Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Dataran Tinggi Dieng (Dieng Plateu) terletak disebelah timur laut Kota
Banjarnegara 55 km, merupakan daerah tujuan wisata nomor 2 di Jawa Tengah
setelah Borobudur. Dataran Tinggi Dieng semula merupakan Gunung Berapi yang
meletus dengan dahsyat, sekarang puncak gunung terlempar, tinggallah sekarang
suatu dataran yang terletak di puncak gunung lebih dikenal dengan sebutan Dieng
Plateu.
Secara administrasi, Dieng merupakan wilayah Desa Dieng Kulon,
Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng (Dieng Wetan), Kecamatan
Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dan dapat
dikatakan merupakan gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah.
Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000 m di atas permukaan laut. Suhu berkisar
15-20 C di siang hari dan 10 C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan
Agustus), suhu udara dapat mencapai 0 C di pagi hari dan memunculkan embun
beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas (embun racun) karena
menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.
Pada tanggal 22 Mei 2011 lalu Kawah Timbang gunung api Dieng
mengalami peningkatan aktivitas vulkanik ditandai dengan intensitas kegempaan
yang meningkat dan keluarnya gas beracun. Desa Sumberejo Kecamatan Batur
Kabupaten Banjarnegara adalah wilayah terdekat dengan sumber ancaman gas
beracun tersebut. Sebelumnya, pada tahun 1979, terjadi erupsi freatik pada kawah
Sinila, menghasilkan gas-gas, khususnya CO2. Akumulasi gas CO2 yang cukup
tinggi tersebut bergerak menuruni lereng dan lembah serta meliwati jalan
perkampungan, menyebabkan terbunuhnya 142 penduduk yang tinggal disekitar
daerah letusan tersebut. Data sejarah mencatat sejak tahun 1450, sekurangnya
kawasan Gunung Berapi Dieng sudah pernah mengalami 12 kali letusan. Sejak
tahun 1600, kegiatan Gunung Berapi Dieng tidak memperlihatkan adanya letusan
magmatik, akan tetapi lebih didominasi oleh aktivitas letusan freatik atau

hydrothermal. Di samping bahaya letusan langsung berupa muntahan dan jatuhan


material-material atau gas beracun, dalam musim penghujan gunung berapi dapat
menimbulkan bahaya tidak langsung berupa aliran lahar atau perpindahan material
vulkanik yang membahayakan.
Berdasarkan uraian diatas, maka diperlukan strategi dan manajemen yang
tepat agar masyarakat dapat tetap hidup layak di daerah rawan bencana tersebut.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
I.

MANAJEMEN BENCANA
Kebijakan penanggulangan bencana di Indonesia diatur terutama melalui
Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana,
Peraturan Pemerintah No. 21 tahun 2008 tentang Penyelenggaraan
Penanggulangan Bencana dan peraturan-peraturan pemerintah serta peraturan
presiden turunan dari Undang-undang Nomor 24 Tahun 2007.
1. Definisi
2

Bencana atau disaster adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa


yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan
masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/faktor non alam
maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa
manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda dan dampak
psikologis (UU No. 24/2007).
Bencana alam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa atau
serangkaian peristiwa yang disebabkan oleh alam antara lain berupa
gempa bumi, tsunami, gunung meletus, banjir, kekeringan, angin topan,
dan tanah longsor.
Bencana nonalam adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau rangkaian peristiwa nonalam yang antara lain berupa gagal teknologi,
gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit.
Bencana sosial adalah bencana yang diakibatkan oleh peristiwa
atau rangkaian peristiwa yang diakibatkan oleh manusia yang meliputi
konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan teror
(UU No.9 tahun 2008 tentang Prosedur Tetap Tim Reaksi Cepat Badan
Nasional Penanggulangan Bencana).
Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana adalah
serangkaian upaya yang meliputi penetapan kebijakan
pembangunan yang beresiko timbulnya bencana, kegiatan
pencegahan bencana, tanggap darurat, dan rehabilitasi.
Tanggap darurat bencana adalah serangkaian kegiatan yang
dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani
dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan
dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar,
perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, prasarana dan sarana.
2. Dasar Hukum
1. Undang Undang Dasar Tahun 1945.
2. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang

Penanggulangan

Bencana.

3. Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang Penyelenggaraan


Penanggulangan Bencana.
4. Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2008 tentang Pendanaan dan
Pengelolaan Bantuan Bencana.
5. Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2008 tentang Badan Nasional
Penanggulangan Bencana.
6. Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 46 Tahun 2008 tentang
Pedoman Organisasi dan Tata Kerja BPBD.
7. Peraturan Daerah Kabupaten Banjarnegara Nomor 3 Tahun 2011
tentang Organisasi dan Tata Kerja Badan Penanggulangan Bencana
Daerah Kabupaten Banjarnegara

3. Siklus Manajemen Bencana

Kesiapsiagaan

Benca
na

Pra Bencana
Bencana

Mitigasi

Tanggap Darurat

Saat

Pencegahan
Pemulihan/
Rekonstruksi

Pasca Bencana

Rehabilitasi

Gambar 1. Siklus Manajemen Bencana


a. Keadaan Darurat
Adalah situasi/kondisi kehidupan atau kesejahteraan individu manusia
atau masyarakat akan terancam, apabila tidak dilakukan yang tepat dan
segera, sekaligus menuntut tanggapan dan cara penanganan yang luar
biasa (diluar prosedur rutin/standar).
b. Manajemen Kedaruratan
Adalah seluruh kegiatan yang meliputi aspek perencanaan dan
penanggulangan kedaruratan, pada menjelang, saat dan segera setelah
terjadi keadaan darurat.
Manajemen kedaruratan ini mencakup :
1. Siaga darurat
2. Tanggap darurat, kegiatannya :
i. Manajemen dan koordinasi
Mendirikan Posko
Membuat tim reaksi cepat
ii.

iii.

iv.

Perlindungan, penerimaan dan pendataan


Evakuasi korban yang masih hidup dan meninggal
Memberikan pertolongan dan perlindungan korban selamat
di tempat penampungan
Mendata dan mencatat korban
Pangan dan nutrisi
Tahap awal : pemberian makanan siap santap
Mendirikan dapur umum
Pemberian jatah makan per keluarga yang disesuaikan
makanan pokok setempat
Logistik dan transportasi
Pengumpulan, pengadaan, penyimpanan dan penyaluran

bantuan logistik
Menyiapkan gudang dan sarana transportasi termasuk BBM
Penampungan sementara
Ditempatkan bangunan gedung yang aman : sekolah,

gudang, kantor, lapangan dengan mendirikan tenda-tenda


Air bersih
Penyediaan air bersih untuk mandi, cuci, masak; sumber air

v.

vi.

dari sungai/sumur/air tanah/mata air

vii.

viii.

Sanitasi lingkungan
Penyediaan sarana MCK
Pengelolaan sampah (pengumpulan dan
pembuangannya
Pelayanan kesehatan
Pemerintah menyediakan tenaga medis, alkes, dan obat-

obatan
Setiap korban bencana mendapat perawatan kesehatan

gratis
Pemberian imunisasi dan vaksin mencegah timbulnya
penyakit

ix.

Pelayanan masyarakat
Media : radio, televisi
Informasi : penyuluhan, pertemuan warga
x.
Pendidikan
Menyediakan buku pelajaran, alat tulis
Pelaksana Dinas Pendidikan
Pemulihan darurat
c. Kegiatan Pencegahan Bencana
Adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk mengurangi atau
menghilangkan risiko bencana, baik melalui pengurangan ancaman
bencana maupun kerentanan pihak yang terancam bencana.
Kegiatan pencegahan bencana meliputi :
1.

Pembuatan peta rawan bencana


Jenis ancaman bahaya
2.
Pengembangan peraturan-peraturan
Standar pelayanan kesehatan
3.
Penyebarluasan informasi
Masalah kesehatan yang dapat terjadi
Peraturan, anjuran untuk petugas dan masyarakat
d. Kegiatan Mitigasi

Adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik


melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan
kemampuan menghadapi ancaman bencana.
Kegiatan tersebut meliputi :

i.

e.

Pembangunan dan rehabilitasi fisik (RS, Puskesmas, gudang

obat)
ii. Pengadaan sarana kesehatan (ambulans)
iii. Pengadaan alkes, obat dan bahan habis pakai
iv. Penetapan lokasi pembangunan sarana kesehatan di daerah aman
v. Pengaturan jalur evakuasi di setiap sarana kesehatan
vi. Jaminan asuransi
Kegiatan Kesiapsiagaan
Adalah serangkaian yang dilakukan untuk mengantisipasi bencana
melalui pengorganisasian serta langkah yang tepat dan berdaya guna.
Kegiatan kesiapsiagaan meliputi :
i.
ii.
iii.
iv.

Penyiapan sarana dan prasarana kesehatan (alkes, obat)


Penyiapan dana operasional
Pembentukan tim reaksi cepat
Penyebarluasan informasi
Masalah kesehatan akibat bencana
Usaha-usaha yang harus diambil oleh individu, keluarga dan
masyarakat korban
Bagaimana menolong warga masyarakat lain
Bagaimana bertahan dengan perlindungan atau peralatan dan

f.

bahan yang ada sebelum bantuan datang


Kegiatan Pemulihan/ Rehabilitasi
Adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau
masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pasca bencana
dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar
semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah
pasca bencana.
i.

ii.
g.

Rehabilitasi sarana dan pra sarana kesehatan inti


Perbaikan RS, Puskesmas, Pustu, Polindes
Perbaikan alat transportasi : Pusling, Ambulans
Perbaikan lain di fasilitas kesehatan : aliran listrik, sarana air
bersih
Pelayanan pemulihan kesehatan korbn/pengungsi (rujukan, gizi, air

bersih, kesling, P2M, Post Traumatic Stress)


Kegiatan Rekonstruksi
Adalah

pembangunan

kembali

semua

prasarana

dan sarana,

kelembagaan pada wilayah pasca bencana, baik pada tingkat

pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan


berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya
hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam
segala aspek kehidupan bermasyarakat
pada wilayah pasca bencana.
i. Pembangunan kembali sarana dan prasarana kesehatan
ii. Meningkatkan dan memantapkan rencana penanggulangan (UU
No. 24/2007)
4. Pihak-Pihak Terkait dalam Penanggulangan Bencana
Dalam setiap kejadian bencana di Indonesia ada beberapa pihak
yang bekerja sama dalam melakukan usaha-usaha penanganannya. Adalah
hak masyarakat untuk menghubungi instansi terkait ini karena keberadaan
pihakpihak ini adalah untuk mendampingi masyarakat dalam usaha
penanggulangan bencana. Hubungan dengan pihak-pihak ini sebaiknya
dijalin dalam tahap sebelum bencana, saat bencana dan setelah bencana.
Untuk memperkuat kesiapsiagaan, masyarakat bisa mendapatkan pelatihan
dan bantuan dari instansi/organisasi dibawah ini :
a. Dinas Sosial
Adalah instansi Pemerintah yang menangani bidang kesejahteraan
dalam membantu masyakakat yang dilanda bencana.
b. Tentara Nasional Indonesia (TNI)
Dapat memberikan pelatihan kepada masyarakat untuk meningkatkan
kemampuan dalam bidang operasi di lapangan.
c. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG)
Adalah

instansi

Pemerintah

yang

memberi

informasi

tentang

perkembangan cuaca, gempa bumi dan kegiatan gunung berapi.


d. Search and Rescue (SAR)
Adalah lembaga yang bertugas dalam hal melakukan pencarian,
pertolongan dan penyelamatan terhadap orang yang mengalami
musibah atau diperkirakan hilang dalam suatu bencana.

e. Rumah Sakit (Unit Gawat Darurat)


Adalah

instansi

pemerintah

maupun

swasta

yang

memiliki

kapasitas/kewenangan dalam hal pelayanan kesehatan masyarakat luas.


Dalam hal penanganan bencana, rumah sakit melakukan penanganan
korban bencana baik dalam penanganan penderita gawat darurat
maupun

tindakan-tindakan

perawatan

korban

bencana

secara

berkelanjutan.
f. Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat)
Adalah instansi pemerintah yang memiliki tugas untuk memberikan
pelayanan kesehatan di tingkat lapisan masyarakat terkecil, dan instansi
ini

memiliki

kemampuan

untuk

melakukan

tindakan-tindakan

penanganan penderita gawat darurat sebelum dilakukan evakuasi


selanjutnya ke rumah sakit.
g. Polisi Daerah
Adalah instansi pemerintah yang memiliki kewenangan dalam hal
keamanan dan ketertiban masyarakat sekaligus memiliki fungsi sebagai
pihak yang melakukan tindakan-tindakan yang bersifat darurat dalam
penanganan bencana di masyarakat. Instansi kepolisian biasanya ada di
setiap tingkatan masyarakat hingga yang terkecil.
h. Hansip / Linmas
Adalah kelompok masyarakat yang ditugaskan untuk membantu tugas
kepolisian dalam melakukan pengamanan wilayah domisili tugas
mereka. Kelompok ini terdiri dari anggota-anggota masyarakat terpilih
dan dipercayai untuk melakukan pengawasan terhadap keamanan dan
ketertiban wilayah.
i. Palang Merah Indonesia (PMI)
Adalah lembaga yang bertugas untuk membantu masyarakat dalam
meringankan penderitaan masyarakat yang dilanda bencana.
j. Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)
LSM lokal bisa bekerja sama dengan masyarakat dalam menanggulangi
bencana dan membantu masyarakat untuk membina hubungan ke luar.

k. Media Massa
Media Massa Cetak maupun Elektronik (televisi dan radio) bisa
menyebarkan berita tentang bencana dan bisa membantu untuk mencari
bantuan.
l. Kelompok Masyarakat Penanggulangan Bencana (KMPB)
Terdiri atas anggota-anggota masyarakat yang pembentukannya adalah
hasil dari keputusan masyarakat bersama.
II. BENCANA GUNUNG BERAPI
Gunung berapi atau gunung api secara umum adalah istilah yang dapat
didefinisikan sebagai suatu sistem saluran fluida panas (batuan dalam wujud
cair atau lava) yang memanjang dari kedalaman sekitar 10 km di bawah
permukaan bumi sampai ke permukaan bumi, termasuk endapan hasil
akumulasi material yang dikeluarkan pada saat meletus. Bencana gunung
meletus merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang dikenal dengan istilah
erupsi. Erupsi adalah fenomena keluarnya magma dari dalam bumi. Erupsi
dapat dibedakan menjadi erupsi letusan (explosive erupstion) dan erupsi nonletusan (non-explosive eruption). Jenis erupsi yang terjadi ditentukan oleh
banyak hal seperti kekentalan magma, kandungan gas di dalam magma,
pengaruh air tanah, dan kedalaman dapur magma (magma chamber). Pada
erupsi letusan, proses keluarnya magma disertai tekanan yang sangat kuat
sehingga melontarkan material padat yang berasal dari magma maupun tubuh
gunungapi ke angkasa. Pada erupsi non-letusan, magma keluar dalam bentuk
lelehan lava atau pancuran lava (lava fountain), gas atau uap air.
Bahaya letusan gunung berapi dapat berpengaruh secara langsung
(primer) dan tidak langsung (sekunder). Bahaya primer letusan gunung berapi
adalah lelehan lava, aliran piroklastik (awan panas), jatuhan piroklastik,
letusan lahar dan gas vulkanik beracun. Bahaya sekunder adalah ancaman
yang terjadi setelah atau saat gunung berapi tidak aktif seperti lahar dingin,
banjir bandang dan longsoran material vulkanik.

10

Sebagian besar korban tewas karena tidak mengindahkan peringatan


yang disampaikan Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).
Tingkat isyarat gunung berapi di Indonesia memiliki empat level yang dapat
dilihat pada tabel 1.
Tabel 1. Tigkat Isyarat Gunung Berapi di Indonesia

Sumber : Pusat Vulkanologi & Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG).


Berdasarkan

aktivsnya Gunung berapi dapat


.

dikategorikan dalam 3 kelompok, yaitu

Berdasarkan aktivitasnya, gunung berapi dapat dikategorikan dalam 3


kelompok, yaitu:
1. Gunung berapi aktif, adalah istilah yang digunakan untuk menyebut
gunung berapi yang meletus atau telah meletus selama pencatatan sejarah.
2. Gunung berapi dorman, adalah gunung berapi yang tidak menunjukkan
tanda-tanda aktivitas, tetapi para ilmuwan menganggapnya dapat meletus
kembali.
11

3. Gunung berapi mati, adalah istilah yang digunakan untuk menyebut


gunung yang tidak menunjukkan aktivitas selama 10.000 tahun terakhir.
Apabila gunung berapi mati tiba-tiba saja meletus maka penggolongannya
diubah menjadi gunung berapi aktif.
Gunung berapi yang akan meletus dapat diketahui melalui beberapa
tanda, antara lain :
1. Suhu di sekitar gunung naik.
2. Mata air menjadi kering
3. Sering mengeluarkan suara gemuruh, kadang disertai getaran (gempa)
4. Tumbuhan di sekitar gunung layu
5. Binatang di sekitar gunung bermigrasi
III. GUNUNG DIENG
Dieng adalah kawasan dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah
Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di
sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.
Dieng adalah kawasan vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan
gunung api raksasa dengan beberapa kepundan kawah. Ketinggian rata-rata
adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut. Suhu berkisar 15-20 C di siang
hari dan 10 C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu
udara dapat mencapai 0 C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang
oleh penduduk setempat disebut bun upas (embun racun) karena
menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.
Secara administrasi, Dieng merupakan wilayah Desa Dieng Kulon,
Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng (Dieng Wetan),
Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Wilayah ini merupakan salah satu
wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.
1. Geologi
Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas
vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran
Tinggi Tengger. Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung

12

di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat


keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. Keadaan ini
sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti
dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979. Tidak hanya gas
beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan
lumpur, tanah longsor dan banjir.
Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air
bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan.
Secara biologi, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di
air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik ("suka
panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi.
2. Kawah-kawah
Kawah aktif di Dieng merupakan kepundan bagi aktivitas vulkanik
di bawah dataran tinggi. Pemantauan aktivitas dilakukan oleh PVMBG
melalui Pos Pengamatan Dieng di Kecamatan Karangtengah. Berikut
adalah kawah-kawah aktif yang dipantau:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Candradimuka
Sibanteng
Siglagah
Sikendang, berpotensi gas beracun
Sikidang
Sileri
Sinila, berpotensi gas beracun
Timbang, berpotensi gas beracun

Kawah Sibanteng
Sibanteng terletak di Desa Dieng Kulon. Kawah ini pernah meletus freatik
pada bulan Januari 2009, menyebabkan kawasan wisata Dieng harus
ditutup beberapa hari untuk mengantisipasi terjadinya bencana keracunan
gas. Letusan lumpurnya terdengar hingga 2km, merusak hutan milik
Perhutani di sekitarnya, dan menyebabkan longsor yang membendung
Kali Putih, anak Sungai Serayu. Kawah Sibanteng pernah pula meletus
pada bulan Juli 2003.
Kawah Sikidang

13

Sikidang adalah kawah di DTD yang paling populer dikunjungi wisatawan


karena paling mudah dicapai. Kawah ini terkenal karena lubang keluarnya
gas selalu berpindah-pindah di dalam suatu kawasan luas. Dari karakter
inilah namanya berasal karena penduduk setempat melihatnya berpindahpindah seperti kijang (kidang dalam bahasa Jawa).
Kawah Sileri
Sileri adalah kawah yang paling aktif dan pernah meletus beberapa kali
(berdasarkan catatan : tahun 1944, 1964, 1984, Juli 2003, dan September
2009). Pada aktivitas freatik terakhir (26 September 2009) muncul tiga
celah kawah baru disertai dengan pancaran material setinggi 200 meter.
Kawah Sinila
Sinila terletak di Desa Dieng Wetan. Kawah Sinila pernah meletus pada
pagi hari tahun 1979,[3] tepatnya 20 Februari 1979. Gempa yang
ditimbulkan membuat warga berlarian ke luar rumah, namun mereka
terperangkap gas racun yang keluar dari Kawah Timbang akibat terpicu
letusan Sinila. Sejumlah warga (149 jiwa) dan ternak tewas keracunan gas
karbondioksida yang terlepas dan menyebar ke wilayah pemukiman.
Kawah Timbang
Timbang adalah kawah yang terletak di dekat Sinila dan beraktivitas
sedang. Meskipun kurang aktif, kawah ini merupakan sumber gas CO2
berkonsentrasi tinggi yang memakan ratusan korban pada tahun 1979.
Kawah ini terakhir tercatat mengalami kenaikan aktivitas pada bulan Mei
2011 dengan menyemburkan asap putih setinggi 20 meter, mengeluarkan
CO2 dalam konsentrasi melebihi ambang aman (1.000 ppm, konsentrasi
normal di udara mendekati 400 ppm) dan memunculkan gempa vulkanik.
Pada tanggal 31 Mei 2011 pagi, kawah ini kembali melepaskan gas CO 2
hingga mencapai 1% v/v (100.000 ppm) disertai dengan gempa tremor.
Akibatnya semua aktivitas dalam radius 1 km dilarang dan warga Dusun
Simbar dan Dusun Serang diungsikan.
IV. DAMPAK LETUSAN GUNUNG BERAPI

14

Bahaya utama dari letusan gunung berapa dapat berupa :


a.

Letusan batu-batuan

b.

Pengeluaran abu panas

c.

Aliran lava

d.

Pengeluaran gas

e.

Aliran gas dan debu

Bahaya lanjutan dapat berupa :


a.

Aliran lahar dingin

b.

Abu panas dapat menyebabkan kebakaran

Faktor risiko untuk kerentanan terhadap bahaya adalah :


a.

Faktor topografi

b.

Kedekatan tempat penduduk dengan gunung berapi

c.

Struktur atap rumah yang tidak tahan dengan akumulasi debu

d.

Kurangnya sistem kewaspadaan dan evakuasi

Penyebab Utama Kesakitan Dan Kematian


Penyebab langsung yang harus diwapadai adalah :
a.

Trauma langsung atau robek pada tubuh karena letusan dan kontak dengan
bahan vulkanik;

b.

Debu panas, gas, batu dan magma yang menyebabkan luka bakar, asfiksia,
konjungtivitis atau abrasi kornea;

c.

Cedera pernapasan akut karena menghirup gas hasil letusan gunung


berapi;

d.

Iritasi mata dan kulit karena hujan asam.

e.

Pada hujan abu, material yang halus dapat menimbulkan asma dan
gangguan pernapasan pada anak atau dewasa. Kematian dapat terjadi pada
orang yang mengalami gangguan berat jika tidak melindungi diri dari
debu/abu dari letusan gunung berapi.
Penyebab tidak langsung, diantaranya :

a. Dampak dari abu gunung yaitu berbagai jenis gas seperti Sulfur Dioksida
(SO2), gas Hidrogen Sulfida (H2S), Nitrogen Dioksida (NO2), serta debu
dalam bentuk partikel debu (Total Suspended Particulate atau Particulate

15

Matter). Abu dapat menyebabkan keracunan karena meminum makanan


atau minuman yang terkontaminasi. Abu dapat menyebabkan runtuhnya
bangunan karena menumpuk di atap rumah dan membahayakan orang di
dalamnya. Dapat terjadi kerusakan berat pada sarana kesehatan dan air
bersih.
a. Kecelakaan lalu lintas akibat jalan berdebu licin, jatuh karena panik, serta
makanan yang terkontaminasi, dan lain-lain.
V. MENGURANGI KEMUNGKINAN/DAMPAK
Dalam upaya mengurangi dampak bencana di suatu wilayah, tindakan
pencegahan perlu dilakukan oleh masyarakatnya. Pada saat bencana terjadi,
korban jiwa dan kerusakan yang timbul umumnya disebabkan oleh kurangnya
persiapan dan sistem peringatan dini. Persiapan yang baik akan bisa
membantu masyarakat untuk melakukan tindakan yang tepat guna dan tepat
waktu. Bencana bisa menyebabkan kerusakan fasilitas umum, harta benda
dan korban jiwa. Dengan mengetahui cara pencegahannya masyarakat bisa
mengurangi resiko ini.
Tindakan Kesiapsiagaan
a. Persiapan dalam menghadapi letusan gunung api
- Mengenali

tanda-tanda

bencana,

karakter

gunung

api

dan

ancamanancamannya
- Membuat peta ancaman, mengenali daerah ancaman, daerah aman
- Membuat sistem peringatan dini
- Mengembangkan Radio komunitas untuk penyebarluasan informasi
status gunung api
- Mencermati dan memahami Peta Kawasan Rawan gunung api yang
diterbitkan oleh instansi berwenang
- Membuat perencanaan penanganan bencana
- Mempersiapkan jalur dan tempat pengungsian yang sudah siap dengan
bahan kebutuhan dasar (air, jamban, makanan, pertolongan pertama)
jika diperlukan
- Mempersiapkan kebutuhan dasar dan dokumen penting
16

- Memantau informasi yang diberikan oleh Pos Pengamatan gunung api


(dikoordinasi oleh Direktorat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi). Pos pengamatan gunung api biasanya mengkomunikasikan
perkembangan status gunung api lewat radio komunikasi
b. Tindakan saat terjadi letusan gunung api
- Hindari daerah rawan bencana seperti lereng gunung, lembah, aliran
sungai kering dan daerah aliran lahar
- Hindari tempat terbuka, lindungi diri dari abu letusan
- Masuk ruang lindung darurat
- Siapkan diri untuk kemungkinan bencana susulan
- Kenakan pakaian yang bisa melindungi tubuh, seperti baju lengan
panjang, celana panjang, topi dan lainnya
- Melindungi mata dari debu. Bila ada gunakan pelindung mata seperti
kacamata renang atau apapun yang bisa mencegah masuknya debu ke
dalam mata
- Jangan memakai lensa kontak
- Pakai masker atau kain untuk menutupi mulut dan hidung
- Saat turunnya abu gunung api usahakan untuk menutup wajah dengan
kedua belah tangan
c. Tindakan setelah terjadi letusan gunung api
- Jauhi wilayah yang terkena hujan abu
- Bersihkan atap dari timbunan abu karena beratnya bisa merusak atau
meruntuhkan atap bangunan
- Hindari mengendarai mobil di daerah yang terkena hujan abu sebab bisa
merusak mesin motor, rem, persneling dan pengapian.
BAB III
PERMASALAHAN

17

Gambar 2. Peta Kawasan Rawan Bencana Kompleks Vulkanik Dieng


Gunung Dieng merupakan tipe gunung api Strato, yaitu gunung api
tersusun dari batuan hasil letusan dengan tipe letusan berubah-ubah sehingga
dapat menghasilkan susunan yang berlapis-lapis dari beberapa jenis batuan,
sehingga membentuk suatu kerucut besar (raksasa), kadang-kadang bentuknya
tidak beraturan, karena letusan terjadi sudah beberapa ratus kali. Ancaman yang
terjadi bila Gunung Dieng meletus adalah gas beracun, adapun kawah yang
disinyalir berbahaya mengeluarkan gas adalah Kawah Sikidang, Sikendang dan
Siterus.
Pada bulan Mei 2011 Kawah Timbang terakhir tercatat mengalami
kenaikan aktivitas dengan menyemburkan asap putih setinggi 20 meter,
18

mengeluarkan CO2 dalam konsentrasi melebihi ambang aman (1.000 ppm,


konsentrasi normal di udara mendekati 400 ppm) dan memunculkan gempa
vulkanik. Pada tanggal 31 Mei 2011 pagi, kawah ini kembali melepaskan gas CO 2
hingga mencapai 1% v/v (100.000 ppm) disertai dengan gempa tremor. Akibatnya
semua aktivitas dalam radius 1 km dilarang dan warga Dusun Simbar dan Dusun
Serang diungsikan
Erupsi freatik cukup sering terjadi di dataran tinggi Dieng, hal ini
diperlihatkan oleh jumlah kawah yang terbentuk, yaitu 70 buah dibagian timur
dan tengah komplek, serta 30 buah dibagian barat sektor Batur. Sedikitnya 10
erupsi freatik telah terjadi dalam kurun waktu 200 tahun terahir. Freatik
(hidrovulkanik) merupakan tekanan erupsi dibentuk oleh tekanan gas. Letusan
freatik inilah yang merupakan bentuk bahaya dari kompleks Gunung Dieng.
Menurut VSI erupsi freatik komplek Dieng dapat dibagi dalam dua katagori:
1.

Erupsi tanpa adanya tanda-tanda (prekursor) dari seismisity, yaitu hasil


dari proses self sealing dari solfatar aktif (erupsi hydrothermal).

2.

Erupsi yang diawali oleh gempa bumi lokal atau regional, atau oleh
adanya retakan dimana tidak adanya indikasi panas bumi dipermukaan.
Erupsi dari tipe ini umum terjadi di daerah Graben Batur, sebagaimana
diperlihatkan oleh erupsi freatik dari vulkanik Dieng pada Februari 1979.
Aktivitas erupsi di komplek Dieng termasuk dalam kategori kedua.
Sejak tahun 1600, kegiatan Gunung api Dieng tidak memperlihatkan

adanya letusan magmatik, tetapi lebih didominasi oleh aktivitas letusan freatik
atau hydrothermal, sebagaimana diperlihatkan oleh beberapa aktivitas yang telah
diperlihatkan dalam sejarah letusan (tabel 2).

Tabel 2. Sejarah Letusan Gunung Dieng

19

Sumber : Pusat Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan Republik


Indonesia

Kalangan vulkanologi Indonesia mengelompokkan gunung berapi ke


dalam tiga tipe berdasarkan catatan sejarah letusan/erupsinya.
1. Gunung api Tipe A : tercatat pernah mengalami erupsi magmatik
sekurang-kurangnya satu kali sesudah tahun 1600.
2. Gunung api Tipe B : sesudah tahun 1600 belum tercatat lagi mengadakan
erupsi magmatik namun masih memperlihatkan gejala kegiatan vulkanik
seperti kegiatan solfatara.
3. Gunung api Tipe C : sejarah erupsinya tidak diketahui dalam catatan
manusia, namun masih terdapat tanda-tanda kegiatan masa lampau berupa
lapangan solfatara/fumarola pada tingkah lemah.

20

Berdasarkan sejarah letusan gunung dieng (tabel 2), maka gunung dieng dapat
dikategorikan sebagai gunung api Tipe B.

BAB IV
PERENCANAAN DAN PEMILIHAN INTERVENSI

21

I.

Kebutuhan yang disiapkan


Kebutuhan yang diperlukan pada keadaan ini adalah : tim SAR,
bantuan medis, koordinasi pengungsi, melindungi kelompok yang terpapar
pada abu, informasikan bahaya abu pada kesehatan dan kemungkinan
kerusakan bangunan, dan menjaga ketersediaan bahan makanan untuk
jangka panjang karena lava, abu dan hujan asam dapat membunuh
tanaman dan ternak.

II.

Sebelum Kejadian/ Pra Bencana


a. Membuat SK Penanggulangan Krisis Kesehatan Akibat Bencana
b. Pemetaan wilayah yang sering/rawan terjadi bencana
c. Koordinasi penanggulangan masalah kesehatan meliputi koordinasi
internal (lintas program/lintas sektoral) di daerah rawan bencana
d. Melaksanakan Pelatihan gladi lapang siaga bencana bagi tenaga
kesehatan dan masyarakat peduli bencana
e. Manajemen jangka panjang dalam pembangunan ekonomi dan
desa/kota di sekitar area gunung berapi;
f. Rencana persiapan bencana dan sistem peringatan dini;
g. Pendidikan dan peningkatan kesadaran masyarakat akan risiko

III.

yang dapat timbul dan rencana bila bencana terjadi;


Saat Bencana
a. Melakukan RHA (Rapid Health Assesment)
b. Membuka Pos Kesehatan di pos kesehatan wilayah bencana / RS
lapangan
c. Mendistribusikan obat-obatan dan perbekalan kesehatan
d. Koordinasi dengan kantor Kesbangpolinmas (TIM

SAR)

membantu penyelamatan dan evakuasi korban


e. Evakuasi seluruh atau sebagian penduduk;
f. Masker yang tidak tembus terhadap abu bagi mereka yang bekerja
pada lingkungan terkontaminasi abu dan untuk kelompok yang
rentan (anak-anak, lansia, orang dengan gangguan pernapasan);
g. Masker sederhana untuk masyarakat umum yang perlu untuk
IV.

meninggalakan rumah mereka dalam jangka pendek


Setelah/ Pasca terjadi bencana
a. Melakukan koordinasi posko bencana
b. Melaksanakan pemulihan kesehatan masyarakat dengan melibatkan
unsur terkait

22

c. Mengendalikan
d.
e.
f.
g.

vector

dan

melakukan

surveilans

penyakit

potensial wabah dan faktor resiko pasca bencana


Memantau kwalitas air bersih dan sanitasi
Desinfeksi sarana air bersih
Pendataan sarana dan prasarana kesehatan yang rusak
Melakukan pendataan dan mengatasi masalah kesehatan jiwa dan

psikososial pasca bencana


h. Melaksanakan pelayanan kesehatan reproduksi, perbaikan gizi
masyarakat dan upaya rehabilitasi medik
i. Monitoring dan evaluasi pasca bencana

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
I. KESIMPULAN
Bencana gunung meletus merupakan bagian dari aktivitas vulkanik yang
dikenal dengan istilah erupsi. Bahaya letusan gunung berapi dapat berpengaruh
secara langsung (primer) dan tidak langsung (sekunder). Bahaya primer letusan
gunung berapi adalah lelehan lava, aliran piroklastik (awan panas), jatuhan
piroklastik, letusan lahar dan gas vulkanik beracun. Bahaya sekunder adalah
ancaman yang terjadi setelah atau saat gunung berapi tidak aktif seperti lahar
dingin, banjir bandang dan longsoran material vulkanik.

23

Sejak tahun 1600, kegiatan Gunung api Dieng tidak memperlihatkan


adanya letusan magmatik, tetapi lebih didominasi oleh aktivitas letusan freatik
atau hydrothermal. Ancaman yang terjadi bila Gunung Dieng meletus adalah gas
beracun.
Strategi dan manajemen bencana yang tepat sangat diperlukan agar
masyarakat dapat tetap hidup layak di daerah rawan bencana tersebut.
Manajemen bencana tersebut terdiri dari manajemen saat bencana, pra bencana,
dan pasca bencana yang satu sama lain saling berkesinambungan dan
berhubungan.
II. SARAN
a. Desa sekitar gunung dieng
Memotivasi warga sekitar agar selalu tanggap dan siap
-

siaga terhadap bencana


Selalu melakukan koordinasi dengan berbagai lintas

sektoral agar dapat meminimalisasi akibat dari bencana tersebut.


b. Puskesmas
Rutin memonitoring tanggap darurat bencana yang
potensial terjadi di wilayah kerjanya
Pelatihan gladi lapang siaga bencana bagi tenaga
kesehatan
-

Meningkatkan kunjungan sanitasi dan kesehatan


lingkungan pasca bencana
DAFTAR PUSTAKA

Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Dan Badan Koordinasi Nasional


Penanganan Bencana (2006). Rencana Aksi Nasional Pengurangan Risiko
Bencana 2006-2009.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2010). Buku Panduan Pengenalan
Karakteristik Bencana Dan Upaya Mitigasinya di Indonesia.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (2010). Rencana

Nasional

Penanggulangan Bencana 2010 2014.


Departemen Energi dan Sumberdaya Mineral RI (2009). Panduan Pengenalan
Karakteristik Bencana Dan Upaya Mitigasinya di Indonesia.
Paripurno, Eko Teguh. Modul Manajemen Bencana Seputar Beberapa Bencana
Di Indonesia.
24

Peraturan Daerah Kabupaten Banjarnegara Nomor 3 Tahun 2011. Organisasi Dan


Tata

Kerja

Badan

Penanggulangan

Bencana

Daerah

Kabupaten

Banjarnegara.
Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 9 Tahun
2008. Prosedur Tetap Tim Reaksi Cepat Badan Nasional Penanggulangan
Bencana.
Pusat Penanggulangan Krisis Departemen Kesehatan Republik Indonesia.
Laporan Kesiapsiagaan Status Waspada Gunung Dieng Kabupaten
Wonosobo Mei 2006.
Set BAKORNAS PBP dan Gempa bumi dan Tsunami, Pusat Vulkanologi dan
Mitigasi Bencana Geologi (2010). Buku Panduan Pengenalan Karakteristik
Bencana Dan Upaya Mitigasinya di Indonesia.
UU No.24 tahun 2007, Kebijakan Manajemen Penanggulangan Krisis Kesehatan
Akibat Bencana.

25