Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

LATAR BELAKANG
Energi listrik merupakan salah satu kebutuhan pokok yang tidak dapat
dipisahkan dari kehidupan manusia pada masa sekarang ini. Energi listrik mempunyai
sifat fleksibel, dapat dengan mudah diubah menjadi energi lain sesuai dengan
kebutuhan manusia. Hampir semua peralatan yang digunakan oleh manusia tidak
dapat berfungsi tanpa adanya energi listrik. Melihat begitu pentingnya energi listrik
dalam kehidupan manusia, maka PT. PLN Persero sebagai penyedia energy listrik di
Indonesia berupaya untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi konsumen. Secara
garis besar sistem energi listrik dibagi menjadi tiga bagian yaitu : Pembangkitan,
Penyaluran dan Distribusi. Kualitas daya listrik dapat dilihat dari besarnya tegangan,
frekuensi serta pelayanan yang kontinyu. Dalam usahanya untuk memenuhi hal
tersebut, PLN selalu berusaha untuk meningkatkan kualitas sistem listrik yang
dikelolanya. Salah satu usahanya adalah dengan meningkatkan kualitas sistem tenaga
listrik, baik pada sistem pembangkitan, saluran transmisi, maupun saluran distribusi.
Perencanaan, pengelolaan pembangkitan, penyaluran dan pendistribusian
energi listrik dituntut untuk memenuhi tuntutan konsumen terhadap peningkatan
kuantitas dan kualitas energi yang dihasilkan. Peningkatan kualitas energi listrik juga
sangat berpengaruh dalam meningkatkan efisiensi dan keandalan sistem, hal ini
dimaksudkan untuk menjaga peralatan-peralatan sistem yang sensitif terhadap
gangguan. Permasalahan besar dalam sektor energi listrik tersebut menuntut adanya
deregulasi sehingga diperoleh solusi yang menguntungkan semua pihak. Beberapa
kendala yang dihadapi untuk memenuhi tuntutan tersebut adalah keterbatasan sumbersumber energi, mahalnya biaya investasi, pemeliharaan dan operasi sistem energi
listrik. Lebih-lebih dimasa mendatang ada kecenderungan sistem pembangkitan
dilakukan secara terdistribusi (distributed generation) sehingga akan memungkinkan
munculnya pelaku-pelaku bisnis baru khususnya didaerah-daerah.
Pemadaman listrik yang terlalu sering dengan waktu padam yang lama dan tegangan
listrik yang tidak stabil, merupakan refleksi dari keandalan dan kualitas listrik yang
kurang baik, dimana akibatnya dapat dirasakan secara langsung oleh pelanggan.

Sistem tenaga listrik yang andal dan energi listrik dengan kualitas yang baik
atau memenuhi standar, mempunyai kontribusi yang sangat penting bagi kehidupan
masyarakat

modern

karena

peranannya

yang

dominan

dibidang

industri,

telekomunikasi, teknologi informasi, pertambangan, transportasi umum, dan lain-lain


yang semuanya itu dapat beroperasi karena tersedianya energi listrik. Perusahaanperusahaan yang bergerak diberbagai bidang sebagaimana disebutkan diatas, akan
mengalami kerugian cukup besar jika terjadi pemadaman listrik tiba-tiba atau tegangan
listrik yang tidak stabil, dimana aktifitasnya akan terhenti atau produk yang
dihasilkannya menjadi rusak atau cacat.
Di negara-negara yamg memiliki sistem pembangkit, transmisi dan distribusi
energi listrik dengan teknologi dan peralatan mutakhir serta manajemen yang baik
seperti Amerika Serikat, Jepang, Perancis dan negara-negara maju lainnya benar-benar
memberikan perhatian khusus terhadap keandalan dan kualitas listrik karena
pengaruhnya yang krusial terhadap roda perekonomian. Ukuran keandalan dan
kualitas listrik secara umum ditentukan oleh beberapa parameter-parameter seperti
transien, tegangan dip, swell, under voltage, over voltage, interupsion, harmonisa,
fliker, harmonisa triplen variasi frekuensi dan noise Parameter-parameter yang
menentukan keandalan dan kualitas listrik sebagaimana disebutkan diatas adalah
sesuatu yang meyakinkan (measureable) dan dapat diminimalkan dengan cara
mengkoreksi terhadap konfigurasi dan peralatan pada sistem, manajemen serta sumber
daya manusia yang handal dari perusahaan yang menjual energi listrik.
1.2.

RUMUSAN MASALAH
1) Bagaimana mengetahui kualitas energy listrik
2) Bagaimana mengetahui parameter-parameter yang Menentukan Keandalan dan
Kualitas Listrik

1.3.

TUJUAN

1) Dapat mengetahui dan memahami pengertian kualitas energy listrik

2) Dapat mengetahui dan memahami parameter-parameter yang menentukan keandalan


dan kualitas listrik
1.4.

MANFAAT

1) Memahami mengenai pentingnya kualias energy listrik


2) Dapat memahami cara mengatasi gangguan-gangguan yang mempengaruhi mutu
energy listrik
3) Menambah ilmu pengetahuan dari sumber terpercaya dari data sebelumnya
4) Bisa bermanfaat untuk tambah ilmu pengetahuan

BAB II
PEMBAHASAN
2.1. TRANSIEN
Yang dimaksud dengan analisis transien adalah analisis rangkaian yang
sedang dalam keadaan peralihan atau keadaan transien. Gejala transien atau gejala
peralihan merupakan salah satu peristiwa dalam rangkaian listrik yang perlu kita
perhatikan. Peristiwa ini biasanya berlangsung hanya beberapa saat namun jika
tidak ditangani secara baik dapat menyebabkan terjadinya hal-hal yang sangat
merugikan berupa kerusakan peralatan.
Dalam sistem penyaluran energi, pemutusan dan penyambungan rang-kaian
merupakan hal yang sering terjadi. Operasi-operasi tersebut dapat menyebabkan
terjadinya lonjakan tegangan yang biasa disebut tegangan lebih. Tegangan lebih

pada sistem juga terjadi mana kala

ada sambaran petir yang mengimbaskan

tegangan pada saluran transmisi. Tegangan lebih seperti ini akan merambat
sepanjang saluran transmisi berbentuk gelombang berjalan dan akan sampai ke
beban-beban yang terhubung pada sistem tersebut. Piranti-piranti elektronik akan
menderita karenanya. Di samping melalui saluran transmisi, sambaran petir juga
mengimbaskan tegangan secara induktif maupun kapasitif pada peralatan-peralatan.
Semua kejadian itu merupakan peristiwa-peristiwa peralihan.
Kita mengetahui bahwa kapasitor dan induktor adalah piranti-piranti
dinamis dan rangkaian yang mengandung piranti-piranti jenis ini kita sebut
rangkaian dinamis. Piranti dinamis mempunyai kemampuan untuk menyimpan
energi dan melepaskan energy yang telah disimpan sebelumnya. Hal demikian tidak
terjadi pada resistor, yang hanya dapat menyerap energi. Oleh karena itu, pada
waktu terjadi operasi penutupan ataupun pemutusan rangkaian, perilaku rangkaian
yang mengandung kapasitor maupun induktor berbeda dengan rangkaian yang
hanyamengandung resistor saja
Karena hubungan antara arus dan tegangan pada induktor maupun kapasitor
merupakan hubungan linier diferensial, maka persamaan rangkaian yang
mengandung elemen-elemen ini juga merupakan persamaan diferensial. Persamaan
diferensial ini dapat berupa persamaan diferensial orde-1 dan rangkaian yang
demikian ini

disebut rangkaian atau sistem orde-1. Jika persamaan rangkaian

berbentuk persamaan diferensial orde-2 maka rangkaian ini disebut rangkaian atau
sistem orde-2 maka rangkaian ini disebut rangkaian atau sistem orde-2.
2.2. TEGANGAN DIP (SAG)
Voltage sag atau yang sering juga disebut sebagai voltage dipmerupakan
suatu fenomena penurunan tegangan rms dari nilai nominalnya yang terjadi dalam
waktu yang singkat, sekitar 10 ms sampai beberapa detik. IEC 61000-4-30
mendefinisikanvoltage sag (dip) sebagai penurunan besar tegangan sementara pada
titik di bawah nilai threshold-nya. IEEE Standard 1159-1995 mendefinisikan
voltage sag sebagai variasi tegangan rms dengan besar antara 10% sampai 90% dari
tegangan nominal dan berlangsung selama 0,5 siklus sampai satu menit. Gambar

2.1 menunjukkan gelombang tegangan saat terjadi voltage sag dengan besar 0,3 pu
dan berlangsung selama 0,3 detik.

Gambar 2.1 contoh bentuk gelombang saat terjadivoltage sag

2.2.1. Karakteristik Voltage sag


Karakteristik dari voltage sag dapat dilihat pada Gambar 2.2 berikut untuk
gelombang tegangan yang ideal (sinusoidal murni, tanpa harmonik)

Gambar 2.2 karakteristik voltage sag


Dari gambar 2.2, dapat terlihat bahwa ada tiga karakteristik utamavoltage sag,
yaitu:
5

Besarnya voltage sag (Ar Ad)


Perubahan fasa (phase angle jump) terhadap tegangan referensi
Titik pada gelombang dimana sag mulai muncul
Voltage sag dicirikan dengan besarnya sag (tegangan saat terjadifault) dan
durasinya. Besarnya sag ditentukan oleh jarak terjadinya fault dan durasinya
bergantung pada waktu penghilangan fault.
Sag magnitude
Merupakan tegangan rms total saal fault terjadi, yang dinyatakan dalam persen
atau dalam nilai per-unit dari tegangan nominalnya.
Sag Duration
Durasi sag merupakan waktu saat tegangan menjadi rendah, biasanya kurang dari
1 detik. Durasi sag bergantung pada peralatan proteksi arus lebih dan seberapa
lama arus faultdiperbolehkan untuk mengalir. Ada banyak jenis peralatan yang
digunakan untuk menghilangkan fault dan masing-masing menpunyai waktu
absolut minimum untuk menghilangkan fault.

Phase angle jump


Fault yang terjadi pada sistem tenaga listrik tidak hanya menyebabkan turunnya
besar

tegangan,

tapi

juga

menyebabkan

perubahan

pada

sudut

fasa

tegangan. Phase angle jump (yaitu perbedaan sudut fasa selama terjadi sag dan
sebelum terjadi sag) dapat dihitung dari nilai tegangan kompleks Vsag.
2.2.2. Faktor Penyebab Munculnya Voltage sag
Secara umum, ada dua penyebab terjadinya sag tegangan, yaitu yang
dikarenakan oleh adanya kegagalan (fault) dalam sistem dan penyalaan motor
induksi berdaya besar Motor induksi umumnya mengkonsumsi 5 sampai 6 kali
arus ratingnya pada saat start dan arus ini akan menurun secara bertahap seiring
dengan pertambahan kecepatan motor sampai pada kecepatan ratingnya. Durasi
dari sag bergantung pada dinamika motor dan dinamika motor tersebut ditentukan
oleh parameternya, khususnya inersia motor. Pada kasus voltage sag karena

penyalaan motor yang besar, sag yang terjadi biasanya tidak terlalu signifikan tapi
berlangsung dalam waktu yang relatif lama.
Kegagalan yang terjadi pada saluran transmisi dan distribusi yang
biasanya

menjadi

sumber

terjadinya sag adalah singe-line-to-ground (SLG)

dan line-to-line (L-L) fault. SLG fault sering disebabkan karena kondisi cuaca
yang buruk seperti karena petir, salju/es dan angin. Aktivitas binatang dan juga
manusia seperti konstruksi juga dapat menyebabkan SLG fault. L-L faultdapat
terjadi

akibat

cuaca

buruk,

ranting

pohon

binatang. Fault pada feeder paralel

menyebabkan

substation yang

mempengaruhi

akan

maupun

tegangan

jatuh

karena
pada bus

semua feederlainnya

sampai fault dihilangkan.

Gambar 2.3 terjadinya voltage sag akibat fault

2.3. SWELL
Voltage swell merupakan suatu fenomena kenaikan tegangan rms dari nilai
nominalnya yang terjadi dalam waktu yang singkat, sekitar 10 ms sampai beberapa
detik. IEC 61000-4-30 mendefinisikan voltage swell sebagai kenaikan besar
tegangan sementara pada titik diatas nilai threshold-nya. Sedangkan berdasarkan
IEEE Standard 1159-1995, voltage swell merupakan variasi tegangan rms dengan
besar antara 110% sampai 180% dari tegangan nominal dan berlangsung selama 0,5
siklus sampai satu menit. Gambar berikut menunjukkan gelombang tegangan saat
terjadi voltage swell dengan besar 1.2 pu dan berlangsung selama 0,12 detik.

Gambar 2.4. Contoh Bentuk Gelombang Saat Terjadi Voltage swell


2.3.1. Karakteristik Voltage swell
Karakteristik dari voltage swell dapat dilihat pada Gambar 3 untuk
gelombang tegangan yang ideal (sinusoidal murni, tanpa harmonik)

Gambar 2.5. Karakteristik Voltage swell


Voltage swell dicirikan dengan besarnya swell (tegangan saat terjadi fault) dan
durasinya. Besarnya swell ditentukan oleh jarak terjadinya fault dan durasinya
bergantung pada waktu penghilangan fault.

Swell magnitude
Merupakan tegangan rms total saal fault terjadi, yang dinyatakan dalam
persen atau dalam nilai per-unit dari tegangan nominalnya.

Swell Duration
Durasi swell merupakan waktu saat tegangan menjadi tinggi, biasanya
kurang dari 1 detik. Durasi swell bergantung pada peralatan proteksi arus lebih

dan seberapa lama arus faultdiperbolehkan untuk mengalir. Ada banyak jenis
peralatan yang digunakan untuk menghilangkan fault dan masing-masing
mempunyai waktu absolut minimum untuk menghilangkan fault.

Phase angle jump


Fault yang terjadi pada sistem tenaga listrik tidak hanya menyebabkan
turunnya besar tegangan, tapi juga menyebabkan perubahan pada sudut fasa
tegangan. Phase angle jump (yaitu perbedaan sudut fasa selama terjadi swell dan
sebelum terjadiswell) dapat dihitung dari nilai tegangan kompleks Vswell.

2.3.2. Model Matematis untuk Menghitung Voltage swell


Berdasarkan referensi yang didapat, ada dua model matematika yang
digunakan untuk menghitung besarnya voltage swell, model pertama yang
mengabaikan besarnya arus beban, dan model kedua yang memperhitungkan arus
beban.
Model pertama : arus beban diabaikan
Besarnya voltage swell dapat dinyatakan dalam model pembagian
tegangan (voltage divider) sebagaimana yang tergambar pada gambar berikut:

Gambar 2.6. Model Pembagian Tegangan Saat Terjadi Voltage swell


Dengan

mengabaikan

arus

Vswell, dapat dinyatakan sebagai:

beban,

tegangan swell,

Dimana Zs merepresentasikan impedansi sumber pada point of common


coupling (PCC) dan Zf merepresentasikan impedansi diantara PCC sampai ke
lokasi terjadinya fault. Pada titik terjadinya fault, tegangan bernilai mendekati nol.
Oleh karena itu, impedansi Zs dan Zf menentukan besarnya voltage swell,
sedangkan

durasi

terjadinya voltage

swell ditentukan

oleh

waktu

penghilangan fault alat proteksi. Dari persamaan di atas, terlihat bahwa


jika fault terjadi di dekat PCC, akan menyebabkan voltage swell yang terjadi
semakin dalam.
Model kedua : Memperhitungkan arus beban
Dengan memperhatikan Gambar 2.7, pada kondisi normal (tidak
terjadi fault), arus yang mengalir menuju beban A dan beban B bernilai sama
(beban seimbang). Ketika terjadi fault pada feeder 1, arus yang sangat besar akan
mengalir menuju feeder 1. Sehingga, berdasarkan pada hukum Kirchhoff, aliran
arus menujufeeder 2 akan berkurang. Sebagai akibatnya, tegangan padafeeder 2
juga akan turun. Penurunan tegangan ini kemudian didefinisikan sebagai voltage
swell.

Gambar 2.7. Perhitungan Voltage swell


Jika diasumsikan:
Beban A

= ZLOAD_A

Beban B

2.4. UNDER VOLTAGE

10

Sebelum mengatasi tegangan listrik yang turun naik atau tidak stabil, ada
baiknya kita mengetahui kenapa listrik ditempat kita selalu naik turun pada waktuwaktu tertentu. Dalam terminologi power quality, under voltage dikategorikan
sebagai fenomena long duration voltage variation. Under voltage biasanya terjadi
dalam kurun waktu diatas 1 menit.
Menurut IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers), penurunan
tegangan biasanya berkisar menjadi 80% hingga 90% dari nominal voltagenya.
Pada intinya, under voltage dihasilkan oleh adanya low distribution voltage yang
digunakan untuk men-supply beban-beban yang berarus tinggi (heavy load). Under
voltage juga dapat ditimbulkan oleh adanya proses switching off dari capasitor
bank.
Secara umum, jika sumber listrik berasal dari Perusahaan Listrik Negara (PLN),
biasanya terjadi pada waktu petang sampai malam hari sekitar jam 10 malam atau
beban puncak. Kemudian dilihat lagi, apakah Anda berada pada daerah industri atau
daerah perumahan. Beban puncak pada petang sampai malam hari terjadi untuk
area perumahan, akan tetapi mungkin akan berbeda pada daerah industri, karena
industri justru menggunakan daya penuh pada waktu jam kerja.
Penyebab lainnya biasanya jarak trafo distribusi PLN ketempat konsumen
cukup

jauh,

sehingga

berpengaruh

pada

tegangan

listrik.

Meski tergolong sebagai hal biasa atau sering dialami, fenomena ini tentu tak dapat
dianggap

remeh.

Apalagi under

voltage dapat

mengakibatkan overheat,

malfunction hingga premature fail (kerusakan dini).


Beberapa perangkat yang sering menjadi sasaran adalah perangkatperangkat yang menggunakan motor seperti kulkas (refrigerators), dryers, dan
AC (air conditioners). Sementara untuk perangkat-perangkat perangkat yang
menggunakanbattery charging seperti UPS dapat mengalami kegagalan pengisian.

2.4.1. Cara untuk menanggulangi under voltage.

11

Bila Anda

sering

mengalaminya,

tidak

ada

salahnya

mencoba

mengatasinya. Terutama bila Anda tidak menginginkan peralatan listrik di rumah


Anda cepat rusak. Beberapa solusi yang biasanya dilakukan untuk menanggulangi
under voltage.
Kurangi

impedansi

dari

sistem

kelistrikan,

misalnya

dengan

menaikkan size transformer, mengurangi panjang kabel, ataupun memperbesar


luas

penampang

kabel.

Lakukan voltage improvement, misalnya dengan melakukan adjustment pada tap


setting trafo, atau menambahkan voltage regulator atau automatic on load tap
chargers.
Kurangi kebutuhan arus, misalnya dengan melakukan reloading atau
pengkoneksian ulang ke substation lain sehingga kebutuhan arus di jalur tersebut
dapat dikurangi. Dapat juga dengan memasang shunt capasitor atau VAR
compensator. Beberapa cara lain untuk mengurangi kebutuhan arus adalah dengan
menaikkan tegangan ke level yang lebih tinggi.
Disarankan juga, memasang stabilizer listrik pada instalasi listrik di rumah
atau kantor Anda. Stabilizer listrik biasa juga disebut Stavol Stabilizer Voltage
atau Avr Automatic Voltage Regulator berfungsi untuk menstabilkan tegangan
arus listrik yang tidak stabil atau selalu naik turun. Gunakanlah stabilizer listrik
yang baik mutunya.
2.5. OVER VOLTAGE

Yaitu tegangan listrik naik dalam waktu sesaat sampai dengan di atas
110% dari tegangan normal. Yah kalau di Indonesia tegangan normalnya 220
Vac .. Sedangkan spike merupakan kejadian dimana tegangan listrik naik begitu
cepat dalam sesaat sehingga dapat mencapai 5KV-60 KV. Penyebabnya biasanya

12

pada saat kita mematikan beban yang berat atau bisa juga jaringan listrik terkena
petir. Gangguan ini dapat menyebabkan kerusakan pada hardware.
2.6.

INTERUPTION
Interupsi Tegangan adalah suatu fenomena kelistrikan di mana terjadi
pemadaman atau hilangnya catu daya selama beberapa saat pada suatu sistem
listrik.

2.6.1. Penyebab Interuption


Interupsi tegangan atau voltage interruption sering ditimbulkan dari
gangguan seperti :

Sambaran petir.
Gangguan pada jalur distribusi listrik seperti fault transmition.
Terjadinya short circuit pada jalur distribusi.
Kesalahan operasi kendali (control malfunction).
Kangguan pohon yang mengenai kawat bertegangan.
Perubahan beban yang cukup besar secara tiba-tiba dll.

2.6.2. Proses Terjadinya Interuption


Interruption terdeteksi ketika magnitude tegangan kurang dari 10% dari
tegangan nominal. Pada beberapa kasus, interruption bisa di dahului oleh voltage
sag jika terjadi gangguan pada sumber. Voltage sag terjadi di antara waktu
terjadinya gangguan sampai peralatan proteksi bekerja. Itu mengakibatkan pada
sisi beban akan mengalami voltage sag dan langsung diikuti interruption. Secara
umum, ada dua penyebab terjadinya sag tegangan, yaitu yang dikarenakan oleh
adanya kegagalan (fault) dalam sistem dan penyalaan motor induksi berdaya
besar. Motor induksi umumnya mengkonsumsi 5 sampai 6 kali arus ratingnya
pada saat start dan arus ini akan menurun secara bertahap seiring dengan
pertambahan kecepatan motor sampai pada kecepatan ratingnya. Durasi dari sag
bergantung pada dinamika motor dan dinamika motor tersebut ditentukan oleh
parameternya, khususnya inersia motor. Pada kasus voltage sag karena
13

penyalaan motor yang besar, sag yang terjadi biasanya tidak terlalu signifikan
tapi berlangsung dalam waktu yang relatif lama. Kegagalan yang terjadi pada
saluran transmisi dan distribusi yang biasanya menjadi sumber terjadinya sag
adalah singe-line-to-ground (SLG) dan line-to-line (L-L) fault. SLG fault sering
disebabkan karena kondisi cuaca yang buruk seperti karena petir, salju/es dan
angin. Aktivitas binatang dan juga manusia seperti konstruksi juga dapat
menyebabkan SLG fault. L-L fault dapat terjadi akibat cuaca buruk, ranting
pohon maupun karena binatang. Fault pada feeder paralel menyebabkan
tegangan jatuh pada bus substation yang akan mempengaruhi semua feeder
lainnya sampai fault dihilangkan.
2.7.

HARMONISA
Harmonisa adalah distorsi periodik dari gelombang sinus tegangan, arus
atau daya dengan bentuk gelombang yang frekuensinya merupakan kelipatan di
luar bilangan satu terhadap frekuensi fundamental (frekuensi 50 Hz atau 60 Hz).
Nilai frekuensi dari gelombang harmonisa yang terbentuk merupakan hasil kali
antara frekuensi fundamental dengan bilangan harmonisanya (f, 2f, 3f, dst).
Bentuk gelombang yang terdistorsi merupakan penjumlahan dari gelombang
fundamental dan gelombang harmonisa (h1, h2, dan seterusnya) pada frekuensi
kelipatannya. Semakin banyak gelombang harmonisa yang diikutsertakan pada
gelombang fundamentalnya, maka gelombang akan semakin mendekati
gelombang persegi atau gelombang akan berbentuk non sinusoidal.
Beban Linier
Beban linier adalah beban yang memberikan bentuk gelombang keluaran
yang linier artinya arus yang mengalir sebanding dengan impedensi dan
perubahan tegangan. Beban linier ini tidak memberikan dampak yang buruk pada
perubahan gelombang arus maupun tegangan. Resistor (R) merupakan beban
linier tersebut.
Beban non-linier[sunting | sunting sumber]
Beban non linier adalah bentuk gelombang keluarannya tidak sebanding dengan
tegangan dalam setiap setengan siklus sehingga bentuk gelombang arus maupun
tegangan keluarannya tidak sama dengan gelombang masukannya (mengalami

14

distorsi). Gangguan yang terjadi akibat distorsi gelombang arus dan tegangan
disebut dengan harmonik. Contoh dari beban-beban non-linear ini seperti:
Tungku api busur (pengecoran logam)
Las
Inti magnet pada trafo dan mesin-mesin berputar
Mesin-mesin sinkron
Adjustable speed drives
Solid state switch
High voltage DC transmisi
Photovoltaik invertors
2.7.1. Total Harmonic Distortion
Total Harmonic Distortion (THD) merupakan nilai prosentase antara total
komponen harmonisa dengan komponen fundamentalnya. Semakin besar
prosentase THD ini menyebabkan semakin besarnya risiko kerusakan peralatan
akibat harmonisa yang terjadi pada arus maupun tegangan. Nilai THD yang
diijinkan secara internasional maksimal berkisar 5% dari tegangan atau arus
frekuensi fundamentalnya. Untuk mencari nilai THD dari tegangan dapat
digunakan persamaan:
Monitoring
Alat yang bisa digunakan untuk memantau gelombang harmonisa antara
lain Osiloskop dan Spektrum analyzer. Oscilloscope memantau adanya arus
maupun tegangan harmonisa secara menyamping, sedangkan spektrum analyzer
memantau arus maupun tegangan harmonisa dari depan sehingga gelombang
dengan frekuensi yang lebih tinggi dari gelombang fundamental bisa dipantau.
2.7.2. Penyebab Harmonisa
Penyebab terjadinya gelombang harmonisa ini adalah penggunaan bebanbeban non linier pada sistem tenaga yang menimbulkan distorsi pada bentuk
gelombang sinus. Beban non-linier ini dimodelkan sebagai sumber arus yang
menginjeksikan arus harmonisa ke dalam sistem tenaga.
Semakin banyak peralatan elektronika yang digunakan seperti: tv,
komputer, dan alat penghemat daya akan semakin menambah harmonisa pada arus
listrik, sehingga THD yang dihasilkan akan semakin besar.
Akibat[sunting | sunting sumber]
Akibat yang ditimbulkan pada peralatan jika terdapat arus atau tegangan
harmonisa antara lain:
15

Rusaknya peralatan listrik


Terbakarnya kabel / konduktor penghantar
Pada transformator daya menurun, bertambahnya losses
Pada motor listrik terjadi overheat
Pada alat ukur kWH meter elektromekanis terjadi kesalahan pengukuran
Kegagalan fungsi relay
Cara yang dapat ditempuh agar arus atau tegangan harmonisa dapat
diminimalisir antara lain dengan pemasangan:

Filter pasif L

Filter pasif C

Filter pasif LC (Low Pass Filter)


2.8. FLIKER
Flicker adalah fenomena distorsi pada amplitudo gelombang tegangan
secara berulang.
Kejadian Voltage sag bisa bersumber pada instalasi sendiri, yaitu instalasi di
pelanggan. Misalnya:
1.
Masuknya beban besar ke jaringan
2.
Cacat pada sambungan penghantar
3.
Terjadinya hubung singkat di tempat lain pada instalasi sendiri.
Voltage sag juga bisa bersumber pada jaringan pemasok energy (PLN), misalnya:
1.
Beroperasinya recloser
2.
Beroperasinya Voltage Regulator
1) Masuknya beban besar ke jaringan
Salah satu beban besar yang dapat menyebabkan penurunan tegangan
(voltage sag) pada jaringan distribusi adalah motor, karena arus asut (Istart) motor
bisa mencapai nilai yang sangat tinggi. Pemanas resistif: Resistivitas logam
meningkat dengan meningkatnya temperatur. Pemanas resistif pada waktu start
(masih dingin) bisa menarik arus 1,5 kali arus setelah pemanas menjadi panas.
2) Cacat pada sambungan penghantar
Sambungan-sambungan penghantar yang longgar dapat mempertinggi impedansi
saluran. Peningkatan impedansi ini memperbesar tegangan jatuh pada saluran
yang berarti memperbesar terjadinya voltage sag.
3) Terjadinya hubung singkat di tempat lain pada instalasi sendiri
Untuk melokalisasi kejadian hubung-singkat digunakan fuse. Arus besar
pada waktu terjadi hubung singkat akan melelehkan kawat fuse yang kemudian
memutuskan beban. Namun ada selang waktu antara saat hubung singkat terjadi
dan saat terputusnya kawatfuse. Dalam selang waktu tersebut terjadi penurunan
tegangan.
4) Beroperasinya recloser

16

Beroperasinya recloser menyebabkan adanya selang waktu saat terbuka


dan tertutupnya saklar otomatis untuk melokasir gangguang distribusi. Dalam
selang waktu tersebut terjadi penurunan tegangan (selama 1 s.d 5 detik).
5) Beroperasinya Voltage Regulator
Jaringan pemasok energi dilengkapi dengan peralatan yang secara
otomatis melakukan penyesuaian tegangan. Peralatan otomatis ini mungkin
berupa power factor correction capacitors, mungkin juga tap switching
transformers. Apabila terjadi kegagalan operasi peralatan ini, voltage sag akan
terjadi.
Voltage sag dapat menyebabkan kegagalan peralatan. Satu hal yang pasti adalah
bahwa voltage sag akan mengakibatkan menurunnya pasokan daya karena daya
berbanding lurus dengan kuadrat tegangan. Apabila tegangan turun 10%, maka
aliran daya hanya tinggal sekitar 80% dari semula. Penurunan daya pada waktu
terjadi voltage sag juga dialami oleh beban-beban sensitif. Catu daya beban
sensitif (komputer dll) diberikan melalui tegangan searah yang dihasilkan oleh
penyearahan tegangan bolak-balik.
2.9. HARMONISA TRIPLEN
Harmonik ketiga adalah gelombang dengan frekuensi sebesar 180 Hz dan
seterusnya. Gelombang-gelombang ini kemudian menumpang pada gelombang
murni/aslinya sehingga terbentuk gelombang cacad yang merupakan jumlah antara
gelombang murni sesaat dengan gelombang hormoniknya. Bentuk dan besaran
harmonik dapat digambarkan pada gambar serta tabel berikut :

17

Gambar 2.8 Gelombang harmonik

Tabel 1.

Dalam sistem tenaga listrik dikenal dua jenis beban yaitu beban linier dan
beban non linier. Beban linier adalah beban yang memberikan bentuk gelombang
keluaran yang linier artinya arus yang mengalir sebanding dengan impedensi dan
perubahan tegangan. Sedangkan beban non linier adalah bentuk gelombang
keluarannya tidak sebanding dengan tegangan dalam setiap setengah siklus
sehingga bentuk gelombang arus maupun tegangan keluarannya tidak sama dengan
gelombang masukannya (mengalami distorsi). Perbedaaan antara beban linear dan
tidak linear dapat digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.9 Perbedaaan gelombang antara beban linear dan tidak linear
Beban non linier yang umumnya merupakan peralatan elektronik yang
didalamnya banyak terdapat komponen semi konduktor, dalam proses kerjanya
18

berlaku sebagai saklar yang bekerja pada setiap siklus gelombang dari sumber
tegangan. Proses kerja ini akan menghasilkan gangguan atau distorsi gelombang
arus yang tidak sinusoidal. Bentuk gelombang ini tidak menentu dan dapat berubah
menurut pengaturan pada parameter komponen semi konduktor dalam peralatan
elektronik. Perubahan bentuk gelombang ini tidak terkait dengan sumber
tegangannya. Beberapa peralatan yang dapat menyebabkan timbulnya harmonik
antara lain komputer, printer, lampu fluorescent yang menggunakan elektronik
ballast, kendali kecepatan motor, motor induksi, batere charger, proses
eletroplating, dll. Peralatan ini dirancang untuk menggunakan arus listrik secara
hemat dan efisien karena arus listrik hanya dapat melalui komponen semi
konduktornya selama periode pengaturan yang telah ditentukan. Namun disisi lain
hal ini akan menyebabkan gelombang mengalami gangguan gelombang arus dan
tegangan yang pada akhirnya akan kembali ke bagian lain sistem tenaga listrik.
Penomena ini akan menimbulkan gangguan beban tidak linier satu phase. Hal di
atas

banyak

terjadi

pada

distribusi

yang

memasok

pada

areal

perkantoran/komersial. Sedangkan pada areal perindustrian gangguan yang terjadi


adalah beban non linier tiga phase yang disebabkan oleh motor listrik, kontrol
kecepatan motor, batere charger, electroplating, dapur busur listrik, dll.
Setiap komponen sistem distribusi dapat dipengaruhi oleh harmonik
walaupun dengan akibat yang berbeda. Namun demikian komponen tersebut akan
mengalami penurunan kinerja dan bahkan akan mengalami kerusakan. Salah satu
dampak yang umum dari gangguan harmonik adalah panas lebih pada kawat netral
dan transformator sebagai akibat timbulnya harmonik ketiga yang dibangkitkan
oleh peralatan listrik satu phase. Pada keadaan normal, arus beban setiap phase dari
beban linier yang seimbang pada frekuensi dasarnya akan saling mengurangi
sehingga arus netralnya menjadi nol. Sebaliknya beban tidak linier satu phase akan
menimbulkan harmonik kelipatan tiga ganjil yang disebut triplen harmonik
(harmonik ke-3, ke-9, ke-15 dan seterusnya) yang sering disebut zero sequence
harmonik. Harmonik ini tidak menghilangkan arus netral tetapi dapat menghasilkan
arus netral yang lebih tinggi dari arus phase. Seperti terlihat pada tabel 1, Harmonik
pertama urutan polaritasnya adalah positif, harmonik kedua urutan polaritasnya
adalah negatif dan harmonik ketiga urutan polaritasnya adalah nol, harmonik
keempat adalah positif (berulang berurutan sampai seterusnya).
19

Persamaan ini menunjukkan bahwa flux magnitude sebanding proporsional


dengan tegangan harmonik dan berbanding terbalik dengan urutan dari harmonik.
Dalam kebanyakan system tenaga, harmonic distorsi dari tegangan system THD
adalah baik jika dibawah 5 % dan magnitude dari komponen tegangan harmonic
lebih kecil dibandingkan dengan komponen fundamentalnya (berkisar pada level 23%). Ini ditentukan oleh impendasi internal yang rendah dari supply system yang
membawa harmonik. Sehingga, no load losses tidak hanya dipengaruhi oleh
komponen tegangan fundamental, tetapi juga oleh tagangan harmonik yang ada.
Pengaruh dari Arus harmonik :
Dalam system tenaga, keberadaan arus harmonik lebih signifikan.
Komponen arus harmonic dapat menyebabkan rugi-rugi dalam belitan dan bagianbagian yang lain.
Pdc Losses
Jika nilai rms dari arus beban naik yang disebabkan oleh adanya komponen
harmonic, maka rugi-rugi tersebut akan naik sebanding dengan kuadrat dari arus.
Rugi-rugi belitan Eddy
Secara konvensional, rugi-rugi arus eddy ditimbulkan oleh flux
elektromagnetik yang diasumsikan berubah-ubah sesuai dengan kuadrat dari arus
rms dan kuadrat dari frekuensi tingkatan harmonik. Sesungguhnya, berdasarkan
skin effect, flux elektromagnetik tidak secara total mempengaruhi rangkaian dalam
belitan pada frekuensi yang tinggi.
Kenaikan dari rugi-rugi arus eddy dihasilkan oleh arus beban yang non
sinusoidal dan dapat menyebabkan rugi belitan yang berlebih dan kenaikan
temperature yang tidak normal. Karena itu pengaruh dari arus harmonik sangat
penting, tidak hanya karena diasumsikan tingkatan dari kuadrat harmonik tetapi
juga disebabkan oleh kehadiran arus harmonik yang relatif besar dalam system
tenaga.
Rugi-rugi lainnya
Rugi-rugi lainnya terjadi karena adanya stray flux sebagai akibat adanya
losses di inti, clamps, tangki dan bagian besi lainnya. Stray losses akan menaikkan
temperatur dari bagian-bagian struktural. Untuk trafo yang berisi minyak, stray
losses diasumsikan dengan kuadrat dari arus rms dan frekuensi harmonik dengan
power factor 0,8.
Kenaikan temperatur
Semua pengaruh dari arus harmonic seperti yang telah dibicarakan diatas dapat
menaikkan rugi pada trafo. Kenaikan rugi-rugi ini dikarenakan adanya kenaikan

20

temperatur trafo dari nilai sinusiodalnya. Sehingga, kenaikan rugi-rugi yang


disebabkan oleh spektrum arus harmonic harus dipikirkan.
Faktor rugi harmonik dapat digunakan untuk memprediksi rugi-rugi eddy.
Ini sangat penting pada waktu perhitungan kenaikan temperatur, dimana faktornya
dibatasi oleh beban trafo. Faktor rugi-rugi harmonic adalah indicator kunci dari
pengaruh arus harmonik pada rugi-rugi belitan eddy.
2.10. VARIASI FREKUENSI
Sumber-sumber gangguan seperti tegangan transien sering terjadi namun
tidak dapat dirasakan secara langsung. Gangguan ini akan dirasakan setelah sekian
lama terjadi. Efeknya adalah kerusakan pada peralatan listrik. Tegangan transien ini
biasanya dihasilkan oleh instalansi-instalansi yang menggunakan peralatan listrik
besar seperti rumah sakit, pabrik-pabrik,motor listrik pada elevator dan lain
sebagainya.
Selain gangguan diatas gangguan listrik lain yang sering terjadi dan dapat diamati
adalah berkedipnya lampu penerangan. Hal ini menandakan terjadinya fluktuasi
tegangan listrik.Walaupun gangguan listrik seperti ini biasanya terjadi dalam
beberapa milidetik saja tetapi permasalahan gangguan seperti ini kalau tidak
ditangani dengan serius dapat juga menyebabkan kerusakan pada peraltan listrik
konsumen seperti televisi bahkan komputer.
Terhadap permasalahan-permasalahan di atas sebagai pengguna tenaga
listrik tidak dapat berbuat apapun untuk menanganinya dan hanya yakin kepada
instansi yang terkait bahwa tenaga listrik yang dihasilkan merupakan tegangan
listrik yang stabil, tidak terdapat noise, dengan frekuensi yang tepat pula.
Pada dasarnya gangguan listrik dikategorikan dalam 5 golongan, yaitu :
Total loss of line.
Gangguan ini terjadi dalam jangka waktu yang relatif lama. Gangguan ini
biasanya terjadi karena putusnya jalur pada trasnmisi listrik baik tegangan tinggi,
menengah maupun rendah. Gangguan ini menyebabkan peralatan listrik tidak
mendapat suplai tegangan listrik dan mata manusia dapat melihat gangguan
ini. Gangguan semacam ini jarang mengakibatkan kerusakan pada peralatan listrik.
Kekurangan/kelebihan tegangan tenaga listrik.

21

Gangguan ini menyebabkan berbagai peralatn listrik dengan rangkaian


power supplai sederhana tidak dapat bekerja, bahkan dapat menyebabkan rangkaian
power suppli rusak. Gangguan ini dapat diamati dengan jalan mengukur tegangan
listrik dengan AC voltmeter dan masih dapat diamati dengan mata manusia yaitu
yang paling mudah diamati adalah nyala lampu bolam menjadi lebih redup atau
lebih terang daripada biasanya.
Variasi/fluktuasi tegangan listrik
Gangguan ini biasanya terjadi pada waktu yang singkat. Penyebabnya
adalah

perubahan

beban

listrik

secara

tiba-tiba

pada

jaringan

tenaga

listrik.Gangguan in tidak dapat dilihat dengan mata karena terjadinya cukup cepat
dan hanya beberapa saat saja. Walaupun dengan voltmeter konvesional sekalipun
gangguan ini tidak dapat dideteksi.
Tegangan spike atau tegangan transien.
Tegangan spike pada dasarnya hampir sama dengan fluktuasi tegangan
namun tegangan flutuasinya sangat cepat dan terdapat tegangan puncak yang sangat
tinggi tetapi singkat.
Gabungan gangguan dari salah satu atau keempat gangguan di atas.

Gambar 2 gelombang tegangan yang mengalami ganggauan


Gangguan Pada Jalur Listrik
22

Walaupun gangguan-gangguan yang tidak dapat dilihat oleh mata ini dapat
membawa masalah bagi peralatan listrik namun yang penting adalah : jika
terjadinya gangguan listrik baik yang dapat dideteksi atau tidak dan gangguan
tersebut tidak menyebabkan kerusakan pada saat itu maka gangguan listrik tersebut
tidak tidak mempengaruhi kerja perlatan listrik yang ada. Jadi tidak semua
gangguan listrik akan menyebabkan kerusakan pada peralatan listrik.
Deteksi Gangguan Listrik
Gangguan listrik yang terjadinya sangat cepat tentunya tidak dapat diamati
oleh mata manusia.Oleh sebab itu diperlukan peralatan khusus untuk mengamati
gangguan tersebut. Selain itu titik pengecekannya juga tidak sembarangan tetapi
pada lokasi-lokasi tertentu yang dianggap sumber dari gangguan listrik
tersebut. Hal ini biasanya harus diperhatikan jika gangguan terjadi pada jalur 3 fasa.
Peralatan yang biasanya digunakan adalah :

Chart recorder,
Relatif murah bila dibandingkan dengan harganya namun responnya
terhadap

fluktuasi

tegangan

atau

tegangan

transien

tidak

cukup

baik. Keuntungannnya adalah dapat menghasilkan record yang dapat disimpan.

Osiloskop,
Relatif mahal namun mempunyai respon yang sangat cepat dalam
mendeteksi fluktuasi tegangan atau tegangan transien. Bahkan noise pada jalur
listrik

dengan

frekuensi

tinggi. Tetapi

osiloskop

tidak

menghasilkan

suatu record seperti halnya chart recorder.Kelemahan lainnya adalah jika terjadi
gangguan dibanyak tempat maka diperlukan beberapa teknisi untuk selalu
mengamati layar osiloskop, chart recorder tidak seperti ini, cukup dipasang dan
ditinggal maka alat ini sudah bisa bekerja.

Power Line Monitor.


Ini merupakan perlatan yang paling ideal karena murah, mempunyai respon
yang cukup cepat dan dapat membunyikan alarm jika terjadi gangguan sesuai
dengan apa yang telah diprogramkan pada power line monitor. Pada power line
monitor yang cukup canggih dapat mendeteksi perubahan frekuensi maupun
tegangan transien yang mempunyai frekuensi sangat tinggi bahkan ada yang
dilengkapi dengan pencatat (recorder).

23

Ketiga peralatan tersebut di atas mempunyai keuntungan dan kerugian


masing-masing tetapi yang paling baik performanya adalah power line monitor.

2.11. DERAU (NOISE)


Derau atau yang biasa disebut noise adalah suatu sinyal gangguan yang
bersifat akustik (suara), elektris, maupun elektronis yang hadir dalam suatu sistem
(rangkaian listrik/elektronika) dalam bentuk gangguan yang bukan merupakan
sinyal yang diinginkan.
Sumber derau dapat dikelompokkan dalam tiga kategori:
1. Sumber derau intrinsic yang muncul dari fluktuasi acak di dalam suatu
sistemfisik seperti thermal dan shot noise.
2. Sumber derau buatan manusia seperti motor, switch, elektronika digital.
3. Derau karena gangguan alamiah seperti petir dan bintik matahari
Jenis Derau
Correlated noise: hubungan antara sinyal dan noise masuk dalam kategori ini.
Karena itu, correlated noise hanya muncul saat ada sinyal.
Uncorrelated noise: noise yang dapat muncul kapanpun, saat terdapat sinyal
maupun tidak ada sinyal. Uncorrelated noise muncul tanpa memperhatikan adanya
sinyal atau tidak. Noise dalam kategori ini dapat dibagi lagi menjadi dua kategori
umum, yaitu :
1. Eksternal Noise: Adalah noise yang dihasilkan dari luar alat atau sirkuit. Noise
tidak disebabkan oleh komponen alat dalam sistem komunikasi tersebut. Ada 3
sumber utama noise eksternal:
a. Atmospheric noise: Gangguan elektris yang terjadi secara alami, disebabkan
oleh hal hal yang berkaitan dengan atmosfer bumi. Noise atmosfer biasanya
disebut juga static electricity. Noise jenis ini bersumber dari kondisi elektris yang
bersifat alami, seperti kilat dan halilintar. Static electricity berbentuk impuls yang
menyebar ke dalam energi sepanjang lebar frekuensi
b. Ekstraterrestrial noise: Noise ini terdiri dari sinyal elektris yang dihasilkan dari
luar

atmosfer

bumi.

Terkadang

disebut

juga

deep-space

noise.

Noise

ekstraterrestrialbisa disebabkan oleh Milky Way, galaksi yang lain, dan


matahari.Noise ini dibagi menjadi 2 kategori, yaitu solar dan cosmic noise:
1. Solar noise: Solar noise dihasilkan langsung dari panas matahari. Ada dua
bagian solar noise, yaitu saat kondisi dimana intensitas radiasi konstan dan tinggi,

24

gangguan muncul karena aktivitas sun-spot dan solar flare-ups. Besar gangguan
yang jarang terjadi ini (bersifat s

poradis) bergantung pada aktivitas sun spot mengikuti pola perputaran yang
berulang setiap 11 tahun.
2. Cosmic noise: Cosmic noise didistribusikan secara kontinu di sepanjang galaksi.
Intensitas noise cenderung kecil karena sumber noise galaksi terletak lebih jauh dari
matahari. Cosmic noise sering juga disebut black-body noise dan didistribusikan
secara merata di seluruh angkasa.
c. Man-made noise: Secara sederhana diartikan sebagai noise yang dihasilkan
manusia. Sumber utama dari noise ini adalah mekanisme spark-producing,
sepertikomutator dalam motor elektrik, sistem pembakaran kendaraan bermotor,
alternator, dan aktivitas peralihan alat oleh manusia (switching equipment).
Misalnya, setiap saat di rumah, penghuni sering mematikan dan menyalakan lampu
melalui saklar, otomatis arus listrik dapat tiba-tiba muncul atau terhenti. Tegangan
dan arus listrik berubah secara mendadak, perubahan ini memuat lebar frekuensi
yang cukup besar. Beberapa frekuensi itu memancar/menyebar dari saklar atau
listrik rumah, yang bertindak sebagai miniatur penghantar dan antena.
Noise karena aktivitas manusia ini disebut juga impulse noise, karena bersumber
dari aktivitas on/of yang bersifat mendadak. Spektrum noise cenderung besar dan
lebar frekuensi bisa sampai 10 MHz. Noise jenis ini lebih sering terjadi pada daerah
metropolitan dan area industri yang padat penduduknya, karena itu disebut juga
industrial noise.
2. Internal Noise:Internal noise juga menjadi faktor yang penting dalam sistem
komunikasi. Internal noise adalah gangguan elektris yang dihasilkan alat atau
sirkuit. Noise muncul berasal dari komponen alat dalam sistem komunikasi
bersangkutan. Ada 3 jenis utama noise yang dihasilkan secara internal, yaitu:
a. Thermal noise: Thermal noise berhubungan dengan perpindahan elektron yang
cepat dan acak dalam alat konduktor akibat digitasi thermal. Perpindahan yang
25

bersifat random ini pertama kali ditemukan oleh ahli tumbuh-tumbuhan, Robert
Brown, yang mengamati perpindahan partikel alami dalam penyerbukan biji padi.
Perpindahan random elektron pertama kali dikenal tahun 1927 oleh JB. Johnson di
Bell Telephone Laboratories. Johnson membuktikan bahwa kekuatan thermal noise
proporsional dengan bandwidth dan temperatur absolut.
Secara matematis, kekuatan noise adalah:
N = kekuatan noise (noise power)
K = Boltzmanns proportionality constant (1.38 10-23 joules per Kelvin)
T = Temperatur absolute
B = bandwidth
b. Shot noise: noise jenis ini muncul karena penyampaian sinyal yang tidak beraturan
pada keluaran (output) alat elektronik yang digunakan, seperti pada transistordua
kutub. Pada alat elektronik, jumlah partikel pembawa energi (elektron) yang
terbatas menghasilkan fluktuasi pada arus elektrik konduktor. Shot noise juga bisa
terjadi pada alat optik, akibat keterbatasan foton pada alat optik. Pada shot noise,
penyampaian sinyal tidak bergerak secara kontinu dan beraturan, tapi bergerak
berdasarkan garis edar yang acak. Karena itu, gangguan yang dihasilkan acak dan
berlapis pada sinyal yang ada. Ketika shot noise semakin kuat, suara yang
ditimbulkan noise ini mirip dengan butir logam yang jatuh di atas genteng timah.
Shot noise tidak berlaku pada kawat logam, karena hubungan antar elektron
pada kawat logam dapat menghilangkan fluktuasi acak. Shot noise disebut juga
transistor noise dan saling melengkapi dengan thermal noise.Penelitian shot noise
pertama kali dilakukan pada kutub positif dan kutub negatif tabung pesawat vakum
(vacuum-tube amplifier) dan dideskripsikan secara matematis oleh W. Schottky
tahun 1918.
c. Transit-time noise: Arus sinyal yang dibawa melintasi sistem masukan dan keluaran
pada alat elektronik, (misalnya dari penyampai (emitter) ke pengumpul (collector)
pada transistor) menghasilkan noise yang tidak beraturan dan bervariasi. Inilah
yang disebut dengan transit-time noise. Transit- time noise terjadi padafrekuensi
tinggi ketika sinyal bergerak melintasi semikonduktor dan membutuhkan waktu
yang cukup banyak untuk satu perputaran sinyal.
Transit time noise pada transistor ditentukan oleh mobilitasdata yang dibawa, bias
tegangan, dan konstruksi transistor. Jika perjalanan data tertunda dengan frekuensi
yang tinggi saat perlintasan semikonduktor, noise akan lebih banyak dibandingkan
dengan sinyal aslinya.

26

Efek Derau
Derau dapat memberikan efek gangguan pada sistem komunikasi dalam 3 area:
a) Derau menyebabkan pendengar tidak mengerti dengan sinyal asli yang
disampaikan atau bahkan tidak mengerti dengan seluruh sinyal
b) Derau dapat menyebabkan kegagalan dalam sistem penerimaan sinyal.
c) Derau juga mengakibatkan sistem yang tidak efisien
Tujuan sistem komunikasi adalah untuk mengirimkan data sebanyak mungkin
sesuai dengan waktu yang direncanakan, dengan menggunakan cukup bandwidth,
power, danchannel yang tersedia. Jika derau memberi efek gangguan pada sistem,
baik karena kesalahan pada sistem penerimaan sinyal maupun kegagalan sistem
(malafungsi), perancang dan pengguna sistem harus mengganti sistem tersebut.
Untuk mengatasi derau ini diperlukan filter untuk mengurangi gangguan derau
supaya sinyal yang dikirim tidak tertekan oleh derau. Namun, apapun cara yang
digunakan, sistem komunikasi menjadi tidak efisien karena membuang banyak
waktu dan tenaga untuk mengatasi derau.

BAB III
PENUTUP
3.1. KESIMPULAN

27

Dari penjabaran diatas maka dapat diambil kesimpulan tentang Masalah Power
quality adalah persoalan perubahan bentuk tegangan, arus atau frekuensi yang bisa
menyebabkan kegagalan atau misoperation peralatan, baik peralatan milik PLN maupun
milik konsumen; artinya masalah Power Quality bisa merugikan pelanggan maupun
PLN.
Suatu Sistem tenaga listrik dituntut dapat memenuhi syarat dasar kebutuhan
layanan (service requirement) kepada konsumennya yaitu :
1)
2)
3)
4)

Dapat memenuhi beban puncak


Memiliki deviasi tegangan dan frekuensi yang minimum.
Menjamin urutan phase yang benar.
Menjamin distorsi gelombang tegangan dan harmonik yang minimum dan bebas

dari surja tegangan.


5) Menjamin suplai sistem tegangan dalam keadaan setimbang.
6) Memberikan suplai daya dengan keandalan tinggi dengan prosentase waktu layanan
yang tinggi dimana sistem dapat melayani beban secara efektif.
Enam hal diatas dijadikan tolok ukur, apakah layanan yang diterima oleh
konsumen sudah baik atau belum.
Permasalahan Power Quality meliputi permasalahan-permasalahan seperti
Transient, Short-duration variation, Long-duration variation, Voltage Unbalance,
Waveform distortion, Voltage Fluctuation, Power Frequency variation
Parameter yang dipakai untuk menilai mutu listrik seperti Variasi tegangan,
Variasi frekwensi, Ketidak seimbangan, Harmonik
3.2. SARAN
Setelah menyusun makalah kualitas energi listrik perlunya pemasangan
Filter pasif L
Filter pasif C
Filter pasif LC (Low Pass Filter) Untuk meminimalisir harmonis
DAFTAR PUSTAKA
www.wikipedia bahasa Indonesia.com
www.listrik-listrik.blogspot.com

28