Anda di halaman 1dari 1

ANALISIS POLA PENYEBARAN BATUGAMPING DI SEKITAR

ZONA MEGAFAULT SUMATRA BERDASARKAN STUDI


LITERATUR
Roishe Miyafto Prabowo
Teknik Geologi, Univeristas Diponegoro, Semarang
roishemiyaforabowo@gmail.com

Abstrak
Dimana Setalah organisme itu mati, organisme tersebut akan mengalami waktu penguraian
(dekomposisi) baik secara fisika maupun kimiawi. Batuan karbonat adalah batuan dengan kandungan
material karbonat lebih dari 50 % yang tersusun atas partikel karbonat klastik yang tersemenkan atau
karbonat kristalin hasil presipitasi langsung (Rejers & Hsu, 1986). Bates & Jackson (1987) mendefinisikan
batuan karbonat sebagai batuan yang komponen utamanya adalah mineral karbonat dengan berat
keseluruhan lebih dari 50 %.. Pulau Sumatra memiliki luas kurang lebih 473.606 km 2 yang dimana luas
pulau sumatra sendiri termasuk ke dalam pulau ke 5 terbesar di dunia. Proses terbentuknya Bukit Barisan
akibat dari saling bertumbrukanya antara dua lempeng yang menjadi dasar pulau sumatra yaitu lempeng
Eurasia yang bergerak kearah SE dengan lempeng Hindia-Australia yang bergerak kearah NE dengan saling
bertumbrukan dari kedua lempeng tersebut maka mengakibatkan terjadinya proses Orogenesa yang
membentuk sepanjang kelurusan zona subduksi serta membentuk penjajaran deretan Gunung api yang
sekarang disebut satuan Bukit Barisan. Penyebaran batuan sedimen karbontan khususnya batugamping di
wilayah sumatra dibagi menajadi 3 bagian yaitu bagian utara , bagian tengah dan bagian selatan. Bagian
Utara diwakili oleh kelompok Tapanuli yang terbentuk pada umur carboniferous yang dimana litologi
batuan berupa batugamping Bryrozoa. Dalam Kelompok Tapanuli adanya formasi yang mencirikan
penyebaran batugamping yaitu formasi alas yang dimana pada formasi ini batugamping telah mengalami
tahap metomorfisme yang dimana fosil yang terdapat pada formasi alas coral Allostrphylum chinnese,
Zaphrentites, Cleiothyridina, dan Marginatia (Metclafe,1983). Formasi batuan yang memiliki banyak
kandung fosil diwilayah Pulau sumatra tengah antaranya Formasi Asai, Penata, Tabir, dan Siulak yang
dimana ke empat formasi memiliki pola distribusi fosil yang hampir sama dengan komposisi fosil berkisar
antara 70-80 % pada setiap formasi. Fosil terdapat pada formasi Siulak berupa fosil Lotftulisa dan
Hydrocollaniae yang berumur Cretaceous (Tobler,1922). Pada Sumatra bagian Selatan terdapat terdapat
masik memliki komposisi dengan sumatra bagian tengah namun terdapat perbedaan yaitu pada formasi
didaerah bagian selatan kebanyak batuan telah mengalami tahap metamorfisme dengan pengaruh dari
aktivitas tektonik yang begitu intensif didaerah sumatra bagian selatan.