Anda di halaman 1dari 17

I.

PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Setiap tahun, lebih dari sepuluh juta anak di dunia meninggal sebelum
mencapai usia 5 tahun. Lebih dari setengahnya disebabkan dari 5 kondisi yang
sebenarnya dapat dicegah dan diobati antara lain : pneumonia, diare, malaria,
campak, dan malnutrisi dan seringkali kombinasi beberapa penyakit (Soenarto,
2009). Selain itu, lima kondisi di atas menyebabkan 10,8 juta kematian balita di
negara berkembang tahun 2005. Hal di atas dapat disebabkan oleh rendahnya
kualitas pelayanan kesehatan.
Rendahnya kualitas pelayanan kesehatan dapat dipengaruhi oleh masalah
dalam keterampilan petugas kesehatan, sistim kesehatan dan praktik di
keluarganya dan komunitas. Perlu adaya integrasi dari ketiga faktor di atas untuk
memperbaiki kesehatan anak tersebut sehingga tercipta peningkatan derajat
kesehatan anak. Perbaikan kesehatan anak dapat dilakukan dengan memperbaiki
manajemen kasus anak sakit, memperbaiki gizi, memberikan imunisasi, mencegah
trauma, mencegah penyakit lain dan memperbaiki dukungan psikososial
(Soenarto, 2009). Berdasarkan alasan tersebut, muncullah program Manajemen
Terpadu Balita Sakit (MTBS).
MTBS

merupakan

suatu

manajemen

melalui

pendekatan

terintegrasi/terpadu dalam tatalaksana balita sakit yang datang di pelayanan


kesehatan, baik mengenai beberapa klasifikasi penyakit, status gizi, status
imunisasi maupun penangaan balita sakit tersebut dan konseling yang diberikan
(Wijaya, 2009). MTBS mengintegrasikan perbaikan sistim kesehatan, manajemen
kasus, praktik kesehatan dan masyarakat, dan hak anak (Soenarto, 2009).
Penilaian balita sakit dengan MTBS terdiri atas klasifikasi penyakit, identifikasi
tindakan, pengobatan, perawatan di rumah dan kapan kembali. Kegiatan MTBS
memiliki tiga komponen khas yang menguntungkan, yaitu : meningkatkan
keterampilan petugas kesehatan, dan memperbaiki praktik keluarga dan

masyarakat dalam perawatan di rumah dan upaya pertolongan kasus balita sakit
(Wijaya,2009; Depkes RI,2008)
Pelaksanaan MTBS tidak terlepas dari peran petugas pelayanan kesehatan.
Pengetahuan, keyakinan dan keterampilan petugas pelayanan kesehatan dalam
penerapan MTBS perlu ditingkatkan guna mencapai keberhasilan MTBS dalam
meningkatkan derajat kesehatan anak khususnya balita.

TINJAUAN PUSTAKA
Definisi dan Tujuan MTBS
Manajemen Terpadu Balita Sakit adalah suatu manajemen untuk balita
sakit yang datang di pelayanan kesehatan, dilaksanakan secara terpadu, baik
mengenai beberapa klasifikasi penyakit, status gizi, status imunisasi maupun
penanganan balita sakit tersebut dan konseling yang diberikan (Surjono et al,;
Wijaya, 2009; Depkes RI, 2008).
MTBS merupakan manajemen anak sakit untuk 2 kelompok usia yaitu
kelompok usia 7 hari sampai 2 bulan dan kelompok usia 2 bulan sampai 5 tahun.
Protokol MTBS dikemas dalam bagan. Bagan tersebut dimaksudkan unuk
mempermudah petugas kesehatan mengikuti setiap langkah untuk memeriksa
balita sakit. Petugas kesehatan akan mudah mengikuti langkah-langkah yang ada
di dalam bagan tersebut. Setiap langkah dengan anak dengan maksud tertentu
tertulis dalam bagan tersebut dengan bentuk tanda khusus dalam kotak, baris
dengan warna dasar tertentu dan tulisan dengan huruf cetak biasa dan cetak Lab.
Proses Manajemen Kasus
Tujuan pelayanan kesehatan anak adalah untuk menfasilitasi kesehatan
yang optimal dan kesejahteraan bagi anak dan keluarganya. Hal ini berhubungan
dengan aktifitas yang saling berkaitan antara masalah surveilans dan manajemen,
masalah pencegahan/preventif, promosi kesehatan dan koordinasi pelayanan pada
anak dengan kebutuhan khusus.
Perhatian tradisional yang berfokus pada diagnosis dan manajemen saat ini
telah berkembang dengan skrining penyakit dan mendeteksi tanda-tanda dini yang
asimtomatik di populasi. Para petugas kesehatan telah mengakui manfaat dari
program upaya preventif/pencegahan. Contohnya adalah program imunisasi pada
kegiatan rutin, juga program deteksi dini dan pemberdayaan masyarakat dalam
pelayanan kesehatan dasar. Penekanan yang terbaru adalah berkaitan dengan
konsep promosi kesehatan yang mengutamakan kesehatan yang optimal dan
kesejahteraan anak daripada hanya penanganan saat ada masalah.xxxii

Proses manajeman kasus disajikan dalam satu bagan yang memperlihatkan


urutan langkah-langkah dan penjelasan cara pelaksanaannya. Bagan tersebut
menjelasakan langkah-langkah beriku ini :1
a. Menilai dan membuat klasifikasi anak sakit umur 2 bulan 5 tahun.
Menilai anak sakit, berarti melakukan penilaian dengan cara anamnesis dan
pemeriksaan fisik. Sedangkan membuat klasifikasi dimaksudkan membuat
sebuah keputusan mengenai kemungkinan penyakit atau masalah serta tingkat
keparahannya. Klasifikasi merupakan suatu katagori untuk menentukan
tindakan, bukan sebagai diagnosis spesifik penyakit.
b. Menentukan tindakan dan memberi pengobatan
Adalah merupakan penentuan tindakan dan memberi pengobatan di fasilitas
kesehatan yang sesuai dengan setiap klasifikasi, memberi obat untuk diminum
di rumah dan juga mengajari ibu tentang cara memberikan obat serta tindakan
lain yang harus dilakukan di rumah.
c. Memberi konseling bagi ibu
Konseling berarti mengajari atau menasehati ibu yang mencakup mengajukan
pertanyaan, mendengarkan jawaban ibu, memuji, memberikan nasehat yang
relevan, membantu memecahkan masalah dan mengecek pemahaman ibu.
Juga termasuk menilai cara pemberian makan anak, memberi anjuran
pemberian makan yang baik untuk anak serta kapan harus membawa anaknya
kembali ke fasilitas kesehatan.
d. Memberi pelayanan tindak lanjut
Adalah menentukan tindakan dan pengobatan pada saat anak datang untuk
kunjungan ulang.
e. Manajemen terpadu bayi muda umur 1 hari 2 bulan
Meliputi menilai dan membuat klasifikasi, menentukan tindakan dan memberi
pengobatan, konseling dan tindak lanjut pada bayi umur 1 hari sampai 2 bulan
baik sehat maupun sakit. Pada prinsipnya, proses manajemen kasus pada bayi
muda umur 1 hari 2 bulan tidak berbeda dengan anak sakit umur 2 bulan 5
tahun.
Kegiatan MTBS memiliki 3 komponen khas yang menguntungkan, yaitu :

Meningkatkan keterampilan petugas kesehatan dalam tatalaksana


kasus balitaa sakit (selain dokter, petugas kesehatan non dokter dapat pula
memeriksa dan menangani pasien apabila sudah dilatih);

Memperbaiki sistim kesehatan (perwujudan terintegrasinya banyak


program kesehatan dalam 1 kali pemeriksaan MTBS)

Memperbaiki praktik keluarga dan masyarakat dalam perawatan di


rumah dan upaya pencarian pertolongan kasus balita sakit (meningkatkan
pemberdayaan masyarakat dalam pelayanan kesehatan (Wijaya, 2009; Depkes,
2008)

Prosedur Penerapan MTBS di Puskesmas


a. Persiapan penerapan MTBS.1
1) Diseminasi Informasi MTBS kepada seluruh petugas Puskesmas. Kegiatan
diseminasi informasi MTBS kepada seluruh petugas pelaksana Puskesmas
dilaksanakan dalam suatu pertemuan yang dihadiri oleh seluruh petugas
yang meliputi perawat, bidan, petugas gizi, petugas imunisasi, petugas
obat, pengelola SP2TP, pengelola P2M, petugas loket dan lain-lain.
Informasi yang harus disampaikan adalah :
a) Konsep umum MTBS
b) Peran dan tanggung jawab petugas Puskesmas dalam penerapan
MTBS.
2) Penyiapan logistik
Sebelum penerapan MTBS perlu diperhatikan adalah penyiapan obat, alat,
formulir MTBS dan Kartu Nasehat Ibu (KNI). Secara umum obat-obatan
yang digunakan dalam MTBS telah termasuk dalam Daftar Obat Esensial
Nasional (DOEN) dan Laporan Pemakaian dan Lembar Permintaan Obat
(LPLPO) yang digunakan di Puskesmas.
b. Penerapan MTBS di Puskesmas
Dalam memulai penerapan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS),
tidak ada patokan khusus besarnya persentase kunjungan Balita sakit yang
ditangani dengan pendekatan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS). Tiap
Puskesmas perlu memperkirakan kemampuannya mengenai seberapa besar

balita sakit yang akan ditangani pada saat awal penerapan dan kapan akan
dicapai cakupa 100% penerapan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) di
Puskesmas secara bertahap dilaksanakan sesuai dengan keadaan pelayanan
rawat jalan di tiap Puskesmas. Sebagai acuan dalam pentahapan penerapan
adalah sebagai berikut:
1) Puskesmas yang memiliki kunjungan balita sakit < 10 orang per hari
perhari pelayanan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dapat
diberikan langsung kepada C.
2) Puskesmas yang memiliki kunjungan balita sakit 10 25 orang per hari,
berikanlah pelayanan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) kepada
50% kujungan balita sakit pada tahap awal dan setelah 3 bulan pertama
diharapkan telah seluruh balita sakit mendapatkan pelayanan Manajemen
Terpadu Balita Sakit (MTBS).
3) Puskesmas memiliki kunjungan balita sakit 21 50 orang per hari,
berikanlah pelayanan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) kepada 25
% kunjungan balita sakit pada tahap awal dan setelah 6 bulan pertama
diharapkan seluruh balita sakit mendapat pelayanan Manajemen Terpadu
Balita Sakit (MTBS).
c. Pencatatan dan Pelaporan Hasil Pelayanan
Pencatatan dan pelaporan di Puskesmas yang menerapkan MTBS sama
dengan Puskesmas yang lain yaitu menggunakan Sistem Pencatatan dan
Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2PT). Dengan demikian semua pencatatan
dan pelaporan yang digunakan tidak perlu mengalami perubahan. Perubahan
yang perlu dilakukan adalah konversi klasifikasi MTBS ke dalam kode
diagnosis dalam SP2PT sebelum masuk ke dalam sistem pelaporan.
Strategi Menuju MTBS
1. Mengembalikan fungsi posyandu dan meningkatkan kembali partisipasi
masyarakat dan keluarga dalam memantau tumbuh kembang balita,
mengenali dan menanggulangi secara dini balita yang mengalami
gangguan pertumbuhan melalui revitalisasi Posyandu.

2. Meningkatkan kemampuan petugas, dalam manajemen dan melakukan


tatalaksana Gizi buruk untuk menduung fungsi Posyandu yang dikelola
oleh masyarakat melaui revitalisasi Puskesmas.
3. Menanggulangi secara langsung masalah gizi melalui pemberian intervensi
Gizi (suplementasi), serta kapsul Vitamin A, MP-ASI dan makanan
tambahan.
4. Mewujudkan keluarga sadar Gizi melalui promosi Gizi, advokasi dan
sosialisai tentang makanan sehat dan bergizi seimbang dan pola hidup
bersih dan sehat.
5. Menggalang kerjasama lintas sector dan kemitraan dengan swasta, dunia
usaha dan masyarakat untuk mobilisasi sumberdaya dalam rangka
menigkatkan daya beli keluarga untuk menyediakan makanan sehat dan
bergizi seimbang.
6. Meningkatkan Perilaku Sadar Gizi dengan :
-

Memantau berat badan

Memberikan ASI Eksklusif pada bayi 0-6 bulan

Makan beraneka ragam

Menggunakan garam beryodium

Memberikan suplementasi gizi sesuai anjuran

7. Intervensi Gizi dan Kesehatan dalam MTBS


a.

Memberikan perawatan/pengobatan di Rumah Sakit dan


Puskesmas pada anak balita gizi buruk disertai penyakit penyerta

b.

Pendamping Pemberian Makanan Tambahan (PMT)


berupa MP-ASI bagi anak 6-23 bulan dan PMT pemulihan pada anak
24-59 bulan kepada balita gizi kurang baik yang memiliki penyakit
penyerta ataupun tiidak ada penyakit penyerta

8. Advokasi dan pendampingan MTBS


a.

Menyiapkan materi/strategi advokasi MTBS

b.

Diskusi dan rapat kerja dengan DPRD secara berkala


tentang pelaksanaan dan anggaran MTBS

c.

Melakukan pendampingan di semua Puskesmas di setiap


Kabupaten

Penerapan MTBS yang baik dapat membantu melaksanakan paling tidak


18 SPM (Standar Pelayanan Minimal) Kabupaten tahun 2010 yaitu:
a. KN2 90% melalui penerapan MTBM
b. BBLR yang dilayani 100% melalui penerapan MTBM
c. UCI 100%
d. N/D 85% dengan konseling gizi
e. BGM<15% dengan mengatasi masalah pemberian makanan
f. Bayi mendapat vitamin A
g. Balita mendapat vitamin A
h. PMT bagi BGM
i. Gizi buruk dilayani
j. Neonatal Risti ditangani
k. Pneumonia yang ditangani
l. Penderita DBD ditangani 100%
m. CFR DBD <1%
n. Penderita diare ditangani 100%
o. CFR diare <1/10.000
p. ASI Eksklusif 80%
q. Keluarga sadar gizi 80%
r. Malaria ditangani 100%
Praktik MTBS di Puskesmas.
Alur Pelayanan
Setelah mendaftar di loket, pasien balita sakit dibawakan kartu status dan
formulir pencatatan MTBS. Ini yang membedakan yang tanpa MTBS di mana
formulir MTBS tidak disertakan. Pasien kemudian menuju ruang MTBS untuk
diperiksa oleh case manager. Case manager di sini adalah bidan yang telah dilatih
MTBS yang bertanggung jawab terhadap kelangsungan kegiatan MTBS.
Pemeriksaan dimulai dengan melakukan penilaian yang dilanjutkan dengan

pembuatan klasifikasi yang diikuti dengan pemberian tindakan. Konseling


menjadi langkah selanjutnya dan menjadi bagian tak terpisah dari alur MTBS.
Case manager menentukan konseling apa yang diperlukan saat pemeriksaan,
misalnya perlu diberikan konseling kesehatan lingkungan, gizi atau imunisasi dan
juga berhak meminta petugas yang bersangkutan untuk melakukan konseling.
Setelah konseling selesai maka pasien disuruh kembali ke case manager untuk
diberikan konseling mengenai cara perawatan anak di rumah
Pemeriksaan balita sakit di puskesmas ditangani oleh tim yang dipimpin oleh
pengelola MTBS yang berfungsi sebagai case manager. Semua kegiatan pemeriksaan dan
konseling tersebut dilakukan di ruang khusus MTBS.
Fungsi dan Kedudukan Case Manager.
Kedudukan case manager tidak ada dalam struktur organisasi puskesmas.
Pemilihannya oleh kepala puskesmas berdasarkan pertimbangan pernah mengikuti
pelatihan dan sanggup untuk mengelola MTBS. Dalam keseharian pengelola
bertanggung jawab kepada koordinator KIA puskesmas. Case manager bertanggung
jawab melakukan pemeriksaan dari penilaian membuat klasifikasi serta mengambil tindakan
serta melakukan konseling dengan dipandu buku bagan dan tercatat dalam formulir pemeriksaan.
Case manager bertanggung jawab mengelola kasus balita sakti dari penilaian,
membuat klasifikasi, dan menentukan tindakan, serta manager menentukan konseling
yang diperlukan oleh pasien. Apabila memerlukan konseling gizi, kesehatan lingkungan
(kesling), serta imunisasi, petugas mengirim ke petugas yang dibutuhkan dan pasien
akan

disuruh

kembali

kepada

case

manager.

Sesudah

mendapatkan

konseling baru dilakukan penulisan resep serta penjelasan agar pengantar mematuhi
perintah yang diberikan dalam pengobatan di rumah. Konseling mengenai cara
pemberian obat, dosis, lama pemberian, waktu pemberian, cara pemberian dan lainlain menjadi hal yang rutin dilakukan. Hasil kegiatan pemeriksaan dicatat dalam
register kunjungan, kemudian direkap setiap akhir bulan untuk laporan kegiatan MTBS kepada
Dinkes.
Alur Pemeriksaan Tanpa MTBS.

Ada tiga hal yang membedakan alur pelayanan ini dengan MTBS. Pertama
peran petugas kesehatan dalam menangani manajemen kasus, yang kedua tempat
pemeriksaan dan yang ketiga alur pelayanan balita sakit itu sendiri. Peran petugas sebelum
diterapkannya MTBS biasanya hanya bertugas mendampingi dokter, mengerjakan apa
yang diperintahkan kepadanya serta mengisikan status pasien ke register kunjungan
pasien. Hal kedua adalah tempat pemeriksaan biasanya dilakukan di poliklinik umum,
yaitu bergabung dengan pasien dewasa
Perbedaan Penanganan Balita Sakit Dengan dan Tanpa MTBS.
Perbedaan penanganan balita sakit dengan dan tanpa MTBS bisa dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Perbandingan Penanganan Balita Sakit
Rincian
Pelaksana

Proses

Hasil

Pemeriksaan sebelum MTBS


Dokter atau perawat /bidan

Pemeriksaan dengan MTBS


Tim atau perorangan yang
telah dilatih MTBS, atau
paling tidak sudah mengenal
MTBS yang terdiri dari
bidan/perawat, petugas
kesling, petugas gizi, juru
imunisasi
1. Menggunakan kartu status
1. Menggunakan formulir
2. Tidak selalu menimbang dan pencatatan MTBS
mengukur suhu tubuh
2. Selalu memeriksa berat dan
3. Pemeriksaan bergantung
suhu badan
dari pemeriksa
3. Apabila batuk selalu
4. Tidak selalu memeriksa
menghitung napas, melihat
status gizi, status imunisasi,
tarikan dinding dada dan
dan pemberian kapsul vitamin mendengar stridor
A
4. Apabila diare selalu
memeriksa kesadaran balita,
mata cekung, memberi minum
anak untuk melihat apakah
tidak bisa minum atau
malas minum dan mencubit
kulit perut untuk memeriksa
turgor
5. Selalu memeriksa status
gizi, status imunisasi dan
pemberian kapsul vitamin A
Diagnosa dan terapi tergantung Klasifikasi yang
pemeriksa
dikonversikan menjadi
diagnosa, tindakan berupa
pemberian terapi dan

Waktu yang
diperlukan

Kurang lebih 5 menit

konseling berupa nasehat


pemberian makan, nasehat
kunjungan ulang, nasehat
kapan harus kembali segera
10-15 menit

Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan antara alur pelayanan


menggunakan MTBS dengan sebelum menggunakan MTBS. Perbedaan tersebut dapat dilihat
dengan adanya tim dan kegiatan konseling. Tim

melibatkan beberapa petugas

kesehatan dengan keahlian di bidang masing-masing yaitu gizi, kesehatan lingkungan


dan imunisasi di samping pengelola MTBS yang menjadi manajer kasus penanganan
balita sakit.
Keberadaan tim dalam penanganan balita sakit sangat mendukung praktik
MTBS. Tim yang dipimpin oleh seorang manajer kasus (case manager) yaitu seorang
bidan yang bertanggungjawab kepada bidan koordinator

KIA. Apabila

ada

masalah yang berkenaan dengan MTBS bidan koordinator mengkonsultasikan kepada


kepala puskesmas. Manajer kasus mendistribusikan tugas serta pekerjaan kepada
anggota tim lainnya yaitu petugas gizi untuk menangani konseling gizi, petugas
imunisasi untuk pemberian imunisasi yang dibutuhkan anak pada saat pemeriksaan
serta petugas kesehatan lingkungan yang menangani penyuluhan berkenaan dengan
penyakit yang diakibatkan oleh perilaku dan lingkungan. Kejelasan tugas dalam
pembagian kerja menyebabkan penanganan kasus lebih efektif. Masing-masing
petugas bisa mengerti pekerjaan dan tugas-tugas yang lain sehingga ketika petugas lain
yang diperlukan tidak ada petugas yang ada bisa mengambil alih. Sifat yang
fleksibel
antar anggota tim inilah yang membantu dalam praktik MTBS sehingga pekerjaan
terus berlangsung walaupun ada anggota tim yang tidak ada (9). Ini terbukti dengan
cakupan pemeriksaan balita sakit yang berkunjung di puskesmas-puskesmas lebih dari 85%,
namun sayangnya belum ada penelitian untuk tingkat kesembuhannya.
Kelemahan Case Manager.
Namun demikian keberadaan case manager ini masih lemah. Case manager tidak
masuk dalam struktur organisasi puskesmas dan kedudukkannya berada di bawah

koordinator KIA puskesmas. Dengan demikian tidak mempunyai memberikan


teguran kepada sesama anggota tim yang lain apabila tidak menaati prosedur yang ada.
Keberadaannya sebatas di lingkup puskesmas di mana dia bekerja, dan posisinya juga tidak
terakomodir di Dinas Kesehatan sehingga dalam perencanaan anggaran di tingkat kabupaten
tidak bisa dimasukkan ke dalam mata anggaran Dinkes termasuk di dalamnya adalah
insentif bagi petugas pengelola MTBS.
Posisi Konseling dalam Alur MTBS.
Pemberian konseling menjadi unggulan dan sekaligus pembeda dari alur pelayanan
sebelum MTBS. Materi meliputi kepatuhan minum obat, cara minum obat, menasehati cara
pemberian makanan sesuai umur, memberi nasehat kapan melakukan kunjungan ulang
atau kapan harus kembali segera. Dengan pemberian konseling diharapkan pengantar atau ibu
pasien mengerti penyakit yang diderita, cara penanganan anak di rumah.
Kepatuhan Petugas.
Kriteria dan Pengukuran Kepatuhan terhadap Standar.
Kepatuhan petugas terhadap standar MTBS yaitu derajat kepatuhan petugas
menangani balita sakit dengan mengikuti alur bagan yang sudah ada
Dukungan Manajemen Dinas Kesehatan.
Pengelolaan Sarana dan Prasarana.
Di dalam penanganan balita sakit yang datang ke puskesmas, puskesmas
pembantu dan polindes tentunya memerlukan sarana dan prasarana, tidak terkecuali
bila penanganannya dengan

metode MTBS. Sarana dan prasarana sudah diatur

sedemikian rupa sehingga menjadi standar untuk pengadaan barang yang


diperlukan. Sebenarnya tidak banyak peralatan dan obat-obatan yang diperlukan
untuk terlaksananya pemeriksaan terpadu balita sakit tersebut. Untuk peralatan diperlukan
timer untuk menghitung napas kalau pun tidak ada bisa memakai arloji atau jam
dinding yang ada detikannya, termometer untuk mengukur suhu badan maupun
timbangan badan untuk mengukur berat badan. Obat-obatan juga tidak terlalu sulit untuk
dicari, bahkan sebetulnya sudah rutin diadakan oleh Gudang Farmasi
Bahan cetakan juga diperlukan dalam pelaksanaan MTBS, meliputi
formulir pencatatan, Kartu Nasehat Ibu (KNI), serta buku bagan. Sedang modul
diperlukan pada saat mau pun setelah pelatihan yaitu untuk belajar memahami rangkaian

penilaian, klasifikasi maupun tindakan sampai pelaksanaan konseling. Sedangkan bagan


dinding diperlukan untuk media penyuluhan bagi pasien dalam menjelaskan langkahlangkah yang diambil oleh petugas.
Kondisi Sarana dan Prasarana
Pada pemantauan di-dapatkan beberapa item belum lengkap, diantaranya
formulir pencatatan dan modul MTBS. Sedangkan KNI di Puskesmas kosong. Bagan dinding
di semua puskesmas tersedia. Dari hasil pengamatan dan wawancara serta DKT
ternyata dibutuhkan ruangan khusus untuk tempat pemeriksaan balita sakit. Beragam
alasan yang dikemukakan untuk keperluan ruangan tersebut,salah satunya adalah
mengurangi resiko penularan penyakit TBC bila bergabung dengan poliklinik umum,
memerlukan ruangan yang bikin suasana seperti tempat bermain supaya anak tidak rewel
saat diperiksa, membutuhkan ruangan pemeriksaan yang lebih tenang dan lebih leluasa
sehingga saat menyampaikan pesan atau konseling kepada pengantar akan lebih baik dan
tidak terganggu dengan kegiatan yang lain
Ada beberapa hal yang menghambat praktik MTBS ini berjalan. Ketiadaan
insentif bagi petugas, lemahnya atau tidak adanya supervisi yang dilakukan oleh
Dinkes Kabupaten menyebabkan motivasi petugas untuk mengerjakan MTBS secara
menyeluruh menjadi rendah. Lemahnya pengetahuan dan ketrampilan petugas juga menjadi
sebab dari kekurangan tersebut . Hal ini disebabkan oleh pelatihan MTBS yang tidak
standar yaitu mengacu pada WHO 6 hari dengan sesi malam. Ketiadaan bahan cetakan
bisa menjadi penyebab kepatuhan berkurang. Puskesmas tidak mempunyai Kartu Nasehat Ibu
(KNI) yang menjadi perangkat dari konseling. Jadi pada saat konseling petugas hanya
memberikan nasihat seingatnya tanpa dipandu format khusus berupa KNI.
Jenis Fasilitas Penunjang
Tempat Pemeriksaan dan

Ketersediaan

peralatan

Manset anak tidak tersedia

Pojok Oralit

Tidak tersedia, bergabung dengan BP

Tidak tersedia

Tempat Imunisasi

TidakTersedia

Persediaan obat

Hampir semua ada

Barang Cetakan

Formulir pencatatan,belum tersedia


buku bagan dan modul MTBS tersedia
Kartu Nasehat Ibu tidak tersedia

Kepala puskesmas berperan sebagai pemimpin atau sebagai manajer.


Pada awal pelaksanaan kepala puskesmas dapat menekankan bagaimana
pentingnya

penerapan

MTBS

itu

bagi

kemudahan menjalankan tugas yang

diemban oleh petugas. Dengan demikian MTBS dilihat bukan sebagai suatu kewajiban saja
untuk dilaksanakan tetapi justru menjadi kebutuhan untuk menjalankannya. Perasaan butuh
atau memiliki inilah yang memotivasi petugas kesehatan memulai, melaksanakan dan
mempertahankan penerapan MTBS hingga sampai sekarang (12). Yang menjadi bukti
adalah penerapan MTBS masih berjalan sampai sekarang dan hampir semua balita
sakit ditangani dengan metode ini. Peran yang lain adalah bagaimana seorang
pemimpin harus mampu menerapkan MTBS, membentuk budaya organisasi, mampu
menjadi pengamat untuk memahami langkah-langkah yang dilaksanakannya, dan juga
mampu menjadi penjamin mutu dalam lingkungannya (13). Peran ini bisa dilakukan oleh
kepala puskesmas apabila dia mempunyai keahlian di bidang MTBS paling tidak dia
pernah mengikuti pelatihan MTBS.
Pengaruh Kepala Puskesmas pada Implementasi MTBS.
Kepala puskesmas yang mampu menjalankan peran selaku pemimpin dan
manajer akan mampu membuat tim MTBS yang berdaya guna melalui pembentukan hubungan
kerja sama yang kuat di antara staf sehingga menciptakan komitmen yang kuat untuk
memberikan waktu dan kemampuannya. Kemampuan melakukan manajemen yang
baik membantu membangun dan menjaga kelangsungan praktik MTBS. Pelaksanaan
supervisi yang membangun memberdayakan staf untuk belajar menghadapi tantangan
atau masalah. Manajemen yang baik juga membuat staf lebih mudah dalam
pekerjaannya, mudah mendapatkan informasi dan dapat memantau tingkat kemajuan.

Pencapaian kinerja dipengaruhi oleh beberapa faktor termasuk diantaranya


adalah peran inti dari motivasi dalam membentuk perilaku, dan secara spesifik,
dalam mempengaruhi kinerja pekerjaan dalam organisasi
1. Petugas pelaksana MTBS enggan melaksanakan MTBS karena penatalaksanaan
dengan pendekatan MTBS membutuhkan waktu yang lama. Selain itu Petugas
pelaksana MTBS juga mempunyai tugas ganda yaitu program Puskesmas yang
lain selain MTBS dan kadang harus dikerjakan di luar Puskesmas.
2. Petugas pelaksana MTBS menyatakan bahwa pimpinan Puskesmas tidak
memberikan target pencapaian pelayanan MTBS dan tidak ada prosedur tetap
yang khusus dibuat untuk pelaksanaan program MTBS setempat sehingga
pelaksanaan MTBS tidak optimal.
3. Petugas pelaksana MTB mengeluhkan tentang tidak adanya ruang pelayanan
MTBS, pengadaan formulir MTBS dan KNI (Kartu Nasihat Ibu) seringkali tidak
terpenuhi sesuai pengajuan sehingga pelaksanaan MTBS jadi terhambat.
4. Petugas pelaksana menyatakan kurangnya pembinaan, bimbingan dan arahan
terhadap pelaksanaan MTBS dari Pimpinan Puskesmas yang membuat petugas
tidak bersemangat dalam melaksanakan MTBS.
Saran
1. Hendaknya Kartu Nasehat Ibu (KNI) yang merupakan perangkat untuk
konseling dan formulir MTBS disediakan cukup, perlu ditambah jumlah
petugas pelaksana MTBS yang disesuaikan dengan jumlah kunjungan bayi
dan balita sakit di Puskesmas, dan penyiapan logistik (obat-obatan, peralatan
MTBS, formulir MTBS dan KNI) secara rinci dan matang, sebelum penerapan
MTBS di Puskesmas dimulai.
2. Pada kebijaksanaan pelaksanaan program MTBS, hendaknya Kepala
Puskesmas membuat rencana pelaksanaan kegiatan MTBS, membuat
peraturan secara jelas untuk mengimplementasikan setiap rencana kegiatan
MTBS, dan membuat rencana secara tertulis alternatif solusi apabila terjadi
problem pelaksanaan, serta bersama team yang ditunjuk membuat standar
prosedur kegiatan MTBS.

3. Persepsi supervisi pelaksanaan motivasi kerja berhubungan dengan motivasi


kerja, sehingga saran yang dapat diberikan adalah hendaknya Pimpinan
Puskesmas mensupervisi pelaksnaan MTBS secara berkala (satu bulan sekali)
dan Dinas Kesehatan melaksanakan pembinaan terhadap program MTBS
pasca pendelegasian program kegiatan kepada Puskesmas.
4. Terhadap motivasi kerja petugas pelaksana MTBS yang kurang hendaknya
hendaknya pimpinan Puskesmas Susukan. Dalam memberikan motivasi atau
dorongan menggunakan pendekatan yang disesuaikan dengan karakteristik
bawahannya.
5. Pimpinan

Puskesmas

mempertimbangkan

kompensasi

yang

dapat

meningkatkan penghasilan bawahannya antara lain pemberian insentif/reward


bagi staf yang mampu menjalankan program Puskesmas dengan baik dan
dibuatnya prosedur/aturan tentang tindakan medis atau kegiatan-kegiatan apa
saja, yang akan mendapatkan insentif.