkan intervensi
(Pasien dipindahkan keruang perawatan khusus)

Senin, 31

S:

Oktober 2016

Pasien mengatakan sesak masih namun tidak terlalu

Paraf

Pukul 11.00

berat setelah diberikan O2

Wita

O:
Pasien masih nampak lemas, terpasang O2 kanul,
menggunakan otot bantu nafas, dan pernafasan cuping
hidung,
TD: 130/80 mmHg
S : 36,5 OC
N : 100x/menit
RR: 28x/menit
A:
Tujuan tercapai sebagian
P:
Lanjutkan intervensi
(Pasien dipindahkan keruang perawatan khusus)

LEMBAR PENGESAHAN

Mengetahui

Tabanan, 31 Oktober 2016

Clinical Instructure

Mahasiswa

(Putu Diva Pionita Dewi)

NIP.

NIM.P07120213008

Mengetahui
Clinical Teacher

)
NIP.

LEMBAR PENGESAHAN

Mengetahui

Tabanan, 31 Oktober 2016

Clinical Instructure

Mahasiswa

(Putu Diva Pionita Dewi)

NIP.

NIM.P07120213008

Mengetahui
Clinical Teacher

)
NIP.