Anda di halaman 1dari 7

POLA INTERAKSI TUMBUHAN

AMENSALISME

I.Ramadhan, R. Hanifah, D. T. Rachmah, R.G. Abadhaniar, N. Wahyuningsih


Jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Teknologi Sepuluh
Nopember (ITS)
Jl. Arief Rahman Hakim, Surabaya 60111 Indonesia
e-mail: ilham14@mhs.bio.its.ac.id

Abstrak- Amensalisme merupakan interaksi yang menekan satu organisme,


sedangkan yang lain tetap stabil atau salah satu organisme dirugikan tetapi organisme
lain tidak diuntungkan maupun dirugikan. Amensalisme Salah satu contoh amensalisme
adalah interaksi alelokemis, yaitu penghambatan satu organisme oleh organisme lain
melalui pelepasan produk metabolit ke lingkungan. Bagian interaksi alelokemis yang
hanya melibatkan tumbuhan disebut alelopati. Tujuan dari praktikum ini adalah untuk
mengetahui dan memahami prinsip dasar alelopati dan pengaruh alelopati suatu jenis
tumbuhan terhadap pertumbuhan tumbuhan lain. Metode yang digunakan adalah
dengan menggunakan biji Vigna radiata dan Glycin max yang ditetesi ekstrak alelopati
(Pluchea indica) dengan konsentrasi 0%, 25%, 50% dan 75% selama 14 hari. Hasil yang
didapatkan pada hari ke 14 dengan konsentrasi 0% jumlah daun 2 lembar dan tinggi
batang 30,16cm, pada konsentrasi 25% jumlah daun 2 lembar dan tinggi tanaman
25,72cm, pada konsentrasi 50% jumlah daun 0 an tinggi tanaman 4,88cm, pada
konsentrasi 75% jumlah daun 0 dan tinggi tanaman sekitar 0cm.
Kata Kunci Alelokemis, Alelopati, Amensalisme, Glycin max, Vigna angularis.
I.

PENDAHULUAN

Amensalisme yaotu interkasi antara dua


atau lebih spesies yang berakibat salah satu
pihak dirugikan, sedangkan pihak lainnya
tidak terpengaruh yaitu tidak rugi dan tidak
untung. Tipe interaksi amensalisme ini
diberi lambing (-,0). Pada kebanyakan
kasus, organism yang dirugikan disebabkan
oleh bahan kimia yang dikenal sebagai
allelopathy [1]. Alelopati meliputi interaksi
biokimiawi secara timbal balik, yaotu yang
bersifat
penghambatan
maupun
perangsangan antara semua jenis tumbuhan
termasuk mikroorganisme. Batas alelopati
sebagai keadaan merugikan yang dialami
tumbuhan akibat tumbuhan lain, termasuk
mikroorganisme, melalui produksi senyawa
kimia yang dilepaskan ke lingkungannya
[2]. Senyawa alelopati dapat ditemukan

pada jaringan tumbuhan (daun, batang, akar,


rhizome, bunga, buah dan biji). Senyawasenyawa tersebut dapat dilepas dari jaringan
tumbuhan melalui berbagai cara yaitu
melalui penguapan, eksudat akar, pencucian
dan pembusukan bagian-bagian organ yang
mati [3].
Zat-zat kimia atau bahan organik
yang bersifat allelopathy dapat dibagi
menjadi
dua
golongan
berdasarkan
pengaruhnya terhadap tumbuhan atau
tanaman lain sebagai berikut [1],
1. Autotoxic, yaitu zat kimia bersifat
allelopathy dari suatu tumbuhan yang dapat
mematikan atau menghambat pertumbuhan
anaknya sendiri atau individu lain yang
sama jenisnya. Contoh tumbuhan yang
autotoxic yaitu mangium, akasia, dan
sengon buto.

Pola Interaksi Tumbuhan Amensalisme


2. Antitoxic, yaitu zat kimia bersifat allelopathy
dari suatu tumbuhan yang dapat mematikan
atau menghambat pertumbuhan tumbuhan lain
yang berbeda jenisnya. Contoh tumbuhan yang
antitoxic yaitu pinus, ilalang, johar, agatis,
mangga, mimba, dan jati.
Kerugian dengan adanya amensalisme
ini yaitu dapat menghambat penyerapan hara,
menghambat
pembelahan
sel-sel
akar
tumbuhan, memengaruhi perbesaran sel
tumbuhan,
menghambat
respirasi
akar,
menghambat sintesis protein, menurunkan daya
permeabilitas membran pada sel tumbuhan
serta menghambat aktivitas enzim[1].
II.

ekstraknya. Konsentrasi yang dibuat adalah 0


ml/L, 25 ml/L, 50ml/L, 75ml/L.
Untuk uji alelopati, disiapkan botol bekas
air mineral yang telah dipotong, kemudian diisi
dengan kapas lemak secukupnya. Kapas
dibasahi dengan air dan biji kacang merah serta
kacang kedelai di tanam dengan jarak yang
seragam pada permukaan kapas. Masingmasing biji ditetesi dengan ekstrak alelopati
setiap dua kali sehari selama 14 hari berturutturut. Perkecambahan biji dan pertumbuhan
tanaman diamati seriap hari dengan variabel
berupa tinggi tanaman dan jumlah daun. Data
pengamatan dicatat dalam tabel pengamatan
harian.

METODOLOGI

2.1 Waktu dan Tempat


Praktikum ini dilaksanakan pada tanggal 19
Maret 2016 hingga 3 April 2016 pukul 09.00
WIB dan 15.00 WIB di Laboratorium Botani
Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Institut Teknologi Sepuluh
Nopember.
2.2 Alat dan Bahan
Alat dan bahan yang digunakan dalam
praktikum ini adalah pisau, mortar atau blender,
botol bekas air mineral 1,5 liter dipotong
membujur menjadi dua bagian, botol plakon
ekstrak alelokemis, pipet tetes, kspsd lemak,,
alat tulis dan penggaris, form tabel data
pengamatan harian, daun Pluchea indica,biji
tanaman kacang merah Vigna angularis dan
kedelai (Glycin max).
2.3 Prosedur Kerja
Untuk preparasi ekstrak alelokemis, daun
Pluchea indica dihaluskan dengan mortar atau
blender tanpa ditambahkan air. Kemudian daun
yang sudah halus disaring untuk diambil

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Fungsi Perlakuan


Dalam praktikum Amensalisme terdapat
beberapa fungsi perlakuan yang telah
dilakukan. Pertama, digunakan Biji kacang
merah (Vigna angularis) dan kacang kedelai
(Glysine max) yang berfungsi agar terdapat
tanaman yang dapat dibedakan. Tanaman
kacang merah memiliki morfologis yang
cenderung lebih besar dari pada tanaman
kacang kedelai. Selain itu kacang merah
memiliki bintil akar yang biasanya digunakan
sebagai alat untuk bersimbiosis [4,5].
Perlakuan berikunya adalah meletakkan
biji pada media tanam berupa kapas. Kapas
berfungsi sebagai media tanam untuk kedua biji
kacang [6]. Berikutnya adalah biji yang sudah
ditanam pada media tanam, ditetesi dengan
ekstrak Beluntas (Pluchea indica) yang diduga
mengandung alelopati. Hal ini berfungsi
sebagai zat penghambat pertumbuhan dari
kedua jenis tanaman kacang yang diuji dan
membuktikan pengaruh alelopati terhadap laju

Pola Interaksi Tumbuhan Amensalisme


pertumbuhan
tanaman.
[7].
Dilakukan
pengamatan setiap hari guna melihat seberapa
besar laju pertumbuhan tanaman tersebut.
Setiap pengamatan juga dilakukan penyiraman
media tanam agar tanaman kacang tidak kering.
3.2 Amensalisme
Amensalisme adalah interaksi ekologi
dimana salah satu individu merugikan individu
lain yang tidak mendapatkan keuntungan.
Amensalisme merupakan interaksi ekologi
negative karena hanya salah satu individu saja
yang dirugikan. Interkasi ini disebabkan adanya
fenomena alelopati , dimana suatu organisme
mengahsilkan zat kimia yang memengaruhi
pertumbuhan,
kelangsungan
hidup
dan
reproduksi organisme lain di sekitarnya [8].
Faktor-faktor lingkungan yaitu iklim,
edafik, topografi dan biotic antara satu dengan
yang lain sangat berkaitan erat dan sangat
menentukan kehadiran suatu jenis tumbuhan di
tempat tertentu. Pada umumnya faktor
lingkungan memiliki variasi yang cukup tinggi,
misalnya tinggi rendahnya intensitas cahaya
yang diterima berpengaruh pada kelembaban
tanah. Pada daerah yang intensitas cahaya
rendah, kelembaban tanah cenderung lebih
basah dibandingkan dengan daerah terbuka.
Keasaman (pH) tanah menunjukkan kisaran
yang seragam, antara 5,8-6,8. Hal ini berarti
tanah bersifat asam sedang hingga netral. Pada
kisaran ini diperkirakan tanah mengandung
mangan, boron, tembaga, dan seng dengan
kadar leih tinggi dibandingkan unsur lain;
nitrogen, kalium dan belerang mempunyai
kadar cukup tinggi; fosfor, kalsium dan
magnesium mempunyai kadar lebih rendah
dibandingkan unsur lainnya [9].

Faktor klimatik dan edafik merupakan


faktor yang terkait dnegan fisiologis dari suatu
vegetasi. Presentase bahan organic yang baik
untuk pertumbuhan tanaman adalah 15%,
sedangkan untun pH yang paling baik adalah
yang mendekati netral karena ketersediaan
unsure hara paling baik. Suhu optimym untuk
produktivitas tumbuhan adalah 150C dan 250C
terutama untuk fotosintesis tumbuhan [10].
3.3 Mekanisme Amensalisme
Salah satu bentuk interaksi antar
organisme dalam satu habitat adalah
amensalisme. Amensalisme sendiri dapat
didefinisikan sebagai bentuk interaksi antara
dua organisme atau lebih dimana salah satu
organisme tersebut akan tertekan sedangkan
yang lain tetap stabil (sama sekali tidak
terpengaruh) [11], salah satu contoh dari
amensalisme adalah alelokemis.
Dalam interaksi tersebut, tumbuhan
bersaing secara interaksi biokimis, yaitu salah
satu tubuhan mengekskresikan senyawaberacun
ke lingkungan sekitarnya dan pada akhirnya
menyebabkan gangguan pertumbuhan dan
perkembangan dari tumbuhan lain yang
berbeda di lingkungan tersebut [12]. Zat
beracun tersebut dikenal sebagai senyawa
alelopati. Hambatan pertumbuhan akibat
adanya alelopati dalam peristiwa amensalisme
antara lain hambatan pada pembelahan sel,
pengambilan mineral, respirasi, penutupan
stomata, sintesa protein. Dimana secara
langsung maupun tidak langsung akan
menghambat pertumbuhan tanaman yang lain.
Alelopati tersebut keluar dari bagian organ
yang berada diatas substrat berupa gas atau
eksudat dari akar. Pada umunya jenis zt yang
dikeluarkan adalah dari golongan fenolat
terpenoid dan alkaloid [13].

Pola Interaksi Tumbuhan Amensalisme


3.4 Kandungan Ekstrak Beluntas yang Diduga
Mengandung Alelopati
Beluntas (Pluchea indica L.) merupakan
tanaman perdu kelompok Asteraceae yang telah
dikenal masyarakat sebagai lalapan dan obat
tradisional [14]. Beluntas umumnya tumbuh liar
di daerah kering pada tanah yang keras dan
berbatu, atau ditanam sebagai tanaman pagar.
Tumbuhan ini memerlukan cukup cahaya
matahari atau sedikit naungan, banyak
ditemukan di daerah pantai dekat laut sampai
ketinggian 1.000 m dpl. Daun beluntas
mengandung alkaloid, flavonoid, tanin, minyak
atsiri, natrium, kalium, aluminium, kalsium,
magnesium, dan fosfor. Sedangkan akarnya
mengandung flavonoid dan tanin [15].
Berbagai penelitian telah menyebutkan
bahwa beluntas mengandung senyawa lignan,
seskuisterpen,
fenilpropanoid,
benzoid,
monoterpen, triterpen, sterol dan alkana, akar
mengandung
stigmasterol
(+b-sitosterol),
stigmasterol glikosida (+b-sitosterolglikosida),
2-(prop-1-unil)-5-(5,6dihidroksi
heksa1,3diunil)-thiofena dan (-)-katekin. Sedangkan
daun mengandung hidrokuinon, tanin, alkaloid
dan sterol flavonol, seperti : mirisetin, kuersetin
dan kaemferol. Senyawa fenolik, terutama
flavonoid berfungsi melindungi tanaman dari
herbivora dan penyakit. Senyawa ini dapat
menangkap
radikal
bebas,
mereduksi,
mendonorkan atom hidrogen dan meredam
oksigen singlet. Potensial antioksidan flavonoid
tergantung pada karakteristik struktur seperti:
jumlah dan pola substitusi gugus hidroksil dan
jumlah gugus hidroksil yang tersubstitusi
glikosida. Kadar fenolik pada daun sangat
dipengaruhi oleh tingkat umur daun, kondisi

tanah, pemberian pupuk serta stress lingkungan


baik secara fisik, biologi maupun kimiawi [14].
3.5 Grafik Hasil Pengamatan
3.5.1 Tinggi Vigna angularis dan Glycine max
Tinggi Tanaman Glycine max
25
20
15
10
5
0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
0% (5B)

25% (6B)

50% (7B)

75% (8B)

Grafik 1. Laju Pertumbuhan Tanaman Glycine


max
Tinggi Tanaman Vigna angularis
35
30
25
20
15
10
5
0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
0% (5B)

25% (6B)

50% (7B)

75% (8B)

Grafik 2. Laju Pertumbuhan Tanaman Vigna


angularis
Berdasarkan grafik diatas dapat
diketahui bahwa tinggi tanaman Vigna
angularis dan Glycine max dengan konsentrasi
0% meningkat secara signifikan dan bertahap.
Hal itu disebabkan karena pada konsentrasi 0%

Pola Interaksi Tumbuhan Amensalisme


tidak dipengaruhi zat Alelopati. Sedangkan
pada tanaman Vigna angularis dan Glycine max
dengan
konsentrasi
25%
mengalami
kelambatan pertumbuhan daripada tanaman
yang diberi konsentrasi 0%. Sedangkan pada
tanaman yang diberi konsentrasi 50%,
pertumbuhannya lambat. Hal ini dibuktikan
dengan tingkat perkecambahannya terlihat pada
hari ke 10. Sedangkan pada tanaman yang
diberi konsentrasi 75%, sama sekali tidak
mengalami pertumbuhan.
3.5.2 Jumlah Daun Vigna angularis dan
Glycine max
Jumlah Daun Glycine max
2.5
2
1.5
1

3.6 Pengaruh Pemberian Ekstrak Beluntas


Pluchea indica

0.5
0

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
0% (5B)

25% (6B)

50% (7B)

75% (8B)

Grafik 3. Jumlah Daun Glycine max


Jumlah Daun Vigna angularis
2.5
2
1.5
1
0.5
0

Berdasarkan grafik diatas dapat


diketahui bahwa jumlah daun Vigna angularis
dan Glycine max dengan konsentrasi 0% mulai
muncul saat hari kelima dan naik secara
sighnifikan. Namun saat hari ke sepuluh,
jumlah daun tetap sampai hari ke empat belas.
Hal itu disebabkan karena pada konsentrasi 0%
tidak dipengaruhi zat Alelopati. Sedangkan
pada tanaman Vigna angularis dan Glycine max
dengan konsentrasi 25% memiliki jumlah daun
yang lebuh banyak daripada konsentrasi 0%.
Namun pertumbuhan daun mulai muncul saat
hari kesembilan dan naik secara signifikan.
Jumlah daunya mulai hari kesebelas tetap
konstan hingga hari ke empat belas. Sedangkan
pada tanaman yang diberi konsentrasi 50%75% tidak memiliki daun. Hal ini membuktikan
bahwa Alelopati juga mampu menghambat
produksi jumlah daun pada suatu tanaman.

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
0% (5B)

25% (6B)

50% (7B)

75% (8B)

Grafik 4. Jumlah Daun Vigna angularis

ANOVA
Sum df Mea
of
n
Squar
Squa
es
re
Betwe
en
3027,
Group
846
Ti s
ng Within
971,5
gi Group
96
s
3999,
Total
442
D Betwe 16,60
au en
0
n Group
s

Sig
.

16,
62
1

,
00
0

3 5,533 27,
66
7

,
00
0

1009,
3
282

16

60,72
5

19

Pola Interaksi Tumbuhan Amensalisme


Within
Group 3,200 16 ,200
s
19,80
Total
19
0
Tabel 1 Hasil Analis ANOVA pengaruh ekstrak
Beluntas pada kacang merah.

Jati Terhadap Pertumbuhan Semai Akasia,


Mangium dan Jati. Jurnal Sylvia Lestari.
Volume 3 (1). (2015)

Berdasarkan data hasil ANOVA kacang


merah, didapatkan tingkat signifikansi 0,00.
Dengan didapatkan hasil seperti itu, maka
disimpulkan bahwa hasil <0,05, tingkat
signifikansi awal. Hasil pengujian yang
dilakukan menyatakan bahwa pengujian
pengaruh ekstrak Pluchea indica terhadap laju
pertumbuhan tanaman, dianggap valid atau
memiliki pengaruh. Hal ini dikarenakan karena
di dalam daun beluntas terdapat senyawa kimia
alelokemis yang dapat mempengaruhi laju
pertumbuhan tanaman.

[3].Junaedi, A., Muhammad, A.C., Kwang,


H.K. Perkembangan Terkini Kajian Alelopati.
Hayati. volume 13 (2) : 79-84. (2006).

IV.

KESIMPULAN

Berdasarkan
praktikum
yang
telah
dilakukan, diketahui prinsip dasar dari
alelopati,
dengan
menggunakan
objek
percobaan respon pertumbuhan Biji kacang
tanah (Vigna angularis) dan kacang kedelai
(Glysine max) terhadap kandungan alelopati
yang terdapat pada Pluchea indica. Ditinjau
dari hasil <0,05, tingkat signifikansi awal. Hasil
pengujian yang dilakukan menyatakan bahwa
pengujian pengaruh ekstrak Pluchea indica
terhadap laju pertumbuhan tanaman, dianggap
valid atau memiliki pengaruh.
DAFTAR PUSTAKA
[1].Ekayanti, N., Indriyanto., Duryat. Pengaruh
Zat Alelopati dari Pohon Akasia, Mangium dan

[2].Hafsah, S., Abduh, M.U., Cut, M.N. Efek


Alelopati Ageratum conyzoides Terhadap
Pertumbuhan Sawi. J. Floratek. Vol 8 : 18-24 .
(2012).

[4]. Widayat, D. Kemampuan Berkompetisi


Kedelai (Glycine max) Kacang Tanah (Arachis
hypigaea) dan Kacang hijau (Vigna radiata)
terhadap Teki (Cyperus rotundus). Jurnal
Bionatura. Vol.4(2): 118-128 (2002).
[5]. Hayati, M., Marliah, A. dan Fajri, H.
Pengaruh Varietas dan Dosis Pupuk Sp-36
Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman
Kacang Tanah (Arachis hypogaea). Jurnal
Agrista. Vol.16(1) (2012).
[6]. Putra, Y., Rusbana, T.B., Anggraeni, W.
Pengaruh Kuat Medan Magnet dan Lama
Perendaman Terhadap Perkecambahan Padi
(Oryza sativa) Kadaluarsa Varietas Ciherang.
Jurnal Agroekotek. Vol. 6(2): 157-168 (2015).
[7]. Mutia, D. Pengaruh Pemberian Pupuk
Kompos dan Penyiraman Terhadap Kecepatan
Pertumbuhan Kacang Hijau. Fakultas Keguruan
dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung
(2014).
[8]. Acharyulu, K.V.L.N and N.Ch.P
Ramacharyulu. A Two Species Ecological
Ammensalism With Dacay For Ammensal
Species and Replenishment Rate For Both The
Species -A Recursive And Numerical
Approach. International Journal of Advanced
Engineering Technology. Vol. 2(3): 143-147
(2011).

Pola Interaksi Tumbuhan Amensalisme


[9] Kurniawan, A. dan Parikesit. Persebaran
Jenis Pohon di Sepanjang Faktor Lingkungan di
Cagar Alam Pananjung Pangandaran, Jawa
Barat. Jurnal Biodiversitas. Vol.9(4):275279(2008).
[10]. Wijana, N. Analisis Komposisi dan
Keanekaragaman Spesies Tumbuhan di Hutan
Desa Bali Aga Tiwasa Buleleng Bali. Jurnal
Sains dan Teknologi. Vol.3(1): 289-299(2014).
[11].Odum, Eugene P. Dasar Dasar Ekologi
Edisi ke-3. Yogyakarta ; UGM Press (1995)
[12].Molles, Manuel C,Jr. Ecology, Concept
and Application. New York ; McGrawHill
Company (1999).
[13].Stilling, Peter. Ecology : Theories and
Application , Third Edition. New Jersey ;
Prestice Hall Inc (1999).

[14]. Koirewon, Y.A., Fatimawali., Weny, I.W.


Isolasi dan Identifikasi Senyawa Flavonoid
dalam Daun Beluntas (Pluchea indica L.).
(2009).
[15]. Widyawati, P.S., C.Henny W., Peni. S.
Evaluasi Aktivitas Antioksidatif Ekstrak Daun
Beluntas (Pluchea indica) Berdasarkan
Perbedaan Ruas Daun (2009).