Anda di halaman 1dari 6

.

Asal Usul Kata Siak


Penyebutan kata Siak sudah terdapat diberbagai sumber sejarah nasional Indonesia. Baik yang
ditulis oleh pujangga-pujangga zaman Hindu/Budha dahulu maupun oleh para sejarawan
modern Indonesia dan asing.
Adapun sekarang, kata Siak tersebut menjadi nama dari sebuah sungai, yaitu sungai Siak
dimana didapati bekas-bekas kerajaan Siak di sepanjang aliran sungai tersebut. Mengenai arti
kata Siak terdapat bermacam-macam pendapat, seprerti:
1). Kata Siak menurut bahasa Tapanuli Selatan berarti pedas
2). Kata Siak ada yang mengatakan berasal dari kata Suak
3). Kata Siak ada yang menyatakan berasal dari suatu nama panggilan yang diberikan kepada
orang yang menjaga masjid.
4). Kata Siak ada yang menyatakan berasal dari nama tumbuh-tumbuhan sejenis perdu yang
bernama Siak-siak.

Dari beberapa arti kata tersebut, timbul beberapa kemungkinan


ad. 1. Apabila diartikan pedas (bahasa Tapanuli Selatan), pastilah mempunyai latar belakang
hubungan dengan Tapanuli. Sedangkan kenyataannya tidak ada fakta-fakta menunjukkan bahwa
dalam kerajaan Siak ada unsur-unsur Tapanuli yang bersifat monumental.
ad. 2. Kalau yang dimaksud dari arti kata Suak tentulah perkataan suak mempunyai arti
keseragaman. Kenyataannya sampai sekarang kata suak dan kata siak dalam arti yang
berdiri sendiri, seperti kata Sungai Siak, kota Siak. Sedangkan Suak diartikan nama suatu
tempat atau kampung yang dialiri oleh anak sungai yang kecil sebagaimana banyak terdapat di
sepanjang Sungai Siak, misalnya: Suak Gelanggang, Suak Rengas, Suak Lanjut, Suak Santai,
Suak Djil, dan sebagainya. Dalam hal ini tidak dipakai kata siak. Dengan demikian jelaslah
bahwa kata siak bukanlah kata yang diturunkan atau perubahan mophologis dari kata suak.
ad. 3. Kalau kata siak diartikan seorang penjaga masjid tentulah dahulunya daerah siak itu
merupakan kerajaan Islam dan kalau kita pelajari ketika Siak di bawah pengaruh Melaka dan
Johor merupakan kerajaan yang beragama Islam. Akan tetapi jauh sebelum ini kerajaan Siak
sudah ada, sebagaimana disebutkan dalam Kertagama pupuh 13/1-2 menyebut: Minangkabau,
Siak, Rokan dan Kampar di bawah kekuasaan Majapahit. Dalam perkembangan sejarah
Indonesia tidak pernah ada sumber yang menyebutkan kerajaan beragama Islam yang tunduk di
bawah kekuasaan Majapahit (Hindu/Budha).
ad. 4. Jika kata Siak diambil dari nama tumbuh-tumbuhan yang bernama siak-siak, maka
harus ada hubungan antara kerajaan Siak dengan tumbuh-tumbuhan tersebut.

Dalam hal ini dapat dihubungkan teori yang diketengahkan oleh J. Kern., Prof.
Pubotjoroko dan Prof. Muhammad Yamin tentang pemberian nama kerajaan/raja berdasarkan
flora-fauna, dimana nama-nama kerajaan lazim diambil dari nama tumbuh-tumbuhan (flora) dan
nama raja diambil dari nama-nama hewan (fauna) seperti halnya nama kerajaan dan raja berikut
ini:
a. Majapahit, dari nama pohon maja yang buahnya pahit.
b. Tarumanegara, dari nama pohon tarum.
c. Galih Pakuan, dari nama tumbuh-tumbuhan paku-pakuan/pakis.
d. Malaka, dari nama pohon malaka.
e. Johor, dari nama pohonjohar.
Sedangkan nama-nama raja:
a. Hayam Wuruk, dari kata hayam/ayam.
b. Gajad Mada, dari kata gajah.
c. Si Singamangaraja, dari kata singa.
d. Munding Wangi, dari kata yang bermakna kerbau.
e. Sawunggaling, dari kata yang bermakna ayam jantan. (Tim Penulis: 1970, hlm. 4)

Berdasarkan hal tersebut, berkemungkinan sekali bahwa sebutan kata siak diambil dari nama
tumbuh-tumbuhan (flora). Dan memang di sekitar aliran sungai Siak maupun di sekitar bekas
kerajaan Siak banyak sekali terdapat tumbuhan jenis perdu yang bernama siak-siak. Oleh
masyarakat setempat, tumbuh-tumbuhan itu biasa dipergunakan sebagai bahan obat-obatan dan
wangi-wangian. (Tim Penulis: 1970, hlm. 5).
Sedangkan pendapat lain menyatakan bahwa; kata Siak dalam anggapan masyarakat Melayu
sangat bertalian erat dengan agama Islam, Orang Siak ialah orang-orang yang ahli agama Islam,
kalau seseorang hidupnya tekun beragama dapat dikatakan sebagai Orang Siak.
Selanjutnya nama Siak, dapat merujuk kepada sebuah klan di kawasan antara Pakistan dan
India, Sihag atau Asiagh yang bermaksud pedang. Masyarakat ini dikaitkan dengan bangsa Asii,
masyarakat nomaden yang disebut oleh masyarakat Romawi, dan diidentifikasikan
sebagai Sakai oleh Strabo seorang penulis geografi dari Yunani. Berkaitan dengan ini pada
sehiliran Sungai Siak sampai hari ini masih dijumpai masyarakat terasing yang dinamakan
sebagai Orang Sakai.

2. Siak dibawah Pengaruh Hindu/Budha


Karena sangat terbatasnya bukti-bukti pemberitaan dan peninggalan sejarah yang ditemui,
belum dapatnya ditunjukkan suatu kepastian tahun bila sebenarnya Siak atau kerajaan Siak
pertama ini timbul. Tetapi perihal adanya suatu kerajaan Siak pada zaman itu dapat dipastikan,
yaitu disebutnya nama Siak dalam sumber-sumber sejarah Indonesia. Misalnya dalam
Negarakertagama pupuh 13/1-2; Pararaton; Tarich Tiongkok; Sedjarah Melajoe dan dalam
karangan yang ditulis oleh N.J. Ryan., Prof. Dr. Slamet Muljono, Prof. Hamka, serta ahli sejarah
mutakhir.
Dalam berita sumber-sumber sejarah kuno (zaman Hindu/Budha) meskipun tidak tersebut
dengan tegas bahwa Siak itu kerajaan, namun sangatlah mendekati kepastian bahwa yang
disebut Siak itu adalah suatu kerajaan yang lokasinya pasti di salah satu tempat di sepanjang
sungai Siak.
Lazimnya bahwa sejak dahulu penyebutan nama kerajaan tidak senantiasa harus disebut secara
lengkap dengan wilayahnya. Demikian pula halnya dengan kerajaan Siak, dimana dalam
sumber-sumber sejarah sering hanya disebut Siak saja. Bahkan kerajaan Siak bersama-sama
kerajaan Melayu lainnya seperti: Indragiri, Kampar, Bintan dalam sejarah Indonesia sudah lama
dikenal dan lazim dicakup saja dalam satu sebutan yaitu kerajaan Melayu. Bahkan ada yang
berpendapat bahwa kerajaan Sriwijaya itu adalah kelanjutan dari kerajaan Melayu Lama. (Tim
Penulis: 1970, hlm. 6).
Didalam penulisan-penulisan sejarah oleh sebagian sejarawan Indonesia ataupun asing. Melayu
sering dikatakan sekitar daerah Jambi atau Minangkabau. Akan tetapi jika Jambi tersebut yang
dimaksudkan adalah Lubuk Jambi (daerah kabupaten Kuantan Sengingi - provinsi Riau
sekarang), maka hal itu member petunjuk kearah kebenaran, jika diingat bahwa Lubuk Jambi
terletak dekat sungai Langsat, dimana maklumat Padang Rontjo diketemukan.
Melayu dalam sejarah Indonesia senantiada menjadi perhatian bagi kerajaan-kerajaan besar
seperti Sriwijaya, Singosari, Majapahit ataupun kerajaan lain sesudah itu. perebutan atas Melayu
oleh kerajaan-kerajaan tersebut adalah disebabkan Melayu berkedudukan di Selat Malaka yang
merupakan kunci perhubungan antara Barat (India) Indonesia dan Timur (Cina).
Betapa pentingnya Melayu tersebut bagi kerajaan-kerajaan yang berusaha menguasai dan
mempersatukan Nusantara, telah ditunjukkan oleh adanya ekspedisi Pamalayu dari Singosari
yang sangat terkenal itu (1275 1294 M). Adanya suatu pengerahan kekuatan Palamayu yang
sedemikian besar dan lamanya + 19 tahun memberi petunjuk bahwa Melayu mempunyai
kekuatan yang paling besar setelah runtuhnya Sriwijaya.
Selanjutnya jika kekuatan Melayu yang dihadapi oleh Pamalayu itu adalah suatu angkatan dari
suatu kerajaan, maka kerajaan tersebut tentu merupakan kerajaan yang besar. Sebaliknya jika
kekuatan tersebut bukan suatu angkatan dari suatu kerajaan, maka kekuatan yang yang

dihadapi Pamalyu itu tentulah merupakan satuan-satuan kekuatan yang terpencar yang berdiri
sendiri dari beberapa kerajaan.
Dari sumber-sumber tertulis maupun dari peninggalan-peninggalan yang ada di daerah Riau
sekarang, menunjukkan bahwa di Melayu dahulu ada beberapa kerajaan yang tersebar di sekitar
sungai-sungai Siak, Rokan, Kampar dan Indragiri. Hal tersebut menyatakan bahwa di daerah
Riau terdapat peninggalan-peninggalan bekas kerajaan zaman dahulu (Hindu/Budha) baik yang
berupa puing-puing kerajaan (istana, benteng) maupun benda-benda yang bersifat monument,
seperti candi, stupa, arca dan benda-benda kuno lain serta peninggalan-peninggalan
kebudayaan lama yang terwujud dalam kepercayaan dan kesenian. (Tim Penulis: 1970, hlm. 7).
Diantara peninggalan bekas kerajaan tersebut, bekas kerajaan Siak menunjukkan jumlah yang
lebih banyak dan tersebar luas jika dibandingkan dengan peninggalan bekas kerajaan Melayu
lainnya, baik berupa benda-benda monumental lainnya dalam penyebutan sejarah dari
perkembangan kerajaan-kerajaan selanjutnya.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa kekuatan yang dihadapi oleh tentara Pamalayu
tersebut adalah kekuatan dari beberapa kerajaan yang masing-masing berdiri sendiri.
Selanjutnya, menurut isi maklumat Padang Rontjo, bahwa pada tahun 1286 M, Raja Kertanegara
mengirimkan arca Amoghapaca (Dyani Budha Awalokitecwara) ke Melayu, di mana atas kiriman
ini Raja Melayu yang bernama Maharaja Tribuwanaraja Mauliwarmadewa sangat bersuka cita.
Dari maklumat tersebut adalah merupakan petunjuk bahwa Raja Melayu Mauliawarmadewa itu
adalah salah seorang raja dari kerajaan yang berada di Melayu yang sudah tunduk dan sudah
bernaung di bawah Singosari setelah tentara Pamalyu berada di Melayu + 11 tahun lamanya
(1275 1286 M).
Di dalam Negarakertagama disebutkan bahwa; pasukan Pamalayu baru kembali pada tahun
1294 dengan membawa Dara Petak dan Dara Djinggo dibawah pimpinan Kebo Anabrang.
Dengan demikian lamanya ekspedisi Pamalayu itu seluruhnya + 19 tahun. Jika hal ini
dihubungkan dengan maklumat Padang Rontjo, menunjukkan bahwa pasukan Pamalayu masih
terus melanjutkan peperangan selama 8 tahun lagi setelah menguasai salah satu kerajaan
Melayu yang rajanya bernama Mauliwarmadewa.
Ada yang berpendapat bahwa Dara Petak dan Dara Djinggo itu berasal dari Kampar, jika
pendapat ini benar maka hal ini memberi petunjuk bahwa di Kampar itulah kedudukan salah satu
kerajaan Melayu yang dikuasai oleh pasukan Pamalayu tersebut. Jelas pula bahwa Melayu yang
didatangi oleh pasukan Pamalayu tersebut adalah daerah Provinsi Riau sekarang ini, di mana
pada zaman itu kerajaan-kerajaan Melayu berpusat di Siak, Rokan, Kampar dan Indragiri. (Tim
Penulis: 1970, hlm. 8)
Demikian juga penyebutan gadis dengan kata dara bukanlah kelaziman yang dipakai di luar
atau daerah-daerah lain. Begitu pula penyebutan atau pemberian nama yang diambil dari nama
warna-warna, seperti: Petak, Djinggo, Merah, Kuning, Hijau seperti Puteri Hijau (Rokan
Pekaitan) adalah merupakan kelaziman dalam cerita spesifik daerah Riau, walaupun kadangkadang di daerah lain juga memakainya.

Sedangkan kerajaan Siak pada masa ini masih merupakan kerajaan Hindu/Budha dan masih
terkenal sampai abad ke-15 M, yaitu yang berpusat di Gasib. Dan kerajaan yang berpusat di
Gasib ini masih berlangsung terus sampai sampai sampai abad ke-17, dimana kerajaan Siak
pada waktu itu berada dibawah pengaruh kerajaan Melaka dan kerajaan Johor.
Raja dari kerajaan Siak yang Beragama Hindu/Budha, diantara yang terkenal yaitu berasal dari
Bedagai dan disebut Raja Bedagai. Diperkirakan Raja Bedagai inilah raja Hindu/Budha kerajaan
Siak yang terakhir yang menurut Tarikh Cina pada tahun 1433 M., bersama-sama dengan Rajaraja Indragiri dan Siantan yang meminta perlindungan ke Cina.
Jika berita dari Tarikh Cina tersebut benar, mungkin sekali permintaan perlindungan itu
disebabkan oleh ekspedisi kerajaan Melaka yang sudah berada dibawah pengaruh Islam. Dan
oleh karena itu kekuatan Majapahit sudah lemah, maka kerajaan-kerajaan Melayu Indragiri, Siak,
Siantan yang masih beragama Hindu/Budha, minta bantuan negeri Cina sebagai sesama
kerajaan Hindu/Budha juga masih dianggap kuat.
Kemungkinan ini diperkuat dengan adanya sumber pemberitaan dari Sejarah Melayu di Melaka,
yang menyebutkan bahwa pada waktu Sultan Mansyur Syah berkuasa di kerajaan Melaka tahun
1444 1477, maka ditaklukanlah kerajaan Hindu/Budha di Siak yang berpusat di Gasib. Dan
sejak ini, kerajaan Siak berada di bawah pengaruh kerajaan Islam Melaka/Johor, sampai Raja
Iskandar Muda dari Aceh menyerang Gasib pada tahun 1612 1626 atau abad ke-17 M. (Tim
Penulis: 1970, hlm. 9).
Kerajaan-kerajaan Islam di Riau yang disebut sebut dalam berita Tome Pires (1512-1515 M)
adalah Siak (termasuk juga Kampar dan Indragiri). Bila kerajaan tersebut mulai bercorak Islam
belum dapat dipastikan meskipun pedagang muslim dari Arab dan negeri-negeri Timur Tengah
lainnya sejak abad ke 7/8 M sudah memegang peran dalam pelayaran dan perdagangan melalui
Selat Melaka. (Marwati Djoened Poesponegoro dan Nugroho Notosusanto, 2008: 37).
Mengingat kerajaan Siak pada abad ke 13 dan 14 M masih ada dalam kekuasaan Melayu dan
Singosari-Majapahit, yang mendekati kepastian kerajaan-kerajaan tersebut tumbuh menjadi
kerajaan bercorak Islam sejak aba ke-15 M. Pengaruh Islam yang sampai ke daerah itu sebagai
akibat perkembangan kerajaan Islam Malaka. Didasarkan pada berita Tome Pires; kerajaan Siak
(juga Kampar dan Indragiri) senantiasa melakukan perdagangan dengan Malaka, bahkan
memberikan upeti kepada kerajaan Malaka. Kerajaan di pesisir Timur Sumatra ini dikuasai
kerajaan Malaka pada masa pemerintahan Sultan Mansyur Syah (wafat 1477 M). (Barbara
Watson Andaya and Leonard Y. Andaya. 1982: 51

KESULTANAN SIAK
1. Kesultanan Buantan
2. Kesultanan Mempura I
3. Kesultanan Senapelan

4. Kesultanan Mempura II (Kota Tinggi) = Kesultanan Siak


Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin memerintah dari tahun 1784 1810 M., yang
kemudian memindahkan pusat pemerintahan dari Mempura ke Kota Tinggi atau kota Siak Sri
Indrapura sekarang ini. Sultan Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin menghidupkan kembali
nama Siak Sri Indrapura yang telah pernah diberikan oleh seorang panglima kerajaan Singosari
Panglima Indrawarman yang menjadi panglima pada ekspedisi Pamalayu tahun 1275 1289
M. (Tim Penulis: 1970, hlm. 16)

Jika pada masa Sultan Abdul Jalil Muzaffar Syah, ketika memindahkan pusat kerajaan ke
Mempura, sejak itu kerajaan diberi nama Siak Sri Indrapura. Sedangkan pada masa Sultan
Assyaidis Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin memerintah, maka kerajaan Siak Sri
Indrapura dilengkapkan menjadi Siak Sri Indrapura Dar al-Salam al-Qiyam. Dan sejak itu pula
pusat kerajaan Siak tetap di Siak sampai Sultan Syarif Kasim II sultan Siak yang terakhir.