Anda di halaman 1dari 3

FADHILAH 10 HARI PERTAMA DZULHIJJAH

Bulan Dzulhijjah yang segera tiba dalam beberapa hari lagi, merupakan salah satu bulan teristimewa bukan saja
bagi para jamaah haji dan umrah di Tanah Suci. Melainkan juga bagi seluruh kaum muslimin dimanapun berada.
Karena sepuluh hari pertama bulan haram (bulan mulia) yang satu ini dan yang sekaligus merupakan bulan
pelaksanaan ibadah rukun Islam kelima, adalah merupakan sepuluh hari termulia sepanjang tahun. Dimana
kemuliaan, keutamaan dan keistimewaannya bahkan bisa mengungguli kemuliaan, keutamaan dan keistimewaan
hari-hari bulan suci Ramadhan yang baru saja meninggalkan kita. Ini tentu saja sebuah rahmat dan karunia
spesial dari Allah yang tak terukur nilainya. Dan hanya orang-orang merugi yang terjauhkan dari rahmat Allah
sajalah yang menyia-nyiakan dan melewatkan begitu saja momentum luar biasa seperti ini! Semoga kita tidak
termasuk di dalamnya!
Maka kepada seluruh jamaah haji, kami ucapkan: Selamat mempersiapkan diri sebaik-baiknya dan setotaltotalnya demi meraih haji mabrur yang berdasar hadits muttafaq alaih pasti berbalas Surga. Dan kepada semua
kaum muslimin non jamaah haji, juga tak lupa kami ucapkan: Selamat ber-fastabiqul khairat (berlomba amal
kebaikan) khususnya dalam 10 hari pertama bulan Dzulhijjah 1435 sebentar lagi, yang jika mengacu pada
kalender resmi Indonesia dan juga prediksi hasil sidang itsbat Depag tanggal 24 September 2014 nantinya,
insyaallah hari pertamanya tanggal 1 Dzulhijjah 1435 akan jatuh pada hari Jumat tanggal 26 September 2014.
Dimana jika seseorang mampu mengoptimalkan upaya amal saleh dengan beragam macamnya di dalamnya,
maka sangat dimungkinkan iapun bisa menggapai kemuliaan derajat di sisi Allah dan kelipatan pahala dari-Nya,
seperti yang didapat oleh jamaah yang sukses dengan hajinya, atau bahkan mengunggulinya.
Mungkin ada yang terheran-heran dan bertanya: Benarkah 10 hari pertama bulan Dzulhijjah semulia itu sampai
bahkan mungkin bisa mengungguli kemuliaan hari-hari bulan Ramadhan, atau minimal setara dengannya?
Mengapa hal itu sepertinya tidak begitu dikenal di tengah-tengah mayoritas ummat Islam, sehingga karenanya
sikap merekapun biasa-biasa dan datar-datar saja, tanpa ada yang tampak istimewa seperti yang umumnya
ditunjukkan dalam menyambut bulan suci Ramadhan?
Nah untuk menjawab pertanyaan diatas, mari kita cermati bersama sabda Baginda Sayyidina Rasulillah
shallallahu alaihi wasallam (yang artinya) berikut ini: Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu berkata, Rasulullah
Shallallaahu alaihi wasallam bersabda: Tiada hari, dimana beramal shalih padanya lebih Allah cintai selain
hari-hari ini, yakni 10 hari pertama bulan Dzul Hijjah. Para shahabat bertanya: wahai Rasulullah, apakah
termasuk jihad fi sabilillah juga tidak bisa (menandingi)?, Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam menjawab:
Termasuk jihad fi sabilillah sekalipun tidak bisa (menandingi), kecuali seorang lelaki yang pergi berjihad
dengan jiwa dan hartanya sendiri lalu tidak ada sesuatupun darinya yang kembali, yakni sampai gugur sebagai
syuhada (HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ahmad).
Mari perhatikan, demikian tingginya tingkat kemuliaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah tersebut, sampaisampai jihadpun bisa kalah dalam derajat dan nilai pahala bila dibandingkan dengan amal saleh apapun, sekali
lagi amal saleh apapun, yang dilakukan oleh seorang hamba muslim pada hari-hari tersebut. Padahal kita semua
tahu, betapa tinggi nilai jihad fi sabilillah di dalam Islam dan derajat mujahid di sisi Allah Taala. Tapi toh hanya
ada satu kondisi mujahid saja yang derajat dan nilai pahala jihadnya bisa mengungguli amal saleh pada 10 hari
pertama Dzulhijjah, yang memang merupakan puncak derajat seorang mujahid di jalan Allah. Yaitu seorang
mujahid yang memenuhi 3 kriteria: pertama, ia berangkat sendiri ke medan jihad; kedua, seluruh perbekalan
jihadnya dari harta miliknya sendiri; dan ketiga, ia berjihad sampai gugur sebagai syuhada. Sehingga jihad
seorang mujahid yang sampai mati syahid tapi perbekalan jihadnya dari harta orang lain, atau mujahid yang
berangkat jihad dengan diri dan hartanya sendiri namun tidak sampai gugur sebagai syuhada, atau bahkan yang
berjihad dengan diri dan hartanya sendiri, serta mati syahid, akan tetapi masih ada dari perbekalan jihadnya,
misalnya pedangnya atau baju besinya, atau kudanya dan lain-lain, yang masih bisa dibawa pulang kembali dari
medan laga jihad. Ya semua kondisi mujahid yang pasti sangat luar biasa keistimewaannya itu, tetap saja tidak
bisa menandingi dan mengungguli keistimewaan, keutamaan dan kemuliaan amal saleh pada 10 hari pertama
bulan Dzulhijjah seperti yang tengah kita lewati ini! ALLAHU AKBAR!
Mungkin karena begitu mulianya10 hari pertama bulan Dzulhijjah tersebut, maka Allah Taala sampai
bersumpah dengannya, dalam firman-Nya (yang artinya): Dan demi malam-malam yang sepuluh (QS. Al-Fajr
89: 2), yang menurut Imam Ibnu Katsir dan jumhur mufassir lain rahimahumullah, maksud tafsirnya yang benar
adalah 10 malam pertama bulan Dzulhijjah.

Dan ada satu dalil kuat lagi yang bisa menjadi faktor penegas luar biasanya keistimewaan 10 hari pertama bulan
Dzulhijjah ini. Yakni bahwa, para ulama sampai berselisih pendapat tentang mana yang lebih mulia, utama dan
istimewa antara 10 hari pertama bulan Dzulhijjah dan 10 malam terakhir bulan Ramadhan yang di dalamnya
terdapat malam lailatul qadar. Dimana sebagian ulama berpendapat bahwa, 10 hari dan malam pertama
Dzulhijjah yang lebih mulia, dan sebagian yang lain mentarjih bahwa, 10 malam dan hari terakhir Ramadhanlah
yang lebih istimewa. Dan pendapat yang lebih rajih, kuat dan tepat insya-allah adalah yang memadukan antar
dalil keduanya. Dimana untuk waktu malamnya, 10 malam akhir Ramadhan adalah yang paling utama
sepanjang tahun bila dibandingkan dengan semua malam yang lain termasuk 10 malam pertama bulan
Dzulhijjah. Sementara itu untuk waktu siangnya, 10 hari pertama Dzulhijjah adalah yang termulia dibanding
seluruh hari yang lainnya termasuk hari-hari bulan Ramadhan seluruhnya.
Oleh karena itu semua, seharusnya sikap kita dalam mengistimewakan hari-hari termulia ini dengan amal-amal
yang serba istimewa pula, utamanya untuk waktu siangnya, minimal seperti dan setara dengan sikap
pengistimewaan kita terhadap bulan suci Ramadhan setiap tahun. Jika demikian, lalu apa sikap yang harus kita
tunjukkan dan amal serta ibadah apa sajakah yang sebaiknya kita kerjakan dalam upaya mengistimewakan 10
hari pertama bulan Dzulhijjah ini? Berikut ini disebutkan beberapa poin sekadar sebagai pengingat, semoga
bermanfaat:
1. Hal pertama yang harus dilakukan oleh setiap muslim dalam konteks ini adalah, menumbuhkan, menjaga dan
meningkatkan keyakinan, kesadaran serta perasaan akan mulia, utama dan istimewanya 10 hari pertama bulan
Dzulhijjah ini.
2. Memiliki dan menyimpan kejujuran niat, kesungguhan tekad dan ketinggian semangat untuk benar-benar
mengistimewakan hari-hari teristimewa ini dengan bermacam ragam amal dan ibadah yang serba istimewa,
demi mengharap derajat taqwa dan nilai pahala nan istimewa pula. Serta bermujahadah sebisa mungkin untuk
tidak melewatkan sedikitpun dari waktu-waktunya secara sia-sia.
3. Menguatkan dan meningkatkan kepekaan rasa kewaspadaan keimanan, dengan senantiasa berupaya keras
untuk menghindarkan diri dari berbagai bentuk kemaksiatan dan pelanggaran syari pada hari-hari termulia
tersebut, baik dalam bentuk meninggalkan kewajiban maupun dengan melakukan yang dilarang dan
diharamkan.
4. Karena amal yang diistimewakan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah, berdasar hadits Ibnu Abbas
radhiyallahu anhuma diatas, tidak dibatasi pada jenis amal tertentu, maka pada prinsipnya amal atau ibadah
apapun, sekali lagi amal saleh dan ibadah apapun, baik yang bersifat ritual, sosial maupun lainnya, sesuai
situasi, kondisi, kebutuhan dan kesanggupan masing-masing kita, bisa saja dilakukan dan sekaligus berpotensi
untuk menjadi amal yang paling dicintai oleh Allah Taala, yang tentu saja berarti akan bernilai pahala super
istimewa tiada tara. Dan itu meliputi (sekadar contoh) misalnya: shalat, zakat, infak, sedekah, dakwah, mencari
nafkah, menuntut ilmu atau mengajarkannya, juga membaca Al-Quran, mempelajarinya dan mengajarkaannya,
berdzikir, beristighfar dan berdoa, berbakti kepada orang tua, menyambung tali silaturrahin dengan keluarga dan
lainnya, membantu sesama, berbagi hikmah dan kebajikan dimana serta kepada siapa saja, dan seterusnya dan
seterusnya.
5. Jika amal yang lebih diutamakan pada sepuluh malam terakhir Ramadhan adalah ibadah-ibadah spesial
malam hari, seperti qiyamullail atau tahajjud, tadarus Al-Quran, itikaf, dzikir, doa, munajat, istighfar, dan
semacamnya, maka yang lebih diistimewakan pada 10 hari pertama Dzulhijjah ini adalah jenis-jenis amal
ibadah spesial siang hari, dan salah satu yang paling utama tiada lain adalah ibadah puasa. Maka disunnahkan
dan dianjurkan agar setiap muslim memperbanyak puasa pada 10 hari ini, tentu saja kecuali tanggal 10-nya yang
merupakan hari raya Idul Adha, dan yang memang diharamkan puasa padanya. Namun untuk ibadah puasa ini
terbagi dua, yakni yang berifat umum dan khusus. Yang umum adalah puasa dari tanggal 1 8 Dzulhijjah,
dimana kesunnahannya tidak berdasarkan dalil khusus, melainkan mengacu pada keumuman hadits Ibnu Abbas
radhiyallahu anhuma dimuka, dimana setiap amal saleh pada 10 hari pertama Dzulhijjah adalah yang paling
dicintai oleh Allah Taala. Dan sudah barang tentu ibadah puasa menempati peringkat utama dan istimewa
dalam daftar amal saleh yang disebutkan itu. Apalagi, seperti yang telah disebutkan, yang lebih utama dari 10
hari pertama Dzulhijjah itu adalah waktu siangnya, dan puasa merupakan salah satu jenis amal ibadah spesial
siang hari yang teristimewa. Oleh karenanya dalam kitab Riyadhus Shalihin, Imam An-Nawawi rahimahullah
menulis bab khusus dengan judul: Fadilah Puasa dan Amal-amal Lain Pada 10 Hari Pertama Dzulhijjah, lalu
beliau menyebutkan hadits Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, yang telah dikutip dimuka. Adapun puasa yang
bersifat khusus dengan dalil khusus dan fadilah khusus pula, adalah puasa hari Arafah, yakni pada tanggal 9

Dzulhijjah. Dimana saat ditanya tentang fadhilah dan keutamaan puasa hari wuquf di Arafah (bagi selain jamaah
haji), Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Ia bisa menghapuskan (dosa) satu tahun yang telah
berlalu dan (dosa) satu tahun lagi yang akan datang (HR. Muslim dari sahabat Abu Qatadah radiyallahu anhu).
6. Memperbanyak kumandang takbir, tahlil dan tahmid dengan suara keras di rumah-rumah, masjid-masjid,
jalan-jalan, pasar-pasar dan lain-lain, pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah ini. Rasulullah shallallahu alaihi
wasallam bersabda (yang artinya): Tiada hari yang lebih agung bagi Allah, dan amal saleh padanya lebih
dicintai oleh-Nya, dibandingkan 10 hari (pertama Dzulhijjah) ini. Maka perbanyaklah padanya ucapan tahlil,
takbir dan tahmid (HR. Ahmad dari Ibnu Umar radhiyallahu anhuma, dan dishahihkan sanadnya oleh Syaikh
Ahmad Syakir rahimahullah). Imam Al-Bukhari rahimahullah menyebutkan bahwa, sahabat Ibnu Umar dan Abu
Hurairah dulu biasa pergi ke pasar pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah seraya mengumandangkan takbir,
sehingga masyarakatpun bertakbir mengikuti takbir keduanya. Itu untuk tuntunan takbir yang bersifat umum.
Adapun untuk praktik takbir yang bersifat khusus terkait dengan syiar hari raya Idul Adha, maka menurut
jumhur ulama disunnahkan agar dilakukan mulai selepas shalat subuh pada hari Arafah (tanggal 9 Dzulhijjah)
sampai shalat asar hari terakhir tasyriq (tanggal 13 Dzulhijjah), dimana ucapan takbir dikumandangkan pada
setiap usai shalat fardhu dan diutamakan pada pagi hari raya Idul Adha saat seseorang berangkat ke tempat
shalat Id.
7. Menyembelih hewan qurban, dengan motivasi utama sebagai sebuah bentuk ibadah ritual persembahan
kepada Allah, bukti penghambaan dan syiar deklarasi kemurnian tauhid kepada-Nya, dan bukan dengan sekadar
niat bersedekah daging. Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Tiada satu amal pun
yang dilakukan seseorang pada Yaumun-Nahr (hari raya qurban) yang lebih dicintai oleh Allah daripada
mengalirkan darah (hewan qurban yang disembelih). Maka berbahagialah kamu dengannya (HR. At-Tirmidzi,
Ibnu Majah dan Al-Hakim dengan sanad yang shahih).
8. Mengikuti shalat Idul Adha, dan mendengarkan khutbah seusainya. Adapun bagi kaum perempuan yang
berhalangan, maka dianjurkan untuk tetap turut menghadiri penyelenggaraan shalat, meskipun tentu tidak boleh
mengikutinya, melainkan untuk mendapatkan siraman rohani dan pencerahan ilmu dari khutbah yang
disampaikan, serta sekaligus untuk turut menyemarakkan, memeriahkan dan meramaikan suasana hari raya
sebagai momen kegembiraan ummat Islam dan syiar kebersamaan serta persatuan kaum muslimin. Sedangkan
ketika hari raya qurban jatuh pada hari Jumat, seperti yang akan datang ini, maka bagi yang mengikuti shalat Id
diberi rukhshah (keringanan) untuk tidak menghadiri shalat Jumat, dan cukup melakukan shalat dzuhur saja
seperti hari-hari lain. Namun meskipun begitu, lebih baik baginya jika tetap turut menunaikan shalat jumat
bersama kaum muslimin yang mengadakannya. Sedangkan bagi penanggung jawab atau takmir masjid jami,
yakni masjid yang biasa didirikan shalat jumat di dalamnya, diharuskan tetap menyelenggarakannya, agar bagi
kaum muslimin yang ingin, bisa berkesempatan untuk menjalankannya. Karena saat terjadi shalat Idul Fitri pada
hari Jumat, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Telah berhimpun pada hari kalian
ini dua hari raya. Barangsiapa yang ingin, maka (shalat Id) telah cukup baginya untuk mewakili shalat Jumat.
Namun kami tetap akan menyelenggarakannya (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Al-Baihaqi, Al-Hakim dan lainlain, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu anhu).
9. Dan last but not least, tentu saja amal ibadah paling agung dan tertinggi pada bulan Dzulhijjah ini, bagi yang
mampu dan berkesempatan, tiada lain adalah ibadah haji dan umrah di Tanah Suci Mekkah. Rasulullah
shallallahu alaihi wasallam bersabda (yang artinya): Ibadah umrah satu ke umrah yang lain adalah penghapus
dosa antara keduanya, dan haji yang mabrur itu tiada balasan baginya kecuali Surga (HR. Muttafaq alaih).
Demikian, semoga manfaat sebagai pengingat. Wallahul Muwaffiq ila aqwamith-thariq. Wa Huwal Hadi ila
sawa-issabil.