Anda di halaman 1dari 8

Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB

Teknologi Informasi dan Komunikasi Mendukung Koordinasi


Penyusunan Rencana Tata Ruang di Metropolitan Bandung
Agustiah Wulandari(1), Ridwan Sutriadi(2)
(1)
(2)

Program Magister Perencanaan Wilayah dan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB
Kelompok Keahlian Perencanaan dan Perancangan Kota, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan ITB

Abstrak
Koordinasi penyelenggaraan penataan ruang merupakan upaya untuk meningkatkan kerja sama
antar pemangku kepentingan dalam penyelenggaraan penataan ruang. Teknologi Informasi dan
Komunikasi penting dalam penyusunan rencana tata ruang karena dapat meningkatkan koordinasi.
Koordinasi yang dilakukan antar pemerintah daerah saat ini khususnya untuk konteks proses
penyusunan rencana tata ruang di Kawasan Metropolitan beragam namun memiliki saling
keterkaitan karena berada dalam satu Kawasan Metropolitan. Tujuan dalam penelitian ini adalah
menganalisis sejauh mana koordinasi yang telah dilakukan pemerintah daerah di Metropolitan
Bandung dengan memanfaatkan teknonologi informasi dan komunikasi untuk pengelolaan tata ruang
yang lebih baik. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh hasil bahwa pemanfaatan teknologi informasi
dan komunikasi dalam menyusun proses perencanaan masih bersifat sebagai pendukung dan belum
dapat menyelesaikan konflik yang terjadi pada saat penyusunan rencana tata ruang.
Kata-kunci: koordinasi, perencanaan ruang, pemerintah daerah, Metropolitan Bandung, dan teknologi informasi
dan komunikasi

Pendahuluan
Perencanaan adalah proses yang kontinyu
dalam pengambilan keputusan atau pilihan
alternatif untuk memanfaatkan sumber daya
yang ada, untuk mencapai tujuan tertentu
dimasa depan (Conyers dan Hill, 1984).
Perencanaan
dianggap
sebagai
kegiatan
komunikatif atau interaktif antara pemangku
kepentingan publik dan swasta dalam proses
pengambilan keputusan publik (Friedman, 1987;
Innes, 1995). Perencana perlu sadar akan nilai
dan kepentingan berbagai kelompok pemangku
kepentingan perkotaan dan harus dapat
mengidentifikasi kepentingan umum melalui
pelaksanaan praktek partisipatif yang tepat
dalam proses perencanaan untuk pengambilan
keputusan (Healey, 2003 dalam Silva, 2010: 3).
Dalam rangka mengatasi berbagai kebutuhan
dan tuntutan berbagai pemangku kepentingan
perkotaan, praktek perencanaan harus lebih
memberikan penekanan pada pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi untuk

meningkatkan koordinasi atau memfasilitasi


bentuk-bentuk
interaksi
baru
dalam
perencanaan (Silva, 2010). Pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi ini dapat
digunakan sebagai upaya untuk meningkatkan
pengelolaan kota yang lebih baik.
Latar belakang di atas merupakan beberapa isu
terkait penerapan teknologi informasi dan
komunikasi
dalam
mendukung
proses
perencanaan. Berdasarkan penelitian yang telah
dilakukan berjudul Pemanfaatan Teknologi
Informasi dan Komunikasi untuk Meningkatkan
Koordinasi Penyusunan Rencana Tata Ruang di
Metropolitan Bandung, berisi tentang analisis
peluang pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi
dalam
mendukung
proses
penyusunan rencana tata ruang di Metropolitan
Bandung dan sejauh mana koordinasi yang telah
dilakukan pemerintah daerah di Metropolitan
Bandung dengan memanfaatkan teknologi
informasi dan komunikasi untuk pengelolaan
tata ruang yang lebih baik.
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota BSAPPKV2N2 | 263

Teknologi Informasi Dan Komunikasi Mendukung Koordinasi Penyusunan Rencana Tata Ruang Di Metropolitan Bandung

Salah satu sasaran yang terdapat di dalam tesis


tersebut, adalah menganalisis sejauh mana
koordinasi yang telah dilakukan pemerintah
daerah di Metropolitan Bandung. Jurnal ini
bertujuan sebagai eksplanatori pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi dalam
koordinasi penyusunan rencana tata ruang.
Sebagai upaya mengatasi berbagai kebutuhan
dan tuntutan berbagai pemangku kepentingan
perkotaan. Praktek perencanaan harus lebih
memberikan penekanan pada pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi untuk
meningkatkan koordinasi atau memfasilitasi
bentuk-bentuk
interaksi
baru
dalam
perencanaan (Silva, 2010).
Kajian Literatur
Perkembangan pemanfaatan teknologi informasi
dan komunikasi dalam perencanaan bermula
dari adanya perubahan pandangan penggunaan
teknologi komputer di praktek perencanaan
(Klosterman, 1992). Pengenalan komputer ke
perencanaan di mulai tahun 1960, komputer
diasumsikan memainkan peran penting dalam
mengumpulkan dan menyimpan data yang
dibutuhkan dari waktu ke waktu, bisa
menggambarkan model masa kini dan masa
depan melalui identifikasi rencana terbaik dalam
berbagai alternatif yang mungkin (Harris dan
Batty, 1993; Brail, 2001). Penggunaan dan
pengembangan model teknologi komputasi
pemanfaatan lahan pertama untuk mendukung
proses
pengambilan
keputusan
dalam
perencanaan kota pada awal abad ke-20, yaitu
kontribusi terhadap pengambilan keputusan dan
praktek perencanaan (Yigitcanlar, 2010).
Menurut Cullingworth dan Nadin (2006),
perencanaan tata ruang berkaitan dengan
masalah koordinasi atau integrasi kebijakan
spasial dan sektoral. Penggunaan internet untuk
semua aspek kehidupan akan memberikan
efisiensi dan pengetahuan bagi pengambil
keputusan dan perencana. Penggunaan TIK
(ICT use) didasarkan pada pada asumsi bahwa
manusia biasanya berperilaku menurut akal
sehat, bahwa mereka mempertimbangkan
informasi yang tersedia dan secara implisit atau
eksplisit mempertimbangkan implikasi dari
tindakan mereka yang disebut dengan theory
264 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N2

(Ajzen,
2005:118).
planned
behaviour
Berdasarkan teori tersebut terdapat 3 (tiga)
faktor penentu dasar yang mempengaruhi
pemerintah daerah dalam penggunaan ICT (ICT
use), yaitu:
a. attitude toward behavior merupakan faktor
personal berupa evaluasi positif atau negatif
individu
yang
diasumsikan
dapat
mempengaruhi sikap/keyakinan perilaku
(behavioral beliefs)
b. social
pressure
merupakan
persepsi
seseorang terhadap tekanan sosial untuk
melakukan atau tidak melakukan perilaku
yang sedang dipertimbangkan.
c. perceived control merupakan kemungkinan
untuk memperhitungkan beberapa kendala
yang realistis yang mungkin terjadi
sehingga mereka harus memberikan
informasi yang berguna.

Gambar 1. Bentuk Pengambilan Keputusan


Sumber: Friend dan Hickling, 2005

Terdapat beberapa jenis konteks manusia dalam


pengambilan keputusan. Dalam sebuah konteks
organisasional yang paling sederhana dalam
lingkungan kerja kantor non komputer:
seseorang duduk di atas sebuah kursi (simbol
peran organisasi) dengan setumpuk urusan
pengambilan keputusan di atas meja (simbol
sebuah agenda). Konteks lain pengambilan
keputusan adalah sebuah komite atau
sekelompok orang yang mengelilingi meja yang
lebih besar dan memaparkan persoalanpersoalan untuk didiskusikan dan sedapat
mungkin diselesaikan.
Metode
Metode yang digunakan dalam penelitian ini
adalah deskriptif kualiatif. Metode pengumpulan
data dan analisis dijelaskan di bawah ini:

Agustiah Wulandari

Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data yang digunakan
adalah wawancara terstruktur. Wawancara
terstruktur (structured interview) merupakan
pertanyaan yang diberikan kepada responden
berdasarkan kategori jawaban tertentu/terbatas
(Denzin & Lincoln, 2009: 23). Pertanyaan yang
digunakan dalam penelitian ini menggunakan
pertanyaan semi terbuka. Tujuan pertanyaan
semi-terbuka ini adalah memperoleh gambaran
yang lebih jelas mengenai pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi dalam
perencanaan wilayah dan kota.
Responden penelitian ini adalah pemerintah
daerah yang terdapat di Metropolitan Bandung.
Metode pemilihan responden adalah dengan
menggunakan purposive sampling. Karakteristik
yang digunakan untuk pemilihan responden
adalah pemerintah daerah di Metropolitan
Bandung yang memiliki tugas pokok dan fungsi
utama dan memiliki kewenangan dalam
penyusunan rencana tata ruang. Objek studi
yang digunakan dalam penelitian ini adalah
kawasan
metropolitan.
Alasan
pemilihan
Metropolitan Bandung sebagai obyek penelitan
karena:
a. Kawasan Metropolitan Bandung memiliki
kedudukan sebagai salah satu Pusat Kegiatan
Nasional (PKN) sehingga fungsi kawasan ini
sangat penting sebagai pintu gerbang ke
kawasan-kawasan internasional dan sebagai
pusat jasa, pusat pengolahan, simpul
transportasi dengan skala pelayanan Propinsi
dan nasional (PP No. 47 Tahun 1997 tentang
RTRWN).
b. Tingkat keberagaman (diversity) kawasan
Metropolitan Bandung beragam apabila
dikaitkan dengan permasalahan dan prioritas
daerah tapi masing-masing Kota/Kabupaten
juga memiliki saling keterkaitan karena
berada dalam satu Kawasan Metropolitan.
c. Adanya fungsi yang berbeda antara pusat dan
pinggiran di Kawasan Metropolitan Bandung.
Metropolitan
merupakan suatu
sistem
struktur
ruang
tertentu dengan batas
fungsional yang mencakup satu atau lebih
kota besar menjadi pusat (kota inti) dan
beberapa kota kecil yang berfungsi sebagai
kota
satelit
dan
terintegrasi
secara

menyeluruh dan memiliki keterikatan secara


ekonomi dan sosial. Masing-masing Kota/
Kabupaten juga memiliki saling keterkaitan
karena
berada
dalam
satu
Kawasan
Metropolitan.
Metode Analisis Data
Metode analisis yang digunakan adalah statistik
deskriptif yang bertujuan sebagai kerangka
dasar untuk analisis deskriptif pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi dalam
koordinasi penyusunan rencana tata ruang.
Statistik deskriptif memberikan informasi secara
visual dan bersifat subjektif dalam pembuatan
analisisya. Penelitian ini menggunakan teknik
analisis kualitatif berdasarkan hasil analisis
deskriptif, yang digunakan sebagai kerangka
dasar. Variabel yang digunakan dalam analisis
ini terkait penggunan teknologi informasi dan
komunikasi (ICT use) dalam koordinasi
penyusunan rencana tata ruang. Teknologi
informasi dan komunikasi yang dimaksud adalah
penggunaan alat komunikasi, telepon, dan
internet. Data hasil kuesioner tersebut kemudian
diolah dan dibandingkan dengan bentuk
koordinasi penyelenggaraan penataan ruang
dalam satu wilayah administrasi, koordinasi
antardaerah, dan koordinasi antartingkatan
pemerintahan (PP 15 tahun 2010 tentang
penyelenggaraan penaatan ruang). Analisis ini
bertujuan untuk mengetahui sejauh mana
pemerintah daerah menggunakan teknologi
informasi dan komunikasi dalam koordinasi
penyusunan rencana tata ruang.
Pemilihan
indikator
pada
penelitian
ini
didasarkan pada relevansi indikator untuk
dengan proses penyusunan rencana tata ruang.
Indikator yang digunakan dalam penelitian ini
dikaitkan dengan tahapan yang digunakan
dalam proses perencanaan (Anderson, 2005),
yaitu: identifikasi masalah, penetapan tujuan,
sasaran dan prioritas, mengumpulkan dan
menginterpretasikan data, menyiapkan rencana,
draft program untuk pelaksanaan rencana.
Diskusi
Penelitian ini mengidentifikasi koordinasi yang
dilakukan antar bidang yang terkait dengan
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N2 | 265

Teknologi Informasi Dan Komunikasi Mendukung Koordinasi Penyusunan Rencana Tata Ruang Di Metropolitan Bandung

penataan ruang. Koordinasi yang dibahas dalam


penelitian ini berupa koordinasi perencanaan
tata ruang dalam satu wilayah administrasi,
koordinasi
antardaerah,
dan
koordinasi
antartingkatan pemerintahan (PP 15 tahun 2010
tentang penyelenggaraan penaatan ruang),
yang dijelaskan di bawah ini.
Koordinasi dalam satu Wilayah Administrasi
Koordinasi yang dilakukan dalam satu wilayah
administrasi dapat dibedakan menjadi antar
bidang dalam satu Organisasi Perangkat Daerah
(OPD) dan antar OPD, dalam perencanaan tata
ruang, yaitu:
a. Identifikasi masalah
Identifikasi
masalah
bertujuan
untuk
mengetahui gambaran permsalahan yang
ada di daerah perencanaan. Koordinasi yang
dilakukan dalam satu wilayah administrasi
(antar bidang dan antar Organisasi
Perangkat
Daerah)
dilakukan
dengan
pertemuan tatap muka langsung.
b.

Tujuan, Sasaran, dan Prioritas


penentuan tujuan, sasaran, dan prioritas
pengembangan bertujua untuk menjaring
masukan dari berbagai para pemangku
kepentingan. Koordinasi yang dilakukan
antar bidang berupa koordinasi langsung
(tatap muka) melalui rapat kantor dan
koordinasi melalui SMS dan telepon. Masingmasing bidang yang terkait dengan tata
ruang,
seperti:
Bidang
fisik
Badan
Perencanaan
Pembangunan
Daerah
(BAPPEDA) bekerjasama dengan bidang
monitoring evaluasi statistik dengan ekonomi
dan sosial budaya. Bidang tata ruang,
merupakan salah satu badan yang memiliki
kewenangan dalam penataan ruang yang
ada di semua Kabupaten/Kota yang ada di
Wilayah Metropolitan Bandung.

c. Mengumpulkan dan Mengintepretasikan Data


Data
dibutuhkan
untuk
mengetahui
gambaran wilayah perencanaan. Masingmasing bidang membutuhkan data dan
bentuk koordinasi data yang berbeda. Bidang
fisik Badan Perencanaan Pembangunan
Daerah (BAPPEDA) membutuhkan data
266 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N2

kependudukan, sosial, budaya, dan ekonomi.


Bentuk koordinasi yang dilakukan adalah
mendatangi langsung kantor instansi yang
terkait,
mengadakan
rapat
dan
menggunakan email untuk mengirimkan dan
menerima data.
Bidang tata ruang mengumpulkan dan
mengintepretasikan
data:
tujuan
pembangunan
Kabupaten/Kota,
RPJPD,
RPJM, RTRW Kabupaten/Kota, rencana
pengembangan jaringan prasarana, sistem
transportasi, dan sistem jaringan prasarana
lainnya. Daya dukung dan daya tampung
fisik RDTR dan peraturan zonasi. Fisik dasar
(letak geografis, topografi dan kemiringan,
klimatologi dan hidrologi, jenis tanah dan
standar, geologi), Tata guna lahan, status
pemilikan tanah, Penyebaran permukiman,
penyebaran fasilitas umum), Kebijakan
Pengembangan berupa izin pembangunan
dan Kawasan-kawasan khusus. Peta profil
wilayah perencanaan. peta orientasi, peta
kondisi fisik (geologi, jenis tanah, hidrologi),
peta batas administrasi, peta guna lahan,
peta rawan bencana, dan penetapan sebaran
penduduk
d. Menyiapkan Rencana
Bentuk Koordinasi yang dilakukan, yaitu:
menggunakan email untuk mengirimkan data
dan website khusus tentang rencana tata
ruang. Pada koordinasi untuk menyiapkan
rencana antar bidang, yaitu bidang fisik
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah
(BAPPEDA) melakukan koordinasi dengan
rapat dan menggunakan email untuk
mengirimkan data. Bentuk Koordinasi yang
dilakukan bidang tata ruang, yaitu: rapat dan
menggunakan email untuk mengirimkan data.
Koordinasi antar daerah
Koordinasi antar daerah yang dibahas dalam
penelitian
ini
adalah
koordinasi
antar
Kabupaten/Kota yang ada dalam wilayah
Metropolitan Bandung. Berdasarkan UndangUndang Nomor 32 tahun 2004 tentang
pemerintahan daerah menyatakan bahwa
pemerintahan daerah dalam menyelenggarakan
urusan
pemerintahan memiliki hubungan

Agustiah Wulandari

6) Koordinasi tersebut dilakukan oleh


masing-masing BAPPEDA Kabupaten/Kota.
Namun, Dinas Tata Ruang tidak
melakukan kerjasama dengan setiap
Kabupaten/Kota tersebut. Dinas Tata
Ruang
Kota
Bandung
melakukan
koordinasi dengan setiap Kabupaten/Kota
yang ada di Wilayah Metropolitan
Bandung.
Dinas
Pekerjaan
Umum
Kabupaten
Bandung
melakukan
koordinasi
dengan
Kota
Bandung,
Kabupaten Bandung, dan Kabupaten
Bandung Barat. Dinas Pekerjaan Umum
Kabupaten
Sumedang
berkoordinasi
dengan Kota Bandung terkait masalah
kedudukan
Kabupaten
Sumedang
terhadap Kota Bandung.

dengan Pemerintah dan dengan pemerintahan


daerah lainnya.
a.

Identifikasi masalah
Permasalahaan
yang
yang
dibahas
Kabupaten/Kota yang ada di Wilayah
Metropolitan Bandung, adalah perencanaan
di
lingkup
Metropolitan
Bandung,
sinkronisasi peruntukan perbatasan wilayah,
batas wilayah, dan koordinasi KBU dan
cekungan Bandung. Bentuk koordinasi yang
dilakukan antar masing-masing Kabupaten/
Kota, yaitu:
1) Kota Bandung, diarahkan sebagai kota
inti dari PKN bentuk koordinasi setiap
Kabupaten/Kota yang ada di Wilayah
Metropolitan adalah koordinasi langsung
(tatap muka) melalui rapat kantor dan
koordinasi melalui SMS dan telepon.
2) Kota Cimahi, diarahkan sebagai kota inti
dari PKN dengan kegiatan utama
perdagangan dan jasa, industri kreatif,
teknologi tinggi dan industri non-polutif.
Bentuk koordinasi yang dilakukan adalah
dengan koordinasi langsung (tatap
muka) melalui rapat kantor.
3) Kabupaten Bandung sebagai sebagai
bagian dari PKN degan 6 (enam)
kegiatan utama,
yaitu
agribisnis,
industri, pariwisata,
jasa,
bisnis
kelautan, dan sumber daya alam di 8
(delapan) kawasan andalan. Bentuk
koordinasi yang dilakukan Kabupaten
Bandung adalah koordinasi langsung
(tatap muka) melalui rapat kantor dan
koordinasi melalui SMS dan telepon.
4) Kabupaten Bandung Barat, diarahkan
sebagai bagian dari PKN dengan
kegiatan utama industri non-polutif,
pertanian, industri kreatif, dan teknologi
tinggi. Bentuk koordinasi yang dilakukan
Kabupaten Bandung Barat adalah
koordinasi langsung (tatap muka)
melalui rapat kantor dan koordinasi
melalui SMS dan telepon
5) Kabupaten
Sumedang,
diarahkan
sebagai PKL, dilengkapi sarana dan
prasarana pendukung, serta pusat
pendidikan tinggi di kawasan Jatinangor,
agrobisnis, dan industri nonpolutif.

b.

Menetapkan tujuan dan sasaran


Pada saat menetapkan tujuan sasaran dan
prioritas, bentuk koordinasi yang dilakukan
antar
masing-masing
Kabupaten/Kota,
yaitu:
1) Kota
Bandung,
berupa
koordinasi
langsung (tatap muka) melalui rapat
kantor, menjaring semua aspirasi dan
memanfaatkan komputer dan proyektor,
dan koordinasi tanpa tatap muka
langsung tapi menggunakan email, skype,
yahoo messenger, dan BBM.
2) Kota Cimahi berupa koordinasi langsung
(tatap muka) melalui rapat kantor dan
menjaring
semua
aspirasi
dan
memanfaatkan komputer dan proyektor.
3) Kabupaten Bandung berupa koordinasi
langsung (tatap muka) melalui rapat
kantor
4) Kabupaten
Bandung
Baratberupa
koordinasi langsung (tatap muka) melalui
rapat kantor
5) Kabupaten Sumedang berupa koordinasi
langsung (tatap muka) melalui rapat
kantor

c.

Mengumpulkan dan mengintepretasikan


data
Data yang digunakan dalam membuat
rencana antar Kabupaten/Kota di Wilayah
Metropolitan Bandung, berupa: Perumusan
tujuan. Tujuan pembangunan kabupaten
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N2 | 267

Teknologi Informasi Dan Komunikasi Mendukung Koordinasi Penyusunan Rencana Tata Ruang Di Metropolitan Bandung

/kota (RPJPD, RPJM, RTRW kabupaten/


kota),
Kependudukan
(Jumlah
dan
penyebaran,
Komposisi
penduduk,
Pengembangan penduduk, Sosial budaya),
Perekonomian
(Produksi
tiap
sektor
kegiatan ekonomi dan penyebarannya, Pola
aliran barang dan jasa dalam proses koleksi
dan distribusi, sumber daya alam (keadaan
tanah, geologi, air, dan iklim, vegetasi dan
fauna, sumber daya alam potensial).
Rencana jaringan prasarana. analisis bentuk
dan struktur wilayah perencanaan (fisik dan
alamiah serta buatan, tata guna lahan,
perkiraan kebutuhan ruang, dampak
lingkungan).
Peta
profil
wilayah
perencanaan. peta kondisi fisik (geologi,
jenis tanah, hidrologi), Peta batas
administrasi.
d.

Menyiapkan rencana
Dalam menyiapakan rencana pemerintah
daerah Metropolitan menggunakan email
untuk mengirimkan data dan website
khusus tentang rencana tata ruang.

b.

Tujuan Sasaran dan Prioritas


Koordinasi yang dilakukan Provinsi Jawa
Barat dengan antar Wilayah Metropolitan
adalah:
1. koordinasi langsung (tatap muka) melalui
rapat kantor
2. koordinasi dilakukan dengan menjaring
semua aspirasi dan dituliskan pada
whiteboard
3. koordinasi dilakukan dengan menjaring
semua aspirasi dan memanfaatkan
komputer dan proyektor
4. koordinasi tanpa tatap muka langsung,
tapi menggunaka email, skype, yahoo
messenger, blackberry messenger)

Identifikasi masalah
Permasalahan yang dihadapi bersama oleh
Wilayah Metropolitan Bandung adalah
permasalahan
yang
terkait
Kawasan
Bandung Utara, Metro Cekungan Bandung.
Namun, Permasalahan yang dihadapi oleh
Kabupaten
Bandung
Barat
adalah
Pembangunan jalan Tol CileunyiSumedang
-Dawuan (CISUMDAWU) dan jalan Tol
Cikopo/Cikampek-Palimanan
(CIKAPALI)
(RTRW Provinsi Jawa Barat, 2013) yang
melibatkan Kabupaten Bandung dan
Kabupaten Sumedang. Bentuk koordinasi
yang dilakukan pemerintah Provinsi Jawa
Barat dengan Kabupaten/ Kota tersebut

Mengumpulkan dan mengintepretasikan


data
Koordinasi yang dilakukan pada tahap
mengumpulkan dan menginteprateasikan
data adalah dengan mendatangi langsung
kantor instasi yangt terkait atau dengan
mengadakan rapat dan menggunakan email
untuk mengirimkan dan menerima data.
Data yang dibutuhkan, yaitu: tujuan
pembangunan kabupaten/kota (RPJPD,
RPJM,
RTRW
kabupaten/kota),
Kependudukan (Jumlah dan penyebaran,
Komposisi
penduduk,
Pengembangan
penduduk, Sosial budaya), Perekonomian
(Produksi tiap sektor kegiatan ekonomi dan
penyebarannya, Pola aliran barang dan
jasa dalam proses koleksi dan distribusi,
Sumber Daya Alam (Keadaan tanah, geologi,
air, dan iklim , vegetasi dan fauna , Sumber
daya alam potensial). Rencana jaringan
prasarana. Sistem transportasi dan sistem
jaringan prasarana lainnya, Kebijakan
pergerakan (Kebijaksanaan transportasi,
Rencana
tata
ruang
makro/RTRW
kabupaten/kota), Data kondisi sistem air

minum saat ini (Sumber dan kapasitas


sumber air minum, Sistem pelayanan dan
jaringan , Tingkat pelayanan dan tingkat
kebocoran, Daerah pelayanan). Daya

dukung dan daya tampung fisik RDTR dan


peraturan zonasi. Fisik dasar (letak
geografis, topografi dan kemiringan,
klimatologi dan hidrologi, jenis tanah dan

Koordinasi antartingkatan pemerintahan


Koordinasi antartingkatan pemerintahan yaitu
antara Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten/Kota
yang ada di Metropolitan Bandung. Berdasarkan
kewenangan yang termuat dalam Rencana Tata
Ruang Provinsi Jawa Barat.
a.

adalah dengan Koordinasi langsung (tatap


muka) melalui rapat kantor dan Koordinasi
melalui SMS dan telepon

268 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N2

c.

Agustiah Wulandari

standar, geologi). Fisik Binaan (Tata guna


lahan, status pemilikan tanah, Penyebaran
permukiman, penyebaran fasilitas umum),
Kebijakan
Pengembangan
(Izin
pembangunan
dan
Kawasan-kawasan
khusus). Peta Profil Wilayah Perencanaan.
Peta orientasi, Peta kondisi fisik (geologi,
jenis tanah, hidrologi), Peta batas
administrasi, Peta guna lahan, Peta rawan,
Penetapan sebaran penduduk, Peta potensi
SDA, Peta citra satelit
d.

Menyiapkan rencana
Koordinasi
yang
dilakukan
dalam
menyiapkan rencana, yaitu: menggunakan
email untuk mengirimkan data dan website
khusus tentang rencana tata ruang

Kesimpulan dan Rekomendasi


Berdasarkan hasil analisis, koordinasi yang telah
dilakukan Pemerintah di Metropolitan Bandung
dengan memanfaatkan teknologi informasi dan
komunikasi
hanya
digunakan
sebagai
pendukung kegiatan penyusunan rencana tata
ruang. Pemanfaatan teknologi informasi dan
komunikasi
belum
dapat
menggantikan
pertemuan tatap muka langsung dan masih
memerlukan tatap muka langsung (rapat).
Bentuk koordinasi dan kewenangan yang
dilakukan pemerintah daerah menggunakan
teknologi informasi dan komunikasi dalam
penyusunan rencana tata ruag dapat dilihat
pada tabel 1.

Tabel 1. Pemanfaatan Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Koordinasi Penyusunan Rencana Tata Ruang

No

Bentuk
Koordinasi

Koordinasi
dalam
satu
wilayah
administrasi

Koordinasi
antardaerah

Koordinasi
antar tingkatan
pemerintah

identifikasi
masalah
Pertemuan
langsung (rapat)
SMS dan telepon,
email, skype,
yahoo

messenger,
Blackberry
Messengger)

pertemuan
langsung (rapat)1
SMS dan telepon
pertemuan
langsung (rapat)
SMS dan telepon

Tahapan Penyusunan Rencana Tata Ruang


mengumpulkan dan
menetukan tujuan
mengintepretasiikan
dan sasaran
data
pertemuan
langsung (rapat)
menggunakan email
untuk mengirim dan
pertemuan
menerima data
langsung (rapat) sudah memiliki
database yang
dapat diakses
(antara atasan dan
staf/pelaksana)
pertemuan
pertemuan
langsung
langsung (rapat)
2
(rapat)
menggunakan email
memanfaatkan
untuk mengirim dan
komputer dan
menerima data
proyektor
pertemuan
pertemuan
langsung
langsung (rapat)
memanfaatkan
menggunakan email
komputer dan
untuk mengirim dan
proyektor
menerima data

menyiapkan
rencana
pertemuan
langsung
(rapat)
menggunakan
email untuk
mengirimkan
data yang
dibutuhkan
pertemuan
langsung
(rapat)
website
pemerintah
daerah
pertemuan
langsung
(rapat)

Keterangan:
1
Kota Cimahi dan Kabupaten Sumednag pada tahap identifikasi masalah dengan pertemuan langsung (rapat),
sedangkan Kota Bandung, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat selain pertemuan langsung
juga menggunakan SMS dan telepon untuk membantu koordinasi
2
Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, dan Kabupaten Sumedang

Rekomendasi yang dapat diberikan berdasarkan


koordinasi penyusunan rencana tata ruang
diberikan berdasarkan tahapan penyusunan
rencana tata ruang, antara lain:

a. Pada
tahap
mengidentifikasi
masalah
dibutuhkan partisipasi yang interaktif antar
pemangku kepentingan
b. Peningkatan koordinasi dalam menentukan
tujuan dan sasaran
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N2 | 269

Teknologi Informasi Dan Komunikasi Mendukung Koordinasi Penyusunan Rencana Tata Ruang Di Metropolitan Bandung

c. Peningkatan koordinasi antar pemangku


kepentingan dalam penyediaan data.
d. Pengkomunikasian rencana antar para
pemangku kepentingan dan masyarakat
yang membutuhkan rencana
Ucapan Terimakasih
Ucapan terima kasih disampaikan kepada
Ridwan Sutriadi, ST, MT, Ph.D. selaku
pembimbing atas bimbingan dan arahan selama
penelitian.
Ucapan
terimakasih
juga
disampaikan kepada pemerintah daerah Provinsi
Jawa Barat, Kota Bandung, Kota Cimahi,
Kabupaten Bandung Barat, Kabupaten Bandung,
dan Kabupaten Sumedang yang membantu
pelaksanaan studi yang dilakukan sebagai nara
sumber, penyedia data/informasi.
Daftar Pustaka
Ajzen, Icek. 2005. Attitudes, Personality, and
Behaviour Second Edition. UK: Open University
Press.
Bappeda Provinsi Jawa Barat. (2009). Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) Provinsi Jawa
Barat 2009-2029.
Brail, R. K. (2001). Planning Support Systems: A
new perspective on computer-aided planning.
In Brail, R. K., & Klosterman, R. E. (Eds.),

Planning Support Systems: Integrating


Geographic Information System, Models, and
Visualization Tools. New York: ESRI Press.
Conyers, Diana & Peter Hills. (1984). An
Introduction to Development Planning in the
Third World. New York: John Wiley & Sons.

270 | Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota B SAPPK V2N2

Denzin N. K. & Lincoln, Y. S., (2009). Collecting


and Interpreting Qualitative Materials (3rd ed.).
London: SAGE Publications.
Friedmann, J. (1987). Planning In the Public
Domain from Knowledge to Action. Princeton:
Princeton University Press.
Innes, J. E. (1995). Planning Theory's Emerging
Paradigm:
Communicative
Action
and
Interactive Practice. Journal of Planning
Education and Research, 14, 183-189.
Klosterman, Richard E. (1992). Evolving Views
of Computer-Aided Planning. Journal of
Planning Literature. 249-260.
Silva, C. N. (2010). the E-Planning ParadigmTheory, Methods and Tools: An Overview. In C.
N. Silva, Handbook of Research on E-Planning.
ICTs for Urban Development and Monitoring.
(pp. 1-14). Hershey, New York: Information
Science Reference.
Harris, B., & Batty, M.
(1993). Locational
Models,
Geographical
Information
and
Planning Support System. Journal of Planning
Education and Research, 12, 184198.
Yigitcanlar, T. (2010). Planning Online: A
Community-Based Interactive Decision-Making
Model. In C. N. Silva, Handbook of Research

on E-Planning: ICTs for Urban Development


and Monitoring. (pp. 15-35). Hershey:
Information Science Reference.
Undang-Undang Nomor 26 tahun 2007 tentang
Penataan Ruang
PP No. 47 Tahun 1997 tentang RTRWN
Peraturan Pemerintah Nomor 15 tahun 2010
Tentang penyelenggaraan penataan ruang.