Anda di halaman 1dari 21

BAB I

PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan ini tidak dapat dihindari kenyataan bahwasanya
setiap mahkluk yang ada di bumi selalu hidup berdampingan dengan
senyawa-senyawa kimia baik dari alam maupun buatan atau sintesis.
Begitu banyak senyawa kimia yang akan kita temukan di seluruh
alam semesta ini. dengan mempelajari kimia analit kita dapat
mengetahui paling tidak beberapa komponen senyawa beserta
beberapa metode dalam reaksi-reaksi kimia guna mempelajari ilmuilmu alam sehingga kita dapat menjadikan dan mengelola alam ini
dengan lebih baik lagi. Salah satu materi yang akan kita bahas dalam
penelitian ini adalah tentang kompleksometri dan titrasinya pada air
sumur dari beberapa tempat yang berbeda.
Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling
mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Titrasi kompleksometri adalah
titrasi berdasarkan pembentukan senyawa kompleks antara kation dengan zat
pembentuk kompleks. Salah satu zat pembentuk kompleks yang banyak digunakan
dalam titrasi kompleksometri adalah garam dinatrium etilendiamina tetraasetat
(dinatrium EDTA). (Khopkar, 1990).
Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan titrimetrik
melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang larut namun
sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks yang dibentuk
melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah anion atau molekul netral
(Basset, 1994). Sebagian besar titrasi kompleksometri mempergunakan indikator yang
juga bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya mempunyai
warna yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri.

I.2 Rumusan Masalah


1. Apa pengertian dari kompleksometri?
2. Indikator-indikator
apa
saja
yang
kompleksometri?
3. Apa tujuan dari titrasi kompleksometri?

digunakan

dalam

I.3 Tujuan Penelitian


1. Memahami apa pengertian kompleksometri
2. Mengetahui indikator apa saja yang digunakan dalam titrasi
kompleksometri
3. Memahami tujuan atau manfaat titrasi kompleksometri
I-1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Kompleksometri
II.1.1 Pengertian Kompleksometri
Kompleksometri merupakan jenis titrasi dimana titran dan titrat saling
mengkompleks, membentuk hasil berupa kompleks. Reaksireaksi pembentukan
kompleks atau yang menyangkut kompleks banyak sekali dan penerapannya juga
banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu perlu pengertian yang cukup luas
tentang kompleks,sekalipun disini pertama-tama akan diterapkan pada titrasi.
(Khopkar, 1990)
Titrasi kompleksometri adalah titrasi berdasarkan pembentukan senyawa
kompleks antara kation dengan zat pembentuk kompleks. Salah satu zat pembentuk
kompleks yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah garam
dinatrium etilendiamina tetraasetat (dinatrium EDTA).(Khopkar, 1990).
Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna
sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. Ada lima syarat suatu indikator logam
dapat digunakan pada pendeteksi visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna
harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua ion logam telah
berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat. Kedua, reaksi warna itu
haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif. Ketiga, kompleks-indikator
logam itu harus memiliki kestabialan yang cukup, kalau tidak, karena disosiasi, tak
akan diperoleh perubahan warna yang tajam. Namun, kompleks-indikator logam itu
harus kurang stabil disbanding kompleks logam-EDTA untuk menjamin agar pada
titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam ke
kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. Keempat, kontras warna antara
indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus sedemikian sehingga mudah
diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (yaitu, terhadap pM)
sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen. Terakhir,
penentuan Ca dan Mg dapat dilakukan dengan titrasi EDTA, pH untuk titrasi adalah
10 dengan indikator eriochromr black T. pada pH tinggi, 12, Mg akan mengendap
sebagai Mg(OH)2 akam mengendap, sengga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh
Ca2+ dengan indikator murexide (Basset, 1994).
Kesulitan yang timbul dari kompleks yang lebih rendah dapat dihindari
dengan penggunaan bahan pengkelatsebagai titran. Bahan pengkelat yang
mengandung baik oksigen maupun nitrogen secara umum efektif dalam
membentuk kompleks-kompleks yang stabil dengan berbagai macam logam.
Keunggulan EDTA adalah mudah larut dalam air, dapat diperoleh dalam keadaan
I-1

murni, sehingga EDTA banyak dipakai dalam melakukan percobaan


kompleksometri. (Harjadi, 1993).
Reaksireaksi pembentukan kompleks atau yang menyangkut kompleks
banyak sekali dan penerapannya juga banyak, tidak hanya dalam titrasi. Karena itu
perlu pengertian yang cukup luas tentang kompleks, sekalipun disini pertama-tama
akan diterapkan pada titrasi. Contoh reaksi titrasi kompleksometri :
Ag+ + 2 CN Ag(CN)2
Hg2+ + 2Cl HgCl2
Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan
titrimetrik melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang
larut namun sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks
yang dibentuk melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah anion atau
molekul netral (Basset, 1994).
Gugus-yang terikat pada ion pusat, disebut ligan, dan dalam larutan air,
reaksi dapat dinyatakan oleh persamaan :
M(H2O)n + L = M(H2O)(n-1) L + H2O
(Khopkar, 2002).
Sebagian besar titrasi kompleksometri mempergunakan indikator yang juga
bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja kompleks logamnya mempunyai
warna yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri. Indikator demikian disebut
indikator metalokromat. Indikator jenis ini contohnya adalah Eriochromeblack T,
pyrocatechol violet, xylenol orange, calmagit, 1-(2-piridil-azonaftol), PAN, zincon,
asam salisilat, metafalein dan calcein blue (Khopkar, 2002).
Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna
sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. Ada lima syarat suatu indikator ion logam
dapat digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna
harus sedemikian sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua ion logam telah
berkompleks dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat. Kedua, reaksi warna itu
haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif. Ketiga, kompleks-indikator
logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup agar diperoleh perubahan warna
yang tajam. Namun,kompleks indikator logam itu harus kurang stabil dibanding
komplekslogam EDTA untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA
memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam ke kompleks logamEDTAharus tajam dan cepat. Kelima, kontras warna antara indikator bebas
dankompleks indikator logam harus sedemikian sehingga mudah
diamati.Indikator harus sangat peka terhadap ion logam sehingga perubahan warna
I-1

terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen. Terakhir, penentuan Ca dan Mg


dapat dilakukan dengan titrasi EDTA, pH untuk titrasi adalah 10 denganindikator
eriochrome black T (Basset, 1994).
Salah satu tipe reaksi kimia yang berlaku sebagai dasar penentuan
titrimetrik melibatkan pembentukan (formasi) kompleks atau ion kompleks yang
larut namun sedikit terdisosiasi. Kompleks yang dimaksud di sini adalah kompleks
yang dibentuk melalui reaksi ion logam, sebuah kation, dengan sebuah anion atau
molekul netral. (Basset, 1994)
Titrasi kompleksometri juga dikenal sebagai reaksi yang meliputi reaksi
pembentukan ion-ion kompleks ataupun pembentukan molekul netral yang
terdisosiasi dalam larutan. Persyaratan mendasar terbentuknya kompleks demikian
adalah tingkat kelarutan tinggi. Selain titrasi komplek biasa seperti di atas, dikenal
pula kompleksometri yang dikenal sebagai titrasi kelatometri, seperti yang
menyangkut penggunaan EDTA. (Khopkar, 1990)
Logam Ligan Kompleks

Ag+

NH3

Ag(NH3)2+

Bilangan
koordinasi
logam
2

Hg2+

Cl-

HgC12

Cu2+

NH3

Ni2+

Geometri Reaktivita
s
Liniar

Labil

Liniar

Labil

Cu(NH3)42+

Labil

CN-

Ni(CN)42-

Co2+

H2O

CO(H2O)62+

Tetrahedra
l
Persegi
planar
Oktahedral

Co3+

NH3

Co(NH3)63+

Oktahedral

Inert

Cr3+

CN-

Cr(CN)63-

Oktahedral

Inert

CN-

Fe(CN)63-

Oktahedral

Inert

Fe

3+

Labil
Labil

Tabel II.1.1 pembentukan kompleksometri


II.1.2 Indikator kompleksometri
Indikator dalam titrasi kompleksometri tidak berubah karena perubahan pH,
tidak juga karena daya oksidasi titrat berubah, akan tetapi karena perubahan pM (M
adalah khelat logam). (Roth 1988)
Syarat-syarat indikator logam, yaitu:
Reaksi warnanya harus sensitif, dengan kepekaan yang besarterhadap logam.
Reaksi warnanya harus spesifik.
- Perbedaan warna dari indikator bebas dengan indikator kompleks harus
mempunyai kestabilan yang efektif dimana pH titrasi tidak boleh tidak
teroksidasi dan tereduksi.
I-1

Kestabilan kompleks logam indikator harus cukup.


Reaksi pengusiran indikator oleh EDTA harus belangsung cepat.
(Underwood, 1993)
Dan berdasarkan perubahan warna dari indikator logam ini dapat kita bedabedakan :
1. Cara titrasi langsung, pada titrasi ini larutan ion logam ditambah larutan dapar
dan indikator, kemudian langsung dititrasi dengan komplekson III. Titrasi ini
digunakan untuk penentuan ion-ion logam kalium, magnesium dan zink.
2. Cara titrasi tidak langsung, digunakan untuk menentukan senyawa aluminium
dan bismth, karena pada titrasi secara langsung terjadi kesalahan yang
disebabkan karena pengendapan dari logam sebagai hidroksida dalam suasana
alkali. (Susanti, 2003)
II.2 EDTA
Asam etilen diamin tetra asetat atau yang lebih dikenal dengan EDTA, merupakan
salah satu jenis asam amina polikarboksilat. EDTA sebenarnya adalah ligan seksidentat
yang dapat berkoordinasi dengan suatu ion logam lewat kedua nitrogen dan keempat gugus
karboksil-nya atau disebut ligan multidentat yang mengandung lebih dari dua atom
koordinasi per molekul, misalnya asam 1,2diaminoetanatetraasetat (asametilenadiamina
tetraasetat, EDTA) yang mempunyai dua atom nitrogen penyumbang dan empat atom
oksigen penyumbang dalam molekul. (Harjadi, 1993)
Suatu EDTA dapat membentuk senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah
besar ion logam sehingga EDTA merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam larutan yang
agak asam, dapat terjadi protonasi parsial EDTA tanpa pematahan sempurna kompleks
logam, yang menghasilkan spesies seperti CuHY-. Ternyata bila beberapa ion logam yang
ada dalam larutan tersebut maka titrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion
logam yang ada dalam larutan tersebut (Harjadi, 1993).
Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH, misal Mg, Ca, Cr, dan
Ba dapat dititrasi pada pH = 11 EDTA. Sebagian besar titrasi kompleksometri
mempergunakan indikator yang juga bertindak sebagai pengkompleks dan tentu saja
kompleks logamnya mempunyai warna yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri.
Indikator demikian disebut indikator metalokromat. Indikator jenis ini contohnya adalah
Eriochrome black T, pyrocatechol violet, xylenol orange, calmagit, 1-(2-piridil-azonaftol),
PAN, zincon, asam salisilat, metafalein dan calcein blue (Khopkar, 2002).
Satu-satunya ligan yang lazim dipakai pada masa laludalam pemeriksaan kimia
adalah ion sianida, CN-, karena sifatnya yang dapat membentuk kompleks yang mantap
dengan ion perak dan ion nikel. Dengan ion perak, ion sianida membentuk senyawa
kompleks perak-sianida, sedangkan dengan ion nikel membentuk nikel-sianida. Kendala
yang membatasi pemakaian-pemakaian ion sianida dalam titrimetri adalah bahwa ion ini
membentuk kompleks secara bertahap dengan ion logam karena ion ini merupakan ligan
bergigi satu (Rival, 1995).

I-1

Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna


sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. Ada lima syarat suatu indikator logam dapat
digunakan pada pendeteksi visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus sedemikian
sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan
EDTA, larutan akan berwarna kuat. Kedua, reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus),
atau sedikitnya selektif. Ketiga, kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabialan
yang cukup, kalau tidak, karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam.
Namun, kompleks-indikator logam itu harus kurang stabil disbanding kompleks logamEDTA untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari
kompleks-indikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. Keempat,
kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus sedemikian
sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (yaitu, terhadap
pM) sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen. Terakhir,
penentuan Ca dan Mg dapat dilakukan dengan titrasi EDTA, pH untuk titrasi adalah 10
dengan indikator eriochromr black T. pada pH tinggi, 12, Mg akan mengendap sebagai
Mg(OH)2 akam mengendap, sengga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh Ca2+ dengan
indikator murexide (Basset, 1994).
EDTA merupakan ligan seksidentat yang berpotensi, yang dapat berkoordinasi
dengan ion logam dengan pertolongan kedua nitrogen dan empat gugus karboksil. Dalam
hal-hal lain, EDTA mungkin bersikap sebagai suatu ligan kuinkedentat atau kuadridentat
yang mempunyai satu atau dua gugus karboksilnya bebas dari interaksi yang kuat dengan
logamnya. Untuk memudahkan, bentuk asam EDTA bebas sering kali disingkat menjadi
H4Y. Dalam larutan yang cukup asam, protonasi sebagian dari EDTA tanpa kerusakan
lengkap dari kompleks iogam mungkin terjadi, yang menyebabkan terbentuknya zat seperti
CuHY-; tetapi pada kondisi biasa semua empat hidrogen hilang, apabila ligan
dikoordinasikan dengan ion logam. Pada harga-harga pH sangat tinggi, ion hidroksida
mungkin menembus lingkungan koordinasi dari logam dan kompleks seperti Cu(OH)Y3
terjadi.
Zat-zat lain dari titran kilon yang mungkin ada dalam larutan ion logam dapat
membentuk kompleks dengan logamnya dan dengan demikian bersaing dengan reaksi
titrasi yang diinginkan.Sebenarnya pembentukan kompleks demikian kadang-kadang
dengan pertimbangan digunakan untuk mengatasi interferensi, yang dalam hal ini efek dari
pengompleks disebut penutupan. Dengan ion-ion logam tertentu yang dengan mudah
terhidrolisa, mungkin perlu untuk menambahkan ligan pengompleks agar mencegah
pengendapan hidroksida logam. Jika tetapan stabilitas untuk semua kompleks diketahui,
maka efek pembentukan kompleks terhadap reaksi titrasi EDTA dapat dihitung.
Hidrilisa ion logam mungkin bersaing dengan proses titran khelometrik.
Peningkatan pH membuat efek ini lebih jelek dengan penggeseran ke keseimbangan,
hidrolisa secara ekstensif dapat mengakibatkan pengendapan hidroksida yang hanya
bereaksi dengan EDTA secara perlahan-lahan, bahkan apabila pertimbangan pertimbangan
keseimbangan menguntungkan pembentukan khelonat logam. Sekali pun seringkali tetapan
hidrolisa yang cocok untuk ion-ion logam tidak tersedia. Suatu EDTA dapat membentuk
I-1

senyawa kompleks yang mantap dengan sejumlah besar ion logam sehingga EDTA
merupakan ligan yang tidak selektif. Dalam larutan yang agak asam, dapat terjadi protonasi
parsial EDTA tanpa pematahan sempurna kompleks logam, yang menghasilkan spesies
seperti CuHY-. Ternyata bila beberapa ion logam yang ada dalam larutan tersebut maka
titrasi dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada dalam larutan
tersebut.
Selektivitas kompleks dapat diatur dengan pengendalian pH, misal Mg, Ca, Cr, dan
Ba dapat dititrasi pada pH = 11 EDTA. Sebagian besar titrasi kompleksometri
mempergunakan indikator yang juga bertindak sebagai pengompleks dan tentu saja
kompleks logamnya mempunyai warna yang berbeda dengan pengompleksnya sendiri.
Indikator demikian disebut indikator metalokromat. Indikator jenis ini contohnya adalah
Eriochrome black T; pyrocatechol violet; xylenol orange; calmagit; 1-(2-piridil-azonaftol),
PAN, zincon, asam salisilat, metafalein dan calcein blue. Satu-satunya ligan yang lazim
dipakai pada masa lalu dalam pemeriksaan kimia adala ion sianida, CN-, karena sifatnya
yang dapat membentuk kompleks yang mantap dengan ion perak dan ion nikel. Dengan ion
perak, ion sianida membentuk senyawa kompleks perak-sianida, sedagkan dengan ion
nikel membentuk nikel-sianida. Kendala yang membatasi pemakaian-pemakaian ion
sianoida dalam titrimetri adalah bahwa ion ini membentuk kompleks secara bertahap
dengan ion logam lantaran ion ini merupakan ligan bergigi satu dapat ditentukan dengan
adanya penambahan indikator yang berguna sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi.
Ada lima syarat suatu indikator ion logam dapat digunakan pada pendeteksian
visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus sedemikian sehingga sebelum titik
akhir, bila hampir semua ion logam telah berkompleks dengan EDTA, larutan akan
berwarna kuat. Kedua, reaksi warna itu haruslah spesifik (khusus), atau sedikitnya selektif.
Ketiga, kompleks-indikator logam itu harus memiliki kestabilan yang cukup, kalau tidak,
karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna yang tajam. Namun, kompleksindikator logam itu harus kurang stabil dibanding kompleks logam-EDTA untuk menjamin
agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam dari kompleks-indikator logam
ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. Kelima, kontras warna antara indikator
bebas dan kompleks-indikator logam harus sedemikian sehingga mudah diamati. Indikator
harus sangat peka terhadap ion logam sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin
dengan titik ekuivalen. Terakhir, penentuan Ca dan Mg dapat dilakukan dengan titrasi
EDTA, pH untuk titrasi adalah 10 dengan indikator eriochrome black T. Pada pH tinggi,
12, Mg(OH)2 akan mengendap, sehingga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh Ca2+dengan
indikator murexide.
Satu-satunya ligan yang lazim dipakai pada masa lalu dalam pemeriksaan kimia
adala ion sianida, CN, karena sifatnya yang dapat membentuk kompleks yang mantap
dengan ion perak dan ion nikel. Dengan ion perak, ion sianida membentuk senyawa
kompleks perak-sianida, sedagkan dengan ion nilkel membentuk nikel-sianida. Kendala
yang membatasi pemakaian-pemakaian ion sianoida dalam titrimetri adalah bahwa ion ini
membentuk kompleks secara bertahap dengan ion logam lantaran ion ini merupakan ligan
bergigi satu (Rival, 1995).
I-1

Titrasi dapat ditentukan dengan adanya penambahan indikator yang berguna


sebagai tanda tercapai titik akhir titrasi. Ada lima syarat suatu indikator ion logam dapat
digunakan pada pendeteksian visual dari titik-titik akhir yaitu reaksi warna harus
sedemikian sehingga sebelum titik akhir, bila hampir semua ion logam telah berkompleks
dengan EDTA, larutan akan berwarna kuat. Kedua, reaksi warna itu haruslah spesifik
(khusus), atau sedikitnya selektif. Ketiga, kompleks-indikator logam itu harus memiliki
kestabilan yang cukup, kalau tidak, karena disosiasi, tak akan diperoleh perubahan warna
yang tajam. Namun, kompleks-indikator logam itu harus kurang stabil dibanding kompleks
logam-EDTA untuk menjamin agar pada titik akhir, EDTA memindahkan ion-ion logam
dari kompleks-indikator logam ke kompleks logam-EDTA harus tajam dan cepat. Kelima,
kontras warna antara indikator bebas dan kompleks-indikator logam harus sedemikian
sehingga mudah diamati. Indikator harus sangat peka terhadap ion logam (yaitu, terhadap
pM) sehingga perubahan warna terjadi sedikit mungkin dengan titik ekuivalen. Terakhir,
penentuan Ca dan Mg dapat dilakukan dengan titrasi EDTA, pH untuk titrasi adalah 10
dengan indikator eriochrome black T. Pada pH tinggi, 12, Mg(OH)2 akan mengendap,
sehingga EDTA dapat dikonsumsi hanya oleh Ca 2+ dengan indikator murexide
(Basset, 1994).
Kesulitan yang timbul dari kompleks yang lebih rendah dapat dihindari dengan
penggunaan bahan pengkelat sebagai titran. Bahan pengkelat yang mengandung baik
oksigen maupun nitrogen secara umum efektif dalam membentuk kompleks-kompleks
yang stabil dengan berbagai macam logam. Keunggulan EDTA adalah mudah larut dalam
air, dapat diperoleh dalam keadaan murni, sehingga EDTA banyak dipakai dalam
melakukan percobaan kompleksometri. Namun, karena adanya sejumlah tidak tertentu air,
Sebaiknya EDTA distandarisasikan dahulu misalnya dengan menggunakan larutan
kadmium.
Ternyata bila beberapa ion logam yang ada dalam larutan tersebut maka titrasi
dengan EDTA akan menunjukkan jumlah semua ion logam yang ada dalam larutan tersebut
(Harjadi, 1993). Prinsip dan dasar reaksi penentuan ion-ion logam secara
titrasikompleksometri umumnya digunakan komplekson III (EDTA) sebagai zat
pembentuk kompleks khelat, dimana EDTA bereaksi dengan ion logam yang polivalen
seperti Al+3, Bi+3, Ca+2, dan Cu+2
1. Titrasi Khelometrik
EDTA merupakan ligan seksidentat yang berpotensi, yang dapat
berkoordinasi dengan ion logam dengan pertolongan kedua nitrogen dan empas
gugus karboksil. Dalam hal-hal lain, EDTA mungkin bersikap sebagai suatu ligan
kuinkedentat atau kuadridentat yang mempunyai satu atau dua gugus karboksilnya
bebas dari interaksi yang kuat dengan logamnya. Untuk memudahkan, bentuk asam
EDTA bebas sering kali disingkat H4Y. Dalam larutan yang cukup asam, protonasi
sebagian dari EDTA tanpa kerusakan lengkap dari kompleks iogam mungkin
terjadi, yang menyebabkan terbentuknya zat seperti CuHY-; tetapi pada kondisi
biasa semua empat hidrogen hilang, apabila ligan dikoordinasikan dengan ion
I-1

logam. Pada harga-harga pH sangat tinggi, ion hidroksida mungkin menembus


lingkungan koordinasi dari logam dan kompleks seperti Cu(OH) Y3- dapat terjadi
(Rival, 1995).

2. Efek Kompleks
Zat-zat lain dari titran kilon yang mungkin ada dalam larutan ion logam
dapat membentuk kompleks dengan logamnya dan dengan demikian bersaing
dengan reaksi titrasi yang diinginkan. Sebenarnya pembentukan kompleks
demikian kadang-kadang dengan pertimbangan digunakan untuk mengatasi
interferensi, yang dalam hal ini efek dari pengompleks disebut penutupan. Dengan
ion-ion logam tertentu yang dengan mudah terhidrolisa, mungkin perlu untuk
menambahkan ligan pengompleks agar mencegah pengendapan hidroksida logam.
Jika tetapan stabilitas untuk semua kompleks diketahui, maka efek pembentukan
kompleks terhadap reaksi titrasi EDTA dapat dihitung (Rival, 1995).
3. Efek Hidrolisa
Hidrilisa ion logam mungkin bersaing dengan proses titran khelometrik.
Peningkatan pH membuat efek ini lebih jelek dengan penggeseran kekeseimbangan
yang benar dari jenis
M2+ + H2O M(OH)+ + H+
Hidrolisa secara ekstensif dapat mengakibatkan pengendapan hidroksida
yanghanya bereaksi dengan EDTA secara perlahan-lahan, bahkan apabilapertimbanganpertimbangan keseimbangan menguntungkan pembebtukkankhelonat logam. Sekali pun
seringkali tetapan hidrolisa yang cocok untuk ion-ion logam tidak tersedia, dan karenanya
pengaruh ini sering tidak dapatdihitung dengan teliti. (Rival, 1995).
II.2.1 Jenis Titrasi EDTA
Jenis-jenis titrasi EDTA :
1. Titrasi langsung
Titrasi langsung adalah Titrasi ini dapat dilakukan terhadap sedikitnya 25
kation dengan menggunakan indikator logam. Pereaksi pembentukan kompleks,
seperti sitrat dan tartrat, sering ditambahkan untuk pencegahan endapan
hidroksida logam. Buffer NH3-NH4Cl dengan pH 9 sampai 10 sering
digunakan untuk ogam yang membentuk kompleks dengan amoniak.
2. Titrasi kembali
Titrasi ini digunakan apabila reaksi antara kation dengan EDTA lambat atau
apabila indicator yang sesuai tidak ada. EDTA berlebih ditambahkan berlebih
dan yang bersisa dititrasi dengan larutan standar Mg dengan menggunakan
I-1

calmagnite sebagai indicator. Kompleks Mg-EDTA mempunyai stabilitas


relative rendah dan kation yang ditentukan tidak digantikan dengan magnesium.
Cara ini dapat juga untuk menentukan logam dalam endapan, seperti Pb di
dalam PbSO4 dan Ca dalam CaSO4.
3. Titrasi subtitusi
Titrasi ini berguna bila tidak ada indicator yang sesuai untuk ion logam
yang ditentukan. Sebuah larutan berlebih yang mengandung kompleks MgEDTA ditambahkan dan ion logam, misalnya M2+ menggantikan magnesium
dari kompleks EDTA yang relative lemah itu.
4. Titrasi secara tidak langsung
Titrasi ini beberapa jenis telah dilaporkan, antara lain penentuan sulfat
dengan menambahkan larutan baku barium berlebihan dan menitrasi kelebihan
tersebut dengan EDTA. Juga pospat sudah ditentukan setelah pengendapan
sebagai MgNH4PO4 yang tidak terlalu sukar larut lalu menitrasi kelebihan Mg.
5. Titrasi alkalimetri
Titrasi ini dengan menambahkan larutan Na2H2Y berlebihan kepada larutan
analat yang bereaksi netral. Ion hydrogen yang dibebaskan dititrasi dengan
larutan baku basa.
II.2.2 Kestabilan Kompleks
Kestabilan suatu kompleks jelas akan berhubungan dengan (a)
kemampuan mengkompleks dari ion logam yang terlihat, dan (b) dengan cirri
khas ligan itu, yang penting untuk memeriksa faktor-faktor ini dengan singkat :
a. Kemampuan mengkompleks logam-logam digambarkan dengan baik menurut
klasifikasi Schwarzenbach, yang dalam ganis besarnya didasarkan atas
pembagian logam menjadi asam lewis (penerima pasangan electron) kelas A
dan kelas B. Logam kelas A dicirikan oleh larutan afinitas (dalam larutan air)
terhadap halogen, dan membentuk kompleks yang paling stabil engan anggota
pertama grup table berkala. Kelas B lebih mudah berkoordinasi dengan Idaripada dengan f dalam larutan air dan membentuk kompleks terstabil dengan
atom penyumbang kedua dari masing-masing grup itu yakni Nitrogen, Oksigen,
dan F, Cl, C, P. Konsep asam basa keras dan lunak adalah berguna dalam
menandai ciri-ciri perilaku penerima pasangan electron kelas A dan kelas B
(Basset, 1994).

b. Ciri-ciri khas ligan, dapat mempengaruhi kestabilan kompleks diman aligan itu
terlibat, adalah (i) kekuatan basa dari ligan itu, (ii) sifat-sifat penyepitan, jika
ada, dan (iii) efek-efek sterik (ruang). Efek sterik yang paling umum adalah
I-1

efek oleh adanya suatu gugusan besar yang melekat pada atau berada
berdekatan dengan atom penyumbang. (Basset, 1994).
II.2.3 Indikator Logam
Indikator logam adalah suatu indicator terdiri dari suatu zat yang umumnya
senyawa organic yang dengan satu atau beberapa ion logam dapat membentuk
senyawa kompleks yang warnanuya berlainan dengan warna indikatornya dalam
keadaan bebas. Warna indicator asam basa akan tergantung, pada pH larutannya,
sedangkan warna indicator logam sampai batas tertentu bergantung pada pM. Oleh
karena itu indicator logam sering disebut sebagai "pM-slustive indicator" atau
metalochrome-indikator (syafei, 1998).
Beberapa macam indicator logam yang digunakan adalah sebagai berikut :
1.

Eriochrome Black T

Gambar II.2.3 Eriochrome Black T

Black T merupakan indikator kompleksometri yang merupakan bagian dari


titrasi kompleksometri, misalnya dalam proses penentuan kekerasan air. Ini adalah
dye.It azo juga dikenal sebagai ET-00. Dalam bentuk terprotonasi nya, Eriochrome
Black T biru. Ternyata merah ketika membentuk kompleks dengan kalsium,
magnesium, atau ion logam lainnya. Rumus kimianya dapat ditulis sebagai
HOC10H6N = NC10H4 (OH) (NO2) SO3Na. Eriochrome Black T adalah biru, tapi
ternyata merah di hadapan logam. Ketika digunakan sebagai indikator dalam titrasi
EDTA, akhir biru karakteristik titik-tiba saat EDTA memadai telah ditambahkan
dan membentuk kompleks ion logam dengan EDTA bukan Eriochrome.Eriochrome
Black T juga telah digunakan untuk mendeteksi keberadaan logam tanah .
Kelemahan indikator ini, tak stabil dalam larutan,sehingga larutan tidak dapat
disimpan

I-1

2. Murexide

Gambar II.2.3 Murexide

Kelat Murexide dengan logam berwarna merah muda dan indikator


bebasnya berwarna ungu. Seperti halnya Calcon, Murexide sangat cocok untuk
titrasi penetapan Ca pada pH tinggi, pH 11-13 tanpa gangguan ion Mg++.
Perubahan warnanya dari warna merah muda menjadi ungu. Disini tidak
diperlukan Masking Agent untuk menentukan kesadahan Ca karena ion Mg dan
logam lainnya tidak menggangu pada pH diatas 11. Logam-logam tadi
mengendap dalam bentuk hidroksida.

3. Xylanol Orange (XO)

I-1

Gambar II.2.3 Xylanol Orange (XO)


Indikator ini dibuat dengan mereaksikan o-kresolsulfonftalein dengan
formaldehid dan asam iminodiasetat, sehingga diadisikan satu atau dua gugus
pengkelat. Sebagai Indikator asam-basa, Xylenol orange berwarna kuning
lemon dalam larutan asam (pH < 5,4) dan merah pada pH 5,5 7,4. Sedangkan
kelat indikator logam berwarna violet atau merah. Indikator ini dipakai pada pH
rendah (< 5,4) atau dalam HNO3 0,2 M untuk titrasi kelat EDTA yang kuat.
Misal untuk Bi dan Th sevara langsung pada pH 1,5 3,0 dan tak langsung
untuk Zr dan Fe (III).
4. Calmagite

Gambar II.2.3 Calmagite

Calmagite merupakan indikator kompleksometri digunakan dalam kimia


analitik untuk mengidentifikasi keberadaan ion logam dalam larutan. Seperti
dengan ion logam calmagite indikator lain akan berubah warna saat itu pasti

I-1

akan ion. Calmagite akan merah anggur bila terikat pada ion logam dan
mungkin biru, merah, atau oranye jika tidak terikat pada ion logam. Calmagite
sering digunakan dalam hubungannya dengan EDTA, bahan pengikat kuat
logam. Seperti halnya Erio T, calmagite mengkompleks banyak ion logam.
Daerah kerjanya mencakup pH 8,1 12,4 dan warna indikator bebasnya biru.
Larutan Calmagite stabil, tetapi dalam hal-hal lain sifatnya sama dengan Erio T,
antara lain mengalami blocking oleh Cu, Ni, Fe (III), dan Al.
5. Arsenazo

Gambar II.2.3 Arsenazo

Indikator ini dipakai untuk Ca maupun Mg, sehingga dalam titirasi


Ca2+ tidak perlu penambahan Mg2+. Selain itu, keuntungan besar ialah,
indikator ini tidak diblock oleh Cu (II) dan Fe (III) dalam jumlah kecil.
Keuntungan lain bereaksi cepat sehingga perubahan warna juga cepat. Arsenazo
I merupakan
indikator jitu untuk titrasi logam alkali tanah dan Th (IV) dengan EDTA.
6. NAS
Warna NAS merah-violet dalam larutan yang sangat asam dan merahjingga pada pH 3,5 keatas. Daerah kerja NAS kira-kira pH 3 9. Kelatnya
dengan Cu, Zn, dan Pb berwarna kuning pucat, dan dengan beberapa ion logam
lain kuning atau jingga pucat. Penggunaan NAS cukup luas dan dianjurkan
untuk tittrasi Cu, Co (II), Cd, Ni, Zn,.Al, dan beberapa kation lain dengan
EDTA. Dalam banyak penggunaannya, perlu atau membantu sekali
ditambahkan sedikit Cu (II) supaya bereaksi dengan indikator. Indikator-Cu ini
baru terurai kembali bila titrasi sudah selesai. Penambahan Cu (II) mendekati
akhir titrasi, tanpa Cu pun tampak perubahan warna dari jingga menjadi merah.
7. Pyrocatechol Violet
I-1

Gambar II.2.3 Pyrocatechol Violet

Indikator ini asam berbasa tiga, tetapi karena ion H+ pertama mengion
hampir sempurna, hanya dalam keadaan asam sekali terdapat dalam bentuk
molekul bebas dengan warna merah. Antara pH 2 dan 6 karena pengionan
SO3H, berwarna kuning, antara pH 7 10 violet dan diatas pH 10 warna
purpur. Kebanyakan kelat logamnya berwarna biru, sehingga baik dipakai pada
pH 2 dan 6. Dengan indikator ini dapat ditentukan campuran Bi-Pb dengan
jalan menitrasi pertama pada pH 2 untuk Bi , terjadi warna biru menjadi kuning
dan pH dinaikkan menjadi 5, titirasi dilanjutkan untuk Pb dengan perubahan
warna dari biru menjadi kuning.
Indikator yang banyak digunakan dalam titrasi kompleksometri adalah:
1. Hitam eriokrom Indikator ini peka terhadap perubahan kadar logam dan
pH larutan. Pada pH 8 - 10 senyawa ini berwarna biru dan kompleksnya
berwarna merah anggur. Pada pH 5 senyawa itu sendiri berwarna merah,
sehingga titik akhir sukar diamati, demikian juga pada pH 12. Umumnya
titrasi dengan indikator ini dilakukan pada pH 10.
2. Jingga xilenol Indikator ini berwarna kuning sitrun dalam suasana asam
dan merah dalam suasana alkali. Kompleks logam-jingga xilenol berwarna
merah, karena itu digunakan pada titrasi dalam suasana asam.
3. Biru Hidroksi Naftol Indikator ini memberikan warna merah sampai
lembayung pada daerah pH 12 13 dan menjadi biru jernih jika terjadi
kelebihan edetat. Titrasi kompleksometri umumnya dilakukan secara
langsung untuk logam yang dengan cepat membentuk senyawa kompleks,
sedangkan yang lambat membentuk senyawa kompleks dilakukan titrasi
kembali.
I-1

BAB III
METODOLOGI PERCOBAAN
III.1 Variabel Percobaan
Air sumur daerah Tuban
III.2 Bahan Percobaan
1. Aquades
2. HCL pekat
3. Indikator EBT
4. Larutan buffer pH 10
5. MgCl2.6H2O
6. Na2EDTA
7. Padatan CaCO3
III.3 Alat
1.
2.
3.
4.
5.

Percobaan
Beaker glass
Buret
Corong
Erlenmeyer
Gelas ukur
I-1

6. Kaca arloji
7. Labu takar
8. Pipet tetes
9. Spatula
10. Statif dan klem
III.4 Metode Percobaan
III.4.1 Pembuatan Larutan Baku Kalsium
1. Timbang 0,25 gr CaCO3
2. Tuangkan dalam gelas kimia 100 ml
3. Tambahkan 3 tetes HCL
4. Tuangkan dalam labu takar
5. Lakukan pengeceran
III.4.2 Pembuatan Larutan EDTA
1. Pipet 25 ml larutan baku kalsium ke dalam erlenmeyer
250 ml
2. Tambahkan 7-8 ml larutan buffer pH 10 dan 10 ml
aquades
3. Tambahkan indikator EBT
4. Lakukan titrasi tiga kali

III.4.3 Titrasi Ca
1. Pipet 25 ml larutan baku kalsium ke dalam erlenmeyer
250 ml
2. Tambahkan 7-8 ml larutan buffer pH 10 dan 10 ml
aquades
3. Tambahkan indikator EBT
4. Lakukan titrasi tiga kali
III.4.4 Titrasi Fe
1. Mengambil beberapa ml sampel dengan volume yang
tepat
2. Masukkan ke dalam erlenmeyer dan ditambahkan larutan
buffer pH 10 beberapa ml dan tidak boleh melebihi 5 ml
3. Ditambahkan indikator EBT sebanyak ujung pengaduk
4. Dititrasi dengan natrium EDTA hingga warna menjadi
merah tua dan hentikan titrasi ketika warna menjadi biru
pada suhu 40-60 C

I-1

5. Agar sianida tidak mengganggu proses penopengan yang


bertujuan untuk menghilangkan suatu ion agar tidak
terpengaruh pada penentuankadar logam
III.5 Diagram Alir Percobaan
III.5.1 Pembuatan Larutan Baku Kalsium
Timbang 0,25 gr CaCO3

Tuangkan dalam gelas kimia 100 ml

Tambahkan 3 tetes HCL

Tuangkan dalam labu takar

Lakukan pengeceran

III.5.2 Pembuatan Larutan EDTA


Pipet 25 ml larutan baku kalsium ke
dalam erlenmeyer 250 ml

Tambahkan 7-8 ml larutan buffer pH 10


dan 10 ml aquades

Tambahkan indikator EBT


I-1
Lakukan titrasi tiga kali

III.5.3 Titrasi Ca
Pipet 25 ml larutan baku kalsium ke
dalam erlenmeyer 250 ml

Tambahkan 7-8 ml larutan buffer pH 10


dan 10 ml aquades

Tambahkan indikator EBT

Lakukan titrasi tiga kali

III.5.4 Titrasi Fe
Mengambil beberapa ml sampel dengan
volume yang tepat

Masukkan ke dalam erlenmeyer dan


ditambahkan larutan buffer pH 10
beberapa ml dan tidak boleh melebihi 5

Ditambahkan indikator EBT sebanyak


ujung pengaduk

Dititrasi dengan natrium EDTA hingga


warna menjadi merah tua dan hentikan
I-1
Agar
sianida
tidakj
mengganggu
titrasi
ketika
warna
menjadi
biru pada proses
penopengan
yang C bertujuan
untuk
suhu 40-60
menghilangkan suatu ion agar tidak

Agar sianida tidak mengganggu proses


penopengan yang bertujuan untuk
menghilangkan suatu ion agar tidak
terpengaruh pada penentuankadar logam
III.6 Gambar Alat Percobaan

Beaker glass

Buret

Corong

Erlemneyer

Gelas ukur

Kaca arloji
I-1

Labu takar

Pipet tetes

Spatula

Statif

I-1