Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Islam merupakan agama yang syumul (sempurna), mengatur
segala aspek kehidupan manusia. Rasulullah shalallahu alaihi wa
sallam pernah menegaskan dalam sebuah hadis, tak satupun
perkara yang mengandung kebaikan, baik itu di dunia maupun
untuk kemaslaharan di akhirat melainkan semua sudah beliau
sampaikan. Dalam maqashid syariah juga ditegaskan bahwa salah
satu yang menjadi tujuan diterapkannya syariat yakni untuk
menjaga harta (hifdzul maal), agar jangan sampai pemindahan
kepemilikan harta melalui proses yang dilarang syariat, yakni
dengan cara dzalim.
Ekonomi dan bisnis merupakan pilar utama dalam kehidupan
umat manusia. Bagi umat Islam bisnis adalah bagian dari ibadah
sehingga

tujuannya

bukan

sekedar

mendapatkan

uang

dan

keuntungan, lebih dari itu beribadah dalam rangka mencari


keridhaan Allah. Sehingga semua bisnis yang dilakukan umat Islam
sejatinya harus dilandasi oleh nilai dan ajaran Islam. Tanpa landasan
nilai dan ajaran Islam, maka mereka akan terjatuh pada sikap dan
1

prilaku menghalalkan segala cara untuk meraih harta dan kekayaan


(hedonisme). Suatu sikap dan prilaku orang-orang kafir.
Sebab utama sebagian umat Islam yang jatuh pada prilaku
menghalalkan segala cara khususnya dalam mencari harta adalah
pola pikir materalisme atau cinta dunia yang berlebihan. Inilah
penyakit

kronis

yang

menimpa

umat

sebagaimana

pernah

diprediksi oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. lebih dari


empat

belas

abad

yang

lalu.

Hampir

saja

bangsa-bangsa

mengepung kalian, sebagaimana orang lapar mengepung tempat


makanan. Berkata seorang sahabat, Apakah karena kita sedikit
pada saat itu ? Rasul shallallahu alaihi wa sallam

bersabda,

Bahkan kalian pada saat itu banyak, tetapi kalian seperti buih,
seperti buih lautan. Allah akan mencabut dari hati musuh kalian
rasa takut pada kalian. Dan Allah memasukkan ke dalam hati kalian
Wahn. Berkata seorang sahabat, Apakah Wahn itu wahai Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam ? Rasul shallallahu alaihi wa sallam,
bersabda, Cinta dunia dan takut mati (HR Abu Dawud)
Sedangkan penyakit sebagian umat Islam yang menyebabkan
mereka jatuh pada bisnis yang diharamkan adalah jahlul muslimin
anil Islam (kebodohan umat Islam dari ajaran Islam). Termasuk
kebodohan dalam muamalah. Telah diriwayatkan bahwa Amirul
2

Mukminin Umar bin Khattab ra. suatu hari beliau berkeliling pasar
dan memukul beberapa pedagang dengan tongkat dan berkata:
Tidak boleh berdagang di pasar kami kecuali orang yang faqih
(maksudnya memahami fiqih Muamalah). Karena jika tidak berilmu,
maka bisa jadi makan riba baik disengaja atau tidak. Disinilah
pentingnya umat Islam memahami etika, nilai dan moral sesuai
Islam.
Diantara beberapa bentuk jual beli yang dilarang dalam islam
adalah yang mengandung unsur gharar. Dalam masalah jual beli,
mengenal

kaidah

gharar

sangatlah

penting,

karena

banyak

permasalahan jual-beli yang bersumber dari ketidak jelasan dan


adanya unsur taruhan di dalamnya. Menurut Islam, gharar ini
merusak akad. Demikian Islam menjaga kepentingan manusia
dalam

aspek

ini.

Rasulullah

shallallahu

alaihi

wa

sallam.

menjelaskan keharaman gharar, sebagaimana disebutkan dalam


hadits riwayat Abu Hurairah, Ibnu Umar, Ibnu Abbas, Abu Said dan
Anas:








"

Rasulullah Saw. melarang bisnis manipulatif (bayul gharar) (HR
Muslim, Ibnu Majah, Abu Dawud, At-Tirmidzi).

Imam

An-Nawawi

menyebutkan:Larangan

jual

beli

gharar

merupakan pokok penting dari kitab jual-beli. Oleh karena itu Imam
Muslim menempatkannya di depan. Permasalahan yang masuk
dalam jual-beli jenis ini sangat banyak, tidak terhitung1
Jual beli yang penuh berkah adalah jual beli yang di dalamnya
memperhatikan

aturan

Islam.

Inilah

jual

beli

yang

akan

mendatangkan barakah dan kemudahan rizki dari Allah Subhanahu


wa

taala.

Sebaliknya

jual

beli

yang

terlarang

hanya

akan

mendatangkan bencana demi bencana, oleh karenanya menjadi


kebutuhan yang mendasar untuk umat islam memahami halal
haram dalam hal muamalah.

BAB II
PEMBAHASAN

1 Imam An Nawawi, Syarah Shahih Muslim, (Bekasi : Darus Sunnah, 1994)


10/h.156

Menurut bahasa Arab, makna al-gharar adalah, al-khathr


(pertaruhan)2. Sehingga Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan,
al-gharar adalah yang tidak jelas hasilnya (majhul al-aqibah)3.
Sedangkan

menurut

Syaikh

As-Sadi,

al-gharar

adalah

al-

mukhatharah (pertaruhan) dan al-jahalah (ketidak jelasan). Perihal


ini masuk dalam kategori perjudian4.
Dari sini dapat diambil pengertian bahwa jual-beli al-gharar
adalah semua jual-beli yang mengandung ketidakjelasan atau
pertaruhan atau perjudian; atau semua yang tidak diketahui
hasilnya atau tidak diketahui hakikat dan ukurannya
2.1 Hukum Gharar
Dalam syariat Islam, jual beli gharar ini terlarang. Dalam
sistem jual beli gharar ini terdapat unsur memakan harta orang lain
2
Syauqi Dhaif, Al-Mujam Al-Wasith, (Mesir : Maktabah Shouruq adDauliyah, 2011) h.648

3
ibnu taimiyyah, Majmu Fatawa, (Tebet : pustaka azzam) 29/22

4
Abdurrahman bin Nashir As-Sad, Bahjah Qulub Al-Abrar wa Qurratu
Uyuuni Al-Akhyaar Fi Syarhi Jawaami Al-Akhbaar, (Mesir : Dar Al-Jail
1992), h.164

dengan cara batil. Padahal Allah melarang memakan harta orang


lain dengan cara batil sebagaimana tersebut dalam firmanNya.




Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang
lain di antara kamu dengan jalan yang batil dan (janganlah) kamu
membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat
memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan
(jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui (Qs. al- Baqarah :
188)
Kedua: Firman Allah:











Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan
harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dengan jalan
perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu.
Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah
adalah Maha Penyayang kepadamu (Qs. an-Nisa : 29)
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menjelaskan, dasar pelarangan
jual beli gharar ini adalah larangan Allah dalam Al-Quran, yaitu
(larangan) memakan harta orang dengan batil. Begitu pula dengan
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam beliau melarang jual beli gharar

ini5. Pelarangan ini juga dikuatkan dengan pengharaman judi,


sebagaimana ada dalam firman Allah.






Hai orang-orang yang beriman,
khamar, berjudi, (berkorban untuk)
dengan panah, adalah perbuatan keji
Maka jauhilah perbuatan-perbuatan
keberuntungan (Qs. al- Maidah: 90)

sesungguhnya (meminum)
berhala, mengundi nasib
termasuk perbuatan setan.
itu agar kamu mendapat

Sedangkan jula-beli gharar, menurut keterangan Syaikh As-Sadi,


termasuk dalam katagori perjudian. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
sendiri menyatakan, semua jual beli gharar, seperti menjual burung
di udara, onta dan budak yang kabur, buah-buahan sebelum
tampak buahnya, dan jual beli al-hashaah, seluruhnya termasuk
perjudian yang diharamkan Allah di dalam Al-Quran6.
Keempat: Hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam bersabda :











5
ibnu taimiyyah, Majmu Fatawa, (Tebet : pustaka azzam) 29/22

6
Ibnu Taimiyyah, Mukhtashar Al-Fatawa Al-Mishriyyah, (Mesir : Dar AlKutub Al-Ilmiyah) h. 342,

Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang jual beli alhashah ( dengan melempar batu ) dan jual beli gharar. (HR Muslim)

2.2 Hikmah Larangan Jual Beli Gharar


Diantara hikmah larangan julan beli ini adalah, karena nampak
adanya pertaruhan dan menimbulkan sikap permusuhan pada
orang yang dirugikan. Yakni bisa menimbulkan kerugian yang besar
kepada pihak lain. Larangan ini juga mengandung maksud untuk
menjaga

harta

agar

tidak

hilang

dan

menghilangkan

sikap

permusuhan yang terjadi pada orang akibat jenis jual beli ini.
2.3 Pentingnya Mengenal Kaidah Gharar
Dalam masalah jual beli, mengenal kaidah gharar sangatlah
penting, karena banyak permasalahan jual-beli yang bersumber dari
ketidak jelasan dan adanya unsur taruhan di dalamnya.

2.4 Jenis-Jenis Gharar


Bila ditinjau pada terjadinya jual-beli, gharar terbagi menjadi tiga
jenis, yaitu:
A. Jual-beli barang yang belum ada (madum)
seperti jual-beli habal al-habalah (jual-beli tahunan), yakni menjual
buah-buahan dalam transaksi selama sekian tahun. Buah-buahan
8

tersebut belum ada, atau menjual buah yang belum tumbuh


sempurna (belum layak dikonsumsi).
Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah melarang jual-beli
dengan sistem kontrak tahunan, yakni membeli (hasil) pohon
selama beberapa tahun, sebagaimana dalam hadits yang berbunyi,























Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melarang jual-beli
muhaqalah, muzabanah, muawamah, dan mukhabarah. Salah
seorang dari keduanya menyatakan, Jual-beli dengan sistem
kontrak tahunan adalah muawamah. (Hr. Muslim)
Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu anhu,
bahwa ia menceritakan,

Masyarakat di zaman Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam biasa


melakukan jual-beli buah-buahan. Kalau datang masa panen dan
datang para pembeli yang telah membayar buah-buahan itu, para
petani berkata, Tanaman kami terkena diman , terkena penyakit,
terkena qusyam , dan berbagai hama lain. Maka, ketika
mendengar berbagai polemik yang terjadi dalam hal itu, Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Bila tidak, jangan kalian

menjualnya sebelum buah-buahan itu layak dikonsumsi (tampak


kepantasannya). (Hr. Bukhari dan Muslim)
Demikianlah, dengan melarang jual-beli ini, Islam memutus
kemungkinan terjadinya kerusakan dan pertikaian. Dengan cara itu
pula,

Islam

memutuskan

berbagai

faktor

yang

dapat

menjerumuskan umat ini ke dalam kebencian dan permusuhan


dalam kasus jual-beli tersebut.
B. Jual-beli barang yang tidak jelas (majhul)
- Mutlak, seperti pernyataan seseorang, Saya jual barang ini
dengan harga seribu rupiah, padahal barangnya tidak diketahui
secara jelas; atau
- Jenisnya, seperti ucapan seseorang, Aku jual mobilku kepadamu
dengan harga sepuluh juta, namun jenis dan sifat-sifatnya tidak
jelas; atau
- Tidak jelas ukurannya, seperti ucapan seseorang, Aku jual
kepadamu tanah seharga lima puluh juta,namun ukuran tanahnya
tidak diketahui.
C. Jual-beli barang yang tidak mampu diserahterimakan
Seperti jual-beli budak yang kabur atau jual-beli mobil yang
dicuri. Ketidakjelasan ini juga terjadi pada harga, barang, dan pada
akad jual-belinya. Ketidakjelasan pada harga dapat terjadi pada

10

jumlahnya, seperti segenggam dinar. Sedangkan, ketidakjelasan


pada barang seperti dijelaskan di atasdan ketidakjelasan pada
akad, seperti menjual dengan harga sepuluh rupiah bila kontan dan
dua puluh rupiah bila diangsur, tanpa menentukan salah satu dari
keduanya sebagai pembayarannya.
Seperti juga jual-beli unta yang sudah hilang, ikan yang ada
dalam air, dan burung yang terbang di langit. Bentuk penjualan ini
ada

yang

dipastikan

haram

dan

ada

juga

yang

masih

diperdebatkan. Di antara yang masih diperdebatkan adalah menjual


barang jualan sebelum berada di tangan.
Syaikh As-Sadi menyatakan : Kesimpulan jual-beli gharar
kembali kepada jual-beli madum (belum ada wujudnya), seperti
habal al habalah dan as-sinin, atau kepada jual-beli yang tidak
dapat diserahterimakan, seperti budak yang kabur dan sejenisnya,
atau kepada ketidak-jelasan, baik mutlak pada barangnya, jenisnya
atau sifatnya
2.5 Beberapa kaidah gharar yang terlarang dan gharar
yang diperbolehkan
Di antara hal yang harus diperhatikan dalam mengenal algharar yang terlarang adalah tidak boleh memahami larangan

11

syariat

Islam

terhadap

al-gharar

secara

mutlak

yang

telah

ditunjukkan oleh lafal larangan tersebut. Namun, harus melihat dan


meneliti maksud syariat dalam larangan tersebut, karena hal
tersebut dapat menutup pintu keleluasaan jual-beli dan itu tentunya
bukan tujuan syariat, sebab hampir semua bentuk muamalah tidak
lepas dari al-gharar.
Oleh karena itu, para ulama memberikan syarat bagi al-gharar yang
terlarang sebagai berikut:

1. Gharar-nya besar dan dominan pada akad transaksi (




)

Dengan demikian, gharar yang sepele (sedikit) diperbolehkan
dan tidak merusak keabsahan akad. Ini perkara yang telah
disepakati para ulama. Para ulama memberikan contoh dengan
masuk ke kamar mandi umum untuk mandi dengan membayar. Ini
mengandung gharar, karena orang berbeda dalam penggunaan air
dan lamanya tinggal di dalam. Demikian juga, persewaan (rental)
mobil untuk sehari atau dua hari, karena orang berbeda-beda dalam
penggunaannya dan cara pemakaiannya. Ini semua mengandung
gharar, namun dimaafkan syariat, karena gharar-nya tidak besar.

12


2. Kebutuhan umum tidak mendesak (







)
Kebutuhan umum (



) dapat disejajarkan dengan darurat.

Al-Juwaini rahimahullahu menyatakan,













Kebutuhan pada hak manusia secara umum disejajarkan dengan
darurat). Batasannya adalah semua hal yang seandainya tidak
dilakukan orang, maka mereka akan merugi pada saat itu atau di
kemudian hari.
Ibnu Taimiyah rahimahullahu menyatakan,


.

Syariat tidak mengharamkan jual-beli yang dibutuhkan manusia
hanya karena ada sejenis gharar. Bahkan, syariat memperbolehkan
semua hal yang dibutuhkan manusia dari hal itu.
Kaidah yang disampaikan para ulama ini, harus terwujudkan
kebutuhan tersebut secara pasti dan tidak ada solusi syari lainnya.
Apabila kebutuhan ini telah menjadi kebutuhan umum, maka
disejajarkan dengan darurat.
Dasarnya adalah hadits Ibnu Umar radhiyallahu anhuma yang
berbunyi,












13

Nabi shallallahu alaihi wa sallam melarang jual-beli buah-buahan


hingga tampak kepastiannya menjadi buah. (Muttafaqun alaihi)
Dalam hadits ini, Nabi shallallahu alaihi wa sallam memberikan
kemudahan menjual buah dari pohon kurma setelah tampak
menjadi buah, lalu dibiarkan hingga sempurna kematangannya,
walaupun sebagiannya belum ada. Hal ini menunjukkan kebolehan
gharar karena hajat umum . Dengan demikian diambil kesimpulan
dari hadits ini, bahwa apabila telah tampak menjadi buah seperti
berwarna merah pada al-busr (kurma muda) atau menguning, maka
jual-belinya sah, padahal sebagian dari buah-buah tersebut belum
ada.

Ini

jelas

gharar.

Meskipun

demikian,

syariat

memperbolehkannya karena kebutuhan umum.


3. Mungkin menghindarinya tanpa susah payah (
)
Imam Nawawi dalam al-Majmu (9/258) dan Ibnul Qayyim
dalam Zaad al-Maad (5/820) menukilkan adanya ijma bahwa
gharar yang tidak mungkin dihindari, kecuali dengan susah payah,
maka diperbolehkan.
Para

ulama

mencontohkannya

dengan

pondasi

rumah

serta

bangunan, dan isi kandungan hewan yang hamil. Seseorang


membeli rumah dalam keadaan tidak mengetahui keadaan pondasi

14

dan

tiang-tiangnya,

serta

bagaimana

proses

finishing

pembangunannya. Juga isi kandungan hewan yang hamil, apakah


kandungannya jantan atau betina, berbilang atau hanya seekor, dan
apakah hidup atau mati. Ini jelas gharar, namun diperbolehkan
karena hal seperti ini tidak dapat diketahui jelas. Seandainya
dipaksa mengetahuinya tentulah harus dengan sangat susah
payah.
Ibnul Qayyim rahimahullahu pun menyatakan, Tidak semua
gharar menjadi sebab pengharaman. Apabila sepele (sedikit) atau
tidak mungkin dipisah darinya, maka keberadaan gharar tidak
menjadi penghalang keabsahan akad jual-beli, karena gharar
(ketidakjelasan) yang ada pada pondasi rumah, isi perut hewan
yang mengandung, atau buah terakhir yang tampak menjadi bagus
sebagiannya saja, tidak mungkin dapat lepas darinya.
4. Gharar yang dilarang hanya pada akad muawadhah (
)
Inilah pendapat imam Malik rahimahullahu dan dirajihkan oleh
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu. Adapun ghoror pada
akad tabarruat ( )seperti shadaqah, hibah, dan sejenisnya
masih diperdebatkan dalam dua pendapat, setelah mereka (para

15

ulama ed) sepakat tentang tidak adanya larangan gharar pada alwashiyat.
4.a Diperbolehkan adanya gharar dalam akad tabarruat,
Inilah pendapat mazhab Malikiyah, serta dirajihkan oleh Ibnu
Taimiyah dan Ibnul Qayyim . Mereka berdalil dengan hadits Amru
bin Syuaib dari bapaknya dari kakeknya yang berbunyi,



Maka ada seseorang yang membawa sekumpulan bulu rambut
(seperti wig) berdiri di tangannya, lalu berkata, Aku mengambil ini
untuk memperbaiki pelana kudaku. Kemudian Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Adapun yang menjadi
hakku dan bani Abdil Muthalib, maka itu untukmu. (Hr. Abu Dawud
dan dinilai hasan oleh al-Albani dalam Irwa al-Ghalil 5/3637)
Dalam

hadits

ini,

Rasulullah

shallallahu

alaihi

wa

sallam

menghadiahkan bagiannya dan bagian Bani Abdil Muthallib dari


benda tersebut, dan tentunya ukurannya tidak jelas. Dengan
demikian gharar tersebut tidak berlaku pada akad tabarruat.
Pendapat ini dikuatkan dengan kaidah asal dalam muamalah
adalah sah, baik dalam akad muawadhah ataupun tabaruat. Asal
hukum ini tidak berubah dengan larangan Rasulullah shallallahu
alaihi wa sallam dari gharar dalam hadits Abu Hurairah terdahulu,

16

karena itu menyangkut akad muawadhah saja. Apalagi perbedaan


antara akad muawadhah dengan tabarruat telah jelas. Akad
muawadhah dilakukan oleh seseorang yang ingin melakukan usaha
dan perniagaan, sehingga disyaratkan pengetahuan dan kejelasan
yang tidak disyaratkan dalam akad tabarruat. Hal ini terjadi, karena
akad tabarruat yang dilakukan oleh seseorang, tidaklah untuk
usaha, namun untuk berbuat baik dan menolong orang lain.
5. Gharar terdapat pada asal, bukan sampingan (taabi)
Gharar yang ikut kepada asal adalah gharar yang dimaafkan,
karena terdapat kaidah bahwa sesuatu itu diperbolehkan apabila
terikutkan dengan sesuatu yang lain, sedangkan dia menjadi tidak
boleh bila ia terpisahkan darinya (hanya berdiri sendiri).
Dalilnya adalah hadits Nabi shallallahu alaihi wa sallam yang
berbunyi,










Barangsiapa yang membeli pohon kurma setelah dikawinkan,
maka buahnya milik penjual, kecuali pembeli mensyaratkannya,
dan barangsiapa yang membeli hamba (budak -ed) dan hamba
(budak ed) itu memiliki harta, maka hartanya milik pihak yang

17

menjualnya, kecuali pembeli budak tersebut mensyaratkannya


(mensyaratkan untuk juga memiliki harta si budak setelah dia
membeli budak tersebut -ed). (Hr. al-Bukhari)
Dalam hadits ini pembeli diperbolehkan mengambil hasil talqih
tersebut,

apabila

talqih

tersebut

ada

setelah

pembeli

mensyaratkannya. Padahal, hasilnya (buahnya) belum ada atau


belum dapat dipastikan keberadaannya.
Syekhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam menjelaskan
dasar kaidah ini menyatakan, Nabi memperbolehkan bila seorang
menjual pohon kurma yang telah dikawinkan (talqih) untuk pembeli
yang mensyaratkan (untuk juga mengambil) buahnya. Sehingga, ia
telah

membeli

buah

sebelum

waktu

baiknya.

Namun,

itu

diperbolehkan karena (buahnya) terikut, bukan asal. Sehingga


jelaslah,

gharar

yang

kecil

diperbolehkan

apabila

terikutkan

(dengan sesuatu yang lain), yang (ini tentu) tidak boleh bila selain
dari keadaan ini.
2.6 Gharar yang masih diperselisihkan
Beberapa bentuk gharar apakah diikutkan pada bagian yang
terlarang atau tidak. Misalnya ada keinginan menjual sesuatu yang

18

terpendam di tanah, seperti wortel, kacang tanah, bawang dan lainlainnya.


Para ulama sepakat tentang keberadaan gharar dalam jual-beli
tersebut, namun masih berbeda dalam menghukuminya. Adanya
perbedaan ini, disebabkan sebagian mereka diantaranya Imam
Malik- memandang ghararnya ringan, atau tidak mungkin dilepas
darinya

dengan

adanya

kebutuhan

menjual,

sehingga

memperbolehkannya. Dan sebagian yang lain di antaranya Imam


Syafii dan Abu Hanifah- memandang ghararnya besar, dan
memungkinkan untuk dilepas darinya, shingga mengharamkannya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Ibnul Qayyim merajihkan
pendapat yang membolehkan, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
menyatakan : Dalam permasalahan ini, madzhab Imam Malik
adalah madzhab terbaik, yaitu diperbolehkan melakukan jual-beli
perihal ini dan semua yang dibutuhkan, atau sedikit ghararnya ;
sehingga

memperbolehkan

jual-beli

yang

tidak

tampak

di

permukaan tanah, seperti wortel, lobak dan sebagainya7

7
Ibnu taimiyyah, Majmu Fatawa, (Tebet : pustaka azzam) 29/33

19

Sedangkan Ibnul Qayyim menyatakan, jual-beli yang tidak tampak


di permukaan tanah tidak memiliki dua perkara tersebut, karena
ghararnya ringan, dan tidak mungkin di lepas.8
2.7 Gharar pada permasalahan muamalah kontemporer
2.7.1 Jual beli dengan sistem Ijon
Diantara bentuk jual beli yang mengandung gharar dan yang nyatanyata telah dilarang oleh Nabi Saw ialah jual beli dengan
sistem ijon. Diriwayatkan dari sahabat Anas bin Malik Radhiyallahu
anhu bahwasanya Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam melarang
penjualan buah-buahan (hasil tanaman) hingga menua. Para
Sahabat

bertanya,

menjawab,Bila
bersabda,Bila

Apa

telah
Allah

maksudnya

berwarna
menghalangi

telah

merah.
masa

menua?

Beliau

Kemudian

beliau

panen

buah-buahan

tersebut (gagal panen), maka dengan sebab apa engkau memakan


harta saudaramu (uang pembeli)?
Dengan demikian jelaslah bahwa sistem ijon adalah penjualan
yang terlarang dalam syariat Islam, baik sistem ijon yang hanya

8
Ibnu Qayyim Al Jauziyyah, Zaadul Maad (Ciracas: Griya Ilmu, 1990)
5/728

20

untuk sekali panen atau untuk berkali-kali hingga beberapa tahun


lamanya

2.7.2 Asuransi
Asuransi (tamin) adalah satu transaksi yang tidak pernah ada di
zaman dahulu. Asuransi didefinisikan sebagai sebuah sistem untuk
merendahkan kehilangan finansial dengan menyalurkan risiko
kehilangan dari seseorang atau badan ke lainnya.
Dalam Undang-Undang No. 2 Tahun 1992 tentang usaha,
perasuransian adalah perjanjian antara dua pihak atau lebih,
dengan

mana

pihak

penanggung

mengikatkan

diri

kepada

tertanggung, dengan menerima premi asuransi, untuk memberikan


penggantian kepada tertanggung karena kerugian, kerusakan atau
kehilangan keuntungan yang diharapkan atau tanggung jawab
hukum pihak ketiga yang mungkin akan diderita tertanggung, yang
timbul dari suatu peristiwa yang tidak pasti, atau memberikan suatu
pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya
seseorang yang dipertanggungkan.

21

Ahli fikih kontemporer bersilang pendapat dalam permasalahan


ini. Ada yang memperbolehkan, dan ini sedikit jumlahnya. Mereka
menyatakan bahwa yang dikeluarkan seseorang itu kecil sekali
dibandingkan dengan yang akan didapatkannya, dan itu berarti algharar yang kecil. Namun bila dilihat pada jumlah orang yang ikut
serta, dan keuntungan yang didapat perusahaan perasuransian,
gharar yang terdapat dalam transaksi ini jelas besar sekali.
Demikianlah, para ahli fikih melihat sesuatu itu bukan kepada
seorang individu manusia saja, namun kepada perlindungan seluruh
manusia, karena keberadaan syariat adalah untuk menjaga harta
manusia. Oleh karena itu, Lajnah Daimah lil uhuts al-Ilmiyah walIfta (Komite Tetap dalam Riset Ilmiyah dan Fatwa Negara Saudi
Arabia) dalam ketetapan no. 55 tanggal 4/4/1397 H menetapkan
ketidakbolehan

asuransi

seperti

ini,

karena

termasuk

akad

pertukaran harta yang mengandung gharar besar dan termasuk


jenis al-qimar (perjudian).
2.7.3. Money Game
Gharar dapat masuk pada semua usaha dan bisnis modern,
sehingga umat Islam ketika akan terjun ke bidang usaha harus
menguasai ilmunya. Jangan sampai terperosok pada sesuatu yang
diharamkan Allah.
22

Diantara bentuk bisnis yang diharamkan adalah money game.


Money Game sebenarnya lebih dekat pada maisir dari pada bisnis.
Namun yang sebenarnya adalah manipulasi dalam bisnis, karena
yang terjadi hanyalah putaran dana atau arisan berantai tanpa ada
komoditinya. Kalaupun komoditi tersebut ada, tidak sesuai dengan
size dan atau besaran putaran dananya. Dalam berbisnis harus
mengikuti standar umum dan tidak boleh hanya bersandar pada
tsiqoh (percaya) tanpa mengetahui akad, komoditi dan bentuk
bisnis yang dilakukan. Dan seorang muslim tidak boleh mengambil
keuntungan dari usaha yang tidak jelas atau mengandung unsur
jahalah. Karena jahalah bagian dari gharar dalam binis

yang

diharamkan Allah.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan

23

1. Jual-beli al-gharar adalah semua jual-beli yang mengandung


ketidakjelasan atau pertaruhan atau perjudian; atau semua
yang tidak diketahui hasilnya atau tidak diketahui hakikat dan
ukurannya
2. Dalam syariat Islam, jual beli gharar ini terlarang. Dalam
sistem jual beli gharar ini terdapat unsur memakan harta
orang

lain

dengan

cara

batil.

Padahal

Allah

melarang

memakan harta orang lain dengan cara batil.


3. Kritera Jual-beli gharar kembali kepada jual-beli madum
(belum ada wujudnya), seperti habal al habalah dan as-sinin,
atau kepada jual-beli yang tidak dapat diserahterimakan, atau
kepada ketidak-jelasan, baik mutlak pada barangnya, jenisnya
atau sifatnya.
4. Gharar diperbolehkan dalam jual beli bila memenuhi salah
satu diantara kriteria berikut
- Gharar tidak dominan dalam akad jual beli
- Merupakan kebutuhan orang banyak
- Ghararnya hanya sebatas mengikuti,
-

bukan

tujuan

transaksi
Ghararnya sangat susah untuk dihindari
Gharar pada akad tabarruat

DAFTAR PUSTAKA
Dhaif Syauqi, Al-Mujam Al-Wasith, Mesir : Maktabah Shouruq adDauliyah, 2011

24

Nashir As-Sad Abdurrahman,

Bahjah Qulub Al-Abrar wa Qurratu

Uyuuni Al-Akhyaar Fi Syarhi Jawaami Al-Akhbaar, Mesir : Dar


Al-Jail, 1992
Nawawi Imam, Syarah Shahih Muslim, Bekasi : Darus Sunnah, 1994
Taimiyyah Ibnu, Majmu Fatawa, Tebet : pustaka azzam, 2011
Taimiyyah Ibnu, Mukhtashar Al-Fatawa Al-Mishriyyah, Mesir : Dar AlKutub Al-Ilmiyah
Qayyim Al Jauziyyah Ibnu, Zaadul Maad ,Ciracas: Griya Ilmu, 1990

25