Anda di halaman 1dari 21

Referat

DEMAM BERDARAH DENGUE

Oleh:
Cinthya Farah Diba, S.Ked
NIM 04101401099

Pembimbing:
dr. Erwin Azmar, SpPD

DEPARTEMEN ILMU PENYAKIT DALAM


RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2015

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Referat

DEMAM BERDARAH DENGUE


Oleh:
Cinthya Farah Diba, S.Ked
NIM 04101401099
Telah diterima dan disetujui sebagai salah satu syarat dalam mengikuti ujian
kepaniteraan klinik senior di Departemen Ilmu Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum
Pusat Dr. Mohammad Hoesin Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Palembang
Periode 26 Januari 2015 s.d. 06 April 2015.

Palembang, Maret 2015

Dr. Erwin Azmar, SpPD

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT karena atas ridho dan karunia-Nya referat
dengan judul DEMAM BERDARAH DENGUE ini dapat terselesaikan dengan baik.
Laporan ini betujuan untuk memenuhi salah satu syarat kelulusan yang
merupakan bagian dari sistem pembelajaran di kepaniteraan klinik, khususnya di
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Penulis tak lupa mengucapkan terima kasih kepada dr. Erwin Azmar, SpPD,
yang telah membimbing penulis serta semua pihak yang telah membantu dalam
penyusunan referat ini.
Referat ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik dari
pembaca akan sangat bermanfaat bagi perbaikan referat yang senantiasa akan penulis
terima.

Palembang, Maret 2015

Cinthya Farah Diba, S.Ked

DAFTAR ISI

Halaman Judul.....................................................................................................................

Halaman Pengesahan...........................................................................................................

Kata Pengantar.....................................................................................................................

Daftar Isi..............................................................................................................................

BAB I Pendahuluan.............................................................................................................

BAB II Tinjauan Pustaka.....................................................................................................

2.1. Definisi .
2.2. Etiologi..
2.3. Epidemiologi ............
2.4. Manifestasi Klinis
2.5. Patofisiologi .............
2.6. Penegakan Diagnosis.
2.7. Penatalaksanaan.

2.7.1. Protokol 1, Penanganan Terangka DBD Dewasa Tanpa Syok ..........


2.7.2. Protokol 2, Pemberian Cairan pada Tersangka DBD Dewasa di
Ruang Rawat ......................................
2.7.3. Protokol 3. Penatalaksaan DBD dengan peningkatan HT >20% .............
2.7.4. Protokol 4. Penatalaksanaan Perdarahan Spontan pada DBD Dewasa .....
2.7.5. Protokol 5, Tatalaksanan Sindrom Dengue pada Dewasa...
BAB III Kesimpulan............................................................................................................

Daftar Pustaka......................................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
Demam Berdarah Dengue adalah penyakit akut yang disebabkan oleh
virus spesies Flavaviridae yang memiliki serotype Den-1, Den-2, Den-3, dan Den-4.
Akibat yang ditimbulkan oleh infeksi virus ini adalah demam tinggi yang biasanya
berlangsung antara 2-7 hari dengan kisaran 38-40 C. Terdapat beberapa gejala klinis
yang menyertai seperti manifestasi pendarahan (berupa pendarahan gusi, mimisan,
bintik-bintik merah pada kulit (purpura), uji Rumple Leed yang positif, tinja berwarna
hitam, muntah darah), nyeri sendi, nyeri perut, dan penurunan tekanan darah. Masa
inkubasi virus ini berlangsung selama 4-6 hari. Demam Berdarah Dengue
ditransmisikan melalui gigitan nyamuk Aedes (subgenus Stegomya). Aedes aegepty
adalah vektor yang paling sering menyebabkan infeksi penyakit ini, walaupun dalam
beberapa kasus juga dapat disebabkan oleh spesies Aedes yang lain seperti Aedes
albopictus.
Kasus Demam Berdarah Dengue pertama kali ditemukan di Indonesia pada
tahun 1968 di Surabaya. Sejak pertama kali ditemukan, DBD cenderung mengalami
peningkat dari segi jumlah atau pun luas wilayah yang terjangkit. Hal ini
menyumbangkan angka Kejadian Luar Biasa tiap tahunnya. Indonesia adalah wilayah
endemis DBD yang menyebar di hampir wilayah Indonesia. Insidensi DBD di Indonesia
antara 6 hingga 15 kasus per 100.000 penduduk (1989 hingga 1995). Kasus DBD DI
Indonesia pernah meningkat tajam saat kejadian luar biasa tahun 1998 dengan insidensi
hingga 35 per 100.000 penduduk, sedangkan mortalitas DBD cenderung menurun
mencapai 2% tahun 1999. Tingkat mortalistas / Case FataliTY Rate yang tercatat pada

tahun 2011 pada kasus DBD mencapai 0,81 % dan Incidence Rate mencapai
20,83/100.000 penduduk.
Akurasi dan efektifitas diagnosis Demam Berdarah Dengue sangat diperlukan
untuk penganganan pasien. Untuk itu, pemeriksaan laboratorium masih menjadi lini
terdepan dalam penegakan diagnosis DBD di samping ditemukanya gejala klinis. Salah
satu pemeriksaan laboratorium yang efektifmdalam hal ini adalah pemeriksaan serologis
Dengan melaksanakan pemeriksaan serologis, dapat membantu penegakan diagnosis
pada akhir fase akut Infeksi Virus Dengue. Dengan melaksanakan tes serologis antibodi
IgM dan IgG, kita dapat menentukan apakah seseorang terkena infeksi dengue primer
atau sekunder. Melalui pemeriksaan NS1 kita dapat mengetahui infeksi DBD dari hari
pertama munculnya sindrom. Sayangnya, pemeriksaan ini belum dapat dilakukan secara
luas pada pasien yang dicurigai terkena DBD disebabkan oleh beberapa kendala. Di
antaranya adalah biaya yang cukup mahal dan perlengkapan yang tidak memadai untuk
melaksanakan pemeriksaan tersebut. Padahal dengan kolaborasi kedua pemeriksaan
tersebut diharapkan dapat meningkatkan ketepatan diagnosis DBD
Kepentingan mengetahui apakah infeksi virus dengue ini merupakan infeksi
primer atau sekunder adalah untuk mencegah terjadinya sindroma renjatan (syok) yang
bias berakibat fatal terhadap prognosis pasien. Berdasarkan studi epidemiologi di Asia
Tenggara, ditemukan bahwa sindroma renjatan (syok) banyak terjadi selama infeksi
sekunder. Oleh sebab itu, kepentingan pemeriksaan penunjang bukan lagi hanya sekedar
menemukan hasil positif dan negatif virus dengue saja.
Referat ini akan membahas pemeriksaan serologis pada kasus DBD. Tujuannya
adalah untuk mendapatkan gambaran mengenai pentingnya penggunaan uji IgG, IgM
dan NS1 sebagai uji diagnosis utama dalam penegakan diagnosis DBD sebagai upaya
pencegahan perjalanan penyakit DBD ke arah yang lebih berat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Penyakit demam berdarah biasanya didahului dengan adanya demam tinggi,
nyeri pada kepala dan otot. Dilaporkan sebanyak 5% dari kasus DBD cenderung akan
mengalami perdarahan. Transmisi penyakit DBD berawal dari gigitan nyamuk Aedes
Aegypti yang mengandung virus dengue sebagai penyebab demam berdarah.
Wabah pertama terjadi pada tahun 1780-an secara bersamaan di Asia, Afrika, dan
Amerika Utara. Penyakit ini kemudian dikenali dan dinamai pada 1779. Wabah besar
global dimulai di Asia Tenggara pada 1950-an dan hingga 1975 demam berdarah ini
telah menjadi penyebab kematian utama di antaranya yang terjadi pada anak-anak di
daerah tersebut.
2.2 Etiologi
Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit febril
akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan
malaria. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus
Flavivirus, famili Flaviviridae. Setiap serotipe cukup berbeda sehingga tidak ada
proteksi-silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat

terjadi. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti yang
sampai saat ini dikenal memiliki 4 serotype virus yaitu;
1. Dengue 1 (DEN 1) diisolasi oleh Sabin pada tahun1944.
2. Dengue 2 (DEN 2) diisolasi oleh Sabin pada tahun 1944.
3. Dengue 3 (DEN 3) diisolasi oleh Sather, yang paling sering dijumpai
4. Dengue 4 (DEN 4) diisolasi oleh Sather.
Virus tersebut termasuk dalam group B Arthropod borne viruses (arboviruses).
2.3 Epidemiologi
Penyakit Demam Berdarah Dengue merupakan salah satu penyakit menular yang
berbahaya dapat menimbulkan kematian dalam waktu singkat dan sering menimbulkan
wabah. Penyakit ini pertama kali ditemukan di Manila Filipina pada tahun 1953 dan
selanjutnya menyebar ke berbagai negara. Di Indonesia penyakit ini pertama kali
dilaporkan pada tahun 1968 di Surabaya dengan jumlah penderita 58 orang dengan
kematian 24 orang (41,3%), akan tetapi konfirmasi virologis baru didapat pada tahun
1972. Selanjutnya sejak saat itu penyakit Demam Berdarah Dengue cenderung
menyebar ke seluruh tanah air Indonesia, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi
di Indonesia kecuali Timor-Timur telah terjangkit penyakit, dan mencapai puncaknya
pada tahun 1988 dengan insidens rate mencapai 13,45 % per 100.000 penduduk.
Keadaan ini erat kaitannya dengan meningkatnya mobilitas penduduk dan sejalan
dengan semakin lancarnya hubungan transpotasi.
Epidemiologi penyakit DBD biasanya terjadi pada daerah ketinggian (1.250 mdpl)
dan terjadi setelah musim penghujan. Penyakit DBD merupakan masalah kesehatan
serius di Indonesia dengan angka insidensi 27 kasus per 100.000 populasi dengan case
fatality rate (angka kematian) 1.5% pada tahun 2009. DBD juga masih endemik di
Kabupaten Agam. Tahun 2005-2009 dilaporkan lebih 143 kasus dan 5 KLB dilaporkan
terjadi di 5 Kecamatan namun tidak ada kematian.

2.4 Manifestasi Klinis


Penyakit ini ditunjukkan melalui munculnya demam secara tiba-tiba, disertai sakit
kepala berat, sakit pada sendi dan otot (myalgia dan arthralgia) dan ruam. Ruam demam
berdarah mempunyai ciri-ciri merah terang, petekia dan biasanya mucul dulu pada
bagian bawah hingga menyelimuti hampir seluruh tubuh. Selain itu, radang perut bisa
juga muncul dengan kombinasi sakit di perut, rasa mual, muntah-muntah atau diare,
pilek ringan disertai batuk-batuk.
Kondisi waspada ini perlu disikapi dengan pengetahuan yang luas oleh penderita
maupun keluarga yang harus segera konsultasi ke Dokter apabila pasien/penderita
mengalami demam tinggi 3 hari berturut-turut. Banyak penderita atau keluarga
penderita mengalami kondisi fatal karena menganggap ringan gejala-gejala tersebut.
Demam berdarah umumnya lamanya sekitar enam atau tujuh hari dengan puncak
demam yang lebih kecil terjadi pada akhir masa demam. Secara klinis, jumlah platelet
akan jatuh hingga pasien dianggap afebril. Sesudah masa tunas/ inkubasi selama 3-15
hari orang yang tertular dapat mengalami gejala sebagai berikut ini:

Bentuk abortif, penderita tidak merasakan suatu gejala apapun.

Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi selama 4 - 7 hari, nyeri-nyeri


pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak
perdarahan di bawah kulit.

2.5 Patofisiologi
Fenomena patofisiologi utama menentukan berat penyakit dan membedakan
demam berdarah dengue dengan dengue klasik ialah tingginya permeabilitas dinding
pembuluh darah, menurunnya volume plasma, terjadinya hipotensi, trombositopenia dan
diabetes hemoragik. Meningginya nilai hematokrit pada penderita dengan renjatan
menimbulkan dugaan bahwa renjatan terjadi sebagai akibat kebocoran plasma ke daerah
ekstra vaskuler melalui kapiler yang rusak dengan mengakibatkan menurunnya volume
plasma dan meningginya nilai hematokrit.
Mekanisme sebenarnya tentang patofisiologi dan patogenesis demam berdarah dengue
hingga kini belum diketahui secara pasti, tetapi sebagian besar menganut "the
secondary heterologous infection hypothesis" yang mengatakan bahwa DBD dapat
terjadi apabila seseorang setelah infeksi dengue pertama mendapat infeksi berulang
dengan tipe virus dengue yang berlainan dalam jangka waktu yang tertentu yang
diperkirakan antara 6 bulan sampai 5 tahun. Patogenesis terjadinya renjatan berdasarkan
hipotese infeksi sekunder dicoba dirumuskan oleh Suvatte.

Akibat infeksi kedua oleh tipe virus dengue yang berlainan pada seorang penderita
dengan kadar antibodi anti dengue yang rendah, respons antibodi anamnestik yang akan
terjardi dalam beberapa hari mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit imun
dengan menghasilkan antibodi IgG anti dengue titer tinggi. Replikasi virus dengue
terjadi dengan akibat terdapatnya virus dalam jumlah yang banyak. Hal-hal ini
semuanya akan mengakibatkan terbentuknya kompleks antigen antibodi yang
selanjutnya akan mengaktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a dan C5a akibat
antivasi C3 dan C5 menyebabkan meningginya permeabilitas dinding pembuluh darah
dan merembesnya plasma melalui endotel dinding pembuluh darah. Pada penderita

renjatan berat, volume plasma dapat berkurang sampai lebih dari pada 30% dan
berlangsung selama 24-48 jam. Renjatan yang tidak ditanggulangi secara adekuat akan
menimbulkan anoksia jaringan, asidosis metabolik dan kematian.
Sebab lain dari kematian pada DBD ialah perdarahan saluran pencernaran
hebat yang biasanya timbul setelah renjatan berlangsung lama dan tidak dapat diatasi.
Trombositopenia merupakan kelainan hematologis yang ditemukan pada sebagian besar
penderita DBD. Nilai trombosit mulai menurun pada masa demam dan mencapai nilai
terendah pada masa renjatan. Jumlah tromosit secara cepat meningkat pada masa
konvalesen dan nilai normal biasanya tercapai sampai hari ke 10 sejak permulaan
penyakit. Kelainan sistem koagulasi mempunyai juga peranan sebagai sebab perdarahan
pada penderita DBD. Berapa faktor koagulasi menurun termasuk faktor II, V, VII, IX, X
dan fibrinogen. Faktor XII juga dilaporkan menurun. Perubahan faktor koagulasi
disebabkan diantaranya oleh kerusakan hepar yang fungsinya memang terbukti
terganggu, juga oleh aktifasi sistem koagulasi.

2.6 Penegakan Diagnosis


Demam Dengue adalah penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua
atau lebih manifestasi klinis sebagai berikut.

Nyeri kepala

Nyeri retro-orbital

Mialgiaatragia

Ruam kulit

Manifestasi perdarahan (petekie uji bendung positif)

Leukopenia.

Dan pemerisaan serologi dengue positif atau ditemukan pasien DD/DBD yang
sudah dikonfirmasi pada lokasi dan waktu yang sama.

Demam berdarah Dengue (DBD) berdasarkan kriteria WHO 1997 dapat ditegakkan
bila semua hal di bawah terpenuhi:

Demam atau demam akut 2-7 hari

Terdapat

minimal

satu

manifestasi

perdarahan

(uji

bendung

positif/petekie/ekimosis/purpura/epistaksis/perdarahangusi/hematemesis/melena

Trombositopenia

Miniman satu tanda kebocoran plasma (peningkatan Ht>20% atau penurunan Ht


<20% setelah pemberian terapi cairan

Efusi pleura/asites/hipoproteinemia.

Laboraturium
Pemeriksaan darah rutin (Hb, Ht, trombosit) digunakan untuk melihat adanya
limfositosis. Sedangkan diagnosis pasti didapatkan dari isolasi virus dengue (cell
culture) atau dari deteksi antigen virus RNA dengue dengan teknik RT-PCR. Akan
tetapi, karena proses yang cukup rumit, maka saat ini tes serologis yang mendeteksi
adanya antibodi spesifik terhadap dengue berupa antibodi total, IgM atau IgG lebih
banyak. Parameter laboratoris yang dapat diperiksa antara lain:

Leukosit (dapat normal atau menuurun). Mula hari ke-3 timbul limfositosis.

Trombosit umumnya akan trombositopenia pada hari ke-3-8

Hematokrit untuk membuktikan adnaya kebocoran plasma

Hemostasis diakukan pemeriksaan PT, APTT. Fibrinogen. D-dimer atau FDP


bila curiga perdarahan atau gangguan pembekuan darah.

Protein/albumin untuk memngetahui adanya hipoproteinemia

SGOT/SGPT dapat meningkat.

Ureum, creatinin bila ada gangguan fungsi ginjal.

Elektrolit sebagai pemantau pemberian cairan

Golongan darah dan cross match bila akan diberikan transfusi darah

Imunoserologi dilakukan pemeriksaan IgM dan IgG terhadap dengue. IgM


terdeteksi mulai hari ke-3-5, meningkat sampai minggu ke-3. IgG pada infeksi
primer, terdeteksi pada hari ke-14, infeksi sekunder terdeteksi hari ke-2.

Uji HI pengmabilan bahannsaat hari pertama pulang dari perawatan biasanya


digunakan untuk surveilans.

NS 1 antigen NS1 dideteksi awal demam hari pertama sampai hari ke-8

2.7 Penatalaksanaan
Pengobatan penderita Demam Berdarah Dengue bersifat simptomatik dan suportif
yaitu adalah dengan cara:
- Penggantian cairan tubuh.
- Penderita diberi minum sebanyak 1,5 liter - 2 liter dalam 24 jam (air teh dan gula sirup
atau susu).
- Gastroenteritis oral solution/kristal diare yaitu garam elektrolit (oralit), kalau perlu 1
sendok makan setiap 3-5 menit.
Apabila cairan oral tidak dapat diberikan oleh karena muntah atau nyeri perut yang
berlebihan maka cairan intravenaperlu diberikan. Medikamentosa yang bersifat
simptomatis :
- Untuk hiperpireksia dapat diberikan kompres es di kepala, ketiak, inguinal.
- Antipiretik sebaiknya dari asetaminofen, eukinin atau dipiron.
- Antibiotik diberikan jika ada infeksi sekunder.
Sampai saat ini obat untuk membasmi virus dan vaksin untuk mencegah penyakit
Demam Berdarah belum tersedia. Pencegahan penyakit DBD sangat tergantung pada
pengendalian vektornya, yaitu nyamuk Aedes aegypti. Pengendalian nyamuk tersebut
dapat dilakukan dengan menggunakan beberapa metode yang tepat, yaitu :
A. Lingkungan
Metode lingkungan untuk mengendalikan nyamuk tersebut antara lain dengan
Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN), pengelolaan sampah padat, modifikasi tempat
perkembangbiakan nyamuk hasil samping kegiatan manusia, dan perbaikan desain
rumah. Sebagai contoh:
- Menguras bak mandi/penampungan air- sekurang-kurangnya sekali seminggu.
- Mengganti/menguras vas bunga dan tempat- minum burung seminggu sekali.
- Menutup dengan rapat tempat penampungan- air.
- Mengubur kaleng-kaleng bekas, aki bekas dan ban bekas di sekitar rumah

B. Biologis
Pengendalian biologis antara lain dengan menggunakan ikan pemakan jentik (ikan
adu/ikan cupang), dan bakteri (Bt.H-14).
C. Kimiawi
Cara pengendalian ini antara lain dengan:
- Pengasapan/fogging (dengan menggunakan malathion dan fenthion), berguna untuk
mengurangi kemungkinan penularan sampai batas waktu tertentu.
- Memberikan bubuk abate (temephos) pada tempat-tempat penampungan air seperti,
gentong air, vas bunga, kolam, dan lain-lain.
Cara yang paling efektif dalam mencegah penyakit DBD adalah dengan
mengkombinasikan cara-cara di atas, yang disebut dengan 3M Plus, yaitu menutup,
menguras, menimbun. Selain itu juga melakukan beberapa plus seperti memelihara ikan
pemakan jentik, menabur larvasida, menggunakan kelambu pada waktu tidur,
memasang kasa, menyemprot dengan insektisida, menggunakan repellent, memasang
obat nyamuk, memeriksa jentik berkala dan disesuaikan dengan kondisi setempat.

BAB III
KESIMPULAN

1. Demam Berdarah Dengue adalah penyakit akut yang disebabkan oleh virus
spesies Flavaviridae yang memiliki serotype Den-1, Den-2, Den-3, dan Den-4
2. Aedes aegypti dan Aedes albopictus merupakan vektor penular penyakit DBD.
3. Gejala BDB adalah demam, perdarahan, syok dan heapatomegali. Gejala klinis
DBD adalah demam yang mendadak, muka kemerahan, sakit kepala berat, sakit
pada sendi dan otot (myalgia dan arthralgia), nyeri belakang bola mata, mual,
muntah, dan ruam.
4. Untuk menegakkan diagnosis DBD maka kriteria WHO 1997 harus terpenuhi,
yaitu penyakit demam akut selama 2-7 hari, ditandai dengan dua atau lebih
manifestasi klinis seperti perdarahan, trombositopenia, dan terdapat minimal
satu tanda-tanda kebocoran plasma.
5. Terdapat 4 derajat spektum klinis DBD, yaitu derajat 1, derajat 2, derajat 3, dan
derajat 4.
6. Penatalaksanaan DBD bersifat simptomatis yaitu mengobati gejala penyerta dan
suportif dengan mengganti cairan yang hilang.
7. Penatalaksanaan DBD mengikuti 5 protokol yang telah ditetapkan oleh PAPDI
bersama dengan Devisi Penyakit Tropik dan Infeksi dan Divisi Hematologi dan
Onkologi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

Daftar Pustaka

1. Upik K hadi. 2012. Aktivitas Nocturnal Vector Demam Berdarah Dengue


di Beberapa Daerah di Indonesia. Bagian Parasitologi & Entomologi
Kesehatan, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat
Veteriner Fakultas Kedokteran Hewan IPB. Jurnal Entomologi Indonesia
Vol. 9 No. 1 Hal 1-6.
2. Suhendro, leonard nainggolan, khiechen, Herdiman T. Pohan. 2007.
Demam Berdarah Dengue. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III Edisi V.
Jakarta. Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. Hal 1709-1713.
3. Khie Chen, Herdiman T. Pohan, Robert Sinto. 2009. Diagnosis dan terapi
cairan pada demam berdarah dengue. Jakarta. MedicinusVol 22, hal 3-7.
4. World Health Organi. 2009. Epidemiology, burden of disease and
transmission. Dengue Guidelines for Diagnosis, Treatment, Prevention,
and Control New Edition.WHO Library Cataloguing-in-Publication Data.
Hal 3-17.
5. Amrina Rasyada, Ellyza Nasrul, Zulkarnain Edward. 2014. Hubungan Nilai
Hematokrit Terhadap Jumlah Trombosit pada Penderita Demam Berdarah
Dengue. Padang. Jurnal Kesehatan Andalas. Hal243-247.
6. Sri Rezeki H. Soegianto,dkk. 2004. TATALAKSANA DEMAM BERDARAH
DENGUE DI INDONESIA. Depkes dan Kesejahteraan Sosial Dirjen
Pemberantasan Penyakit Menular & Penyehatan Lingkungan Hidup.
7. Anthony S. Fauci. 2008. Chapter 196. Infections Caused by Anthropodand Rodent-Borne Viruses. Harrisons Internal Medicine, 17th Edition,
USA, McGraw-Hill.
8. Sumarmo S. Penyakit infeksi tropis. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Jakarta. 2002.
9. Depkes RI. 2010. Pusat Data dan Surveilens Epidemologi Demam Berdarah
Dengue. Jakarta. Kementerian Kesehatan RI.
10. Depkes RI. 2011. Informasi umum Demam Berdarah Dengue. Ditjen PP dan PL
Jakarta. Kementerian Kesehatan RI.
11. Sukohar, A. Demam Berdarah Dengue. Lampung: Sub. Bagian Farmakologi
Fakultas Kedokteran Lampung; Medula No.2, Vol. 2, 2014 Feb.

12. Hutagalung, Jontari dkk. 2011. Demam Berdarah Dengue di provinsi Sumatera
Barat, Indonesia, 2009. Field Epidemiology Training Programmed, Bureau of
Epidemiology. Departement od Disease Control, Ministry of public Health,
Thailand. OSIR, Vol.4.
13. Sudoyo, Aru, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Jilid III, Tropik
Infeksi. Jakarta; Interna Publishing. Vol.1 No.425.
14. Kemenkes 2011. Data dan Informasi Kesehatan Provinsi Lampung. Pusat Data
Dan
Informasi
Kementrian
Kesehatan
Republik
Indonesia.
http://www.depkes.go.id/downloads/Data%20Informasi%20Kesehatan%20 Prov
%20Lampung.pdf. Diakses pada tanggal 16 Februari 2015.
15. Lestari, K. 2007. Epidemiologi Dan Pencegahan Demam Berdarah Dengue
(Dbd) Di Indonesia. Farmaka. 5(3):12-29. http://farmasi.unpad.ac.id/farmakafiles/v5n3/keri.pdf. Diakses pada tanggal 16 februari 2015.
16.

Candra, A. 2010. Demam Berdarah Dengue: Epidemiologi, Patogenesis


dan Faktor Risiko Penularan. Aspirator. 2(2):110-119. Diunduh dari
http://ejournal.litbang.depkes.go.id/index.php/aspirator/article/download
/2951/2136. Diakses pada tanggal 16 Februari 2015.