Anda di halaman 1dari 15

PANDUAN

PMTCT
(Prevention of Mother to Child HIV
Transmission)

OLEH :
TIM AKREDITASI

RSUD BADUNG

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH BADUNG


JL RAYA KAPAL MENGWI BADUNG
TLP (0361) 9006812-9006813

KATA PENGANTAR

Human Immunodeficiency Virus (HIV) dapat ditularkan melalui


berbagai macam cara. Faktor penularan HIV terbesar di Indonesia
melalui jalur hubungan seksual tanpa kondom ataupun melalui
penggunaan jarum suntik tidak steril di kalangan pengguna narkoba.
Salah satu factor penularan lainnya adalah melalui ibu HIV positif
kepada bayi yang dikandungnya, atau yang populer dalam istilah
Mother to Child HIV Transmission (MTCT).
Kasus penularan HIV dari ibu ke bayi jumlahnya semakin
meningkat di Indonesia Telah ada ibu rumah tangga yang terinfeksi HIV
dari suaminya. Demikian pula telah lahir bayi-bayi dengan HIV positif .
Di Indonesia masalah penularan HIV dari ibu ke bayi di khawatirkan
semakin berat karena pesatnya peningkatan kasus HIV /AIDS yang
berakibat terjadinya penularan HIV ke pasangannya.
Panduan ini berisi tentang konsep PMTCT di Rumah Sakit Umum Daerah
Kabupaten Badung. Dalam penyusunan buku panduan ini, penulis banyak mendapatkan
bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak terutama dari KARS DepKes RI, dan semua
pihak yang ikut membantu, untuk itu penulis mengucapkan banyak terima kasih.
Dalam penyusunan buku panduan ini, penulis menyadari masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu penulis membuka diri untuk segala kritik dan saran yang
membangun. Akhir kata, semoga buku panduan ini dapat bermanfaat bagi kita semua di
Rumah Sakit Umum Daerah Kabupaten Badung .

Mangupura, Nopember
2012

Prevention of Mother to Child HIV


Transmission
A. Pengertian
PMTCT ( Prevention of Mother to Child HIV Transmission) adalah suatu
upaya mencegah infeksi HIV pada perempuan , serta mencegah
penularan HIV dari ibu ke bayi.
Upaya pencegahan ini dilakukan melalui suatu program. Departemen
Kesehatan RI dan Komisi penanggulangan AIDS Nasional telah
berkomitmen untuk meningkatkan cakupan program pencegahan
penularan HIV dari ibu ke bayi di Indonesia. Sebagai pedoman untuk
menjalankan program tersebut, perlu adanya kebijakan pemerintah
tentang pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi. Kebijakan itu
mencakup hal-hal penting pada tiap langkah intervensi program.
B. Tujuan
1.Tujuan Umum
Menurunkan angka kesakitan HIV AIDS melalui peningkatan mutu
pelayanan konseling dan testing serta perlindungan bagi petugas
layanan PMCT dan klien di RSUD Kabupaten Badung.
2. Tujuan Khusus
a. Mencegah Penularan HIV dari Ibu ke Bayi
b. Mendeteksi dini kejadian HIV pada ibu dan bayi
c. Mengurangi dampak epidemi HIV terhadap Ibu dan Bayi
C. Ruang Lingkup
1. Instalasi Rawat jalan
2. Instalasi Rawat Inap
3. Instalasi Gawat Darurat
4. Instalasi Rawat Intensif
5. Instalasi Laboratorium
6. Farmasi
D. Tata Laksanana
1. Kebijakan program pencegahan Penularan HIV dari ibu ke
bayi
a. Integrasi program
1). Kebijakan umum pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi
sejalan dengan kebijakn umum kesehatan ibu dan anak dan
kebijakan penanggulangan HIV/AIDS di Indonesia.
2). Layanan pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi
diintegrasikan dengan paket layanan kesehatan ibu dan anak
dan layanan keluarga berencana di tiap jenjang pelayanan
kesehatan.
3). Semua perempuan yang datang ke pelayanan kesehatan ibu
dan anak dan layanan keluarga berencana di tiap jenjang

pelayanan

kesehatan

mendapat

informasi

pencegahan

penularan HIV selama masa kehamilan dan menyusui


2. PRONG
a. Program untuk mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu ke
bayi , dilaksanakan secara komprehensif dengan menggunakan
empat prong, yaitu:
1) Prong 1: mencegah terjadinya penularan HIV pada perempuan
usia reproduksi
2) Prong 2: Mencegah kehamilan yang tidak direncanakan pada
ibu HIV positif
3) Prong 3:Mencegah terjadinya penularan HIV dari ibu hamil HIV
positif ke bayi yang dikandungnya
4) Prong 4:Memberikan dukungan
perawatan

kepada

keluarganya
b. Pada
daerah

ibu

dengan

HIV

psikologis

positif

prevalensi

sosial

dan

bayi

dan

beserta

HIV

yang

rendah,

diimplementasikan Prong 1 dan Prong 2.


c. Pada daerah dengan prevalensi HIV yang terkonsentrasi ,
diimplementasikan semua prong
d. Ke-empat prong secara nasional dikoordinir dan dijalankan oleh
pemerintah, serta dapat dilaksanakan institusi kesehatan swasta
dan lembaga swadaya masyarakat.
3. Konseling dan tes HIV sukarela
a. Konseling HIV menjadi salah

satukomponen

standar

dari

pelayanan kesehatan ibu dan anak dan layanan keluarga


berencana di tiap jenjang pelayanan kesehatan.
b. Penatalaksanaan konseling dan tes HIV sukarela

untuk

mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi mengikuti Pedoman


Nasional Konseling dan Tes HIV sukarela.
c. Tes HIV dilakukan kepada semua ibu hamil (routine HIV testing)
di seluruh rumah sakit rujukan ODHA yang telah ditetapkan
pemerintah.
d. Ibu hamil menjalani konseling dan diberikan kesempatan untuk
menetapkan sendiri keputusannya untuk menjalani tes HIV atau
tidak
e. Di daerah prevalensi HIV tinggi yang tidak terdapat layanan
pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi , untuk menentukan
factor-faktor risiko ibu hamil digunakan beberapa kriteria ,
seperti

memiliki

penyakit

menular

seksual,

berganti-ganti

pasangan, pengguna narkoba dan lain-lain.


f. Layanan tes HIV dipromosikan dan dimungkinkan bagi laki-laki
dan perempuan yang merencanakan untuk memiliki bayi
g. Pada tiap jenjang pelayanan kesehatan yang memberikan
konseling dan tes HIV sukarela dalam paket pelayanan kesehatan
ibu dan anak dan layanan keluarga berencana, harus terdapat

tenaga petugas yang mampu memberikan konseling sebelum


dan sesudah tes HIV.
h. Pada layanan kesehatan ibu dan anak dan layanan keluarga
berencana yang memberikan layanan konseling dan tes HIV
sukarela , konseling pasca tes (post test counseling) bagi
perempuan HIV negative diberikan bimbingan untuk tetap HIV
negative selama kehamilan, menyusui dan seterusnya.
i. Pada tiap jenjang pelayanan kesehatan tersebut harus terjamin
aspek kerahasiaan ibu hamil ketika mengikuti proses konseling
sebelum dan sesudah tes HIV.
j. Untuk program pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi,
pemerintah memberikan bantuan biaya koseling dan tes HIV bagi
ibu hamil di tiap jenjang layanan kesehatan.
4. Pemberian obat Antiretroviral
a. Protokol pemberian obat antiretroviral (ARV) untuk ibu hamil HIV
positif

mengikuti

Pedoman

Nasional

Pengobatan

ARV

di

Indonesia.
b. Pemerintah menyediakan ARV untuk ibu hamil HIV positif secara
gratis

untuk

mengurangi

risiko

penularan

HIV

ke

bayi.

Pemerintah juga menyediakan ARV untuk mempertahankan


kualitas fisiknya.
5. Persalinan yang aman
a. Ibu hamil HIV positif perlu mendapat koseling sehubungan
dengan keputusannya untuk menjalani persalinan secara operasi
seksiosesaria ataupun persalinan normal.
b. Pelaksanaan persalinan , baik secara operasi seksio sesarea
maupun persalinan normal, Harus memperhatikan kondisi fisik
dari ibu hamil HIV positif.
c. Tindakan menolong persalinan ibu hamil HIV positif, baik secara
operasi seksio sesarea maupun persalinan normal, mengikuti
standar

kewaspadaan universal yang biasa

berlaku untuk

persalinan ibu hamil HIV negative.


d. Untuk program pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi,
pemerintah memberikan bantuan layanan persalinan gratis
kepada ibu hamil HIV positif.
6. Pemberian makanan Bayi
a. Ibu hamil HIV positif perlu mendapatkan konseling sehubungan
dengan

keputusannya

untuk

menggunakan

susu

formula

ataupun ASI eksklusif


b. Untuk mrngurangi Risisko penularan HIV melalui pemberian ASI ,
ibu HIV positif bias memberikan susu formula kepada bayinya.
c. Pada daerah tertentu dimana pemberian susu formula tidak
memenuhi persyaratan AFASS dari WHO ( Acceptable = mudah
diterima,

Feasible

=mudah

dilakukan,Affordable=harga

terjangkau;

Sustainable=berkelanjutan,

Safe=

aman

penggunaannya), maka ibu positif dianjurkan memberikan ASI


ekslusif hingga maksimal tiga bulan atau lebih pendek jika susu
formula memenuhi AFASS sebelum tiga bulan.
d. Setelah usai pemberian ASI Ekslusif , bayi hanya diberikan susu
formula dan menghentikan pemberian ASI.
e. Sangat tidak direkomendasikan pemberian makanan campuran
(mixed feeding) untuk bayi dari ibu HIV positif , yaitu ASI
bersamaan

dengan

susu

formula

dan

makanan

minuman

lainnya.
f. Untuk program pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi ,
pemerintah menyediakan susu formula generic secara gratis
kepada ibu hamil HIV positif jika susu formula memenuhi standar
AFASS.
g. Susu formula

generik

tersebut

di

simpan

di

pusat

dan

didistribusikan secara rutin sesuai dengan kebutuhan daerah.


Depot di daerah difungsikan untuk menyimpan susu formula .
Pengadaan

susu

formula

harus

terpusat

untuk

menjamin

ketersediaaan susu formula generik dan mencegah promosi susu


formula terhadap ibu HIV negative.
7. Alur Penularan HIV dari IBU ke Bayi
Banyak kalangan termasuk juga tenaga kesehatan berasumsi
bahwa semua bayi yang dilahirkan oleh ibu HIV positif pastikah akan
juga terinfeksi HIV karena darah bayi menyatu dengan darah ibu di
dalam kandungan. Ternyata sirkulasi darah janin dan Ibu dipisahkan di
plasenta oleh beberapa sel. Oksigen , makanan, antibodi dan obatobatan memang dapat menembus plasenta , tetapi HIV biasanya tidak
dapat menembusnya. Plasenta justru melindungi janin dari infeksi HIV .
Namun, jika plasenta meradang , terinfeksi ataupun rusak , maka bisa
jadi virus akan lebih mudah menembus plasenta, sehingga terjadi
penularan HIV ke bayi.
Penularan HIV umumnya terjadi pada saat persalinan ketika
kemungkinan terjadi percampuran darah ibu dan lendir ibu dengan
bayi. Tetapi sebagian besar bayi dari ibu HIV positif tidak tertular HIV.
Jika tidak dilakukan inetervensi terhadap ibu hamil HIV positif , maka
resiko penularan HIV dari ibu ke bayi berkisar antara 25-45 persen.
Waktu dan resiko penularan HIV dari ibu ke bayi:
1. Selama Kehamilan resiko bayi tertular 5-10 %
2. Ketika persalinan resiko bayi tertular 10-20 %
3. Penularan Melalui Air Susu Ibu resiko bayi tertular 10-20 %
Jadi resiko penularan keseluruhan risiko penularan 25-45%
Bagan Penularan HIV kepada Ibu dan Anak

1. Seks tanpa kondom


dengan perempuan
lain (PSK)
2. Pengguna Narkoba
suntikan (jarum tak
steril, pakai
bergantian).
3. Istri yang terinfeksi
Bayi beresiko
tertular HIV

Tertular HIV

Hubungan seks tanpa


kondom dengan istri

Istri hamil dengan HIV


dan AIDS

Istri Tertular HIV

8. Diagnosis Infeksi HIV pada Bayi


Diagnosis HIV pada bayi yang lahir dari ibu HIVpositif

tidak mudah

ditegakkan. Tantangan untuk diagnosis ini adalah:


1. Penularan HIV dapat terjadi selama kehamilan, terutama trimester
ketiga , selama proses persalinan dan masa menyusui. Meskipun
diketahui selama kehamilan bayi mungkin tertular HIV , belum ada
penelitian yangmemeriksa bayi di dalam kandungan untuk deteksi
HIV. Selain itu juga terdapat masa jendela (window period) setelah
seseorang terinfeksi HIV yang dapat berlangsung hingga 6 bulan.
Pada masa jendela ini HIV telah ada di dalam tubuhnya. Tetapi
karena tubuh belum cukup membentuk antibody maka tes HIV yang
biasanya melakukan tes keberadaan antibodi HIV akan memberikan
hasil negatif palsu .
2. Antibodi terhadap HIV ibu ditransfer melalui plasenta selama
kehamilan . Jadi, semua bayi yang lahir dari ibu HIV positif bila
diperiksa antibody HIV , hasilnya akan positif. Akan tetapi virusnya
tidak selalu ditransfer. Akan tetapi virusnya tidak selalu ditransfer.
Antibodi HIVdari ibu paling sedikit berada pada darah bayi selam 6
bulan pertama kemudian menghilang. Tetapi umumnya antibody
HIV tidak akan terdeteksi lagi setelah umur bayi 12 bulan. Untuk
beberapa bayi antibody bahkan masih dapat terdeteksi lagi setelah
umur bayi 18 bulan. Sebaliknya bayi yang terinfeksi akan membuat
antibody sendiri , karena bayi yang berusia lebih dari 18 bulan
dengan hasil pemeriksaan antibody positif sudah pasti terinfeksi
HIV.
Di Indonesia , teknik pemeriksaan antibody dikenal dengan ELISA,
Aglutinasi

dan

dotblot

immunobinding

assay.

Pemeriksaan

laboratorium dapat dipakai untuk membantu menegakkan diagnosis


adalah dapat menemukan virus atau partikelnya dalam tubuh seorang
bayi . Meskipun beberapa tes dapat mendeteksi HIV di tubuh bayi pada
usia dini, tes tersebut (seperti tes PCR) belum secara luas tersedia di
Indonesia.

9. Faktor resiko penularan HIV dari Ibu ke Bayi


Ada dua faktor yang menjelaskan resiko penularan HIV dari ibu ke Bayi:
a. Faktor Ibu dan Bayi
1).Faktor Ibu
Faktor yang paling utama mempengaruhi risiko penularan
HIV dari ibu ke bayi adalah kadar HIV (viral load ) di darah ibu
pada menjelang ataupun saat persalinan dan kadar HIV di air
susu ibu ketika ibu menyusui bayinya. Risiko penularan akan
lebih besar jika ibu memiliki kadar HIV yang tinggi pada
menjelang ataupun saat persalinan . Ibu dengan CD4 yang
rendah (menurunnya sistem pertahanan tubuh) mempunyai
risiko penularan yang lebih besar, terlebih jika jumlah sel CD 4
kurang dari 200 . Ada hubungan langsung antara CD4 dan kadar
HIV karena semakin tinggi kadar HIV semakin rendah CD4 di
tubuh ODHA.
Semakin rendah jumlah sel CD 4 , akan semakin besar
risiko penularan HIV dari ibu ke bayi melalui pemberian Air Susu
Ibu (ASI).

2). Faktor bayi


Bayi yang lahir prematur dan memiliki berat badan lahir
rendah diduga lebih rentan untuk tertular HIV dikarenakan sistem
organ tubuh bayi tersebut belum berkembang biak, seperti
sistem kulit dan mukosa, dll. Seorang bayi dari ibu HIV positif
bisa jadi tetap HIV negatif selama masa kehamilan dan proses
persalinan

tetapi

mungkin

akan

terinfeksi

HIV

melalui

pemberian ASI. HIV terdapat di ASI walaupun konsentrasinya jauh


lebih kecil dibandingkan HIV di dalam darah. Antara 10-20 % bayi
yang dilahirkan oleh ibu HIV positif akan terinfeksi HIV melalui
pemberian ASI (hingga 18 bulan atau lebih). Faktor yang
mempengaruhi tingkat risiko penularan HIV melalui pemberian
ASI:
a). Umur bayi.
Bayi berusia enam bulan pertama berisiko tertular HIV
lebih besar melalui ASI (50-70%) , dibandingkan setelah
tahun kedua umur bayi tersebut.
b). Luka di mulut bayi
Bayi yang memiliki luka di mulutnya memiliki risiko
untuk tertular
HIV lebih besar ketika diberikan ASI.
b. Faktor cara penularan
Sebagian besar penularan HIV dari ibu ke bayi terjadi pada saat
persalinan.

Ketika

proses

persalinan,

tekanan

pada

plasenta

meningkat yang bisa menyebabkan terjadinya sedikit percampuran

antara darah ibu dan darah bayi. Hal ini lebih sering terjadi jika
plasenta meradang atau terinfeksi.
Pada saat persalinan , bayi terpapar darah dan lendir ibu di jalan
lahir. Kulit dari bayi yang baru lahir masih sangat lemah dan lebih
mudah terinfeksi jika kontak dengan HIV. Bayi mungkin juga
terinfeksi karena menelan darah ataupun lendir ibu. Ketuban pecah
lebih dari empat jam sebelum persalinan akan meningkatkan resiko
penularan hingga dua kali lipat dibandingkan jika ketuban pecah
kurang dari empat jam sebelum persalinan.
Bayi yang diberikan ASI ekslusif kemungkinan memiliki resiko
terinfeksi HIV lebih rendah dibandingkan bayi yang mengkonsumsi
makanan campuran (mixed feeding) yaitu ASI , susu formula dan
makanan padat lainnya.
MASA KEHAMILAN
Ibu baru terinfeksi HIV
Ibu
virus,

memiliki
bakteri,

MASA PERSALINAN
Ibu baru terinfeksi HIV

infeksi Ibu

mengalami

MASA MENYUSUI
Ibu baru terinfeksi HIV

pecah Ibu

memberikan

parasit ketuban lebih dari 4 jam dalam

periode

(seperti malaria).
sebelum persalinan
lama
Ibu
memiliki
Infeksi Terdapat tindakan medis Ibu
Menular Seksual (IMS)

yang

yang

memberikan

dapat makanan

meningkatkan

Asi

kontak (mixed

campuran

feeding

untuk

dengan darah ibu atau bayi


cairan

tubuh

(seperti

penggunaan vakum atau


Ibu

forseps, dan episiotomi)


menderita Bayi merupakan janin Ibu

kekurangan gizi (akibat pertama


tak langsung)

dari

kehamilan
(karena

memiliki

masalah

suatu pada payudara, seperti


ganda mastitis, abses luka di

lebih

dengan leher

dekat puting payudara.


rahim

serviks)
Ibu memiliki

Bayi memiliki luka di

khorioamnionitis (dari

mulut

IMS yang tak diobati


atau infeksi lainnya).
10.
Strategi mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi
a. Pencegahan penularan HIV pada Perempuan Usia Reproduksi
Strategi ini biasa disebut pencegahan primer ( primary prevention),
yang bertujuan untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke bayi
secara dini, bahkan sebelum terjadinya hubungan seksual. Untuk
menghindari penularan HIV , pemerintah dan berbagai lembaga
swadaya masyarakat menggunakan konsepABCD, yang artinya:

1) A (Abstinence): absen seks ataupun tidak melakukan hubungan


seksual bagi orang yang belum menikah.
2) B (Be faithful): Bersikap saling setia kepada satu pasangan seks
(tidak berganti-ganti.
3) C (Condom) : Cegah penularan HIV dengan memakai kondom.
Kondom harus dipakai oleh pasangan seks yang salah satu
diantaranya telah diketahui terinfeksi HIV.
4) D ( Drug No) : Dilarang menggunakan narkoba
Aktivitas yang dapat dilakukan pada pencegahan primer:
1)
2)
3)
4)
5)

Menyebarluaskan informasi (KIE ) tentang HIV/AIDS


Mengadakan penyuluhan HIV/AIDS secara berkelompok
Mobilisasi masyarakat
Konseling untuk perempuan HIV negatif
Layanan yang bersahabat untuk pria

b. Pencegahan kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif


Salah satu cara yang paling efektif adalah dengan mencegah
kehamilan yang tidak direncanakan pada ibu HIV positif usia
reproduktif. Hal yang dibutuhkan adalah layanan konseling dan tes
HIV sukarela dan sarana kontrasepsi yang aman dan efektif. Jika Ibu
dengan HIV positif tetap ingin anak , WHO menganjurkan jarak
antara kelahiran minimal dua tahun. Adapun cara kontrasepsi yang
dipilih untuk mencegah kehamilan , setiap berhubungan seks
dengan

pasangannya

harus

menggunakan

kondom.Beberapa

aktifitas untuk mencegah kehamilan pada ibu HIV positif:


1) Mengadakan KIE tentang HIV/AIDS dan praktek seks aman
2) Menjalankan konseling dan tes HIV sukarela untuk pasangan
3) Melakukan upaya pencegahan dan pengobatan IMS
4) Melakukan promosi kondom
5) Menganjurkan ibu HIV positif mengikuti keluarga berencana
dengan cara yang tepat
6) Senantiasa menerapkan kewaspadaan universal
7) Membentuk dan menjalankan layanan rujukan.
c. Pencegahan penularan HIV pada ibu hamil HIV positif ke bayi
Merupakan inti dari intervensi pencegahan penularan HIV dari Ibu
ke bayi, bentuk intervensi itu:
1) Pelayanan kesehatan ibu dan anak yang komprehensif
Pelayanan ini meliputi pelayanan kesehatan ibu dan anak yang
komprehensif

meliputi

pelayanan

pra

persalinan

pasca

persalinan serta kesehatan anak.


2) Layanan konseling dan tes HIV secara sukarela
Satu-satunya cara untuk mengetahui status HIV seseorang
adalah melalui tes darah. Syarat dari pelaksanaan tes darah
tersebut adalah bersifat sukarela , rahasia terdapat adanya
konseling sebelum dan sesudah tes, serta adanya persetujuan
tertulis (informed consent). Kegiatan ini dikenal dengan nama
Voluntary Counselling and Testing (VCT). Layanan konseling dan

tes HIV sukarela akan sangay baik jika diintegrasikan dengan


pelayanan keluarga berencana, alasannya:
a). Dengan menjadikan konseling dan tes HIV sukarela sebagai
sebuah layanan rutin di kesehatan ibu dan anak dan layanan
keluarga berencana akan mengurangi stigma terhadap HIV/AIDS.
b). Layanan rutin konseling dan tes HIV sukarela di pelayanan
kesehatan ibu dan anak akan menjangkau banyak ibu hamil.
c). Menjalankan konselingdan tes HIV sukerala di klinik kesehatan
ibu dan anak akan mengintegrasikan program HIV/AIDSdengan
layanan kesehatan lainnya, seperti pengobatan IMS dan infeksi
lainnya , pemberian Gizi dan keluarga berencana. Protokol tes
darah yang biasa digunakan adalah ELISA dengan menggunakan
tiga reagen yang berbeda. Jika ada keraguan terhadap hasil tes
sebaiknya putuskan situasi yang terburuk , yaitu dianggap hasil
tes positif.
3).Pemberian obat antiretroviral
ARV dapat diberikan kepada semua perempuan yang sedang
hamil tanpa harus memeriksakan kondisi CD4-nya lebih dahulu
dengan tujuan untuk mengurangi resiko penularan HIV ke bayi
yang

sedang

dikandungnya.

Fungsi

pemberian

ARV

pada

kehamilan untuk mengoptimalkan kesehatan ibu dan resiko


penularan HIV ke bayi dengan cara menurunkan kadar HIV
serendah

mungkin

mungkin

(fungsi

ini

dinamakan

upaya

profilaksis).
4). Konseling tentang HIV dan makanan bayi
WHO

menyebutkan

bahwa

bayi

dari

ibu

HIV

positif

direkomendasikan untuk tidak diberikan ASI, jika susu formula


memenuhi persyaratan WHO yang disebut dengan AFASS yaitu
Acceptable,feasible,Affordable,sustainable,dan safe .
Berdasarkan pedoman WHO , rekomendasi untuk konseling dan
pemberian makanan bayi dalam pencegahan penularan HIV dari
ibu ke bayi adalah sebagai berikut:
a) Memberikan penjelasan tentang risiko penularan HIV dari
ibu ke bayi
b) Memberikan penjelasan tentang kelebihan dan kekurangan
dari pilihan pemberian makanan bayi ( susu formula atau
ASI ekslusif ), dimulai dari pilihan ibu yang pertama.
c) Bersama ibu menggali informasi kondisi rumah ibu dan
situasi keluarganya.
d) Membantu ibu untuk

menentukan

makanan bayi yang paling tepat.

pilihan

pemberian

e) Mendemontrasikan

bagaimana

praktek

pemberian

makanan bayi yang dipilih. Berikan brosur yang bisa


dibawa pulang.
f) Memberikan konseling dan dukungan lanjutan
g) Ketika kunjungan pasca persalinan, melakukan:
Monitoring pertumbuhan bayi
Cek praktek pemberian makanan bayi dan apakah
ada perubahan yang diinginkan.
Cek tanda-tanda penyakit.
Selain itu mendiskusikan pemberian makanan selanjutnya
setelah , menghentikan ASI untuk bayi usia 4 hingga 24 bulan.
5). Persalinan yang aman
Untuk memberikan layanan persalinan yang optimal kepada ibu
hamil HIV positif direkomendasikan kondisi-kondisi berikut ini
sebagaimana yang tercantum dalam kebijakan di halamanhalaman awal pedoman ini:
a). Ibu hamil HIV positif perlu dikonseling sehubungan dengan
keputusan sendiri untuk melahirkan bayi secara seksio sesarea
atupun normal.
b). Pelaksanaan persalinan , baik secara seksio sesarea maupun
normal, harus memperhatikan kondisi fisik ibu berdasarkan
penilaian dari tenaga kesehatan
c) Menolong persalinan secara seksio sesarea maupun normal
harus mengikutin standar kewaspadaan universal.
6. Dukungan psikologis sosial dan perawatan kepada ibu HIV positif
beserta bayi dan keluarganya
Hal yang mungkin dibutuhkan oleh ibu HIV positif antara lain:
a. Pengobatan HIV jangka panjang
b. Pengobatan gejala penyakitnya
c. Bantuan pemeriksaan kondisi kesehatan (termasuk CD 4 ataupun
kadar HIV)
d. Bantuan dan arahan nutrisi
e. Penyuluhan kepada anggota keluarga tentang cara pencegahan /
penularan HIV
f. Pencegahan dan pengobatan infeksi oportunistik untuk dirinya
dan bayinya
g. Layanan klinik dan rumah sakit yang bersahabat jika anaknya
h.
i.
j.
k.
l.

sakit
Kunjungan rumah
Dukungan teman teman sesama HIV positif
Bantuan finansial (membantu kehidupan sehari-hari)
Didampingi jika sedang dirawat di rumah sakit
Dukungan dari pasangan.

7. Implementasi program
Dua aktivitas penting dalam implementasi program adalah :
a. Mobilisasi Masyarakat
Kegiatan yang dijalankan berupa penyuluhan-penyuluhan kepada
ibu hamil dan pasangannya agar mau memeriksakan kondisinya

kehamilan dan pelayanan kesehatan ibu dan anak di sarana


pelayanan kesehatan. Penyuluhan yang dilakukan bisa berupa
penyebarluasan media cetak (seperti poster, leaflet dan brosur )
ataupun menggunakan media komunikasi lokal di lingkungan
masyarakat.
b. Partisipasi pria
Peran aktif dari pasangan ibu hamil akan sangat membantu
peningkatan cakupan layanan pencegahan penularan HIV dari ibu
ke bayi. Parisipasi pria (male involvement) akan mendukung ibu
hamil untuk datang ke pelayanan kesehatan ibu dan anak serta
membantu ibu hamil pada saat-saat penting , seperti menentukan
apakah ingin menjalani tes HIV , mengambil hasil tes, menggunakan
obat ARV, ataupun memilih makanan bayi agar tidak tertular HIV.
c. Arti penting konseling
Jenis konseling dalam hubungannya dengan pencegahan penularan
HIV dari ibu ke bayi:
1) Konseling sebelum dan sesudah tes HIV
2) Konseling ARV
3) Konseling kehamilan
4) Konseling pemberian makanan bayi
5) Konseling psikologis dan sosial
d. Monitoring dan evaluasi
Saat ini di indonesia belum memiliki perangkat monitoringdan
evaluasi untuk pencegahan dan penularan HIV dari ibu ke bayi, oleh
karena untuk memonitoring dan evaluasi akan digunakan perangkat
secara global.
e. Arti penting pelatihan
Pelatihan yang diperlukan untuk memperkuat pelaksanaan program
pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi:
1) Pelatihan Konselor VCT bagi petugas sarana layanan kesehatan
2) Pelatihan kewaspadaan universal bagi petugas sarana layanan
kesehatan
3) Pelatihan penatalaksanaan infeksi menular seksual bagi petugas
sarana layanan kesehatan
4) Pelatihan Asuhan persalinan normal bagi petugas sarana layanan
kesehatan
5) Pelatihan perawatan dukungan dan pengobatan ODHA bagi
petugas layanan kesehatan
6) Pelatihan penatalaksanaan tes HIV bagi petugas laboratorium
7) Pelatihan manajemen ARV bagi petugas farmasi
8) Pelatihan konselor pemberian makanan bayi bagi petugas sarana
layanan kesehatan
9) Pelatihan konselor pemberian makanan bayi bagi petugas sarana
layanan kesehatan
10)
Pelatihan mobilisasi masyarakat bagi tenaga kader PKK/
tokoh masyarakat
11)
Pelatihan relawan pendamping ODHA bagi tenaga LSM.

ALUR KEGIATAN IBU HAMIL DALAM MENCEGAH TERJADINYA PENULARAN


HIV DARI IBU HIV POSITIF KE BAYINYA
Ibu
hamil
Partisipasi
pria
Pelayanan KIA untuk
ibu hamil di klinik KIA
Puskesmas

Mobilisasi
Masyarakat
Penyuluhan kesehatan
dan PMTCT di
masyarakat

Informasi konseling dan tes HIV sukarela


(VCT)
Tak bersedia dikonseling
pre test

Bersedia di konseling
pre test

Perintah
tenaga LSM
kader
Dokter
.Bidan/.Perawat
.Tenaga
.Kader

. Dokter
.Bidan/.Perawat .
Tenaga
.Kader
masyarakat

.
Tak bersedia ditest HIV
Konseling untuk tetap HIV
negative dan evaluasi
berkala

Bersedia di test
HIV
Pemeriksaan
laboratorium

konselor
Dokter,
perawat
Petugas
laboratorium

Konselor VCT
Hasil tes HIV negatif

Konseling post
test
Hasil test HIV positif

Konseling dan pemberian


ARV
Konseling danpemberian makanan
bayi
Persalinan yang
aman

1.

Dukungan psikososial dan


perawatan bagi ibu HIV positif
dan bayinya

. Konselor VCT
Relawan
ODHA
(support
group)
Dokter
relawan /keluarga
Pemantau minum
ARV
Dokter
Relawan
Dokter
Bidan

Dokter
Bidan/perawat
Relawan
ODHA(support
group)