Anda di halaman 1dari 6

DASAR TEORI

ABORTUS IMINENS

AMIELIA SALFATIRA
13.11.078.15401.002

AKADEMI KEBIDANAN BORNEO MEDISTRA


JLN.INDRAKILLA STRATT 3 GUNUNG SAMARINDA RT 29 NO 99
BALIKPAPAN
TAHUN AKADEMIK 2015/2016
TELP/FAX 0542-730555/0542-732422
E-Mail : akademik@borneomedistra.com
Website : www.borneomedistra.com

LEMBAR PERSETUJUAN
Dasar Teori Abortus Iminens pada Ibu Hamil ini telah di periksa dan disetujui
oleh Pembimbing Akademik PKK 2 Program Study Kebidanan Akademi Borneo
Medistra Balikpapan.

Balikpapan,

Januari 2016

Mahasiswi

Amielia Salfatira
Nim : 13.11.078.15401.002

Mengetahui

Husnul Khotimah,S.ST
NIDN : 9911622043

A. Pengertian
Abortus atau lebih dikenal dengan istilah keguguran adalah
pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar rahim. Janin
belum mampu hidup di luar rahim, jika beratnya kurang dari 500 g, atau usia
kehamilan kurang dari 28 minggu karena pada saat ini proses plasentasi belum
selesai. Pada bulan pertama kehamilan yang mengalami abortus, hampir selalu
didahului
dengan
matinya
janin
dalam
rahim.
Abortus imminens adalah abortus tingkat permulaan dan ancaman
terjadinya abortus, ditandai perdarahan pervaginam, ostium uteri masih
tertutup dan hasil konsepsi masih baik dalam kandungan.( Sarwono,
2008:467).
Abortus imminens adalah perdarahan bercak yang menunjukkan
ancaman terhadap kelangsungan sauatu kehamilan. Dalam kondisi seperti ini
kehamilan masih mungkin berlanjut atau dipertahankan.
Abortus Iminens adalah pengakhiran kehamilan sebelum janin dapat
mencapai 500 gram atau kurang dari 20 minggu yang ditandai dengan :
a. Terdapat keterlambatan datang bulan
b. Terdapat perdarahan, disertai perut sakit (mules).
c. Pada pemeriksaan dijumpai besarnya rahim sama dengan umur kehamilan
dan terjadi kontraksi otot rahim.
d. Hasil pemeriksaan dalam terdapat perdarahan kanalis servikalis, kanalis
servikalis masih tertutup, dapat dirasakan kontraksi otot rahim.
e. Hasil pemeriksaan tes hamil masih positif.
B. Etiologi
Menurut Winkjosastro (2005:302-303) penyebab terjadinya abortus dapat
dibagi sebagai berikut:
a. Kelainan pertumbuhan hasil konsepsi
Kelainan biasanya menyebabkan kematian mudighah pada hamil muda.
Factor-faktor yang menyebabkan kematian adalah:
1. Kelainan kromosom: yang sering dijumpai adalah pada kejadian
abortus adalah trisomi, poliploidi dan kelainan kromosom seks.
2. Lingkungan kurang sempurna: bila lingkungan di endometrium
disekitar tempat implantasi kurang sempurna sehingga pemberian zatzat makanan pada hasil konsepsi kurang sempurna.
3. Pengaruh dari luar: radiasi, obat-obatan dan sebagainya dapat
mempengaruhi hasil konsepsi maupun lingkungan hidupnya didalam
uterus. Pengaruh ini dinamakan pengaruh teratogen.
b. Kelainan plasenta
Endarteritis dapat terjadi dalam villi korealis dan menyebabkan segmen
plasenta terganggu sehingga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan
dan kematian janin, keadan ini biasa terjadi sejak kehamilan muda
misalnya karena hipertensi menahun.
c. Penyakit ibu
Penyakit mendadak seperti pneumonia, tifus abdominalis, pilonefritis ,
malaria , dll dapat menyebabkan abortus. Toksin bakteri, virus ,
plasmodium dapat melewati plasenta dan masuk kejanin kemudian
terjadilah abortus.
d. Kelainan traktus genitalis
Retroversi uteri, mioma uteri atau kelainan uteri dapat menyebabkan
abortus, tetapi hanua retruversi uteri gravid dan mioma uteri sub mukosa
yang dapat memegang peranan penting . sebab lain juga karena servik
yang inkompeten yang disebabkan karena kelemahan bawah servik,

dilatasi servik yang berlebihan dank arena robekan servik luas yang tidak
dijahit.
C. Fatosfisiologi
Pada permulaan, terjadi perdarahan dalam desidua basalis, diikuti oleh
nekrosis jaringan sekitarnya, kemudian sebagian atau seluruh hasil konsepsi
terlepas. Karena benda yang dianggap asing, maka uterus berkontraksi untuk
mengeluarkannya. Pada kehamilan di bawah 8 minggu, hasil konsepsi
dikeluarkan seluruhnya, karena vili korealis belum menembus desidua terlalu
dalam; sedangkan pada kehamilan 8-14 minggu, telah masuk agak dalam,
sehingga sebagian keluar dan sebagian lagi akan tertinggal, karena itu akan
banyak terjadi perdarahan (Sinopsis Obstetri Jilid I, 2002)
Patofisiologis terjadina keguguran, mlai dari terlepasnya sebagian atau
seluruh jaringan plasenta, yang menyebabkan perdarahan sehingga jann
kekurangan nutrisi dan O2. Bagian yang terlepas di anggap benda asing,
sehingga rahim berusaha untuk mengeluarkan dengan kontraksi.Pengeluaran
tersebut dapat terjadi spontan seluruhnya atau sebagian masih tertinggal, yang
menyebabkan berbagai penyulit. Oleh karena itu, keguguran memberikan
gejala umum sakit perut karena kontraksi rahim, terjadi perdarahan, dan di
sertai pengeluaran seluruh atau sebagian hasil konsepsi.
Berntuk perdarahan bervariasi, di antarnya :
a. Sedikit-sedikit dan berlangsung lama
b. Sekaligus dalam jumlah yang besar dapat di sertai gumpalan
c. Akibat perdarahan tidak menimbulkan gangguan apapun; dapat
menimbulkan syok.
D. Prognosis
Menurut winkjosastro (2005:306) macam dan lamanya kehamilan
menentukan prognosa kelangsungan kehamilan. Perdarahan kurang baik bila
perdarahan berlangsung lama , mules-mules yang disertai pendataran dan
pembukaan servik.
E. Diagnosa
Diagnosis abortus imminens ditentukan karena pada wanita hamil
terjadi perdarahan melalui ostium uteri internum disertai rasa mules sedikit
atau tidak sama sekali, uterus membesar sebesar tuanya kelainan, servik
belum membuka, dan tes kehamilan positif. Pada beberapaa wanita hamil
lainnya dapat terjadi perdarahan sedikit pada saat haid yang semestinya
datang jika tidak terjadi pembuahan . hal ini terjadi karena penembusan vili
korealis kedalam desidua pada saat implantasi. Perdarahan biasanya sedikit,
warnanya merah, tidaak disertai rasa mules.( Winkjosastro, 2005: 305)
F. Penatalaksanaan Perawatan
Perawatan abortus imminens menurut Winkjsastro (2005:305-306)
a. Istirahat baring
Tidur berbaring merupakan unsur penting dalam pengobatan karena cara
ini menyebabkan bertambahnya aliran darah keuterus dan berkurangnya
raangsangan mekanik.
b. Tentang pemberian hormon progestin pada abortus belum ada persesuaian
faham . sebagian besar ahli tidak menyetujui dan mereka yang menyetujui
menyatakan bahwa harus ditentukan dulu adanya kekurangan hormone
progesterone. Apabila difikirkan bahwa sebagian besar abortus terjadi
didahului oleh kematian hasil konsepsi dan kematian ini dapat disebabkan

c.
d.
e.
f.
g.
h.

karena banyak factor, maka pemberian progestin tidak banyak


manfaatnya.
Pemeriksaan USG penting untuk memeriksa apakah janin masih hidup
Tidak perlu pengobatan khusus
Jangan melakukan aktifitas fisik yang berlebihan
Jika perdarahan berhenti lakukan asuhan antenatal seperti
Lakukan konfirmasi kemungkinan adanya penyakit lain
Tidak perlu terapi hormonal (estrogen dan progestreon) atau tokolitik
seperti salbutamol atau endometason, karna obat ini tidak dapat mencegah
abortus.

DAFTAR PUSTAKA

1. Depkes RI.2003.Pelayanan Kesehatan Anak Edisi pertama.


2. Sarwono.2008.Ikterus Jakarta. Cetakan Kedua.EGC.

3. Sinopsis Obstetri Jilid I 2002.Obstetri Patologi.Fakultas Kedokteran


Universitas Padjajaran.Edisi kedua.
4. Winkjosastro.2005.Kehamilan.Jakarta.EGC