Anda di halaman 1dari 10

4.

1 Model Pengukuran Tingkat Perkembangan


4.1.2 Model Kemendagri
Permendagri No 12 Tahun 2007 mengemukakan bahwa tingkat
perkembangan desa merupakan cerminan keberhasilan pembangunan desa setiap
kurun waktu tertentu khususnya satu tahun (pendek) dan setiap lima tahun
(menengah). Pengelompokkan tingkat perkembangan desa menurut model
kemendagri diukur dengan variabel tetap seperti kepadatan penduduk (D),
keadaan alam (N) dan letak desa (U) serta variable berkembang yaitu mata
pencaharian (E), produksi (Y), adat istiadat (A), kelembagaan (L), pendidikan
(Pd), Swadaya (Sw) serta sarana dan prasarana (P). Seluruh variabel tersebut
kemudian dijumlahkan = D+ N+ U+E+Y+A+L+Pd+Gr+P.
Kesimpulannya jika diperoleh :
a. Hasil Skoring 7-11 maka termasuk desa swadaya,
b. Hasil Skoring 12-16 maka termasuk desa swakarsa
c. Hasil Skoring 17-21 adalah desa swasembada.
Menurut Model Kemendagri tingkat perkembangan desa dapat diukur dengan dua
variabel yakni variabel tetap dan variabel berkembang, variabel tersebut dapat di
hitung dengan indikator berikut:
A. Variabel Tetap
Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk adalah jumlah penduduk di suatu wilayah per satuan
luas atau dengan kata lain perbandingan jumlah penduduk dengan luas
lahan. Secara umum, tingkat kepadatan penduduk atau population density
dapat diartikan sebagai perbandingan banyaknya jumlah penduduk dengan
luas daerah atau wilayah yang ditempati berdasarkan satuan luas tertentu.
Angka kepadatan penduduk dapat dicari dengan membagi luas wilayah
dengan jumlah penduduk. kepadatan penduduk menjadi salah satu variabel
yang dijadikan untuk mengukur suatu tingkat perkembangan desa dengan
ketentuan:
Skor D1(kurang)

: memiliki penduduk <200 jiwa/km2

Skor D2(sedang)

: memiliki penduduk 200-300 jiwa/ km2

: memiliki penduduk >300 jiwa/km2

Skor D3(tinggi)

Keadaan Alam
Keadaan alam merupakan salah satu yang menjadi variabel untuk
mengukur tingkat perkembangan suatu desa, salah satu cara untuk
menentukan keadaan alam di suatu desa adalah dengan cara turun
langsung atau survei. Berdasarkan hasil survei dapat dikatakan bahwa
kategori
- Keadaan alam kurang dengan skor N1 yakni desa yang
mempunyai flora dan fauna atau vegetasi seperti pepohonan yang
kurang, serta udara yang ada berpolusi atau tidak asri. Setelah itu
-

untuk
Keadaan alam sedang dengan skor N2 yakni desa yang memiliki
flora dan fauna atau vegetasi seperti pepohonan yang ada namun
tidak banyak serta udara yang ada masih dikategorikan asri
meskipun sudah mulai muncul polusi udara dan yang terakhir desa

dengan
Keadaan bentang alam tinggi dengan skor N3 yakni desa yang
memiliki flora dan fauna atau vegetasi seperti pepohonan yang
banyak dan masih alami serta udara yang ada asri dan nyaman serta

belum adanya polusi udara.


Orbitasi (kota yang paling mempengaruhi)
Menurut Enuk dan Bagja (2008) mengemukakan bahwa orbitasi
merupakan jarak desa ke pusat fasilitas sosial budaya yang dipengaruhi
oleh kelancaran transportasi. Orbitasi menjadi salah satu variabel yang
menjadi pengukuran untuk melihat tingkat pekembangan suatu desa
dengan indikator sebagai berikut:
Skor U1
:Desa yang memiliki jangkauan atau pusat kegiatan
Skor U2

kepada daerah yang memiliki skala pelayanan Provinsi.


: Desa yang memiliki jangkauan atau pusat kegiatan kepada

Skor U3

daerah yang memiliki skala pelayanan Kabupaten.


:Desa yang memiliki jangkauan atau pusat kegiatan kepada
daerah yang memiliki skala pelayanan Kecamatan.

B. Variabel Berkembang

Mata Pencaharian
Mata pencaharian

penduduk

merupakan

suatu

aktivitas

untuk

mempertahankan hidupnya. Corak dan ragam aktivitas ekonomi berbedabeda yang sesuai dengan kemampuan penduduk dan tata geografis daerah
(Bintaro, 1977). Penyediaan lapangan pekerjaan biasanya mengikuti
perkembangan aspek ekonomi yang terjadi. Mata pencaharian menjadi
salah satu variabel untuk melihat tingkat pengembangan desa dengan
indikator sebagai berikut :
Skor E1 yakni desa yang memiliki 55% sektor primer dimana sektor
primer merupakan sektor ekonomi yang memanfaatkan sumber daya alam
secara langsung. Sektor ini mencakuppertanian, kehutanan, perikanan, dan
pertambangan.
Skor E2 yakni desa yang memiliki 55% sektor sekunder dimana sektor
sekunder merupakan sektor ekonomi yang mengolah hasil sektor primer
menjadi barang jadi, seperti pada manufaktur dan konstruksi. Industri pada
sektor ini dapat dibagi menjadi industri ringan dan industri berat.
Skor E3 yakni desa yang memiliki 55% sektor terdimana sektor sekunder
merupakan sektor ekonomi yang mengolah hasil sektor primer menjadi
barang jadi, seperti pada manufaktur dan konstruksi. Industri pada sektor
ini dapat dibagi menjadi industri ringan dan industri berat.
Produksi (Output Desa)
Produksi adalah penghasilan barang-barang yang dibuat atau dihasilkan
Sajogyo (1984) mengemukakan bahwa output desa dapat dipakai untuk
mengukur jumlah dari seluruh hasil dari bidang dan industri dalam satu
tahun yang di nilai dalam rupiah. Berdasarkan besar kecilnya output desa
desa dikelompokkan menjadi 3 yaitu:
Skor Y1(rendah)
: Desa yang mempunyai hasil produksi <50 juta
Skor Y2(sedang)
: Desa yang mempunyai hasil produksi 50-100 juta
Skor Y3(tinggi)
: Desa yang mempunyai hasil produksi <100 juta
Adat istiadat
Adat istiadat merupakan tata kelakuan yang kekal dan turun temurun
dari generasi kegenerasi lain sebagai warisan sehingga kuat integrasinya
dengan pola-pola perilaku masyarakat (Kamus besar bahasa indonesia,
1988:5,6). Adat istiadat penting dalam menilai tingkat perkembangan
suatu desa. Meskipun suatu desa mempunyai faktor-faktor yang

memungkinkan untuk berkembang tetapi kalau adat isatiadat masyarakat


desa tidak menunjang pembangunan desa maka akan merupakan faktor
penghambat bagi perkembangan desa tersebut. Penilaian mengenai adat
isitiadat diukur dari (1) Upacara/adat mengenai kelahiran bayi (2)
Upacara/adat mengantar anak menjadi dewasa (3) Upacara perkawinan (4)
Upacara kematian (5) Upacara pergaulan khususnya antara pria dan wanita
(6) Upacara penambalan dan pemetikan padi, pembangunan irigasi dan
lain-lain (7) Pantangan-pantangan adat upacara-upacara (8) Sistem
hubungan keluarga (9) Pepatah-pepatah/pelanggaran-pelanggaran adat dari
yang ringan sampai yang berat berikut sanksi-sanksinya (Sajogyo, 1983).
Penilaian adat istiadat digolongkan menjadi :
a. Adat istiadat masyarakat desa yang mengikat ( A1 ), artinya adat
istiadatnya tidak mengalami pergeseran dengan sistem upacara adat
dan sepenuhnya terlaksana.
b. Adat istiadat masyarakat desa sedang mengalami transisi ( A2 ),
pengaruh

dari

luar

sudah

mulai

masuk

ke

desa,

yang

mengakibatkan perubahan cara berpikir dan bertambahnya


lapangan kerja di desa, sehingga mata pencaharian penduduk sudah
mulai berkembang dari sector primer ke sector skunder,
produktifitas mulai maningkat diimbangi dengan bertambahnya
prasarana desa. Adat yang merupakan tatanan hidup bermasyarakat
sudah mulai mendapatkan perubahan-perubahan sesuai dengan
perubahan yang terjadi dalam aspek kehidupan social budaya
lainnya. Adopsi teknologi tertentu sering merupakan salah satu
sumber perubahan itu. Adat tidak lagi terlalu ketat mempengaruhi
atau menentukan pola perilaku anggota masyarakat. Perkawinan
misalnya, tadinya dikendalikan oleh keluarga mulai melonggar
dengan memberikan kesempatan bagi para calon untuk memilih da
menentukan jodohnya sendiri-sendiri. Pengaruh unsur luar (asing,
luar desa) sudah mulai iku mempengaruhi atau membentuk
perilaku masyarakat yang baru melalui berbagai adopsi teknologi
dalam arti yang luas .

c. Adat istiadat masyarakat desa yang tidak mengikat ( A3 ), artinya


adat istiadatnya sudah mulai mengalami pergeseran dengan sistem
upacara adat tidak sepenuhnya terlaksana.
Kelembagaan
Pada umumnya Lembaga dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu
lembaga formal dan lembaga non-formal. Menurut Sitti Bulkis (2011),
Kelembagaan lokal dan area aktivitasnya terbagi menjadi tiga kategori,
yaitu kategori sektor publik (administrasi lokal dan pemerintah lokal);
kategori sektor sukarela (organisasi keanggotaan dan koperasi); kategori
sektor swasta (organisasi jasa dan bisnis swasta). Bentuk resmi suatu
lembaga yaitu lembaga garis (line organization, military organization)
lembaga garis dan staf (line and staff organization); lembaga fungsi
(functional organization). Jadi pengertian dari kelembagaan adalah suatu
sistem sosial yang melakukan usaha untuk mencapai tujuan tertentu yang
menfokuskan pada perilaku dengan nilai, norma, dan aturan yang
mengikutinya, serta memiliki bentuk dan area aktivitas tempat
berlangsungnya.
Lembaga kemasyarakatan adalah lembaga yang dibentuk oleh
masyarakat sesuai dengan kebutuhan dan merupakan mitra pemerintah
desa dalam memperdayakan masyarakat. Lembaga Pemberdayaan
Masyarakat (LPM) adalah lembaga atau wadah yang dibentuk atas
prakarsa masyarakat sebagai mitra pemerintah desa dalam menampung
dan mewujudkan aspirasi serta kebutuhan masyarakat di bidang
pembangunan. Peranan kelembagaan atau lembaga-lembaga didesa adalah
merupakan suatu wadah organisasi yang merupakan motor penggerak di
dalam pembangunan desa maka efektivitas dan motivasi lembaga-lembaga
didesa tersebut adalah dipengaruhi oleh faktor endogen (di dalam
masyarakat di desa itu sendiri) dan faktor kelembagaan di desa ditinjau
dari dua aspek:
(1) Lembaga Pemerintahan Desa
Lembaga Pemerintahan Desa dihitung satu meskipun ada :
a) Kepala Desa
b) Lembaga DPR (sejenis DPR) desa
c) Dewan Pertimbangn Desa

d) Dewan Musyawarah Desa berdasarkan keadaan desa-desa yang


berbeda susunan, organisasi dan kelembagaannya
(2)Lembaga bukan Lembaga Pemerintah Desa yang disebut Lembaga
Kemasyarakatan, lembaga ini digolongkan atas dasar pembidangan tugas
antara lain:
a) Lembaga Ekonomi : koperasi, lumbung desa, bank kredit desa dan
b)
c)
d)
e)

lain-lain
Lembaga Sosial : lembaga sosial desa, panti asuhan
Lembaga Pendidikan : sekolah-sekolah, pramuka dan lain-lain
Lembaga Kesehatan :Poliklinik, Puskesmas dan lain-lain
Lembaga Adat : gotong royong subak, serikat tolong menolong,

marga
f) Lembaga Keagamaan : Islam, Kristen dan lain-lain
g) Lembaga Kebudayaan : kesenian, olah raga, perkumpulan seni
budaya setempat
Penilaian kelembagaan digolongkan menjadi:
(1) Lembaga yang sederhana diberi kode L1 ciri-ciri sebagai berikut:
a) Apabila desa mempunyai 1-3 lembaga : 1 lembaga pemerintahan, 1
lembaga ekonomi, 1 lembaga social budaya
b) Keadaan lembaga-lembaga di desa dalam taraf paling rendah
adalah masih taraf sederhana
c) Sederhana baik jumlahnya maupun cara kerja dan susunan
organisasi sehingga dengan demikian lembaga-lembaga tersebut
diperlukan pembinaanya dan bimbingan yang lebih efektif
d) Di desa-deesa yang terisolir banyak terdapat lembaga-lembaga
dalam taraf yang masih sederhana
(2) Lembaga yang berkembang, diberi kode L2, ciri-ciri sebagai berikut :
a) Apabila desa mempunyai 4-6 lembaga
b) Keadaan lembaga-lembaga tersebut di desa dalam taraf mengarah
kepada perubahan taraf sederhana ke taraf yang lebih tingkatannya
tetapi belum begitu tinggi.
c) Berkembang disini dalam arti berkembang secara kuantitatif
memungkinkan
perkembangan

jumlah

lembaga

kebutuhan

bertambah

masyarakat.

sesuai

Disamping

dengan
itu

juga

berkembang secara kualitatif dalam arti cara kerja dan susunan


organisasinya masih belum begitu mantap dan perlu dikembangkan
lebih lanjut.

d) Lembaga-lembaga dalam taraf perkembangan ini perlu adanya


pembinaan, bimbingan dan melengkapi sasarannya lebih baik lagi
kearah pertumbuhan selanjutnya.
(3) Lembaga-lembaga yang telah maju diberi kode L3 ciri-ciri sebagai
berikut:
a) Apabila desa mempunyai 7-8 lembaga
b) Maju disini dalam arti maju secara kuantitas dimana jumlah sudah
cukup besar secara kualitatif dimana cara kerja, susunan organisasi
menuju pemantapan.
c) Pembinaan lembaga sudah dalam taraf memelihara kelangsungan
kerja dan memelihara kelangsungan hidup, sebab lembagalembaga sudah dapat memenuhi kebutuhan sendiri.
d) Taraf maju dan hasil penelitian ini baru dalam kuantitasnya sedang
dalam

kualitasnya

perlu

ditingkatkan

sehingga

betul-betul

singkron, efektif, dan efisen.


Pendidikan dan keterampilan
Pendidikan anak didalam keluarga merupakan awal dan sentral
bagi pertumbuhan dan perkembangan si anak menjadi individu yang
dewasa. Pendidikan itu tidak cukup dilakukan di rumah saja harus juga
melalui sekolah. Hasibuan (1994) mengatakan bahwa pendidikan adalah
upaya atau kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan
seseorang dalam segala bidang baik di rumah maupun di luar sekolah.
Oleh sebab itu agar pendidikan dapat dimiliki oleh seluruh masyarakat
sesuai kemampuannya. Maka pendidikan adalah tanggung jawab bersama
baik keluarga masyarakat maupun pemerintah. Melalui pendekatan
pendidikan formal manusia akan mempunyai wawasan yang luas dalam
hidupnya sehingga apa yang terjadi tujuan hidupnya akan lebih terarah
atau tercapai. Kaslan (1991) mengatakan bahwa pendidikan merupakan
langkah utama sekaligus sebagai penentu alternatif yang tepat guna akan
perubahan-perubahan yang tepat dalam usaha tani. Oleh karenanya
pendidikan seseorang mempengaruh dalam mengambil keputusan
sehingga semakin tinggi pendidikan petani. Maka semakin luas atau maju
dalam usaha tani. Dengan demikian pendidikan merupakan salah satu
penentu kemajuan masyarakat di suatu desa atau wilayah tertentu.

Pengelompokan desa tersebut yaitu:


a) Pd 1 = Jumlah penduduk yang tamat SD keatas berjumlah
30 % termasuk tingkat pendidikan kurang
b) Pd 2 = Jumlah penduduk yang tamat SD keatas berjumlah
30-60 % termasuk tingkat pendidikan sedang
c) Pd 3 = Jumlah penduduk yang tamt SD keatas berjumlah
>60 % termasuk tingkat pendidikan tinggi
Swadaya dan gotong royong
Penilaian mengenai swadaya dan gotong royong masyarakat
didasarkan atas data-data dari tipologi desa dari jawaban atas pertanyaan
pada level seluruh desa dalam 1 kecamatan sehingga dapat digolongkan
berdasarkan data-data dengan ciri-ciri sebagai berkut:
(1) Tahap swadaya dan gotong royong laten diberi kode Grl terdapat
ciri-ciri:
a) Kehendak/keinginan pimpinan menentukan perkembangan
masyarakat
b) Potensi (manusia, alam kebudayaan) belum dimanfaatkan
secara efektif
c) Jenis dan kualitas usaha pembangunan cenderung pada
bangunanbangunan fisik non produktif
(2) Tahap transisi diberi kode Gr2 antara swadaya dan gotong royong
laten ke swadaya dan gotong royong manifest:
a) Terdapat perencana pembangunan yang ril (jangka panjangjangka pendek)
b) Proses pengambilan keputusan melalui musyawarah dan rapatrapat penentuan
c) Adanya usaha pembangunan sebagai kehendak bersama
(3) Tahap swadaya dan gotong royong manifest diberi kode Gr3
a) Terdapat
keterampilan
dalam
penggunaan
potensi
pembangunan
b) Partisipasi masyarakat secara terbuka dalam pelaksanaan dan
evaluasi terhadap kegiatan-kegiatan pembangunan
c) Pelaksanaan sesuai dengan rencana dan fungsinya.
Sarana dan prasarana.
Sarana adalah sesuatu yang digunakan sebagai alat untuk mencapai
maksud atau tujuan seperti peralatan. Prasarana adalah segala yang
menunjukkan terlaksananya suatu proses usaha dan proyek seperti jaringan

jalan raya dan rel kereta api (Salim, 1992). Prasarana terdiri dari prasarana
perhubungan, prasarana produksi, prasarana pemasaran. Penilaian
prasarana dasarnya adalah sistem nilai untuk prasarana perhubungan diberi
nilai tertinggi daripada kedua prasarana yang lainnya karena lebih khusus
universal serta berperan penting bagi hubungan antara desa dan kota dan
sebaliknya terutama lalu lintas ekonomi.
Penilaian sarana dan prasarana digolongkan menjadi:
(1) Prasarana Perhubungan
a) Apabila desa mempunyai jalan aspal + batu + jalan desa sepanjang
tahun dapat dilalui kendaraan bermotor, diberi nilai 50
b) Apabila desa mempunyai jalan batu + jalan tanah dan hanya musim
tertentu dapat dilalui kendaraan bermotor, sungai besar untuk lalu
lintas diberi nilai 30
c) Apabila desa mempunyai jalan desa saja da kendaraan bermotor
roda empat tak dapat masuk diberi nilai 10
(2) Sarana penunjang
a) Apabila desa mempunyai sarana kesehatan, sarana pendidikan,
sarana peribadatan, sarana lembaga kemasyarakatan, sarana
olahraga dan balai pertemuan, sarana pemerintahan yang lengkap
diberi nilai 25
b) Apabila desa mempunyai sarana kesehatan, sarana pendidikan,
sarana peribadatan, sarana lembaga kemasyarakatan, sarana
olahraga dan balai pertemuan, sarana pemerintahan yang cukup
lengkap diberi nilai 15
c) Apabila desa mempunyai sarana kesehatan, sarana pendidikan,
sarana peribadatan, sarana lembaga kemasyarakatan, sarana
olahraga dan balai pertemuan, sarana pemerintahan yang tidak
lengkap diberi nilai 5
(3) Prasarana jaringan air bersih dan telekomunikasi
a) Apabila desa mempunyai saluran PDAM,air sumur dan air hujan
untuk kebutuhan sehrai-harinya serta telekomunikasi yang baik
diberi nilai 25
b) Apabila desa menggunakan air sumur maupun air hujan untuk
kebutuhan sehari-harinya serta telekomunikasi cukup baik, diberi
nilai 15
c) Apabila desa tidak memiliki sumber air bersih dan jaringan
telekomunikasi, diberi nilai 5

a) P1 = jika nilainya berkisar antara 22-55, maka dapat dikatakan jika


sarana dan prasarana nya belum memadai
b) P2 = jika nilainya berkisar antara 60-90, maka dapat dikatakan jika
sarana dan prasarana nya cukup memadai
c) P3 = jika nilainya berkisar antara 95-125, maka dapat dikatakan
jika sarana prasarana nya terbilang memadai
Tersedianya sarana dan prasarana jalan diharapkan mobilitas penduduk
dan arus barang dan aktivitas ekonomi berjalan dengan lancar baik antar
desa maupun dari desa ke kota atau sebaliknya. Di suatu wilayah atau desa
tertentu dengan aksesbilitas yang tinggi akan mempunyai tingkat
kemajuan yang lebih pesat dibandingkan dengan wilayah atau desa yang
aksesbilitas rendah (Bintarto, 1997). Oleh karenanya kelengkapan sarana
dan prasarana transportasi dapat mewujudkan kemajuan suatu desa di
suatu wilayah tertentu.