Anda di halaman 1dari 2

LAGI! BEGAL BERBURU MAHASISWA ITB?

Minggu, pukul 05.03 WIB seorang mahasiswa ITB jurusan Teknik Geodesi
semester 3 bernama Zaidan Muharri menjadi korban ke-4 dari kasus ppembegalan di
kalangan mahasiswi ITB. Tidak hanya kehilangan sepeda motor Honda Supra X 125
dengan nomor polisi B 3629 TSE, tapi korban juga mendapatkan luka yang berasal
dari beberapa bacokan senjata tajam di bagian kepala dan kaki bagian bawah.
Peristiwa tersebut dialaminya saat berada di pintu sabuga yang berlokasi di Jl.
Tamansari, kelurahan Lebak Siliwangu, Kecamatan Coblong.
Sebagai mahasiswa, tidak dapat dipungkiri bahwa pulang malam atau bahkan dini
hari terkadang menjadi suatu hal yang tidak dapat terelakkan. Entah itu karena tugas
yang harus dikerjakan hingga dini hari, rapat kemahasiswaan yang tidak kunjung
mendapat hasil dan sepakat, atau sekedar nongkrong di kampus bersama kawan kawan seperjuangan. Walaupun sudah dikeluarkan himbauan agar tidak pulang terlalu
larut atau bahkan kebijakan baru yang memperbolehkan mahasiswa ITB untuk boleh
tinggal menetap dikampus (dengan surat izin) daripada harus pulang malam, pulang
ke kosan atau kerumah larut malam tetap menjadi pilihan mahasiswanya dengan
berbagai macam alasan.
Entah benar para pembegal yang marak sedang mengincar mahasiswa ITB atau
kawasan disekitar kampus yang gelap dan sepi menjadi daerah yang mudah bagi para
pembegal untuk melakukan aksinya. Ketika pulang larut malam, kawasan disekitar
kampus ITB yang gelap dan ditutupi oleh pohon-pohon besar memang menjadi
kawasan yang relatif aman bagi para pelaku pembegalan untuk melakukan aksinya.
Bukan hanya daerah Taman Sari, Siliwangi, dan bunderan Dayang Sumbi yang relatif
gelap tanpa penerangan, bahkan Jl. Dago yang difasilitasi oleh lampu jalan pun dapat
menjadi kawasan yang rawan akan begal jika dilihat dari kasus-kasus sebelumnya
(sudah ada 2 korban mahasiswa ITB yang mengalami pembegalan sewaktu melintas
di Jl. Dago malam hari). Saya sebagai seorang mahasiswa, tentu saja menjadi waswas
dan khawatir jika harus melintasi daerah-daerah tersebut yang pastinya harus dilewati
oleh sebagian besar mahasiswa ITB ketika pulang.
Lantas, apa yang sebenarnya harus dilakukan? Dari banyaknya kasus-kasus
pembegalan yang telah terjadi, saya harap pemerintah atau pihak berwajib baiknya
mulai melakukan pemasangan kamera CCTV (close circuit television) untuk

melakukan pemantauan di daerah-daerah yang rawan begal tersebut agar kegiatan


pemantauan dapat dilakukan selama 24jam oleh polisi. Seringkali atau bahkan
disetiap kasus, polisi mengetahui adanya pembegalan jika hal itu telah terjadi dan
sudah menimbulkan korban sehingga baik motor ataupun korban tidak dapat
diselamatkan. Sudah banyak motor yang dicuri, bahkan orang - orang tidak bersalah
yang terkena bacokan dan mengalami luka akibat begal yang membabibuta.
Pemasangan kamera CCTV di daerah tersebut bisa dikatakan sangat menguntungkan
mahasiswa yang melintas bahkan masyarakat besar dalam hal keamanan jika harus
pulang larut malam. Dengan kamera CCTV, polisi dapat mengontrol lokasi yang
rawan akan pembegalan hanya dengan melihat dari layar monitor. Kamera CCTV ini
bisa ditempatkan di tempat-tempat umum untuk menghindari tindak kejahatan. Tidak
hanya mencegah, menurut saya pemasangan CCTV ini bahkan dapat menjadi
penunjang penyeledikan terhadap tindak kejahatan yang terjadi serta menjadi bukti
untuk aksi kejahatan atau tindak kriminal apapun terutama pembegalan.
Dengan peningkatan keamanan yang ada, tentu saja para pembegal seharusnya
lebih berhati-hati dan takut untuk melakukan aksinya. Sehingga diharapkan kasus
begal berburu mahasiswa di kawasan yang rawan, gelap, dan sepi dapat dicegah dan
dikurangi.
Semeru Gita Lestari
Mahasiswi tingkat 3 Institut Teknologi Bandung