Anda di halaman 1dari 51

LABORATORIUM MESIN

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
Jl. Mayjen Sutoyo No. 2
Cawang Jakarta 13630
INDONESIA

LAPORAN PRATIKUM
METALURGI FISIK

Disusun Oleh :
URFAN RAMADHAN : 14171015001

TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI BUDI UTOMO
2016

LEMBAR PENGESAHAN
LABORATORIUM MATERIAL TEKNIK
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS KRISTEN INDONESIA
JAKARTA
2016

Disetujui untuk Laboratorium Metalurgi FT. Mesin UKI


Jakarta, 28 Agustus 2016
Menyetujui :

Kepala Lab. Teknik Mesin

Asisten Pengujian

Asisten Pengujian

Metalurgi

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis haturkan kepada Yang Maha Kuasa, Allah SWT atas
anugerah nikmat kesehatan, nikmat ilmu dan semua nikmat lainnya, sehingga
Penulis dapat menyelesaikan makalah Metalurgi Fisik dalam Pengujian
Destruktif yang berjudul Uji Tarik dan Uji Impact . Dan tak lupa penulis
ucapkan terima kasih atas dukungan yang diberikan dalam penyusunan makalah
ini, maka penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Kepada keluarga dan orang tua tercinta yang selalu sabar mendoakan
demi kelancaran semua urusan perkuliahan, sehingga makalah ini pun
dapat terselesaikan.
2. Kepada Ibu Mediya Wantipane dan Bapak Benheart Tarigan, selaku
pembimbing Praktek Manufaktur yang memberikan pelajaran dan
materi selama praktek berlangsung. Terima kasih atas bimbingan dan
arahan dalam Penulisan makalah ini.
3. Kepada teman-teman seperjuangan Teknik Mesin ITBU baik kelas
reguler maupun P2T khususnya Kelompok F.
4. Orang tersayang yang selalu menjadi motivasi penulis dan mendoakan
di setiap jejak langkah penulis dalam hal apapun. Terima kasih
5. Dan semua pihak yang selalu memberikan dukungan yang sangat
membantu penulis baik moril maupun materil.
Penulis berharap, dengan membaca makalah ini pembaca dapat memahami
dan mengenal apa itu Pengujian Destruktif pada material dalam sifat-sifat
suatu material specimen tertentu . Hal tersebutlah yang kemudian dijadikan dosen
mata kuliah Metalurgi fisik sebagai Topik permasalahan dalam pembuatan
makalah ini. Dan penulis mengambil suatu batasan permasalahan dalam
penentuan topik tersebut yang lebih mengerucut kepada Pengujian Uji Tarik
dan Impact

Dalam makalah ini akan di jelaskan seperti apa pengujian destruktif


(merusak ) specimen / benda uji untuk mengetahui sifat-sifat mekanis material
tersebut.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat dan menjadi bahan motivasi
pembaca dalam mengingat bahwa, seberapa penting kita mengetahui tentang sifatsifat mekanis dari suatu material seperti, kekuatan tarik, kekuatan tekan, kekuatan
lentur, kekuatan geser, ketahanan beban kejut serta modulus elastisitas dari suatu
material tersebut.
Penulis menyadari bahwa, makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh
karena itu Penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari
pembaca demi perbaikan yang lebih baik.

Jakarta , Juni 2016

Penulis

DAFTAR ISI
LEMBAR PENGESAHAN..........................................................................ii
KATA PENGANTAR..................................................................................iii
DAFTAR ISI.................................................................................................v
BAB I : PENDAHULUAN...........................................................................1
1.1 Latar Belakang...................................................................................1
1.2 Batasan Masalah................................................................................3
1.3 Maksud dan Tujuan Percobaan..........................................................3
1.4 Sistematika Penulisan........................................................................3
BAB II : PEMBAHASAN............................................................................5
2.1 Pengujian Destruktif..........................................................................5
2.2 Kekuatan Tarik...................................................................................5
2.3 Kekuatan Luluh (Yield Strength).......................................................8
2.4 Modulus Elastisitas............................................................................9
2.5 Uji Tarik...........................................................................................11
2.6 Uji Impact........................................................................................18
2.6.1

Pengujian Impact Metode Charpy............................................20

2.6.2

Pengujian Impact Metode izod.................................................22

2.6.3

Jenis-jenis Patahan Impact........................................................22

2.6.4

Temperatur Tempat Pengujian Impact......................................23

BAB III : METODE PENGUJIAN...........................................................24


3.1 Uji Tarik...........................................................................................24
3.2 Diagram Alir Percobaan...................................................................24
3.3 Alat dan Bahan.................................................................................25
3.3.1

Alat Pendukung........................................................................25

3.3.2

Bahan dan mesin Yang Digunakan...........................................25

3.3.3

Prosedur Percobaan..................................................................25

3.3.4

Data Hasil Percobaan................................................................27

3.3.5

Kesimpulan...............................................................................30

3.3.6

Perhitungan dan Jawaban Pertanyaan.......................................30

3.4 Uji Impact........................................................................................37


3.5 Diagram Alir Percobaan...................................................................37
3.6 Alat dan Bahan.................................................................................38
3.6.1

Alat Pendukung........................................................................38

3.6.2

Bahan dan mesin Yang Digunakan...........................................38

3.6.3

Prosedur Percobaan..................................................................38

3.6.4

Spesifikasi alat uji destruktif....................................................40

3.6.5

Data Hasil Percobaan................................................................41

3.6.6

Pembahasan..............................................................................43

3.6.7

Kesimpulan...............................................................................44

3.6.8

Saran.........................................................................................44

3.6.9

Perhitungan dan Jawaban Pertanyaan.......................................45

BAB IV : PENUTUP..................................................................................51
4.1 Simpulan..........................................................................................51
4.2 Saran.................................................................................................52
DAFTAR PUSTAKA..................................................................................53
LAMPIRAN................................................................................................54

BAB III

III
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Suatu logam mempunyai sifat-sifat tertentu yang dibedakan atas sifat fisik,

mekanik, thermal, dan korosif. Salah satu yang penting dari sifat tersebut adalah
sifat mekanik. Sifat mekanik terdiri dari keuletan, kekerasan, kekuatan, dan
ketangguhan. Sifat mekanik merupakan salah satu acuan untuk melakukan proses
selanjutnya terhadap suatu material, contohnya untuk dibentuk dan dilakukan
proses permesinan. Untuk mengetahui sifat mekanik pada suatu logam harus
dilakukan pengujian terhadap logam tersebut. Salah satu pengujian yang
dilakukan adalah pengujian tarik.
Dalam pembuatan suatu konstruksi diperlukan material dengan spesifikasi
dan sifat-sifat yang khusus pada setiap bagiannya. Sebagai contoh dalam
pembuatan konstruksi sebuah jembatan. Diperlukan material yang kuat untuk
menerima beban diatasnya. Material juga harus elastis agar pada saat terjadi
pembebanan standar atau berlebih tidak patah. Salah satu contoh material yang
sekarang banyak digunakan pada konstruksi bangunan atau umum adalah logam.
Meskipun dalam proses pembuatannya telah diprediksikan sifat mekanik
dari logam tersebut, kita perlu benar-benar mengetahui nilai mutlak dan akurat
dari sifat mekanik logam tersebut. Oleh karena itu, sekarang ini banyak dilakukan
pengujian-pengujian terhadap sampel dari material.
Pengujian ini dimaksudkan agar kita dapat mengetahui besar sifat mekanik
dari material, sehingga dapat dlihat kelebihan dan kekurangannya. Material yang
mempunyai sifat mekanik lebih baik dapat memperbaiki sifat mekanik dari
material dengan sifat yang kurang baik dengan cara alloying. Hal ini dilakukan
sesuai kebutuhan konstruksi dan pesanan.
Uji tarik adalah suatu metode yang digunakan untuk menguji kekuatan
suatu bahan/material dengan cara memberikan beban gaya yang sesumbu. Hasil
yang didapatkan dari pengujian tarik sangat penting untuk rekayasa teknik dan

desain produk karena mengahsilkan data kekuatan material. Pengujian uji tarik
digunakan untuk mengukur ketahanan suatu material terhadap gaya statis yang
diberikan secara lambat.Salah satu cara untuk mengetahui besaran sifat mekanik
dari logam adalah dengan uji tarik. Sifat mekanik yang dapat diketahui adalah
kekuatan dan elastisitas dari logam tersebut. Uji tarik banyak dilakukan untuk
melengkapi informasi rancangan dasar kekuatan suatu bahan dan sebagai data
pendukung bagi spesifikasi bahan. Nilai kekuatan dan elastisitas dari material uji
dapat dilihat dari kurva uji tarik.
Dalam bidang industri diperlukan pengujian tarik ini untuk
mempertimbangkan faktor metalurgi dan faktor mekanis yang tercakup dalam
proses perlakuan terhadap logam jadi, untuk memenuhi proses selanjutnya.
Oleh karena pentingnya pengujian tarik dan impact ini, kita sebagai
mahasiswa metalurgi hendaknya mengetahui mengenai pengujian ini. Dengan
adanya kurva tegangan regangan kita dapat mengetahui kekuatan tarik, kekuatan
luluh, keuletan, modulus elastisitas, ketangguhan, dan lain-lain. Pada pegujian
tarik ini kita juga harus mengetahui dampak pengujian terhadap sifat mekanis dan
fisik suatu logam. Dengan mengetahui parameter-parameter tersebut maka kita
dapat data dasar mengenai kekuatan suatu bahan atau logam.

1.2

Batasan Masalah
Untuk menghidari adanya kesimpangsiuran dalam penyusunan makalah ini,

maka Penulis membatasi masalah-masalah yang akan di bahas diantaranya:


1. Teori dasar uji tarik dan uji impact ..
2. Percobaan uji tarik dan impact berikut data dan kesimpulannya
3. Mencari nilai tegangan luluh (yield strength), tegangan tarik
maksimum (ultimate tensile strength), regangan (strain), modulus
elastisitas dan rasio dari percobaan spesimen (benda uji)

1.3

Maksud dan Tujuan Percobaan


Adapun maksud dan tujuan Penulis dalam pembuatan makalah ini adalah,

sebagai berikut.
1. Untuk mengetahui sifat-sifat mekanis dari benda uji tersebut seperti
kekuatan tarik, kekuatan tekan, kekuatan geser, kekuatan terhadap beban
kejut dan modulus elastisitas dari logam tersebut. Tujuan umum dari
pengujian destruktif adalah untuk mengetahui sifat-sifat mekanis dari
benda uji
2. Dapat melihat secara langsung seperti apa destruktif test pada material
3. Sebagai bahan ajar praktek metalurgi fisik
4. Salah satu pengetahuan di bidang metafologi yang ada di dunia teknik
mesin dan industry

1.4

Sistematika Penulisan
Penulisan laporan ini dibagi menjadi lima bab. Bab I menjelaskan mengenai

latar belakang, batasan masalah, tujuan percobaan, sistematika penulisan. Bab II


menjelaskan mengenai pembahasan yang berisi teori dasar dari percobaan yang
dilakukan yaitu uji tarik dan uji impact, Bab III menjelaskan mengenai metode
pengujian dan hasil / data yang diperoleh, Bab IV menjelaskan mengenai
kesimpulan dari percobaan, Selain itu juga di akhir laporan terdapat daftar pustaka
dan lampiran yang memuat lampiran gambar-gambar.

BAB IV
PEMBAHASAN

2.1

Pengujian Destruktif
Pengujia destruktif adalah pengujian logam yang dilakukan dengan merusak

specimen atau benda uji sehingga dapat diketahui sifat-sifat mekanis Pengujian
tarik dan impact ini dilakukan untuk mengetahui sifat-sifat mekanis suatu
material, khususnya logam diantara sifat-sifat mekanis yang dapat diketahui dari
hasil pengujian tarik adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.

Kekuatan tarik
Kuat luluh dari material
Modulus elastisitas dari material
Regangan
Pengujian tarik dan impact banyak dilakukan untuk melengkapi informasi

rancangan dasar kekuatan suatu bahan dan sebagai data pendukung bagi
spesifikasi bahan. Karena dengan pengujian tarik dapat diukur ketahanan suatu
material terhadap gaya statis yang diberikan secara perlahan. Pengujian tarik ini
merupakan salah satu pengujian yang penting untuk dilakukan, karena dengan
pengujian ini dapat memberikan berbagai informasi mengenai sifat-sifat logam.

2.2

Kekuatan Tarik
Kekuatan yang biasanya ditentukan dari suatu hasil pengujian tarik adalah

kuat luluh (Yield Strength) dan kuat tarik (Ultimate Tensile Strength). Kekuatan
tarik atau kekuatan tarik maksimum (Ultimate Tensile Strength / UTS), adalah
beban maksimum dibagi luas penampang lintang awal benda uji.

di mana :

Su

= Kuat tarik

Pmaks = Beban maksimum


A0

= Luas penampang awal

Untuk logam-logam yang liat kekuatan tariknya harus dikaitkan dengan beban
maksimum dimana logam dapat menahan sesumbu untuk keadaan yang sangat
terbatas.
Tegangan tarik adalah nilai yang paling sering dituliskan sebagai hasil suatu
uji tarik, tetapi pada kenyataannya nilai tersebut kurang bersifat mendasar dalam
kaitannya dengan kekuatan bahan. Untuk logam-logam yang liat kekuatan
tariknya harus dikaitkan dengan beban maksimum, di mana logam dapat menahan
beban sesumbu untuk keadaan yang sangat terbatas. Akan ditunjukkan bahwa
nilai tersebut kaitannya dengan kekuatan logam kecil sekali kegunaannya untuk
tegangan yang lebih kompleks, yakni yang biasanya ditemui. Untuk berapa lama,
telah menjadi kebiasaan mendasarkan kekuatan struktur pada kekuatan tarik,
dikurangi dengan faktor keamanan yang sesuai.
Kecenderungan yang banyak ditemui adalah menggunakan pendekatan yang
lebih rasional yakni mendasarkan rancangan statis logam yang liat pada kekuatan
luluhnya. Akan tetapi, karena jauh lebih praktis menggunakan kekuatan tarik
untuk menentukan kekuatan bahan, maka metode ini lebih banyak dikenal, dan
merupakan metode identifikasi bahan yang sangat berguna, mirip dengan
kegunaan komposisi kimia untuk mengenali logam atau bahan. Selanjutnya,
karena kekuatan tarik mudah ditentukan dan merupakan sifat yang mudah
dihasilkan kembali (reproducible). Kekuatan tersebut berguna untuk keperluan
spesifikasi dan kontrol kualitas bahan. Korelasi empiris yang diperluas antara
kekuatan tarik dan sifat-sifat bahan misalnya kekerasan dan kekuatan lelah, sering
dipergunakan. Untuk bahan-bahan yang getas, kekuatan tarik merupakan kriteria
yang tepat untuk keperluan perancangan.
Tegangan di mana deformasi plastik atau batas luluh mulai teramati
tergantung pada kepekaan pengukuran regangan. Sebagian besar bahan

mengalami perubahan sifat dari elastik menjadi plastik yang berlangsung sedikit
demi sedikit, dan titik di mana deformasi plastik mulai terjadi dan sukar
ditentukan secara teliti. Telah digunakan berbagai kriteria permulaan batas luluh
yang tergantung pada ketelitian pengukuran regangan dan data-data yang akan
digunakan.
1. Batas elastik sejati berdasarkan pada pengukuran regangan mikro pada
skala regangan 2 X 10-6 inci/inci. Batas elastik nilainya sangat rendah dan
dikaitkan dengan gerakan beberapa ratus dislokasi.
2. Batas proporsional adalah tegangan tertinggi untuk daerah hubungan
proporsional antara tegangan-regangan. Harga ini diperoleh dengan cara
mengamati penyimpangan dari bagian garis lurus kurva teganganregangan.
3. Batas elastik adalah tegangan terbesar yang masih dapat ditahan oleh
bahan tanpa terjadi regangan sisa permanen yang terukur pada saat beban
telah ditiadakan. Dengan bertambahnya ketelitian pengukuran regangan,
nilai batas elastiknya menurun hingga suatu batas yang sama dengan batas
elastik sejati yang diperoleh dengan cara pengukuran regangan mikro.
Dengan ketelitian regangan yang sering digunakan pada kuliah rekayasa
(10-4 inci/inci), batas elastik lebih besar daripada batas proporsional.
Penentuan batas elastik memerlukan prosedur pengujian yang diberi
beban-tak diberi beban (loading-unloading) yang membosankan.

2.3

Kekuatan Luluh (Yield Strength)


Salah satu kekuatan yang biasanya diketahui dari suatu hasil pengujian tarik

adalah kuat luluh (Yield Strength). Kekuatan luluh ( yield strength) merupakan
titik yang menunjukan perubahan dari deformasi elastis ke deformasi plastis
[Dieter, 1993]. Besar tegangan luluh dituliskan seperti pada persamaan 2.4,
sebagai berikut.

Keterangan ;

Ys : Besarnya tegangan luluh (kg/mm2)


Py : Besarnya beban di titik yield (kg)
Ao : Luas penampang awal benda uji (mm2)

Tegangan di mana deformasi plastis atau batas luluh mulai teramati


tergantung pada kepekaan pengukuran regangan. Sebagian besar bahan
mengalami perubahan sifat dari elastik menjadi plastis yang berlangsung sedikit
demi sedikit, dan titik di mana deformasi plastis mulai terjadi dan sukar
ditentukan secara teliti.
Kekuatan luluh adalah tegangan yang dibutuhkan untuk menghasilkan
sejumlah kecil deformasi plastis yang ditetapkan. Definisi yang sering digunakan
untuk sifat ini adalah kekuatan luluh ditentukan oleh tegangan yang berkaitan
dengan perpotongan antara kurva tegangan-regangan dengan garis yang sejajar
dengan elastis ofset kurva oleh regangan tertentu. Di Amerika Serikat offset
biasanya ditentukan sebagai regangan 0,2 atau 0,1 persen (e = 0,002 atau 0,001)

Cara yang baik untuk mengamati kekuatan luluh offset adalah setelah benda
uji diberi pembebanan hingga 0,2% kekuatan luluh offset dan kemudian pada saat
beban ditiadakan maka benda ujinya akan bertambah panjang 0,1 sampai dengan
0,2%, lebih panjang daripada saat dalam keadaan diam. Tegangan offset di
Britania Raya sering dinyatakan sebagai tegangan uji (proff stress), di mana harga
ofsetnya 0,1% atau 0,5%. Kekuatan luluh yang diperoleh dengan metode ofset
biasanya dipergunakan untuk perancangan dan keperluan spesifikasi, karena
metode tersebut terhindar dari kesukaran dalam pengukuran batas elastik atau
batas proporsional.

2.4

Modulus Elastisitas
Modulus Elastisitas adalah ukuran kekuatan suatu bahan akan

keelastisitasannya. Makin besar modulus, makin kecil regangan elastik yang


dihasilkan akibat pemberian tegangan.Modulus elastisitas ditentukan oleh gaya
ikat antar atom, karena gaya-gaya ini tidak dapat dirubah tanpa terjadi perubahan
mendasar pada sifat bahannya. Maka modulus elastisitas salah satu sifat-sifat
mekanik yang tidak dapat diubah. Sifat ini hanya sedikit berubah oleh adanya
penambahan paduan, perlakuan panas, atau pengerjaan dingin. Secara matematis
persamaan modulus elastic dapat ditulis sebagai berikut.

Dimana :

s = tegangan
= regangan

Berikut Taabel Modulus elastisitas material standard

Gambar 1. Table Modulus Elastisitas

2.5

Uji Tarik
Uji Tarik merupakan salah satu pengujian untuk mengetahui sifat-sifat suatu

bahan. Dengan menarik suatu bahan kita akan segera mengetahui bagaimana
bahan tersebut bereaksi terhadap tenaga tarikan dan mengetahui sejauh mana
material itu bertambah panjang. Alat eksperimen untuk uji tarik ini harus memiliki
cengkeraman (grip) yang kuat dan kekakuan yang tinggi (highly stiff).
Banyak hal yang dapat kita pelajari dari hasil uji tarik. Bila kita terus
menarik suatu bahan (dalam hal ini suatu logam) sampai putus, kita akan
mendapatkan profil tarikan yang lengkap yang berupa kurva seperti digambarkan
pada Gambar 1. Kurva ini menunjukkan hubungan antara gaya tarikan dengan
perubahan panjang. Profil ini sangat diperlukan dalam desain yang memakai
bahan tersebut

Gambar 2. Gambaran singkat uji tarik dan datanya

Biasanya yang menjadi fokus perhatian adalah kemampuan maksimum


bahan tersebut dalam menahan beban. Kemampuan ini umumnya disebut
Ultimate Tensile Strength disingkat dengan UTS, dalam bahasa Indonesia
disebut tegangan tarik maksimum.
Hukum Hooke (Hooke's Law)
Hampir semua logam, pada tahap sangat awal dari uji tarik, hubungan antara
beban atau gaya yang diberikan berbanding lurus dengan perubahan panjang
bahan tersebut. Ini disebut daerah linier atau linear zone. Di daerah ini, kurva
pertambahan panjang vs beban mengikuti aturan Hooke yaitu rasio tegangan
(stress) dan regangan (strain) adalah konstan.
Stress adalah beban dibagi luas penampang bahan
strain adalah pertambahan panjang dibagi panjang awal bahan
Dirumuskan :

Stress (Tegangan Mekanis): = F/A , F = gaya tarikan, A = luas


penampang
Strain (Regangan): = L/L , L = Pertambahan panjang, L = Panjang
awal
Maka, hubungan antara stress dan strain dirumuskan: E = /
E adalah gradien kurva dalam daerah linier, di mana perbandingan tegangan ()
dan regangan () selalu tetap. E diberi nama Modulus Elastisitas atau Young
Modulus. Kurva yang menyatakan hubungan antara strain dan stress seperti ini
kerap disingkat kurva SS (SS curve).

Gambar 3. Kurva tegangan-regangan

Gambar 4. Uji Tarik Sederhana

Seperti pada gambar 2.1 benda yang diuji tarik diberi pembebanan pada dua
arah sumbunya. Pemberian beban pada kedua arah sumbunya diberi beban yang
sama besarnya. Pengujian tarik adalah dasar dari pengujian mekanik yang
dipergunakan pada material . dimana specimen uji yang telah distandarisasi
dilakukan pembebanan uniaxial sehingga specimen uji mengalami peregangan
dan bertambah panjang hingga akhirnya patah. Pengujian tarik relatif sederhana,
murah dan sangat terstandarisasi dibanding pengujian lain. Hal-hal yang perlu
diperhatikan agar pengujian menghasilkan nilai yang valid adalah: bentuk dan
dimensi specimen uji.
Karena dalam pengujian ini menggunakan standar JIS maka bentuk
specimen uji harus sesuai dengan standar yang ditentukan. Untuk pengujian
material sesuai dengan standar JIS mengacu pada JIS Z 2201. Standarisasi dan
bentuk dari specimen uji bertujuan agar retak dan patahan tidak terjadi pada

bagian gauge. Gambar dibawah ini merupakan standarisai uji tarik yang mengacu
pada JIS Z 2201.

Gambar 5. spesimen uji tarik mengacu pada standar JIS Z 2201


Pemberian beban pada kedua ujing specimen akan mengakibatkan regangan
dan tegangan. Untuk menganalisa berapa besar tegangan dan regangan yang
dapat diterima oleh specimen uji maka kita perlu membuat kurva tegangan dan
regangan. Kurva tegangan dan regangan diperoleh dengan cara membagi beban
dan perpanjang dengan factor yang konstan. Pada permulaan penarikan hubungan
tegangan dan regangan berbanding lurus mengikuti garis OA. Pada garis OA
berlaku hokum Hook dimana perpanjangan (l) berbanding lurus dengan panjang
awal, Io dan beban P berbanding terbalik dengan luas penampang awal Ao.
l=C

Io . P
Ao

P l l
=
Ao Io C

Gambar 6. Kurva Tegangan dan Regangan

Asumsikan bahwa kita melakukan uji tarik mulai dari titik O sampai D
sesuai dengan arah panah dalam gambar 1.3.
a. Batas elastic

E ( elastic limit) Dalam Gbr.1.3 dinyatakan dengan

titik A. Bila sebuah bahan diberi beban sampai pada titik A, kemudian
bebannya dihilangkan, maka bahan tersebut akan kembali ke kondisi
semula (tepatnya hampir kembali ke kondisi semula) yaitu regangan
nol pada titik O (lihat inset dalam Gbr.1.3). Tetapi bila beban ditarik
sampai melewati titik A, hukum Hooke tidak lagi berlaku dan terdapat
perubahan permanen dari bahan. Terdapat konvensi batas regangan
permamen (permanent strain) sehingga masih disebut perubahan elastis
yaitu kurang dari 0.03%, tetapi sebagian referensi menyebutkan 0.005% .
Tidak ada standarisasi yang universal mengenai nilai ini.
b. Batas proporsional p (proportional limit) Titik sampai di mana
penerapan hukum Hook masih bisa ditolerir. Tidak ada standarisasi
tentang nilai ini. Dalam praktek, biasanya batas proporsional sama
dengan batas elastis.
c. Deformasi plastis (plastic deformation) Yaitu perubahan bentuk yang
tidak kembali ke keadaan semula. Pada Gbr.1.3 yaitu bila bahan ditarik
sampai melewati batas proporsional dan mencapai daerah landing.
d. Tegangan luluh atas uy (upper yield stress) Tegangan maksimum
sebelum bahan memasuki fase daerah landing peralihan deformasi elastis
ke plastis.
e. Tegangan luluh bawah ly (lower yield stress) Tegangan rata-rata
daerah landing sebelum benar-benar memasuki fase deformasi plastis.
Bila hanya disebutkan tegangan luluh (yield stress), maka yang dimaksud
adalah tegangan ini.
f. Regangan luluh y (yield strain) Regangan permanen saat bahan akan
memasuki fase deformasi plastis.
g. Regangan

elastis e (elastic

strain)

Regangan

yang

diakibatkan

perubahan elastis bahan. Pada saat beban dilepaskan regangan ini akan
kembali ke posisi semula.

h. Regangan plastis p (plastic strain) Regangan yang diakibatkan


perubahan plastis. Pada saat beban dilepaskan regangan ini tetap tinggal
sebagai perubahan permanen bahan.
i. Regangan total (total strain) Merupakan gabungan regangan plastis dan
regangan elastis, T = e+p. Perhatikan beban dengan arah OABE. Pada
titik B, regangan yang ada adalah regangan total. Ketika beban
dilepaskan, posisi regangan ada pada titik E dan besar regangan yang
tinggal (OE) adalah regangan plastis.
j. Tegangan tarik maksimum TTM (UTS, ultimate tensile strength) Pada
Gbr.1.3 ditunjukkan dengan titik C (), merupakan besar tegangan
maksimum yang didapatkan dalam uji tarik.
k. Kekuatan patah (breaking strength) Pada Gbr.1.3 ditunjukkan dengan
titik D, merupakan besar tegangan di mana bahan yang diuji putus atau
patah.
l. Tegangan luluh pada data tanpa batas jelas antara perubahan elastis
danplastis
Untuk hasil uji tarik yang tidak memiliki daerah linier dan landing yang
jelas, tegangan luluh biasanya didefinisikan sebagai tegangan yang
menghasilkan regangan permanen sebesar 0.2%, regangan ini disebut
offset-strain

Gambar 7. Penentuan tegangan luluh (yield stress) untuk kurva tanpa daerah
linier

Dari keterangan diatas dapat dicermati bahwa tegangan yang digunakan


pada kurva adalah tegangan membujur rata-rata dari pengujian tarik. Tegangan
tarik dapat diperoleh dengan membagi beban dengan luas awal penampang lintang
benda uji
=

P
(N/mm2)
Ao

Regangan yang digunakan adalah regangan linier rata-rata, yang diukur dengan
cara membagi panjang ( ) dengan panjang awal.
e=

Dimana; e

atau

l
lo

= regangan (%)
lf
lo

2.6

l f l o
lo

= panjang akhir (mm)


= panjang awal (mm)

Uji Impact
Uji impact adalah pengujian dengan menggunakan pembebanan yang cepat

(rapid loading). Pengujian impak merupakan suatu pengujian yang mengukur


ketahanan bahan terhadap beban kejut. Inilah yang membedakan pengujian impak
dengan pengujian tarik dan kekerasan, dimana pembebanan dilakukan secara
perlahan-lahan. Pengujian impak merupakan suatu upaya untuk mensimulasikan
kondisi operasi material yang sering ditemui dalam perlengkapan transportasi atau
konstruksi dimana beban tidak selamanya terjadi secara perlahan-lahan melainkan
datang secara tiba-tiba, contoh deformasi pada bumper mobil pada saat terjadinya
tumbukan kecelakaan.

Gambar 8. Jenis Uji Impact


Pada uji impact terjadi proses penyerapan energi yang besar ketika beban
menumbuk spesimen. Energi yang diserap material ini dapat dihitung dengan
menggunakan prinsip perbedaan energi potensial. Dasar pengujiannya yakni
penyerapan energi potensial dari pendulum beban yang berayun dari suatu
ketinggian tertentu dan menumbuk benda uji sehingga benda uji mengalami
deformasi. Pada pengujian impak ini banyaknya energi yang diserap oleh bahan
untuk terjadinya perpatahan merupakan ukuran ketahanan impak atau
ketangguhan bahan tersebut.
Sifat keuletan suatu bahan dapat diketahui dari pengujian tarik dan
pengujian impact, tetapi dalam kondisi beban yang berbeda. Beban pada
pengujian impact seperti yang telah dijelaskan diatas adalah secara tiba-tiba,
sedangkan pada pengujian tarik adalah perlahan-lahan. Dari hasil pengujian tarik
dapat disimpulkan perkiraan dari hasil pengujian impact. Tetapi dari pengujian
impact dapat diketahui sifat ketangguhan logam dan harga impact untuk
temperatur yang berbeda-beda, mulai dari temperatur yang sangat rendah (-30oC)
sampai temperatur yang tinggi. Sedangkan pada percobaan tarik, temperatur kerja
adalah temperatur kamar.
Ada dua macam metode uji impact, yakni metode charpy dan izod,
perbedaan mendasar dari metode itu adalah pada peletakan spesimen, Pengujian
dengan menggunkan charpy lebih akurat karena pada izod pemegang spesimen

juga turut menyerap energi, sehingga energi yang terukur bukanlah energi yang
mampu di serap material seutuhnya.

2.6.1Pengujian Impact Metode Charpy

Batang uji Charpy banyak digunakan di Amerika Serikat, Benda uji Charpy
memiliki luas penampang lintang bujur sangkar (10 x 10 mm) dan memiliki takik
(notch) berbentuk V dengan sudut 45o, dengan jari-jari dasar 0,25 mm dan
kedalaman 2 mm.
Benda uji diletakkan pada tumpuan dalam posisi mendatar dan bagian yang
bertakik diberi beban impak dari ayunan bandul, Serangkaian uji Charpy pada
satu material umumnya dilakukan pada berbagai temperature sebagai upaya untuk
mengetahui temperatur transisi
prinsip dasar pengujian charpy ini adalah besar gaya kejut yang dibutuhkan
untuk mematahkan benda uji dibagi dengan luas penampang patahan. Mula-mula

Gambar 9. Metode Charpy

bandul Charpy disetel dibagian atas, kemudian dilepas sehingga menabrak benda
uji dan bandul terayun sampai ke kedudukan bawah Jadi dengan demikian, energi
yang diserap untuk mematahkan benda uji ditunjukkan oleh selisih perbedaan

tinggi bandul pada kedudukan atas dengan tinggi bandul pada kedudukkan bawah
(tinggi ayun). Segera setelah benda uji diletakkan, kemudian bandul dilepaskan
sehingga batang uji akan melayang (jatuh akibat gaya gravitasi). Bandul ini akan
memukul benda uji yang diletakkan semula dengan energi yang sama. Energi
bandul akan diserap oleh benda uji yang dapat menyebabkan benda uji patah
tanpa deformasi (getas) atau pun benda uji tidak sampai putus yang berarti benda
uji mempunyai sifat keuletan yang tinggi.
Permukaan patah membantu untuk menentukan kekuatan impact dalam
hubungannya dengan temperatur transisi bahan. Daerah transisi yaitu daerah
dimana terjadi perubahan patahan ulet ke patahan getas. Bentuk perpatahan dapat
dilihat langsung dengan mata telanjang atau dapat pula dengan bantuan
mikroskop.
2.6.2Pengujian Impact Metode izod

Metode uji Izod lazim digunakan di Inggris dan Eropa, Benda uji Izod
mempunyai penampang lintang bujur sangkar atau lingkaran dengan takik V di
dekat ujung yang dijepit, kemudian uji impak dengan metode ini umumnya juga
dilakukan hanya pada temperatur ruang dan ditujukan untuk material-material
yang didisain untuk berfungsi sebagai cantilever,
Perbedaan mendasar charpy dengan izod adalah peletakan spesimen.
Pengujian dengan menggunkan izod tidak seakurat pada pengujian charpy, karena
pada izod pemegang spesimen juga turut menyerap energi, sehingga energi yang
terukur bukanlah energi yang mampu di serap material seutuhnya.

2.6.3Jenis-jenis Patahan Impact

Pengukuran dari uji impact adalah pengamatan terhadap bentuk patahan.


Jenis Patahan uji impact ini dapat dikelompokan sebagai berikut :
1. Patahan berserat (patahan geser)
Patahan yang terjadi pada benda yang getas, misalnya: besi tuang, dapat
dianalisis Permukaan rata dan mengkilap, potongan dapat dipasangkan
kembali, keretakan tidak dibarengi deformasi, nilai pukulan takik rendah
2. Patahan granular ( patahan belah )

Patahan yang terjadi pada benda yang lunak, misalnya: baja lunak,
tembaga, dapat dianalisis

Permukaan tidak rata buram dan berserat,

pasangan potongan tidak bisa dipasang lagi, terdapat deformasi pada


keretakan, nilai pukulan takik tinggi
3. Patahan campuran dari keduanya.
Patahan yang terjadi pada bahan yang cukup kuat namun ulet, misalnya
pada baja temper Gabungan patahan getas dan patahan liat, permukaan
kusam dan sedikit berserat, potongan masih dapat dipasangkan, ada
deformasi pada retakan

2.6.4Temperatur Tempat Pengujian Impact

Temperatur tempat yang di gunakan pada saat pengujian impact


1. Kondisi temperature -40C
2. Kondisi temperature ruangan 30C
3. Kondisi temperature tinggi 100C
Pada temperature rendah kita jumpai jenis patahan getas dan pada
temperaturetinggi akan kita jumpai jenis patahan ulet

BAB V
METODE PENGUJIAN

3.1 Uji Tarik

3.2 Diagram Alir Percobaan

Gambar 10. Diagram Aliran Percobaan

3.3

Alat dan Bahan


3.3.1 Alat Pendukung

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Hamplas
Pasta gigi
Air
Caliper / Jangka sorong
Dial gauge
Alat tulis
Penggaris
Kertas gtrafik
3.3.2 Bahan dan mesin Yang Digunakan

a. Mesin uji destruktif


b. Bahan uji / specimen
c. Mesin Gerinda Halus

Gambar 11. Caliver & Dial


Indikator

3.3.3 Prosedur Percobaan

a.
b.
c.
d.
e.

Siapkan spesimen uji tarik


Catatlah jenis logam yang akan digunakan untuk uji tarik.
Pasanglah kertas grafik pada rel order pada mesin uji tarik.
Ukur spesimen uji tarik (diameter, panjang).
Cari titik tengah dari spesimen uji kemudian beri tanda, setelah itu dari
titik tengah di ukur masing-masing 3 cm ke kiri dan ke kanan dari titik

tersebut kemudian beri tanda.


f. Pasanglah spsimen uji tarik pada mesin uji tarik dan berilah beban 10000
kg (10 ton).
g. pasang dial gauge untuk mengatur pertambahan panjangnya.
h. Lakukan pengujian.
i. Catatlah perubahan panjang spesimen uji pada beban tertentu. Catatlah
j.

k.
l.

beban maksimum dan beban saat spesimen uji patah.


Setelah spesimen uji patah, matikan mesin dan lakuikan hal-hal berikut :
Ambil specimen uji yang putus,
Ambil grafik tegangan dan regangan yang tertera pada kertas grafik
Ukur kembali panjang spesimen uji tarik.
Ukur diameter akhir spesimen uji tarik.

Gambar 12. Mesin Uji Tarik

b.)
3.3.4 Data Hasil PercobaanGambar 13. Sesudah Uji Tarik

Dari hasil
terhadap specimen uji tarik dengan sepesifikasi
Gambar 14Sebelum
Uji percobaan
Tarik
dibawah ini:
A. Alumunium
Material : Allumunium
Standar percobaan: JIS
Panjang awal
: 252 mm
Beban
: 10000 kgf = 1019.36 N
Diameter awal : 9,1 mm
Didapat data sebagai berikut:

Panjang akhir
Diameter akhir

: 284,5 mm
: 6,1mm

Table 1. Data hasil pengujian tarik

Dari data hasil pengujian terhadap specimen uji tarik di atas di dapat:

Tegangan luluh ( y )
Tegangan maksimum ( u )
Tegangan patah ( f )
Sedangkan untuk regangan ( )

: 450 N/mm2
: 588 N/mm2
: 500 N/mm2
yang dapat diterima oleh specimen

dapat dicari menggunakan persamaan:

e=

l f l o
lo

Dimana : l f

= 284,5 mm

lo = 252 mm
Jadi untuk regangannya menjadi
e=

l f l o
lo

e=

284,5 mm252 mm
252 mm

= 0.12
Regangan dari specimen uji 12%
Modulus elastisitasnya adalah:

M o=
=

P
Ao

P
d
. lo
2

( )
(

1019.36 N
9,1 mm
.252 mm
2

M o=

0.283 N /mm2
0.12

= 0.283 N/mm2
= 2,358 N/mm2

Untuk batas proposional ( p ) bisa di lihat pada kurva tegangan dan regangan.
Untuk batas proposional ( p ) tidak ada standarisasi untuk nilai dari batas
proposional ( p ) tetapi pada prakteknya batas proposional sama dengan batas
elastisitas.

Dari gambar kurva tegangan ditunjukan letak dari batas proposional.


Gambar 15. 4 kurva tegangan dan regangan hasil dari pengujian tarik
Diketahui bahwa batas proposional lebih kecil dari tegangan patah ( f ),
dengan kata lain batas proposional berkisar 45% - 49% dari tegangan maksimal.
3.3.5 Kesimpulan

a. Pada uji coba ini kita menguji ketahanan bahan materialnya sejauh mana
pertambahan panjangnya dan bagaimana bahan tersebut bereaksi terhadap
tarikan.
b. Alumunium
Tegangan luluh (y)
: 450 (N/mm)
Tegangan Maksimal (u)
: 588 (N/mm)
Tegangan Patahan
: 500 (N/mm)
c. Alumunium dapat meregang hingga 12% dari bentuk awalnya
d. Pada pengujian tarik mengalami deformasi, selama deformasi bahan
menyarap energi sepanjang jarak deformasi.

3.3.6 Perhitungan dan Jawaban Pertanyaan

1. Buatlah

grafik

Tegangan-Regangan

pada

sampel Alluminium.

Indikasikanlah titik luluh, daerah deformasi elastis dan plastis,


kekuatan maksimum dan titik perpatahan.
Jawab :
Berdasarkan hasil pengujian pada specimen Aluminium, berikut ini
adalah titik dari kurva tegangan dan regangan hasil uji tarik

Gambar 16. Kurva Tegangan


2. Dengan formulasi yang ada pada teori dasar, buatlah diagram
tegangan-regangan sesungguhnya dari sampel tersebut. Lalu amatilah
apakah ada perbedaan antara hasil grafi yang anda dapat dari mesin
dengan yang anda analisa dari hasil perhitungan. Jika terjadi
perbedaan, berikanlah penjelasan!
Jawab :
Berikut ini adalah kurva tegangan dan regangan yang sesungguhnya
dari specimen aluminium.
Dari hasil pengamatan :

Dari hasil perhitungan :


Gambar 17. Grafik Data
700
600
500
400
300
200
100
0
0

10

15

20

batas proposional ( p )

25

30

35

40

tegangan maksimum

tegangan patah

Dari hasil pengamatan dari mesin dan perhitungan diperkirakan sama


dan tidak ada perbedaannya.

3. Apa makna penting dari nilai-nilai % elongasi dan % pengurangan area


dari suatu material? Apakah kedua nilai tersebut sama ataukah
berbeda? Mengapa?
Jawab :
Untuk dapat mengetahui berapa % specimen uji dapat meregang
dari bentuk awalnya. Berapa % meregang dengan berapa %
pengurangan area memiliki nilai yang berbeda,karena dampak yang
dihasilkan oleh gaya tarik menyebabkan pengurangan diameter yang
signifikan.
berikut ini perhitungannya :

e=

l f l o
lo

e=

284,5 mm252 mm
252 mm

= 0.12
Regangan dari specimen uji 12%

e=

d f d o
do

e=

6,1mm9,1 mm
9,1 mm

= - 0.33
Pengurangan diameter dari specimen uji -33%
4. Mengapa baja menunjukkan adanya titik luluh semntara besi cor tidak?
Jawab :
Gejala luluh pada umumnya hanya ditunjukkan oleh logam-logam ulet
dengan struktur Kristal BCC dan FCC yang membentuk interstitial
solid solution dari atom-atom karbon, boron, hydrogen dan oksigen.
Interaksi antar dislokasi dan atom-atom tersebut menyebabkan baja
ulet seperti mild steel menunjukkan titik luluh bawah (lower yield
point) dan titik luluh atas (upper yield point).
Untuk baja berkekuatan tinggi dan besi tuang yang getas pada
umumnya tidak memperlihatkan batas luluh yang jelas. Sehingga
digunakan metode offset untuk menentukan kekuatan luluh material.

Dengan metode ini kekuatan luluh ditentukan sebagai tegangan


diamana bahan memperlihatkan batas penyimpangan/deviasi tertentu
dari keadaan prporsionalis tegangan dan regangan.
Kekuatan luluh atau titik luluh merupakan suatu gambaran
kemampuan bahan menahan deformasi permanen bila digunakan
dalam penggunaan structural yang melibatkan pembebanan mekanik
seperti Tarik, tekan bending atau puntiran. Disisi lain, batas luluh ini
harus dicapai ataupun dilewati bila bahan dipakai dalam proses
manufaktur produk-produk logam seperti proses rolling, drawing,
stretching dan sebagainya. Dapat dikatakan titik luluh adalah suatu
tingkatan tegangan yang tidak boleh dilewati dalam penggunaan
structural (in service) dan harus dilewati dalam proses manufaktur
logam (forming process).
5. Mengapa besi tuang kelabu secara mekanik dinilai lemah? Ukuran
apakah yang dipakai sehingga dinilai lemah secara mekanis?
Bagaimana halnya dengan besi tuang nodular?
Jawab :
Besi tuang kelabu berpangkal pada besi kasar kelabu. Besi kasar
kelabu memiliki kadar silikon yang tinggi (kurang lebih 5,5 sampai
50%) dan kadar mangan yang rendah. Karena itu pembentukan
karbon bebas jadi meningkat. Jadi besi tuangkelabu setelah
didinginkan mengandung grafit. Grafit tersebut terdapat
dalam besi-tuang berupa pelatpelat tipis. Besi tuang kelabu memperoleh namanya dari bida
ng patahan yang berwarna kelabu, yang disebabkan oleh
grafit hitam. Berikut ini adalah bentuk struktur dari besi
tuang kelabu.

Gambar 18. Struktur Atom Baja

Besi tuang noduler, kita harus berpangkal pada besi kasar kelabu.Besi
kasar kelabu memiliki kadar silikon yang tinggi (kurang lebih 5,5
sampai 1,5%), dan kadar mangan rendah. Karena itu pada pendinginan
perlahan-lahan pembentukan karbon bebas akanmeningkat. Karena
selama fabrikasi dimasukkan magnesium ke dalam bahan, maka
karbon bebas itu terjadi berupa bola.

Bola

bola itu dinamakan nodul. Nodul grafit memberikan pengurangan


penampang yang lebih kurang dan tidak menyebabkan pengerjaan
takik.Besi tuang noduler, setelah pendinginan dan setelah pengerjaan
pemijaran terutama dariferit, perlit, dan grafit. Karena adanya ferit atau
perlit dan karena bentuk nodul grafit yang sangatmenguntungkan,
maka besi tuang noduler memiliki kekuatan tarik yang tinggi dan
regangan yang besar. Berikut ini adalah bentuk struktur dari besi tuang
nodular.

Gambar 19. Struktur Baja


5. Buatlah perbedaan perpatahan antar ke3 spesimen yang telah diuji.
Jawab : Karena specimen uji hanya satu bahan, jadi pertanyaan ini
tidak bisa diselesaikan.
6. Dari logam-logam yang diuji manakah yang (i) paling kuat? (ii) paling
ulet? (iii) paling kaku? Dukunglah penilaian anda tersebut dengan
data-data hasil pengujian.
Jawab : Karena specimen uji hanya satu bahan, jadi pertanyaan ini
tidak bisa diselesaikan.

7. Apakah logam yang ulet selalu logam yang tangguh?


Jawab :
Ketangguhan suatu bahan adalah kemampuan suatu bahan material
untuk menyerap energi pada daerah plastis atau ketahanan bahan
terhadap beban tumbukan atau kejutan. Penyebab ketangguhan bahan
adalah pencampuran antara satu bahan dengan bahan lainnya.
Misalnya baja di campur karbon akan lebih tangguh dibandingkan
dengan

baja

murni.

Jadi apabila logam dicampur dengan karbon,logam tersebut menjadi


lebih tangguh daripada logam murni. Maka dengan pernyataan ini,
dapat ditarik jawaban bahwa logam yang ulet tidak selalu logam yang
tangguh.

3.4
3.5

Uji Impact
Diagram Alir Percobaan

Gambar 20. Diagram Alir Percobaan

3.6

Alat dan Bahan

3.6.1

Alat Pendukung

a.
b.
c.
d.

Caliper / Jangka sorong


Dial Indicator
Alat tulis
Penggaris

3.6.2

Bahan dan mesin Yang Digunakan

a. Mesin uji destruktif


b. Bahan uji / specimen
3.6.3

Prosedur Percobaan

Pada percobaan uji impak kita melakukan langkah-langkah kerja sebagai


berikut :
a.
b.
c.
d.

Menyiapkan spesimen uji impak yang dibuat sesuai dengan standar


Catatlah jenis logam yang akan digunakan untuk uji impak.
Ukur dan gambarlah material yang akan digunakan untuk uji impak.
Melakukan perlakuan terhadap spesimen sesuai dengan temperatur yang

diinginkan
dalam pengujian.
e. Meletakkan spesimen pada meja uji, memasang termokopel untuk
mengetahui temperatur saat diberi beban impak
f. Naikkan pendulum sesuai dengan kedudukan dan aturlah jarum penunjuk
pada posisi maksimum.
g. Setelah benda kerja mencapai temperatur yang diinginkan, ambil dan
letakkan pada landasan dengan cepat dan tepat.
h. Tarik tuas sehingga lengan pendulum terlepas dan pendulum bergerak
memukul spesimen uji, dengan catatan pemukulan harus terjadi setelah 5
detik sejak material dikeluarkan dari bejana.
i. Catatlah jarum penunjuk mesin yang menyatakan energi yang diserap oleh
logam
j. Amati dan gambarlah bentuk patahan yang terjadi ( gunakan kaca
pembesar ).
k. Catatlah data yang diperoleh pada lembar data yang tersedia.

3.6.4

Spesifikasi alat uji destruktif

Gambar 21. Gambar alat uji impak

3.6.5

Alat uji impak


Merk
Tipe
Kapasitas maksimum
No. Seri
Buatan
Tahun
Pengujian Impak Izod
Pengujian Impak Charpy

: Torsee Universal Testing Machine


: TIT 30
: 30 Kgf-M
: 1082
: Jepang
: Juni 1988
: 0 164 joule
: 0 300 joule

Data Hasil Percobaan

Gambar 22. Spesimen sebelum uji impak

Gambar 23. Spesimen sesudah uji impact

Gambar 24. Bentuk patahan spesimen uji impak

3.6.6

Pembahasan

a. Aplikasi di Dunia Nyata dan Industri


Uji impak merupakan salah satu cara untuk menguji kekuatan dari suatu
material. Uji impak sendiri memiliki dua metode antara lain metode Charpy dan
metode Izod, dalam percobaan ini metode yang digunakan adalah metode Charpy.
b. Pengaruh Temperatur Terhadap Energi Impak
Temperatur yang diberikan terhadap spesimen uji memberikan pengaruh
yang cukup membuat spesimen uji menjadi lebih getas dan bila temperatur yang
diberikan kepada spesimen uji semakin tinggi maka spesimen uji tersebut akan
semaki ulet sesuai dengan temperatur yang diberikan terhadap spesimen uji.
c. Pengaruh Takik Terhadap Energi Impak
Ada tiga macam bentuk takikan pada pengujian impak yakni takikan V, U
dan (key hole). Pada suatu kontruksi keberadaan takik atau nocth memegang
peranan yang amat berpengaruh terhadap kekuatan impak. Adanya takikan pada
kerja yang salah seperti diskotunitas pada pengelasan, atau korosi lokal bisa
bersifat sebagai pemusat tegangan (stress concentration). Adanya pusat tegangan
ini dapat menyebabkan material brittle (getas), sehingga patah pada beban
dibawah (yield strength).
d. Pengaruh Luas Permukaan Terhadap Energi
Setiap spesimen yang diuji memiliki luas permukaan yang dapat
mempengaruhi penyerapan energi yang diberikan kepada spesimen uji.

3.6.7

Kesimpulan

a. Kita dapat menentukan harga impak dengan menggunakan uji impak.


b. Pukulan takik digunakan untuk menentukan kekuatan benda terhadap
beban kejut.
c. Bentuk patahan pada spesimen yang tidak dipanaskan, bentuk patahannya
ditandai dengan permukaan patahan yang datar dan memperlihatkan daya
pantul cahaya yang tinggi serta mengkilat.
d. Sehingga pada spesimen Baja ST 37 dengan suhu ruangan (29 ),
terjadi patah getas.

3.6.8

Saran

a. Sebaiknya spesimen dalam uji impak ini lebih dari satu, agar mahasiswa
mengetahui perbandingan kekuatan bahan spesimen uji.
b. Alangkah baiknya apabila juga disertakan perbedaan suhu spesimen.
Sebagai contoh : spesimen Baja ST 37 dengan suhu ruangan (29 ),
dengan perbandingan spesimen yang telah dipanaskan Baja ST 37 dengan
suhu (250 ). Agar mahasiswa mengetahui perbandingan suhu dapat
mempengaruhi kekuatan bahan spesimen uji.

3.6.9

Perhitungan dan Jawaban Pertanyaan

1. Sifat fisik apakah yang ditentukan oleh pengujian impak?


Jawab :
Sifat penting dalam pemilihan material adalah sifat fisik. Sifat fisik
adalah kelakuan atau sifat-sifat material yang bukan disebabkan
oleh pembebanan seperti pengaruh pemanasan, pendinginan dan pengaruh
arus listrik yang lebih mengarah pada struktur material. Sifat fisik material
antara lain : temperatur cair, konduktivitas panas dan panas spesifik.
Struktur material sangat erat hubungannya dengan sifat mekanik. Sifat
mekanik dapat diatur denganserangkaian proses perlakukan fisik.
Dengan adanya perlakuan fisik akan membawa penyempurnaandan
pengembangan material bahkan penemuan material baru.
2. Dari ke3 sampel diatas carilah nilai HInya masing-masing.
Jawab :
Harga Impak =

U
A

115 joule
2
81mm

= 1,419 joule/ mm2

3. Berikanlah beberapa contoh dimana gaya impak bekerja secara aktual


pada komponen-komponen logam!
Jawab :
Sebagai contoh, telah ditemukan terjadi perpatahan pada lempeng baja
kapal Liberty pada tahun 1940-an yang hanya terjadi pada suhu laut
dimana energi impak baja adalah 20 J.

Gambar 25. Pengujian impak pada salah satu mobil balap


2. Buatlah grafik harga impak sebagai fungsi temperatur dari hasil pengujian
anda. Tentukanlah temperatur transisi dari logam yang diuji!
Jawab : Karena specimen uji hanya satu bahan dan satu temperature (suhu
ruangan), jadi pertanyaan ini tidak bisa diselesaikan.
3. Buatlah pula grafik persentase luas area getas sebagai fungsi temperatur!
Jawab : Karena specimen uji hanya satu bahan dan satu temperature (suhu
ruangan), jadi pertanyaan ini tidak bisa diselesaikan
4. Mengapa saat logam dalam keadaan dingin dia menjadi getas? Dan
mengapa dalam keadaan panas dia menjadi ulet?
Jawab :
Jika baja didinginkan dengan kecepatan minimum yang disebut
dengan kecepatan pendinginan kritis maka seluruh austenit akan berubah
ke dalam bentuk martensit. Sehingga akan dihasilkan kekerasan baja yang
maksimum. Adapun kecepatan pendinginan kritis adalah bergantung pada
komposisi

kimia

baja.

Kecepatan

pendinginan

tergantung

pada

pendinginan yang digunakan. Untuk pendinginan yang cepat digunakan

larutan garam atau soda api yang dimasukkan ke dalam air. Sementara itu,
untuk pendinginan yang sangat lambat digunakan embusan udara secara
cepat melalui batas lapisannya.
Dalam keadaan dingin dan tidak seperti logam lainnya yang
menjadi getas bila didinginkan. Sifat ini sangat baik untuk penggunaan
pada transportasi LNG dimana suhu gas cair LNG mencapai dibawah
-150C.
Baja karbon rendah dipanaskan diatas titik kritis atas (tertinggi).
Seluruh unsur karbon masuk ke dalam larutan padat dan selanjutnya
didinginkan. Baja karbon tinggi biasanya dipanaskan hanya sedikit diatas
titik kritis terendah (bawah). Dalam hal ini, terjadi perubahan perlit
menjadi austenit. Pendinginan yang dilakukan pada suhu itu akan
membentuk martensit. Juga sewaktu kandungan karbon diatas 0,83% tidak
terjadi perubahan sementit bebas menjadi austenit, karena larutannya telah
menjadi keras. Sehingga perlu dilakukan pemanasan pada suhu tinggi
untuk mengubahnya dalam bentuk austenit. Lamanya pemanasan
bergantung atas ketebalan bahan tetapi bahan harus tidak berukuran
panjang karena akan menghasilkan struktur yang kasar. Karena itulah
dalam keadaan panas dia menjadi ulet.
5. Apakah yang menyebabkan terjadinya data scatter hasil pengujian
anda?
Jawab :
Sebuah Scatter Diagram menunjukkan hubungan antara dua item
untuk tiga alasan:
1. Ada sebab dan akibat hubungan antara dua item diukur, di mana salah
satu menyebabkan yang lain (setidaknya sebagian).
2. Dua item yang diukur adalah baik disebabkan oleh item ketiga.
Misalnya, Scatter Diagram yang menunjukkan korelasi antara celahcelah dan transparansi peralatan kaca karena perubahan baik
disebabkan oleh perubahan suhu tungku.
3. Kebetulan Lengkap. Hal ini dimungkinkan untuk menemukan korelasi
tinggi item yang tidak terkait, seperti jumlah semut persimpangan jalan
dan penjualan koran.

Scatter Diagram sehingga dapat digunakan untuk memberikan bukti


hubungan sebab dan akibat, tetapi mereka sendiri tidak membuktikannya.
Biasanya, hal itu juga memerlukan pemahaman yang baik sistem yang
akan diukur, dan mungkin diperlukan percobaan tambahan. 'Sebab' dan
'efek' dengan demikian dikutip dalam bab ini untuk menunjukkan bahwa
meskipun mereka dapat diduga memiliki hubungan ini, belum diketahui
secara pasti.
Sewaktu mengevaluasi Diagram Scatter, baik tingkat dan jenis korelasi
harus dipertimbangkan. Yang terlihat perbedaan Scatter Diagram untuk ini
ditunjukkan dalam Tabel di bawah ini.
Di mana ada hubungan sebab-akibat, tingkat tersebarnya diagram
mungkin akan dipengaruhi oleh beberapa faktor (seperti yang
diilustrasikan dalam diagram di bawah ini):

Kedekatan dari sebab dan akibat. Ada kesempatan yang lebih baik dari
korelasi tinggi jika penyebabnya adalah terhubung langsung ke efek
daripada jika pada akhir rantai penyebab. Jadi akar mungkin tidak
memiliki hubungan yang jelas dengan efek akhir.

Beberapa penyebab efek. Ketika mengukur satu penyebab, penyebab


lainnya adalah membuat efek tersebut sangat beragam dengan cara
yang tidak terkait. Penyebab lainnya mungkin juga memiliki efek yang
lebih besar, swamping efek sebenarnya penyebab tersebut.

Alam Variasi dalam sistem. Efeknya mungkin tidak bereaksi dengan


cara yang sama setiap kali, bahkan penyebab utama dekat.

6. Kegagalan getas umumnya diindikasikan oleh alur cleavage sepanjang


bidang kristalografi tertentu. Apakah penampakan perpatahan pada benda
uji anda mendukung pernyataan ini? Jelaskan!
Jawab :
Perpatahan getas (cleavage rupture).
Ciri-ciri: tidak ada deformasi plastis, permukaan terang dan kristalin,
permukaan patahan utama dan ada chevron marks atau hearing bone
marks.

Aspek struktur utama: butir kasar (susunan facet pada permukaan belah
atau pola sungai), terkadang antara ciri-ciri cleavage ada dimple dan
pada polifase (perlite + Fe3C) terdapat garis dan dimple.
Berikut ini adalah specimen uji yg mendukung pernyataan diatas.

Gambar 26. Hasil Uji Impact


7. Mengapa untuk benda bertemperatur tinggi patahan berupa seperti
tegangan geser?
Jawab :
Karena apabila baja karbon rendah dipanaskan diatas titik kritis atas
(tertinggi). Seluruh unsur karbon masuk ke dalam larutan padat dan
selanjutnya didinginkan. Baja karbon tinggi biasanya dipanaskan hanya
sedikit diatas titik kritis terendah (bawah). Dalam hal ini, terjadi perubahan
perlit menjadi austenit. Pendinginan yang dilakukan pada suhu itu akan
membentuk martensit. Karena itulah untuk benda bertemperatur tinggi
patahan berupa seperti tegangan geser.

BAB VI
PENUTUP

4.1 Simpulan
Demikian yang dapat Penulis paparkan mengenai materi yang menjadi
pokok bahasan dalam makalah ini, tentunya masih banyak kekurangan dan
kelemahannya, kerena terbatasnya pengetahuan dan kurangnya rujukan atau
referensi yang ada hubungannya dengan judul makalah ini. Dan dapat kita
simpulkan bahwa :
1. Uji Tarik dan Impact adalah salah satu destruktif test / cara untuk
untuk mengetahui sifat-sifat mekanis suatu materual
2. Impact Test adalah suatu pengujian yang dilakukan untuk menguji
ketangguhan suatu specimen terhadap pemberian beban secara tibatiba melalui tumbukan.
3. Semakin rendah harga impak maka jenis perpatahan yang terjadi akan
semakin getas.
4. Salah satu hal yang mempengaruhi impak adalah temperatur.
Semakin rendah temperatur suatu material maka akan semakin getas
material tersebut, dan semakin tinggi temperatur maka material akan
semakin ulet.
4.

Energi impak yang terbesar terdapat pada takikan setengah


lingkaran dan terendah pada takikan segitiga. Jadi, dapat
disimpulkan bahwa perpatahan akan semakin mudah terjadi pada
takikan bersudut.

4.2 Saran
Adapun saran yang dapat Penulis sampaikan yaitu :
1. Untuk meahasisa harus tahu seperti apa pengujian logam sebagai
bahan ajar demi tercapainya mutu pendidikan di bidang metalurgi

2. Untuk waktu dalam pengelompokan praktek agar lebih di atur


sedemikian rupa agar pada saat pembelajaran di lab tidak terlalu
banyak mahasiswa karena akan mengurangi konsentrasi baik dosen
pembimbing ataupun mahasiwanya itu sendiri
3. Praktikan harus lebih teliti pada saat pengamatan jarum pada alat uji
impak supaya data yang dihasilkan lebih akurat
4. Pembuatan takikan pada spesimen harus simetris agar hasil yang
diperoleh lebih akurat
Penulis banyak berharap para pembaca yang budiman sudi memberikan
kritik dan saran yang membangun kepada penulis demi sempurnanya makalah ini
dan dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya. Semoga
makalah ini berguna bagi penulis pada khususnya juga para pembaca yang
budiman pada umumnya

DAFTAR PUSTAKA

http://www.infometrik.com/2009/09/mengenal-uji-tarik-dan-sifat-sifatmekanik-logam/
https://sersasih.wordpress.com/2011/07/21/laporan-material-teknik-ujitarik/
http://abdi94.blogspot.co.id/2014/06/pengujian-impact.html
http://andiwinartoteknikmesin.blogspot.com/2014/05/mesin-cnc.html

LAMPIRAN

GAMBAR 1. TABLE MODULUS ELASTISITAS..............................................10


GAMBAR 2. GAMBARAN SINGKAT UJI TARIK DAN DATANYA...............11
GAMBAR 3KURVA TEGANGAN-REGANGAN...............................................12
GAMBAR 4. UJI TARIK SEDERHANA.............................................................13
GAMBAR 5SPESIMEN UJI TARIK MENGACU PADA STANDAR JIS Z 2201
........................................................................................................................14
GAMBAR 6. KURVA TEGANGAN DAN REGANGAN....................................15
GAMBAR 7. PENENTUAN TEGANGAN LULUH (YIELD STRESS) UNTUK
KURVA TANPA DAERAH LINIER..............................................................17
GAMBAR 8. JENIS UJI IMPACT........................................................................19
GAMBAR 9. METODE CHARPY.......................................................................21
GAMBAR 10. DIAGRAM ALIRAN PERCOBAAN...........................................24
GAMBAR 11. CALIVER & DIAL INDIKATOR.................................................25
GAMBAR 12. MESIN UJI TARIK.......................................................................26
GAMBAR 13. SESUDAH UJI TARIK.................................................................26
GAMBAR 14SEBELUM UJI TARIK...................................................................26
GAMBAR 15. 4 KURVA TEGANGAN DAN REGANGAN HASIL DARI
PENGUJIAN TARIK.....................................................................................29
GAMBAR 16. KURVA TEGANGAN...................................................................31
GAMBAR 17. GRAFIK DATA.............................................................................31
GAMBAR 18. STRUKTUR ATOM BAJA...........................................................34
GAMBAR 19. STRUKTUR BAJA.......................................................................35
GAMBAR 20. DIAGRAM ALIR PERCOBAAN.................................................37
GAMBAR 21. GAMBAR ALAT UJI IMPAK......................................................40
GAMBAR 22. SPESIMEN SEBELUM UJI IMPAK............................................42
GAMBAR 23. SPESIMEN SESUDAH UJI IMPACT..........................................42
GAMBAR 24. BENTUK PATAHAN SPESIMEN UJI IMPAK...........................43
GAMBAR 25. PENGUJIAN IMPAK PADA SALAH SATU MOBIL BALAP...46

GAMBAR 26. HASIL IM. HASIL UJI IMPACT.................................................49