Anda di halaman 1dari 11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
A.
1.

Konsep Dasar ROM (Range of Motion)


Pengertian
Latihan rentang gerak dapat aktif (klien menggerakan semua sendinya dengan rentang

gerak tanpa bantuan), aktif (klien tidak dapat menggerakan setiap sendi dengan rentang
gerak), atau berada di antaranya. Rencana keperawatan harus meliputi menggerakan
ekstremitas klien dengan rentang gerak penuh. Latihan rentang gerak pasif harus dimulai
segera pada kemampuan klien menggerakan ekstremitas atau sendi menghilang. Pergerakan
dilakukan dengan perlahan dan lembut dan tidak menyebabkan nyeri. Perawat jangan
memaksakan sendi melebihi kemampuannya. Setiap gerakan harus diulang 5 kali setiap
bagian. (Perry & Potter, 2005)
Range of Motion (ROM) adalah gerakan yang dalam keadaan normal dapat dilakukan
oleh sendi yang bersangkutan. (Suratun, 2008)
Latihan ROM pasif adalah latihan ROM yang di lakukan pasien dengan bantuan
perawat setiap-setiap gerakan. Indikasi latihan fasif adalah pasien semikoma dan tidak sadar,
pasien dengan keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua latihan
rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total atau pasien dengan paralisis
ekstermitas total (suratun, dkk, 2008). Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga
kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif
misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien. Latihan ROM aktif adalah
Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam melaksanakan pergerakan sendi
secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal. Hal ini untuk melatih kelenturan
dan kekuatan otot serta sendi dengan cara menggunakan otot-ototnya secara aktif
2.

Tujuan ROM

a.

Mempertahankan atau memelihara kekuatan otot.

b.

Memelihara mobilitas persendian

c. Merangsang sirkulasi darah


d. Mencegah kelainan bentuk
e. Mempertahankan fungsi jantung dan pernapasan
3. Perinsip Dasar Latihan ROM

a.

ROM harus diulang sekitar 8 kali dan dikerjakan minimal 2 kali sehari.

b.

ROM di lakukan berlahan dan hati-hati sehingga tidak melelahkan pasien.

c.

Dalam merencanakan program latihan ROM, perhatikan umur pasien, diagnosa, tanda-tanda
vital dan lamanya tirah baring.

d. Bagian-bagian tubuh yang dapat di lakukan latihan ROM adalah leher, jari, lengan, siku,
bahu, tumit, kaki, dan pergelangan kaki.
e.

ROM dapat di lakukan pada semua persendian atau hanya pada bagian-bagian yang di
curigai mengalami proses penyakit.

f.

Melakukan ROM harus sesuai waktunya. Misalnya setelah mandi atau perawatan rutin telah
di lakukan.
4.

Manfaat ROM

a.

Memperbaiki tonus otot

b.

Meningkatkan mobilisasi sendi

c.

Memperbaiki toleransi otot untuk latihan

d. Meningkatkan massa otot


e.

Mengurangi kehilangan tulang

5. Indikasi ROM
1. Stroke atau penurunan tingkat kesadaran
2. Kelemahan otot
3. Fase rehabilitasi fisik
4. Klien dengan tirah baring lama
6. Kontra Indikasi
1. Trombus/emboli dan keradangan pada pembuluh darah
2. Kelainan sendi atau tulang
3. Klien fase imobilisasi karena kasus penyakit (jantung)
4. Trauma baru dengan kemunginan ada fraktur yang tersembunyi atau luka dalam
5. Nyeri berat
6. Sendi kaku atau tidak dapat bergerak
7. Klasifikasi latihan ROM

Latihan ROM pasif adalah latihan ROM yang di lakukan pasien dengan bantuan
perawat pada setiap-setiap gerakan. Indikasi latihan pasif adalah pasien semikoma dan tidak
sadar, pasien dengan keterbatasan mobilisasi tidak mampu melakukan beberapa atau semua
latihan rentang gerak dengan mandiri, pasien tirah baring total atau pasien dengan paralisis
ekstermitas total (suratun, dkk, 2008). Rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga
kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif
misalnya perawat mengangkat dan menggerakkan kaki pasien. Sendi yang digerakkan pada
ROM pasif adalah seluruh persendian tubuh atau hanya pada ekstremitas yang terganggu dan
klien tidak mampu melaksanakannya secara mandiri.
Latihan ROM aktif adalah Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien
dalam melaksanakan pergerakan sendi secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi
normal. Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara
menggunakan otot-ototnya secara aktif . Sendi yang digerakkan pada ROM aktif adalah sendi
di seluruh tubuh dari kepala sampai ujung jari kaki oleh klien sendri secara aktif.
B. Konsep Dasar ROM Aktif
1. Pengertian
ROM Aktif yaitu gerakan yang dilakukan oleh seseorang (pasien) dengan
menggunakan energi sendiri. Perawat memberikan motivasi, dan membimbing klien dalam
melaksanakan pergerakan sendiri secara mandiri sesuai dengan rentang gerak sendi normal
(klien aktif). Kekuatan otot 75 %.
Hal ini untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan cara
menggunakan otot-ototnya secara aktif. Sendi yang digerakkan pada ROM aktif adalah sendi
di seluruh tubuh dari kepala sampai ujung jari kaki oleh klien sendri secara aktif.

2. Indikasi ROM Aktif


a.

Pada saat pasien dapat melakukan kontraksi otot secara aktif dan menggerakkan ruas
sendinya baik dengan bantuan atau tidak.

b.

Pada saat pasien memiliki kelemahan otot dan tidak dapat menggerakkan persendian
sepenuhnya, digunakan A-AROM (Active-Assistive ROM, adalah jenis ROM Aktif yang
mana bantuan diberikan melalui gaya dari luar apakah secara manual atau mekanik, karena
otot penggerak primer memerlukan bantuan untuk menyelesaikan gerakan).

c.

ROM Aktif dapat digunakan untuk program latihan aerobik.

d. ROM Aktif digunakan untuk memelihara mobilisasi ruas diatas dan dibawah daerah yang
tidak dapat bergerak.
3. Sasaran ROM aktif
a.

Apabila tidak terdapat inflamasi dan kontraindikasi, sasaran ROM Aktif serupa dengan
ROM Pasif.

b.

Keuntungan fisiologis dari kontraksi otot aktif dan pembelajaran gerak dari kontrol gerak
volunter.

c.

Sasaranspesifik:

1.

Memelihara elastisitas dan kontraktilitas fisiologis dari otot yang terlibat

2.

Memberikan umpan balik sensoris dari otot yang berkontraksi

3.

Memberikan rangsangan untuk tulang dan integritas jaringan persendian

4.

Meningkatkan sirkulasi

5.

Mengembangkan koordinasi dan keterampilan motorik


4. Keterbatasan dalam Latihan ROM Aktif

a.

Untuk otot yang sudah kuat tidak akan memelihara atau meningkatkan kekuatan.

b.

Tidak akan mengembangkan keterampilan atau koordinasi kecuali dengan menggunakan


pola gerakan.
5. Gerakan ROM Berdasarkan Bagian Tubuh
Menurut Potter & Perry, (2005), ROM terdiri dari gerakan pada persendian sebagaiberikut:
1.

2.

Leher, Spina, Serfikal


Gerakan
Fleksi
Ekstensi
Hiperektensi
Fleksi lateral
Rotasi

Penjelasan
Menggerakan dagu menempel ke dada,
Mengembalikan kepala ke posisi tegak,
Menekuk kepala ke belakang sejauh mungkin,
Memiringkan kepala sejauh mungkin sejauh mungkin kearah
Memutar kepala sejauh mungkin dalam gerakan sirkuler,

Gerakan
Fleksi
Ekstensi
Hiperektensi
Abduksi
Adduksi

Penjelasan
Menaikan lengan dari posisi di samping tubuh ke depan ke po
Mengembalikan lengan ke posisi di samping tubuh,
Mengerkan lengan kebelakang tubuh, siku tetap lurus,
Menaikan lengan ke posisi samping di atas kepala dengan tela
Menurunkan lengan ke samping dan menyilang tubuh sejauh m

Bahu

3.

Rotasi dalam

Dengan siku pleksi, memutar bahu dengan menggerakan leng

Rotasi luar
Sirkumduksi

ke dalam dan ke belakang,


Dengan siku fleksi, menggerakan lengan sampai ibu jari ke at
Menggerakan lengan dengan lingkaran penuh,

Gerakan
Fleksi

Penjelasan
Menggerakkan siku sehingga lengan bahu bergerak ke depan

Ektensi

bahu,
Meluruskan siku dengan menurunkan tangan,

Siku

4.

Lengan bawah
Gerakan
Supinasi
Pronasi

5.

6.

Pergelangan tangan
Gerakan
Fleksi
Ekstensi

Penjelasan
Menggerakan telapak tangan ke sisi bagian dalam lengan baw
Mengerakan jari-jari tangan sehingga jari-jari, tangan, leng

Hiperekstensi
Abduksi
Adduksi

yang sama,
Membawa permukaan tangan dorsal ke belakang sejauh mung
Menekuk pergelangan tangan miring ke ibu jari,
Menekuk pergelangan tangan miring ke arah lima jari,

Jari- jari tangan


Gerakan
Fleksi
Ekstensi
Hiperekstensi
Abduksi
Adduksi

7.

Penjelasan
Memutar lengan bawah dan tangan sehingga telapak tangan m
Memutar lengan bawah sehingga telapak tangan menghadap k

Penjelasan
Membuat genggaman,
Meluruskan jari-jari tangan,
Menggerakan jari-jari tangan ke belakang sejauh mungkin,
Mereggangkan jari-jari tangan yang satu dengan yang lain,
Merapatkan kembali jari-jari tangan,

Ibu jari
Gerakan
Fleksi
Ekstensi
Abduksi
Adduksi
Oposisi

Penjelasan
Mengerakan ibu jari menyilang permukaan telapak tangan,
menggerakan ibu jari lurus menjauh dari tangan,
Menjauhkan ibu jari ke samping,
Mengerakan ibu jari ke depan tangan,
Menyentuhkan ibu jari ke setiap jari-jari tangan pada tangan y

8.

9.

Pinggul
Gerakan
Fleksi
Ekstensi
Hiperekstensi
Abduksi
Adduksi
Rotasi dalam
Rotasi luar
Sirkumduksi

Penjelasan
Mengerakan tungkai ke depan dan atas,
Menggerakan kembali ke samping tungkai yang lain,
Mengerakan tungkai ke belakang tubuh,
Menggerakan tungkai ke samping menjauhi tubuh,
Mengerakan tungkai kembali ke posisi media dan melebihi jik
Memutar kaki dan tungkai ke arah tungkai lain,
Memutar kaki dan tungkai menjauhi tungkai lain,
Menggerakan tungkai melingkar

Gerakan
Fleksi
Ekstensi

Penjelasan
Mengerakan tumit ke arah belakang paha,
Mengembalikan tungkai kelantai,

Lutut

10. Mata kaki


Gerakan
Dorsifleksi
Plantarfleksi

Penjelasan
Menggerakan kaki sehingga jari-jari kaki menekuk ke atas,
Menggerakan kaki sehingga jari-jari kaki menekuk ke bawah,

11. Kaki
Gerakan
Inversi
Eversi

Penjelasan
Memutar telapak kaki ke samping dalam,
Memutar telapak kaki ke samping luar,

12. Jari-Jari Kaki


Gerakan
Fleksi
Ekstensi
Abduksi
Adduksi

C.

Penjelasan
Menekukkan jari-jari kaki ke bawah,
Meluruskan jari-jari kaki,
Menggerakan jari-jari kaki satu dengan yang lain,
Merapatkan kembali bersama-sama,

Konsep Dasar Mobilisasi

1. Pengertian
Mobilisasi atau kemampuan seseorang untuk bergerak bebas merupakan salah satu
kebutuhan dasar manusia yang harus terpenuhi. Immobilisasi adalah suatu keadaan di mana
individu mengalami atau berisiko mengalami keterbatasan gerak fisik. Mobilisasi dan
immobilisasi berada pada suatu rentang. Immobilisasi dapat berbentuk tirah baring yang

bertujuan mengurangi aktivitas fisik dan kebutuhan oksigen tubuh, mengurangi nyeri, dan
untuk mengembalikan kekuatan. Individu normal yang mengalami tirah baring akan
kehilangan kekuatan otot rata-rata 3% sehari (atropi disuse). Mobilisasi sangat dipengaruhi
oleh sistem neuromuskular, meliputi sistem otot, skeletal, sendi, ligament, tendon, kartilago,
dan saraf. (Perry & Potter, 2005)
2. Tujuan Mobilisasi
Tujuan mobilisasi adalah memenuhi kebutuhan dasar (termasuk melakukan aktifitas
hidup sehari-hari dan aktifitas rekreasi), mempertahankan diri (melindungi diri dari trauma),
mempertahankan konsep diri, mengekspresikan emosi dengan gerakan tangan non verbal.
(Perry & Potter, 2005)
3. Faktor yang mempengaruhi mobilisasi:
a.

Sistem neuromuscular

b.

Gaya hidup

c.

Ketidakmampuan

d. Tingkat energi
e.

Tingkat perkembangan

1) Bayi: sistem muskuloskeletal bayi bersifat fleksibel. Ekstremitas lentur dan persendian
memiliki ROM lengkap. Posturnya kaku karena kepala dan tubuh bagian atas dibawa ke
depan dan tidak seimbang sehingga mudah terjatuh.
2) Batita: kekakuan postur tampak berkurang, garis pada tulang belakang servikal dan lumbal
lebih nyata.
3) Balita dan anak sekolah: tulang-tulang panjang pada lengan dan tungkai tumbuh. Otot,
ligamen, dan tendon menjadi lebih kuat, berakibat pada perkembangan postur dan
peningkatan kekuatan otot. Koordinasi yang lebih baik memungkinkan anak melakukan
tugas-tugas yang membutuhkan keterampilan motorik yang baik.
4) Remaja: remaja putri biasanya tumbuh dan berkembang lebih dulu dibanding yang laki-laki.
Pinggul membesar, lemak disimpan di lengan atas, paha, dan bokong. Perubahan laki-laki
pada bentuk biasanya menghasilkan pertumbuhan tulang panjang dan meningkatnya massa
otot. Tungkai menjadi lebih panjang dan pinggul menjadi lebih sempit. Perkembangan otot
meningkat di dada, lengan, bahu, dan tungkai atas.
5) Dewasa: postur dan kesegarisan tubuh lebih baik. Perubahan normal pada tubuh dan
kesegarisan tubuh pada orang dewasa terjadi terutama pada wanita hamil. Perubahan ini

akibat dari respon adaptif tubuh terhadap penambahan berat dan pertumbuhan fetus. Pusat
gravitasi berpindah ke bagian depan. Wanita hamil bersandar ke belakang dan agak
berpunggung lengkung. Dia biasanya mengeluh sakit punggung.
6) Lansia: kehilangan progresif pada Massa tulang total terjadi pada orangtua.
4. Respon dari perubahan mobilisasi,
a. Respon fisiologis
1) Muskuloskeletal seperti kehilangan daya tahan, penurunan Massa otot, atropi dan
abnormalnya sendi (kontraktur) dan gangguan metabolisme kalsium.
2) Kardiovaskuler seperti hipotensi ortostatik, peningkatan beban kerja jantung, dan
pembentukan thrombus.
3) Pernafasan seperti atelektasis dan pneumonia hipostatik.
4) Metabolisme dan nutrisi antara lain laju metabolic; metabolisme karbohidrat, lemak dan
protein; ketidakseimbangan cairan dan elektrolit; ketidakseimbangan kalsium; dan gangguan
pencernaan (seperti konstipasi).
5) Eliminasi urin seperti stasis urin meningkatkan risiko infeksi saluran perkemihan dan batu
ginjal.
6) Integumen seperti ulkus dekubitus adalah akibat iskhemia dan anoksia jaringan.
7) Neurosensori: sensori deprivation
b. Respon psikososial dari antara lain meningkatkan respon emosional, intelektual, sensori, dan
sosiokultural.Perubahan emosional yang paling umum adalah depresi, perubahan perilaku,
perubahan dalam siklus tidur-bangun, dan gangguan koping
Pengaruh Latihan Rentang Gerak Sendi Terhadap mobilisasi pada pasien osteomalasia
Hasil penelitian ini sesuai dengan teori Suddarth & Brunner (2002) bahwa latihan
rentang gerak sendi di lakukan untuk mengurangi efek imobilisasi pada pasien melalui latihan
isometrik otot-otot di bagian yang di imobilisasi latihan kuadrisep dan latihan gluteal dapat
membantu mempertahankan kelompok otot besar yang penting untuk berjalan.
Menurut Suratun (2008) bahwa rentang gerak pasif ini berguna untuk menjaga
kelenturan otot-otot dan persendian dengan menggerakkan otot orang lain secara pasif
sedangkan latihan ROM aktif untuk melatih kelenturan dan kekuatan otot serta sendi dengan
cara menggunakan otot-ototnya secara aktif .
Berdasarkan hasil penelitian ini peneliti berpendapat bahwa ada perbedaan lingkup gerak
sendi antara pasien kelompok ROM aktif dan kelompok ROM pasif. Hal ini disebabkan

karena pada pasien kelompok latihan ROM aktif tidak melakukan latihan rentang gerak sendi
dengan baik karena kurang motivasi dengan alasan takut nyeri sehingga menyebabkan masih
terbatasnya pergerakan sendi pasien. Sedangkan pada pasien yang dilakukan rentang gerak
pasif maka pasien akan diupayakan untuk bergerak (mengegerakan kaki pasien) sehingga
meningkatkan aliran darah ke ektremitas. Kontraksi otot kaki bagian bawah akan
meningkatkan aliran balik vena sehingga mempersulit terbentuknya bekuan darah.
Latihan ROM aktif dan pasif dapat meningkatkan mobilitas sendi, tulang dan otot.
Seperi yang telah disebutkan di atas gejala yang memperberat dari osteomalasia adalah :
a.

Nyeri tulang dan kelemahan.

b. Sebagai akibat dari defisiensi kalsium, biasanya terdapat kelemahan otot.


c.

Pasien kemudian nampak terhuyung-huyung atau cara berjalan loyo/lemah.

d. Nyeri tulang yang dirasakan menyebar, terutama pada daerah pinggang dan paha.
e.

Kaki terjadi bengkok (karena tinggi badan dan kerapuhan tulang)

Apabila hal tersebut tidak diatasi dengan segera maka akan semakin memperburuk
gejala yang ada. Melakukan latihan sederhana seperti ROM aktif maupun ROM pasif dapat
meningkatkan mobilitas sendi, tulang dan otot pada penderita osteomalasia. Apabila
dilakukan secara rutin dan teratur dapat mencegah terjadinya berbagai komplikasi.
Melakukan ROM aktif di bawah sinar matahari akan sangat membantu pada penderita
osteomalasia. Selain untuk meningkatkan mobilitas sendi, tulang dan otot, sinar matahari juga
dapat membantu dalam pembentukan Vitamin D yang sangat dibutuhkan oleh tulang.
Daftar Pustaka
Carpenito, Lynda juall. 2001. Dokumentasi Asuhan Keperawatan Edisi 8. Jakarta: EGC.
Doenges, E, Marilyn. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan
keperawatan pasien. Edisi. Jakarta: EGC.
Ganong, W.F. 1999. Fisiologi kedokteran. Jakarta : EGC.
Price, Sylvia & Loiraine M. Wilson. 1998. Patofisiologi Konsep Klinis Proses Penyakit.
Edisi 4. Jakarta : EGC.
Smeltzer & Brenda G. Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Vol III. Edisi
8.Jakarta : EGC.
Suratun,

Heryati,

Santa

manurung,

musculuskeletal. Jakarta: EGC.

Een

raenah.

2008.

Klien

gangguan

sistem

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Stroke merupakan penyebab kematian nomor dua di dunia setelah
penyakit jantung, juga merupakan penyebab kecacatan nomor satu baik di negara maju
maupun di negara berkembang (America Heart Assosiation [AHA], 2010). Data di Amerika
Serikat menunjukkan pada tahun 2008 stroke merupakan penyebab kematian keempat pada
orang dewasa dan penyebab kecacatan dalam jangka waktu panjang (Fang, Shaw & George,
2012). Setiap tahunnya sekitar 795.000 orang Amerika menderita stroke baru atau berulang
(America Stroke Assosation[ASA], 2012). Menurut Riset Kesehatan Dasar (2008), prevalensi
stroke di Indonesia pada tahun 2007 sebesar 8,3 per 1000 penduduk dan pada tahun 2011
stroke menjadi peringkat penyebab kematian pertama di Indonesia. Penderita infark serebral
yang menjalani rawat inap di Bali tahun 2010 berdasarkan profil dinas kesehatan provinsi
Bali berjumlah 968 orang dan hasil laporan dari Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Sanglah
Denpasar penderita stroke yang dirawat inap dalam jangka waktu Januari sampai Juni 2013
rata-rata dalam sebulan sejumlah 37 orang. Berdasarkan studi pendahuluan yang telah
dilakukan pada tanggal 1 Juli 2013, jumlah pasien stroke yang dirawat di Instalasi Rawat
Inap D (IRNA D) RSUP Sanglah rata-rata dalam sebulan periode April sampai Juni 2013
sejumlah 32 orang dengan jumlah rata-rata yang menderita 2 stroke iskemik sebanyak 24
orang perbulan, dalam rentang umur 30 sampai 80 tahun dan sisanya menderita stroke
hemoragik. Stroke atau cerebrovaskular accident merupakan gangguan neurologis yang
paling banyak terjadi dan menjadi masalah paling utama penyebab gangguan gerak dan
fungsi tubuh pada orang dewasa (Irfan, 2010:69). Pasien yang dirawat di rumah sakit karena
stroke sekitar 85% mengalami masalah dengan ekstremitas atas. Gangguan fisik Stroke
seperti kelemahan otot, nyeri, dan spastisitas dapat menyebabkan penurunan kemampuan
untuk menggunakan ekstremitas atas yang terkena stroke dalam aktivitas sehari-hari.
Penderita bahkan menghindari menggunakan lengan dan tangan yang terkena stroke, tidak
menggunakan lengan dan tangan yang terkena stroke dapat menyebabkan kelemahan atau
kehilangan kekuatan otot, penurunan rentang gerak dan keterampilan motorik halus (Eng &
Harris, 2009). Ektremitas atas perlu dilatih karena mempunyai fungsi yang penting dalam
melakukan aktifitas sehari- hari seperti untuk makan, mandi, kebersihan diri, berpakaian,
toileting, dan lain-lain (Irfan, 2010:203). Rehabilitasi yang dapat diberikan pada penderita

adalah latihan rentang gerak atau Range of Motion (ROM) dan pemberian latihan diutamakan
pada ketrampilan spesifik yang bermakna bagi pasien stroke (Smeltzer & Bare, 2002:399,
Susilawathi, 2013:56). Menggenggam, memegang, mengangkat objek adalah latihan spesifik
yang dapat meningkatkan kekuatan otot ekstremitas atas dan dapat mengembalikan
fungsional tangan, salah satu bentuk latihannya dengan menggunakan alat spring grip dengan
cara digenggam. (Irfan, 2010:203, Mehrholz, 2012:75). 3 Latihan pada ekstremitas atas dapat
menggunakan alat-alat seperti : hand grip dynamometer, spring grip, Rainbow putty,
cylindrical grip, spherical grip, hook grip, lateral prehension grip, precision handling
(Mehrholz, 2012:75, Irfan, 2010:205), dengan menyentuh benda yang memiliki tekstur yang
berbeda-beda menggunakan ektremitas atas yang mengalami kelemahan dapat menstimulasi
daerah yang terkena stroke dalam otak, hal ini dilakukan untuk membangun koneksi baru
dalam otak (Hutton, 2008:119). Pemulihan fungsi setelah lesi otak sebagian besar diakibatkan
oleh proses reorganisasi (perubahan struktur dan fungsi) sebagai respon dari latihan,
pembelajaran dan pengalaman pada otak. Kemampuan otak melakukan reorganisasi dalam
bentuk adanya interkoneksi baru pada syaraf disebut plastisitas otak (neuroplasticity) (Irfan,
2010:38, Hutton, 2008:119). Pemulihan kekuatan otot ekstremitas atas dan pengembalian
kelenturan sendi memerlukan rehabilitasi secepat mungkin setelah kondisi pasien dianggap
stabil (Waluyo, 2009:106). Rehabilitasi yang diberikan dapat berupa latihan ROM aktif asistif
spring grip pada ekstremitas atas, latihan ini dilakukan oleh pasien dengan bantuan terapis
atau perawat (Mehrholz, 2012:75, Smeltzer & Bare, 2002:399). Berdasarkan hasil studi
pendahuluan yang dilakukan di RSUP Sanglah, rehabilitasi pasif ROM sudah dilakukan oleh
terapis sehari sekali pada pagi hari namun belum optimal karena keterbatasan petugas terapis,
perawat yang bertugas di ruang stroke mempunyai andil besar melatih pasien karena 24 jam
dekat dengan pasien. Peneliti juga telah melakukan wawancara dengan dokter penanggung
jawab ruangan serta dokter spesialis rehabilitasi medis, mereka 4 menyatakan bahwa latihan
ROM aktif asistif spring grip dapat dimulai pada hari ke dua atau ke tiga setelah serangan
stroke apabila kondisi pasien stabil. Penelitian ini belum pernah dilakukan sebelumnya di
RSUP Sanglah, oleh karena itu peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh latihan aktif asistif
spring grip terhadap kekuatan otot ekstremitas atas pada pasien stroke iskemik di RSUP
Sanglah