Anda di halaman 1dari 48

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNIK OPTIK P-2

BENDING DAN PENGARUH SUHU PADA SERAT OPTIK

Disusun Oleh :
AHMAD FATIH BARKAH
AHMAD FIRDAUS HILMI
MOCH HAFIZH RAMADHAN
M. RIFQI PINANDHITO
MOH. FIQIH TARMIDZI HAKIM
CHRISTOPHER ROBERTO

2413 100 092


2414 100 011
2414 100 032
2414 100 050
2414 100 113
2415 100 125

Asisten :
FEBRIANTO BIMO AMARTO

2413 100 047

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK FISIKA


JURUSAN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
i

201
LAPORAN RESMI PRAKTIKUM TEKNIK OPTIK P-2

BENDING DAN PENGARUH SUHU PADA SERAT OPTIK


Disusun Oleh :
AHMAD FATIH BARKAH
AHMAD FIRDAUS HILMI
MOCH HAFIZH RAMADHAN
M. RIFQI PINANDHITO
MOH. FIQIH TARMIDZI HAKIM
CHRISTOPHER ROBERTO

2413 100 092


2414 100 011
2414 100 032
2414 100 050
2414 100 113
2415 100 125

Asisten :
FEBRIANTO BIMO AMARTO

2413 100 047

PROGRAM STUDI S-1 TEKNIK FISIKA


JURUSAN TEKNIK FISIKA
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
SURABAYA
2015
ii

ABSTRAK

Pada praktikum tentang Bending dan Pengaruh Suhu


Pada Serat Optik bertujuan agar mahasiwa dapat
mengetahui prinsip-prinsip transmisi sinyal laser pada serat
optik, yang dimana serat optik tersebut diberikan Bending
dan juga diberikan pengaruh suhu diluar kemudian diamati
dan dianalisis bagaimana nilai daya sinyal yang
ditransmisikan pada serat Optik. Hasil yang diperoleh
adalah pengaruh bending terhadap loss didapatkan hasil
ketika diameter bending 0,5 cm ; 1 cm ; 1,5 cm ; dan 2 cm
nilai losses yang dihasilkan secara berturut-turut adalah
sebesar 4,416 dBm ; 0,707 dBm ; 0,029 dBm; dan -0,01
dBm. Dari nilai tersebut membuktikan bahwa semakin kecil
diameter bending menghasilkan losses yang semakin besar.
ketika seerat optik dililitkan pada beberapa benda.
Yakni pada spidol diperoleh losses sebesar 0,268 dBm.
pada tutup botol Clup diperoleh losses sebesar 0,058 dBm.
stella menghasilkan losses sebesar 0,077 dBm. Nilai losses
semakin kecil untuk diameter yang lebih besar.
Pada percobaan terakhir yakni pengaruh suhu
terhadap transmisi loss yang terjadi pada serat optik dengan
diberikan variasi suhu sebesar 55 , 100 , 150
yang
secara berturut-turut, dan menghasilkan losses daya sebesar
5,789 dBm, 5,793 dBm, 5,784 dBm. Dimana pada hasil
tersebut hubungan selisih nilai kenaikan suhu terhadap loss
yang terjadi pada tiap-tiap variasi tidaklah besar
dikarenakan pengaruh kenaikan suhu tidak mempengaruhi
loss daya yang signifikan.
Kata kunci : Bending, Pengaruh Suhu, Serat Optik

iii

ABSTRACT

In the lab about Bending and Effect of Temperature on


Optical Fiber intended that students can know the principles
of signal transmission lasers in optical fibers, in which the
optical fiber is given Bending and also given the influence of
the temperature outside is then observed and analyzed how
the value of the signal transmitted on fiber optics. The
results are the effect of bending the loss is obtained when
the bending diameter of 0.5 cm; 1 cm; 1.5 cm; and 2 cm
values generated losses in a row is equal to 4.416 dBm;
0.707 dBm; 0.029 dBm; and -0.01 dBm. From these values
proves that the smaller the diameter of the bending generate
greater losses. when the optical seerat wound on a few
things. Namely the markers obtained by losses amounted to
0.268 dBm. the bottle cap Clup obtained losses amounted to
0.058 dBm. stella resulted in losses amounting to 0.077
dBm. Value losses is getting smaller for larger diameter. In
the last experiment the effect of temperature on the
transmission loss that occurs in the optical fiber with a
given variation in temperature of 55 C ^ , 100 C ^ , 150 C
^ , respectively, and resulted in losses of power equal to
5.789 dBm, 5.793 dBm, 5.784 dBm. Where the results of the
relationship increment in temperature rise to losses that
occur in each variation is minimal due to the influence of
temperature rise does not affect any significant power loss.
Keyword :

Bending, The Effect Of Temperature, Fiber


Optic

iv

KATA PENGANTAR
Puji syukur ke hadirat Allah SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Laporan Resmi
Praktikum Teknik Optika ini dapat terselesaikan tepat pada
waktunya.
Dalam kesempatan kali ini penyusun mengucapkan
terima kasih kepada:
1. Bapak Aulia Muhammad Taufiq Nasution.Selaku dosen
pengajar mata kuliah Teknik Optika.
2. Saudara asisten laboratorium yang telah membimbing
dalam pelaksanaan praktikum Akustik.
3. Rekan-rekan kelompok 3 yang telah membantu dalam
pelaksanaan kegiatan praktikum.
Penulis menyadari bahwa banyak kekurangan dalam
pembuatan dan penyusunan laporan ini baik dari segi materi
maupun penyajian. Untuk itu penulis mengharapkan kritik dan
saran yang bersifat membangun.
Akhir kata penyusun berharap semoga laporan ini
bermanfaat bagi penyusun sendiri khususnya dan pembaca pada
umumnya.
Surabaya, 06 November 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL

Error! Bookmark not defined.

ABSTRAK

iii

ABSTRACT

iiv

KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI

vi

DAFTAR GAMBAR

viiviii

DAFTAR TABEL

iix

BAB I PENDAHULUAN

Error! Bookmark not defined.

1.1

Latar Belakang

Error! Bookmark not defined.

1.2

Rumusan Masalah

1.3

Tujuan

2
Error! Bookmark not defined.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1

Fiber Optic

2.2

Bending

2.3

Total Internal Reflection (TIR)

11

2.4

Jenis-jenis Serat Optik

15

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM

20

3.1

Alat dan Bahan

20

3.2

Prosedur Percobaan

20

vi

BAB V ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN

23

4.1

Analisa Data

23

4.2

Pembahasan

25

BAB V PENUTUP

33

5.1

Simpulan

33

5.2

Saran

33

DAFTAR PUSTAKA

34

LAMPIRAN

35

vii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Struktur Serat Optik

Gambar 2.2 Perambatan Cahaya Dalam Serat Optik

Gambar 2.3 Hukum Snelius

Gambar 2.4 Skema Peristiwa Total Internal Reflection

12

Gambar 2.5 Skema Pemantulan Cahaya Pada Serat Optik 14


Gambar 2.6 Serat Optik SingleMode Step Index

18

Gambar 2.7 Serat Optik MultiMode Step Index

17

Gambar 2.8 Serat Optik Graded Index

18

Gambar 3.1 Set Up Eksperimen 1

20

Gambar 3.2 Set Up Eksperimen 2

21

Gambar 3.3 Skema Percobaan

22

Gambar4.1 Grafik Pengaruh Loss terhadap Bending

23

Gambar4.1 Grafik Pengaruh Loss Terhadap Suhu

25

viii

DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Tabel Pengaruh Bending

23

Tabel 4.2 Tabel Pengaruh Bending Terhadap Loss Benda

24

Tabel 4.3 Tabel Suhu

24

ix

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam kehidupan sehari-hari kita tentu mengenal laser,
mikroskop, teropong, kacamata, fiber optik, dan lain
sebagainya. Berbagai peralatan tersebut merupakan jenis
peralatan optik yang tentu saja memberikan polesan pada
kehidupan di era modern ini. Berawal dari hanya sepotong
lensa kecil, dapat diterapkembangkan menjadi sebuah
instrumen optik nan canggih, instrument itu dinamakan
sebagai divais optik.
Dalam aplikasinya, divais optik digunakan dalam
banyak bidang, seperti dalam bidang kedokteran sebagai alat
terapi, dalam bidang penelitian, bahkan dalam bidang
peralatan elektronik seperti komputer, mikrochip dan lain
sebagainya. Divais optik seperti laser juga banyak
dimanfaatkan, seperti sebagai sensor, penginderaan jarak
jauh, juga di bidang kedokteran seperti alat bantu
pembedahan. Dalam perkembangan zaman, kecepatan
transmisi data yang cepat, efektif dan efisien semakin
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan manusia, karena
transmisi data dapat membantu mengirim sebuah data yang
mengandung informasi dapat sampai secara akurat ke
penerima transmisi data tersebut. Teknologi yang
mendukung semakin cepat, efektif dan efisien salah satunya
adalah serat optik dimana merupakan aplikasi dari ilmu
optik yang telah ada, yaitu mengenai hukum snellius.
Oleh karena itu, dalam praktikum kali ini P2 tentang
Bending dan Pengaruh suhu pada serat optik aka dibahas
1

didalam fiber optik pastinya memiliki kehilangan daya yang


salah satunya diakibatkan oleh pembelokan pada fiber optik
atau bisa disebut bending. Terjadinya bending juga bisa
dipengaruhi oleh kebutuhan pemasangan dari serat optik
tersebut.
1.2

Rumusan Masalah
Adapun permasalahan yang terjadi pada praktikum
P-2 bending dan pengaruh suhu pada serat optik ini adalah
sebagai berikut :
a. Bagaimana prinsip-prinsip transmisi sinyal laser pada
serat optik ?
b. Bagaimana pengaaruh lekukan (bending) pada daya
sinyal keluaran serat optik?
c. Bagaimana pengaruh suhu pada daya keluaran pada
serat optik ?
1.3

Tujuan
Adapun tujuan dari praktikum P-2 bending dan

pengaruh suhu pada serat optik ini adalah sebagai berikut :


a. Mengetahui prinsip-prinsip transmisi pada serat optik.
b. Mengetahui seberapa besar pengaruh bending pada
jalannya transmisi dalam serat optik.
c. Mengetahui seberapa besar pengaruh suhu pada daya
keluaran pada serat optik.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1

Fiber Optik
Fiber optik merupakan saluran transmisi (pemindah

informasi) yang digunakan untuk mentransmisikan sinyal


cahaya dari suatu tempat ke tempat lain. Fiber Optik terbuat
dari serat kaca dan bentuknya panjang dan tipis serta
berdiameter sebesar rambut manusia. Serat kaca ini
merupakan serat yang dibuat secara khusus yang terbuat dari
bahan kaca murni dan kemudian diproses menjadi sebentuk
gulungan kabel agar dapat digunakan untuk melewati data
yang ingin dikirim atauditerima.
Fiber optik ini terdiri dari beberapa bagian yaitu
Cladding, Core, dan Buffer Coating. Core adalah kaca tipis
yang merupakan bagian inti dari fiber optik dan menjadi
tempat berjalannya cahaya sehingga pengiriman cahaya
dapat dilakukan. Cladding adalah lapisan luar yang
membungkus Core dan memantulkan kembali cahaya yang
terpancar keluar kembali ke dalam Core. Sedangkan Buffer
Coating merupakan lapisan plastik yang melindungi serat
dari kerusakan dan kelembaban.
Terdapat dua jenis fiber optik yang umumnya
digunakan, yaitu Single Mode dan Multi Mode. Kabel Single
3

Mode mempunyai ukuran Core yang kecil dan dapat


menjangkau jarak yang lebih jauh hingga ratusan kilometer
serta hanya dapat mengirim satu sinyal pada satu waktu
(contoh: telepon dan TV kabel). Sedangkan Multi Mode
memiliki ukuran Core yang lebih besar, dapat mengirim
sinyal yang berbeda pada saat yang bersamaan, namun
hanya mampu menjangkau kurang dari 550 meter. Di dalam
sistem komunikasi menggunakan fiber optik, sinyal
informasi yang lalu-lalang di dalamnya adalah berwujud
cahaya karena cahaya relatif lebih kebal terhadap gangguan
dari luar.
Kecepatan
sehingga

sangat

transmisi
bagus

fiber

optik

digunakan

sangat

sebagai

tinggi
saluran

komunikasi seperti telepon, TV kabel, atau internet. Fiber


optik juga digunakan untuk keperluan pemotretan medis ,
sensor, dan optik pencitraan. Komunikasi di dunia tidak
akan berkembang demikian cepat tanpa adanya teknologi
yang satu ini. Fiber optik memiliki banyak kelebihan di
antaranya adalah informasi yang ada ditransmisikan dengan
kapasitas (bandwidth) yang besar. Fiber optik dapat
dipergunakan dengan kecepatan yang tinggi, hingga
mencapai beberapa gigabit/detik. Karena murni terbuat dari
kaca dan plastik maka sinyal tidak terpengaruh pada
4

gelombang elektromagnetik dan frekuensi radio. Ukurannya


kecil

dan

ringan

sehingga

sangat

memudahkan

pengangkutan dan pemasangan di lokasi. Fiber optik juga


sangat aman dipasang di tempat-tempat yang mudah
terbakar karena tidak akan terjadi hubungan api pada saat
kontak atau terputusnya fiber optik.
Fiber optik memerlukan daya listrik yang relatif tidak
terlalu besar. Karena fiber optik tidak digunakan untuk
melewatkan sinyal-sinyal listrik, maka fiber optik tidak akan
mengalami kepanasan dan penipisan akibat tegangan listrik
yang lewat di dalamnya. Fiber optik bisa ditanam di tanah
jenis apapun atau digantung di daerah manapun tanpa harus
cemas

mengalami

korosi/berkarat.

Komunikasi

menggunakan fiber optik lebih aman karena informasi yang


lewat tidak mudah untuk disadap atau dikacaukan dari luar.
Di antara begitu banyak kelebihan yang dimilikinya, fiber
optik juga memiliki kekurangan di antaranya adalah
harganya yang cukup mahal serta fiber optik ini susah untuk
disambung dibandingkan kabel biasa karena metode
penyambungannya yang harus menggunakan teknik dan alat
khusus serta ketelitian yang tinggi.
Serat optik adalah suatu pemandu gelombang
dieletrik yang berbentuk silinder terbuat dari material low5

loss seperti kaca silika[6]. Bagian utama dari serat optik


terdiri dari core dan cladding yang dilindungi oleh coating.
Kedua bagian utama tersebut memiliki indeks bias yang
berbeda.

Gambar 2.1 Struktur Serat Optik[4]

Struktur dasar dari sebuah serat optik yang terdiri dari 3


bagian :
a. Core (inti) : sebuah batang silinder terbuat dari
bahan dielektrik (bahan silika (SiO2), biasanya
diberi doping dengan germanium oksida (GeO2)
atau fosfor penta oksida (P2O5) untuk menaikan
indeks biasnya) yang tidak menghantarkan listrik,
inti ini memiliki jari-jari, besarnya sekitar 8 200
m dan indeks bias n1, besarnya sekitar 1,5.
b. Cladding (selimut) : merupakan bagian yang
membungkus core sehingga pulsa-pulsa cahaya
yang akan keluar dari core terpantul ke dalam core
kembali sehingga pulsa cahaya tidak hilang di
6

perjalanan. Cladding mempunyai diameter yang


bervariasi antara 125 m (untuk single mode dan
multimode step index) dan 250 m (untuk
multimode graded index).
c. Coating (jaket) : terbuat dari bahan plastik yang
elastis, berfungsi sebagai pelindung core dan
cladding dari gangguan luar.
Ada 3 jenis perambatan cahaya yang terjadi pada
serat optik, yaitu:

Gambar 2.2 Perambatan Cahaya dalam Serat Optik

1. Sinar merambat lurus sepanjang sumbu serat tanpa


mengalami refleksi atau refraksi.
2. Sinar mengalami refleksi total karena memiliki sudut
datang yang lebih besar dari sudut kritis dan akan
merambat sepanjang serat melalui pantulan
pantulan.

3. Sinar akan mengalami refraksi dan tidak akan


dirambatkan sepanjang serat karena memiliki sudut
datang yang lebih kecil dari sudut kritis.
Prinsip yang digunakan pada perambatan cahaya pada serat
optik adalah hukum Snellius. Snellius menyatakan bahwa
perbandingan sinus antara sudut datang dan sudut bias
sebanding ratio kecepatan cahaya pada dua media tersebut
atau berbanding terbalik dengan ratio indeks bias dari
kedua.

2.1

Gambar 2.3 Hukum Snelius


Dari hukum snellius didapatkan bahwa jika sebuah cahaya
merambat pada dua medium yang indeks bias medium asal
lebih tinggi dari pada indeks bias medium tujuannya maka
8

cahaya akan dapat terpantul sempurna ( Total Internal


Reflection). Dari prinsip cahaya dipandu pada serat
optik dengan memanfaatkan total internal reflection.
2.2

Bending
Suatu serat optik yang memiliki panjang tertenu

memiliki beberapa aspek kerugian nilai yang perlu


diperhitungkan.Salah satu nilai yang diperhitungkan adalah
daya.

Nilai

rugi

daya

yang

disebabkan

dengan

membengkokan sepotong pendek serat optik biasanya akan


memiliki bilai yang lebih kecil apabila dibandingkan dengan
serat optik dengan panjang yang nilainya jauh lebih besar.
Lengkungan

tajam

tersebut

harus

dihindarkan

guna

memperoleh kinerja serat optik yang optimal.Bending radius


serat optik yang diukur adalah radius paling kecil ketika
serat optik dapat dilengkungkan tanpa membuatnya kusut,
menghancurkannya ataupun memperpendek umur dari serat
optik tersebut. Bending merupakan salah satu faktor (selain
absorbtion, scattering) yang menyebabkan terjadinya
redaman (atenuasi) dalam proses transmisi sinyal pada serat
optik. Redaman serat optik merupakan karakteristik penting
yang harus diperhatikan mengingat kaitannya dalam
menentukan jarak pengulang (repeater), jenis pemancar dan
9

penerima optik yang harus digunakan[1]. Redaman sinyal


cahaya yang merambat di sepanjang serat merupakan
pertimbangan

penting

dalam

desain

sebuah

sistem

komunikasi optik, karena menentukan peran utama dalam


menentukan jarak transmisi maksimum antara pemancar dan
penerima. Ada dua jenis bending (pembengkokan) yaitu
macrobending dan microbending. Macrobending adalah
pembengkokan serat optik dengan radius yang panjang bila
dibandingkan dengan radius serat optik. Redaman ini dapat
diketahui dengan menganalisis distribusi modal pada serat
optik. Microbending adalah pembengkokan-pembengkokan
kecil pada serat optik akibat ketidakseragaman dalam
pembentukan serat atau akibat adanya tekanan yang tidak
seragam pada saat pengkabelan. Salah satu cara untuk
menguranginya adalah dengan menggunakan jacket yang
tahan terhadap tekanan[6]. Redaman sinyal atau rugi-rugi
serat optik didefenisikan sebagai perbandingan antara daya
output optik (Pout) terhadap daya input optik (Pin)
sepanjang serat L, dimana dapat ditunjukkan pada
Persamaan 2.2.

10


..2.2

L
Pin
Pout

= Panjang serat optik (km)


= Daya input optik (Watt)
= Daya output optik (Watt)
= Redaman

Menurut rekomendasi ITU-T, kabel serat optik harus


mempunyai koefisien redaman 0.5 dB/km untuk panjang
gelombang 1310 nm dan 0.4 dB/km untuk panjang
gelombang 1550 nm.
Tapi besarnya koefisien ini bukan merupakan nilai
yang mutlak, karena harus mempertimbangkan proses
pabrikasi, desain komposisi serat, dan desain kabel. Untuk
itu terdapat range redaman yang masih diijinkan yaitu 0.3 0.4 dB/km untuk panjang gelombang 1310 nm dan 0.17 0.25 dB/km untuk panjang gelombang 1550 nm.

2.3

Total Internal Reflection (TIR)


Total internal reflection (TIR) merupakan prinsip

pemanduan

cahaya

ditunjukkan

pada

pada

serat

Gambar

optik

2.4[8].

seperti
Cahaya

yang
dapat

ditransmisikan atau dipandu pada serat optik disebabkan


11

karena berkas cahaya datang dari medium yang mempunyai


indeks bias lebih besar ke medium yang mempunyai indeks
bias lebih kecil. Jika sudut berkas cahaya datang lebih kecil
daripada sudut kritis, maka cahaya akan dibiaskan keluar
dari serat optik.

Gambar 2.4 Skema Peristiwa Total Internal Reflection[8]

Sedangkan jika sudut berkas cahaya datang lebih besar


daripada sudut kritis, maka cahaya akan dipantulkan lagi ke
dalam serat optik. Sudut kritis adalah besar sudut datang
yang menghasilkan sudut bias sebesar 90. Jika dituliskan
dalam persamaan matematis, persamaan sudut kritis dapat
diturunkan dari persamaan Snellius yang mempunyai sudut
bias sebesar 90 menjadi persamaan (2.3).

12

2.3

c = sudut kritis
n1 = indeks bias medium yang lebih rapat (besar)
n2 = indeks bias medium cahaya yang lebih
renggang (kecil)

TIR hanya terjadi pada berkas cahaya kedua dan ketiga.


Berkas cahaya pertama tidak terjadi TIR disebabkan karena
sudut datangnya lebih kecil daripada sudut kritis. Oleh
karena itu berkas cahaya yang dimasukkan ke dalam core
serat optik harus mempunyai sudut maksimal yang dapat
diterima agar menghasilkan sudut kritis yang minimal.
Gambar 2.5 menjelaskan berkas cahaya yang dimasukkan ke
dalam core serat optik yang menghasilkan sudut kritis agar
terjadi pemanduan cahaya pada serat optik. Nilai o
maksimal yang dapat diterima dapat dicari menggunakan
persamaan (2.4).

13

1/2

.2.4

dimana n adalah indeks bias medium di luar serat optik,


n1 adalah indeks bias core, n2 adalah indeks bias cladding,
o max adalah sudut penerimaan berkas cahaya maksimal
agar terjadi total internal reflection dan c adalah sudut
kritis.

Gambar 2.5 Skema Pemantulan Cahaya Pada Serat


Optik[8]

Nilai sin o maksimal dapat direpresentasikan dengan


NA

(Numerical

Aperture),

yaitu

angka

yang

merepresentasikan sudut penerimaan maksimal serat optik


agar terjadi pemanduan cahaya yang sempurna. Nilai NA
selalu < 1. Persamaan matematis untuk mendapatkan NA
14

dapat diturunkan dari persamaan (2.3) menjadi persamaan


(2.5).
1/2

.2.5

dimana adalah perbedaan indeks core-cladding yang


dapat dicari menggunakan persamaan (2.5).

..2.6

dimana n1 adalah indeks bias core dan n2 adalah indeks


bias cladding.

2.4

Jenis-Jenis Serat Optik

1. Single mode
serat optik dengan inti (core) yang sangat kecil
(biasanya sekitar 8,3 mikron), diameter intinya sangat
sempit mendekati panjang gelombang sehingga cahaya yang
masuk ke dalamnya tidak terpantul-pantul ke dinding
selongsong (cladding). Bahagian inti serat optik singlemode terbuat dari bahan kaca silika (SiO2) dengan sejumlah
kecil kaca Germania (GeO2) untuk meningkatkan indeks
15

biasnya. Untuk mendapatkan performa yang baik pada kabel


ini, biasanya untuk ukuran selongsongnya adalah sekitar 15
kali dari ukuran inti (sekitar 125 mikron). Kabel untuk jenis
ini paling mahal, tetapi memiliki pelemahan (kurang dari
0.35dB per kilometer), sehingga memungkinkan kecepatan
yang sangat tinggi dari jarak yang sangat jauh. Standar
terbaru untuk kabel ini adalah ITU-T G.652D, dan G.657

Gambar 2.6 Serat Optik Singlemode Step Index[2]

2. Multi mode
serat optik dengan diameter core yang agak besar yang
membuat laser di dalamnya akan terpantul-pantul di dinding
cladding yang dapat menyebabkan berkurangnya bandwidth
dari serat optik jenis ini.

16

Gambar 2.7 Serat Optik Multi mode Step Index[2]

Serat optik ini pada dasarnya mempunyai diameter core


yang besar (50 200 um) dibandingkan dengan diameter
cladding (125 400 um). Sama halnya dengan serat optik
singlemode, pada serat optik ini terjadi perubahan index bias
dengan segera (step index) pada batas antara core dan
cladding. Diameter core yang besar (50 200 um)
digunakan untuk menaikkan efisiensi coupling pada sumber
cahaya yang tidak koheren seperti LED. Karakteristik
penampilan serat optik ini sangat bergantung pada macam
material/bahan

yang

digunakan.

Berdasarkan

hasil

penelitian, penambahan prosentase bahan silica pada serat


optik ini akan meningkatkan penampilan (performance).
Tetapi jenis serat optik ini tidak populer karena meskipun
17

kadar silicanya ditingkatkan, kerugian dispersi sewaktu


transmit tetap besar, sehingga hanya baik digunakan untuk
menyalurkan data atau informasi dengan kecepatan rendah
dan jarak relatif dekat. Dalam multi mode step index
mempunyai kelebihan diantaranya mudah terminasi, kopling
efisien serta tidak mahal sedangkan kerugiannya adalah
dispersi lebar dan mempunyai bandwidth minimum.

3. Multimode Graded Index

Gambar 2.8 Serat Optik Graded Index

Pada Graded-index multimode terdapat lapisan pada


inti kacanya sehingga index sinar yang merambat tidak
menabrak lapisan cladding. Sinar yang masuk dalam inti
tidak dipantulkan sepanjang melewati inti tersebut. Cahaya
18

merambat lurus membentuk envelope dengan kombinasi


interval biasa. Kecepatan perambatannya ditentukan oleh
kerapatan index n1. Jenis serat optik ini sangat ideal untuk
menyalurkan informasi pada jarak menengah dengan
menggunakan sumber cahaya LED maupun LASER, di
samping juga penyambungannya yang relatif mudah.

19

BAB III
METODOLOGI PRAKTIKUM
3.1. Alat Dan Bahan

Adapun Pada percobaan ini alat dan bahan yang


digunakan sebagai berikut :
1. Laser
2. Serat optik multimode
3. Serat optik singlemode
4. Penggaris
5. Optical Power Meter (OPM) Thorlabs
3.2. Prosedur Percobaan

Adapun prosedur prosedur percobaan dibagi


menjadi dua, yaitu bending serat optik dan pengaruh
suhu pada serat optik sebagai berikut :
3.1.1

Bending

Gambar 3.1 Set Up Eksperimen 1 Modul 2[5]


20

1. Peralatan dirancang seperti pada gambar 3.1


2. Dilakukan pengukuran pada daya cahaya LASER yang
keluar dari serat optic sebelum diberi gangguan (berupa
bending) menggunakan OPM.
3. Serat optik diberikan gangguan berupa bending dengan
kelengkungan diameter 2cm, dan diukur daya cahayanya
menggunakan OPM.
4. Dilakukan variasi kelengkungan diameter serat optic
2cm, 1,5cm, 1cm, dan 0,5cm. dengan 3 lilitan secara
bertahap dan diukur daya cahayanya mengunakan OPM.
5. Dilakukan perbandingan data antara hasil keluaran
cahaya laser terhadap jari-jari bending yang diberikan
menggunakan grafik.

Gambar 3.2 Set Up Eksperimen 2 Modul 2[5]

6. Serat optik dililitkan pada silinder seperti gambar 3.2


dan diukur daya cahayanya menggunakan OPM (variasi
jumlah lilitan sesuai arahan asisten).
7. Dilakukan perbandingan data antara hasil keluaran
cahaya laser terhadap jumlah lilitan serat optik
menggunakan grafik.

21

3.3.2

Pengaruh Suhu terhadap daya keluaran serat


optik

Gambar 3.3 Skema Percobaan

1. Peralatan disusun seperti pada Gambar 3.3


2. Suhu pada magnetic stitrrer diatur pada suhu 50C
3. Salah satu bagian serat optik diletakkan pada plat
magnetic stirrer (tidak menempel) dan diujung
lainnya dihubungkan dengan Optical Power Meter.
4. Pengukuran dilakukan sebanyak 3 kali pada masingmasing suhu dan dicatat dayanya yang dihasilkan
oleh Optical Power Meter.
5. Langkah 3-5 diulangi dengan suhu 100C dan 150C.
6. Grafik hubungan dibuat antara daya yang dihasilkan
akibat perubahan suhu yang dilakukan.
7. Hasil percobaan tersebut dianalisa.

22

BAB IV
ANALISA DATA DAN PEMBAHASAN
4.1

Analisa Data

Pada praktikum berikut ini dilakukan penngamatan


loss serat optik terhadap bending dan perubahan suhu yang
terdapat pada serat optik. Dari data pengukuran yang
dilakukan maka didapatkan loss dari bending serat optik
adalah sebagai berikut :

Loss bending
5

Loss (dBm)

4
3
2

Loss

1
0
-1 0

0.5

1
1.5
Diameter bending

2.5

Gambar 4.1 Grafik pengaruh Loss terhadap Bending


Tabel 4.1 Tabel Pengaruh Bending
Diameter
Bending (Cm)
0,5
1
1,5
2

Loss (DBm)
4,416
0,707
0,029
-0,01

23

Dilakukan juga eksperimen pengaruh bending dari


benda benda yang sering ditemui seperti Spidol, tutup botol
dan pengharum ruangan stella. Dimana respon loss yang
dihasilkan pada percobaan tersebut sebesar
Tabel 4.2 Tabel Pengaruh Bending Terhadap Loss Benda
Diameter
Bending (Cm)
spidol (1,4)
tutup botol
(2,7)
Stella(5,3)

Loss (DBm)
0,268
0,058
0,077

Pada pengukuran pengaruh suhu terhadap loss yang terjadi


pada serat optik didapatkan hasil sebagai berikut :
Tabel 4.3 Tabel Suhu
Suhu (C)
55
100
150

Loss (dBm)
5,789
5,792
5,784

Apabila data tersebut di plot pada grafik maka, akan


didapatkan hasil sebagai berikut :

24

Loss terhadap suhu


5.794
5.792
5.79
5.788
5.786
5.784
5.782

Loss

50

100

150

200

Gambar 4.2 Grafik Pengaruh Loss Terhadap Suhu


4.2

Pembahasan
a. Moh. Fiqih Tarmidzi Hakim (2414100113)

Praktikum Teknik Optik kali ini adalah tentang


Bending dan pengaruh suhu pada serat optik yang bertujuan
untuk mengetahui bagaimana prinsip dari transmisi pada
serat optik dan juga mengetahui transmisi optik ketika
diberikan bending dan ketika diberikan pengaruh suhu pada
serat optik. Praktikum ini dilaksanakan di laboratorium
Fotonika teknik fisika.
Tahap awal pada praktikum P2 ini adalah pengujian
pengaruh bending terhadap loss didapatkan hasil ketika
diameter bending 0,5 cm ; 1 cm ; 1,5 cm ; dan 2 cm nilai
losses yang dihasilkan secara berturut-turut adalah sebesar
4,416 dBm ; 0,707 dBm ; 0,029 dBm; dan -0,01 dBm. Dari
nilai tersebut membuktikan bahwa semakin kecil diameter
bending menghasilkan losses yang semakin besar.
percobaan selanjutnya adalah ketika seerat optik
dililitkan pada beberapa benda. Yakni dililitkan pada spidol
dengan diameter 1,4 cm dan diperoleh losses sebesar 0,268
dBm. Kemudian dililitkan pada tutup botol Clup dengan
25

diameter 2,7 cm dan diperoleh losses sebesar 0,058 dBm.


Dan yang terakhir dililitkan pada tabung pewangi ruangan
stella dengan diameter 5,3 cm yang menghasilkan losses
sebesar 0,077 dBm. Nilai losses semakin kecil untuk
diameter yang lebih besar.
Pada percobaan terakhir yakni pengaruh suhu
terhadap transmisi loss yang terjadi pada serat optik dengan
diberikan variasi suhu sebesar 55 , 100 , 150
yang
secara berturut-turut, dan menghasilkan losses daya sebesar
5,789 dBm, 5,793 dBm, 5,784 dBm. Dimana pada hasil
tersebut hubungan selisih nilai kenaikan suhu terhadap loss
yang terjadi pada tiap-tiap variasi tidaklah besar
dikarenakan pengaruh kenaikan suhu tidak mempengaruhi
loss daya yang signifikan.
b. Muhammad Rifqi Pinandhito (2414100050)

Pada praktikum P-3 kami melakukan 2 percobaan


guna mengetahui faktor-faktor yang mungkin memengaruhi
kinerja dan performasi dari serat optik. Percobaan pertama
yaitu percobaan mengenai pengaruh Bending pada serat
optik dan yang kedua mengetahui pengaruh suhu pada serat
optik. Adapun variabel terikat pada 2 percobaan diatas
sama-sama meninjau daya keluaran dari serat optik. Pada
percobaan pengaruh bending variable indepenent yang
digunakan berupa ukuran diameter bend pada serat optik
dengan nilai 0,5 cm, 1 cm, 1,4 cm, 1,5cm, 2 cm, 2,7 cm dan
5,3 cm. Hasil keluaran dari daya output ternyata secara
keseluruhan berbanding lurus dengan besarnya diameter
bending dimana semakin kecil diameter bending maka hasil
keluaran daya output serat optik pun semakin rendah dengan
kata lain loses yang terjadi semakin besar. Sebagaimana kita
ketahui serat optik bekerja mengunakan prinsip hukum
snellius guna mendapatkan Totally Internal Reflection
26

dimana seudut datang dari cahaya yang melalui suatu


medium harus lebih besar daripada sudut kritisnya. Hal ini
dikarenakan saat terjadinya bending maka otomatis terjadi
penekanan pada serat optik, dengan adanya penekanan tadi
mengakibatkan ada sebagian berkas cahaya datang dengan
sudut lebih kecil daripada sudut kritis sehingga
mengakibatkan cahaya keluar dari serat optik
mengakibatkan terjadinya loss pada daya keluaran serat
optik.
Percobaan yang kedua yaitu mengenai pengaruh
suhu pada daya keluaran serat optik. Secara keseluruhan
daya keluaran yang dihasilkan hasil pengaruh variabel bebas
suhu tidak berpengaruh pada outputan daya yang ditransmit
oleh fiber optik. Hal ini dapat dlihat dari grafik 4.2 dimana
nilai outputan daya hasil pengaruh suhu pada fiber optik
tidak berbeda secara signifikan. Sehingga dapat ditarik
kesimpulan bahwa pentrasmisian cahaya melalui serat optik
tidak terpengaruh suhu karena suhu tidak mempengaruhi
arah rambatan cahaya pada medium. Mungkin perbedaan
yang sangat kecil pada hasil daya keluaran fiber optik
dikarenakan adanya micro bending yang sangat kecil pada
lapisan struktur fiber optik akibat perbedaan suhu pada sisi
yang tidak dipanasi oleh magnetic stirring.
c. Christopher Roberto (2415100125)

Telah dilakukan percobaan pengukuran transmission


loss pada kabel serat optic (fiber optic) menggunakan dua
tipe percobaan, yakni pengukuran transmission loss akibat
terjadinya bending dan pengukuran transmission loss akibat
pengaruh besar temperatur.
Pada percobaan dengan variasi diameter bending 0,5
; 1 ; 1,5 ; 2 ; 2,5 diperoleh loss yang semakin menurun dari
4,416 dBm hingga 0,077 dBm. Sehingga dapat dikatakan
apabila dilakukan peningkatan diameter bending, maka
27

sebagai
kebalikannya
akan
diperoleh
penurunan
transmission loss. Hal ini dikarenakan semakin kecil
diameter bending dari kabel serat optic akan membuat besar
sudut kritis
yang memantul terhadap core semakin
mengecil sehingga intensitas cahaya yang mengalami TIR
(Total Internal Reflection) akan berkurang, sehingga daya
keluarannya semakin besar pengurangannya dan hasilnya
diperoleh koefisien loss yang semakin besar.
Selanjutnya pada percobaan dengan variasi
temperatur sebesar 55 , 100 , 150
berturut turut
menghasilkan daya sebesar 5,789 dBm, 5,793 dBm, 5,784
dBm. Menurut hukumnya cahaya yang merambat pada suatu
material
yang
dipanaskan,
apabila
temperature
pemanasannya amatlah tinggi, dapat mengubah kerapatan
material tersebut sehingga memperbesar indeks biasnya,
sehingga memperlambat kecepatan cahaya yang merambat
pada material itu. Adapun karena fiber optic memiliki
bagian coating yang tahan terhadap suhu tinggi, dapat
mempertahankan indeks bias core dan cladding di
dalamnya, sehingga loss yang terjadi amatlah kecil yakni
kurang dari 0,1 dBm.
d. Akhmad Firdaus Hilmi (2414100011)
Praktikum P-2 ini dilakukan bertujuan untuk
mengetahui transmisi optik ketika diberikan pengaruh
bending dan perubahan temperatur pada serat optik serta
mengetahui bagaimana prinsip transmisi pada serat optic.
Percobaan Pertama, yaitu pengujian pengaruh
bending terhadap transmission loss ketika diameter bending
diubah menjadi 0,5 cm , 1 cm , 1,5 cm , dan 2 cm, nilai
transmission loss yang dihasilkan (sesuai urutan) adalah
4,416 dBm , 0,707 dBm , 0,029 dBm , dan 0,01 dBm.
Percobaan selanjutnya adalah ketika serat optik
dililitkan pada beberapa benda. Pertama, dililitkan pada
28

spidol dengan diameter 1,4 cm dan diperoleh loss sebesar


0,268 dBm. Kemudian dililitkan pada tutup botol dengan
diameter 2,7 cm dan diperoleh loss sebesar 0,058 dBm.
Terakhir, dililitkan pada tabung dengan diameter 5,3 cm
yang menghasilkan loss sebesar 0,077 dBm. Dari data -data
tersebut kita dapat dilihat bahwa semakin kecil diameter
pada bending maka nilai loss yang dihasilkan akan semakin
besar.
Hipotesis awal adalah, hal ini disebabkan pengecilan
diameter bending dari kabel serat optic membuat besar sudut
kritis
yang memantul terhadap core semakin mengecil
sehingga intensitas cahaya yang mengalami TIR (Total
Internal Reflection) akan berkurang, sehingga daya
keluarannya semakin besar pengurangannya dan hasilnya
diperoleh koefisien loss yang semakin besar.
Pada percobaan kedua yaitu pengaruh suhu terhadap
transmission loss pada serat optik dengan d variasi suhu
sebesar 55
, 100
, 150
(berturut 0-turut)
menghasilkan loss sebesar 5,789 dBm, 5,793 dBm, 5,784
dBm. Data - data dari hasil percobaan tersebut memiliki
selisih nilai yang jumlahnya kurang signifikan . Hal
pengaruh kenaikan suhu tidak mempengaruhi transmission
loss.
e. Lucky Rizky Febriansyah (2414100094)
Dari praktikum yang telah dilakukan pada pengujian
pertama yaitu pengaruh bending terhadap loss didapatkan
hasil ketika diameter bending 0,5 cm ; 1 cm ; 1,5 cm ; dan 2
cm nilai losses yang dihasilkan secara berturut-turut adalah
sebesar 4,416 dBm ; 0,707 dBm ; 0,029 dBm; dan -0,01
dBm. Dari nilai tersebut membuktikan bahwa semakin kecil
diameter bending menghasilkan losses yang semakin besar.
Dikarenakan pada diameter yang kecil, fiber optic
29

cenderung lebih menekuk sehingga akibat perubahan sudut


yang besar mengakibatkan sinar yang melintas di core
banyak yang keluar menuju cladding.
Hal ini dibuktikan pada percobaan selanjutnya yaitu
ketika fiber optic dililitkan pada beberapa benda. Ketika
dililitkan pada spidol dengan diameter 1,4 cm diperoleh
losses sebesar 0,268 dBm. Sementara ketika dililitkan pada
tutup botol dengan diameter 2,7 cm diperoleh losses sebesar
0,058 dBm. Nilai losses semakin kecil untuk diameter yang
lebih besar, seperti pada fiber optic yang dililitkan pada
stella dengan diameter 5,3 cm yang hanya menghasilkan
losses sebesar 0,077 dBm.
Sedangkan pada percobaan pengaruh suhu terhadap
transmisi loss yang terjadi pada serat optic diukur dengan
variasi suhu sebesar 55 , 100 , 150
yang secara
berturut turut menghasilkan loss daya sebesar 5,789 dBm,
5,793 dBm, 5,784 dBm. Dimana pada hasil tersebut
hubungan selisih nilai kenaikan suhu terhadap loss yang
terjadi pada tiap-tiap variasi tidaklah besar dikarenakan
pengaruh kenaikan suhu tidak mempengaruhi loss daya
yang signifikan.
f. Mochammad Hafizh Ramadhan (2414100032)
Dari percobaan yang kami lakukan dengan variasi
bending 0,5, 1, 1,5, 2, 2,5 didapatkan besar loss 4,416 dBm,
0,0707 dBm, 0,0209 dBm, -0,01 dBm. Sedangkan pada
bending dengan menggunakan spidol, tutup botol dan
pengharum ruangan stella didapatkan data sebesar 0,268
dBm, 0,058 dBm, 0,077 dBm.
Pada hasil tersebut didapatkan bahwa semakin besar
bending yang terjadi pada serat optic maka semakin kecil
pula loss yang terjadi. Begitu pula sebaliknya semakin kecil
diameter bendng yang ada maka semakin besar pula loss
transmisi daya yang terjadi.
30

Sedangkan pada percobaan pengaruh suhu terhadap


transmisi loss yang terjadi pada serat optic diukur dengan
variasi suhu sebesar 55 , 100 , 150
yang secara
berturut turut menghasilkan loss daya sebesar 5,789 dBm,
5,793 dBm, 5,784 dBm. Dimana pada hasil tersebut
hubungan selisih nilai kenaikan suhu terhadap loss yang
terjadi pada tiap-tiap variasi tidaklah besar dikarenakan
pengaruh kenaikan suhu tidak mempengaruhi loss daya
yang signifikan.
g. Ahmad Fatih Barkah (2413100092)
Praktikum P-2 ini dilakukan bertujuan untuk
mengetahui transmisi optik ketika diberikan pengaruh
bending dan perubahan temperatur pada serat optik serta
mengetahui bagaimana prinsip transmisi pada serat optic.
Percobaan Pertama, yaitu pengujian pengaruh
bending terhadap transmission loss ketika diameter bending
diubah menjadi 0,5 cm , 1 cm , 1,5 cm , dan 2 cm, nilai
transmission loss yang dihasilkan (sesuai urutan) adalah
4,416 dBm , 0,707 dBm , 0,029 dBm , dan 0,01 dBm.
Percobaan selanjutnya adalah ketika serat optik
dililitkan pada beberapa benda. Pertama, dililitkan pada
spidol dengan diameter 1,4 cm dan diperoleh loss sebesar
0,268 dBm. Kemudian dililitkan pada tutup botol dengan
diameter 2,7 cm dan diperoleh loss sebesar 0,058 dBm.
Terakhir, dililitkan pada tabung dengan diameter 5,3 cm
yang menghasilkan loss sebesar 0,077 dBm. Dari data -data
tersebut kita dapat dilihat bahwa semakin kecil diameter
pada bending maka nilai loss yang dihasilkan akan semakin
besar.
Pada percobaan kedua yaitu pengaruh suhu terhadap
transmission loss pada serat optik dengan d variasi suhu
sebesar 55
, 100
, 150
(berturut 0-turut)
31

menghasilkan loss sebesar 5,789 dBm, 5,793 dBm, 5,784


dBm. Data - data dari hasil percobaan tersebut memiliki
selisih nilai yang jumlahnya kurang signifikan . Hal
pengaruh kenaikan suhu tidak mempengaruhi transmission
loss.

32

BAB V
PENUTUP

5.1

Kesimpulan
Dari praktikum teknik optik tentang pengaruh bending
dan suhu pada serat optik yang telah dilakukan, dapat
disimpulkan beberapa hal antara lain:
1. Fiber Optik mentransmisikan data melewati inti serat
optik (core) berupa gelombang cahaya
2. Semakin kecil diameter bending yang dibentuk pada
serat optik, semakin menurun nilai daya keluaran yang
diemisikan
3. Daya keluaran dari serat optik tidak terpengaruh oleh
tingkat temperatur disekitar serat optik
5.2

Saran
Adapun saran yang dapat diberikan pada praktikum
desain optik kali ini.
Sebaiknya praktikum ini dilakukan dengan menggunakan
fiber optik yang baru sehingga loss yang dihasilkan tidak
terlalu besar akibat sering digunakannya fiber optik untuk
keperluan praktikum lainnya.

33

DAFTAR PUSTAKA
[1] Anonim. Modul Percobaan P-3Desain OptikSurabaya.
Laboratorium Fotonika JTF-FTI-ITS
[2] Chapter II, Serat optik. Universitas Sumatera Utara.
(repository.usu.ac.id/bitstream/.../4/Chapter%20II.pdf,
diakses 24 Oktober 2014)
[3] Roychoudhuri, Chandrasekhar.Fundamental of Photonics.
USA : SPIE Press. 2008.
[4] Ahmad,Imam. Sistem Transmisi Serat Optik
(http://digilib.ittelkom.ac.id/index.php?view=article&catid=11
%3Asistem-komunikasi &id=681%3Asistem-transmisi-seratoptik&option=com_content& Itemid=14, diakses 10 Oktober
2013)
[5] Smith,Graham.Optiks and Photonics:An Introduction.
USA:John Wiley & Sons, Ltd. 2007
[6] Wiley, John. 1990, Principles Of Optical Engineering.
Departement of Electrical Enginering The Pennslyvania
University, New York.
[7] Saleh, Bahaa E., Teich, Malvin Carl, Fundamental Of
Photonics. New York : John Wiley & Sons, Inc. 1991
[8] Hukum Snellius.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Hukum_Snellius, diakses 30
Oktober 2013)
[9] Keiser, Gerd. 2000. Optical Fiber Communications Third
Edition. New York : McGraw-Hill.

34

LAMPIRAN

PENGEMBANGAN SENSOR NAPAS


BERBASIS SERAT OPTIK PLASTIK
DENGAN CLADDING TERKELUPAS
UNTUK APLIKASI DI BIDANG MEDIS
Pendahuluan
Dewasa ini telah dikembangkan berbagai macam
sensor untuk memantau kondisi pernapasan manusia dengan
menggunakan serat optic. Sensor napas berbasis serat optik
yang telah dibuat, yaitu dengan memanfaatkan aliran udara
pernapasan, dan pergerakan otot perut an otot dada. Sensor
napas yang memanfaatkan aliran udara pernapasan dibuat
dengan mengukur temperature, kelembaban, dan gas CO2
dalam udara pernapasan, Sebagian besar sensor napas jenis
ini memerlukan material tambahan sebagai pengganti
cladding
atau
sebagai
penyerap
panas.
Sementara itu, sensor napas yang memanfaatkan pergerakan
otot perut bekerja dengan mengukur perubahan intensitas
cahaya terpandu karena perubahan jari-jari tekukan serat
optic. Sensor jenis pertama memerlukan serat optik yang
relatif panjang sehingga biayanya menjadi lebih mahal
sedangkan jenis kedua proses pembuatannya lebih rumit.
Berdasarkan pada kekurangan-kekurangan tersebut
pada penelitian ini dibuat sensor napas dengan berdasarkan
fenomena absorbs medan evanescent. Fenomena medan
evanescent muncul dari kenyataan bahwa ketika cahaya
merambat sepanjang serat optik, medan listrik cahaya
tersebut tidak sepenuhnya berada pada daerah core serat
optik namun sebagian masuk di daerah cladding. Bagian
35

medan listrik yang berada di daerah cladding itulah yang


disebut dengan medan evanescent.menunjukkan medan
evanescent pada serat optik. Ketika cahaya merambat pada
serat optik dengan indeks n2 yang berbeda maka intensitas
medan evanescent yang terserap mengalami perubahan.
Adanya
perubahan
intensitas
medan
evanescent
mengakibatkan adanya perubahan kedalaman penetrasi
medan evanescent. Semakin dalam penetrasi medan
evanescent maka semakin kecil intensitas cahaya yang
terpandu.

Metode Penelitian
Pada penelitian ini probe sensor dibuat dari serat
optik
plastik
jenis
multimode
step index dengan spesifikasi diameter core 0,98 mm,
diameter cladding 1 mm, indeks bias core 1,49, dan NA 0,5.
Probe sensor dibuat sepanjang 10 cm. Jaket dan cladding
probe sensor dikupas sepanjang 3 cm tepat di bagian
tengahnya. Pada penelitian ini dilakukan percobaan pada
tiga jenis pernapasan, yaitu pernapasan biasa, pernapasan
terengah-engah, dan pernapasan dengan batuk. Pernapasan
biasa merupakan pernapasan seseorang dalam kondisi
santai atau istirahat. Pernapasan terengah-engah yaitu
pernapasan seseorang setelah melakukan aktivitas fisik
berlari ditempat selama 5 menit. Probe sensor diletakkan
pada masker lalu dihubungkan dengan blok rangkaian
instrumentasi. Namun, sebelum alat digunakan pada
percobaan terlebih dahulu dilakukan pengukuranpengukuran awal meliputi temperature, kelembaban, dan
tekanan udara untuk diketahui pengaruhnya terhadap respon
sensor. Pada pengujian ini akuisisi data dilakukan oleh
mikrokontroler dan hasilnya ditampilkan melalui PC.
36

Hasil Pengujian
Pada pengujian awal dilakukan beberapa percobaan
untuk mengetahui respon sensor. Pertama adalah ketika
tekanan dan kelembaban relative tetap sementara
temperature dinaikkan. Keluaran sensor mengalami
kenaikan saat temperatur udara dinaikkan. Ketika
temperatur udara berubah maka terjadi perubahan indeks
bias core sensor (n1) dan indeks bias udara yang
melingkupinya (n2). Semakin tinggi temperatur, n1 menjadi
semakin besar sedangkan n2 menjadi semakin kecil. Hal ini
menyebabkan dp menjadi kecil. Semakin kecil dp,
penyerapan medan evanescent menjadi semakin menurun.
Menurunnya penyerapan medan evanescent mengakibatkan
cahaya yang terpandu pada serat optik mengalami
peningkatan
dan
pada
akhirnya menaikkan tegangan keluaran sensor. Sehingga
dengan mengamati hasil dalam bentuk grafik didapatkan
bahwa pada daerah temperatur napas (29,8 - 30,6)C,
keluaran sensor naik 0,023 volt. Kedua adalah ketika
temperature dan tekanan tetap sementara kelembaban naik.
Hasil yang didapat adalah nilai keluaran sensor turun
drastic. Penurunan tersebut mengindikasikan adanya
kenaikan indeks bias n2. Uap air mengalami pengembunan
dan menempel pada permukaan robe sensor. Indeks bias air
lebih besar dari indeks bias udara maka indeks bias cladding
berubah dari indeks bias udara ke indeks bias air, akibatnya
keluaran sensor turun secara drastis. Semakin tinggi
kelembaban relatif, semakin banyak permukaan probe
sensor yang tertutup titik-titik air. Penurunan keluaran
sensor pada daerah kelembaban relatif napas (83,7 -85,4)%
adalah 0,653 volt. Hal ini membuktikan bahwa pengaruh
37

kelembaban lebih tinggi dibandingkan dengan pengaruh


temperature.
Pada pengujian tiga jenis pernafasan didapatkan
hasil bahwa sensor telah bekerja dengan baik, sensor
mempunyai sensitifitas yang cukup tinggi sehingga dapat
membedakan ketiga jenis pernafasan. Pada pernapasan biasa
keluaran sensor naik saat inspirasi dan turun saat ekspirasi
dengan selisih keluaran maksimum minimumnya 1,012 volt.
Sedangkan pada pernafasan terengah-engah rata-rata selisih
keluaran maksimum-minimum sensor lebih besar daripada
pernapasan biasa, yaitu 2,157 volt. Ketika batuk, keluaran
sensor turun drastis dengan rata-rata selisih keluaran
maksimum minimumnya 4,026 volt.

38

Anda mungkin juga menyukai