Anda di halaman 1dari 19

USULAN PENELITIAN

PEMBUATAN DAN KARAKTERISASI SERAT HOLLOW DARI


SELULOSA BAKTERIAL TERIMMOBILISASI NANOPARTIKEL TiO2
(SB-TiO2) UNTUK PENGOLAHAN AIR GAMBUT

Oleh :
Sahri

H1031131014

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2016

DAFTAR ISI
Daftar Isi...................................................................................................................i
Daftar Tabel.............................................................................................................ii
Daftar Gambar........................................................................................................iii
Daftar Lampiran......................................................................................................iv
Ringkasan.................................................................................................................v
BAB 1. PENDAHULUAN......................................................................................1
1.1 Latar Belakang...............................................................................................1
1.2 Perumusan Masalah........................................................................................2
1.3 Tujuan Penelitian............................................................................................2
1.4 Manfaat Penelitian..........................................................................................2
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................3
2.1. Air Gambut....................................................................................................3
2.2. Fotokatalis TiO2.............................................................................................4
2.3 Membran Selulosa Bakterial.........................................................................5
2.4 Kulit Nanas.....................................................................................................6
BAB 3. METODE PENELITIAN..........................................................................8
3.1

Waktu dan Lokasi......................................................................................8

3.2

Waktu dan Lokasi......................................................................................8

3.3

Prosedur Kerja...........................................................................................8

3.3.1

Pembuatan Ekstrak Kulit Buah Nanas...............................................8

3.3.2

Proses Fermentasi..............................................................................8

3.3.3

Pembuatan Serat Hollow Selulosa Bakterial......................................8

3.3.4

Karakterisasi dan Analisis..................................................................9

3.3.5

Eksperimen Fotokatalitik Pengolahan Air Gambut ..........................9

BAB 4. RENCANA JADWAL PENELITIAN......................................................10


4.1

Jadwal Kegiatan......................................................................................10

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................................11

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Hasil Analisis Proksimat Limbah Kulit Nanas Berdasarkan Berat
Basah ...............................................................................................
..................................
Tabel 2. Jadwal Penelitian10

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 Skema Proses Wet Spinning
Gambar 2 Reaktor Fotokatalisis Air Gambut0

RINGKASAN
Kalimantan merupakan daerah yang kaya akan tanah
gambut yang berasal dari pelapukan bahan organik. Air gambut
bewarna hitam dan banyak mengandung bahan organik serta
dapat membentuk kompleks dengan logam, sehingga tidak dapat
langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari. Berbagai
metode telah banyak dilakukan dalam upaya pemecahan
permasalahan air gambut tersebut, satu diantaranya adalah
melalui fotokatalisis air gambut. Pengolahan air gambut dapat
dilakukan melalui proses fotokatalisis dan filtrasi. Pengolahan air
gambut dengan fotokatalisis didasarkan pada proses penguraian
senyawa kompleks pada air gambut menjadi senyawa yang lebih
sederhana melalui reaksi fotolisis dengan penambahan katalis
pada air gambut seperti TiO2. TiO2 merupakan material
semikonduktor yang telah dikenal luas sebagai fotokatalis dalam
pengolahan air limbah. Keunggulan pengolahan gambut dengan
fotokatalisis adalah dapat dilakukan reduksi logam berat dan
oksidasi bahan organik air gambut secara simultan. Umumnya,
katalis TiO2 digunakan dalam bentuk serbuk. Penggunaan TiO 2
dalam bentuk serbuk sulit dalam aplikasinya, sehingga perlu
dilakukan modifikasi dengan menggunakan matriks padat seperti
selulosa bakterial. Membran selulosa bakterial adalah satu
diantara jenis membran yang dapat digunakan sebagai matriks
TiO2. Membran selulosa bakterial dapat dibuat melalui proses
fermentasi bahan yang mengandung glukosa atau karbohidrat
menjadi selulosa dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum
seperti air kelapa, tetes tebu, dan jus buah nanas.
Nanas (Ananas comosus L. Merr) merupakan satu diantara komoditi alam di
Kalimantan Barat yang tersedia melimpah dan ada sepanjang tahun (bukan
musiman). Bagian nanas yang sering dimanfaatkan adalah bagian
isinya, sedangkan kulit nanas belum dimanfaatkan dengan
optimal sehingga terbuang menjadi limbah. Padahal kulit nanas
juga mengandung glukosa seperti yang terdapat pada bagian isi.
Kulit nanas (Ananas comosus L. Merr) berpotensi sebagai sumber
glukosa dalam pembentukan selulosa bakterial melalui
fermentasi bakteri Acetobacter xylinum. Kandungan glukosa
pada kulit nanas sekitar 13,65 % gula reduksi dan kandungan
karbohidratnya sekitar 17,53%. Glukosa dari kulit nanas dapat
dikonversi dengan bantuan bakteri Acetobacter xylinum
menghasilkan selulosa bakteri. Selulosa bakteri selanjutnya
dibentuk menjadi serat hollow dan digunakan sebagai komposit
padat untuk fotokatalisator TiO2 pada pengolahan air gambut.
Pembuatan membran komposit TiO2/selulosa bakterial dilakukan
menggunakan TiO2 P25 Degussa yang dicampur dengan triton-X
dan asam asetat kemudian dicampur pada larutan membran
selulosa bakterial kemudian dibuat serat dengan teknik
4

pemintalan basah (wet spinning). Karakteristik fotokatalis TiO2 dalam


bentuk serat hollow SB-TiO2 akan memberikan performa yang lebih baik dalam
pengolahan air gambut. Hal ini karena membran komposit unggul dalam
mempermudah proses pemisahan setelah fotokatalisis berlangsung. Selain itu,
pengolahan dengan serat hollow SB-TiO2 tidak merusak lingkungan dan dapat
mengurangi pencemaran lingkungan. komposit SB-TiO2 yang diperoleh
diaplikasikan untuk pengolahan air gambut di dalam reaktor
fotokatalisis.
Mekanisme fotokatalisiss air gambut diawali dengan
fotoeksitasi elektron pada TiO2 akibat adanya sinar UV dengan
energi yang lebih besar dari celah semikonduktor TiO 2, sehingga
elektron (e-) akan tereksitasi ke pita konduksi dan terbentuk hole
(h+) pada pita valensi. Elektron yang berada pada pita konduksi
akan bereaksi dengan molekul adsorbat (misal gas oksigen)
membentuk reduktor yang sangat kuat seperti ion superoksida
(O2-). Ion ini akan mereduksi ion logam menghasilkan logam
beralensi lebih rendah, namun tidak berbahaya. Sedangkan hole
(h+) pada pita valensi akan bereaksi dengan senyawa adsorbat
membentuk radikal yang dapat bereaksi dengan senyawa
organik sehingga senyawa kompleks dalam air gambut terurai
menjadi senyawa yang lebih sederhana seperti asam oksalat, air,
dan karbondioksida. Air gambut yang telah difotokatalisis oleh
TiO2. Dengan demikian pengolahan air gambut di Kalimantan Barat dapat diatasi
dengan proses fotokatalisis menggunakan membran komposit TiO 2/selulosa
bakterial yang dibuat dengan memanfaatkan kearifan lokal sumberdaya alam
Kalimantan Barat.

BAB 1. PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kalimantan Barat merupakan daerah yang kaya akan tanah gambut
yang berasal dari pelapukan bahan organik. Air gambut bewarna hitam dan
banyak mengandung bahan organik serta dapat membentuk kompleks
dengan logam seperti Fe, Pb, dan Mn (Andayani dan Bagyo, 2011). Air
gambut tidak bisa dimanfaatkan secara langsung karena mengandung
senyawa organik seperti zat humat, senyawa aromatik, tannin dan lignin
serta logam berat yang berbahaya bagi kesehatan. Pemanfaatan air gambut
dapat dilakukan dengan terlebih dahulu dilakukan pengolahan. Satu
diantara metode pengolahan air gambut adalah melalui fotokatalisis.
Prinsip pengolahan air gambut dengan fotokatalisis didasarkan
pada proses penguraian air gambut menjadi senyawa yang lebih sederhana
melalui reaksi fotolisis dengan penambahan katalis pada air gambut
(Jayadi, dkk., 2014). Katalis yang paling banyak digunakan adalah TiO 2
karena memiliki banyak kelebihan seperti memiliki sifat semikonduktor,
stabil secara kimia dan fisika, mempunyai aktivitas yang tinggi, tahan
gores, dan relatif murah (Rahmayeni, dkk., 2013). Katalis TiO 2 biasanya
digunakan dalam bentuk serbuk dan diaplikasikan pada air gambut.
Namun, penggunaan serbuk TiO2 memiliki kelemahan yaitu sulit
dipisahkan setelah proses fotokatalisis air gambut selesai serta
menghasilkan endapan yang membuat air menjadi keruh (Zhang dan Lei,
2008). Oleh karena itu diperlukan modifikasi bentuk serbuk TiO2 menjadi
bentuk serat hollow dengan penambahan nanopartikel TiO2 sebagai
fotokatalisator pada suatu matriks padat berupa membran.
Membran merupakan material fleksibel tipis yang biasanya terbuat
dari selulosa, polimer sintesis, dan aromatik poliamida (Daintith, 2005).
Penggunaan membran untuk pengolahan limbah sudah banyak digunakan
dalam proses pemisahan. Teknologi membran dipilih karena prosesnya
yang sangat sederhana, menggunakan energi yang rendah, tidak merusak
material, dan tidak menghasilkan limbah baru sehingga tergolong clean
technology. Satu diantara clean technology tersebut adalah penggunaan
membran selulosa bakterial (Mulder, 1996).
Membran selulosa bakterial (SB) dapat dibuat melalui fermentasi
bahan yang mengandung glukosa seperti air kelapa, tetes tebu, limbah cair
tahu, maupun ekstrak buah nanas menjadi selulosa yang dibantu bakteri
Acetobacter xylinum (Prambayun, 2002; Lapuz, et al., 1976). Selain bahan
tersebut, ada bahan lain yang dapat digunakan sebagai media pertumbuhan
bakteri Acetobacter xylinum yaitu jus kulit nanas. Nanas (Ananas
1

comosus L. Merr) adalah jenis tumbuhan tropis yang berasal dari Brazil,
Bolivia, dan Paraguay. Tanaman ini termasuk dalam famili nanasnanasan (famili Bromeliaceae). Nanas tergolong tanaman herba
(menahun), daun yang panjang dan berujung tajam (Kusumanto, 2013).
Nanas merupakan satu diantara tanaman yang melimpah keberadaanya di
Kalimantan Barat. Bagian-bagian tanaman nanas terdiri dari mahkota,
bagian isi dan kulit nanas. Bagian nanas yang sering dimanfaatkan adalah
bagian isinya, sedangkan kulit nanas belum dimanfaatkan dengan optimal
sehingga terbuang menjadi limbah. Kulit nanas juga mengandung glukosa
seperti pada bagian isi, meskipun dengan persentase kandungan yang
berbeda (Rosyidah, 2010; Wijana, dkk.,1991). Glukosa dari kulit nanas
dapat dikonversi menjadi selulosa dengan bantuan bakteri Acetobacter
xylinum. Oleh sebab itu kulit buah nanas berpotensi untuk digunakan
sebagai sumber membran selulosa bakterial. Membran selulosa bakterial
dari kulit buah nanas selanjutnya dimanfaatkan sebagai serat hollow yang
terbuat dari Selulosa Bakterial (SB) dan diimmobilisasi dengan fotokatalis
nanopartikel TiO2.
Serat hollow yang dihasilkan
akan dimanfaatkan sebagai
fotokatalis untuk pengolahan air gambut. Karakteristik fotokatalis TiO 2
dalam bentuk serat hollow SB-TiO2 akan memberikan performa yang lebih
baik dalam pengolahan air gambut. TiO2 berperan dalam mekanisme
fotokatalisis air gambut, sementara keberadaanya dalam bentuk serat
memperluas permukaan kontak sehingga meningkatkan degradasi senyawa
organik dalam air gambut dan memudahkan proses pemisahan
fotokatalisator dari air setelah proses fotokatalisis selesai. Selain itu,
pengolahan dengan serat hollow SB-TiO2 tidak merusak lingkungan dan
dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Dalam penelitian ini akan
dikaji dan dipaparkan lebih lanjut mengenai pemanfaatan serat hollow SBTiO2 dari kulit nanas sebagai fotokatalis untuk pengolahan air gambut.
1.2 Perumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini antara lain:
1. Bagaimana parameter proses yang optimum pada pembuatan serat hollow
selulosa bakterial dengan penambahan nanopartikel TiO2(SB-TiO2)?
2. Bagaimana karakteristik serat hollow yang disintesis dari membran selulosa
bakerial kulit nanas dengan penambahan nanopartikel TiO 2 pada beberapa
variasi konsentrasi?

1.3

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dalam penelitian ini antara lain:


1. Mengetahui parameter proses yang optimum pada pembuatan serat hollow
selulosa bakterial dengan penambahan nanopartikel TiO2(SB-TiO2)
2. Mengetahui karakteristik serat hollow yang disintesis dari membran selulosa
bakerial kulit nanas dengan penambahan nanopartikel TiO 2 pada beberapa
variasi konsentrasi berdasarkan analisis FTIR, SEM dan ASTM
1.4

Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah

mengenai pemanfaatan limbah kulit buah nanas sebagai bahan


baku dalam pembuatan

serat hollow

dengan penambahan

nanopartikel TiO2 sebagai fotokatalis dalam pengolahan air


gambut.
BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
1.1 Air Gambut
Air permukaan yang berada di daerah-daerah yang memiliki lahan
gambut yang luas (salah satunya Kalimantan Barat) umumnya berasal dari
air gambut. Kandungan air gambut didominasi oleh keberadaan bahan
organik berupa senyawa humat di dalamnya. Senyawa humat yang
terdapat pada air disebut sebagai bahan organik terlarut/ dissolved organic
matter (DOM) atau bahan karbon terlarut/ dissolved organic carbon
(DOC) (Wershaw, 2004). Senyawa humat adalah molekul dengan berat
molekul relatif yang besar, berwarna kuning sampai dengan hitam,
terbentuk dari reaksi sintesis sekunder (Stevenson, 1994). Senyawa humat
yang terdapat dalam air gambut menyebabkan air permukaan di
Kalimantan Barat berwarna coklat hingga hitam. Kondisi fisik air gambut
tersebut tidak menyurutkan peran air gambut dalam memenuhi kebutuhan
masyarakat untuk keperluan mandi, cuci dan kebutuhan lainnya. Selain
kondisi fisik air gambut yang tidak baik, kandungan kimia air gambut juga
perlu diperhatikan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Parabi (2012) tentang
air gambut yang ada di Desa Rasau Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Provinsi
Kalimantan Barat, diperoleh data parameter fisika dan kimia air gambut

yang kemudian dibandingkan dengan syarat air bersih yang ditetapkan


oleh Permenkes RI No. 816/Menkes/Per/IX/1990 sebagai berikut:
a

Warna air hitam pekat dengan nilai warna mencapai 1088 PtCo (syarat batas

b
c
d
e
f

15 PtCo)
Kekeruhan yang tinggi dengan nilai 13,2 NTU (syarat batas 5 NTU)
Kadar besi mencapai 1,68 mg/L (syarat batas 0,3 mg/L)
Kadar kromium 0,093 mg/L (syarat batas 0,05 mg/L)
Keasaaman air rendah dengan pH air 4,32 (syarat batas: 6,5-8,5)
Kadar sulfat yang tinggi mencapai 744 mg/L (syarat batas: 250 mg/L)

Kandungan logam dalam air gambut sebenarnya tidak hanya besi (Fe) dan
kromium (Cr) saja, beberapa logam yang terkandung dalam air gambut antara lain
kalsium (Ca), magnesium (Mg), kalium (K), besi (Fe), mangan (Mn), aluminium
(Al), tembaga (Cu), seng (Zn), molibdenum (Mo), timbal (Pb), dan kadmium (Cd)
(Laiho and Laine, 1995; Stpniewska et al., 2010).
Keberadaan logam-logam dalam air gambut dapat disebabkan karena
kemampuan senyawa humat dalam air gambut untuk membentuk
kompleks senyawa humat dengan kation-kation logam polivalen yang
terdapat di dalam tanah. Kompleks ini stabil, bersifat larut maupun tidak
larut dalam air. Faktor yang mempengaruhi kuantitas ion logam yang
terikat dengan senyawa humat tergantung dari pH dan gugus fungsional
senyawa humat. Kandungan oksigen pada gugus fungsional yang terdapat
pada senyawa humat (-COOH, -OH fenol,-OH enolik, dan gugus C=O)
(Stevenson, 1994). Oleh karena itu, keberadaan bahan organik (terutama
senyawa humat sebagai organic complexing agents) dalam air gambut
memegang peranan penting dalam keberadaan logam (logam berat) di
dalam air gambut.
2.2 Fotokatalis TiO2
Fotokatalisis merupakan proses penguraian air gambut
menjadi senyawa yang lebih sederhana melalui reaksi
fotolisis dengan penambahan katalis pada air gambut
(Jayadi, dkk., 2014). Proses ini memerlukan cahaya dan
katalis untuk melangsungkan reaksi kimia (Hermann,
1999). Katalis yang paling banyak digunakan adalah TiO 2
karena memiliki banyak kelebihan seperti memiliki sifat
semikonduktor, stabil secara kimia dan fisika, mempunyai
4

aktivitas yang tinggi, tahan gores, dan relatif murah


(Rahmayeni, dkk., 2013). Menurut Dong, dkk (2005) proses
aktivasi fotokatalitik TiO2 bekerja pada panjang gelombang
388 nm atau kurang dari itu sehingga panjang gelombang
cahaya berpengaruh terhadap reaksi fotokatalitik. Pada
tahun

2011,

Andayani

dan

Bagyo

telah

melakukan

penelitian untuk menurunkan kadar humat dalam air


gambut menggunakan TiO2 dan sinar UV yang telah
berhasil mendegradasi dan menurunkan intensitas warna.
Semikonduktor TiO2 banyak digunakan karena stabil terhadap
cahaya, tidak beracun, kemampuan untuk mengoksidasi yang
tinggi serta tidak larut dalam kondisi eksperimen. TiO2 yang
sering digunakan dalam ukuran nano karena memiliki luas
permukaan yang besar sehingga proses penyerapan cahaya
semakin baik. TiO2 memiliki beberapa fasa yaitu anatase, rutile,
dan brooklite, namun yang sering digunakan dalam proses
penjernihan air adalah fasa rutile karena sifat fotokatalisnya
sangat tinggi dan stabilitas fasa ini sangat tinggi (Amy, dkk.,
1994).
TiO2 sering digunakan dalam bentuk serbuk, namun bentuk serbuk
memiliki kelemahan seperti timbul endapan yang menimbulkan kekeruhan
serta sulit dipisahkan dari larutan setelah proses fotokatalisis selesai
(Zhang dan Lei, 2008). Kesulitan ini dapat diatasi dengan menggunakan
media untuk penempelan TiO2 seperti nilon. Material lain juga dapat
digunakan sebagai media penempelan TiO2 yaitu matriks padat membran
selulosa bakterial yang didapat dari proses

fermentasi bahan

yang

mengandung glukosa menggunakan bakteri Acetobacter xylinum.


2.3 Membran Selulosa bakterial
Perkembangan teknologi membran sebagai unit pengolah limbah
saat ini sangat pesat dan banyak digunakan dalam proses pemisahan.
Teknologi membran dipilih karena prosesnya yang sangat sederhana,
konsumsi energi yang digunakan rendah, tidak merusak material, tidak
menggunakan zat kimia tambahan dan tidak menghasilkan limbah baru
5

sehingga tergolong sebagai clean technology. Operasi membran dapat


diartikan sebagai proses pemisahan dua atau lebih komponen dari aliran
fluida melalui suatu penghalang tipis yang sangat selektif diantara dua
fasa, hanya dapat melewatkan komponen tertentu dan menahan komponen
lain (Mulder, 1996).
Membran selulosa bakterial murni tergolong dalam membran
mikrofiltrasi yang memiliki ukuran pori antara 0,1-10 m (Ardiansyah,
2005). Filtrasi menggunakan membran mempunyai beberapa keunggulan
dibandingkan metode pemisahan secara konvensional antara lain
pemisahan dapat dilakukan pada suhu kamar dan tidak memerlukan bahan
kimia tambahan sehingga relatif hemat energi, lebih bersih, dan ramah
lingkungan. Kemampuan pemisahan dengan menggunakan membran
sangat dipengaruhi oleh sifat fisik, kimia, mekanis, dan struktur pori.
Penelitian mengenani pemanfaatan membran selulosa bakterial telah
banyak dikembangkan. Lindu dkk. (2008) melakukan sintesis dan uji
kemampuan membran selulosa asetat dari nata de coco sebagai membran
ultrafiltrasi untuk menyisihkan zat warna pada air limbah artifisial. Hasil
sintesis yang dilakukan diperoleh membran ini dikatergorikan sebagai
antar membran ultrafiltrasi dengan membran nanofiltrasi. Kinerja kedua
membran memberikan hasil yang cukup bagus dengan nilai fluks
membran CA-1 yaitu 4,54 L/m2.jam 22,21 L/m2.jam dan nilai
permeabilitas 2,7553 L/m2.jam.bar 3,5657 L/m2.jam.bar.
Gustian dkk. (2013) melakukan uji kinerja membran selulosa
bakterial yang disintesis dari air kelapa. Dari sifat fisiko-kimia membran
yang dihasilkan sangat mendukung terhadap kinerja membran selulosa
bakterial. Kinerja membran diperoleh permeabilitas optimum pada tekanan
2 bar 14,35 L.m-2.h

-1

untuk suspensi kekeruhan dan 17,10 L.m-2.h-1 untuk

in take PDAM. Sedangkan nilai permeable selektivitas membran selulosa


bakterial hingga 99 % untuk suspensi kekeruhan dan 91% untuk in take
PDAM Kota Bengkulu. Dengan demikian penggunaan membran selulosa
bakterial berpotensi untuk digunakan dalam pengolahan air.
Hasil kajian lain yang dikemukakan oleh Frenando et al. (2014) yang
mengkaji karakteristik membran selulosa bakterial Acetobacter xylinum
hasil fermentasi daging kulit buah semangka. Hasil yang diperoleh dari
6

kajian tersebut adalah Morfologi permukaan membran selulosa bakterial


menunjukkan bentuk yang tidak rata dan membentuk jalinan benang
mikrofibril selulosa. Karakterisasi membran selulosa bakterial dengan
menggunakan fermentasi daging kulit semangka telah berhasil dilakukan,
membran selulosa bakterial dengan konsentrasi penggunaan kulit
semangka 70% menghasilkan selektivitas paling tinggi (72,43%).
2.4 Kulit Nanas
Nanas memiliki nama latin Ananas cosmosus dan termasuk
dalam

devisi

Spermatophyta,

sub devisi

Angiospermae,

kelas

Monocotyledonae. Tanaman nanas memiliki ciri-ciri sebagai tanaman


tahunan dengan tinggi antara 50 150 cm dengan bunga majemuk.
Nanas, nenas, atau ananas adalah sejenis tumbuhan tropis yang berasal
dari Brazil, Bolivia, dan Paraguay. Tumbuhan ini termasuk dalam
famili nanas-nanasan (Famili Bromeliaceae). Perawakan nenas (habitus)
tumbuhannya rendah, herba (menahun) dengan 30 atau lebih daun yang
panjang, berujung tajam, tersusun dalam bentuk roset mengelilingi
batang yang tebal. Buahnya dalam bahasa Inggris disebut sebagai
pineapple karena bentuknya yang seperti pohon pinus. Pada abad ke-16
orang Spanyol membawa nanas ini ke Filipina dan Semenanjung
Malaysia, masuk ke Indonesia pada abad ke-15, pada tahun 1599. Di
Indonesia pada mulanya hanya sebagai tanaman pekarangan, dan
meluas dikebunkan di lahan kering (tegalan) di seluruh wilayah nusantara.
Tanaman ini kini dipelihara di daerah tropik dan sub tropik (Kusumanto,
2013; Rosyidah, 2010).
Buah nanas (Ananas comosus L. Merr) merupakan salah satu
jenis buah yang terdapat di Indonesia, mempunyai penyebaran yang
merata. Selain dikonsumsi sebagai buah segar, nanas juga banyak
digunakan sebagai bahan baku industri pertanian. Hasil berbagai macam
pengolahan nanas seperti selai, manisan, sirup, dan lain-lain maka akan
didapatkan kulit yang cukup banyak sebagai hasil buangan atau limbah
(Rosyidah, 2010). Limbah kulit nanas masih banyak mengandung
karbohidrat dan gula yang cukup tinggi. Menurut Wijana, dkk (1991)
kulit

nanas mengandung 81,72% air; 20,87% serat kasar; 17,53%


7

karbohidrat; 4,41% protein dan 13,65% gula reduksi. Sedangkan


Komposisi limbah kulit nanas dapat dilihat pada tabel 2.1 berikut ini.
Tabel 2.1 Hasil Analisis Proksimat Limbah Kulit Nanas Berdasarkan Berat
Basah (Wijana, dkk., 1991)
No
Komposisi
Rata-rata Berat Basah (%)
1
Air
6,7
2
Protein
0,69
3
Lemak
0,02
4
Abu
0,48
5
Serat Basah
1,66
6
Karbohidrat
10,54

BAB 3. METODE PENELITIAN


3.1 Waktu dan Lokasi
Penelitian ini akan dilaksanakan selama 5 bulan di Laboratorium
Kimia FMIPA Universitas Tanjungpura. Karakterisasi membran komposit
selulosa-TiO2 menggunakan instrumen Scanning Electron Microscope
(SEM), Fourier Transform Infra Red (FTIR), dan ASTM di Pusat
Penelitian Kimia Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Serpong,
Tangerang, Banten.
3.2 Alat dan Bahan
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan di dalam penelitian ini meliputi hot plate, labu leher tiga 250
mL,

mak\gnetik

stirrer,

neraca

analitik,

peralatan

gelas

yang

umum

dilaboratorium, pH meter, seperangkat alat refluks, blender, saringan, oven, alat


pemintalan basah (wet spinning), spektrofotometer FTIR (Shimadzu Prestige)
Mikroskop digital SEM (Leica MS 5), Textechno Statimat ME test,dan
termometer 1000C.
3.2.2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam penelitian ini meliputi kulit buah nanas
untuk pembuatan medium steril bakteri Acetobacter xylinum, bakteri Acetobacter
xylinum (Laboratorium Biologi FMIPA Untan), akuades, cuprietilen diamina,

serbuk TiO2, pelarut Triton-X, asam asetat glasial, amonium sulfat, gula, natrium
hidroksida p.a, natrium hidroksida glasial, gliserol, alkohol, serta air gambut.
3.3 Prosedur Kerja
3.3.1 Pembuatan Ekstrak Kulit Buah Nanas
Pembuatan bubur dimulai dengan pemotongan kulit buah nanas
sekitar 1cm, kemudian ditimbang sebanyak 1kg lalu diblender dan
disaring. Selanjutnya ekstrak disimpan dalam gelas kimia..
3.3.2

Proses Fermentasi
Ekstrak kulit buah nanas diukur kadar glukosanya dengan metode
Nelson-Somogy kemudian Ekstrak nanas ditepatkan dengan akuades
hingga 1 liter. Setelah itu ditambahkan amonium sulfat 1,5% dan gula
2%. Lalu pH diukur dan disterilisasi dengan autoclave. Terakhir
ditambahkan starter bakteri Acetobacter xylinum sebanyak 2 mL dan
difermentasi selama 3 hari pada suhu 30 oC (Yulina, dkk., 2014)
Selulosa bakterial (SB) yang dihasilkan kemudian dicuci dengan
akuades hingga netral kemudian direndam dalam larutan NaOH 2%
selanjutnya dicuci kembali hingga pH netral. SB yang dihasilkan
kemudian digunakan sebagai bahan baku pembuatan serat hollow SBTiO2. (Yulina, dkk., 2014).

3.3.3

Pembuatan Serat hollow selulosa bakterial

Pembuatan serat hollow selulosa bakterial-TiO2 (SB-TiO2)


dilakukan dengan alat pemintalan basah (wet spinning). SB dengan variasi
konsentrasi 2,5% dilarutkan dengan cupriethylene diamina dan diaduk
hingga homogen selama 8 jam, setelah larut ditambahkan nanopartikel
TiO2 dengan variasi konsentrasi 5,10, dan 15 %. Setelah larut sempurna,
larutan tersebut dibuat serat hollow dengan wet spinning dan dilewatkan ke
dalam koagulan NaOH selama 24 jam. Kemudian dinetralkan
menggunakan larutan asam selama 2 hari dan direndam di dalam larutan
gliserol dan alkohol (Yulina, dkk., 2014). Skema wet spinning ditunjukkan

pada gambar 1.
Gambar 1. Skema proses wet spinning
3.3.4

Karakterisasi dan analisis

Penentuan sifat mekanik serat hollow dilakukan dengan cara pengujian


kekuatan tarik serat. Pengujian kekuatan tarik serat dilakukan berdasarkan standar
pengujian kekuatan tarik ASTM D 882-02 menggunakan alat Textechno Statimat
ME Test. Analisis gugus fungsi serat hollow SB-TiO2 dilakukan dengan
spektroskopi Fourier Transform Infra Red (FTIR) (Shimadzu Prestige). Foto
morfologi penampang serat hollow diperoleh dari mikroskop digital (Leica MS 5 )
Pengukuran pH menggunakan pH meter (Schoot Gerate Handylab 1 ).
Pengukuran absorbansi untuk analisis konsentrasi zat warna dilakukan dengan
spektrofotometer UV-Vis (Perkin Elmer Lambda 35) (Yulina, dkk., 2014).
Eksperimen fotokatalitik pengolahan air gambut
3.3.5
Percobaan dokolorisasi fotokatalitik menggunakan serat hollow
SB-TiO2 dilakukan terhadap air gambut yang mengandung senyawa humat
yang berwarna cokelat. Dibuat masing-masing variasi blanko (Air
gambut), air gambut + nanopartikel TiO2 15%, dan air gambut + serat
hollow SB-TiO2 15%. Sebanyak 100 mL air gambut mengalami reaksi
fotokatalitik di dalam reaktor batch skala laboratorium. Reaktor proses
fotokatalitik dilengkapi dengan lampu UV 10 watt sebanyak 6 buah
dengan panjang gelmbang maksimum 365 nm dan Flux Density sebesar
0,074 watt/cm2 . Jarak antara lampu UV dan air gambut adalah 8 cm
10

(Yulina, dkk., 2014; Jayadi, dkk., 2014). Fotokatalisis dilakukan selama 5


jam Diagram skematis reaktor ditunjukkan pada gambar 2.

Gambar 2. Reaktor Fotokatalisis (tampak dari atas)


BAB 4. RENCANA JADWAL PENELITIAN
4.1

No
1

Jadwal Kegiatan

Aktivitas

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

Persiapan
sampel dan

bahan
Fermentasi dan

modifikasi
Karakterisasi
serat hollow

yang dihasilkan
Eksperimen
reaksi
fotokatalisis air

gambut
Pembuatan
skripsi

11

DAFTAR PUSTAKA
Amy, L., Linsebigler, Guangquan Lu, and John, T. Yates, Jr.,
1994, Photocatalysis on TiO2 Surfaces: Principles,
Mechanisms, and SelectedResults,
Surface
Science
Center,
Department
of
Chemistry,
University of
Pittsburgh, Pittsburgh, Pennsylvania 15260.
Andayani, W. and Bagyo, A.N.M., 2011, TiO 2 Beads for Photocatalytic
Degradation of Humic Acid in Peat Water, Indo. J. Chem., 11, 3, 253
257
Daintith, J., 2005, A Dictionary of Science, 5th Edition, Oxford
University press, New York
Dong, HK., Ha, SP, Sun, JK, Kyung, SL., 2005, The Photocatalitic
Activity of2,5wt % Cu-Doped TiO2 nano powder synthezied
by mechanical alloying, JAlloy Compounds 2005:415:51-5.
Frenando, R., Dahliaty, A., Linggawati, A., 2014, Karakterisasi Membran Selulosa
Bakteri Acetobacter Xylinum Hasil Fermentasi Daging Kulit Buah
Semangka, Kampus Binawidya Pekanbaru.
Gustian, I., Adfa, M., Andriani, Y., Roza, E., 2013, Karakterisasi Kinerja
Membran Selulosa Bakteri Menggunakan In Take PDAM Kota Bengkulu
sebagai Model, Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung.
Hermann,
J.M.,
1999, Heterogenous
Photocatalysis
Fundamental and Aplication to the Removal of Various
Types of Aqueous Pollutans, Catalys Today, 53, 115-129.
Jayadi, S.F., Destiarti, L., dan Sitorus, B., 2014, Pembuatan Reaktor Fotokatalis
dan Aplikasinya untuk Degradasi Bahan Organik Air Gambut
Menggunakan Katalis TiO2, JKK, 3,3, 54-57.
Kusumanto, I., 2013, Pemanfaatan Limbah Kulit Nanas untuk Pembuatan Produk
Nata De Pina Menggunakan Metode Eksperimen Taguchi, Kulubkhanah,
Vol. 16, No. 1
Laiho, R. and J. Laine. 1995. Changes in mineral element concentrations in peat
soils drained for forestry in Finland, Scandinavian Journal of Forest
Research, 10: 218-224.
Lapuz, M., Gallardo, E.G., dan Palo, M.A., 1976, The Nata
Organism Cultural Requirements, Characteristic, and
Identity, Philippines Journal Sci., 96: 91 100.
Lindu, M., Puspitasari, T., dan Ismi, E., 2008, Jurnal Sintesis dan
Uji Kemampuan Membran Selulosa Asetat Dari Nata de
Coco Sebagai Membran Ultrafiltrasi Untuk Menyisihkan
Zat Warna Pada Air Limbah Artifisial, Universitas Trisakti,
Jakarta.
Mulder, M., 1996, Basic Principle of Membrane Technology,
Kluwer Academic Publisher, Netherland.
Pambayun, R., 2002, Teknologi Pengolahan Nata de coco,
Penertbit Kanius, Yogyakarta , Hal : 11-15
12

Parabi, A., 2012, Usaha Pemanfaatan Air Gambut untuk Kebutuhan Rumah
Tangga Masyarakat di Desa Rasau Jaya Umum Kabupaten Kubu Raya
Provinsi Kalimantan Barat, Media Sains, 4, 1.
Rahmayeni, Setiadi, Y., Zulhadjri, 2013, Fotokatalis Komposit Magnetik
TiO2-MnFe2O4, Prosiding Semirata FMIPA Universitas Lampung, 2013.
Rosyidah, 2010, http://rosyidah.com/2010/06/11/pt-great-giantpinapple-ggpclumbung-nanas-raksasa-di-indonesia/,
Diakses tanggal 20 Oktober 2010.
Stpniewska, Z., Sochaczewska, A., Woliska, A., Szafranek-Nakonieczna, A. and
M. Paszczyk, M., 2010, Manganese release from peat soils, Int.
Agrophys., 24, 369-374.
Stevenson, F. J., 1994, Humus Chemsitry :Genesis, Composition Reaction,
2nded, John Wiley and Sons, Inc., Canada.
Wershaw, 2004, Evaluation of Conceptual Models of Natural Organic Matter
(Humus) From a Consideration of the Chemical and Biochemical
Processes of Humification, U.S. Geological Survey, Reston, Virginia.
Wijana, S., Kumalaningsih, A., Setyowati, U., Efendi, dan Hidayat, N., 1991,
Optimalisasi Penambahan Tepung Kulit Nanas dan Proses Fermentasi
pada Pakan Ternak terhadap Peningkatan Kualitas Nutrisi, ARMP
(Deptan), Universitas Brawijaya, Malang.
Yuliana, R., Gustiani, S., dan Septiani, W., 2014, Pembuatan dan Karakterisasi
Serat Hollow dari Selulosa Bakterial dengan Nanopartikel TiO 2 untuk
Pengolahan Air Gambut, Arena Tekstil, Vol.29 (1)
Zhang, X., Lecheng, Lei, 2008, One Step Preparation of
Visible-LightResponsive Fe-TiO2Coating Photocatalysts by
MOCVD, Institute of Environtment Pollution Control
Technologies,
Xixi
Campus,
Zheijang University,
Hangzhou, 310028, China.

13