Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN


ANAK DENGAN DIARE
Dosen Pembimbing : Hj.SUPANIK S.Kep.Ns., M.MKes.

DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 3B - KELAS 1A

AKADEMI KEPERAWATAN
PEMERINTAH KABUPATEN LAMONGAN
Tp.2011/2012
Jl.kusuma Bangsa no.7A Lamongan

Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan

KONSEP DASAR MEDIS


1. Pengertian
a. Diare adalah keadaan frekuensi BAB lebih dari 4x pada bayi dan lebih dari
3x pada anak, konsistensi faeces encer, dapat berwarna hijau/dapat pula
bercampur lendir dan darah/lendir saja (Ngastiyah, 143)
b. Diare adalah peningkatan frekuensi disertai peningkatan air (Wharley and
Wongs, 1233)
c. Diare adalah peningkatan sebagai suatu peningkatan frekuensi, keenceran
dan volume tinja serta diduga selama 3 tahun pertama kehidupan, seorang
anak akan mengalami 1-3x episode akut diare berat (Nelson, 20)
2. Klasifikasi Diare
a. Diare akut
1). Pengertian
Meningkatnya kekerapan, bertambahnya cairan/banyaknya tinja yang
dikeluarkan relatif terhadap kebiasaan yang ada pada pasien dan
berlangsung kurang dari 1 minggu/keluarnya tinja cair lebih dari 3x dalam
24 jam.
2). Etilogi
-

Infeksi bakteri, virus, parasit


Bakteri

: Salmonella, shigella, compylobacteri, E. coli, yasina


acromonas, clostridium deficite, stophilococcus aureus.

Virus

: Rota virus, norwalk virus, astro virus/corona virus,


adeno virus, pesti virus, carieci virus, porvo virus.

Parasit

: Entamuba histolitica, clardia lambia, nocros palidium,


tricuris tricuria.

Diet

: Pemberian susu terlalu dini setelah diare, makanan


baru, pemberian gula yang berlebihan, ingesti yang
berlebihan dari fruktosa.

Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan

Pengobatan : Antibiotik, laxant

Toxic

: Bahan-bahan logam berat (arsentik, mercuri) phospates


organik.

Fungsional : Iritasi saluran cerna

3). Patogenesis
Virus masuk ke traktus digestifus bersama makanan dan minuman

Berkembang dalam usus

Masuk dalam epithel-ephitel usus

Kerusakan bagian afikal villi usus halus

Replacement bagian apikal oleh sel kripta yang belum matang

Absorpsi yang tak adekuat

Diare

Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan

Mekanisme dasar yang menyebabkan timbulnya diare anak :


a). Gangguan osmotik
Makanan/zat dalam usus tidak dapat diserap

Tekakan osmotik dalam rongga usus meningkat

Cairan dan elektrolit masuk dalam usus

Diare
b). Gangguan sekresi
Toksin dalam usus

Peningkatan sekresi, air dan elektolit dalam rongga usus

Diare
c). Gangguan mobilitas usus
Hiperperistaltik absorpsi makanan menurun diare
Peristaltik menurun kuman berkembang biak diare
Manifestasi klinik
- Nausea

- Nyeri

- Vomiting

- Demam

- Klien merasa lidah kering, tulang pipi menonjol, turgor menurun


- Gangguan metabolik asidosis metabolik
- Denyut nadi cepat (120 x/menit), TD menurun sampai tidak terukur,
gelisah, pucat, extremitas dingin, kadang syanosis
- Kurang kalium aritmia jantung

Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan

- Perfusi ginjal menurun anusia


Secara klinik diare akut dibagi :
a. Koliriform adalah diare yang terdiri dari cairan saja
b. Disentriform adalah diare dengan lendir kental dan kadang darah
4). Diagnosa
1. Anamnesa
2. Pemeriksaan Fisik
Pengkajian terhadap dehidrasi output urinaria, BB, mukosa
membran, turgor kulit, fontamel pada infant pucat, kulit kering, pada
dehidrasi sedang TD menurun dan naik.
3. Pemeriksaan Penunjang
-

Pemeriksaan darah tepi lengkap

Pemeriksaan analisa gas darah, elektrolit, ureum, kreatinin dan


berat jenis plasma.

Pemeriksaan urin lengkap

Pemeriksaan tinja lengkap dan kultur

5). Penatalaksanaan pinsip :


-

Kaji keseimbangan cairan dan elektrolit

Rehidrasi

Terapi cairan maintenance

Pemberian diet yang adekuat

Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan

Umur kurang dari 3 bulan


Dehidrasi berat tiap resolusi
Cairan III : 30 cc/kg BB dalam 2 jam

Umur lebih dari 3 bulan


Cairan I : 30 cc/kg BB dalam 1 jam

(5 tts/kg BB/mnt)
(10 tts/kg BB/mnt)
Dehidrasi sedang tahap penanganan sisa
defisit
Cairan III : 70 cc/kg BB dalam 7 jam

Cairan II : 70 cc/kg BB dalam 3-7 jam

(3 tts/kg BB/mnt)

(3 tts/kg BB/mnt dalam 7 jam)


(3 tts/kg BB/mnt dalam 3 jam)

Dehidrasi ringan tahap rumatan dan


penanganan

kehilangan

yang

masih

berlangsung
Cairan III : 150 cc/kg BB/24 jam

Cairan II : 150 cc/kg BB/24 jam

(2 tts/kg BB/mnt)

(2 tts/kg BB/mnt)

oral oralit : 10 cc/kg BB/jam


Keterangan :
-

Cairan I : RL, garam padi (Pz/Ns 0,9)

Cairan II : Strergith Daro (Darrow Glukosa)


Dextose 5% + 6 cc NaCl 15% + Bicarbonat + KCL
RL : R 4 Laktase (1,6 M) = 1 : 1 : 4 + KCL
Ka EN 3 B (Na = 50; K = 20; Cl = 50; Laktat = 20; Kal = 10,8;
Ma = 290

Cairan III : Pz = P10 = 1 : 4 + Bicarbonat (15 Mg) + KCL (10 Meg/Lt)


Dextrose 10% in saline + Bicarbonat (15 Meg) + KCL (10 Meg/lt)
Dextrose 10% 0,8 NaCl

Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan

b. Diare Kronik
1) Pengertian
Adalah diare yang berlangsung lebih dari 14 hari.
2) Klasifikasi
a) Diare persisten
(1) Pengertian
Menetap

dalam

minggu/lebih

setelah

epidemi

gastroenteritis acut pada seorang bayi berusia lebih dari 3


bulan.
(2) Etiologi
-

Intoleran laktosa

Menetapkannya patogen penyebab

Sindrome usus halus terkontaminasi

Malnutrisi

(3) Patofisiologi, didasarkan 2 hal utama :


-

Melanjutkan kerusakan mukosa

Perbaikan mukosa yang terlambat

b) Intraktable diare
(1) Pengertian
Adalah diare yang sukar disembuhkan
(2) Etiologi
Kelainan

anatomi,

infeksi

virus,

infeksi

intestinal,

intoleransi gula, intolerasi protein.


3) Manifestasi klinis
Serangan pertama tidak ada demam maupun tanda toksisitas,
gejala pada banyak kasus seperti gastroenteristik.
Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan

4) Penatalaksanaan
a) Simptomatis
-

Rehidrasi : oralit, cairan infus.

Anti

spasmodik,

antikolinergik

(antagonis

stimulus

kolinergik pada reseptor muskarinik)


-

Obat anti diare : obat anti motilitas dan sekresi usus


(loperamid,

difenoksilat,

kodein

fisfat),

oktreolid

(Sandostatin) obat anti diare yang mengeringkan tinja dan


absorpsi zat toksik.
-

Anti emetik (Metokloropamid, Proklorpazin, Domperidon)

Vit dan mineral, tgt kebut vit Biz, vit A, vit K, preparat
besi, zink, dll.

Obat extrak enzim pankreas

Alumunium hidroksida

Fenotiazin dan As. Nikotorat.

b) Kausal
Pengobatan kausal diberikan pada infeksi/non infeksi, pada
diare kronik dengan penyebab infeksi, obat diberikan berdasar
etiologinya.
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
I.

Pengkajian
1. Biodata : sering terjadi pada umur dibawah 2 tahun.
2. KU : diare
3. RPS
Frekuensi BAB meningkat dengan bentuk dan konsistensi yang lain dari
biasanya dapat cair dan berlendir/berdarah dan dapat pula disertai gejala lain
panas, muntah, anoreksia, nausea, vomiting.

Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan

4. RPD
Jika disebabkan infeksi parenteral (infeksi) diluar alat pencernaan, OMA
infeksi.
5. RPK
Ada pasien yang menderita alergi makanan (diare yang disebabkan adalah
alergi terhadap makanan).
6. ADL
a. Nutrisi : terjadi anoreksia, mual, muntah
b. Eleminasi : BAB lebih dari 4x (bayi)/BAB lebih dari 3x (anak) dapat cair,
lendir, berdarah dan BAK frekuensi menurun
c. Pesonal hygiene : iritasi pada sekitar usus
d. Aktivitas : lemas dan mengantuk
e. Istirahat tidur : bisa terganggu bisa tidak
7. Pemeriksaan fisik
-

Keadaan umum : kedaan dehidrasi ringan, kesadaran kompos mentis


keadaan lebih dari lanjut, apatis, somnolen, koma.

Sistem kardiovaskuler : peningkatan jantung, nadi, TD menurun, nadi


kecil dan cepat serta meningkat suhu tubuh.

Sistem RR : Pernafasan cepat, dalam dan teratur

Sistem pencernaan : peningkatan frekuensi BAB dan peningkatan


peristaltik usus, kembung, distersi abdomen, tympani.

Sistem perkemihan : produksi urine menurun (oliguri anuri)

Sistem integumen : turgor menurun, panas, pucat, kapiler refill melambat,


warna kemerahan/lecet (terutama sekitar anus)

Sistem muskulo : kejang bila panas meningkat, pada hypoglikemi


tremor/getar, hipokalemi, distensi abdomen.

Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan

Secara

spesifik bilamana

bayi/anak

jatuh dalam

keadaan kekurangan

cairan/dehidrasi maka untuk masing-masing tingkatan digambar sebagai


berikut :
Komponen

Dehidrasi
Sedang

Ringan

Berat

Pengkajian
Keadaan umum

Sadar, haus, gelisah

Haus, gelisah

Somnolerut, lemah, syok

Nadi

Normal

Cepat, kecil

Cepat,

kecil,

kadang-

kadang teraba
UUB

Normal

Cekung

Cokong sekali

Turgor

Dicubit cepat kembali

< 2 dt

> 2 dt

Mata

Nomal

cowong

sangat cowong

Air mata

Ada

Tidak ada

Tidak ada

Selaput lendir

Basah

Kering

sangat kering

Urine

Normal

berkurang

Tidak ada

Kehilangan

40-50 cc/kg BB

50-60 cc/kg BB

100 110 cc/kg BB

Penurunan BB

<5%

8%

> 10%

BJ urine

1,010 1,025

1,010 1,025

> 1,025

II. Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul


a. Gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit (diare) s/d. out put yang
berlebihan ditandai dengan :
-

Berak cair/muntah

Mata cowong, UUB cekung

Turgor kulit menurun, produksi urine menurun

Peningkatan BJ urine

b. Pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan s/d. penurunan intake,


peningkatan absorpsi nutrisi dan cairan ditandai dengan :
-

Muntah

Anoreksia

Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan

BB menurun

c. Gangguan rasa nyaman (nyeri) sehubungan dengan hipo/hiperperistaltik


ditandai dengan :
-

Distensi abdomen

Perut kembung

d. Kurangnya pengetahuan sehubungan dengan kurangnya informasi tentang


penyebab terjadinya diare.
e. Kecemasan sehubungan denmgan perpisahan dengan orang tua, lingkungan
asing, prosedur tindakan.
f. Resiko tinggi terjadi gangguan integritas kulit (daerah perianal) sehubungan
dengan PH darah bersifat asam.
g. Resiko tinggi terjadi infeksi (penularan pada orang lain) sehubungan dengan
kurangnya pengetahuan tentang pencegahan penularan penyakit.
III. Intervensi
1. Dx. I
Tujuan : volume cairan dan elektrolit dalam tubuh seimbang (kurangnya
cairan dan elektrolit terpenuhi) dengan kriteria :
-

Turgor kulit cepat kembali

Asupan dan pengeluaran seimbang

BJ urine antara 1,010 1,025

Intervensi :
a. Observasi tanda-tanda vital tiap 4 jam sampai keadaan stabil dan tentukan
penyebab dari kekurangan cairan dan elektrolit.
R : Kehilangan cairan yang aktif secara terus menerus akan
mempengaruhi tanda-tanda vital dalam mempertahankan aktivitas.
b. Observasi keadaan kulit melalui warna, kelembaban dan turgor.

Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan

Pertahankan terapi IV untuk mengganti cairan dengan menggunakan


cairan koloid, kristaloid dan berikan cairan PO sesuai kebutuhan.
R : Koloid menghindari ruang intra vaskuler dan mengumpulkan cairan
dari interstitium ke dalam pembuluh darah, menggantikan intra
extra seluler dan mendistribusikan keluar intra vaskuler dan
interstitium.
c. Monitor asupan dan pengeluaran tiap jam dan laporkan bila terdapat
pengeluaran yang menghebat.
R : Volume cairan menurun dan hipovolemik yang diakibatkan oleh
penurunan plasma sebagai mengakibatkan penurunan aliran kearah
ginjal.
d. Timbang pasien tiap hari pada waktu yang sama
R : Berat badan merupakan indikator untuk kesimbangan cairan tubuh
yang melalui proses asupan dan pengeluaran.
e. Observasi BJ urine tiap 8 jam
R : Pemekatan urine merupakan respon terhadap kurangnya air
sebagaimana pelepasan ADH dalam berespon terhadap osmolitas
cairan tubuh.
f. Pantau serum elektrolit adanya kelebihan cairan selama penggantian
cairan dan laporkan jika ada tanda-tanda gangguan keseimbangan cairan
dan elektrolit serta keadaan yang memburuk.
R : Kondisi yang memburuk dari gangguan elektrolit atau adanya
keluaran urine yang menurun, pemekatan urine, hipotensi,
peningkatan

nadi dan tensi, kelemahan dan perubahan status

mental.
2. Dx. II
Tujuan : kebutuhan nutrisi terpenuhi sesuai kebutuhan dengan kriteria :
-

Berat badan sesuai umur

Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan

Anak mengkonsumsi diit sesuai kebutuhan

Intervensi :
a. Bersama pasien dan keluarga tentukan berat badan ideal anak sesuai
dengan tahap pertumbuhannya dan program diit yang akan dilakukan
anak.
R : Keikutsertaan keluarga secara aktif dalam menentukan asupan
nutrisi menyebabkan keluarga berperan aktif dalam tindakan
berikutnya.
b. Lakukan program kerjasama dengan ahli gizi dalam menentukan diit anak
berikan porsi kecil dengan frekuensi sering.
R : Penentuan diit/kalori yang dikonsumsi oleh anak sangat berperan
dalam peningkatan berat badan, berikan porsi kecil dengan
frekuensi sering meminimalkan metabolisme dalam tubuh.
c. Ajarkan pada orang tua dan keluarga untuk memonitor pemasukan dan
pengeluaran makanan anak.
R : Mencatat asupan oral dan keinginan pasien mempermudah deteksi
dini asupan yang tidak adekuat.
d. Bantu anak dan keluarga dalam mengidentifikasi acuan makan makanan
yang tinggi protein dan karbohidrat.
R : Penambahan beberapa makanan kecil akan menambah peningkatan
asupan kalori.
e. Ajarkan kebersihan oral dan ruangan yang bersih sebelum makan
R : Kondisi oral dan ruangan yang bersih akan meningkat rasa dan
selera makan.
f. Timbang berat badan anak tiap hari, monitor asupan dan keluaran
R : Berat badan merupakan indikator dari keseimbangan asupan dan
keluaran.

Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan

3. Dx. III
Tujuan : rasa nyaman terpenuhi, anak terbebas dari distensi abdomen dengan
kriteria :
-

Abdomen supel tidak ada distensi

Dapat tidur dengan nyaman

Dapat bermain tanpa gangguan

Intervensi
a. Rubah/ganti posisi tidur tiap 3 jam
R : Perubahan posisi dapat merangsang peristaltik usus sehingga
mengurangi distensi abdomen.
b. Lakukan kompres hangat pada daerah perut
R : Dengan kompres hangat, distensi abdomen akan mengalami
relaksasi,

pada

kasus

peradangan

akut/peritonitis

akan

menyebabkan penyebaran infeksi.


c. Meminimalkan tangis anak
R : Dengan menangis memudahkan udara masuk di dalam lambung
sehingga memperberat distensi abdomen
d. Kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat dan monitor efek
samping obat tersebut.
R : Efek farmakologis pada anak ditentukan oleh sensitivitas individual
4. Dx. IV
Tujuan : keluarga mengerti tentang penyebab diare
Intervensi :
a. Berikan penjelasan tentang penyebab diare
R : Dengan pengetahuan yang kurang anak atau orang tua tidak
mengetahui komplikasi dari diare sehingga anak atau orang tua
tidak serius untuk mengontrol adanya infeksi dan teknik isolasi
sehingga penyakit ini dapat menular pada keluarga atau masyarakat.
Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan

b. Ajarkan cuci tangan sebelum makan


R : Mencegah terjadinya infeksi
c. Beritahu pada orang tua/anak tentang bahaya diare
R : Berusaha semaksimal mungkin menghindari penyakit diare
d. Ajarkan teknik isolasi
R : Mencegah terjadinya penularan
e. Ajarkan orang tua untuk membawa anaknya ke klinik apabila timbul
gejala lebih dari 1 minggu.
R : Deteksi dini untuk mengetahui adanya kelainan dan komplikasi
5. Dx. V
Tujuan : dapat menunjukan tanda kenyamanan
Intervensi :
a. Berikan perawatan mulut dan kenyamanan bagi bayi
R : Memberi rasa nyaman
b. Berikan kesempatan pada keluarga saat jam kunjung dan partisipasi
dalam perawatan.
R : Mencegah timbulnya stres terhadap perpisahan
c. Sentuh, buka, dekap dan ajak bicara sebanyak mungkin
R : Memberikan kenyamanan dan menghindari stres
d. Pertahankan simulasi sensori dan pengenalan pada tahap perkembangan
optimum.
R : Meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan optimum
6. Dx. VI
Tujuan : mempertahankan kulit perianal tetap utuh dengan kriteria :
-

Kulit intac/kulit yang mengalami lesi sembuh

Kelembaban kulit stabil

Sirkulasi integumen lancar

Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan

Intervensi :
a. Lakukan pengkajian kerusakan kulit dan lakukan pencatatan teratur
R : PH faeces semakin asam, kerusakan kulit semakin meningkat
b. Jaga kulit tetap bersih
R : Kulti yang lembab merupakan media yang efektif untuk
perkembangbiakan kuman.
c. Lakukan debridement dan bersihkan luka, gunakan cream/salep untuk
luka dan lakukan massage di sekitar luka.
R : Pembersihan luka memungkinkan kotoran-kotoran kuman terangkat
sehingga cream/salep dapat diabsorpsi dengan baik.
7. Dx. VII
Tujuan : tidak terjadi infeksi/penularan pada orang lain
Intervensi :
a. Cuci tangan sebelum dan sesudah merawat anak
R : Kuman/bakteri yang menempel pada tangan akan terdesinfeksi
dengan memakai sabun/antiseptik.
b. Lakukan isolasi pada anak dan alat yang digunakan
R : Dengan isolasi dapat memutuskan mata rantai penularan sehingga
infeksi silang dapat dihindari.
c. Motivasi dan anjurkan pada keluarga serta pengunjung untuk melakukan
pencegahan terjadinya penularan.
R : Pengetahuan

yang

memadai

akan

membuat

keluarga

dan

pengunjung kooperatif terhadap pencegahan penularan.

Kelompok III B Kelas 1A - Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Lamongan