Anda di halaman 1dari 27

Penemuan Mayat Bayi di Tempat Sampah

Haekal Mahargias
102011342
E3
haekalmahargias@yahoo.com
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA
Jl. Arjuna Utara No.6 Kebon jeruk, Jakarta Barat

KASUS
Sesosok mayat bayi baru lahir ditemukan di suatu tempat sampah. Masyarakat
melaporkannya kepada polisi. Mereka juga melaporkan bahwa semalam melihat seorang
perempuan yang menghentikan mobilnya didekat sampah tersebut dan berada di sana cukup
lama. Seorang dari anggota masyarakat sempat mencatat nomor mobil perempuan tersebut.
Polisi mengambil mayat bayi tersebut dan menyerahkannya kepada anda sebagai dokter
direktur rumah sakit. Polisi juga mengatakan bahwa sebentar lagi si perempuan yang dicurigai
sebagai pelakunya akan dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa. Anda harus mengatur segalanya
agar semua pemeriksaan dapat berjalan dengan baik dan akan membriefing para dokter yang
akan menjadi pemeriksa.

Pendahuluan
1

Menurut undang-undang di Indonesia pembunuhan anak sendiri adalah pembunuhan


yang dilakukan oleh seorang ibu atas anaknya pada ketika dilahirkan atau tidak berapa lama
setelah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia melahirkan anak. Berdasarkan KUHP
seseorang yang melakukan tindakan ini dapat dikenakan hukuman karena melakukan
pembunuhan anak adalah ibu dari anak itu sendiri, demikian pula dengan tindak pidana yang
dimaksudkan dalam pasal 308 dan pasal 306 ayat 2.1
Pada Tindak pidana pembunuhan anak, faktor psikologik ibu yang baru melahirkan
diperhitungkan sebagai faktor yang meringankan, keadaan tersebut menyebabkan si ibu
melakukan pembunuhan tidak dalam keadaan sadar yang penuh, dan belum sempat timbul rasa
kasih sayang. Di Jakarta dilaporkan bahwa 90-95% dari sekitar 30-40 kasus PAS per
tahundilakukan dengan cara asfiksia mekanik. Bentuk kekerasan lainnya adalah kekerasantumpul
di kepala (5-10%) dan kekerasan tajam pada leher atau dada (1 kasus dalam 6-7tahun). Cara
yang paling sering digunakan dalam kasus PAS adalah membuat keadaan asfiksia mekanik yaitu
pembekapan, pencekikan, penjeratan dan penyumbatan.2

Aspek Hukum
Sampai tahun 1922, menghilangkan nyawa bayi yang baru lahir (dalam segala keadaan)
adalah pembunuhan. Keadaan ini tidak mengijinkan fakta bahwa melahirkan dapat berefek yang
secara sementara mengganggu keadaan jiwa ibu sehingga dia harus bertanggung jawab atas
tindakan membunuh anaknya. Undang-undang Infantisida tahun 1922, yang mengatur tentang
kejahatan infantisida membatasi kemungkinan terjadinya hal ini, namun tidak mendefinisikan
keadaan baru lahir dan apakah benar adanya kemungkinan lanjut bahwa menyusui juga dapat
menyebabkan ketidakseimbangan mental secara sementara.2
Undang-undang Infantisida tahun 1938 bagian 1 menyebutkan Ketika wanita melakukan
tindakan atau tidak melakukan tindakan yang dapat menyebabkan kematian anak kandungnya
yang berusia di bawah 12 bulan, tetapi pada saat itu kegiatan melakukan tindakan atau tidak
melakukan tindakan tersebut keadaan pikirannya terganggu dengan alasan belum pulih dari
pengaruh melahirkan dan pengaruh menyusui setelah melahirkan, walaupun demikian keadaan
demikian tetap berlaku sebagai pembunuhan dia dinyatakan bersalah telah melakukan
2

infantisida secara kejam dan kemungkinan dapat diancam atau dihukum seperti dia telah
membantai manusia. Pencegahan juga dibuat pada keadaan, jika dia didakwa melakukan
pembunuhan, sebagai tuduhan alternatif dari pembantaian, bersalah namun gila atau
menyembunyikan kelahiran tergantung keputusan juri. Dalam KUHAP, pembunuhan anak
sendiri tercantum di dalam bab kejahatan terhadap nyawa orang. Pasal-pasal yang berhubungan
adalah seperti berikut : 2
Pasal 341 KUHP
Seorang ibu yang dengan sengaja menghilangkan jiwa anaknya pada ketika dilahirkan
atau tidak berapa lama sesudah dilahirkan, karena takut ketahuan bahwa ia sudah melahirkan
anak, dihukum, karena makar mati terhadap anak, dengan hukuman penjara selama lamanya 7
tahun.
Pasal 342 KUHP
Seorang ibu yang dengan sengaja akan menjalankan keputusan yang diambilnya sebab
takut ketahuan bahwa ia tidak lama lagi akan melahirkan anak, menghilangkan jiwa anaknya itu
pada ketika dilahirkan atau tidak lama kemudian dari pada itu, dihukum karena pembunuhan
anak yang direncanakan dengan hukuman penjara selama lamanya 9 tahun.
Pasal 343 KUHP
Bagi orang lain yang turut campur dalam kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341
dan 342 dianggap kejahatan itu sebagai makar mati atau pembunuhan.
Pasal 181 KUHP
Barang siapa mengubur, menyembunyikan, mengangkut, atau menghilangkan mayat,
dengan maksud hendak menyembunyikan kematian dan kelahiran orang itu, dihukum penjara
selama lamanya 9 bulan atau denda sebanyak banyaknya 4500 rupiah.

Pasal 304 KUHP

Barang siapa dengan sengaja menyebabkan atau membiarkan orang dalam kesengsaraan,
sedang ia wajib memberi kehidupan perawatan atau pemeliharaan pada orang itu karena hokum
yang berlaku atasnya atau karena menurut perjanjian, dihukum penjara selama 2 tahun 8 bulan
atau denda sebanyak banyaknya empat ribu lima ratus rupiah.
Pasal 305 KUHP
Barang siapa menaruh anak yang dibawah umur 7 tahun disuatu tempat supaya dipungut
oleh orang lain, atau dengan maksud akan terbebas dari pada pemeiharaan ana itu,
meninggalkannya, dihukum penjara sebanyak banyaknya 5 tahun 6 bulan.
Pasal 306 KUHP
1) Kalau salah satu perbuatan yang diterangkan dalam pasal 304 dan 305 itu enyebabkan
luka berat, maka si tersalah dihukum penjara selama lamanya 7 tahun 6 bulan.
2) Kalau salah satu perbuatan ini menyebabkan orang lain mati, si tersalah itu dihukum
penjara selama lamanya 9 tahun.
Pasal 307 KUHP
Kalau si tersalah karena kejahatan yang diterangkan dalam pasal 305 adalah bapa atau
ibu dari anak itu, maka baginya hukuman yang ditentukan dalam pasal 305 dan 306 ditambah
dengan sepertiganya.
Pasal 308 KUHP
Kalau ibu menaruh anaknya disuatu tempat supaya dipungut oleh orang lain tidak lama
sesudah anak itu dilahirkan oleh karena takut akan diketahui orang ia melahirkan anaka atau
dengan maksud akan terbebas dari pemeliharaan anak itu, meninggalkannya, maka hukuman
maksimum yang terebut dalam pasal 305 dan 306 dikurangi seperduanya.1
Dengan demikian, pada kasus pembunuhan anak terdapat tiga unsur yang penting, yaitu: 1-3
1. Pelaku : Pelaku haruslah ibu kandung korban.
2. Motif : Motif atau alasan pembunuhan adalah karena takut ketahuan telah
melahirkan anak.

3. Waktu :Pembunuhan dilakukan segera setelah anak dilahirkan atau tidak beberapa
lama kemudian, yang dapat diketahui dari ada tidaknya tanda-tanda perawatan.

Procedur Medikolegal
Prosedur medikolegal adalah tatacara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek
yang berkaitan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar prosedur
medikolegal mengacu kepada peraturan perundangundangan yang berlaku di Indonesia, dan pada
beberapa bidang juga mengacu kepada sumpah dokter dan etika kedokteran.
1. Ruang

lingkup

medikolegal

dapat

disimpulkan

sebagai

yang

berikut:

Pengadaan visum et repertum, tentang pemeriksaan kedokteran terhadap tersangka.


Pemberian keterangan ahli pada masa sebelum persidangan dan pemberian keterangan
ahli di dalam persidangan
2. Kaitan visum et repertum dengan rahasia kedokteran, tentang penerbitan Surat
Keterangan Kematian dan Surat Keterangan Medik
3. Tentang kompetensi pasien untuk menghadapi pemeriksaan penyidik

Salah satu pemeriksaan yang dilakukan pada jenazah bayi adalah autopsi. Hal ini dapat
membantu dokter forensic untuk mengetahui mekanisme kematian sehingga dapat membantu
penyidik mengetahui cara kematian korban. Sesuai dengan Pasal KUHP 222 yang menyatakan
barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan pemeriksaan
mayat forensik, diancam dengan pidana penjara paling lama sembilan bulan atau pidana denda
paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.3
Dalam memenuhi proses medikolegal seorang dokter forensic memiliki memiliki peran
sebagai ahli selama proses penyidikan, seperti yang diterangkan pada KUHAP :

1. Kewajiban Dokter Membantu Peradilan


Pasal 133 KUHAP
1) Dalam hal penyidik untuk kepentingan peradilan menangani seorang korban baik
luka, keracunan ataupun mati yang diduga karena peristiwa yang merupakan
tindak pidana, ia berwenang mengajukan permintaan keterangan ahli kepada ahli
kedokteran kehakiman atau dokter dan atau ahli lainnya.
2) Permintaan keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dilakukan
secara tertulis, yang dalam surat itu disebutkan dengan tegas untuk pemeriksaan
luka atau pemeriksaan mayat dan atau pemeriksaan bedah mayat.
3) Mayat yang dikirim kepada ahli kedokteran kehakiman atau dokter pada rumah
sakit harus diperlakukan secara baik dengan penuh penghormatan terhadap mayat
tersebut dan diberi label yang memuat identitas mayat, dilak dengan cap jabatan
yang dilekatkan pada ibu jari kaki atau bagian lain badan mayat.3
Penjelasan Pasal 133 KUHAP
2) Keterangan yang diberikan oleh ahli kedokteran kehakiman disebut keterangan
ahli, sedangkan keterangan yang diberikan oleh dokter bukan ahli kedokteran
kehakiman disebut keterangan.3
Pasal 179 KUHAP
1) Setiap orang yang diminta pendapatnya sebagai ahli kedokteran kehakiman atau
dokter atau ahli lainnya wajib memberikan keterangan ahli demi keadilan.
2) Semua ketentuan tersebut di atas untuk saksi berlaku juga bagi mereka yang
memberikan keterangan ahli, dengan ketentuan bahwa mereka mengucapkan
sumpah atau janji akan memberikan keterangan yang sebaik-baiknya dan sebenarbenarnya menurut pengetahuan dalam bidang keahliannya.3
2. Bentuk Bantuan Dokter Bagi Peradilan Dan Manfaatnya
Pasal 183 KUHAP
Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seorang kecuali apabila dengan
sekurang-kurangnya dua alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu
tindak pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwalah yang bersalah melakukannnya.3
Pasal 184 KUHAP
6

1) Alat bukti yang sah adalah:


a. Keterangan saksi
b. Keterangan ahli
c. Surat
d. Pertunjuk
e. Keterangan terdakwa
2) Hal yang secara umum sudah diketahui tidak perlu dibuktikan.3
Pasal 186 KUHAP
Keterangan ahli ialah apa yang seorang ahli nyatakan di sidang pengadilan.3
Pasal 180 KUHAP
1) Dalam hal diperlukan untuk menjernihkan duduknya persoalan yang timbul di
sidang pengadilan, Hakim ketua sidang dapat minta keterangan ahli dan dapat
pula minta agar diajukan bahan baru oleh yang berkepentingan.
2) Dalam hal timbul keberatan yang beralasan dari terdakwa atau penasihat hukum
terhadap hasil keterangan ahli sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) Hakim
memerintahkan agar hal itu dilakukan penelitian ulang.
3) Hakim karena jabatannya dapat memerintahkan untuk dilakukan penelitian ulang
sebagaimana tersebut pada ayat (2).
4) Penelitian ulang sebagaimana tersebut pada ayat (2) dan ayat (3) dilakukan oleh
instansi semula dengan komposisi personil yang berbeda dan instansi lain yang
mempunyai wewenang untuk itu.3
3. Sangsi Bagi Pelanggar Kewajiban Dokter
Pasal 216 KUHP
1) Barang siapa dengan sengaja tidak menuruti perintah atau permintaan yang
dilakukan menurut undang-undang oleh pejabat yang tugasnya mengawasi
sesuatu, atau oleh pejabat berdasarkan tugasnya. Demikian pula yang diberi kuasa
untuk mengusut atau memeriksa tindak pidana; demikian pula barangsiapa
dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan tindakan guna
menjalankan ketentuan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat bulan
dua minggu atau denda paling banyak sembilan ribu rupiah.
2) Disamakan dengan pejabat tersebut di atas, setiap orang yang menurut ketentuan
undang-undang terus-menerus atau untuk sementara waktu diserahi tugas
menjalankan jabatan umum.
3) Jika pada waktu melakukan kejahatan belum lewat dua tahun sejak adanya
pemidanaan yang menjadi tetap karena kejahatan semacam itu juga, maka
pidanya dapat ditambah sepertiga.3
Pasal 222 KUHP
7

Barang siapa dengan sengaja mencegah, menghalang-halangi atau menggagalkan


pemeriksaan mayat untuk pengadilan, diancam dengan pidana penjara paling lama
sembilan bulan atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah.3
Pasal 224 KUHP
Barang siapa yang dipanggil menurut undang-undang untuk menjadi saksi, ahli
atau jurubahasa, dengan sengaja tidak melakukan suatu kewajiban yang menurut undangundang ia harus melakukannnya:
1. Dalam perkara pidana dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 9 bulan.
2. Dalam perkara lain, dihukum dengan hukuman penjara selama-lamanya 6 bulan.3
Pasal 522 KUHP
Barang siapa menurut undang-undang dipanggil sebagai saksi, ahli atau
jurubahasa, tidak datang secara melawan hukum, diancam dengan pidana denda paling
banyak sembilan ratus rupiah.3
Pemeriksaan Medis Pada Bidang Tanatologi
Tanatologi berasal dari kata thanatos (yang berhubungan dengan kematian) dan logos
(ilmu). Tanatologi adalah bagian dari Ilmu Kedokteran Forensik yang mempelajari kematian dan
perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.2
Tanda kematian tidak pasti, antara lain :
1. Pernapasan berhenti, dinilai selama lebih dari 10 menit (inspeksi, palpasi, auskultasi).
2. Terhentinya sirkulasi, dinilai selama 15 menit, nadi karotis tidak teraba.
3. Kulit pucat, tetapi bukan merupakan tanda yang dapat dipercaya, karena mungkin terjadi
spasme agonal sehingga wajah tampak kebiruan.
4. Tonus otot menghilang dan relaksasi. Relaksasi dari otot-otot wajah menyebabkan kulit
menimbul sehingga kadang-kadang membuat orang menjadi tampak lebih muda. Kelemasan
otot sesaat setelah kematian disebut relaksasi primer. Hal ini mengakibatkan pendataran
daerah-daerah yang tertekan, misalnya daerah belikat dan bokong pada mayat yang
terlentang.
5. Pembuluh darah retina mengalami segmentasi beberapa menit setelah kematian. Segmensegmen tersebut bergerak ke arah tepi retina dan kemudian menetap.
6. Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan dalam waktu 10 menit yang masih dapat
dihilangkan dengan meneteskan air.2
Tanda pasti kematian, antara lain :
1. Lebam mayat (livor mortis)
Setelah kematian klinis maka eritrosit akan menempati tempat terbawah akibat gaya tarik
bumi (gravitasi), mengisi vena dan venula, membentuk bercak berwarna merah ungu (livide)

pada bagian terbawah tubuh, kecuali pada bagian tubuh yang tertekan alas keras. Darah tetap
cair karena adanya aktivitas fibrinolisin yang berasal dari endotel pembuluh darah. Lebam
mayat biasanya mulai tampak 20-30 menit pasca mati, makin lama intensitasnya bertambah
dan menjadi lengkap dan menetap setelah 8-12 jam. Sebelum waktu ini, lebam mayat masih
hilang (memucat) pada penekanan dan dapat berpindah jika posisi mayat diubah. Memucatnya
lebam akan lebih cepat dan sempurna apabila penekanan atau perubahan posisi tubuh tersebut
dilakukan dalam 6 jam pertama setelah mati klinis. Tetapi, walaupun setelah 24 jam, darah
masih tetap cukup cair sehingga sejumlah darah masih dapat mengalir dan membentuk lebam
mayat di tempat terendah yang baru. Kadang-kadang dijumpai bercak perdarahan berwarna
biru kehitaman akibat pecahnya pembuluh darah. Menetapnya lebam mayat disebabkan oleh
bertimbunnya sel-sel darah dalam jumlah cukup banyak sehingga sulit berpindah lagi. Selain
itu, kekakuan otot-otot dinding pembuluh darah ikut mempersulit perpindahan tersebut.2
Lebam mayat dapat digunakan untuk tanda pasti kematian; memperkirakan sebab
kematian, misalnya lebam berwarna merah terang pada keracunan CO atau CN, warna
kecoklatan pada keracunan anilin, nitrit, nitrat, sulfonal; mengetahui perubahan posisi mayat
yang dilakukan setelah terjadinya lebam mayat yang menetap; dan memperkirakan saat
kematian.
Apabila pada mayat terlentang yang telah timbul lebam mayat belum menetap dilakukan
perubahan posisi menjadi telungkup, maka setelah beberapa saat akan terbentuk lebam mayat
baru di daerah dada dan perut. Lebam mayat yang belum menetap atau masih hilang pada
penekanan menunjukkan saat kematian kurang dari 8-12 jam sebelum saat pemeriksaan.2
Mengingat pada lebam mayat darah terdapat di dalam pembuluh darah, maka keadaan ini
digunakan untuk membedakannya dengan resapan darah akibat trauma (ekstravasasi). Bila
pada daerah tersebut dilakukan irisan dan kemudian disiram dengan air, maka warna merah
darah akan hilang atau pudar pada lebam mayat, sedangkan pada resapan darah tidak
menghilang.2
2. Kaku mayat (rigor mortis)
Kelenturan otot setelah kematian masih dipertahankan karena metabolisme tingkat seluler
masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen otot yang menghasilkan energi. Energi
ini digunakan untuk mengubah ADP menjadi ATP. Selama masih terdapat ATP maka serabut
aktin dan miosin tetap lentur. Bila cadangan glikogen dalam otot habis, maka energi tidak
terbentuk lagi, aktin dan miosin menggumpal dan otot menjadi kaku.2
9

Kaku mayat dibuktikan dengan memeriksa persendian. Kaku mayat mulai tampak kirakira 2 jam setelah mati klinis, dimulai dari bagian luar tubuh (otot-otot kecil) ke arah dalam
(sentripetal). Teori lama menyebutkan bahwa kaku mayat ini menjalar kraniokaudal. Setelah
mati klinis 12 jam kaku mayat menjadi lengkap, dipertahankan selama 12 jam dan kemudian
menghilang dalam urutan yang sama. Kaku mayat umumnya tidak disertai pemendekan
serabut otot, tetapi jika sebelum terjadi kaku mayat otot berada dalam posisi teregang, maka
saat kaku mayat terbentuk akan terjadi pemendekan otot.2
Faktor-faktor yang mempercepat terjadinya kaku mayat adalah aktivitas fisik sebelum
mati, suhu tubuh yang tinggi, bentuk tubuh kurus dengan otot-otot kecil dan suhu lingkungan
tinggi. Kaku mayat dapat dipergunakan untuk menunjukkan tanda pasti kematian dan
memperkirakan saat kematian.2
Terdapat kekakuan pada mayatyang menyerupai kaku mayat, antara lain :
a) Cadaveric spasm (instantaneous rigor), adalah bentuk kekauan otot yang terjadi pada saat
kematian dan menetap. Cadaveric spasm sesungguhnya merupakan kaku mayat yang
timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer. Penyebabnya
adalah akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati
klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal. Cadaveric spasm
ini jarang dijumpai, tetapi sering terjadi dalam masa perang. Kepentingan medikolegalnya
adalah menunjukkkan sikap terakhir masa hidupnya. Misalnya, tangan yang menggenggam
erat benda yang diraihnya pada kasus tenggelam, tangan yang menggenggam senjata pada
kasus bunuh diri.
b) Heat stiffening, yaitu kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Otot-otot
berwarna merah muda, kaku, tetapi rapuh (mudah robek). Keadaan ini dapat dijumpai pada
korban mati terbakar. Pada heat stiffening serabut-serabut ototnya memendek sehingga
menimbulkan fleksi leher, siku, paha dan lutut, membentuk sikap petinju. Perubahan sikap
ini tidak memberikan arti tertentu bagi sikap semasa hidup, intravitalitas, penyebab atau
cara kematian.
c) Cold stiffening, yaitu kekauan tubuh akibat lingkungan dingin, sehingga terjadi pembekuan
cairan tubuh, termasuk cairan sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot, sehingga
bila sendi ditekuk akan terdengar bunyi pecahnya es dalam rongga sendi.2
3. Penurunan suhu tubuh (algor mortis)
Penurunan suhu tubuh terjadi karena proses pemindahan panas dari suatu benda ke benda
yang lebih dingin, melalui cara radiasi, konduksi, evaporasi dan konveksi.
10

Grafik penurunan suhu tubuh ini hamper berbentuk kurva sigmoid atau seperti huruf S.
Kecepatan penurunan suhu dipengaruhi oleh suhu keliling, aliran dan kelembaban udara,
bentuk tubuh, posisi tubuh dan pakaian. Selain itu, suhu saat mati perlu diketahui untuk
perhitungan perkiraan saat kematian. Penurunan suhu tubuh akan lebih cepat pada suhu
keliling yang rendah, lingkungan berangin dengan kelembaban rendah, tubuh yang kurus,
posisi terlentang, tidak berpakaian atau berpakaian tipis, dan pada umumnya orang tua serta
anak kecil.2
Penelitian akhir-akhir ini cenderung untuk memperkirakan saat mati melalui pengukuran
suhu tubuh pada lingkungan yang menetap di Tempat Kejadian Perkara (TKP). Caranya
adalah dengan melakukan 4-5 kali penentuan suhu rectal dengan interval waktu yang sama
(minimal 15 menit). Suhu lingkungan diukur dan dianggap konstan karena faktor-faktor
lingkungan dibuat menetap, sedangkan suhu saat mati dianggap 37oC bila tidak ada penyakit
demam. Penelitian membuktikan bahwa perubahan suhu lingkungan kurang dari 2 oC tidak
mengakibatkan perubahan yang bermakna. Dari angka-angka di atas, dengan menggunakan
rumus atau grafik dapat ditentukan waktu antara saat mati dengan saat pemeriksaan. Saat ini
telah tersedia program komputer guna penghitungan saat mati melalui cara ini.2
4. Pembusukan (decomposition, putrefaction)
Pembusukan adalah proses degradasi jaringan yang terjadi akibat autolisis dan kerja
bakteri. Autolisis adalah perlunakan dan pencairan jaringan yang terjadi dalam keadaan steril.
Autolisis timbul akibat kerja digestif oleh enzim yang dilepaskan sel pasca mati dan hanya
dapat dicegah dengan pembekuan jaringan.2
Setelah seseorang meninggal, bakteri yang normal hidup dalam tubuh segera masuk ke
jaringan. Darah merupakan media terbaik bagi bakteri tersebut untuk bertumbuh. Sebagian
besar bakteri berasal dari usus dan yang terutama adalah Clostridium welchii. Pada proses
pembusukan ini terbentuk gas-gas alkana, H2S dan HCN, serta asam amino dan asam lemak.2
Pembusukan baru tampak kira-kira 24 jam pasca mati berupa warna kehijauan pada perut
kanan bawah, yaitu daerah sekum yang isinya lebih cair dan penuh dengan bakteri serta
terletak dekat dinding perut. Warna kehijauan ini disebabkan oleh terbentuknya sulf-methemoglobin. Secara bertahap warna kehijauan ini akan menyebar ke seluruh perut dan dada,
dan bau busuk pun mulai tercium. Pembuluh darah bawah kulit akan tampak seperti melebar
dan berwarna hijau kehitaman.2

11

Selanjutnya kulit ari akan terkelupas atau membentuk gelembung berisi cairan kemerahan
berbau busuk. Pembentukan gas di dalam tubuh, dimulai di dalam lambung dan usus, akan
mengakibatkan tegangnya perut dan keluarnya cairan kemerahan dari mulut dan hidung. Gas
yang terdapat di dalam jaringan dinding tubuh akan mengakibatkan terabanya derik
(krepitasi). Gas ini menyebabkan pembengkakan tubuh yang menyeluruh, tetapi ketegangan
terbesar terdapat di daerah dengan jaringan longgar, seperti skrotum dan payudara. Tubuh
berada dalam sikap seperti petinju (pugilistic attitude), yaitu kedua lengan dan tungkai dalam
sikap setengah fleksi akibat terkumpulnya gas pembusukan di dalam rongga sendi.2
Selanjutnya, rambut menjadi mudah dicabut dan kuku mudah terlepas, wajah
mengembung dan warna ungu kehijauan, kelopak mata membengkak, pipi tembam, bibir
tebal, lidah membengkak dan sering terjulur di antara gigi. Keadaan seperti ini sangat berbeda
dengan wajah asli korban, sehingga tidak dapat lagi dikenali oleh keluarga.2
Hewan pengerat akan merusak tubuh mayat dalam beberapa jam pasca mati, terutama
bila mayat dibiarkan tergeletak di daerah rumpun. Luka akibat gigitan binatang pengerat khas
berupa lubang-lubang dangkal dengan tepi bergerigi.2
Larva lalat akan dijumpai setelah pembentukan gas pembusukan nyata, yaitu kira-kira 3648 jam pasca mati. Kumpulan telur lalat telah dapat ditemukan beberapa jam pasca mati, di
alis mata, sudut mata, lubang hidung dan di antara bibir. Telur lalat tersebut kemudian akan
menetas menjadi larva dalam waktu 24 jam. Dengan identifikasi spesies, lalat dan mengukur
panjang larva, maka dapat diketahui usia larva tersebut, yang dapat dipergunakan untuk
memperkirakan saat mati, dengan asumsi bahwa lalat biasanya secepatnya meletakkan telur
setelah seseorang meninggal (dan tidak lagi dapat mengusir lalat yang hinggap).2
Alat dalam tubuh akan mengalami pembusukan dengan kecepatan yang berbeda.
Perubahan warna terjadi pada lambung terutama di daerah fundus, usus, menjadi ungu
kecoklatan. Mukosa saluran napas menjadi kemerahan, endokardium dan intima pembuluh
darah juga kemerahan, akibat hemolisis darah. Difusi empedu dari kandung empedu
mengakibatkan warna coklat kehijauan di jaringan sekitarnya. Otak melunak, hati menjadi
berongga seperti spons, limpa melunak dan mudah robek. Kemudian alat dalam akan
mengerut. Prostat dan uterus non-gravid merupakan organ padat yang paling lama bertahan
terhadap perubahan pembusukan.
Pembusukan akan timbul lebih cepat bila suhu keliling optimal (26.5oC hingga sekitar
suhu normal tubuh), kelembaban dan udara yang cukup, banyak bakteri pembusuk, tubuh
gemuk atau menderita penyakit infeksi dan sepsis. Media tempat mayat terdapat juga
12

berperan. Mayat yang terdapat di udara akan lebih cepat membusuk dibandingkan dengan
yang terdapat dalam air atau dalam tanah. Bayi baru lahir umumnya lebih lambat membusuk,
karena hanya memiliki sedikit bakteri dalam tubuhnya dan hilangnya panas tubuh yang cepat
dan bayi akan menghambat pertumbuhan bakteri.2
5. Adiposera atau lilin mayat.
Adiposera adalah terbentuknya bahan yang berwarna keputihan, lunak atau berminyak,
berbau tengik yang terjadi di dalam jaringan lunak tubuh pasca mati. Dulu disebut sebagai
saponifikasi, tetapi istilah adiposera lebih disukai karena penunjukan sifat-sifat di antara
lemak dan lilin.2
Adiposera terutama terdiridari asam-asam lemak tak jenuh yang terbentuk oleh hidrolisis
lemak dan mengalami hidrogenisasi sehingga terbentuk asam lemak jenuh pasca mati yang
tercampur dengan sisa-sisa otot, jaringan ikat, jaringan saraf yang termumifikasi dan kristalkristal sferis dengan gambaran radial. Adiposera terapung di air, bila dipanaskan mencair dan
terbakar dengan nyala kuning, larut dalam alkohol dan eter.2
Adiposera dapat terbentuk di sembarang lemak tubuh, bahkan di dalam hati, tetapi lemak
superficial yang pertama kali terkena. Biasanya perubahan berbentuk bercak, dapat terlihat di
pipi, payudara atau bokong, bagian tubuh atau ekstremitas. Jarang seluruh lemak tubuh
berubah menjadi adiposera.2
Adiposera akan membuat gambaran permukaan luar tubuh dapat bertahan hingga
bertahun-tahun, sehingga identifikasi mayat dan perkiraan sebab kematian masih
dimungkinkan.2
Faktor-faktor yang mempermudah terbentuknya adiposera adalah kelembaban dan lemak
tubuh yang cukup, sedangkan yang meghambat adalah air yang mengalir yang membuang
elektrolit.2
Udara yang dingin menghambat pembentukan, sedangkan suhu yang hangat akan
mempercepat. Invasi bakteri endogen ke dalam jaringan pasca mati juga akan mempercepat
pembentukannya.2
Pembusukan akan terhambat oleh adanya adiposera, karena derajat keasaman dan
dehidrasi jaringan bertambah. Lemak segar hanya mengandung kira-kira 0.5% asam lemak
bebas, tetapi dalam waktu 4 minggu pasca mati dapat naik menjadi 20% dan setelah 12
minggu menjadi 70% atau lebih. Pada saat ini, adiposera menjadi jelas secara makroskopik
sebagai bahan berwana putih kelabu yang menggantikan atau menginfiltrasi bagian-bagian

13

lunak tubuh. Pada stadium awal pembentukannya sebelum makroskopik jelas, adiposera
paling baik dideteksi dengan analisis asam palmitat.2
6. Mummifikasi
Mummifikasi adalah proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat
sehingga terjadi pengeringan jaringan yang selanjutnya dapat menghentikan pembusukan.
Jaringan berubah menjadi keras dan kering, berwarna gelap, berkeriput dan tidak membusuk
karena kuman tidak dapat berkembang pada lingkungan yang kering. Mummifikasi terjadi
bila suhu hangat, kelembaban rendah, aliran udara yang baik, tubuh yang dehidrasi dan waktu
yang lama (12-14 minggu). Mummifikasi jarang dijumpai pada cuaca yang normal.2
Pemeriksaan medis yang dilakukan juga yaitu pemeriksaan luar dan pemeriksaan dalam.1
Pemeriksaan luar
Pada pemeriksaan tubuh mayat sebelah luar, untuk kepentingan forensic, pemeriksaan
harus dilakukan dengan cermat meliputi segala sesuatu yang terlihat, tercium, maupun teraba,
baik terhadap benda yang menyertai mayat, pakaian, perhiasan, sepatu, dll. Juga terhadap tubuh
mayat sendiri.1
Sistematika pemeriksaan adalah:
1.
2.
3.
4.

Label mayat
Tutup mayat
Bungkus mayat
Pakaian
Pakaian mayat dicatat dengan teliti, mulai dari pakaian yang dikenakan pada bagian
tubuh sebelah atas sampai tubuh sebelah bawah, dari lapisan yang terluar sampai lapisan
yang terdalam.
Pencatatan meliputi bahan, warna dasar, warna dan corak /motif dari tekstil, bentuk
/model pakaian, ukuran, merk /penjahit, cap binatu, monogram /inisial serta tambahan
atau tisikan bila ada. Bila terdapat pengotoran atau robekan pada pakaian, maka ini juga
harus dicatat dengan teliti dengan mengukur letaknya yang tepat menggunakan koordinat,

serta ukuran dari pengotoran dan atau robekan yang ditemukan.


5. Perhiasan
Perhiasan yang dipakai oleh mayat harus dicatat pula dengan teliti. Meliputi jenis
perhiasan, bahan, warna, merk, bentuk serta ukiran nama/inisial pada benda perhiasan
tersebut.
6. Benda di samping mayat

14

Kadangkala dalam pengiriman mayat terdapat benda di samping mayat seperti tas atau
bungkusan. Inipun dilakukan pencatatan yang teliti dan lengkap.
7. Identifikasi khusus
a. Tanda lahir
b. Jaringan parut
c. Kapalan
d. Kelainan pada kulit
e. Anomaly dan cacat pada tubuh
1. Apakah ada luka-luka yang dapat dikaitkan dengan penyebab kematian?
Oleh karena Visum et Repertum itu juga mengandung makna sebagai barang bukti
(corpus delicti), maka sudah barang tentu segala apa yang terdapat pada barang bukti dalam hal
ini tubuh anak, haruslah juga dicatat dan dilaporkan. Dengan demikian selain ketiga kejelasan
tersebut di atas, masih ada dua hal lagi yang harus diutarakan dala VR; yaitu:1
Cara atau metoda yang banyak dijumpai untuk melakukan tindakan pembunuhan anak
adalah cara atau metoda yang menimbulkan keadaan mati lemas (asfiksia), seperti penjeratan,
pencekikan dan pembekapan serta membenamkan kedalam air. Adapaun cara atau metoda yang
lain seperti menusuk atau memotong serta melakukan kekerasan dengan benda tumpul relatip
lebih jarang dijumpai.1
Dengan demikian pada kasus yang diduga merupakan kasus pembunuhan anak, yang
harus diperhatikan adalah:
-

Adanya tanda-tanda mati lemas: sianosis pada bibir dan ujung-ujung jari, bintikbintik perdarahan pada selaput bola mata (konjungtiva bulbi) dan selaput kelopak
mata (konjungtiva palpebra) serta jaringan longgar lainya, lebam manyat yang lebih
gelap dan luas, busa halus berwarna putih atau putih kemerahan yang keluar dari

lubang hidung dan atau mulut serta tanda-tanda bendungan pada alat-alat dalam.1
Keadaan mulut dan sekitarnya: adanya luka lecet tekan di bibir atau sekitarnya yang
tidak jarang berbentuk bulan sabit, memar pada bibir bagian dalam yang berhadapan
dengan gusi, serta adanya benda-benda asing seperti gumpalan kertas korann atau

kain yang mengisi rongga mulut.1


Keadaan di daerah leher dan sekitarnya: adanya luka lecet tekan yang melingkari
sebagian atau seluruh bagian leher yang merupakan jejas jerat sebagai akibat tekanan
yang ditimbulkan oleh alat penjerat yang dipergunakan, adanya luka-luka lecet kecilkecil yang seringkali berbentuk bulan sabit yang diakibatkan oleh tekanan dari ujung

15

kuku si pencekik, adanya luka-luka lecet dan memar yang tidak beraturan yang dapa
-

terjadi akibat tekanan yang ditimbulkan oleh ujung-ujung jari si pencekik.1


Adanya luka-luka tusuk atau luka sayat pada daerah leher, mulut atau bagian tubuh
lainnya, dimana menurut literatur ada satu metoda yang dapat dikatakan khas yaitu
tusukan benda tajam pada langit-langit sampai menembus ke rongga tengkorak yang

dikenal dengan nama tusukan bidadari.1


Adanya tanda-tanda terendam seperti: tubuh basah dan berlumpur, telapak tangan dan
telapak kaki yang pucat dan keriput (washer womans hand), kulit yang berbintilbintil (cutis anserina) seperti kulit angsa, serta adanya benda-benda asing terutama di
dalam saluran pernafasan (trakhea), yang dapat berbentuk pasir, lumpur, tumbuhan
air atau binatang air.1

2. Apakah anak yang dilahirkan itu cukup bulan dalam kandungan?


Apakah anak tersebut cukup bulan dalam kandungan (matur) atau belum cukup bulan
dalam kandungan (prematur), dapat diketahui dari pemeriksaan sebagai berikut:1
-

Pengukuran lingkar kepala, lingkar dada, tinggi badan dan berat badan: dimana yang

mempunyai nilai tinggi adalah lingkar kepala dan tinggi atau panjang badan.
Keadaan ujung-ujung jari: pakah kuku-kuku telah melewati ujung jari seperti pada

anak yang dilahirkan cukup bulan atau belum.


Keadaan genitalia eksterna: bila telah terjadi descencus testiculoma maka hal ini
dapat diketahui dari terabanya testis pada scrotum, demikian pula halnya dengan
keadaan labia mayora apakah telah menutupi labia minora atau belum; testis yang
telah turun serta labia minora yang telah menutupi labia minora terdapat pada anak

yang dilahirkan cukup bulan dalam kandungan si ibu.


Pusat-pusat penulangan: khususnya pada tulang paha (os. Femur), mempunyai arti
yang cukup penting di dalam membantu perkiraan apakah anak dilahirkan dalam
keadaan cukup bulan atau tidak; bagian distal dari os. femur serta bagian proksimal
dari os. tibia akan menunjukkan pusat penulangan pada umur kehamilan 36 minggu,
demikian pula pusat penulangan pada os. cuboideum dan os. cuneiforme, sedangkan
os. talus dan os. calcaneus pusat penulangannya akan tampak pada umur kehamilan
28 minggu.1

16

Umur (bulan)
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Panjang Badan (cm)


1x1=2
2x2=4
3 x 3 =9
4 x 4 = 16
5 x 5 = 25
6 x 5 = 30
7 x 5 = 35
8 x 5 = 40
9 x 5 = 45

Tabel 1. Viabilitas Umur Bayi dalam Kandungan.4,5

Aspek Penilaian
Usia gestasi
Berat badan
Panjang badan
Lingkar kepala
Cacat bawaan fatal

Keterangan
>28 minggu
> 1000 gram
>35 cm
>23 cm
(-)

Tabel 2. Penilaian Aspek Viabilitas pada Bayi.5


3. Apakah pada anak tersebut didapatkan kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi
kelangsungan hidup bagi si anak?
Hal ini sebenarnya berkaitan dengan permasalahan viabilitas dari anak yang baru
dilahirkan dan dapat diketahui dari pemeriksaan yang lengkap atas dirinya; adapun keadaan yang
perlu diperhatikan antara lain:1
-

Jantung: adakah kelainan seperti defek pada atrium dan ventrikel jantung (atrial

septal defect dan ventricular septal defect).


Otak: apakah pertumbuhannya normal atau tidak sempurna seperti misalnya

anencephalus atau microcephalus.


Saluran pencernaan: apakah ada kelainan pada kerongkongan seperti stenosis
esofagus.

17

Pemeriksaan dalam
1. Apakah anak tersebut dilahirkan hidup atau lahir mati?
Pada pemeriksaan mayat bayi baru lahir, harus dibedakan apakah ia lahir mati atau lahir
hidup. Bila bayi lahir mati maka kasus tersebut bukan merupakan kasus pembunuhan atau
penelantaran anak hingga menimbulkan kematian. Pada kasus seperti ini, si ibu hanya dapat
dikenakan tuntutan menyembunyikan kelahiran dan kematian orang.3
Lahir mati (still birth) adalah kematian hasil konsepsi sebelum keluar atau dikeluarkan
dari ibunya, tanpa mempersoalkan usia kehamilan (baik sebelum ataupun setelah kehamilan
berumur 28 minggu dalam kandungan). Kematian ditandai oleh janin yang tidak bernafas atau
tidak menunjukkan tanda kehidupan lain, seperti denyut jantung, denyut nadi tali pusat atau
geraka otot rangka.3
Penentuan apakah seorang anak itu dilahirkan dalam keadaan hidup atau mati, pada
dasarnya adalah sebagai berikut:1

Adanya udara di dalam paru-paru.


Paru-paru yang sudah mengembang karena terisi udara pernafasan dapat diketahui
dari ciri-ciri seperti tersebut di bawah ini yaitu:1
- Menemui rongga dada sehingga menutupi sebagian kandung jantung, berwarna merah
-

ungu.
Memberikan gambaran mozaik karena adanya berbagai tingkat aerasi atau pengisian

udara.
Tepi paru-paru tumpul.
Pada perabaan teraba derik udara (krepitasi), yang bila perabaan ini dilakukan atas
sepotong kecil jaringan paru yang dibenamkan dalam air akan tampak gelembung-

gelembung udara.
Bila ditimbang maka beratnyya akan sekitar 1/35 berat badan, yang berarti lebih berat
bila dibandingkan dengan berat paru-paru yang bernafas, yaitu sekitar 1/70 berat

badan.
Bila dilakukan tes apung (docimacia pulmonum hydrostatica), akan memberikan hasil

yang positif.
Pemeriksaan mikroskopik yang hanya dilakukan pada keadaan tertentu saja
(meragukan) akan memperihatkan adanya pengembangan dari alveoli yang cukup

jelas.
Adanya udara di dalam lambung dan usus.

18

Adanya udara dalam lambung dan usus merupakan petunjuk bahwa si-anak
menelan udara setelah ia dilahirkan hidup, dengan demikian nilai dari pemeriksaan udara
di dalam lambung dan usus ini sekedar memperkuat saja. Seperi halnya pada
pemeriksaan untuk menentukan adanya udara di dalam paru-paru, maka pemeriksaan
yang serupa terhadap lambung dan usus baru dapat dilakukan bila keadaan si-anak masih
segar dan belum mengalami proses pembusukan serta tidak mengalami manipulasi seperti

pemberian pernafasan buatan.1


Adanya udara di dalam liang telinga bagian tengah.
Adanya udara di dalam liang telinga bagian tengah hanya dapat terjadi bila sianak menelan udara dan udara tersebut melalui tuba eustachius masuk ke dalam liang
bagian tengah. Untuk dapat mengetahui keadaan tersebut pembukaan liang telinga bagian
tengah harus dilakukan di dalam air, tentunya baru dilakukan pada mayat yang masih

segar.1
Adanya makanan di dalam lambung.
Adanya makanan di dalam lambung diri seorang anak yang baru dilahirkan
tentunya baru dapat terjadi pada anak yang dilahirkan hidup dan diberi makan oleh orang
lain dan makanan tidak mungkin akan dapat masuk ke dalam lambung bila tidak disertai
dengan aktivitas atau gerakan menelan.1
Adanya udara di dalam paru-paru, lambung dan usus serta di dalam telinga bagian
tengah merupakan petunjuk pasti bahwa si anak yang baru dilahirkan tersebut memang
dilahirkan dalam keadaan hidup. Sedangkan adanya makanan dalam lambung lebih
mengarahkan kepada kenyataan bahwa si anak sudah cukup lama dalam keadaan hidup;
hal mana bila keadaannya memang demikian maka si ibu yang menghilangkan nyawa
anak tersebut dapat dikenakan hukuman yang lebih berat dari ancaman hukuman seperti
yang tertera pada pasal 341 dan 342.1

2. Apakah terdapat tanda-tanda perawatan?


Penentuan ada tidaknya tanda-tanda perawatan sangat penting artinya dalam kasus
pembunuhan anak, oleh karena dari sini dapat diduga apakah kasus yang dihadapi memang benar
kasus pembunuhan anak seperti apa yang dimaksud oleh udang-undang atau menjadi kasus lain
yang ancaman hukumannya berbeda.1
Adapun anak yang baru dilahirkan dan belum mengalami perawatan dapat diketahui dari
tanda-tanda sebagai berikut:1
19

Tubuh masih berlumur darah.


Plasenta masih melekat dengan tali pusat dan masih behubugan dengan umbilikus.
Bila plasenta tidak ada, maka ujung tali pusat tampak tidak beraturan, hal ini dapat

diketahui dengan meletakkan ujung tali pusat tersebut ke permukaan air.


Adanya lemak bayi (vernix caseosa), pada daerah dahi serta di daerah yang
mengandung lipatan-lipatan kulit, seperti lipat ketiak, lipat paha dan bagian belakang
bokong.

Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaan Golongan Darah
Bila sel darah merah sudah rusak penentuan golongan darah dapat dilakukan dengan cara
menentukan jenis aglutinin dan antigen. Antigen mempunyai sifat yang jauh lebih stabil
dibandingkan dengan aglutinin. Di antara sistem-sistem golongan darah, yang paling lama
bertahan adalah antigen dari system golongan darah ABO. 1,3
Penentuan jenis antigen dapat dilakukan dengan cara absorpsi inhibisi, absorpsi elusi atau
aglutinasi campuran. Cara yang biasa dilakukan adalah cara absorpsi elusi dengan prosedur
sebagai berikut:

2-3 helai benang yang mengandung bercak kering difiksasi dengan metil alkohol selama
15 menit. Benang diangkat dan dibiarkan mengering. Selanjutnya dilakukan penguraian
benang tersebut menjadi serat-serat halus dengan menggunakan 2 buah jarum. Lakukan

juga terhadap benang yang tidak mengandung bercak darah sebagai kontrol negatif.
Serat benang dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi. Ke dalam tabung pertama diteteskan
serum anti-A dan kedalam tabung kedua serum anti-B hingga serabut benang tersebut
teredam seluruhnya. Kemudian tabung-tabung tersebut disimpan dalam lemari pendingin

dengan suhu 4oC selama satu malam.


Lakukan pencucian dengan menggunakan larutan garam faal dingin (4 oC) sebanyak 5-6
kali lalu tambahkan 2 tetes suspense 2% sel indikator (sel daram merah golongan A pada
tabung pertama dan golongan B pada tabung kedua), pusing dengan kecepatan 1000
RPM selama 1 menit. Bila tidak terjadi aglutinasi, cuci sekali lagi dan kemudian
tambahkan 1-2 tetes larutan garam faal dingin. Panaskan pada suhu 56 derajat Celcius
selama 10 menit dan pindahkan eluat ke dalam tabung lain. Tambahkan 1 tetes suspense

20

sel indikator ke dalam masing-masing tabung, biarkan selama 5 menit, lalu pusing selama
1 menit pada kecepatan 1000 RPM.
Pembacaan hasil dilakukan secara makroskopik. Bila terjadi aglutinasi berarti darah mengandung
antigen yang sesuai dengan antigen sel indikator. 1,3
Pemeriksaan DNA
Satu DNA panjang dapat dipotong menjadi beberapa penggalan (fragmen) yang lebih
pendek. Fragmen DNA dapat dipisahkan dengan teknik Elektroforesis gel. Fragmen pendek
berjalan lebih cepat, fragmen panjang berjalan lebih lambat, sehingga fragmen pendek berada di
depan pita-pita yang bergerak, terpisah dari fragmen yang lebih panjang.
Hasil elektroforesis (Elektroforetogram) berupa pola penyebaran pita-pita fragmen DNA
yang terpisah-pisah pada gel karena perbedaan kecepatan pergerakan DNA pada medan listrik
Elektroforesis. Kita bisa mendapatkan elektroforetrogram dari seluruh DNA kita (genom),
maupun hanya dari gen-gen tertentu yang dipilih. Pemilihan, pengambilan dan penggandaan gen
terpilih, dapat dilakukan dengan teknik baru yang dikenal dengan teknik PCR (Polymerase Chain
Reaction). Dengan teknik ini dapat dihasilkan gen tertentu dalam jumlah yang cukup untuk
proses pemeriksaan.1,3
Dari seluruh sifat anak yang muncul, sebagian berasal dari warisan sifat ibu, sebagian
lagi berasal dari warisan sifat ayahnya. Di dalam tubuh si anak masih terdapat sifat ibu dan sifat
ayah pada DNAnya, tetapi tidak muncul menjadi sifat yang nyata pada si anak. Kalau si anak
dianalisis secara kimia, sifat yang tidak muncul ini dapat di analisis sebagai molekul kimia DNA
(gen). 1,3
Pemeriksaan Tanda-Tanda Melahirkan
Tanda-tanda seorang ibu telah melahirkan dapat dilihat dari perubahan-perubahan yang terjadi
pada masa nifas seperti sebagai berikut.
1. Involusi Uterus
Involusi uterus atau pengerutan uterus merupakan suatu proses dimana uterus kembali ke
kondisi sebelum hamil dengan bobot hanya 60 gram. Involusi uteri dapat juga dikatakan
sebagai proses kembalinya uterus pada keadaan semula atau keadaan sebelum hamil.
Involusi uterus melibatkan reorganisasi dan penanggalan decidua/endometrium dan
pengelupasan lapisan pada tempat implantasi plasenta sebagai tanda penurunan ukuran
21

dan berat serta perubahan tempat uterus, warna dan jumlah lochia. Proses involusi uterus
adalah sebagai berikut:
a. Iskemia Miometrium
Disebabkan oleh kontraksi dan retraksi yang terus menerus dari uterus setelah
pengeluaran plasenta membuat uterus relative anemi dan menyebabkan serat otot
atrofi
b. Autolisis
Autolisis merupakan proses penghancuran diri sendiri yang terjadi di dalam otot
uterine. Enzim proteolitik akan memendekkan jaringan otot yang telah sempat
mengendur hingga 10 kali panjangnya dari semula dan lima kali lebar dari semula
selama kehamilan atau dapat juga dikatakan sebagai pengrusakan secara langsung
jaringan hipertropi yang berlebihan hal ini disebabkan karena penurunan hormon
estrogen dan progesteron.
c. Efek Oksitosin
Oksitosin menyebabkan terjadinya kontraksi dan retraksi otot uterin sehingga
akan menekan pembuluh darah yang mengakibatkan berkurangnya suplai darah
ke uterus. Proses ini membantu untuk mengurangi situs atau tempat implantasi
plasenta serta mengurangi perdarahan. Penurunan ukuran uterus yang cepat itu
dicerminkan oleh perubahan lokasi uterus ketika turun keluar dari abdomen dan
kembali menjadi organ pelviks. Segera setelah proses persalinan puncak fundus
kira-kira dua pertiga hingga tiga perempat dari jalan atas diantara simfisis pubis
dan umbilicus. Kemudian naik ke tingkat umbilicus dalam beberapa jam dan
bertahan hingga satu atau dua hari dan kemudian secara berangsur-angsur turun
ke pelviks yang secara abdominal tidak dapat terpalpasi di atas simfisis setelah
sepuluh hari.
2. Involusi tempat plasenta
Setelah persalinan, tempat plasenta merupakan tempat dengan permukaan kasar, tidak
rata dan kira-kira sebesar telapak tangan. Dengan cepat luka ini mengecil, pada akhir
minggu ke-2 hanya sebesar 3-4 cm dan pada akhir nifas 1-2 cm. Penyembuhan luka
bekas plasenta khas sekali. Pada permulaan nifas bekas plasenta mengandung banyak
pembuluh darah besar yang tersumbat oleh thrombus. Biasanya luka yang demikian

22

sembuh dengan menjadi parut, tetapi luka bekas plasenta tidak meninggalkan parut. Hal
ini disebabkan karena luka ini sembuh dengan cara dilepaskan dari dasarnya tetapi diikuti
pertumbuhan endometrium baru di bawah permukaan luka. Endometrium ini tumbuh dari
pinggir luka dan juga dari sisa-sisa kelenjar pada dasar luka.
Regenerasi endometrium terjadi di tempat implantasi plasenta selama sekitar 6 minggu.
Epitelium berproliferasi meluas ke dalam dari sisi tempat ini dan dari lapisan sekitar
uterus serta di bawah tempat implantasi plasenta dari sisa-sisa kelenjar basilar
endometrial di dalam deciduas basalis. Pertumbuhan kelenjar endometrium ini
berlangsung di dalam decidua basalis. Pertumbuhan kelenjar ini pada hakekatnya
mengikis pembuluh darah yang meembeku pada tempat implantasi plasenta yang
menyebabkannya menjadi terkelupas dan tak dipakai lagi pada pembuangan lochia.6
3. Perubahan Ligamen
Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis serta fasia yang meregang sewaktu kehamilan
dan partus, setelah janin lahir, berangsur-angsur menciut kembali seperti sediakala. Tidak
jarang ligamentum rotundum menjadi kendor yang mengakibatkan letak uterus menjadi
retroflexi. Tidak jarang pula wanita mengeluh kandungannya turun setelah melahirkan
oleh karena ligament, fasia, jaringan penunjang alat genetalia menjadi agak kendor.6
4. Perubahan pada Serviks
Serviks mengalami involusi bersama-sama uterus. Perubahan-perubahan yang terdapat
pada serviks postpartum adalah bentuk serviks yang akan menganga seperti corong.
Bentuk ini disebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan
serviks tidak berkontraksi, sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan
serviks uteri terbentuk semacam cincin. Warna serviks sendiri merah kehitam-hitaman
karena penuh pembuluh darah. Beberapa hari setelah persalinan, ostium externum dapat
dilalui oleh 2 jari, pinggir-pinggirnya tidak rata tetapi retak-retak karena robekan dalam
persalinan. Pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui oleh 1 jari saja, dan lingkaran
retraksi berhubungan dengan bagian atas dari canalis cervikallis.6
5. Perubahan pada Vulva, Vagina dan Perineum
23

Vulva dan vagina mengalami penekanan serta peregangan yang sangat besar selama
proses melahirkan bayi, dan dalam beberapa hari pertama sesudah proses tersebut, kedua
organ ini tetap berada dalam keadaan kendur. Setelah 3 minggu vulva dan vagina kembali
kepada keadaan tidak hamil dan rugae dalam vagina secara berangsur-angsur akan
muncul kembali sementara labia manjadi lebih menonjol. Segera setelah melahirkan,
perineum menjadi kendur karena sebelumnya teregang oleh tekanan kepala bayi yang
bergerak maju. Pada post natal hari ke-5, perineum sudah mendapatkan kembali sebagian
besar tonusnya sekalipun tetap lebih kendur dari pada keadaan sebelum melahirkan.
Ukuran vagina akan selalu lebih besar dibandingkan keadaan saat sebelum persalinan
pertama.6
Penyebab Kematian
Penyebab kematian tersering pada pembunuhan anak sendiri adalah mati lemas (asfiksia).
Kematian dapat pula diakibatkan oleh proses persalinan (trauma lahir), kecelakaan (misalnya
bayi terjatuh, partus precipitous), pembunuhan atau alamiah (penyakit).
Trauma Lahir
Trauma lahir dapat menyebabkan timbulnya tanda-tanda kekerasan seperti:
Kaput suksedaneum. Kaput suksedaneum dapat memberikan gambaran mengenai
lamanya persalinan. Makin lama persalinan berlangsung, timbul kaput suksedaneum yang
makin hebat. Secara makroskopik akan terlihat sebagai edema pada kulit kepala bagian

dalam di daerah presentasi terendah yang berwarna kemerahan.


Sefalhematom, perdarahan setempat di antara periosteum dan permukaan luar tulang
atap tengkorak dan tidak melampaui sutura tulang tengkorak akibat molase yang hebat.
Umumnya terdapat pada tulang parietal dan skuama tulang oksipital. Makroskopik
terlihat senagai perdarahan di bawah periosteum yang terbatas pada satu tulang dan tidak

melewati sutura.
Fraktur tulang tengkorak. Patah tulang tengkorak jarang terjadi pada trauma lahir,

biasanya hanya berupa cekungan tulang saja pada tulang ubun-ubun.


Perdarahan intracranial yang sering terjadi pada adalah perdarahan subdural akibar
laserasi tentorium serebeli dan falks serebri, robekan vena galena di dekat pertemuannya
dengna sinus rektus, robekan sinus sagitalis superior dan sinus transversus dan robekan
bridging veins dekat sinus sagitalis superior. Perdarahan ini timbul pada molase kepala
yang hebat atau kompresi kepala yang cepat dan mendadak oleh jalan lahir yang belum
melemas.
24

Perdarahan subaraknoid atau intraventrikuler jarang terjadi. Umumnya terjadi pada

bayi-bayi premature akibat belum sempurna berkembangnya jaringan-jaringan otak.


Perdarahan epidural sangat harang terjadi karena duramater melekat dengan erat pada
tulang tengkorak bayi.

Visum et Repertum
Visum et Repertum adalah keterangan yang dibuat dokter atas permintaan penyidik yang
berwenang mengenai hasil pemeriksaan medis terhadap manusia, hidup maupun mati, ataupun
bagian/diduga bagian tubuh manusia, berdasarkan keilmuannya dan di bawah sumpah untuk
kepentingan peradilan.2
Penegak hukum mengartikan Visum et Repertum sebagai laporan tertulis yang dibuat
dokter berdasarkan sumpah atas permintaan yang berwajib untuk kepentingan peradilan tentang
segala hal yang dilihat dan ditemukan menurut pengetahuan yang sebaik-baiknya.
Tiga jenis visum yang pertama adalah Visum et Repertum mengenai tubuh atau raga
manusia yang berstatus sebagai korban, sedangkan jenis keempat adalah mengenai mental atau
jiwa tersangka atau terdakwa atau saksi lain dari suatu tindak pidana. Visum et Repertum
perlukaan, kejahatan susila dan keracunan serta Visum et Repertum psikiatri adalah visum untuk
manusia yang masih hidup sedangkan Visum et Repertum jenazah adalah untuk korban yang
sudah meninggal. Keempat jenis visum tersebut dapat dibuat oleh dokter yang mampu, namun
sebaiknya untuk Visum et Repertum psikiatri dibuat oleh dokter spesialis psikiatri yang bekerja
di rumah sakit jiwa atau rumah sakit umum.2
Meskipun tidak ada keseragaman format, namun pada umumnya Visum et Repertum
memuat hal-hal sebagai berikut:
1. Pembukaan:
Kata Pro Justisia artinya untuk peradilan
Tidak dikenakan materai
Kerahasiaan
2. Pendahuluan: berisi landasan operasional ialah obyektif administrasi:
Identitas penyidik (peminta Visum et Repertum, minimal berpangkat Pembantu
Letnan Dua)
Identitas korban yang diperiksa, kasus dan barang bukti
Identitas TKP dan saat/sifat peristiwa
Identitas pemeriksa (Tim Kedokteran Forensik)
Identitas saat/waktu dan tempat pemeriksaan
3. Pelaporan/inti isi:
Dasarnya obyektif medis (tanpa disertai pendapat pemeriksa)
25

Semua pemeriksaan medis segala sesuatu/setiap bentuk kelainan yang terlihat dan

diketahui langsung ditulis apa adanya (A-Z)


4. Kesimpulan: landasannya subyektif medis (memuat pendapat pemeriksa sesuai dengan
pengetahuannya) dan hasil pemeriksaan medis.
5. Penutup: landasannya Undang-Undang/Peraturan yaitu UU no. 8 tahun 1981 dan LN
no. 350 tahun 1937 serta Sumpah Jabatan/Dokter yang berisi kesungguhan dan
kejujuran tentang apa yang diuraikan pemeriksa dalam Visum et Repertum tersebut.2

Kesimpulan dan Interpretasi Temuan


Pada pemeriksaan luar didapatkan panjang badan kepala-tumit bayi 49 cm, panjang
badan kepala-tungging 32cm, berat badan 2550g dan lingkar kepala 33cm. Hasil pengukuran ini
bermakna bahwa bayi dilahirkan cukup bulan dan viable atau dapat hidup di luar kandungan
lepas dari ibunya.
Pada mayat bayi ditemukan tali pusat masih melekat dengan uri, lemak bayi dan juga
bekas-bekas darah belum dibersihkan pada bayi. Mayat bayi dijumpai dalam keadaan telanjang
tanpa pakaian ataupun penutup tubuh, menandakan bayi belum mendapatkan perawatan. Di
mulut mayat bayi dijumpai gumpalan kain yang menyumbat. Di leher dijumpai tanda kekerasan
berupa jejas jerat yang mendatar selebar 2mm, sesuai dengan ciri-ciri penjeratan. Dada bayi
sudah mengembang dan diafragma sudah turun sampai sela iga ke-4.
Pada pemeriksaan dalam ditemukan paru sudah mengisi rongga dada dan menutupi
sebagian kandung jantung. Paru berwarna merah muda tidak merata dengan pleura yang tegang
dan menunjukan gambaran mozaik yang berarti paru sudah terisi udara. Uji apung paru
memberikan hasil positif. Berat kedua paru 74 gram. Hasil pemeriksaan dengan foto rontgen
menunjukan terdapat udara di dalam usus beras yang menandakan bayi telah hidup 5-6 jam.
Dapat disimpulkan bahwa bayi dilahirkan hidup dengan keadaan cukup bulan dan viable,
namun bayi belum mendapatkan perawatan. Bayi telah hidup 5-6 jam. Penyebab kematian adalah
asfiksia atau mati lemas. Cara kematian adalah dengan penjeratan pada leher, menggunakan tali
dengan lebar 2mm.

26

DAFTAR PUSTAKA
1. Idris AM. Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Edisi Pertama. Jakarta: Binarupa Aksara;
1997. Hal: 256 269.
2. Afandi D, Hertian S, Atmadja DS, Widjaja IR. Pembunuhan Anak Sendiri (PAS) dengan
Kekerasan Multipel. Maj Kedokt Indo. [internet] 2008. [diunduh pada 4 Desember 2013].
58(1);9.

Tersedia

di

http://dediafandi.staff.unri.ac.id/files/2010/05/Pembunuhan-Anak-

Sendiri.pdf.
3. Peraturan Perundang-Undangan Bidang Kedokteran. Jilid I. Jakarta : Bagian Kedokteran
Forensik Universitas Indonesia;1994.h.11-6, 37-9.
4. Budiyanto A, Widiatmaka W, Sudiono S, Munim WA, Sidhi, dkk. Ilmu Kedokteran
Forensik. Edisi Pertama, Cetakan Kedua. Jakarta: Bagian Kedokteran Forensik Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia; 1997. Hal: 165.
5. Idries AM, Tjiptomartono AL. Penerapan Ilmu Kedokteran Forensik dalam Proses
Penyidikan. Edisi Revisi. Jakarta: Sagung Seto; 2008. Hal: 173.
6. Wiknjosastro H. Ilmu kebidanan. Edisi ke-4. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono
Prawiroharjo; 2008.

27